• Tidak ada hasil yang ditemukan

3. METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "3. METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

17

Universitas Krsiten Petra

3. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan penelitian dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah pendekatan penelitian yang menekankan pada keluasan informasi (bukan kedalaman) sehingga metode ini cocok digunakan untuk populasi yang luas dengan variabel yang terbatas, sehingga data atau hasil riset dianggap merupakan representasi dari seluruh populasi (Sugiyono, 2005, p.7).

3.2 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksploratori yaitu kausal dan melakukan wawancara langsung dengan menggunakan alat bantu kuisioner kepada responden untuk memperoleh data yang dibutuhkan. Menurut Umar (2002, p.105), penelitian kausal adalah penelitian yang bertujuan untuk menganalisis hubungan-hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya atau bagaimana suatu variabel mempengaruhi variabel lainnnya.

Jadi penggunaan kausal dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara satu variabel dengan variabel lainnya. Hubungan sebab akibat dari penelitian ini adalah mengungkapkan pengaruh dining experience terhadap behavioral intentions dengan customer satisfaction sebagai variabel intervening konsumen Domicile Kitchen and Lounge.

3.3 Gambaran Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2007, p.55).

Dalam penelitian ini, populasi yang akan diteliti adalah konsumen yang pernah membeli produk di Domicile Kitchen and Lounge.

(2)

18

Universitas Krsiten Petra

3.3.2 Sampel

Dalam suatu penelitian peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu. Maka peneliti dapat mengambil sampel dari populasi tersebut. Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2007, p.56). Oleh karena itu, diharapkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap sampel mampu merepresentasikan populasi yang bersangkutan.

Menurut Haier, et al (dalam Ferdinand, 2005, p.47), ukuran sampel yang sesuai antara 100-200. Bila ukuran sampel terlalu besar, misalnya saja 400, maka metode menjadi sangat sensitif sehingga sulit untuk mendapatkan ukuran-ukuran goodness-of-fit yang baik. Sehingga disarankan ukuran sampel minimum adalah sebanyak 5 sampai 10 untuk setiap estimated parameter. Dengan demikian bila estimated parameter berjumlah 20, maka jumlah sampel minimum adalah 100.

Dalam penelitian ini terdapat 18 estimated parameter dan menggunakan nilai tengah dari perhitungan sampel yaitu 5, sehingga perhitungan sampelnya adalah sebagai berikut :

Jumlah sampel = 8 x jumlah estimated parameter = 8 X 18

= 144 responden (dibulatkan menjadi 150 responden)

3.4 Metode Pengumpulan Data dan Teknik Pengambilan Sampel

Dalam penelitian ini pengumpulan data akan dilakukan melalui wawancara langsung dengan menggunakan kuesioner sebagai alat bantu kepada responden untuk memperoleh data yang dibutuhkan. Proses wawancara akan dilakukan kepada responden yang telah atau pernah melakukan proses pembelian di Domicile Kitchen and Lounge. Metode pengambilan sampel yang dianggap paling pas digunakan untuk penelitian ini adalah nonprobability sampling, yang artinya setiap anggota populasi tidak memiliki peluang yang sama untuk dipilih menjadi responden. Dan teknik pengambilan sampel yang akan digunakan adalah accidental sampling atau sampling aksidental, dimana penentuan sampel berdasarkan

(3)

19

Universitas Krsiten Petra

kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data (Sugiyono, 2007, p.60).

3.5 Jenis dan Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder.

1. Data primer, adalah data yang dirancang oleh peneliti untuk tujuan khusus menyelesaikan masalah riset (Malhotra, 2012, p.127). Yang menjadi data primer dalam penelitian ini adalah jawaban terhadap pertanyaan dalam kuesioner yang diberikan kepada responden yang pernah melakukan proses pembelian di Domicile Kitchen and Lounge.

2. Data sekunder, adalah data yang dikumpulkan untuk tujuan selain untuk menyelesaikan masalah riset (Malhotra, 2012, p.128). Yang menjadi sumber data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari buku, jurnal, dan internet.

