• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN DESTINASI DESA WISATA BERBASIS MODAL SOSIAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGEMBANGAN DESTINASI DESA WISATA BERBASIS MODAL SOSIAL"

Copied!
125
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN DESTINASI DESA WISATA BERBASIS MODAL SOSIAL

(Studi Deskriptif Pengembangan Destinasi Wisata Huta Siallagan Kec.

Simanindo, Kabupaten Samosir)

SKRIPSI

Diajukan oleh : HOTMARAJA H PURBA

150901057 SOSIOLOGI

PROGRAM STUDI SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2022

(2)

PENGEMBANGAN DESTINASI DESA WISATA BERBASIS MODAL SOSIAL

(Studi Deskriptif Pengembangan Destinasi Wisata Huta Siallagan Kec.

Simanindo, Kabupaten Samosir)

SKRIPSI

HOTMARAJA H PURBA 150901057

SOSIOLOGI

Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sosial

PROGRAM STUDI SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2022

(3)
(4)
(5)
(6)

i ABSTRAK

Pengembangan destinasi wisata di Indonesia bukan hanya untuk peningkatan sumber daya ataupun peningkatan kesejahteraan, tetapi juga menyangkut bagaimana manfaat itu dirasakan oleh masyarakat sebagai subjek pengembangan pembangunan destinasi wisata tersebut. Dalam pelaksanaannya, pengembangan Desa Siallagan membutuhkan modal sosial dan partisipasi aktif dari masyarakat. Sesuai dengan tujuan dari dari penelitian ini, maka penulis ingin melihat bagaimana partisipasi masyarakat dan modal sosial di masyarakat.

Modal sosial adalah suatu bentuk dari hubungan yang lebih menekankan pada nilai-nilai kebersamaan dan kepercayaan baik dalam suatu organisasi maupun antar satu organisasi dengan yang lainnya. Skripsi ini menggunakan metode deskriptif dengan data kualitatif.

Maka yang menjadi pegangan dalam penelitian ini adalah interpretasi penulis terhadap kegiatan masyarakat dalam pengembangan destinasi wisata. Hasil analisis dari wawancara yang telah penulis lakukan dengan informan proses komunikasi yang dilakukan dapat dikatakan sudah berjalan dengan baik, masyarakat Desa Siallagan melibatkan sistem modal sosial masyarakat. Sistem modal sosial ini ada dalam pengembangan wisata desa Siallagan dalam hal kepercayaan ( sikap toleransi, kejujuran ) sebagai pemikat masyarakat dalam membentuk hubungan masyarakat atau pengunjung, jaringan sosial ( partisipasi, kerjasama) adanya suatu interaksi sosial yang menimbulkan kepercayaan dan kerja sama antar masyarakat, dan Norma ( nilai nilai bersama dan sanksi, aturan) ada untuk menjaga hubungan sosial dengan masyarakat lainnya dalam meningkatkan solidaritas. Konsep modal sosial harus masyarakat miliki dalam mengelola pariwisata maupun menjadi pedoman dalam mengelola pariwisata.

Kata kunci : Pengembangan, Modal sosial, Jaringan, Kepercayaan,Norma

(7)

ii ABSTRACT

The development of tourist destinations in Indonesia is not onlyabout increasing resources or increasing welfare, but also regarding how the benefits are felt by the community as the subject of development, especially in tourist destinations. In its implementation, the development of Siallagan Village requires social capital and active participation from the community. In accordance with the purpose of this study, the authors want to see how community participation and social capital in society are. Social capital is a form of relationship that is more than the values of togetherness and trust both within an organization and between one organization and another. This thesis uses a descriptive method with qualitative data. So the guide in this study is the author's interpretation of community activities in the development of tourist destinations. The results of the analysis from interviews that the author has done with informants the communication process carried out can be said to be going well, the Siallagan Village community involves the community's social capital system. This social capital system exists in the development of Siallagan village tourism in terms of trust (tolerance, honesty) as a lure for the community in public relations or visitors, social networks (participation, cooperation) the existence of a social interaction that creates trust and cooperation between communities, and norms (shared values and sanctions, rules) exist to maintain social relations with other communities in increasing solidarity. The concept of social capital must be owned in managing tourism and becomes a guide in managing tourism.

Keywords: Development, Social Capital, Network, Trust, Norms

(8)

iii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas Rahmat dan Karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas akhir skripsi ini yang menjadi salah satu persyaratan dalam memperoleh gelar sarjana di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Skripsi berjudul, PENGEMBANGAN DESTINASI DESA WISATA BERBASIS MODAL SOSIAL (Studi Deskriptif Pengembangan Destinasi Wisata Huta Siallagan Kec. Simanindo, Kabupaten Samosir)

Skripsi ini tidak hanya ditujukan untuk mencapai kelulusan dan gelar sarjana saja, tetapi, tulisan dan penelitian ini sangat diharapkan sebagai sumber wawasan baru dan memberi manfaat bagi masyarakat umum. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini, masih terdapat kesalahan atau kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan.

Hal tersebut disebabkan oleh keterbatasan dan kemampuan penulis. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun terhadap skripsi ini, agar dapat bermanfaat dikemudian hari.

Skripsi ini dapat terselesaikan, tidak terlepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak. Pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Hendra Harahap, M.Si, Ph.D Selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatra Utara.

3. Bapak Drs. T. Ilham Saladin, M.SP selaku Ketua Departemen Studi Sosiologi yang membantu dan memberikan saran serta nasehat kepada

(9)

iv

penulis, semoga Bapak sehat selalu dan semangat dalam pekerjaannya.

4. Dra. Linda Elida, Msi selaku Sekretaris Departemen Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, dan sekaligus penguji tamu saat saya meja hijau. Semoga ibu sehat selalu.

5. Bapak Prof. Dr. Sismudjito, M.Si selaku Dosen Pembimbing yang telah meluangkan waktu, memberikan saran, arahan, dukungan semangat, nasehat, solusi, dan motivasi selama proses bimbingan skripsi, terimakasih atas kesabaran yang diberikan selama membimbing penulis.

Semoga Bapak sehat selalu dan Tuhan melindungi Bapak serta keluarga.

6. Bapak Drs. Bisru hafi, M.Si selaku Dosen Ketua Penguji yang telah memberikan nasehat dan saran selama penulis saat meja hijau.. Semoga Tuhan membalas kebaikan hati Bapak.

7. Seluruh Dosen dan asisten dosen Departemen Sosiologi, terimakasih atas ilmu yang telah diberikan kepada penulis selama menuntut ilmu di Jurusan Sosiologi. Serta tidak lupa pula kepada staf pegawai Departemen Sosiologi, Bang Abel dan Kak Ernita yang selalu membantu penulis dalam mengurus perihal administrasi surat menyurat.

8. Staf Akademik, Staf Kemahasiswaan yang telah membantu kelancaran administrasi, yang telah banyak sekali membantu dan mempermudah proses administrasi dari awal perkuliahan hingga akhir perkuliahan.

9. Bapak Jarasi Purba (Alm), salam rindu untukmu lelaki terhebat dihidupku yang mengajarkanku tentang banyak hal, tidak pernah lupa nasehatnya yang pernah engkau berikan meskipun saat ini tidak bisa berjumpa kembali, tetaplah jadi pendoa bagi kami.

10. Mama Raskita Haloho, wanita terhebat dihidupku yang membesarkanku,

(10)

v

mendidik dan selalu mendoakan serta mempunyai rasa cinta yang tulus luar biasa. Semoga mama sehat selalu sampai kami anak-anakmu sukses.

11. Seluruh keluarga besarku yang senantiasa memberikan doa dan dukungan selama proses pendidikan berlangsung hingga akhirnya menyelesaikan skripsi ini.

12. Seluruh teman-teman terkasih “Sosiologi 2015” yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terimakasih untuk kebersamaannya selama ini baik dari segala cerita dan pengalaman yang kita lalui bersama, serta adik-adik dan kakak-kakak Jurusan Sosiologi terimakasih atas bantuan dan dukungannya. Semoga silaturahmi tetap terjaga dan saling berkomunikasi dengan baik.

13. Teruntuk informan yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk membantu penulis dalam menyelesaikan tugas akhir

14. Pihak-pihak yang telah memberikan doa dan semangat, yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, penulis mengucapkan terima kasih yang paling dalam kepada kalian, semoga kebaikan kalian dibalas oleh Tuhan.

Akhir kata penulis sangat menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki kekurangan baik dari segi materi maupun penyajiannya. Penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi setiap orang yang membacanya. Terima kasih.

