• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEKNIK PENGELOLAAN INDUK IKAN MAS (Cyprinus carpio) PADA KOLAM BETON DI BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA AIR TAWAR SUKABUMI JAWA BARAT TUGAS AKHIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TEKNIK PENGELOLAAN INDUK IKAN MAS (Cyprinus carpio) PADA KOLAM BETON DI BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA AIR TAWAR SUKABUMI JAWA BARAT TUGAS AKHIR"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

TEKNIK PENGELOLAAN INDUK IKAN MAS (Cyprinus carpio)

PADA KOLAM BETON

DI BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA AIR TAWAR SUKABUMI

JAWA BARAT

TUGAS AKHIR

MUHAMMAR S. AHMAD

1322010483

JURUSAN BUDIDAYA PERIKANAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKAJENE DAN KEPULAUAN PANGKEP

(2)

TEKNIK PENGELOLAAN INDUK IKAN MAS (Cyprinus carpio)

PADA KOLAM BETON

DI BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA AIR TAWAR SUKABUMI

JAWA BARAT

TUGAS AKHIR

MUHAMMAR S. AHMAD

1322010483

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Menyelesaikan Studi pada Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan

Telah Diperiksa dan Disetujui oleh Pembimbing

Mulyati, S.Pi., M.Si. Ir. Alimuddin., M.Si. Ketua Anggota

Diketahui oleh:

Dr. Ir. H. Darmawan, M.P. Ir. Rimal Hamal, M.P. Direktur Ketua Jurusan

(3)

iii

RINGKASAN

MUHAMMAR S. AHMAD, 1322010483. Teknik Pengelolaan Induk Ikan Mas

(Cyprinus carpio ) pada Kolam Beton di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jawa Barat. Dibimbing oleh Mulyati dan

Alimuddin.

Ikan mas merupakan komoditas air tawar yang bernilai ekonomis. Ikan mas digemari oleh masyarakat Indonesia karena rasa dagingnya gurih dan memiliki kadar protein yang tinggi. Ketersediaan induk yang berkualitas bermutu dalam jumlah yang cukup secara berkelanjutan untuk memenuhi tingginya permintaan masyarakat

Tugas Akhir ini disusun dengan tujuan untuk memperkuat penguasaan teknik pengelolaan induk ikan mas di pembenihan.

Manfaat penulisan tugas akhir ini adalah untuk memperluas wawasan, kompetensi keahlian mahasiswa dalam berkarya di masyarakat kelak khususnya mengenai teknik-teknik pengelolaan induk ikan mas, sehingga diharapkan dapat menghasilkan benih yang unggul baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Tugas akhir ini disusun berdasarkan kegiatan Pengalaman Kerja Praktik Mahasiswa (PKPM) pada tanggal 09 Februari s/d 09 Mei 2016 di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi, Jawa Barat.

Hasil dari kegiatan pengelolaan induk ikan mas adalah bahwa induk yang digunakan sudah memenuhi kriteria induk yang baik dengan umur rata-rata 1,8 kg/ekor, panjang 25-40 cm, dan berat 1,27 kg/ekor untuk jantan sedangkan induk betina dengan umur rata-rata 2 tahun, panjang 25-48 dan berat 1,26 kg/ekor.. Rasio pemijahan berdasarkan bobot induk jantan berbanding induk betina adalah 1:1, sedangkan berdasarkan jumlah induk adalah 2:1. Jumlah total telur yang dikandung oleh induk adalah 2.025.380 butir per kilogram berat induk, dengan tingkat fertilisasi berkisar antara 90,2% dan tingkat penetasan sebesar 91,2%. Induk diberi pakan yang mengandung protein 26-28% dengan dosis 3% bobot biomassa induk, dan frekuensi dua kali sehari. Parameter kualitas air media pemeliharaan dan media pemijahan induk berada pada kisaran suhu 25-26,20 C, oksigen terlarut 5,80-8,75 ppm, dan pH 7,8-8,5.

(4)

iv

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini sesuai yang di harapkan. Tidak lupa penulis ucapkan shalawat dan salam junjungan nabi besar Muhammad SAW, yang telah membawa umatnya dari alam kegelapan ke alam yang terang benderang yang penuh dengan ilmu pengetahuan.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat di dalam penyusunan tugas akhir ini, oleh karena itu penulis harapkan kritik dan saran dari pembaca untuk kesempuenaan laporan ini. Penulis juga tidak lepas dari bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Ibu Mulyati, S.Pi.,M.Si. dan bapak Ir.Alimuddin.,M.Si. sebagai dosen pembimbing yang telah banyak memberikan pengarahan, petunjuk serta serta bimbingannya;

2. Bapak Moch. Wawan Rusmana, S.St.Pi. selaku pembimbing lapangan di Balai Besar Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jawa Barat;

3. Bapak Ir. Rimal Hamal, M.P., selaku Ketua Jurusan Budidaya Perikanan, dan Ibu Suryati, S.Pi,.M.Si., selaku Sekretaris Jurusan Budidaya Perikanan Politeknik Pertanian Negeri Pangkep;

(5)

v

4. Bapak Dr. Ir. Darmawan, M.P.selaku Direktur di Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan.

Akhirnya dengan tulus penulis menghaturkan terima kasih kepada Ayahanda Abd.Salam Ahmad dan Ibunda Hudauini yang senantiasa memberikan support baik berupa moril maupun material serta beliau senantiasa mengiringi doa hingga penyelesaian studi ini. Terima kasih kepada kakak dan segenap keluarga besar yang selalu memberi motivasi, doa serta dukungan moril maupun materil dalam penulisan tugas akhir ini.

