BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Arah Kiblat Dalam Tinjauan Hukum Syar’i
Kiblat diartikan arah ke ka’bah di Mekah (pada waktu shalat).25 Sedangkan dalam Ensiklopedia Hukum Islam, kiblat itu diartikan sebagai “bangunan ka’bah”
atau arah yang dituju kaum muslimin dalam melaksanakan ibadah.26 Kiblat adalah segala sesuatu yang ditempatkan di muka, atau sesuatu yang kita menghadap kepadanya. Sedangkan arah secara tekstual bersifat “Lurus”, padahal dalam dunia astronomi arah bersifat “melengkung” (Busur).27 Akan tetapi jika arah dipahami secara kontekstual akan menunjuk pada sesuatu yang bersifat melengkung, dengan kata lain arah adalah jarak terdekat dari suatu tempat ke Mekkah28. Oleh karena itu Ka’bah disebut sebagai kiblat karena ia menjadi arah yang kepadanya orang harus menghadap dalam mengerjakan salat.29
Ka’bah disebut juga dengan Baitullah, Baitul Haram, Baitul Atiq atau rumah tua yang di bangun kembali oleh Nabi Ibrahim dan puteranya Ismail atas perintah Allah SWT.30 Hal ini sebenarnya merupakan sejarah yang paling tua di dunia. Bahkan jauh sebelum manusia diciptakan di bumi, Allah swt telah mengutus para malaikat turun ke bumi dan membangun rumah pertama tempat ibadah manusia. Ini sudah dituturukan dalam Al-Quran:
25Departemen P & K, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi ke-2 cet,IX (Jakarta:Balai Pustaka, 1999), h.499
26Susikanan Azhari, Ilmu Falak (Teori dan Praktek), cet,I (Yogyakarta: Lazuard, 2001), h.49
27Susikanan Azhari, Ilmu Falak, (Teori dan Praktek)…h.60
28Maskufa, Ilmu Falaq, cet I (Jakarta: Gaung Persada, 2009), h.124
29Tim Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Pedoman Hisab Muhammadiyah, cet,II (Yogyakarta: Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, 2009), h.25
30Maskufa, Ilmu Falaq. . . h.129-130
Artinya: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia” . (QS. Ali Imran : 96).31
Ketika Nabi Muhammad SAW berusia 30 tahun (Kira kira 600 M dan belum diangkat menjadi Rasul pada saat itu), 32 bangunan ini direnovasi kembali akibat banjir bandang yang melanda kota Mekkah pada saat itu. Sempat terjadi perselisihan antar kepala suku atau kabilah ketika hendak meletakkan kembali batu Hajar Aswad namun berkat penyelesaian Muhammad SAW perselisihan itu berhasil diselesaikan tanpa pertumpahan darah dan tanpa ada pihak yang dirugikan.
Pada saat menjelang Muhammad SAW diangkat menjadi Nabi sampai kepindahannya ke kota Madinah. Lingkungan Ka'bah penuh dengan patung yang merupakan perwujudan Tuhan bangsa Arab ketika masa kegelapan pemikiran (jahilliyah) padahal sebagaimana ajaran Nabi Ibrahim yang merupakan nenek moyang bangsa Arab dan bangsa Yahudi serta ajaran Nabi Musa terhadap kaum Yahudi, Tuhan tidak boleh disembah dengan diserupakan dengan benda atau makhluk apapun dan tidak memiliki perantara untuk menyembahnya serta tunggal tidak ada yang menyerupainya dan tidak beranak dan tidak diperanakkan (Surat Al Ikhlas dalam Al-Qur'an) . Ka'bah akhirnya dibersihkan dari patung patung ketika Nabi Muhammad mebebaskan kota Mekkah tanpa pertumpahan darah.
31Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahanya 32Maskufa, Ilmu Falaq… h.130
Selanjutnya bangunan ini diurus dan dipelihara oleh Bani Sya'ibah sebagai pemegang kunci ka'bah dan administrasi serta pelayanan haji diatur oleh pemerintahan baik pemerintahan khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Muawwiyah bin Abu Sufyan, Dinasti Ummayyah, Dinasti Abbasiyyah, Dinasti Usmaniyah Turki, sampai saat ini yakni pemerintah kerajaan Arab Saudi yang bertindak sebagai pelayan dua kota suci, Mekkah dan Madinah.33
Ketika masa Abdurrahman bin Zubair memerintah daerah Hijaz, bangunan itu dibuat sebagaimana perkataan Nabi Muhammad SAW atas pondasi Nabi Ibrahim. Namun karena terjadi peperangan dengan Abdul Malik bin Marwan, penguasa daerah Syam (Suriah,Yordania dan Lebanon sekarang) dan Palestina, terjadi kebakaran pada Ka'bah akibat tembakan peluru pelontar (onager) yang dimiliki pasukan Syam. Sehingga Abdul Malik bin Marwan yang kemudian menjadi khalifah, melakukan renovasi kembali Ka'bah berdasarkan bangunan hasil renovasi Nabi Muhammad SAW pada usia 30 tahun bukan berdasarkan pondasi yang dibangun Nabi Ibrahim.
Dalam sejarahnya Ka'bah beberapa kali mengalami kerusakan sebagai akibat dari peperangan dan umur bangunan. Namun hingga saat ini bangunan Ka'bah tetap sesuai masa renovasi khalifah Abdul Malik bin Marwan sampai sekarang.34
33Maskufa, Ilmu Falaq… h.130-131
34http://www.referensimakalah.com/2013/02/sejarah-kabah-sebagai-arah-kiblat.html diaksespada tanggal 25/02/2013 jam,14:00
B. Pandangan hukum Syari’at terhadap menghadap Kiblat
Menghadap arah kiblat merupakan suatu hal yang sangat penting dalam syari’at Islam. Menurut hukum syari’at, menghadap arah kiblat diartikan sebagai seluruh tubuh atau badan seseorang menghadap ke ka’bah yang terletak di Makkah yang merupakan pusat tumpuan umat Islam bagi menyempurnakan ibadah-ibadah tertentu dan bahkan menghadap kiblat merupakan salah satu syarat sahnya Shalat.35
Perlu diketahui bahwa kiblat yang sekarang ini (Baitullah) bukanlah kiblat yang pertama, tetapi merupakan kiblat yang kedua, karena kiblat yang pertama adalah Baitul Maqdis. Ketika Nabi Muhammad SAW berada di Mekkah, belum ada ketentuan kewajiban menghadap kiblat ketika melaksanakan shalat, sehingga Nabi Muhammad sendiri selalu menghadap Baitul Maqdis ketika shalat. Ketika itu Baitul Maqdis dipandang istimewa kedudukanya di banding Baitullah, yang pada waktu itu dikelililingi banyak berhala dan patekong.
Pada dasarnya apapun yang dijadikan kiblat tidaklah terlalu penting karena yang terpenting adalah ketaatan, ketulusan dan kerendahan hati dalam melaksanakan perintah Allah SWT dan Rasulnya. Hal tersebut menjadi salah satu dasar yang digunakan oleh ulama ahli fiqh dalam menetapkan kewajiban menghadap kiblat. Akan tetapi, mereka (ahli fiqih) mempersoalkan mengenai kewajiban menghadap kearah Ka’bah nya saja.
Menurut ulama malikiyah dan hanafiyah bahwa yang wajib adalah menghadap Ka’bah; bagi orang yang dekat dan dapat melihat Ka’bah maka wajib
35Abdul Ajiz Muhammad Azam, Fiqh Ibadah, (Jakarta: Amzah, 2000), h.173
tepat menghadap Ka’bah. Sedangjan bagi orang yang jauh dan tidak bisa melihat ka’bah cukup menghadap ke arah ka’bah nya saja.36 Berikut argumen-argumen yang mendasarinya:
1. Al-Qur’an
. . .
