• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENENTUAN HARI RAYA ISLAM DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PERSATUAAN UMAT DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENENTUAN HARI RAYA ISLAM DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PERSATUAAN UMAT DI INDONESIA"

Copied!
71
0
0

Teks penuh

(1)

PENENTUAN HARI RAYA ISLAM DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PERSATUAAN UMAT DI INDONESIA

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Meraih Gelar Sarjana Hukum (S.H) Jurusan Ilmu Falak

Pada Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Alauddin Makassar

Oleh:

SISKAWATI NINGSI NIM: 10900116001

FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN

MAKASSAR 2020

(2)

i

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Mahasiswa yang bertanda tangan di bawa ini:

Nama : Siskawati Ningsi

NIM : 10900116001

Tempat/Tgl. Lahir : Bulukumba, 15 Februari 1998

Jurusan : Ilmu Falak

Fakultas : Syari’ah dan Hukum

Alamat :Perumahan Taman Sarinda Tamarunang, Blok E/8 macanda

Judul : Penentuan Hari Raya Islam Dan Implikasinya terhadap Persatuan Umat

Menyatakan bahwa yang tertulis dalam skripsi ini benar-benar hasil karya sendiri, bukan jiplakan dan karya tulis orang lain baik sebagian ataupun keseluruhannya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip dan dirujuk berdasarkan pada kode etik ilmiah.

Makassar, 10 November 2020 Penulis,

Siskawati Ningsi

(3)

ii

(4)

iii

KATA PENGANTAR

Assalamu’Alaikum warahmatullahi Wabarakatuh.

Puji syukur kehadiran Allah swt. karena atas berkat, rahmat, dan hidayahnya sehingga penulis dapat merampungkan skripsi yang berjudul

“Penentuan Hari Raya Islam Dan Implikasinya Terhadap Persatuan Umat”.

Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah Muhammad saw.

yang telah mengajarkan kepada umatnya tentang hukum-hukum penentuan hari raya Islam sebagai pedoma bagi menusia dalam mengarungi samudera kehidupan.

Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari tantangandan hambatan. Namun berkat kerja keras dan motivasi dari pihak-pihak langsung maupun tidak langsung yang memperlanjar jalannya dalam penyusunan skripsi ini. Olehnya itu, secara mendalam penulis banyak menyampaikan banyak terima kasih kepada kedua orang tua serta saudara dan saudariku atas bantuan dan motivasi yang diberikan, begitupun kepada: Ayahanda Prof. Hamdan, MA., Ph.D. selaku rektor UIN Alauddin Makassar beserta wakil Rektor dan beserta jajaranya.

1. Ayahanda Dr. Muammar Muhammad Bakri, L.c.,M.Ag. selaku dekat Fakultas syari’ah dan Hukum beserta para Wakil Dekan dan staf.

2. Ibunda Dr. Fatmawati, M.Ag. selaku ketua jurusan Ilmu Falak beserta jajaranya.

3. Para pembimbing hebat yang pernah saya kenal yakni bapak Dr. H, Supardin, M.H.I. dan ibu Dr. Fatmawati, M.Ag.

(5)

iv

4. Para penguji yang luar biasa yakni, ibu Dr. Hj. Halimah B,M. Ag. dan ibu Dr. Musyfikah Ilyas, S.HI., M.HI.

5. Segenap Dosen dan Staf jurusan Ilmu Falak Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alaudin Makassar yang telah memberikan banyak ilmu kepada penulis selama mengikuti perkuliahan.

Untuk semua pihak yang telah penulis sebutkan maupun yang belum sempat tertuliskan dalam sebutan ini, semoga kita semua tetap diberikan kesehatan, umur panjang dan ilmu yang bermanfaat oleh Allah swt.. Aamin yaa Robbal’Alamin

Demikianlah ungkapan sederhana, kiranya kehilafan serta kesalahan yang ditemukan dalam skipsi ini, penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya.

Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

Samata, 10 November 2020 Penulis,

Siskawati Ningsi

(6)

v

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... i

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

ABSTRAK ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1-17 A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Pengertian Judul ... 5

D. Kajian Pustaka ... 7

E. Meteologi Penelitian... .. 14

F. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian ... 17

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 18-28 A. Pengertian Hari Raya Islam ... 18

B. Dasar Hukum Hari Raya Islam... 22

C. Macam-Macam Hari Raya Islam ... 26

D. Hikmah Hari Raya Islam ... 28

BAB III METODE PENENTUAN HARI RAYA ... 31-55 A. Metode Hisab ... 31

B. Metode Rukyat... 47

C. Metode Imkan Rukyat... ... 51

D. Kelebihan dan Kekurangan Metode Hisab dan Metode Rukyat... ... 55

BAB IV EKSISTENSI PENENTUAN HARI RAYA ISLAM TERHADAP PERSATUAN UMAT DI INDONESIA ... 59-66 A. Konsep Persatuan Umat ... 59

B. Dasar Hukum Persatuan Umat ... 60

C. Hari Raya Islam dalam Persatuan Islam ... 64

D. Eksistensi Penentuan Hari Raya Islam di Indonesia...66

BAB V PENUTUP ... 70-77 A. Kesimpulan... 70

B. Implikasi Penelitian ... 72

DAFTAR PUSTAKA ... 74

RIWAYAT HIDUP ... 77

(7)

vi ABSTRAK

Nama : SISKAWATI NINGSI Nim : 10900116001

Judul : Penentuan Hari Raya Islam Dan Implikasinya Terhadap Persatuan Umat di Indonesia

Skripsi berjudul PENENTUAN HARI RAYA ISLAM DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PERSATUAN UMAT DI INDONESIA”.

Penelitian ini dibuat berdasarkan penentuan pemerintah terhadap pelaksanaan hari raya Islam di Indonesia.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, data dikumpulkan data atau karya tulis ilmiah dan bahan-bahan pustaka yang berkaitan dengan judul penelitian.

Jenis penenlitian dalam skripsi ini adalah jenis penelitian Library Research dan sumber data yang di ambil adalah buku-buku yang membahas tentang pelaksanaan hari raya Islam. Metode yang digunakan pemerintah dalam pelaksanaan hari raya Islam adalah metode Hisab dan metode Rukyat. Dan untuk itu pemerintah harus mengumpulkan dua organisasi tersebut, serta mengikutkan para kolompok-kolompok yang ahli dalam Hisab dan Rukyah. Selanjutnya pendapat-pendapat di satukan dan di sepakati oleh pemerintah untuk mengumumkan pada sidang isbat yang dilaksanakan oleh kementrian agama.

Sumber data pada skripsi ini merupakan data langsung yang dikumpulkaan oleh penulis dari berbagai sumber, seperti Al-Qur’an dan Hadits.

Pada penelitian ini ada beberapa kesimpulan yang ada pertama, terjadinya berbedaan pemahaman dan metode yang digunakan dua ormas yang ada di Indonesia. Kedua metode yang di gunakan untuk penentuan hari raya Islam adalah metode hisab dan rukyah, dan pemerintah bisa menggabukan kedua metode tersebut yang di namakan imkanur rukyah. Ketiga, umat muslim harus saling menghargai walaupun ada perbedaan pada penentuan hari raya Islam.

(8)

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Ilmu falak merupakan ilmu yang mempelajari lintasan benda-benda langit khususnya bumi, bulan dan matahari pada orbitnya masing-masing dengan tujuan untuk mengetahui posisi benda lagit antara satu dengan lainnya agar dapat diketahui waktu-waktu dan permukaan bumi. Dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai jalan yang dilalui oleh benda langit dalam peredaranya mengelilingi benda langit lain yang lebih besar gravitasinya.1

Berdasarkan peradaban Islam pada hakikatnya ilmu falak yang berkembang dalam Islam sebenarnya muncul dari ilmu perbintangan sebagai warisan dari bangsa Yunani dan Romawi. Pada masa Rasulullah saw., ilmu falak mengalami perkembangan yang signifikan. Karena saat itu umat Islam hanya di sibukkan jihad perang dan menyebarluaskan ajaran Islam ke seluruh bagian dunia sehingga aktivitas untuk mengkaji tentang astronomi sangat kurang sekali, jika ada, itu hanyalah sebatas pengetahuan-pengetahuan langsung yang diberikan Allah swt.

kepada Nabi Muhammad saw. Pada masa itu dalam menentukan waktu salat dan hari raya Islam umat Islam sudah mendapatkan petunjuk secara langsung dan detail dari Allah swt tanpa kajian secara ilmiah terlebih dahulu.

Setelah Islam sampai di luar Mekah dan Madinah, mulai para sahabat mengkaji khasanah ilmu falak dalam tinjauan Islam. Sehingga muncul salah satu cabang llmu astronomi, yaitu ilmu falak yang metode pembahasanya dan

1A. Kadir, Formula Baru Ilmu Falak (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), h. 26.

1

(9)

perkembangannya mengacuh kepada Al-Qur’an dan sunah Rasul. Ulama yang mengembangkan ilmu falak adalah Nashiruddin al-Thusi (1201-1274 M) seorang ahli falak yang telah membangun observatorium di Maragha atas perintah Hulagu.

