• Tidak ada hasil yang ditemukan

Putusan Mahkamah Agung Nomor : 590/B/PK/PJK/2012

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Putusan Mahkamah Agung Nomor : 590/B/PK/PJK/2012"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PUTUSAN

Nomor 590/B/PK/PJK/2012

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH AGUNG

memeriksa permohonan peninjauan kembali perkara Pajak telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara:

PT. XXX, beralamat di Jl. K No. Y, Surabaya, 60xxx, diwakili ABC, selaku Direktur, beralamat di Villa B C, RT/RW X/Y,Surabaya, dalam hal ini memberikan kuasa kepada : DEF, beralamat di Menara M Lt. Y, Jl. H Kav. 1, Jakarta Selatan, berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor : 07/II/TSP/SK/12 tanggal 20 Februari 2012.

Pemohon Peninjauan Kembali dahulu Pemohon Banding Melawan :

DIREKTUR JENDERAL PAJAK, tempat kedudukan di Jalan Jenderal Gatot Subroto Nomor. 40-42, Jakarta, diwakili A. Fuad Rahmany, selaku Direktur Jenderal Pajak, dalam hal ini memberi kuasa kepada :

1. GHI, Direktur Keberatan dan Banding, Direktorat Jenderal Pajak.

2. JKL, Kasubdit Peninjauan Kembali dan Evaluasi, Direktorat Keberatan dan Banding.

3. MNOI, Pj. Kepala Seksi Peninjauan Kembali, Subdit Peninjauan Kembali dan Evaluasi, Direktorat Keberatan dan Banding.

4. PQR, Penelaah Keberatan, Subdit Peninjauan Kembali dan Evaluasi, Direktorat Keberatan dan Banding.

Keempatnya berkedudukan di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jl. Jenderal Gatot Subroto No. 40-42 Jakarta, berdasarkan Surat Kuasa Khusus No. SKU-469/PJ./2012 tanggal 16 April 2012.

Termohon Peninjauan Kembali dahulu Terbanding Mahkamah Agung tersebut.

Membaca surat-surat yang bersangkutan.

Menimbang, bahwa dari surat-surat yang bersangkutan ternyata Pemohon Peninjauan Kembali dahulu sebagai Pemohon Banding telah mengajukan permohonan peninjauan kembali terhadap putusan Pengadilan Pajak tanggal 21 November 2011 No. Put. 35087/PP/M.V/15/2011 yang telah berkekuatan hukum tetap, dalam perkaranya melawan Termohon Peninjauan Kembali dahulu Terbanding dengan posita perkara sebagai berikut :

Bahwa sehubungan dengan diterbitkannya Keputusan Terbanding Nomor: KEP-394/WPJ.07/BD.05/2009 tanggal 03 April 2009 tentang Keberatan Pemohon Banding atas Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar Pajak Penghasilan Badan Nomor:

00081/406/06/056/08 tertanggal 26 Juni 2008 Tahun Pajak 2006, Pemohon Banding berdasarkan Pasal 27 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir kali dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 mengajukan banding atas keputusan tersebut;

Bahwa adapun proses dari sejak terbitnya Surat Ketetapan Pajak sampai dengan permohonan banding adalah sebagai berikut:

Bahwa pada tanggal 26 Juni 2008 Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Tiga telah menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar Pajak Penghasilan Badan Nomor: 00081/406/06/056/08 tanggal 26 Juni 2008 Tahun Pajak 2006 sebesar Rp.

1.272.957.516,00;

Bahwa atas SKPLB PPh Badan tersebut, pada tanggal 12 September 2008, Pemohon Banding telah mengajukan keberatan kepada Terbanding dimana Pemohon Banding menyatakan tidak setuju atas koreksi positif pemeriksa atas Harga Pokok Penjualan yang tidak dapat dibiayakan secara fiskal sebesar Rp.10.289.806.787,00; dan koreksi positif pemeriksa atas

(2)

Penghasilan dari Luar Usaha sebesar Rp.2.902.945.566,00;

Bahwa menurut pendapat Pemohon Banding tidak seharusnya koreksi positif atas Harga Pokok Penjualan dan Penghasilan dari Luar Usaha sehingga PPh Badan yang lebih dibayar hanya sebesar Rp.1.567.429.883,00 dan seharusnya PPh Badan yang lebih dibayar adalah sebesar Rp. 4.429.552.316,00;

Bahwa pada tanggal 03 April 2009 Pemohon Banding menerima salinan Keputusan Terbanding Nomor: KEP-

394/WPJ.07/BD.05/2009 tanggal 03 April 2009 yang menolak permohonan Pemohon Banding dan tetap mempertahankan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar Pajak Penghasilan Badan Nomor: 00081/406/06/056/08 tertanggal 26 Juni 2008 Tahun Pajak 2006 sebesar Rp.1.272.957.516,00;

Bahwa dengan diterbitkannya KEP-394/WPJ.07/BD.05/2009 tersebut, Pemohon Banding selaku Wajib Pajak bermaksud mengajukan banding atas keputusan tersebut dengan alasan sebagai berikut :

Menurut Pemeriksa/Penelaah Keberatan

Koreksi Positif atas Harga Pokok Penjualan sebesar Rp. 10.289.806.787,00

Bahwa Penelaah Keberatan mempertahankan koreksi positif atas Harga Pokok Penjualan sebesar Rp. 10.289.806.787,00;

Bahwa berdasarkan Pemberitahuan Hasil Penelitian, Penelaah Keberatan menguraikan dasar dilakukan koreksi sebagai berikut:

Bahwa dari hasil penelitian atas surat permohonan keberatan Pemohon Banding diketahui bahwa Pemohon Banding tidak setuju atas koreksi tersebut karena menurut Pemohon Banding, biaya sebesar Rp.10.289.806.787,00 tersebut merupakan biaya akrual yang berhubungan dengan kegiatan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan;

Bahwa berdasarkan alasan tersebut, Penelaah berpendapat bahwa diperlukan pembuktian lebih lanjut untuk menguji kebenaran alasan yang dikemukakan Pemohon Banding tersebut;

