1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Berbagai permasalahan yang diakibatkan karena perkembangan pariwisata menjadikan perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat.
Perubahan yang diakibatkan oleh perkembangan pariwisata dapat dikategorikan sebagai perubahan yang terencana ataupun perubahan yang tidak direncanakan. Perkembangan pariwisata dapat menimbulkan perubahan yang berdampak positif dan negatif. Namun, hal yang harus di pikirkan dan diperhatikan adalah perubahan yang menimbulkan dampak negatif. Fakta-fakta yang muncul dari perkembangan pebangunan pariwisata yang berdampak kepada perubahan sosial masyarakat. Berbagai masalah timbul dan bermunculan sebagai efek dari perkembangan pariwisata yang mengakibatkan perubahan sosial di masyarakat seperti perubahan gaya hidup, pergaulan, sikap atau perilaku yang ditunjukan oleh anggota-anggota masyarakat telah keluar dari nilai ataupun norma yang berlaku.
Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial, dimana mereka memiliki naluri hidup dengan orang lain. Adanya hubungan yang mereka lakukan sehari-hari kemudian timbulah suatu kelompok-kelompok sosial yang ada dan terbentuk karena adanya persamaan secara kepentingan maupun persamaan dalam nasib. Biasanya kelompok sosial yang lebih luas disebut dengan masyarakat. suatu masyarakat akan selalu bersifat dinamis, dimana mereka akan selalu berkembang dan terus berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Pengembangan wisata dapat menyebabkan adaya perubahan dalam masyarakat yang pada prinsipnya merupakan suatu proses terus-menerus, artinya bahwa setiap masyarakat pada kenyataannya akan mengalami dampak tersebut. Dari dampak tersebut terjadinya perubahan antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya. Dampak dari
2
adanya perubahan sosial tersebut dapat berupa kemajuan ataupun kemunduran bagi masyarakat sekitar. Tidak dapat dipungkiri setiap manusia selalu ingin memperbaiki kualitas hidupnya, maka mereka akan berlomba- lomba mengalami perubahan kemajuan dalam kehidupannya terutama dalam bidang sosial dan ekonomi. Karena setiap masyarakat memiliki pembagian kelas sosial maka banyak diantaranya berlomba-lomba mendapatkan kelas sosial yang tinggi.
Berkaitan dengan yang telah dipaparkan di atas, menurut Nazsir (2008, 157) mengemukakan bahwa “Masyarakat sebagai suatu sistem tentu dalam perwujudannya, senantiasa mengalami perubahan dapat berupa kemajuan atau kemunduran, luas atau terbatas, cepat atau lambatnya”.
Sehingga dapat dikatakan bahwa semua anggota-anggota masyarakat akan mengalami perubahan selama hidupnya. Dengan adanya pengembangan wisata maka terdapat dampak perubahan yang dapat kearah kemajuan (progres) ataupun perubahan tersebut dapat terjadi ke arah kemunduran.
Suatu proses perubahan sosial dapat terjadi secara sengaja dan tidak segaja. Perubahan yang disengaja adalah perubahan yang telah direncanakan sebelumnya oleh anggota masyarakat. perubahan yang tidak disengaja adalah perubahan yang terjadi diluar pengawasan masyarakat dan menimbulkan akibat yang tidak disengaja sama sekali. Salah satu contoh perubahan yang disengaja adalah bidang pariwisata.
Masyarakat yang tinggal di pedesaan umumnya bermata pencaharian sebagai petani. Pertemuan yang terjadi antara masyarakat agraris dan sektor kepariwisataan akan melahirkan perubahan-perubahan yang relatif homogen menuju yang relatif kompleks, baik itu dalam pola tingkahkah laku, pranata sosial ataupun sistem sosial dalam sebuah masyarakat. Pertemuan dua bentuk kebudayaan tersebut akan melahirkan kebudayaan baru, baik pada pihak penerima.
Pariwisata merupakan salah satu industri yang tidak akan pernah ada habisnya, juga menjadi andalan utama sumber devisa di berbagai negara.
