1.1 Latar Belakang
Industrialisasi menuntut dukungan penggunaan teknologi maju dan canggih, yang di satu pihak akan memberi kemudahan dalam proses produksi dan meningkatkan produktivitas. Di lain pihak cenderung meningkatkan risiko kecelakaan dan penyakit yang timbul sehubungan dengan pekerjaan. Selain itu, di tempat kerja terdapat banyak potensi bahaya, yaitu bahaya fisik, kimia, biologi, ergonomi dan psikososial yang berdampak pada kesehatan pekerja.
Ergonomi bukanlah hal baru dalam era global saat ini. Ergonomi dikenal sebagai sebuah pendekatan multidisiplin ilmu pengetahuan lainnya yang mengintegrasikan prinsip-prinsip fisiologi, psikologi, anatomi, hygiene, teknologi, dan ilmu pengetahuan lainnya terkait dengan kerja. Ergonomi selain bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja, juga mampu meningkatkan produktivitas kerja (Suma’mur, 1989; Santoso, 2004)
Masalah ergonomi di dunia industri sangat signifikan dampaknya, hal tersebut dikarenakan walaupun sudah banyak industri yang menggunakan mesin dalan proses kerjanya, namun dalam pelaksanaannya masih memerlukan tenaga manusia untuk penanganan secara manual. Namun, manusia memiliki keterbatasan-keterbatasan fisik. Keterbatasan fisik tersebut perlu menjadi pertimbangan dalam menyusun rencana kerja, karena jika pekerjaan tertentu membutuhkan tenaga melebihi kapasitas fisik manusia, hal inilah yang menimbulkan faktor risiko terjadinya gangguan muskuloskletal. Pada beberapa Negara, gangguan musculoskeletal ini memiliki istilah yang berbeda-beda, antara lain Repetitive Strain Injuries (RSI) di Negara Eropa dan Australia, work related upper limb disorders di Negara Inggris, Occupational Cerviobrachial Disorders (OCD) di Negara Jepang (Pheasant, 1999). Kondisi tersebut dapat mempengaruhi kondisi sosial ekonomi perusahaan karena kehilangan hari kerja yang diakibatkan oleh gangguan muskuloskeletal. Akibatnya, produktivitas menurun dan menyebabkan penurunan keuntungan perusahaan karena harus membayar kompensasi.
Muskuloskeletal Disorders (MSDs) merupakan penyakit yang mempunyai gejala yang menyerang otot, syaraf, tendon, ligamen, tulang sendi, tulang rawan, dan syaraf tulang belakang. Gejala penyakit tersebut bukan hasil dari pekerjaan yang instant atau langsung dan bukan peristiwa akut (seperti terjatuh, terpeleset, tergelincir, atau tertimpa) tetapi diakibatkan persitiwa atau pekerjaan yang dilakukan secara terus-menerus atau gejala yang ditimbulkan akibat peristiwa atau pekerjaan yang bersifat kronis atau dengan kata lain, faktor-faktor utama yang berhubungan dengan risiko gangguan muskuloskeletal di tempat kerja, meliputi beban, postur, frekuensi, dan durasi (Bridger, 2003).
Studi tentang MSDs pada berbagai jenis industri telah banyak dilakukan dan hasil studi menunjukkan bahwa bagian otot yang sering dikeluhkan adalah otot rangka (skeletal) yang meliputi otot leher, bahu, lengan tangan, jari punggung, pinggang dan otot-otot bagian bawah. Diantara keluhan otot-otot skeletal tersebut yang banyak dialami oleh para pekerja adalah otot bagian pinggang atau low back pain (LBP). Laporan dari the Bureau of Labour Statistic (LBS) Departemen tenaga kerja Amerika Serikat yang dipublikasikan tahun 1982 menunjukkan bahwa hampir 20% dari semua kasus sakit akibat kerja dan 25%
biaya kompensasi yang dikeluarkan sehubungan dengan adanya keluhan sakit pinggang. Besarnya biaya kompensasi yang harus dikeluarkan oleh perusahaan secara pasti belum diketahui. Namun demikian, hasil estimasi yang dipublikasikan oleh NIOSH (1996) menunjukkan bahwa biaya kompensasi untuk keluhan otot skeletal sudah mencapai 13 milyar US dolar setiap tahun. Biaya tersebut merupakan yang terbesar bila dibandingkan dengan biaya kompensasi untuk keluhan sakit akibat kerja lainnya (Tarwaka, 2004). Selain itu, The National Institute for Occupational Helath and Safety (1997) memperkirakan prevalensi kasus Carpal Tunner Syndrome yang berhubungann dengan pekerjaan pada tahun 1988 adalah 356.000 kasus. Dari 675.000 orang yang diestimasi menderita rasa sakit pada bagian tangan dan telah didiagnosis secara medis menderita CTS, lebih dari 50 % desebabkan oleh aktivitas mereka di tempat kerja.