Bahwa dalam rangka melaksanakan hak Pemohon Banding sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 dan 26 ayat (2) Undang- Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tersebut, kepada Pemohon Banding diberi kesempatan untuk memberikan

penjelasan/alasan atau bukti tambahan melalui Surat Permintaan Penjelasan dan/atau Pembuktian Nomor: S- 5283/WPJ.07/BD.0504/2008 tanggal 13 Oktober 2008 dan Undangan Pembahasan Sengketa Perpajakan Nomor: S-

5760/WPJ.07/BD.0504/2008 tanggal 04 November 2008, namun, Pemohon Banding tidak menghadiri undangan pembahasan sengketa tersebut dan sampai dengan laporan ini dibuat tidak terdapat data atau dokumen tambahan yang diberikan oleh Pemohon Banding;

Bahwa Penelaah berpendapat bahwa pembuktian yang diperlukan untuk dapat dikabulkannya permohonan ini adalah Pemohon Banding harus dapat membuktikan bahwa biaya sebesar Rp. 10.289.806.787,00 tersebut benar-benar merupakan biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan sebagaimana diatur dalam Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Pajak Penghasilan;

Bahwa berdasarkan penelitian terhadap bukti-bukti yang dipinjamkan oleh Pemohon Banding, Penelaah berpendapat bahwa Pemohon Banding tidak dapat membuktikan bahwa biaya sebesar Rp.10.289.806.787,00 bukan merupakan pemupukan biaya cadangan melainkan merupakan biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto;

Bahwa hal ini disebabkan tidak terdapat perincian dan penjelasan atas biaya-biaya yang diklaim oleh Pemohon Banding tersebut serta bukti-bukti yang ditunjukkan oleh Pemohon Banding tidak memadai;

Bahwa oleh karena itu, Penelaah berpendapat perhitungan koreksi pemeriksa sebagaimana tercantum dalam KKP B.2.2 telah benar dan sesuai dengan Pasal 9 ayat (1) huruf c Undang-Undang Pajak Penghasilan bahwa biaya sebesar

Rp.10.289.806.787,00 tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto karena merupakan biaya cadangan;

Koreksi Positif atas Penghasilan dari Luar Usaha - Pendapatan lain sebesar Rp. 2.902.745.566,00

Bahwa Penelaah Keberatan mempertahankan koreksi positif atas Penghasilan dari Luar Usaha –Pendapatan Lain sebesar Rp.

2.902.945.566,00;

Bahwa sesuai Pemberitahuan Hasil Penelitian, Penelaah Keberatan melakukan koreksi dengan dasar sebagai berikut:

Bahwa dari hasil penelitian atas surat permohonan keberatan Pemohon Banding diketahui bahwa Pemohon Banding tidak setuju atas koreksi tersebut karena menurut Pemohon Banding tidak benar terdapat pencatatan cadangan biaya yang tidak terpakai, yang telah dibebankan sebagai biaya tahun sebelumnya, dibukukan ke perkiraan Return Earning;

(3)

Bahwa berdasarkan alasan tersebut, Penelaah berpendapat bahwa diperlukan pembuktian lebih lanjut untuk menguji kebenaran alasan yang dikemukakan Pemohon Banding tersebut;

Bahwa dalam rangka melaksanakan hak Pemohon Banding sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 dan 26 ayat (2) Undang- Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tersebut, kepada Pemohon Banding diberi kesempatan untuk memberikan

penjelasan/alasan atau bukti tambahan melalui Surat Permintaan Penjelasan dan/atau Pembuktian Nomor: S- 5283/WPJ.07/BD.0504/2008 tanggal 13 Oktober 2008 dan Undangan Pembahasan Sengketa Perpajakan Nomor S-

5760/WPJ.07/BD.0504/2008 tanggal 04 November 2008, namun, Pemohon Banding tidak menghadiri undangan pembahasan sengketa tersebut dan sampai dengan laporan ini dibuat tidak terdapat data atau dokumen tambahan yang diberikan oleh Pemohon Banding;

Bahwa Penelaah berpendapat bahwa pembuktian yang diperlukan untuk dapat dikabulkannya permohonan ini adalah Pemohon Banding harus dapat membuktikan bahwa pencatatan jurnal penyesuaian sebesar Rp.2.902.945.566,00 dalam Buku Besar tersebut bukan merupakan pencatatan cadangan biaya yang tidak terpakai yang sebelumnya telah dibebankan sebagai biaya di Tahun 2005 sebagaimana disebutkan dalam alasan koreksi pemeriksa;

Bahwa berdasarkan penelitian terhadap bukti-bukti yang dipinjamkan oleh Pemohon Banding, Penelaah berpendapat bahwa Pemohon Banding tidak dapat membuktikan bahwa pencatatan jurnal penyesuaian sebesar Rp.2.902.945.566,00 bukan merupakan pencatatan cadangan biaya yang tidak terpakai yang telah dibebankan sebelumnya sebagai biaya di Tahun 2005;

Bahwa hal ini disebabkan tidak terdapat perincian dan penjelasan atas jurnal penyesuaian tersebut serta bukti-bukti yang ditunjukkan oleh Pemohon Banding tidak memadai;

Bahwa oleh karena itu, Penelaah berpendapat perhitungan koreksi pemeriksa telah benar dan sesuai dengan Pasal 4 ayat (1) huruf p Undang-Undang Pajak Penghasilan bahwa atas pencatatatan jurnal penyesuaian cadangan biaya yang tidak terpakai yang sebelumnya telah dibebankan sebagai biaya di Tahun 2005 dan dibukukan ke Retained Earning termasuk dalam pengertian tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak yang merupakan objek pajak penghasilan;

Menurut Pemohon Banding

Bahwa Pemohon Banding tidak setuju terhadap koreksi yang tetap dipertahankan oleh Penelaah Keberatan karena pada dasarnya Pemohon Banding telah memenuhi kewajibannya sebagai Wajib Pajak;

Bahwa adapun uraian dan penjelasan Pemohon Banding adalah sebagai berikut:

Koreksi Positif atas Harga Pokok Penjualan sebesar Rp. 10.289.806.787,00

Bahwa Pemohon Banding tidak setuju dengan pendapat Penelaah Keberatan atas Harga Pokok Penjualan;

Bahwa perkiraan cadangan biaya lokal, Warranty. Insentive, komisi dan lain-lain sebesar Rp.10.289.806.787,00 merupakan pembebanan biaya yang sesuai dengan Pasal 6 ayat (1) huruf a Undang-Undang Pajak Penghasilan Nomor 17 Tahun 2000 yang menegaskan bahwa besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Pemohon Banding dalam negeri dan bentuk usaha tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan bruto, dikurangi dengan biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan;

