• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Oleh HARBIANTI RIDWAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI. Oleh HARBIANTI RIDWAN"

Copied!
133
0
0

Teks penuh

(1)

i

BAHASA INDONESIA TERHADAP KEMAMPUAN BERBICARA PADA SISWA KELAS V SDN NO. 203 INPRES BARUGAYA

KABUPATEN TAKALAR

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Fakultas Keguruan dan IlmuPendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh

HARBIANTI RIDWAN 105401111017

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

2021

(2)

ii

(3)

iii

(4)

iv

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

Kantor; Jl. Sultan Alauddin No. 259, Telp. (0411)-866132, Fax. (0411)-860132

SURAT PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : HARBIANTI RIDWAN

NIM : 105401111017

Program Studi : Pendidikan Keguruan Sekolah Dasar

Judul Skripsi : Penerapan Metode Brainstorming dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Terhadap Kemampuan Berbicara Siswa Kelas V SDN No. 203 Inpres Barugaya.

Dengan ini menyatakan bahwa: Skripsi yang saya ajukan di depan Tim Penguji adalah Asli hasil karya saya sendiri, bukan hasil ciplakan dan tidak dibuat oleh siapapun.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.

Makassar, September 2021 Yang Membuat Pernyataan

HARBIANTI RIDWAN Nim. 105401111017

(5)

v

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

Kantor; Jl. Sultan Alauddin No. 259, Telp. (0411)-866132, Fax. (0411)-860132

SURAT PERJANJIAN

Nama : HARBIANTI RIDWAN NIM : 105401111017

Jurusan : Pendidikan Keguruan Sekolah Dasar Fakultas : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:

1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesai penyusunan skripsi saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun)

2. Dalam menyusun skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pimpinan fakultas.

3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan (Plagiat) dalam penyusunan skripsi.

4. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1, 2, dan 3 maka saya bersedia menerima sanksi sesuai aturan yang ada.

Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.

Makassar, September 2021 Yang Membuat Perjanjian

HARBIANTI RIDWAN Nim. 105401111017

(6)

vi

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO

”Untuk dapat apa yang kamu suka, kau mesti dahulu bersabar dengan apa yang kau tak sukai. Tetapi sekali untuk mencapai kebaikan Allah selalu menyelipkan cobaan dalam

pencapaiannya. Allah SWT melihat seberapa besar keimanan seseorang kepada-Nya. ”

(Imam Al-Ghazali)

PERSEMBAHAN

Sujud dan syukur hanya kepada Allah SWT serta Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW atas segala pertolongan dan kemudahan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Kupersembahkan karya sederhana ini untuk kedua orang tuaku Ayahhanda Ridwan Daeng Ronrong dan Ibunda Hadriati Daeng Sunggu

yang tercinta dan terkasih.

Terimah kasih atas segala keringat, linangan air mata, untaian doa’a, serta jutaan pengorbanan tak ternilai tuk mengais rejeki demi kesuksesan pendidikanki, semua guru dan dosenku yang telah iklas membagikan ilmunya. Kepada keluarga besarku, sahabat-sahabatku, teman-teman seperjuangan pendidikan guru sekolah dasar terimah kasih selalu mendoakan yang terbaik dan atas warna-warni kehidupan dari kalian yang tak dapat kubeli.

(7)

vii ABSTRAK

Harbianti Ridwan. 2021. Penerapan Metode Brainstorming Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Pada Siswa Kelas V SDN No. 203 Inpres Barugaya Kabupaten Takalar. Skripsi. Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Syahruddin dan pembimbing II Abdan Syakur.

Masalah utama dalam penelitian ini yaitu bagaimanakah penerapan metode Brainstorming dalam pembelajaran Bahasa Indonesia terhadap kemampuan berbicara pada Siswa Kelas V SDN No.203 Inpres Barugaya Kabupaten Takalar.

Jenis penelitian ini adalah penelitian pra-eksperimen bentuk One Group PreTest-PostTest Design yaitu sebuah eksperimen yang dalam pelaksanaannya hanya melibatkan satu kelas sebagai kelas eksperimen tanpa adanya kelas pembanding (kelas kontrol) yang bertujuan untuk mengetahui peranan penerapan metode Brainstorming dalam pembelajaran Bahasa Indonesia terhadap kemampuan berbicara dengan pokok bahasan udara bersih bagi kesehatan pada siswa kelas V SDN No. 203 Inpres Barugaya Kabupaten Takalar tahun ajaran 2021/2022. Satuan eksperimen dalam penelitian ini adalah seluruh siswa Kelas V sebanyak 9 orang. Penelitian dilaksanakan selama 4 kali pertemuan.

Hasil analisis statistik deskriptif terhadap penerapan metode Brainstorming positif, pemahaman materi dan konsep dari Bahasa Indonesia dengan metode Brainstorming ini menunjukkkan hasil belajar yang lebih baik dari pada sebelum diterapkan metode Brainstorming. Hasil analisis statistik inferensial menggunakan rumus uji t, diketahui bahwa nilai t Hitung yang diperoleh adalah 3,412 dengan frekuensi db = 9 –1 = 8, pada taraf signifikansi 50% diperoleh tTabel= 2,03. Jadi, t Hitung> ttabel atau hipotesis nol (H0) ditolak dan hipotesis alternative (H1) diterima. Hal ini membuktikan bahwa aplikasi metode Brainstorming dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa pada pembelajaran Bahasa Indonesia.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan Metode pembelajaran Brainstorming memiliki pengaruh terhadap kemampuan berbicara pada pembelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas V SDN No. 203 Inpres Baruganya di Kabupaten Takalar.

Kata kunci: Metode Brainstorming, Kemampuan Berbicara

(8)

viii

Segala puji dan syukur kepada sumber ilmu pengetahuan, sumber segala kebenaran, Sang Kekasih tercinta yang tidak terbatas pencahayaan cinta-Nya bagi hamba-Nya, Allah Subhanahu wa ta’ala sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Penerapan Metode Brainstorming dalam pembelajaran bahasa indonesia terhadap kemampuan berbicara Pada Siswa Kelas V SDN No. 203 Inpres Barugaya di Kabupaten Takalar”. Tak lupa shalawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman biadab menuju zaman yang beradab.

Setiap orang dalam berkarya selalu mengharapkan kesempurnaan, termasuk dalam tulisan ini. Penulis menyadari keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki, tetapi penulis telah mengerahkan segala daya dan upaya untuk membuat tulisan ini selesai dengan baik dan bermanfaat dalam dunia pendidikan.

Skripsi ini merupakan suatu karya ilmiah sederhana yang penulis ajukan untuk memenuhi salah satu syarat menempuh ujian Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

Dalam rangka penyusunan skripsi ini penulis telah memperoleh bantuan dari berbagai pihak secara langsung, moril maupun material, mental dan spiritual, maka melalui kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya terutama kepada:

(9)

ix

Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar Prof. Dr. H. Ambo Asse, M. Ag atas kesempatan yang diberikan kepada peneliti, sehingga dapat menyelesaikan skripsi di Universitas Muhammadiyah Makassar; Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Erwin Akib, M. Pd.,Ph.D yang telah memberikan izin penelitian, Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar yaitu Aliem Bahri, S. Pd.,M.Pd atas kesempatan dan motivasinya; Dr. Syahruddin, S. Pd., M. Pd. selaku pembimbing I dan Abdan Syakur, S.

Pd.,M. Pd selaku pembimbing II atas bimbingan, motivasi, dan semangat yang sangat berharga hingga selesainya proposal ini.

Saenab, S. Pd selaku Kepala Sekolah SDN No. 203 Inpres Barugaya yang telah memberikan izin untuk mengadakan penelitian di sekolah yang dipimpinnya beserta Guru dan Staf yang telah membantu selama penelitian berlangsung Seluruh Siswa kelas VSDN No. 203 Inpres Barugaya Kabupaten Takalar.

Teristimewah dan terkasih serta sujud syukurku kuperuntukkan kepada Ayahandaku Ridwan Daeng Ronrong dan Ibundaku Hadriati Daeng Sunggu tercinta yang telah merawat, membesarkan dan mencurahkan segala kasih sayangnya. Serta, Adik saya Muhammad Rijal Ridwan, atas perhatian, nasehat dan semangat dan cinta yang diberikan. Sahabat dan rekan seperjuangan yang tiada henti memberi dukungan dan motivasi kepada penulis.

Semua pihak yang telah banyak membantu dalam penyusunan skripsi ini yang tidak bisa penulis sebutkan semuanya.

(10)

x

banyak kekurangan sehingga masih jauh dari sempurna. Karena itu kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan demi perbaikan dan penyempurnaan skripsi ini.

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan Pendidikan Guru Sekolah dasar khususnya. Amin.

