DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
UCAPAN TERIMA KASIH ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Pertanyaan Penelitian ... 8
D. Definisi Operasional ... 8
E. Tujuan Penelitian ... 11
F. Manfaat Penelitian ... 11
BAB II INTEGRASI MADRASAH DAN PESANTREN A. Pengembangan Madrasah ... 13
1. Landasan Pengembangan Madrasah ... 13
2. Pandangan Islam Tentang Pendidikan ... 17
3. Pengembangan Kurikulum Madrasah ... 19
4. Pengaruh Sosial dalam Pendidikan di Madrasah ... 39
B. Pesantren ... 54
C. Integrasi Dalam Lembaga Pendidikan ... 59
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian ... 67
B. Lokasi Penelitian ... 68
C. Sumber Data ... 69
D. Tahapan Penelitian ... 70
E. Teknik Pengumpulan Data ... 71
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian ... 76 1. Desain Integrasi Program Pendidikan Madrasah dan Pesantren di MTs PSA
Nurul Ihsan ... 76 2. Pelaksanaan Integrasi Program Pendidikan Madrasah dan Pesantren di MTs
PSA Nurul Ihsan ... 89 3. Efektifitas Pelaksanaan Integrasi Program Pendidikan Madrasah dan
Pesantren di MTs PSA Nurul Ihsan ... 104 4. Faktor Pendukung dan Penghambat Integrasi Program Pendidikan
Madrasah dan Pesantren di MTs PSA Nurul Ihsan ... 113 B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 117 BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI
DAFTAR TABEL
2.1. Landasan Pendidikan Islam Menurut al-Nihlawi ... 18
4.1. Kitab-kitab Salaf yang Dipelajari di MTs PSA Nurul Ihsan ... 84
4.2. Doa-doa yang Ditulis Pada Program BTQ ... 96
DAFRAR GAMBAR
2.1. Tahapan Perkembangan Moral Menurut Kohlberg ... 52
2.2. Hubungan Konsep Diri dengan Keberhasilan ... 53
3.1. Skema Lembaga-lembaga di Yayasan Masaalikul Ihtida Nurul Ihsan ... 69
3.2. Tahapan Penelitian... 70
4.1. Tahapan Perkembangan Moral Menurut Kohlberg ... 172
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 13 ayat 1 menjelaskan bahwa “Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, non-formal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan
memperkaya”. Hal ini menunjukan bahwa adanya berbagai jalur pendidikan ini
diarahkan untuk mampu mengakomodir seluruh akses pendidikan bagi masyarakat Indonesia disemua lini. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Sedangkan pendidikan non-formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Pendidikan non-formal ini berfungsi mengembangkan potensi peserta didik yang menekankan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional, sedangkan pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.
pendidikan formal diselengarakan dalam bentuk mata pelajaran keagamaan yang diberikan kepada setiap peserta didik diseluruh jenjang pendidikan formal.
Penyelengaraan pendidikan formal maupun pendidikan keagamaan semuanya harus bisa diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan Nasional yang telah dituangkan dalam Undang-Undang Sisdiknas yang menjadi panduan dalam penyelengaraan pendidikan di Negara Indonesia. Pada Pasal 3 Undang Undang No. 20 Tahun 2003 dijelaskan bahwa pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Tujuan pendidikan ini memperlihatkan bahwa proses pendidikan yang dijalankan di Negara Indonesia menekankan pada pengembangan potensi peserta didik dengan berdasarkan pada nilai-nilai moral dan akhlak yang terinternalisasi dalam diri dan teraktualisasi dalam perbuatan. Setiap satuan pendidikan diharuskan untuk menyelengarakan proses pendidikan yang dapat mencapai tujuan pendidikan Nasional tersebut dengan memperhatikan juga potensi dan keunikan yang dimiliki oleh satuan pendidikan. Segala potensi dan keunikan yang dimiliki oleh setiap satuan pendidikan harus menjadi pertimbangan dalam pengembangan kurikulum yang akan diterapkan pada satuan pendidikan dengan tetap berpondasi pada asas Ketuhan Yang Maha Esa.
umum yang membimbing dan mendidik peserta didik untuk meningkatkan kwalitas diri mereka. Dilain hal, madarasah mempunyai konotasi spesifik sebagai lembaga pendidikan yang dalam proses pembelajaran dan pendidikannya menitikberatkan pada persoalan agama.
