DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
KEPUTUSAN
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 26/DPD RI/IV/2014-2015 TENTANG
PERTIMBANGAN
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
TERHADAP
KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN POKOK-POKOK KEBIJAKAN FISKAL
SERTA
DANA TRANSFER DAERAH DALAM
RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG
ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2016
JAKARTA
2015
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
KEPUTUSAN
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26/DPD RI/IV/2014-2015
TENTANG PERTIMBANGAN
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
TERHADAP
KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN POKOK-POKOK KEBIJAKAN FISKAL SERTA
DANA TRANSFER DAERAH DALAM
RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG
ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2016
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa anggaran pendapatan dan belanja negara sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan undang-undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat;
b. bahwa Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 memberikan pertimbangan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia atas rancangan undang-undang anggaran pendapatan dan belanja negara;
c. bahwa pertimbangan atas rancangan undang-undang anggaran pendapatan dan belanja negara disampaikan secara tertulis oleh
456
Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia selambat-lambatnya empat belas hari sebelum diambil persetujuan bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Presiden;
d. bahwa Pemerintah telah menyampaikan kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal sebagai kerangka awal penyusunan rancangan undang-undang anggaran pendapatan dan belanja negara dan nota keuangan;
e. bahwa pertimbangan atas kerangka ekonomi makro dan pokok- pokok kebijakan fiskal serta dana transfer daerah dalam rancangan undang-undang anggaran pendapatan dan belanja negara disampaikan oleh Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia sejalan dengan pembahasan yang dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dengan Pemerintah;
f. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf e, Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia melalui Komite IV --sesuai dengan lingkup tugasnya-- telah membahas dan merumuskan Pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia terhadap Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal serta Dana Transfer Daerah dalam Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2016;
g. bahwa berdasarkan ketentuan dalam huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, dan huruf f, perlu menetapkan Keputusan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia tentang Pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia terhadap Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal serta Dana Transfer Daerah dalam Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2016;
Mengingat : 1. Pasal 22D ayat (2) dan Pasal 23 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2014 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5568);
3. Peraturan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2014 tentang Tata Tertib;
4. Peraturan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Nomor 04 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Pemberian Pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;
Dengan Persetujuan Sidang Paripurna Luar Biasa Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia
Masa Sidang IV Tahun Sidang 2014-2015 MEMUTUSKAN:
Menetapkan : KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERTIMBANGAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA TERHADAP KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN POKOK-POKOK KEBIJAKAN FISKAL SERTA DANA TRANSFER DAERAH DALAM RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2016.
PERTAMA : Pertimbangan tertulis Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia terhadap Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal serta Dana Transfer Daerah dalam Rancangan Undang- Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2016 disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia sebagai bahan pembahasan antara Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Pemerintah.
KEDUA : Isi dan perincian pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia sebagaimana dimaksud pada diktum PERTAMA dimuat dalam lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari keputusan ini.
KETIGA : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 23 Juni 2015
458
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
PIMPINAN Ketua,
IRMAN GUSMAN Wakil Ketua,
G.K.R. HEMAS
Wakil Ketua,
Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
LAMPIRAN KEPUTUSAN
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 26/DPD RI/IV/2014-2015 TENTANG
PERTIMBANGAN
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
TERHADAP
KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN POKOK-POKOK KEBIJAKAN FISKAL
SERTA
DANA TRANSFER DAERAH DALAM
RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG
ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2016
JAKARTA
2015
A. Pendahuluan
1. Pengajuan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) Tahun 2016 oleh pemerintah merupakan pembahasan awal untuk RAPBN Tahun 2016 mendatang. Hal itu sejalan dengan Pasal 178 UU No. 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD, serta Pasal 13 UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang mengamanatkan bahwa pemerintah wajib menyampaikan pokok-pokok kebijakan fiskal dan kerangka ekonomi makro tahun berikutnya. Selain itu, KEM PPKF 2016 juga merespons perkembangan ekonomi yang terjadi tahun 2015 serta memperkirakan kemungkinan yang terjadi pada tahun 2016.
2. Sesuai dengan amanat Pasal 22D ayat (2) dan Pasal 23 ayat (2) Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta Pasal 248 ayat (1) UU No. 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 42 Tahun 2014, DPD RI mengusulkan pertimbangan kepada DPR RI terhadap Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok- Pokok Kebijakan Fiskal Tahun 2016. Usulan DPD RI itu dibuat berdasarkan masukan aspirasi masyarakat melalui dengar pendapat dengan pemerintah, para pakar, dan pelaku pembangunan serta melalui kunjungan kerja ke daerah.
3. Situasi perkembangan ekonomi global masih berada dalam gejolak dan ketidakpastian yang disebabkan oleh rencana Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) untuk menaikkan suku bunga setelah berhentinya stimulus fiskal tahun 2013 yang lalu. Selain itu, situasi tersebut diperparah dengan semakin melambatnya perekonomian Cina yang sebelumnya tumbuh di atas double digit, termasuk Jepang yang mengalami stagnasi pertumbuhan. Perekonomian domestik juga terkena imbas di tengah merosotnya harga minyak dunia serta menurunnnya harga komoditas perkebunan. Pertumbuhan ekonomi, nilai tukar, dan harga minyak jauh dari perkiraan semula. Implikasinya berbagai kebijakan fiskal juga tidak mencapai sasaran seperti yang diinginkan, termasuk di dalamnya realisasi penerimaan perpajakan Triwulan I Tahun 2015 yang lebih rendah 4,3% atau turun sebesar Rp10,6 triliun jika dibandingkan dengan realisasi periode yang sama tahun sebelumnya. Hal tersebut mengakibatkan keterlambatan pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui belanja pemerintah.
4. Usulan dan pertimbangan DPD RI ini dibuat untuk mengoptimalkan pengelolaan anggaran negara tahun 2016, baik dari sisi kebijakan ekonomi makro maupun kebijakan fiskal yang terkait dengan penerimaan negara, belanja negara, dan pembiayaan untuk mewujudkan tujuan dan sasaran pembangunan nasional, yaitu meningkatkan kesejahteraan rakyat, meningkatkan pemerataan, serta mendorong percepatan pembangunan daerah. Dengan usulan dan pertimbangan DPD RI, penyusunan KEM PPKF Tahun 2016 diharapkan
462
menjadi lebih baik, realistis, dan sesuai dengan prioritas pembangunan nasional dan daerah.
