• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

1 1.1 Latar Belakang Penelitian

Perubahan dinamis kondisi dan sosial telah mengubah secara drastis minat beli konsumen. Dengan semakin banyaknya pilihan produk, konsumen telah memiliki ekpetasi yang lebih besar dan lebih menantang dari pada sebelumnya. Mereka tidak hanya mengharapkan produk yang berkualitas tinggi karena kualitas produk menjadi suatu kewajaran dan persyaratan umum (Priyambada; 2011)

Dengan bermunculannya perusahaan – perusahaan baru yang mencoba memasuki pasar dan berusaha menggeser perusahaan yang ada untuk mendapatkan bagian pasar mengakibatkan persaingan antara perusahaan semakin kompetitif. Selain menghadapi persaingan perusahaan juga dihadapkan pada lingkungan yang berpengaruh pada kegiatan usahanya, seperti lingkungan makro dan mikro perusahan.

Kegiatan pemasaran tidak hanya sekedar kemampuan perusahaan dalam menyampaikan barang dari produsen ke konsumen, akan tetapi juga mencari cara agar konsumen merasa puas (Kotler dan Keller; 2016).

Produk mie instan sebagaimana diketahui adalah salah satu produk makanan cepat saji yang semakin lama semakin banyak di gemari masyarakat karena kemudahan dalam hal penyajiannya. Demikian juga bagi kalangan mahasiswa yang sebagian besar berdomisili sangat jauh dari orang tuanya, produk ini merupakan makanan cepat saji yang biasanya di komsumsi karena harganya yang terjangkau, mudah untuk di dapatkan , rasanya yang enak, dan sifatnya yang tahan lama. Dengan semakin banyaknya mie instan yang ada di pasaran berarti memberikan keleluasaan bagi konsumen untuk memilih merek yang sesuai dengan keingingannya. Oleh karena itu perlu bagi perusahaan untuk menganalisis perilaku konsumen mie instan untuk mengetahui pola pembeliannya. Dengan ini mendorong perusahan bersaing mendapatkan calon konsumen melalui berbagai strategi yang tepat. Lebih jauh lagi

(2)

produsen dalam mendistribusikan produknya ke pasar konsumen berusahan agar produknya dapat di terima sesuai dengan apa yang di inginkan konsumen (https://www.liputan6.com).

Pada kenyataanya mie instan yang beredar di Indonesia memiliki resiko untuk kesehatan. Mie instan jika dikonsumsi secara berlebihan akan beresiko menyebabkan beberapa penyakit seperti kanker, usus bocor, dan juga gangguan syaraf otak (https://health.detik.com). Menurut penulis dalam studi Hyun Shin, seorang kandidat doktor di Harvard University School of Public Health di Boston, "Meskipun mie instan merupakan makanan yang praktis dan lezat, akan tetapi ada peningkatan risiko sindrom metabolik yang diperoleh dari makanan ini karena tinggi sodium, lemak jenuh yang tidak sehat dan tinggi beban glikemik." (https://food.detik.com).

Mie Sedaap sebagai salah satu produk mie instan yang sangat terkemuka sampai saat ini masih bersaing untuk menjadi yang terdepan di dalam industri pangan yang ada di Indonesia. Walaupun belum menjadi market leader di dalam industri pangan di Indonesia akan tetapi Mie Sedaap selalu memberikan komitmen dan pelayanan yang terbaik untuk terus hadir guna memenuhi semua kebutuhan konsumennya.(https://www.kompasiana.com).

Produk Mie Sedaap banyak dikomsumsi masyarakat umumnya dikarenakan karena penyajiannya yang instan, harganya yang murah, dan rasanya yang sedap, yang membuat Mie Sedaap semakin digemari oleh masyarakat. Tidak heran jikalau banyak sekali perusahaan-perusahaan berlomba-lokmba untuk menciptakan Mie instan dengan citra rasa yang enak dan terlebih lagi diciptakan dengan harga yang murah.

