• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGAWALI TAHUN 2022, NERACA PERDAGANGAN JANUARI 2022 MENCATATKAN SURPLUS USD 0,93 MILIAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MENGAWALI TAHUN 2022, NERACA PERDAGANGAN JANUARI 2022 MENCATATKAN SURPLUS USD 0,93 MILIAR"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

WARTA DAGLU

EDISI FEBRUARI

2022

MENGAWALI TAHUN 2022,

NERACA PERDAGANGAN JANUARI 2022

MENCATATKAN SURPLUS USD 0,93 MILIAR

(2)

DAFTAR ISI

03 PERKEMBANGAN NERACA PERDAGANGAN INDONESIA

05

Dibandingkan Periode yang Sama Tahun Lalu, Ekspor Non Migas Indonesia Meningkat ke Sejumlah Negara Tujuan

07

Ekspor Produk Utama Menguat di Awal Tahun 2022

10 COMMODITY REVIEW

10

Ekspor Produk Bijih Logam, Terak, dan Abu Bulan Januari 2022 Mencatatkan Kinerja yang Fantas s

21 MARKET REVIEW

21

Kinerja Ekspor ke Pasar Amerika Serikat Tumbuh di Tengah Tekanan Pandemi

24

Kolombia, Negara Potensial Tujuan Ekspor ke Kawasan Amerika La n

28 KINERJA IMPOR INDONESIA

28

Impor Non Migas Indonesia Bulan Januari 2022 Meningkat Dibandingkan Periode yang Sama pada Tahun Sebelumnya

31

Mengiku Pola Musiman, Permintaan Impor Bahan Baku/

Penolong Menunjukkan Pelemahan di Januari 2022

34

Impor Barang Konsumsi Januari 2022 Mengalami Penurunan Dibandingkan Bulan Sebelumnya

37

Impor Barang Modal pada Januari 2022 Menunjukkan Kenaikan secara Year on Year (YoY) Paling Tinggi Dibandingkan Impor Barang Konsumsi dan Bahan Baku/Penolong

05 KINERJA EKSPOR INDONESIA

14

Konsentrat Tembaga Masih Menjadi Andalan Utama Ekspor Indonesia pada Januari 2022

18

Udang, Primadona Ekspor Produk Kelautan Indonesia

03

Mengawali Tahun 2022 Neraca Perdagangan Januari Surplus USD 0,93 Miliar

(3)

Oleh: Fairuz Nur Khairunnisa

Surplus neraca perdagangan Indonesia bulan Januari 2022 ditopang oleh surplus neraca non migas sebesar USD 2,26 Miliar namun terkontraksi oleh defisit neraca migas sebesar USD 1,33 Miliar (Grafik 1). Meskipun surplus neraca perdagangan Indonesia Januari 2022 lebih rendah dibandingkan periode Januari tahun 2021, namun nilai ini jauh lebih baik dibandingkan periode Januari 2020 yang mengalami defisit. Kinerja perdagangan bulan Januari 2022 dinilai cukup baik dilihat dari nilai ekspor maupun impor yang mengalami kenaikan, mencerminkan geliat ak fitas ekonomi yang terus bertumbuh.

Grafik 1. Neraca Perdagangan Bulanan Januari 2021 – Januari 2022

Mengawali awal tahun 2022, neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2022 mencatatkan surplus sebesar USD 0,93 Miliar. Surplus neraca perdagangan pada bulan Januari 2022 lebih rendah dari surplus di bulan Januari 2021 yang mencapai USD 1,96 Miliar dan surplus di bulan Desember 2021 yang mencapai USD 1,02 Miliar. (Grafik 1).

Sumber: BPS (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

Mengawali Tahun 2022

Neraca Perdagangan Januari Surplus USD 0,93 Miliar

*Ket: Januari 2022 Angka Sementara

(4)

Amerika Serikat Menjadi Negara Penyumbang Surplus Terbesar Indonesia

Grafik 2. Negara Utama

Penyumbang Surplus dan Penyebab Defisit Januari 2022

Perdagangan antara Indonesia–

Amerika Serikat menyumbang surplus terbesar pada neraca perdagangan Indonesia Januari 2022 sebesar USD 1,69 Miliar. Nilai surplus tersebut lebih nggi dibandingkan tahun lalu sebesar USD 1,0 Miliar. Selain Amerika Serikat, mitra dagang utama Indonesia yang turut menyumbang surplus terhadap neraca perdagangan antara lain Filipina sebesar USD 537,98 Juta, Belanda sebesar USD 359,94 Juta, dan India sebesar USD 331,10 Juta (Grafik 2). Secara keseluruhan, surplus

Sumber: BPS (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

ke m u d i a n B a h a n B a ka r Mineral (HS 27) Sebesar USD 1,09 Miliar, Serta Bijih, Terak, dan Abu Logam (HS 26) sebesar USD 924,19 Juta.

S e m e n t a ra i t u , p r o d u k penyumbang defisit perda- gangan terbesar adalah Mesin dan Peralatan Mekanis (HS 84), Mesin dan Perlengkapan Elektrik (HS 85), serta Plas k dan Barang Dari Plas k (HS 39), masing-masing dengan nilai sebesar USD 1,95 Miliar, USD 1,11 Miliar dan USD 0,81 Miliar (Grafik 3).

dari ke ga negara mitra dagang utama tersebut sebesar USD 1,23 Miliar. Sementara itu, negara mitra dagang yang menyebabkan defisit perdagangan Januari 2022 antara lain RRT dengan nilai defisit sebesar USD 2,16 Miliar, Thailand sebesar USD 397,62 Juta, dan Singapura sebesar USD 359,31 Juta. Total defisit perdagangan Indonesia dengan ke ga negara mitra dagang tersebut mencapai USD 2,92 Miliar (Grafik 2).

1,690.00

537.98 359.94

331.10 266.72

256.39

222.57 160.51

144.61 136.73

998.95

504.73

198.14

483.74

246.79

531.13

192.47

131.53

222.72

72.15 USA

PHILIPPINES NETHERLANDS

INDIA PAKISTAN

JAPAN

BANGLADESH EGYPT

MALAYSIA

BELGIUM

USD Juta

-96.10

-110.82

-110.88

-126.84

-155.73

-201.04 -275.81

-359.31

-397.62 -2,161.55

-147.16

-67.62

-53.36

-64.04

-152.04

-166.69

-304.01

-167.63

63.46

-1,006.61

NIGERIA

SOUTH AFRICA

BRAZIL

ARGENTINA

SOUTH KOREA

SAUDI ARABIA

AUSTRALIA

SINGAPORE

THAILAND

RRT

USD Juta Januari 2022*

Januari 2021

Penyebab Defisit Terbesar Penyumbang Surplus Terbesar

USD Juta

Grafik 3. Produk Utama

Penyumbang Surplus dan Defisit Januari 2022

2,403.28

1,090.15

924.19

879.81

568.28

429.57

428.36

388.59

357.69

337.74

2,341.21

1,679.73

247.19

284.33

429.56

281.97

280.36

267.11

420.57

136.48 Lemak dan minyak

hewan/naba Bahan bakar mineral

Bijih, terak, dan abu logam

Besi dan baja

Alas kaki

Pakaian dan aksesorinya (raJutan)

Pakaian dan aksesorinya (bukan raJutan) Kayu dan barang dari kayu

Karet dan barang dari karet

Logam mulia, perhiasan/permata -204.89

-210.26

-239.15

-242.53

-258.20

-344.89

-355.04

-814.70

-1,112.14

-1,948.55

-130.36

-116.12

-204.41

-127.45

-227.79

-222.20

-310.85

-520.76

-861.86

-1,245.26

Kain raJutan

Perangkat op k, fotografi, sinematografi, medis Gula dan kembang gula

Pupuk

Produk farmasi

Serealia

Bahan kimia organik

Plas k dan barang dari plas k

Mesin dan perlengkapan elektrik

Mesin dan peralatan mekanis Januari 2022

Januari 2021

USD Juta

Penyebab Defisit Terbesar Penyebab Surplus Terbesar

Sumber: BPS (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

Adapun produk Indonesia yang menjadi penyumbang surplus terbesar di bulan Januari 2022 adalah Lemak dan Minyak Hewan/naba (HS 15) sebesar USD 2,40 Miliar, disusul

(5)

Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, kinerja ekspor nonmigas Indonesia ke sejumlah negara tujuan meningkat tajam. Membaiknya indsutri manufaktur dunia mendorong limpahan permintaan akan bahan baku di negara-negara produc on hub, termasuk Indonesia. Euromonitor (2022) memprediksi sektor manufaktur dunia akan segara pulih pasca pandemi, bahkan kinerja produksinya akan melebihi kondisi sebelum virus Covid-19 menyerang. Kondisi ini dipengaruhi oleh mulai lancarnya aliran investasi dan perdagangan.

Dibandingkan Periode yang Sama Tahun Lalu,

Ekspor Nonmigas Indonesia Meningkat ke Sejumlah Negara Tujuan

Oleh: Fitria Faradila

Grafik 4. Indeks Produc on Value Beberapa Negara di Dunia

Sumber: Euromonitor, 2022

Berdasarkan gambar diatas, indeks produc on value sejumlah negara di dunia mulai meningkat kembali.

S e t e l a h s e b e l u m n y a cenderung melandai. Kondisi ini kerap menguntungkan bagi Indonesia. Pasalnya m e m b a i k n y a s e k t o r manufaktur beberapa negara yang juga merupakan mitra dagang utama Indonesia mendorong permintaan akan bahan baku dari Indonesia.