Pendidikan keagamaan yang diselengarakan di negara ini salah satunya adalah berbentuk pesantren. Pesantren merupakan pendidikan keagamaan tertua di Indonesia yang mulai berkembang seiring dengan masuknya Islam ke Nusantara bahkan sampai saat ini model pendidikan pesantren masih bertahan di tengah-tengah modernisasi pendidikan di luar pesantren. Kondisi ini terjadi karena pesantren tetap eksis pempertahankan proses pendidikan yang menitikberatkan pada penanaman nilai-nilai agama dan penerapannya dalam berbagai bidang kehidupan. Pendidikan pesantren didasari, digerakan, dan diarahkan oleh nilai-nilai kehidupan yang bersumber pada ajaran Islam dan kehidupan sosial masyarakat. Ajaran agama Islam menyatu dengan struktur sosial atau realitas sosial keseharian yang terjadi di pesantren. Selain itu dalam proses pendidikan di pesantren tidak hanya menekankan pada penguasaan materi tentang keislaman saja, tetapi lebih dari itu mendidik bagaimana menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari dalam berbagai bidang pekerjaan yang dilakukan.
kehidupan bangsa kita dalam berbagai tataran administratif pemerintahan pusat atau daerah dan dalam berbagai sektor negara maupun swasta. Ketiga, masalah eskalasi konplik yang di satu sisi merupakan unsur dinamika sosial, tetapi di sisi lain justru mengancam harmoni sosial. Keempat, stigma keterpurukan bangsa yang berakibat kurangnya rasa percaya diri.
Permasalahan yang dihadapi oleh madrasah sebagai sebuah lembaga pendidikan pun tidak kalah kompleknya. Nurudin Hidayat (2008:16) menjelaskan bahwa manajemen pendidikan di madrasah merupakan penyebab utama keterpurukan pendidikan madrasah di samping keterbatasan dana dan fasilitas yang dimiliki. Pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan di madrasah pun masih banyak mengalami kendala, beberapa diantaranya adalah pertama, Islam diajarkan lebih pada hafalan, padahal Islam penuh dengan nilai-nilai yang harus dipraktekan. Kedua, pengahayatan nilai-nilai agama kurang mendapat penekanan. Ketiga, menatap lingkungan untuk kemudian memasukan nilai Islam sangat kurang mendapatkan perhatian (Nurudin Hidayat, 2008:17). Kondisi seperti ini menjadikan aspek pengembangan moral dan nilai keagamaan kurang berkembang pada diri peserta didik, sehingga menimbulkan kekeringan hati dan permasalahan sosial yang terjadi dalam tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Pada tingkat lokal pendidikan keagamaan yang dilakukan terpisah dengan sekolah tidak mendapatkan respon baik dari peserta didik. Minat belajar agama pada peserta didik usia remaja semakin menurun. Banyak anak usia remaja yang sudah tidak mau belajar dan mendalami agama, bahkan untuk sekedar mengaji Al
mereka baik yang dilaksanakan di masjid maupun di pesantren. Anak banyak mengisi waktu luang mereka dengan main, nongkrong-nongkrong dan membuat geng dalam berbagai hal. Kondisi ini mengakibatkan lebih banyak menimbulkan permasalahan sosial di lingkungan masyarakat. Gejala permasalahan sosial terlihat dengan sikap anak yang tidak peka terhadap kondisi sosial, egois, pemarah dan permasalahan sosial yang lainnya.
Berbagai permasalahan yang terjadi ini menjadikan eksistensi madrasah sebagai salah satu lembaga pendidikan yang berperan untuk mempersiapkan generasi muda penerus bangsa yang menekankan pada penanaman nilai-nilai keagamaan melalui ajaran agama Islam dan pengembangan ilmu pengetahuan mendapat tantangan tersendiri yang harus dihadapi. Madrasah sebagai lembaga pendidikan yang menitikberatkan pada pendidikan agama dituntut untuk mengatasi permasalahan ini dan menghindarkan diri dari fenomena demoralisasi dan dehumanisasi yang semakin merajalela dikalangan genarasi muda bangsa ini seiring dengan kemajuan peradaban yang semakin pesat.
