• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka 1. Iklim Kerja

a. Definisi Iklim Kerja Panas

Menurut Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 5 Tahun 2018 iklim kerja adalah hasil perpaduan antara suhu, kelembapan, kecepatan gerakan udara dan panas radiasi dengan tingkat pengeluaran panas dari tubuh tenaga kerja sebagai akibat pekerjaanya meliputi tekanan panas dan dingin. Disebutkan bahwa masyarakat Indonesia harus diberi suhu udara yang nyaman dan suhu kering 23° C hingga 26° C dan 40% hingga 60%. Persentase kelembapan, dan perbedaan suhu antara didalam dan diluar tidak melebihi 5o C.

b. Faktor yang Mempengaruhi Iklim Kerja Panas

Menurut (Kuswana, 2017) faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi pekerja terhadap panas atau dingin bergantung pada enam faktor utama yaitu :

commit to user

(2)

9

1. Suhu Udara, suhu udara adalah derajat panas dari aktivitas molekul dalam atmosfer. Suhu dikatakan sebagai derajat panas atau dingin diukur berdasarkan skala tertentu dengan menggunakan thermometer (Ernyasih, 2012).

2. Panas Radiasi, panas radiasi adalah energi atau gelombang elektromagnetik, panjang gelombangnya lebih besar dari sinar matahari, dan mata tidak peka terhadapnya. Gelombang radiasi semacam itu dibawa melalui udara tanpa menyerap energi, tetapi menghasilkan panas ke benda-benda yang mereka ekspos. Sumber panas radiasi adalah panas permukaan dan sinar matahari itu sendiri (Summa’mur, 2014)

3. Kelembapan Udara, adalah banyaknya uap air yang terkandung dalam udara atau atmosfer. Besar kelembapan udara tergantung dari masuknya uap air ke dalam atmosfer karena adanya penguapan dari air yang ada di lautan, danau, dan sungai maupun dari proses air tanah. Kelembapan udara dipengaruhi oleh ketersediaan air, sumber uap, suhu udara, tekanan udara, dan angin (Yunus S.

Swarinoto dan Sugiyono, 2011)

4. Kecepatan Gerak Udara, kecepatan arus udara adalah salah satu faktor yang memberikan pengaruh terhadap sedikit banyaknya penguapan keringat (Siswanto, 1991 dalam Roselia D, 2013).

Anemometer dapat digunakan untuk mengukur kecepatan angin commit to user

(3)

10

tinggi, dan termometer teks dapat digunakan untuk mengukur kecepatan angin kecil (Suma’mur, 1994 dalam Roselia D, 2013)

c. Faktor yang Menyebabkan Pertukaran Panas Tubuh dengan Lingkungan Sekitar

Menurut Suma’mur (2014) ada beberapa hal yang menyebabkan pertukaran panas tubuh dengan lingkungan sekitar, yaitu :

1. Konduksi, pertukaran panas antara tubuh manusia dan benda di sekitarnya melalui sentuhan atau kontak langsung. Ketika suhu benda-benda di sekitarnya rendah, konduksi dapat menghilangkan panas dari tubuh, dan ketika suhu lebih tinggi dari tubuh, konduksi akan meningkatkan panas ke dalam tubuh.

2. Konveksi, pertukaran panas dari badan dan lingkungan melalui kontak udara dengan tubuh. Udara adalah penghantar panas yang kurang begitu baik, tetapi melalui kontak dengan tubuh dapat terjadi pertukaran panas antara udara dengan tubuh.

3. Radiasi, pertukaran panas radiasi merupakan mekanisme yang menghilangkan panas tubuh dalam bentuk energi elektromagnetik dengan panjang gelombang yang lebih panjang dari sinar matahari.

Setiap benda, termasuk tubuh manusia, selalu memancarkan gelombang panas. Bergantung pada suhu benda di sekitarnya,

commit to user

(4)

11

tubuh menerima panas atau kehilangan panas melalui mekanisme radiasi.

4. Evaporasi (Penguapan), mekanisme tubuh manusia kehilangan panas melalui permukaan kulit atau paru-paru dan mulut manusia.

Untuk mempertahankan suhu tubuh maka,

M = Panas dari metabolisme

Kond = Pertukaran panas secara konduksi Konv = Pertukaran panas secara konveksi R = Radiasi

E = Panas oleh evaporasi

d. Aklimatisasi

Aklimatisasi adalah proses adaptasi fisiologis yang ditandai dengan peningkatan keringat, penurunan detak jantung, dan penurunan suhu tubuh (Santosa 2004, dalam Asfiana S.A.N, 2013).

Aklimatisasi terhadap suhu tinggi merupakan hasil adaptasi seseorang terhadap lingkungan. Karena pembentukan keringat, karakteristik dari adaptasi panas ke lingkungan adalah frekuensi nadi dan suhu tubuh yang lebih rendah. Aklimatisasi ini untuk periode kerja dan suhu tinggi, seperti 2 jam. Sedangkan pembentukan keringat bergantung pada peningkatan suhu tubuh. Aklimatisasi termal (panas) biasanya tercapai dalam 2 minggu (Depkes RI, 2003 dalam Asfiana S.A.N, commit to user

(5)

12

2013). Pada pekerja yang berusia kurang dari 40 tahun ketahanan seseorang untuk beradaptasi dengan lingkungan bersuhu tinggi masih normal dan belum melemah, sedangkan pada pekerja yang berusia lebih dari 40 tahun ketahanan terhadap lingkungan panas akan melambat dan menurun, karena dengan adanya panas saat permintaan menurun kemampuan tubuh untuk memulihkan suhu tubuh menjadi lebih lambat (Karsitia, 2008 dalam Asfiana S.A.N, 2013).

e. Dampak Iklim Kerja Panas

Lingkungan kerja panas dapat menyebabkan terjadinya heat exhaustion, heat stroke, kerusakan ginjal, efek buruk dari tambahan

polusi udara, stres mental, diare dan malnutrisi (Levy dkk, 2011).