Ekspor nonmigas Indonesia

tercatat meningkat sebesar 26,74% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

(6)

Tujuan Ekspor Nonmigas Indonesia Masih Didominasi ke RRT, Amerika Serikat, dan Jepang

Kenaikan ekspor nonmigas Indonesia ter nggi ditujukan untuk Italia dan Taiwan. Ekspor nonmigas ke Italia bahkan meningkat lebih dari 2 (dua) kali lipat dari USD 121,20 Juta di bulan Januari 2021 menjadi USD 249,19 Juta pada periode Januari 2022. Kenaikan ini terutama bersumber dari peningkatan ekspor produk besi baja yang sangat signifikan dari USD 1,18 Juta di bulan Januari 2021 menjadi USD 69,48 Juta pada periode Januari 2022.

Salah satu produk besi baja yang meningkat ekspor ke pasar Italia adalah stainless steel.

Selain Italia, ekspor nonmigas Indonesia ke Taiwan juga meningkat signifikan sebesar 91,66% (YoY). Kenaikan ini terutama bersumber dari meningkatnya permintaan akan produk besi baja dan bijih logam. Sama halnya dengan pasar Italia, produk Indonesia yang juga meningkat ekspornya ke pasar Taiwan yakni stainless steel. Selain itu, ekspor bijih tembaga dan batubara juga berkontribusi posi f pada peningkatan ekspor Indonesia ke pasar negara tersebut.

Berdasarkan kontribusi negara tujuan, ekspor nonmigas di bulan Januari 2022 masih didominasi ke RRT (pangsa 19,25%), Amerika Serikat (pangsa 14,04%) dan Jepang (pangsa 8,29%). Ekspor nonmigas ke RRT di awal tahun 2022 ini tercatat USD 3,51 miliar, jauh meningkat dibandingkan periode yang sama tahun (YoY) yakni sebesar 15,29%. Selain RRT, ekspor nonmigas Indonesia ke negara tujuan lainnya yakni Amerika Serikat dan Jepang pun meningkat tajam masing-masing sebesar 53,14% (YoY) dan 21,19% (YoY).

Tabel 1. Ekspor Non Migas ke Beberapa Negara Utama Periode Januari 2022

Sumber: BPS (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

*Ket: Januari 2022 Angka Sementara

(7)

Catatan perdagangan Indonesia di awal tahun 2022 sangat menggembirakan, dimana nilai total ekspor bulan Januari dengan nilai USD 19,16 Miliar. Total ekspor non migas sendiri tercatat USD 18,26 Miliar atau meningkat 26,74% dibanding Januari 2021 (YoY). Kinerja ekspor 10 produk utama Indonesia hampir seluruhnya mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan Januari 2021.

Ekspor Produk Utama

Menguat di Awal Tahun 2022

Oleh: Hasni

Tabel 2. Pertumbuhan Sepuluh Produk Ekspor Non Migas HS 2 digit ,Januari 2022

Sumber: BPS (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

Beberapa produk utama HS 2 digit yang nilai ekspornya menguat di awal tahun 2022 adalah Bijih Logam, Terak Dan Abu (HS 26) meningkat signifikan 195,05% YoY; Besi dan Baja (HS 72) tumbuh 124,94%, Berbagai Produk Kimia (HS 38) naik 57,03% YoY. Selain itu, ekspor Alas Kaki (HS 64) juga naik 34,12% YoY, Mesin dan Perlengkapan Elektrik Serta Bagiannya (HS 85) naik 23,81% YoY (Tabel 2).

Pertumbuhan ekspor di awal tahun yang menjanjikan ini dak dapat dipungkiri dipicu oleh beberapa faktor antara lain, pemulihan perekonomian Indonesia dan dunia, peningkatan permintaan dunia, dan peningkatan harga beberapa komoditas utama.

*Ket: Januari 2022 Angka Sementara

(8)

Ekspor Lemak dan Minyak Hewan/Naba (HS 15):

Kontributor Ekspor Terbesar Januari 2022

Mulai tanggal 1 Februari 2022 pemerintah membuka kembali ekspor bagi perusahaan yang sudah memenuhi kewajiban Domes c Market Obliga on (DMO). Saat ini pemerintah telah mencabut larangan ekspor batubara terhadap 171 perusahaan ekspor secara bertahap setelah dilakukan evaluasi. Terdapat 75 kapal yang memuat batubara dari ekspor r yang telah memenuhi DMO 100% sehingga diizinkan untuk melakukan ekspor.

Sedangkan bagi ekspor r yang belum memenuhi kewajiban DMO dan belum menyampaikan surat pernyataan bersedia membayar denda atau kompensasi tetap dilarang melakukan ekspor batubara.

Lemak dan Minyak Hewan/naba (HS 15) dimana di dalamnya terdapat produk CPO masih menjadi andalan ekspor non migas Indonesia di bulan Januari 2022. Dimana negara tujuan terbesar komodi ini adalah RRT, India dan Pakistan. Total ekspor HS 15 pada Januari 2022 senilai USD 2,42 Miliar. Sementara itu Bahan Bakar Mineral (HS 27) yang didalamnya terdapat Batubara juga merupakan kontributor ekspor di awal tahun 2022 (Tabel 2). Nilai ekspor HS 27 sebesar USD 1,24 Miliar turun dibandingkan Januari 2021, hal ini dipengaruhi oleh kebijakan pelarangan ekspor batubara yang sempat dikeluarkan oleh pemerintah.

Sementara itu ekspor Biji, Terak dan Abu Logam (HS 26) Serta Besi dan Baja (HS 72) juga menjadi komodi andalan andalan ekspor pada Januari 2022 (Grafik 3-Halaman 3), dimana masing-masing nilai ekspornya mencapai USD 0,95 Miliar dan USD 2,24 Miliar. Bahkan kedua komodi ini mengalami lonjakan nilai ekspor yang signifikan dibanding Januari 2021 dimana HS 26 naik 195,05%YoY, sedangkan ekspor HS 72 tumbuh 124,94% YoY.

Daya Saing Produk Basic Metal Indonesia Meningkat di Pasar Dunia

Daya saing produk basic metal Indonesia yang ditunjukkan melalui skor keunggulan kompara f atau Revealed Compara ve Advantage (RCA) mengalami peningkatan yang signifikan dalam lima tahun terakhir. Dari grafik di atas terlihat bahwa RCA basic metal Indonesia pada tahun 2016 masih kurang dari 1 (RCA < 1) yang ar nya masih belum memiliki daya saing di pasar internasional.

Sumber: Google Images, 2022 Basic Metal

Selanjutnya pada tahun 2020 skor RCA produk basic metal Indonesia meningkat pesat menjadi 1,79 (Grafik 5).

(9)

Peningkatan daya saing basic metal menjadi salah satu faktor pen ng bagi peningkatan ekspor produk lainnya, karena produk basic metal merupakan input bagi produk hilir.

Meskipun peningkatan nilai tambah produk hilir basic metal belum begitu nggi, namun proses dan kebijakan hilirisasi yang masih berlanjut diharapkan dapat terus berjalan dengan baik. Sehingga diharapkan upaya pemerintah untuk terus meningkatkan nilai tambah yang lebih besar terhadap produk turunan basic metal seper produk Besi dan Baja bisa memenuhi permintaan kebutuhan baik di dalam negeri maupun pasar global.

Kinerja ekspor produk Besi dan Baja (HS 72) terus mengalami peningkatan, meskipun pangsa pasar masih didominasi oleh RRT lebih dari 60%, disusul oleh Taiwan sekitar 12%.

Sementara itu India, Malaysia dan Italia juga menjadi negara tujuan ekspor produk Besi dan Baja nasional dengan pangsa masing-masing dak lebih dari 5%. Permintaan pasar global yang nggi, pergerakan harga komoditas dan proses pemulihan ekonomi di Indonesia maupun global tentu berpengaruh pada peningkatan ekspor produk Besi dan baja.

Grafik 5. Perkembangan RCA Basic Metal Beberapa Negara di Dunia

Sumber: BPS (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

(10)

Bijih Logam, Terak, dan Abu (HS 26) merupakan salah satu produk ekspor Indonesia yang mengalami pertumbuhan yang signifikan di awal tahun 2022. Dibandingkan dengan bulan Januari tahun 2021, nilai ekspor Bijih Logam, Terak, dan Abu pada Januari 2022 meningkat 195,05% YoY. Selain itu, produk ini termasuk dalam kategori kecil produk yang ekspornya tetap meningkat di bulan Januari 2022 apabila dibandingkan dengan bulan Desember 2021 (MoM) atau bahkan dibandingkan dengan nilai ekspor bulanan se daknya selama 3 tahun terakhir.

Ekspor Produk Bijih Logam, Terak, dan Abu

Bulan Januari 2022 Mencatatkan Kinerja yang Fantas s

Oleh: Aditya P. Alhayat

Tabel 3. Produk Ekspor Bijih Logam, Terak, dan Abu Berdasarkan HS 4 Digit

Sumber: BPS (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

*Ket: Januari 2022 Angka Sementara

Apabila dilihat lebih de l, terlihat bahwa produk ekspor Bijih Logam, Terak, dan Abu Indonesia ke dunia didominasi oleh produk Bijih Tembaga dan Konsentratnya (HS 2603) dengan pangsa mencapai 84,81% (Tabel 3).

(11)

Peningakatan Ekspor Bijih Logam, Terak, dan Abu Didorong oleh Kenaikan Harga Internasional

Peningkatan nilai ekspor Bijih Logam, Terak, dan Abu lebih banyak didorong oleh adanya kenaikan harga internasional tembaga di tengah masa pandemi Covid-19, sebagaimana terlihat pada Grafik 6. Sejak pertengahan tahun 2020, harga internasional tembaga terus mengalami kenaikan, dari sebesar USD 5,24 Ribu/Ton pada Mei 2020, menjadi USD 9,78 Ribu/Ton pada Januari 2022. Seiring dengan peningkatan harga internasional tersebut, nilai ekspor Bijih Logam, Terak, dan Abu Indonesia ke dunia mengalami tren peningkatan.

