• Tidak ada hasil yang ditemukan

3. PERANCANGAN BANGUNAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "3. PERANCANGAN BANGUNAN"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

3.1. Fasilitas Bangunan 3.1.1. Fasilitas Umum

• Unit komersil

• Warung

• Wc umum

• Plaza pedagang kaki lima

• Pangkalan bemo 3.1.2. Bangunan Utama 3.1.2.1. Unit hunian keluarga

• Ruang tamu

• Ruang keluarga

• Ruang makan

• Ruang cuci dan jemur

• Kamar mandi

• Kamar tidur utama

• Kamar tidur anak

• Balkon

3.1.2.2 Unit hunian lajang

• Ruang makan

• Kamar tidur bersama (2 orang)

• Balkon bersama

• Kamar mandi bersama 3.1.3. Fasilitas penunjang 3.1.3.1Balai RW

• Ruang Aula

• Kantor pengelola

• Wc umum

(2)

3.1.3.2. Ruang komunal

• Ruang bersama

• Wc umum

• Taman bersama 3.1.4. Fasilitas Servis

• Pos jaga

• R.Genset

• R.panel

3.1.5. Fasilitas parkir

• Lahan parkir kendaraan bermotor untuk pengunjung area komersil.

• Parkir loading dock untuk area komersil.

• Lahan parkir untuk penghuni rumah susun.

3.2. Luasan Ruang

Tabel 3.1. Besaran Ruang Fasilitas Utama

Ruang Kapasitas Standar Sumber Qty Luasan Unit Hunian tipe 28

Unit Hunian tipe 26 Unit Hunian tipe 11

1 KK 1 KK 4 org

6,05x2,44=14.7m2 12.2x2,44 =29.7 m2 6,05x2,44=14.7m2 5,09x2,44=12.4 m2 5,09x2,44=12.4 m2

Survey Survey Survey

354 118 140

9912 m2 3068 m2 1540 m2 TOTAL 14520 m2

Fasilitas Umum

Ruang Kapasitas Standar Sumber Qty Luasan Unit komersil 10-25 org 6,05x2,4=14.7m2

6,05x2,4=14.7m2

Survey 12 352.8 m2 Kamar mandi umum 2 org 1 unit kamar

mandi = 9m2

NAD 2 27 m2

Warung 15 org 4x6=24 m2 DMRI 5 120 m2

Pos jaga 2-4 org 1 org 1,5m2 DMRI 3 18 m2

TOTAL 667.8 m2

Universitas Kristen Petra

(3)

Tabel 3.1. Besaran Ruang (sambungan) Fasilitas Penunjang

Ruang Kapasitas Standar Sumber Qty Luasan

Ruang Komunal 10-25 org 153,5 m2 DMR 4 614 m2

Balai RW 100 org 1 org 1,5m2 DMRI 1 150 m2

TOTAL 764 m2

Fasilitas Mekanikal Elektrikal dan Servis

Ruang Kapasitas Standar Sumber Qty Luasan R.keamanan 2-4 org 1 org 1,5m2 Dimesi

manusia

&Ruang Interior

4 24 m2

Gudang - Min 60 m2 Survey 1 60 m2

Gudang alat perawatan

- Min 60 m2 Survey 1 60 m2

Genset - Min 50 m2 Survey 2 100 m2

Trafo - Min 6,25 m2 Survey 1 12,5 m2

Pompa - Min 6,25 m2 Survey 16 100 m2

Panel - Min 6,25 m2 Survey 1 12,5 m2

TOTAL 369 m2

Rekapitulasi Luas Bangunan

Ruang Luasan

Fasilitas Utama 14.520 m2

Fasilitas Umum 667,8 m2

Fasilitas Penunjang 764 m2

Fasilitas Mekanikal Elektrik dan Servis 369 m2 TOTAL 16.320,8 m2 Keterangan:

NAD: Neufert Architects’ Data

HSRBD: Handbook of Sport and Recreational Building Design DMRI: Dimesi manusia &Ruang Interior

3.3. Konsep Perancangan

Untuk menemukan konsep perancangan dengan benar, ada dua hal yang harus diketahui terlebih dahulu, yaitu permasalahan disain dan pendekatan perancangan.

