DAFTAR ISI
Halaman
NAMA DAN KEDUDUKAN TIM PEMBIMBING ………. i
PERNYATAAN ………. ii
KATA PENGANTAR ……….... iii
UCAPAN TERIMA KASIH .……… iv
ABSTRAK ……… vi
DAFTAR ISI ……… viii
DAFTAR TABEL ……… x
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ……… xiv
BAB I PENDAHULUAN ………... 1
A. Latar Belakang ………... . 1
B. Rumusan Masalah ……… 6
C. Pembatasan Masalah ……… 7
D. Tujuan Penelitian ……… 7
E. Manfaat Penelitian ……… 7
F. Penjelasan Istilah ……… 8
BAB II SCAFFOLDING DAN PENGAJARAN MIKRO ……… 10
A. Scaffolding ……… 10
1. Teori Sosiokultural Lev Vygotsky yang Mendasari Scaffolding ……… 10
2. Pengertian Scaffolding ……… 12
3. Unsur Utama Scaffolding ……… 14
4. Metode Pengajaran dengan Scaffolding ……….. 16
5. Bentuk Bimbingan dalam Scaffolding ……… 18
6. Scaffolding Penulisan RPP ……… 21
7. Hasil Penelitian yang Mendukung Vygotsky ……… 23
B. Pengajaran Mikro ……… 25
1. Penentuan Materi Pokok Kimia SMA dalam Peer Teaching ……… 25
2. Penetapan Model Pengajaran Mikro ……… 33
3. Pelaksanaan Pengajaran Mikro ……… 43
4. Refleksi dalam Pengajaran Mikro ……… 47
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ……… 51
B. Prosedur Penelitian ……… 53
C. Alur Penelitian ……… 56
D. Lokasi dan Subjek Penelitian ……… 57
Halaman E. Instrumen Penelitian dan Pengembangan Rubrik ………… . 58
F. Teknik Pengumpulan Data ……… 65
G. Teknik Analisis Data ……… 65
BAB IV ANALISIS DATA, TEMUAN DAN PEMBAHASAN …… 68
A. Analisis Data ……… 68
1. Karakteristik Model Pengajaran Mikro Kimia ……….. 68
2. Analisis Data Hasil Implementasi Model Scaffolding ……… 71
3. Analisis Data Hasil Evaluasi Model Scaffolding ……… 107
4. Respon Mahasiswa ……… 141
5. Kendala Pengajaran ……… 144
B. Temuan dan Pembahasan ……… 145
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ……… 163
A. Kesimpulan ……… 163
B. Saran ……… 164
DAFTAR PUSTAKA ……… 165
RIWAYAT HIDUP ……… 169
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan Indonesia dalam pasal 19, satu diantaranya mengatakan bahwa standar
proses adalah adanya partisipasi aktif di kalangan peserta didik. Berdasarkan pada
peraturan pemerintah tersebut maka untuk mempersiapkan calon guru yang dapat
menerapkan kurikulum sebagai acuan di lembaga pendidikan tenaga kependidikan
(LPTK) dilaksanakan pengajaran melalui beberapa kelompok mata kuliah, yang
bermuara pada pengajaran mikro dan praktek pengalaman lapangan (PPL) di sekolah
mitra. Pengajaran mikro telah diorganisir sedemikian rupa sehingga mahasiswa terlatih
untuk memiliki kompetensi mengajar yang di dalamnya terdapat muatan kurikulum
dengan mengedepankan perencanaan pengajaran dengan aktivitas yang berpusat pada
siswa.
Hasil studi lapangan yang dilakukan di Program Studi Kimia PMIPA pada suatu
LPTK di Kendari memberi indikasi bahwa kemampuan pedagogik mereka masih
rendah (Nusu, 2000). Data studi lapangan antara lain adalah: (1) Tugas akhir
mahasiswa yang lebih banyak mengangkat pengajaran yang berpusat pada guru tanpa
menyinggung proses inkuiri, dan memilih kajian tentang konsep kimia; (2) Pengajaran
mikro dilaksanakan berdasarkan pada pola supervisi klinis dengan penilaian
menggunakan alat penilai kemampuan guru (APKG), belum menghasilkan mahasiswa
yang memiliki kemampuan untuk melakukan adaptasi terhadap pembelajaran yang
sesungguhnya di sekolah mitra, sebagaimana model pembelajaran yang terus
berkembang mulai dari penerapan pendekatan keterampilan proses (PKP), cara belajar
2
minds-on yang seiring dengan perubahan kurikulum; (3) Mahasiswa yang
melaksanakan PPL dipantau berdasarkan laporan para guru pamong melalui para dosen
pembimbing ternyata mengalami kendala untuk melaksanakan pembelajaran yang
berpusat pada siswa sebagaimana sains diajarkan; (4) Guru pamong juga mengatakan
bahwa sebagian besar mahasiswa membuat RPP tanpa kejelasan model pengajaran apa
yang digunakan dengan kecenderungan pembelajaran yang berpusat pada guru.
Fakta tersebut di atas memberi indikasi bahwa pola supervisi klinis dengan
penilaian menggunakan APKG sebagai acuan dalam pengajaran mikro belum berhasil
membekali mahasiswa kemampuan melakukan adaptasi pembelajaran di lapangan.