Penulis menyadari bahwa penyusunan tugas akhir masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak terdapat kekurangan, untuk itu saran dan kritik yang sifatnya membangun penulis sangat diharapkan. Mudah–mudahan tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.

Pangkep, Juli 2016

(6)

vi DAFTAR ISI Halaman RINGKASAN iii KATA PENGANTAR iv DAFTAR TABEL ix DAFTAR GAMBAR x I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Tujuan dan Manfaat ... 2

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi dan Morfologi ... 3

2.2 Habitat dan Penyebaran ... 8

2.3 Hama dan Penyakit... 9

2.4 Pakan dan Kebiasaan Makan ... 10

2.5 Pertumbuhan Ikan Mas... 11

(7)

vii

2.7 Pengelolaan/Pemeliharaan Induk... 12

2.8 Kualitas Telur... 13

III METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu ... 16

3.2 Alat dan Bahan ... 16

3.3 Metode Pengumpulan Data ... 17

3.4 Metode Pelaksanaan ... 18

3.4.1 Persiapan Kolam ... 18

3.4.2 Pemeliharaan Induk... 19

3.4.3 Pemilihan Induk Matang Gonad... 20

3.4.4 Pemijahan Induk... 21

3.4.5 Penetasan Telur... 21

3.5 Parameter yang Diamati dan Analisis Data... 23

3.5.1 Parameter yang Diamati... 23

3.5.2 Analisis Data... 23

IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kriteria Induk... 24

(8)

viii

4.2 Pakan... 26

4.3 Tingkat Pembuahan (FR) dan Tingkat Penetasan Telur (HR).... 28

4.4 Kualitas Air... 30 V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 32 5.2 Saran ... 32 DAFTAR PUSTAKA RIWAYAT HIDUP

(9)

ix

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Alat yang digunakan selama pengelolaan induk... 16

2 Bahan yang digunakan selama pengelolaan induk... 17

3 Hasil pemilihan induk matang gonad... 24

4 Jumlah total telur yang dihasilkan oleh induk betina... 26

5 Pengelolaan pakan induk pada kolam... 26

6 Kandungan nutrisi pakan induk... 27

7 Tingkat fertilisasi dan tingkat penetasan ikan mas... 28

(10)

x

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Morfologi ikan mas (Cyprinus carpio)... 4

2 Ikan mas merah... 5

3 Ikan mas taiwan... 5

4 Ikan mas kumpay... 6

5 Ikan mas karper kaca... 6

6 Ikan mas kancra domas... 7

7 Ikan mas sinyonya... 8

8 Jenis pakan induk... 11

(11)

1

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia memiliki perairan tawar yang sangat luas dan berpotensi besar untuk usaha budidaya berbagai macam jenis ikan air tawar sehingga mampu memproduksi dan mengeksploitasi dan memenuhi kebutuhan akan sumberdaya perairan guna meningkatkan kualitas pertumbuhan bagi masyarakat luas. Dewasa ini sumber daya alam semakin menipis. Ikan masih sangat dibutuhkan akan tetapi ketersediaan tidak mencukupi untuk kebutuhan manusia di dunia ini, dengan

keadaan seperti itu, muncullah keinginan manusia untuk berusaha

membudidayakan agar kebutuhan akan ikan dapat terpenuhi.

Ikan mas (Cyprinus carpio L.) dikenal sebagai salah satu komoditas budidaya perairan tawar karena nilai jualnya yang cukup baik di pasaran. Budidaya ikan mas banyak diusahakan dibeberapa daerah di Indonesia. Kegiatan budidaya yang dilakukan mulai dari pembenihan sampai pembesaran. Ikan mas dapat dibudidayakan pada berbagai media budidaya seperti karamba jaring apung maupun kolam. Menurut Rukmana (2006), ikan mas merupakan salah satu dari 15 jenis komoditas ikan yang ditujukan untuk peningkatan produksi dan pendapatan petani, serta pemenuhan sasaran peningkatan gizi masyarakat.

Keberhasilan unit pembenihan air tawar dalam menghasilkan benih ikan mas berkualitas secara berkelanjutan dengan kuantitas yang mencukupi menjadi faktor penentu bagi sustainabilitas budidaya ikan air tawar. Oleh karena itu, untuk mengembangkan usaha pembenihan ikan mas, diperlukan penguasaan teknologi pengelolaan induk.

(12)

2

Balai Besar Perikanan Air Tawar Sukabumi, Jawa barat adalah instansi yang ditunjuk pemerintah untuk mengembangkan berbagai teknik pembenihan ikan air tawar dan mengembangkan metode pengelolaan induk yang baik untuk meningkatkan produksi benih. Oleh karena itu, Laporan Tugas Akhir ini disusun untuk menyajikan informasi tentang teknik pengelolaan induk ikan mas dan memberikan analisis terhadap data-data yang diperoleh dari hasil kegiatan pengelolaan induk ikan mas dan telur di BBPBAT Sukabumi, Jawa Barat.