Bahwa biaya sebesar Rp. 10.289.806.787,00 merupakan biaya akrual yang berhubungan dengan kegiatan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan;

Bahwa biaya tersebut bukan merupakan pembentukan atau pemupukan dana cadangan seperti yang diasumsikan oleh pemeriksa;

Bahwa pajak pun menganut prinsip persandingan biaya dengan penghasilan (matching cost againts revenue) dimana penghasilan harus dapat diselaraskan dengan biaya dan sebaliknya;

Bahwa selain itu, pada tanggal 29 Oktober 2008, Pemohon Banding telah menyerahkan sebagian data atau dokumen pendukung untuk pembuktian kepada Penelaah Keberatan;

Bahwa berdasarkan penjelasan tersebut di atas, koreksi pemeriksa yang sebesar Rp. 10.289.806.787,00 seharusnya dibatalkan;

Koreksi Positif atas Penghasilan dari Luar Usaha - Pendapatan lain sebesar Rp. 2.902.745.566,00

Bahwa Pemohon Banding juga tidak setuju dengan pendapat Penelaah Keberatan atas koreksi positif Penghasilan dari Luar

(4)

Usaha - Pendapatan lain sebesar Rp.2.902.745.566,00 dikarenakan dalam perhitungan saldo awal R/E Tahun 2006 setelah adjusment, Penelaah Keberatan tetap memperhitungkan rugi (laba) Tahun 2005;

Bahwa seharusnya di dalam saldo awal R/E Tahun 2006 atau saldo akhir R/E Tahun 2005 cfm Buku Besar, sudah termasuk rugi (laba) Tahun 2005;

Bahwa sesuai dengan sistem akuntansi yang dianut oleh perusahaan, setiap awal tahun berikutnya, program pembukuan akuntansi akan otomatis menutup tahun yang lalu dan berubah menjadi tahun berikutnya, dengan kata lain, pembukuan atau transaksi yang terjadi atau seharusnya dibukukan tahun sebelumnya, tidak dapat dibukukan sesuai dengan tahun yang bersangkutan;

Bahwa oleh karena itu, transaksi atau penyesuaian untuk tahun yang sebelumnya, dilakukan melalui jurnal adjusment auditor sehingga telah direfleksikan dalam laporan keuangan audit tahun yang bersangkutan;

Bahwa asumsi Penelaah Keberatan bahwa terdapat pencatatan cadangan biaya yang tidak terpakai, yang telah dibebankan sebagai biaya tahun sebelumnya dibukukan ke perkiraan Return Earning adalah tidak benar;

Bahwa selanjutnya, Pemohon Banding juga telah menyerahkan pembuktian berupa buku besar dan jurnal penyesuaian dari kertas kerja auditor sebagai dokumen pendukung untuk pembuktian kepada Penelaah Keberatan pada tanggal 29 Oktober 2009;

Bahwa berdasarkan penjelasan tersebut di atas, koreksi pemeriksa yang sebesar Rp.2.902.745.566,00 seharusnya dibatalkan;

Bahwa berdasarkan uraian banding tersebut di atas, Pemohon Banding mohon agar pihak Pengadilan Pajak berkenan untuk mempertimbangkan dan mengabulkan banding atas Keputusan Terbanding Nomor: KEP-394/WPJ.07/ BD.05/2009 tanggal 03 April 2009 tentang Keberatan Pemohon Banding atas Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar Pajak Penghasilan Badan Nomor:

00081/406/06/056/08 tertanggal 26 Juni 2008 Tahun Pajak 2006 dari semula Lebih Bayar sebesar Rp. 1.272.957.518,00 menjadi Lebih Bayar sebesar Rp.4.429.552.316,00;

Bahwa berikut penghasilan neto fiskal yang tercantum dalam SKPLB PPh Badan Nomor: 00081/406/06/056/08 seharusnya adalah sebagai berikut:

Keterangan Jumlah (Rp)

Peredaran Usaha Harga Pokok Penjualan Laba bruto

Penghasilan bruto dari luar usaha Jumlah penghasilan bruto Pengurangan penghasilan bruto Penghasilan neto dalam negeri Penghasilan Kena Pajak Pajak yang terutang Kredit Pajak

PPh yang lebih dibayar

213.945.960.046,00 182.503.287.814,00 31.442.672.232,00 167.609.231,00 31.610.281.463,00 34.222.717.084,00 (2.612.435.621,00) NIHlL

NIHIL

4.429.552.316,00 4.429.552.316,00

Menimbang, bahwa amar putusan Pengadilan Pajak tanggal 21 November 2011 No. Put. 35087/PP/M.V/15/2011 yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut adalah sebagai berikut :

Menyatakan mengabulkan sebagian banding Pemohon Banding terhadap Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor : KEP- 394/WPJ.07/BD.05/2009 tanggal 03 April 2009, tentang Keberatan atas Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar Pajak Penghasilan Badan Tahun Pajak 2006 Nomor: 00081/406/06/056/08 tanggal 26 Juni 2008, atas nama: PT XXX, NPWP: 01.xxx.xxx.x- xxx.000, alamat: Jl. K No. Y, Surabaya, 60xxx dengan perhitungan menjadi sebagai berikut :

Penghasilan Neto Rp. 7.677.571.167,00

Penghasilan Kena Pajak Rp. 7.677.571.000,00

PPh terutang Rp. 2.285.771.300,00

Kredit Pajak Rp. 4.429.552.316,00

PPh yang kurang (lebih) Dibayar Rp. (2.143.781.016,00) Sanksi Administrasi Rp. 0,00

(5)

Jumlah yang masih harus (lebih) Dibayar Rp. (2.143.781.016,00)

Menimbang, bahwa sesudah putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap i.c. putusan Pengadilan Pajak tanggal 21 November 2011 No. Put. 35087/PP/M.V/15/2011 diberitahukan kepada Pemohon Peninjauan Kembali dahulu Pemohon Banding pada tanggal 09 Desember 2011 kemudian terhadapnya oleh Pemohon Peninjauan Kembali dahulu Pemohon Banding dengan perantaraan kuasanya berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 20 Februari 2012 diajukan permohonan peninjauan kembali secara tertulis di Kepaniteraan Pengadilan Pajak pada tanggal 02 Maret 2012 sebagaimana ternyata Akta Permohonan Peninjauan Kembali No. PKA-210/SP.52/AB/III/2012 dengan disertai alasan-alasannya yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Pajak tersebut pada tanggal 02 Maret 2012.