Takalar, September 2021 Penulis,

Harbianti Ridwan Nim.105401111017

(11)

xi

HALAMAN JUDUL ... i

PERSETUJUAN PENGESAHAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

SURAT PERJANJIAN ... iv

SURAT PERNYATAAN ... v

MOTO DAN PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 6

1. Manfaat Teoritis ... 6

2. Manfaat Praktis... 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 7

A. Landasan Teori ... 7

1. Penelitian yang Relevan ... 7

2. Metode Brainstorming ... 9

a. Pengertian Metode ... 9

b. Pengertian Metode Brainstorming ... 12

c. Tujuan Metode Brainstorming ... 14

d. Manfaat Metode Brainstorming ... 15

e. Langkah-langkah Penggunaan Metode Brainstorming ... 17

3. Pembelajaran Bahasa Indonesia ... 21

a. Pengertian Bahasa ... 21

(12)

xii

c. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD ... 22

d. Fungsi Pembelajaran Bahasa Indonesia ... 24

4. Kemampuan Berbicara ... 25

a. Pengertian Kemampuan Berbicara ... 25

b. Tujuan Keterampilan Berbicara ... 30

c. Faktor-faktor Kebahasaan Sebagai Penunjang Keefektifan Berbicara ... 34

B. Kerangka Pikir ... 34

BAB III METODE PENELITIAN ... 37

A. Rancangan Penelitian ... 36

B. Populasi dan Sampel ... 39

C. Definisi Operasional Variabel ... 40

D. Instrumen Penelitian ... 41

E. Teknik Pengumpulan Data ... 42

F. Teknik Analisis Data ... 44

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 50

A. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 50

B. Deskripsi Data Penelitian ... 52

1. Hasil Pretest ... 52

2. Hasil Posttest ... 56

3. Penerapan Metode Brainstorming dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Terhadap Kemampuan Berbicara Siswa ... 59

C. Pembahasan Hasil Penelitian ... 62

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 67

1. Kesimpulan ... 67

2. Saran ... 68

DAFTAR PUSTAKA ... 67

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 66

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... 118

(13)

xiii

Tabel Halaman

3.1Desain One Group Pretest Posttest Design………... 38

3.2 Jumlah Siswa kelas V SDN No.203 Inpres Barugaya………. 39

3.3 Sampel Penelitian ... ... 40

3.4 Instrumen Penilaian Setiap Indikator Pada Keterampilan Berbicara .... ... 43

4.1 Skor Kemampuan Berbicara ... ... 45

4.2 Data Tenaga Pendidik SDN No. 203 Inpres Barugaya ... 46

4.3 Data Hasil Belajar Pretest……... ... 51

4.4 Perhitungan untuk Mencari Mean Pretest ... 52

4.5 Distribusi Prekuensi dan Kategori Nilai Hasil Belajar Siswa Sebelum Diberikan Perlakuan (Pretest) ... 54

4.6 Skor Nilai Posttest Siswa…….. ... 55

4.7 Perhitungan Untuk Mencari Mean (Rata-rata) Nilai Posttest ... 56

4.8 Distribusi Frekuensi dan Kategori Nilai Hasi Belajar Siswa (Posttest) 57 4.9 Analisis Skor Pretest dan Posttest Pada Siswa Kelas V SDN No. 203 Inpres Barugaya ... 58

(14)

xiv

(15)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut Hamalik, (2013:2) Pendidikan dapat menjadi upaya sadar yang dilakukan oleh keluarga, jaringan dan negara melalui pendidikan, pembinaan dan pelatihan1baik di perguruan tinggi maupun di luar fakultas yang bertujuan untuk membantu kecakapan hidup bagi anak-anak kuliah agar siap. untuk 1memainkan peran mereka1dalam gaya hidup. hari. kehidupan di masa sekarang dan karena itu dimasa depan. yang bisa datang.

Menurut Trianto,(2011:1)1Pendidikan yang siap mendukung perbaikan waktu depan adalah persekolahan yangsiap menciptakan kemampuan para sarjana, agar akan berkaitan siap menyambut dan menyelesaikan masalah kesenangan hidup akan dihadapinya. Pendidikan harus menyentuh potensi hati nurani dan potensi kompetensi ulama

Menurut Sanjaya, (2016:147) Metode pembelajaran adalah Srategi pembelajaran yang dipilih untuk mewujudkan rencana yang telah dibuat menjadi tindakan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan seefisien mungkin.

Metode belajar dapat menjadi cara penyampaian mata pelajaran dan memberikan kemudahan kepada siswa untuk tiba di tujuan yakin. Jadi, apa metodenya? pelatihan sering ditafsirkan dengan cara tertentu biasa dilakukan untuk melaksanakan rencana-rencana Mereka diatur dalam tindakan kehidupan nyata untuk mencapai tujuan dapat tercapai secara optimal.

(16)

Dari beberapa sumber yang peneliti peroleh, yang dimaksud dengan metode pembelajaran adalah metode yang dianggap tepat oleh guru untuk dimanfaatkan dalam proses pembelajaran yang tepat bagi anak kuliah yang sebelumnya telah dirancang untuk memudahkan guru dan siswa dalam belajar.

proses belajar dan dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Kemampuan ulama berbicara secara lisan berarti Alat yang paling ampuh adalah bahasa vital dalam hal berkomunikasi Pentingnya bahasa sebagai alat komunikasi seringkali terlihat masing-masing dan setiap tindakan yang Selalu gunakan bahasa sebagai alat komunikasi utamanya.

Ada empat keterampilan yang berbeda dalam proses komunikasi. Tetapi mereka yaitu terjalin mendengarkan, Berbicara, membaca, dan menulis adalah keterampilan penting yang harus dimiliki. Empat poin tersebut perlu diperhatikan penuh dalam proses belajar bahasa indonesia

Karena itu, belajar membantu membuat segalanya lebih baik kemampuan berbicara, berpikir, dan bernalar seseorang Selain itu sebagai kemampuan

seseorang untuk berpikir. Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah adalah untuk menjadi fasih berbahasa. untuk melengkapi siswa dengan kemampuan berbicara Dalam bahasa Indonesia lisan dan tulisan, Anda dapat berkomunikasi secara efektif dan efisien.

Tujuan belajar bahasa Indonesia adalah untuk meningkatkan keterampilan seseorang.siswa berbicara baik lisan maupun tulisan, menggunakan

(17)

bahasa Indonesia dengan baik dan benar juga sebagai pembinaan kekaguman terhadap karya sastra Indonesia.

Studi bahasa Indonesia mencakup berbagai topikKomponen keterampilan bahasa dan keterampilan sastra yang meliputi kompetensi menyimak, Berbicara, membaca, dan menulis adalah keterampilan penting yang harus dimiliki.Salah satu segi kemampuan adalah bahasa yang ingin Anda tingkatkan pengarang adalah keterampilan berbicara.

Berbicara adalah proses pemindahan pesan dari satu sumber ke sumber yang berbeda. Belajar bagaimana berkomunikasi dalam sekolah diarahkan untuk mengambil bentuk kepribadian anakmuda terampil dalam komunikasi verbal, seperti memiliki kemampuan mengemukakan pendapat, bercerita, berdialog, bahkan berpidato.

Salah satu caranya adalah dengan Pendekatan pembelajaran Brainstorming dirancang untuk membantu siswa menjadi terampil dalam berbicara.Metode brainstorming mungkin merupakan strategi pembelajaran dimana siswa terampil berbicara dengan mengembangkan ide-ide dari pikirannya.

Menurut Syamhari metode Brainstorming adalah kemampuan

mengemukakan gagasan secara lisan. Bahasa memainkan peran penting dalam proses belajar siswa. Tujuan belajar bahasa Indonesia adalah untuk meningkatkan keterampilan seseorang.siswa berbicara baik lisan maupun tulisan, menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.juga sebagai pembinaan kekaguman terhadap karya sastra Indonesia.

(18)

Studi bahasa Indonesia mencakup berbagai topik.

Komponenketerampilan bahasa danketerampilan sastra yang meliputi kompetensi menyimak, Berbicara, membaca, dan menulis adalah keterampilan penting yang harus dimiliki.Salah satu segi kemampuan adalah bahasa yang ingin Anda tingkatkan pengarang adalah keterampilan berbicara.

Berbicara adalah proses pemindahan pesan dari satu sumber ke sumber yang berbeda. Konsisten dengan Syamhari, metode Brainstorming sesuai dengan kurikulum yaitu siswa diharapkan siap komunikasi yang efektif dan efisien dengan tepat ide, penilaian, kritik, hasil, dalam struktur yang berbeda dengan pembicarayang bervariasi terlebih lagi, seperti yang ditunjukkan oleh motivasi di balik situasi tertentu percakapan. percakapan (Depdiknas, 2006:4).

SDN No. 203 Inpres Barugaya adalah satu daribelajar yang mempunyaiKurikulum 2013. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan bahwa Kurikulum 2013 dapat berupa kurikulum yang menekankan kompetensi dengan berpikir berbasis kompetensi yang didukung sikap, keterampilan, dan pengetahuan keseimbangan antara kemampuan keras dan kemampuan halus.

Kurikulum merupakan inti dari sektor pendidikan dan mempunyai pengaruh terhadap semua kegiatan pendidikan. SDN No. 203 Inpres Barugaya merupakan lembaga akademik yang membutuhkan mahasiswa yang mandiri, berakhlak mulia, kreatif, dan profesional baik teori maupun praktik.