Indonesia merupakan salah satu Negara yang mempunyai beragam jenis
3
pariwisata, misalnya wisata alam, sosial maupun budaya. Indonesia memang terkenal dengan alamnya yang masih meyimpan berjuta keindahan. Selain kondisi alam Indonesia, juga diimbangi oleh berbagai macam budaya yang dapat menarik wisatawan lokal maupun mancanegara.
Potensi-potensi tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu daerah tujuan paiwisata dunia.
Dengan berbagai macam potensi yang dimiliki oleh Indonesia dari Sabang sampai Merauke, maka pemerintah berusaha meningkatkan dan mengembangkan sektor pariwisata sebagai salah satu sumber pemasukan devisa Negara. Usaha pemerintah adalah pembuatan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2010 Tentang Kepariwisataan yang menjelaskan Bahwa keadaan alam, flora dan fauna, sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa, serta peninggalan purbakala, peninggalan sejarah, serta seni dan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan sumber daya dan modal pembangunan kepariwisataan untuk peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat sebagaimana terkandung dalam Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Dalam usaha peningkatan mutu dan kualitas pariwisata terdapat unsur penting yang perlu diperhatikan yaitu mengetahui selera atau keinginan wisatawan sepanjang tidak bertentangan dengan kepribadian bangsa atau daerah. Faktor-faktor pendukung yang memenuhi selera wisatawan selain menyediakan fasilitas – fasilitas yang memadai seperti:
akomodasi yang baik, restauran, angkutan wisata (transportation), atraksi atau obyek wisata. Hal lain yang tidak kalah penting adalah keselamatan wisatawan, keramah-tamahan masyarakat, kebersiahan lingkungan, dan keamanan perlu diperhatikan (Gromang, 2003)
Pariwisata juga merupakan suatu sektor yang tidak jauh berbeda dengan sektor ekonomi yang lain yaitu dalam proses perkembangannya juga mempunyai dampak atau pengaruh dibidang sosial ekonomi dan fisik
4
kawasan. Pengaruh yang ditimbulkan tersebut dapat berupa pengaruh positif maupun negatif terhadap kehidupan masyarakat setempat. Untuk mencegah perubahaan itu menuju ke arah negatif maka diperlukan suatu perencanaan yang mencakup aspek fisik, sosial dan ekonomi, sehingga sedapat mungkin masyarakat setempat ikut terlibat di dalam perencanaan dan pengembangan pariwisata. Hal ini perlu dilakukan untuk mendukung keberhasilan pengembangan daerah wisata yang bersangkutan (Kodyat, 1982) proses pembangunan dan pengembangan suatu wilayah dapat ditunjang oleh potensi wisata yang dimilikinya.
Salah satu sumber daya yang cukup penting yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dan untuk menigkatkan taraf hidup masyarakat adalah sumber daya alam. Sejarah perkembangan manusia sejak masa kehidupan nomaden sampai jaman industrialisasi menunjukkan, bahwa salah satu cara manusia dalam memenuhi kebutuhannya adalah dengan memanfaatkan alam. Perbedaannya, dalam masa kehidupan nomaden manusia memanfaatkan alam secara langsung artinya memenu kebutuhan dengan jalan mengambil apa saja yang disediakan alam, sedangkan dalam jaman industrialisasi manusia memanfaatkan alam dengan dibantu oleh pengusaha teknologi.
Sudah barang tentu sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembangunan masyarakat ini adalah sumber alam dalam pengertian yang luas, baik berupa makhluk hidup (tumbuh-tumbuhan, hewan) maupun bukan makhluk hidup (barang tambang, bahan mineral dan lain sebagainya).
Sektor pariwisata menjadi salah satu sektor yang memiliki potensi untuk dikembangkan oleh Kabupaten Klaten karena dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pendapatan daerah dari obyek wisata inilah yang menjadi aset penting untuk mendukung pertumbuhan wilayah Klaten. Tetapi pada kenyataannya aset penting dari pariwisata belum dimanfaatkan dan
5
dikembangkan secara optimal oleh Kabupaten Klaten. Ditinjau dari kepariwisatawan, Kabupaten Klaten memiliki daya tarik wisata yang potensial yaitu wisata alam, wisata budaya, dan wisata buatan/ binaan manusia.