Pada Januari 2022, nilai ekspor Bijih Logam, Terak, dan Abu mencapai USD 951,55 Ribu atau meningkat 66,17% MoM. Dari sisi volume, ekspor Bijih Logam, Terak, dan Abu pada Januari 2022 turun 30,45% MoM. Hal ini memperkuat kesimpulan bahwa faktor harga berperan besar dalam mendorong kinerja ekspor produk Bijih Logam, Terak, dan Abu.

Grafik 6. Perkembangan Ekspor Bijih Logam, Terak, dan Abu, Januari 2019-Januari 2022

Sumber: BPS dan World Bank (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

Dengan demikian, kinerja ekspor Bijih Logam, Terak, dan Abu akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana kinerja ekspor produk Bijih Tembaga dan Konsentratnya. Hal ini tentu berbeda dengan kondisi di tahun 2019 dimana pangsa ekspor Bijih Tembaga dan Konsentratnya terhadap kelompok produk Bijih Logam, Terak, dan Abu dak terlalu dominan, yaitu sebesar 40,94%. Pada tahun tersebut, kinerja ekspor Bijih Logam, Terak, dan Abu juga didukung oleh produk Bijih Nikel dan Konsentratnya (HS 2604). Pelarangan ekspor bijih nikel sejak awal tahun 2020 turut merubah struktur atau komposisi produk ekspor Bijih Logam, Terak, dan Abu saat ini.

*Ket: Januari 2022 Angka Sementara

(12)

Bijih Tembaga Menjadi Komoditra Strategis

dalam Pengembangan Industri Kendaraan Listrik Masa Depan

Peningkatan nilai ekspor Bijih Logam, Terak, dan Abu lebih banyak didorong oleh adanya kenaikan harga internasional tembaga di tengah masa pandemi Covid-19, sebagaimana terlihat pada Grafik 6. Sejak pertengahan tahun 2020, harga internasional tembaga terus mengalami kenaikan, dari sebesar USD 5,24 Ribu/Ton pada Mei 2020, menjadi USD 9,78 Ribu/Ton pada Januari 2022. Seiring dengan peningkatan harga internasional tersebut, nilai ekspor Bijih Logam, Terak, dan Abu Indonesia ke dunia mengalami tren peningkatan.

Pada Januari 2022, nilai

Tabel 4. Negara Tujuan Ekspor Bijih Logam, Terak, dan Abu Indonesia

Sumber: BPS (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

Harga tembaga internasional pada bulan Januari 2022 sedikit mengalami peningkatan karena masih terbatasnya pasokan, khususnya dari wilayah Amerika La n. Di akhir tahun 2021, perusahaan tambang asal RRT MMG terpaksa menghen kan produksi tembaga pada wilayah penambangan Las Bambas Peru karena adanya protes dan pemblokiran jalan dari masyarakat sekitar. Padahal perusahaan tersebut memilki kapasitas 400 ribu ton/tahun atau 2% dari produksi tembaga global (www.mining.com). Sementara di sisi lain, terjadi peningkatan permintaan karena ak vitas manufaktur di RRT sehingga mempengaruhi pergerakan harga logam, termasuk tembaga. Ke depan, permintaan tembaga global akan terus meningkat seiring dengan transisi global menuju green economy yang salah satunya ditandai dengan peningkatan penjualan kendaraan listrik (www.australianmining.com.au). Perlu diketahui bahwa kendaraan listrik menggunakan lebih banyak tembaga dibandingkan dengan mobil konvensional, yang digunakan untuk komponen motor elektrik, baterai, inverter, kabel, dan infrastruktur pengisian daya.

ekspor Bijih Logam, Terak, dan Abu mencapai USD 951,55 Juta atau mening- kat 66,17% MoM. Dari sisi volume, ekspor Bijih Logam, Terak, dan Abu pada Januari 2022 turun 30,45% MoM. Hal ini memperkuat kesimpulan bahwa faktor harga ber- peran besar dalam men- dorong kinerja ekspor p ro d u k B i j i h L o ga m , Terak, dan Abu.

Commodity Review : Bijih Logam, Terak, dan Abu

(13)

Produk ekspor Bijih Logam, Terak, dan Abu Indonesia, khususnya Bijih Tembaga salah satunya menjadi bagian dari rantai pasok global untuk industri kendaraan listrik. RRT, Jepang, dan Korea Selatan merupakan negara produsen mobil global yang tentu saja saat ini turut mengembangkan produksi mobil listrik sesuai dengan trend permintaan pasar yang mengarah pada produk ramah lingkungan. Berdasarkan data Sta s sa (2022), proyeksi jumlah produksi kendaraan elektrik dan plug-in hybrid electric vehicles RRT di tahun 2023 mencapai kurang lebih 13 Juta unit dan menjadi yang terbesar dunia.

Sementara urutan produsen selanjutnya adalah Jerman (4,41 Juta unit), Amerika Serikat (4,14 Juta unit), Jepang (1,51 Juta unit), Perancis (1,31 Juta unit), dan Korea Selatan (1,24 Juta unit). Agar Indonesia dapat berperan lebih strategis dan mendapatkan nilai tambah yang lebih nggi, dibutuhkan terobosan beragam kebijakan agar investor masuk di sektor industri otomo f, khususnya pada komponen otomo f yang banyak membutuhkan banyak kandungan tembaga. Selain nikel, tembaga juga merupakan produk potensial yang dapat dikembangkan oleh Indonesia dalam rangka mewujudkan pembangunan nasional yang berkelanjutan dan ramah lingkungan di masa datang.

Sumber: Google Images, 2022 Nickel Ore and Plug-In Hybrid Electric Engine

(14)

Salah satu penyumbang kenaikan ekspor Indonesia pada Januari 2022 adalah Bijih Logam (HS 26) yakni dengan pertumbuhan sebesar 195,05% YoY. Dari klasifikasi HS 26, Bijih dan Konsentrat Tembaga (HS 2603) merupakan komoditas dengan pangsa ter nggi yakni sebesar 84,81% (Tabel 5). Selain konsentrat Tembaga, terdapat 4 konsentrat logam lainnya yang memiliki pangsa ter nggi yakni Alumunium (9,89%), Zirkonium (1,52%), dan Besi (0,84%) (Tabel 5).

Konsentrat Tembaga Masih Menjadi Andalan Utama Ekspor Indonesia pada Januari 2022

Oleh: Rahayu Ningsih

Berdasarkan data tahunan, pada tahun 2021 ekspor Bijih Logam secara agregat tercatat naik 96,32% YoY dengan nilai mencapai USD 6,35 Miliar. Hal ini ditopang oleh kenaikan ekspor Bijih dan konsentrat Tembaga yang naik 123,29% YoY dengan nilai ekspor mencapai USD 5,39 Miliar pada tahun 2021. Namun demikian, perlu dicerma bahwa diantara jenis konsentrat lainnya, ekspor Konsentrat Tembaga selama 5 tahun terahir justru memiliki tren nega f dengan laju pertumbuhan rata-rata pertahun sebesar -0,19% (Tabel 5).

Sementara dari sisi permintaan dunia, impor Konsentrat Tembaga justru masih tumbuh dengan tren 7,69% (Tabel 7).

Tabel 5. Ekspor Bijih Logam pada Level Pos Tarif 6 Digit

Sumber: BPS (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

(15)

ekspor produk mineral logam tertentu yang belum dimurnikan diberi batas waktu paling lama ga tahun sejak UU No.3/2020 diundangkan. Untuk itu, diharapkan melalui pembangunan industri pemurnian tembaga (smelter), kedepan dapat dikembangkan pula pembangunan industri turunan produk tembaga lainnya.

Penurunan ekspor Konsentrat Tembaga Indonesia kemungkinan disebabkan oleh aturan larangan ekspor untuk Konsentrat Tembaga dengan kadar <15% sebagaimana tertuang dalam Permendag No.18/2021 tentang Barang Dilarang Ekspor dan Barang Dilarang Impor.

Oleh karena itu, tujuan larangan yang dimaksudkan untuk meningkatkan nilai tambah produk tambang khususnya Tembaga dapat terwujud melalui pengembangan industri pemurnian (smelter). Tidak hanya pemurnian tembaga, kedepannya diharapkan kebijakan ini juga dapat mendorong berembangnya industri turunan Tembaga di dalam negeri.

Saat ini aturan larangan ekspor telah dikenakan untuk Bijih Tembaga, Konsentrat Tembaga Dengan Kemurnian <15%, Tembaga Semen, Tembaga Yang Tidak Dimurnikan, dan Tembaga Katoda Dengan Kemurnian <99,9%. Mengingat Konsentrat Tembaga merupakan salah satu komoditas andalan Indonesia, maka hal yang perlu mendapat perha an dan dian sipasi bahwa ekspor Konsentrat Tembaga >15% pun sesuai ketentuan dalam Lampiran I Permendag No.18/2021 kedepannya akan dilarang ekspornya.

Papua dan NTB Merupakan Provinsi Penyumbang Terbesar Ekspor Konsentrat Tembaga

Di Indonesia, ekspor terbesar Konsentrat Tembaga berasal dari Provinsi Papua dan Nusa Tenggara Barat (Tabel 6). Di Papua, ekspor sebesar USD 4,29 Miliar (67,65%) dilakukan oleh PT Freeport Indonesia dengan total kuota ekspor Bijih dan Konsentrat Tembaga yang diberikan sebesar 1,1 Juta ton. Sementara di Nusa Tenggara Barat, ekspor senilai USD 1,09 Miliar (17,15%) dilakukan oleh PT Amman Mineral Nusa Tenggara dengan kuota sebesar 675 Ribu ton.

