• Tidak ada hasil yang ditemukan

3 PERANCANGAN BANGUNAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "3 PERANCANGAN BANGUNAN"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

22 Universitas Kristen Petra 3 PERANCANGAN BANGUNAN

3.1 Program Kebutuhan Ruang dan Besaran Ruang 3.1.1 Program Kebutuhan Ruang

A. Unit Pembinaan

Unit pembinaan merupakan area pelayanan P3K, di mana merupakan suatu area tempat berkumpul dan berlatih pemberian pertolongan pertama para relawan PMI.

• Aula :

Merupakan tempat berlatih praktek para relawan, seperti pemberian pertolongan pada korban perdarahan, luka bakar, evakuasi dan sebagainya.

• Ruang kelas :

Merupakan tempat berlatih teori sebelum pelatihan praktek dilakukan.

Peralatan yang diperlukan adalah media untuk membantu pengajaran seperti slide atau LCD, bangku dan papan tulis.

• Gudang Peralatan diklat :

Merupakan tempat menyimpan peralatan yang dipergunakan untuk latihan.

Gudang peralatan diklat dan peralatan untuk pertolongan pertama dipisahkan, ini mencegah agar peralatan yang dipakai untuk latihan tidak dipakai untuk pemberian pertolongan pertama.

• Ruang bersama :

Merupakan ruang atau area berkumpul para relawan untuk bertemu, bertukar pikiran, bersantai dan berbincang-bincang pada waktu senggang.

B. Unit Siaga :

Unit siaga merupakan area pelayanan siaga pemberian pertolongan pertama, di mana para relawan siaga 24 jam dalam menangani kasus kebakaran dan kecelakaan di Surabaya.

• Ruang jaga siaga :

Ruangan ini beroperasi selama 24 jam, di mana di dalamnya terdapat 3 buah komputer yang terhubung dengan ambulance dan BMKG untuk

(2)

23 Universitas Kristen Petra melihat kondisi cuaca, serta radio panggil yang berhubungan dengan relawan, PMK, dan Linmas.

• Ruang Koordinasi :

Ruangan ini digunakan untuk rapat koordinasi para relawan apabila akan melakukan penjagaan siaga di suatu tempat.

• Gudang peralatan siaga :

Merupakan tempat menyimpan peralatan pertolongan pertama serta peralatan ambulance yang diperlukan untuk pertolongan pertama.

C. Unit Transfusi Darah

Dibagi ke dalam beberapa unit berdasarkan kegiatan dan pengguna :

• Unit Collecting (Koleksi)

Unit Collecting merupakan area pelayanan pengambilan darah, donor darah, dimulai dari pengisian form sampai penyadapan darah dan istirahat setelah donor.

- Lobby :

Merupakan ruang penerima, di sini pendonor diterima, dan dapat mengambil dan mengisi form serta menunggu panggilan untuk masuk ke ruang pemeriksaan donor.

- Ruang administrasi donor :

Para pendonor akan mendaftarkan dirinya sebagai pendonor dengan mengisi formulir pendaftaran donor darah beserta riwayat kesehatan, kemudian menyerahkan kepada petugas administrasi donor. Di ruangan ini, petugas akan mengecek data pendonor.

- Ruang pemeriksaan donor (Checking) :

Dalam ruang pemeriksaan donor ini, terdapat beberapa ruang-ruang pemeriksaan antara lain ruang pemeriksaan hemoglobin dan golongan darah serta ruang pemeriksaan tekanan darah. Hemoglobin diperiksa, apabila kadar hemoglobin pada pendonor kurang dari 12.5, maka pendonor tidak boleh mendonorkan darahnya, Selanjutnya diadakan pemeriksaan golongan darah. Golongan darah diperiksa serta ditulis dalam form yang akan dibawa oleh pendonor.

(3)

24 Universitas Kristen Petra Setelah pemeriksaan hemoglobin dan golongan darah, maka tekanan darah juga akan diperiksa. Tekanan darah normal berkisar antara 100 – 160 untuk sistol dan 60 - 90 untuk diastol. Pendonor yang memiliki tekanan darah yang rendah tidak diperbolehkan untuk mendonorkan darahnya.

- Ruang tunggu :

Setelah diadakan pemeriksaan, form akan diberikan ke petugas administrasi dan didata. Pendonor dapat menunggu di ruang tunggu sampai proses pendataan selesai dan diijinkan untuk mendonorkan darahnya.

- Ruang cuci lengan :

Setelah pendonor diperiksa, apabila pendonor memenuhi persyaratan donor, maka pendonor dapat membersihkan lengan sebelum ke ruang penyadapan darah.