Menimbang, bahwa tentang permohonan peninjauan kembali tersebut telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan seksama pada tanggal 22 Maret 2012, kemudian terhadapnya oleh pihak lawannya telah diajukan jawaban yang diterima di

Kepaniteraan Pengadilan Pajak tanggal 19 April 2012.

Menimbang, bahwa permohonan peninjauan kembali a quo beserta alasan-alasanya telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama, diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan oleh Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009, juncto Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pahak, maka permohonan peninjauan kembali tersebut secara formal dapat diterima;

ALASAN PENINJAUAN KEMBALI

Menimbang, bahwa Pemohon Peninjauan Kembali telah mengajukan alasan-alasan Peninjauan Kembali yang pada pokoknya berbunyi sebagai berikut :

1 Pada tanqqal 26 Juni 2008 Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Tiga telah menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar Pajak Penghasilan Badan Nomor: 00081/406/06/056/08 dengan perhitungan sebagai berikut :

Uraian Jumlah menurut Koreksi (Rp)

SPT (Rp) Pemeriksa (Rp)

Peredaran Usaha 213.945.960.046 213.945.960.046 0

Harga Pokok Penjualan 182.597.800.700 172.213.481.026 10.384.319.674

Laba Bruto 31.348.159.346 41.732.479.020 10.384.319.674

Pengurang Penghasilan Bruto 33.293.103.645 32.540.639.590 752.464.055 Jumlah Penghasilan Bruto (1.944.944.299) 9.191.839.430 11.136.783.729

Biaya dari Luar Usaha 0 0 0

Penghasilan Neto Dalam Negeri (1.944.944.299) 9.191.839.430 11.136.783.729

Penghasilan di Luar Usaha 167.609.231 3.070.554.797 2.902.945.566

Jumlah Penghasilan (Rugi) Neto (1.777.335.068) 12.262.394.227 14.039.729.295

Kompensasi Kerugian 0 0 0

Penghasilan Kena Pajak (1.777.335.068) 12.262.394.227 14.039.729.295

PPh Terutang 0 3.156.594.800 3.156.594.800

Pengembalian/Pengurangan PPh PsI. 24 0 0 0

Jumlah PPh Yang Terutang 0 3.156.594.800 3.156.594.800

Kredit Pajak 4.429.552.316 4.429.552.316 0

PPh yang Kurang (Lebih) Dibayar (4.429.552.316) (1.272.957.516) 3.156.594.800

Sanksi Administrasi 0 0 0

PPh yang masih harus (Iebih) Dibayar (4.429.552.316) (1.272.957.516)

2 Atas SKPLB PPh Badan tersebut, pada tanggal 12 September 2008 kami telah mengajukan Surat Keberatan dimana kami menyatakan tidak setuju atas koreksi pemeriksa atas Harga Pokok Penjualan yang tidak dapat dibiayakan secara fiscal sebesar Rp.1 0.289.806.787,-; dan koreksi positif pemerika atas Penghasilan dari Luar Usaha sebesar Rp. 2.902.945.566,-.

Menurut pendapat kami tidak seharusnya PPh Badan yang lebih dibayar hanya sebesar Rp.1.272.957.516,- dan seharusnya PPh Badan yang lebih dibayar adalah sebesar Rp. 4.429.552.316,-.

3 Lebih lanjut, pada tanggal 03 April 2009 kami menerima Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP- 394/WPJ.07/BD.05/2009 yang menolak permohonan keberatan kami dan tetap mempertahankan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar Pajak Penghasilan Badan Nomor: 00081/406/061056/08 tertanggal 26 Juni 2008 Tahun Pajak 2006 sebesar Rp.

1.272.957.516,-.

(6)

4 Kemudian, kami telah mengajukan surat Permohonan Banding kepada Pengadilan Pajak dan berdasarkan Putusan Pengadilan Pajak No.Put. 35087/PP/M.V/15/2011 yang dikirimkan kepada kami pada tanggal 5 Desember 2011, Majelis berkesimpulan mengabulkan sebagian permohonan banding terhadap koreksi Pajak Penghasilan Badan sehingga secara keseluruhan koreksi Terbanding menjadi sebagai berikut:

Penghasilan Neto menurut Terbanding Rp 10.580.316.733 Koreksi yang tidak dapat dipertahankan Rp 2.902.745.566 Penghasilan Neto menurut Majelis Rp 7.677.571.167

Penghasilan Kena Pajak Rp 7.677.571.000

PPh Terutang Rp 2.285.771.300

Kredit Pajak Rp 4.429.552.316

PPh yang kurang (Iebih) dibayar Rp (2.143.781.016)

Sanksi Administrasi Rp 0

Jumlah yang masih harus (Iebih) dibayar Rp (2.143.781.016)

5 Atas hasil putusan Pengadilan Pajak, untuk koreksi yang tetap dipertahankan atas Harga Pokok Penjualan senilai Rp.

10.289.806.787,-, kami selaku Wajib Pajak bermaksud mengajukan permohonan peninjauan kembali atas Putusan Pengadilan Pajak dengan penjelasan sebagai berikut:

Berikut uraian dan penjelasan atas koreksi yang kami ajukan permohonan peninjauan kembali ke Mahkamah Agung.