Artinya:“Hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil haram” (QS: Al-Baqarah:144)
2. Al-Hadits
ﺔﻠﺒﻗ بﺮﻐﻤﻟاو قﺮﺸﻤﻟا ﻦﯿﺑ ﺎﻣ
Artiya: “Arah antara Timur dan Barat disitu lah Ka’bah”
ماﺮﺤﻟا ﻞھﻻ ﺔﻠﺒﻗ ﺪﺠﺴﻤﻟاو ﺪﺠﺴﻤﻟا ﻞھﻻ ﺔﻠﺒﻗ ﺖﯿﺒﻟا ﺎﮭﺑرﺎﻐﻣو ﺎﮭﯿﻗ رﺎﺸﻣ ﻲﻓ ضرﻻا ﻞھﻻ ﺔﻠﺒﻗ ماﺮﺤﻟا و ,
ﻲﺘﻣا ﻦﻣ ﻰﻘﮭﯿﺒﻟا هور )
(
Artinya: “Ka’bah adalah kiblat bagi mereka yang bersembahyang di Masjidil Haram. Masjidil Haram adalah kiblat bagi pemukim tanah suci (mekah) dan tanah suci adalah kiblat bagi penghuni di timur dan barat dari umatku”.37
3. Dalil Rasional
Bahwa orang-orang yang tinggal didekat ka’bah saja sudah tidak mungkin lagi menentukan dengan tepat letak Ka’bah. Apabila mereka yang bertempat tinggal ditempat- tempat yang jauh diatas bumi ini, sebagian manusia yang sholat menghadap ke arah kiblat, tetapi belum tentu tepat kesasaran. Sehingga bagi yang jauh letaknya dari Ka’bah tidak wajib menghadap tepat ke bangunan Ka’bah, melainkan cukup menghadap
36Muhammad Jawad Mughniyah, Al Fiqh ‘ala al-Madzhaib al-Khamsah (Pent.Masykur A.B Alif Muhammad Idrus Al-Kaff). Fiqh Lima Mazhab…h.77
37Muhammad ben Ismail al-san’ani, Subul al-salȃm sarh Bulȗḡ al-marȃm min jam adillah al- ‘ahkȃm,…h.140
kearahnya saja.
Menurut ulama Syafi’iyah dan dan sebagian kelompok dari Imamiyah yang wajib adalah menghadap tepat kebangunan Ka’bah, baik bagi yang dekat dan tidak dapat melihat Ka’bah maupun bagi yang jauh dan tidak bisa melihat Ka’bah38. Berikut argument-argumen yang mendasarinya:
1. Al-Qur’an
. . .
Artinya: “Hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil haram” (QS: Al-Baqarah:144) Kata mengandung pengertian arah yang dihadapi oleh orang-orang yang bersembahyang menurut garis lurus yang membentang dihadapanya sehingga menghadap tepat ke letak ka’bah adalah wajib.39
2. Al-Hadits
Sabda Rasulaallah SAW ﺔﻠﺒﻗ هﺬھ (Inilah Ka’bah ) Hadits yang diriwatyatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid Ra, kemudian kata tersebut dianggap suatu pembatsan, bahwa kiblat itu ka’bah itu sendiri”
3. Analogi
Bahwa ka’bah adalah kiblat merupakan hal yang pasti dan tidak perlu dipersoalkan, sedangkan memelihara hal-hal yang menjadi syarat sah nya shalat adalah wajib. Oleh karenanya menggantungkan sahnya shalat menghadap tepat kea rah ka’bah adalah wajib.
38Muhammad Jawad Mughniyah, Al Fiqh ‘ala al-Madzhaib al-Khamsah (Pent.Masykur A.B Alif Muhammad Idrus Al-Kaff). Fiqh Lima Mazhab…h.78
39Hamka, Tafsir Al-Azhar… h.337
Kiranya pendapat yang dikemukakan oleh ulama Hanafiyah dan Malikiyah dirasakan paling mengena, argumen-argumen yang menjadi dasarnya sangat luwes dan arif, apalagi mengingat ulama islam tersebar dimana-mana, bukan hanya di Mekah saja, tetapi tersebar diberbagai daerah di belahan bumi ini.