- Ruang Penyadapan Darah / Donor :

Merupakan ruang yang disediakan untuk pengambilan darah. Di sini, pengunjung yang telah membersihkan lengannya berbaring dan diambil darahnya. Darah yang diambil berkisar 350 ml, membutuhkan waktu kira-kira 15 – 20 menit dalam proses pengambilan darahnya.

- Ruang Apheresis :

Ruang apheresis ini merupakan ruang khusus yang dipergunakan untuk mengambil bagian tertentu saja dari darah, misal trombositnya saja, kemudian darahnya akan dikembalikan lagi kepada pendonor.

- Recovery Room :

Ruang ini merupakan ruang pemulihan bagi pendonor apabila pendonor merasa kurang enak badan setelah mendonorkan darahnya.

- Ruang pasca donor :

Setelah pendonor mendonorkan darahnya, mereka dapat menuju ruang pasca donor. Di sini pendonor akan memperoleh roti serta susu dan vitamin. Pendonor dapat beristirahat di ruang pasca donor sambil duduk dan makan setelah mendonorkan darahnya.

(4)

25 Universitas Kristen Petra

• Unit Processing (Pemrosesan Darah) :

Unit Processing merupakan area di mana darah yang telah diterima, didaftar, diproses untuk menjadi komponen-komponen darah yang dibutuhkan oleh penerima darah (recipient).

- Ruang Registrasi darah :

Merupakan ruang di mana darah akan didaftarkan sebelum darah disimpan dan diproses lebih lanjut.

- Ruang penyimpanan darah :

Merupakan ruang di mana darah yang baru datang disimpan. Darah tersebut nantinya akan diproses menjadi komponen-komponen darah.

- Ruang Laboratorium Komponen Darah:

Merupakan ruang tempat pemrosesan darah menjadi komponen- komponen darah yang dibutuhkan oleh pasien. Di sini darah dipisahkan menjadi plasma darah, haemoglobin (HB), dan whole blood.

- Ruang Karantina :

Merupakan ruang di mana darah disimpan dan tidak boleh didistribusikan sampai hasil dari pengujian saring keluar. Apabila hasil pengujian saring baik, maka darah dapat dipindah ke unit distribusi untuk didistribusikan pada masyarakat.

- Ruang Labelling :

Merupakan ruang di mana darah yang akan didistribusikan kemudian diberi label sebelum dipindah ke unit distribusi. Kantong darah diberi label yang diperlukan yaitu berisi barcode identitas donor, golongan darah, tanggal pengambilan dan tanggal kadaluwarsa.

• Unit Testing :

Unit testing merupakan area pengujian sample darah dari pendonor, untuk menjamin keamanan darah yang nantinya akan didistribusikan pada pasien. Area kerja dalam unit testing memiliki persyaratan sebagai berikut:

(5)

26 Universitas Kristen Petra a. Nyaman untuk bekerja, tata ruang yang memungkinkan bekerja dengan

arus gerak yang efektif.

b. Suhu kamar sesuai dan penyinaran yang baik.

c. Kebersihan ruangan dan kebersihan peralatan.

d. Bebas dari serangga.

e. Tidak dimasuki orang yang tidak berwewenang di area tersebut.

- Laboratorium Uji Saring :

Ruang laboratorium uji saring darah merupakan ruang yang dipakai untuk menguji sampel darah yang ada, sehingga dapat diketahui apakah darah tersebut aman atau tidak untuk didistribusikan. Uji saring dilakukan untuk menghindari penyakit menular melalui transfusi darah. Mikro organisme penyebab infeksi virus merupakan penyebab paling umum ditularkan melalui transfusi darah.

Secara standar internasional uji saring yang diharuskan adalah virus Hepatitis B, Hepatitis C, Virus HIV, dan Syphilis.

- Laboratorium Kendali Mutu :

Ruang laboratorium kendali mutu merupakan ruang laboratorium yang digunakan untuk pengembangan dan penelitian, sehingga mutu dan kualitas pelayanan dari unit transfusi darah dapat tetap terjaga.

- Laboratorium praktek :

Ruang laboratorium praktek merupakan area di mana pelatihan dilakukan. Di sini para trainee dapat melakukan praktek dengan menggunakan peralatan yang ada sebelum diterjunkan langsung dalam melakukan kegiatan transfusi darah dan pemrosesannya.

Pemisahan ruang dilakukan untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam pemrosesan darah apabila kegiatan pelatihan dilakukan di tempat yang sama.

- Ruang reagensia :

Ruang ini merupakan ruang penyimpanan materi atau zat atau reagen yang dipergunakan untuk melakukan uji.