3.6 Skala Pengukuran

Format kuesioner dibagi menjadi 2 bagian, yaitu bagian (A) bersifat umum dan berkaitan dengan data pribadi responden, sedangkan bagian (B) merupakan pernyataan-pernyataan mengenai dining experience, customer satisfaction, dan behavioral intentions yang diukur dengan skala likert. Skala likert adalah sebuah skala pengukuran dengan 5 kategori respon dimulai dari “sangat tidak setuju”

sampai ke “sangat setuju”, yang mengharuskan responden untuk memilih tingkat persetujuan yang sesuai dengan pernyataan yang diberikan. 5 kategori respon yang dapat dipilih responden adalah sebagai berikut :

1. Sangat tidak setuju (STS) = skor 1 2. Tidak setuju (TS) = skor 2

3. Netral (N) = skor 3

4. Setuju (S) = skor 4

5. Sangat setuju (SS) = skor 5

(4)

20

Universitas Krsiten Petra

3.7 Definisi Operasional Variabel

Berikut ini adalah definisi operasional variabel yang digunakan dalam penelitian ini .

1. Variable Eksogen yang pertama yaitu food quality (X1).

Food quality adalah kualitas makanan yang dihidangkan kepada konsumen.

Diukur dengan indikator :

a. Temperature (X1.1) : meliputi persepsi konsumen mengenai suhu makanan yang dihidangkan Domicile Kitchen and Lounge. Diukur dari :

 Restoran menghidangkan makanan dengan temperatur yang sesuai.

b. Freshness (X1.2) : meliputi persepsi konsumen mengenai kesegaran makanan yang dihidangkan Domicile Kitchen and Lounge. Diukur dari :

 Restoran menghidangkan makanan yang segar atau fresh.

c. Preparation (X1.3) : meliputi persepsi konsumen mengenai keadaan makanan atau minuman ketika dihidangkan Domicile Kitchen and Lounge. Diukur dari :

 Penampilan makanan atau minuman ketika dihidangkan menarik.

 Restoran menghidangkan makanan yang lezat.

 Restoran menghidangkan makanan dengan porsi yang sesuai.

2. Variabel eksogen yang kedua adalah service quality (X2).

Service quality adalah peforma dari layanan yang diberikan kepada konsumen. Diukur dengan indikator :

a. Tangibles (X2.1) : meliputi persepsi konsumen terhadap penampilan fisik dari fasilitas dan layanan yang diberikan oleh Domicile Kitchen and Lounge. Diukur dari :

 Perlengkapan restoran seperti meja, kursi, peralatan makan dan minum bersih.

 Pemaparan buku menu yang jelas.

(5)

21

Universitas Krsiten Petra

 Karyawan restoran memakai seragam dengan rapi.

b. Responsiveness (X2.2) : meliputi persepsi konsumen terhadap kemampuan karyawan Domicile Kitchen and Lounge dalam memberikan layanan kepada konsumen dengan sigap. Diukur dari :

 Karyawan selalu siap memberikan pelayanan.

 Karyawan mampu memberikan pelayanan dengan cepat.

 Karyawan mampu memberikan rekomendasi kepada konsumen yang ragu dalam melakukan pemesanan.

 Karyawan bersedia membantu konsumen walaupun dalam keadaan yang sibuk.

c. Reliability (X2.3) : meliputi persepsi konsumen terhadap kemampuan karyawan Domicile Kitchen and Lounge dalam memberikan layanan yang dijanjikan dengan akurat dan memuaskan. Diukur dari :

 Produk yang dihidangkan sesuai dengan yang dipesan.

 Waktu yang diperlukan untuk membuat pesanan cepat.

 Kualitas rasa produk yang dihidangkan konsisten.

 Nilai struk pembayaran sesuai dengan produk yang dipesan.

d. Assurance (X2.4) : meliputi persepsi konsumen terhadap pengetahuan dan kesopanan karyawan Domicile Kitchen and Lounge dalam memberikan layanan kepada konsumen. Diukur dari :

 Karyawan memiliki pengetahuan yang baik mengenai produk yang ditawarkan.