Medan, Februari 2022 Penulis,

Hotmaraja H Purba

(11)

vi

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

BAB I PENDAHULUAN 1 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 8

1.3 Tujuan Penelitian ... 9

1.4 Manfaat Penelitian ... 9

1.4.1 Manfaat Teoritis ... 9

1.4.2 Manfaat Praktis ... 9

1.5 Defenisi Konsep... 10

1.5.1 Pengembangan ... 10

1.5.2 Desa Wisata ... 11

1.5.3 Modal Sosial ... 12

BAB II KAJIAN PUSTAKA... 13

2.1 Pengembangan ... 13

2.2 Desa Wisata ... 14

2.3 Modal Sosial ... 16

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 25

3.1 Jenis Penelitian ... 25

3.2 Lokasi Penelitian... 25

3.3 Unit Analisis Dan Informan ... 26

1. Unit Analisis ... 26

2. Informan ... 27

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 28

3.4.1 Wawancara ... 28

3.4.2 Observasi Partisipatif ... 28

3.4.3 Dokumentasi ... 28

3.5 Interpretasi Data ... 28

BAB IV DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN ... 29

(12)

vii

4.1 Deskripsi lokasi ... 29

4.1.1 Sejarah Desa Siallagan ... 29

4.1.2 Letak Desa Siallagan ... 30

4.1.3 Keadaan Demografi ... 35

4.1.4 Keadaan sosial dan Ekonomi Penduduk ... 39

4.1.5 Sarana dan Prasarana ... 43

4.1.6 Sistem Pemerintahan Desa Siallagan ... 47

4.1.7 Situs Sejarah Huta Siallagan ... 49

4.2 Kunjungan Wisatawan ... 53

4.3 Profil Informan ... 55

4.4 Peran Modal Sosial dalam pengembangan Destinasi Wisata ... 69

4.5 Analisis Upaya masyarakat mengembangkan kepariwisataan ... 89

BAB V PENUTUP ... 93

5.1 Kesimpulan ... 93

5.2 Saran... 94 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(13)

viii Daftar Tabel

Tabel 4.1 Rekapitulasi Penduduk Berdasarkan Usia ... 36

Tabel 4.2 Tingkat Pendidikan Penduduk desa Siallagan ... 38

Tabel 4.3 Data penduduk desa Siallagan berdasarkan pekerjaan ... 40

Tabel 4.4 Sarana dan Prasarana ... 43

(14)

ix

Daftar Gambar

Gambar 1 Rumah Bolon ... 30

Gambar 2 Peta pulau Samosir... 33

Gambar 3 Pintu masuk ... 34

Gambar 4 Rumah Adat ... 50

Gambar 5 Batu Persidangan ... 51

Gambar 6 Batu pemenggalan dan Tongkat pemenggalan ... 53

Gambar 7 Renovasi ... 55

Gambar 8 Bapak Alber Siallagan ... 57

Gambar 9 Bapak Lambok Sihaloho ... 59

Gambar 10 Bapak Gading Siallagan ... 69

Gambar 11 Upacara Adat ... 71

Gambar 12 Batu persidangan... 87

Gambar 13 Acara Penyambutan Wisatawan ... 91

(15)

1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Di era global sekarang ini, pariwisata menjadi sektor yang banyak diminati oleh masyarakat dunia. Untuk ini, banyak negara kemudian berlomba-lomba untuk menampilkan wajahnya kepada para wisatawandunia. Pengembangan industri pariwisata ini adalah salah satu strategi yang dipakai untuk mempromosikan wilayah tertentu sebagai daerah wisata, dan untuk meningkatkan perdagangan melalui penjualan barang dan jasa kepadamasyarakat non-lokal. Negara-negara di Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, dan Singapore dapat dikatakan telah sukses dalam mengambangan potensi pariwisata dalam menghasilkan pendapatan negaranya. Sedangkan kesuksesan pariwisata Indonesia sendiri masih berada dibawah ketiga negara Asia Tenggara tersebut.

Dunia globalisisasi sangat besar pengaruhnya dalam perkembangan wisata dan perubahan tradisi bangsa. Tindakan-tindakan dasar masyarakat yang berlandaskan nilai dan norma sudah tidak lagi dipedulikan. Perilaku masyarakat yang penting sebagai pencitraan jati diri bangsa dan juga merupakan simbol kebudayaan banyak yang mengabaikannya. Contohnya saja kegiatan gotong royong yang merupakan tindakan kerjasama atau interaksi yang memiliki nilai yang tinggi sulit ditemukan di masa sekarang. Perkembangan wisata yang saat ini semakin gencar-

(16)

2

gencarnya untuk mempublikasikan negara yang memiliki potensi wisata yang kuat ataupun lokasi yang dijadikan wisata. Sehingga didalam suatu lokasi wisata bisa memulihkan ilai-nilai kerja sama dalam memajukan wisatanya sendiri,seperti indonesia yang saat ini yang mengedepankan wisata berbasis nilai-nilai yang dianut tiap daerahnya.

Indonesia adalah sebuah negara dengan berbagai keindahan adat dan budaya serta keindahan alam yang terkandung dan menyebar di setiap daerahnya. Dalam pengelolaan keindahan adat dan budaya Indonesia ini membutuhkan pemeliharaan serta pelestarian. Suatu kawasan objek wisata dapat menjadi daerah tujuan wisata harus memiliki potensi non fisik maupun fisik dimana kedua potensi itu bila dikembangkan akan menjadi kawasan daerah tujuan wisata yang menguntungkan baik itu daerah sendiri maupun pemerintah. Dalam rangka memajukan kepariwisataan itu perlu ditingkatkan langkah-langkah yang terarah dan terpadu dalam mengembangkan objek-objek wisata dengan maksud untuk mempengaruhi pikiran dan minat agar datang kedaerah objek wisata. Karena pariwisata dapat membawa nilai negatif bagi nilai sosial dan budaya masyarakat. Pitana dan Gayatri (2005:116) Mengutip dari pandangan Martin bahwa dampak sosial-budaya pariwisata setempat, pariwisata dipandang semata-mata dipandang sebagai faktor luar yang menghantam masyarakat.

Pengembangan pariwisata sejalan dengan kepeduliaan serta peran pemerintah dalam upaya pemberdayaan masyarakat di bidang kepariwisataan yang telah diatur

(17)

3

dan tertuang dalam UU No.10 tahun 2009 pengganti UU No.9 tahun 1990 tentang kepariwisataan yang menyebutkan bahwa dampak yang diakibatkan dari pengembangan kepariwisataan berupa peningkatan kesejahteraan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan melestarikan kebudayaan di masyarakat. Modal sosial- budaya masyarakat ini harus diperkokoh dalam menghadapi pengaruh dari luar. Jika nilai-nilai masyarakat ini telah dirasuki oleh budaya dari luar maka akan terjadi perubahan budaya yang signifikan. Perubahan ini bisa dicegah dengan baik jika para pelaku tindakan tidak menginginkannya, karena tindakan manusia merupakan suatu kondisi yang dapat membentuk jati dirinya sendiri. Veeger (Sutaryo,2005:9) manusia tidak secara pasif menerima saja pengetahuannya dari luar tetapi secara aktif dan dimanis membentuk sendiri pengetahuan dan kelakuannya.

Pariwisata merupakan suatu kegiatan yang terdiri dari berbagai unsur atau komponen yang berperan dalam pengembangan dan kegiatannya. Pariwisata merupakan hal yang penting bagi suatu negara, karena dengan adanya pariwisata dapat menambahkan devisa negara terutama dari peningkatan perekonomian dan sektor lainnya. Menurut Muljadi (2012: 7), istilah pariwisata berasal dari dilaksanakannya kegiatan wisata, yaitu suatu aktivitas perubahan tempat tinggal sementara dari seseorang. Desa wisata adalah suatu kawasan yang membangun sistem kepariwisataan yang memiliki keunikan dan kearifan lokal masyarakat seperti budaya dan kekayaan alam yang disertai dengan penambahan fasilitas pendukung kepariwisataan desa. Desa wisata merupakan suatu penyatuan antar beberapa komponen seperti aktraksi, pendapatan dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam

(18)

4

suatu struktur sosial kehidupan masyarakat dan menyatu dengan tata cara tradisi yang berlaku dalam suatau kawasan masyarakat desa.

Provinsi Sumatera Utara yang juga merupakan Kota Medan terbesar nomor tiga di Indonesia. Objek wisata yang dimiliki daerah Kota Medan terbentuk dari kondisi geografis, sejarah, dan budaya yang dimiliki daerah Kota Medan terbentuk dari kondisi geografis, sejarah, dan budaya yang dimiliki daerah Kota Medan. Potensi wisata yang berasal dari kondisi geografis meliputi obyek wisata alam dan obyek wisata buatan. Belum maksimalnya pemerintah provinsi dalam menggarap potensi wisata dan juga peran masyarakat untuk mempertahankan Sumatera Utara untuk tetap menjadi daerah tujuan wisata Utama.

Kabupaten Samosir merupakan salah satu kawasan wisata yang sudah cukup lama dikenal oleh wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara karena memiliki keindahan alam yang memukau dari Danau Toba dan juga sejumlah situs budaya tradisional khas batak. Lokasi Kabupaten Samosir yang strategis, di tengah- tengah Danau Toba, ditambah lagi dengan banyaknya daya tarik wisata alam dan budaya yang terhampar di dalamnya, menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Sejak dimekarkan dari Kabupaten Toba Samosir pada Tahun 2003 berdasarkan Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2003, tentang Pembentukan Kabupaten Samosir dan Kabupaten Serdang Bedagai di Provinsi Sumatera Utara, Kabupaten Samosir mulai mandiri dan memiliki sitem pengelolaan sendiri untuk berbagai sektor yang ada dan salah satu diantaranya adalah Pariwisata (Pemerintah Kabupaten Samosir, 2012).