Di UK, sekitar 43,4% angka kesakitan dan cidera dalam kaitannya dengan gangguan muskuloskeletal (Bridger, 2003). Health and Safety Executive (1992) melaporkan bahwa di UK lebih dari seperempat cidera yang dilaporkan pada
tahun 1990 hingga 1991 berhubungan dengan penanganan secara manual. Cidera tersebut terjadi sebanyak 45% pada punggung, 22% pada tangan, dan 13% pada lengan. Menurut Kramer (1973), di Jerman gangguan musculoskeletal menyebabkan sebanyak 20% ketidakhadiran dan sebanyak 50% pensiun dini (Kroemer dan Grandjean, 1997).
Industri tekstil merupakan salah satu usaha yang berkembang di Indonesia dan pada umumnya menyerap jumlah tenaga kerja yang besar. Kegiatan dan sistem kerja pada perusahaan tekstil bervariasi dan tidak menutup kemungkinan melibatkan faktor –faktor risiko musculoskeletal disorders (MSDs) seperti kerja repetitif, postur kerja yang tidak alamiah dan pengeluaran tenaga yang berlebihan.
PT SCTI merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang industri tekstil. Berdasarkan laporan poliklinik PT SCTI sejak Januari hingga Mei tahun 2009, diketahui bahwa terdapat jumlah kunjungan sebanyak 71 orang dengan keterangan sebanyak 14 orang mengalami kecelakaan kerja dan yang lainnya mengalami masalah kesehatan, seperti pegal-pegal, nyeri otot, dan infeksi pernapasan (Bagian SDM PT SCTI, 2009).
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka penulis tertarik untuk mel;akukan penelitian tentang tinjauan faktor risiko ergonomi dan keluhan subjektif terhadap terjadinya risiko terjadinya Muskuloskeletal Disorders (MSDs) pada pekerja pabrik proses inspeksi kain, pembungkusan, dan pengepakan di Departemen PPC PT SCTI Ciracas Jakarta Timur tahun 2009.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan penelitian ditunjukkan bahwa banyak sekali pekerja yang mengalami gangguan muskuloskeletal atau biasa yang disebut MSDs. Di UK, sekitar 43,4% angka kesakitan dan cidera dalam kaitannya dengan gangguan muskuloskeletal. Pada tahun 1992, Health and Safety Executive melaporkan bahwa di UK lebih dari seperempat cidera yang dilaporkan pada tahun 1990 hingga 1991 berhubungan dengan penanganan secara manual. Cidera tersebut terjadi sebanyak 45% pada punggung, 22% pada tangan, dan 13% pada lengan.
Sedangkan di Jerman gangguan muskuloskeletal menyebabkan sebanyak 20%
ketidakhadiran dan sebanyak 50% pensiun dini. Dan pada PT SCTI dilaporkan
bahwa terdapat sebanyak 71 orang yang berkunjung ke poliklinik dengan sebanyak 14 orang mengalami kecelakaan kerja dan sisanya mengalami keluhan kesehatan berupa pegal-pegal, nyeri otot, dan infeksi saluran pernapasan.
Permasalahan yang ada adalah mengenai aktivitas manual handling yang dapat menjadi faktor penyebab cidera, penyakit akibat kerja, kehilangan waktu kerja, dan produktivitas kerja. Seberapa banyak pengaruh postur janggal, frekuensi, dan durasi yang terjadi pada aktivitas manual handling terhadap keluhan muskuloskeletal, sehingga penulis ingin meninjau faktor risiko ergonomi dan gambaran keluhan MSDs yang dirasakan pekerja pabrik proses finishing di Departemen PPC PT SCTI Ciracas Jakarta Timur tahun 2009.
