• Tidak ada hasil yang ditemukan

JUAL BELI MURABAHAH DI BANK SYARI AH. OLEH: H. DWI CONDRO TRIONO, Ph.D

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JUAL BELI MURABAHAH DI BANK SYARI AH. OLEH: H. DWI CONDRO TRIONO, Ph.D"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

OLEH: H. DWI CONDRO TRIONO, Ph.D

JUAL BELI MURABAHAH

DI BANK SYARI’AH

(2)

1. AQAD MURABAHAH

(3)

• Murabahah menurut Mazhab Hambali adalah:

ُلْعَم ٌحْب ِر َو ِلاَمْلا ِسأ َرِب ُعْيَبْلا • ٌم ْو

• “[Murobahah] adalah jual beli pada pokok harta (modal) dan keuntungan tertentu” (Ibnu Qudamah, Al Mughni, 4/136).

• Dalam murabahah mengharuskan penyebutan pokok harta dari barang yang diperoleh oleh penjual,

kemudian disepakati keuntungan antara penjual dan pembeli terhadap barang tersebut.

MURABAHAH KPP

(4)

• Murabahah dalam kitab-kitab fiqih tersebut tidak sama dengan Murabahah yang berlaku di Bank Syariah saat ini.

• Murabahah dalam kitab-kitab fiqih, terjadi antar dua pihak saja, yaitu: penjual dan pembeli.

• Murobahah di bank syariah, melibatkan 3 (tiga) pihak, yaitu :

1. Nasabah (pembeli), 2. Bank syariah

3. Supplier (penjual barang).

MURABAHAH KPP

(5)

• Murabahah di bank syariah ini selanjutnya dinamakan dengan istilah Bai’ al Murobahah lil Aamir bis Syiraa`, yang artinya adalah: jual beli murabahah bagi nasabah yang memerintahkan atau memesan pembelian.

• Istilah tersebut kemudian disingkat dengan istilah Murabahah KPP, yang artinya adalah: Murobahah Kepada Pemesan Pembelian.

• Bagaimana praktik dari Murabahah KPP di Bank Syari’ah tersebut?

• Untuk dapat memahami secara mendalam, marilah kita lihat bagaimana tahapan-tahapan murabahah KPP yang telah dipraktikkan di Bank Syari’ah:

MURABAHAH KPP

(6)

1. Permintaan nasabah kepada bank untuk membeli barang dengan spesifikasi tertentu.

2. Bank menerima untuk membeli barang.

3. Janji (wa’ad) dari nasabah untuk membeli barang tersebut setelah sah dimiliki oleh bank.

4. Janji (wa’ad) dari bank untuk menjual barang itu kepada nasabah (janji dapat bersifat mengikat atau tak mengikat)

5. Bank membeli barang secara kontan dari supplier.

6. Bank menjual barang tersebut kepada nasabah secara utang (kredit) dengan tambahan keuntungan yang disepakati oleh nasabah dan bank.

MURABAHAH KPP DI BANK SYARI’AH

(7)

• Murobahah KPP hukumnya adalah haram. Alasannya:

• Pertama, pada tahapan saling berjanji (marhalah tawa’ud) antara bank dengan nasabah, jika janji ini bersifat mengikat, maka janji itu sebenarnya telah berubah menjadi akad, bukan lagi janji.

• Sehingga, telah terjadi penggabungan akad (multi akad), yaitu jual beli salam dengan jual beli. Hal itu dilarang Rasul SAW:

• َلَ

يِف ِناَط ْرَش َلَ َو ٌعْيَب َو ٌفَلَس ُّل ِحَي ْضَت ْمَل اَم ُحْب ِر َلَ َو ٍعْيَب

ُعْيَب َلَ َو ْنَم

َكَدْنِع َسْيَل اَم

• “Tidak halal salaf (jual beli salam) digabung dengan jual beli biasa, tidak halal dua syarat dalam satu jual beli, tidak halal pula keuntungan yang tidak disertai jaminan (kerugian/kerusakan) dan tidak boleh menjual apa-apa yang bukan milikmu.” (HR Ashabus Sunan).

HUKUM MURABAHAH KPP

(8)

• Kedua, jika janji bersifat mengikat, maka dianggap telah berubah menjadi akad jual beli, padahal barang belum ada.