(6)

27 Universitas Kristen Petra

• Unit Distribution :

Merupakan area untuk mendistribusikan darah yang telah diuji kepada masyarakat yang memerlukan. Di sini, pengunjung dapat membeli darah dengan membawa sample darah pasien untuk diuji terlebih dahulu.

- Ruang tunggu :

Darah yang telah diperiksa dan lulus uji dari laboratorium dapat didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Dalam ruang tunggu pengambilan darah ini, pengunjung dapat mengisi form permintaan darah. Kemudian, pengunjung menyerahkan form berisi data-data yang diperlukan sambil menunggu kecocokan darah yang dibutuhkan dengan darah yang tersedia. Apabila darah yang tersedia tidak cocok dengan darah yang diperlukan, maka pengunjung harus mencari donor pengganti untuk mencari darah yang cocok dengan darah yang diperlukan tersebut. Donor pengganti bisa dari pihak keluarga atau teman yang bersangkutan.

- Ruang administrasi dan loket :

Ruangan ini merupakan ruangan administrasi petugas yang melayani pemesanan dan pendistribusian darah. Form yang telah diisi oleh pengunjung kemudian dicocokan dengan ketersediaan darah yang ada serta hasil uji silang antara darah yang diperlukan dengan darah yang tersedia.

- Ruang laboratorium uji silang :

Merupakan laboratorium yang dipergunakan untuk menguji kecocokan antara darah yang diperlukan dengan darah yang tersedia.

Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa darah donor tidak akan menimbulkan reaksi apapun pada pasien, darah yang diberikan pada pasien dapat hidup secara maksimal setelah diberikan.

Untuk pemeriksaan uji silang diperlukan sampel darah pasien yang memenuhi syarat, cukup volumenya sehingga serumnya cukup untuk tes, tidak lisis, tidak lipemik dan identitas yang benar.

(7)

28 Universitas Kristen Petra - Ruang distribusi darah :

Merupakan ruang penyimpanan darah yang telah lulus uji saring. Ini berarti darah tersebut telah siap untuk didistribusikan sesuai dengan hasil tes yang ada.

D. Unit Pelayanan Kesehatan Umum :

Merupakan area pelayanan kesehatan umum, di antaranya terdapat pelayanan kesehatan (poli umum) serta poli gigi.

• Ruang tunggu :

Di area ini pengunjung dapat menunggu giliran untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Pengunjung dapat mendaftar dan menunggu giliran untuk dipanggil masuk ke ruang periksa.

• Ruang administrasi / Pendaftaran:

Ruang ini merupakan ruang administrasi di mana pengunjung dapat mendaftarkan diri untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

• Poli Umum :

Disediakan sejumlah bilik untuk poli umum, di mana merupakan ruang periksa kesehatan.

• Poli gigi :

Merupakan ruang pemeriksaan kesehatan gigi, di mana di dalamnya terdapat 2 unit alat pemeriksaan gigi.

• Counter obat :

Merupakan area pemesanan dan pengambilan obat setelah pengunjung diperiksa dan diberi resep. Di sini, resep tersebut dapat ditukarkan dengan obat secara gratis.

• Ruang obat :

Merupakan ruang tempat penyimpanan obat-obatan.

E. Unit Pengelola :

Merupakan unit yang bersifat privat, tidak dapat dimasuki oleh pengunjung.

Unit ini hanya dapat dimasuki oleh para staff dan pengelola bangunan. Di antaranya terdapat kantor-kantor serta ruang penyimpanan data.

(8)

29 Universitas Kristen Petra F. Unit Fasilitas Penunjang :

Terdapat fasilitas-fasilitas penunjang, di antaranya adalah kantin dan mushola.

Kantin diletakkan pada bangunan tersendiri untuk memudahkan sirkulasi service yang diperlukan untuk memasok bahan makanan.

G. Area service :

Area ini ditujukan untuk kepentingan service, berupa loading dock, disposal, dan area untuk utilitas bangunan.

3.1.2 Besaran Ruang

Adapun besaran ruang dalam fasilitas ditentukan sesuai dengan besaran kebutuhan ruang yang diperlukan.

(Lampiran 10)

3.2 Konsep dan Aplikasi Desain 3.2.1 Konsep Desain

Dari pendekatan sistem yang ada, maka didapat konsep dalam perancangan, yaitu konsep Efisiensi. Adapun konsep efisiensi ini diturunkan dalam sistem yaitu sistem sirkulasi, sistem spasial, sistem penghawaan, sistem pencahayaan, sistem pelingkup / selubung bangunan, sistem dekoratif, sistem struktur dan sistem utilitas serta disposal.

