TEKNIK PENANGANAN BENIH IKAN MAS (Cyprinus carpio L.) PADA KOLAM PENDEDERAN
DI BALAI PERIKANAN BUDIDAYA AIR TAWAR TATELU SULAWESI UTARA
TUGAS AKHIR
MALILLIN 1322010138
JURUSAN BUDIDAYA PERIKANAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKAJENE DAN KEPULAUAN PANGKEP
2016
ii
TEKNIK PENANGANAN BENIH IKAN MAS (Cyprinus carpio L.) PADA KOLAM PENDEDERAN
DI BALAI PERIKANAN BUDIDAYA AIR TAWAR TATELU SULAWESI UTARA
TUGAS AKHIR
MALILLIN 1322010138
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Menyelesaikan Studi pada Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan
Telah Diperiksa dan Disetujui oleh Pembimbing:
Ir.Alimuddin, M.Si. Dr. Ir. Ahmad Ghufron Mustofa, M.Si. Ketua Anggota
Diketahui oleh:
Dr.Ir. Darmawan, M.P. Ir. Rimal Hamal,
M.P. Direktur Ketua Jurusan Tanggal Lulus: 23 Agustus 2016
iii
RINGKASAN
MALILLIN, 132010138. Teknik Penanganan Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio) Pada Kolam Pendederan di Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Tatelu Sulawesi Utara. Dibimbing oleh Alimuddin dan Ahmad Ghufron Mustofa.
Ikan mas (Cyprinus carpio L.) dikenal sebagai salah satu komoditas budidaya perairan tawar yang bernila ekonomis. Ikan mas cukup banyak digemari oleh masyarakat Indonesia karena rasa dagingnya yang guri dan memiliki kadar protein yang tinggi, juga mendukung pemenuhan gizi bagi masyarakat.
Tugas akhir ini bertujuan untuk menguraikan penanganan benih ikan mas dalam usaha pembenihan ikan mas sehingga dapat tumbuh menjadi benih yang unggul.
Tugas akhir ini diharapkan menjadi bahan informasi dan acuan dalam penanganan benih ikan mas pada usaha pembenihan ikan mas.
Tugas akhir ini disusun berdasarkan hasil kegiatan PKPM yang dilaksanakan selama tiga bulan mulai dari 5 Februari sampai dengan 5 Mei 2016 di Balai Perairan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Tatelu, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara.
Adapun metode yang digunakan dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini yaitu hasil kegiatan PKPM dan hasil wawancara dengan pembimbing lapangan serta hasil pengamatan di lapangan ditambah dengan studi literatur yang berkaitan dengan judul tugas akhir.
Penanganan benih ikan mas pada pembenihan ikan mas meliputi tingkat kelangsungan hidup benih, pemberian pakan yang cukup, pengelolaan kualitas air, pengendalian hama dan penyakit dan panen dan pasca panen. Penanganan benih ikan mas pada pembenihan ikan mas menghasilkan rata-rata tingkat kelangsungan hidup benih 80,75%. Padat tebar benih yang paling baik pada pendederan ikan mas 100 – 50 ekor/ m² maka kelangsungan hidup yang didapatkan juga semakin tinggi adalah 80, 75 %. Kualitas air yang baik pada proses pendederan adalah pH 6,39 – 6,89, Suhu 26,6 – 26,80 C,Oksigen terlarut 5,05 – 5,08 ppm.
iv
KATA PEGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Mahaesa, atas berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan judul
“Teknik Penanganan Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio L.) Pada Kolam Pendederan di Balai Budidaya Air Tawar Tatelu Sulawesi Utara”. Tugas Akhir ini merupakan salah satu langkah akhir bagi penulis untuk menyelesaikan studi di kampus Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan. Dalam penulisan tugas akhir ini, penulis mendapatkan bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak sehingga pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Ir. Alimuddin, M.Si. dan Bapak Dr. Ir. Ahmad Ghufron Mustofa, M.Si.
selaku dosen pembimbing yang telah mencurahkan waktu dan pikiran dalam mengarahkan penulisan Tugas Akhir ini;
2. Bapak Jaksen Selaku pembimbing lapangan dan Bapak Daud W.P Rumbewas,S.St.Pi. selaku kordinator komoditi ikan mas di Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Tatelu Sulawesi Utara serta seluruh pegawai dikomoditi ikan mas;
3. Bapak Ir. Rimal Hamal, M.P. selaku Ketua Jurusan beserta seluruh staf Budidaya Perikanan Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan;
4. Bapak Dr. Ir. H. Darmawan. M.P. selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan;
v 5. Ibunda dan segenap keluarga yang selalu memberi motivasi, doa serta dukungan
moril selama menempuh pendidikan;
6. Teman-teman yang melaksanakan praktik di Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Tatelu;
7. Teman-teman Jururan Budidaya Perikanan Angkatan XXVI dan semua pihak yang turut membantu dalam penulisan Tugas Akhir ini.
Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna memperbaiki penulisan tugas ini sehingga dapat bermanfaat bagi kita semua.
Mandalle, 23 Agustus 2016
Penulis
vi
DAFTAR ISI
Halaman
RINGKASAN iii
KATA PENGANTAR v
DAFTAR ISI vii
DAFTAR TABEL viii
DATAR GAMBAR ix
DAFTAR LAMPIRAN x
I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... 1
1.2 Tujuan dan Manfaat ... 2
II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Taksonomi dan Morfologi ... 3
2.2 Memilih Induk Matang Gonad ... 6
2.3 Pemijahan ... 7
2.4 Penetasan Telur ... 8
2.5 Pemeliharaan Larva ... 9
2.6 Pendederan ... 9
2.7 Pemberian Pakan ... 9
2.8 Pengolahan Kualitas Air ... 10
2.9 Pengendalian Hama dan Penyakit... 11
2.10 Panen ... 12
vii Halaman
III METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat ... 13
3.2 Alat dan Bahan ... 13
3.3 Metode pengumpulan Data ... 14
3.4 Metode Pelaksanan ... 14
3.4.1 Persiapan Kolam Pendederan ... 14
3.4.2 Penebaran Benih. ... 15
3.4.3 Pendederan ... 16
3.4.4 Pemanenan. ... 19
3.5 Paramater yang Diamati dan Analisa Data ... 20
3.5.1 Parameter yang Diamati ... 20
3.5.2 Analisa Data ... 20
IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tingkat Kelangsungan Hidup Benih ... 21
4.2 Parameter Kualitas Air ... 22
4.3 Pengendalian Hama dan Penyakit ... 24
4.4 Panen dan Pasca Panen ... 27
V KESIMPULAN 5.1 Kesimpulan ... 30
5.2 Saran ... 30 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
viii
DAFTAR TABEL
Halaman
1 Alat yang digunakan dalam teknik pemeliharaan benih ... 13
2 Bahan yang digunakan dalam teknik pemeliharaan benih ... 13
3 Tahapan pendederan ... 17
4 Jenis pakan dan dosis larva sampai benih umur 21- 45 hari ... 18
5 Tingkat kelangsungan hidup benih ... 22
6 Hasil pengukuran parameter kualitas air ... 23
ix
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1 Morfologi ikan mas (Cyprinus carpio L.) ... 4
2 Induk jantan matang gonad dan induk betina matang gonad ... 6
3 Cara menebar benih pada kolam pendederan ... 15
4 Pemberian pakan pada kolam pendederan ... 18
5 Packing benih ... 28
x
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1 Kegiatan selama pemeliharaan benih ... 32 2 Peta BPBAT Tatelu ... 33
1 I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ikan mas (Cyprinus carpio L.) dikenal sebagai salah satu komoditas budidaya perairan tawar yang bernila ekonomis. Ikan mas cukup banyak digemari oleh masyarakat Indonesia karena rasa dagingnya yang guri dan memiliki kadar protein yang tinggi, juga mendukung pemenuhan gizi bagi masyarakat.
Di Indonesia memiliki perairan tawar yang sangat luas dan berpotensi yang sangat besar untuk usaha budidaya berbagai jenis ikan air tawar, sehingga perlu ditunjang kegiatan budidaya terutama komoditi ikan mas. Dari segi aspek budidayakan diikuti oleh peningkatan permintaan benih, baik benih yang akan dipelihara untuk pendederan. maupun Ketersediaan benih yang berkualitas dan dalam jumlah yang cukup merupakan salah satu kendala dalam pengembangan budidaya ikan mas. Oleh karena itu, perlu dilakukan kegiatan pembenihan.
Keberhasilan unit pembenihan air tawar dalam menghasilkan benih yang unggul menjadi faktor penentu budidaya ikan air tawar khususnya ikan mas. Oleh karena itu, untuk mengembangkan usaha pembenihan ikan mas diperlukan teknik pembenihan yang memadai. Salah satu bagian pembenihan adalah teknik penanganan benih ikan mas. Balai Budidaya Perikanan Air Tawar (BPBAT) Tatelu adalah instansi yang telah lama berkecimpung dalam kegiatan pembenihan ikan air tawar dengan mengembangkan metode penanganan benih ikan mas untuk meningkatkan produksi benih. Oleh karena itu, untuk mempelajari teknik penanganan ikan mas pada kolam pendederan maka dilakukan Kegiatan Pengalaman Kerja Praktek Mahasiswa (PKPM) di instansi ini.