• Maka Murobahah KPP telah terjerumus dalam jual beli barang yang belum dimiliki.

• Sabda Nabi SAW:

• لَ

عبت ام

سيل كدنع

• “Janganlah kamu menjual apa-apa yang tak ada di sisimu.” (HR Ashabus Sunan).

HUKUM MURABAHAH KPP

(9)

• Ketiga, jika barangnya termasuk barang qimiyat, maka tidak boleh dengan akad salam.

ْيَك يِف لَإ ْفِلْسُي لاَف َفَلْسَأ ْنَم • ٍن ْز َو َو ٍم ْوُلْعَم ٍل

ُلْعَم ٍم ْو

“Barangsiapa yang melakukan salaf (jual beli salam), maka

hendaklah dia tidak melakukan salaf kecuali pada takaran yang diketahui dan timbangan yang diketahui” (HR Muslim, Shahih Muslim no 1604).

• Barangnya termasuk barang mitsliyat, yaitu barang yang bias dihitung, ditakar, ditimbang. Contoh : gula, beras, dll. Tidak boleh salam pada barang yang tak

dihitung, ditakar, ditimbang (barang qimuyat), misalnya:

tanah, bangunan, mobil, dsb.

HUKUM MURABAHAH KPP

(10)

• Pembiayaan murabahah mengharuskan pihak Bank Syari’ah membiayai sebagian harga dari barang yang telah disepakati kualifikasinya.

• Ketentuan ini memposisikan Bank Syari’ah sebagai pihak yang menghutangi pembeli, bukan menjadi pihak penjual.

• Sehingga dalam akad murabahah tersebut yang berlaku bukanlah jual beli dengan hutang, namun hutang-piutang murni.

• Jika itu hutang-piutang murni, maka pihak Bank Syari’ah tidak boleh menetapkan harga beli ditambah keuntungannya.

• Jika ada tambahan dari hutang-piutang, maka hal itu dapat dikategorikan sebagai riba.

(11)

2. PENGGUNAAN BARANG YANG

DIPERJUALBELIKAN SEBAGAI

BARANG JAMINAN

(12)

• Dalam jual beli kredit (bai’u at-taqsith)

penjual boleh mensyaratkan jaminan atau agunan (rahn) dari pembeli.

• Namun jaminan ini wajib berupa barang lain, yaitu bukan barang objek jual beli.

• Karena menjadikan barang yang dibeli

sebagai jaminan (rahn al-mabii’) tidak boleh secara syar’i.

HUKUM BARANG JAMINAN

(13)

• Imam Syafi’i, menyatakan jika dua orang berjual beli dengan syarat menjadikan barang yang dibeli sebagai jaminan atas harganya, jual belinya tidak sah.

• Sebab jika barang yang dibeli dijadikan jaminan (rahn), berarti barang itu belum menjadi milik pembeli.

• Imam Ibnu Hajar Al-Haitami berkata,”Tidak boleh jual beli dengan syarat menjaminkan barang yang dibeli.”

• Imam Ibnu Hazm berkata: “Tidak boleh menjual suatu barang dengan syarat menjadikan barang itu sebagai jaminan atas harganya. Kalau jual beli sudah terlanjur terjadi, harus dibatalkan.”

PENDAPAT ‘ULAMA

(14)

• Menjaminkan barang objek jual beli adalah syarat yang menyalahi konsekuensi akad (muqtadha al-

‘aqad), yakni hak kepemilikan dan melakukan

tasharruf (perbuatan hukum) seperti jual beli atau hibah oleh pembeli.

• Dengan demikian, jika seseorang menjual suatu

barang kepada orang lain, lalu mensyaratkan orang itu untuk tidak menjualnya kepada siapa pun, maka syarat itu tidak berlaku tapi jual belinya sah, karena syarat itu menafikan konsekuensi akad (muqtadha al-‘aqad), yakni kepemilikan barang dan melakukan tasharruf padanya.”

HUKUM BARANG JAMINAN

(15)

• Syarat yang menyalahi hukum syara’ tidak dapat diterima, karena sabda Nabi SAW,”Syarat apa saja yang tidak ada dalam Kitabullah, maka ia batil, meski ada seratus syarat.” (HR Bukhari dan Muslim).