Ia membuat tabel-tabel data astronomis benda-benda langit dalam observatorium dengan nama “Jadwal Al-Kaniyan”, tokoh falak yang sampai sekarang diikuti adalah Ulug Bek (1420 M) ahli astronomi asal Iskandaria dengan observatoriumnya yang banyak digunakan pada perkembangan ilmu falak masa selanjutnya.2

Ilmu falak juga memiliki kontribusi yang besar terhadap penentuan waktu dalam syariat Islam misalnya penentuan waktu salat, penentuan arah kiblat, penentuan awal puasa maupun hari raya baik itu Idul Fitri maupun Idul Adha.

Ilmu falak mempunyai peran tersendiri dalam penentuan hari raya. Terdapat dua metode yang pada umumnya digunakan oleh dua ormas besar di Indonesia yakni Nahdlatul Ulama (NU) dengan metode rukyat dan Muhammadiyah dengan metode hisab, Kementerian Agama menggabungkan dua metode itu melalui imkanur rukyat. Dalam kehidupan masyarakat, seringkali terdapat keresahan diakibatkan oleh perbedaan dalam menentukan hari raya Islam. Hal ini diakibatkan masyarakat belum paham metode penentuan hari raya Islam. Oleh karenanya, pemerintah berperan penting dalam penentuan dua hari raya tersebut, agar umat Islam tidak ragu dalam melaksanakan ibadah pada dua hari raya tersebut dan tidak meninggalkan polemik.

2Watni Marpaung, Pengantar Ilmu Falak (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), h.2.

(10)

Ilmu falak hadir menjembatani pengetahuan masyarakat terhadap penentuan hari raya Islam agar tidak muncul keresahan dalam masyarakat yang akan melahirkan perpecahan. Olehnya itu melalui skripsi ini penulis akan mengkaji tentang penentuan hari raya Islam dan implikasinya terhadap penentuan hari raya umat Islam baik hari raya Idul Fitri maupun hari raya Idul Adha.

Dari masa ke masa umat muslim berusaha mengaplikasikan faham keagamaan dalam bentuk berbagai ritual keagamaan sebagai sarana untuk mendekatkan diri pada Allah. Di antara ritual yang dilaksanakan umat muslim adalah perayaan hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha. Perayaan ini sangat penting karena dianjurkan oleh seluruh umat muslim untuk melaksanakan kedua hari raya tersebut. Umat muslim sangat dianjurkan untuk melaksanakan ibadah pada kedua hari raya Islam dengan menunjukkan persatuan seluruh umat muslim.

Pemerintah telah membentuk sebuah lembaga yang berwenang dan bertugas untuk menyatukan seluruh umat Islam yang ada di Indonesia. Lembaga tersebut adalah Badan Hisab dan Rukyah (BHR) Kementerian Agama Republik Indonesia. Kemenag melalui (BHR) menggabungkan dua metode tersebut dalam penetuan hari raya umat Islam, yaitu dengan metode hisab dan rukyah. Metode hisab yang digunakan adalah metode hisab awal bulan “Ephemeris Hisab Rukyah”. Kemenag RI. menggunakan kriteria imkanur rukyah atau disebut dengan Visibilitas Hilal dalam melakukan rukyah hilal. Kriteria imkanur rukyah yang dipakai oleh pemerintah adalah kriteria yang disepakati oleh Menteri- menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura,

(11)

(MABIMS). Musyawarah ini memutuskan bahwa pada saat matahari terbenam, ketinggian hilal di atas kepala minimum dua derajat, dan sudut elogasi antara hilal dan matahari minimum tiga derajat, dan umur hilal saat matahari terbenam lebih delapan jam dihitung saat ijtima, sehingga cahaya hilal telah mencapai standar kemungkinan hilal dapat dilihat. Kriteria tersebut dibuat berdasarkan penggunaan rukyah hilal selama puluhan tahun.

Perbedaan pendapat sering terjadi pada saat penentuan hari raya Islam seperti pada awal bulan Ramadan dan hari raya baik hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha. Hal ini disebabkan perbedaan pemahaman dan metode dalam penentuan kedua hari raya tersebut. Perbedaan ini terjadi sejak dulu, dan perbedaan tersebut tidak hanya terjadi pada dua organisasi besar yang ada di Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah akan tetapi terjadi juga pada kelompok- kelompok masyarakat yang ahli dalam penentuan dua hari raya tersebut.

Persatuan umat berpengaruh terhadap umat muslim terutama bersatu dalam hal ibadah dalalm perayaan dua hari besar, umat muslim wajib melaksanakan perayaan dua hari besat tesebut. Kesatuan dalam hal ibadah adalah suatu hal yang positif sehingga dapat berpengaruh dalam umat muslim yang merasakan suatu kebersamaan dan tidak mengalami perpecahan antara sesama muslim. Dalam hal penentuan hari raya Islam, perbedaan pendapat antar satu ormas dengan ormas lainnya sangat mungkin terjadi. Ironisnya, jika perbedaan itu kemudian merusak hubungan silaturrahim antar sesama Muslim. Dasar inilah yang melatarbelakangi penulis mengangkat judul ini. Perbedaan pendapat adalah

(12)

hal yang lumrah. Tetapi, perbedaan itu tidak boleh merusak hubungan silaturrahim antar sesama umat Islam.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dikemukakan pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana penentuan hari raya Islam dan implikasinya terhadap persatuan umat? Pokok masalah ini dijabarkan dalam beberapa sub masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana penentuan hari raya umat Islam?

2. Bagaimana metode yang digunakan dalam penentuan hari raya umat Islam?

3. Bagaimana implikasi penentuan hari raya Islam terhadap persatuan umat?

C. Pengertian Judul

Untuk memahami penentuan hari raya Islam terhadap persatuan umat dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Hari raya Islam terdiri dari dua hari raya yaitu hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha. Hari raya Idul Fitri merupakan hari kemenangan bagi umat Islam yang telah melakukan puasa sebulan penuh di bulan Ramadan dimana puasa merupakan latihan bagi umat Islam untuk menjaga hatinya, lisannya dan seluruh anggota tubuhnya sehingga pada hari kemenangan tersebut, umat manusia kembali dalam fitrahnya atau kembali suci.

Sedangkan hari raya Idul Adha biasa juga disebut hari raya kurban yang diperingati pada tanggal 10 Dzulhijjah yang biasa disebut dengan lebaran

(13)

haji. Pada tanggal 10 Dzulhijjah umat Islam melakukan ibadah haji di Mekkah dan di seluruh dunia umat Islam melaksanakan salat Idul Adha dan setelah itu melakukan penyembelihan kurban yang merupakan hewan ternak seperti sapi,unta, kambing dan domba. Hewan yang telah disembelih kemudian dibagikan dagingnya sesuai dengan ketentuannya.

2. Persatuan umat Islam, merupakan sekelompok umat yang diikat oleh akidah dan tauhid dan adanya konsep persaudaraan yang dibangun atas dasar keyakinan (ukhuwah Islamiyah). Islam memiliki budaya umum dan pandangan serupa tentang dunia. Umat Islam hanya memiliki satu Tuhan yaitu Allah swt. dan diwajibkan taat kepada rasulnya yaitu nabi Muhammad saw. dan mentaati segala perintah Allah dengan berpedoman kepada Kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. Umat Islam ketika melaksanakan salat, baik salat fardu maupun sunah seperti salat Idul Fitri dan Salat Idul Adha harus menghadap ke kiblat lebih tepatnya ka’bah.3 Maksud penelitian dari penentuan hari raya dan implikasinya terhadap persatuan umat Islam adalah bagaimana keterkaitan hubungan dan dampak penentuan hari raya itu pada persatuan umat Islam, sehingga meski terdapat perbedaan jika tak mungkin lagi dihindari- tidak merusak ukhuwah Islamiyah umat Islam.

3Andi Intan Cahyani, Problematika Penerapan Produk Pemikiran Islam (Makassar:

Alauddin University Press, 2016), h.73.

(14)

D. Kajian Pustaka

Dari beberapa penelusuran terhadap penelitian sebelumnya yang telah dilakukan penulis, tidak ditemukan penelitian secara spesifik yang sama dengan penelitian ini. Namun, beberapa penelitian yang memiliki pembahasan yang berkaitan dengan objek penelitian, akan diuraikan sebagai bahan kajian.

1. Fatmawati dalam buku Ilmu Falak mengulas tentang Hisab dan Rukyat, dasar hukum, faktor penyebab terjadinya perbedaan dalam penetapan awal ramadhan, solusi dari problematika hisab dan rukyat dalam penentuan awal Ramadhan. Buku ini hanya mengulas tentang metode hisab dan rukyat beserta implikasi perbedaan metode ini pada penentuan awal Ramadhan.

Tidak sama sekali menyinggung tentang bagaimana implikasinya pada persatuan umat Islam.4

2. Imam Ghozeli, Data Dan Kesimpulan Idul Adha Hisab Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Muhammadiyah, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, 2016.5 Imam Ghozeli dalam penelitiannya mengemukakan bahwa data dan kesimpulan Idul Adha hisab majelis tarjih dan tajdid pimpinan Muhammadiyah merupakan lampiran dari maklumat pimpinan pusat Muhammadiyah didasarkan pada hisab hakiki dengan kriteria wujudul hilal. Hasil perhitungan tersebut, khususnya mengenai terbenamnya marahari pada siang hari dan tinggi bulan menggunakan

4Fatmawati, Ilmu Falak (Cet. 1: Bone: Syahadah, 2016), h. 200-220.