2 1.2 Tujuan dan Manfaat
Tujuan penulisan tugas akhir ini adalah untuk memperkuat penguasaan teknik penanganan benih ikan mas (Cyprinus carpio L.) pada kolam pendederan di BPBAT Tatelu, Sulawesi Utara.
Manfaat dari penyusunan tugas akhir ini adalah untuk memperluas wawasan, kompetensi keahlian mahasiswa dalam berkarya di masyarakat kelak khususnya mengenai teknik penanganan benih ikan mas (Cyprinus carpio L.) pada kolam pendederan di BPBAT Tatelu, Sulawesi Utara dalam bidang pembenihan.
3 II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Taksonomi dan Morfologi
Menurut Saanin (1968), ikan mas dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Filum : Chordata Subfilum : Vertebrata Kelas : Pisces Subkelas : Teleostei Subkelas : Actinopterygii Ordo : Cypriniformes Famili : Cyprinidae Genus : Cyprinus
Spesies :Cyprinus carpio L.
Ikan mas (Cyprinus carpio) menurut sejarahnya berasal dari daratan Cina dan Rusia. Ikan mas mempunyai bentuk badan agak memanjang pipih ke samping (Commpresed) mulut (bibir) berada di ujung tengah (terminal), dapat disembulkan, lunak (elastis). Ikan memiliki kumis dua pasang, kadang-kadang mempunyai sungut satu pasang. Selain itu, tubuh ikan mas juga dilengkapi dengan sirip punggung (dorsal) berukuran relatif panjang dengan bagian belakang berjari-jari keras dan sirip terakhir yaitu sirip ketiga dan keempat, bergerigi.
Letak permukaan sirip punggung berseberangan bengan permukaan sirip perut (ventral). Sirip dubur (anal) yang terakhir bergerigi. girat sisi (Linea lateralis) terletak di pertengahan tubuh, melintang dari tutup insang ke ujung sampai ke ujung belakang pangkal ekor. Pharyngeal teeth (gigi kerongkongan) terdiri dari
4 tiga bagian yang berbentuk gigi geraham (Suseno 1999). Morfologi ikan mas dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1 Morfologi ikan mas (Cyprinus carpio)
Menurut Suseno (1999), ciri-ciri morfologi beberapa ras ikan mas yang banyak dijumpai dimasyarakat antara lain:
Ikan Mas Kaca
Ciri khas ikan ini adalah sebagian tubuhnya tidak tertutup sisik. Bagian yang tidak tertutup sisik sepintas tampak bening, mirip kaca. Di sepanjang gurat sisi (linea lateralis) dan di sekitar pangkal siripnya terdapat sisik berwarna putih mengilap. Sisik tersebut berukuran besar dan tidak seragam.
Ikan Mas Punten
Ikan mas punten memilki tubuh relatif pendek, tetapi bagian puggung relatif lebar dan tinggi, sehingga bentuk badan ikan mas punten terlihat pendek dan bulat. Perbandingan panjang total dengan tinggi badan yaitu 2,3 – 2,4 : 1. Warna sisik hijau gelap, mata agak menonjol gerakan tubuh lambat dan bersifat jinak.
5 Ikan Mas Sinyonya
Ikan mas sinyonya memiliki bentuk tubuh memanjang dan punggung lebih rendah dibandingkan dengan ikan mas punten perbandingan panjang dan tinggi badannya sekitar 3,66 : 1. Sisik berwarna kuning mudah seperti kulit jeruk sitrus, mata ikan yang masih mudah agak menonjol, kemudian berubah menjadi sipit ketika ikan sudah mulai tua. Sifat ikan mas sinyoya lebih jinak dibandingkan dengan ikan mas punten. Ikan mas sinyonya memiliki kebiasaan berkumpul di permukaan air.
Ikan Mas Taiwan
Ikan mas taiwan memiliki bentuk badan yang memanjang dan bentuk punggung seperti busur agak membulat. Sisik berwarna hijau kekuningan hingga kuning kemerahan pada tepi sirip anus dan bawah sirip ekor. Ikan mas taiwan sangat respon terhadap pakan sehingga akan berebut ketika diberi pakan.
Ikan Mas Merah
Ikan mas merah mempunyai ciri kas berwarna merah keemasan. Gerakan aktif, tidak jinak dan paling suka mengaduk-aduk dasar kolam. Bentuk badannya yang relatif panjang dibandingkan ras sinyonya. Posisi punggung ikan mas merah relatif rendah dan tidak lancip dan matanya agak menonjol.
Ikan Mas Majalaya
Ikan mas majalaya memiliki bentuk badan yang relatif pendek dan punggung lebih bungkuk dan lancip dibandingkan dengan ikan mas lainnya.