Alberta General Safety (2014), menuliskan bahwa potensi bahaya yang ada di lingkungan kerja yang dapat menjadi perhatian khusus adalah tekanan panas. Tekanan panas merupakan beban panas keseluruhan pada tubuh, termasuk panas lingkungan dan produksi panas tubuh bagian dalam karena bekerja keras. Ringan atau sedang tekanan panas, tidak nyaman dan dapat mempengaruhi kinerja dan keamanan, namun biasanya tidak berbahaya bagi kesehatan. Ketika tekanan panas lebih ekstrim, maka efek yang terjadi terhadap kesehatan yang terjadi adalah sebagai berikut :

1. Heat edema, pembengkakan yang terjadi pada orang-orang yang tidak dapat beradaptasi dengan kondisi panas, sering terjadi di pergelangan kaki. commit to user

(6)

13

2. Heat rash, timbulnya bintik-bintik merah kecil pada kulit atau ruam, yang menyebabkan rasa tusukan-tusukan. Bintik-bintik tersebut akibat dari peradangan dikarenakan kelenjar keringat, kondisi lembap dimana keringat tidak mampu menguap dari kulit dan pakaian.

3. Heat cramps, adalah rasa nyeri tajam pada otot karena gangguan tekanan panas. Penyebabnya adalah ketidakseimbangan garam yang dihasilkan dari kegagalan untuk menggantikan garam yang hilang karena keringat. Gejalanya meliputi kram yang terjadi ketika orang minum air dalam jumlah besar namun kekurangan garam (elektrolit).

4. Heat syncope, dikarenakan adanya rasa pusing yang mengakibatkan pingsan,hal tersebut disebabkan oleh aliran sementara darah ke otak tidak cukup ketika seseorang sedang berdiri. Hal ini disebabkan oleh hilangnya cairan tubuh melalui keringat, dan turunnya tekanan darah karena penggumpalan darah di kaki.

5. Heat exhaustion, kejadian hilangnya air yang berlebihan dan garam dalam tubuh. Gejala termasuk keringat berat, lemah, pusing, mual, sakit kepala, diare, dan kram otot.

6. Heat stroke, tanda-tanda stroke panas termasuk suhu tubuh sering kali lebih tinggi dari 410C dan menguras sebagian kesadaran.

commit to user

(7)

14

7. Multiorgan dysfunction syndrome continuum, serangkaian gangguan terjadi pada lebih dari satu/sebagian anggota tubuh akibat heat stroke, trauma, dan lainnya.

8. Miliaria, kelainan kulit sebagai akibat keringat yang dikeluarkan berlebihan.

9. Hipertermia, penyakit akibat pemanasan berlebih dari tubuh tenaga kerja yang bekerja pada suhu tinggi.

f. Pengukuran Suhu Lingkungan

Menurut Subaris (2010), untuk mengetahui tingkat tekanan panas harus diukur faktor-faktor yang mempengaruhi sehingga diperlukan unit peralatan, yaitu:

1. Psycometer, alat untuk mengukur suhu udara dan kelembapan.

2. Thermometer globe, alat ukur untuk mengukur tingkat radiasi.

3. Thermometer kata, alat ukur untuk mengukur kecepatan gerakan udara.

4. Thermometer basah alami, alat untuk mengukur suhu basah alami.

5. Anemometer/velometer, alat untuk mengukur kecepatan gerakan udara.

Menurut Subaris (2010), terdapat beberapa cara untuk menetapkan besarnya tekanan panas sebagai berikut:

commit to user

(8)

15 1. Suhu Efektif

Suhu efektif yaitu indeks sensoris tingkat panas yang dialami oleh seseorang tanpa baju dan bekerja dalam kombinasi suhu, kelembapan dan kecepatan aliran udara. Kelemahan penggunaan suhu efektif ialah tidak memperhitungkan panas radiasi dan panas metabolisme tubuh. Untuk penyempurnaan pemakaian suhu efektif dengan memperhatikan panas radiasi, dibuat skala suhu efektif yang dikoreksi (Corrected Efective Temperature Scale).

2. Indeks Suhu Basah Dan Bola (Wet Bulb Globe Temperature Index) ISBB/WBGT

a) Untuk yang bekerja dengan sinar matahari

ISBB = 0,7 x suhu basah + 0,2 x suhu radiasi + 0,1 suhu kering.

b) Untuk yang bekerja tanpa penyinaran matahari:

ISBB= 0,7 x suhu basah + 0,3 x suhu radiasi.