 Karyawan selalu menyapa konsumen dengan senyum.

 Karyawan selalu berbicara dengan sopan kepada konsumen.

 Karyawan mengucapkan terima kasih kepada konsumen ketika meninggalkan restoran.

e. Empathy (X2.5) : meliputi persepsi konsumen terhadap kepedulian dan perhatian karyawan Domicile Kitchen and Lounge terhadap kebutuhan konsumen. Diukur dari :

 Karyawan memahami apa yang diinginkan konsumen.

(6)

22

Universitas Krsiten Petra

 Karyawan mau mendengarkan keluhan konsumen.

 Karyawan menanggapi keluhan konsumen dengan baik.

 Karyawan fokus ketika melayani konsumen.

3. Variabel eksogen yang ketiga adalah physical environment (X3).

Physical environment adalah suasana atau keadaan lingkungan sekitar dimana proses pelayanan jasa kepada konsumen sedang berlangsung.

Diukur dengan indikator :

a. Function (X3.1) : meliputi persepsi konsumen terhadap fungsionalitas fasilitas yang diberikan oleh restoran Domicile Kitchen and Lounge. Diukur dari :

 Fasilitas yang disediakan (wi-fi, toilet, parkir, dll) sudah berfungsi optimal.

b. Space (X3.2) : meliputi persepsi konsumen terhadap keluasan restoran. Diukur dari :

 Tatanan perabot seperti meja dan kursi membuat space yang tersedia di area restoran terasa luas.

 Ketersediaan space yang ada membuat suasana makan menjadi nyaman.

c. Design color (X3.3) : meliputi persepsi konsumen terhadap desain yang ditampilkan pada interior restoran. Diukur dari :

 Desain interior restoran terlihat menarik.

 Perpaduan warna interior restoran terlihat menarik.

 Desain dan pewarnaan interior restoran meningkatkan mood saat makan.

d. Lightning (X3.4) : meliputi persepsi konsumen terhadap faktor pencahayaan dalam restoran. Diukur dari :

 Pencahayaan dalam restoran sudah baik.

 Pencahayaan dalam restoran menambah kenyamanan saat makan.

4. Variabel endogen bagi dining experience (X1, X2, X3) dan merupakan variabel eksogen bagi behavioral intentions (Y) adalah customer satisfaction (X4). Customer satisfaction adalah adalah persepsi konsumen

(7)

23

Universitas Krsiten Petra

secara individu terhadap performa produk atau jasa yang dipakai apakah telah memenuhi ekspektasinya atau tidak. Diukur dengan indikator :

a. Konsumen puas dengan kualitas makanan yang dihidangkan oleh restoran Domicile Kitchen and Lounge (X4.1).

b. Konsumen puas dengan kualitas layanan yang diberikan oleh restoran Domicile Kitchen and Lounge (X4.2).

c. Konsumen puas dengan atmosfer di restoran Domicile Kitchen and Lounge (X4.3).

5. Variabel endogen yang terakhir adalah behavioral intentions (Y).

Behavioral intentions adalah kemauan untuk merekomendasikan layanan kepada orang lain dan kemauan untuk melakukan pembelian ulang. Diukur dengan indikator :

a. Loyalty to company (Y1).

Keadaan dimana konsumen akan datang kembali ke restoran Domicile Kitchen and Lounge dan mereferensikan kepada orang lain. Diukur menggunakan :

 Konsumen mau datang kembali ke restoran Domicile Kitchen and Lounge di waktu mendatang.

 Konsumen mereferensikan kepada orang lain mengenai restoran Domicile Kitchen and Lounge.

b. Prospensity to switch (Y2).

Kemungkinan konsumen untuk berpindah atau tidak ke restoran pesaing. Diukur menggunakan :

 Konsumen tidak berpindah untuk makan di restoran sejenis lainnya.

c. Willingness to pay more (Y3).