B. Pertimbangan DPD RI terhadap Asumsi Ekonomi Makro Tahun 2016
1. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan membaik pada tahun 2016 sehingga pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8% hingga 6,2%
pada tahun 2016 mendatang. Meskipun demikian, beberapa negara mitra dagang Indonesia, seperti Cina, Jepang, dan beberapa negara yang lain mengalami perlambatan. Situasi domestik juga masih terdampak dengan menurunnya harga minyak dunia serta menurunnya harga komoditas.
Sehubungan dengan pertimbangan tersebut, DPD RI mengusulkan pertumbuhan ekonomi agar ditetapkan pemerintah pada asumsi dasar ekonomi makro Tahun 2016, yaitu berada pada kisaran 5,5% hingga 6,0%.
Kisaran pertumbuhan tersebut memberikan peluang yang cukup realistis bagi pemerintah untuk menyejahterakan rakyat, khususnya di daerah. Bagi beberapa provinsi yang pertumbuhan ekonominya berada di bawah rata-rata nasional, seperti Aceh, Riau, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Papua, DPD RI meminta pemerintah agar memprioritaskan alokasi belanja kementerian/lembaga pada daerah tersebut.
2. Pemerintah memperkirakan inflasi tahun 2016 akan berkisar antara 4 ± 1 %. Namun, kenaikan harga minyak dunia pada tahun 2016 juga terus membayangi inflasi di dalam negeri yang akan mempengaruhi komoditas bahan pangan. Berkenaan dengan situasi tersebut, DPD RI mengusulkan asumsi inflasi tahun 2016 kepada pemerintah sebesar 4,5%-5,2%. Sehubungan dengan itu, pemerintah harus berusaha keras menjaga stabilitas harga dan mengurangi potensi kenaikan inflasi sebagai akibat kenaikan tarif dasar listrik, pengurangan subsidi energi, harga pangan yang meningkat, pasokan bahan bakar minyak yang lamban di beberapa daerah, biaya transportasi antardaerah yang meningkat, dan tarif layanan publik yang naik. Hal yang penting adalah bagaimana mengatasi inflasi di daerah yang masih tinggi, seperti di Kalimantan, Jawa, dan Maluku memiliki tingkat inflasi di atas rata- rata nasional.
3. Pemerintah memperkirakan asumsi nilai tukar tahun 2016 sebesar Rp12.800,00-Rp13.200,00 per dolar AS. Kisaran yang cukup lebar dan cenderung melemah jika dibandingkan dengan tahun 2015. Hal tersebut menunjukkan semakin tingginya tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang disebabkan, baik oleh menguatnya ekonomi AS maupun oleh kebijakan The Fed. Berkaitan dengan hal tersebut, DPD RI sependapat dengan pemerintah mengenai usulan nilai tukar sebesar Rp12.800,00-Rp13.200,00 per dolar
AS. Namun, pemerintah harus meningkatkan koordinasi dan kerja sama dengan Bank Indonesia dalam menerapkan penggunaan mata uang rupiah untuk setiap transaksi di dalam negeri serta membatasi penggunaan dolar AS. Selain itu, pemerintah bersama Bank Indonesia secara terbuka perlu menyampaikan berbagai kebijakan pengelolaan cadangan devisa, termasuk dalam melakukan intervensi di pasar uang. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dapat meningkatkan daya saing ekspor yang berbasiskan produk olahan pertanian sebagai alternatif melesunya harga komoditi ekspor crude palm oil dan harga komoditi ekspor barang tambang batu bara dan mineral. Daya saing ditingkatkan dengan mengurangi berbagai kendala yang menghambat arus barang dan jasa, termasuk beberapa peraturan daerah yang menghambat dan prosedur kepabeanan.
4. Pemerintah mengasumsikan suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan tahun 2016 sebesar 4,0%-6,0%. Dengan melihat realisasi pada tahun 2014 sebesar 5,2% serta masih tingginya kepemilikan SPN oleh pihak asing dalam tenor jangka pendek dan gejolak ekonomi global yang masih terus terjadi, DPD RI mengusulkan asumsi suku bunga SPN sebesar 4,5%-6,0%. DPD RI meminta Pemerintah agar melakukan perbaikan sistem keuangan sehingga pasar SPN domestik jauh lebih berkembang dan tidak bergantung pada pihak asing. Meskipun demikian, pemerintah perlu memfokuskan penurunan suku bunga perbankan melalui efisiensi perbankan serta mendorong pemerataan penyaluran kredit perbankan antardaerah, terutama untuk mendukung pengembangan usaha mikro, kecil, menengah, koperasi (UMKMK), dan percepatan pembangunan daerah.
5. Pada tahun 2016 mendatang, pemerintah mengasumsikan harga minyak mentah Indonesia (CPI) sebesar 60-80 US$/barel. Asumsi tersebut cukup relevan di tengah perkembangan meningkatnya konsumsi dan pasokan minyak dunia saat ini. DPD RI berpandangan bahwa asumsi tersebut masih cukup realistis. Meskipun demikian, DPD RI berpendapat bahwa Pemerintah harus menyiapkan suatu pengaman untuk mengurangi dampak fluktuasi harga minyak di pasar internasional, termasuk penetapan subsidi. Pemerintah perlu memperhatikan kebutuhan pasokan BBM di beberapa daerah dengan menetapkan besaran subsidi yang berbeda untuk setiap daerah. Namun, DPD RI berpendapat bahwa yang lebih penting adalah kestabilan harga BBM di dalam negeri dalam rangka menjaga perekonomian daerah, termasuk inflasi di daerah.
6. Pemerintah mengasumsikan lifting minyak pada tahun 2016 sebesar 830- 850 ribu barel per hari. Tahun 2016 mendatang pemerintah mengandalkan Blok Cepu yang diharapkan dapat berproduksi sebesar 165 ribu barel per hari sehingga diharapkan target lifting-nya dapat tercapai. DPD RI sependapat dengan pemerintah berkaitan dengan target tersebut, tetapi pemerintah perlu
464
melakukan pencarian sumur baru serta mengintensifkan eksplorasi minyak, termasuk penghapusan berbagai hambatan investasi pada sektor minyak dengan mempertimbangkan kepentingan nasional dan daerah. Di sisi lain, pengembangan energi terbarukan mutlak dilaksanakan secepatnya, baik untuk transportasi, sumber energi, maupun industri.