Untuk melakukan penilaian terhadap beban kerja dilakukan pengukuran denyut nadi per menit pada saat bekerja di lapangan, dapat dilihat pada tabel 2.1:

commit to user

(9)

31

Tabel 2.1 Klasifikasi Beban Kerja Berdasarkan Denyut Nadi No. Kategori Beban

Kerja

Denyut Jantung (Denyut/Menit)

1. Sangat ringan Kurang dari 75

2. Ringan 75 -100

3. Sedang 100-125

4. Berat 125-150

5. Sangat berat 150-175

6. Luar biasa berat Lebih dari 175

Sumber: Suma’mur, 2014

Berdasarkan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja, untuk menentukan Nilai Ambang Batas Iklim Kerja Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB) yang diperkenankan, terdapat beberapa kategori berdasarkan pengaturan waktu kerja setiap jam. Setiap pekerjaan memiliki waktu kerja yang berbeda-beda, seperti halnya yang telah dijelaskan pada Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 5 Tahun 2018 bahwa pengaturan jam kerja terbagi menjadi empat golongan, misalnya waktu kerja 75-100 persen dimana 75 persen pekerja bekerja dan 25 persennya digunakan untuk beristirahat kemudian disesuaikan dengan beban kerja yang didapatkan di lapangan melalui pengukuran denyut nadi pekerja setiap menitnya. Untuk beban kerja sendiri telah dijelaskan pengukurannya pada tabel 1. Penentuan Nilai Ambang Batas (NAB) untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.2:

commit to user

(10)

32

Tabel 2.2 Nilai Ambang Batas Iklim Kerja Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB)

Pengaturan waktu kerja setiap jam

ISBB (°C) Beban Kerja

Ringan Sedang Berat Sangat Berat NAB (°C)

75% - 100% 31,0 28,0 - -

50% - 75% 31,0 29,0 27,5 -

25% - 50% 32,0 30,0 29,0 28,0

0% -25% 32,5 31,5 30,5 30,0

Sumber : Permenaker No. 5 Tahun 2018

3. Indeks Kecepatan Keluar Keringat Selama 4 Jam

Kecepatan keluar keringat selama 4 jam (Predicted – 4 – hour sweat rate disingkat P4SR), yaitu banyaknya prediksi keringat

keluar selama 4 jam sebagai akibat kombinasi suhu, kelembapan dan kecepatan aliran udara serta panas radiasi. Nilai prediksi ini dapat pula dikoreksi untuk bekerja dengan berpakaian dan juga menurut tingkat kegiatan dalam melakukan pekerjaan (Suma’mur, 2014).

4. Indeks Belding-Hacth.

Kemampuan berkeringat dari orang pada umumnya atau sesuai standar yaitu seseorang muda dengan tinggi 170 cm dan berat badan 154 pound, dalam keadaan sehat dan memiliki kesegaran jasmani serta beraklimatisasi terhadap panas. Indeks

commit to user

(11)

33

ini mendasarkan atas perbandingan banyaknya keringat yang diperlukan untuk mengimbangi panas dan kapasitas maksimal tubuh untuk berkeringat (Suma’mur, 2014).

2. Suhu Nikmat Kerja

Suhu nyaman merupakan suhu yang diperlukan seseorang agar dapat bekerja secara nyaman. Suhu nyaman bagi orang di Indonesia adalah antara 24-26°C. Orang Indonesia umumnya beraklimatisasi dengan iklim tropis yang suhunya 28-32°C dengan kelembapan 85-95 persen. Aklimatisasi terhadap panas berarti suatu proses penyesuaian yang terjadi pada seseorang selama satu minggu pertama berada di tempat kerja. Setelah satu minggu pertama di tempat kerja, tenaga kerja mampu bekerja tanpa terpengaruh tekanan panas (Suma’mur, 2014).

3. Pengendalian

Menurut Suma’mur (2014), pengendalian terhadap Heat- related disease dilakukan dengan:

1) Menurunkan kondisi panas lingkungan kerja dengan penerapan teknologi pengendalian.

a. Pendinginan setempat (spot cooling). Spot cooling adalah pendinginan setempat yang dilakukan dengan mengalirkan udara segar berkecepatan tinggi ke arah tubuh menggunakan kipas angin.

Udara berkecepatan tinggi akan menurunkan tekanan parsial uap air commit to user

(12)

34

dari kulit yang basah dengan keringat. Keringat akan menguap menggunakan panas tubuh sehingga tubuh merasa dingin.

b. Ventilasi. Pengendalian panas menggunakan ventilasi dilakukan dengan:

1. Perisai panas (metal shielding). Antara sumber panas dan pekerja dipasang pelat logam yang cekung ke dalam. Permukaan dalam dibuat mengkilap, sedangkan permukaan luar cembung, kasar, dan gelap.

Antara sumber panas dan perisai logam dialirkan udara. Panas yang dipancarkan dari sumber panas dipancarkan kembali oleh perisai dan hanya sebagian kecil yang diteruskan ke lingkungan kerja.

2. Pendingin udara (AC). AC biasanya dipasang untuk menurunkan panas yang tidak terlalu tinggi, dengan maksud untuk kenyamanan.

Pemasangan AC tidak praktis dan tidak operasional dalam lingkungan kerja.

3. Remote Control. Pengoperasian alat/mesin/pesawat yang mengeluarkan panas tinggi dilakukan secara terpisah dalam panel room atau operation room yang dilengkapi AC. Dengan demikian,

operator yang bekerja dalam operation room tidak terpapar panas.

4. Alat Pelindung Diri (APD). APD yang digunakan untuk penanggulangan panas adalah sepatu tahan panas, sarung tangan tahan panas dan apron atau penahan panas yang menutupi bagian depan dan/atau bagian belakang tubuh, kacamata keselamatan, helm yang commit to user

(13)

35

dilengkapi dengan masker, pakaian pelindung yang terbuat dari bahan yang lentur tetapi tahan panas.