Kesediaan konsumen untuk membayar lebih untuk menikmati fasilitas dan layanan yang diberikan restoran Domicile Kitchen and Lounge. Diukur menggunakan :

 Konsumen bersedia membayar lebih untuk jenis makanan yang sama dibanding restoran sejenis lainnya.

(8)

24

Universitas Krsiten Petra

 Konsumen bersedia untuk berkunjung lebih sering dibanding ke restoran sejenis lainnya.

3.8 Metode Pengolahan dan Analisis Data

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh dining experience terhadap customer satisfaction dan behavioral intentions. Maka dari itu model analisis data yang paling tepat digunakan adalah SEM (Structural Equation Modeling) dengan aplikasi AMOS.

3.8.1 Structural Equation Modeling (SEM) dan AMOS

Structural Equation Modeling (SEM) adalah teknik statistik multivarian yang mengkombinasikan beberapa faktor aspek analisis dan regresi yang memungkinkan bagi peneliti untuk menjelaskan secara simultan hubungan dependensi (dependence relationship) di antara variabel terukur (measured variables) dan konstruk laten (latent construct) (Hair, et al, 2010, p. 634).

SEM telah dipergunakan di hampir setiap bidang studi yang mudah dipahami / dimengerti, meliputi pendidikan, pemasaran, psikologi, sosiologi, manajemen, testing and measurement, kesehatan, demografi, organizational behaviour, biologi, dan bahkan genetics. Alasan ketertarikan penggunaan SEM dalam berbagai bidang tersebut ada 2, yaitu (Supranto, 2010, p. 221) :

1. Memberikan metode yang mudah dimengerti / dipahami berkenaan dengan hubungan berganda secara simultan (multiple relationships simultaneously) sementara memberikan efisiensi statistik.

2. Kemampuannya untuk mengakses hubungan secara komprehensif dan memberikan suatu transisi dari exploratory to confirmatory analysis.

Transisi ini sesuai dengan semakin besarnya upaya dalam semua bidang studi menuju pengembangan ke suatu pandangan yang sistematis dan holistik terhadap pemecahan masalah (problem solving). Upaya / usaha demikian itu memerlukan kemampuan menguji suatu seri hubungan yang terdiri dari suatu model berskala besar (a large scale model), melibatkan puluhan bahkan ratusan variabel dengan puluhan persamaan, suatu set prisip yang mendasar (a set of fundamental princples) atau teori secara

(9)

25

Universitas Krsiten Petra

keseluruhan (an entire theory). Inilah tugas-tugas untuk model persamaan untuk mana model persamaan struktural dengan singkatan SEM tepat untuk dipergunakan.

SEM juga dikenal dengan berbagai macam istilah : covariance structure analysis, latent variable analysis. Meskipun model SEM dapat diuji dengan berbagai cara, SEM dapat dibedakan oleh 2 karakteristik (Supranto, 2010, p. 221) : 1. Estimasi atau perkiraan hubungan dependensi berganda dan saling terkait

(estimation of mulitple and interrelated dependence relationships).

2. Kemampuan untuk mempresentasikan konsep yang tidak terlihat (unobserved concepts) dalam hubungan-hubungan ini dan memperhitungkan pengukuran kesalahan di dalam proses estimasi.

3.8.2 Variabel Laten Eksogen dan Endogen dalam SEM

Secara umum, variabel eksogen dan variabel endogen merupakan variabel independen dan variabel dependen. Dalam SEM, varibel eksogen berperan sebagai variabel independen yang dapat mempengaruhi variabel dependen. Sedangkan variabel endogen berperan sebagai variabel dependen yang dipengaruhi oleh variabel eksogen atau variabel independen. Sebuah variabel laten dapat berfungsi sebagai variabel eksogen maupun endogen. Petunjuk yang dapat digunakan untuk mengetahui fungsi variabel tersebut adalah dari tanda panah yang menghubungkan variabel-variabel laten tersebut. Apabila variabel laten tersebut bersifat endogen, maka variabel tersebut ditunjuk oleh sebuah tanda panah dari variabel eksogen.