(19)

Penerapan Metode Brainstorming sangat cocok untuk setiap jenjang pendidikan dan setiap mata pelajaran dan mata pelajaran. Tidak hanya dalam meningkatkan hasil belajar tetapi juga sebagai sarana pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa sehingga pembelajaran di kelas lebih efektif, serta sebagai satu media yang dapat mengembangkan kemampuanguru untuk lebih kreatif dalam membuat media pembelajaran yang unik.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian Vityaningsih (2016) dimana penelitiannya membuktikan bahwa pemanfaatan media game untuk pendidikan mampu meningkatkan minat siswa agar tercapai hasil belajar yang optimal dan proses pelatihan juga menjadi lebih sederhana

.

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka peneliti akan melakukan penelitian tentang “Penerapan Metode Brainstorming Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Terhadap Kemampuan Berbicara Pada Siswa Kelas V SDN No. 203 Inpres Barugaya Kabupaten Takalar”.

B. Rumusan Masalah

Mengingat landasan yang telah diungkapkan, penulis merencanakan masalah eksplorasi ini yaitu :cara Penerapan Metode Brainstorming Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Terhadap Kemampuan Berbicara Siswa Kelas V SDN No. 203 Inpres Barugaya, Kabupaten Takalar?

(20)

C.Tujuan Penelitian

Motivasi di balik eksplorasi ini adalah untuk menemukan cara penerapan metode brainstorming1dalam pembelajaranbahasa Indonesia untuk kapasitas berbicara siswa kelas V SDN No. 203 Inpres Barugaya Kabupaten Takalar.

D.Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis

a. Dapat dijadikan sebagai bahan referensi untuk penelitian selanjutnya.

b. Hasil penelitian dapat dijadikan acuan oleh pendidik dalam mengembangkan media pembelajaran interaktif mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar.

2. Manfaat Praktis

a. bagi mahasiswa untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran bahasa Indonesiadan sebagai pengalaman baru dalam belajar.

b. Guru dapat menemukan metode baru yang dapat diterapkan di kelas.

c. Bagi sekolah penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan referensi untuk meningkatkan mutu pendidikan di SDN No. 203 Inpres Barugaya.

d. Bagi peneliti sebagai sarana pembelajaran dan menambah wawasan dan pengetahuan peneliti agar kedepannya mampu menjadi guru yang profesional dengan pemanfaatan media yang menyenangkan.

(21)

TINJAUAN LITERATUR

A. Landasan Teoritis

1. Penelitian Signifikan

Ada beberapa eksplorasi terdahulu yang dimanfaatkan sebagai sumber perspektif bagi pencipta, antara lain:

Eksplorasi utama yang dipimpin oleh Irmayanti Djasman (2010) berjudul

“Pengaruh Penerapan Metode Pembelajaran Brainstorming dan Problem Based Instruction Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas IX SMP Negeri 3 Anggeraja Kabupaten Enrekang”.

Dilihat dari konsekuensi tinjauan, terlihat adanya perbedaan hasil belajar siswa antar kelas brainstorming dan problem based instruction sebelum dan sesudah perlakuan.

Sehingga dapat dikatakan bahwa pemanfaatan teknik pembelajaran konseptualisasi dan strategi bimbingan berbasis isu sama-sama siap untuk mengembangkan hasil belajar lebih lanjut siswa dan pada mata kuliah kerjasama ekonomi internasional penggunaan metode pembelajaran brainstorming lebih

mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Dilihat dari konsekuensitinjauan, terlihat adanya perbedaan hasil belajar siswa antara kelas brainstorming dan problem based instruction sebelum dan sesudah perlakuan. Sehingga dapat dikatakan bahwa Ulasan selanjutnya, disutradarai oleh Muh.Zaidi Thahir (2017) dengan

judul “Efektivitas Penerapan Metode Pembelajaran Brainstorming Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas V MI Muhammadiyah Pannampu Makassar”.

(22)

205.00. Jika mengacu pada hasil penelitian maka angka 205.00 termasuk dalam kriteria sedang (95 205 205).

Sehingga disimpulkan bahwa hasil belajar siswa pada kelas yang tidak menerapkan metode pembelajaran brainstorming adalah sedangkan hasil belajar siswa pada kelas yang menerapkan metode pembelajaran brainstorming, berdasarkan hasil perhitungan dapat diketahui bahwa nilai rata-rata empiris adalah 318.00. Mengacu pada tabel 4.2, angka 318.00 termasuk dalam kriteria tinggi (318 > 205). Sehingga disimpulkan bahwa hasil belajar siswa pada kelas yang menerapkan metode pembelajaran brainstorming tergolong tinggi.

Penelitian ketiga yang dilakukan oleh Sarif Romadhoni (2014) berjudul

“Efektivitas Penerapan Metode Brainstorming Terhadap Peningkatan Minat dan Prestasi Belajar Ekonomi Siswa Kelas X SMK YPKK 3 Sleman”.

Metode brainstorming efektif dalam meningkatkan minat belajar siswa, hal ini dibuktikan dengan peningkatan rata-rata minat belajar siswa dari 59,26 pada minat belajar awal (pre-test) menjadi 68,74 pada minat belajar akhir (post- test) atau meningkat 16%. Tingkat signifikansi (I-tailed) ditemukan sebesar 0,00 atau < 0,05 dengan nilai t negatif sebesar -5.359 yang menunjukkan bahwa minat belajar akhir siswa lebih baik daripada minat belajar awal.

Dari ketiga hasil eksplorasi sebelumnya yang memiliki diuraikan, ada kesamaan dengan eksplorasi yang akan dilakukan oleh pencipta, yaitu: dengan Mengkonseptualisasikan strategi. Namun, tidak satu pun dari tiga investigasi sebenarnya setua masalah yang harus direnungkan

(23)

perbedaannya terletak pada variabel bebas yaitu, perlu mengetahui dampak penerapan strategi pembelajaran Brainstorming dan Berbasis Masalah Instruction pada variabel terikat, khususnya hasil belajar siswa. Untuk eksplorasi selanjutnya dipimpin oleh Muh. Zaidi Thahir, perbedaannya terletak pada variabel terikat khususnya hasil belajar siswa.

Sedangkan hasil belajar ketiga dipimpin olehSarif Romadhoni, perbedaannya terletak pada variabel terikatitu adalah peningkatan minat dan prestasi belajar ekonomi. Dari penjelasan di atas terlihat jelas perbedaan dan persamaan antara penelitian yang dilakukan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan.

2. Metode Brainstorming

A. Definisi Metode

Menurut Fathurrohman dan Sutikno (2014:45) Secara etimologis, metode berasal dari bahasa Yunani “methodos” yang terdiri dari dua suku kata, yaitu “metha”

(melalui atau melalui) dan “hodos” (cara atau jalan).

Jadi metode mempunyai arti suatu jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan atau suatu cara untuk melakukan sesuatu atau suatu prosedur Metode secara harfiah berarti “cara”.

Secara umum metode diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Pendapat lain dijelaskan pula bahwa metode adalah suatu cara atau prosedur yang digunakan fasilitator dalam interaksi

(24)

pembelajaran dengan memperhatikan keseluruhan sistem untuk mencapai suatu tujuan.

Metode memiliki peran yang sangat strategis dalam pengajaran. Metode berperan sebagai tanda atau “cara mengolah” pembelajaran agar dapat berjalan dengan baik dan sistematis. Bahkan dapat dikatakan bahwa proses belajar tidak dapat berlangsung tanpa suatu metode.

Oleh karena itu, setiap guru dituntut untuk menguasai berbagai metode agar dapat melakukan proses pembelajaran yang efektif, efisien, menyenangkan dan mencapai tujuan pembelajaran yang ditargetkan.

Metode adalah teknik yang digunakan oleh pendidik untuk membangun iklim belajar yang melandasi kegiatan pendidik dan siswa. Hal ini sejalan dengan penilaian Sani (2013:90) yang merekomendasikan bahwa teknik adalah suatu metode penyampaian materi pembelajaran dengan tujuan akhir untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Metode (method) secara harafiah berarti suatu cara, selain itu meode atau metode berasal dari bahasa Yunani, Metha (melalui atau melalui), dan Hodos (cara atau jalan), jadi metode dapat berarti suatu jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertentu.

Metode adalah suatu prosedur atau proses yang hasilnya adalah belajar atau dapat juga menjadi alat melalui arti belajar menjadi aktif. Dan yang lebih penting metode adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk menghasilkan pembelajaran.

(25)

Menurut Darmadi, (2017) Metode pembelajaran adalah cara yang ditempuh guru untuk menyampaikan materi pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.

Sedangkan menurut Wina Sanjaya, metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang telah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Artinya metode digunakan untuk mewujudkan strategi yang telah ditetapkan.

Dengan demikian metode dalam rangkaian sistem pembelajaran memegang peranan yang sangat penting. Keberhasilan penerapan strategi pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan metode pembelajaran, karena suatu strategi pembelajaran hanya dapat dilaksanakan melalui penggunaan metode pembelajaran.