B. Rumusan Masalah
Hasil penelitian yang dilakukan oleh A. Hanief S. Ghafur (1993: 313) menjelaskan bahwa pesantren memiliki jaringan masyarakat pendukung yang kuat. Masyarakat pendukung ini menjadikan kiai dan pesantren sebagai pusat teladan dalam kehidupan keagamaan dan moralitas masyarakat. Selain itu kemampuan pesantren membentuk sosial budaya yang baik dikalangan masyarakat menjadikan pesantren memiliki kemampuan untuk membentuk partisipasi masyarakat dengan baik. Lebih lanjut Muhammad Saleh (2010: 4) menjalankan bahwa faktor sosial budaya menjadi sangat berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat dalam pendidikan. Adanya integrasi madrasah dan pesantren ini diharapkan menjadikan proses pendidikan mampu mengembangkan potensi peserta didik dengan sebaik-baiknya.
Integrasi antara madrasah dan pesantren dan seluruh proses pendidikan yang dilakukan di negara ini diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah dirumuskan dalam Undang-Undang. Guna mencapai tujuan pendidikan tersebut dibutuhkan kerjasama dan keterlibatan berbagai elemen di masyarakat. Adanya integrasi madrasah dan pesantren ini, maka madrasah sebagai salah satu lembaga pendidikan formal menjalin kerjasama dengan pesantren untuk mecapai tujuan pendidikan dan menanamkan nilai-nilai keagamaan yang kuat pada diri peserta didik.
itu pesantren juga merupakan lembaga sosial yang mampu membangun partisipasi masyarakat secara aktif dalam penyelengaraan pendidikan. Adanya kerjasama dan saling melengkapi dalam pelaksanaan pendidikan antara madrasah dan pesantren ini diharapkan mampu mewujudkan suatu proses pendidikan yang semakin baik, sehingga pengembangan bidang ilmu pengetahuan, keagamaan, dan nilai-nilai kemanusian akan terlaksana secara efisien dan aplikatif.
Integrasi madrasah dan pesantren ini diwadahi dengan program satu atap. Pelaksanaan integrasi madrasah dan pesantren ini salah satunya diterapkan di MTs Pesantren Satu Atap Nurul Ihsan yang berintegrasi dengan pesantren Nurul Ihsan. Pada pelaksanaannya madrasah dan pesantren saling melengkapi dan memperkuat proses pendidikan yang dilakukan untuk membimbing pengembangan kompetensi peserta didik. Di MTs Pesantren Satu Atap Nurul Ihsan penyelengaraan pendidikan dilakukan oleh madrasah dan pesantren secara bersama-sama. Proses pendidikan ini dirancang dan diorientasikan untuk pengembangan keilmuan secara formal dan pengembangan nilai-nilai keagamaan yang teraplikasi dalam perilaku sehari-hari. Selain itu pula dengan integrasi madrasah dan pesantren ini, pendidikan diarahkan untuk memberikan pengalaman belajar yang komprehensip bagi peserta didik dengan berlandaskan pada nilai-nilai Islam.
C. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan fokus penelitian yang diteliti, maka pertanyaan penelitian dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana desain integrasi program pendidikan madrasah dan pesantren di MTs Pesantren Satu Atap Nurul Ihsan?
2. Bagaimana pelaksanaan integrasi program pendidikan madrasah dan pesantren di MTs Pesantren Satu Atap Nurul Ihsan?
3. Bagaimana efektifitas pelaksanaan integrasi program pendidikan madrasah dan pesantren di MTs Pesantren Satu Atap Nurul Ihsan? 4. Apa faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan integrasi program
pendidikan madrasah dan pesantren di MTs Pesantren Satu Atap Nurul Ihsan?