Krakitan adalah desa di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Indonesia. Di desa ini terdapat objek wisata Rawa Jombor, sebuah rawa atau rowo yang awalnya dibangun untuk irigasi di sekitarnya. Lokasi Rawa Jombor sendiri adalah berupa cekungan yang luas dan dapat menampung air hingga 4 juta meter kubik. Saat ini merupakan salah satu objek wisata andalan Kabupaten Klaten, banyak warga masyarakat, mahasiswa dan penduduk Yogyakarta yang berkunjung ke objek wisata ini.
Warung Apung yang menjadi andalan objek wisata ini, pengunjung bisa makan di atas keramba rakit di tengah-tengah danau. Desa Krakitan terbagi menjadi berbagai dusun diantaranya dusun Jombor, dusun Tobong, dusun Winong, dan dusun Duwet.
Rawa Jombor merupakan sebuah cekungan atau rowo yang dikembangkan menjadi obyek wisata daerah. Dahulu Rawa Jombor hanya dimanfaatkan sebagai penampung air. Kemudian dikembangkan menjadi tempat wisata dengan cara membuat gethek (perahu penumpang dari bambu) di rawa dan masyarakat dapat membayar sejumlah uang jika ingin menaikinya. Setelah itu Rawa Jombor dikembangkan lagi menjadi tempat keramba ikan oleh masyarakat Krakitan dan wisata pemancingan bagi warga masyarakat umum.
Rawa Jombor saat ini dikembangkan menjadi desa wisata air, mengingat terdapat rawa di tengah-tengah desa yang dikelilingi oleh bukit- bukit yang dapat dikunjungi oleh warga masyarakat baik masyarakat sekitar maupun masyarakat luar daerah. Selain dikembangkan untuk daerah wisata, sumber air yang melimpah dimanfaatkan oleh warga desa untuk membudidayakan ikan, sebagai keramba ikan. Keramba ikan yang dikelola oleh warga setempat beraneka macam jenis ikan.
6
Kawasan Rawa Jombor merupakan kawasan wisata kuliner air tawar dengan pemandangan alam Bukit Sidhagura, Perbukitan Jiwo dan Pegunungan Seribu. Selain untuk kawasan wisata, Rawa Jombor dimanfaatkan sebagai penampung aliran irigasi dan sebagai karamba ikan.
Rawa Jombor dikelola oleh tiga dinas, yaitu Dinas Perhutani selaku pemilik Bukit Sidhagura yang terletak di sebelaah utara Rawa Jombor, Dinas Pekerjaan Umum (UPTD pengairan) selaku pengelola Rawa Jombor dan penyedia sarana fisik pendukung Rawa Jombor, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda Dan Olahraga (DisBudParPora) selaku pemegang hak pariwisata Rawa Jombor, dalam hal ini retribusi tiket dan perencana 107 pendukung pariwisata Rawa Jombor. Tiga Dinas tersebut bekerja sama mengelola kepariwisataan Rawa Jombor.
Rawa Jombor digunakan sebagai salah satu tempat rangkaian acara tradisi Kirab Kupat Syawalan oleh warga masyarakat Krakitan. Rangkaian acara yang dilakukan antara lain lomba ghetek dan lomba menangkap itik.
Tradisi Kirab Kupat Syawalan biasa dilaksanakan pada H+7 Hari Raya Idul Fitri, atau lebih tepatnya pada tanggal 8 Syawal. Selain itu, destinasi wisata Rawa Jombor selanjutnya adalah Warung Apung yakni tempat makan yang terapung di atas rowo. Banyak warga masyarakat yang berkujung hanya untuk mengabadikan momen tradisi Kirab Kupat Syawalan. Tidak hanya itu, Bukit Sidhagura yang terletak disebelah utara Rawa Jombor pada waktu bulan Syawal banyak difungsikan sebagai pusat kegiatan Syawalan. Bukit tersebut merupakan kesatuan aset dengan Rawa Jombor.