1.2 Tujuan dan Manfaat

Tugas Akhir ini disusun dengan tujuan untuk memperkuat penguasaan teknik pengelolaan induk ikan mas di pembenihan di BBPBAT.

Manfaat penulisan tugas akhir ini adalah untuk memperluas wawasan, kompetensi keahlian mahasiswa dalam berkarya di masyarakat kelak khususnya mengenai teknik-teknik pengelolaan induk ikan mas, sehingga diharapkan dapat menghasilkan benih yang unggul baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

(13)

3

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi dan Morfologi

Menurut Linnaeus (1758), klasifikasi ikan mas adalah sebagai berikut :

Kerajaan : Animalia Filum : Chordata Kelas : Actinopterygii Ordo : Cypriniformes Famili : Cyprinidae Genus : Cyprinus

Spesies : Cyprinus carpio

Secara morfologi bentuk tubuh ikan mas agak memanjang dan memipi tegak (compresed). Mulutnya terletak diujung tengah (terminal) dan dapat disembulkan (prtaktif). Bagian ujung mulut memliki dua pasang sugut. Diujung dalam mulut terdapat gigi kerongkongan (pharyngeal teeth) yang tersusun atas tiga baris geraham. Secara umum, hampir seluruh tubuh ikan mas ditutupi oleh sisik, kecuali beberapa varietas yang memiliki sedikit sisik. Sisisk ikan mas yang berukuran relatif besar digolongkan kedalam sisik tipe lingkaran (sikloid) dan terletak beraturan (Rochdianto 2005).

Tubuh ikan mas dilengkapi juga dengan sirip. Sirip punggung (dorsal) memanjang dan bagian belakangnya berjari keras. Sementara itu, ketiga dan keempatnya bergerigi. Letak sirip punggung berseberangan dengan permukaan sirip perut (ventral). Sirip dubur (anal) mempunyai ciri seperti sirip punggung, yaknik berjari keras dan bergerigi. Garis rusuk atau gurat sisi (linea literalis) pada

(14)

4

ikan mas berada dipertengahan tubuh dengan posisi melintang dari tutup insang sampai keujung belakang pangkal ekor (Khairuman et al 2005). Induk ikan mas dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1 Morfologi ikan mas (C. carpio) (Sumber : BBPBAT Sukabumi, 2016)

Menurut Suwarman dan Yus (2011), ciri-ciri morfologi dari beberapa ikan mas yang banyak dijumpai di masyarakat seperti berikut ini :

a) Ikan mas merah

Ikan mas merah mempunyai ciri khas sisiknnya berwarna merah keemasan. Gerakannya aktif, tidak jinak, dan paling suka mengaduk-aduk dasar kolam, bentuk badannya relatif panjang. Dibandigkan dengan ras sinyonnya, posisi punggung ikan merah relatif rendah dan lancip, matanya agak menonjol (Gambar 2).

(15)

5

Gambar 2 Ikan mas merah (Sumber : www.google.co.id)

b) Ikan mas taiwan

Ikan mas Taiwan sangat respon terhadap pakan sehingga akan berebut ketika diberi pakan. Diduga ikan nenek moyang ikan mas ini berasal dari Taiwan, kemudian diintroduksi dan dikembangkan di Indonesia. Ikan mas taiwan memiliki bentuk tubuh memanjang dan bentuk punggung seperti busur agak membulat. Sisiknya berwarna hijau kekuningan hingga kuning kemerahan pada tepi sirip anus dan bawah sirip ekor(Gambar 3).

Gambar 3 Ikan mas taiwan

(Sumber : pokdakan-klayar.blogspot.com)

c) Ikan mas kumpay

Ikan mas kumpay pertumbuhannya tergolong lambat. Kadang-kadang ikan mas ini juga dimanfaatkan sebagai ikan konsumsi.Ciri utama ikan mas

(16)

6

kumpay adalah semua siripnya panjang dan berombai sehingga tampak indah ketika bergerak. Warna sisiknya sangat bervariasi, yaitu putih, kuning, merah, dan hijau gelap. Bentuk badannya memanjang seperti ikan mas sinyonya(Gambar

4 ).

Gambar 4 Ikan mas kumpay

(Sumber : ikankoijakarta.blogspot.com)

d) Ikan mas karper kaca

Ciri ikan mas karper kaca adalah sebagian tubuhnya tidak tertutup sisik. Bagian tubuh yang tidak tertutup sisik sepintas tampak bening mirip kaca. Disepanjang gurat sisi dan di sekitar pangkal siripnya terdapat sisik berwarna putih mengkilap. Sisik tersebut berukuran besar dan tidak seragam (Gambar 5).

`

Gambar 5 Ikan mas karper kaca (Sumber : id.wikipedia.org)

(17)

7

e) Ikan mas kancra domas

Bentuk tubuh ikan mas kancra domas memanjang. Gerakannya mirip ikan mas taiwan, yaitu selalu aktif dan kurang jinak. Sisiknya berukuran kecil dan susunannya tidak beraturan. Warna sisik berpariasi, yaitu biru, cokelat, atau hijau. Sisik punggungnya berwarna gelap. Semakin kearah perut, warnanya semakin terang keperakan atau keemasan(Gambar 6).