1.3 Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimana gambaran tingkat risiko ergonomi pada pekerja pabrik proses finishing di Departemen PPC PT SCTI Ciracas Jakarta Timur tahun 2009?
2. Pada proses pekerjaan dan bagian tubuh apa terdapat tingkat risiko ergonomi tertinggi terkait dengan postur, frekuensi, durasi, beban, dan genggaman?
3. Bagaimana gambaran keluhan subjektif terkait MSDs pada pekerja pabrik proses finishing di Departemen PPC PT SCTI Ciracas Jakarta Timur tahun 2009?
1.4 Tujuan Penelitian 1.4.1 Tujuan Umum
Mengetahui gambaran faktor risiko ergonomi dan keluhan subjektif terhadap terjadinya MSDs pada pekerja pabrik proses finishing di Departemen PPC PT SCTI Ciracas Jakarta Timur tahun 2009.
1.4.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui gambaran tingkat risiko ergonomi pada pekerja pabrik proses finishing di Departemen PPC PT SCTI Ciracas Jakarta Timur tahun 2009.
2. Mengetahui proses pekerjaan dan bagian tubuh dengan tingkat risiko ergonomi tertinggi terkait dengan postur, frekuensi, durasi, beban, dan genggaman.
3. Mengetahui gambaran keluhan subjektif terkait MSDs pada pekerja pabrik proses finishing di Departemen PPC PT SCTI Ciracas Jakarta Timur tahun 2009.
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Manfaat bagi Perusahaan
1. Mendapatkan sumbangan informasi bagi perusahaan tentang gambaran tingkat risiko ergonomi pada para pekerja.
2. Mendapatkan sumbangan informasi bagi perusahaan tentang gambaran keluhan subjektif terkait MSDs yang dirasakan oleh para pekerjanya.
3. Mendapatkan rekomendasi dalam tindakan pengendalian terhadap faktor risiko ergonomi yang dapat menyebabkan terjadinya MSDS.
4. Menjadi bahan masukan, evaluasi dan referensi dalam mengambil kebijakan, merancang dan mengatur pekerjaan yang terkait dengan faktor risiko ergonomi dan keluhan subjektif terkait MSDs karena aktivitas pekerjaan yang dilakukan.
1.5.2 Manfaat bagi Mahasiswa
1. Mengaplikasikan teori yang didapat dalam bangku perkuliahan ke dalam prakteknya di lapangan.
2. Meningkatkan pengetahuan khususnya dalam hal kajian faktor risiko ergonomi yang dapat menimbulkan keluhan subjektif yang dirasakan pada pekerja pabrik proses inspeksi kain, pembungkusan, dan pengepakan di Departemen PPC PT SCTI Ciracas Jakarta Timur.
3. Mampu menilai tingkat risiko ergonomi di tempat kerja.
1.5.3 Manfaat bagi Institusi Pendidikan
1. Menjadi suatu masukan dalam pengetahuan keilmuan K3, khususnya mengenai faktor risiko ergonomi dan Musculoskeletal Disorders.
2. Menambah khasanah keilmuan K3 di lingkungan pendidikan.
3. Menjadi sarana untuk membina kerja sama dengan institusi lain di bidang K3.
1.6 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini hanya dilakukan pada pekerja pabrik proses inspeksi kain, pembungkusan, dan pengepakan di Departemen PPC PT SCTI Ciracas Jakarta Timur yang dilakukan pada bulan Mei hingga Juni tahun 2009. Penelitian ini dilakukan untuk melihat gambaran faktor risiko ergonomi dan keluhan subjektif yang dirasakan pekerja terhadap terjadinya MSDs, terkait aktivitas pekerjaan manual handling yang dilakukan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian cross sectional. Metode REBA dalam penelitian ini digunakan untuk menilai tingkat risiko ergonomi terkait postur janggal, beban, genggaman, frekuensi dan durasi yang dibantu dengan camera digital dan handycam. Sedangkan untuk
melihat gambaran keluhan subjektif pekerja terhadap terjadinya MSDs digunakan Nordic Body Map (NBM). Dalam hal ini penulis menggunakan kuesioner NBM, serta melakukan observasi dan wawancara terstruktur untuk mendapatkan data tersebut.