(19)

5

Pariwisata merupakan komoditas andalan sekaligus komoditas strategis dan primadona di Kabupaten Samosir, hal ini disebabkan karena Kabupaten Samosir memiliki keindahan alam yang luar biasa dan mempunyai peninggalan sejarah/situs dengan keragaman budaya da seni serta merupakan tanah leluhur/asal-muasal bagi seluruh ethnis Batak se-dunia. Perekembangan pariwisata berpengaruh secara tidak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat melalui kinerja perekonomian dan perubahan struktur ekonomi, Suyana (2006).

Kabupaten Samosir memiliki potensi wisata alam, wisata budaya (peninggalan budaya/situs dan legenda), wisata air/rekreasi/pantai dan wisata rohani/religi. Salah satu desa di Pulau Samosir yang ramai akan wisatawan sehingga disebut “Kampung Turis” adalah Desa Tuktuk Siadong yang terfasilitasi sarana prasarana yang memadai seperti penginapan berbagai kelas, restoran, pertokoan, rekreasi, dan fasilitas lainnya. Tidak jauh dari desa ini sekitar 3 kilometer, terdapat Huta Siallagan yang memiliki situs bersejarah. Desa – desa di Danau Toba memiliki adat Batak yang tidak berbeda jauh satu sama lain, namun Huta Siallagan merupakan kampung yang dikenal sebagai awal permulaan peradaban penegakan hukum di Samosir.

Objek-objek wisata ini menyebar di 9 (sembilan) kecamatan yang terdapat di Kabupaten Samosir. Kampung huta Siallagan menjadi salah satu daya tarik wisatawan untuk bekunjung, yang terletak di Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir. Seperti Batu Persidangan yang telah ada ratusan tahun ini dulunya digunakan untuk mengadili orang – orang yang melakukan kejahatan atau melanggar hukum adat disana, yakni: pembunuhan, pemerkosaan, mencuri, atau

(20)

6

pengkhianat raja Siallagan. Jika terbukti salah, maka akan diberi hukuman yang seberat – beratnya adalah hukum pancung. Walaupun batu persidangan telah ada selama ratusan tahun, namun kondisi tetap terjaga terlihat dari hingga kini tetap menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Huta Siallagan. Wisatawan yang datang ke Huta Siallagan tidak hanya dapat melihat sejarah peradaban hukum di Samosir, namun ketika memasuki Huta Siallagan terdapat delapan rumah tradisional batak yang akan menyambut wisatawan. Sekitar rumah adat, terdapat batu persidangan yang berfungsi untuk mengadili penjahat dan di sampingnya terdapat pohon hariara yang merupakan pohon suci bagi masyarakat Batak. Kampung yang berada di sekitar pinggiran danau ini memberikan pemandangan danau dari dalam perkampungan dengan hawa yang sejuk.

Huta Siallagan telah ada dari dahulu dan sejarahnya tetap menjadi daya tarik dan minat wisatawan. Melihat pemerintah ingin menerapkan pariwisata berkelanjutan serta Huta Siallagan yang memiliki situs bersejarah dengan permukiman tradisional yang masih ada, kampung ini dapat dijadikan objek studi untuk membahas arsitektur berkelanjutan pada permukiman tradisional sebagai desa wisata. Hal ini dibahas dan ditelaah karena dengan mengetahui konsep arsitektur berkelanjutan di permukiman tradisional serta bentukan permukiman tradisional Batak Toba sebagai objek bersejarah di Batak Toba maka akan diketahui faktor – faktor yang dapat membuat Huta Siallagan terus bertahan. Beberapa faktor yang ada mungkin dipengaruhi dari fisik arsitektur, tradisi, serta gaya hidup masyarakat setempat. Sehingga nantinya akan bermanfaat juga untuk pariwisata berkelanjutan bagi permukiman tradisional Huta

(21)

7

Siallagan agar dapat terus menjadi daya tarik wisatawan yang mana merupakan kampung yang memiliki objek bersejarah serta permukiman tradisional masyarakat Batak Toba.

Modal sosial-budaya masyarakat ini harus diperkuat dan diperkokoh dalam mengahadapi pengaruh dunia luar. Jika nilai-nilai masyarakat ini telah dirasuki oleh budaya luar maka akan terjadi perubahan budaya yang signifikan. Perubahan ini bisa dicegah dengan baik jika para pelaku tindakan tidak menginginkannya, karena tindakan manusia merupakan suatu kondisi yang dapat membentuk jati dirinya sendiri. Modal sosial merupakan syarat yang harus terpenuhi dalam pembangunan.

Berbagai permasalahan dan penyimpangan yang terjadi di berbagai negara faktor utamanya adalah tidak berkembangnya modal sosial yang ada di tengah masyarakat.

Modal sosial yang lemah akan menurunkan semangat gotong royong.

Modal sosial adalah suatu bentuk dari hubungan yang lebih menekankan pada nilai-nilai kebersamaan dan kepercayaan baik dalam suatu organisasi maupun antar satu organisasi dengan yang lainnya. Nilai-nilai tersebut merupakan suatu modal dalam membentuk masyarakat yang kuat dan berkepribadian, dimana saat ini sangat penting karena ketika menghadapi suatu masalah akan cepat dalam penyelesaiannya tanpa merugikan orang lain. Konsep Modal Sosial merupakan suatu bentuk jaringan, kepercayaan, normanorma dan nilai-nilai. Ketiga elemen atau unsur-unsur pembentuk modal sosial tersebut sangat penting dan saling berhubungan satu sama lainnya dalam pembentukan modal sosial. Konsep Modal Sosial menjadi salah satu agenda terpenting dalam menjalankan pengelolaan Obyek Desa Wisata Siallagan. Dengan

(22)

8

menjalankan Konsep Modal Sosial yang baik pada pengelolaan Obyek desa Wisata Siallagan diharapkan dapat memberikan bantuan dan pemecahan terhadap masalah yang muncul.

Masyarakat di desa Siallagan ini merupakan masyarakat yang hidup di pinggiran danau toba, serta memiliki kekayaan alam dan kearifan lokal yang cukup baik. Desa ini merupakan desa yang masih memiliki budaya daerah yang sangat kuat dan dijaga akan kelestariannya serta memiliki keunikan dengan keadaan masyarakat yang cukup unik dan menarik khusunya dari segi kebudayaannya. Hal ini terlihat bahwa desa ini memiliki kekayaan alam dan budaya yang dimiliki masyarakat Desa Siallagan, sehingga mempermudah dalam pengembangan sebuah destinasi wisata.

Namun demikian, terdapat beberapa faktor pendorong yang menjadi potensi penting dalam upaya pengembangan selain kearifan lokal yang dimiliki, seperti partisipasi masyarakat dan modal sosial yang dimiliki. Oleh karena itu, berangkat dari latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan studi mendalam terkait konteks modal sosial dalam upaya pengembangan destinasi Desa wisata Siallagan .

Rumusan Masalah

Rumusan masalah yaitu pertanyaan dalam penelitian yang berkaitan dengan topic dan masalah yang akan diteliti. Adapun yang menjadi pokok masalah berdasarkan latar belakang pada peneltian ini yaitu:

1. Bagaimana modal sosial masyarakat dapat menjadi peran dalam pengembangan desa Siallagan ?

(23)

9

2. Mengapa masyarakat berpartisipasi dalam pengembangan destinasi desa Siallagan ?

1.2 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :

1. Untuk mengetahui dan menganalisis modal sosial masyarakat di daerah Siallagan sebagai pengembangan destinasi tersebeut

2. Untuk mengetahui dan mengidentifikasi partisipasi masyarakat dalam upaya pengembangan desa wisata tersebut

1.3 Manfaat Penelitian

Penelitian ini memiliki 2 manfaat yaitu :

1.3.1 Manfaat Teoritis

Penelitian ini memiliki manfaat secara teoritis yaitu untuk membantu atau memperkaya penelitian-penelitian sejenis yang sudah ada yang dapat dijadikan perbandingan dengan penelitian-penelitian selanjutnya dan dapat dijadikan sebagai refrensi terkait dengan penelitian-penelitian serupa yaitu pengembangan desa wisata berbasis modal sosial.

1.3.2 Manfaat Praktis a. Bagi Masyarakat

(24)

10

Penelitian ini diharapkan dapat menambah pemahaman kepada masyarakat Desa Siallagan agar lebih memahami partisipasi masyarakat lokal dalam pengembangan wisata.

b. Bagi Pemerintah

Penelitian ini diharapkan dapat memberi saran serta penyediaan sarana dan prasarana kepada masyarakat atau desa wisata Siallagan.

c. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi peneliti berikutnya yang ingin meneliti dan mengkaji lebih dalam tentang penelitian sebelumnya mengenai pengembangan desa Wisata.