D. Definisi Operasional
Definisi operasional akan memperjelas persepsi peneliti tentang beberapa istilah yang timbul dalam penelitian ini. Ada pun beberapa istilah yang penting dalam penelitian ini antara lain:
sebuah konsep lain sehingga menjadi suatu kesatuan yang koheren dan tidak bisa dipisahkan atau proses pembauran hingga menjadi satu kesatuan yang utuh dan bulat. Memperhatikan beberapa pendapat di atas, maka peneliti mengartikan integrasi sebagai sebuah proses penyatuan antara beberapa komponen yang berbaur menjadi satu kesatuan yang utuh dan tidak bisa dipisah-pisahkan lagi.
2. Pesantren. Pesantren menurut pengertian dasarnya adalah tempat belajar para santri (Nawawi, 2006: 1). Adapun pengertian secara terminologi, dapat dikemukakan beberapa pendapat yang mengarah pada definisi pesantren. Abdurrahman Mas’oed yang dikutip oleh Nawawi (2006:1) menjelaskan bahwa pesantren merupakan “the word pesantren stems from “santri” which means one who seeks Islamic knowledge. Usually the word pesantren
refers to a place where the santri devotes most of his or her time to live in
and acquire knowledge”. Pendapat lain disampaikan oleh Mastuhu (1994:
3. Kata madrasah berasal dari bahasa Arab yang diadopsi kedalam Bahasa Indonesia. Kata madrasah dalam bahasa Arab adalah bentuk kata keterangan tempat (zharaf makan) dari akar kata darasa. Secara harfiah madrasah diartikan sebagai tempat belajar para pelajar, atau tempat untuk
E. Tujuan Penelitian
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk melihat integrasi madarasah dan pesantren di MTs Pesantren Satu Atap Nurul Ihsan. Namun secara spesifik tujuan dari penelitian ini untuk :
1. Menemukan desain integrasi program pendidikan madrasah dan pesantren di MTs Pesantren Satu Atap Nurul Ihsan
2. Menjelaskan pelaksanaan integrasi program pendidikan madrasah dan pesantren di MTs Pesantren Satu Atap Nurul Ihsan
3. Melihat efektifitas pelaksanaan integrasi program pendidikan madrasah dan pesantren di MTs Pesantren Satu Atap Nurul Ihsan
4. Menemukan faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan integrasi program pendidikan madrasah dan pesantren di MTs Pesantren Satu Atap Nurul Ihsan
F. Manfaat Penelitian
pengembangan keilmuan tentang pendidikan Islam sehingga proses pendidikan Islam terus berkembang untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi.
67 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian studi kasus yang membahas tentang masalah khas yang terjadi di lokasi penelitian. Marilyn Lichtman (2010:81) dalam bukunya menjelaskan bahwa “A case tudy approach is in depth examination of a pericular case or several case”. Pendapat lain tentang studi kasus ini disampaikan
oleh John Creswell (1997: 95) yang menyatakan bahwa
”For a case study, the researcher should focus on an event, process, or program for which we have no in-depth perspective on this “case”. Conducting the case study provides a pictute to help inform our practice or to see unexplored details of this case, thus, the need for the study, or the problem leading to it, can be related to the specific focus of the tradition of choice”.
Pendekatan penelitian dalam penelitian studi kasus ini adalah pendekatan kualitatif. Lichtman (2010:3) menjelaskan bahwa “Qualitative research is a general term that describes about humans in which the researcher is key to all”.
terus-menurus, dan wawancara mendalam. Hasil penelitian studi kasus sering digunakan untuk memperkenalkan masyarakat umum kepada gaya hidup yang unik dan/atau masalah-masalah yang dihadapi sebuah masyarakat dan individu. Pada penelitian ini peneliti memandang studi kasus sebagai suatu usaha untuk memahami suatu fenomena yang terjadi dan memberikan interpretasi terhadap fenomena tersebut. Lichtman (2010:83) menjelaskan bahwa tujuan yang ingin dicapai dari suatu kasus dengan penelitian studi kasus ini adalah “to get detailed and rich descriptions of the case you select”.