Gambar 6 Ikan mas kancra domas (Sumber : dunia-perairan.blogspot.com)

f) Ikan mas sinyonya

Tidak diketahui pasti asal usul nama ikan jenis ini. Beberapa orang menyebutkan ikan mas ini mudah sekali betelur sehingga disebut sinyonya. Bentuk tubuhnya memanjang (long bodied form) dan punggungnya lebih rendah dibandingkan dengan ikan mas punten. Perandingan panjang dengan tinggi badannya sekitar 3,66 :1(Gambar 7).

Sisik berwarna kuning muda seperti warna kulit jeruk sitrus. Mata ikan yang masih muda agak menonjol, kemudian beubah menjadi sipit ketika ikan

(18)

8

sudah mulai tua. Sifat ikan mas sinyonya memiiki kebiasaan berkumpul dipermukaan air.

Fekunditas atau jumlah telur ikan mas sinyonya 85.000-125.000 butir dan diameternya 0,3-1,5 ml. Induk ikan mas sinyonya jantan akan matang kelamin pertama pada umur 18 bulan. Ikan mas ini tahan parasit Myxosporea.

Gambar 7 Ikan mas sinyonya

(Sumber : pengussahamuda.blogspot.com)

2.2 Habitat dan Penyebaran

Menurut Sucipto (2005), habitat asli ikan mas di alam meliputi sungai yang berarus, tenang hingga sedang dan area dangkal danau. Ikan tersebut menyukai perairan hangat dengan warna air agak keruh dengan tersedia pakan alami. Tempat yang ideal adalah ceruk atau area terdalam pada suatu dasar perairan. Selain itu, bagian-bagian sungai berair tenang yang terlindung dari pepohonan dan banyak ditumbuhi tanaman air sering menjadi tempat memijah bagi ikan mas. Ikan mas dapat beradaptasi dengan baik sehingga mampu hidup menyebar diperairan air tawar di seluruh pelosok tanah air.

(19)

9

Menurut Susanto (2002), ikan mas tumbuh optimal pada ketinggian antara 150-1000 meter diatas permukaan laut (dpl). Suhu air optimal untuk pertumbuhannya antara 20-250 C dengan pH 7-8. Ikan mas hidup di

tempat-tempat yang dangkal dengan arus yang tidak terlalu deras seperti sungai, danau dan genangan air.

Menurut Sucipto (2005), parameter kualitas yang harus dipenuhi dalam pembenihan ikan mas adalah kecerahan >1,0 m dengan alkalinitas 50-100 mg/l. kekeruhan maksimum 20 JTU dengan 26-300C, oksigen terlarut dalam perairan

>3 mg/l. Karbondioksida 0-12 mg/l dengan pH antara 6,5-8,5, amoniak (NH3)

total maksimum 0,02 mg/liter, dan nitrit 0,06 mg/liter.

2.3 Hama dan Penyakit

Menurut Sucipto (2006), hama yang sering menyerang ikan mas antara lain:

a. Bebeasan (Notonecta), hama ini berbahaya bagi benih karena sengatannya. Pengendalian hama tersebut dapat dilakukan dengan menuangkan minyak tanah kepermukaan air sebanyak 500 cc/1000 liter air.

b. Ucrit, hama ini menyerang dengan cara menjepit badan ikan dengan taringnya hingga robek dan menghisap darahnya. Hama ini sangat sulit untuk diberantas namun penanggulangannya sementara yaitu dengan menghindari bahan yang menumpuk di sekitar kolam.

c. Hama lainnya juga seperti katak, ular, burung, belut dan kepiting.

Menurut Sucipto (2006), penyakit yang sering menyerang ikan mas antara lain :

(20)

10

a. Bengkak insang dan badan (Myxosporensis), gejala yang ditimbulkan adalah tutup insang selalu terbuka oleh bintik kemerahan, bagian punggung juga terjadi pendarahan. Penanggulangannya yaitu dengan melakukan pengeringan kolam secara total kemudian dilakukan pengapuran dengan dosis 100 gram/m2 dan dibiarkan selama 1-2 minggu.

b. Cacing ingsang, sirip, kulit, (Dactylogirus dan Gyrodactylus), gejala yang ditimbulkan penyakit ini adalah ikan tampak kurus, sisik berwarna kusam, serta sirip ekor terkadang rontok. Gejala lainnya ikan akan menggosok-gosokkan tubuhnya pada benda disekitar bahkann hingga mengalami pendarahan. Pengendaliannya adalah dengan melakukan perendaman dalam larutan formalin 4 ppm/liter air selama 1 jam.

2.4 Pakan dan Kebiasaan Makan

Ikan mas termasuk pemakan segala (omnivora). Pada umur muda (ukuran 10 cm), ikan mas senang memakan jasad hewan atau tumbuhan yang hidup di dasar perairan atau kolam, misalnya chironomidae, olighochaeta, tubificidae, epimidae,trichoptera, molusca, dan sebagainya. Selain itu memakan juga protozoa dan zooplankton seperti copepoda dan cladocera. Hewan-hewan kecil tersebut disedot bersama lumpurnya, diambil yang dapat dimanfaatkan dan sisanya dikeluarkan melalui mulut (Santoso, 2000). Jenis makanan tambahan yang biasa diberikan pada ikan mas adalah bungkil kelapa atau bungkil kacang dan lain-lain sedangkan untuk makanan buatan biasanya diberikan berupa pelet (Gambar 8).

