• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KAJIAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KAJIAN TEORI"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

16 BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KAJIAN TEORI

A. Penelitian Terdahulu

Salah satu bagian yang penting dalam sebuah penelitian adalah penelusuran pustaka. Kegiatan penelusuran pustaka bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai penelitian-penelitian yang telah diteliti oleh peneliti sebelunnya sehingga akan dapat ditemukan mengenai posisi penelitian yang akan dilakukan. Selain itu, bertujuan untuk menghindari terjadinya kesamaan atau duplikasi yang tidak diinginkan serta tudingan plagiasi. Dalam menelusuri penelitian terdahulu dapat menemukan beberapa data yang berkaitan dengan studi implementasi pendidikan Islam moderat dalam pengembangan pendidikan sekolah dasar.

Penelitian yang terkait dengan pendidikan Islam moderat telah banyak dilakukan, di antaranya adalah penelitian yang diteliti oleh Muqoyyidin (2015).

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa upaya deradikalisasi pendidikan Islam dalam rangka membangun kesadaran inklusif-multikultural untuk meminimalisir radikalisme Islam perlu menjadi kajian yang mendalam bagi para ahli dan praktisi pendidikan Islam di Indonesia. Jalan yang terbaik ke depan untuk mengusung deradikalisasi adalah dengan membangun deradikalisasi agama melalui lembaga pendidikan. Maka sangat diperlukan gerakan review kurikulum di berbagai tingkatan pendidikan untuk mengembangkan pengetahuan, sikap, dan tindakan anti radikalisasi agama. Dalam hal ini, yang paling penting dilakukan adalah melakukan reorientasi visi pendidikan agama Islam yang berbasis eksklusif-monolitis ke arah penguatan visi inklusif- multikulturalisme.

Penelitian yang diteliti oleh Ramadhan (2016) menunjukkan bahwa pemikiran pendidikan Islam rahmatan lil ’alamin dalam perspektif KH.

Abdurrahman Wahid berimplikasi terhadap pendidikan Islam yang pada implementasinya bercorak di antaranya: 1) Pendidikan Islam berbasis Neo- Modernis, 2) Pendidikan Islam berbasis Pembebasan, 3) Pendidikan Islam

(2)

17

berbasis multikultural, dan 4) Pendidikan Islam yang inklusif, serta 5) Pendidikan Islam yang humanis.

Penelitian yang diteliti oleh Suharto (2017) menunjukkan bahwa terjadi pergumulan antara ideologi indonesianisasi Islam dengan ideologi islamisasi Indonesia sehingga kajian ini menemukan bahwa: a) Pendidikan Islam merupakan sarana yang paling strategis dalam memperkuat Islam moderat yang menjadi karakter utama bagi Islam Indonesia. b) Pendidikan Islam yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga pendidikan Islam yang khas Indonesia secara pasti mengajarkan kepada peserta didiknya mengenai Islam Indonesia yang moderat. c) Pada saat yang sama, lembaga pendidikan Islam transnasional pun berupaya melakukan islamisasi Indonesia kepada peserta didiknya.

Pergumulan ini meniscayakan pentingnya memperkuat peran lembaga pendidikan Islam dalam melakukan indonesianisasi Islam, sehingga Islam moderat dapat dipertahankan di bumi Nusantara.

Penelitian yang diteliti oleh Alam (2017) menunjukkan bahwa dengan mengimplementasikan pendidikan Islam moderat atau wasathiyyah, di antaranya memandang jihad bukanlah peperangan dan praktik kekerasan yang mengatasnamakan agama, tapi jihad dalam menuntut ilmu dan bekerja keras berusaha menafkahi keluarga, menerima pluralisme dalam arti penghargaan terhadap kemajemukan, bersikap inklusif, toleransi, iktidal serta bertindak secara rasional. Penerapan yang demikian dapat mencegah atau menangkal radikalisme, perilaku ekstrim, dan konflik. Dengan demikian, akan tercipta keamanan, keteriban, kenyamanan, kerukunan dan kedamaian di tengah masyarakat.

Penelitian yang diteliti oleh Satori (2017) menunjukan bahwa pertama, pola internalisasi tradisi di pondok pesantren sangat di pengaruhi oleh nilai nilai Ahlussunah wal jamaah (Aswaja), penerapan prinsip prinsip tawasut, tasammuh, ta’adul ditanamkan pada pendidikan baik di pesantren, maupun di madrasah formal di tingkat pertama. Kedua, pola pendidikan pesantren mempunyai ciri khas memberikan pengetahuan mengenai ilmu alat/metode, sebagai kunci untuk membaca dan memahami ilmu agama yang lebih mendalam; hal ini dikarenakan pemahaman mengenai ajaran agama dilandasi oleh pemahaman metodologis

(3)

18

terhadap ilmu. Pada tingkat lebih lanjut pengajaran mengenai ushul baik fiqih maupun Al-Qur’an dan Hadits harus terintegrasi. Ketiga, penerimaan terhadap ajaran ajaran baru di pesantren selalu dilakukan dengan berbagai aktivitas dialogis, seperti bathsul masa’ail, menjadikan penerimaan pondok pesantren terhadap multikultural lebih terbuka. Dapat disimpulkan bahwa pola pendidikan di pondok pesantren telah memasukan nilai nilai multikulturalisme yang dapat mencegah ancaman radikalisme.

Penelitian yang diteliti oleh Noorhayati (2017) menunjukkan bahwa pencapaian di balik penanaman nilai, pemodelandan indoktrinasi dalam pesantren, utamanya dalam hal pendirian kiai dalam sikap toleransi dan keberagaman budaya. Pondok Pesantren Nurul Jadid menjadi subjek dalam penelitian ini. Dengan menggunakan pendekatan fenomenologi di lapangan, data yang didapatkan dianalisis dalam bingkai kerja teori konstruktivisme Peter L.

Berger. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Nurul Jadid membangun nilai-nilai toleransi dan penghargaan keberagaman budaya melalui pandangan sufisme dan disampaikan melalui pemodelan pandangan kiai dalam aktifitas sehari-hari dan kejadian-kejadian yang tidak direncanakan.

Penelitian yang diteliti oleh Nisa’ (2018) mengungkapkan bahwa: 1) Kompetensi Dasar dalam PAUD menurut Permendikbud 146 Tahun 2014 diintegrasikan dengan Nilai-nilai Moderasi. 2) Proses internalisasi nilai moderasi melalui tahap; Knowing the good, feelling the good, and doing the good dengan format pembelajaran nilai moderasi berbasis LVE sebagai berikut: a) Menentukan tujuan pembelajaran, b) Menentukan nilai-nilai target yang akan dibangun, c) Menggunakan pendekatan terintegrasi, d) Menggunakan metode komprehensif, dan e) Menentukan strategi pembelajaran.

Penelitian yang diteliti oleh Munfa’ati (2018) menunjukkan bahwa: a) Terdapat tiga bentuk dan proses integrasi nilai Islam moderat dan nasionalisme yakni melalui pembelajaran, melalui budaya madarasah dan melalui kegiatan ekstrakurikuler. b) Outcome rata-rata nilai Islam moderat dan nasionalisme di MI Miftahul Ulum adalah 3,695 yang termasuk dalam kategori sangat baik.

Sedangkan outcome rata-rata nilai Islam moderat dan nasionalisme di MI Bahrul Ulum Sahlaniyah adalah 3,335 yang termasuk dalam kategori baik. c)

(4)

19

Persamaan dari integrasi nilai Islam moderat dan nasionalisme pada kedua madrasah adalah terletak pada bentuk integrasinya. Terdapat beberapa perbedaan pada proses integrasinya dan perbedaan yang paling mendasar dari kedua madrasah terletak pada outcome nilai Islam Moderat dan Nasionalisme.

Penelitian yang diteliti oleh Abdurrohman (2018) menunjukkan bahwa Hablu mina Allah dan habl min an-nas mungkin dasar yang harus dipegangi dalam beragama, khususnya Islam. Selain menjalin hubungan dengan sang pencipta, Allah, dengan sesempurna mungkin terutama lewat ibadah mahdhah, manusia juga dituntut menjalin hubungan secara baik dengan sesamanya.

Dengan demikian, apapun orang itu golongannya dalam Islam (jika di Indonesia dikenal ada NU, Muhammadiyah, Persis, al-Irsyad, Hizbut Tahrir (HTI), Ikhwanul Muslimin, Jamaah Tabligh, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Gerakan Wahabi, dan lainnya) dan apapun keyakinan agamanya haruslah dihormati dan berusaha sepenuhnya untuk menjalin interaksi yang baik dengan mereka.