1.4 Defenisi Konsep

Dalam sebuah penelitian ilmiah, defenisi konsep digunakan sebagai acuan dalam menyelesaikan penelitian. Defenisi konsep sangat diperlukan untuk memfokuskan dan mempermudah penielitian. Adapun defenisi konsep dalam penelitian ini adalah :

1. Pengembangan

Pengembangan merupakan suatu proses yang dinamis dan berkelanjutan menuju ketataran nilai yang lebih tinggi dengan cara melakukan penyesuaian dan koreksi berdasar pada hasil monitoring dan evaluasi serta umpan balik implementasi rencana sebelumnya yang merupakan dasar kebijaksanaan dan merupakan misi yang harus dikembangkan. Dalam pengembangan wisata bukanlah sistem yang berdiri sendiri,

(25)

11

melainkan terkait erat dengan sistem perencanaan pembangunan yang lain secara inter sektoral dan inter regional. Pengembangan wisata haruslah di dasarkan pada kondisi dan daya dukung dengan maksud menciptakan interaksi jangka panjang yang saling menguntungkan diantara pencapaian tujuan pembangunan pariwisata.

2. Desa Wisata

Menurut ensiklopedia Desa wisata adalah komunitas atau masyarakat yang terdiri dari penduduk suatu wilayah terbatas yang bisa saling berinteraksi secara langsung di bawah sebuah pengelolaan dan memiliki kepedulian, serta kesadaran untuk berperan bersama sesuai keterampilan dan kemampuan masing-masing, memberdayakan potensi secara kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan di wilayahnya.

Desa wisata menempatkan komunitas atau masyarakat sebagai subjek atau pelaku utama dalam pembangunan kepariwisataan, kemudian memanfaatkannya bagi kesejahteraan masyarakat. Dalam aktivitas sosialnya, kelompok swadaya dan swakarsa masyarakat berupaya untuk meningkatkan pemahaman kepariwisataan;

mewadahi peran dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan kepariwisataan di wilayahnya; meningkatkan nilai kepariwisataan serta memberdayakannya bagi kesejahteraan masyarakat.

(26)

12 3. Modal Sosial

Modal sosial adalah sumber daya yang dimiliki oleh masyarakat dalam bentuk norma-norma atau nilai-nilai yang memfasilitasi dan membangun kerja sama melalui jaringan interaksi dan komunikasi yang harmonis dan kondusif. Modal sosial memberi kekuatan atau daya dalam beberapa kondisi-kondisi sosial dalam masyarkat.

Modal sosial dalam bentuk kewajiban sosial yang diinstitusionalisasikan ke dalam kehidupan bersama, peran, wewenang, tanggung-jawab, sistem penghargaan dan keterikatan lainnya yang menghasilkan tindakan kolektif. Modal sosial sebagai hubungan yang tercipta dari norma sosial yang menjadi perekat sosial, yaitu terciptanya sebuah kesatuan dalam anggota kelompok secara bersama-sama.

(27)

13

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

1. Pengembangan

Penelitian pengembangan adalah suatu atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat dipertanggung jawabkan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menghasilkan produk baru melalui pengembangan. Berdasarkan pengertian pengembangan yang telah diuraikan yang dimaksud dengan pengembangan adalah suatu proses untuk menjadikan potensi yang ada menjadi sesuatu yang lebih baik dan berguna sedangkan penelitian dan pengembangan adalah suatu proses atau langkah- langkah untuk mengembangkan suatu produk atau menyempurnakan produk yang telah ada menjadi produk yang dapat dipertanggung jawabkan.

Penelitian dan Pengembangan atau Research and Development (R&D) adalah suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat dipertanggungjawabkan (Sukmadinata, 2005). Secara sederhana R&D dapat didefinisikan sebagai metode penelitian yang secara sengaja, sistematis, bertujuan/diarahkan untuk mencaritemukan, merumuskan, memperbaiki, mengembangkan, menghasilkan, menguji keefektifan produk, model, metode/strategi/cara, jasa, prosedur tertentu yang lebih unggul, baru, efektif, produktif, dan bermakna (Putra, 2011). Pengembangan memang diarahkan untuk mencaritemukan kebaruan dan keunggulan dalam rangka

(28)

14

efektivitas, efisiensi, dan produktivitas. Oleh karena itu, pengembangan selalu dengan tegas dibedakan dari penelitian murni/dasar walaupun tentu saja tidak dapat dipisahkan dari penelitian murni/dasar. Bahkan sering kali pengembangan didasarkan pada penelitian dasar. Sehingga dapat diartikan penelitian dan pengembangan adalah suatu proses yang dipakai untuk mengembangkan suatu produk baru dan dapat dipertanggungjawabkan. Pengembangan dalam hal lain juga perlu dilakukan seperti sarana prasarana yang memadai dalam memajukan fasilitas wisata tersebut, dijadikan kembali menjadi pusat dalam pariwisata itu nantinya.

2. Desa wisata

Pariwisata merupakan sebuah komoditas ekonomi baru yang mulai dikembangkan. Dalam teori ekonomi yang lebih umum, keunggulan dari kompetisi pariwisata dinilai dari sisi permintaan. Seperti misalnya, wisatawan yang berkunjung ke suatu destinasi disebabkan oleh pendapatan orang, populasi negara wisatawan, biaya hidup, biaya transportasi kedua negara, nilai tukar, dan inflasi. Untuk memiliki keunggulan komparatif, pariwisata harus mengubah segi pembangunan dari sisi permintaan ke penawaran. Destinasi wisata kerap dikunjungi dikarenakan kondisi lingkungan, infrastruktur, dan nilai budaya.

Desa wisata adalah sebuah wujud kombinasi antara akomodasi, atraksi, dan sarana pendukung yang dikenalkan dalam sebuah tata kehidupan masyarakat yang menjadi satu dengan aturan dan tradisi yang berlaku . Sebuah desa bisa disebut desa wisata ialah desa yang mempunyai potensi wisata yang dapat dikembangkan, sebuah

(29)

15

tradisi, dan kebudayaan yang menjadi ciri khas, aksesibilitas dan sarana prasarana yang mendukung program desa wisata, keamanan yang terjamin, terjaganya ketertiban, dan kebersihan. Dasar dalam pengembangan desa wisata ialah pemahaman tentang karakter dan kemampuan elemen yang ada dalam desa, seperti: kondisi lingkungan dan alam, sosial budaya, ekonomi masyarakat, struktur tata letak, aspek historis, budaya masyarakat dan bangunan, termasuk indigeneus knowledge (pengetahuan dan kemampuan lokal) yang dipunyai masyarakat.(Karangasem, dalam Yusuf A.Hilman Dkk 2018). Desa wisata adalah bentuk industri pariwisata yang berupa kegiatan perjalanan wisata identik meliputi sejumlah kegiatan yang bersifat mendorong wisatawan sebagai konsumen agar menggunakan produk dari desa wisata tersebut atau melakukan perjalanan wisata ke desa wisata. Unsur produk pariwisata terdiri dari angkutan wisata, atraksi wisata, dan akomodasi pariwisata.

Dalam proses pengembangan desa wisata, masyakarat sekitar dijadikan sebagai subyek aktif, artinya lingkungan sekitar dan kehidupan sosial masyarakat di desa tersebut dijadikan sebagai tujuan wisata. Pembangunan dan pengembangan pariwisata secara langsung akan merambah dan mengikutsertakan masyarakat, sehingga dapat memberikan berbagai pengaruh kepada masyarakat setempat, baik berupa pengaruh positif maupun negatif. Pemanfaatan sumber daya baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam di sekitar desa wisata yang diorganisir secara maksimal, akan memberikan dampak terhadap masyarakat sekitar. Hasil yang diperoleh dari kegiatan desa wisata akan dikembalikan kepada masyarakat sekitar sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain untuk meningkatkan

(30)

16

kesejahteraan, konsep desa wisata akan menjadikan suatu desa menjaga kelestarian alam dan lingkungan, budaya, serta tradisi desa tersebut. Keterlibatan masyarakat sekitar dalam proses pengembangan desa wisata juga sebagai kegiatan pemberdaya gunaan masyarakat dalam membangun desa secara bersama-sama. Motivasi desentralisasi memberikan kebebasan bagi warga untuk mengatur dan mengelola pariwisata di daerahnya merupakan metode untuk meciptakan pariwisata yang berbasis kelompok sosial masyarakat. Destinasi wisata harus memiliki beberapa pusat perbelanjaan yang memadai supaya daerah tersebut semakin dikunjugi oleh wisatawan.

3. Modal Sosial

Pembahasan tentang modalsosial lazim dikaitkan dengan upaya mengelola, meningkatkan dan mendayagunakan relasi-relasi sosial sebagai sumber daya yang diinvestasikan untuk memperoleh keuntungan ekonomi dan/atau manfaat sosial.