B. Lokasi Penelitian
Gambar 3.1: Skema Lembaga-lembaga di Yayasan Masaalikul Ihtida Nurul Ihsan
C. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini merupakan segala sesuatu yang bisa memberikan informasi tentang fokus penelitian baik aktivitas, orang atau pun tempat. Mengenai sumber data yang berupa aktivitas, orang dan tempat yang bisa memberikan informasi tentang penelitian ini Spradley mengistilahkannya dengan ”social situation” atau situasi sosial. Sugiyono (2009:254) menjelaskan bahwa
situasi sosial terdiri atas tiga elemen yaitu tempat (place), pelaku (actors) dan aktivitas (activity) yang berinteraksi secara sinergis.
Berdasarkan pendapat di atas, maka sumber data dalam penelitian ini terdiri atas aktivitas, orang dan tempat yang bisa memberikan informasi terhadap fokus penelitian. Kegiantan integrasi yang dilakukan di madrasah menjadi aktivitas yang diteliti dalam penelitian ini. Sedangkan orang-orang yang ada dalam lingkungan ini dan bisa memberikan informasi yang cukup tentang fokus penelitian menjadi responden dan sumber data dalam penelitian ini. Adapun yang menjadi dalam penelitian ini yaitu:
YAYASAN MASAALIKUL IHTIDA NURUL IHSAN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAMIYAH NURUL IHSAN
PAUD NURUL IHSAN MI NURUL IHSAN MTs PSA NURUL IHSAN PENDIDIKAN KEAGAMAAN PESANTREN NURUL IHSAN PENDIDIKAN DINIYAH TAKMILIYAH NURUL
1. Yayasan Masaalikul Ihtida Nurul Ihsan 2. Kepala MTs. PSA Nurul Ihsan.
3. Pengurus Pesantren Nurul Ihsan
4. Komite madrasah MTs PSA Nurul Ihsan
5. Guru dan pembimbing program di MTs PSA Nurul Ihsan. 6. Orang tua peserta didik
D. Tahapan Penelitian
Tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut
Gambar 3.2: Tahapan Penelitian Pengumpulan data Triangulasi Eksplorasi • Mengumpulkan dokumen tentang integrasi • Melakukan wawancara dengan berbagai stakeholder • Melakukan observasi pelaksanaan integraasi
• Menganalisis data yang telah
diperoleh
• Mengelompokan data yang diperoleh • Memilih data yang
sesuai dengan fokus penelitian
• Mengecek kembali data yang telah terkumpul • Meminta konfirmasi dan membandingkan informasi yang diberikan oleh responden dengan realitas di lapangan • Meminta data dan
informasi ulang jika data yang terkumpul belum lengkap.
E. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa teknik pengumpulan data, beberapa teknik tersebut diantaranya
1. Observasi
Kegiatan observasi meliputi melakukan pencataan secara sistematik kejadian-kejadian, perilaku, obyek-obyek yang dilihat dan hal-hal lain yang diperlukan dalam mendukung penelitian yang sedang dilakukan (Jonathan Sarwono, 2006: 224). Teknik observasi yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan melihat dan menganalisis berbagai aktifitas dan kegiatan yang dilakukan oleh para guru/ustadz, pembimbing dan peserta didik pada proses pembelajaran dan program-program pembimbingan yang dijalankan. Observasi ini dilakukan peneliti dengan berada langsung di lingkungan penelitian, sehingga dengan demikian peneliti akan lebih komprehensif dan lengkap dalam mencari data penelitian.
Sanapiah Faisal (2005:65) menjelaskan bahwa melalui observasi dikenali berbagai rupa kejadian, peristiwa, keadaan, tindakan yang mempola dari hari ke hari di tenggah masyarakat. Pada kontek penelitian ini masyarakatnya adalah lingkungan madrasah dan pesantren serta berbagai program pendidikan yang dilakukan di MTs PSA Nurul Ihsan.