Karena dari permasalahan disain yang ada dan cara pemecahan yang tepat melalui pendekatan perancangan akan didapat sebuah kata kunci yang kemudian dari kata

(4)

kunci tersebut didapatkan sebuah konsep yang akan membuat disain terselesaikan dengan baik, karena masalah yang ada telah terpecahkan dan disain itu sendiri punya dasar sendiri yang membedakan dengan disain – disain yang lain.

3.3.1. Masalah disain

Bagaimana mendesain bentuk dari sebuah rumah susun dengan menggunakan peti kemas tanpa terlepas dari kenyamanan calon penghuni dan sesuai dengan perilaku dari penghuni mengingat bahwa calon penghuni adalah dari kalangan buruh pelabuhan dan mereka memiliki kebiasaan yang unik dan fungsi kegunaan maupun kekuatan struktur peti kemas serta nilai estetika, desain inovatif sehingga dapat berkarakter kuat sebagai perumahan pekerja pelabuhan sehingga dapat mengangkat nilai dari pekerja pelabuhan, memperhatikan nilai ekonomis mengingat bahwa calon penghuni adalah berasal dari kalangan menengah kebawah maka harus mengingat nilai ekonomis.

3.3.2. Pendekatan perancangan

Pendekatan perancangan yang diterapkan untuk menyelesaikan permasalahan- permasalahan yang ada yaitu pendekatan perilaku sehubungan dengan kebiasaan mereka yang tinggal di hunian horisontal bukan di hunian vertikal maka diperlukan beberapa penyesuaian, dengan mempertimbangkan kebiasaan para calon penghuni yang unik sehingga perancangan desain mengacu pada perilaku dari buruh pelabuhan.

Buruh pelabuhan Memiliki karakter yang unik

Menciptakan rumah susun yang nyaman sesuai dengan karakter penghuni

Dengan penyesuaian terhadap perilaku penghuni

Dapat meningkatkan derajat buruh pelabuhan

Universitas Kristen Petra

(5)

Gambar 3.1 Skema Pendekatan Perancangan 3.3.3. Pendalaman

Pendalaman yang dipilih adalah pendalaman struktur, dimana pengenalan akan kekuatan struktur dari peti kemas serta pengenalan karakter peti kemas akan dapat menghasilkan komposisi yang efisien serta kemudahan dalam konstruksi.

Penggunaan peti kemas Memiliki struktur yang unik

Pendalaman Struktur

Dapat menggunakan struktur peti kemas secara maksimal

Gambar 3.2 Skema Pendalaman Perancangan

3.3.4. Konsep Perancangan Bangunan

Berawal dari pemberian wadah bagi buruh pelabuhan yang mengharapkan dapat memberikan penghidupan yang lebih layak bagi buruh pelabuhan yaitu dengan pengadaan sumah susun sederhana (rusuna) yang menuntut desain yang optimal, ekonomis, efisien, serta nyaman. Dengan penggunaan peti kemas maka harus mengingat kenyamanan dari penghuni yaitu berdasar dari perilaku. Didapat bahwa buruh pelabuhan sangat sering berada di luar rumah dan bersosialisasi (cangkrukan) dan biasanya berada di depan rumah, di ujung gang, serta pendapa, maupun pos kamling. Ruang komunal untuk menampung kegiatan mereka sangatlah utama, karena pekerjaan buruh pelabuhan berdasarkan borongan maka tidak setiap hari mereka bekerja dan mereka lebih banyak menghabiskan waktunya berada di rumah dan cangkrukan . Ruang komunal terbagi atas beberapa tahapan dari yang terkecil yaitu antar tetangga sampai penghuni antar blok, yang terkecil terjadi pada selasar-selasar depan unit hunian, dan yang paling utama adalah ruang komunal yang terdapat pada ruang yang terdapat dibawah unit hunian lajang, dimana posisinya berada di tengah-tengah blok hunian.

Penempatan hunian lajang berada di tengah bertujuan agar seakan-akan lajang buruh pelabuhan yang bersifat liar dapat terawasi oleh lingkup hunian keluarga yang menegelilinginya.