Sanjaya (2016:147) Metode pembelajaran adalah cara-cara yang dipilih untuk mengimplementasikan rencana yang telah disusun dalam kegiatan nyata sehingga tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal.

Metode pembelajaran merupakan cara penyampaian materi pelajaran dan untuk memberikan kemudahan kepada siswa menuju pencapaian tujuan tertentu. Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu metode yang digunakan untuk melaksanakan rencana yang telah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal.

Metode pembelajaran adalah ilmu yang mempelajari cara-cara melakukan kegiatan secara sistematis dari suatu lingkungan yang terdiri dari pendidik dan peserta didik untuk saling berinteraksi dalam melaksanakan suatu kegiatan agar

(26)

proses pembelajaran dapat terlaksana dengan baik dalam arti tercapainya tujuan pengajaran.

Prawiradilaga (2007) menyatakan bahwa metode pembelajaran adalah prosedur, urutan, langkah dan metode yang digunakan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran, dapat dikatakan bahwa metode pembelajaran terfokus pada pencapaian tujuan.

Dari beberapa sumber yang peneliti peroleh, yang dimaksud dengan metode pembelajaran adalah suatu metode yang dianggap tepat oleh guru untuk digunakan dalam proses pembelajaran tertentu bagi siswa yang telah dirancang sebelumnya guna memudahkan guru dan siswa dalam belajar. proses belajar dan dapat mencapai tujuan yang diinginkan.

B. Definisi Metode Brainstorming

Brainstorming merupakan salah satu pendekatan yang memiliki konsep mengembangkan keterampilan berbicara bagi siswa, karena brainstormingmengedepankan pekerjaan kemajuan pemikiran melalui brainstorming.

Konseptualisasi menyiratkan lebih banyak memperhatikan subjek yang dipilih, kemudian, pada saat itu, memikirkan potensi kata, ekspresi, dan kalimat yang diidentifikasi dengan tema akan berbicara tentang. Ini adalah sumber utama untuk membuat keterampilanbicara siswa.

Seperti yang ditunjukkan oleh Moedjiono, dkk (2009: 105), Brainstorming adalah teknik untuk menghasilkan pikiran dengan meminta siswa untuk menyusun pikiran nomor berapa pun yang diizinkan. Konseptualisasi adalah metode afiliasi

(27)

gratis untuk menghasilkan energi ilmiah. Salah satu strategi untuk menghasilkan pemikiran adalah strategi konseptualisasi atau curah pendapat.

Menurut M. Subana, (2009:105)Brainstorming berarti motivasi tiba-tiba, pikir atau ide indah dari bermacam-macam ide, memberi solusi terhadap masalah eksplisit dengan memberikan semua pemikiran secara cepat. Konseptualisasi adalah motivasi dan pemikiran yang tidak dibatasi yang cerdik.

Menurut Zainal (2014:118) Brainstorming adalah suatu metode atau cara mengajar yang dilakukan oleh guru di dalam kelas. Metode ini dilakukan dengan cara melemparkan suatu masalah kepada siswa oleh guru, kemudian siswa menjawab atau mengemukakan pendapat, atau komentarnya sehingga masalah tersebut dapat berkembang menjadi masalah baru. Cara ini juga bisa diartikan sebagai cara untuk mendapatkan banyak ide dan sekelompok orang dalam waktu yang sangat singkat.

Mengkonseptualisasikan strategi untuk melatih kemampuan berbicara siswa.

Dalam strategi Brainstorming, siswa dituntut untuk berkonsentrasi bersama, belajar bersama teman satu kelompoknya, semua siswa diperlukan untuk menawarkan sudut pandang dan semua pemikiran di benaknya.

Pada realitas seringkali ada satu siswa yang dominan dan bertele-tele, namun ada juga siswa yang tidak terlibat dan menyajikan semua tugas. kepada pasangannya mana yang lebih dominan sehingga pembagian Kewajiban dalam kumpul tidak terpenuhi dan tidak semua siswa dapat berbicara sesuai dengan tujuan belajar bahasa Indonesia.

(28)

Meskipun demikian, dalam Metode Brainstorming ini, semua siswa diwajibkan untuk mengungkapkan pendapat atau idenya tanpa terkecuali. Terlebih lagi, siswa diperbolehkan untuk menawarkan sudut pandangatau kemudian lagi idenya tidak takut dituduh.

Mengkonseptualisasikan strategimerupakan prosedur pemecahan masalah yang dapat dimanfaatkan keduanya individu hanya sebagai pertemuan. Ini termasuk merekam ide-ide yang muncul secara spontan dengan cara yang tidak menghakimi.

Dalam membuat konsep,De Porter (2011:310-313) menyatakan bahwa "terimalah semua ide sebagai ide yang baik, terlepas dari betapa anehnya kelihatannya".

Jika dikaitkan dengan latihan berbicara, Brainstorming menyiratkan lebih banyak memperhatikan tema yang dipilih, kemudian, pada saat itu, memikirkan potensi kata, ekspresi, dan kalimat yang terkait dengan titik yang akan dibahas, misalnya dalam praktik diskusi kelas. Ini adalah hotspot utama untuk menciptakan kemampuan.

Menurut Moedjiono, dkk (2009:105), Brainstorming adalah teknik untuk menghasilkan pikiran dengan meminta siswa untuk mengarang sebanyak mungkin pemikiran yang diizinkan. Konseptualisasi adalah metode afiliasi gratis untuk menghasilkan energi ilmiah. Konseptualisasi dimulai dengan satu kata atau pemikiran tertentu yang dikemukakan oleh instruktur dan kemudian, pada saat itu, siswa dapat memupuknya.

Brainstorming adalah strategi pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok dimana siswa memiliki latar belakang pengetahuan dan pengalaman yang

(29)

berbeda. Kegiatan ini dilakukan untuk mengumpulkan ide dan pendapat dalam rangka menentukan dan menyeleksi berbagai pernyataan dalam menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan kebutuhan belajar, sumber daya, hambatan dan sebagainya. Setiap siswa diberi kesempatan secara bergiliran untuk menyampaikan pernyataan tentang pendapat atau gagasannya.

Siswa yang tidak mengungkapkan pemikirannya tidak boleh mengkritik atau berdebat dengan ide-ide yang disampaikan. Penilaian atau ide tersebut disusun di papan tulis atau di atas kertas lebar memberi.Setelah menulis, penilaian atau pemikiran diperiksa dan dievaluasi oleh pertemuan atau kelompok yang dipilih untuk diselesaikan penelitian.

C. Tujuan Teknik Brainstorming

Tujuan dari konsep adalah untuk membuat kompilasi (kumpulan) pendapat, informasi, pengalaman yang sama atau berbeda dari semua peserta. Hasilnya adalah pengalaman, atau kemudian peta digunakan sebagai peta ide (mindmap) informasi, agar peta menjadi pembelajaran bersama. Metode brainstorming cocok sebagai upaya mengumpulkan pendapat/gagasan yang diungkapkan oleh seluruh peserta pembelajaran.

Tujuan penggunaan metode Brainstorming adalah untuk “menguras segala sesuatu yang dipikirkan peserta didik dalam menanggapi masalah yang diajukan guru kepadanya”. Agar tujuan penerapan metode Brainstorming dapat tercapai, maka perlu memperhatikan aturan.

(30)

Ini dimaksudkan agarMetode brainstorming dapat berjalan efektif dan efisien sehingga tujuan yang diharapkan dapat terwujud.

Tujuan dari brainstorming adalah untuk membuat kompilasi (kumpulan) pendapat, informasi, pengalaman yang sama atau berbeda dari semua peserta. Hasilnya kemudian digunakan sebagai peta informasi, peta pengalaman, atau peta ide untuk menjadi pembelajaran bersama. Metode ini digunakan untuk menguras apa yang siswa pikirkan dalam menanggapi masalah yang diangkat oleh guru di kelas.

D. Manfaat Metode Brainstorming

Acep Yonny dan Sri Rahayu Yunus (2011) menyatakan beberapa keuntungan dari penerapan Metode Brainstorming sebagai berikut:

1. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengungkapkan pendapatnya

2. Melatih kemampuan kritis dan analitis siswa

3. Mendorong peserta belajar untuk menghargai pendapat orang lain 4. Merangsang peserta pembelajaran untuk berpikir secara holistik.

Menurut Roestiyah (2012) kelebihan Metode Brainstorming adalah sebagai berikut:

1. Peserta belajar aktif berpikir untuk mengungkapkan pendapat.

2. Melatih peserta untuk belajar berpikir cepat dan logis.

3. Merangsang peserta pembelajaran untuk selalu siap mengemukakan pendapat terkait masalah yang diberikan oleh guru.

4. Meningkatkan partisipasi peserta pembelajaran dalam menerima pelajaran.

(31)

5. Peserta belajar yang kurang aktif mendapat bantuan dari teman atau gurunya yang pintar.

6. Terjadinya persaingan yang sehat.

7. Peserta didik merasa bebas dan bahagia.

Menurut Diyah Nur Fauziyah Amin, (2016) kelebihan metode brainstorming adalah sebagai berikut:

Metode ini melatih keaktifan siswa dalam bertanya dan mengolah pertanyaan sehingga mendorong siswa untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran.