Koreksi Harga Pokok Penjualan Rp. 10.289.806.787,-

Menurut Pendapat Terbanding (dikutip dari Putusan Pengadilan Pajak)

Bahwa berdasarkan Laporan Pemeriksaan Pajak dan Kertas Kerja Pemeriksaan B.2.2, harga pokok penjualan dikoreksi sebesar Rp. 10.289.806.787,- karena merupakan pembebanan biaya yang belum ada kepastian terjadi di masa yang akan datang, seperti cadangan Warranty, cadangan Insentive dan lain-lain;

Bahwa sesuai Pasal 9 ayat (1) huruf c UU Nomor 17 Tahun 2000 dimana pembentukan dana cadangan kecuali cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan sewa guna usaha dengan hak opsi, cadangan untuk Usaha asuransi, dan cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan, tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto;

Bahwa angka cadangan yang diambil Terbanding untuk dikoreksi adalah dari Balance Sheet;

Bahwa sisa cadangan Tahun 2005 yang direalisasikan pada Tahun 2006 telah dimasukkan ke R/E, tidak dapat dimasukkan ke HPP lagi, karena system pembukuan Pemohon Banding memang secara otomatis menurut transaksi Tahun 2005 pada saat sudah berganti tahun ke 2006;

Bahwa cadangan yang tidak terpakai ini seharusnya menjadi penghasilan bagi Pemohon Banding;

Bahwa yang dikoreksi adalah cadangan yang belum ada realisasinya pada akhir bulan;

Bahwa berdasarkan pemeriksaan Terbanding, tiap akhir bulan sudah ada jurnal adjustment untuk cadangan yang sudah terelisasi, sehingga saldo yang tersisa yang pada akhir tahun adalah angka yang belum teralisasi, sehingga dengan demikian bila semua cadangan sudah teralisasi pada akhir tahun, tidak akan muncul di akhir tahun;

Bahwa Terbanding melakukan koreksi justru karena muncul saldo di akhir tahun yang berarti cadangan tersebut belum terealisasi;

Bahwa atas perhitungan-perhitungan yang disampaikan Pemohon Banding dalam persidangan, Terbanding berpendapat sebagai berikut:

Bahwa Terbanding tidak dapat menganalisa perhitungan Pemohon Banding yang hanya memperlihatkan realisasi cadangan tahun berjalan, sehingga Terbanding tidak dapat menelusuri arus biayanya;

Bahwa Terbanding juga mempermasalahkan pembuktian atas realisasi dalam penghitungan Pemohon Banding, mengingat yang disampaikan Pemohon Banding hanya sebatas perhitungan;

Bahwa atas pendapat Pemohon Banding yang menyatakan bahwa biaya-cadangan Lain yang dikoreksi bukanlah merupakan biaya cadangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000, melainkan hanya sekedar estimasti atas biaya yang pasti dikeluarkan karena penjualan sudah diakui namun belum dicatat dalam system akuntansi karena belum ada invoice dari penjual/voucher, Terbanding berpendapat sebagai berikut:

Bahwa data-data yang diperoleh dalam proses persidangan adalah sebagai berikut:

(7)

1 Data Audit Report Pemohon Banding Tahun 2006 yang menyatakan hal-hal sebagai berikut:

- Bahwa pada point 1. General Paragraf 3 dinyatakan: "The scope of its activities is to engage mainly in providing contractor construction services in mechanical and electrical sector, to act as main distributor and supplier, as well as general importer of mechanical and electrical goods and after sales for mechanical nd electrical goods";

- Bahwa pada point 2. Summary of Significant Accounting Process di huruf I tentang Revenue and Expense Recognition dinyatakan: "Revenue from sales are recognized when the goods or services are delivered/rendered to and accepted by the customer. Revenue from rendering services is recognized upon completion of services which generally coincides with the rendering of invoice and acceptance, Expense are recognized when incurred";

- Bahwa pada point 2. Summary of Significant Accounting Process di huruf d tentang Use of Estimates dinyatakan:

"The preparation of financial statements in conformity with accounting principles generally accepted in Indonesia requires management to make estimates and assumption that affect the reported amounts of assets and liabilities at the dates of the financial statements and the report amounts of revenues and expenses during the reporting period report. Actual results could be different from this estimates";

2 Surat Bantahan Pemohon Banding Nomor: 13/IX/TSP/09 tanggal 28 September 2009 hal tanggapan atas SUB Nomor: S- 2879/WPJ.07/BD.05/2009 tanggal 07 Agustus 2009 pada bagian menurut Pemohon Banding di point A yang menyatakan biaya Cadangan Lainnya sebesar Rp. 7.279.873.216,00 merupakan biaya akrual yang berhubungan dengan kegiatan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan. Biaya tersebut bukan merupakan pembentukan atau pemupukan dana cadangan seperti yang diasumsikan oleh pemeriksa;

3 Bahwa Surat Pemohon Banding Nomor: TMH-1516 tanggal 09 Juli 2010 hal penjelasan tambahan atas Surat TTD-1142 tanggal 10 Mei 2010 mengenai Saldo Akhir Cadangan Lain-Lain/Late Cost (Biaya Yang Masih Harus Dibayar) sebesar Rp.7.279.873.216,00 pada point I menyatakan: Pemeriksa melakukan koreksi atas seluruh biaya Late Cost yang mana biaya tersebut merupakan biaya yang masih harus dibayar sehubungan dengan penjualan yang sudah diakui namun belum dicatat ke dalam system akuntansi karena belum ada invoice dari penjual/vendor. Cadangan Lainnya merupakan selisih antara penjualan dikurangi biaya yang sudah terjadi dengan profit margin yang diharapkan oleh manajemen perusahaah dari suatu project. Dalam persidangan, Pemohon Banding juga menyatakan bahwa biaya Late Cost tersebut merupakan estimasi biaya dan dicatat sebagai biaya Cadangan Lainnya (sisi Debit) yang mempengaruhi Rugi Laba pada Cadangan Lainnya (sisi Kredit) yang terdapat dalam Neraca;

Pendapat Terbanding

Bahwa pengertian Biaya Estimasti (Cost Estimates) adalah sebagai berikut:

Cost Estimates (Business Dictionary.com) is approximation of the probable total cost of a product, program, or project, computed on the basis of available information. Four common types of cost estimates are: (1) Planning estimate: rough approximation of cost within a reasonable range of values, prepared for information purposes only. Also called ball park estimate, (2) Budget estimate: approximation based on well defined (but preliminary) cost data and established ground rules.

(3) Firm estimate: based on cost data sound enough for entering into a binding contract. (4) Not - to - exceed / not - less - than estimate: maximum or minimum amount required to accomplish a given task, based on firm cost estimate:

Bahwa biaya Estimasi (Business Dictionary.com) adalah perkiraan dari total biaya yang dimungkinkan dapat terjadi dari suatu produk, program, atau proyek, yang dihitung atas dasar informasi yang tersedia;

Bahwa empat tipe dari biaya estimasi adalah:

a Estimasi perencanaan: perkiraan kasar dari biaya dengan suatu rentang nilai yang terpercaya, dipersiapkan hanya untuk tujuan informasi.

b Estimasi anggaran: perkiraan berdasarkan atas data biaya yang terpercaya dan aturan dasar yang telah ditetapkan.

c Estimasi kuat: didasarkan pada data biaya yang cukup untuk masuk dalam ikatan kontrak.

d Tidak lebih/tidak kurang dari estimasi: jumlah maksimum atau minimum diperlukan untuk menyelesaikan suatu nilai tetap, berdasarkan atas estimasi biaya yang kuat.