3.8.3 Model dalam SEM

Secara umum, model sebuah SEM dapat dibagi menjadi 2 bagian utama, yaitu measurement model dan structural model. Measurement model adalah bagian dari model SEM yang menggambarkan hubungan antara variabel laten dengan indikator-indikatornya. Sedangkan structural model menggambarkan hubungan antar variabel-variabel laten atau antar variabel eksogen dengan variabel laten (Santoso, 2007, p. 8).

(10)

26

Universitas Krsiten Petra

3.8.4 Error dalam Pengukuran

Dalam sebuah model SEM, khususnya dalam pengukuran indikator maupun variabel laten, akan terdapat variable error. Dengan adanya dua model dalam SEM, maka terdapat juga dua macam error, yaitu measurement error dan structural error.

Pada measurement model, error terjadi pada setiap indikator. Sedangkan pada structural model, error sering disebut residual error yang hanya terjadi pada variabel endogen.

3.8.5 Alat Analisis Structural Equation Modeling (SEM)

Oleh karena terdapat dua model dalam SEM, yakni measurement model dan structural model, maka terdapat juga dua alat analisis SEM :

1. Confirmatory Factor Analysis (CFA)

Alat analisis ini digunakan untuk menganlisis measurement model yang berutjuan untuk mengetahui apakah indikator-indikator yang tersedia benar-benar dapat menjelaskan sebuah variabel laten (konstruk).

2. Multiple Regression Analysis

Alat analisis ini digunakan untuk menganalisis structural model yang bertujuan untuk mengetahui signifikan tidaknya hubungan antara variabel-variabel eksogen (independen) dengan variabel endogen (dependen).

3.8.6 Pengukuran Structural Equation Modeling (SEM)

Menurut Santoso (2011), SEM adalah statistika yang paling umum, yang telah digunakan secara luas dalam ilmu perilaku (behavior science). SEM dapat ditunjukkan sebagai kombinasi dari analisis faktor, analisis regresi, dan analisis path. Diagram path atau diagram lintasan merupakan sarana komunikasi yang efektif untuk menyampaikan ide konsep dasar dari model SEM. Diagram lintasan jika digambarkan secara benar dan mengikuti aturan yang ditetapkan, akan dapat diturunkan menjadi model matematika SEM.

Uji kecocokan dalam SEM dilakukan untuk mengevaluasi derajat kecocokan atau Goodness of Fit (GOF) antara data dan model. Evaluasi terhadap

(11)

27

Universitas Krsiten Petra

GOF dilakukan melalui beberapa tingkatan, yaitu : kecocokan keseluruhan model, kecocokan model pengukuran, dan kecocokan model struktural. Ukuran GOF serta tingkat penerimaan kecocokan yang berhasil dikompilasi dari beberapa penulis, seperti berikut :

1. Statistik Chi-square (x2) makin kecil makin baik (p > 0,05) artinya model makin baik, alat ini merupakan alat uji yang paling fundamental untuk mengukur overall fit, dan sangat sensitif terhadap jumlah sampel, sehingga penggunaan chi-square (x2) hanya sesuai jika sampel berukuran 100 sampai dengan 200.

2. RMSEA (The Root Mean Square Error of Approximation), adalah sebuah indeks yang dapat digunakan untuk mengkonpensasi statistik chi-square (x2), nilai makin kecil makin baik (< 0.08) merupakan indeks untuk dapat diterimanyamodel yang menunjukkan sebagai sebuah close fit dari model berdasarkan derajat kebebasan.

3. GFI (Goodness of Fit Index), merupakan indeks kesesuaian yang akan menghitung proporsi tertimbang dari varians dalam matriks kovarian sampel yang dijelaskan oleh matriks kovarian populasi yang terestimasikan. Nilai GFI berada antara 0,00 – 1,00; dengan nilai > 0,90 merupakan model yang baik (better fit).