2. Wawancara
wawancara ini digunakan untuk mendapatkan pendalaman dari data yang lebih dari aktifitas atau fenomena yang terjadi. Wawancara ini dilakukan kepada perorangan yang dapat memberikan data lebih lengkap dan semakin memperjelas masalah yang diteliti. Wawancara pertama kali dilakukan kepada pembina Yayasan, kepala sekolah, pengasuh pesantren, guru dan pembimbing program integrasi madrasah dan pesantren. Wawancara yang dilakukan pada bagian ini mengunakan interview guide-approach (wawancara terpimpin). Pada interview gueded-approach, tema atau topik dipilih pada fase selanjutnya, tetapi peneliti telah menyusun atau menetapkan rangkaian atau susunan pertanyaan yang akan timbul selama interview (McMillan, 1997:586). Selanjutnya untuk mengembangkan informasi yang diperlukan peneliti pun mengunakan pula teknik snowball. Teknik snowball ini digunakan untuk memperluas nara sumber dalam penelitian ini. Dengan teknik ini data penelitian yang diperoleh oleh peneliti menjadi lebih lengkap dan komprehensip.
3. Studi Dokumentasi
tentang bentuk, pelaksanaan dan dokumen pendukung lain yang mengambarkan proses integrasi program pendidikan madrasah dan pesantren di madrasah ini.
F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data merupakan proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dokumentasi dan bahan-bahan lain sehingga data tersebut mudah difahami. Sugiono (2009; 244) menjelaskan bahwa
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sistesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga mudah difahami oleh diri sendiri maupun orang lain.
Data-data lapangan yang telah didapat melalui observasi dan wawancara dikumpulkan, dianalisis dan difahami. Setelah data dapat di fahami kemudian temuan dari penelitian ini di informasikan kepada umum dalam bentuk deskripsi. Aktifitas analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini mengunakan model Miles dan Huberman yang mana tahapan analisis datanya yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification (Sugiono, 2009; 246). Tahapan
analisis data yang dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut: 1. Reduksi Data.
dengan teknik pengumpulan data di atas diolah dan diorganisasikan menurut tema dan polanya. Setelah data-data tersebut terkumpul, kemudia data tersebut diolah sehingga memberikan suatu informasi yang berkenaan dengan fokus penelitian dan dapat mencapai tujuan dari penelitian yang dilakukan.
Pengolahan data tersebut dilakukan dengan tahapan sebagi berikut: a. Merangkum. Pada tahapan ini peneliti mengumpulkan data
sebanyak-banyaknya tentang informasi yang berkaitan dengan proses integrasi madrasah dan pesantren dalam penyelengaraan pendidikan di MTs. PSA Nurul Ihsan. Selain itu tahapan merangkum data ini juga dilakukan agar peneliti lebih mudah dalam menjalankan proses analisis data.
b. Memilih hal-hal yang pokok. Setelah data terangkum dengan baik, kemudian data tersebut dipilah-pilah menjadi data pokok dan data pendukung. Data yang merupakan hal-hal pokok dalam penelitian ini digunakan, sedangkan data yang tidak berkenaan dengan pokok penelitian tidak digunakan.
2. Display Data
Setelah data diperoleh dan diatur melalui tahapan-tahapan sebelumnya, selanjutnya peneliti menyajikan data-data penelitian tersebut dalam bentuk naratif. Agar lebih menyedarhanakan dalam pembacaan data-data yang disampaikan dalam penelitian ini, peneliti juga membuatnya dalam bentuk tabel dan skema. Pengurutan data ini berdasar pada keterhubungan urutan penyampaian data tersebut. Pada tahap ini lah data disusun dan disistematiskan menjadi susunan yang sistematis.
3. Pengambilan Simpulan
185 BAB V
SIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Simpulan
Dari hasil penelitian yang telah dibahas, maka dapat disimpulkan beberapa poin penting diantaranya:
1. Desain integrasi program pendidikan madrasah dan pesantren di MTs PSA Nurul Ihsan ditujukan untuk memberikan pendidikan secara menyeluruh dan aplikatif dengan berlandaskan ajaran Islam. Program pendidikan integratif ini dilaksanakan dalam tiga bidang yaitu pengajaran materi kepesantrenan, pembimbingan keagamaan dan pembimbingan skill. Pelaksanaannya menekankan pada proses pembimbingan untuk mencapai kompetensi yang berlandaskan ajaran Islam.