Sejak tahun 2003 Mie Sedaap menjadi salah satu produk yang paling banyak beredar di pasaran.Dengan aktivitas promosi yang sangat intensif dan agresif, membuat produk yang satu ini cukup mendapatkan tempat di hati para konsumen di Indonesia. Berdasarkan riset oleh lembaga terkemuka di Indonesia (Top Brand Award) mengenai hasil rating produk mie instan membuktikan bahwa Mie Sedaap juga punya potensi yang cukup besar di Indonesia dengan hasil sebagai berikut :

(3)

Tabel 1.1.

Rating Produk Mie Instan Pada Top Brand Index Tahun 2018 MIE INSTAN DALAM KEMASAN

BAG

MEREK TBI TOP

Indomie 80% TOP

Mie Sedaap 10.8% TOP

Sarimi 3.4%

Supermie 3.2%

Sumber: https://www.topbrand-award.com (2018)

Berdasarkan tabel di atas pada tahun 2017 Mie Sedaap menduduki peringkat kedua setelah Indomie sejak tahun 2003 silam dengan persentase sebanyak 10.8 persen. Dan merek Indomie sendiri masih merajai pasar produk mie instan dengan persentase sebanyak 80 persen. Itu artinya citra merek milik Mie Sedaap sudah tidak diragukan lagi bagi para konsumen di Indonesia. Penyebab utama dari keadaan ini yakni faktor harga, kualitas produk, dan citra merek dari Mie Sedaap yang mampu meraih posisi kedua pada index tersebut.

Untuk dapat bertahan dalam persaingan bisnis ini, maka perusahaan perlu memiliki strategi bisnis dan strategi pemasaran yang baik pula sehingga perusahaan mampu menghasilkan produk yang efisien dan di harapkan melalui produk yang dihasilkan di dalam perusahaan ini, produk tersebut bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Melalui produk tersebut juga di harapkan dapat memenuhi kepuasan konsumen akan produk yang lebih murah dan kualitas produk yang lebih baik di bandingkan dengan produk pesaing. Agar memperoleh keuntungan, perusahaan pun harus memilih satuan harga yang tidak terlalu tinggi maupun terlalu rendah, tetapi satuan harga yang sama dengan nilai persepsi bagi target konsumen.

Nilai persepsinya akan lebih kecil dibandingkan dengan biayanya, dan peluang penjualan akan hilang (Purnomo; 2013).

(4)

Dengan semakin meningkatnya pesaing dalam produk mie instan, maka perusahaan harus berlomba – lomba untuk dapat merebut pasar seluas-luasnya agar dapat memuaskan kebutuhan konsumen tersebut diharapkan tujuan perusahan untuk menjaga kelangsungan hidup produk serta target dalam mendapatkan laba akan dapat di capai dengan optimal. Oleh karena itu untuk dapat memenangkan persaingan, maka perusahaan harus dapat memahami perilaku konsumen pada pasar sasaran merupakan tugas penting dari menejemen pemasaran, dimana perusahaan dapat mengetahui apa yang dibutuhkan konsumen, bagaimana, mengapa, kapan, dan dimana mereka membeli produk yang diinginkan. Pada bidang pemasaran ini perusahaan melakukan kompetisi diantaranya aspek harga, pelayanan dan merek dari suatu produk.

Produk Mie Sedaap banyak dikomsumsi masyarakat umumnya dikarenakann karena penyajiannya yang instan, harganya yang murah, dan rasanya yang sedap, yang membuat Mie Sedaap semakin digemari oleh masyarakat. Tidak heran jikalau banyak sekali perusahaan-perusahaan berlomba-lokmba untuk menciptakan Mie instan dengan citra rasa yang enak dan terlebih lagi diciptakan dengan harga yang murah. Berikut di jelaskan data penjualan produk Mie Sedaap di Griya Pahlawan pada tahun 2018.

Tabel 1.2.