2) Pengaturan waktu kerja dilakukan dengan 2 cara, yaitu:

a. Menghitung maximum allowable exposure time dan minimum recovery time menggunakan formula yang ada.

b. Work-rest regimen. Pengaturan waktu kerja dan waktu istirahat dihitung dengan Indeks Suhu Basah Bola (ISBB). Dengan ISBB, dapat ditentukan persentase waktu kerja, yaitu persentase waktu istirahat setiap jamnya untuk beban kerja ringan, sedang, berat dan sangat berat.

2. Beban Kerja Fisik

a. Definisi Beban Kerja Fisik

Beban kerja adalah keadaan atau tugas yang harus ditanggung oleh individu atau kelompok sesuai dengan jenis pekerjaan masing- masing (Suma’mur, 2014). Beban kerja merupakan suatu perbedaan antara kemampuan dan kapabilitas pekerja dengan tuntutan kerja yang harus dihadapi. Beban kerja juga dipengaruhi antara tuntutan tugas, lingkungan, keterampilan, serta perilaku dan persepsi pekerja (Tarwaka, 2014). Beban kerja dibagi menjadi 2 jenis, yaitu (Tarwaka, 2014) :

commit to user

(14)

36

1. Beban Kerja Fisik, suatu keadaan atau tugas yang berhubungan langung dengan aktifitas fisik seperti kekuatan otot dalam penyelesaiannya.

2. Beban Kerja Mental, suatu keadaan atau tugas yang berhubungan erat langsung dengan kondisi psikologis pekerja.

b. Faktor yang Mempengaruhi Beban Kerja Fisik

Menurut (Tarwaka, 2014) Kapasitas kerja dan beban kerja seseorang dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu faktor internal dan eksternal.

1. Faktor Internal

Faktor yang berasal dari dalam tubuh seseorang seperti faktor psikis (persepsi, motivasi, keinginan, kepercayaan, tingkat kepuasan, dll.) dan faktor somatis (usia, jenis kelamin, kondisi fisik tubuh, status gizi, juga status kesehatan penunjang lainnya)

2. Faktor Eksternal

a. Tugas, tuntutan tugas yang menjadi tanggung jawab seorang pekerja bisa dalam bentuk fisik maupun mental.

b. Organisasi Kerja, seperti wewenang kerja, upah kerja, sistem kerja, lama waktu kerja dalam sehari, waktu istirahat serta pembagian shift pada pekerja

c. Lingkungan Kerja, lingkungan kerja bisa menjadi salah satu pemicu beban tambahan kerja bagi pekerja, tergantung faktor

commit to user

(15)

37

fisik lingkungan seperti kelembapan, pencahayaan, suhu, kebisingan, dan lain-lain.

c. Penilaian Beban Kerja

Metode penilaian beban kerja dibagi menjadi dua yaitu secara langsung (direct) atau secara tidak langsung (undirect) (Astrand dan Rodahl, 1997 dalam Tarwaka, 2014). Metode pengukuran langsung yaitu dengan mengukur energi yang dikeluarkan melalui asupan oksigen selama bekerja. Sedangkan metode pengukuran tidak langsung adalah dengan menghitung denyut nadi selama kerja. Menurut Iridiastadi dan Yassierli (2014), pengukuran beban kerja melalui pendekatan secara tidak langsung dapat diterapkan karena semakin berat beban kerja fisik seseorang maka akan semakin berat pula kerja jantung yang diindikasikan dengan kenaikan denyut jantung. Penilaian denyut jantung selama bekerja merupakan metode untuk mengukur cardiovascular strain.

Pengukuran Electro Cardio Graph (ECG) bisa dengan mudah dilakukan pengukurannya dengan menggunakan Pulseoximeter.

Teknis pengukuran dengan menggunakan pulseoximeter yakni dengan merekatkan salah satu ujung jari responden yang terdapat aliran pembuluh darah ke alat tersebut, hal ini salah satu representasi dari frekuensi denyut jantung. Setiap denyut jantung akan mengubah jumlah cahaya infrared yang terdeteksi oleh sensor photodiode, kemudian akan melalui proses pembacaan sinyal secara visual. Sinyal commit to user

(16)

38

yang diperoleh akan melalui proses langsung oleh mikrokontroler dalam rentang waktu 2ms looping secara berulang. Setelah proses dan perhitungan sinyal selesai, layar pada monitor akan menampilkan nilai pengukuran denyut jantung (Sidam, dkk. 2016)

Penilaian beban kerja fisik dengan pendekatan ini memiliki banyak keunggulan seperti biaya yang murah, cepat, penggunaan yang mudah, serta pengaplikasiannya sangat minim sekali untuk mengganggu kegiatan pekerjaan pekerja sehingga lebih memudahkan peneliti juga pekerja untuk bisa saling membantu. Pengukuran melalui pendekatan denyut nadi ini juga cukup responsif dikarenakan denyut nadi seseorang sangatlah peka terhadap perubahan beban yang diterima oleh seorang pekerja. Denyut nadi juga akan berubah seirama dengan adanya perubahan pembebanan baik fisik, mekanik, maupun kimiawi. Hasil representasi tingkatan beban kerja seseorang bisa dilihat melalui hasil interval denyut nadi rata rata pada tabel berikut : Tabel 2.3 Kategori Beban Kerja Berdasarkan Denyut Nadi per Menit

Kategori Beban Kerja Nadi Kerja (Denyut/Menit) Ringan 75 – 100

Sedang 101 – 125 Berat 126 – 150 Sangat Berat 151 - 175 Sangat Berat Sekali >175 Sumber : Tarwaka (2014)

commit to user

(17)

39

Salah satu untuk mengetahui berat ringannya beban kerja adalah dengan menghitung nadi kerja, konsumsi oksigen, kapasitas ventilasi paru dan suhu inti tubuh. Pada batas tertentu ventilasi paru, denyut jantung dan suhu tubuh mempunyai hubungan yang linier dengan konsumsi oksigen atau pekerjaan yang dilakukan (Tarwaka, 2014). Menurut Grandjean (1993) dalam Tarwaka (2014) denyut nadi untuk mengestimasi indeks beban kerja fisik terdiri dari :

a. Denyut nadi istirahat, yakni rata-rata denyut nadi sebelum pekerjaan dimulai.

b. Denyut nadi kerja, yakni rata-rata denyut nadi pada saat pekerja melaksanakan aktivitas pekerjaan

c. Nadi kerja, yakni selisih antara denyut nadi istirahat dan denyut nadi kerja.