Selain itu pola supervisi klinis memerlukan waktu yang relatif lebih lama dalam
penerapannya dari pada alokasi waktu yang tersedia untuk pengajaran mikro, juga
disertai pola penilaian menggunakan APKG bersifat umum, sehingga perlu
penyesuaian untuk dapat diterapkan dalam pengajaran mikro kimia.
Beranjak dari kondisi mahasiswa tersebut, maka dalam mata kuliah PPL I
program studi kimia dilakukan penelitian dengan tema scaffolding yang terpadu dengan
fungsi pengajaran dalam penulisan RPP model pengajaran langsung. Scaffolding
dimulai dengan orientasi, kemudian latihan, diakhiri dengan umpan balik dan tindak
lanjut. Hasil penelitian ini ternyata efektif meningkatkan kemampuan mahasiswa
menulis RPP (Nusu, 2005).
Pembekalan pengetahuan pedagogik calon guru di LPTK mengacu pada
kurikulum program studi yang memuat kelompok-kelompok mata kuliah. Kelompok
mata kuliah proses belajar-mengajar (PBM) yaitu strategi belajar-mengajar,
pengembangan program pengajaran dan evaluasi. Ketiganya memegang peran sentral
dalam membekali mahasiswa tentang kemampuan pedagogik sebelum mereka tampil
3 sekolah mitra. Untuk memaksimalkan pembekalan kemampuan pedagogik yang
diberikan kepada mahasiswa calon guru maka kesempatan terakhir yang dapat
dilakukan oleh LPTK, adalah dengan mengefektifkan bimbingan yang dilakukan oleh
dosen pengampu mata kuliah pengajaran mikro dan PPL. Sejalan dengan maksud
tersebut maka ada beberapa penelitian yang telah dilakukan dalam mata kuliah proses
belajar mengajar (PBM), diantaranya adalah pembekalan calon guru dalam mata kuliah
pengembangan program pembelajaran di Jurusan Fisika (Yuliati, 2005), dan
pengembangan model bimbingan praktik mengajar IPA di Jurusan Biologi (Suciati,
2004). Pada dasarnya kedua penelitian ini menyoroti pemberian bimbingan kemampuan
pedagogik pada calon guru yang akan berinteraksi dengan siswa yang sesungguhnya di
sekolah mitra. Salah satu yang menjadi rekomendasi dari penelitian ini adalah agar
UPT PPL lebih mengembangkan microteaching atau pengajaran mikro dan
meningkatkan kerjasama dengan pihak terkait. Arifin (1995) mengatakan bahwa
keberhasilan pengajaran mikro tidak terlepas dari bimbingan yang diperoleh mahasiswa
“calon guru” pada waktu membuat RPP dengan kesulitan yang pada umumnya terletak
pada pengembangan proses untuk mencapai konsep yang dipilih dengan pendekatan
dan metode yang telah mereka tentukan sendiri.
National Science Education Standard (NRC, 1996) menyebutkan bahwa proses
belajar aktif adalah proses yang melibatkan aktivitas fisik dan mental. Siswa harus
terlibat dengan aktivitas hands-on dan minds-on. Oleh karena itu pengajaran sains harus
melibatkan siswa dalam penelitian berorientasi inkuiri dimana mereka berinteraksi
dengan guru dan materi. Pembelajaran yang berorientasi inkuiri yang dapat digunakan
guru dalam strategi pembelajaran sains adalah model siklus belajar yang
dikembangkan dari pandangan konstruktivis tentang sains. Ciri-ciri model ini
4 mengaktifkan siswa secara fisik dan mental dengan cara pengungkapan pengalaman
konsep atau fase eksplorasi (E), dilanjutkan dengan diskusi pengembangan konsep
berdasarkan data yang disebut fase invention (I), kemudian diakhiri dengan fase
aplikasikasi konsep (A) (Lawson, 1995). Strategi pembelajaran untuk mengajarkan
konsep sains efektif apabila menerapkan ketiga fase tersebut dalam model siklus belajar
(MSB) dengan menggunakan laboratorium untuk menjelaskan konsep berdasarkan
pengetahuan yang sudah ada dalam struktur kognitif siswa hingga mengkonstruk
pengetahuan berdasarkan temuan siswa sendiri, bukan untuk memverifikasi konsep.
Aspek penting lainnya dalam pembelajaran yaitu aspek sosial berdasarkan teori
pengembangan sosial Vygotsky (Stuyf, 2002). Oleh karena itu pembelajaran juga harus
melalui partisipasi sosial sebagaimana ciri-ciri pembelajaran dalam model pengajaran
kooperatif (MPK). Arends (2007), seorang ahli teori belajar juga mengatakan bahwa
pengetahuan tentang sesuatu (declarative) dan pengetahuan tentang bagaimana
melakukan sesuatu (procedural) cocok diajarkan dengan menggunakan model
pengajaran langsung (MPL). Konsep kimia teori dan perhitungan kimia termasuk
dalam kelompok pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Ciri MPL adalah
pembelajaran untuk konsep yang dapat diajarkan secara bertahap yang bermula dari
aktivitas guru, kemudian secara berangsur-angsur beralih ke aktivitas siswa dan guru
hingga ke aktivitas siswa secara mandiri. Oleh karena itu dalam program pengajaran
mikro pendidikan kimia rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) ditulis dengan
menerapkan MPL, MPK, dan MSB.