5Imam Ghozeli, “Pandangan Muhammadiyah Dalam Penetapan Hari Raya Idul Adha (Studi Kasus Tahun 1436 H./2015 M.), Skripsi, Universitas Islam Negeri Walisongo

Semarang, 2016. Lihat pada http://eprints.walisongo.ac.id/5765/. (diakses 10 Agustus 2020)

(15)

marjak Yogyakarta dengan kordinat: lintang(Φ) =-07˚48’ dan Bujur (λ) = 110˚21’ BT. Kaitan antara pembahasan tentang data dan kesimpulan Idul Adha hisab Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Muhammadiyah dengan penentuan hari raya Islam dan implikasinya terhadap persatuan umat yaitu keduanya membahas tentang hari raya Islam yaitu hari raya Idul Adha dengan pendapat pimpinan ormas Muhammadiyah tentang pelaksanaan dan penentuan hari raya Islam terkhusus hari raya Idul Adha dengan mengunakan dua metode yaitu metode hisab dan rukyat. Namun Muhamadiyah dengan menentukan hari raya lebih mengutamakan metode hisab. Perbedaan antara penulis sebelumnya adalah dengan pembahasan mengenai kedua hari raya, sedang penulis sebelumnya hanya membahas tentang hari raya Idul Adha dalam pandangan dan metode Muhammadiyah.

Termasuk dalam kajian penelitian ini adalah penentuan hari raya yang dilakukan oleh ormas-ormas besar lainnya.

3. Eva Rusdiana Dewi dalam penelitiannya yang berjudul Studi Analisis terhadap Pandangan Nahdlatul Ulama tentang Ulil Amri dan Implikasinya Penentuan Awal Ramadan, Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha6 mengemukakn bahwa untuk penetapan hari raya adalah kewenangan pemerintah. Kebijakan yang diambil seorang pemimpin di semua kepemimpinannya untuk kebaikan umatnya atau Rakyat yang dipimpinya, maka pemerintah yang berwenang dalam hal pelaksanaan hari raya Islam

6Eva Rusdiana Dewi, “Studi Analisis terhadap Pandangan Nahdlatul Ulama tentang Ulil Amri dan Implikasinya Penentuan Awal Ramadan, Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha”, Skripsi, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, 2017. Lihat pada http://eprints.walisongo.ac.id/7797/ (diakses 15 Agustus 2020)

(16)

harus menetapkan waktu pelaksanaan yang akurat dan tepat. Ormas Islam Nahdlatul Ulama memahami kata ulil amri dengan makna bahwa ulil amri memiliki urusan atau memiliki otoritas dan mewakili masyarakat dalam suatu pekerjaan atau urusan misalnya dalam penetapan hari raya Islam.

Dengan demikian, dalam penetapan hari raya Islam menurut Nahdlatul Ulama Ulil Amrinya adalah Kementerian Agama. Kementerian Agama mewakili Nadlatul Ulama dalam hal penetapan hari raya Islam. Adapun kaitan antara pembahasan tentang penetapan hari raya Idul Fitri dan Idul adha dengan penentuan hari raya Islam dan implikasinya terhadap persatuan umat yaitu keduanya membahas tentang penetapan dan penentuan hari raya Islam dalam penentuan pemerintah, maka pemerintah yang berwenang dalam hal pelaksanaan dan penentuan kedua hari raya tersebut harus menetapkan waktu pelaksanaan yang akurat sehingga masyarakat tidak ragu dalam melaksanakan salat Id. Adapun perbedaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian ini adalah jikalau penelitian sebelumnya hanya membahas tentang penetapan dua hari raya Islam, maka penelitian ini menghubungkannya dengan persatuan umat yang dilahirkan dari penyatuan hari raya tersebut.

(17)

4. Hamda Sulfinadia dalam tulisannya tentang Perbedaan Penetapan Idul Adha dan Implikasinya terhadap Pelaksanaan Kurban7 mengemukakan bahwa perbedaan dalam penetapan awal dan akhir Ramadhan dengan mengemukakan 3 (tiga) cara, yaitu Rukyatul Hilal, menyempurnakan bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 (tiga puluh) hari, dan memperkirakan terbitnya hilal. Uraian ini juga dikemukakan pada penelitian ini dengan lebih mempertajam uraian ayat-ayat dan hadis yang jadi acuan. Secara lebih khusus, Hamda Sulfinadia memfokuskan tulisannya pada implikasi perbedaan penetapan Idul Adha pada pelaksanaan kurban. Sementara penulis memfokuskan pada impilkasi perbedaan penentuan hari raya tersebut dengan persatuan umat Islam.

5. Asri Wulandari dalam tulisannya tentang Nilai-Nilai Islam Yang Terkandung Dalam Tradisi Ziarah Kubur Pada Hari Raya Idul Fitri Kec.

Tanjung Batu Kel. Tanjung Batu Kab. Ogan Ilir8 mengemukakan tentang ziarah kubur yang dilakukan masyarakat Kelurahan Tanjung Batu Kecamatan Tanjung Batu Kabupaten Ogan Ilir pada hari raya Idul Fitri.

Ziarah kubur pada hari raya Idul Fitri dianggap oleh masyarakat sebagai bulan dimana para arwah dibebaskan dari azab kubur, sehingga dianggapnya bahwa ziarah kubur di hari raya adalah hari yang baik. Salah satu cara memberikan manfaat kepada orang lain, khususnya keluarga yang

7Hamda Sulfinadia, “Perbedaan penetapan Idul Adha Adha dan Implikasinya terhadap Pelaksanaan Kurban”, Jurnal Fitrah, Vol. 5, No. 1 (2014), h. 1-14. Lihat pada http://jurnal.iain- padangsidimpuan.ac.id/index.php/F/article/view/335 (diakses 12 Agustus 2020)

8Asri Wulandari, “Nilai-Nilai Islam Yang Terkandung Dalam Tradisi Ziarah Kubur Pada Hari Raya Idul Fitri Kec. Tanjung Batu Kel.Tanjung Batu Kab. Ogan Ilir”, Skripsi, UIN Raden Patah Palembang (2016). Lihat pada http://perpus.radenfatah.ac.id (diakses 12 Agustus 2020)

(18)

meninggal lebih dahulu yaitu dengan cara menziarahi makamnya dengan mendoakan agar Allah memberikan kesenangan di alam basrah. Tulisan ini memuat pelaksanaan hari raya untuk kemaslahatan, sama dengan penelitian ini. Akan tetapi, penelitian ini lebih difokuskan pada penentuan hari raya Islam dan implikasinya terhadap persatuan umat Islam.

6. Maskufa dan Wahyu Widiana, Titik Kritis Penentuan Awal Puasa Dan Hari Raya Di Indonesia, Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung RI., 2012.9 Dalam tulisan ini dikemukakan titik kritis penentuan awal puasa dan hari raya di Indonesia terdiri dari empat mazhab besar. Yakni, mazhab rukyah hilal, mazhab hisab wujudul hilal, mazhab imkanur rukyah, dan mazhab rukyah global. Empat mazhab tersebut mempunyai kriteria masing-masing yang berbeda-beda dalam memastikan saat mulai awal puasa dan penentuan hari raya Islam. Akan tetapi, bila keadaan hilal sudah di bawah dan melewati batas minimal imkanur rukyah maka perbedaan tidak akan terjadi. Kaitan antara penulisan diatas dengan tulisan ini adalah masing-masing membahas tentang ketentuan dan penetapan hari raya Islam. Yakni hari raya Idul Fitri dan hari Raya Idul Adha. Sedangkan perbedaanya adalah tulisan di atas lebih banyak membahas tentang bagaimana pemerintah menyatukan umat Islam dengan menyamakan hari rayanya. Sedangkan penulisan sebelumya lebih

9Maskufa dan Wahyu Widiana, Titik Kritis Penentuan Awal Puasa Dan Hari Raya Di Indonesia, Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung RI., 2012), h. 71-79, lihat pada https://media.neliti.com/media/publications/12409-ID-titik-kritis-penentuan-awal-puasa- dan-hari-raya-di-indonesia.pdf (diakses 15 Agustus 2020)

(19)

membahas masalah penentuan awal bulan Ramadan dan menggunakan beberapa mazhab.