Penelitian yang diteliti oleh Solichin (2018) menunjukkan bahwa: 1) perencaan pembelajaran pendidikan Islam moderat dilakukan dengan penyusunan silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. 2) Pelaksanaan pembelajaran pendidikan Islam moderat adalah Strategi pembelajaran yang digunakan adalah diskusi atau debat aktif, dan pembelajaran berbasis masalah.

Sementara itu, materi pembelajaran pendidikan Islam moderat terdapat dalam mata kuliah: al-Qur’an, Sejarah Kebudayaan Islam, Psikologi Agama, Pendidikan Akhlaq Tasawwuf. Filsafat Pendidikan Islam, Filsafat Islam.

Sedangkan tema-tema pembahasan meliputi: demokrasi, hak azasi manusia, toleransi dengan perbedaan. Selanjutnya evaluasi pembelajaran pendidikan Islam moderat di IAIN Madura dilakukan secara berkelanjutan.

Penelitian yang diteliti oleh Yunus (2018) menunjukkan bahwa siswa menjadi kelompok yang sangat rawan terseret oleh arus radikalisme keagamaan.

Usia yang masih sangat muda dan masih labil dengan semangat yang menyala- nyala, serta kerinduan untuk menjalankan agama secara lebih kāffah (komprehensif) membuat kelompok muda termasuk siswa beragama Islam di SMA akan menjadi kelompok sosial yang paling rentan disusupi dan menjadi

(5)

20

sasaran dari kelompok radikal yang mendakwahkan pemahaman dan sikap keagamaan yang kaku dan cenderung dangkal. Maka perlu, strategi untuk menanamkan nilai-nilai moderat Islam ke dalam diri peserta didik dengan memanfaatkan kegiatan belajar mengajar Pendidikan Agama Islam di kelas.

Penelitian yang diteliti oleh Priatmoko (2018) menunjukkan bahwa peran yang dapat dilakukan lembaga pendidikan Islam dalam ranah ini adalah melakukan internalisasi nilai-nilai Islam moderat melalui revitalisasi Pancasila dalam kehidupan peserta didik. Revitalisasi ini dapat dilakukan dalam dua tingkatan, yakni secara teoritis dan praksis. Secara teoritis diperlukan adanya upaya peningkatan kualitas dan kuantitas penelitian dan kajian terhadap Pancasila, memposisikan Pancasila sebagai ideologi terbuka, dan mengintegrasikan nilai-nilai moderat dalam Pancasila dengan materi atau bahan ajar. Sedangka secara praksis, revitalisasi Pancasila dapat dilakukan dalam empat aspek, yaitu formulasi kebijakan pendidikan Islam, reorientasi visi dan kurikulum, filterisasi bahan ajar, dan kontrol dan evaluasi yang komprehensif dan sustainable.

Penelitian yang diteliti oleh Ridho (2018) menunjukkan bahwa internalisasi sikap toleransi siswa di madrasah diniyah Miftahul Qulub bisa menjadi role model bagi madrasah yang sejenis hal ini karena penanaman sikap toleransi terus digerakkan oleh semua komponen masyarakat terutama stekholder madrasah. Selanjutnya pelaksanaan internalisasi include terhadap materi pelajaran, yaitu mata pelajaran kitab Taisirul Khallaq dan Akhlakul li al- Banin, yang mana keduanya Menekankan hubungan muamalah yang orientasinya diwujudkan dalam bentuk amaliyah dalam keseharian siswa, sehingga kerukunan akan terus terjalin. Sedangkan dampak dari internalisasi sikap toleransi siwa sangat terasa di dusun candi, dimana daerah yang multikultur dan multi etnis dan agama ini benar-benar berjalan normal dan rukun. Maka berdasarkan penelitian ini maka lokus layak dijadikan rujukan bahkan menjadi icon madrasah toleran di negeri ini.

Penelitian yang diteliti oleh Imron (2018) menunjukkan bahwa Islam moderat (tawasuth) berintikan prinsip hidup yang menjunjung tinggi berlaku adil dalam kehidupan sosial. Nilai-nilai Islam moderat dapat diinternalisasikan di

(6)

21

dalam kurikulum sekolah sebagai penguatan mulai jenjang MI melalui penerapan pembelajaran demokrasi. Penerapan tersebut dapat ditunjukkan melalui berbagai metode seperti diskusi, tanya jawab, kerja kelompok, dan simulasi. Implementasi metode pembelajaran demokratis mendorong adanya hubungan komunikatif antara pendidik dengan peserta didik, penanaman hubungan silaturahim, dan peningkatan nilai ukhuwah. Lebih lanjut, metode- metode tersebut menekankan pada pembelajaran yang berpusat pada siswa.

Penelitian ini juga menggambarkan bahwa pembelajaran demokrasi memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada peserta didik untuk mengekspresikan gagasan dan pikirannya secara kreatif dan kritis sesuai dengan gaya belajar yang dikiliki.

Penelitian yang diteliti oleh Hadi (2018) menunjukkan bahwa pembentukan jati diri pelajar-santri yang berkarakter religius-nasionalis di MA Al-Hidayat Lasem dapat berhasil melalui pemanfaatan ruang-ruang sosial yang melingkupi seluruh alur proses dan dinamika sosial-keagamaan dalam kinerja lembaga pendidikan. Ruang-ruang sosial dimaksud merupakan arena berproses yang meliputi tiga milieu belajar, yaitu: madrasah, pesantren, dan masyarakat.

Konstruksi ruang-ruang sosial berjalan secara intens mempengaruhi nalar, persepsi, image dan penilaian, serta tindakan individu-individu pelajar-santri dalam keseluruhan proses pergaulan hidup mereka sehari-hari. Penelitian juga membuktikan, secara kuantitatif tingkat pemahaman mereka dalam konteks isu relasi Islam dan negara, terbukti sangat baik, dalam arti tidak mempersoalkan Pancasila sebagai falsafah negara, bentuk dan konstitusi negara.Mengenai isu toleransi dan pluralisme tidak ditemukan masalah berarti di kalangan mereka.

Penelitian yang diteliti oleh Sodikin (2019). Dari hasil analisis data menunjukkan temuan pertama pemikiran Islam moderat yang dikembangkan yaitu toleransi, tajdīd, al-tawasuth, al-muwājahah, al-tawāzun, al-i’tidāl, musyārakah, kerukunan, kebersamaan, kejujuran dan kedisiplinan, al muhāfadzotu ’ala qodīmi al sholeh wa al akhdzu bi jadīdi al ashlah. Kedua perencanaan pembelajaran PAI 1) pembuatan kurikulum, 2) pembuatan silabus, 3) pembuatan SAP 4) persiapan batin dari dosen seperti sholat tahajud, mendoakan mahasiswa, mengamalkan sholawat Nuril Anwar. Ketiga strategi pembelajaran PAI 1) strategi pengorganisasian isi bersifat elaborasi serta analisis

(7)

22

isi dengan teori kombinasi. 2) strategi penyampaian yakni a) mahasiswa dituntut mandiri, b) dosen sebagai pembimbing, pengasuh, fasilitator, c) mengurangi ceramah, d) pengalaman, e) pembiasaan, f) emosional, g) rasional, h) fungsional.

3) strategi pengelolaan dosen memberikan muqodimah, dilanjutkan presentasi serta diskusi mahasiswa, terakhir dosen memaparkan penjelasan terkait permasalahan dalam diskusi. Keempat pembelajaran PAI berimplikasi tertanamnya beberapa pemikiran moderat pada mahasiswa dan seluruh civitas akademik, melekatnya aqidah shohīhah dan ahlussunnah wa al jama’ah, serta tidak adanya organisasi Islam radikal dilingkungan universitas, serta tidak diperkenankannya menutup muka bagi perempuan.

Penelitian yang diteliti oleh Chairudin (2019) menunjukkan bahwa konsep internalisasi nilai Moderasi Islam pada santri merupakan upaya untuk mewujudkan terjadinya proses pengambilan nilai Moderasi Islam oleh santri untuk diwujudkan dalam tingkah laku sehari-hari. Demi terwujudnya proses tersebut, diperlukan adanya pengembangan upaya-upaya dalam tahapan proses internalisasi nilai danstrategi serta pengembangan aspek-aspek yang memiliki peran penting dalam tahapan proses internalisasi nilai Moderasi Islam pada santri pelaksanaan internalisasi nilai moderasi Islam pada santri di Pondok Pesantren Qomaruddin sampurnan Bungah Gresik dalam rangka muwujudkan generasi ulul albab yang berwawasan pesantren, berakhlakul karimah dan peduli terhadap pemberdayaan masyarakat sehingga memiliki kemantapam aqidah, kedalaman spiritual, dan keluhuran akhlak, dilakukan lewat pengembangan upaya-upaya dalam tahapan proses internalisasi nilai-nilai, pengembangan strategi serta aspek-aspek yang memiliki peran penting dalam internalisasi nilai- nilai Moderasipada santri.