Konsep perancangan mengambil efisiensi dalam penataan ruang dan massa serta penggunaan energi sebagai dasar pemikiran. Efisiensi dapat dicapai dengan mengetahui sistem kegiatan, sirkulasi, aktivitas, dan sifat kegiatan pengguna di dalamnya.

3.2.2 Aplikasi Desain 3.2.2.1 Sistem Sirkulasi

Dalam menentukan letak zona perlu diperhatikan sirkulasi pengguna bangunan, dalam hal ini sirkulasi yang perlu diperhatikan adalah sirkulasi

(9)

30 Universitas Kristen Petra pengunjung, sirkulasi staff, sirkulasi darah dan sirkulasi servis untuk mendapatkan sirkulasi yang efisien.

Konsep efisiensi diturunkan ke dalam sistem sirkulasi untuk mendapatkan sirkulasi yang efisien. Dari berbagai macam bentuk sirkulasi yang ada, dibuat analisa untuk mendapatkan sirkulasi yang tepat dan efisien dalam bangunan sesuai dengan kegiatan yang terjadi di dalamnya.

Sirkulasi linier

Sirkulasi radial Sirkulasi grid

Dari hasil analisa, ditemukan bahwa kegiatan yang ada selalu berpusat pada suatu tempat. Sebagai contoh, terdapat area lobby, hall, ruang tunggu sebagai pusat dari kegiatan sebelum pengunjung melakukan kegiatan lainnya. Untuk mencapai sirkulasi yang efisien, maka sirkulasi yang dipakai menggunakan sirkulasi langsung yang berbentuk radial. Oleh karena itu, sistem radial dipilih, agar pengunjung yang datang dapat menuju ke tempat yang dituju langsung tanpa harus berputar-putar atau melalui ruang lainnya terlebih dahulu.

Gambar 3.1 Alur Sirkulasi

(10)

31 Universitas Kristen Petra Gambar 3.2 Sirkulasi dalam Fasilitas Poliklinik

Gambar 3.3 Sirkulasi dalam Fasilitas Pembinaan, Siaga, dan Kantor

(11)

32 Universitas Kristen Petra

Gambar 3.4 Sirkulasi dalam Fasilitas Unit Transfusi Darah

(12)

33 Universitas Kristen Petra Gambar 3.5 Sirkulasi antar Fasilitas

Aplikasi penerapan sistem radial dalam bangunan diterapkan dengan menghadirkan satu ruang penerima dalam bangunan untuk menuju ke area yang diinginkan. Pengunjung yang datang dapat memilih menuju ke tempat yang dituju dari hall penerima. Selain itu, ruang penerima juga dihadirkan dalam wujud ruang luar, aplikasi sirkulasi radial juga diterapkan dalam sirkulasi antar bangunan. Di sini, ruang luar berfungsi sebagai ruang penerima, di mana pengunjung yang masuk dapat memilih menuju ke bangunan yang akan dituju dari ruang luar.

Gambar 3.6 Pola Sirkulasi dalam Site

(13)

34 Universitas Kristen Petra Gambar 3.7 Pola Sirkulasi dalam Bangunan Transfusi Darah

3.2.2.2 Sistem Spasial

Konsep efisiensi diturunkan dalam sistem spasial, untuk mendapatkan penataan ruang yang efisien. Dengan sistem sirkulasi radial yang ada, maka penataan massa atau organisasi ruangnya mengikuti, yaitu penerapan organisasi ruang terpusat.

Pada aplikasi di dalam desain, ruang hall, ruang tunggu, lobby merupakan ruang-ruang pusat, di mana pengunjung dapat langsung menuju ke area yang diinginkan dari area tersebut tanpa harus melalui area-area lainnya di dalam bangunan.

Pusat

Gambar 3.8 Konsep Organisasi Ruang Terpusat

(14)

35 Universitas Kristen Petra Gambar 3.9 Pola Spasial dalam Bangunan Transfusi Darah

Gambar 3.10 Pola Spasial dalam Bangunan Poliklinik

Gambar 3.11 Pola Spasial dalam Bangunan Pembinaan dan Siaga

(15)

36 Universitas Kristen Petra Karena di dalam site terdapat berbagai kegiatan dengan sifat yang berbeda, maka terdapat pemisahan antara massa yang satu dengan lainnya berdasarkan sifat kegiatan di dalamnya. Untuk area fasilitas pelayanan kesehatan seperti poliklinik dan unit transfusi darah diletakkan berdekatan. Sedangkan fasilitas pembinaan dan siaga serta area kantor diletakkan pada area yang berbeda, karena memiliki sifat serta pengguna yang berbeda, dalam hal ini bangunan lebih bersifat private. Sebagai ruang peralihan, dihadirkan fasilitas penunjang (kantin) sebagai pemisah dari kedua zona tersebut.