(21)

11

(a) (b)

Gambar 8 Jenis pakan induk (a.pelet terapung b.pelet tenggelam)

2.5 Pertumbuhan Ikan Mas

Ikan mas merupakan salah satu jenis ikan yang mempunyai sifat cepat tumuh, panjang, berat dan mudah dikembang biakkan dan mempunyai kemampuan beradaptasi cukup tinggi (Effendi 2004). Selanjutnya dikatakan bahwa laju pertumbuhan menurun dengan adanya bertambahnya ukuran tubuh. Akan tetapi pengaruh ini tidak selalu terjadi pada hewan yang dibudidayakan. Karena sejumlah ikan diperkirakan dapat menaikkan beratnya sepanjang total waktu hidup.

2.6 Reproduksi Ikan Mas

Setiap spesies ikan mempunyai strategi yang tersendiri sehingga dapat melakukan reproduksinya dengan sukses. Fungsi reproduksi pada ikan pada dasarnya merupakan bagian dari system reproduksi. Sistem reproduksi terdiri dari komponen kelenjar kelamin atau gonad, di mana pada ikan betina disebut ovarium sedangkan pada jantan disebut testis beserta salurannya. Faktor yang dapat mempengaruhi fungsi reproduksi pada spesies ikan terdiri dari faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal meliputi curah hujan, suhu, sinar matahari,

(22)

12

tumbuhan dan adanya ikan jantan. Pada umumnya ikan-ikan di perairan akan memijah pada awal musim hujan atau pada akhir musim hujan, karena pada saat itu akan teriadi suatu perubahan lingkungan atau kondisi perairan yang dapat merangsang ikan-ikan untuk berpijah (Sutisna 1995).

Perkembangan gonad pada ikan menjadi perhatian pada pengamatan reproduksi ikan. Perkembangan gonad yang semakin matang merupakan bagian dari reproduksi ikan sebelum terjadinya pemijahan, sebagian besar hasil metabolisme dalam tubuh dipergunakan untuk perkembangan gonad. Pada saat ini gonad semakin bertambah berat diikuti dengan semakin bertambah besar ukurannya termasuk ukuran telurnya. Pertambahan berat gonad pada ikan jantan betina sebesar 10−25% dari berat tubuh dan pertambahan pada ikan jantan sebesar 5−10%. Letak gonad betina ikan mas membesar mengisi dua pertiga rongga perut atau hampir menutupi organ organ tubuh pada saat tingkat kematangan gonad (TKG) IV dan berwarna kuning kecokelatan, gonad jantan ikan mas pada TKG IV besar dan panjang, mengisi dua pertiga rongga perut atau hampir menutupi organ-organ yang lain. Gonad mengembung, memanjang ke depan dan berwarna putih jerni (Khairuman dan Amri 2007),

2.7 Pengelolaan/Pemeliharaan Induk

Induk ikan mas yang akan dipijahkan dipelihara di kolam khusus secara terpisah antara jantan dan betina. Pakan yang diberikan berupa pelet dengan kandungan protein 25%. Dosis pemberian pakan ikan mas sebanyak 3% per bobot biomass/hari. Frekuensi pemberian pakan 2 kali/hari, Ikan mas betina yang

(23)

13

diseleksi sudah dapat dipijahkan setelah berumur 1.5−2 tahun dengan bobot > 2 kg.

2.8 Kualitas Telur

Telur yang baik dan sudah dibuali mempunyai ciri bening dan bercahaya. Telur yang tidak normal berwama kusam. Telur yang terbuahi berwarna bening trasparan dengan inti telur di bagian tengah. Telur yang gagal dibuahi biasanya berwarna putih keruh.

Hatching rate atau tingkat penetasan telur merupakan persentase jumlah total telur yang menetas dari jumlah larva yang dihasilkan. Tingginya tingkat penetasan telur merupakan indicator kualitas telur yang baik.

Perkembangan embrio dimulai dari perkembangan zigot (cleavage). Cleavage adalah pembelahan zigot secara cepat menjadi unit-unit yang lebih kecil yang disebut blastomer, lalu diikuti dengan stadia morula (morulasi) stadia blastula (blastulasi), stadia gastrula (gastrulasi), dan stadia organgenesis, Nelson (1983),. Morula merupakan pembelahan sel yang terjadi setelah sel berjumlah 32 sel dan berakhir bila sel sudah menghasilkan sejumlah blastomer yang berukuran sama akan tetapi ukurannya lebih kecil, sel tersebut memadat untuk menjadi blastodisk kecil yang membentuk dua lapisan sel.

Pada saat ini ukuran sel mulai beragam. Sel membelah secara melintang dan mulai membentuk formasi lapisan kedua secara sama pada kutub anima. Pada akhir pembelahan akan dihasilkan dua kelompok sel. Pertama kelompok sel-sel utama (blastoderm), yang meliputi sel-sel formatik atau gumpalan sel-sel dalam (inner mass cell), fungsinya membentuk tubuh embrio. Kedua adalah kelompok

(24)

14

sel-sel pelengkap, yang meliputi trophoblast, dan auxiliary cells. Fungsinya melindungi dan meghubungi antara embrio dengan lingkungan luar, Kelompok sel-sel yang terdiri dari jaringan embrio (blastodisc) disebut cakram kecambah (germinal disc).