Penelitian yang diteliti oleh Yedi Purwanto, Qowaid, Lisa’diyah Ma’rifat Aini (2019) memaparkan tentang pola internalisasi nilai-nilai moderasi melalui mata kuliah PAI di UPI Bandung. Materinya disesuaikan dengan input mahasiswa, kompetensi dosen pengampu mata kuliah dan dukungan dari lingkungan kampus UPI. Kurikulum yang dirancang sesuai ketentuan Perguruan Tinggi. Metode internalisasi dilakukan melalui tatap muka dalam perkuliahan, tutorial, seminar dan yang semisalnya. Evaluasinya dilakukan melalui screening

(8)

23

wawasan keIslaman secara lisan dan tertulis secara laporan berkala dari dosen dan tutor.

Penelitian yang diteliti oleh Hadi (2019) menunjukkan bahwa Peran Islam moderat untuk menanggulangi radikalisme di Lembaga Pendidikan Indonesia dilakukan dengan cara deradikalisasi melalui pendidikan agama Islam yang multikultur. Pendidikan dipilih sebagai cara yang paling ampuh untuk menanggulangi radikalisme di Lembaga Pendidikan mulai dari SD sampai Perguruan Tinggi. Para peserta didik dibekali pendidikan agama Islam sebagai upaya untuk membina agar dapat memahami hakikat agama secara menyeluruh dan akhirnya mampu membentuk perilaku dan sikap para peserta didik yang plural dan keterbukaan dengan menerapkan nilai-nilai moderat tidak hanya melalui mata pelajaran, tetapi secara kultural harus ditanamkan ke seluruh aspek yang ada di lingkungan pendidikan.

Penelitian yang diteliti oleh Hudda (2019) menjelaskan bahwa: a) Pemahaman agama peserta didik siswi di SMAN 2 Magetan sangat moderat, ditunjukkan dengan toleransi beragama dalam pelaksanaan keagamaan. b) Penyebaran radikalisme yang pernah terjadi di SMAN 2 Magetan melalui salah satu cabang kegiatan rohis, cabang kegiatan ta’lim menjadi pintu masuk pemahaman radikalisme agama. c). Peran pendidik agama Islam di SMAN 2 Magetan antara lain: menumbuhkan kesadaran beribadah, meningkatkan mutu pembelajaran dengan multidisipliner, pembinaan dan pengawasan kegiatan keagamaan, meningkatkan pemahaman ibadah dan mu’amalah, dan pembinaan akhlakul karimah dengan pendekatan agama.

Berdasarkan hasil studi yang terkait dengan penelitian ini, peneliti mendapatkan bahwa penelitian-penelitian tersebut berkaitan dengan beberapa hal berikut; Pertama, PAI mengkal atau menjegah ancaman radikalisme di sekolah; Kedua, PAI dalam membentuk muslim moderat; Ketiga, manajemen pendidikan Islam moderat; dan Keempat, implementasi pendidikan Islam moderat. Sehingga penelitian yang peneliti lakukan berbeda dengan penelitian- penelitian terdahulu baik dalam segi fokus penelitian maupun lokus penelitian yang peneliti gunakan sebagai lokasi penelitia. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami secara mendalam tentang nilai-nilai pendidikan Islam moderat

(9)

24

dan proses internalisasi pendidikan Islam moderat. Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian ini yaitu:

1. Pada segi konteks penelitian, penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya internalisasi nilai pendidikan Islam moderat di sekolah dasar. Peneliti tidak menemukan konteks yang sama pada penelitian-penelitian sebelumnya.

Secara umum penelitian sebelumnya dalam konteks deradikalisme di sekolah secara umum.

2. Segi fokus penelitian, peneliti juga tidak menemukan persamaan fokus penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Tujuan penelitian ini untuk nilai-nilai dan proses internalisasi pendidikan Islam moderat, sedangkan penelitian-penelitian terdahulu fokus penelitiannya tidak secara rinci bentuk nilai proses internalisasinya.

3. Pada segi lokasi penelitian, sebagian penelitian terdahulu memang memiliki kesamaan di sekolah dengan penelitian ini, hanya saja sekolah di penelitian ini pada tingkat dasar yang bersebelahan dengan sekolah dasar lainnya yang memiliki afiliasi pada organisasi kegamaan tertentu. Berdasarkan uraian tersebut, maka jelas penelitian ini berbeda dengan penelitian lainnya.

Keunikan penelitian ini atau state of the art pada penelitian ini terletak pada fokus penelitian yang berusaha mengungkap nilai-nilai dan preses internalisasi dan lokasi penelitian di sekolah dasar.

Agar lebih memudahkan persamaan dan perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya, maka disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut.

Tabel 2.1

Kajian Persamaan dan Perbedaan Penelitian Terdahulu

No

Nama Peneliti, Judul dan Tahun

Penelitian

Persamaan Perbedaan Originalitas

Penelitian

01. Toton Suharto, 2017 Indonesianisasi Islam:

Penguatan Islam Moderat dalam Lembaga

Pendidikan Islam di Indonesia

1. Pendidikan Islam merupakan sarana yang paling strategis dalam memperkuat Islam moderat

2. Lembaga-lembaga pendidikan Islam

1. Penelitian ini sifatnya lebih umum pada lembaga pendidikan Islam di Indonesia.

2. Tidak berbicara tentang kosep atau pola dalam penguatan Islam moderat

Judul Penelitian : Internalisasi pendidikan Islam moderat di SD Al- Furqan Jember

Fokus Penelitian:

1. Bagimana nilai-nilai

(10)

25

mengajarkan mengenai Islam Indonesia yang moderat

3. Lokasi lembaga seluruh Indonesia dengan purpsive samping

pendidikan Islam moderat di SD Al-Furqan Jember?.

2. Bagimana proses pendidikan Islam moderat di SD Al-Furqan Jember?.

3. Lokasi penelitian di SD Al-Furqan Jember State of the Art : 1. Dari semua penelitian

terdahulu yang tercantum belum sama sekali ada pembahasan tentang nilai dan proses pendidikan Islam moderat di sekolah dasar yaitu di SD Al- Furqan Jember.

2. SD Al-Furqan Jember adalah Fullday School di Jember dengan

keunggulan program Al- Qur’an (TPA)

3. SD Al-Furqan Jember di kelilingi oleh beberapa Sekolah Dasar fanatik keagamaan, diantaranya adalah SDK Maria Fatimah (katolik), SD Al- Baitul Amin (NU), SD Lukmanul Hakim (Salafi), dan SD al-Irsyad (Al- Irsyad)

02.

Achyar Hudda 2019 Peran Pendidik Agama Islam dalam Menangkal Radikalisme Agama (Studi Kasus di SMAN 2 Magetan)

1. Pemahaman tentang Islam moderat

2. Menghendaki sikap toleransi beragama dalam pelaksanaan keagamaan 3. Informannya juga

melibatkan pendidik

1. Peran pendidik agama Islam dalam

menangkal radikalisme Agama

2. Strategi dan pola penyebaran radikalisme

3. Peran pendidik agama Islam dalam

menangkal radikalisme Agama

4. Lokasi penelitian pada strata lebih tinggi yaitu SMAN 2 Magetan

03

Kusnul Munfa’ati 2018 Integrasi Nilai Islam Moderat dan Nasionalisme pada Pendidikan Karakter di Madrasah Ibtidaiyah Berbasis Pesantren (Studi Multi Kasus di MI Miftahul Ulum Driyorejo Gresikdan MI Bahrul Ulum Sahlaniyah Krian Sidoarjo

1. Mengkaji tentang pendidikan Islam moderat 2. Penelitian

dilakukan pada level yang sama yaitu lembaga dasar

1. Perbedaan Integrasi nilai Islam moderat dan nasionalisme 2. Integrasi nilai Islam

moderat dan nasionalisme yakni melalui pembelajaran 3. Metode penelitian

kombinasi (mix methods).