Pengajaran mikro adalah salah satu mata kuliah PBM di Program studi yang juga
merupakan muara dari seluruh perkuliahan dengan kontribusi besar pada aspek
pedagogik walaupun dalam konteks simulasi melalui teman sendiri. Menurut Arifin,
5 latihan mengajar, diskusi latihan pengajaran mikro, evaluasi balikan, dan merancang
perbaikan dan melaksanakan perbaikan pengajaran mikro. Senada dengan itu,
Cruichshank (2009) mengatakan bahwa pengajaran mikro adalah pengajaran dalam
skala terbatas untuk sebuah kelompok kecil dari teman sekelas atau “peer”, dimana
mahasiswa dapat melaksanakan refleksi. Oleh karena itu pengajaran mikro juga
merupakan momentum yang tepat bagi mahasiswa untuk mendapatkan bimbingan
terakhir melakukan refleksi sebelum ia dilepas melaksanakan PPL di sekolah mitra
dalam konteks siswa yang sesungguhnya. Kemampuan berpikir refleksi yang disertai
dengan kecenderungan untuk melakukan refleksi untuk meningkatkan hasil belajar
siswanya adalah salah satu dari empat kriteria guru efektif (Arends, 2007).
Menurut Raines & Shadiow (1995) dan Perrone & Traver (Huang, 2001), lab
microteaching adalah setting simulasi yang mempersiapkan calon guru untuk
mengalami situasi pengajaran dan untuk berlatih berpikir reflektif (reflective thinking).
Mahasiswa calon guru diharapkan menciptakan situasi tersebut secara cermat dan
bijaksana sehingga mereka mampu meningkatkan pemahaman belajar dan pengajaran.
Satu model pembimbingan yang bertolak dari kemampuan aktual peserta didik
agar dapat mencapai kemampuan potensialnya adalah dengan diberi bimbingan
bertahap atau scaffolding (Lipscomb, 2004). Pentahapan yang dimaksud dalam konteks
ini bisa diartikan pula sebagai suatu transisi yang memungkinkan peserta didik beranjak
dari pengalaman yang telah ada pada diri mereka ke pengalaman baru melalui bantuan
seorang pakar. Kelebihan scaffolding adalah melibatkan peserta didik, tidak bersifat
pasif mendengar informasi, tetapi melalui dorongan guru mereka mengkonstruk
pengetahuan baru berdasarkan pengetahuan sebelumnya. Selain itu scaffolding dapat
memotivasi peserta didik untuk belajar terus serta menurunkan tingkat frustrasi mereka.
6 guru kimia melalui mata kuliah pengajaran mikro sekaligus sebagai pengembangan dari
penelitian yang telah dilakukan dalam mata kuliah PPL I.
Mengingat pentingnya bimbingan yang diberikan kepada mahasiswa dalam
pengajaran mikro, maka penelitian ini dilakukan dengan tema “Scaffolding dalam
program pengajaran mikro kimia”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka yang merupakan masalah penelitian
adalah:
“Bagaimanakah model scaffolding dalam program pengajaran mikro kimia?”
Untuk mempertajam masalah tersebut, maka beberapa pertanyaan penelitian
dikemukakan sebagai berikut.
1. Bagaimanakah karakteristik model scaffolding dalam program pengajaran mikro
kimia yang dapat menuntaskan kemampuan menulis RPP dan kemampuan peer
teaching yang disertai kemampuan refleksi?
2. Bagaimanakah scaffolding dalam program pengajaran mikro kimia yang dapat
menuntaskan kemampuan mahasiswa menulis RPP?
3. Bagaimanakah scaffolding dalam program pengajaran mikro kimia yang dapat
menuntaskan kemampuan mahasiswa melaksanakan peer teaching?
4. Bagaimanakah respon mahasiswa terhadap penerapan scaffolding dalam program
pengajaran mikro kimia?
5. Kendala apa yang muncul pada penerapan scaffolding dalam program pengajaran
7
C. Pembatasan Masalah
Materi kimia SMA yang menjadi pokok materi penulisan RPP dan peer teaching
mahasiswa dalam program pengajaran mikro pendidikan kimia dibatasi pada konsep
asam-basa menurut Arrhenius dan keisomeran pada MPL, MPK dan MSB.
D. Tujuan Penelitian
Sejalan dengan permasalahan penelitian ini, maka tujuan penelitian dipaparkan
sebagai berikut.
1. Menemukan karakteristik model scaffolding dalam program pengajaran mikro
kimia yang dapat menuntaskan kemampuan mahasiswa menulis RPP dan
kemampuan mahasiswa melaksanakan peer teaching yang disertai kemampuan
refleksi.
2. Menemukan pengajaran mikro kimia yang menarik bagi mahasiswa melalui
penerapan scaffolding dalam pengajaran mikro kimia.