Pada tahun 2023, dapat dipas kan bahwa ekspor Konsentrat Tembaga akan turun dras s mengingat mulai 1 Juni 2023, sesuai Permendag No.18/2021 dan ketentuan dalam Undang-Undang No.3 Ta h u n 2 0 2 0 t e n t a n g Mineral dan Batubara , maka pemberlakuan ekspor

Tabel 6. Provinsi Asal Ekspor Konsentrat Tembaga

Sumber: BPS (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

(16)

Grafik 7. Ekspor r Konsentrat Tembaga Dunia

Sumber: Trademap (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

Kondisi Perdagangan Tembaga di Pasar Global

Produk tembaga dan turunannya banyak digunakan secara luas dan diaplikasikan di berbagai sektor diantaranya industri peralatan listrik, eletronik, otomo f, dan konstruksi.

Kawat tembaga dan paduan tembaga digunakan dalam pembuatan motor listrik, generator, kabel/kawat untuk transmisi, distribusi dan instalasi listrik, kendaraan bermotor, tabung coaxial, tabung microwave, sakelar, rec fier, transistor, dan peralatan lainnya yang membutuhkan sifat konduk vitas listrik dan panas yang nggi. Potensi sumber daya alam tembaga terbesar yang dimiliki Indonesia saat ini terdapat di Papua dan Nusa Tengara Barat, sedangkan potensi lainnya menyebar di wilayah Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan.

Sebagaimana produk tambang lainnya, tembaga merupakan komoditas dengan sumber daya yang terbatas dan dapat habis. Di dalam peta dunia, kandungan tembaga banyak ditemukan terkonsentrasi disepanjang wilayah Barat Amerika Utara dan Amerika Selatan.

Sebagian besar kandungan tembaga terdapat di Chili dan Peru dan sebagian lainnya tersebar di berbagai negara seper Kanada, Mongolia, Cina, Kazakhstan, Philipina, Indonesia, dan Australia. Berdasarkan Interna onal Copper Study Group (ICSG), dilaporkan bahwa Chili merupakan pemasok terbesar tembaga di dunia untuk bijih dan konsentrat tembaga. Data Comtrade juga menunjukkan bahwa pada tahun 2020, Chili dan Peru merupakan ekspor r terbesar dengan pangsa masing-masing 30,07% dan 15,79%.

Indonesia sendiri menempa urutan keenam setelah Australia, Kanada, dan Meksiko dengan pangsa 4,15% (Grafik 7).

(17)

Dari sisi permintaan dunia, impor r utama Konsentrat Tembaga adalah RRT dengan pangsa sebesar 56,01%

disusul Jepang (15,19%), Korea Selatan (6,92%), dan Jerman (3,95%) (Grafik 8).

Adapun tolal nilai impor dunia untuk Konsentrat Tembaga pada tahun 2020 adalah sebesar USD 61,23 Miliar. Posisi Konsentrat

Tembaga dalam permintaan global cukup nggi bahkan menempa urutan kedua setelah Bijih dan Konsentrat Besi di dalam klasifikasi HS 26. Pada tahun 2020, permintaan Konsentrat Tembaga mencapai USD 61,23 Miliar atau sebesar 21,85% dari total permintaan bijih dan konsentrat logam lainnya. Urutan pertama yakni Bijih dan Konsentrat Besi dengan total permintaan dunia sebesar USD 143, 61 Miliar atau sebesar 51,25% dari total permintaan bijih dan konsentrat secara keseluruhan. Permintaan global akan Bijih dan Konsentrat Tembaga masih tetap tumbuh selama 5 tahun terakhir (2016-2020) dengan laju pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 7,69%.

Grafik 8. Ekspor r Konsentrat Tembaga Dunia

Sumber: Trademap (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022) Sumber: Trademap (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

Tabel 7. Impor Dunia Produk dalam Kelompok Bijih Logam (HS 26)

(18)

Indonesia merupakan negara produsen udang ke-5 dunia, setelah Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Ekuador, Vietnam dan India dengan perkiraan jumlah produksi mencapai 450 ribu MT pada tahun 2021 (Anderson, et al., 2019). Sebesar 77,3% produksi udang dunia berasal dari produksi budidaya (aquaculture), sedangkan 17,4% dan 5,3% lainnya berasal dari wild caught dan coldwater (Sta sta, 2021). Dari sisi demand, permintaan udang dunia diperkirakan akan terus mengalami kenaikan dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 1,5% hingga tahun 2026. Dengan ngkat permintaan yang terus tumbuh, udang diharapkan dapat menjadi salah satu primadona ekspor sektor perikanan Indonesia.

Udang, Primadona Ekspor Produk Kelautan Indonesia

Oleh: Sep ka Tri Ardiyan

Peran ekspor udang terhadap ekspor non migas nasional mengalami fluktuasi selama 5 (lima) tahun terkhir. Pada tahun 2021, dengan capaian ekspor non migas sebesar USD 219,25 Miliar, ekspor udang menyumbang 0,72% dari capaian tersebut. Selama rentang periode tersebut, ekspor udang memberikan kontribusi rata-rata sebesar 0,88%.

Grafik 9. Peran Ekspor Udang terhadap Ekspor Non Migas Indonesia

Sumber: BPS (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

Pada tahun 2021, kontribusi ekspor udang terhadap ekspor non migas mengalami penurunan menjadi hanya 0 , 7 2 % d a r i 0 , 9 3 % p a d a t a h u n sebelumnya. Penurunan kontribusi tersebut disebabkan oleh lompatan kenaikan ekspor non migas pada tahun 2021 yang sangat nggi. Kenaikan ekspor non migas tersebut lebih disebabkan oleh meroketnya harga komoditas dunia, meskipun ekspor udang juga menunjukkan pertum- buhan yang posi f (Grafik 9).

(19)

Ekspor udang Indonesia yang masuk dalam kategori HS 0306 diekspor dalam bentuk 3 ( ga) ketegori yaitu Udang Beku, Udang Segar dan dalam bentuk udang yang sudah diolah.

Ke ga kategori tersebut secara kumula f menghasilkan ekspor sebesar USD 1,57 milyar pada tahun 2021. Capaian ekspor udang pada 2021 mengalami peningkatan posi f sebesar 9,05% YoY dengan rata-rata pertumbuhan 2,33% per tahun (Tabel 1). Secara nilai, ekspor Udang Beku mendominasi dengan pangsa sebesar 97,29% pada tahun 2021.

Ekspor Udang Segar dan Udang Olahan memberikan kontribusi masing-masing sebesar 2,61% dan 0,1% (Tabel 8).

Sumber: BPS (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

Tabel 8. Ekspor Udang Indonesia Berdasarkan Nilai Periode 2016-2021 (Jan-Nov)

Ekspor Udang Beku Mendominasi Komposisi Ekspor Udang Indonesia

Ekspor Udang Segar pada 2021 mengalami peningkatan 56,91% YoY.

Sementara untuk kategori 2 (dua) produk lainnya, yaitu Udang Beku mengalami peningkatan 8,18% YoY sedangakan Udang Olahan justru mengalami penurunan sebesar - 9,16% YoY.

Ekspor udang Indonesia jenis Whiteleg shrimps (Litopenaeus vannamei) paling banyak diekspor dalam bentuk utuh dengan kepala dan ekor yang masuk dalam kategori HS 03061729. Udang yang masuk dalam HS tersebut memiliki pangsa 50,69% dari total ekspor udang Indonesia, nilai ekspornya bahkan mencapai USD 800,21 juta pada 2021.

Sementara itu, udang jenis Whiteleg shrimps (Litopenaeus vannamei) yang diekspor dalam bentuk tanpa kepala namun masih disertai ekor (HS 03061721) menduduki peringkat ke-2 dengan nilai ekspor sebesar USD 252,64 Juta pada periode yang sama.

(Tabel 9).

Meskipun kategori produk yang memberikan sum- bangan mayoritas ter- hadap keseluruhan ekspor udang Indonesia yang masuk dalam kategori HS 0306 adalah udang dalam b e n t u k b e k u , n a m u n ekspor Udang Segar justru menunjukkan pertumbuh- an ter nggi.

Sementara itu, dari Sisi HS 8 Digit, Jenis Udang yang Paling Banyak Diekspor

Adalah Udang Jenis Whiteleg Shrimps (Litopenaeus Vannamei)

(20)

Sumber: BPS (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

Tabel 9. Ekspor Udang Indonesia Berdasarkan HS 8 Digit

Dari sisi negara tujan ekspor, Amerika Serikat (AS), Jepang dan RRT merupakan negara tujuan ekspor udang Indonesia. Ke ga negara tersebut memiliki pangsa secara kumula f sebesar 90,34% dari total ekspor udang Indonesia. Selain ke ga negara tersebut yang menjadi pasar utama udang Indonesia, ekspor udang ke beberapa negara tujuan lain menunjukkan kenaikan yang signifikan meskipun nilainya masih rela f kecil. Beberapa negara yang menunjukkan kenaikan signfikan antara lain Kanada, Singapura dan Taiwan yang masing- masing mengalami kenaikan sebesar 105,30% YoY; 57,90% dan 25,46% YoY (Tabel 10).

Udang dengan jenis yang sama namun diekspor dalam bentuk tanpa kepala dan tanpa ekor yang masuk ke dalam HS 03061722 menduduki peringkat ke-3 dengan nilai ekspor mencapai USD 156,94 juta pada 2021. Selain jenis Whiteleg shrimps (Litopenaeus vannamei), udang jenis giant ger juga menjadi salah satu jenis udang yang paling banyak diekspor oleh Indonesia.