4. Jenis penelitina berupa multi kasus

Abdurrohman (2018), Eksistensi Islam Moderat Dalam Perspektif Islam

1. Mengkaji tentang sikap moderat dalam Islam 2. Penelitian

dilakukan pada ormas Islam

1. Perbedaan moderat dalam persepektif Islam

2. Jenis penelitian multi kasus

3. Informannya Tokoh ormas dan

masyarakat

04

Alam (2017), Studi Implementasi Pendidikan Islam Moderat dalam Mencegah Ancaman Radikalisme di Kota Sungai Penuh Jambi

1. Pemahaman tentang Islam moderat 2. Menghendaki

sikap toleransi beragama dalam pelaksanaan keagamaan

1. Implimentasi agama Islam dalam menangkal radikalisme 2. Strategi dan pola

penyebaran radikalisme 3. Lokasi penelitian

Kota Sungai Penuh Jambi

05

Solichin (2018), Manajemen

Pembelajaran Pendidikan Islam Moderat di Perguruan Tinggi Islam (Studi atas Institute Agama Islam Negeri Madura)

1. Pemahaman tentang Islam moderat 2. Perencaan

pembelajaran pendidikan Islam moderat 3. Pelaksanaan

pembelajaran pendidikan Islam moderat 4. Jenis penelitian

studi kasus

1. Informannya adalah dosen dan Karyawan 2. Manajemen dan

Strategi pembelajaran pendidikan Islam moderat 3. Lokasi penelitian

pada Perguruan Tinggi di IAIN Madura

06 Yedi Purwanto, Qowaid,

Lisa’diyah Ma’rifataini 1. Pola internalisasi nilai-nilai

1. Pendekatan memalalui

(11)

26

(2019), Internalizing Moderation Value Through Islamic Religious Education In Public Higher Education

moderasi melalui mata kuliah PAI 2. Menggunakan

metode internalisasi

manajemen Pendidik (perencanaan, pelaksaaan, dan Evaluasi) Pembelajaran 2. Lokasi penelitian di

UPI Banndung

07

Yunus (2018), Eksistensi Moderasi Islam Dalam Kurikulum Pembelajaran PAI dI SMA

1. Pencegahan radikalisme 2. Strategi untuk

menanamkan nilai-nilai moderat 3. Desain kurikulum

moderat 4. Informannya

peserta didik

1. Pencegahan radikalisme 2. Informannya peserta

didik SMA

3. Lokasi penelitiannya di SMA

08

Ramadhan (2016), Deradikalisasi Paham Keagamaan Melalui Pendidikan Islam Rahmatan Lil’alamin (Studi Pemikiran Pendidikan Islam KH.

Abdurrahman Wahid)

1. Pendidikan Islam yang inklusif 2. Pendidikan Islam

yang humanis.

1. Penelitian perspektif KH. Abdurrahman Wahid

2. Kajian Pustaka (Library Riset) 3. Informannya peserta

didik SMA

09

Sodikin (2019), Pembelajaran

Pendidikan Agama Islam dalam membentuk Muslim Moderat: Studi Multi Kasus di Universitas

Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Islam Malang (UNISMA)

1. Pemikiran Islam moderat yang dikembangkan yaitu toleransi, tajdīd, al tawasuth, dll.

2. Kajian PAI

1. Penelitian Studi multikasus 2. Penelitian di dua

perguruan Tinggi 3. Informannya civitas

/mahasiswa

10

Chairudin (2019), Aspek Pengembangan

Internalisasi Nilai Moderasi Islam Pada Santri (Studi Kasus di Pondok Pesantren Qomaruddin Gresik)

1. Internalisasi nilai moderasi 2. Proses

internalisasi pendidikan Islam moderat kepada santri

1. Penelitian Studikasus 2. Penelitian di santri di

Pondok Pesantren Qomaruddin sampurnan Bungah Gresik

3. Informannya santri pondok pesantren

11

Priatmoko (2018), Pengarusutamaan Nilai- Nilai Islam Moderat Melalui Revitalisasi Pancasila dalam Pendidikan Islam

1. Internalisasi nilai- nilai Islam moderat melalui revitalisasi Pancasila 2. Pendidikan

Agama Islam Islam

1. Memposisikan Pancasila sebagai ideologi terbuka 2. Mengintegrasikan

nilai-nilai moderat dalam Pancasila dengan materi atau bahan ajar.

3. Penelitian Studikasus

12

Satori (2017),

Pola Internalisasi Nilai Multikultural pada Pendidikan Pesantren Tradisional dalam Mencegah Ancama Radikalisme di Tasikmalaya.

1. Pola internalisasi nilai-nilai pendidikan Islam moderat 2. Pendidikan

Agama Islam Islam

1. Pendidikan Pesantren Tradisional

2. Mencegah ancaman radikalisme 3. Lokasi penelitian di

Tasikmalaya

13

Ridho (2018), Internalisasi Sikap Toleransi Siswa Madrasah di Lingkungan Vihara Avalokitesvara

1. Intrnaliasi sikap toleransi 2. Pelaksanaan

intoletansi dalam kurikulum

1. Rolemodel bagi Madrasah Ibtidaiyah 2. Menitk beraktan pada

sikaptoleransi dan kerukunan

(12)

27 14

Imron (2018), Penguatan Islam Moderat melalui Metode Pembelajaran Demokrasi di Madrasah Ibtidaiyah

1. Internalisasi nilai- nilai Islam moderat 2. Narasumber

penelitian pendidik dan peserta didik

1. Motode pembelajaran 2. Pembelajaran

deradikalisasi 3. Lokasi penelitian di

Madrasah Ibtidaiyah

15

Hadi (2018)

Internalisasi Nilai-Nilai Islam Wasathiyah dan Wawasan Kebangsaan di Kalangan Pelajar Santi di Lasem

1. Pembentukan jati diri pelajar berkarakter wasathiyah 2. Toleransi dan

pluralisme

1. Pemanfaatan ruang- ruang sosial yang melingkupi proses dan dinamika sosial keagamaan 2. Ruang sosial:

madrasah, pesantren, dan masyarakat

16

Nisa’ (2018), Integrasi Nilai-Nilai Moderasi Pada Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Living Values Education (LVE)

1. Integrasi nilai moderat 2. Proses

internalisasi nilai

1. Living Values Education (LVE) 2. Objek penelitian pada

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

18

Noorhayati (2017), Redesain Paradigma Pendidikan Islam Toleran dan Pluralis di Pondok Pesantren (Studi Konstruktivisme Sikap Kiai dan Sistem Nilai di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton,

Probolinggo).

1. Paradigma pendidikan Islam toleran

2. Indoktrinasi

1. Studi konstruktif sikap kiyai 2. Pendekatan

fenomenologi 3. Lokasi penelitian PP.

Nurul Jadid Paiton

19

Muqoyyidin (2015), Membangun Kesadaran Inklusif-Multikultural untuk Deradikalisasi Pendidikan Islam.

1. Membangun nilai toleran

2. Kajian Pendidikan Agama Islam

1. Deradikalisasi inklusif-multikultural 2. Reorientasi visi PAI

20

Hadi (2019), Urgensi Nilai-Nilai Moderat Islam Dalam Lembaga Pendidikan di Indonesia

1. Nilai-nilai moderat

2. Membentuk sikap pendidik dan peserta didik

1. Deradikalisasi di lembaga pendidikan Islam di Indonesia 2. Sasaran SD sampai

dengan Perguruan Tinggi

B. KAJIAN TEORI

1. Pengertian Pendidikan Islam

Pendidikan Islam telah didefenisikan secara berbeda-beda oleh bayak pakar sesuai dengan pendapatnya masing-masing. Tetapi semua pendapat itu bermuara dalam pandangan bahwa pendidikan adalah suatu proses di mana suatu bangsa mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien. Karena itu pendidikan lebih dari sekedar pengajaran karena dalam kenyataannya, pendidikan adalah suatu proses di mana suatu bangsa atau negara membina dan mengembangkan

(13)

28

kesadaran diri di antara individu-individu. Dengan kesadaran tersebut, suatu bangsa atau negara mewariskan kekayaan budaya atau pemikiran kepada generasi berikutnya. Sehinga menjadi inspirasi bagi mereka dalam setiap aspek kehidupan (Azra, 1998) .

Istilah pendidikan dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah tarbiyah yang berakar akar kata rabba, berarti mendidik. Dengan demikian, tarbiyah Islamiyah diterjemahkan dengan Pendidikan Islam (Darajat, 1992). Dalam kamus bahasa Arab ditemukan tiga akar kata untuk istilah tarbiyah, yaitu:

a. Raba-yarbu-tarbiyah yang berarti bertambah dan berkembang. Jadi pendidikan itu (tarbiyah) merupakan proses menumbuhkan dan mengembangkan sesuatu yang ada pada diri peserta didik, baik secara fisik, psikis, sosial maupun spiritual. Hal ini senada dengan firman Allah dalam al- Qur'an “dan sesuatu Riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia bertambah pada harta manusia, Maka Riba itu tidak menambah pada sisi Allah” (QS. al-Rum: 39).

b. Rabiya-yarba-tarbiyah yang dibandingkan dengan khafiya-yakhfa yang berarti tumbuh dan berkembang. artinya, pendidikan (tarbiyah) merupakan usaha untuk menumbuhkan dan mendewasakan peserta didik, baik secara fisik, psikis, sosial maupun spiritual.

c. Rabba-yarubbu-tarbiyah yang dibandingkan dengan madda-yamuddu yang berarti memperbaiki, mengurusi kepentingan, mengatur, menjaga dan memperhatikan (R. Al-Nahlawi, 1965). Artinya, pendidikan (tarbiyah) merupakan usaha untuk memelihara, mengasuh, merawat, memperbaiki dan mengatur kehidupan peserta didik, agar ia dapat survive lebih baik dalam kehidupannya. Kata Tarbiyah merupakan masdar dari rabba-yurabbi- tarbiyatan (Tobroni, 2015). Kata ini ditemukan dalam Al-Qur’an “dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”(QS. Al-Isra: 24).