Salah satu destinasi wisata andalan desa Krakitan yaitu Warung Apung Rawa Jombor Klaten. Tempat wisata unik yang ada di Kabupaten Klaten yang sudah banyak dikunjungi wisatawan. Tempat wisata unik ini bernama Warung Apung yaitu warung makan yang terletak diatas rawa.
Warung Apung Rawa Jombor Klaten saat ini menjadi saah satu wisata air unggulan di Kabupaten Klaten. Banyak sekali warga Klaten terutama keluarga besar yang berkunjung sekedar makan dengan melihat
7
pemandangan air dan bukit sekitaran Rawa Jombor di Warung Apung . Warung Apung akan ramai pengunjung pada hari Minggu dan hari libur khususnya hari lebaran, banyak pengunjung berasal dari keluarga besar yang mudik ke ke Klaten.
Warung Apun gini jumlahnya puluhan dan masing-masing memiliki nama tersendiri. Pembangunan warung ini dari rangkaian bambu dan dibawahnya dipasang drum agar dapat terapung. Untuk menuju Warung Apung yang terdapat ditengah ini, pengunjung dapat menaiki gethek yang berjalan dengan cara ditarik pekerja khusus. Di Warung Apung Rawa Jombor anda dapat menikmati berbagai masakan ikan air tawar seperti lele, nila, gurameh, bawal dll. Cara memasakannya juga dapat minta sesuai selera digoreng, dibakar atau asam manis. Selain menikmati masakan, pengunjung dapat juga memancing di Warung Apung Rawa Jombor. Tarif memancing gratis dengan pengecualian yang dapat ikan harus bayar ikan tersebut.
Karena ikan yang ada di sekitar warung adalah ikan yang dimiliki pemilik warung. Ikan sengaja diternak untuk tujuan pemancingan oleh pengunjung dan bahan untuk dijual. Namun apabila ingin memancing yang benar-benar gratis itu berada di pinggiran rawa yang lepas dari kawasan Warung Apung Rawa Jombor.
Pada tahun 1998 salah satu warga yang berprofesi sebagai guru berinisiatif membangun warung makan yang dibangun diatas air rawa.
Warung Apung pertama diberi nama Warung Apung Ilham. Konsep dari Warung Apung tersebut adalah bangunan rumah yang terbuat dari sebagian besar bambu dan kayu, yang didalamnya terdapat meja dan karpet serta mushola untuk pengunjung Warung Apung Ilham, serta terdapat dapur yang digunakan untuk memasak para juru masak. Dari situ mulai satu persatu mengikuti jejak Warung Apung Ilham. Rawa Jombor sangat mempengaruhi kehidupan mayarakat desa Krakitan, karena sebagian masyarakat melakukan aktifitas di rawa seperti memancing, mencuci, dan sebagian warga menjadikannya sebagai tempat keramba ikan. Perkerambaan ikan
8
merupakan salah satu sumber perkonomian masyarakat setempat sebelum maupun sesudah dibagunnya Warung Apung . Hasil dari keramba ikan dijual ke berbagai pasar di Klaten.
Proses pembangunan merupakan proses yang melibatkan perubahan dalam lembaga-lembaga dan perlembagaan tradisional sebelumnya.
Kadang-kadang mengubah fungsinya, atau menghentikan sama sekali fungsi semulanya. Pembangunan mencakup perubahan dalam kebiasaan hubungan antar manusia yang meliputi politik, pendidikan, agama, keluarga, dan stratifikasi sosial. Keadaan sosial masyarakat yang lebih memperhatikan pemenuhan kebutuhan ekonomi. Hal itu tampak dengan keseriusan warga sekitar dalam melakukan pekerjaannya, sehingga tidak sedikit warga yang beralih profesi yang semula menjadi buruh tani, sekarang menjadi tenaga kerja di objek pariwisata atau kegiatan-kegiatan lain yang berkaitan dengan kepariwisataan.
Perubahan sosial mulai terlihat antara lain adanya kebiaasaan hidup dari tradisional ke semi modern, penerimaan terhadap unsur-unsur baru, adanya sikap menghargai hasil karya orang lain dan keinginan untuk maju, menerima adanya akulturasi yaitu dapat berbaur dengan masyarakat yang datang dari luar (wisatawan). Selain itu kreativitas dan budaya kerja keras ditujukan warga pemilik Warung Apung . Penemuan baru mulai diterapkan.