Diharapkan dengan kenaikan dan prospek ekspor yang baik yang ditujukan ke negara- negara tersebut, dapat menjadi alterna f peluang diversifikasi pasar sehingga dak hanya bergantung pada beberapa pasar utama yang telah memiliki pangsa pasar

yang besar Sumber: BPS (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

Tabel 10. Negara Tujuan Ekspor Udang Indonesia

(21)

Amerika Serikat merupakan mitra strategis perdagangan Indonesia, berada diperingkat kedua sebagai pasar tujuan ekspor terbesar Indonesia setelah pasar RRT. Bahkan dimasa pandemi Covid 19 yang terjadi sejak periode awal tahun 2020, kinerja perdagangan bilateral Indonesia dan AS tetap menunjukkan tren pertumbuhan yang kuat. Tahun 2020 Indonesia mencatatkan nilai ekspor ke pasar AS sebesar USD 18,62 Miliar tumbuh 13,66%

YoY. Kemudian pada tahun 2021 yang lalu, nilai ekspor Indonesia ke pasar AS kembali tumbuh fantas s mencapai nilai USD 25,77 Miliar tumbuh 38,4% YoY (Tabel 11). Dalam dua tahun masa pandemi Indonesia tetap mencatatkan surplus perdagangan masing- masing sebesar USD 10,04 Miliar tahun 2020 dan USD 14,53 tahun 2021. Sejauh ini ak vitas perdagangan bilateral Indonesia-AS merupakan sumber surplus terbesar bagi neraca perdagangan Indonesia.

Kinerja Ekspor ke Pasar Amerika Serikat Tumbuh di Tengah Tekanan Pandemi

Oleh: Immanuel Lingga

Tabel 11. Kinerja Ekspor, Impor dan Neraca Bilateral Indonesia-AS (2017-2021)

Sumber: BPS (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

(22)

Sumber: BPS (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

Tabel 12. Kinerja Ekspor Produk Utama Indonesia di Pasar AS

Tabel 12 menunjukkan kinerja ekspor 10 produk utama Indonesia di Pasar AS dalam periode lima tahun (2017-2021). Meskipun pandemi Covid 19 melanda dunia, namun trend ekspor 10 produk utama Indonesia ke pasar AS dalam lima tahun terakhir tetap berada pada zona posi f, kecuali untuk produk Pakaian Jadi Bukan Rajutan yang berada pada zona nega f.

Bahkan di tahun 2021 kinerja ekspor 10 produk utama Indonesia di pasar AS berhasil menunjukkan akselerasi pertumbuhan setelah mengalami tekanan pada tahun 2020.

Melemahnya perekonomian AS sebagai dampak pandemi telah menyebabkan beberapa produk ekspor utama Indonesia seper Barang Rajutan, Karet dan Barang dari Karet, Pakaian Jadi, dan Alas Kaki mengalami kontraksi di pasar AS pada tahun 2020. Penurunan ekspor terbesar terjadi pada Ekspor Produk Pakaian Jadi (HS 62) dengan pertumbuhan nega f -22,88% (YoY), Barang Rajutan (HS 61) turun -13,62% dan Barang Karet (HS 40) terkoreksi 5,62% (YoY). Meskipun demikian beberapa produk ekspor utama Indonesia ke AS tetap mampu tumbuh posi f di bawah situasi pandemi, ekspor Minyak Sawit dan Produk Turunanan (HS 15) tumbuh 15,94% YoY di tahun 2020 dengan nilai ekspornya mencapai USD 934,2 Juta. Selain itu ekspor produk mesin dan peralatan listrik meroket dengan pertumbuhan mencapai 62,81% YoY dengan nilai mencapai USD 2,05 Miliar.

Meskipun dalam Pandemi Covid 19, Trend Ekspor 10 Produk Utama Indonesia ke Pasar AS dalam Lima Tahun Terakhir Tetap Posi f

Pada tahun pemulihan yaitu di tahun 2021, program vaksin yang gencar diseluruh dunia terutama di negara mitra dagang Indonesia mampu mengakselerasi pemulihan ekonomi dunia, termasuk ekonomi Indonesia dan AS. Hal tersebut tercermin pada kinerja ekonomi kedua

(23)

Sumber: BPS (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

negara dimana ekonomi Indonesia mampu tumbuh 3,69% dan AS tumbuh 5,6% di tahun 2021. Pemulihan tersebut tercermin pada kinerja ekspor Indonesia ke AS pada tahun 2021. Salah satunya adalah Produk Teks l dalam kelompok HS 61 Barang-barang Rajutan yang merupakan produk ekspor terbesar Indonesia ke pasar AS, dengan nilai ekspor mencapai USD 2,71 Miliar pada tahun 2021. Meskipun sempat mengalami tekanan di tahun 2020 dimana nilai ekspornya hanya mencapai USD 1,89 Miliar turun 13,62% YoY, namun kinerja ekpor Produk Teks l pada kelompok Barang Rajutan berhasil pulih kembali dengan pertumbuhan sebesar 43,59% YoY.

Selama pandemi Covid 19, ekspor Indonesia ke pasar AS semakin terkonsentrasi ke produk-produk dalam kelompok Top 10 Produk seper Teks l dan Produk Teks l, Karet Dan Produk Karet, Minyak Sawit dan Turunannya, Alas Kaki, Mesin/peralatan Listrik, Perabot dan Penerangan Rumah, Ikan dan Udang, Kayu dan Produk Kayu, serta Daging dan Ikan Olahan. Sebelum pandemi, kontribusi ekspor top 10 produk hanya berada pada kisaran 70%, setelah pandemi kontribusi top 10 produk meningkat hingga 73% ( Grafik 10).

Produk utama ekspor Indonesia ke pasar AS yang juga mengalami pertumbuhan signifikan adalah Produk Lemak dan Minyak Naba (HS 15) yang merupakan produk turunan minyak kelapa sawit. Nilai ekspor produk ini tumbuh 127,21% (YoY) ke pasar AS dengan nilai ekspor mencapai USD 2,12 Miliar dari sebelumnya yang hanya tercatat USD 934,2 Juta di tahun 2020. Kenaikan ekspor produk minyak sawit salah satunya dilatarbelakangi oleh terjadinya fenomena komoditas supercycle yang ditandai dengan ngginya harga komoditas global termasuk harga minyak sawit.

Disrupsi yang disebabkan oleh pandemi Covid 19 juga memberikan peluang peningkatan ekspor produk mesin/perlatan listrik asal Indonesia ke pasar AS. Hal ini tercermin dari peningkatan ekspor yang sangat baik sejak tahun 2020 dan 2021 untuk produk peralatan listrik ke pasar AS, dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 62,81% dan 13,58%

dengan nilai mencapai USD 1,81 Miliar (tahun 2020) dan USD 2,05 Miliar (tahun 2021) dari sebelumnya yang hanya tercatat sebesar USD 1,11 Miliar pada tahun 2019.

Grafik 10. Komposisi Ekspor Indonesia di AS

Selama Pandemi, Ekspor Indonesia ke Pasar AS Semakin Terkonsentrasi

ke 10 Produk Utama

(24)

Kolombia merupakan ekonomi terbesar ke empat di wilayah Amerika La n setelah Brazil, Meksiko, dan Argen na (World Bank, 2019). Negara ini juga memiliki potensi pasar yang menjanjikan dengan jumlah penduduk sebanyak 50,9 Juta, terbesar ke ga setelah Brasil dan Meksiko di Amerika La n (Sta sta, 2022). Selain itu, Kolombia juga potensial dilihat dari banyaknya kota hub komersial di negaranya. Kolombia memiliki 5 kota hub komersial yang merupakan pusat bisnis dan perdagangan, yaitu Bogota, Madellin, Cali, Barranquilla, dan Cartagena. Hal ini kontras dengan negara-negara Amerika La n lainnya yang hanya memiliki satu atau dua kota hub komersial. Dari segi geografis, Kolombia merupakan satu- satunya negara di Kawasan Amerika La n yang memiliki garis pantai di laut Pasifik dan Laut Karibia. Letak geografis Kolombia menjadikan negara ini potensial sebagai pusat perdagangan wilayah Andes dan jembatan antara Amerika Tengah dan Selatan. Lokasi strategis ini juga memungkinkan akses ke seluruh Amerika La n serta Karibia, sehingga Kolombia sering disebut sebagai pintu gerbang memasuki pasar Meksiko, Peru, dan Chili.

Kolombia, Negara Potensial Ekspor Non Migas ke Kawasan Amerika La n

Oleh: Choirin Nisaa’

Pada tahun 2020, Kolombia menjadi salah satu negara di Kawasan Amerika La n yang sangat terpukul oleh pandemi Covid-19. Dilansir dari Sta sta (2022), Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, Gross Domes c Product negara ini tumbuh nega f 6,80% YoY. Namun demikian di tahun 2021, ekonomi Kolombia berhasil rebound dengan angka pertumbuhan GDP mencapai 7,61% YoY. Pertumbuhan GDP Kolombia diprediksi stabil di atas 3% pada tahun 2022-

2026 (Grafik 11). Indikator makro- ekonomi yang posi f ditambah dengan lokasi geografis yang strategis serta potensi pasar Kolombia yang cukup besar, menjadikan negara ini menarik sebagai negara tujuan perluasan ekspor non migas

Grafik 11. Perkembangan Ekonomi (GDP) Kolombia

(25)

Efek Pandemi Covid 19 di Tahun 2020, Kinerja Impor Kolombia dari Dunia Menurun 13,74% YoY

Perdagangan Indonesia Kolombia menunjukkan perkembangan yang cukup baik, dimana selama tahun 2017-2021 tercatat trend peningkatan total perdagangan sebesar 19,51%

yang semuanya ditopang oleh perdagangan sektor non migas. Perdagangan Indonesia Kolombia tahun 2021 menghasilkan neraca surplus bagi Indonesia senilai USD 293,90 Juta yang terdiri dari surplus non migas senilai USD 301,64 Juta dan defisit migas USD 7,74 Juta.