Sumber : Tarwaka (2014)

d. Dampak Beban Kerja yang Tidak Sesuai

Beban kerja berlebih memberikan beberapa reaksi dalam tubuh seperti gangguan emosional, sakit kepala, serta gangguan pencernaan. Beban kerja yang berlebih atau rendah juga dapat menimbulkan stres kerja (Manuaba, 2000 dalam Tirza Gloria S. N. T., 2018)

Nadi Kerja : Denyut Nadi Kerja – Denyut Nadi Istirahat

commit to user

(18)

40 3. Stres Kerja

a. Definisi Stres Kerja

Stres kerja menurut Jum’ati dan Wuswa (2013) didefinisikan sebagai suatu kondisi dari hasil penghayatan subyektif individu yang dapat berupa interaksi antara individu dan lingkungan kerja yang dapat mengancam dan memberi tekanan secara psikologis, fisiologis dan sikap individu. Stres kerja (occupational stres) merupakan perwujudan dari kekaburan peran, konflik peran dan beban kerja yang berlebihan. Kondisi ini selanjutnya akan dapat mengganggu prestasi dan kemampuan individu.

Stres kerja dikonseptualisasi dari titik pandang, yaitu stres sebagai stimulus, stres sebagai respon dan stres sebagai stimulus- respon. Stres sebagai stimulus stimulus merupakan pendekatan yang menitikberatkan pada lingkungan. Definisi stimulus memandang stres sebagai suatu kekuatan yang menekan individu untuk memberikan tanggapan terhadap stresor. Pendekatan ini memandang stres sebagai konsekuensi dari interaksi antara stimulus lingkungan dengan respon individu.

b. Jenis Stres Kerja

Zainal, dkk (2016) mengkategorikan stres menjadi dua, yaitu:

commit to user

(19)

41

1. Eustres, yaitu hasil dari respons terhadap stres yang bersifat sehat, positif dan konstruktif (bersifat membangun).

2. Distres, yaitu hasil dari respons terhadap stres yang bersifat tidak sehat, negatif, dan destruktif (bersifat merusak). Hal tersebut termasuk konsekuensi individu dan juga organisasi seperti penyakit kardiovaskular dan tingkat ketidakhadiran (absenteeism) yang tinggi, yang diasosiasikan dengan keadaan sakit,dan penurunan.

c. Faktor Penyebab Stres Kerja

Terdapat 6 hal yang dapat memicu stres kerja jika tidak bisa dikendalikan dengan baik, antara lain Demands, Control, Support, Relationships, Role, Change (Health Safety Executive,

2017). Sumber stres yang menyebabkan seseorang tidak berfungsi optimal atau yang menyebabkan seseorang jatuh sakit, tidak saja datang dari satu macam pembangkit, tetapi dari beberapa pembangkit stres. Faktor-faktor di pekerjaan yang berdasarkan penelitian dapat menimbulkan stres dapat dikelompokan menjadi 2 yakni faktor internal dan faktor eksternal (Zainal, dkk 2016)

1. Faktor Internal a. Usia

Semakin bertambahnya usia seseorang, tuntutan serta tanggungjawab terhadap pekerjaan maupun diri sendiri akan

commit to user

(20)

42

semakin berat sehingga dapat mengakibatkan stres kerja pada seseorang. (Mumpuni dan Wulandari, 2010 dalam Rohmah, F.N., 2018)

b. Jenis Kelamin

Sulistyorini (2014) menyatakan bahwa perbedaan jenis kelamin mempengaruhi cara individu menghadapi masalah.

Wanita rata-rata rentan menghadapi stres dibanding pria dalam menghadapi masalah.

c. Tingkat Pendidikan

Semakin tinggi tingkat pendidikan semakin rendah stres kerja yang dialami seseorang. Hal ini dikarenakan seseorang yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki ilmu yang lebih banyak, sehingga orang tersebut dapat mengerti dan melakukan pekerjaannya dengan lebih baik dibandingkan dengan individu dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah (Saraswati, 2017).

d. Kepribadian

Seseorang yang memiliki kepribadian introvert cenderung mengalami stres kerja tinggi lebih banyak dibandingkan dengan seseorang yang memiliki tipe kepribadian ekstrovert.

Seseorang dengan tipe kepribadian introvert cenderung memendam masalah yang timbul karena merasa gugup, merasa

commit to user

(21)

43

malu, dan merasa rendah diri bila menceritakan masalah yang dialaminya kepada orang lain. Tipe kepribadian ekstrovert cenderung lebih terbuka kepada orang sekitarnya sehingga ketika mengalami masalah, mereka akan menceritakan kepada orang sekitar dan tidak disimpan sendiri (Irkhami, 2015).

e. Kecakapan

Kecakapan merupakan variabel yang ikut menentukan stres tidaknya suatu situasi yang sedang dihadapi. Jika seorang tenaga kerja menghadapi masalah yang ia rasakan tidak mampu ia pecahkan, sedangkan situasi tersebut mempunyai arti yang penting bagi dirinya, situasi tersebut akan ia rasakan sebagai situasi yang mengancam dirinya sehingga ia mengalami stres.