Metode ini bertujuan untuk mengumpulkan ide atau pendapat guna menentukan dan memilih berbagai pernyataan sebagai jawaban atas pertanyaan yang berkaitan dengan pembelajaran. Dengan diterapkannya metode ini akan terjadi proses pembelajaran yang lebih aktif dengan ide-ide yang muncul dari siswa.

Menurut Roestiyah (2012) beberapa kelemahan metode Brainstorming adalah sebagai berikut:

1. Guru tidak memberikan waktu yang cukup kepada siswa untuk berpikir dengan baik.

2. Peserta belajar yang kurang selalu tertinggal

3. Terkadang percakapan hanya dimonopoli oleh peserta belajar yang pintar.

4. Guru hanya menampung pendapat tetapi tidak merumuskan kesimpulan.

5. Peserta didik tidak segera mengetahui apakah pendapatnya benar/salah.

6. Masalah dapat berkembang ke arah yang tidak terduga.

Selain memiliki kelebihan, metode ini juga tidak terlepas dari kelemahan, antara lain:

(32)

1. Memudahkan siswa lepas kendali.

2. Ada kesulitan bagi siswa untuk mengetahui bahwa semua pendapat dapat diterima.

3. Siswa cenderung mengevaluasi ide-ide yang diajukan.

4. Siswa tidak segera mengetahui apakah pendapatnya benar atau salah.

5. Masalah dapat berkembang ke arah yang tidak terduga.

A. Langkah Menggunakan Metode Konseptualisasi

Langkah menggunakan Teknik konseptualisasi seperti yang ditunjukkan oleh Roestiyah (2001:81). Berikutnya adalah langkah-langkah pembelajaran yang menggunakan teknik konseptualisasi:

1. Memberikan data dan inspirasi

Pendidik menjelaskan permasalahan dihadapkan dan dasar serta Selamat datang siswa dinamis untuk menyumbangkan pertimbangan mereka.

2. Membedakan bukti

Di panggung ini siswa diajak memberi ide sebanyak yang bisa diharapkan secara wajar. Semua ide yang masuk wajib, dicatat dan tidak dicela.Pemimpin pertemuan dan anggota hanya dapat meminta untuk meminta klarifikasi. Masalah ini dimaksudkan untuk imajinasi siswa tidak terhalang.

(33)

3. Memesan

Semua ide anggota dan sumber informasi dicatat. Tahap berikut adalah pesanan tergantung pada model yang dibuat dan diselesaikan oleh pertemuan. Pengaturan dapat didasarkan pada struktur/komponen yang berbeda.

4.Memeriksa

Berkumpul bersama-sama berpikir kembali brainstorming yang telah dipesan.

Setiap brainstorming mencoba signifikansinya untuk masalah. Jika ada brainstorming yang sama, salah satunya diambil dan saran yang tidak relevan bisa dicoret. Pemberi saran dapat dimintai argumentasinya.

5. Kesimpulan (Kesepakatan)

Guru/pemimpin kelompok bersama peserta lain mencoba menyimpulkan butir- butir alternatif pemecahan masalah yang telah disepakati. Setelah semua puas, kesepakatan akhir diambil tentang bagaimana memecahkan masalah yang dianggap paling tepat.

Metode Konseptualisasi memiliki beberapa tahap, antara lain:

1. Pendidik mengumpulkan ikhtisar kebutuhan beradaptasi, aset belajar.

2. Pendidik menyampaikan pertanyaan dalam pengaturan, untuk semua siswa dalam kelompoknya. Sebelum menjawab pertanyaan, siswa diberi waktu sekitar 3-5 menit untuk memikirkan alternatif jawaban.

3. Guru menjelaskan aturan-aturan yang harus diperhatikan siswa, seperti: setiap orang mengemukakan pendapat, mengemukakan pendapat atau gagasan dengan cepat, menyampaikan jawaban secara langsung, dan menghindari mengkritik atau menyela pendapat orang lain.

(34)

4. Guru memberitahukan waktu yang akan digunakan misalnya sekitar 15 menit yaitu menyampaikan setiap pertanyaan dan meminta siswa memberikan jawaban.

Kemudian siswa menyampaikan penilaian muncul kepadanya dan dilakukan secara timbal balik dan berurutan dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Siswatidak bisa mengomentari pemikiran yang diajukan oleh siswa yang lain, komentar positif yang luar biasa maupun komentar negatif.

5. Pengajar dapat menunjuk pencipta untuk merekam penilaian dan menanggapinya disampaikan oleh pengganti dan juga dapat memberi nama grup untuk menilai interaksi dan hasill dari pemanfaatan teknik ini. Instruktur dapat memimpin pertemuan sehingga pertemuan dapat menilai tanggapan dan sentimen yang sesuai dikumpulkan. Pengajar menghindari penguasaan satu anggota dalam menyampaikan ide juga, penilaian.

Strategi ini cocok karena dalam jangka waktu yang singkat ide, pengandaian, dan jawaban imajinatif dapat terkumpul, asalkan tidak analisis yang menghambat tiba- tiba penyampaian proklamasi oleh siswa.

Dengan strategi ini akan ada situasi belajar yang umumnya kuat dan menguntungkan bersama-samaterlebih lagi, ide dan perasaan yang sudah selesai antar pemain pengganti. Harus diperhatikan bahwa penggunaan teknik ini akan cocok jika terjadi keadaan mengenal antar murid.

(35)

3. Belajar bahasa Indonesia A. Definisi Bahasa

Seperti yang ditunjukkan oleh Rohmadi (2011: 9)Bahasa adalah aparat yang digunakan pria untuk berkomunikasi. Sedangkan sesuai Faisal, dkk (2009:14) tuturan merupakan bentuk dasar bahasa. Tuturan-tuturan yang dihasilkan oleh alat ujaran orang orang bilang sebagai wacana, wacana manusia dapat dianggap sebagai bahasa jika tuturan tersebut mengandung arti, atau jikadua atau lebih tidak diatur dalam batu itu suatu rangkaian suara memiliki makna yang sama. Jadi, dapat disimpulkan bahwa bahasa adalah alat yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lain yang memiliki makna.

Sardiman AM (2010:21) dalam buku “Interaction and Motivation for Teaching and Learning” menegaskan bahwa: “Belajar adalah rangkaian kegiatan fisik dan mental, psiko-fisik untuk mengarah pada perkembangan pribadi manusia seutuhnya, yang artinya melibatkan unsur kreativitas, rasa dan karsa, ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik”.

B. Fungsi bahasa

Fungsi bahasa secara umum adalah untuk berkomunikasi. Susanto (2013:246) menyatakan bahwa Bahasa memiliki tiga kapasitas utama, khususnya: (1) kapasitas spellbinding, khususnya bahasa untuk menyampaikan data otentik, (2) kapasitas ekspresif, menjadi bahasa tertentu. memberikan data tentang pembaca sendiri, dalam hal sentimen, bias, pertemuan. . yang memiliki berlalu, (3) kapasitas sosial bahasa, khususnya menyelamatkan hubungan sosial antar manusia.

(36)

C. Belajar Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar

Pembelajaran bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran penting dalam dunia pendidikan. Mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan program untuk mengembangkan pengetahuan, meningkatkan kemampuan berbahasa, dan menumbuhkan sikap positif terhadap bahasa Indonesia

Tarman A Arif menyatakan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia merupakan bagian dari bidang studi yang wajib diajarkan di sekolah dasar yang menuntut kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan ilmiah dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi saat ini.

Oleh karena itu, proses pembelajaran diciptakan untuk mengajak siswa terlibat dan menemukan sendiri suatu konsep pengetahuan dari apa yang mereka ketahui tentang suatu hal.

Secara garis besar, tujuan belajar bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:

1. Siswa menghargai dan bangga dengan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara.

2. Murid memahami bahasa Indonesia dari segi struktur, arti, dan artikulasinya fungsinya selanjutnya, gunakan itu secara cocok dan imajinatif untuk berbagai kebutuhan, kebutuhan dan kondisi.

3. Mahasiswa dapat memanfaatkan bahasa Indonesia untuk mengembangkan kapasitasnya emosi, terlebih lagi, pengembangan sosialnya

4. Siswamemiliki disiplin dalam bernalar dan berbahasa (berbicara dan mengarang)

(37)

5. Siswa dapat menghargai dan menggunakan upaya abstrak untuk mengembangkan karakter mereka, memperluas perspektif hidup mereka, dan meningkatkan wawasan dan kemampuan mereka keterampilan bahasa.

6. Mahasiswa mengapresiasi dan bangga terhadap Tulisan Indonesia sebagai rejeki sosial dan intelektual bangsa Indonesia. BNSP, (2007) dalam Nurul Hidayah (2015:4)

Sementara itu, Susanto (2013) menyatakan bahwa tujuan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar adalah agar siswa dapat menikmati dan mengajarkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadiannya, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan berbahasa.

meningkatkan karya sastra, melatih keterampilan membaca, menulis dan berbicara.