Relasi-relasi sosial tersebut diendapi oleh norma-norma yang memberikan jaminan, kepercayaan, serta jaringan yang saling menguntungkan.Modal sosial merupakan sebuah konsep yang digunakan untuk mengukur sebuah kualitas hubungan dalam komunitas, organisasi dan masyarakat. Modal sosial tidak di artikan dalam sebuah materi, tetapi merupakan modal sosial yang terdapat pada seseorang. Modal sosial lebih menekankan kepada potensi yang ada di dalam suatu kelompok dan antar kelompok. Modal sosial dalam kelompok akan menentukan bertahannya berfungsinya sebuah kelompok masyarakat.

(31)

17

Teori modal sosial pertama kali terdapat dalam tulisan Pierre Bourdieu yang dipublikasikan pada akhir tahun 1970-an berjudul “Le Capital Social: Notes Provisoires”. Namun karena tulisan tersebut diterbitkan dalam bahasa Perancis, sehingga tidak menarik perhatian oleh ilmuwan lain terutama ilmuwan Sosial dan ekonomi. Pada tahun 1993 Coleman mengulas hal yang sama dan mengangkat topik yang sama mengenai modal sosial dalam bahasa inggris, yaitu” Social Capital in the Creation of Human Capital”. Lantas setelah tulisan tersebut terbit langsung menjadi pembahasan yang sangat menarik bagi ilmuwan Ekonomi dan Sosial, karena modal sosial menyatukan dua disiplin ilmu antara Ekonomi dan Sosiologi (Yustika dalam Jurnal Ningrum 2014:178). Bourdieu juga mendefinisikan modal sosial adalah jumlah sumber daya, aktual atau maya, yang berkumpul pada seorang individu atau kelompok karena memiliki jaringan tahan lama berupa hubungan timbal balik perkenalan dan pengakuan yang sedikit banyak terinstusionalkan (Field,2010: 23).

Modal adalah sesuatu yang dapat dihitung dalam ilmu ekonomi. Lin (2004:16) “… Capital can appear in the forms of money, the capacity to control the means of production, and/or further investment to produce more useful commodities”. “…modal bisa muncul dalam bentuk uang, kapasitas untuk mengontrol cara produksi, dan/atau investasi lebih lanjut untuk menghasilkan barang yang lebih berguna.”

Masik (2005:10) “modal sosial menghubungkan bersama-sama konsep- konsep seperti pelibatan masyarakat, kepercayaan interpersonal, dan tindakan bersama yang efektif. Konsep-konsep ini sudah lama menjadi perbincangan diantara

(32)

18

para ahli sosiologi dan perencana pembangunan masyarakat. Memandang modal sosial sebagai linking constructs inilah yang menjadi kebaruan dari konsep modal sosial dan menjadikannya penting”

Sosial dapat kita artikan juga sebagai kehidupan bermasyarakat. Lebih seringnya, kata sosial dikenal dengan tidak berdiri sendiri dan saling mebutuhkanorang lainnya. Sosial juga merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang kemasyarakatan. Seperti yang dikatakan oleh Fukuyama (1997: 378) “Social capital can be defined simply as the existence of a certain set of informal values or norms shared among members of a group that permits cooperation among them. The sharing of values and norms does not in itself produce social capital, because the values may be the wrong ones”. “Modal sosial dapat didefinisikan secara sederhana sebagai keberadaan tertentu sekelompok nilai-nilai atau norma informal yang dibagi di antara anggota kelompok yang memungkinkan kerjasama antara mereka.

Pembagian nilai-nilai dan norma tidak dengan sendirinya menghasilkan modal sosial, karena nilai-nilai mungkin yang salah.”

Fujiwara dan Kawachi (Thobias, dkk, 2013:4) “modal sosial adalah sumber- sumber daya yang diakses oleh individu-individu dan kelompok-kelompok dalam sebuah struktur sosial, yang memudahkan kerjasama, tindakan kolektif, dan terpeliharanya norma-norma.”

Sedangkan (Nurami, 2013) mengingatkan bahwa modal sosial barulah bernilai ekonomis kalau dapat membantu individu atau kelompok, misalnya untuk

(33)

19

mengakses sumber-sumber keuangan, mendapatkan informasi, menemukan pekerjaan, merintis usaha, dan meminimalkan biaya transaksi.

Menurut (Masik, 2005:13) “Modal sosial tidak hanya diteliti oleh para ahli sosiologi atau ekonomi, tetapi juga telah menjadi topik bahasan dibidang-bidang ilmu lainnya, seperti politik, perencanaan, dan kebijakan publik, kesehatan dan pendidikan.

Selain ditelaah dari berbagai disiplin ilmu, modal sosial ini juga dilihat dari berbagai sudut pandang, karenanya tidaklah aneh bila pemahaman tentang modal sosial menjadi sedemikian beragam, begitu pula pendefinisiannya”.

Menurut Robert M.Z dalam buku “Kapital Sosial Dalam Perspektif Sosiologi Suatu Pengantar” (Lawang, 2005:212) yang menjadi konsep inti modal sosial ada 3 yaitu:

1. Kepercayaan/Trust (kejujuran, kewajaran, sikap, egaliter, toleransi dan kemurahan hati)

2. Jaringan sosial/social networks (partisipasi, resiporitas, solidaritas, kerjasama)

3. Norma/norm ( nilai-nilai bersama dan sanksi, aturan-aturan).

Konsep dari modal sosial di atas merupakan perekat yang memberikan tatanan dan makna pada kehidupan sosial. Menurut Fukuyama (2002), modal sosial adalah serangkai nilai-nilai atau norma-norma informal yang di miliki bersama diantara para anggota suatu kelompok masyarakat yang memungkinkan terjadi kerjasama di antara mereka. Pendapat fukuyama sejalan dengan pendapat Coleman

(34)

20

(1988) bahwa modal sosial merupakan kemampuan masyarakat untuk bekerja sama dengan mencapai tujuan bersama didalam berbagai kelompok dan organisasi. Modal sosial berbentuk jaringan-jaringan horizontal yang didalamnya berisi norma-norma memfasilitasi koordinasi, kerjasama,dan saling mengendalikan yang manfaatnya bisa di rasakan bersama anggota organisasi (Putnam dalam Sisiainen,2000).

Dari beberapa pengertian modal sosial diatas, maka modal sosial adalah serangkai nilai-nilai atau norma-norma informal seperti rasa saling percaya,saling pengertian,adanya jaringan,hubungan sosial,kesamaan nilai dan prilaku yang di miliki bersama di antara para anggota suatu kelompok masyarakat yang mungkinkan terjalinnya kerjasama diantara mereka dan untuk mencapai tujuan bersama.

Modal sosial merupakan suatu bentuk moral kepercayaan masyarakat. moral ini dijalankan oleh sekelompok masyarakat dengan saling bekerjasama. Kerjasama ini merupakan suatu kegiatan yang memang merupakan adat-istiadat setempat yang telah diturunkan oleh nenek moyang mereka terdahulu, yang menjadi turun-menurun dan masih ada pada masa sekarang dan dijalankan oleh sekelompok masyarakat tertentu.

Fukuyama (1997:437)“Perspektif modal sosial, dalam pandangan saya, memberi kita sebuah dasar untuk mendefinisikan sebuah jaringan dengan cara yang lebih tepat yang memungkinkan kita untuk memahami apa fungsi ekonomi yang benar-benarnya.

Dengan pandangan ini, sebuah jaringan tidak menentukan jenis organisasi formal, melainkan hubungan moral kepercayaan: "Sebuah jaringan adalah sekelompok individu agen yang berbagi norma-norma atau nilai-nilai informal di luar yang diperlukan untuk transaksi pasar biasa.”

(35)

21 4. Penelitian Terdahulu

Dalam penelitian ini, untuk memperkaya gagasan dan menguatkan argumen, penelitian mencantumkan beberapa hasil penelitian yang relevan dengan masalah yang akan di teliti. Penelitian tersebut hanya dijadikan sebagai bahan referensi dengan melihat perbandingan dari masing masing penelitian. Tujuannya untuk mempermudah penelitian kedepannya. Berikut ini hasil penelitian sebelumnya:

• Penelitian yang dilakukan oleh Setiyo Budi Pamungkas, Budi Puspo Priyadi dalam skripsi yang berjudul ANALISIS MODAL SOSIAL DALAM PENGELOLAAN DESA WISATA NONGKOSAWIT KOTA SEMARANG, Kondisi Desa Wisata Nongkosawit selama enam tahun berdiri bisa dikatakan masih prematur.