E. Manfaat Hasil Penelitian
1. Untuk Mahasiswa
a. Memberikan pengalaman kepada mahasiswa bagaimana belajar melalui
scaffolding pengajaran dalam pengajaran mikro kimia.
b. Memberikan bekal kemampuan bagi mahasiswa calon guru kimia untuk
terampil menyusun rencana pengajaran, menerapkannya dalam peer teaching
8
2. Untuk Program Studi Pendidikan Kimia
a. Menjadi salah satu alternatif model pengajaran bagi jurusan atau program studi
pendidikan kimia di LPTK
b. Menjadi alternatif bagi dosen pembina mata kuliah pengajaran mikro kimia
untuk meningkatkan kemampuan pedagogik bagi mahasiswa calon guru kimia.
3. Untuk UPT PPL, LPMP dan Supervisor
a. Menjadi satu alternatif dalam pembekalan kemampuan pedagogik pada
mahasiswa calon guru kimia.
b. Menjadi satu alternatif model pengajaran dalam pengendalian mutu pendidikan
kimia.
c. Menjadi model alternatif untuk membantu meningkatkan kemampuan
pedagogik guru kimia dalam mengajar.
F. Penjelasan Istilah
1. Scaffolding adalah bimbingan yang diberikan oleh dosen atau peer kepada
mahasiswa untuk membantu pengajaran pada daerah ZPD untuk menyelesaikan
tugas yang pada awalnya tidak dapat diselesaikan sendiri oleh mahasiswa
(Lipscomb, 2004).
2. Pengajaran Mikro merupakan pengajaran terbatas yang diperuntukkan bagi para
calon guru yang sedang mencoba atau mengembangkan keterampilan mengajar.
Terbatas dalam hal jumlah siswa, waktu pembelajaran, dan komponen
pembelajaran (Arifin, 1995).
3. Hasil belajar dalam penulisan tujuan pembelajaran mencakup aspek kognitif,
9 4. Kemampuan refleksi adalah kemampuan melakukan evaluasi diikuti perbaikan
terhadap rencana pelaksanaan pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran untuk
51 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain dan Paradigma Penelitian
Desain dan paradigma penelitian yang digunakan diadaptasi dari model
pendekatan sistem yang dikembangkan oleh Dick dan Carrey (2003), yang berlangsung
dalam suatu siklus menurut model R&D sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 3.1.
Setelah mengidentifikasi tujuan pengajaran mikro, menganalisis pengajaran mikro
berdasarkan konteks dan RPP mahasiswa, serta menganalisis pengajaran khususnya
tiga model pengajaran, yaitu model pengajaran langsung, model pengajaran kooperatif,
dan model siklus belajar, maka tujuan pengajaran mikro ditetapkan. Untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan, dibuat model pengajaran yang dikembangkan dengan
penekanan pada penggunaan strategi yang memudahkan pemahaman bagi mahasiswa,
yaitu penerapan scaffolding dengan rubrik dalam pengajaran. Rubrik disusun
berdasarkan scaffolding dari beberapa kategori scaffolding, dan dengan assessment
merupakan bagian dari model yang ditetapkan. Konsep kimia SMA dan komponen RPP
ditetapkan untuk penyusunan rubrik umum penulisan RPP (holistic), rubrik khusus
penulisan RPP (specific), dan rubrik penilaian peer teaching. Ketiga rubrik tersebut
merupakan bagian dari model scaffolding, sebagai bentuk support yang diberikan
kepada mahasiswa secara bertahap yang dapat menumbuhkan kemampuan menulis
52
Studi Pendahuluan Perancangan Program Pengembangan Program Evaluasi Program
Gambar. 3.1 Desain dan Paradigma Penelitian Scaffolding Program Pengajaran Mikro Kimia Studi Kepustakaan
mengenai: Pengajaran Mikro Tujuan Peng Mikro Tiga Model Pengajaran (MPL, MPK, dan MSB) Konsep Kimia SMA
Studi Lapangan mengenai: Pengajaran mikro kimia di sebuah LPTK Kendari Analisis RPP mahasiswa dan konteks
Kemampuan pedagogik mahasiswa
Draft Scaffolding Program Pengajaran Mikro Kimia
Penelitian terhadap
Draft Model Scaffolding Program Pengajaran Mikro Kimia Revisi I Ujicoba Terbatas • Revisi II Model Teoretik Scaffolding Program Pengajaran Mikro Kimia Implementasi dan Evaluasi Model Teoretik
Scaffolding Program
Pengajaran Mikro Kimia
Analisis Data
Program Teruji
Model Empiris
Scaffolding Program
Pengajaran Mikro Kimia (Scaffolding Terpadu dari
beberapa kategori scaffolding) Kategori Scaff Orientasi Support Tugas Scaf. Konseptual Kategori Scaff Orientasi Support Tugas Scaf. Konseptual Scaf.Prosedural Pelatihan Artikulasi Regulasi Pakar Metakognisi Deskripsi Scafolding Pengajaran Rubrik Umum Penulisan RPP dan Skoring
Rubrik Khusus Penulisan RPP dan Skoring
Rubrik Penilaian
53 B. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian bertolak dari desain R &D yang didisain oleh Dick dan Carey
(Gall, 2003). Untuk pengembangan program pengajaran mikro kimia, ditampilkan
dalam tiga tahap, sebagai berikut:
Tahap I: Pengembangan Model Teoretik
Pada tahap ini dilakukan studi pendahuluan, yaitu analisis teoretik yang terdiri
dari identifikasi tujuan pengajaran mikro, analisis pengajaran mikro, analisis
scaffolding, analisis tiga model pengajaran, dan selanjutnya dilakukan studi lapangan
yang terdiri dari analisis RPP mahasiswa dan konteks RPP. Berdasarkan analisis
teoretik dan analisis lapangan tersebut, maka tujuan ditetapkan sebagai pernyataan
operasional yang diharapkan dapat dilakukan oleh mahasiswa dalam pengajaran mikro
kimia.