Berlanjutnya trend peningkatan total perdagangan ke Kolombia di tahun 2021 merupakan indikasi posi f tumbuhnya demand Kolombia terhadap produk asal Indonesia.

Perdagangan Indonesia-Kolombia Tumbuh Posi f selama Tahun 2021

Negara asal impor terbesar di Kolombia yaitu Amerika Serikat, China, Meksiko, Brazil, dan Jerman. Sedangkan Indonesia hanya menempa rangking 30 sebagai ekspor r di Kolombia. Pada tahun 2020, Impor Kolombia dari dunia mencapai USD 43,49 Miliar, dimana sebanyak 95,12% merupakan impor sektor non migas. Akibat pandemi Covid-19, Impor Kolombia tahun 2020 baik secara total maupun non migas mengalami penurunan masing-masing sebesar 13,74% YoY dan 10,38% YoY. Mayoritas produk yang diimpor oleh Kolombia tahun 2020 yaitu HS 851712 (Telephone cellular), HS 100590 (Jagung), HS 300490 (Obat-obatan), HS 870323 (Mobil Penumpang), dan HS 847130 (Mesin Pengolah Data). Kelima produk tersebut menguasai 10,89% total impor Kolombia dari dunia.

Beberapa produk impor utama yang mengalami peningkatan signifikan tahun 2020 diantaranya yaitu HS 847130 (Mesin Pengolah Data) yang naik 27,09% YoY, HS 230400 (Oilcake dan Residu Padat Lainnya) yang nail 10,67% YoY, serta HS 100199 (Gandum dan Meslin) yang naik 9,42% YoY (Tabel 13).

Sumber: Trademap (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

Tabel 13. Impor Kolombia dari Dunia

(26)

Ekspor non migas Indonesia ke Kolombia periode tahun 2021 mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan sebesar 163,85% YoY, atau menjadi USD 330,77 Juta di tahun 2021.

Rata-rata laju pertumbuhan ekspor non migas Indonesia ke Kolombia selama periode 2017-2021 mencapai 20,58%. Produk ekspor non migas Indonesia ke Kolombia tahun 2021 didominasi oleh HS 151190 (Turunan CPO), HS 871410 (Motor; Bagian dan Aksesoris), HS 550953 (Benang), HS 400122 (Karet TSNR), dan HS 640411 (Alas Kaki Olahraga). Kelima produk tersebut menguasai sebanyak 63,55% pangsa ekspor non migas Indonesia ke Kolombia (Tabel 14). Pada tahun 2021, beberapa produk utama mengalami peningkatan cukup pesat diantaranya yaitu HS 151190 (CPO dan Turunannya) dengan nilai ekspor mencapai USD 129,99 Juta, yang juga merupakan nilai ekspor perdana setelah terjadi kekosongan ekspor sejak tahun 2015. Selain itu kenaikan nggi juga terjadi pada ekspor produk HS 871120 (Motor) yang naik 470,11% YoY, HS 550953 (Benang) yang naik 152,23%, dan HS 871410 (Motor; Bagian dan Aksesoris) yang naik 106,23% YoY (Tabel 14).

Ekspor Non Migas Indonesia ke Kolombia Tahun 2021, Tumbuh Signifikan 163,85% YoY

Sumber: BPS (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

Tabel 14. Kinerja Ekspor Indonesia ke Kolombia

Menurut The Export Poten al Map, potensi ekspor Indonesia ke Kolombia mencapai USD 294 Juta, dimana senilai USD 186 Juta merupakan potensi yang belum dimanfaatkan (untapped poten al). Potensi ini dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk mendiversifikasi dan meningkatkan ekspor ke Kolombia. Beberapa produk Indonesia yang memiliki potensi ekspor nggi di Kolombia diantaranya yaitu kelompok produk Minyak

Masih Banyak Potensi Ekspor Indonesia ke Kolombia yang Belum

Dimanfaatkan

(27)

Naba /Hewani (HS 151190 : CPO dan Turunannya dan HS 151110 :CPO); Kertas dan Karton dalam Kelompok HS 48, Kendaraan Bermotor dan Bagiannya (HS 871120: Motor); Plas k dan Karet (HS 401110 :Roda Pneuma k Mobil, HS 401140: Roda Pneuma k Motor, dan HS 3907XX: Polyethylene terephthalate); Bahan Kimia (HS 290321: Vinyl Chloride, HS 382370:

Fa y Alcohol, dan HS 3808: Insek sida, fungisida, dll); Alat Elektronik dalam kelompok HS 85 dan HS 84; serta Alas Kaki (HS 640411: Alas Kaki Olahraga) (Grafik 12).

Sumber: ITC Export Potential Map (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

Grafik 12. Produk Potensial Ekspor Indonesia ke Kolombia

Ket:

Export Poten al: Nilai ekspor potensial tahun 2026 berdasarkan proyeksi suplay, permintaan, kondisi akses pasar, dan kemudahan dalam perdagangan bilateral Untapped Poten al: Potensi nilai ekspor yang belum dimanfaatkan

Secara umum, Kolombia dak mengenakan restriksi impor terutama untuk barang sektor industri. Namun demikian ada beberapa item produk yang dibatasi ataupun dilarang.

Produk yang dibatasi diantaranya yaitu produk pertanian dan sayuran, produk kebersihan, tembakau, obat-obatan, produk tanaman, tanaman dan biji-bijian, serta barang teks l.

Sedangkan produk yang dilarang diantaranya yaitu alkohol, beberapa produk farmasi dan kimia, mobil bekas, produk teks l bekas, serta residu berbahaya (Chapman Tripp, 2022).

(28)

Kinerja impor non migas Indonesia pada bulan Januari 2022 tercatat sebesar USD 16,00 Miliar atau 87,77% dari total impor Indonesia. Dibandingkan Desember 2021, impor non migas mengalami penurunan sebesar 10,97% MoM (Grafik 13). Namun, mengalami peningkatan signifikan sebesar 35,86% YoY dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Penurunan impor golongan barang non migas terbesar Januari 2022 dibandingkan Desember 2021 adalah Produk Farmasi (HS 30) sebesar USD 500,7 Juta atau turun 63,35%. Sementara peningkatan terbesar adalah Serealia (HS 10) sebesar USD 130,3 Juta atau mengalami penurunan 60,66%.

Impor Non Migas Indonesia Bulan Januari 2022 Meningkat Dibandingkan Periode yang Sama pada Tahun Sebelumnya

Oleh: Retno Ariyan P

Grafik 13. Kinerja Impor Bulanan

Sumber: BPS (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

18.23

2.23

16.00 21.35

3.38

17.97 13.33

1.55

11.78 Total Impor

Non Migas

Migas

Nilai (USD Miliar)

Januari 2022 Desember 2021 Januari 2021

36.77

43.66

35.86 -14.62

-34.00

-10.97

Pertumbuhan (%)

YoY Mom

(29)

Berdasarkan negara asal, ga negara pemasok barang impor non migas terbesar selama Januari 2022 adalah RRT sebesar USD 5,85 Miliar (36,55%), Jepang dengan nilai impor sebesar USD 1,39 Miliar (8,67%), dan Thailand tercatat sebesar USD 0,93 Miliar (5,84%).

Dibandingkan bulan sebelumnya, penurunan impor non migas terdalam terjadi dari beberapa negara asal seper Australia (turun 45,68%), Amerika Serikat (turun 36,09%), dan Singapura (turun 16,36% MoM). Sebaliknya, kenaikan impor non migas terbesar terjadi dari negara Taiwan dengan nilai impor sebesar USD 0,48 Miliar (naik 19,30% MoM) (Tabel 15).

Pemasok Terbesar Impor Indonesia Januari 2022 yaitu RRT, Jepang, dan Thailand

Sumber: BPS (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

Tabel 15. Impor Non Migas Menurut Negara Asal

Sementara, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, mayoritas impor non migas dari beberapa negara asal mengalami kenaikan. Kenaikan impor non migas terbesar berasal dari negara India dengan nilai impor sebesar USD 0,61 Miliar (naik 79,14% YoY), Thailand tercatat dengan nilai impor sebesar USD 0,93 Miliar (naik 70,51%), dan Jepang dengan nilai impor sebesar USD 1,39 Miliar (naik 60,21%) (Tabel 15).

*Ket: Januari 2022 Angka Sementara

Selama bulan Januari 2022 impor non migas dari ASEAN sebesar USD 2,75 Miliar (17,17%

dari total impor non migas) dan dari Uni Eropa tercatat sebesar USD 0,94 Miliar (5,84% dari total impor non migas). Impor non migas dari ASEAN didominasi oleh negara Thailand dan Singapura dengan pangsa masing-masing sebesar 5,84% dan 4,59% (Tabel 16).

Kenaikan Impor Non Migas Januari 2022 secara Tahunan (YoY), Berasal dari

Kawasan ASEAN dan Uni Eropa

(30)

Sementara impor non migas dari Uni Eropa didominasi oleh negara Jerman dan Italia dengan pangsa masing-masing sebesar 1,78% dan 0,71%. Dibandingkan Januari 2021, peningkatan impor non migas terjadi untuk kawasan ASEAN maupun Uni Eropa. Dari ASEAN mengalami peningkatan sebesar 29,38% , sementara dari Uni Eropa mengalami kenaikan sebesar 23,96% (YoY). Di sisi lain, dibandingkan Desember 2021 terjadi penurunan impor non migas baik dari kawasan ASEAN maupun Uni Eropa dengan penurunan masing-masing sebesar 6,58% dan 29,16% (MoM) (Tabel 16).