Ada empat keterampilan penting yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat keterampilan tersebut merupakan tujuan pengajaran bahasa Indonesia di sekolah, termasuk sekolah dasar. Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia secara baik dan benar, baik lisan maupun tulisan.

Menurut Nur Syamsiyah (2016:12) ciri-ciri pembelajaran bahasa Indonesia meliputi (1) setiap pembelajaran yang berkaitan dengan kegiatan siswa, (2) setiap kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan kegiatan bahasa, (3) setiap pembelajaran diawali dengan kata kerja dan dapat dikembangkan. kreatif, dan (4)

(38)

setiap pembelajaran berkaitan dengan komponen PBM dan pendekatan CBSA, keterampilan proses dan pendekatan komunikatif.

D. Fungsi Pembelajaran Bahasa Indonesia

Fungsi pembelajaran bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan produktivitas pendidikan, dengan mempercepat laju pembelajaran dan membantu guru menggunakan waktunya dengan lebih baik, dan mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga dapat menumbuhkan dan mengembangkan semangat belajar siswa.

2. Memberikan kemungkinan pendidikan yang lebih bersifat individual, dengan mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuannya.

3. Memberikan dasar pengajaran yang lebih ilmiah, dengan merencanakan program pendidikan yang lebih sistematis, serta mengembangkan bahan ajar berbasis penelitian dan perilaku.

4. Lebih mengatur pengajaran, dengan meningkatkan kemampuan manusia dengan berbagai media komunikasi, serta menyajikan informasi dan data secara lebih konkrit.

5. Memungkinkan pembelajaran yang instan, karena dapat mengurangi kesenjangan antara pembelajaran verbal dan abstrak dengan realitas konkrit, serta memberikan pengetahuan langsung.

6. Memungkinkan penyajian pendidikan yang lebih luas, terutama dengan perangkat media massa.

(39)

4. Kemampuan Berbicara

A. Definisi Kemampuan Berbicara

Menurut Amier, (2009:63) Berbicara pada umumnya dicirikan sebagai menyampaikan pentingnya (gagasan, gagasan, renungandan hati) dari satu individu ke individu lainnya dengan memanfaatkan dikomunikasikan dalam bahasa dengan tujuan agar tujuannya dapat dirasakan oleh orang lain.seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan sehingga maksud tersebut dapat dipahami oleh orang lain.

Mengingat penilaian Tarigan (2008:4) menyatakan bahwa kemampuan berbicara tidak secara tentu saja dikuasai oleh siswa tetapiharus melalui banyak berlatih dan latihan Sementara itu, sesuai Tarigan (2008: 86) memberikan garis besar bahwa berbicara adalah “suatu kegiatan manusia dengan pembahasannya

yangdiwujudkandalam tindakan komunikasi verbal.

Definisi tersebut diungkapkan secara eksplisit oleh banyak ahli. Tarigan (2008:16) mengemukakan bahwa berbicara adalah kemampuan untuk mengkomunikasikan verbalisasi suara atau kata-kata untuk disampaikan mengungkapkan, mengungkapkan

,

danmenyampaikan pertimbangan, pikiran, dan perasaan.

Dengan demikian, pula Djago Tarigan dalam Amier (2009:63) menyatakan bahwa berbicara adalah suatu keahlian untuk menyampaikan pesan melalui komunikasi dalam bahasa.

Dilihat dari penilaiannya Mulgave dalam Tarigan (2008:16), berbicara adalah alat untuk surat menyurat mengkomunikasikan ide-ide yang dikumpulkan dan diciptakan oleh kebutuhan pendengar atau pendengar.

(40)

Keterampilan Berbicara adalah perpaduan dua kata, menjadi kemampuan khusus dan berbicara. Kemampuan dan berbicara memiliki arti tersendiri, namun kedua kata itu akan lebih signifikan dan lugas dari segi yang artinya apabila digabungkan menjadi keterampilan berbicara.

Keterampilan berbicara adalah kemampuan, keterampilan, seseorang secara lisan untuk mengungkapkan dan mengungkapkan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan secara baik, benar, dan cermat.

Menurut Iskandar Wassid dan Dadang Sunendar (2011: 241), keterampilan berbicara adalah keterampilan mereproduksi aliran tata suara artikulasi untuk menyampaikan keinginan, kebutuhan, perasaan, dan keinginan kepada orang lain.

Menurut Supartinah (2013:306) juga mengemukakan bahwa keterampilan berbicara adalah kegiatan komunikasi yang aktif dan produktif, bertujuan untuk menyampaikan ide, gagasan, dan perasaan melalui bahasa lisan, baik satu arah maupun dua arah.

Berbicara adalah kemampuan menghasilkan ajaran secara lisan dan sistematis untuk menyampaikan maksud tertentu. Artinya, keterampilan berbicara dilakukan secara sistematis, runtut, dan terpola. Percakapan itu sendiri bertujuan untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain.

Tarigan (2015:16) menyatakan bahwa berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata yang mengungkapkan, mengungkapkan atau menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Berbicara adalah sarana untuk memperoleh pengetahuan.

(41)

Menurut Bahari, (2013:3) Pada kenyataannya, masih terdapat beberapa kendala dalam pembelajaran keterampilan berbicara. Masalah mendasar yang cenderung menyertai pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah, termasuk pembelajaran keterampilan berbicara adalah rendahnya semangat belajar siswa, hal ini ditunjukkan dengan:

1. Rendahnya respon siswa terhadap penjelasan, pernyataan atau semua informasi yang disampaikan guru pada saat pembelajaran berlangsung,

2. Rendahnya inisiatif siswa untuk bertanya dan mengemukakan pendapat selama pembelajaran meskipun ada yang belum dipahami,

3. Kekurangansemangat dan kegairahan siswa selama proses belajar, dan

4. Siswakurang berani mengemukakan pendapat, bertanya atau tampil berbicara di depan umum.

Keterampilan berbicara adalah kemampuan seseorang untuk mengungkapkan pikiran secara langsung maupun tidak langsung. Berbicara secara langsung adalah berbicara secara tatap muka dengan pendengar, saat berbicarasecara implikasinya pembicara tidak mengatur pendengar, misalnya siaran radio dan televisi.

Berbicara merupakan perwujudan dari komunikasi verbal, komunikasi verbal sering dilakukan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari dengan berbagai tujuan.

Oleh karena itu, keterampilan berbicara telah menjadi bagian penting dari kehidupan manusia untuk memfasilitasi komunikasi dengan orang lain.

Menurut Sri Wahyuni dkk, (2008:7) menjelaskan bahwa berbicara merupakan suatu proses yang melibatkan beberapa sistem fungsi tubuh. Seseorang yang

(42)

berkomunikasi dengan bahasa lisan (mulut) membutuhkan kombinasi yang harmonis dari sistem neuromuskular untuk menghasilkan intonasi dan artikulasi suara. Berbicara adalah kemampuan dalam menyampaikan pesan yang dilakukan secara lisan.

Berbicara sebagai salah satu unsur keterampilan berbahasa sering dianggap sebagai kegiatan yang berdiri sendiri. Hal ini dibuktikan dengan kegiatan pengajaran berbicara yang telah dilakukan selama ini. Dalam praktiknya, pengajaran berbicara dilakukan dengan cara meminta siswa berdiri di depan kelas untuk berbicara, misalnya bercerita atau berpidato.

Siswa lain diminta untuk mendengarkan dan tidak ikut campur. Akibatnya, pengajaran berbicara di sekolah kurang menarik. Siswa yang mendapat giliran merasa tertekan karena selain siswa harus menyiapkan materi.

Seringkali gurumembuat pakar yangberlebihan.untuk sementara

,

merasa kurang terikatdengan melatihtersebut selain saat mengubah mereka.

berbicara adalahjenis perilaku manusia yang menggunakan komponen fisik, psikis, neurologis, semantik, dan etimologis. Ketika berbicara, seseorang menggunakan elemen aktual, menjadi alat tertentubicara untuk membuat bahasa suara.

Faktor psikologis turut andil dalam kelancaran berbicara, seperti kestabilan emosi yang sangat mendukung. Berbicara tidak terlepas dari faktor neurologis yaitu jaringan saraf yang menghubungkan otak kecil dengan mulut, telinga dan organ lain yang ikut serta dalam kegiatan berbicara.

(43)

Dalam pembelajaran wali kelas, semua siswa diandalkan untuk terlibat dengan latihan berbicara berbicara,harus selalu ingat bahwaesensi berbicara

berkaitan dengan latihan berbicara lainnya misalnyamendengarkan, membaca dan mengarang dan materi pelajaran.

karenanya, menunjukkan berbicara harus fokus pada korespondensi dua arah dan bermanfaat guru Usahanya adalah untuk mendorong menunjukkan berbicara sehingga berselera kegiatan kelas menjadi dinamis, hidup dan menarik bagibahwa anak-anak benar-benar merasa sepertisuatu keharusanuntuk mempersiapkan mencapai hal ini, dalam berbicara, tersebut, misalnyabelajar beberapa elemen harus dipikirkan, misalnya, pembicara, audiens, dan topik pembicaraan.