7. Faisal Yahya Yacob dalam Jurnal Islam Futura “Metode Penentuan Awal Ramadan Dan Hari Raya Menurut Ulama Dayah Aceh”.10 Kelompok Dayah Aceh menggunakan pemahaman tekstual terhadap hisab dan rukyah dalam menentukan hari raya di Aceh. Perbedaan waktu dalam pelaksanaan puasa Ramadan dan hari raya mewarnai keadaan masyarakat Aceh dan perbedaan tersebut tidak ssaja terjadi pada tingkat nasional, seperti ormas- ormas Islam dan pemerintah. Akan tetapi juga terjadi di kalangan masyarakat Aceh. Kaitan dan perbedaan dari penelitian diatas adalah masing-masing membahas masalah penentuan hari raya Islam baik hari raya Idul Fitri maupun hari raya Idul adha. Perbedaannya adalah penelitian ini menghubungkan dampak perbedaan hari raya pada persatuan umat, sedang Faisal Yahya hanya membahas masalah penentuan awal puasa ramadan dan penentuan hari raya Islam (lebaran) dalam pandangan ulama Dayah Aceh

8. Syaugi Mubarak Seff dalam buku Metode Penetapan Hari Raya Idul Fitri Di Indonesia Dalam Tinjauan Hukum Islam11 bahwa penentuan awal Ramadan dan penetapan hari raya Islam adalah merupakan masalah penting

10Faisal Yahya Yacob, “Metode Penentuan Awal Ramadan Dan Hari Raya Menurut Ulama Dayah Aceh”, Jurnal Islam Futura, Vol. 16, No. 1, Agustus (2016), h. 1-29.

https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/Islamfutura/article/view/741/1137 (diakses 15 Agustus 2020)

11Syaugi Mubarak Seff, Metode Penetapan Hari Raya Idul Fitri Di Indonesia Dalam Tinjauan Hukum Islam (Cet. II; Yogjakarta: Aswaja Pressindo, 2016), h. 47-55 dalam http://idr.uin-

antasari.ac.id/5245/1/Metode%20Penetapan%20Hari%20Raya%20Idul%20Fitri%20Di%20Indone sia%20Dalam%20Tinjauan%20Hukum%20Islam.pdf (diakses 17 Agustus 2020)

(20)

karena berkaitan dengan ibadah kepada Allah swt., yaitu ibadah puasa dan salat hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) dimana penetapannya berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis. Metode yang digunakan dalam penetapan adalah metode hisab dan rukyah yang sering dgunakan oleh dua ormas besar di Indonesia. Syaugi Mubarak Seff lebih jauh menguraikan dalam bukunya tentang kewenangan ulil amri dalam penetapan hari raya serta wajibnya masyarakat taat pada hasil keputusan pemerintah. Perbedaan dalam penulisan di atas adalah masalah persatuan umat dalam pelaksanaan hari raya umat Islam.

9. Ahmad Khairul Fata dan M. Ainun Najib Kontestualisasi Pemikiran KH.

Hasyim Asy’Ari Tentang Pemersatuan Umat12 bahwa konsep persaudaraan yang didirikan atas dasar keyakinan itulah persatuan umat yang mengikat kelompok-kelompok masyarakat, misal dalam pelaksanaan ibadah hari raya baik hari raya Idul Fitri maupun hari raya Idul Adha. Konsep yang harus dibangun dalam mempersatukan umat yaitu dengan cara memberikan masyarakat atau umat muslim suatu pemahaman untuk saling menjaga kebersamaan agar sering menciptakan kesatuan, seperti dalam hal pelaksanaan ibadah yakni kedua hari raya tersebut. Tulisan Ahmad Kahirul Fata dan M. Ainun Najib ini mengkaji gagasan K. H. Hasyim Asy’ari secara khusus mengenai kontekstualisasi pemikiran tentang persatuan umat.

Sedang penelitian ini tidak fokus mengkaji satu pandangan ulama saja,

12Ahmad Khairul Fata dan M. Ainun Najib, “Kontestualisasi Pemikiran KH. Hasyim Asy’Ari Tentang Pemersatuan Umat”, Jurnal Miqot, Vol. 38, No. 2 (2014);

http://jurnalmiqotojs.uinsu.ac.id/index.php/jurnalmiqot/article/view/65. (diakses 17 Agustus 2020)

(21)

serta mengkaji implikasinya sebagai dampak dari perbedaan pendapat dalam menentukan hari raya.

Berdasarkan penelusuran penulis di atas, maka dapat disimpukan bahwa tidak ada karya yang sama persis dengan karya lainya dengan penelitian ini.

E. Metodologi Penelitian

Metodologi penelitian menjelaskan tahap-tahap penelitian yang meliputi:

jenis penelitian, pendekatan dan sumber data dan lain-lain.13 1. Jenis penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (library research) deskriptif kualitatif yaitu penelitian dengan mengumpulkan data atau karya tulis ilmiah yang berkaitan dengan objek penelitian atau telaah untuk memecahkan suatu masalah yang berdasarkan penelaahan yang dilakukan secara sistematis dan mendalam tehadap bahan-bahan pustaka yang relevan dengan judul penelitian.

Metode kualitatif mencakup :

a. Metode Induktif, yaitu suatu proses berfikir yang bertolak dari suatu atau sejumlah data spesifik untuk menurunkan suatu kesimpulan dengan cara generalisasi atau analogi atau hubungan kausal.

b. Metode Deduktif, yaitu suatu proses berfikir yang bertitik tolak dari suatu preposisi yang telah ada, untuk memperoleh suatu preposisi baru sebagai kesimpulan dengan cara silogisme.

13Muljono Damopolii, Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah (Makalah, Skripsi, Tesis, Disertasi, dan Laporan penelitian) (makassar: Alauddin Press, 2013) , h.15.

(22)

c. Metode komparatif, yaitu dengan menguraikan persamaan dan perbedaan kedua obyek/data yang diteliti dan dianalisis.

Ketiga metode ini digunakan untuk menganalisis metode penentuan hari raya dan implikasinya terhadap persatuan umat Islam.

2. Pendekatan penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

a. Pendekatan syar’i adalah pendekatan yang dilakukan dengan cara mengutip ayat Al-Qur’an dan hadis terkait penentuan hari raya dan persatuan umat.

b. Pendekatan falak, yaitu pendekatan yang dilakukan dengan menggunakan metode-metode ilmu Falak dalam penentuan awal dan akhir waktu yang akan berimplikasi pada penetapan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

3. Sumber Data

Dalam penelitian kualitatif setidaknya ada dua sumber data, yaitu:

a. Data Primer

Data primer merupakan data langsung yang dikumpulkan oleh penulis dari sumber-sumber asli, seperti ayat-ayat Al-Qur’an, hadis dan pandangan ulama tentang penentuan hari raya dan persatuan umat.

b. Data Sekunder

Sumber data penelitian ini diperoleh dari data primer dan data sekunder.

Data primer adalah data utama yang penting dan relevan dengan objek kajian. Jadi, data primer merupakan data yang diprioritaskan untuk

(23)

melengkapi hasil penelitian. Sedangkan data sekunder adalah data pendukung yang juga tetap memiliki relevansi terhadap objek kajian.

4. Metode Pengumpulan Data

Sebelum melakukan analisis terhadap bahan-bahan penelitian, maka dilakukan pengumpulan data dengan beberapa tahapan, yaitu :

a. Identifikasi, yakni mengelompokkan bahan-bahan penelitian kemudian merelevensikan dengan isu yang akan diteliti.

b. Reduksi, yakni proses klarifikasi terhadap materi penelitian secara lebih rinci dan relevan terhadap isu yang akan diteliti agar mempermudah pembaca memahaminya.

c. Editing, yakni proses penyusunan materi dan bahan penelitian yang telah direduksi terhadap kaidah-kaidah penulisan karya tulis.

Membuat kesimpulan, yakni menjawab rumusan masalah berdasarkan konsep- konsep yang telah dirincikan dalam pembahasan sehingga menghasilkan sebuah preskripsi sebagaimana orientasi dari penelitian ini.

5. Metode Pengolahan dan Analisis Data

Dalam mengolah dan menganalisis data dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode kualitatif, yang mencakup :

a. Metode Induktif, yaitu suatu proses berfikir yang bertolak dari suatu atau sejumlah data spesifik untuk menurunkan suatu kesimpulan dengan cara generalisasi atau analogi atau hubungan kausal.

(24)

b. Metode Deduktif, yaitu suatu proses berfikir yang bertitik tolak dari suatu preposisi yang telah ada, untuk memperoleh suatu preposisi baru sebagai kesimpulan dengan cara silogisme.

c. Metode komparatif, yaitu dengan menguraikan persamaan dan perbedaan kedua obyek/data yang diteliti dan dianalisis.

F. Tujuan Dan Kegunaan penelitian 1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rusmusan masalah yang telah dibuat, maka dapat diketahui tujuan penelitian sebagai berikut

a. Untuk mengetahui metode penentuan hari raya Islam b. Untuk mengetahui konsep persatuan umat dalam Islam.

c. Untuk mengetahui implikasi penentuan hari raya terhadap persatuan umat.

2. Kegunaan penelitian

Adapun kegunaan penelitian di bawah ini diklasifikasikan berdasarkan kegunaan praktis dan kegunaan akademik sebabagai berikut:

a. Kegunaan praktis

Sebagaimana bahan masukan bagi pihak yang berkompeten dalam penentuan hari raya, khususnya pemerintah yang berperan penting dalam penentuan hari raya Islam terhadap persatuan umat.

b. Kegunaan akademik

Sebagai sarana memperluas wawasan bagi para pembaca terkhusus bagi para peneliti selanjutnya mengenai penentuan hari raya Islam terhadap persatuan umat.

(25)

BAB III

METODE PENENTUAN HARI RAYA

Penanggalan hijriyah adalah salah satu penanggalan yang berlaku di Indonesia. Penanggalan hijriyah dimulai sejak persoalan terkait sebuah dokumen yang terjadi pada bulan Sya’ban di masa Umar bin Khattab. Atas dasar usulan Ali bin Abi Thalib, penanggalan hijriyah dihitung berdasarkan hijrah Nabi Muhammad saw. Dengan demikian penanggalan hijriyah itu diberlakukan mundur sebanyak 17 tahun.