Ketidakmampuan menghadapi situasi menimbulkan rasa tidak berdaya. Sebaliknya jika ia merasa mampu menghadapi situasi orang justru akan merasa ditantang dan motivasinya akan meningkat (Munandar, 2014).

2. Faktor Eksternal

a. Kondisi Fisik Lingkungan Kerja

Lingkungan fisik dimana seseorang bekerja dapat menjadi sumber timbulnya stres. Merasa senang atau tidak senang bekerja tergantung lingkungan fisik kerja yang mempengaruhi seperti intensitas penerangan, warna dinding, bising yang mengganggu, suhu ruangan yang terlalu panas atau terlalu dingin, commit to user

(22)

44

ruangan lembap, dan bau serta pengaturan ruangan seperti bahan- bahan produksi, meja dan kursi ruang kerja yang tidak menyenangkan (Putri dan Abdul,2014).

b. Beban Kerja

Beban kerja yang terlalu berlebih dapat memberikan rasa kelelahan baik secara fisik maupun mental dan reaksi-reaksi emosional seperti sakit kepala, gangguan pencernaan dan mudah marah. Beban kerja dapat dibedakan lebih lanjut ke dalam beban kerja berlebih atau terlalu sedikit kuantitatif timbul sebagai akibat dari tugas-tugas yang terlalu banyak atau sedikit diberikan kepada pekerja untuk diselesaikan dalam waktu tertentu. Beban kerja yang berlebih atau rendah dapat menimbulkan stres kerja (Manuaba, 2008 dalam Rohmah, F. N. ,2018)

c. Hubungan Interpersonal

Fitri (2013) menyatakan bahwa semakin baik kualitas hubungan interpersonal seorang pekerja di lingkungan kerjanya maka akan semakin kecil kemungkinan pekerja tersebut untuk mengalami stres kerja. Hubungan interpersonal adalah cara berkomunikasi seseorang dengan orang lain yang bukan hanya sekedar menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya.

commit to user

(23)

45

Berkaitan dengan penanganan stres kerja, kemampuan yang baik untuk mengungkapkan masalah dan persepsi tentang lingkungan di sekitarnya akan membantu karyawan dalam mengatasi tekanan-tekanan di lingkungan kerja sehingga akan mencegah munculnya stres kerja. Hubungan yang baik antar individu dari suatu kelompok kerja dianggap sebagai faktor utama dalam kesehatan individu dan organisasi (Fitri, 2013)

d. Struktur dan Iklim Organisasi

Struktur dan iklim organisasi meliputi kebijakan perusahaan dan administrasi manajemen perusahaan. Administrasi perusahaan yang terlalu birokratis dimana peraturan perusahaan terlalu mengikat pekerja merupakan faktor pembangkit stres (Munandar 2014).

e. Perubahan Organisasi

Perubahan-perubahan besar dalam organisasi seperti penutupan tempat kerja, penampungan, kelebihan tenaga dan sebagainya dapat menjadi penyebab stres terhadap seorang individu (Wartono dan Supriyadin, 2015).

f. Pengembangan Karir

Pembatasan-pembatasan dalam pengembangan karir seseorang dapat menumpulkan ambisi dan dapat menyebabkan stres yang besar, karena dalam keadaan seperti itu perolehan uang,

commit to user

(24)

46

status, atau tantangan yang baru menjadi sedikit (Wartono dan Supriyadin, 2015).

d. Gejala Stres Kerja

Sunyoto dalam Hardiyatun (2011) menjelaskan ada tiga kategori umum dari gejala stres, yaitu:

1. Gejala Fisiologis

Gejala fisiologis merupakan gejala awal yang bisa diamati, terutama pada penelitian medis dan ilmu kesehatan. Stres cenderung berakibat pada perubahan metabolisme tubuh, meningkatnya detak jantung dan pernapasan, peningkatan tekanan darah, timbulnya sakit kepala, serta yang lebih berat lagi terjadinya serangan jantung.

2. Gejala Psikologis

Dari segi psikologis, stres dapat menyebabkan ketidakpuasan. Hal itu merupakan efek psikologis yang paling sederhana dan paling jelas. Namun bisa saja muncul keadaan psikologis lainnya, misalnya ketegangan, kecemasan, mudah marah, kebosanan, suka menunda-nunda. Terbukti bahwa jika seseorang diberikan sebuah pekerjaan dengan peran ganda atau berkonflik, ketidakjelasan tugas, wewenang, dan tanggung jawab pemikul pekerjaan, maka stres meningkat.

commit to user

(25)

47 3. Gejala Perilaku

Gejala stres yang dikaitkan dengan perilaku mencakup dalam produktivitas, absensi, dan tingkat keluarnya karyawan, juga perubahan dalam kebiasaan makan, merokok dan konsumsi alkohol, bicara cepat, gelisah, dan gangguan tidur.

e. Mekanisme Stres Kerja

Stres menimbulkan reaksi fisiologis dimulai dengan persepsi stres yang menghasilkan aktivasi simpatetik pada sistem saraf otonom yang mengarahkan tubuh untuk bereaksi terhadap emosi. Pengarahan ini terjadi melalui hypothalamic pitiatuary adrenal (HPA) aksis.