Dari hasil analisis tersebut maka disusun model pengajaran mikro kimia
berdasarkan scaffolding pengajaran yang diawali dengan seleksi materi RPP dan materi
kimia, dilanjutkan dengan membuat rubrik umum dan rubrik khusus untuk tiga macam
model pengajaran (yaitu rubrik khusus penulisan RPP MPL dan skoring, rubrik khusus
penulisan RPP MPK dan skoring, dan rubrik khusus penulisan RPP MSB dan skoring),
dan rubrik penilaian peer teaching, menulis alur bimbingan mahasiswa dalam
perkuliahan pengajaran mikro kimia.
Setelah rancangan model dibuat maka dilakukan validasi pakar, uji coba model
yang diperankan oleh tiga mahasiswa S1 program studi pendidikan kimia FMIPA UPI
54 Sumedang, analisis hasil uji coba dan revisi model, dihasilkan model teoretik, model
penyusunan RPP dan model peer teaching dengan scaffolding.
Tahap II: Implementasi Model
Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan pengajaran model teoretik scaffolding
dalam program pengajaran mikro kimia, yang terdiri dari : (1) Memberi tugas kepada
mahasiswa menulis RPP tanpa bimbingan, dan tahap ini disebut scaffolding tingkat S0.
(2) Melaksanakan perkuliahan dimana mahasiswa dibimbing melaksanakan tugas
menulis RPP dalam tingkat scaffolding SI menghasilkan RPP draft 1, berlanjut pada
tingkat scaffolding SII mengasilkan RPP draft 2, hingga pada tingkat scaffolding SIII
menghasilkan RPP draft 3. (3) Berdasarkan RPP draft 3, selanjutnya mahasiswa
dibimbing melaksanakan peer teaching dalam tingkat scaffolding SIV, dan (4) peer
teaching tingkat scaffolding SV. (5) Menentukan skor RPP draft 1, skor RPP draft 2
dan skor RPP draft 3 menggunakan rubrik penulisan RPP, dan skor peer teaching
menggunakan rubrik penilaian peer teaching, dan (6) Analisis hasil implementasi
model teoretik. Dari kegiatan ini dihasilkan model empirik program pengajaran mikro
kimia dengan scaffolding.
Tahap III: Evaluasi Model
Pada tahap ini merupakan tahap pelaksanaan kembali model scaffolding dalam
program pengajaran mikro kimia menggunakan kelompok lain, dengan rangkaian
aktivitas serupa dengan tahap implementasi, akan tetapi hasil refleksi pada tahap
implementasi sudah ditindak lanjuti hingga diperoleh data yang menjadi dasar untuk
55 Pada tahap implementasi model dan evaluasi model, prosedur evaluasi
menggunakan one group pretest- posttest design (Gall, 2003). Rancangan ini
digambarkan sebagai berikut:
O1 X O2
Keterangan:
X = Pengajaran scaffolding dalam program pengajaran mikro kimia
O1 = Data pretest atau skor tanpa scaffolding
O2 = Data posttest atau skor dengan scaffolding
C. Alur Penelitian
Alur penelitian dalam program pengajaran mikro pendidikan kimia, ditampilkan
dalam Gambar 3.2, dengan rangkaian kegiatan dipaparkan dalam uraian berikut.
Dimulai dengan tahap studi pendahuluan yang terdiri dari: (1) Mengkaji
perkuliahan Pengajaran Mikro dan Tujuan Pengajaran mikro, (2) Mengkaji tiga model
pengajaran yaitu model pengajaran langsung (MPL), model pengajaran kooperatif
(MPK), dan model siklus belajar (MSB) serta RPP untuk tiga model pengajaran, (3)
Mengkaji konsep Kimia SMA, (4) Mengkaji pelaksanaan pengajaran mikro melalui
RPP mahasiswa, (5) Mengkaji scaffolding yang diperlukan, (6) Analisis RPP
mahasiswa untuk peer teaching, (7) Mengkaji deskripsi scaffolding penyusunan RPP
melalui rubrik umum dan rubrik khusus penulisan RPP, serta rubrik penilaian peer
teaching untuk perbaikan pengajaran mikro kimia.
Dilanjutkan dengan tahap pengembangan model, yang meliputi perancangan draft
model teoretik pengajaran mikro yang terdiri dari: (1) Seleksi materi RPP dan materi
56 penilaian peer teaching dalam pengajaran mikro kimia, dan (3) Menulis alur bimbingan
mahasiswa dalam perkuliahan pengajaran mikro kimia.