Persebaran umat muslim ini tidak memungkinkan untuk bisa menghadap kebangunan ka’bah secara tepat.
Dalam prakteknya kita sebagai umat muslim bebas memilih pendapat yang dirasakan lebih maslahat dan tidak menyulitkan. Oleh karena itu dalam melaksanankan shalat cukuplah kiranya menghadap kea rah yang diperhitungkan lurus dengan ka’bah, terutama bagi orang-orang yang berada jauh dari letak ka’bah.
Oleh karena itu Ijtihad dapat digunakan untuk menentukan arah kiblat dari suatu tempat yang terletak jauh dari Masjidil Haram . diantaranya adalah ijtihad menggunakan posisi rasi bintang, bayangan matahari, arah matahari terbenam, dan pengukuran menggunakan peralatan modern.
C. Menentukan Tempat Di Permukaan Bumi
Untuk Menentukan tempat dipermukaan bumi dapat menggunakan dengan beberapa cara, dilihat dari tata koordinat bidang tersebut datar atau bola. Untuk bidang datar diantaranya adalah:
1. Dengan dua Jarak40
Jika ada sebuah titik K dalam sebuah bidang segi empat, kemudian tempat titik tersebut ingin diketahui, maka ukurlah jarak dari titik kedinding sebelah kiri dan
40Saaduddin Djambek, Arah Kiblat, (Jakarta: PT Tintamas Indonesia, 2004), h.15
kedinding sebelah lainya. Misalnya jarak tersebut berturut-turut panjang dan lebarnya 4 cm, maka kedudukan titik K sudah pasti diketahui dengan kedua jarak tersebut.
Gambar 1
Dalam ilmu Matematika hal diatas dikenal dengan istilah Sistem koordinat.
Sistem koordinat adalah suatu cara yang digunakan untuk menentukan letak suatu titik pada bidang atau ruang, Beberapa macam sistem koordinat yang kita kenal, antara lain seperti gambar diatas yaitu sistem koordinat Cartesius (Rene Descartes: 1596-1650).41
Perhatikan gambar berikut ini: Sebuah titik Y dapat digambarkan pada bidang XOY (sumbu X dan sumbu Y ) atau disebut bidang cartesius. Koordinat titik P(X,Y) disebut koordinat cartesius.
Y= Ordinat
X= Absis
O
Gambar 2
41Wilson Simangunsong, Matematika Dasar, (Jakarta: ERLANGGA, 1991), h.152
) , (X Y P
X Y
4 Cm K
4 Cm
2. Dengan Sudut dan Jarak
Jika BC garis lurus dan P sebuah titik pada garis tersebut, kedudukan titik K terhadap garis tersebut yang akan diketahui untuk keperluan itu dihubungkan P dan K dengan garis lurus, garis PK panjangnya 10 cm. maka kedudukan titik K sudah ditentukan secara pasti terhadap garis BC oleh sudut a jarak 10 cm itu, sudut a menentukan arah titik K. dengan titik P sebagai permulaan dan garis BC sebagai pedoman dapat dicari tempat titik yang dikehendaki, dengan ketentuan dan jarak itu.42
K
10 cm
a
B P C Gambar 3
Dalam ilmu trigonometri matematika pada gambar 3 dikenal dengan istilah koordinat polar (kutub). Dimana titik P dapat dinyatakan pula dengan P (r, £0).
R=jarak titik (0,0) ke titik P dan £0= sudut yang dibentuk aris OP dengan sumbu X.