Estimation is the calculated approximation of a result which is usable even if input data may be incomplete or uncertain (Wikipedia.com)

Estimasi adalah perkiraan kalkulasi dari suatu hasil yang digunakan meskipun jika data masukan yang dimiliki tidak lengkap atau tidak pasti (Wikipedia.com)

Bahwa pengerian Cadangan (Provision I Reserves) adalah:

In International Financial Reporting Standard, Reserve in accounting always means an account with a credit balance. Reserve for Warranties means estimated liability for future Warranty repairs and replacements, NOT a pool of cash set aside for the firm to use in making repairs. (Wikipedia.com)

Dalam International Financial Reporting Standard (Akuntansi Keuangan): istilah cadangan berarti suatu perkiraan pada sisi kredit neraca. Cadangan untuk garansi berarti estimasi kewajiban untuk garansi perbaikan dan penggantian di masa depan, BUKAN suatu kumpulan kas yang disisihkan (disiapkan) oleh perusahaan untuk digunakan dalam melakukan perbaikan.

(8)

(Wikipedia.com)

Bahwa Paragraf 08 Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 57 tentang Kewajiban Estimasi dan Kewajiban Kontijensi didefinisikan kewajiban diestimasi sebagai kewajiban yang waktu dan jumlahnya belum pasti;

Bahwa pada Paragrah 07 Pernyataan tersebut disebutkan jumlah yang dicatat sebagai kewajiban diestimasi dapat terkait dengan pengakuan pendapatan, misalnya perusahaan memberikan garansi atas sesuatu hal dan perusahaan menerima imbalan untuk pemberian garansi tersebut;

Bahwa kewajiban adalah kewajiban kini perusahaan yang timbul dari peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya diperkirakan mengakibatkan pengeluaran sumber daya perusahaan. Kewajiban diestimasi adalah kewajiban yang waktu dan jumlahnya belum pasti;

Bahwa pada Paragraf 12 PSAK No. 57 disebutkan: Kewajiban diestimasi dapat dibedakan dari kewajiban lain, seperti utang dagang dan akrual, karena pada kewajiban diestimasi terdapat ketidakpastian mengenai waktu atau jumlah yang harus dikeluarkan pada masa datang untuk menyelesaikan kewajiban diestimasi tersebut. Sebaliknya:

a Utang dagang adalah kewajiban untuk membayar barang atau jasa yang telah diterima atau dipasok dan telah ditagih melalui faktur atau secara formal sudah disepakati dengan pemasok; dan

b Akrual adalah kewajiban untuk membayar barang atau jasa yang telah diterima atau dipasok, tetapi belum dibayar, ditagih atau secara formal disepakati dengan pemasok, termasuk jumlah yang masih harus dibayar kepada para pegawai, (misalnya jumlah tunjangan cuti). Meskipun sering kali perlu dilakukan estimasi atau penaksiran jumlah dan waktu akrual, tingkat ketidakpastiannya pada umumnya lebih rendah daripada tingkat ketidakpastian kewajiban diestimasi.

Akrual sering dilaporkan sebagai bagian dari utang dagang atau utang lain-lain, sedangkan kewajiban diestimasi dilaporkan secara terpisah.

Bahwa berdasarkan penjelasan tersebut diatas dapat diketahui bahwa biaya estimasti dan biaya cadangan memiliki definisi dan pengertian yang sama, Biaya Estimasi yaitu perkiraan dari total biaya yang dimungkinkan dapat terjadi dari suatu produk, program, atau proyek yang dihitung atas dasar informasi yang tersedia, dan biaya cadangan merupakan estimasi kewajiban di masa depan, bukan suatu kumpulan kas yang disisihkan (disiapkan) oleh perusahaan untuk digunakan dalam menyelesaikan kewajiban. Dalam paragraph 08 PSAK Nomor 57 tentang Kewajiban Estimasi yang juga dengan tegas dan jelas disebutkan bahwa kewajiban diestimasi sebagai kewajiban yang waktu dan jumlahnya belum pasti. Kewajiban adalah kewajiban kini perusahaan yang timbul dari peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya diperkirakan mengakibatkan pengeluaran sumber daya perusahaan;

Bahwa pada paragraf 12 PSAK Nomor 57 disebutkan: Kewajiban diestimasi dapat dibedakan dari kewajiban lain, seperti utang dagang dan akrual, karena pada kewajiban diestimasi terdapat ketidakpastian mengenai waktu atau jumlah, yang harus

dikeluarkan pada masa dating untuk menyelesaikan kewajiban diestimasi tersebut;

Bahwa sebaliknya:

a Utang dagang adalah kewajiban untuk membayar barang atau jasa yang telah diterima atau dipasok dan telah ditagih melalui faktur atau secara formal sudah disepakati dengan pemasok; dan

b Akrual adalah kewajiban untuk membayar barang atau jasa yang telah diterima atau dipasok, tetapi belum dibayar, ditagih atau secara formal disepakai dengan pemasok, termasuk jumlah yang masih harus dibayar kepada para pegawai, (misalnya jumlah tunjangan cuti). Meskipun sering kali perlu dilakukan estimasi atau penaksiran jumlah dan waktu akrual, tingkat ketidakpastiannya pada umumnya lebih rendah daripada tingkat ketidakpastian kewajiban diestimasi.

Akrual sering dilaporkan sebagai bagian dari utang dagang atau utang lain-lain, sedangkan kewajiban diestimasi dilaporkan secara terpisah.