Gambar 3.2 Alur Penelitian 1. Tahap Studi Pendahuluan
Studi Kepustakaan mengenai: Pengajaran Mikro Tujuan Peng Mikro Tiga Model Pengajaran (MPL, MPK, dan MSB)
Konsep Kimia SMA
Studi Lapangan mengenai Pengajaran Mikro, RPP mahasiswa dan Konteks Deskripsi Scaffolding Program Pengajaran Mikro
Kimia
2. Tahap Pengembangan Model
Draft Model Teoretik
Scaffolding Program
Pengajaran Mikro Kimia Ujicoba Terbatas Evaluasi dan Revisi Implementasi Model Teoretik Evaluasi dan Penyempurnaan
Model Empiris Scaffolding Program Pengajaran Mikro
Kimia
3. Tahap Evaluasi Model Penerapan Kembali Model
Empiris Scaffolding Program Pengajaran Mikro Kimia pada Kelompok Lain Penetapan
57 Validasi pakar dan ujicoba terbatas model scaffolding program pengajaran mikro
kimia yang meliputi: rubrik umum dan rubrik khusus penulisan RPP, rubrik penilaian
peer teaching, serta model alur bimbingan mahasiswa dalam perkuliahan pengajaran
mikro hingga diperoleh model teoretik.
Selanjutnya dilakukan implementasi model teoretik, dengan serangkaian kegiatan:
(1) Mahasiswa diberi tugas menyusun RPP tanpa menggunakan rubrik dan tanpa
bimbingan, (2) Penerapan model teoritis scaffolding menulis RPP dalam peer teaching
tingkat SI, SII, SIII, dan (3) Penerapan model teoretik scaffolding peer teaching
dalam peer teaching tingkat SIV, dan SV, dan (4) Evaluasi dan penyempurnaan model
hingga diperoleh model empirik.
Akhirnya pada tahap evaluasi model dilakukan penerapan model empirik pada
kelompok lain oleh peneliti yang sama dengan alur bimbingan sama seperti yang
dilakukan pada tahap implementasi model, hingga dilakukan interpretasi data dan
ditetapkan karakteristik model.
D. Lokasi dan Subjek Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Program S1 Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan
PMIPA FKIP pada sebuah LPTK di Kendari
Subjek penelitian terdiri dari 42 orang mahasiswa calon guru kimia semester tujuh
tahun akademik 2007/2008 untuk tahap implementasi model dan 21 orang mahasiswa
semester enam calon guru kimia tahun akademik 2008/2009 untuk tahap evaluasi
model, yang sedang mengikuti mata kuliah pengajaran mikro. Distribusi subjek
penelitian ke dalam kedua tahap penelitian tersebut berdasarkan kelompok model
58 Tabel 3.1 Subjek Penelitian
Tahapan Penelitian Subjek Penelitian Kelompok MPL Kelompok MPK Kelompok
MSB Jumlah
Tahap Implementasi 13 14 15 42
Tahap Evaluasi 7 7 7 21
Jumlah Total 20 21 22 63
E. Instrumen Penelitian
Untuk mendapatkan karakteristik model pengajaran maka disusun instrumen
dengan rincian diperlihatkan pada Tabel 3.2
Tabel 3.2 Instrumen Penelitian
Instrumen Penelitian Digunakan sebagai
Rubrik Umum Penulisan RPP Panduan awal penulisan RPP
Rubrik Khusus Penulisan RPP MPL Panduan dan untuk mendapatkan skor penulisan RPP MPL
Rubrik Khusus Penulisan RPP MPK Panduan dan untuk mendapatkan skor penulisan RPP MPK
Rubrik Khusus Penulisan RPP MSB Panduan dan untuk mendapatkan skor penulisan RPP MSB
Rubrik Penilaian Peer Teaching MPL Panduan dan untuk mendapatkan skor Peer
Teaching MPL
Rubrik Penilaian Peer Teaching MPK Panduan dan untuk mendapatkan skor Peer
Teaching MPK
Rubrik Penilaian Peer Teaching MSB Panduan dan untuk mendapatkan skor Peer
Teaching MSB
Angket Respon Mahasiswa Instrumen untuk mendapatkan data respon mahasiswa terhadap scaffolding
Catatan Kendala Pengajaran Mikro Kimia
Instrumen untuk mengetahui kendala yang muncul pada penerapan scaffolding
Sebelum instrumen penelitian diimplementasikan di kelas, maka instrumen
terlebih dahulu dikembangkan. Diawali dengan kaji teoritis dan validasi melalui teman
59 validasi pakar menggunakan “Lembar Penilaian Rubrik” sebagaimana diperlihatkan
pada Lampiran 3.1 dan 3.2
Hasil penilaian pakar terhadap rubrik umum penulisan RPP dan skoring, rubrik
khusus penulisan RPP dan skoring, dan rubrik penilaian peer teaching yang didasarkan
pada rata-rata skor seluruh komponen rubrik adalah lebih dari cukup dengan rincian
diperlihatkan pada Lampiran 3.3. Selanjutnya dilakukan ujicoba terbatas, revisi
berdasarkan hasil ujicoba terbatas hingga bentuk akhir instrumen ditetapkan.