Penanggalan Hiriyah didasarkan pada peredaran bulan mengelilingi bumi. Satu kali edar lamanya 29 hari 12 jam 44 menit 2,5 detik. Untuk menghindari adanya pecahan maka ditentukan bahwa umur bulan ada yang 30 hari dan ada pula 29 hari, yaitu untuk bulan-bulan ganjil berumur 30 hari, sedangkan bulan genap berumur 29 hari, kecuali pada bulan ke 12 (Dzulhijjah) pada tahun kabisat berumur 30 hari. Setiap 30 tahun terdapat 11 tahun kabisat (Panjang = berumur 355 hari) dan 19 tahun basithah (pendek = berumur 354 hari).

Tanggal 1 Muharram tahun 1 Hijriyah ada yang berpendapat jatuh pada hari Kamis tanggal 15 Juli 622 M. Penetapan ini berdasarkan hisab, sebab irtifa’ hilal pada hari Rabu 14 Juli 622 M sewaktu matahari terbenam sudah mencapai 5’ 57”. Pendapat lain mengatakan 1 Muharram 1 Hijriyah jatuh pada hari Jumat tanggal 16 Juli 622 M. apabila permulaan bulan didasarkan pada rukyah, karena sekalipun posisi hilal pada menjelang 1

18

(26)

Muharram 1 Hijriyah sudah cukup tinggi, namun waktu itu tidak satupun didapati laporan hasil rukyat.14

Adanya perbedaan dalam penetapan awal bulan khususnya pada perayaan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha (Ramadan, Syawal dan Dzulhijjah) dikarenakan dalam penentuan awal bulan terdapat beberapa metode yang digunakan, yaitu:

A. Metode Hisab

1. Pengertian Hisab

Perkataan Hisab berasal dari kata kerja hasiba (Min af’alil qulub).

Kata ini dalam tata Bahasa Arab dinamakan fi’il qalbi (kata kerja hati) karena dimengerti batin dengan indera. Arti harfiahnya bisa menduga, kadangkala yakin, dan bahkan selalu digunakan untuk makna menghitung (bilangan). Sementara kata falaki adalah bentuk isim (kata benda) yang ditambahka ya nisbat. Asalnya al-falak (Astronomi), sesudah nisbat menjadi falaki. Yang demikian itu dikarenakan bangsa Arab apabila hendak menyifati sesuatu maka pada isim yang belum memiliki makna sifat diberi ya nisbat, supaya mengandung arti sifat. Jadi, secara harfiah kata falaki berarti astronomis (bersifat astronomi).15

14Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak Dalam Teori Dan Praktik: Perhitungan Arah Kiblat, Waktu Shalat, Awal Bulan, dan Gerhana (Yogyakarta: Buana Pustaka, 2004), h.112.

15A.Kadir, Formula Baru Ilmu Falak Paduan lengkap dan Praktis: Hisab Arah Kiblat, Waktu-Waktu Shalat dan Gerhana (Jakarta: Bumi Aksara, 2012),h.62.

(27)

Hisab merupakan perhitungan secara matematis dan astronomis untuk penentuan posisi bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan pada kelender hijriah. Metode hisab merupakan solusi dan alternatif melihat perkembangan zaman dan kebutuhan mendesak umat menusia dalam menjalangkan aktivitas kehidupan. Perhitungan Astronomi saat ini, hisab dapat membantu kapan konjungsi geosentris terjadi dan kapan eksitensi hilal.16

Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa ilmu hisab adalah sebagian ilmu yang digunakan untuk mengetahui posisi benda-benda langit seperti matahari, bumi, dan bulan. Pembahasanya tersebut terbatas pada hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah umat Islam seperti penentuan arah kiblat, awal waktu salat, hisab awal bulan Qomariyah dan lain sebagainya. Dengan ilmu hisab, umat Islam dapat memastikan ke arah mana kiblat bagi suatu tempat di permukaan bumi yang jaraknya jauh dari mekkah. Dengannya pula umat Islam dapat mengetahui tibanya waktu salat atau terbenamnya matahari untuk berbuka puasa.17 Oleh sebab itu, sepanjang umat Islam masih diperintahkan untuk melaksanakan ibadah salat, puasa, haji, dan ibadah-ibadah lainya. Maka sepanjang itu pula umat Islam menghajatkan kepada perhitungan waktu, hari, dan bulan. Hisab falaki merupakan perhitungan astronomis mengenai posisi bulan dan matahari untuk memperkirakan awal bulan hijriah dengan mencari saat ijtima (kongjungsi), serta posisi bulan pada waktu matahari terbenam tiap- tiap tanggal 29 bulan yang ada, mulai dari bulan Muharram sampai kepada bulan Dzulhijjah.

16 Muhammad Hadi Bashori, Pengantar Ilmu Falak (Jakarta Timur:pustaka Al-Kautsar, 2015), h. 198.

17 Holis, Hisab Arah Kiblat (Jakarta: Duta media, 2018), h.13.

(28)

2. Dasar Hukum Metode Hisab

Segala sesuatu yang menyangkut masalah ibadah, tentu dibutuhkan landasan yang menjadi acuan untuk mengambil suatu kebijakan atau keputusan, oleh karena itu seperti yang telah penulis katakan sebelumya bahwa metode hisab juga memiliki landasan dalam Al- Qur’an. Diantaranya sebagai berikut:

ٌَُٕحَثْسٌَ ٍكَهَف ًِف ٌّمُك َشًََقْنأَ َسًَّْشنأَ َسآََُّنأَ َمٍَّْهنا َقَهَخ يِزَّنا ََُْٕٔ

( ٣٣ )

Terjemahnya:

Dan dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya. (Q.S Al-Anbiya: 33)

َباَسِحْنأَ ٍٍَُِِّسنا َدَذَع إًَُهْعَرِن َلِصاََُي َُِسَّذَقَٔ اًسَُٕ َشًََقْنأَ ًءاٍَِظ َسًَّْشنا َمَعَج يِزَّنا َُْٕ

ًٌََُٕهْعٌَ ٍوَْٕقِن ِخاٌََا ُمِّصَفٌُ ِّقَحْناِت لاِإ َكِنَر ُ َّاللَّ َقَهَخ اَي

( ٥ )

Terjemahnya:

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak[669]. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (Q.S. Yunus: 5).18

18 Kementerian Agama RI, Al-Fattah (Bandung: CV Mikraj Khazana Ilmu, 2011), h. 208.

(29)

ُسًَّْشنا ُشًََقْنأَ

ٌٍاَثْسُحِت (

٥ )

Terjemahnya:

Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. (Q.S. Ar-Rahman:

5).19

Selain ayat dan Al-Qur’an di atas masih banyak lagi dalil-dalil yang berkaitan dengan metode hisab, oleh karena itu penganut metode hisab mereka beranggapan bahwa metode hisab sangat efektif untuk dijadikan motode dalam penetapan awal bulan Ramadan dan hari raya, mengingat kekurangan dari pada metode rukyat yang ketika terjadinya cuaca mendung atau tertutup awan.

Metode hisab dalam penentuan awal bulan qamariah terbagi menjadi beberapa macam, yaitu:

a. Hisab Urfi

Hisab urfi merupakan istilah yang terdiri dari dua kata yakni

“hisab” dan “urfi”. Hisab sebagaimana telah dijelaskan diatas yaitu dapat diartikan sebagai sebuah sistem perhitungan sedangkan urfi suatu yang telah dikenal dan telah menjadi kebiasaan bagi masyarakat. hisab urfi adalah metode perhitungan untuk penentuan awal bulan Qomariyah dengan berpatokan tidak pada gerak hakiki atau gerak sebenarnya dari benda-benda lagit. Akan tetapi

19Kementrian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahanya (Surabaya:

Halim, 2013).h. 324.

(30)

perhitungan itu didasarkan kapada rata-rata gerak bulan, bumi, mengelilingi matahari dengan mendistribusikan jumlah hari kepada bulan-bulan Qomariyah secara berselang-seling antara bulan bernomor ganjil dan bulan bernomor urut genap dengan keadaan- keadaan tertentu. Perhitungan penanggalang dengan hisab urfi didasarkan kepada peredaran rata-rata bulan, dan bumi mengelilingi matahari dan ditetapkan secara konvensional. Sistem hisab ini dimulai sejak ditetapkanya acuan untuk menyusun kelender Islam.20

Sistem hisab urfi sama seperti kelender syamsiyah, bilangan hari pada tiap tahunnya berjumlah tetap kecuali bulan tertentu pada tahun-tahun tertentu jumlahnya lebih panjang satu hari. Lama hari pada tiap bulanya menurut sistem ini mempunyai aturan yang tetap dan beraturan, yaitu untuk aturan yang bernomor urut ganjil berusia 30 hari seperti Muharram, Rabiul Awal, Rajab, Ramadan, dan Dzulqa’dah. Sedangkan bulan yang bernomor urut genap berjumlah 29 hari seperti Shafar, Rabiul Akhir, Jumadi Akhir, Sya’ban, Syawal, dan Dzulhijjah 29/30 hari.21

Hisab urfi tetap dapat dipakai sebagai standar jatunya tanggal Masehi untuk tanggal 29 bulan Qomariyah yang dari tanggal itu akan dilakukan hisab hakiki bagi untuk tanggal 1 bulan Qomariyah

20 Muhammad Hadi Bashori, Berpuasa Berlebaran Bersama, (Jakarta Timur: Pustaka Al- kautsar, 2016), h.143.

21 Rina Ulfatul Hasanah, Buku Pintar Muslim Dan Muslimah (Bandung: Medpress digital, 2010), h. 188.

(31)

selanjutnya. Selain itu hisab urfi hanya digunakan untuk menentukan haul zakat. Karena dalam penentuan haul zakat, baik menurut hisab urfi maupun menurut hisab hakiki jumlah harinya sama dalam setahun sebanyak 354 hari untuk tahun pendek (basitah) dan 355 hari untuk tahun panjang (kabisah).22

b. Hisab Hakiki

Hisab hakiki adalah metode penentuan hari raya Islam yang dilakukan dengan menghitung gerak faktual bulan di langit sehingga permulaan dan berakhirnya bulan tersebut menempuh langka-langka sebagai berikut.