1. Situasi Keterampilan Berbicara

Seperti yang ditunjukkan oleh Mulyati dkk, (2007:11), ada tiga macam keadaan kemampuan berbicara,

A. kemampuan berbicara intuitif

Keterampilan berbicara interaktif adalah berbicara bertatap muka ataumelalui di telepon. Berbicarasecara interaktif berarti antara pembicara dan pendengar secara langsung, baik dalam jarak dekat maupun jarak jauh secara bergantian.

(44)

B. Keterampilan berbicara semi-interaktif

Keterampilan berbicara semi interaktif adalah berbicara sebelumnya audiens dan audiens tidak mampu melakukan latihan berbicara, audiens hanya menyetel, Pembicaraan hanya satu arah.

C. Keterampilan berbicara non-interaktif

Keterampilan berbicara non-interaktif adalah berbicara di televisi atau radio.

Encoding dan decoding berada pada jarak atau tempat yang berbeda dan hanya berlaku satu arah.

2. langkah-langkah kemampuan berbicara

Untuk memiliki opsi untuk menyampaikan pesan dari pembicara untu pendengar, ada beberapa tahapan yang harus dipikirkan, seperti yang menyertai:

a. Ucapkan suara dengan jelas , dengan cara ini pendengar dapat mengenalinya b Menggunakan nada, tekanan, dan nada seperti yang ditunjukkan oleh maksud penutur.

c. Memanfaatkan pemilihan kata d. Gunakan tense yang benar

e. Gunakan bahasadan kondisi yang tepat saat berbicara.

F. Penekanan pada pemikiran utama diikuti oleh pemikiran klarifikasi 3.Tipe bicara

dari metode penyampaiansubjek, pembicaraan dapatdibedakan menjadi tujuh jenis:

(45)

A. dialog

Dialog adalah pertukaran ide terikat dengan sesuatu antara setidaknya satu individu .Tujuan berdialog adalah untuk mencari jalan keluar atau pemecahan masalah. hal-hal yang harus diperhatikan dalam dialog adalah sebagai berikut:

1. instruksi untuk memulai diskusi

Faktor psikologis berperan dalam kelancaran berbicara, seperti kestabilan emosi yang sangat mendukung. Berbicara tidak terlepas dari faktor neurologis yaitu jaringan saraf yang menghubungkan otak kecil dengan mulut, telinga dan organ lain yang ikut serta dalam kegiatan berbicara.

Dalam pembelajaran di kelas, semua siswa diharapkan terlibat dalam kegiatan pembelajaran berbicara, harus selalu diingat bahwa esensi berbicara berkaitan dengan kegiatan berbicara lainnya seperti mendengarkan, membaca, dan menulis dan materi pelajaran.

Dengan demikian, pengajaran berbicara harus memperhatikan komunikasi dua arah dan fungsional. Tugas guru adalah mengembangkan pengajaran berbicara agar kegiatan kelas menjadi dinamis, hidup dan menarik bagi anak sehingga benar-benar dirasakan sebagai suatu keharusan untuk mempersiapkan diri memasuki masyarakat. Untuk mencapai hal tersebut, dalam belajar berbicara, beberapa faktor harus diperhatikan, seperti pembicara, pendengar, dan subjek pembicaraan.

1. Situasi Keterampilan Berbicara

(46)

Menurut Mulyati dkk, (2007:11), ada tiga macam situasi keterampilan berbicara:

A. Keterampilan berbicara interaktif

Keterampilan berbicara interaktif adalah berbicara secara tatap muka atau melalui telepon. Berbicara secara interaktif berarti antara pembicara dan pendengar secara langsung, baik dalam jarak dekat maupun jarak jauh secara bergantian.

B. Keterampilan berbicara semi-interaktif

Keterampilan berbicara semi interaktif adalah berbicara di depan audiens dan audiens tidak dapat melakukan kegiatan berbicara, audiens hanya mendengarkan.

Percakapan hanya satu arah.

C. Keterampilan berbicara non-interaktif

Keterampilan berbicara non-interaktif adalah berbicara di televisi atau radio.

Encoding dan decoding berada pada jarak atau tempat yang berbeda dan hanya berlaku satu arah.

2. Langkah-langkah keterampilan berbicara

Untuk dapat menyampaikan pesan dari pembicara kepada pendengar, ada beberapa langkah yang harus diperhatikan, seperti berikut ini.

A. Ucapkan suara dengan jelas, sehingga pendengar dapat membedakannya.

B. Menggunakan nada, tekanan, dan intonasi sesuai dengan maksud pembicara C. Menggunakan pilihan kata yang tepat

D. Gunakan tense yang benar

e. Gunakan bahasa dan kondisi yang tepat saat berbicara.

F. Penekanan pada pemikiran utama diikuti dengan pemikiran penjelas.

(47)

3. Tipe bicara

Dari strategi penyampaianyang utamadapat dibedakan berbicara bisa tujuh:

Dialog adalah pertukaran ide tentang sesuatu antara satu orang atau lebih. Tujuan berdialog adalah untuk mencari solusi atau pemecahan masalah. penting untuk diperhatikan dalam dialog adalah sebagai berikut:

1. petunjuk untuk memulai diskusi,

2. Pilihan harus dijunjung tinggi oleh semua perkumpulan

.

3. bagian yang lebih besar pihak ataumenang harus

melindungi minoritas atau kalah serta sebaliknya minoritas harus melihat bagian yang lebih besar.

B. Tujuan Keterampilan Berbicara

Motivasi utama di balik berbicara adalah untuk menyampaikan. Agar dapat menyampaikan pertimbangan dengan suksespercakapan dipercayadapat memahami pentingnya sesuatu yang ingin Anda sampaikanpembicara harus memiliki kemampuan untuk menyampaikan pentingnya yang dibicarakan kepada pendengar, dan pembicara harus dapat mengetahui standar berbicaramelaluiperspektif.artikulasi, nada, keputusan kata, koherensi, keberanian, keakraban, sikap, dan dominasi subjek.

Y. Slamet (2007:29) mengemukakanbahwa motivasi belajar berbicara di kelas awal ini dapat direncanakan sebagai berikut:

1. Belajarlah untuk menghasilkan renungan dan sentimen mereka sendiri dalam bahasa yang dapat diterimaAnda sendiri dengan bahasa yang aktual, jelas, dan

(48)

tepat. Latih anak-anakuntuk ciptakan pertimbangan, sentimen, dan dalam bahasa dasar yang dapat diterima dan benar,keinginannya dengan bahasa sederhana yang baik dan benar.

2. Siswa dapat mengkomunikasikan kata-kata dengan artikulasi yang tepat

3Siswa dapat mengartikulasikan atau mengucapkan kalimat dengan nada yang masuk akal dan sesuai konteks.

4. Siswa dapat berkomunikasi dan mengatur hubungan dengan orang lain secara lisan.

5. Siswa memiliki kepuasan dan kegembiraan dalamberbicara.Tujuan berbicara dalam ulasan ini adalah agar siswa dapat mengkomunikasikan kata-kata dengan artikulasi yang tepat, siswa mencoba untuk menghubungkan dan membangun asosiasi dengan orang lain, siswa memiliki mentalitas yang baik dan menguasai topik ketika berbicara.

C. Faktor Bahasa Sebagai Pendukung Keefektifan Berbicara 1. Akurasi Pengucapan

Seorang penutur harus membiasakan diri melafalkan bunyi-bunyi bahasa dengan benar. Pengucapan bunyi bahasa yang tidak tepat dapat mengalihkan perhatian pendengar. Tentu saja pola bicara dan artikulasi yang digunakan tidak selalu sama.

Setiap orang memiliki gaya bahasanya masing-masing dan gaya bahasa yang digunakan bervariasi sesuai dengan subjek, perasaan, dan sasarannya. Namun, jika perbedaan atau perubahan terlalu jelas, dan salah bentuk

(49)

efektivitas kelangsungan korespondensi akan terganggu.Setiap pembicara benar- benar luar biasa dipengaruhi oleh bahasa pertamanya. Misalnya, cara menyatakan kan untuk penjumlahan - kan tidak sepenuhnya benar,inserting. ita belum memiliki elokusi yang bakunamun tutur kata kita tidak boleh mengarsirnya secara ekstremdengan dalam bahasa terdekat, sehingga bisa mengalihkan perhatian penonton.

begitu juga dengan cara mengungkapkan setiap suku kata. Tidak jarang kitamendengar orang individu mengucapkan kata-kata yang tidak memuaskan suku kata Cara mengungkapkan bunyi bahasa yang tidak sesuai atau ditinggalkan yang akan menimbulkan kepenatan, kurang menyenangkan, atau kurang menarik sehingga dapat mengalihkan perhatian penonton, mencampuri korespondensi, atau,pengguna diperkirakan asing.