Perbandingan antara panjang dengan tinggi tubuh yaitu 3,1 : 1.
6 Bentuk tubuh ikan mas majalaya semakin lancip ke arah punggung dan bentuk moncong pipih. Ikan ini relatif jinak dan bergerak di atas permukaan air. Sisiknya berwarna hijua keabu-abuan dan bagian tepinya berwarna lebih gelap kecuali pada bagian insang dan pada bagian bawah sirip ekor berwarna kekuningan. Semakin ke arah punggung warna sisik ikan akan semakin gelap.
Ikan Mas Lokal
Bentuk tubuh dan warna ikan mas lokal merupakan kombinasi dari beberapa jenis ikan mas yang sudah ada. Secara umum bentuk tubuhnya memanjang dan matanya sipit.
2.2 Memilih Induk Matang Gonad
Tujuan seleksi induk yaitu untuk mendapatkan induk ikan mas yang sehat, unggul dan layak untuk budidayakan sesuai dengan cara pembenihan ikan yang baik (CPIB). Induk jantan dan induk betina yang matang gonad dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2 Induk jantan matang gonad dan induk betina matang gonad
Adapun ciri-ciri induk jantan dan induk betina yang unggul untuk dipijahkan adalah sebagai berikut:
7
Betina, umur antara 3 – 4 tahun dengan berat berkisar 2 – 5 kg/ekor, Jantan:
umur minimum 8 bulan dengan berat berkisar 1–3 kg/ekor.
Bentuk tubuh secara keseluruhan mulai dari mulut sampai ujung sirip ekor mulus, sehat, sirip tidak cacat.
Tutup insang normal tidak tebal dan bila dibuka tidak terdapat bercak putih;
panjang kepala minimal 1/3 dari panjang badan, lensa mata tampak jernih.
Sisik tersusun rapih, cerah tidak kusam.
Pangkal ekor kuat dan normal
Sedangkan ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah sebagai berikut:
a Betina
Perut bila diraba terasa lunak,
Lubang genital memerah,
Badan bagian perut besar, buncit dan lembek,
Gerakan lambat, pada malam hari biasanya loncat-loncat,
Jika perut distriping mengeluarkan telur berwarna kuning.
b Jantan
Badan tampak langsing.
Gerakan lincah dan gesit.
Jika perut di- stripping mengeluarkan cairan sperma berwarna putih.
2.3 Pemijahan
Proses pemijahan ikan mas yang dilakukan di BPBAT Tatelu adalah sistem pemijahan alami. Seks rasio pemijahan yang dilakukan adalah 1:1 artinya 1 kg induk betina dikawinkan dengan 1 kg induk jantan. Wadah pemijahan yang
8 digunakan berkonstruksi dinding beton dan dasar beton. Bak pemijahan dipasangi hapa sebagai tempat pemijahan. Pemasangan hapa dalam bak pemijahan dilakukan untuk memudahkan saat panen larva. Karena pemijahan serta penetasan dilakukan secara massal disuatu kolam pemijahan sehingga larva pun dipanen di wadah pemijahan tersebut. Ukuran bak yang digunakan yaitu dengan luas 6 x 3 x 1 m3 dan diisi air bersih setinggi 75 cm, dan luas hapa yang digunakan yaitu 3 x 2 x 1 m3. Air dibiarkan terus mengalir selama proses p emijahan dan penetasan berlangsung Setelah terjadi pemijahan,maka induk jantan dan betina dikembalikan ke kolam pemeliharaan. Perhitungan telur dilakukan de ngan cara mengambil sampling telur pada kakaban secara acak dengan cara mengukur salah satu bagian dari kakaban dengan ukuran 10 x 10 cm, selajutnya di hitung satu persatu telur yang berada didalam persegi tersebut, kemudian dilakukan sebanyak 5 kali sampling. Jumlah telur dalam setiap kakaban dapat diketahui dengan cara mengalihkan rata-rata jumlah telur setiap kakaban, dengan luas kakaban yang sudah dibagi dengan luas daerah sampling. Jumlah telur setiap pemijahan dapat diketahui dengan cara mengalihkan rata-rata jumlah telur dalam setiap kakaban dengan jumlah kakaban yang digunakan/dipasang di kolam pemijahan.
2.4 Penetasan Telur
Setelah terjadi pemijahan dan pembuahan maka telur-telur ikan mas akan menetas. Teknik penetasan telur ikan mas di BPBAT Tatelu yaitu dengan membiarkan telur hasil pemijahan sampai nenetas. Telur ikan mas mulai menetas pada umur dua hari dan akan menetas semua pada umur tiga hari.