perhatikan gambar dibawah ini:
P P (r, £0) R = Jari-jari X= Absis r
£0
O X
Gambar 4
42Wilson Simangunsong, Matematika Dasar…h.153
D. Proses Penentuan Arah Kiblat
1. Cara Menentukan Arah Kiblat a). Menggunakan Kompas
Penandaan arah kiblat dengan kompas banyak diamalkan di kalangan masyarakat Islam masa kini. Arah yang ditunjukkan oleh kompas adalah arah yang merujuk kepada arah utara magnet. Penggunaan kompas adalah cara yang paling mudah dalam menentukan arah kiblat, tapi diperlukan ketelitian dan kehati-hatian dalam menggunakanya.43
Perbedaan arah utara ini disebut sebagai sudut serong magnet atau deklinasi yang juga berbeda diseiap tempat dan selalu berubah sepanjang tahun. Satu lagi masalah yang bisa timbul dari menggunakan kompas ialah tarikan gravitasi setempat dimana ia terpengaruh oleh bahan-bahan logam atau arus listrik di sekeliling kompas yang digunakan. Namun ia dapat digunakan sebagai alat alternatif alat penentu arah kiblat yang ada.44
b). Menggunakan Theodolit
Pengukuran arah kiblat untuk suatu tempat atau kota dengan theodolit dan data astronois atau ephemeris.45 Theodolit merupakan alat termodern yang dapat digunakan oleh kebanyakaan pihak yang melakukan kerja menentukan arah kiblat. Theodolit dapat digunakan untuk mengukur sudut secara mendatar dan tegak, dan juga memberi memiliki akurasi atau ketelitian yang cukup
43 Encup Supriatna, Hisab Rukyat & Aplikasinya, jld.1 (Bandung: PT Refika Aditama, 2007), h.89
44Encup Supriatna, Hisab Rukyat & Aplikasinya...h.89
45 Abdur Rachim, Ilmu Falak dalam Teori dan Praktik, cet.1 (Yogyakarta: Buana Pustaka, 2004), h.62
tinggi dan tepat. Untuk mengendalikan alat ini diperlukan operator yang terlatih dan menguasai teknik penggunaan theodolith secara benar.
c). Kaidah Posisi Matahari pada Azimuth Kiblat
Dalam peredarannya, matahari mengalami gerak yang disebut gerak harian matahari atau gerak musim. Pada hari-hari tertentu terlihat dari sebuah wilayah maka posisi matahari akan bertepatan dengan azimuth arah kiblat dari wilayah tersebut. Dengan bantuan menggunakan perhitungan rumus segitiga bola dan rumus mencari posisi azimuth matahari.46
2. Proses Penentuan Arah Kiblat Berdasarkan Ilmu Falak a ) Menentukan Titik Utara Sejati (True North)
Dalam proses penentuan arah kiblat, yang harus didahulukan adalah menentukan arah utara-selatan dan timur-barat sebagai pedoman arah bagi penjuru lain. Titik utara dalam proses ini dijadikan titik awal pengukuran dengan harga 0o. Titik utara akan dijadikan titik awal maka penentuan titik utara tersebut harus benar-benar teliti.
Penentuan titik utara tersebut bisa dilakukan dengan menggunakan tongkat istiwa’
ataupun kompas. Adapun
Langkah-langkah penentuan arah kiblat dengan bantuan kompas adalah sebagai berikut:47
- Pilih tempat yang rata dan datar,
- Letakan kompas ditanah dengan diberi alas isolator (plastik) agar jarum pada kompas tenang),
46 http://rukyatulhilal.org/arah-kiblat/index.html. diakses pada tanggal 03/03/2013 jam, 14:00
47Encup Supriatna, Hisab Rukyat & Aplikasinya... h.90-91
- Angkat kompas tersebut perlahan-lahan, dan perhatikan apakah penunjukan jarumnya berubah atau tidak, kalau masih berubah berarti ada pengaruh logam sekitarnya,
- Jauhkan area sekitar dari benda-benda yang bersifat menarik daya magnet (logam),
- Lihat koreksi magnetik pada ssat itu dan tambahkan pada penunjukan jarum kompas tadi,
- Tarik garis utara-selatan (true north) sesuai dengan penunjukan jarum kompas.
b). Menentukan Lintang dan Bujur
Suatu tempat yang masih berada dalam jangkauan penglihatan dapat ditunjukan arahnya oleh alat penunjuk arah, sedangkan bagi tempat yang di luar jangkauan penglihatan arahnya bisa ditentukan dengan menggunakan teori segitiga bola. Teori ini memerlukan data lintang dan bujur tempat yang di cari dan tempat seorang pengamat.