Gambar 3.12 Pembagian Spasial Berdasarkan Kegiatan

3.2.2.3 Sistem Penghawaan

Penerapan konsep efisiensi dalam sistem penghawaan, sehingga menghasilkan sistem penghawaan yang efisien. Sistem penghawaan aktif diterapkan pada bangunan unit transfusi darah dan kantor. Sedangkan untuk bangunan pembinaan dan siaga, poliklinik serta fasilitas penunjang, lebih memanfaatkan penghawaan alami.

Dalam memaksimalkan penghawaan alami dalam bangunan, ruang-ruang kerja diletakkan pada area atau sisi luar bangunan. Hal ini dimaksudkan untuk mengoptimalkan penghawaan dalam ruang kerja.

PERALIHAN

PUBLIC

PRIVATE

(16)

37 Universitas Kristen Petra Pada bangunan penunjang, bangunan dibuat terbuka, dengan dinding yang rendah pada keempat sisinya serta minim sekat dalam bangunan, sehingga pembukaan menjadi lebih lebar dan memaksimalkan penghawaan serta ventilasi silang dalam bangunan tersebut.

3.2.2.4 Sistem Pencahayaan

Penerapan konsep efisiensi dalam sistem pencahayaan, sehingga menghasilkan sistem pencahayaan yang efisien. Sistem pencahayaan memanfaatkan pencahayaan alami yang masuk ke dalam bangunan. Hal ini bertujuan untuk mengefisiensi penggunaan energi yang digunakan untuk pencahayaan dalam bangunan.

Aplikasi penerapan untuk memanfaatkan pencahayaan alami dalam bangunan adalah dengan menempatkan area kerja atau area-area penting yang memerlukan penerangan lebih baik di sisi luar bangunan. Hal ini bertujuan untuk memaksimalkan penggunaan pencahayaan alami dalam bangunan. Untuk menghindari panas yang berlebihan masuk ke dalam bangunan, selain dibuat pembukaan-pembukaan, pembukaan tersebut dilengkapi dengan alat pembayangan. Alat pembayangan ini memiliki fungsi ganda, yaitu untuk mengurangi panas masuk ke dalam bangunan serta memantulkan cahaya agar dapat lebih jauh lagi masuk ke dalam bangunan.

Gambar 3.13 Pemanfaatan Shading Sebagai Pemantul Cahaya

Aplikasi lainnya adalah dengan merancang bangunan dengan ketebalan yang ramping, sehingga bangunan dapat mendapatkan cahaya secara optimal

(17)

38 Universitas Kristen Petra (meminimalisasi ruang-ruang negatif yang tidak mendapatkan cahaya atau sedikit mendapatkan cahaya dalam bangunan).

Gambar 3.14 Bentukan Bangunan yang Ramping untuk Memaksimalkan Pencahayaan

3.2.2.5 Sistem Dekoratif

Penerapan konsep efisiensi dalam sistem dekoratif diterapkan dalam tampilan bangunan yang simpel dan minim ornamen. Elemen dekoratif dalam bangunan lebih terbentuk dari alat pembayangan yang dipakai (shading).

Pemanfaatan shading selain sebagai alat pembayangan tetapi juga sebagai elemen dekoratif pada fasad bangunan mengoptimalkan penggunaan shading itu sendiri, sehingga efisiensi bahan dapat tercapai.

Gambar 3.15 Tampak Bangunan dengan Shading Sebagai Elemen Dekoratif

(18)

39 Universitas Kristen Petra 3.2.2.6 Sistem Struktur dan Selubung Bangunan

Penerapan konsep efisiensi dalam sistem struktur, sehingga menghasilkan struktur yang efisien. Bangunan dibuat bermodul, dengan modul keseluruhan 6 x 6. Selain itu, pemakaian material untuk struktur utama bangunan memakai material beton, di mana material beton memiliki harga yang lebih murah dibandingkan dengan material baja. Hal ini memungkinkan mengingat bentang yang ada pada bangunan tidak terlalu besar. Untuk material penutup atap menggunakan material genteng, dengan pertimbangan efisiensi harga pada bangunan.

3.2.2.7 Sistem Utilitas

Sistem utilitas meliputi sistem distribusi air bersih, sistem pembuangan air kotor, sistem pembuangan air hujan, sistem listrik, serta sistem disposal sampah, baik sampah medis maupun sampah non medis.