(6)

Universitas Kristen Petra

U

Gambar 3.3 Konsep Perancangan

Bentukan didapat dari permainan peti kemas tanpa merubah bentukan das

ar mempermudah sirk

Unit

Ruang

Gambar 3.4. Ruang Komunal

arnya, sehingga dengan mengenali struktur dari peti kemas didapat bentukan bentukan yang menarik, ada dua macam bentukan yang didapat yaitu bentukan yang teratur maupun yang tidak teratur, kesemuaannya menggunakan struktur tambahan seminimal mungkin mengingat nilai ekonomisnya.

Bagi tempat hunian peti kemas disusun lebih teratur ag

ulasi dan utilitas. lalu vocal point terjadi pada ruang komunal dan masa komunal yaitu dengan penataan yang tidak teratur, sehingga terlihat perbedaannya dengan jelas.

Hunian Lajang

Komunal

Universitas Kristen Petra

(7)

3.4. Aplikasi Disain :

• yamanan thermal dan akustik, mengingat bahan dari

• lajang dan blok

• n berada pada unit komunal yang mewadahi kegiatan para

• i. Karena

h pelabuhan yang memiliki nilai

erja buruh pelabuhan yang berdasarkan sistem Dasar perancangan

Memperhatikan ken

container adalah plat besi. Yaitu dengan penggunaan sistem dinding hollow sehingga dapat dialiri udara. Pembukaan dan penghawaan yang baik adanya ventilasi dan angin-angin. Dengan penghawaan di dalam dinding dapt mereduksi panas dengan baik. Dengan penambahan atap sudah dapat mengurangi gangguan akustik akibat hujan. Bahan pelapis dinding dalam yang bersifat konduktor suara dan panas. Misal produk kalsiboard.

Desain blok hunian yang saling terintegrasi antara blok hunian

hunian keluarga, saling mengawasi sehingga memunculkan ruang-ruang positif. Serta menghindari lorong-lorong gelap yang cenderung berpotensi terjadi hal negatif.

Epicentrum kegiata

penghuni (tempat cangkruk, tempat bermain catur dan lain-lain , tempat berbincang, warung), dimana kegiatan sosialisasi ini merupakan kebiasaan utama dari para uruh pelabuhan. Didukung dengan berbagai ruang-ruang komunal minor berupa wc fasilitas bersama ruang terbuka bersama.

Unit komunal merupakan vocal point dari kompleks rusuna in

merupakan konsep utama, yaitu didapat dari studi perilaku, kebiasaaan dan pola hidup pengguna ( buruh pelabuhan).

Ruang komunal ; kehidupan para buru

kebersamaan serta solidaritas sesama yang tinggi, kesatuan yang besar membuat mereka saling terikat satu sama lain dan sangat mengutamakan komunikasi antar sesama.

Ruang komunal ; pola k

borongan, mengakibatkan mereka lebih sering berada di rumah sebagai penganguran, sehingga perlu adanya tempat untuk menampung kegiatan mereka, yang berupa ruang-ruang positif, terbuka sehingga diharapkan mereka melakukan kegiatan yang positif juga.

(8)

• Jalur sirkulasi utama memilki lebar minimal 6 meter dan menggunakan blok- blok paving. Penggunaan jalur selebar 6 meter agar dapat dilalui oleh pemadam kebakaran.

• Penataan container dengan penggunaan penambahan elemen struktural seminim mungkin. Dengan teori penyaluran beban melalui titik terkuat pada peti kemas yaitu pada kolom setiap pojok dari modul. Bentukan bebas tetapi tetap harus mempertemukan antar titik.

Ruang luar berhubungan dengan masyarakat luar di sediakan kawasan jajanan sebagai entrance serta wadah bagi warga sekitar untuk bersosialisasi dengan penghuni rusuna serta pemberian fasilitas umum bagi sekitar lokasi

3.4.1. Pola Penataan Massa Bangunan dan Sirkulasi

Bangunan Rumah Susun Peti Kemas merupakan bangunan bermassa banyak.

Antar bangunan yang ada dihubungkan dengan ruang luar berupa ruang komunal serta sebagai pusat kegiatan. Peletakan unit hunian lajang berada di atas ruang komunal membuat seakan-akan lajang buruh pelabuhan yang bersifat liar dapat terawasi oleh lingkup hunian keluarga yang menegelilinginya. Ruang komunal sebagai ruang penghubung antar bangunan dimana sosialisasi terjadi, taman bersama sebagai jalur sirkulasi serta tempat pertemuan, dan plaza pkl sebagai ruang penghubung antara penghuni dan masyarakat luas.