Data penjualan produk Mie Sedaap di Griya Pahlawan pada tahun 2018 Bulan Tahun 2018

January Rp 12,884,060,843 February Rp 9,639,835,572 Maret Rp 9,420,319,473 April Rp 8,877,394,070 Mei Rp 12,861,371,843 Juni Rp 8,415,438,718 July Rp 8,358,019,622 Agustus Rp 7,752,349,016 September Rp 7,065,337,499

(5)

Bulan Tahun 2018 Oktober Rp 7,032,382,588 November Rp 6,352,316,797 Desember Rp 6,335,507,745

Sumber : Data Penjualan Produk MIE SEDAAP di Griya Pahlawan Bandung

0 2000000000 4000000000 6000000000 8000000000 10000000000 12000000000 14000000000

JANUARI FEB

RUARI MARET

APRL MEI JUNI

JULY AGUSTUS

SEP TEM

BER OKTOB

ER

NOV EMBER

DES EMBER

2018

Sumber : Data Penjualan Produk MIE SEDAAP di Griya Pahlawan Bandung

Gambar 1.1

Grafik Penjualan Produk Pada tahun 2018

Berdasarkan gambar 1.1 di atas, penjualan Produk Mie Sedaap masih dikatakan belum konsisten peningkatan penjualan hanya terjadi di awal tahun dan pertengahan tahun yang diakibatkan penjualan naik karena faktor bulan puasa ataupun lebaran, selebihnya penjualan Mie Sedaap mengalami penurunan di setiap bulannya bahkan bila dilihat di penghujng akhir tahun 2018 kemarin, penjualan produk Mie Sedaap mengalami penurunan yang sangat signifikan. Padahal Mie Sedaap sendiri adalah salah satu mie instan dengan varian rasa yang lebih banyak di banding produk lain dan harganyapun lebih murah daripada produk lain. Berikut dijelaskan perbandingan harga Mie Sedaap dengan produk lain.

(6)

Tabel 1.3

Daftar Harga Produk MIE SEDAAP dan Produk lainnya

PRODUK HARGA

MIE SEDAAP GORENG 90 GR X 40 81300 INDOMIE GORENG 90 GR X 40 98000 SUPERMI GORENG 90 GR X 40 95000 SARIMI GORENG 90 GR X 40 95000

Sumber : Sales Distributor Griya Pahlawan Bandung (Januari, 2019)

Berdasarkan tabel 1.3 di atas, bisa dilihat bahwa harga Mie Sedaap jauh lebih murah dibandingkan dengan produk kompetitor lainnya. Selain ditinjau dari citra merek, faktor harga juga merupakan hal penting untuk menjadi pertimbangan konsumen untuk membeli suatu barang.

Adapun hal lain yang tidak boleh diabaikan dalam pertimbangan harga adalah harga dari produk pesaing karena jika harga produk pesaing lebih murah, pelanggan akan mudah terpengaruh untuk mengkonsumsi produk. Namun, Pelanggan yang setia terhadap suatu merek atau produk tertentu cenderung ‘terikat’ pada merek tersebut dan akan membeli produk yang sama lagi sekalipun tersedia banyak alternatif lainnya (Tjiptono; 2014).

Banyak hal yang berkaitan dengan harga yang melatar belakangi mengapa konsumen memilih suatu produk untuk dimilikinya. Konsumen memilih suatu produk tersebut karena benar-benar ingin merasakan nilai dan manfaat dari produk tersebut, karena melihat kesempatan memiliki produk tersebut dengan harga yang lebih murah dari biasanya sehingga lebih ekonomis, karena ada kesempatan untuk mendapatkan hadiah dari pembelian produk tersebut, atau karena ingin dianggap konsumen lain bahwa tahu banyak tentang produk tersebut dan ingin dianggap loyal (Tjiptono;

2014).

Perbedaan harga antar merek mie Instan yang ada di pasar tidak begitu mencolok karena setiap merek tersebut menerapkan harga yang sedang berlaku, yaitu penetapan harga sama atau presentasi tertentu di bawah atau di atas harga pesaing.

(7)

Namun demikian harga bias menjadi penentu dalam persaingan antar merek (Asdiono;

2014).

Minat beli tidak dapat dipisahkan dari teori keputusan konsumen, karena minat merupakan salah satu dari proses akhir keputusan pembelian dari konsumen.