1. Menentukan terjadinya gurub al-syams pada suatu tempat.

2. Menentukan longitude matahari dan bulan serta data-data lain dengan kordinat ekliptika.

3. Menentukan ijtima’

4. Menentukan posisi matahari dan bulan dengan kordinat aquator, sehingga diketahui sudut lintasan matahari dan bulan pada saat matahari terbenam.

5. Posisi matahari dengan sistem kordinat equator itu di proreksikan ke vartikal, sehingga menjadi kordinat horison, sehingga dapat ditentukan posisi bulan pada saat matahari terbenam, (tinggi dan azimutnya).23

22 Susikna Ashari, Moderasi Beragama (Jawa Tengah: Pena persada, 2019), h.122.

23 Hadi Bashori, penanggalan Islam, (Jakarta: quantan prees, 2018), h. 231.

(32)

Menurut sistem ini, umur tiap bulan tidaklah tetap dan beraturan melaikan kadang- kadang tiap bulan berturu-turut umurnya 29 hari atau 30 hari, atau kadang-kadang pula bergantian seperti perhitungan hisab urfi.

Dalam praktek perhitungannya, sistem ini mengunakan data yang sebenarnya dari gerak bulan dan bumi, serta mengunakan kaidah-kaidah ilmu ukur segitiga bola.

Sistem hisab hakiki di anggap lebih sesuai dengan syara’, seban dalam prakteknya sistem ini memperhitungkan kapan hilal akan wujud.

Sehingga sistem inilah yang digunakan dalam menentukan hari raya Islam yang ada kaitanya dengan pelaksanaan ibadah umat Islam.24

Adapun sistem penentuan hari raya Islam berdasarkan hisab hakiki yang diikuti oleh para ahli hisab secara garis besar dapat dibagi menjadi dua macam, yakni:

1) Sistem Ijtima’, sistem Ijtima merupakan sistem penentuan awal bulan yang menjadik peristiwa ijtima sebagai dasar perhitungan pada setiap akhir bulan. Menurut sistem ini , apabila ijtima terjadi sebelum matahari terbenam, maka sejak itulah awal bulan baru mulai dihitung.

2) Sistem posisi hilal, merupakan sistem penentuan hari raya Islam perdasarkan perhitungan posisi hilal. Menurut sistem ini apabila pada saat matahari terbenam posisi hilal sudah berada di atas ufuk, maka sejak

24 Muhammad Hadi Bashori, Berpuasa Berlebaran Bersama, ( Jakarta: pustaka al- kautsar, 2016), h. 83

(33)

matahari terbenam itulah bulan awal baru mulai dihitung.25

Hisab hakiki tahqiqi hisab ini merupakan pengembangan dari sistem hisab taqiqi yang klaim oleh penyusunya memiliki tingkat akurasi yang sangat tinggi sehingga mencapai derajat yang sangat pasti. Derajat pasti ini sudah dibuktikan secara ilmia dengan menggunakan sistem komputerisasi sehingga bilangan angka tidak ada yang terpotong.26

Hisab kontemporer/modern, sistem hisab ini menggunakan alat bantu komputer yang canggih dengan rumus-rumus algoritma. Sebenarnya, sistem hisab ini dilakukan oleh program komputer yang telah menjadi softwere dengan tingkat ketelitian yang lebih tinggi.27

Praktek perhitungannya, hisab hakiki tersebut menggunakan data yang sebenarnya dari gerak bulan dan bumi serta mempergunakan kaedah-kaedah ilmu ukur segitiga bola. Hisab hakiki ini berlaku untuk menentukan tanggal satu bulan Qamariyah yang ada hubungannya dengan ibadah umat Islam dan juga untuk menentukan terjadinya gerhana matahari dan gerhana bulan.28

25Hudi, Ilmu Falak Waktu Salat Dan Arah Kiblat (Jepara: UNISNU press, 2019), h. 114.

26 Farid Surkanda, 100 Masalah Hisab (Jakarta: gema insani, 2015), h. 33.

27 Yusuf Qardawi, Fatwa-Fatwa Kontemporer ( Jakarta: gema insani, 2008), h.307.

28 Muhammad Hadi Bashori, Bagimu Rukyatmu Bagiku Hisabku (Jakarta:pustaka al- kautsar, 2016), h. 17.

(34)

c. Hisab taqribi

Hisab taqribi dalam bahasa arab, “taqrabu” berarti pendekatan atau aprokmasi. Hisab taqribi adalah sistem hisab yang sudah mengunakan kaidah-kaidah astronomis dan matematis, namun masih mengunakan rumus-rumus sederhana sehingga hasilnya kurang teliti. Sistem hisab ini merupakan warisan dari para ilmuan falak Islam masa lalu dan hingga sekarang sistem hisab ini menjadi acuan pembelajaran hisab ini berbagai pesantren di Indonesia. Hasil hisab taqribi akan muda dikenali pada saat penentuan ijtima dan tinggi hilal menjelang tanggal satu bulan Qomariyah, yaitu terlihatnya selisih yang cukup besar apabila dibandingkan dengan perhitungan astronomis modern.

Persis (Persatuan Islam) mengunakan metode hisab dalam penentuan hari raya Islam, mengikuti seorang ahli hisab persis, yaitu Kh.

Abdurrahmman. Pertama kali persis menerbitkan almanak pada tahun 1962. Baru pada tahun 1995 melalui muktamar, berdirila Dewan Hisab Rukyat (DHR). Metode hisab yang digunakan persis dalam penentuan hari raya Islam merujuk pemahaman dalam kata “rukyat” yang diartika tidak hanya melihat melalui mata kepala, melaikan juga melalui mata kepala, melainkan juga melalui ilmu pengartahuan.

Kriteria hisab yang digunakan persis dalam penentuan hari raya Islam adalah menggunakan kriteria imkanur rukyah. Sehingga, meski sama-sama menggunakan hisab dalam penentuan hari raya Islam, namun persis

(35)

memiliki perbedaan keyakinan dalam kriteria hisab dengan Muhammdiyah yang pemikirannya dalam hal penetapan hari raya Islam ini tertuan dalam keputusan majelis tarjih di Pencongan Wiradesa Pekalongan pada tahun 1972. Sistem hisab yang dipakai oleh PERSIS dalam pembuatan kelender dan penetapan hari raya Islam adalah menggunakan hisab ephimeris.

Kriteria hisab PERSIS sekarang sesungguhnya adalah metamorfosis dari perkembangan kriteria hisab yang pernah digunakan persis dalam penentapan hari raya Islam. Pada awalnya PERSIS mengunakan kriteria ijtima, qabla al-ghurub sebangai dasar penetapan hari raya Islam.

Kriteria hisab Muhammadiyah sesunggunhnya telah mengalami beberapa perubahan menyesuaikan perkembangan dan perbaikan kriteria.

Pada mulanya Muhammadiyah hanya menggunkan metode hisab hakiki dengan kriteria imkanur rukyat, kemudian beralih kepada kriteria ijtima qabla ghurub. Kriteria tanpa mempedulikan irtifa’hilal ini digunakan Muhammadiyah hingga tahun 1937 M/1356 H, kemudian berakhir pada tahun 1938M/ 1537 H. Muhammadiyah mulai menggunakan teori wujudul hilal.

Kriteria, penentuan awal bulan kelender Hijriyah sering kali mengalami perbedaan hari pelaksanakan ibadah seperti puasa Ramadan atau hari raya Idul Fitri. Di Indonesia, perbedaan tersebut pernah terjadi beberapa kali. Pada tahun 1992 (1412 H), ada yang melaksanakan hari raya pada hari jum’at (3 April) mengikuti Arab Saudi, yang sabtu (4 April)

(36)

sesuai hasil rakyat NU, dan ada pula yang melaksanakan pada hari minggu (5 April) berdasarkan pada metode imkanur rukyat. Penetapan awal syawal juga perna mengalami perbedaan pendapat pada tahun 1993dan 1994. Pada tahun 2011. Tetapi sidang itsbat memutuskan awal syawal adalah 30 Agustus 2011 juga mengalami perbedaan yang mengudang perhatian umat Islam. Tetapi sidang itsbat memutuskan awal Syawal berubah menjadi 31 Agustus 2011. Sementara itu, Muhammadiyah tetap pada pendirian semula awal Syawal jatuh pada 30 Agustus 2011. Hal yang sama terjadi pada tahun 2012, dimana awal bulan Ramadan ditetapkan Muhammadiyah tanggal 20 Juli 2012, sedangkan sidang itsbat menentukan awal bulan Ramadan jatuh pada tanggal 21 Juli 2012. Namun, pemerintah Indonesia mengkampayekan bahwa perbedaan tersebut hendaknya tidak dijadikan persoalan, tergantung pada keyakinan dan kemantapan masing-masing, serta mengedepankan toleransi suatu perbedaan.