Universitas Kristen Petra

(9)

U

Gambar 3.5. Pola Penataan Massa Bangunan

3.4.2. Ekspresi / Tampilan Bangunan

Rumah susun peti kemas ini mempunyai tampilan yang kontras dengan lingkungan sekitarnya yang merupakan daerah perdaganagn serta perumahan.

Terutama pada bagian unit hunian lajang yang bawahnya sebagai ruang komunal juga di-finishing grafiti pada fasade luar agar menampilkan keliaran dari buruh pelabuhan serta menjadi vocal point sebagai ruang komunal.

(10)

Gambar 3.6. Grafiti Pada Unit Hunian Lajang

Kaca jendela berupa jendela nako berwarna-warni, hal ini bertujuan agar memberikan warna norak pada fasade tanpa melupakan penghawaan. Besar minimal dari pembukaan adalah 0,4 m2 ( lampiran 1: Perhitungan Pembukaan)

Gambar 3.7. Fasade Unit Hunian

Universitas Kristen Petra

(11)

Gambar 3.8. Perspektif Mata Burung

Gambar 3.9. Perspektif Suasana

(12)

Gambar 3.10. Perspektif Entrance

Gambar 3.11. Perspektif Unit Komersil

Universitas Kristen Petra

(13)

Gambar 3.12. Perspektif Unit Tangga

Gambar 3.13. Perspektif Belakang Unit Hunian Keluarga

(14)

Gambar 3.14. Perspektif Depan Unit Hunian Keluarga

Gambar 3.15. Perspektif Unit Balai RW

Universitas Kristen Petra

(15)

Gambar 3.16. Perspektif Unit Hunian Lajang dan Komunal

Gambar 3.17.Tampak Utara Kawasan

Gambar 3.18.Tampak Selatan Kawasan

Gambar 3.19.Tampak Timur Kawasan

Gambar 3.20.Tampak Barat Kawasan

(16)

3.4.3. Penataan Ruang Dalam Bangunan

Penataan ruang yang terjadi dalam bangunan disesuaikan dengan bentuk dari peti kemas, penataan yang maksimal serta penggunaan perabot yang semi- portable agar didapat ruang-ruang yang lebih lega. Pembagian Penataan ruang yang terjadi dalam bangunan disesuaikan dengan pola grid struktur peti kemas.

Pembagian ruang dalam bangunan juga mengikuti zoning sesuai dengan kebutuhan dan aktivitas pengguna yaitu privat, semi privat, publik, dan servis.

R.Keluarga R.Tidur

R.Tidur Utama

R.Keluarga R.Tidur

R.Tidur Utama

R.Keluarga R.Tidur

R.Tidur Utama

R.Keluarga R.Tidur

R.Tidur Utama

Denah blok hunian lt.3, lt.5, lt.7 skala 1:100 Denah blok hunian lt 1

skala 1:100

R.Makan K.M.

T.Cuci Jemur Dapur

R.Makan K.M.

T.Cuci Jemur Dapur R.Makan

K.M.

T.Cuci Jemur Dapur

R.Makan K.M.

T.Cuci Jemur Dapur

Denah blok hunian Lt.2 , Lt.4 , Lt.6 skala 1:100

Gambar 3.21. Denah Unit Hunian Keluarga

Universitas Kristen Petra

(17)

wc bersama wc bersama

Gambar 3.22. Denah Unit Hunian Lajang

3.5. Sistem Struktur

Bangunan ini menggunakan sistim struktur peti kemas yang disusun sesuai dengan grid. Dan elemen pendukung berupa kolom baja maupun kabel baja tarik.

Dan ’kunci’ peti kemas. Sambungan antar peti kemas menggunakan jembatan yang mudah pemasangannya menggunakan rangka baja siku.