Minat beli diperoleh dari suatu proses belajar dan proses pemikiran yang membentuk suatu persepsi. Minat yang muncul dalam melakukan pembelian menciptakan suatu motivasi yang terus terekam dalam benaknya dan menjadi suatu kegiatan yang sangat kuat, yang pada akhirnya ketika seorang konsumen harus memenuhi kebutuhannya akan mengaktualisasikan apa yang ada didalam benaknya itu (Anjelia, 2015)

Bandung merupakan kota yang memiliki julukan sebagai salah satu kota pelajar yang mana memiliki jumlah pelajar dan mahasiswa yang banyak dan berasal dari berbagai daerah. Sebagian besar mahasiswa tersebut memilih tinggal di kos- kosan. Sebagai seorang anak kost, pendapatan utama berasal dari kiriman orangtua tiap bulannya. Rata-rata dari mereka belum mempunyai penghasilan tetap. Jadi disini, perilaku mengkonsumsi mie instan merupakan hal yang biasa, mengingat mie instan adalah produk yang harganya cukup terjangkau untuk anak-anak kost, praktis, dan cukup mengenyangkan sebagai pengganti nasi, akhirnya banyak mahasiswa yang mengkonsumsi mie instan (Firdaus; 2011).

Semakin berkembangnya zaman, teknologi dan semakin ketatnya persaingan di dunia industri ini mengharuskan perusahaan mencari cara alternatif untuk bisa bertahan dan bersaing. Salah satu upaya yang di lakukan dalam menghadapi persaingan adalah meliputi citra merek yang baik dan harga yang kompetitif.

Kemampuan suatu produk dalam mengembangkan citra merek yang terbaik akan menguatkan kedudukan atau posisi dari pada produk tersebut (Djaya; 2011).

Merek bukan hanya untuk membedakan produk dari pesaing dan menciptakan daya Tarik, tetapi juga sebagai alat untuk memenangkan persaingan. Dengan demikian, setiap penjual atau pemasar harus mampu membangun misi untuk merek tersebut dan visi harus menjadi seperti apa sebuah merek tersebut dan apa yang harus di lakukan terhadap merek tersebut. Hal ini penting karena konsumen pada umumnya

(8)

lebih menyukai merek yang terkenal meskipun terkadang harga yang ditawarkan lebih mahal (Wijayanti, 2013).

Griya Department store memiliki berbagai cabang perusahaan di kota Bandung diantaranya adalah Griya Department Store Pahlawan yang merupakan perusahaan ritel yang menyediakan kebutuhan para konsumen. Kebutuhan para konsumen itu diantaranya adalah Mie Sedaap, maka dari itu Griya Pahlawan menjadi tempat penelitian yang dilakukan dikarenakan pertimbangan konsumen yang data ke Griya Pahlawan cukup banyak sehingga tidak menyulitkan konsumen dalam melakukan penelitian dan membutuhkan data yang dibutuhkan selama melakukan penelitian.

Selanjutnya penulis mengambil sample sebanyak 30 Responden untuk mengisi kuesioner dari survey awal tentang citra merek dan harga terhadap minat beli konsumen. Dapat dijelaskan dengan tabel sebagai berikut :

Tabel 1.3.

Hasil Pra Survey Penelitian Konsumen Mie Sedaap Di Griya Pahlawan Kota Bandung Pada Tahun 2019

Variabel Pertanyaan Jawaban Responden

Ya Tidak

Freq Persen Freq Persen

Citra Merek (X1)

Produk Mie Sedaap mudah dikenal oleh konsumen

20 66.7% 10 33.3%

Anda Selalu membeli produk Mie Sedaaap karena memiliki citra yang baik

10 33.3% 20 66.7%

Produk mie Sedaap sesuai dengan harapan anda

17 56.7% 13 43.3%

Harga (X2)

Selalu ada harga promosi saat konsumen membeli mie Sedaap

9 30% 21 70%

Harga Mie Sedaap berbeda setiap anda membeli

18 60% 12 40%

Harga Mie Sedaap terjangkan

19 63.3% 11 36.7%

Minat Beli Konsumen membeli Mie 18 60% 12 40%

(9)

Variabel Pertanyaan Jawaban Responden

Ya Tidak

Freq Persen Freq Persen Ulang

(Y)

Sedaap karena keinginan sendiri

Konsumen memberikan rekomendasi kepada konsumen lain untuk membeli produk Mie Sedaap