7. Pemerintah juga menetapkan asumsi lifting gas sebesar 1.100-1.200 ribu barel setara minyak/hari. Dengan pencapaian lifting gas pada tahun 2014 sebesar 1.224 ribu barel setara minyak/hari, DPD RI melihat bahwa asumsi pada tahun 2016 masih cukup realistis. Meskipun demikian, DPD RI mendesak Pemerintah agar segera melakukan kebijakan migrasi energi, yaitu dari bahan bakar minyak ke gas bumi, baik untuk transportasi, energi listrik, industri, maupun rumah tangga.
8. Selain beberapa asumsi makro ekonomi di atas, DPD RI mengusulkan kepada pemerintah untuk memasukkan indikator tingkat kemiskinan, tingkat pengangguran, dan indeks gini. Ketiga indikator tersebut sangat penting sebagai target capaian pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat.
C. Pertimbangan DPD RI terhadap Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal Tahun 2016 1. Dari sisi pendapatan, kebijakan fiskal yang akan diterapkan tahun 2016 ialah
pemberian insentif fiskal untuk kegiatan ekonomi strategis guna mendukung iklim investasi dan keberlanjutan usaha. DPD RI memandang bahwa insentif fiskal diberikan pada sektor-sektor yang terkena dampak luas bagi penyerapan tenaga kerja di daerah, khususnya di sektor pertanian, perikanan dan kelautan maritim, perkebunan, serta pertambangan, khususnya di wilayah Indonesia bagian timur. Insentif tersebut sangat penting sebagai upaya penanggulangan dampak merosotnya harga minyak dunia dan turunnya harga komoditas dunia selama 2 tahun terakhir.
2. Selain itu, rencana Pemerintah akan meningkatkan sektor penerimaan pajak sebesar 11%-12% pada tahun 2016 perlu dikaji secara komprehensif karena realisasi penerimaan perpajakan Triwulan I Tahun 2015 lebih rendah 4,3%
jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
DPD RI meminta pemerintah memperhatikan iklim dunia usaha dan daya beli masyarakat agar target pajak lebih realistis. Meski demikian, kebijakan peningkatan kepatuhan wajib pajak, perluasan tax coverage, penguatan dan perluasan basis data perpajakan, serta perbaikan perundangan-undangan perpajakan, khususnya UU tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yang diusung DPD saat ini mutlak perlu dijalankan. Selain itu, salah satu potensi pajak yang perlu ditindaklanjuti adalah pajak yang berkaitan dengan jasa ekonomi kreatif (perusahaan animasi, event organizer yang menyelenggarakan pagelaran musik, pameran yang potensinya semakin meningkat, namun tidak untuk ekonomi kreatif masyarakat dalam skala kecil
dan menengah, seperti kerajinan rakyat, dsb.) serta banyaknya perusahaan asing yang tingkat kepatuhan pajaknya masih rendah.
3. Di dalam Postur APBN penerimaan perpajakan memberikan sumbangan terbesar terhadap pendapatan negara, yaitu pada kisaran 79%, sedangkan penerimaan negara yang lain ialah penerimaan negara bukan pajak 20% dan hibah sebesar 1%. Namun, dalam realisasinya dari tahun ke tahun penerimaan pajak tidak memenuhi target yang diharapkan. Komitmen negara-negara Asean dalam bidang ekonomi--yang dikenal dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)--yang dimulai pada tahun 2015, antara lain adalah menyepakati kebijakan Asean Free Trade Area (AFTA). Sehubungan dengan itu, DPD RI berpendapat bahwa hal tersebut merupakan tantangan sekaligus peluang bagi penerimaan perpajakan di Indonesia. Untuk itu, harus segera dilakukan reformasi, baik lembaga, aparatur maupun regulasi di bidang perpajakan.
Dengan pemberlakuan reformasi perpajakan secara total dan penghapusan mafia pajak secara tuntas, DPD RI berpendapat bahwa penerimaan perpajakan masih memiliki peluang untuk ditingkatkan. Untuk itu, law enforcement terhadap aparatur pajak dan pembayar pajak perlu ditingkatkan.
4. Dalam hal Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), DPD RI berpendapat bahwa Pemerintah harus menjaga tertib administratif dan menghapuskan berbagai penyimpangan yang terjadi dalam pengelolaan PNBP di berbagai kementerian/lembaga. Regulasi PNBP yang ditetapkan dengan UU No. 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak tidak sepenuhnya berpihak kepada daerah karena implementasi otonomi daerah baru dilaksanakan secara efektif pada tahun 2001 meskipun UU tentang Pemerintah Daerah telah ditetapkan pada tahun 1999. Selain itu, pemerintah perlu mengupayakan bagi hasil beberapa jenis PNBP tertentu kepada daerah karena kewenangan dan objeknya memang berada di daerah. Dengan langkah itu, DPD RI meyakini bahwa PNBP masih dapat ditingkatkan demi memperkuat sumber-sumber penerimaan negara dan juga memperkuat keuangan daerah.
5. Pemerintah mengalokasikan anggaran belanja Pemerintah Pusat dengan fokus pada dimensi (i) pembangunan manusia, (ii) pembangunan sektor ungggulan dan pemerataan, dan (iii) pengurangan kesenjangan. Dengan berpijak pada hal tersebut, DPD RI mendesak pemerintah agar konsisten mengalokasikan prioritas anggaran belanja pemerintah pusat berdasarkan dimensi tersebut, misalnya terkait dengan kedaulatan pangan, pendidikan, atau kesehatan. Selain itu, fokus anggaran belanja pemerintah pusat juga harus berdimensi kewilayahan sehingga sinergi antara APBN dan kebijakan umum APBD Tahun 2016 dapat dilakukan. DPD RI mendesak Pemerintah agar melakukan regulasi yang menghubungkan antara APBN dan APBD
466
secara langsung, baik dalam dimensi kebijakan fiskal maupun dalam dimensi penganggaran program dan kegiatan.
6. Pemerintah masih akan menerapkan kebijakan subsidi BBM dan listrik pada tahun 2016. Untuk subsidi BBM, DPD RI meminta pemerintah untuk mengkaji kembali penentuan kebijakan harga BBM yang dalam kurun waktu tiga bulan menjadi enam bulan atau satu tahun agar dampaknya tidak terlampau besar pada masyarakat. Selain itu, sasaran pemberian subsidi untuk pengguna solar, minyak tanah, dan LPG tabung tiga kilogram, pemerintah sebaiknya tetap memberikan secara khusus subsidi solar untuk kelompok nelayan. Hal itu didukung pula oleh kebijakan pengawasan subsidi BBM bersubsidi dan LPG tabung tiga kilogram mutlak dilakukan secara intensif. Sementara untuk subsidi listrik, DPD RI meminta pemerintah tidak hanya meningkatkan rasio elektrifikasi namun juga investasi pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, khususnya di luar Pulau Jawa.