Untuk sistem distribusi air bersih, menggunakan sistem up-feed, di mana di dalam site terdapat 1 tandon utama dengan 2 tandon distribusi untuk disalurkan atau didistribusikan ke bangunan lainnya dalam site.

Untuk sistem pembuangan air kotor, sistem yang dipakai adalah dengan menggunakan septiktank dan resapan. Hal ini dikarenakan jumlah pemakai yang tidak terlalu banyak, sehingga septiktank lebih efisien daripada menggunakan STP.

Untuk sistem pembuangan air hujan sendiri, menggunakan talang vertikal dan horisontal, serta terdapat bak kontrol di sekeliling bangunan.

Untuk sistem listrik, terdapat ruang panel utama dan panel distribusi.

Untuk listrik cadangan, menggunakan ruang genset, di mana diletakkan di bawah bangunan utama, yang merupakan bangunan yang membutuhkan listrik cadangan paling besar.

Sistem disposal pada bangunan menggunakan incinerator. Hal ini tentunya akan lebih menghemat biaya karena dengan tersedianya sistem disposal di dalam bangunan, maka pengeluaran biaya untuk pembuangan sampah medis dapat lebih murah.

(19)

40 Universitas Kristen Petra 3.2.2.8 Ekspresi / Tampilan Bangunan

Ekspresi dan tampilan bangunan menggambarkan karakter dari Palang Merah Indonesia. Di sini, Palang Merah Indonesia sebagai organisasi yang bersifat formal, sehingga bentukan bangunan utama cenderung simetri, dengan mengambil garis sumbu dari perputaran jalan utama di depan site. Selain itu, penerapan konsep efisiensi mempengaruhi bentukan yang diambil. Dengan bentukan bangunan berasal dari bentukan dasar geometri, yaitu kotak atau persegi, maka tampilan bangunan menjadi fungsional, karena bentuk yang dihasilkan mengoptimalkan pemanfaatan ruang di dalamnya.

Untuk bangunan utama, memiliki bentukan dan ketinggian yang berbeda dari lainnya. Hal ini untuk mengekspresikan bahwa pelayanan dalam kegiatan Palang Merah Indonesia adalah yang paling penting, sehingga massa dibuat lebih tinggi dan berbeda dari lainnya. Sedangkan untuk bangunan fasilitas penunjang, karena merupakan bangunan penghubung antar kedua zona, bangunan dibuat terbuka, dengan dinding rendah pada keempat sisinya serta minim sekat, untuk menghadirkan kesan mengundang dari kedua zona tersebut.

Bentukan bangunan dibuat memanjang, untuk menjawab upaya dalam memasukkan cahaya ke dalam bangunan. Bangunan cenderung dibuat ramping, sehingga cahaya dapat masuk ke dalam ruang dan membantu dalam pemanfaatan energi secara efisien.

Gambar 3.16 Perspektif Entrance ke Bangunan Utama

(20)

41 Universitas Kristen Petra Gambar 3.17 Tipikal Bentukan Massa dalam Site

Gambar 3.18 Bentukan Massa Fasilitas Penunjang

Secara keseluruhan ekspresi bangunan didasarkan pada ekspresi fungsional, dengan bentukan berasal dari bentukan geometris. Pemilihan bentukan atap juga didasarkan oleh konsep efisiensi, di mana atap menjawab kebutuhan akan perlindungan terhadap iklim di Indonesia secara lebih baik.

Untuk elemen unity, bangunan memiliki elemen warna dasar yang sama, yaitu merah dan putih, di mana juga mencerminkan identitas dari Palang Merah Indonesia yang identik dengan gambar Palang Merah dan Bunga Putih.

(21)

42 Universitas Kristen Petra Gambar 3.19 Tampak Bangunan Keseluruhan

Gambar 3.20 Perspektif Bangunan

3.3 Pendalaman Daylighting

Menurut data survey, jumlah pemakaian energi listrik dalam bangunan terbesar adalah untuk konsumsi penerangan atau pencahayaan dalam bangunan.

Oleh karena itu, untuk upaya mencapai efisiensi energi, maka pemakaian pencahayaan alami (daylight) diperlukan, sehingga pemakaian energi listrik untuk pencahaayan dapat diminimalkan.