11 36.7% 19 63.3%

Konsumen mencari produk lain kalau produk yang diinginkan tidak tersedia

21 70% 9 30%

Sumber : Survey Awal (2019)

Dari hasil pra survey yang telah dilakukan peneliti masih ada beberapa masalah yang terjadi pada beberapa pertanyaan seperti pada variabel Citra merek, harga dan minat beli konsumen. Berdasarkan latar belakang diatas, maka dari itu dalam penulisan ini penulis mengambil judul “PENGARUH CITRA MEREK DAN HARGA DALAM MENENTUKAN MINAT BELI ULANG MIE INSTAN MIE SEDAAP DI GRIYA PAHLAWAN BANDUNG”

1.2 Identifikasi, Rumusan Masalah dan Pembatasan Masalah 1.2.1. Identifikasi Masalah

Banyaknya industri yang memproduksi Mie Instan di Indonesia, sehingga menimbulkan persaingan yang kuat diantara industri - industri tersebut. Setiap produsen mie instan tersebut membuat variasi produk dengan didukung strategi pemasaran yang baik untuk mengedukasi dan menarik perhatian konsumen. Selain menggunakan strategi pemasaran, setiap perusahan juga membuat dan mengembangkan citra rasa dan juga kualitas produk untuk bisa bersaing. Industri - industri mie instan bersaing untuk merebut perhatian konsumen dengan melakukan berbagai upaya dan juga inovasi agar konsumen mau membeli produknya sehingga

(10)

dapat memperluas pangsa pasar yang akan mempengaruhi penjualan dari suatu produk.

Untuk dapat bertahan dalam persaingan bisnis ini maka suatu perusahaan harus memiliki strategi bisnis dan strategi pemasaran yang baik pula sehingga perusahaan mampu menghasilkan produk yang lebih efisien dan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen, serta memenuhi harapan dan kepuasan konsumen baik pada segi Merek yang di kenal dikalangan masyarakat dan juga harga produk yang lebih murah dibandingkan produk pesaing.

Selain ditinjau dari citra merek, faktor harga merupakan faktor lainnya yang dapat mempengaruhi minat beli pelanggan dalam membeli suatu produk bahkan bagi sebagian besar masyarakat pertimbangan harga merupakan pertimbangan utama dalam pembelian suatu produk atau jasa. Perbedaan harga antar merek mie instan yang ada di pasar tidak begitu mencolok karena setiap merek tersebut menerapkan harga yang sedang berlaku, yaitu penetapan harga sama atau persentase tertentu dibawah atau diatas harga pesaing. Namun demikian harga menjadi penentu dalam persaingan antar merek. Penetapan harga Mie Sedaap sangatlah murah di bawah merek-merek lain.

1.2.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah dikemukakan di atas maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana tanggapan konsumen terhadap Citra Merek, Harga dan Minat Beli Ulang Konsumen Mie Sedaap di Griya Pahlawan Bandung

2. Seberapa besar pengaruh Citra Merek Terhadap Minat Beli Ulang Konsumen Mie Sedaap di Griya Pahlawan Bandung

3. Seberapa besar pengaruh Harga Terhadap Minat Beli Ulang Konsumen Mie Sedaap di Griya Pahlawan Bandung.

4. Seberapa besar pengaruh Citra Merek Terhadap Harga Mie Sedaap di Griya Pahlawan Bandung.

(11)

1.2.2. Pembatasan Masalah

Mengingat begitu banyak permasalahan yang harus diatasi dan keterbatasan penliti akan tenaga, waktu dan biaya juga agar dapat membahas lebih tuntus dan mencapai sasaran yang diharapkan, perlu adanya pembatasan masalah. Berdasarkan identifikasi yang telah diuraikan, penelitian ini menitikberatkan pada pengaruh citra merek dan harga dalam menentukan minat beli ulang Mie Sedaap.

Selain itu, penelitian ini juga membatasi dalam segi waktu penelitian. Dan unit analisis serta observasi dari penelitian ini dibatasi pada konsumen Mie Sedaap di Griya Pahlawan Bandung.