Dalam metode penentuan awal bulan menggunakan metode hisab terdapat banyak buku atau sistem hisab awal bilan qamariah yang berkembang di Indonesia. Salah satu diantaranya adalah sistem Ephimeris Hisab Rukyat yang diterbitkan setiap tahun oleh Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama RI. Buku ini memuat data astronomis matahari dan bulan pada setiap jam dalam satu tahun. Data astronomi ini dapat pula dilihat dan dicetak melalui software program WinHisab versi 2.0.

(37)

Data matahari dan data bulan dalam Ephimeris Hisab Rukyat disajikan berdasarkan tanggal, bulan, dan tahun masehi, sehingga apabila akan menghitung waktu terjadinya ijtima’ (kongjungsi) yang biasanya terjadi pada hari ke 29 bulan qamariah (hijriyah) maka harus ditukar (dikonversi) terlebih dahulu dengan kelender syamsiah (masehi). Proses perhitungan awal bulan mempergunakan Ephimeris Hisab Rukyat ditempuh dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1) Menentukan awal bulan apa dan tahun berapa (hijriyah) yang akan dihitung.

2) Menentukan lokasi atau kota mana (diketahui lintang tempat, bujur tempat dan tinggi lokasi dari permukaan laut)

3) Menghitung tanggal 29 bulan (hijriyah) bulan sebelumnya bertepatan dengan tanggal berapa menurut kelender masehi dengan cara Konversi Tanggal atau perbandingan Tarik.

4) Siapkan data astronomis pada tanggal masehi tersebut atau sehari sebelumnya, yakni dimana terdapat FIB (fraction Illumination bulan) terkecil.

5) Melacak FIB terkecil pada tanggal ybs. Terjadi jam berapa (waktu Greenwich)

6) Menghitung sabap matahari (B) yaitu menghitung selisih (harga mutlak) antara data ELM (ELM = Ecliptitic Longitude matabart) pada jam FIB terkecil tsb dan pada satu jam berikutnya.

Catatan bila FIB terkecil terjadi pada jam 24 maka satu jam

(38)

berikutnya.

7) Menghitung Sabaq bulan (B), yaitu menghitung selisih (harga mutlak) antara data ALB (ALB = Apprent Longitude Bulan) pada jam FIB terkecil tsb dan pada satu jam berikutnya.

8) Menghitung jarak matahari dan bulan (MB) dengan rumus (MB=ELM-ALB)

(data ELM dan ALB pada jam FIB terkecil).

9) Menghitung sebak Bulan Mu’addal (SB) dengan rumus SB=B2-B1.

10) Menghitung Titil ijtima’ dengan rumus: Titik Ijtima’ dengan rumus:

Titik Ijtima’= MB:SB.

11) Menghitung waktu Ijtima’ (menurut GMT), dengan rumus:

Ijtima’=Waktu FIB +titik Ijtima’.

Apabila dikehendaki WIB tambahkan 7 jam (105 :15).

12) Memperkirakan saat matahari terbenam menurut GMT pada tanggal terjadinya ijtima’ untuk tempat yang telah ditentukan di atas.

Perkiraan ini dapat dilacak melalui Almanak Nautuka atau dihitung tersendiri sebagaimana menghitung waktu maghrib tanpa ikhtiyat.

(39)

13) Melacak data berikut ini dari Ephemeris pada saat diperkirakan matahari terbenam di atas (no.12) menurut waktu Greenwich dengan cara interpolasi.

14) Menghitung tinggi matahari (h) 15) Menghitung sudut waktu matahari (t)

16) Menghitung waktu matahari terbenam (Ghurub) menurut GMT 17) Menghitung Asesio Rekta Matahari (AR pada kolom, pada saat

matahari terbenam menurut waktu Greenwich dengan cara interpolasi.

18) Menghitung Asensio Rekta bulan pada saat matahari terbenam menurut waktu Greenwich dengan cara interpolasi.

19) Menghitung deklinasi bulan pada kolom, pada saat matahari terbenam menurut waktu Greenwich dengan cara interpolasi.

20) Menghitung semi diameter bulan pada kolom semi Diameter bulan pada saat matahari terbenam menurut waktu Greenwich dengan cara intrepolasi.

21) Menghitung Horisontal Parallaks Bulan pada saat matahari terbenam menurut waktu Greenwich dengan cara interpolasi.

22) Menghitung sudut waktu bulan(tc) 23) Menghitung tinggi hilal hakiki (hc) 24) Menghitung parallax bulan (pc) 25) Menghitung tinggi hilal (h)

26) Melacak refraksi dengan cara interpolasi pada tabel berdasarkan h.

(40)

27) Menghitung tinggi hilal mar’I (hc) 28) Menghitung nisful fudlah bulan (NFC) 29) Menghitung parallax NIsful Fudlah (PNF)

30) Menghitung setengan Busur siang bulan hakiki (SBSH) 31) Menghitung setengah busur siang bulan (SBSC).

32) Menghitung lama hilal (Lmc)

33) Menghitung waktu terbenam hilal (Terbc) 34) Menghitung arah matahari (A)

35) Menghitung arah hilal (Ac) 36) Menghitung posisi hilal (PH).

37) Menghitung arah terbenan hilal (ATc)

38) Menghitung luas cahaya hilal (FIc) lihat kolom pada saat matahari terbenan waktu Greenwich dengan cara interpolasi.

39) Menghitung lebar nurul hilal (NH) dengan satuan ukur ushbu’

dapat dihitung menggunakan rumus.

40) Menghitung kemiringan hilal (MRH)

41) Mengambil kesimpulan dari perhitungan yang telah dilakukan, yakni waktu terjadinya ijtima’ (hari, tanggal,jam). Waktu dan arah matahari terbenam, tinggi dan arah hilal terhadap titik barat dan terhadap matahari, lama hilal, ukuran tentang luas serta lebar cahaya hilal.29

29 Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak Dalam Teori Dan Praktik ( Yogyakarta: Buana Pustaka, 2004),h. 160.

(41)

B. Metode Rukyat

1. Pengertian Rukyat

Secara harfiah rukyah berarti melihat. Rukyah atau lengkapnya rukyatul hilal meripakan kegiatan atau usaha melihat hilal atau bulan sabit di langit (ufuk )sebelah barat sesaat setelah matahari terbenam menjelang awal bulan baru khususnya menjelang awal bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah untuk menentukan kapan bulan baru itu dimulai.30

2. Dasar Hukum Metode Rukyat

Dasar hukum dari metode rukyat hampir sama dengan metode hisab yakni Al-Qur’an dan Hadist, salah satu dari landasan yang paling mendasar dari metode rukyat adalah sebagai berikut:

Artinya

Janganlah kamu berpuasa sebelum kamu melihat hilal (Ramadhan) dan janganlah kamu berbuka sebelum kamu melihat hilal (Syawal).

Jika tertutup atas kalian maka takdirkanlah. (HR. Muslim dari Ibnu Umar).17

30Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak Dalam Teori dan Praktik, h.173.

(42)

Artinya

Pada riwayat disebutkan: Maka jika mendung terhadapmu, perkirakanlah sampai hari ke 30. Pada Imam Bukhari: Maka sempurnakanlah sampai hitungan 30 hari. (HR. Imam Muslim).

Selain dari hadis di atas, masih banyak lagi dalil-dalil yang berkaitan dengan motede hisab sebagai salah satu metode yang digunakan dalam penentuan awal bulan qomariyah, sehingga bagi para penganut metode rukyat juga memiliki landasan yang sangat kongkrit untuk memperthankan argumentasinya dalam penetapan awal bulan qomariyah.

3. Persiapan Dalam Pelaksanaan Rukyatul Hilal

Dalam pelaksanaan Rukyatul Hilal ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan, yaitu:

a. Membentuk Tim

Agar pelaksanaan rukyahtul hilal itu terkordinasi sebaiknya dibentuk suatu tim pelaksanaan rukyat. Tim ini hendaknya terdiri dari unsur-unsur terkait, misalnya Pengadilan Agama, Organisasi masyarakat, Ahli hisab, orang yang memiliki keterampilan rukyat, dan lain-lain. Atau dapat juga sebuah tim dari suatu organisasi masyarakat dengan kordinasi unsur-usur terkait tersebut.

Lebih lanjut tim ini hendaknya terlebih dahulu menetukan tempat untuk pelaksanaan rukyat dengan memilih tempat yang bebas pandangan maka ufuk barat dan rata serta merencanakan teknis pelaksanaan rukyat dan mempersiapkan segala sesuatunya.

(43)

b. Penyedian data Hilal dan Peta Rukyat

Dalam hilal dan peta Rukyat ini dipersiapkan aleh ahli hisab yaitu dengan melakukan perhitungan awal bulan untuk tempat pelaksanaan rukyat yang telah ditentukan oleh tim.