(22)

43 Universitas Kristen Petra Gambar 3.21 Diagram Pemakaian Konsumsi Energi dalam Bangunan

Aplikasi penerapan daylight dalam bangunan : - Penentuan orientasi bangunan

- Perhitungan total area pembukaan dalam bangunan

- Pengecekan pembukaan yang dibuat dengan program DIAL

Perhitungan Total Area Pembukaan

Gambar 3.22 Rumus Perhitungan Total Area Pembukaan

(23)

44 Universitas Kristen Petra Gambar 3.23 Tabel Kebutuhan Daylight Factor dalam Bangunan

(Sumber : Basic Data for the Design of Buildings : Daylight, 1982)

(24)

45 Universitas Kristen Petra Contoh penerapan daylight dalam bangunan kantor. Kantor menerapkan sistem open plan, sehingga mempermudah pemanfaatan daylight dalam ruang.

Gambar 3.24 Denah Kantor dengan Arah Orientasi Hadap ke Utara

Perhitungan total area pembukaan pada Bangunan AVERAGE DF = 5

TOTAL AREA SURFACES = 1218 M2 AREA REFLECTANCE = 0.5

VISIBLE TRANSMITTANCE = 0.5 VERTICAL ANGLE = 78,75 DERAJAT

REQUIRED GLAZED AREA = 2 X AV DF X TOT. SURFACE X 1 - REF VIS. TRANS X VERTICAL. ANGLE = 154.6 M2

JADI, PEMBAGIAN PEMBUKAAN PADA SISI-SISI BANGUNAN = UTARA = 40.2 M2

SELATAN = 62.5 M2 TIMUR = 43.75 M2 BARAT = 29.25 M2

(25)

46 Universitas Kristen Petra Pengecekan dengan Program DIAL

Gambar 3.25 Pembagian Denah untuk Perhitungan

Karena program DIAL terbatas dengan bentukan massa kotak, sehingga perhitungan dibagi menjadi 2 bagian.

Gambar 3.26 Hasil Pengukuran Denah A pada Bangunan

(26)

47 Universitas Kristen Petra Gambar 3.27 Penerapan dalam Desain

Denah bagian A :

Bagian tengah bangunan kurang memenuhi kebutuhan daylight untuk kerja, sehingga untuk area bagian tengah dipakai sebagai area sirkulasi. Untuk area bidang kerja, diletakkan di pinggir bangunan.

Gambar 3.28 Hasil Pengukuran Denah B pada Bangunan

(27)

48 Universitas Kristen Petra Gambar 3.29 Penerapan dalam Desain

Denah bagian B :

Bagian utara bangunan memiliki DF yang lebih tinggi dari kebutuhan, sehingga dipakai untuk area penerima (hall).

Rata - rata DF = 5.4 % (memenuhi persyaratan kebutuhan DF office)

Untuk mengetahui perilaku cahaya masuk ke dalam ruang, maka cahaya atau sinar matahari yang datang digambar dalam potongan. Sudut datang sinar matahari yang tergambar adalah sudut altitude sepanjang tahun, di mana sudut yang tergambar adalah sudut terbesar dan sudut terkecil arah datangnya matahari. Pada potongan terlihat, perilaku cahaya masuk ke dalam bangunan, dengan memanfaatkan pantulan dari shading dan plafon pada bangunan.

Gambar 3.30 Gambar Persebaran Cahaya dalam Bangunan Kantor

(28)

49 Universitas Kristen Petra Gambar 3.31 Gambar Persebaran Cahaya dalam Bangunan

Gambar 3.32 Gambar Persebaran Cahaya dalam Bangunan

3.4 Sistem Struktur dan Konstruksi Bangunan 3.4.1 Sistem struktur

Sistem struktur yang dipakai adalah sistem struktur rangka, dengan spesifikasi material sebagai berikut :

• kolom : beton

• balok : beton

• rangka atap : kuda–kuda memakai baja IWF 20/40, sedangkan gording memakai baja kanal CNP 7,5/20, dan penutup atap memakai genteng.

(29)

50 Universitas Kristen Petra Gambar 3.33 Aksonometri Struktur

3.4.2 Konstruksi Bangunan

Konstruksi menggunakan material beton, karena memiliki pertimbangan :

• Beton memiliki harga yang lebih murah dari baja sehingga dapat efisiensi dalam biaya.

• Bentang bangunan tidak terlalu besar (modul 6 x 6) sehingga cukup menggunakan material beton.

3.5 Sistem Utilitas 3.5.1 Utilitas air bersih

Untuk pemenuhan kebutuhan air bersih pada proyek menggunakan sumber air PDAM, dengan menggunakan sistem up-feed dalam distribusi air bersihnya.

Bangunan memiliki satu tandon utama, dan terdapat 2 tandon distribusi untuk mendistribusikan air ke bangunan-bangunan yang ada.