Al-Baidhawi mengatakan bahwa pada dasarnya al-rabb yang bermakna tarbiyah selengkapnya berarti menyampaikan sesuatu hingga mencapai kesempurnaan, sementara rabb yang menyipati Allah menunjukkan arti yang

(14)

29

lebih khusus yaitu sangat atau paling. Al-Ashfahani mengatakan bahwa al- rabb berarti tarbiyah menunjuk kepada arti menumbuhkan prilaku secara bertahap hingga mencapai batasan kesempurnaan. Lebih jauh al-Bani menyatakan bahwa di dalam pendidikan tercakup tiga unsur yaitu; menjaga dan memelihara anak; mengembangkan bakat dan potensi anak sesuai dengan kekhasan masing-masing; mengarahkan potensi dan bakat agar mencapai kesempurnaan dan kebaikan (Al-Nahlawi, 1965).

Secara terminologis menurut al-Nahlawi bahwa pendidikan Islam adalah pengaturan pribadi dan masyarakat yang dengannya dapat memeluk Islam secara logis baik dalam kehidupan individu maupun kolektif (Al-Nahlawi, 1965; Darajat, 1992; Uhbiyati, 1998). Sementara Yusuf al-Qardhawi memberi pengertian pendidikan Islam sebagai Pendidikan manusia seutuhnya, akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan keterampilannya (Al-Qardhawi, 1980). Pengertian yang senada dikemukakan oleh Mustafa al-Gulayaini bahwa pendidikan Islam adalah menanamkan akhlak yang mulia di dalam jiwa anak dalam masa pertumbuhannya dan menyiraminya dengan air petunjuk dan nasehat, sehingga akhlak itu menjadi salah satu kemampuan meresap dalam jiwanya yang buahnya berwujud keutamaan, kebaikan dan cinta bekerja untuk kemanfaatan tanah air (Uhbiyati, 1998).

Sedangkan secara teknis Endang Syaifuddin Anshori memberikan pengertian bahwa pendidikan Islam adalah proses bimbingan (pimpinan, tuntunan, usulan) oleh obyek didik terhadap perkembangan jiwa (pikiran, perasaan, kemauan, intuisi dan lain-lain) dan raga obyek didik dengan bahan- bahan materi tertentu dan dengan alat perlengkapan yang ada ke arah terciptanya pribadi tertentu diserta evaluasi sesuai dengan ajaran Islam. Sementara itu Marimba mendefenisikan pendidikan Islam dengan bimbingan jasmani-rohani, berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam (Marimba, 1980b).

Pengertian dasar di atas, dapat difahami bahwa pada dasarnya pendidikan Islam adalah suatu proses pembentukan individu berdasarkan ajaran- ajaran Islam yang diwahyukan Allah kepada Muhammad. Melalui proses pendidikan seperti itu individu dibentuk agar dapat mencapai derajat yang tinggi

(15)

30

supaya ia mampu menunaikan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi, dan berhasil mewujudkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu, pendidikan Islam memadukan pendidikan iman dan pendidikan amal sekaligus yang bertujuan untuk membentuk kepribadian muslim yang tangguh, baik secara individual maupun secara kolektif.

Dengan demikian, istilah pendidikan Islam berdasarkan butir-butir ajaran agama Islam yang menyatakan bahwa pendidikan Islam adalah suatu usaha untuk mengembangkan fitrah manusia dengan ajaran agama Islam agar terwujud kehidupan manusia yang makmur dan bahagia. Olehnya itu, syariat Islam tidak akan dihayati dan diamalkan orang kalau hanya diajarkan, tetapi harus dididik melalui proses pendidikan, karena pendidikan Islam tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga praktis karena ajaran Islam tidak memisahkan antara iman dan amal shaleh, oleh karena itu pendidikan Islam juga merupakan pendidikan iman dan pendidikan amal.

Selanjutnya Hasan Langgulung memberikan pengertian bahwa pendidikan Islam adalah proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat (Azra, 1998). Ungkapan senada juga dikemukakan oleh Naquib al-Attas bahwa pendidikan Islam adalah upaya yang dilakukan pendidikan terhadap anak didik untuk pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang benar dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan akan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan kepribadian (Uhbiyati, 1998; Tobroni, 2015).

Dari uraian tersebut di atas, diambil kesimpulan bahwa para pakar pendidikan berbeda pendapat mengenai rumusan pendidikan Islam. Ada yang menitik beratkan pada segi pembentukan, akhlak, ada pula yang menuntut kepribadian muslim dan lain-lain. Namun dari perbedaan pendapat tersebut dapat dipahami bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan yang dilakukan orang dewasa kepada terdidik dalam masa pertumbuhannya agar si terdidik memiliki kepribadian muslim.

(16)

31 2. Pendidikan Islam Moderat

Pendidikan Islam moderat merupakan wacana baru yang muncul dalam bidang pendidikan Islam. Meskipun demikian, secara ideologis dapat dikatakan bahwa pendidikan Islam moderat merupakan pendidikan Islam yang ideologinya menganut paham, ajaran atau keyakinan Islam moderat. Oleh karena pendidikan Islam moderat mengacu pada ideologi Islam moderat, maka sudah dapat dipastikan bahwa konsep pendidikan Islam moderat mengacu pada konsep dan wacana yang dipahamkan dalam ideologi Islam moderat ini. Oleh karena itu, untuk menentukan karakter pendidikan Islam moderat, maka penajaman karakter-karakter Islam moderat merupakan sesuatu yang perlu ditekankan dalam memahami konsep pendidikan Islam moderat.

Menurut Suharto (2017), pendidikan Islam di Indonesia telah terfragmentasi dalam beragam ideologi. Lembaga pendidikan di bawah naungan pemerintah, baik berupa madrasah negeri ataupun sekolah negeri, memiliki ideologi yang jelas, yaitu ideologi negara berdasarkan Pancasila. Lain halnya dengan lembaga pendidikan swasta yang dikelola oleh suatu organisasi atau yayasan tertentu, maka ideologi pendidikannya tergantung pada ideologi organisasi atau yayasan tersebut. Dalam konteks ini, lembaga pendidikan swasta tak jarang menjadi agen atau penyemai ideologi dari suatu organisasi atau yayasan induknya. Sebuah lembaga pendidikan Islam dapat dikategorikan pengusung Islam moderat, manakala organisasi atau lembaga induknya memiliki ideologi Islam berpaham moderat. Sebaliknya, suatu lembaga pendidikan Islam dapat dikategorikan pengusung Islam radikal, manakala organisasi atau lembaga induknya memiliki ideologi Islam berpaham radikal.

Ideologi Islam, baik yang moderat maupun yang radikal, senantiasa disemaikan, dikuatkan dan dilestarikan melalui berbagai media dan sarana. Salah satu media yang sangat startegis bagi penguatan dan penyemaian ideologi Islam moderat atau radikal adalah melalui jalur pendidikan. Menurut Arifin (2014a), peran dunia pendidikan dapat diplot sebagai salah satu institusi yang dapat dioptimalisir untuk melakukan apa yang disebut dengan deradikalisasi.

Peranpendidikan terutama yang dikelola oleh umat Islam diharapkan dapat melakukanperan tersebut, bersama institusi lainnya, sehingga wajah Islam di

(17)

32

Indonesia tetap terlihat ramah, toleran, moderat, namun tetap memiliki martabat di mata dunia.

Pola pendidikan Islam moderat yang terkonsep secara sistematis berlandaskan al-Qur’an dan hadis yang berwajah Raḥmatan li al-‘Ālamīn mengakibatkan tidak terbendungnya gerakan-gerakan radikalisme, terorisme, liberalisme dan komunisme dengan tanpa filter. Tentu dampak sistemiknya adalah konsepsi-konsepsi mereka bisa dipromosikan secara militan dan massif serta bisa te-rimplementasikan secara baik di tengah-tengah masyarakat (Sofiuddin, 2018).