1. Rubrik Umum Penulisan RPP dan Skoring.
Instrumen “Rubrik umum penulisan RPP dan skoring” memuat unsur scaffolding
dengan kategori: (1) ) “orientasi” yang menjelaskan apa yang akan dicapai serta target
penguasaan yang dipersyaratkan; (2) “dukungan tugas” yaitu support untuk membantu
mahasiswa menyelesaikan tugas menulis RPP; (3) “scaffolding konseptual” yaitu
bantuan diberikan berdasarkan tugas secara kontekstual yang memfokuskan mahasiswa
pada issu sentral dan konsep dimana mungkin terjadi multi interpretasi.
Instrumen ini berguna sebagai panduan awal mahasiswa saat menulis RPP.
Sebagai panduan awal menulis RPP, maka mahasiswa menulis RPP berdasarkan
kriteria panduan, sehingga mereka dapat mengetahui berapa skor RPP draft 1 yang
mereka capai. Melalui pengembangan instrumen, maka tampilan dan beberapa
komponen RPP beserta indikator komponen RPP mengalami perubahan dari bentuk
awal ke bentuk akhir. Bentuk akhir rubrik umum penulisan RPP dan skoring
diperlihatkan pada Lampiran 3.4.
2. Rubrik Khusus Penulisan RPP dan Skoring.
Instrumen “Rubrik Khusus Penulisan RPP dan Skoring” memuat unsur
60 RPP dan skoring; (2) “scaffolding prosedural” yang membantu mahasiswa
menggunakan alat dan sumber belajar yang ada; (3) “mendorong artikulasi” melalui
dorongan mahasiswa untuk mengungkap pemahaman dan refleksi saat melakukan
koreksi RPP draft 1 melalui diskusi dalam kelompok; (4) “pelatihan” yaitu mahasiswa
menerima support melalui tugas presentasi untuk penguasaan tugas; (5) “regulasi
pakar” yaitu dukungan diberikan dengan memberikan contoh dan hasil belajar yang
diinginkan; (6) “scaffolding metakognisi” yaitu support tentang pengaturan belajar dan
refleksi.
Terdapat tiga macam Rubrik Khusus Penulisan RPP dan Skoring,
masing-masing untuk RPP MPL, RPP MPK, dan RPP MSB. Struktur Rubrik Khusus Penulisan
RPP sama dengan struktur Rubrik Umum Penulisan RPP keduanya dibedakan pada
contoh penjabaran komponen RPP, dalam rubrik khusus penulisan RPP contoh
diberikan, tetapi pada rubrik umum tidak diberikan.
Instrumen ini merekam hasil belajar mahasiswa dalam menulis RPP, yang terdiri
dari tujuh komponen RPP. Oleh karena setiap komponen RPP terdiri dari sejumlah
indikator, maka jumlah semua indikator dalam rubrik tersebut sebanyak 26 butir.
Indikator-indikator tersebut berfungsi sebagai indikator untuk memberi skor terhadap
RPP yang akan dinilai. Oleh karena setiap indikator yang muncul dalam RPP diberi
skor 1, maka skor total RPP apabila memunculkan 26 indikator sama dengan 26,
sebagaimana jumlah indikator yang ada dalam rubrik. Bentuk akhirnya setelah
diadakan perubahan pada komponen kejelasan indikator, komponen penilaian,
komponen sumber belajar, serta contoh komponen indikator pembelajaran,
61 3. Rubrik Penilaian Peer Teaching
Instrumen “Rubrik Penilaian Peer Teaching” memuat unsur scaffolding dalam
kategori: (1) semua unsur scaffolding dalam rubrik khusus penulisan RPP dan skoring;
(2) “pelatihan” presentasi dan demonstrasi mengajar di depan kelas.
Terdapat tiga macam Rubrik Penilaian Pengajaran Mikro, masing-masing untuk
pengajaran mikro MPL, MPK dan MSB. Instrumen ini merekam hasil belajar
mahasiswa dalam melaksanakan peer teaching. Ada enam komponen peer teaching
yang dinilai, yaitu: (1) komponen kegiatan awal yang terdiri dari tiga indikator untuk
peer teaching MPL, masing-masing empat indikator untuk peer teaching MPK dan
peer teachingMSB; (2) komponen kegiatan inti yang memiliki 12 indikator untuk peer
teaching MPL, delapan indikator untuk peer teaching MPK, dan sembilan indikator
untuk peer teaching MSB; (3) komponen kegiatan menutup pembelajaran memiliki dua
indikator; (4) komponen menilai prestasi siswa memiliki satu indikator; (5) alokasi
waktu pembelajaran memiliki dua indicator; dan (6) komponen efektivitas
pembelajaran memiliki tiga indikator Bentuk akhir “Rubrik Penilaian Peer Teaching”
diperlihatkan pada Lampiran 3.6.
4. Angket Respon Mahasiswa.
Instrumen ini merekam tanggapan mahasiswa terhadap model pembelajaran yang
berkaitan aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotor dalam pelaksanaan
scaffolding. Angket yang digunakan terdiri dari 4 komponen, yaitu respon terhadap
mata kuliah sebanyak 3 butir pernyataan, respon terhadap dosen sebanyak 3 butir
pernyataan, respon terhadap kegiatan belajar mengajar sebanyak 12 butir pernyataan,
62 Karakteristik angket ini mengacu pada aspek validitas isi yaitu mengukur pendapat
mahasiswa terhadap materi mata kuliah, terhadap dosen, terhadap kegiatan belajar
mengajar, dan terhadap tugas-tugas yang diberikan. Aspek reliabilitasnya ditentukan
berdasarkan pendekatan konsistensi internal menggunakan Formula Alpha (Ratumanan,
2003).