2. Pengajaran materi kepesantrenan dilaksanakan dengan mempelajari kitab-kitab salaf yang digunakan di pesantren. Proses pengajaran kitab-kitab salaf ini seperti proses pengajaran yang dilakukan di pesantren. Pembelajaran kitab ini ditujukan untuk memberikan dasar kemampuan bagi peserta didik untuk memahami ajaran agama Islam yang banyak mengunakan bahasa Arab dan mampu menerapkan isi bahasannya. Pembimbingan keagamaan dilakukan dengan melaksanakan program shalat dhuha berjamaah, BTQ,
dan tahfid Al Qur’an. Semua program ini dilakukan untuk mengkondisikan
keagamaan ini mengarahkan peserta didik untuk mengenal pesantren sebagai sebuah lingkungan masyarakat dengan berbagai kebudayaan dan aturan yang ada di dalamnya. Pembimbingan skill dilakukan dengan mengadakan berbagai kegiatan pembimbingan skill yang disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi madrasah dan pesantren. Pembimbingan skill ini dilakukan dalam bidang marawis, kaligrafi dan pertanian. Pemilihan bidang ini disesuaikan dengan kondisi, potensi dan kemampuan yang dimiliki oleh madrasah, pesantren dan masyarakat sekitar.
dengan baik kepada peserta didik sehingga mereka dapat menerapkannya dengan baik. Komunikasi yang terjalin antara peserta didik dan ustadz atau pembimbing berjalan dengan baik sehingga terbentuk suasana akrab dan kekeluargaan diantara mereka.
4. Berbagai hal yang mendukung terlaksananya integrasi program pendidikan madrasah dan pesantren di MTs PSA Nurul Ihsan diantaranya, sarana dan prasarana belajar yang memadai, pendidikan yang melibatkan stakeholder madrasah secara aktif, materi yang dikemas secara aplikatif, dan ustadz dan pembimbing memiliki dedikasi yang tinggi terhadap madrasah. Disisi lain terdapat pula beberapa hal yang masih menjadi kendala dalam proses integrasi program pendidikan madarsah dan pesantren di MTs PSA Nurul Ihsan diantaranya: integrasi program pendidikan madrasah dan pesantren belum terakomodasi dengan baik dalam dokumen kurikulum madrasah, ustadz dan pembimbing dari pesantren belum banyak mengunakan media pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran dalam program integrasi yang belum dilakukan secara teratur dan mengunakan teknik evaluasi yang tepat.
B. Rekomendasi
Setelah peneliti menyelesaikan penelitiannya, maka peneliti merekomendasika beberapa hal diantaranya:
2. Madrasah hendaknya memberikan pembimbingan kepada para guru dan pembimbing (khusunya ustadz dan pembimbing dari pesantren) lebih intensip khususnya dalam hal pelaksanaan pendidikan dan pengajaran agar proses pendidikan dan pengajaran semakin baik.
3. Menjalin kerjasama yang semakin erat dengan masyarakat di lingkungan madrasah. Adanya kerjasama ini akan semakin memperkuat posisi madrasah dalam lingkungan masyarakat sehingga masyarakat pun akan dapat diajak berkontribusi lebih besar dalam proses pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, P, Partanto dan M. Dahlan Al Barry, (1994), Kamus Ilmiah Popular. Surabaya: Arloka.
Ahmadi, A. (2007). Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rinika Cipta.
Al-Nihlaw, A. (1999). Usul al Tarbiyah al Islamiyah. Beirut: Daarul Fikri.
al-Yasu'i, A. al-Munjid Fi al-LughahWa al-Munjid Fi al-A'lam. Cet.-23. Beirut: Dar al-Masyriq. tt.
Arsyad, A. (2010). Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Press.
BNSP. (2006) Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah [online] http://aanhendrayana.files.wordpress.com/2009/03/ktsp.pdf (2 Desember 2010)
Creswell, J.W. (2007). Qualitative Inquiry and Research Design Choosing Among Five Tradition. California: Sega Publication.
Depdiknas. (2006). Model Mata Pelajaran Muatan Lokal. [online] http://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2008/07/model-pengembangan-muatan-lokal.pdf (2 Desember 2010)
Dhofier, Z. (1985). Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES.