7. Salah satu kebijakan subsidi nonenergi tahun 2016 ialah melaksanakan secara bertahap mekanisme subsidi pupuk melalui subsidi langsung kepada petani yang termasuk rumah tangga petani dan rentan. DPD RI berpandangan bahwa subsidi langsung dinilai kurang efektif di tingkat lapangan, baik karena persoalan validitas data petani, ketepatan waktu penyaluran, maupun adanya moral hazard. Sehubungan dengan hal tersebut, DPD RI meminta pemerintah melakukan subsidi output dalam bentuk subsidi harga sehingga dapat meningkatkan produktivitas pertanian serta menyejahterakaan petani secara umum. Terkait dengan subsidi raskin, DPD RI memandang perlu ada diversifikasi komoditas dari beras ke komoditas pangan yang lain.
8. Sejalan dengan upaya menjaga keberlanjutan fiskal, DPD RI mencatat bahwa pelebaran desifit anggaran masih mungkin dilakukan untuk mendorong percepatan pembangunan dan peningkatan produktivitas dan daya saing perekonomian daerah melalui penguatan ketahanan pangan, penyediaan energi, dan pembangunan infrastruktur dasar di daerah, seperti jalan, jembatan, air bersih, pelabuhan, bandar udara, dan transportasi, baik darat, laut, sungai maupun udara. Meskipun demikian, DPD RI meminta pemerintah agar lebih fokus pada perbaikan manajemen pengelolaan pinjaman (utang) dan manajemen pembiayaan yang lain. Dalam mengalokasikan pinjaman dan hibah, DPD RI berpendapat bahwa pemerintah perlu menetapkan prioritas wilayah yang harus mendapat alokasi pinjaman/hibah dengan memperhitungkan peningkatan produktivitas dan daya saing daerah, percepatan pembangunan daerah, dan pemerataan pembangunan antardaerah.
9. Dari sisi pembiayaan, pemerintah saat ini meningkatkan peran BUMN dalam percepatan pembangunan infrastruktur. Dengan perkembangan yang terjadi di daerah, DPD RI memandang BUMN tersebut perlu melakukan kerja sama
secara intensif dengan pemerintah daerah melalui BUMD sehingga lembaga tersebut dapat lebih berdaya untuk membangun daerah. Hendaknya pula pemerintah memperhatikan bahwa keberadaan BUMN di daerah dapat memberikan stimulus pembangunan di daerah. Selain itu, hal yang penting untuk menjadi perhatian pemerintah adalah perlu ditingkatkannya peran lembaga pembiayaan infrastruktur di daerah yang memberikan kemudahan prosedur serta tingkat bunga yang rendah.
D. Pertimbangan DPD RI terhadap Dana Transfer Daerah dan Dana Desa Tahun 2016
1. Pada tahun 2016 mendatang pemerintah menaikkan belanja pemerintah sebesar 16%—19% dari produk domestik bruto. Dengan berdasar pada kebijakan tersebut, DPD RI meminta pemerintah untuk meningkatkan belanja transfer daerah dan dana desa agar lebih tinggi daripada belanja kementerian/
lembaga dengan mengurangi belanja kementerian/lembaga sebesar 10%—
20%. Peningkatan belanja transfer daerah dan dana desa harus dibarengi dengan upaya perubahan struktur kelembagaan dan kewenangan yang selama ini dimiliki oleh pemerintah pusat walaupun hal tersebut telah dilimpahkan menjadi urusan pemerintah daerah.
2. Belanja untuk transfer daerah dan dana desa akan meningkat pada tahun 2016. Di tengah pentingnya stimulus fiskal yang saat ini dicanangkan pemerintah dengan berbagai proyek infrastruktur besar dan capital intensive- -seperti jalan tol, pelabuhan, bandara--dikhawatirkan akan memiliki dampak yang kurang signifikan bagi masyarakat kelompok bawah di daerah dalam jangka pendek. Sehubungan dengan itu, DPD RI mendesak pemerintah untuk meluncurkan berbagai program pembangunan infrastruktur padat tenaga kerja sebagai stimulus jangka pendek yang diiringi dengan optimalisasi seluruh instrumen anggaran, baik berupa belanja pusat dalam bentuk dana dekonsentrasi/tugas pembantuan, dana transfer daerah, dana perbankan dan investasi swasta, serta dana dari sumber yang lain untuk mewujudkan percepatan pembangunan daerah dan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah.
3. Peningkatan belanja pemerintah, termasuk transfer daerah dan dana desa, sangat terbatas penggunaannya selama ini, yaitu untuk belanja modal pada tingkat daerah. Tahun 2014 saja diperkirakan belanja modal, baik pemerintah pusat maupun daerah hanya berkisar 20%-25%. Berkaitan dengan hal tersebut, DPD RI mendorong pemerintah agar dapat mengeluarkan bantuan keuangan pemerintah pusat ke pemerintah daerah dalam bentuk “Dana Penyesuaian” yang bersifat block grant untuk belanja modal pemerintah, baik dalam bentuk Dana Insentif Daerah maupun Dana P2D yang harus didukung
468
dengan penyusunan dan pengembangan e-program dan e-budgeting agar tidak terjadi tumpang tindih dengan program dan anggaran yang telah ada.
4. Berkaitan dengan kebijakan Dana Alokasi Umum (DAU), yakni meningkatkan pemerataan kemampuan keuangan antardaerah (sebagai equalization grant), DPD RI berpandangan bahwa pemerintah perlu melakukan perubahan mendasar mengenai formula DAU yang dapat memasukkan dimensi pertumbuhan dan perkembangan daerah serta luas wilayah laut--tidak hanya berlandaskan pada kesenjangan fiskal saja--melalui perubahan UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
5. Kebijakan DAK saat ini berorientasi pada dimensi pembangunan manusia, dimensi pembangunan sektor unggulan, dan dimensi pemerataan dan kewilayahan. Dengan berpijak pada hal tersebut, secara khusus DPD RI meminta pemerintah melakukan redesain dana alokasi khusus (DAK) dengan melihat peluang sebagian jenis DAK menjadi block grant, khususnya pada pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Selain itu, DPD RI juga meminta pemerintah agar mempercepat penerbitan petunjuk teknis DAK yang berlaku dua sampai tiga tahun, mengurangi jenis program DAK, mempercepat penyaluran DAK, dan meningkatkan efektivitas penggunaan DAK.