Blastulasi adalah proses yang menghasilkan blastula yaitu campuran sel-sel blastoderm yang membentuk rongga penuh cairan sebagai blaslocoel. Pada akhir blastulasi sel-sel blastoderm akan membentuk neural, epidermal, notokordal, mesodermal, dan endodermal yang merupakan bakal pembentuk organ-organ. Fase ini dicirikan dua lapisan yang sangat nyata dari sel-sel datar membentuk blastocoel dan blastodisc berada di lubang vegetal berpindah menutupi sebagian besar kuning telur. Pada blastula sudah terdapat daerah yang berdiferensiasi membentuk organ-organ tertentu seperti sel saluran pencernaan, notokorda, syaraf, epiderm. Ektoderm, mesoderm, dan endoderm.

Gastulasi adalah proses perkembangan embno di mana sel bakal organ yang telah terbentuk pada stadia blastula mengalami perkembangan lebih lanjut. Proses perkembangan sel bakal organ ada dua, yaitu epitoli dan emboli. Epibol adalah proses pertumbuhan sel yang bergerak ke arah dalam terutama di ujung sumbu embrio.Stadia gastrula ini merupakan proses pembentukan ketiga daun kecambah yaitu ektoderm, mesoderm, dan endoderm. Pada proses gastrula ini terjadi perpindahan ektoderm, mesoderm, endoderm dan notokord menuju tempat yang definitif. Pada periode ini erat hubungannya dengan proses pembentukan susun syaraf. Gastrulasi berakhir pada saat kuning telur telah tertutupi oleh lapisan sel. Beberapa jaringan mosederm yang berada di sepanjang kedua sisi

(25)

15

notokord disusun menjadi segmen-segmen yang disebut somik yaitu yang terdapat pada embrio.

Organogenesis merupakan stadia terakhir dari proses perkembangan embrio. Stadia Ini merupakan proses pembentukan organ organ tubuh makhluk hidup yang sedang berkembang. Dalam proses organogenesis terbentuk berturut-turut bakal organ yaitu syaraf notokorda, mata, somit, rongga kuffer, kantong alfaktori, rongga ginjal, usus, tulang subrotokord, linea lateralis, jantung, aorta, insang, infiindibullung, dan lipatan-lipatan sirip. Sistim organ-organ tubuh berasa dari tiga buah daun kecambah yaitu ektodermal, endodermal, dan mesodermal.

Pada ektodermal akan membentuk organ-organ sistem syaraf dan epidermis kulit. Endodermal akan membentuk saluran pencernaan beserta kelenjar-kelenjar pencernaan dan alat pernapasan dan mesodermal akan membentuk rangka, otot alat-alat peredaran darah, alat ekskresi, alal alat reproduksi, dan korion kulit. Jika proses organogenesis telah sempurna maka akan dilanjutkan dengan proses ini penetasan telur.

(26)

16

III METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu

Laporan tugas akhir ini disusun berdasarkan kegiatan PKPM yang dilaksanakan selama tiga bulan pada 09 Februari s.d. 09 Mei 2016 di BBPBAT Sukabumi Jawa Barat.

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam kegiatan dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 Alat yang digunakan selama pengelolaan induk

Alat Jumlah Spesifikasi Kegunaan

Kolam pemelihraan induk Kolam pemijahan Timbangan gantung Ember 2 unit 1 unit 1 buah 4 buah 20×15 m Luas 300 m2 Kapasitas 10 kg Bahan plastik Volume 12 liter Menampung induk

Memijahkan induk matang gonad

Menimbang induk

Tempat pakan

Penggaris Ketelitian 0,1

mm

Mengkur panjang tubuh ikan

(27)

17 Dorongan karet Lambit/Seser 4 buah 2 buah Bahan karet Mesh size 5 cm

Membersihkan dasar kolam

Menangkap induk

Bahan yang digunakan dalam kegiatan dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2 Bahan yang digunakan selama pengelolaan induk

Bahan Jumlah Spesifikasi Kegunaan

Induk mas Menghasilkan benih

Pellet 3% dari

berat biomassa

Pelet terapung dan tenggelam

Mempercepat pematangan gonad

3.3 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dilakukan dengan empat cara, yaitu:

1. Metode observasi, yaitu melakukan pengamatan terhadap berbagai kegiatan pengelolaan induk ikan mas

2. Metode partisipasi aktif, yaitu berperan serta dalam kegiatan operasional pengelolaan induk ikan mas bersama seluruh staf dan karyawan pada hatchery tersebut.

(28)

18

3. Metode wawancara, yaitu mendapatkan tambahan pengetahuan teoritis dan berbagai informasi yang terkait dengan kegiatan di lapangan melalui wawancara dengan staf atau teknisi.

4. Metode studi literatur, yaitu penelusuran pustaka melalui literatur yang ada pustaka hubungannya dengan pengelolaan induk ikan mas.