Mereka berlomba-lomba melihatkan kelebihan Warung Apung masing- masing, salah satu bentuk inovasi mereka antara lain adanya organ tunggal di Warung Apung sehingga dapat menarik pengunjung untuk mendatangi Warung Apung tersebut. Pengunjung boleh request lagu atau bahkan menyanyi di depan pengunjung lainnya. Tidak mau kalah, pemilik lainnya berinisiatif untuk membuat tempat bermain anak-anak sehingga banyak keluarga yang memiliki anak kecil mengunjungi Warung Apung tersebut.
Kreatifitasan yang lain ditunjukkan dengan adanya kolam ditengah warung yang boleh dipancing oleh pengunjung untuk bisa dimasak oleh juru masak warung.
9
Pendapatan masyarakat sekitar Rowo Jombor sangat bergantung pada rawa. Dimana kebanyakan mereka mengais pendapatan disana dengan berbagai macam profesi. Investor banyak yang menanamkan hartanya melewati salah satu obyek wisata di Rowo Jombor yaitu Warung Apung . Latar belakang pemilik Warung Apung berasal dari berbagai macam pekerjaan antara lain sebagai guru, pemborong, petani dan bahkan buruh namun pekerjaan mereka berkerja sebagai petani. Uniknya pemilik dari Warung Apung satu dengan yang lainnya masih memiliki ikatan darah atau keluarga. Rata-rata Warung Apung yang dibangun terletak di depan rumah masing-masing pemilik. Mayoritas mereka yang sudah memiliki pekerjaan berinisisatif untuk membuat usaha lain yaitu pembuatan wisata Warung Apung yang terinspirasi oleh pemilik Warung Apung Ilham. Banyak peruntungan yang didapat melalui Warung Apung tersebut, sesudah pembuatan Warung Apung banyak pendapatan yang diperoleh oleh warga masyarakat Krakitan. Perubahan ekonomi mulai terlihat setelah adanya usaha Warung Apung tersebut.
Selain kondisi ekonomi masyarakat, latar belakang pendidikan mereka juga beranekaragam yaitu lulusan SMA, Sarjana, bahkan lulusan SMP. Berkat keahlian mengambil peluang di Rawa Jombor, warga memiliki inisiatif untuk membangun wisata air di desa mereka. Inovasi tersebut mendapatkan reson positif dari perangkat desa dan pemerintah setempat.
Sehingga terjadinya perubahan baik sosial maupun ekonomi di desa tersebut. Warung Apung dapat menampung beberapa pekerja di berbagai bidang antara lain juru masak, pelayan, tukang parkir dan jasa organ tunggal. Sehingga Warung Apung dapat menyerap tenaga kerja dari masyarakat sekitar, hal tersebut dapat mengurangi pengangguran saat itu.
Praktik sosial dlam upaya pengembangan Rowo Jombor dengan membangun Warung Apung diharapkan akan dapat membuka peluang usaha dan menciptakan kegiatan ekonomi produktif bagi masyarakat sekitarnya, sehingga akan membawa perubahan kearah perbaikan ekonomi.
10
Masyarakat yang dulunya hanya bermata pencaharian di sektor pertanian saja, maka dengan adanya pengembangan Rowo Jombor diharapkan dapat berubah kesektor lain.
Pembangunan Warung Apung ini selain bertujuan pokok meningkatkan sektor pariwisata di daerah Klaten namun pada kenyataannya juga memiliki potensi lain dalam mendatangkan penghasilan bagi masyarakat sekitarnya. Potensi tersebut diantaranya adalah dibidang usaha rumah makan, home industry, kegiatan ekonomi informal lainnya serta armada angkutan dan hiburan.