Tindakan pengarahan ini dimulai dengan persepsi terhadap situasi yang mengancam, aksi yang cepat pada hipotalamus. Hipotalamus merespon pelepasan corticotrophin releasing hormone (CRH) yang akan merangsang hipofisis anterior untuk menyekresikan adrenocorticotropic hormone (ACTH). Hormon ini merangsang

adrenal untuk menyekresi glukokortikoid termasuk hormone kortisol.

Bila peningkatan aktivitas ini terus terjadi sehingga produksi kortisol terus meningkat, dapat merusak sel-sel neuron di hipotalamus sehingga terjadi atrofi hipotalamus, dan akibatnya bisa muncul gangguan kognitif, seperti pada penderita depresi atau stres. Dan bahkan kortisol yang meningkat terus diduga kuat dapat mempengaruhi kekebalan tubuh dengan menekan T-cell (Suyono, 2012). commit to user

(26)

48

Gambar 2.1 Mekanisme Aksis HPA Menimbulkan Stres Sumber : Suyono, 2012

f. Dampak Stres Kerja

Zainal, dkk (2016) menyebutkan bahwa ada empat konsekuensi yang dapat terjadi akibat stres kerja yang dialami oleh individu, yaitu terganggunya kesehatan fisik, kesehatan psikologis, performa, serta mempengaruhi individu dalam pengambilan keputusan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Zainal, dkk (2016) ang dilakukan di perusahaan swasta di Jakarta menunjukan bahwa efek stres yang dirasakan ada dua, yaitu:

1. Efek pada fisiologis mereka, seperti : jantung berdegup kencang, denyut jantung meningkat, bibir kering, berkeringat, dan mual.

Stresor

Hipotalamus

Hipofisis (pituitary)

Stres Korteks Adrenal

Glukokortikoid (kortisol)

commit to user

(27)

49

2. Efek pada psikologis mereka, dimana mereka merasa tegang, cemas, tidak bisa berkonsentrasi, ingin pergi ke kamar mandi, dan ingin meninggalkan situasi stres. Bagi perusahaan, konsekuensi yang timbul dan bersifat tidak langsung adalah meningkatnya tingkat absensi, menurunnya tingkat produktivitas, dan secara psikologis dapat menurunkan komitmen organisasi.

g. Pengukuran Stres Kerja

Stres kerja dapat diukur dengan melakukan penilaian menggunakan kuesioner. Ada beberapa macam kuesioner yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat stres kerja, antara lain :

a. Kuesioner Stresor Individu

Kuesioner ini didesain dengan maksud untuk mengidentifikasi dan mengetahui secara lebih awal kemungkinan penyebab terjadinya stres (stressor) di lingkungan kerja. Kuesioner ini dapat sebagai petunjuk atau dapat memberikan indikasi, bahwa di tempat kerja apakah telah terjadi stres atau tidak. Kuesioner ini merupakan kuesioner yang bersifat individu, artinya harus diisi oleh setiap orang yang menjadi target. Dengan demikian, kuesioner ini hanya merupakan metode identifikasi untuk mengetahui munculnya gejala stres di tempat kerja dan bukan menilai tingkat keparahan dari risiko stres akibat kerja (Tarwaka, 2015).

commit to user

(28)

50

b. Penilaian Indikator Stres Kerja dengan Metode Skoring

Stres akibat kerja dapat diukur dengan berbagai kuesioner, dalam penelitian ini, stres kerja diukur dengan menggunakan kuesioner penilaian stres akibat kerja dari Health and Safety Executive (HSE) dengan metode skoring. Kuesioner diisi dengan menggunakan 5 skala likert dari 35 soal pertanyaan, penempatan skor tergantung dari setiap pertanyaan dimana jawaban skoring dimulai dari “Tidak Pernah” sampai dengan “Selalu”. Selanjutnya, setalah selesai melakukan pengisian kuesioner maka jumlah skor dihitung, dan akan diperoleh skor individu terendah sebesar 35 dan skor individu tertinggi adalah 175 (Health and Safety Executive, 2003 dalam Tarwaka 2016).

Tabel. 2.4 Klasifikasi Stres Kerja No Total Skor Stres

Individu Tingkat Stres Tindakan Perbaikan 1 140 –175 Rendah Belum diperlukan kontrol 2 105 –139 Sedang Diperlukan kontrol terhadap

gejala stress di kemudian hari 3 70 –104 Tinggi Diperlukan kontrol terhadap

stres di tempat kerja segera 4 35 –69 Sangat Tinggi Diperlukan kontrol secara

menyeluruh sesegera mungkin Sumber : (Health and Safety Executive, 2003 dalam Tarwaka 2016)

h. Pengendalian Stes Kerja

Tarwaka (2015) memberikan cara-cara untuk mengurangi stres kerja secara lebih spesifik yaitu melalui :

commit to user

(29)

51 1. Re-desain tugas-tugas pekerjaan.