• Selain itu, syarat itu tertolak berdasar kaidah

fiqih: Kullu syarthin khaalafa aw nafaa muqtadha al-‘aqad fahuwa baathil (Setiap syarat yang

menyalahi atau meniadakan konsekuensi akad, adalah syarat yang batal).

HUKUM BARANG JAMINAN

(16)

3. DENDA KARENA TERLAMBAT

DALAM MEMBAYAR HUTANG

(17)

• Dalam Perbankan Syari’ah ada ketentuan denda karena terlambat membayar utang

atau angsuran utang disebut al-gharamat at- ta`khiriyah atau al-gharamat al-maliyah.

• Yang membolehkan antara lain berdalil

dengan sabda Nabi SAW,”Tindakan menunda pembayaran utang oleh orang kaya adalah suatu kezaliman.” (HR Bukhari).

DENDA HUTANG

(18)

• Denda ini tetap dapat disamakan dengan riba nasi`ah, yaitu tambahan dari utang yang muncul karena faktor waktu.

• Apapun namanya, ia tetap riba, baik diambil dari orang yang mampu atau tidak, baik disyaratkan di awal akad atau tidak.

• Meskipun orang mampu yang menunda pembayaran utang layak dihukum, tapi tak pernah ada sepanjang sejarah Islam seorang pun qadhi (hakim) atau fuqaha yang menjatuhkan hukuman denda.

• Padahal kasus semacam ini banyak sekali terjadi di berbagi kota di negeri-negeri Islam di masa lampau.

• Jumhur fuqaha berpendapat hukumannya adalah ta’zir, yaitu ditahan (al-habs) atau boleh saja bentuk ta’zir lainnya.

HUKUM DENDA HUTANG

(19)

• Pemberi utang hanya berhak atas sejumlah uang yang dipinjamkannya, tidak lebih.

• Baik ia mendapatkannya tepat pada waktunya atau setelah terjadi penundaan.

• Tambahan berapa pun yang diambilnya sebagai

kompensasi dari penundaan pembayaran adalah riba.

• Denda karena terlambat membayar utang mirip dengan riba, maka denda ini dihukumi sama dengan riba.

• Kaidah fiqih menyebutkan: Maa qaaraba al-syai’a u’thiya hukmuhu (Apa saja yang mendekati atau mirip dengan sesuatu, dihukumi sama dengan sesuatu itu).

HUKUM DENDA HUTANG

(20)

4. PENGGUNAAN ASURANSI SYARI’AH

(bersambung)

(21)

Referensi

Dokumen terkait

Haji Ifrad ialah , berihram untuk haji dari miqat atau dari Mekkah bagi penduduk Mekkah, atau dari tempat lain di daerah miqat bagi yang tinggal disitu,

Permohonan ujian susulan ditujukan kepada Wakil Dekan bidang Akademik Fakultas Pertanian UNSOED dengan dilampiri surat keterangan/Surat Tugas masing-masing rangkap satu,

Para raja dan intelektual Eropa dibuat bingung, mengapa di tengah badai sahara pasir bisa bermekaran kebun-kebun peradaban yang semakin meluas hingga menyentuh

Penangkapan dan penahanan terhadap anak pelaku kejahatan atau anak nakal diatur dalam Pasal 43, 44, 45 Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak

13 ISNAINI ROSMAYANI 14 LIANA SUKMAWATI 15 MUHAMMAD AMIN 16 MUHAMMAD HALILUDDIN 17 MARWAN ALI 18 MARIANAH 19 NURUL WAHIDAH 20 NURMAYANTI 21 NURHAINI 22 NURHASANAH 23 RETNO ASRI

Dia masih memandangku dengan tatapan yang sama, masih membuatku terpukau sesaat sebelum akhirnya aku bisa mengendalikan diri.. “Kau terlambat,” kataku berusaha

Output ini nantinya adalah sebuah file aplikasi berbasis flash (.swf) yang berisi informasi mengenai lokasi wisata di kota Solo yang dikemas dalam bentuk

Contoh-contoh transportasi pakan dari silo ke kandang dengan bantuan sistem transportasi spiral, auger dan rantai transportasi.. Sistem FlexVey Sistem FlexVey gabungan untuk