Penting diketahui bersama bahwa ajaran Islam moderat direalisasikan melalui berbagai aspek, di antaranya yaitu dalam dunia pendidikan. Ironisnya pendidikan Islam moderat di Indonesia masih mengalami permasalahan yang sangat kompleks, seperti kesulitan mencari identitas dan pola kurikulum yang ideal, efektif dan efisien. Kesulitan ini tentu mengakibatkan pada adanya perubahan dari kurikulum tahun 1945, 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006, 2013 sampai sekarang. Hal ini berdampak pada tahap berikutnya yaitu; mengakibatkan kebingungan pada setiap lembaga pendidikan yang tidak mampu mengikuti arus perkembangan dan perubahan kurikulum sebagaimana rincian di atas. Fakta ini dibuktikan oleh banyaknya keluhan- keluhan dari berbagai pihak lembaga pendidikan seperti kepala sekolah, kabag kurikulum, para guru dan seterusnya (Sofiuddin, 2018).

Fenomena demikian, semakin diperkeruh dengan adanya persinggungan ideologi-ideologi Islam tertentu yang menganggap beberapa lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia sudah keluar darijalur ajaran-ajaran Islam. Adapun di antara lembaga pendidikan yang dimaksud yaitu Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang dianggap oleh Hartono Ahmad Jaiz sebagai sarang liberalisme, lembaga pendidikan al-Zaytun dengan isu brain washing NII-nya, pesantren Ngruki dengan paham radikalisme dan terorisme Abu Bakar Ba’asyirnya, serta 19 pesantren yang diklaim mengajarkan radikalisme oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan seterusnya.

Stigma Kepala BNPT tentu memantik reaksi keras dari berbagai kalangan di antaranya; Sekretaris Badan Wakaf Pondok Pesantren (Ponpes) Gontor, Amal

(18)

33

Fathullah Zarkasyi dan lain sebagainya. Menurut Global Terorism Database (GTD) dari tahun 1970 sampai 2012, terdapat 113 ribu aksi terorisme yang terdiri dari 52 ribu pengeboman, 14.400 (pembunuhan), 5600 (penculikan).

Sedangkan untuk kategori kasus terorisme terdiri dari 45 variabel untuk masing- masing kasus. Insiden terorisme terbaru semakin menambahkan variabel menjadi 120 variabel (Sofiuddin, 2018).

Permasalahan pelik berikutnya yaitu adanya fakta berupa kurangnya riset dari para sarjana untuk memunculkan teori, konsep, kurikulum dan metode pembelajaran moderat. Kegelisahan akademik dari para pengamat pendidikan Islam, baik di Indonesia, Barat maupun Timur berakar pada fakta bahwa belum ditemukannya konsep pendidikan Islam moderat yang memiliki body of knowledge, teori yang kuat, metode pembelajaran ilmiah dan kurikulum yang moderat. Oleh karena itu, dapat difahami bahwa tema penelitian internalisasi pendidikan Islam moderat di lembaga pendidikan dasar termasuk tema baru yang berfungsi untuk mengisi ruang kosong sebagaimana deskripsi di atas.

Pentingnya membangun paradigma pendidikan Islam moderat melalui tinjauan epistemologis yang diteliti secaraobjektif (bebas dari pengaruh kepentingan), rasional, sistematis dan implementatif dengan pendekatan ilmu pendidikan diharapkan akanmenjadi salah satu panduan untuk mengurai benang kusut berupa perdebatan akademik seputar pro-kontra penerimaan Islam moderat sebagaimana deskripsi latar belakang tersebut.

Ditinjau dari aspek ilmu pendidikan, potret berbagai problematika di atas maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa kondisi pendidikan Islam moderat di Indonesia terus mengalami ancaman serius, baik darisegi internal (dalam negeri) maupun eksternal (luar negeri). Ancaman berupa narkoba, paham komunisme, ideologi neo-liberalisme, fundamentalisme agama, terorisme, radikalisme dan lain sebagainya sudah beroperasi dalam tataran ideologi, gerakan dan strategi yang terstruktur, sistematif dan massif. Oleh karena itu, soft approach sebagai problem solving yang perlu dilakukan yaitu melalui pendidikan yang berorientasi pada pembinaan sikap moderat yang komprehensif.

Pembinaan sikap moderat yang komprehensif harus mencerminkan kesejatian Islam yang alami menuju titik temu berupa keseimbangan (Silatnas, 2016).

(19)

34

Pendidikan Islam yang mengantarkan pelajarnya bersikap moderat perlu tegak berdiri untuk memayungi berbagai jajaran realitasyang saling tarik- menarik antar komponen kepentingan. Oleh karena itu, sikap moderat tidak hanya terpaku pada tataran konsep pemikiran, tetapi juga mencakup elemen dan substansi pokok bahasan, principal guide line, hingga operasional implementasinya. Dengan demikian, maka outcome dari pengejawantahan sikap moderat di ruang publik adalah Islam sebagai rahmat bagi semesta dan kebangsaan sebagai rahim peradaban Indonesia (Silatnas, 2016).

Paradigma moderasi yang merupakan salah satu nilai Aswaja pada pendidikan semisal di pondok pesantren diidentifkasi sebagai salah satu solusi bagi permasalahan di atas yang perlu dielaborasi lebih dalam danrinci. Peran penting pesantren secara konsisten mengembangkanpaham moderat berlahan mampu mereduksi persoalan-persoalan di atas (Silatnas, 2016).

Muzadi (2016), menjustifikasi bahwa kondisi radikalisme, ekstremisme dan terorisme yang dilakukan oleh jaringan-jaringan yang berada di Indonesia dan internasional semakin membahayakan kedaulatan NKRI, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa. Oleh karena itu, merupakan suatu keniscayaan upaya- upaya sinergitas untuk memperkuat Aswaja dan bela negara dapat terealisir dengan baik.

Upaya mensinergikan berbagai elemen dianggap penting mengingat bahwa pesantren memiliki ajaran Aswaja yang sudah terbukti tidak bertentangan dengan negara, bahkan turut serta mendukung dan membela NKRI. Di samping itu, TNI yang berfungsi sebagai alat negarauntuk menangkal ancaman-ancaman (baik dari dalam maupun dari luar yang mengganggu kedaulatan, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa), merupakan lembaga pertahanan yang memiliki kewajiban dan wewenang dalam hal bela negara sebagaimana peran dan fungsinya diatur berdasarkan UU 34/2004 bab IV, pasal 5 dan 6, sedangkan tugas-tugasnya diatur dalam pasal 7, 8, 9 dan 10 (Muzadi, 2016).

Berdasarkan data yang berhasil diperoleh dari beberapa hasil riset, menghasilkan suatu penglihatan dan pemikiran yang sangat bermakna untuk kepentingan umat. Diantaranya adalah terkait implementasi materi konsep moderat yang sering difamiliarkan dengan istilah “al-wasaṭhiyah”. Berbagai

(20)

35

upaya implementasinya sudah berjalan sejak lama, baik dalam format dialog- dialog maupun melalui mediasi-mediasi, baik dalam skala nasional maupun internasional. Pada tingkat internasional di antaranya seperti melalui forum dialog antar tokoh dan cendekiawan dunia yang diselenggarakan pada tanggal 23-25 November 2015, dimana Sekjen International Conference of Islamic Scholars (ICIS). Muzadi, (2016), meneguhkan kembali akan pentingnya merawat persatuan umat Islamdunia yang berlandaskan nilai-nilai Islam moderat (Islam Raḥmatan li al-‘Ālamīn).

Di samping itu, ia juga memberikan catatan penting terkait problem and problem solving yang selalu melanda pemikiran umat Islam yang moderat. Di antara problem and problem solving-nya, yaitu; Pertama, masalah materi pendidikan Islam moderat selalu menghadapi kendala yang seriusdimana implementasinya semakin tergerus oleh pemikiran fundamentalisme, radikalisme dan liberalisme. Oleh karena itu, tentu halyang paling dibutuhkan adalah kesiapan para pimpinan lembaga pendidikan untuk mampu mengelola secara baik manajerial, kurikulum dan sistem pendidikannya yang bisa mengantarkan para pelajar bisa terbingkai pola pemikirannya menjadi moderat (Muzadi, 2016).

Kedua, masalah kondisi publik internasional yang seolah-olah dipaksa untuk memihak pada salah satu kepentingan gerakan fundamentalisme, radikalisme atau liberalisme. Oleh karena itu, kondisi demikian harus dirubah dengan cara mengimplementasikan konsep pendidikan Islam moderat yang standing position-nya non-blok. Demikian itu, harus melakukan upaya-upaya sistematis untuk menangani ancaman terorisme dan anti-terorisme yang berwujud Islamophobia dalam saat yang bersamaan. Islamophobia berarti kebencian terhadap Islam yang tidak berdasar (Muzadi, 2016).