Penghapusan anggaran untuk desa wisata pada tahun 2018 mempersulit Desa Wisata Nongkosawit untuk berharap kepada pemerintah. Dengan demikian Desa Wisata Nongkosawit harus menggali modal sosial untuk mendapatkan alternatif lain dalam pengelolaannya. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi modal sosial serta menganalisis faktor pendorong dan penghambat modal sosial dalam pengelolaan Desa Wisata Nongkosawit. Upaya menjawab permasalahan dan tujuan penelitian dilakukan dengan menggunakan teori modal sosial melalui metode kualitatif. Subyek penelitian adalah Kelompok Sadar Wisata Kandang Gunung, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, dan masyarakat Desa Wisata Nongkosawit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial dalam pengelolaan Desa Wisata Nongkosawit tidak memiliki daya dorong untuk

(36)

22

membangun potensi wisata. Faktor kebiasaan menjadi faktor pendorong dan faktor kedudukan dan peranan individu; pendidikan; kelas sosial dan kesenjangan ekonomi; dan pola konsumsi dan nilai-nilai personal menjadi faktor penghambat berkembangnya modal sosial dalam pengelolaan Desa Wisata Nongkosawit.

Disarankan untuk Pemerintah Kota Semarang dan/atau melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata harusnya lebih selektif dalam menjaring usulan kelompok masyarakat yang mengajukan desanya sebagai Desa Wisata. Perlu adanya pengorganisasian kelembagaan Kelompok Sadar Wisata Kandang Gunung yang baru. Pergantian ketua dan jajarannya di Kelompok Sadar Wisata Kandang Gunung diperlukan untuk mampu menggerakan maupun mengajak masyarakat untuk terlibat aktif dalam pengelolaan Desa Wisata Nongkosawit.

• Penelitian yang dilakukan oleh Agus Yogi Putra, skripsi mengenai PEMANFAATAN KONSEP MODAL SOSIAL DALAM PENGELOLAAN OBYEK WISATA PANTAI KEDUNGU, DESA BELALANG KABUPATEN TABANAN, Modal sosial merupakan perekat sosial bagi setiap individu yang berbentuk ajaringan kepercayaan dan norma sehingga akan menjadi kerjasama yang menguntungkan untuk mendapatkan tujuan bersama. Modal sosial akan berkembang jika digunakan bersama dan akan hilang jika tidak digunakan dengan nilai, norma dan saling percaya. Baik antar individu maupun kelompok organisasi.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pemanfaatan modal sosial di PT pengelolaan tempat wisata, Pantai Kedungu. Penelitian ini menggunakan kualitatif belajar. Studi pengumpulan data menggunakan studi wawancara.

(37)

23

Berdasarkan penelitian ini, sosial Dibutuhkan modal dalam cara mengelola Pantai Kedungu sebagai tempat wisata. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka diperlukan konsep modal sosial dalam pengelolaannya Obyek wisata Pantai Kedungu sehingga permasalahan tersebut dapat teratasi dengan terbatas dana yang dimiliki oleh Pemerintah Desa Belalang sebagai pantai wisata utama pengelola Pantai Kedungu.

• Penelitian yang dilalukan oleh Eka Puspitaningrum Skripsi mengenai MODAL SOSIAL DAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN

DESA WISATA TAMANSARI DI KABUPATEN BANYUWANGI,

Pembangunan tidak dapat didefinisikan hanya dalam arti peningkatan akses terhadap suatu sumber daya ataupun peningkatan kesejahteraan, tetapi juga menyangkut pada bagaimana manfaat itu dirasakan oleh masyarakat sebagai subjek pembangunan terutama dalam pembangunan desa wisata. Dalam pelaksanaannya, pembangunan desa wisata membutuhkan modal sosial dan partisipasi aktif dari masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasihubungan modal sosial dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa wisata di Desa Tamansari Kabupaten Banyuwangi. Hasil penelitian yang diperoleh melalui uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan kuat antara tingkat partisipasi masyarakat dengan tingkat pembangunan desa wisata dan terdapat hubungan yang cukup antara tingkat modal sosial dengan tingkat partisipasi masyarakat. Hal ini dikarenakan tingginya faktor pendorong

(38)

24

partisipasi serta modal sosial yang dimiliki masyarakat, sehingga masyarakat memiliki keterlibatan yang baik dalam pelaksanaan pembangunan desa wisata di Desa Tamansari.

(39)

25 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian deskriptif adalah salah satu jenis penelitian yang tujuannya untuk menyajikan gambaran lengkap mengenai setting sosial atau dimaksudkan untuk eksplorasi dan klarifikasi mengenai suatu fenomena atau kenyataan sosial, dengan jalan mendeskripsikan sejumlah variabel yang berkenaan dengan masalah dan unit yang diteliti antara fenomena yang diuji. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Menurut John Creswell dalam Dr. Jr Raco, Metode Penlitian Kualitatif (2010) penelitian kualitatif berakar pada latar alamiah sebagai keutuhan, mengandalkan manusia sebagai alat penelitian, mamanfaatkan metode kualitatif dan mengadakan analisis data secara induktif. Penelitian kualitatif lebih mementingkan proses dari pada hasil . Menghendaki adanya batas penelitian atas dasar fokus yang timbul sebagi masalah, memiliki seperangkat kriteria untuk mengukur keabsahan data melalui kesepakatan antara peneliti dengan subyek yang diteliti.

Studi deskriptif berusaha mendeskripsi dan menginterpretasi apa yang ada. la bisa mengenai kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang sedang tumbuh, proses yang sedang berlangsung, akibat efek yang terjadi, atau kecendrungan yang tengah berkembang. Studi deskriptif terutama berkenaan dengan masa kini, meskipun tidak jarang juga memperhitungkan peristiwa masa lampau dan

(40)

26 pengaruhnya terhadap kondisi masa kini.

Dalam penelitian dilakukan secara deskriptif dengan pendekatan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan pendekatan dengan prosedur yang menghasilkan temuan-temuan yang diperoleh dari data-data yang dikumpulkan dengan menggunakan beragam sarana yang meliputi pengamatan, wawancara, dokumen, buku, rekaman video dan lain-lain. Tidak menggunakan perhitungan statistik atau perhitungan lainnya. Pendekatan penelitian kualitataif bertujuan untuk memahami masalah yang diteliti secara mendalam.

3.2 Lokasi Penelitian

Adapun lokasi yang saya pilih itu di huta Siallagan kabupaten Samosir, dalam penentuan lokasi ini, lokasi ini merupakan salah satu desa wisata yang banyak dikunjungi wisatawan dengan kearifan lokalnya yang kuat. Desa ini terletak di pinggiran danau toba yang sangat strategis, dekat dengan pelabuhan kapal motor, pusat perbelanjaan, penginapan dan kearifan lokal.

3.3 Unit Analisis Dan Informan 1. Unit Analisis

Unit analisis adalah suatu yang berkaitan dengan fokus/komponen yang diteliti. Unit analis suatu penelitian dapat berupa individu, kelompok, organisasi, benda, wilayah dan waktu tertentu sesuai dengan fokus permasalahannya. Dalam penelitian ini yang menjadi unit analisis dalam penelitian yaitu pengelola desa wisata dan beberapa masyarakat.

(41)

27 2. Informan

Informan penelitian kualitatif berkaitan dengan langkah yang ditempuh peneliti untuk mendapatkan informasi atau data. Informan merupakan subjek yang memahami objek penelitian sebagai pelaku maupun orang lain yang memahami informasi objek penelitian (Bungin 2007:78). Adapun informan yang menjadi subjek penelitian ini yaitu informan kunci dan informan tambahan. Informan kunci dalam penelitian ini adalah pihak pengelola wisata dan informan tambahan yaitu masyarakat atau wiraswasta sekitar tersebut.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data penelitian penulis menggunakan metode:

a. Wawancara Mendalam

Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara si pewawancara dengan informan dengan menggunakan metode wawancara. Metode wawancara di gunakan sebagai sumber data primer atau sebagai sumber data yang utama dalam penelitian ini. Data primer adalah data yang di peroleh secara langsung melalui penelitian dan wawancara dengan responden atau informan secara langsung. Wawancara dilakukan dengan menggunakan interview guide yang merupakan panduan peneliti dalam melakukan wawancara dengan informan. Peneliti terlebih dahulu menyusun pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan kepada informan sebagai sumber informasi atau data dalam penelitian

(42)

28 b. Observasi Partisipatif

Observasi adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan pengamatannya melalui hasil kerja pancaindera mata serta dibantu dengan panca indera lainnya (Bungin, 2010). Teknik observasi dalam penelitian adalah cara yang digunakan untuk mendapatkan informasi objek yang diteliti.

c. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti dengan cara mengumpulkan dokumen-dokumen dari berbagai sumber untuk memperkuat hasil penelitian. Dokumentasi dapat berupa foto, tulisan dan lain sebagainya. Dalam hal ini peneliti menggunakan dokumentasi berupa foto.

Pengambilan gambar dilakukan langsung di lokasi penelitian.