Gambar 3.23. Detail Sambungan dan Aksonometri Struktur Hunian Lajang

(18)

Gambar 3.24. Detail Sambungan dan Aksonometri Struktur Hunian Keluarga

3.6. Perlengkapan Pelayanan dan Utilitas Bangunan

Transportasi dalam bangunan ini berupa tangga, jembatan penghubung, dan tangga kebakaran. Sistim utilitas air bersih menggunakan 1 tandon pada tiap blok. Jalur sirkulasi utama memiliki lebar 6 meter agar dapat dilalui mobil pemadam kebakaran pada saat kebakaran. Sistim utilitas air kotor menggunakan STP untuk blok dan septictank dan sumur resapan yang terdapat di setiap blok yang kemudian disalurkan ke saluran kota.

Wc pada setiap unit merupakan wc dengan sistem modul jadi mempermudah dan mempercepat proses pemasangan.

R.Tidur R.Tamu/keluarga

K.M.

T.Cuci R.Tidur

Dinding plat baja kalsiboard 9mm

Gambar 3.25. Detail Unit Kamar Mandi

Universitas Kristen Petra

(19)

3.6.1 Utilitas air bersih

Air PDAM , digunakan untuk keperluan sehari - hari ( kamar mandi, permainan air, keperluan servis )

PDAM Æ meter Æ pompa Æ tandon atas per unit Æ downfeed Æ kran, wastafel, ruang filter dll

Gambar 3.26. Skema Utilitas Air Bersih

Pengairan tiap-tiap unit didapat dari tandon bawah yang terletak pada setiap blok hunian yang kemudian dipompa ke tandon atas kemudian air dialirkan secara downfeed ke bawah menuju tiap-tiap unit.

3.6.2. Utilitas air kotor dan kotoran

Mengingat proyek ini adalah bangunan dengan massa banyak , maka air kotor dan kotoran dibuang pada septictank dan sumur resapan yang terletak pada area masing- masing massa bangunan. Dan kesemuanya memiliki pipa shaft yang terletak pada luar bangunan hal ini ditujukan untuk mempermudah perawatan

3.6.3. Utilitas air hujan

Air hujan dibuang dari talang, yang diletakkan di ujung atap dan dialirkan ke bawah menuju bak kontrol kemudian dibuang ke selokan utama yang dilanjutkan ke sauran kota.

Gambar 3.27. Skema Utilitas Air Hujan

air hujan Æ talang horisontal - vertikal Æ bak kontrol Æ saluran kota

3.6.4. Sistem pembuangan sampah

Untuk setiap unit hunian memiliki shaft sampah yang berada di luar unit hunian yang langsung menuju ke bak sampah..

Gambar

Tabel 3.1. Besaran Ruang  Fasilitas Utama
Gambar 3.3 Konsep Perancangan
Gambar 3.5. Pola Penataan Massa Bangunan
Gambar 3.6. Grafiti Pada Unit Hunian Lajang
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pengecekan secara hati-hati terhadap isi ketentuan perjanjian dalam perjanjian waktu tertentu bermanfaat untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan kedua belah pihak di masa

1) Apabila nilai eigenvalue dari faktor yang terbentuk > 1 maka faktor- faktor tersebut dipertimbangkan oleh konsumen dalam membeli Luwak White Koffie. 2) Apabila

Pemberita masa kini yang percaya bahwa telah diselamatkan oleh salib Kristus juga mesti melaksanakan tujuan utama panggilannya yakni memberitakan misteri Allah

Yang termasuk dalam surat masuk Pemda DIY adalah surat-surat yang ditujukan kepada Gubernur, Wakil Gubernur, Sekda dan Asisten Sekda Pemerintah Daerah Daerah Istimewa

Penelitian di Laboraturium Konversi dimaksudkan untuk melakukan analisis untuk menentukan pengaruh tegangan terhadap torka, tegangan terhadap kecepatan, frekuensi

Penelitian ini dimulai dengan pemahaman peran jurnalis dalam menjalankan, mengolah, menentukan isi berita serta proses penyuntingan redaksional hingga akhirnya menghasilkan

Berdasarkan beberapa definisi di atas, secara umum dapat disimpulkan bahwa Balanced scorecard merupakan suatu sistem pengukuran kinerja, alat komunikasi dan sistem

Dari pembahasan yang telah dijabarkan sebelumnya dapat dilihat bahwa terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab dari blokade Qatar oleh empat negara Gulf ini, yang