Ketiga, implementasi materi pendidikan Islam moderat harus merujuk pada paham Islam Raḥmatan lil ‘Ālamīn yang dianggap sangat efektif dengan mempersiapkan imunitas internal umat Islam. Hal itu penting juga untuk mengingatkan pemimpin ASEAN agar tidak terjebak dalam keberpihakan, baik terhadap terorisme maupunanti-terorisme. Keempat, melakukan counter attack terhadap gejolak Islamophobia (Islam yang dianggap menakutkan), berikut pemberitaan media yang tidak bertanggung jawab. Antara lain caranya adalah

(21)

36

dengan mempublikasikan secara massif ide, pemikiran, konsep dan pendidikan Islam moderat dengan menggunakan kecanggihan Information, Communication and Technology (ICT) (Muzadi, 2016).

3. Nilai-nilai Pendidikan Islam Moderat

Manusia sebagai makhluk soasial tidak bisa lepas dari nilai-nilai yang melingkupinya. Setiap masyrakat memiliki sesuatu yang dihargai itu memiliki nilai yang tinggi. Nilai merupakan tujuan terpisah yang terjadi secara luar biasa dan di sekelilingnya terdapat pola-pola tingkah laku yang diorganisasi.

Sedangkan Muhaimin menjelaskan bahwa nilai sebagai suatu keyakinan dan kepercayaan yang menjadi dasar bagi seorang (Muhaimin, 2004).

Majelis Ulama Indonesia (MUI), melalui Munas yang ke-9 yang dilaksanakan di Surabaya pada tanggal 24-27 Agustus 2015, merumuskan konsep wasathiyyah sebagai mindstreem dan cara pandang dalam menerapkan ajaran Islam yang sesuai dengan konteks budaya dan kemajemukan bangsa.

Ada sepuluh prinsip konsep wasathiyyah dalam menjalankan nilai nilai Islam dalam kehidupan yang majemuk, yaitu: a) Al-Tawassuth (mengambil jalan tengah), yaitu pemahaman dan pengamalan yang tidak ifrâth berlebih-lebihan dalam beragama) dan tafrîth (mengurangi ajaran agama). b) Al-Tawâzun (berkeseimbangan), yaitu pemahaman dan pengamalan agama secara seimbang yang meliputi semua aspek kehidupan, baik duniawi maupun ukhrawi, tegas dalam menyatakan prinsip yang dapat membedakan antara inhirâf (penyimpangan) dan ikhtilâf (perbedaan). c) Al-I’tidâl (lurus dan tegas), yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya dan melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban secara proporsional. d) Al-Tasâmuh (toleransi), yaitu mengakui dan menghormati perbedaan, baik dalam aspek keagamaan dan berbagai aspek kehidupan lainnya. e) Al-Musâwât (egaliter), yaitu tidak bersikap diskriminatif pada yang lain disebabkan perbedaan keyakinan,tradisi dan asal usul seseorang.

f) Al-Syûrâ (musyawarah), yaitu setiap persoalan diselesaikan dengan jalan musyawarah untuk mencapai mufakat dengan prinsip menempatkan kemaslahatan di atas segalanya. g) Al-Ishlâh (reformasi), yaitu mengutamakan prinsip reformatif untuk mencapai keadaan lebih baik yang mengakomodasi

(22)

37

perubahan dan kemajuan zaman dengan berpijak pada kemaslahatan umum (mashlahah‘amah) dengan tetapberpegang pada prinsip al-tadjdid ‘ala al-qadîm al-shâlih wa al-ja’lu bi al-jadîd al-ashlah. h) Al-Aulawiyyah (mendahulukan yang prioritas), yaitukemampuan mengidentifikasi hal ihwal yang lebih penting harus diutamakan untuk diimplementasikan dibandingkan dengan yang kepentingannya lebih rendah. i) Al-Tathawwur wa al-Ibtikâr (dinamis dan inovatif), yaitu selalu terbuka untuk melakukan perubahan-perubahan sesuai denganperkembangan zaman serta menciptakan hal baru untuk kemaslahamatan dan kemajuan umat manusia. j) Al-Tahadl-dlar (berkeadaban), yaitumenjunjung tinggi akhlakul karimah, karakter, identitas, dan integritassebagai khairu ummah dalam kehidupan kemanusiaan dan peradaban (Konsep hasil rumusan MUNAS IX MUI di Surabaya tanggal 24-27 Agustus 2015).

Ibnu Asyur dalam kitab Maqashid al-Syari'ah menyebutkan nilai-nilai pendidikan Islam moderat adalah 1) mengambil jalan tengah (tawassuth); 2) berkeseimbangan (tawazun); 3) lurus dan tegas (I'tidal); 4) toleransi (tasamuh);

5) egaliter (musawah); 6) musyawarah (syura); 7) reforinasi (islah); 8) mendahulukan yang prioritas (aulawiyah); 9) dinamis dan inovatif (tathawwur wa ibtikar) dan 10) berkeadaban (tahadhadhur) (Asyur, 2001).

Sedikit berbeda dengan yang ditawarkan Ibnu ‘Asyur di atas pendapat Najib Burhan tentang nilai-nilai pendidikan Islam moderat yang menawarkan 7 nilai sebagaimana berikut; 1) toleran terhadap perbedaan; 2) bersikap lemah lembut (rukun); 3) memprioritaskan dialog (kooperatif dengan kelompok- kelompok agama yang berbeda: 4) mengakomodir konsep-konsep modern yang secara subtansial mengandung maslahat; 5) berfikir rasional berdasarkan wahyu:

6) menafsirkan teks secara kontekstual; dan 7) menggunakan ijtihad di dalam menafsirkan apa yang tidak termaktub di dalam al-Qur’an dan al-Hadits (Burhani, 2007).

Berdasarkan pada pendapat para ahli tentang nilai-nilai pendidikan Islam moderat dapat difahami bahwa nilai-nilai pendidikan Islam moderat perspektif teori terdapat 10 nilai karakter moderat, meliputi; 1) Mengambil Jalan Tengah (tawassuih): 2) Berkeseimbangan (tawazun); 3) Keadilan (‘Adalah); 4) Toleransi (Tasamuh), 5) Egaliter (musawah), 6) Musyawarah (syura), 7)

(23)

38

Reformasi (islah), 8) Mendahulukan yang Prioritas (Aulauiyah), 9) Dinamis dan Inovatif (Tathawwur wa Ibtikar), 10) Berkeadaban (Tahadhdhur).

Abudin Nata juga menawarkan bahwa nilai pendidikan Islam moderat (wasathiyah) yang disebutnya sebagai Islam rahmalan lil al'alamin, memiliki sepuluh nilai dasar yang menjadi indikatornya, yaitu: 1) pendidikan damai, yang menghormati hak asasi manusia dan persahabatan antara bangsa, ras, atau kelompok agama; 2) pendidikan yang mengembangkan kewirausahaan dan kemitraan dengan dunia industri; 3) pendidikan yang memperhatikan visi profetik Islam, yaitu humanisasi, liberasi ddn transendensi untuk perubahan sosial; 4) pendidikan yang memuat ajaran toleransi beragama dan pluralisme; 5) pendidikan yang mengajarkan paham Islam yang menjadi mainstream Islam Indonesia yang moderat; 6) pendidikan yang menyeimbangkan antara wawasan intelektual (head), wawasan spiritual dan akhlak mulia (heart) dan keterampilan vokasional (hand); 7) pendidikan yang menghasilkan ulama yang intelek dan intelek yang ulama; 8) pendidikan yang menjadi solusi bagi problem-problem pendidikan saat ini seperti masalah dualisme dan metodologi pembelajaran; 9) pendidikan yang menekankan mutu pendidikan secara komprehensif; dan 10) pendidikan yang mampu meningkatkan penguasaan atas bahasa Asing (Abudin Nata, 2016).

4. Ideologi Pendidikan Islam

Menurut Apple (1985) krisis struktural, baik yang menyangkut kerja, budaya maupun legitimasi, sesunggunya dimulai dari lembaga pendidikan.

Sekolah selama beberapa dekade terakhir ini telah menjadi pusat kecaman radikal ketimbang institusi-institusi lainnya semisal politik, budaya atau ekonomi. Kecaman terhadap dunia pendidikan ini terus meningkat ketika institusi pendidikan tidak mampu lagi melahirkan demokrasi dan persamaan yang diinginkan. Dari sini para pemikir kritis mempertanyakan kembali peran penting lembaga pendidikan, dan pengetahuan yang dihasilkannya di dalam mereproduksi tatanan sosial yang sering menyisakan ketidak samaan kelas, gender dan ras. Mereka umumnya sepakat bahwa sistem pendidikan dan budaya merupakan elemen penting di dalam memelihara adanya relasi dominasi dan

(24)

39

eksploitasi didalam masyarakat. Para pendukung teori kritis ini menyatakan bahwa lembaga pendidikan perlu mendapat perhatian lebih ketika institusi ini menjadi bagian darikerangka relasi sosial yang berhubungan dengan reproduksi budaya.