Melihat berbagai potensi yang dimiliki dari pengembangan Rowo Jombor, akan dapat membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar sehingga dapat menambah sumber pendapatan keluarga yang akhirnya memberikan kontribusi pada peningkatan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat. Kegiatan pengembangan Rowo Jombor dengan membangun Warung Apung ini tidaklah seratus persen sempurna. Berdasarkan pengamatan peneliti, yang bisa membuka usaha Warung Apung hanyalah golongan masyarakat yang memiliki kemampuan dalam hal permodalan atau dana, karena pendirian Warung Apung memerlukan modal yang sangat besar, sedangkan masyarakat yang kurang beruntung dalam permodalan hanya menikmati sebagian kecil keuntungan dari pengembangan Rowo Jombor tersebut. Kasus ini memperlihatkan adanya kesenjangan antar golongan masyarakat. Kesenjangan ini timbul karena tidak semua pelaku ekonomi dapat berperan aktif dalam proses pembangunan dan tidak semua masyarakat dapat menikmati peningkatan pendapatan dari hasil proses pembangunan.
Mereka adalah pelaku ekonomi yang tidak mempunyai akses pada sumber daya ekonomi terutama modal, sumber daya alam, teknologi, kesehatan dan pendidikan serta tidak mampu berperan dalam kegiatan pembangunan dan kegiatan sosial ekonomi produktif. Kondisi kesenjangan seperti ini bila dibiarkan berlarut dapat menyebabkan melemahnya aspek
11
ekonomi dan menimbulkan kecemburuan sosial, selain kelemahan tersebut ternyata keberadaan Warung Apung juga mengganggu ekosistem alami Rowo Jombor. Pendangkalan Rowo Jombor terus terlihat, enceng gondok tumbuh dengan liar dimana-mana sehingga mengurangi keindahan Rowo Jombor dan menyebabkan kepunahan ekosistem yang hidup didalamnya.
Melihat ketidakseimbangan tersebut maka peneliti tertarik untuk meneliti lebih jauh bagaimana praktik sosial, habitus, modal, dan ranah yang terjadi pada keberadaan obyek wisata Rowo Jombor dalam peningkatan pendapatan Desa Krakitan Bayat Klaten.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah dikemukakan tersebut, diperoleh rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana praktik sosial dalam peningkatan pendapatan masyarakat Desa Krakitan?
2. Bagaimana habitus pengembangan obyek wisata Rowo Jombor masyarakat Desa Krakitan?
3. Apa saja modal masyarakat Desa Krakitan dalam peningkatan pendapatan di obyek wisata Rowo Jombor?
4. Bagaimana ranah atau arena keberadaan obyek wisata Rowo Jombor?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang terdapat dalam penelitian ini, maka tujuan yang akan dicapai yaitu :
1. Untuk mendiskripsikan praktik sosial dalam peningkatan pendapatan masyarakat Desa Krakitan.
2. Untuk mendiskripsikan habitus pengembangan obyek wisata Rowo Jombor masyarakat Desa Krakitan.
3. Untuk mendiskripsikan modal masyarakat Desa Krakitan dalam peningkatan pendapatan di obyek wisata Rowo Jombor.
4. Untuk mendiskripsikan ranah atau arena keberadaan obyek wisata Rowo Jombor.
12 D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan tambahan informasi, evaluasi, gambaran dan pembekalan mengenai pengembangan wisata Rowo Jombor serta dampak sosial dan ekonomi pada masyarakat Desa Rawa Jombor.
1. Manfaat Teoritis
a. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi ilmiah, pengetahuan dan pengalaman dalam mengkaji dan mengembangkan daya tarik wisata Rawa Jombor Krakitan Klaten Jawa Tengah.
b. Menambah pengetahuan tentang pengembangan obyek wisata Rowo Jombor dalam peningkatan pendapatan masyarakat.
c. Dapat menjadi referensi untuk penelitian selanjutnya yang lebih baik dan lengkap.
2. Manfaat Praktis a. Bagi Peneliti
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai pengukur kemampuan peneliti dalam menemukan suatu fenomena atau permasalahan yang terjadi di masyarakat serta menganalisisnya.
b. Bagi Pembaca
Penelitian ini dapat memberikan informasi dan menambah wawasan bagi para pembaca untuk dapat mengelola sumberdaya alam dengan tepat guna.
c. Bagi Masyarakat
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran berupa saran yang dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk menyekolahkan anak ke jenjang yang lebih tinggi.