Lintang ialah jarak dari khatulistiwa ke kutub, diukur melalui lingkaran kutub ke arah utara disebut lintang utara diberi tanda positif (+) dan kearah selatan diberi tanda negatif (-). Bujur adalah jarak suatu tempat dari kota Greenwich di inggris diukur melalui lingkaran meredian, ke arah timur disebut dengan bujur timur diberi tanda (-) dan kearah barat dinamakan bujur barat diberi tanda (+).
Bola bumi terbagi menjadi dua bagian, belahan bumi utara dan belahan bumi selatan yag dipisahkan oleh equator bumi atau khatulistiwa. Kedua belahan bumi tersebut masing-masing terbagi kepada 90o, lintang 0o terletak pada garis equator (khatulistiwa). Bagian di sebelah selatan khatulistiwa disebut berlintang selatan (LS) dan yang berada di sebelah utara khatulistiwa disebut berlintang utara (LU).48
48A.Jamil, Ilmu Falak Teori dan Aplikasi.... h.9-10
Garis yang membujur dari kutub utara ke kutub selatan disebut garis bujur. Garis bujur terletak 0o terletak di Greenwich. Sebelah barat Greenwich sampai 80o disebut bujur barat (BB) berharga negatif dan sebelah timur Greenwich sampai 180o disebut bujur timur (BT) berharga positif. 180oBB berhimpit dengan 180oBT yang membelah bumi sepanjang lautan pasifik.49
Untuk mendapatkan lintang dan bujur bisa dengan melihat peta bumi yang dilengkapi garis lintang dan bujur. Bagi tempat yang tidak dicantumkan lintang dan bujurnya dalam peta, bisa dicari dengan cara interpolasi diantara dua garis lintangdan dua garis meredian yang berebeda di sekitar tempat tersebut,50 yang lebih canggih lagi sekarang dapat menggunakan satelit dengan alat modern yang di beri nama program google earth.
c). Letak Geografis Ka’bah
Yang dimaksud letak geografis ka’bah adalah posisi dan lintang bujur ka.bah.
untuk mendapatkan data lintang dan bujur ka’bah yang tepat harus diukur sendiri dari atas bangunan ka’bah dengan bantuan peredaran benda-benda langit.
Akan tetapi untuk mempermudah mendapatkan data lintang dan bujur ka’bah dalam rangka pengukuran penentuan arah kiblat bisa dilakukan dengan melihat buku- buku yang memuat data lintang dan bujur ka’bah/ bisa dari arah atlas atau buku-buku karangan para ahli falak, misalkan dalam buku arah kiblatnya Saaduddin Djambek.
Berikut ini merupakan data lintang dan bujur ka’bah (Mekah) yang terdapat pada buku atlas dan buku-buku lainya:51
49Abdur Rachim, Ilmu Falak dalam Teori dan Praktik.... h.43
50Depag RI,Pedoman Penentuan Arah Kiblat (Jakarta: Ditbinbapera, 1984/1985), h.15 51Depag RI,Pedoman Penentuan Arah Kiblat... h.13.
- Atlas PR.BOSS 38s+e Lintang=21o30oLU Bujur=39o58oBT - Atlas Lanya Lintang=21o30oLU Bujur=39o54oBT - Islame Calender Time&Qiblat Lintang=21o00oLU Bujur=40o00oBT - Arah kiblat Saaduddin Djambek Lintang=21o20oLU Bujur=40o14oBT - Depatartemen Agama RI Lintang=21o25oLU Bujur=39o50oBT
d). Rumus Segitiga Bola
Sebagaimana disebutkan di muka, penentuan arah kiblat adalah penentuan arah di permukaan bumi. Karena bumi berbentuk bola berarti menentukan arah di permukaan bola.52Jika titik Ka’bah dan titik tempat shalat dihubungkan dengan titik KutubUtara (KU) melalui busur-busur lingkaran besar, maka akan terbentuklah sebuah segitiga dengan tiga titik sudutnya: Kutub Utara, tempat salat, dan Kakbah; sedang sisi-sisinya adalah busur meridian Ka’bah, meridian tempat salat, dan busur arah kiblat.