3.5 Interpretasi Data

Interpretasi data merupakan suatu tahap pengkajian data yang mencakup perilaku objek, hasil wawancara, temuan lapangan yang teridentifikasi dan bahan- bahan kepustakaan yang dikumpulkan. Interpretasi data dimulai dengan menelaah seluruh data yang diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Setelah itu data yang telah diperoleh dipelajari dan ditelaah kembali untuk mencari jawaban dari pertanyaan rumusan masalah sehingga terbentuk solusi. Kemudian data yang sudah lengkap direduksi dengan cara abstraksi. Abstraksi merupakan rangkuman yang terperinci merujuk pada inti temuan data sehingga tetap pada fokus penelitian.

(43)

29

BAB IV

DESKRIPSI LOKASI DAN INTERPRETASI DATA

4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian 4.1.1 Sejarah Singkat Desa Siallagan

Menurut keterangan lisan yang dihimpun dari beberapa tokoh mengenai Desa Siallagan yang di huni oleh marga Siallagan. Suasana rumah tangga marga Siallagan tersebut hidup rukun dan damai dan dikarunia anak laki-laki dan perempuan. Para keturunan marga Siallagan tersebut, anak laki-laki mendiami Desa Siallagan, Desa Parhapuran, dan Desa Janji Pinda dan Lumban Hariara (Marga Marpaung, Sinaga, dan Silalahi).

Huta Siallagan memiliki arti, yaitu Kampung Siallagan. Nama Siallagan sendiri diambil dari nama Raja Siallagan, sang pendiri dari kampung ini.

Menariknya, kampung yang terletak di Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara ini merupakan salah satu tujuan wisata favorit yang ada di Pulau Samosir.

Huta Siallagan merupakan sebuah desa kuno yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu, dengan dibangun pada masa pemerintahan pemimpin Huta pertama, yaitu Raja Laga Siallagan. Siallagan adalah keturunan Raja Naimbaton yang mengikuti garis Raja Isumbaon, putra kedua Raja Batak. Silsilah garis keturunan

(44)

30

kemudian dikembangkan pada masa pewarisnya, yaitu Raja Hendrik Siallagan.

Selanjutnya, turun ke keturunan Raja Ompu Batu Ginjang Siallagan. Sejumlah keturunan Raja Siallagan masih tinggal di sana hingga hari ini di Desa Ambarita, di mana makam nenek moyang mereka masih dapat ditemukan di daerah tersebut.

Huta Siallagan sendiri memiliki luas sekitar 2.400 meter persegi dan dikelilingi oleh tembok batu setinggi 1,5 sampai 2 meter. Dibangun dari batu-batu terstruktur yang licin, dinding itu dulunya dilengkapi dengan benteng dan bambu yang tajam untuk melindungi desa dari binatang liar dan serangan dari suku lain.

Gambar 1. Rumah Bolon

4.1.2 Letak Desa Siallagan

Kabupaten Samosir adalah pemekaran dari Kabupaten Toba Samosir yang di bentuk dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2003 Tentang Pembentukan Kabupaten Samosir dan Serdang Bedagai yang diremikan pada tanggal 07 Januari

(45)

31

2004 oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden Republik Indonesia. Dengan diresmikannya Kabupaten Samosir kemudian ditindaklanjuti dengan pelantikan Penjabat Bupati Samosir pada tanggal 15 Januari 2004. Kabupaten Samosir terletak pada posisi geografis antara 2021’38” dan 2049’48” Lintang Utara, dan antara 98024’00” dan 99001’48” Bujur Timur, dengan ketinggian antara 904 meter dan 2.157 meter di atas permukaan laut.

Kabupaten Samosir merupakan daerah pulau yaitu seluruh Pulau Samosir yang dikelilingi oleh Danau Toba ditambah sebagian wilayah daratan Pulau Sumatera. Luas wilayahnya mencapai 2.069,05 km2 , terdiri dari luas daratan 1.444,25 km2 dengan topografi dan kontur tanah yang beraneka macam, yaitu datar, landai, miring dan terjal, dan luas danau 624,80 km2. Desa Siallagan ini merupakan desa yang terletak di kabupaten Samosir, Masyarakat Siallagan ini merupakan masyarakat yang hidup di pinggiran danau toba, serta memiliki kekayaan alam dan kearifan lokal yang cukup baik. Desa ini merupakan desa yang masih memiliki budaya daerah yang sangat kuat dan dijaga akan kelestariannya serta memiliki keunikan dengan keadaan masyarakat yang cukup unik dan menarik khusunya dari segi kebudayaannya. Kabupaten Samosir memiliki potensi wisata alam, wisata budaya (peninggalan budaya/situs dan legenda), wisata air/rekreasi/pantai dan wisata rohani/religi. Objek-objek wisata ini menyebar di 9 (sembilan) kecamatan yang terdapat di Kabupaten Samosir.

(46)

32

Desa Huta Siallagan dibangun pada masa pemerintahan pemimpin Huta pertama, Raja Laga Siallagan, yang kemudian dikembangkan pada masa pewarisnya, Raja Hendrik Siallagan, turun ke keturunan Raja Ompu Batu Ginjang Siallagan.

Sejumlah keturunan Raja Siallagan masih tinggal di sini hari ini di Desa Ambarita, dimana makam nenek moyang mereka masih dapat ditemukan di daerah tersebut.

Huta Siallagan mencakup area seluas 2.400 meter persegi dan dikelilingi oleh tembok batu setinggi 1,5 sampai 2 meter. Dibangun dari batu-batu terstruktur yang licin, dinding itu dulunya dilengkapi dengan benteng dan bambu yang tajam untuk melindungi desa dari binatang liar dan serangan dari suku lain.

Secara administratif wilayah Kabupaten Samosir memiliki 9 (sembilan) kecamatan yang terdiri dari 128 desa dan 6 kelurahan. Kabupaten Samosir diapit oleh 7 Kabupaten sebagai batas-batas wilayah yaitu sebagai berikut:

- Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kabupaten Karo dan Simalungun;

- Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kabupaten Toba Samosir;

- Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan;

- Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kabupaten Dairi dan Pakpak Bharat.

Untuk lebih jelas batas wilayah Kabupaten Samosir dapat dilihat pada peta di bawah ini:

Gambar 4.1 Peta Kabupaten Samosir

(47)

33

Gambar 2. Peta Pulau Samosir:

Jalur darat dilakukan dengan mengunakan Bus Angkutan Sejahtera dari arah Medan dan menuju pelabuhan Ajibata Parapat. Jika datang dari arah Tele maka akan melewati jalan yang berliku-liku atau tikungan tajam pada setiap perjalanan dan akan menghabiskan waktu 95 menit untuk mencapai Panggururan.Dari Panggururan melintasi sebuah Desa Simanindo dan Desa Ambarita menghabiskan waktu 1 jam untuk sampai ke Desa Siallagan mengunakan angkutan umum Sumber Sari. Jalur dari Danau Toba yaitu mengunakan kapal, dilakukan dari wilayah yang berada di sekitar Danau Toba. Perjalanan dapat dilakukan dari Ajibata, Tomok, Tigaras dan Simanindo.Perjalanan dari pelabuhan Ajibata menuju Desa Siallagan berkisar 1 jam, kemudian kalau dari pelabuhan Tomok menuju Desa Siallagan membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai ke Desa Siallagan. Perjalanan dari pelabuhan Simanindo menuju Desa Siallagan menghabiskan waktu berkisar 1 jam. Setiap perjalanan mengunakan kapal selalu mendapatkan panorama indahnya Danau Toba dengan

(48)

34

perbukitan yang berada ditepian Danau Toba, kerambah yang berada dipinggir Danau Toba serta pemukiman yang memperindah nuansa Danau Toba. Dengan adanya dua jalur alternatif yang ada yaitu jalur darat dan jalur danau(kapal) dapat mempermudah pengunjung untuk mencapai lokasi Desa Siallagan.

Desa Siallagan memiliki sumber daya alam yang ada seperti pertanian, dan peternakan. Pada umumnya lahan yang digunakan di Desa Siallagan digunakan secara produktif. Hal ini menunjukan bahwa kawasan Desa Siallagan memiliki sumber daya alam yang memadai dan siap untuk diolah. Berikut ini adalah Luas lahan menurut pengunaanya, yaitu luas lahan pemukiman 1 km, luas persawahan 3 km, luas perladangan 3 km, luas kuburan 0,5 km, luas pekarangan 2,5 km, luas rawa 1 km, dan luas fasilitas umum 2 km.

Gambar 3. Pintu Masuk

(49)

35 4.1.3 Keadaan Demografi

Simanindo adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Samosir, Sumatra Utara, Indonesia. Ibu kota kecamatan ini berada di desa Ambarita. Di kecamatan Simanindo terdapat sebuah pulau yang dijadikan objek wisata, yaitu Pulau Tao yang sudah terkenal sejak zaman Belanda.

Dalam Sensus Penduduk Indonesia 2020, jumlah penduduk kecamatan ini sebanyak 22.766 jiwa. Penduduk kabupaten Samosir, pada umumnya merupakan etnis Batak Toba, dan ada juga sebahagian berasal dari suku Batak Angkola, Batak Simalungun, Batak Karo, dan beberapa pendatang yang umumnya berada di ibukota kabupaten.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik kabupaten Samosir mencatat bahwa 98,33% penduduk kecamatan ini memeluk agama Kristen, dimana Protestan 64,05%

dan Katolik 34,28%. Kemudian sebagian lagi memeluk agama Islam yakni 1,47%

dan Parmalim 0,20%. Untuk sarana rumah ibadah, terdapat 54 gereja Protestan 20 gereja Katolik dan 1 musholah.

