• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Dalam dunia pendidikan, Syahputra (2020) menjelaskan yang menjadi parameter pencapaian proses belajar siswa adalah prestasi atau hasil belajar dimana hal tersebut bisa digunakan untuk melihat kemampuan siswa mendalami materi serta dapat digunakan untuk mengamati apakah kemampuan siswa meningkat atau berkembang setelah proses pembelajaran berlangsung. Programe for International Student Assessment (PISA) menyampaikan secara resmi bahwasanya kecakapan siswa Indonesia ditinjau dari kemampuan membaca, matematika, dan sains pada tahun 2018 berada pada peringkat 72 dari 77 negara (OECED, 2019). Hal tersebut menunjukkan bahwa mutu pendidikan di Indonesia masih perlu dikembangkan lagi sebagai upaya untuk peningkatan kemampuan siswa. Menurut Budianto dalam Makmur dan Saksono (2021) dalam upaya peningkatan kemampuan siswa perlu dilakukan sebuah edukasi yang ditujukan untuk siswa supaya lebih aktif dalam proses pembelajaran.

Menurut Kristin (2016) ada berbagai aspek yang harus dipenuhi supaya peserta didik dapat menyelesaikan proses belajar secara maksimal yaitu guru harus menggunakan model pembelajaran yang menarik, sarana prasarana memadai. Tak hanya itu, seluruh siswa yang ada diharuskan untuk diikutsertakan dalam kegiatan pembelajaran sehingga mereka tidak merasakan kejenuhan. Kesesuaian model pembelajaran mampu membuat kualitas proses belajar meningkat yang mengakibatkan berkembangnya kemampuan peserta didik. Hal tersebut yang sangat di perhatikan dalam pendidikan menengah kejuruan untuk menyiapkan peserta didik ketika mulai memasuki dunia kerja seperti yang tertera pada Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990.

Namun sejak ditetapkannya virus covid-19 sebagai pandemi, kegiatan pembelajaran kini berubah menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dimana hal tersebut mempunyai problematika yaitu kejenuhan yang dirasakan oleh peserta

(2)

didik (Basar, 2021). Selain kejenuhan, banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam PJJ ini. Menurut Oktawirawan (2020) berbagai kesulitan dialami oleh sebagian peserta didik selama PJJ dikarenakan mereka belum sepenuhnya memahami materi sehingga mereka terhambat saat menyelesaikan tugas-tugas. Hal ini berujung menurunnya hasil belajar peserta didik. Kementrian Pendidikan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (KEMENDIKBUD) mengungkapkan bahwa hasil belajar peserta didik di Indonesia mengalami penurunan. Dalam “Data Pembelajaran di Masa Covid-19” oleh KEMENDIKBUD (spab.kemendikbud.go.id, 2021) ditulis dunia pendidikan terimbas oleh pandemi Covid-19 dimana terdapat kesenjangan capaian belajar peserta didik.

Berdasarkan observasi dan wawancara pada Agustus 2021 di X TKJ SMK Negeri 2 Surakarta, didapat hasil sebagai berikut : (1) pendekatan yang dilakukan adalah Teacher Centered Learning. (2) Hasil belajar menunjukkan rata-rata kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal (3) Selama pembelajaran berlangsung siswa kurang aktif. Histogram data nilai peserta didik tahun ajaran 2020/2021 ada pada Gambar 1.1 di bawah ini:

Gambar 1. 1 Histogram Data Nilai Peserta Didik

Dari histogram tersebut nilai peserta didik yang memenuhi KKM ada pada interval 78–88 dengan jumlah 33 peserta didik dan interval 89–99 dengan jumlah 9 peserta didik, dari kedua interval tersebut diketahui total yang memenuhi KKM sebanyak 42 peserta didik. Sehingga masih terdapat 54 peserta didik dengan nilai di bawah KKM.