Segitiga yang terbentuk itu adalah segitiga bola karena ketiga sisinya merupakan busur dari lingkaran besar. Karena segitiga bola ini terkait dengan arah kiblat maka katakanlah Segitiga Bola Arah Kiblat.53
52Tim Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Pedoman Hisab Muhammadiyah...
h. 28
53Tim Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Pedoman Hisab Muhammadiyah...
h. 29
Perhatikan gambar berikut:
Segitiga ABC adalah segitiga Bola Arah Kiblat
P = Titik Pusat Bumi A = Ka’bah
B = Tempat shalat C = Kutub Utara G = Greenwich a = Meredian Tempat b = Meredian Ka’bah
c = Busur Arah Kiblat BK = Lintang tempat (ϕT) RA = Lintang Ka’bah
SR ( SCR) = Bujur Ka’bah (λK) SK ( SCK) = Bujur Tempat (λT) ABC – Sudut Arah Kiblat
Gambar 9
Sebagaimana terlihat pada gambar di atas, arah kiblat yang dimaksud adalah arah busur BA. Bagaimana cara mengetahui arah busur BA tersebut? Caranya adalah dengan mengetahui terlebih dahulu sudut ABC ini adalah sudut arah kiblat. ˂ABC adalah sudut arah kiblat, dengan diketahui lintang dan bujur tempat serta lintang dan bujur ka’bah maka:
Untuk menghitung besaran sudut ABC dapat digunakan Rumus di bawah ini :
Dengan rumus diatas diperlukan 3 unsur, yaitu:
- Jarak antara titik kutub utara sampai garis lintang yang melewati tempat atau kota yang dihitung arah kiblatnya, sehingga dapat dirumuskan:
a = 90o– ϕ kota ybs
- Jarak antara titik kutub utara sampai garis lintang yang melewati ka’bah (ϕ = 21o25o), sehingga dirumuskan:
b = 90o- 21o25o
- Jarak bujur atau fadhlut thulhain, yakni jarak antara bujur tempat yang dihitung arah kiblatnya dengan bujur ka’bah (3950), sehingga:
Jika λ = 00o00os/d 39o50oBT maka C = 39o50 – λ
Jika λ = 39o50os/d 180o00oBT maka C = λ – 39o50o
Jika λ = 00o00os/d 140o10oBB maka C = λ + 39o50o
Jika λ = 140o10os/d 180o00oBB maka C = 320o10o– λ cotan b x sin a
Cotan B =
Sin c – cos a x cotan C
3. Perhitungan Arah Kiblat Menurut Ilmu Falak
Untuk menentukan azimuth kiblat diperlukan data lintang dan bujur tempat yang akan diukur arah kiblatnya serta data lintang dan bujur kota mekah.
Diketahui: φ jatibarang = -6o30’LS
λ jatibarang = 108o18’BT φ mekah = 21o30’LU λ mekah = 39o58’BT Ditanyakan: Arah Kiblat ( B ) ?
Jawab: Rumus mencari sudut arah kiblat:
Di cari a = 90o– φ jatibarang = 90o– (-6o30’) = 96o30’ b = 90o– φ mekah = 90o– (21o30’) = 68o30’
C = 90o– BT jatibarang – BT mekah = 108o18’– 39o58’ = 68o20’ cotan 68o30’x sin 96o30’
Sin 68o20’
0,393910475 x 0,993571855 0,929347524
0,391378361 0,929347524
= 0,421132408 – (-0,044972758) Cotan B = 0,466105166
B = 65o0’34,31”( dari arah utara ke ka’bah )
Jika, dari arah barat ke ka’bah maka 90o– 65o0’34,31”= 24o59’25,69” (cos 96o30’ x cotan 68o20’)
(-0,113203213 x 0,397274579)
( -0,044972758) Cotan B =
=
=
cotan b x sin a Cotan B =
Sin c – cos a x cotan C