Data hilal yang diperlukan adalah:

1) Waktu matahari terbenam.

2) Arah matahari terbenam (Am).

3) Tinggi hilal (H).

4) Arah hilal ketika matahari terbenam (AHM), arah hilal ketika hilal terbenam (AHT).

5) Lama hilal,

Data tersebut, kemudian diolah dengan rumus-rumus sebagai berikut:

Arah Matahari= tan AM x PB, Arah Hilal= tan AHM x PB, Tinggi Hilal = (PB: cos AHM) x tan PB, Arah Hilal Terbenam= tan AHT x PB.

Dengan data hilal yang ada, lebih lanjut dapat dibuat peta rukyat, yakni lukisan yang menggambarkan posisi hilal dan matahari pada saat matahari terbenam. Adapun cara atau langkah membuat peta rukyat adalah sebagai berikut:

(44)

1) Buat garis lurus dari atas ke bawah sepanjang misalnya 10 cm.

pada titik ujung bawah di beri tanda p sedangkan di titik ujung atas diberi tanda B, sehingga terbuat garis PB yang panjangnya 10 cm.

2) Di ujung atas (titik B), di buat garis melintang ke kiri atau ke kanan (sesuai Azimuth matahari dan hilal) tegak lurus pada garis PB.

3) Ukurlah titik arah matahari di garis melintang tersebut (no,2) dari titik B sepanjang hasil hitungan rumus 1. Kemudian buatlah gambar matahari tepat di bawah titik ini.

4) Ukurlah titik arah hilal di garis melintang tersebut (no.2) dari titik B sepanjang hasil hitungan rumus 2.

5) Kemudian dari titik ini (no.4), buatlah garis lurus putus-putus keatas sejajar dengan garis PB (no.1).

6) Ukurlah titik tinggi hilal di garis (no.5) dari garis melintang (no.2) sepanjang hasil hitungan rumus 3, kemudian buatlah gambar hilal dimana tanduk hilal bagian atas tepat di titik ini.

7) Buatlah garis lurus yang menghubungkan antara titik tinggi hilal (no.6) dengan titik P.

8) Ukurlah arah titik hilal terbenam di garis melintang (no.2) dan titik B sepanjang hasil hitungan rumus 4, kemudian buatlah garis putus- putus lurus antara titik arah hilal terbenam ini dengan titik tinggi hilal (no.6).

9) Buatlah garis putus-putus yang menghungkan titik arah hilal terbenam ini dengan titik P.

(45)

c. Penyediaan Peralatan dan Perlengkapan, yakni:

1) Thedolit 2) Gawang lokasi

3) Kompas (petunjuk arah) 4) Arloji/ petunjuk waktu 5) Stopwatch

6) Benang/tali 7) Meteran 8) Penyiku

9) Lot (pendulum/bandul 10) Blanko daftar perukyat 11) Blanko berita acara 12) Sarana komunikasi 13) Sarana transportasi 14) Komsumsi31

C. Imkan Rukyat

Imkan rukyat atau imkanurrukyah artinya” kemungkinan hilal dapat dirukyat” atau batas minimal hilal dapat dirukyat”, yaitu suatu fenomena posisi hilal sedemikian rupa yang menurut pengalaman dilapangan hilal dapat dilihat dengan mata telanjang. Dalam astronomi dikenal dengan visibilitas hilal. Dalam hal ini ada beberapa pendapat, yaitu :

31 Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak Dalam Teori dan Praktik, h.178.

(46)

Menurut negara-negara MABIMS (Malaysia, Brunei Darussalam, Indonesia, dan Singapura) mengunakan imkan rukyat 2 derajat, umur hilal 8 jam serta jarak azimut Bulan-Matahari 3 derajat. Keputusan musyarawah imkan rukyat antara pimpinan ormas Islam dan MUI tingkat pusat dengan Menteri Agama yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 28 September 1998 (07 Jumadil Akhirah 1419 H) sebagai tindak lanjut dari hasil musyawarah ulama ahli hisab dan Ormas Islam tentang kriteria imkan rukyat yang dilaksanakan pada tanggal 24-26 Maret 1998 (25-27 Dzulqa’dah 1418 H) di hotel USSU, Cisarua, Bogor berbunyi sebagai berikut:

1. Penentuan awal bulan qamariyah didasarkan pada sistem hisab hakiki tahkiki dan atau rukyat.

2. Penentuan awal bulan qamariyah yang terkait dengan pelaksanaan ibadah mahdlah, yaitu awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah ditetapkan dengan mempertimbangkan hisab hakiki tahkiki dan rukyat.

3. Kesaksian rukyat hilal dapat diterima apabila ketinggian hilal minimal 2 derajad dan jarak ijtima’ ke ghurub matahari minimal 8 jam.

4. Kesaksian rukyat hilal tidak dapat diterima apabila ketinggian hilal kurang dari 2 derajat, maka awal bulan ditetapkan berdasarkan istikmal.

5. Apabila ketinggian hilal 2 derajat atau lebih, awal bulan dapat ditetapkan.

(47)

6. Kriteria imkan rukyat tersebut diatas akan dilakukan penelitian lebih lanjut.

7. Menghimbau kepada seluruh pimpinan ormas Islam mengsosialisasikan keputusan ini.

8. Dalam melaksanakan itsbat, pemerintah mendengar pendapat- pendapat dari ormas-ormas Islam dan para ahli.

Musyawarah imkan rukyat antara pimpinan ormas Islam dan MUI tingkat pusat dengan Menteri Agama ini di hadiri antara lain.

1. Drs. H. Ahmidan (Depertemen Agama).

2. Drs. H.M. Nabhan Husen (Dewan Dakwah Islam Indonesia).

3. K. H.Irfan Zidny, MA (PB Nahdlatul Ulama).

4. Drs. H. Lahmudin Nasution (Al- Wasliyah).

5. H.M. Abdurrahman KS (PP PERSIS).

Fatwa MUI nomor 2 tahun 2004 tentang penetapan Awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah tertanggal 05 Dzulhijjah 1424 H (24 Januari 2004) berbunyi:

1. Penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode rukyat dan hisab oleh Pemerintah RI cq Menteri Agama dan berlaku secara nasional.

(48)

2. Seluruh umat Islam di Indonesia wajib mentaati ketetapan Pemerintah RI tentang penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah.

3. Dalam penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah, Menteri Agama wajib berkonsultasi dengan Majelis Ulama Indonesia,ormas-ormas Islam dan Instansi yang terkait.

4. Hasil rukyat dari daerah yang memungkinkan hilal dirukyat walaupun diluar wilaya Indonesia yang matla’nya sama dengan Indonesia dapat dijadikan pedoman oleh menteri Agama RI.

Jika dimasyarakat tarjadi perbedaan penetapan tanggal 1 Syawal, maka mana yang harus diakui, menurut fatwa MUI nomor 2 tahun 2004 bahwa yang harus diikuti adalah penetapan pemerintah, bahkan wajib mengikuti penetapan pemerintah itu. Hal demikian ini mengingat hadis tantang A’rabi (orang arab pedalaman) yang melapor kepada Nabi menjelang Ramadan, kemudian Nabi perintah kepada bilal untuk mengumumkan bahwa besok mulai puasa. Bulan Ramadan waktu itu bukan ditetapkan oleh A’rabi, melaikan oleh Rasulullah selaku nabi dan sekaligus selaku kepala pemerintahan.

Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa penentuan awal dan akhir bulan Ramadan harus ditetapkan oleh ulil amri (pemerintah).

Apabilah pemerintah telah menentukanya maka seluruh

Referensi

Dokumen terkait

karya desain diantaranya adalah poster Selamat Hari Raya Idul Fitri,. Selamat Hari Natal dan Tahun Baru dan signsystem ITC Kebon

adanya liburan nasional seperti hari raya Idul Fitri, hari raya Natal, hari raya Idul Adha, liburan sekolah, serta kurangnya kapal yang beroperasi pada saat terjadi

1) Kegiatan yang dilaksanakan adalah pengamanan hari-hari besar (Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha, Hari Natal dan malam 1 Syuro serta malam tahun baru 2019) dan

Dari kisah ini maka tidak berlebihan jika Idul Adha dijadikan sebagai hari kemanusiaan sedunia yang diperingati oleh manusia sejagat raya, oleh karena itu Idul Adha merupakan momen

Hari Raya Idul Adha, Tahun Baru Hijriah, Maulid Nabi Muhammad SAW, Kenaikan Isa Almasih, Tahun Baru Nyepi, Isro’ Mi’roj, Waisak, Wafatnya Isa Almasih, Hari Raya Idul Fitri Menyesuaikan

Khotbah Idul Fitri 1443 H "Menjawab Pendidikan Spiritual Ramadan Pasca Hari

Waktu Waktu pelaksanaan hari raya Zora di desa Benayah Kecamatan Pusako Kabupaten Siak, sudah ditentukan setelah hari raya idul fitri atau hari raya keenam.Waktu yang telah ditentukan

PANITIA PERAYAAN HARI RAYA IDUL FITRI / HALAL BI HALAL 1446 HIJRIAH RT 02 RW 07 BANJARAN Bismillah dan alhamdulillah pada hari Minggu tanggal 13 April 2025 insyaallah akan dilaksanakan