3.4 Metode Pelaksanaan

3.4.1 Persiapan kolam

Mendapatkan kolam yang cocok dan layak untuk kehidupan induk ikan mas sehingga dapat menghasilkan benih yang berkualitas. Persiapan kolam meliputi:

a) Persiapan kolam pemeliharaan induk

Persiapan pemeliharaan induk dimulai dari proses pembersihan kolam dengan cara menyurutkan air, setelah air surut kira-kira 20 cm kolam dibersihkan menggunakan sorongan karet yang bertujuan untuk membuang sisa-sisa hasil metabolisme, lumut serta kotoran yang ada pada dasar kolam. Setelah kolam dibersihkan kemudian diisi air sebanyak 100 cm.

b) Persiapan kolam pemijahan

Persiapan pemijahan dimulai dari pembersihan kolam dari sisa metabolisme dan lumut yang menempel pada dasar kolam, kemudian kolam dikeringkan dan dilakukan pengapuran dengan dosis25 gram/m2. Pengapuran ini

bertujuan untuk membasmi hama dan bibit penyakit pada kolam. Pengisian air dilakukan setelah didiamkan selama 2−3 hari dengan ketinggian air 50 cm.

(29)

19

Selanjutnya memasang hapa berukuran 6 x 4 x 0,8 m3 dengan size 1 mm, hapa

yang telah dipasang diberi pemberat berupa teralis besi dan batu pada bagian dasar agar hapa tidak terapung kepermukaan air.

Fungsi hapa ini sebagai tempat pemijahan, serta mempermudah pengangkatan induk setelah memijah. Setelah itu kakaban disiapkan sebagai substrat untuk menempelkan telur. Kakaban yang digunakan yaitu 50 buah atau disesuaikan dengan kapasitas induk dimana kakaban yang digunakan dengan panjang 100 cm dan lebar 30 cm.

c) Persiapan kolam penetasan

wadah yang digunakan berupa bak beton berukuran 20x15x1,5 m3. wadah

di isi air hingga 50 cm, air mengalir secara terus menerus dengan debit 50 ml detik dan diberi aerasi secara kontinyu, tujuannya untuk menjamin oksigen terlarut dan pergantian air yang kotor akibat pembusukan telur yang tidak terbuahi.

3.4.2 Pemeliharaan induk

Tujuan pemeliharaan induk agar induk ikan mas terbebas dari penyakit dan bakteri patogen yang dapat membahayakan kelangsungan unit pembenihan. Pemeliharaan induk meliputi:

a) Pengelolaan pakan

Induk diberi pakan dua kali sehari yaitu pagi jam 08:00 WIB dan sore hari jam 16:00 WIB. Pakan yang diberikan berupa Jenis pellet terapung dan pellet tenggelam. Pada masa pemeliharaan, induk diberi pakan secara teratur terutama

(30)

20

dalam proses pematangan gonad. Hal ini dilakukan agar gonad yang baik pada induk akan menghasilkan benih yang baik pula.

b) Pengelolaan kualitas air

Pergantian air dilakukan dengan tujuan untuk menjaga kualitas air agar tetap baik digunakan. Pergantian air dilakukan bersamaan dengan penyeleksian induk untuk pemijahan yang dilakukan sebulan sekali, Pada kolam pemeliharaan induk ikan mas menggunakan sistem air yang mengalir secara terus-menerus selama 24 jam Pengelolaan kualitas air pada saat-saat tertentu seperti banyak kotoran menumpuk, dilakukan dengan cara memperbesar debit air yang keluar. Adapun sumber air yang digunakan berasal dari sumur bor yang berukuran besar yang dilengkapi dengan pompa dan pipa untuk dialirkan ke kolam-kolam.

3.4.3 Pemilihan induk matang gonad

Badan Standardisasi Nasional (1999) mengemukakan bahwa induk betina yang siap dipijahkan berumur 18 bulan dengan bobot 2 kg/ekor dan untuk induk jantan yang sudah matang gonad berumur 8 bulan dengan bobot 0,5 kg/ekor.

Pemilihan induk dilakukan dengan cara menyurutkan air kolam untuk memudahkan dalam penangkapan induk. Induk ditangkap dengan cara menyeret hapa dalam kolam kemudian induk yang tertangkap ditampung dalam hapa.

Ciri-ciri induk jantan dapat diketahui dengan kasarnya overculum, untuk memastikan itu adalah induk jantan atau bukan maka, dilakukan pengurutan kearah urogenital apabila keluar cairan putih susu (sperma) maka dapat dipastikan induk jantan, sementara pada induk betina memiliki perut yang membesar dan lembek ketika diraba (Gambar 9).

(31)

21

(a) Induk jantan (b) Induk betina

Gambar 10 Induk matang gonad

3.4.4 Pemijahan induk

Induk yang akan dipijahkan terlebih dahulu ditimbang dengan menggunakan timbangan manual. Tujuan penimbangan ini adalah untuk mengetahui bobot awal dari induk sehingga nantinya dapat diketahui jumlah hormon hipopisa (ovaprim) yang akan disuntikkan pada induk betina.

Proses pemijahan dilakukan dengan menyuntikkan hormon perangsang ke dalam tubuh ikan hingga terjadi ovulasi antara induk jantan dan induk betina. Setelah proses penyuntikan maka induk dilepaskan ke dalam kolam pemijahan untuk menunggu masa ovulasi. Masa ovulasi biasanya terjadi setelah 8-10 jam dari proses penyuntikan dan ditandai dengan gerakan induk yang nampak agresif.