Oleh karena lembaga pendidikan merupakan bagian dari reproduksi budaya, bahwa studi kritis tentang pendidikan bukan hanya berkaitan dengan isu-isu teknis tentang bagaimana mengajar secara efektif danefisien, tapi lebih dari itu, studi kritis harus mengkaji bagaimana hubungan pendidikan dengan ekonomi, politik dan budaya yang di dalamnya mengandung unsur kuasa. Kajian seperti ini meniscayakan perlunya critical theoretical tools dan cultural and political analyses untuk dapat memahami fungsi-fungsi kurikulum dan pengajaran secara lebih terang. Alat-alat analisis ini bagi Apple, bertumpu pada dua konsep utama, yaitu analisis ideologi dan analisis hegemoni, yang untuk beberapa lama telah diabaikan dalam studi kependidikan di dunia Barat (Apple, 2004).

Bahkan, menurut Smith (2006), kurikulum sejatinya dirancang oleh suatu agen yang melayani kepentingan suatu kekuasaandi dalam masyarakat atau negara tertentu. Melalui kurikulum, mereka memasukkan suatu ideologi kepada peserta didik tentang apa yang harus dimiliki, dan apa yang tidak harus dimiliki.

Oleh karena itu, lembaga pendidikan semacam sekolah dan kurikulumnya merupakan agen-agen ideologi (ideological agents), sama dengan media dan gereja, yang merepresentasikan struktur sosial tertentu dalam suatu masyarakat yang berkuasa.

Dalam konteks itu, menurut Sastra pratedja, ideologi secara umum dapat diartikan sebagai seperangkat gagasan atau pemikiran yang berorientasipada tindakan yang terorganisir menjadi suatu sistem yang teratur (Oetojo & Alfian, 1991), sehingga Pratte menyebut ideologi sebagai “a belief system” yang berhubungan dengan “action” (Pratte, 1977).

Dengan ini, ideologi memiliki tiga unsur. Pertama, adanya penafsiran atau pemahaman terhadap kenyataan masa lalu yangdiimajinasikan ke masa depan. Kedua, setiap ideologi memuat seperangkat nilai-nilai preskripsi moral yang menolak sistem lainnya. Ketiga, ideologi memuat suatu orientasi pada

(25)

40

tindakan, yaitu sebagai pedoman untuk mewujudkan nilai-nilai yang termuat di dalamnya. Melalui ketiga unsur iniideologi berfungsi sebagai pemersatu di antara in group (kita) dan pembeda dengan out group (mereka), karenanya ideologi dapat membentuk identitas kelompok atau bangsa. Ideologi juga berfungsi sebagai futuristik karena memberikan gambaran masa depan yang utopis, di samping juga berfungsi sebagai orientasi pada tindakan (Oetojo &

Alfian, 1991).

a. Ideologi Islam Moderat

Walisongo merupakan agen-agen unik Jawa pada abad XV-XVI yang mampu memadukan aspek-aspek spiritual dan sekuler dalammenyiarkan Islam. Posisi mereka dalam kehidupan sosio-kultural dan religius di Jawa begitu memikat hingga bisa dikatakan Islam tidak pernah menjadi the religion of Java jika sufisme yang dikembangkan oleh Walisongo tidak mengakar dalam masyarakat (Geertz, 1976). Rujukan ciri-ciri ini menunjukkan ajaran Islam yang diperkenalkan Walisongo di Tanah Jawa hadir dengan penuh kedamaian, walaupun terkesan lamban tetapi meyakinkan. Berdasarkan fakta sejarah, bahwa dengan caramenoleransi tradisi lokal serta memodifikasinya ke dalam ajaran Islam dan tetap bersandar pada prinsip-prinsip Islam, agama baru ini dipeluk oleh bangsawan bangsawan serta mayoritas masyarakat Jawa di pesisir utara (Mas'ud, 2006).

Moderatisme merupakan sebuah istilah atau nomenklatur konseptual yang tidak mudah untuk didefinisikan. Hal ini karena ia menjadi istilah yang diperebutkan pemaknaannya (highly contested concept), baik di kalangan internal umat Islam maupun eksternal non muslim. Ia dipahami secara berbeda-beda oleh banyak orang,tergantung siapa dan dalam konteks apa ia didekati dan dipahami (Esposito, 2005).

Dalam hal pemaknaan moderasi suatu ajaran Islam memang tidak mudah, mengingat pada zaman Rasulullah SAW semua tertumpu pada beliau sebagai sosok yang cerdas yang menjadi satu-satunya panutan para shahabat, sehingga yang dikenal hanya satu yaitu risalah Islamiyah Nabi Muhammad SAW. Namun seiring perkembangan zaman dimana persoalan sosial manusia

(26)

41

semakin berkembang, tidak ada yang menjadi pemersatu dalam memaknai agama. Maka muncullah para tokoh yang dijadikan pegangan persoalan umat muslim. Di tengah masa tersebut, terjadilah banyak tafsir yang terkadang mereka pahami secara kaku, demikian juga sebaliknya adanya memaknainya secara bebas dengan mengedepankan logika. Untuk menjembatani dua kutub ini serta mempertemukan antara ajaran al-Qur’an dan realitas sosial, maka muncul moderasi Islam.

Khazanah pemikiran Islam Klasik memang tidak mengenal istilah

“moderatisme”. Tetapi penggunaan dan pemahaman atasnya biasanya merujuk pada persamaan sejumlah kata dalam bahasa Arab, di antaranya al- tawassuth (al-wast), al-qist, al-tawazun, al-i‘tidal, dan semisalnya. Oleh sejumlah kalangan umat Islam, kata-kata tersebut dipakai untuk merujuk pada modus keberagamaan yang tidak melegalkan kekerasan sebagai jalan keluar untuk mengatasi berbagai persoalan teologis dalam Islam. Oleh karena moderatisme merupakan kata yang relatif dan dipahami secara subyektif oleh banyak orang, maka ia selalu mengundang kontroversi dan bias-bias subyektif. Ia juga tidak pernah netral dari berbagai macam kepentingan politik-ekonomi. Sebagai akibatnya, kepelikan semantik semacam inilah yang menyebabkan seseorang mengalami kesulitan untuk sampai pada tahap konklusif tentang apa dan siapa Islam moderat itu (Hilmy, 2012).

Namun demikian, dalam konteks Indonesia, masih menurut Hilmy, terdapat beberapa karakteristik moderatisme Islam. Hilmy menyatakan:

The concept of moderatism in the context of Indonesian Islam has at least the following characteristics; 1) non-violent ideology in propagating Islam; 2) adopting the modern way of life with its all derivatives, including scienceand technology, democracy, human rights and the like; 3) the use of rationalway of thinking; 4) contextual approach in understanding Islam, and; 5) theuse of ijtihad (intellectual exercises to make a legal opinion in case of theabsence of explicit justification from the Qur’an and Hadith). Those characteristics are, however, can be expanded into several more characteristics such as tolerance, harmony and cooperation among different religious groups (Hilmy, 2013b).

Referensi

Dokumen terkait

Puji Syukur Kehadirat Allah SWT yang maha Esa karena atas nikmat-Nya penyusunan Laporan Kuliah Kerja Magang (KKM) STIE PGRI Dewantara Jombang dapat diselesaikan tepat

Berdasarkan apa yang telah peneliti ungkapkan dalam latar belakang, peneliti menjadikan alasan diatas sebagai hal yang melatar belakangi penelitian yang akan

Regulasi • Belum adanya national policy yang terintegrasi di sektor logistik, regulasi dan kebijakan masih bersifat parsial dan sektoral dan law enforcement lemah.. Kelembagaan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kekuatan geser pelekatan resin komposit packable dengan intermediate layer resin komposit flowable menggunakan

Tata Usaha pada UPTD Tindak Darurat Dinas Cipta Karya dan Tata Kota Samarinda Eselon

Isi modul ini : Ketakbebasan Linier Himpunan Fungsi, Determinan Wronski, Prinsip Superposisi, PD Linier Homogen Koefisien Konstanta, Persamaan Diferensial Linier Homogen

Abdullah bin Mubarok berkata, “Sungguh mengembalikan satu dirham yang berasal dari harta yang syubhat lebih baik bagiku daripada bersedeqah dengan seratus ribu dirham”..

Mary Midgley is a moral philosopher and the author of many books including Wickedness, Evolution as a Religion, Beast and Man and Science and Poetry. All are published in