PDAM Meteran Tandon

Utama R. Pompa

Tandon Distribusi

Skema 3.1 Skema Utilitas Air Bersih

(30)

51 Universitas Kristen Petra 3.5.2 Utilitas air kotor

Pembuangan air kotor disalurkan ke resapan sebelum dibuang ke saluran kota. Pembuangan kotoran akan menuju ke septiktank dan kemudian diendapkan diresapan sebelum disalurkan ke saluran kota. Untuk area kantin, menggunakan grease trap sebelum dibuang ke resapan dan saluran kota. Pada proyek ini tidak menggunakan STP karena volume pembuangan kecil sehingga lebih efisien menggunakan septiktank.

• Kotoran : dari kloset, urinoir.

Skema 3.2 Utilitas Kotoran

• Air Kotor : dari wastafel, floor drain, kolam, dll.

Skema 3.3 Utilitas Air Kotor

3.5.3 Utilitas air hujan

Air hujan disalurkan ke talang, dari talang ditampung pada bak kontrol dan kemudian dibuang ke saluran kota.

Skema 3.4 Utilitas Air Hujan

3.5.4 Sistem Listrik

Sistem listrik pada bangunan menggunakan sumber listrik dari PLN yang didistribusikan ke tiap-tiap bangunan. Pada proyek disediakan energi cadangan berupa genset untuk antisipasi bila listrik PLN padam.

Kotoran Septiktank Sumur Resapan

Saluran kota

Air Kotor Sumur Resapan

Saluran kota

Air Hujan Talang Horisontal - Vertikal

Bak Kontrol

Saluran kota

(31)

52 Universitas Kristen Petra Skema 3.5 Skema Listrik

3.5.5 Sistem AC

Sistem AC menggunakan sistem AC central, di mana dipakai pada 2 bangunan yaitu bangunan unit transfusi darah dan bangunan kantor. Bangunan lainnya tidak dilengkapi dengan sistem pendingin.

Alasan pemilihan AC central karena pada unit transfusi darah memiliki jam operasional 24 jam sehari, dan beban pemakaian tidak berubah atau sedikit berubah sehingga menggunakan sistem VAV. Sama halnya dengan bangunan kantor, meski jam operasional hanya sampai jam 5, akan tetapi beban pemakaian tidak banyak berbeda.

Skema 3.6 Skema AC

3.5.6 Sistem Disposal

Sampah dalam site diangkut dan disimpan dalam tempat penyimpanan sampah. Untuk sampah organik, seperti bekas sampel darah, bekas kantong darah, serta jarum suntik, dibuang dengan cara pembakaran. Disposal menggunakan incinerator sebagai alternatif disposal sampah medis.

PLN Trafo MDP Panel

Distribusi

Genset

Chiller AHU Distribusi ke ruang-ruang

(32)

53 Universitas Kristen Petra Gambar 3.34 Incinerator

Sumber : http://www.karyamitra.co.id

Gambar

Gambar  3.3 Sirkulasi dalam Fasilitas Pembinaan, Siaga, dan Kantor
Gambar  3.4 Sirkulasi dalam Fasilitas Unit Transfusi Darah
Gambar  3.6 Pola Sirkulasi dalam Site
Gambar  3.8 Konsep Organisasi Ruang Terpusat
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pemilihan umum 1955 merupakan praktek demokrasi bagi negara Indonesia yang baru merdeka dengan tujuan untuk menyalurkan aspirasi dikalangan elit politik pada waktu

Pengendalian mutu merupakan alat penting bagi manajemen produksi pengemasan produk untuk menjaga, memelihara, memperbaiki dan mempertahankan mutu produk agar sesuai dengan standar

Sebuah ikatan peptida (amida peptida atau linkage) adalah ikatan kovalen terbentuk antara Sebuah ikatan peptida (amida peptida atau linkage) adalah ikatan kovalen

Alhamdulillah, penulis syukuri atas kehadirat Allah SWT dengan segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga skripsi yang berjudul “Penerapan Konseling Behavioristik

temporal selection dan spatial selection. Spatial selection atau pemilihan data secara spasial yang digunakan yaitu data citra satelit yang mencakup wilayah Bogor dengan

Pembangunan masyarakat yang berbasis kearifan lokal songu lara mombangu umumnya memiliki nilai instrumental yang secara nyata manfaatnya memberikan perkembangan

Bagaimana mendesain bentuk dari sebuah rumah susun dengan menggunakan peti kemas tanpa terlepas dari kenyamanan calon penghuni dan sesuai dengan perilaku dari penghuni mengingat

• Untuk bangunan penerima dan ruang pamer tetap pembayangan yang dipakai adalah pembayangan horisontal dengan memakai sosoran sepanjang 1.5m-2m, dinding yang terdapat jendela