Tabel 16. Impor Non Migas Menurut Negara Asal per Kawasan

Adanya gelombang ke ga Covid-19 berupa munculnya varian baru Omicron di seluruh wilayah Indonesia diduga menjadi salah satu penyebab penurunan impor non migas dari beberaga negara asal di bulan Januari 2022. Tingkat kerawanan penularan virus Corona varian baru yang terus meningkat mendorong pemerintah meningkatkan level PPKM di sejumlah daerah. Meskipun demikian, kinerja impor non migas masih mencatatkan pertumbuhan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini dapat menjadi sinyal baik dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional di tengah pandemi Covid-19.

Sumber: BPS (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

*Ket: Januari 2022 Angka Sementara

(31)

Memasuki tahun 2022, impor bulan Januari mencapai USD 18,23 Miliar, melemah 14,62%

dibanding impor bulan Desember 2021 (MoM). Penurunan impor terjadi pada semua jenis golongan impor berdasarkan BEC. Hal ini lebih disebabkan oleh adanya pola musiman holiday blues yang mempengaruhi kinerja perdagangan, dak hanya kegiatan impor namun juga kegiatan ekspor. Pola musiman holiday blues terjadi pada ga bulan pertama se ap tahunnya karena adanya proses restocking dan pelambatan.

Mengiku Pola Musiman, Permintaan Impor Bahan

Baku/Penolong Menunjukkan Pelemahan di Januari 2022

Oleh: Niki Barenda S

Tabel 17. Kinerja Impor Bahan Baku/Penolong

Sumber: BPS (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

Permintaan impor golongan bahan baku/penolong, yang merupakan salah satu jenis golongan impor berdasarkan BEC, menunjukkan penurunan 11,35% (MoM) menjadi USD 13,85 Miliar di bulan Januari 2022. Kinerja impor golongan ini cukup signifikan mempengaruhi kinerja impor total mengingat nilai impornya menyumbang 75,97% dari total impor bulan Januari 2022 (Tabel 17).

*Ket: Januari 2022 Angka Sementara

(32)

Hampir seluruh komponen impor bahan baku/penolong di bulan Januari 2022 mengalami penurunan, kecuali impor Makanan & Minuman (Primary) untuk Industri yang naik 38,19% dibanding bulan Desember 2021, impor Makanan & Minuman (Processed) Untuk Industri yang naik 15,05% (MoM), dan impor Suku Cadang & Perlengkapan Alat Angkutan yang naik 5,42% (MoM) (Tabel 17).

Sementara itu, penurunan impor bahan baku/penolong di bulan Januari 2022 utamanya disebabkan oleh penurunan impor yang nggi pada komponen Bahan Bakar & Pelumas (Primary) yang turun 68,16% dibanding bulan Desember 2021, diiku oleh impor Bahan Baku Untuk Industri (Primary) yang turun 27,69% (MoM), impor Bahan Bakar Motor yang turun 19,35% (MoM), dan impor Bahan Bakar & Pelumas (Processed) yang turun 10,09%

(MoM). Kontribusi nilai impor keempat komponen ini mencapai 15,47% terhadap total impor bulan Januari 2022 (Tabel 17).

Adapun komponen Bahan Baku Untuk Industri (Processed) dan Suku Cadang &

Perlengkapan Barang Modal yang pangsa impornya masing-masing mencapai 29,01% dan 11,09% terhadap total impor bulan Januari 2022, mengalami penurunan rela f lebih rendah yakni turun masing-masing sebesar 5,27% dan 1,06% dibanding impornya di bulan Desember 2021. Penurunan yang rela f rendah pada kedua komponen yang pangsa kumula fnya mencapai 50,10% ini, turut menopang kinerja impor Bahan Baku/Penolong sehingga dak turun terlalu dalam (Tabel 17).

Dibandingkan impornya di bulan Januari 2021 yang mencapai USD 13,33 Miliar, impor Bulan Januari 2022 mengalami peningkatan signifikan sebesar 36,77%. Peningkatan tersebut salah satunya berasal dari menguatnya permintaan impor golongan barang Bahan Baku/Penolong yang naik 39,57% dibanding tahun 2021. Penguatan impor golongan Bahan Baku/Penolong pada Januari 2022 ini ditopang oleh hampir seluruh komponen, kecuali komponen Bahan Bakar & Pelumas (Primary) yang mengalami penurunan 14,53% (YoY) (Grafik 13).

Dibanding Tahun 2021, Permintaan Impor Golongan Bahan Baku/Penolong di Bulan Januari 2022 Tumbuh Signifikan

Mayoritas Impor Komponen Bahan Baku/Penolong Bulan Januari 2022

Mengalami Penurunan

(33)

Sumber: BPS (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

*Ket: Januari 2022 Angka Sementara

Adapun impor komponen yang mengalami peningkatan ter nggi dibandingkan bulan Januari 2021 antara lain oleh impor Bahan Bakar & Pelumas (Processed) yang tumbuh signifikan sebesar 94,73% dibanding tahun lalu, diiku oleh impor Suku Cadang &

Perlengkapan Alat Angkutan yang naik 61,53% (YoY), Bahan Bakar Motor yang naik 58,31%, impor Bahan Baku untuk Industri (Processed) yang naik 44,46%, serta impor Bahan Baku untuk Industri (Primary) yang naik 36,32% (Grafik 14).

Grafik 14. Pertumbuhan Komponen Impor Bahan Baku/Penolong

(34)

Kinerja impor Barang Konsumsi di bulan Januari 2022 mencapai USD 1,58 milliar, atau turun sebesar 36,60% jika dibandingkan bulan Desember 2021 (MoM). Namun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, nilai impor Barang Konsumsi di bulan Januari 2022 naik sebesar 10,25% (YoY), dimana pada bulan Januari 2021 nilai impor Barang Konsumsi tercatat sebesar USD 1,43 Miliar (Grafik 15).

Impor Barang Konsumsi Januari 2022 Mengalami Penurunan Dibandingkan Bulan Sebelumnya

Oleh: Gideon Wahyu P

Penurunan nilai impor Barang Konsumsi jika dibandingkan bulan Desember 2021 (MoM) dialami oleh hampir seluruh kelompok produk yang termasuk dalam golongan Barang Konsumsi di bulan Januari 2022. Hanya 2 kelompok produk yang dak mengalami penurunan nilai impor secara MoM yaitu Alat Angkutan Bukan untuk Industri dan Mobil Penumpang, dimana masing-masing kelompok tersebut tercatat mengalami kenaikan sebesar 89,86% dan 8,47% (Tabel 18).

Grafik 15. Kinerja Impor Barang Konsumsi

Sumber: BPS (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

*Ket: Januari 2022 Angka Sementara

Mayoritas Impor Barang Konsumsi Mengalami Penurunan Dibanding

Bulan Sebelumnya (MoM), namun Meningkat Dibandingkan Tahun

Sebelumnya (YoY)

(35)

Jika dibandingkan dengan bulan Januari 2021 (YoY), kinerja impor Barang Konsumsi berbanding terbalik dengan periode MoM dimana hampir seluruh kelompok produk dalam golongan barang konsumsi di bulan Januari 2022 mencatatkan peningkatan.

Kelompok produk yang mencatatkan peningkatan nilai impor secara signifikan secara YoY antara lain Mobil Penumpang (naik 65,66%), Bahan Bakar dan Pelumas (naik 50,49%), serta Alat Angkutan Bukan untuk Industri (naik 41,36%). Sementara itu kelompok produk yang mengalami penurunan nilai impor secara YoY dialami oleh Barang yang Tak Diklasifikasikan (turun 20,11% YoY) dan Makanan dan Minuman Belum Diolah untuk Rumah Tangga (turun 13,70% YoY) (Tabel 18).

Tabel 18. Kinerja Impor Barang Konsumsi

Sumber: BPS (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

*Ket: Januari 2022 Angka Sementara

Kelompok produk Barang Konsumsi dengan nilai impor ter nggi di bulan Januari 2022 adalah Barang Konsumsi Tak Tahan Lama dengan nilai impor mencapai USD 436,40 Juta atau 27,64% dari total impor barang konsumsi, diiku Barang Konsumsi Setengah Tahan Lama dengan nilai impor mencapai USD 351,10 Juta atau 22,24% dari total impor Barang Konsumsi, serta Makanan dan Minuman Olahan untuk Rumah Tangga dengan nilai impor mencapai USD 286,30 Juta atau 18,13% dari total impor Barang Konsumsi (Tabel 18).

Sementara 3 kelompok produk yang mengalami penurunan terdalam secara MoM pada bulan Januari 2022 adalah Barang yang Tak Diklasifikasikan (turun 55,34%), Barang Konsumsi Tak Tahan Lama (turun 55,29%), serta Makanan dan Minuman Belum Diolah untuk Rumah Tangga (turun 41,99%) (Tabel 18).

(36)

Beberapa produk Barang Konsumsi menurut HS 8 digit memiliki sumbangan/andil terhadap perubahan pertumbuhan nilai impor barang konsumsi di bulan Januari 2022 dibandingkan dengan bulan Desember 2021. Dari perubahan pertumbuhan Impor Barang konsumsi di bulan Januari 2022 yang turun sebesar 36,60% MoM, terdapat 3 produk utama yang memiliki andil penurunan nilai impor terbesar yaitu Vaksin Lainnya (HS 30022090) dengan andil perubahan sebesar -19,73% MoM, Bawang Pu h (HS 07032090) dengan andil perubahan sebesar -4,01% MoM, serta Tank dan Kendaraan Tempur Lainnya (HS 87100000) dengan andil perubahan sebesar -1,50% (Tabel 19).