4. AGFI (Adjusted Goodness of Fit), analog dengan koefisien determinasi (R2) pada analisis regresi berganda. Indeks ini dapat disesuaikan terhadap derajat bebas yang tersedia untuk menguji diterimanya mode.

Tingkat penerimaan yang direkomendasi adalah bila AGFI > 0,90.

5. CMIN / DF (The Minimum Sample Discrepancy Function), umumnya dilaporkan oleh peneliti sebagai salas satu indikator mengukur tingkat fitnya sebuah model. CMIN / DF tidak lain adalah statistik x2 dibagi dengan df sehingga disebut x2 reltif. Nilai x2 relatif < 2,0 bahkan < 3,0 adalah indikasi dari model fit dengan data.

3.8.7 Convergent Validity dan Construct Reliability

Menurut Santoso (2012, p.128), untuk menguji apakah indikator yang ada pada sebuah konstruk memang merupakan bagian atau dapat menjelaskan konstruk, maka perlu dilakukan uji validitas. Dalam SEM, uji validitas dapat dilakukan

(12)

28

Universitas Krsiten Petra

dengan menggunakan uji convergent validity. Jika memang sebuah indikator menjelaskan sebuah konstruk, maka indikator tersebut akan memiliki factor loading yang tinggi dengan konstruk tersebut dan total indikator akan mempunyai variance extracted yang cukup tinggi (di atas 0,5). Variance extracted merupakan hasil penghitungan rata-rata dari total kuadrat semua angka factor loading.

Di samping itu, analisis SEM juga mengenal uji reliabilitas. Uji reliabilitas di dalam SEM dikenal dengan nama reliabilitas komposit (composite reliability).

Menurut Hair, et al (2010), reliabilitas komposit (composite reliability) disebut juga dengan reliabilitas konstruk. Secara manual, pengukuran reliabilitas konstruk dapat dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut.

Construct Reliability (CR) = (∑ 𝑆𝑡𝑑.𝐿𝑜𝑎𝑑𝑖𝑛𝑔)2 (∑ 𝑆𝑡𝑑.𝐿𝑜𝑎𝑑𝑖𝑛𝑔)2+ ∑ 𝜀 𝑗

Dimana:

∑ 𝑆𝑡𝑑. 𝐿𝑜𝑎𝑑𝑖𝑛𝑔 = jumlah total standard loading tiap indikator

∑ 𝜀 𝑗 = jumlah measurement error untuk tiap indikator

Referensi

Dokumen terkait

Secara umum program kerja yang di susun dan diselenggarakan oleh Wilda Ayu Salentya Harling dan Putri Herdiantary Pratiwi dalam pelaksanaan KKN UNNES BMC 2020, baik itu

Pewangi Laundry Rejang Lebong Beli di Toko, Agen, Distributor Surga Pewangi Laundry Terdekat/ Dikirim dari Pabrik BERIKUT INI TARGET MARKET PRODUK NYA:.. Kimia Untuk Keperluan

Manfaat geladikarya yang diharapkan bagi perusahaan adalah diketahuinya struktur permodalan yang optimal guna mencari sumber pembiayaan yang memiliki biaya paling minimum,

(2) ada perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara kelas RSBI dan Reguler pada kelompok mata kuliah tertentu, yaitu pada kelompok mata kuliah MPB,

Mandiri: mahasiswa mencari sumber atau referensi lain yang terkait materi.. Tujuan

 Kemampuan perawat melakukan komunikasi Kemampuan perawat melakukan komunikasi verbal akan menentukan kualitas asuhan yang. verbal akan menentukan kualitas

Hasil pengujian dalam basis data kedipan menunjukkan sistem yang diajukan dapat mendeteksi durasi kedipan mata dengan tingkat keakuratan 99,4% dan 1% false

Selain karena adanya kesalahan dalam pengisian formulir SSP pemindahbukuan dapat dilakukan juga jika terdapat kesalahan pengisian data pembayaran pajak melalui