Effendi, Y. (2010). Pondok Pesantren, Madrasah dan Sekolah. [online] http://yusufeff84.wordpress.com/2010/04/13/pondok-pesantren-madrasah-dan-sekolah/ ( 15 Maret 2011)
Faisal, S. (2005). “Pengumpulan dan Analisis Data Dalam Penelitian Kualitatif dalam Burhan Bungin”. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Gerungan, W.A. (2010). Psikologi Sosial. Bandung: Rineka Aditama. Gunawan, A. H. (2010). Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Hanief , A. S. Ghafur. (1993) Integrasi Tradisi Pesantren (Kajian Fungsional Terhadap Pesantren Lirboyo Kediri dalam Mengintegrasikan Tradisinya). Tesis pada Program Studi Antropologi Program Pasca Sarjana UI Jakarta: tidak diterbitkan.
Hasan, A. B. Purwakania. (2008). Psikologi Perkembangan Islami. Jakarta: Rajawali Press.
Hasbullah. (1999). Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia:Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Hidayat, N (2008). “KTSP Madrasah Berciri Khas Pendidikan Islam Integratif”. Inovasi Kurikulum Jurnal Himpunan Pengembangan Kurikulum Indonesia. Thn.3, Vol. 1 Nomor: 1
http://id.wikipedia.org/wiki/Integrasi_sosial
Idi, A. (2009). Pengembangan Kurikulum Teori & Praktik. Yogyakarta: Ar-Ruzzmadia
Kasan, T. (2009). Dasar-dasar Pendidikan. Jakarta: Studia Press.
Kementrian Agama. (2010). Sejarah Madrasah: Pertumbuhan, Dinamika dan
Perkembangannya di Indonesia. [online]
http://www.pendis.kemenag.go.id/madrasah/ebook.pdf (4 Maret 2011) Lichtman, M. (2010). Qualitative Research in Education: A User’s Guide. USA:
SEGA Publication.
Majid, A & Dian Andayani. (2005). Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosdakarya
Malik, A. Fadjar. (1998). Visi Pembaruan Pendidikan Islam. Jakarta: LP3NI Mastuhu, (1994), Dinamika Pendidikan Pesantren, Jakarta: INIS
McMillan, J. H & Sally Schumacher. (1997). Research in Education. New York Sanfransisco: Longman.
Mulyasa, E. (2006). Kurikulum Yang Disempurnakan, Pengembangan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Bandung : Remaja Rosdakarya
--- (2008). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
--- (2010). Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nakosteen, M. (1996). Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat: Deskripsi Analisis Abad Keemasan Islam. Edisi Indonesia, Surabaya: Risalah Gusti
Nawawi. (2006). Sejarah dan Perkembangan Pesantren [on line] http://ejurnal.stainpurwokerto.ac.id/index.php/ibda/article/viewFile/253/224 (3 Maret 2011)
Oliva, P, F. (1992). Developinh the Curriculum Third Edition. New York: HarperCollins Publishers.
Print, M. (1993). Curriculum Development and Design second edition. Sydney: Allen & Unwin.
Saleh, M, Marzuki. (2010). Pendidikan Nonformal Dimensi dalam Keaksaraan Fungsional, Pelatihan, dan Andragogi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sanjaya, W. (2009). Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Kencana.
---, (2009). Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana.
Sardiman. (2009). Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Press.
Sarwono, Jonathan. (2006). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Sauri, S. Integrasi Imtak Dan Imptek Dalam Pembelajaran. [online] http://file.upi.edu/Direktori/C%20%20FPBS/JUR.%20PEND.%20BAHAS A%20ARAB/195604201983011%20%20SOFYAN%20SAURI/makalah2/I NTEGRASI%20IMTAK%20DAN%20IMPTEK%20DALAM%20PEMBE LAJARAN.pdf [4 Maret 2011]
Sugiono. (2009). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. [cetakan 7]. Bandung: Alfabeta.
Syaodih, N, Sukmadinata. (2009). Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Tyler, Ralph W. (1949). Bacis Principles of Curriculum and Intruction. Chalicago: The University of Chicago Press.