1.3. Tujuan Penelitian

Maksud dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana Citra Merek dan Harga berpengaruh terhadap minat beli ulang konsumen, sedangkan tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk memperoleh hasil kajian mengenai Citra Merek, Harga dan Minat Beli Ulang Konsumen Mie Sedaap di Griya Pahlawan Bandung.

2. Untuk memperoleh hasil analisis mengenai pengaruh Citra Merek Terhadap Minat Beli Ulang Konsumen Mie Sedaap di Griya Pahlawan Bandung.

3. Untuk memperoleh hasil analisis mengenai pengaruh Harga Terhadap Minat Beli Ulang Konsumen Mie Sedaap di Griya Pahlawan Bandung.

4. Untuk memperoleh hasil analisis mengenai pengaruh Citra Merek Terhadap Harga Mie Sedaap di Griya Pahlawan Bandung.

(12)

1.4. Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Implikasi Akademis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan penulis tentang konsep pemasaran, khususnya Citra Merek, Harga dan Minat Beli Ulang Konsumen serta dapat membandingkan teori- teori yang di dapat dari perkuliahan dengan praktek yang sesungguhnya di dalam perusahaan. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan tambahan informasi dan bahan perbandingan bagi peneliti lain yang meneliti pada bidang usaha yang sama maupun khalayak umum menambah pengetahuannya.

2. Implikasi Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pikiran dalam menangani masalah yang sedang dihadapi berkaitan dengan khususnya Citra Merek, Harga dan Minat Beli Ulang Konsumen.

1.5. Sistematika Penulisan

Adanya sistematika penulisan adalah untuk mempermudah pembahasan dalam penulisan. Sistematika penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini membahas tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, maksud dan tujuan penelitian, manfaat penelitian, serta sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini membahas tentang landasan teori yang digunakan, kerangka pemikiran, hubungan antar variabel dan hipotesis.

(13)

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN

Bab ini membahas tentang rancangan penelitian, batasan penelitian, identifikasi variabel, definisi operasional, dan pengukuran variabel, instrumen penelitian, populasi, sampel dan teknik pengambilan sampel, data dan metode pengambilan data, instrumen penelitian serta teknik analisis data yang digunakan untuk memecahkan masalah dalam penelitian ini.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini mebahas mengenai objek penelitian, metode penelitian, meliputi analisis data yang berisikan tentang rancangan analisis dan pembahasan masalah penelitian mengenai Pengaruh Citra Merek, Harga dalam menentukan Minat Beli Ulang Konsumen.

BAB IV PENUTUP

Berisi kesimpulan-kesimpulan yang didapat dari hasil penelitian dan saran-saran, sebagai masukan bagi perusahaan.

Referensi

Dokumen terkait

Maka hal yang dapat kami lakukan untuk kedepannya yaitu mengadakan kegiatan serupa secara berkala agar bisa meningkatkan pengetahuan dan kemampuan pengguna

pencaharian sebagai buruh tani dan pemetik teh (buruh), kemudian setelah kawasan wisata Sari Ater Resort ini lebih berkembang karena pada saat itu pemerintah

Soalan bahagian (a) menghendaki calon menjelaskan perbezaan antara buruh langsung dengan buruh tak langsung, bahagian (b) menghendaki calon menyatakan dokumen yang

Sedangkan objek dalam penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam dengan menggunakan teknik send a problem di

Kemampuan menjaga kecepatan agar tetap sesuai dengan set point ketika diberi beban maupun kemampuan sistem untuk mengejar kecepatan agar mencapai set point ketika motor mulai

Pada tahun 1985 industri keramik Plered mulai berupaya untuk meningkatkan keramik gerabahnya baik secara kualitas dan kuantitasnya ke industri kerajinan keramik hias

Grafik percepatan pertumbuhan rambut kelinci pada kombinasi ekstrak dibandingkan dengan kontrol normal, kontrol positif dan kontrol negatif Berdasarkan Gambar 2 tersebut

Faktor fisiologis yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain asupan makanan, kadar hemoglobin, kondisi umum jasmani, status gizi dan tonus otot. Pengaruh makanan