Impor Vaksin Memiliki Andil Terbesar terhadap Pertumbuhan Impor Barang Konsumsi di Bulan Januari 2022

Sementara jika dibandingkan dengan bulan Januari 2021 (YoY), impor Barang Konsumsi yang tercatat tumbuh sebesar 10,25% YoY didorong oleh 3 produk utama yang memiliki andil pertumbuhan terbesar, yaitu Vaksin Lainnya (HS 30022090) dengan andil perubahan sebesar 2,58%, Tank dan Kendaraan Tempur Lainnya (HS 87100000) dengan andil perubahan sebesar 0,39%, serta Makanan Anjing/Kucing (HS 23091010) dengan andil perubahan sebesar 0,33% (Tabel 19).

Tabel 19. Kinerja Impor Barang Konsumsi HS 6 Digit

Sumber: BPS (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

*Ket: Januari 2022 Angka Sementara

Dilihat berdasarkan nilainya, impor Barang Konsumsi didominasi oleh Vaksin Lainnya (HS 30022090) memiliki nilai impor di bulan Januari 2022 mencapai USD 207,6 Juta, diiku oleh Jeruk Mandarin (HS 08052100) dengan nilai impor USD 37,4 Juta, dan Apel (HS 08081000) dengan nilai impor USD 29,1 Juta (Tabel 19).

(37)

Impor Barang Modal pada Januari 2022 Menunjukkan Kenaikan secara Year on Year (YoY) Paling Tinggi Dibandingkan Impor

Barang Konsumsi dan Bahan Baku/Penolong

Oleh: Farida Rahmawa

Impor Indonesia bulan Januari 2022 tercatat sebesar USD 18,23 Miliar, atau menunjukkan penurunan sebesar 14,62% dibanding bulan Desember 2021 (MoM). Struktur impor Indonesia berdasarkan kelompok penggunaan barang periode Januari 2022 terdiri dari 75,97% Bahan Baku/Penolong, 15,37% Barang Modal, dan 8,66% Barang Konsumsi.

Kontraksi impor terdalam terjadi pada impor barang konsumsi yang turun 36,60% (MoM), diiku oleh penurunan pada impor barang modal sebesar 13,45% (MoM) dan bahan baku/penolong sebesar 11,35% (MoM) (Grafik 16).

Grafik 16. Kinerja Impor Barang Konsumsi

Sumber: BPS (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

*Ket: Januari 2022 Angka Sementara

(38)

Tabel 20. Penurunan Terbesar Impor Barang Modal Menurut HS 2 Digit, Januari 2022 terhadap Desember 2021

Sumber: BPS (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

*Ket: Januari 2022 Angka Sementara

Jika dibandingkan periode yang sama tahun 2021, impor Indonesia menunjukkan kenaikan sebesar 36,77% (YoY), dimana kenaikan ter nggi terjadi pada impor barang modal yang naik sebesar 41,94% (YoY) (Grafik 15). Kenaikan impor seluruh golongan barang pada periode Januari 2022 ini menunjukkan tren pemulihan baik sari sisi daya beli masyarakat maupun kegiatan industri domes k seiring dengan kasus Covid-19 yang mulai menurun, semakin meluasnya program vaksinasi, dan pembatasan ak vitas yang dapat mulai dilonggarkan. Hal ini juga sejalan dengan indikator ak vitas manufaktur Purchasing Managers Index (PMI) Januari 2022 yang berada di posisi 53,7 indeks poin, lebih besar dari PMI Januari 2021 yang tercatat sebesar 52,2 indeks poin. Selain itu, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Januari 2022 sebesar 119,6, lebih nggi dari 84,9 pada Januari 2021.

Beberapa barang modal dengan penurunan nilai impor terbesar pada bulan Januari 2022 dibanding Desember 2021 didominasi oleh barang-barang pada HS 84 (mesin/peralatan Mekanis dan Bagiannya), HS 90 (instrumen Op k, Fotografi, Sinematografi, dan Medis), dan HS 85 (mesin/perlengkapan Elektrik dan Bagiannya) (Tabel 20).

Namun demikian, jika Dibandingkan Periode yang Sama Tahun 2021,

Impor Indonesia Menunjukkan Kenaikan

(39)

Tabel 21. Impor Kelompok Barang Modal, Januari 2022

Sumber: BPS (diolah PuskaDaglu BPPP, Februari 2022)

*Ket: Januari 2022 Angka Sementara

Sementara itu, beberapa barang modal yang mendorong kenaikan terbesar pada bulan Januari 2022 terhadap periode yang sama tahun 2021 diantaranya adalah Mesin/peralatan mekanis dan bagiannya (HS 84) yang naik sebesar 42,32% YoY, Mesin/perlengkapan elektrik dan bagiannya (HS 85) naik 41,81% YoY, serta Kendaraan dan bagiannya (HS 87) yang naik sebesar 172,24% YoY. Lebih lanjut, impor barang modal golongan Barang Modal Kecuali Alat Angkutan secara kumula f pada periode Januari- Desember 2021 masih menunjukkan kenaikan sebesar 20,77%, begitu pula dengan golongan Mobil Penumpang yang juga menunjukkan kenaikan sebesar 19,31%.

Sementara itu, impor Alat Angkutan Untuk Industri kembali menunjukkan kenaikan terbesar dibanding dua kelompok golongan barang lainnya, yaitu naik sebesar 78,41%

dibanding periode yang sama tahun 2020 (Tabel 21).

Impor golongan barang modal berkontribusi terhadap 15,37% dari total impor periode Januari 2022 dengan nilai mencapai USD 2,80 Miliar. Berdasarkan penggunaan barangnya, impor Barang Modal Kecuali Alat Angkutan naik sebesar 41,00% (YoY), impor barang modal golongan Mobil Penumpang menunjukkan kenaikan nilai impor sebesar 65,66% dibanding Januari 2021 (YoY). Sementara itu, impor barang modal golongan Alat Angkutan untuk Industri juga mengalami kenaikan sebesar 51,30% dibandingkan bulan Januari 2021 (Tabel 21).

Akselerasi impor barang modal periode Januari-Desember 2021 ini juga sejalan dengan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) Indonesia tahun 2021 yang tumbuh posi f sebesar 3,80% sekaligus menjadi sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia ter nggi tahun 2021 menurut pengeluaran dengan kontribusi sebesar 1,21% (Berita Resmi Sta s k BPS No.

14/02/Th.XXV, 7 Februari 2022). Kenaikan impor barang modal dan bahan baku penolong di bulan Januari 2022 dibandingkan Januari 2021 maupun kenaikan impor sepanjang periode tahun 2021 secara keseluruhan sejalan dengan peningkatan Purchasing Managers Index (PMI) sektor manufaktur dan menjadi indikasi pemulihan sektor industri dan perekonomian nasional. Oleh karena itu, kebijakan impor perlu dikelola secara seksama agar dak mengganggu pemenuhan bahan baku industri nasional serta tetap memprioritaskan ketersediaan pasokan domes k dalam rangka menjaga neraca perdagangan Indonesia.

(40)

Februari 2022

WARTA

DAGLU

Kementerian Perdagangan RI

Jl. M.I. Ridwan Rais No. 5 Jakarta 10110

Gedung Utama Lt. 16

Telp. +62 21 2352 8683 Fax. +62 21 2352 8693

Badan Pengkajian & Pengembangan Perdagangan

REDAKSI

Penanggung Jawab:

Hari Widodo

Redaktur:

Tarman

Penyun ng/Editor:

Ti s Kusuma Lestari

Sekretariat:

Ayu Wulandani

Penulis:

Fitria Faradila Niki Barenda Sari Farida Rahmawa Choirin Nisaa’

Desain dan Tata Letak:

Choirin Nisaa’

Website : bppp.kemendag.go.id

Fairuz Nur Khairunnisa Gideon Wahyu Putra Retno Ariyan Pra wi Aditya Paramita Alhayat

Sep ka Tri Ardiyan Rahayu Ningsih Immanuel Lingga Hasni

Referensi

Dokumen terkait

per tahun yang disebabkan oleh peningkatan nilai ekspor lebih kecil jika dibandingkan peningkatan nilai impor. Surplus neraca nilai perdagangan kelapa pada tahun 2020 mencapai

Hasibuan (2001:34) mengemukakan “kinerja (prestasi kerja) adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas tugas yang dibebankan kepadanya

Realisasi PNBP sampai dengan akhir Januari 2022 mencapai Rp21,98 triliun (6,55 persen dari target APBN 2022), atau tumbuh positif 11,44 persen dibandingkan periode yang sama

Kendala lain yang mungkin muncul dalam pembelajaran online khususnya pada pendidikan jasmani adalah peserta didik tidak dapat melakukan praktik secara leluasa

Sample barang yang Anda kirimkan telah berhasil Diterima, Status permintaan pengujian Anda akan. tampil “Sample Barang

(2) Laporan realisasi penyaluran dan penggunaan Subsidi Bunga bulan Desember tahun 2021 dikirimkan paling lambat bulan Januari tahun 2022, dengan format

Terjadi pada salah satu kebutuhan umum seseorang (seperti lapar dan haus) telah mencapai ambang batas tertentu dan mulai menjadi pendorong. Konsumen akan mencari

Gambar 3.2 Hasil Kualitatif Merkuri de- ngan Metode Reaksi Warna Dalam melakukan uji warna bertujuan untuk mengidentifikasi ada atau tidaknya merkuri dalam sampel krim