6. Sehubungan dengan tujuan kebijakan DAK untuk lebih mengakomodasi aspirasi daerah, DPD RI mendesak pemerintah agar segera menyusun formulasi tentang jenis DAK yang lebih aspiratif. Kebijakan DAK itu dapat mencerminkan karakteristik wilayah yang berbeda antara wilayah yang satu denganwilayah yang lain. Selain itu, DPD RI juga meminta komitmen pemerintah untuk melaksanakan Pasal 77 Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan, yaitu pentingnya pengalihan anggaran kementerian/lembaga yang menjadi urusan daerah untuk dialihkan menjadi dana alokasi khusus (DAK).
7. Kebijakan dana bagi hasil (DBH) yang meliputi DBH pajak dan sumber daya alam tahun 2014 adalah memperbaiki kualitas penganggaran dan penyaluran DBH guna meningkatkan kepastian jumlah dan ketepatan waktu penyaluran.
Sehubungan dengan hal tersebut, DPD RI meminta Pemerintah agar melakukan perubahan penghitungan menjadi t-2 sehingga lebih menjamin jumlah dan ketepatan waktu penyaluran. Selain itu, Pemerintah agar lebih transparan dalam penghitungan DBH sehingga informasi yang diperoleh lebih akurat dan tepat. Kemudian, besaran perhitungan untuk daerah hendaknya dapat ditingkatkan karena untuk DBH sumber daya alam, besarnya bagi hasil tidak mencukupi untuk membiayai reklamasi dan pemulihan lingkungan.
8. Pemerintah dalam road map Dana Desa Tahun 2015—2019 secara bertahap akan meningkatkan dana desa hingga 10% dari dan di luar transfer ke daerah
sebagaimana diamanatkan UU No. 6 Tahun 2014. Sehubungan dengan beragam persoalan yang terjadi di lapangan, DPD RI meminta pemerintah untuk melakukan peningkatan koordinasi dan sinergi antarkementerian atau antarlembaga yang mengurus tentang desa. Selain itu, DPD RI juga menegaskan perlunya pendampingan dalam pelaksanaan dana desa secara terus menerus karena pelaksanaan dana tersebut berkaitan dengan kerugian negara yang dapat dikenakan sanksi pidana korupsi.
9. Dengan melihat perkembangan yang terjadi di desa, DPD RI mendesak pemerintah untuk segera (1) membenahi data dan informasi tentang jumlah dan status desa, kondisi sosial ekonomi dan budaya di desa, kondisi sumber daya alam dan lingkungan desa, kondisi prasarana dan sarana desa, serta kondisi pemerintahan desa; (2) menyederhanakan pedoman umum dan pedoman teknis yang dapat dipahami dengan mudah dan jelas tentang penetapan status desa dan pembentukan desa-desa baru; (3) menyiapkan petunjuk pelaksanaan tentang kriteria penetapan alokasi dana desa dan melaksanakan sosialisasi petunjuk tersebut secara menyeluruh agar dapat dipahami dan dilaksanakan oleh rakyat desa dan pemerintah desa; (4) merampingkan dan menghapuskan program dan kegiatan pembangunan desa yang dilaksanakan oleh kementerian/lembaga dengan memperhatikan ketentuan tentang pembagian kewenangan antara pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan pemerintah desa; serta (5) melaksanakan peningkatan kapasitas bagi aparat pemerintah desa dan masyarakat desa dalam manajemen perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, serta pengendalian dan evaluasi kegiatan pembangunan desa.
E. Penutup
Pertimbangan terhadap Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal, serta Dana Transfer Daerah dalam RAPBN Tahun 2016 ini merupakan usulan DPD RI kepada DPR RI untuk dijadikan pertimbangan pemerintah dalam menyusun RAPBN Tahun 2016, khususnya dalam rangka melaksanakan otonomi daerah yang berkeadilan.
Jakarta, 23 Juni 2015
470
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
PIMPINAN Ketua,
IRMAN GUSMAN Wakil Ketua,
G.K.R. HEMAS
Wakil Ketua,
Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD
Lampiran
Tabel 1.
Asumsi Dasar Ekonomi Makro 2016
Uraian APBN
2014 APBNP
2015 KEM dan
KF 2016 Usulan DPD RI 1. Pertumbuhan Ekonomi (%) 5,0 5,7 5,8-6,2 5,5-6,0
2. Inflasi (%) 8,4 5,0 3,0-5,0 4,5-5,2
3. Suku Bunga Surat Perbendaharaan
Negara (SPN) 3 bulan (%) 5,8 6,2 4,0-6,0 4,5-6,0 4. Nilai Tukar (Rp/USD1) 11.878,0 12.500,0 12.800,0-
13.200,0 12.800,0- 13.200,0 5. Harga Minyak (USD per barrel) 97,0 60,0 60,0-80,0 60,0-80,0 6. Lifting Minyak (ribu barrel per hari) 793,5 825,0 830,0-850,0 830,0-850,0 7. Lifting Gas (mboepd) 1.224,0 1.221,0 1.100,0-
1.200,0 1.100,0- 1.200,0 8. Persentase penduduk miskin (%) 10,96 10,30 9,00-10,00 11,21 9. Tingkat pengangguran terbuka (%) 5,94 5,60 5,20-5,50 5,85
10 Indeks Gini 0,413 0,413 0,413 0,413
Catatan: tad=tidak ada data
Sumber: Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal 2016
Tabel 2.
Pertumbuhan Ekonomi Dunia (%)
Kawasan/Negara 2013 2014 2015* 2016*
Dunia 3,2 3,0 3,6 3,9
Negara Maju 1,4 1,8 3,1 3,1
AS 2,2 2,4 3,1 3,1
Kawasan Eropa -0,5 0,9 1,5 1,6
Jerman 0,2 1,6 1,6 1,7
Perancis 0,3 0,4 1,5 1,9
Spanyol -1,2 1,4 2,5 2,0
Italia -1,9 0,6 1,1 1,1
Inggris 1,7 2,6 2,7 2,3
Jepang 1,6 -0,1 1,0 1,2
Korea Selatan 3,0 3,3 3,3 3,5 Negara Berkembang Asia 7,0 6,8 6,6 6,4
472
Kawasan/Negara 2013 2014 2015* 2016*
Tiongkok 7,8 7,4 6,8 6,3
India 6,9 7,2 7,5 7,5
ASEAN-5 5,2 4,9 5,4 5,4
Indonesia 5,6 5,0 5,2 5,5
Malaysia 4,7 6,0 4,8 4,9
Brunei -1,8 -0,7 -0,5 2,8
Thailand 2,9 0,7 3,7 4,0
Philipina 7,2 6,1 6,7 6,3
Sumber: IMF World Economic Outlook, April 2015
Tabel 3.
Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Tahun 2010—2014 (%)
No. Provinsi 2010 2011 2012 2013 2014 Rata-rata
1. Aceh 2,74 5,09 5,20 4,18 1,65 3,71
2. Sumatera Utara 6,42 6,63 6,22 6,01 5,23 6,10 3. Sumatera Barat 5,94 6,25 6,35 6,18 5,83 6,12
4. Riau 4,21 5,04 3,55 2,61 2,62 3,60
5. Jambi 7,35 8,54 7,44 7,88 7,93 7,83
6. Sumatera Selatan 5,63 6,50 6,01 5,98 4,68 5,76
7. Bengkulu 6,10 6,45 6,61 6,21 5,49 6,17
8. Lampung 5,88 6,43 6,48 5,97 5,08 5,98
9. Kepulauan Bangka
Belitung 5,99 6,46 5,72 5,29 4,68 5,64
10. Kepulauan Riau 7,19 6,66 8,21 6,13 7,32 6,82 11. DKI Jakarta 6,50 6,73 6,53 6,11 5,95 6,36 12. Jawa Barat 6,20 6,48 6,21 6,06 5,07 6,02 13. Jawa Tengah 5,84 6,03 6,34 5,81 5,42 5,89 14. DI. Yogyakarta 4,88 5,17 5,32 5,4 5,18 5,19 15. Jawa Timur 6,68 7,22 7,27 6,55 5,86 6,72
16. Banten 6,11 6,39 6,15 5,86 5,47 5,99
17. Bali 5,83 6,49 6,65 6,05 6,72 6,35
18. Kalimantan Barat 5,47 5,97 5,83 6,08 5,02 5,67 19. Kalimantan Tengah 6,50 6,77 6,69 7,37 6,21 6,71
No. Provinsi 2010 2011 2012 2013 2014 Rata-rata 20. Kalimantan Selatan 5,59 6,12 5,73 5,18 4,85 5,49 21. Kalimantan Timur 5,10 4,08 3,98 1,59 2,02 3,36 22. Sulawesi Utara 7,16 7,39 7,86 7,45 6,31 7,23 23. Sulawesi Tengah 8,74 9,15 9,27 9,38 5,11 8,32 24. Sulawesi Selatan 8,19 7,61 8,37 7,65 7,57 7,88 25. Sulawesi Tenggara 8,22 8,96 10,41 7,28 6,26 8,23 26. Gorontalo 7,63 7,68 7,71 7,76 7,29 7,61 27. Sulawesi Barat 11,89 10,32 9,01 7,16 8,73 9,42 28. Nusa Tenggara Barat 6,35 -3,15 -1,12 5,69 5,06 2,66 29. Nusa Tenggara Timur 5,25 5,63 5,45 5,56 5,04 5,38
30. Maluku 6,47 6,06 7,81 5,14 6,7 6,44
31. Maluku Utara 7,95 6,40 6,67 6,12 5,49 6,53 32. Papua Barat 28,47 27,08 15,84 9,3 5,38 17,21 33. Papua -3,19 -5,32 1,08 14,84 3,25 2,13
Nasional 6,22 6,49 6,23 5,78 5,02 5,95
Sumber: Badan Pusat Statistik
Tabel 4.
Tingkat Inflasi Provinsi Tahun 2008—2013
No. Provinsi 2008 2009 2010 2011 2012 2013
1. Aceh 10,27 3,50 4,64 3,32 0,06 6,39
2. Sumatera Utara 10,63 2,69 7,65 3,54 3,79 10,09 3. Sumatera Barat 12,68 2,05 7,84 5,37 4,16 10,87
4. Riau 9,02 1,94 7,00 5,09 3,35 8,83
5. Jambi 11,57 1,85 10,52 2,76 4,22 8,74
6. Sumatera Selatan 11,15 2,88 6,02 3,78 2,72 7,04
7. Bengkulu 13,44 4,18 9,08 3,96 4,61 9,94
8. Lampung 14,82 2,17 9,95 4,24 4,30 7,56
9. Kepulauan Bangka Belitung 18,40 1,18 9,36 5,00 6,57 8,71 10. Kepulauan Riau 11,90 1,43 6,17 3,32 3,92 10,09
11. DKI Jakarta 11,11 2,34 6,21 3,97 4,52 8,00
12. Jawa Barat 10,23 2,11 4,53 2,75 4,02 7,97
13. Jawa Tengah 10,34 5,83 7,11 2,87 4,85 8,19
14. DI. Yogyakarta 9,88 3,60 7,38 3,88 4,31 7,32
15. Jawa Timur 8,73 3,39 7,33 4,72 4,39 7,52
16. Banten 13,91 4,11 6,18 2,78 4,41 9,16
17. Bali 9,25 4,37 8,10 3,75 4,71 7,35
474
No. Provinsi 2008 2009 2010 2011 2012 2013
18. Kalimantan Barat 11,19 4,91 8,52 4,91 6,62 9,48 19. Kalimantan Tengah 11,65 2,85 9,49 5,28 6,73 6,45 20. Kalimantan Selatan 11,62 3,86 9,06 3,98 5,96 6,98 21. Kalimantan Timur 12,69 3,60 7,00 6,23 4,81 10,37
22. Sulawesi Utara 9,71 2,31 6,28 0,67 6,04 8,12
23. Sulawesi Tengah 10,40 5,73 6,40 4,47 5,87 7,57 24. Sulawesi Selatan 11,79 3,24 6,82 2,87 4,57 6,24 25. 25. Sulawesi Tenggara 15,28 4,60 3,87 5,09 5,25 5,92
26. Gorontalo 9,20 4,35 7,43 4,08 5,31 5,84
27. Sulawesi Barat 11,66 1,78 5,12 4,91 3,28 5,91 28. Nusa Tenggara Barat 13,01 3,14 11,07 6,38 4,10 9,27 29. Nusa Tenggara Timur 10,90 6,49 9,97 4,32 5,10 8,84
30. Maluku 9,34 6,48 8,78 2,85 6,73 8,81
31. Maluku Utara 11,25 3,88 5,32 4,52 3,29 9,78
32. Papua Barat 20,51 7,52 4,68 3,64 4,88 4,63
33. Papua 12,55 1,92 4,48 3,40 4,52 8,27
Nasional 11,06 2,78 6,96 3,79 4,30 8,36
Sumber: Badan Pusat Statistik.