9 2.5 Pemeliharaan Larva
Larva yang baru berumur empat hari setelah menetas dipanen pada pagi hari pada saat cuaca masih dingin agar dalam pemanenan larva tidak kepanasan yang dapat menyebabkan stres dan mati. Pemanenan dilakukan dengan menyekat menggunakan hapa secara hati - hati agar tidak ada larva yang menempel pada hapa tersebut, setelah itu larva diseser dengan pelan - pelan dan dihitung untuk selanjutnya dimasukkan dalam ember yang telah diisi air dan siap untuk ditebar kekolam pendederan 1.
2.6 Pendederan
Pendederan ikan mas adalah kegiatan persiapan kolam pemeliharaan larva meliputi peneringan rehabilitasi kolam, pemupukan, pengapuran, dan pengeringan pada musim kemarau relatif singkat 2 – 4 hari. Bersama dengan pengeringan kolam dapat dilakukan rehabilitasi pematang, saluran air, pintu air dan pengolahan tanah dasar kolam. Pematang dan saluran air yang bocor atau rusak ditambal dan diperbaiki. Saringan air dicopot, dibersihkan dan diperbaiki kemudian dipasang kembali.
Setelah kering, kolam dipupuk untuk menumbuhkan pakan alami yang sangat dibutuhkan oleh benih ikan mas. Pemupukan menggunakan pupuk kandang dari kotoran ayam. dengan Jumlah dan dosis disesuaikan dengan tingkat kesuburan perairan. Sebagai patokan, umumnya digunakan pupuk kotoran ayam dengan takaran 250 – 500 g/m².
2.7 Pemberian Pakan
Di dalam kolam pendederan tersebut telah ditumbuhkan pakan alami sebagai pakan benih ikan. Sewaktu – waktu pakan alami yang tersedia pada
10 kolam pemeliharaan benih akan habis maka benih akan diberi berupa pakan tambahan. Pakan tambahan berupa hi-provit tepung dengan protein tinggi diberikan setelah benih umur 1 minggu di dalam kolam pendederan.
Pakan diberikan dengan frekuensi 2 kali satu hari yaitu pagi dan sore hari.
Jumlah pakan yang diberikan secukupnya tidak perlu banyak, karena pemberian pakan buatanini bersifat tamabahan. Kualitas dan kuantitas pakan sangat penting dalam budidaya ikan mas, karena hanya dengan pakan yang baik pada ikan mas dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan yang kita inginkan. Kualitas pakan yang baik adalah pakan yang mempunyai gizi yang seimbang baik protein, karbohidrat maupun lemak serta vitamain dan mineral. Pakan diberikan 3 – 5%.
berat badan (perkiraan jumlah total berat ikan mas yang dipelihara). Pemberian pakan dapat ditebar secara langsung.
2.8 Pengelolaan Kualitas Air
Sumberdaya air yang memiliki persyaratan serta ketersediaan air secara kuantitatif maupun kualitatif merupakan persyaratan untuk bisa melakukan kegiatan budidaya. Air yang diperoleh dari perairan umum harus diendapkan lebik dahulu dalam bak pengendapan. Dari bak air itu dapat dipompa memalui saringan pasir kedalam bak tandon. Bila air diperoleh dari sumur dapat dipompa langsung kedalam tandon.
Djarijah (2005) menyatakan bahwa air untuk penetasan telur sebaiknya dialirkan melalui bak penendapan yang dilengkapi dengan filter dan aliran secara kontinyu melalui pintu air yang kapasitas dan debitnya dapat diatur. Suhu air selama penetasan telur dipertahankan pada kisaran 22 – 24º C. Kecepatan aliran air akan menentukan konsentrasi oksigen terlarut yang dibutuhkan sebagai sumber
11 energi dalam perkembangan embrio. Semakin cepat aliran air berarti konsentrasi oksigen terlarut semakin tinggi. Akan tetapi, aliran air yang terlalu cepat akan menghanyutkan larva yang masih lemah sehingga mudah stres dan mati.
Usaha pembenihan dan pendederan ikan mas dapat menggunakan air hujan, air waduk, air sungai, mata air, air saluran irigasi, air permukaan, air sumur terbuka dan sumur artesis. Diantara berbagai sumber air tersebut, air waduk dianggap yang terbaik karena endapan cukup sedikit dan kandungan oksigen serta unsur hara yang perlukan untuk pertumbuhan pakan alami cukup tinggi. Menurut Khairuman dkk. ( 2005), kandungan oksigen terlarut untuk kegiatan pembenihan ikan mas adalah lebih besar dari 3 mg/ l, derajat keasaman ( pH) berkisar antara 6,5 – 8,5 dan suhu air berkisar antara 26 – 28º C.