2. Akurasi infleksi

Tekanan suara sebagian besar jatuh pada suku kata terakhir atau suku kata kedua dari belakang, kemudian, pada saat itu, ditetapkan pada suku kata utama.

Misalnya, kata-kata sanggahan, menantang, kesempatan, penekanan pada pe-, pem-, th-, jelas padat ganjil. Untuk situasi ini, pertimbangan audiens dapat berpindah ke cara pembicara berbicara, sehingga subjek pesan yang disampaikan tidak tidak diperhatikan, efektivitas komunikasi Selanjutnya, biasanya marah.

kesesuaian suara,menjadi daya tarik,utama mendalam bertutur dan menjadi faktor, penentu. Walaupun permasalahan meskipun dibahas kurang menarik, namun dengan situasi infleksi yang tepat dengan permasalahan menjadi menarik.

(50)

Kemudian lagi, jika penyampaiannya datar, hampir pasti akan naik kebosanan dan mengurangi efektivitas berbicara.

B. Kerangka

Salah satu misi SDN No. 203 Inpres Barugaya adalah menciptakan pembelajaran yang efektif untuk mencapai prestasi, namun tampaknya misi tersebut belum terpenuhi, khususnya pada mata pelajaran bahasa Indonesia.

Beberapa permasalahan yang peneliti temukan adalah, guru mata pelajaran bahasa Indonesia tidak menggunakan metode sehingga siswa kesulitan dalam memahami materi yang diajarkan. Guru memang menguasai materi yang diajarkan, hanya saja dalam proses pembelajarannya tidak menggunakan metode sehingga materi melayang di benak siswa.

Kurangnya penggunaan media yang digunakan oleh guru tidak tepat sehingga hasil belajar siswa tidak maksimal. Oleh karena itu peneliti menginginkan adanya perubahan dalam peningkatan hasil belajar siswa kelas V SDN No 203 Inpres Barugaya. Dengan menggunakan metode Brainstorming selama proses pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Metode brainstorming tidak hanya meningkatkan hasil belajar tetapi juga diharapkan dapat meningkatkan semangat belajar siswa dalam proses pembelajaran yang berlangsung dengan tampilan yang menarik sehingga siswa aktif dalam proses pembelajaran yang berlangsung secara kondusif.

Secara sistematis, kerangka penelitian ini dapat dilihat pada bagan berikut:

(51)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian

1. Jenis Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan metode Brainstorming dalam pembelajaran bahasa Indonesia pada kemampuan berbicara siswa kelas V di SDN No. 203 Inpres Barugaya, KecamatanPolong Bangkeng Selatan, Takalar adalah sebuah kecamatan di kabupaten Takalar. Belajarini menggunakan jenis Belajar eksperimen The One Group pretest posttest.

Strategi penelitian uji (Sugiyono, 2017:107) dapat diartikan sebagai teknik eksplorasi yang digunakan untuk menelusuri dampak obat tertentu terhadap perlakuan lain dalam kondisi yang terkendali. dalam teknik uji ada empat jenis rencana (Sugiyono , 2017 109-110), khususnya peneliti menggunakan

1Pre-Experimental, yaitu eksperimen nyata. Karena masih ada variabel eksternal yang juga mempengaruhi bentuk variabel terikat Akibatnya, hasil eksperimen, yang berupa variabel terikat tidak semata-mata dipengaruhi dengan cara variabel bebas.

1Hal ini bisa, karena itu tidak akan terjadi. ada variabel terkendali, dansampel tidak dipilih oleh acak. Ada satu. beberapa bentuk pre-experimental desain, khususnya: analisis kontekstual single shot, one-bunch pretest-posttest plan, dan perfect gatheringcomparison. Salah satu bentuk yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah One-Group Pretest-Posttest Design

(52)

Desain One-Group Pretest-Posttest dapat dilihat lebih jelas pada tabel di bawah ini:

1Tabel 1. Desain One-Group Pretest-Posttest Design

Pretest Treatment Posttest

O1 X O2

1(Sugiyono, 2017:111)

1Keterangan :

O1 1: Nilai sebelum diberi perlakuan berupa penerapanmetode Brainstorming (pretest)

X : Perlakuan (penerapan metodeBrainstorming)

O2 : Nilai setelah diberi perlakuan berupa penerapanmetode Brainstorming (posttest)

Kontras antara dua tes terakhir membawa kelas uji coba menunjukkan dampak dari perlakuan yang diberikan. Sebelum melakukan pemeriksaan, para spesialis awalnya mengumpulkaninstrumen evaluasi dengan berfokus pada bagian-bagian

(53)

penilaian dalam kapasitas berbicara.evaluasi dengan berfokus pada bagian-bagian penilaian dalam kapasitas dari hasil hipotesis.

B. Populasi danSampel a. Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian.Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas V SDN No.203 Inpres Barugaya Kabupaten Takalar yang berjumlah 9 orang. Adapun data jumlah siswa kelas V 1SDN No.203 Inpres Barugaya sebagai berikut:

1Tabel 2. Jumlah MuridKelas V SDN No.203 Inpres Barugaya

No Kelas Laki-laki Perempuan Jumlah

1. 1 V 4 5 9

Jumlah 9

Sumber: data siswa kelas V SDN No.203 Inpres Barugaya 2021/2022.

b. Sampel

Contohnya adalah beberapa individu dari populasi yang memberikan data atau informasi yang diperlukan dalam penelitian unit eksploratif, dalam tinjauan ini terdiri dari 1 kelasdan peneliti tidak menarik sampel karena semua populasi dijadikan sampel yaitu seluruh siswa kelas V SDN No.203 inpres barugaya yang 1berjumlah 9 siswa. tes ujian adalah 1siswa kelas V 1SDN no.203 inpres barugaya.

(54)

Nama Kelas Sampel Kelas Jumlah

Kelas Eksperimen V 9

Jumlah 9

C. Definisi Operasional Variabel 1. 1Variabel Penelitian

Menurut Sugiyono (2015:60) faktor penelitian adalah ascribes, properties of kualitas, item atau latihan yangsuatu objek atau kegiatan yang memiliki variabel 1tertentu yang ditetapkan oleh para ilmuwan untuk mempertimbangkan dan, disimpulkan. 1Variabel utama dalam 1penelitian ini ada dua macam, yaitu variabel bebas dan variabel terikat.

Menurut Sugiyono (2015:61) variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau menjadi penyebab perubahan munculnya 1variabel terikat (terikat). Faktor bebas dalam tinjauan ini adalah penerapan metode Brainstorming. Sementara variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau1yang merupakan hasil, mengingat variabel otonom (Sugiyono, 2015: 61). variabel terikat dalam tinjauan ini adalah peningkatan kemampuan berbicara 1siswa.

2. 1Metode Brainstorming

Apa yang tersirat dari strategi Brainstorming adalah prosedur pengajaran yang mencakup masalah Jadi anak-anak terlibat siswa 1dengan cara melemparkan 1masalah kepada siswa 1dan 1mengajak siswa pada masalah Jadi anak-anak terlibat dalam pemikiran, pikiran, pikiran dan bahkan reaksi yang terjadi secara tiba-tiba dan akan, diperiksa masalah 1baru lainnya. , dan semua 1masukan.

Gambar

Tabel  6.  Skor Kemampuan Berbicara
Tabel 7. Data Tenaga Pendidik SDN No. 203 Inpres Barugaya
Tabel 10.Distribusi Frekuensi dan kategori nilai hasil belajar siswa 1sebelum  diberikan 1perlakuan (pre-test)

Referensi

Dokumen terkait

Peneliti lainnya diharapkan dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai acuan referensi pembanding dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti lainnya, di

Dengan adanya aplikasi pendukung di posyandu ini maka pengolahan data bayi dan anggota posyandu akan bejalan efektif dan efisien terutama di posyandu dahlia,

(Gambar 9) Rendahnya elevasi mercu sungai terutama pada bagian sebelah kiri menyebabkan aliran melimpas ke daerah sebelah kiri sungai yang merupakan dataran rendah. Ketinggian

Salah satu kegiatan yang dapat menunjuang program pengembangan desa wisata di Desa Gerbosari yaitu pembuatan taman edukasi pertanian, namun kurangnya pengetahuan dan

Setelah mengikuti sesi ini peserta didik memahami dan mengerti tentang anatomi, topografi kolon, patologi dari karsinoma sigmoid, karsinoma rektum, diagnosis dan pengelolaan

Wawancara bersama Raudah Safitri mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi dari jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) angkatan 2013.. Wawancara bersama Mardatillah mahasiswa

NAMA PELAMAR SELEKSI CPNS KABUPATEN BANGKA TAHUN 2018 YANG MENGIKUTI UJIAN SELEKSI KOMPETENSI DASAR (SKD). PENERIMAAN CPNS

Hasil strukturisasi elemen pengembangan industri kecil jamu menunjukkan bahwa sub elemen kunci pada elemen kebutuhan adalah : kebutuhan jaminan pasar produk jamu yang dihasilkan