Bahwa pada Pasal 9 ayat (1) huruf c UU Nomor 17 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan disebutkan bahwa: Untuk

menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap tidak boleh dikurangkan pembentukan atau pemupukan dana cadangan, kecuali cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan sewa guna usaha dengan hak opsi, cadangan untuk usaha asuransi, dan cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan, yang ketentuan dan syarat-syaratnya ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan. Keputusan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai bidang usaha yang dapat membentuk dana cadangan yaitu Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 80/KMK.04/1995 tentang Besarnya Dana Cadangan Yang Boleh Dikurangkan sebagai Biaya sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 204/KMK.04/2000 pada tanggal 6 Juni 2000 yang menyebutkan bahwa segala macam jenis pencadangan pada prinsipnya tidak boleh dibiayakan (non deductible expense), kecuali untuk jenis usaha tertentu yaitu bank

(9)

dan sewa guna usaha dengan hak opsi, perusahaan asuransi kerugian, perusahaan asuransi jiwa dan perusahaan pertambangan;

Bahwa dengan demikian dalam ketentuan Pasal 9 ayat (1) huruf c UU PPh jo. Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 80/KMK.04/1995 tentang Besarnya Dana Cadangan Yang Boleh Dikurangkan Sebagai Biaya sebagaimana telah diubah dengan KMK Nomor 204/KMK.04/2000 pada tanggal 6 Juni 2000, dinyatakan secara jelas dan tegas bahwa segala macam jenis pencadangan pada prinsipnya tidak boleh dibiayakan (non deductible expense), kecuali untuk jenis usaha tertentu yaitu bank dan sewa guna usaha dengan hak opsi, perusahaan asuransi kerugian, perusahan asuransi jiwa dan perusahaan

pertambangan;

Bahwa berdasarkan penelitian administrasi pada Direktorat Jenderal Pajak dan data dari Pemohon Banding diketahui bahwa bidang usaha Pemohon Banding tidak terdapat dari bidang usaha yang dikecualikan tersebut, sehingga atas pembentukan dana cadangan yang dibiayakan oleh Pemohon Banding sebagai bagian dari pengurang penghasilan bruto dalam SPT Tahunan PPh Badan Tahun 2006 harus dikoreksi;

Bahwa berdasarkan penjelasan tersebut diatas, Terbanding berpendapat koreksi yang dilakukan terhadap Biaya Cadangan telah benar dan sesuai dengan ketentuan dan peraturan perpajakan yang berlaku;

Menurut Pendapat Majelis (dikutip dari Putusan Pengadilan Pajak) Bahwa koreksi Harga Pokok Penjualan sebesar Rp.

10.289.806.787,00 dilakukan atas biaya-biaya cadangan yang menurut Terbanding merupakan biaya yang tidak diperbolehkan untuk dikurangkan dari penghasilan bruto sesuai ketentuan Pasal 9 ayat (1) huruf c Undang- Undang Pajak Penghasilan;

Bahwa Kertas Kerja Pemeriksaan - HPP menunjukkan item cadangan yang dikoreksi adalah sebagai berikut: (copy terlampir - Putusan Pengadilan Pajak Nomor: Put- 35087/PP/M.V/15/2011 halaman 35-37 dari 44 halaman) Bahwa dalam surat Nomor:

TTO-1142 tanggal 10 Mei 2010 dan persidangan tanggal 24 Mei 2010, Pemohon Banding memberi rincian koreksi sebesar Rp.10.289.806.787,00 sebagai berikut:

Cadangan Garansi sebesar Rp 1.819.143.902,00 Cadangan Insentif sebesar Rp 1.044.849.156,00

Cadangan Bonus sebesar Rp 376.030.696,00

Cadangan Lain-Lain sebesar Rp 7.279.873.216,00 Cadangan yang telah dibayar Rp 18.776.339,00

Bahwa berdasarkan perhitungan Majelis, jumlah total rincian koreksi biaya cadangan yang disampaikan Pemohon Banding tersebut diatas adalah sebesar Rp.10.538.673.309,00 sehingga terdapat selisih sebesar Rp. 248.866.522,00 dari angka koreksi Terbanding;

Bahwa dalam persidangan tanggal 12 Juli 2010, Pemohon Banding menyatakan bahwa untuk cadangan Bonus, insentif dan Garansi memang merupakan cadangan murni, namun menurut Pemohon Banding, pihaknya sudah melakukan koreksi fiscal sehingga tidak seharusnya dilakukan koreksi lagi oleh Terbanding;

Bahwa Majelis memahami adanya pencadangan atas biaya garansi, insentif, bonus dan cadangan lainnya yang dibentuk untuk mencadangnkan biaya yang timbul namun belum ada realisasinya;

Bahwa berdasarkan pemeriksaan Majelis, atas cadangan-cadangan yang dibentuk tersebut lelah ada realisasinya, meskipun dalam jumlah yang tidak sama dengan jumlah yang dicadangkan;

Bahwa selisih lebih cadangan yang dibentuk dengan realisasinya ditahun tersebut, menjadi saldo akhir yang pada akhirnya akan dibawa menjadi saldo awal tahun berikutnya;

Bahwa permasalahannya adalah, apakah saldo akhir tahun lalu yang menjadi saldo awal tahun berikutnya benar-benar teralisasi pada tahun-tahun berikutnya tersebut ataukah akan menumpuk menjadi cadangan murni yang selalu terbawa dari tahun ke tahun;

Bahwa data berupa General Ledger atas cadangan Garansi, cadangan Bonus, Cadangan insentif dan cadangan lain-lain beserta perhitungan dari Pemohon Banding, tidak dapat menunjukkan kapan realisasi atas saldo akhir tahun sebelumnya yang terbawa ke tahun berjalan;

Bahwa selain itu, Pemohon Banding tidak pernah menyampaikan bukti fisik sebagai dasar alas perhitungan yang disampaikan;

(10)

Bahwa dengan demikian atas pernyataan Pemohon Banding bahwa memang ada biaya yang masih harus dibayar sehubungan dengan penjualan yang sudah diakui namun belum dicatat ke dalam system akuntansi karena belum ada invoice dari

penjual/vendor, (atas cadangan biaya lainnya), tidak dapat dibuktikan;

Bahwa untuk membuktikan bahwa memang ada biaya yang telah dikeluarkan namun belum ada pencatatannya, selain memberi bukti berupa Jurnal, seharusnya Pemohon Banding juga memberi bukti pengeluaran yang terjadi pada masa sebelumnya, kemudian bukti tagihan yang tertanggal setelah periode tahun berjalan sehingga dapat dicocokkan apakah benar-benar terjadi biaya yang masih harus dibayar dan kapan realisasi atas biaya-biaya yang dicadangkan tersebut;