3.4.5 Penetasan Telur

Penetasan telur yang baik dan benar akan mendapatkan larva ikan mas dengan kualitas yang baik dan mengurangi tingkat kematian pada larva. Untuk mengetahui jumlah telur dan kualitas induk maka, dilakukan perhitungan yaitu : a) Perhitungan fekunditas

(32)

22

Fekunditas diukur dengan cara : telur sampel ditiimbangan sebanyak 1 gram setelah itu dihitung jumlah butirnya , lalu semua total telur ditimbang, kemudian dilakukan perhitungan jumlah telur dengan berat telur total (g) dikalikan dengan jumlah telur sampel (butir).

b) Perhitungan tingkat pembuahan

Persentase tingkat pembuahan (FR) diukur dengan cara: mengambil tiga titik sampel darri kakaban kemuadian dilakukan perhitungan telur yang terbuahi (bening) dan tidak terbuahi (putih). melakukan perhitungan dimana jumlah telur yang dibuahi dibagi dengan jumlah total telur sampel kemudian dikali 100%.

c) Perhitungan tingkat penetasan

Persentase tingkat penetasan (HR) diukur dengan cara: pada hari pertama telur menetas langsung dilakukan perhitungan daya tetas telur secara manual (menghitung langsung satu per satu). Kemudian dilakukan perhitungan dimana jumlah telur menetas dibagi dengan jumlah telur yang dibuahi kemudian dikalikan 100%.

d) Pemanenan larva

Pemanenan dilakuakan dengan tahapan sebagai berikut: menyiapkan alat dan bahan yang digunakan. Mengumpulkan larva dengan menyerot hapa hingga kecil dengan menggunakan paralon atau kayu panjang. Mengambil larva dengan menggunakan scop net kemudian ditakar dengan menggunakan sendok teh (500 ekor takar). Memasukkan larva kedalam kantong plastik packing (40x60 cm) yang berisi air kemudian diangkut ke kolam pendederan.

(33)

23

3.5 Parameter yang Diamati dan Analisis Data

3.5.1 Parameter yang Diamati

Jenis parameter yang diamati pada kegiatan pengelolaan induk dan telur ikan mas, meliputi:

a) Parameter kualitas induk (asal, umur, bobot, fekunditas telur) b) Parameter pakan induk jenis pakan, dosis pakan, frekuensi

pemberian pakan)

c) Parameter pemijahan (rasio pemijahan)

d) Parameter kualitas telur (jumlah telur, jumlah telur terbuahi, jumlah telur menetas)

e) Parameter kualitas air media pemeliharaan (suhu. pH, oksigen terlarut) dilaksanakan pada pagi dan sore hari.

f) Parameter kesehatan jenis penyakit, nama pathogen, dosis pengobatan, cara pengobatan)

3.5.2 Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif dan kualitatif yang bersumber pada data primer dan data sekunder yang didapatkan selama kegiatan berlangsung. Beberapa data dianalisis dengan menggunakan 𝐉𝐮𝐦𝐥𝐚𝐡 𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧 =bobot biomassa induk (g)×dosis pakan induk (3%)rumus :

𝐅𝐞𝐫𝐭𝐢𝐥𝐢𝐳𝐚𝐭𝐢𝐨𝐧𝐑𝐚𝐭𝐞 (𝐅𝐑) =Jumlah telur yang dibuahi

jumlah total telur ×

100%

𝐇𝐚𝐭𝐜𝐡𝐢𝐧𝐠 𝐑𝐚𝐭𝐞 𝐇𝐑 =Jumlah telur yang menetas jumlah telur yang dibuahi ×

Gambar

Gambar 1 Morfologi ikan mas (C. carpio)  (Sumber : BBPBAT Sukabumi, 2016)
Gambar 3 Ikan  mas taiwan
Gambar 4 Ikan mas kumpay
Gambar 6 Ikan  mas kancra domas  (Sumber : dunia-perairan.blogspot.com)
+4

Referensi

Dokumen terkait

SYAIKHUNA Volume 8 Nomor 2 Oktober 2017 183 Sebenarnya jika diperhatikan dengan seksama uraian-uraiannya, maka akan terlihat bahwa dasar penafsiran al-Razi pada ayat ini

Pembayaran minimum harus dilunasi setiap bulan pada atau sebelum tanggal jatuh tempo walaupun Anda belum menerima lembar penagihan.. Pembayaran yang diterima setelah tanggal

TAPIS DAYA AKTIF SERI DENGAN KENDALI HISTERISIS PADA SISTEM SATU FASA.. LAPORAN

Tingkat suku bunga kredit investasi periode sebelumnya, perekonomian periode tertentu, perekonomian periode sebelumnya, jumlah uang beredar periode tertentu, dan jumlah

Penelitian terdahulu menggunakan pengukuran beban kerja mental dengan metode NASA-TLX telah dilakukan oleh Arsi dan Partiwi (2012) untuk mengukur beban kerja mental

Efisiensi pasar Komposit, nilai R 2 kurs spot BND 0,895 yang berarti 89,5% variasi future spot dapat dijelaskan oleh variasi kurs spot dan kurs forward secara bersama sama,

- Bapak dan Ibu dosen program studi Magister Ilmu Hukum Universitas Narotama Surabaya yang telah memberikan ilmu pengetahuan yang bermanfaat baik bagi penulis maupun

Maka sudah saatnya kita mengembangkan kurikulum sejarah yang memperhatikan kondisi-kondisi mutakhir negeri ini, baik dari segi sosio kultural, kebijakan