2.9 Pengendalian Hama dan Penyakit 2.9.1 Hama
Hama dikenal juga sebagai predator atau pemangsa yang hidup di air dan darat. Ukuran hama lebih besar dari pada mangsanya. Jenis hama umumnya menyerang ikan mas adalah biawak, ular, linsang, kodok dan beberapa jenis burung (misalnya burung belekok, kultul, dan bangau). Pengendalian hama dapat dilakukan secara mekanis, yakni membunuh langsung hama yang ditemukan ditempat pemeliharaan ikan. Tindakan pencegahan yang bisa dilakukan adalah memasang perangkap dan melokalisir seluruh area kolam dengan pagar tembok sehingga hama tidak dapat masuk (Afrianto 1992 ).
Selain hama berukuran besar, ada juga sekelompok hewan air (hama) berukuran kecil yang dapat pemangsa benih ikan mas di kolam pembenihan.
Beberapa hewan air (hama) yang sering menyerang benih ikan mas adalah ucrit,
12 notonecta, dan kini. Pencegahan hama ucrit melakukan dengan cara memasang saringan di pintu pemasukan dan padat penebarannya tidak terlalu tinggi. Hama notonecta dilakukan dengan cara memangsa saringan di pintu pemasukan air, cara lain dapat dikendalikan dengan memercik minyak tanah kepermukaan air sebanyak 0,5 liter/50 m² luas permukaan air kolam. Selanjutnya pencegahan hama kini dilakukan dengan cara padat penebaran tidak terlalu tinggi ( Muharam 2009).
2.9.2 Penyakit
Penyebab penyakit pada ikan mas ada dua, yakni jasad hidup dan bukan jasad hidup. Jasad hidup yang menyebabkan penyakit pada ikan adalah Parasit yang menyerang ikan mas adalah virus, jamur, bakteri, protozoa, cacing, dan udang renik. Selanjutnya penyebab penyakit yang bukan termasuk jasad hidup adalah sifat fisika air, kimia air, dan pakan yang kurang baik untuk pertumbuhan dan kehidupan ikan mas (Afrianto 1992).
2.10 Panen
Panen dilakukan pada pagi hari agar benih tidak mengalami stres. Benih yang berkumpul disaluran pengeluaran ditangkap menggunakan keranjang yang kecil berbentuk segi empat. Benih yang sudah dipanen diangkut dengan menggunakan ember. ditebar pada kolam pendederan dengan ukuran 2 – 3 cm.
Jumlah benih yang didederkan tergantung luas kolam dan tingkat pengelolaannya.
Ukuran benih seragam demi menghindari terjadinya persaingan makanan. Bila ikan masih dipelihara dalam kepadatan populasi yang tinggi, maka pertumbuhan kurang pesat sehingga terjadi persaingan makanan, dan pakan yang berlebihan akan berpengaruh pada kualitas air.
13 III METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Tugas akhir ini disusun berdasarkan hasil kegiatan PKPM yang dilaksanakan selama tiga bulan mulai dari 5 Februari sampai dengan 5 Mei 2016 di Balai Perairan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Tatelu, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Lokasi BPBAT dapat dilihat pada Lampiran 2.
3.2 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada teknik penanganan benih ikan mas di BPBAT Tatelu dapat di lihat pada Tabel 1 dan Tabel 2.
Tabel 1 Alat yang digunakan pada penanganan benih ikan mas
No Alat Spesifikasi Fungsi
1 Hapa/ waring 3 x 2 x 1 m3 Tempat pemijahan 2 Kakaban 150 x 30 cm2 Tempat penempelan telur
3 Kolam 20 x 20 x 1 m3 Wadah pemeliharaan induk betina dan jantan
4 Kolam tanah 10 x 10 x 1 m3 Pemeliharaan benih
5 Kolam 6 x 3 x 1 m3 Wadah pemijahan
6 Timbangan Kapasitas 50 kg Mengukur berat ikan 7 pH Meter Multiparameter Mengukur pH air 8 Termometer Menggunakan Hg Mengukur suhu air 9 Gelas aqua Bahan plastik Tempat sampel
10 Ember/keranjang Bahan plastik Wadah menampung ikan saat panen
Tabel 2 Bahan yang digunakan pada teknik penanganan benih larva ikan mas
No Bahan Spesifikasi Fungsi
1 Induk Betina Umur 8 bulan – 3 tahun, berat 2
kg/ ekor matang gonad Menghasilkan sperma 2 Induk jantan Umur 3 – 4 tahun, 3 – 4
kg/ induk matang gonad
Menghasilkan telur 3 Pakan Terapung dengan diameter 3 mm Pakan ikan
4 Pupuk Organik
20 gram/m² Untuk menumbuhkan
pakan alami
14 3.3 Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penulisan tugas akhir diperoleh dari hasil PKPM.
metode yang digunakan untuk mendapatkan data tersebut adalah metode observasi dan partisipasi aktif yaitu berperan aktif dalam kegiatan operasional penanganan benih ikan mas bersama seluruh teknisi pada unit (pembenihan ikan mas) mulai dari persiapan sampai panen. Data yang dikumpulkan berupa:
Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan langsung di
lapangan oleh orang yang melakukan penelitian atau yang bersangkutan yang memerlukanya. Data ini diperoleh secara langsung dengan melakukan pengamatan dan pencatatan dari hasil observasi, wawancara dan partisipasi aktif.
Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang
yang melakukan penelitian dari sumber-sumber yang telah ada. Data ini, biasanya diperoleh dari perpustakaan atau dari laporan-laporan penelitian terdahulu. Data sekunder disebut juga data tersedia. Dalam praktek kerja lapangan ini data sekunder diperoleh dari laporan - laporan pustaka yang menunjang, serta data yang diperoleh dari lembaga pemerintah, pihak swasta yang berhubungan maupun masyarakat yang terkait dengan usaha pembenihan ikan mas.
3.4 Metode Pelaksanaan
3.4.1 Persiapan Kolam Pemeliharaan Benih
Kegiatan persiapan kolam pemeliharaan larva meliputi pengeringan rehabilitasi kolam, pemupukan, pengapuran, dan pengeringan. Pengeringan pada musim kemarau relatif singkat 2 – 4 hari. Bersama dengan pengeringan kolam
15 dapat dilakukan rehabilitasi pematang, saluran air, pintu air dan pengolahan tanah dasar kolam. Pematang dan saluran air yang bocor atau rusak ditambal dan diperbaiki. Saringan air dicopot, dibersihkan dan diperbaiki kemudian dipasang kembali.
Setelah kering, kolam dipupuk untuk menumbuhkan pakan alami yang sangat dibutuhkan oleh benih ikan mas. Pemupukan menggunakan pupuk kandang dari kotoran ayam. Jumlah dan dosis disesuaikan dengan tingkat kesuburan perairan. Sebagai patokan, umumnya digunakan pupuk kotoran ayam dengan takaran 250 – 500 g/m².
3.4.2 Penebaran Benih
Penebaran larva atau benih dilakukan pada pagi hari, saat suhu air rendah, yaitu antara pukul 06.00 – 08.00 WIB, penebaran benih bisa juga di lakukan pada sore hari setelah suhu tidak terlalu panas. Tujuannya agar larva atau benih tidak stres akibat suhu tinggi. Larva atau benih yang ditebar terlalu siang bisa stres akibat kepanasan. Cara menebar benih pada kolam pendederan dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 1 Cara menebar benih pada kolam pendederan
16 Pada tebar setiap tahapan pendederan berbeda – beda, tergantung dari ukuran dari umur benih. Pada pendederan pertama, larva ditebar dengan kepadatan antara 100 – 200 ekor/ m², dan pendederan kedua 60 – 75 ekor/ m².
Untuk mengetahui jumlah benih yang ditebar, larva atau benih dihitung terlebih dahulu. Cara menghitungnya haru hati- hati, kondisi tubuhnya masih lemah dan muda terluka. Cara menghitung yang paling baik resikonya paling kecil adalah secara volumetrik. Perhitungan secara volumetrik merupakan perhitungan dengan takaran larva atau benih dengan menggunakan sendok atau gelas aqua sebanyak satu kali dan selanjutnya larva atau benih yang telah ditakar dihitung.
3.4.3 Pendederan
Pendederan adalah salah satu tahapan pertumbuhan benih dalam budidaya pembenihan ikan mas. Benih ikan memiliki sifat- sifat tertentu sesuai dengan perkembangan umurnya. Setiap tingkatan umur membutuhkan perlakuan yang berbeda. Oleh karna itu, pembesaran benih ikan dilakukan melalui beberapa tahap pendederan yaitu, pendederan I dan II. Setiap pendederan dilakukan pemeliharaan benih dalam jangka waktu yang berbeda- beda. Adapun tahapan pendederan menurut Standar Operasional Produksi Benih Ikan Mas dapat dilihat pada Tabel 3.
17 Tabel 3 Tahapan pendederan
No Uraian I II
1 Ukuran tebar (cm) 0,7– 0,9 2 – 3
2 Dosis pupuk organik (gram/m²) 500 250
3 Padat tebar ( ekor/ m²) 100 50
4
Waktu pemeliharaan ( hari) 21 30
5 Dosis pakan(% bobot biomassa) 20 10
6 Frekuensi pemberian pakan 2 2
7 Ukuran panen ( cm) 2 – 3 5 – 8
Dalam melakukan pendederan atau pemeliharaan benih, dilakukan pengontrolan setiap hari baik itu kualitas air,pemberian pakan ataupun kebersihan sekitar kolam agar ikan yang dipelihara dapat terhindar dari hama yang dapat merugikan dalam proses pemeliharaan sehingga produksi ikan yang dihasilkan sesuai dengan yang diharapkan.