2. Re-desain lingkungan kerja.

3. Menerapkan waktu kerja yang fleksibel.

4. Menerapkan manajemen partisipatoris.

5. Melibatkan karyawan dalam pengembangan karier 6. Menganalisis peraturan kerja dan menetapkan tujuan.

7. Mendukung aktivitas sosial.

8. Membangun kerja tim yang kompak.

9. Menetapkan kebijakan ketenagakerjaan yang adil dan lain-lain.

4. Hubungan Iklim Kerja Panas Dengan Stres Kerja

Iklim kerja panas adalah kombinasi dari suhu udara, kelembapan udara, kecepatan gerakan udara dan panas radiasi, yang dipadankan dengan produksi panas oleh tubuh sendiri (Basri, 2015) dan merupakan salah satu penyusun lingkungan kerja yang berpengaruh secara langsung terhadap keberadaan tenaga kerja. Iklim kerja panas sendiri merupakan salah satu stresor atau faktor penyebab stres jika paparan panas yang ditimbulkannya melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) yang sudah ditentukan dan tercantum pada Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja. Iklim kerja panas dapat

commit to user

(30)

52

mengakibatkan Paparan iklim kerja panas yang melebihi NAB akan menimbulkan munculnya perubahan reaksi fisiologis dimana indera peraba mengirimkan impuls kepada sistem limbik yang diteruskan ke hipotalamus yang menyebabkan sekresi hormon kortisol secara terus menerus sehingga aktivitas pada aksis HPA akan meningkat terus.

Reaksi psikologis dan perilaku yang menyimpang dari keadaan normal akan muncul seperti gangguan kognitif. Mulai terjadinya gejala-gejala stres yang akan membawa dampak buruk bagi performansi diri maupun produktivitas kerja, bahkan diduga kuat dapat mempengaruhi kekebalan tubuh dengan menekan T-cell.

5. Hubungan Beban Kerja Fisik Dengan Stres Kerja

Tingkat pembebanan yang terlalu tinggi memungkinkan pemakaian energi yang berlebihan dan terjadi overstress, sebaliknya intensitas pembebanan yang terlalu rendah memungkinkan rasa beban dan jenuh dikarenakan pekerjaan yang monoton sehingga membuat pekerja understress (Tarwaka, 2014). Beban kerja fisik yang masuk diinterpretasikan sebagai tantangan atau hambatan (stressor) pada sistem limbik. Situasi tersebut akan mengaktivasi hypothalamus, kemudian hypothalamus memproduksi Corticotropin Releasing Hormone yang berhubungan dengan Adrenocorticotropic Hormone

kemudian mengirim sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepaskan Cortisol Hormone dan direspon oleh sistem saraf otonom (Ananda, 2013 dalam Tirza Gloria S. N. T., 2018). commit to user

(31)

53

Sistem saraf otonom akan mengirim pesan biokimia kepada berbagai tubuh. Bermacam-macam sistem tubuh yang turut bereaksi antara lain sistem kardiovaskuler seperti jantung berdebar, sistem pernapasan yaitu nafas cepat, ketegangan otot, serta aktivitas motorik yang halus. Individu akan mengembangkan suatu strategi perjuangan untuk menghilangkan atau meredam respon stressor. Tubuh mencurahkan energi untuk beradaptasi dan bertahan, maka gejala- gejala akan menurun dan tubuh kembali normal, sedangkan tubuh memiliki keterbatasan dalam menghadapi respon stressor, maka ketahanan tubuh akan melemah kemudian individu mengalami stres (Panengah, 2012 dalam Tirza Gloria S. N. T., 2018).

commit to user

(32)

54 B. Kerangka Pemikiran

Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran

=

=

Stres Kerja

Iklim Kerja Panas

Panca Indra

Sistem Limbik Hipothalamus

Hipofisis

Glukokortikoid (Kortisol)

Peningkatan HPA -Tuntutan Tugas

-Organisasi Kerja -Lingkungan Kerja

-Suhu Udara -Kelembapan Udara

-Kecepatan Gerak Udara -Suhu Radiasi Beban Kerja

Fisik

Interpretasi Stressor Sistem Limbik

Hipothalamus

Corticotropin Releasing Hormone

Kelenjar Adrenal

Hormon Kortisol

Reaksi Sistem : -Nafas Cepat -Jantung Berdebar -Otot Tegang

Diteliti

Tidak Diteliti

commit to user

Gambar

Tabel 2.2 Nilai Ambang Batas Iklim Kerja Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB)
Gambar 2.1 Mekanisme Aksis HPA Menimbulkan Stres  Sumber : Suyono, 2012
Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran

Referensi

Dokumen terkait

KUBE Juata Laut adalah badan usaha perorangan yang dirintis pertama oleh Ibu Ida Saidah Rusli Habibie, kemudian sejak tahun 2009 dilanjutkan oleh Ibu Lisnawati

1) Murabahah merupakan salah satu bentuk jual beli ketika penjual secara terang menyatakan biaya perolehan barang yang akan dijualnya dan menjual kepada orang lain

Dari data Tabel 2 dicari data properties dari refrigeran R134a ada dua cara untuk mencari data properties yang pertama yaitu menggunakan tabel termodinamis dari literatur terkait

Tetapi untuk konsumsi terendah yaitu wortel jika dibandingkan dengan rumput gajah, meskipun rumput gajah memiliki kadar serat yang lebih tinggi dari pada wortel, hal ini

Hasil kajian kelayakan teknis menunjukkan bahwa potensi bitumen padat sebagai bahan baku BBM sintetis akan menghasilkan perolehan minyak yang lebih tinggi jika umpan yang

Penelitian ini dilatar belakangi hasil pengamatan dan pengalaman peneliti bahwa motivasi belajar siswa tergolong rendah, masih banyak siswa yang kurang aktif dalam

Keruntuhan tekan (“over reinforced”), jenis keruntuhan ini terjadi pada balok denga resiko tulangan besar (jumlah tulangan banyak), sehingga pada saat beban yang

Dengan demikian sektor keuangan syariah tidak akan terdikotomi dengan sektor riil seperti kecenderungan yang ada di konvensional, sehingga diyakini kontribusi lembaga bank