Bahwa atas pernyataan Pemohon Banding bahwa semua cadangan sudah dikoreksi fiscal dalam SPT PPh Badan, Majelis melakukan pemeriksaan terhadap SPT PPh Badan 2006;

Bahwa berdasarkan SPT PPh Badan Tahun Pajak 2006, angka koreksi fiscal - pembentukan atau pemupukan dana cadangan - yang sudah dilaporkan oleh Pemohon Banding adalah sebesar Rp.2.811.103.200,00;

Bahwa Pemohon Banding tidak menyampaikan perhitungan angka Rp.2.811.103.200,00 dikaitkan dengan koreksi Terbanding dan sanggahan Pemohon Banding tentang cadangan garansi, cadangan insentif, cadangan bonus, dan cadangan yang telah dibayar;

Bahwa dalam data yang disampaikan oleh Pemohon Banding dalam persidangan, koreksi cadangan fiskal yang dibuat oleh Pemohon Banding untuk keperluan perpajakan adalah sebagai berikut:

Cadangan Garansi Rp 245.001.232

Cadangan Insentif Rp (742.337.170)

Bonus Rp (673.832.224)

Manfaat Pensiun Rp 569.858.066

Piutang Tak Tertagih Rp 220.068.267

Bahwa angka-angka yang disajikan Pemohon Banding dalam persidangan dan dalam SPT, tidak menunjukkan ataupun

membuktikan bahwa koreksi Terbanding atas cadangan garansi, insentif, bonus dan cadangan yang telah dibayar memang telah diperhitungkan dalam SPT Pemohon Banding sebagaimana dinyatakan oleh Pemohon Banding;

Bahwa dengan mempertimbangkan:

- Perhitungan terjadinya realisasi atas saldo akhir Tahun 2005 yang terbawa ke Tahun 2006 sebagai saldo awal beserta bukti fisik atas biaya yang dicadangkan tersebut tidak didapatkan;

- Jumlah rincian sanggahan yang disampaikan Pemohon Banding berbeda dengan koreksi Terbanding dalam jumlah yang material;

- Sanggahan Pemohon Banding tidak membantah item-item yang dikoreksi sesuai Kertas Kerja Pemeriksaan yang juga sudah disampaikan kepada Pemohon Banding;

- Perhitungan yang disampaikan dalam persidangan tidak dapat membuktikan bahwa cadangan garansi, bonus, insentif dan cadangan yang telah dibayar, telah masuk dalam koreksi fiscal sebesar Rp.2.811.103.200,00 sebagaimana tercantum dalam SPT;

- Perhitungan yang disampaikan oleh Pemohon Banding tidak didukung dengan bukti material (fisik);

Bahwa dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut diatas, Majelis berpendapat argumentasi Pemohon Banding tidak didukung dengan bukti dan data yang akurat sehingga Majelis tidak dapat menyakini kebenarannya;

Bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan atas fakta-fakta dan bukti-bukti yang terungkap dalam persidangan tersebut, Majelis berketetapan menolak permohonan banding Pemohon Banding terhadap koreksi Harga Pokok Penjualan sebesar Rp.

10.289.806.787,00.

Menurut Pendapat Pemohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding)

Pemohon Peninjauan Kembali tidak setuju dengan pendapat Majelis maupun pendapat Terbanding atas Harga Pokok Penjualan sebesar Rp. 10.289.806.787,- dikarenakan Majelis berpendapat bahwa :

1 Perhitungan terjadinya realisasi atas saldo akhir Tahun 2005 yang terbawa ke Tahun 2006 sebagai saldo awal beserta bukti fisik atas biaya yang dicadangkan tersebut tidak didapatkan;

2 Jumlah rincian sanggahan yang disampaikan kami berbeda dengan koreksi Terbanding dalam jumlah yang material;

3 Sanggahan kami tidak membantah item-item yang dikoreksi sesuai Kertas Kerja Pemeriksaan yang juga sudah disampaikan kepada kami;

(11)

4 Perhitungan yang disampaikan dalam persidangan tidak dapat membuktikan bahwa cadangan garansi, bonus, insentif dan cadangan yang telah dibayar, telah masuk dalam koreksi fiscal sebesar Rp. 2.811.103.200,00 sebagaimana tercantum dalam SPT;

5 Perhitungan yang disampaikan kami tidak didukung dengan bukti material (fisik);

Berdasarkan pendapat Majelis diatas, berikut pendapat kami :

1 Bahwa perkiraan cadangan biaya local, Warranty, Insentive, komisi dan lain lain sebesar Rp. 10.289.806.787,- merupakan pembebanan biaya yang sesuai dengan Pasal 6 ayat (1) huruf a Undang-Undang Pajak Penghasilan Nomor 17 Tahun 2000 yang menegaskan bahwa besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Pemohon Peninjauan Kembali dalam

Referensi

Dokumen terkait

Untuk menegaskan kaitan antara program kerja Rumah sakit dengan program kerja Bagian Perencanaan dan Evaluasi pelaporan, maka perlu disampaikan visi dan misi rumah sakit

Setelah mengukuti kegiatan pembelajaran secara daring dengan menggunakan aplikasi WhatsAPP Grup dan Google meat dengan akun sma.belajar.id dengan metode

Bahwa yang menjadi pokok sengketa dalam Peninjauan Kembali ini adalah penetapan nilai pabean atas PIB No : 253124 tanggal 29 Juli 2008 atas importasi Polyol Polyurethane 2025SG

Mengesahkan Treaty on Principles Governing the Activities of States in the Exploration and Use of Outer Space, including the Moon and Other Celestial Bodies, 1967 (Traktat

- berilah tanda pada kolom Tugas /Jabatan, sesuai tugas saat ini - berilah tanda status keaktifan sesuai kondisi saat ini.. - Isi Tempat Tugas & Mapel

Menurut Pasal 4 ayat 1 huruf d Undang-Undang Nomor 36 tahun 2008 Tentang Perubahan Keempat atas Undang- Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan, yang menjadi

bahwa dalam penjelasan Pasal 4 ayat (1) huruf a Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000

Terdapat dua tombol pada lift therapy environment yaitu tombol Exit yang berfungsi untuk keluar dari proses simulasi terapi yang kemudian akan diarahkan ke menu