Pemberian Pakan Benih
Pakan yang digunakan di BPBAT Tatelu untuk ikan mas adalah tepung pellet dan pellet. Pellet yang digunakan tentunya pellet yang sesuai dengan dengan bikaan mulut ikan yang dipelihara. Cara pemberian pakan untuk benih ikan mas pendederan I selama masa pemeliharaan yaitu, menggunakan pakan pellet shinta digiling sampai jadi tepung halus. Hal tersebut bertujuan supaya pakan sesuai dengan bukaan mulut benih. Pellet di olah akan berupa tepung halus,sehingga mudah dimakan oleh benih. Sementara pakan untuk pendederan II
18 diberikan pakan pellet berupa butiran kecil yang sesuai dengan bukaan mulut benih.
Pakan diberikan merata disekeliling kolam, karena larva bersifat bergerombol dipinggir kolam terutama larva selama pendederan I. Dosis pakan yang digunakan adalah 20%, dan untuk pendederan II pemberian pakan diberikan pada satu titik karena ikan mas memiliki sifat yang bergerombol, pemberian pakan pada kolam pendederan (Gambar 4).
Gambar 4 Pemberian pakan pada kolam pendederan
Jenis pakan buatan serta dosisnya dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini : Tabel 6 Jenis pakan dan dosis larva sampai benih umur 21- 45 hari
Umur ( hari)
Bentuk pakan
Dosis pakan
Frekuensi pemberian (kali/ hari)
Waktu pemberian ( pukul)
Komposisi pakan (%)
21 Tepung 1 kg per
100.000 ekor
2
08.00 16.00
Protein =29-31 Lemak = 5 Serat = 6 Kadar abu= 13 Kadar air 12
45 Pellet 20%
perberat biomassa
2
08.00 16.00
Protein =30 Lemak = 5 Serat = 5 Kada abu = 12 Kadar air =12
19 Pengelolaan Kualitas Air
Air adalah kompoten penting dalam budidaya perikanan, karena di dalam air ikan hidup, tumbuh, dan berkembang. Data kualitas air diperoleh dari Laboratorium kualitas air dengan membawa sampel air yang akan dianalisa Untuk menjaga kualitas air dalam pemeliharaan benih dilakukan pemberian pakan yang tidak berlebih pada ikan, karena sisa pakan yang terdapat pada kolam akan mempengaruhi kualitas air.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengeringan dasar kolam secara teratur setiap selesai panen. Pemeliharaan ikan yang benar- benar bebas penyakit. menghindari penebaran ikan secara berlebihan melebihi kapasitas. Sistem pemasukan air yang ideal dan pararel, setiap kolam diberi satu pintu pemasukan air. Pemberian pakan cukup baik kualitas maupun kuantitas. Penanganan saat panen atau pemindahan benih hendaknya dilakukan secara hati- hati dan benar.
3.4.4 Pemanenan
Panen benih dilakukan dengan cara menyurutkan air kolam, air kolam disurutkan pada sore hari, yang dilakukan sehari sebelum panen dilakukan.
Setelah caren terlihat maka panen dapat dilakukan. Benih diambil dengan menggunakan scoopnet atau anco dan di masukkan ke dalam ember. Benih di tampung di tempat penampungan berupa hapa. Hapa di pasang disebelah kolam dimana pemanenan dilakukan.
20 3.5 Parameter yang Diamati dan Analisis Data
3.5.1 Parameter yang Diamati
Jenis variabel yang diamati pada kegiatan penanganan benih ikan mas, meliputi:
Jumlah populasi pada awal pemeliharaan dan akhir pemeliharaan
Tingkat kelangsungan hidup
Kualitas air (suhu, pH dan oksigen terlarut).
3.5.2 Analisis Data
Beberapa data dianalisis dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Tingkat Kelangsungan Hidup / Survival Rate ( SR)
Kelangsungan hidup dinyatakan sebagai perentase jumlah ikan yang hidup selama jangka waktu pemeliharaan dibagi dengan jumlah ikan yang ditebar Dihitung menggunakan rumus ( Effendie 1979) :
SR = ( Nt / No) x 100%
Keterangan :
Nt adalah jumlah ikan pada akhir pemeliharaan (ekor) No adalah jumlah ikan pada awal pemeliharaan (ekor)