Tabel 5.
Distribusi Pinjaman Bank Umum dan BPR Tahun 2008—2013
No. Provinsi 2008 2009 2010 2011 2012 2013
1. Aceh 0,81 0,91 0,92 0,97 0,88 0,88
2. Sumatera Utara 4,97 4,67 4,14 4,63 4,65 4,60
3. Sumatera Barat 1,28 1,26 1,25 1,37 1,28 1,29
4. Riau 2,44 2,44 2,38 2,30 2,19 2,17
5. Jambi 0,79 0,85 0,80 1,02 0,94 0,95
6. Sumatera Selatan 1,67 1,93 1,85 2,25 2,30 2,29
7. Bengkulu 0,40 0,42 0,37 0,44 0,45 0,45
8. Lampung 1,61 1,58 1,55 1,73 1,59 1,58
9. Kepulauan Bangka
Belitung 0,25 0,26 0,25 0,33 0,32 0,31
10. Kepulauan Riau 1,08 1,08 0,95 1,10 1,21 1,18
11. DKI Jakarta 36,83 35,97 39,13 33,44 32,76 32,31 12. Jawa Barat 12,66 12,54 11,82 12,41 12,52 12,71
13. Jawa Tengah 6,91 7,04 6,20 6,66 6,63 6,62
14. DI. Yogyakarta 0,81 0,83 0,74 0,77 0,75 0,75
15. Jawa Timur 10,15 10,07 9,69 10,00 10,23 10,28
16. Banten 4,41 4,04 4,61 5,08 5,61 5,66
17. Bali 1,56 1,67 1,60 1,76 1,89 1,95
No. Provinsi 2008 2009 2010 2011 2012 2013 18. Kalimantan Barat 0,96 1,02 1,05 1,22 1,28 1,29 19. Kalimantan Tengah 0,64 0,82 0,89 1,08 1,04 1,04 20. Kalimantan Selatan 1,23 1,22 1,14 1,28 1,34 1,39 21. Kalimantan Timur 2,31 2,68 2,63 2,95 2,87 2,93
22. Sulawesi Utara 0,79 0,83 0,79 0,91 0,86 0,86
23. Sulawesi Tengah 0,54 0,59 0,51 0,65 0,66 0,67 24. Sulawesi Selatan 2,42 2,53 2,31 2,59 2,58 2,60 25. Sulawesi Tenggara 0,35 0,32 0,31 0,42 0,46 0,47
26. Gorontalo 0,16 0,22 0,16 0,23 0,23 0,24
27. Sulawesi Barat 0,15 0,15 0,09 0,16 0,16 0,16
28. Nusa Tenggara Barat 0,54 0,57 0,53 0,62 0,65 0,67 29. Nusa Tenggara Timur 0,42 0,47 0,41 0,49 0,49 0,49
30. Maluku 0,20 0,22 0,23 0,26 0,25 0,25
31. Maluku Utara 0,11 0,13 0,12 0,16 0,16 0,16
32. Papua Barat 0,17 0,19 0,12 0,20 0,23 0,23
33. Papua 0,40 0,47 0,44 0,53 0,56 0,56
Total 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Nilai Pinjaman (Rp.
Triliun) 1.313,87 1.446,81 1.783,60 2.223,68 2.738,05 2.801,04 Sumber: Bank Indonesia diolah
Tabel 6.
Tingkat Kemiskinan Provinsi Tahun 2008—2014 (%)
No. Provinsi 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 1. Aceh 23,53 21,80 20,98 19,57 19,46 17,72 16,98 2. Sumatera Utara 12,55 11,51 11,31 11,33 10,67 10,39 9,85 3. Sumatera Barat 10,67 9,54 9,50 9,04 8,19 7,56 6,89
4. Riau 10,63 9,48 8,65 8,47 8,22 8,42 7,99
5. Jambi 9,32 8,77 8,34 8,65 8,42 6,35 8,39
6. Sumatera Selatan 17,73 16,28 15,47 14,24 13,78 14,06 13,62 7. Bengkulu 20,64 18,59 18,30 17,50 17,70 17,75 17,09 8. Lampung 20,98 20,22 18,94 16,93 16,18 14,39 14,21 9. Kepulauan Bangka Belitung 8,58 7,46 6,51 5,75 5,53 5,25 4,97 10. Kepulauan Riau 9,18 8,27 8,05 7,40 7,11 6,35 6,40 11. DKI Jakarta 4,29 3,62 3,48 3,75 3,69 3,72 4,09 12. Jawa Barat 13,01 11,96 11,27 10,65 10,09 9,61 9,18 13. Jawa Tengah 19,23 17,72 16,56 15,76 15,34 14,44 13,58 14. DI. Yogyakarta 18,32 17,23 16,83 16,08 16,05 15,03 14,55 15. Jawa Timur 18,51 16,68 15,26 14,23 13,40 12,73 12,28
16. Banten 8,15 7,64 7,16 6,32 5,85 5,89 5,51
17. Bali 6,17 5,13 4,88 4,20 4,18 4,49 4,76
476
No. Provinsi 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 18. Kalimantan Barat 11,07 9,30 9,02 8,60 8,17 8,74 8,07 19. Kalimantan Tengah 8,71 7,02 6,77 6,56 6,51 6,23 6,07 20. Kalimantan Selatan 6,48 5,12 5,21 5,29 5,06 4,76 4,81 21. Kalimantan Timur 9,51 7,73 7,66 6,77 6,68 6,38 6,31 22. Sulawesi Utara 10,10 9,79 9,10 8,51 8,18 8,50 8,26 23. Sulawesi Tengah 20,75 18,98 18,07 15,83 15,40 14,32 13,61 24. Sulawesi Selatan 13,34 12,31 11,60 10,29 10,11 10,32 9,54 25. Sulawesi Tenggara 19,53 18,93 17,05 14,56 13,71 13,73 12,77 26. Gorontalo 24,88 25,01 23,19 18,75 17,33 18,01 17,41 27. Sulawesi Barat 16,73 15,29 13,58 13,89 13,24 12,23 12,05 28. Nusa Tenggara Barat 23,81 22,78 21,55 19,73 18,63 17,25 17,05 29. Nusa Tenggara Timur 25,65 23,31 23,03 21,23 20,88 20,24 19,60 30. Maluku 29,66 28,23 27,74 23,00 21,78 19,27 18,44 31. Maluku Utara 11,28 10,36 9,42 9,18 8,47 7,64 7,41 32. Papua Barat 35,12 35,71 34,88 31,92 28,20 31,53 26,26 33. Papua 37,08 37,53 36,80 31,98 31,11 27,14 27,80 Jumlah 33 Provinsi 15,42 14,15 13,33 12,49 11,96 11,47 10,96 Sumber: Badan Pusat Statistik.