Desa Siallagan yang merupakan objek penelitian ini hampir seluruh masyarakat yang tinggal di Siallagan yang mata pencahariannya itu berdagang, nelayan dan senagian kecil ada juga sebagai petani. Dalam keseharian juga mereka lebih bekerja keras alam menghidupi keluarganya masing-masing. Adanya masa pandemi sekarang kegiatan mata pencaharian mereka sedikit terganggu akibat dari lockdown nya kabupaten Samosir sehingga para turis atau wisatawan yang datang

(50)

36

tidak diijinkan masuk ke Samosir. Para pelaku usaha maupun pedagang yang pekerjaannya sehari-hari, sudah tidak berpenghasilan lagi.

a. Penduduk Berdasarkan Etnik

Masyarakat Desa Siallagan Pindaraya masyoritas beretnik Batak Toba. Mayarakat memiliki tradisi serta kekayaan budaya yang ada di dalamnya. Jumlah penduduk yang tinggal di Desa Siallagan Pindaraya adalah sebanyak 695 kepala, dengan 181 kepala keluarga. Pembagiannya adalah, dengan jumlah penduduk berjenis kelamin laki-laki sebanyak 337 orang, sedangkan yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 358 orang.

b. Penduduk Berdasarkan Usia

Dengan total jumlah penduduk Desa Siallagan Pindaraya sebanyak 695 orang.

Dengan pembagiannya dimana jumlah penduduk laki-laki sebanyak 337 orang, dan penduduk perempuan sebanyak 358 orang, menunjukkan bahwa jumlah penduduk berjenis kelamin perempuan lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk berjenis kelamin laki-laki di Desa Siallagan.

Tabel 4.1

Rekapitulasi Penduduk Berdasarkan Usia Kelompok Usia Laki-

Laki

Perempua n

Jumla h

Rasio

(51)

37

Usia 0-5 tahun 25 32 57 0,78

Usia 5-7 tahun 11 10 21 1,10

Usia 7-13 tahun 38 36 74 1,06

Usia 13-16 tahun 27 24 51 1,13

Usia 16-19 tahun 26 31 57 0,84

Usia 19-23 tahun 23 32 55 0,72

Usia 23-30 tahun 40 22 62 1,82

Usia 30-40 tahun 45 51 96 0,88

Usia 40-56 tahun 68 65 133 1,05

Usia 56-65 tahun 22 29 51 0,76

Usia 65-75 tahun 10 17 27 0,59

Usia ˃75 tahun 2 9 11 0,22

Total Laporan 337 358 595 0,91

c. Tingkat Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu hal yang terpenting dalam kehidupan seseorang. Dengan pendidikan pulalah seseorang dapat dituntun ke masa depan yang lebih baik. Walaupun tidak semua orang berpendapat demikian, namun pendidikan dipercaya dapat merubah kualitas kehidupan seseorang.

Tingkat pendidikan masyarakat Desa Siallagan Pindaraya dapat dikatakan sudah cukup baik, dimana lebih dari setengah penduduk Desa Siallagan Pindaraya sudah

(52)

38

berpendidikan SMA (Sekolah Menengah Atas). Dengan baiknya tingkat pendidikan masyarakat Desa Siallagan Pindaraya, makan akan memberikan dampak yang baik dalam kepariwisataan Desa Siallagan. Dengan pendidikan yang baik, masyarakat desa akan mampu menangani wisatawan yang berkunung ke Desa Siallagan dengan lebih baik

Tabel 4.2

Tingkat Pendidikan Penduduk Desa Siallagan Pindaraya

N o.

Tingkat Pendidikan Juml

ah

1. TK/Kelompok Bermain 79

2. Sekolah Dasar (SD) 123

3. Sekolah Menengah Pertama (SMP) 108

4. Sekolah Menengah Atas (SMA) 278

5. Program Diploma 16

6. Program Sarjana 88

7. Tidak Sekolah 3

Jumlah 695

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa dari total jumlah penduduk Desa Siallagan Pindaraya yang sebanyak 695 orang, yang tidak menempuh pendidikan yaitu sebanyak 3 orang.

(53)

39 4.1.4 Keadaan Sosial dan Ekonomi Penduduk

Keadaan sosial masyarakat Desa Siallagan Pindaraya cukup baik, keadaan ini juga didukung olehmasyarakatnya yang tidak terlalu heterogen, hampir semua masyarakat Desa ini satu suku yaknisuku Batak Toba dan menganut agama Kristen Protestan dan Katolik. Sehingga hampir tidak pernah terjadi gesekan sosial skala besar.

Dari sisi ekonomi, Desa Siallagan Pindaraya memiliki potensi yang sangat besaruntuk dikembangkan. Salah satu potensi yang dapat dikembangkan adalah kegiatan usaha souvenir dan seni ukir yang dikembangkan menjadi areal kunjungan wisata yang sarnpai saat ini masih sering dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara.

Semuanya berubah ketika pada awal mulai pandemi pada pertengahan tahun 2020, semua kegiatan masyarakat dalam bentuk sosial, perkumpulan, berjualan, tempat wisata terpaksa dihentikan untuk mematuhi peraturan pemerintah. Setelah adanya pembatasan kegiatan di pulau samosir sendiri pemerintah samosir juga membatasi orang yang akan datang ke pulau samosir, sehingga terakhir bapak Presiden datang ke Huta Siallagan berkunjung untuk membenahi wisata-wisata yang ada di samosir dan Huta Siallagan juga menerima salah satu bantuan dari bapak Presiden untuk merenovasi bangunan-bangunan di objek Wisata Sialagan mulai dari bangunan didalam, bangunan berjualan diluar wisata dan penginapan HomeStay disekitar objek wisata. Sehingga keadaan sosial dan ekonomi masyarakat sedikit terbantu dalam pembanguna ruko-ruko mereka dimasa pandemi ini.

(54)

40

Meskipun penghasilan yang lebih banyak dari hasil pertanian karena masa pandemi bagi pengusaha yang masih terkendala.

Selain itu, penghasilan masyarakat Desa Siallagan Pindaraya terbesar juga bersumber dari pertanian, karena sembari bekerja sebagai pedagang souvenir atau mengukir, masyarakat tersebut juga sesekali mengurus lahan pertanian mereka.

Namun pertanian yang dikembangkan selama ini masih pertaniantradisional; seperti padi, kopi, bawang, cabai, cengkeh, dan lain-lain.

Dibutuhkan sebuah pembaharuan dibidang pertanian untuk meningkatkan produksi pertanian yang telah ada khususnya untuk menyikapi lahan pertanian yang relatif kurang subur khususnya di dusun yang keterbatasan lahan dan teknologi pertanian yang ramah lingkungan mutlak diperlukan. Selain bertani sebagai mata pencaharian pokok penduduk, juga terdapat sebagian penduduk yang berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), nelayan, dan lain sebaginya.

Tabel 4.3

Data penuduk Desa Siallagan Berdasarkan Pekerjaan

No. Mata Pencaharian Jumla

h

1. Petani 65

2. Buruh Tani 6

3. Pegawai Negeri Sipil 28

4. Pengrajin 12

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Damsar (2009: 211) modal sosial merupakan investasi sosial yang meliputi sumber daya sosial seperti jaringan, kepercayaan, nilai dan norma serta

Hasilnya, karakteristik Desa Gajahrejo yaitu, indikator yang paling baik dalam membentuk modal manusia adalah keterampilan, pada modal alam adalah potensi wisata,

Karena pesatnya pengembangan wisata kopi Liberika di desa kumpai batu atas, selanting berinisiatif untuk membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) agar bisa mengelola

Pengembangan desa wisata berbasis masyarakat merupakan kegiatan pembangunan desa yang sepenuhnya melibatkan masyarakat lokal sebagai pemegang kepentingan.. Secara

Selanjutnya faktor kepercayaan (trust) memberikan pengaruh kepada implementasi program ADD dalam pengembangan modal sosial di Kecamatan Ransang Barat terlihat dari

Kalau peluang-peluang di dalam pengembangan desa wisata.. yang jelas sebuah desa, sebuah wilayah itu mempunyai potensi yang bisa diolah, bisa dikemas menjadi sebuah produk. Entah

Pengaruh pengembangan desa wisata dalam kehidupan masyarakat lokal Desa Mendak Dari pastisipasi masyarakat yang tingggi dalam pengembangan desa wisata watu rumpuk mempengaruhi kehidupan

Objek Wisata Limbuhang Haliau Strategi Analisis Pengembangan ODTW Objek dan Daya Tarik Wisata di Desa Haliau Sikap dan tingkah laku masyarakat sekitar objek wisata sangat