(3)

Kendala-kendala PJJ diatas tentu menjadi sebuah tantangan besar bagi seorang pendidik melihat keharusan pelaksaan PJJ dimasa pandemi agar kegiatan pembelajaran tetap terlaksana. Untuk mengatasi permasalahan yang telah diamati tersebut yaitu kejenuhan dan kurang aktifnya siswa yang mengakibatkan rendahnya pemahaman materi, diperlukan model pembelajaran yang dapat mengubah siswa yang pasif menjadi peserta didik yang ikut aktif dalam kegiatan belajar agar peserta didik mampu memahami materi pembelajaran dengan maksimal dan berdampak baik bagi hasil belajar peserta didik. Discovery learning merupakan bagian dari pembelajaran yang menjadikan peserta didik sebagai pusatnya supaya peserta didik tidak pasif serta mandiri selama proses belajar berlangsung. Penerapan discovery learning membentuk karakter bertanggung jawab dan juga inisiatif dalam penemuan kebutuhan belajar seorang peserta didik (Pongutularan, 2000). Saifudin dalam (Kristin, 2016) menjelaskan bahwa pada pembelajaran discovery learning kegiatan belajar yang berlangsung memiliki dampak positif untuk kegiatan eksplorasi secara mandiri oleh peserta didik seperti kegiatan observasi, eksperimen, juga kegiatan ilmiah. Semua kegiatan tersebut dilakukan oleh peserta didik sesuai minat mereka dalam mencapai kompetensi serta kepuasan dari rasa ingin tahu mereka.

Teknik yang bisa dipadukan dengan discovery learning adalah teknik probing-prompting. Suherman (2008) mengatakan bahwa penggunaan metode probing-prompting juga bisa membuat peserta didik untuk lebih berpikir secara aktif. Alasan penulis melakukkan penggabungan discovery learning dengan probing-prompting adalah karena pada sintak probing-prompting mampu melengkapi kekurangan yang ada pada discovery learning salah satunya adalah ketika penerapan discovery learning memiliki kendala seperti siswa yang terlampau banyak akan mengakibatkan guru kuwalahan ketika mengarahkan dan membimbing sehingga dikawatirkan masih terdapat siswa yang belum memahami materi yang disampaikan oleh guru. Maka dari itu diperlukan bantuan dengan cara memasukkan teknik probing-prompting kedalam sintak discovery learning karena pada teknik probing-prompting siswa mendapatkan peluang untuk bertanya

(4)

mengenai apa yang belum dipahaminya kepada guru sehingga guru dapat memperjelas secara terperinci.

Probing-prompting merupakan proses belajar dimana dalam prosesnya terdapat serangkaian pertanyaan sebagai fasilitas penuntun siswa dalam menghubungkan pengetahuan yang diketahuinya sebelumnya dan yang saat ini dipelajarinya (Huda, 2013). Teknis penerapan probing-prompting adalah menunjuk acak peserta didik. Penunjukan peserta didik secara acak membuat setiap siswa fokus serta berpartisipasi dan berpikir aktif.

Penggunaan discovery learning dengan probing-prompting telah terbukti dalam peningkatan keaktifan serta hasil belajar siswa (Julita, Putra, Perrianty, &

Yenti, 2019). Seperti pada penelitian Kusuma, Indrawati, dan Harijanto (2015) menjelaskan bahwa pembelajaran menggunakan discovery learning dengan probing-prompting memiliki pengaruh signifikan terhadap hasil belajar fisika di MA. Dengan menggunakan model ini, keterampilan seorang peserta didik mengalami peningkatan selama proses belajar berlangsung. Hal yang sama juga ada pada penelitian (Nazarilia, Tandililing & Mursyid, 2018) dan Julita, dkk. (2019) mereka menjelaskan bahwa penggunaan discovery learning berbantuan probing- prompting efektif membuat prestasi siswa meningkat. Selama keberlangsungan penggunaan discovery learning berbantuan probing-prompting, secara langsung siswa menemukan sendiri pengalamannya dalam kegiatan belajar. hal tersebut mendorong siswa untuk lebih mendalami materi pembelajaran dengan baik.

Pelibatan aktif siswa dalam pembelajaran menggiring peserta didik menjahui rasa jenuh sehingga memacu peningkatan keterampilan berpikir kritis.

Rangkaian latar belakang yang telah dijabarkan, penulis terdorong untuk membuktikan adanya pengaruh discovery learning menggunakan probing- prompting terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Dasar-dasar Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi kelas X-TKJ SMKN 2 Surakarta.

(5)

B. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang masalah di atas, identifikasi permasalahan sebagai berikut ini:

1. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran daring yang masih menggunakan Teacher Centered Learning (TCL) menyebabkan kurang maksimalnya hasil belajar siswa kelas X-TKJ SMKN 2 Surakarta.