Tabel 7.
Tingkat Pengangguran Terbuka Provinsi Tahun 2010 - 2014 (%)
No. Provinsi 2010 2011 2012 2013 2014
1. Aceh 8,37 7,43 9,10 10,30 9,02
2. Sumatera Utara 7,43 6,37 6,20 6,53 6,23
3. Sumatera Barat 6,95 6,45 6,52 6,99 6,50
4. Riau 8,72 5,32 4,30 5,50 6,56
5. Jambi 5,39 4,02 3,22 4,84 5,08
6. Sumatera Selatan 6,65 5,77 5,70 5,00 4,96
7. Bengkulu 4,59 2,37 3,61 4,74 3,47
8. Lampung 5,57 5,78 5,18 5,85 4,79
9. Kepulauan Bangka Belitung 5,63 3,61 3,49 3,70 5,14
10. Kepulauan Riau 6,90 7,80 5,37 6,25 6,69
11. DKI Jakarta 11,05 10,80 9,87 9,02 8,47
12. Jawa Barat 10,33 9,83 9,08 9,22 8,45
13. Jawa Tengah 6,21 5,93 5,63 6,02 5,68
14. DI. Yogyakarta 5,69 3,97 3,97 3,34 3,33
15. Jawa Timur 4,25 4,16 4,12 4,33 4,19
16. Banten 13,68 13,06 10,13 9,90 9,07
17. Bali 3,06 2,32 2,04 1,79 1,90
18. Kalimantan Barat 4,62 3,88 3,48 4,03 4,04
19. Kalimantan Tengah 4,14 2,55 3,17 3,09 3,24
No. Provinsi 2010 2011 2012 2013 2014
20. Kalimantan Selatan 5,25 5,23 5,25 3,79 3,80
21. Kalimantan Timur 10,10 9,84 8,90 8,04 7,38
22. Sulawesi Utara 9,61 8,62 7,79 6,68 7,54
23. Sulawesi Tengah 4,61 4,01 3,93 4,27 3,68
24. Sulawesi Selatan 8,37 6,56 5,87 5,10 5,08
25. Sulawesi Tenggara 4,61 3,06 4,04 4,46 4,43
26. Gorontalo 5,16 4,26 4,36 4,12 4,18
27. Sulawesi Barat 3,25 2,82 2,14 2,33 2,08
28. Nusa Tenggara Barat 5,29 5,33 5,26 5,38 5,75
29. Nusa Tenggara Timur 3,34 2,69 2,89 3,16 3,26
30. Maluku 9,97 7,38 7,51 9,75 10,51
31. Maluku Utara 6,03 5,55 4,76 3,86 5,29
32. Papua Barat 7,68 8,94 5,49 4,62 5,02
33. Papua 3,55 3,94 3,63 3,23 3,44
Jumlah 33 Provinsi 7,14 6,56 6,14 6,25 5,94 Sumber: Badan Pusat Statistik.
Tabel 8.
Indeks Gini Provinsi Tahun 2008 - 2013 (%)
No. Provinsi 2008 2009 2010 2011 2012 2013
1. Aceh 0,27 0,29 0,30 0,33 0,32 0,341
2. Sumatera Utara 0,31 0,32 0,35 0,35 0,33 0,354
3. Sumatera Barat 0,29 0,30 0,33 0,35 0,36 0,363
4. Riau 0,31 0,33 0,33 0,36 0,40 0,374
5. Jambi 0,28 0,27 0,30 0,34 0,34 0,348
6. Sumatera Selatan 0,30 0,31 0,34 0,34 0,40 0,383
7. Bengkulu 0,33 0,30 0,37 0,36 0,35 0,386
8. Lampung 0,35 0,35 0,36 0,37 0,36 0,356
9. Kepulauan Bangka Belitung 0,26 0,29 0,30 0,30 0,29 0,313 10. Kepulauan Riau 0,30 0,29 0,29 0,32 0,35 0,362
11. DKI Jakarta 0,33 0,36 0,36 0,44 0,42 0,433
12. Jawa Barat 0,35 0,36 0,36 0,41 0,41 0,411
13. Jawa Tengah 0,31 0,32 0,34 0,38 0,38 0,387
14. DI. Yogyakarta 0,36 0,38 0,41 0,40 0,43 0,439
15. Jawa Timur 0,33 0,33 0,34 0,37 0,36 0,364
16. Banten 0,34 0,37 0,42 0,40 0,39 0,399
17. Bali 0,30 0,31 0,37 0,41 0,43 0,403
18. Kalimantan Barat 0,31 0,32 0,37 0,40 0,38 0,396 19. Kalimantan Tengah 0,29 0,29 0,30 0,34 0,33 0,350 20. Kalimantan Selatan 0,33 0,35 0,37 0,37 0,38 0,359
478
No. Provinsi 2008 2009 2010 2011 2012 2013
21. Kalimantan Timur 0,34 0,38 0,37 0,38 0,36 0,371 22. Sulawesi Utara 0,28 0,31 0,37 0,39 0,43 0,422 23. Sulawesi Tengah 0,33 0,34 0,37 0,38 0,40 0,407 24. Sulawesi Selatan 0,36 0,39 0,40 0,41 0,41 0,429 25. Sulawesi Tenggara 0,33 0,36 0,42 0,41 0,40 0,426
26. Gorontalo 0,34 0,35 0,43 0,46 0,44 0,437
27. Sulawesi Barat 0,31 0,30 0,36 0,34 0,31 0,349 28. Nusa Tenggara Barat 0,31 0,31 0,33 0,41 0,38 0,370 29. Nusa Tenggara Timur 0,33 0,33 0,34 0,33 0,34 0,318
30. Maluku 0,31 0,31 0,33 0,41 0,38 0,370
31. Maluku Utara 0,33 0,33 0,34 0,33 0,34 0,318
32. Papua Barat 0,31 0,35 0,38 0,40 0,43 0,431
33. Papua 0,40 0,38 0,41 0,42 0,44 0,442
Jumlah 33 Provinsi 0,35 0,37 0,38 0,41 0,41 0,413 Sumber: Badan Pusat Statistik