2. Peserta didik pasif dalam pelaksanaan pembelajaran daring yang mengakibatkan peserta didik kurang memahami materi

3. Guru belum menerapkan discovery learning menggunakan probing- prompting sebagai model pembelajarannya.

C. Pembatasan Masalah

Penelitian ini membatasi permasalahan pada hal-hal berikut ini:

1. Discovery learning dengan probing-prompting menjadi model pembelajaran pada penelitian ini dan model pembandingnya adalah teacher centered learning pada siswa kelas X TKJ A dan B SMKN 2 Surakarta

2. Hasil belajar yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah hasil belajar pada mata pelajaran Dasar-dasar Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi kelas X TKJ A dan B SMKN 2 Surakarta yang dibatasi pada Elemen Profesi dan Kewirausahaan (job-profile dan technopreneur) di bidang teknik jaringan komputer dan telekomunikasi

3. Penelitian ini menggunakan satu kelas eksperimen yaitu kelas X TKJ A SMKN 2 Surakarta dan satu kelas kontrol yaitu kelas X TKJ B SMKN 2 Surakarta

D. Rumusan Masalah

Rumusan masalah penelitian ini yaitu, “Adakah perbedaan pengaruh dari penggunaan model pembelajaran discovery learning menggunakan probing-

(6)

prompting dan model pembelajaran teacher centered learning terhadap hasil belajar peserta didik kelas X TKJ SMKN 2 Surakarta pada mata pelajaran Dasar-dasar Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi?”

E. Tujuan Penelitian

Dilakukannya penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan pengaruh antara model pembelajaran discovery learning menggunakan probing-prompting dan model pembelajaran Teacher Centered Learning terhadap hasil belajar peserta didik kelas X TKJ SMKN 2 Surakarta pada mata pelajaran Dasar-dasar Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi.

F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap literature terkait penggunaan discovery learning berbantuan probing-prompting pada mata pelajaran Dasar-dasar Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi kelas X TKJ khususnya pada elemen Profesi dan Kewirausahaan (job-profile dan technopreneur) di bidang teknik jaringan komputer dan telekomunikasi dan sebagai bahan acuan kepada peneliti selanjutnya.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Siswa

Menghilangkan kejenuhan siswa karena siswa dituntut untuk lebih aktif dalam berpikir sehingga peningkatan hasil belajar siswa akan terjadi khususnya pada mata pelajaran Dasar-dasar Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi.

b. Bagi Guru

Dapat digunakan guru sebagai opsi dalam memilih model pembelajaran guna meningkatkan hasil belajar peserta didik.

c. Bagi Sekolah

Sekolah dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai referensi dalam meningkatkan mutu pendidikan dengan memberi dukungan kepada pengajar untuk menerapkan model pembelajaran yang sesuai.

(7)

d. Bagi Peneliti

Penelitian ini dapat menambah ilmu dan wawasan peneliti dalam dunia pendidikan serta menjadikan sebuah pengalaman berharga yang dapat diterapkan peneliti untuk menjadi seorang pengajar kedepannya.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran berdasarkan masalah (Problem Based Learning) dan metode pembelajaran konvensional terhadap

Pembelajaran Fisikayang akan diterapkan menggunakan model Guided Discovery Learning (GDL) dengan metode diskusi dan demonstrasi.. Objek penelitian hanya nilai kognitif

Untuk menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan model discovery learning pada subtema pemanfaatan kekayaan alam di Indonesia agar hasil belajar

Nurussalam Tersono dalam Materi Pokok Garis dan Sudut” berarti dalam penelitian ini akan diterapkan model pembelajaran interaktif dengan pertanyaan pengarah (prompting question)

Apakah ada pengaruh pembelajaran Concept Attainment Model dan Discovery Learning pada pokok materi Evolusi terhadap kemampuan literasi sains siswa kelas XII IPA semester

Dapat mengetahui perbedaan penggunaan e-learning berbantuan Edmodo pada kelas eksperimen dengan pembelajaran konvensional pada kelas kontrol terhadap hasil belajar siswa

Jadi, discovery learning merupakan model pembelajaran yang sangat penting untuk diimplementasikan dalam pembelajaran di kelas dan dipercaya dapat mengembangkan

Berdasarkan uraian diatas, penulis berkeinginan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh penggunaan model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam proses belajar mengajar,