Bentuk akhir “Angket Respon Mahasiswa” diperlihatkan pada Lampiran 3.7.
5. Catatan Pengamatan Kendala Pembelajaran
Instrumen ini merupakan catatan peneliti yang merekam kendala yang dihadapi
mahasiswa calon guru dalam melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alur
scaffolding dalam pengajaran mikro.
6. Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Validitas isi Rubrik Umum dan Rubrik Khusus Penulisan RPP diadaptasi dari
komponen RPP (BSNP, 2006 dan Cruickshankk, 2009). Untuk mengetahui reliabilitas
instrumen diperlukan data hasil ujicoba. Ada tiga tahap dalam pelaksanaan ujicoba,
yaitu: (1) menyusun RPP draft 1, (2) menyempurnakan RPP draft 1 menjadi RPP draft
2, dan (3) melaksanakan Pengajaran di kelas berdasarkan RPP draft 2.
Pada tahap pertama mahasiswa dibantu dengan Rubrik Umum Penulisan RPP,
Format RPP, dan tiga model pengajaran hingga menghasilkan RPP draft 1. Pada tahap
kedua mahasiswa menyempurnakan RPP draft 1 menjadi RPP draft 2. Dalam tahap
tersebut mahasiswa dibantu dengan “Rubrik Khusus Penulisan RPP”. Mahasiswa
bekerja dalam kelompok kecil hingga menghasilkan RPP draft 2, yang dilanjutkan
dengan penyusunan RPP draft 3 persiapan pembelajaran di kelas secara individual.
63 laboratorium terkait dengan kelengkapan alat dan bahan dan keterlaksanaan percobaan
yang dilaksanakan sebagaimana yang tercantum dalam RPP draft 3. Penilaian RPP
draft 1, 2 dan 3 menggunakan Rubrik Khusus Penulisan RPP.
Sebelum pengajaran di kelas maka dosen pembimbing menggali kesiapan
mahasiswa terhadap semua aspek yang akan ditampilkan dalam pengajaran hingga
terjadi kesepakatan antara mahasiswa calon guru dengan pengamat, dan menyepakati
juga bahwa penilaian akan dilakukan dengan menggunakan “Rubrik Penilaian
Pengajaran Mikro”. Setelah diperoleh kesepakatan maka pada tahap ketiga atau tahap
pengajaran dilaksanakan di kelas. Kedua mahasiswa lainnya bersama dengan guru dan
peneliti sebagai pengamat melakukan penilaian.
Terdapat tiga macam RPP yang dinilai, yaitu: (1) RPP MPL yang terkait dengan
materi “asam basa” dan RPP MPL yang terkait dengan materi “perhitungan pH” (2)
RPP MPK yang terkait dengan materi “ derajat keasaman” dan RPP MPK yang terkait
dengan materi “keisomeran” dan (3) RPP MSB yang terkait dengan materi “hubungan
α dengan Ka/Kb dan aplikasi pH dalam pencemaran.
Skor penulisan RPP dan skor pengajaran berdasarkan ujicoba di lapangan
diperlihatkan dalam Lampiran 3.8 dan 3.9.
Perhitungan reliabilitas instrument rubrik umum penulisan RPP, rubrik khusus
penulisan RPP, reliabilitas rubrik penilaian peer teaching, dan reliabilitas instrument
dilakukan dengan menggunakan cara pendekatan tes sejajar Skor yang diperoleh
selanjutnya dikorelasikan untuk memperoleh estimasi reliabilitas instrument. Koefisien
korelasi dihitung dengan menggunakan program SPSS 13 (Trihendradi, 2005). Kriteria
Reliabilitas instrument ditetapkan berdasarkan Ornstein (Ratumanan, 2003)
64 Tabel 3.3
Kriteria Reliabilitas Instrumen
Koefisien Reliabilitas Penafsiran
0.8 ≤r derajat reliabilitas tinggi
0.40 ≤ r < 0.80 derajat reliabilitas sedang r< 0.40 derajat reliabilitas rendah
Reliabilitas rubrik selanjutnya ditentukan berdasarkan koeefisien korelasi yang
dihitung menggunakan program SPSS 13 yang diperlihatkan pada Lampiran 3.10, yaitu
skor rata-rata yang penilaiannnya dilakukan oleh mahasiswa dikorelasikan dengan skor
rata-rata yang penilaiannya yang dilakukan oleh guru. Keduanya menggunakan rubrik
penilaian yang sama. Hasil perhitungan koefisien korelasi ditampilkan dalam Tabel 3.4
Tabel 3.4
Koefisien Korelasi dan Reliabilitas
Rubrik Penulisan RPP dan Rubrik Penilaian Peer Teaching
Rubrik Koefisien Korelasi Reliabilitas Rubrik
Rubrik Penulisan RPP MPL 0,97 tinggi
Rubrik Penulisan RPP MPK 0,88 tinggi
Rubrik Penulisan RPP MSB 0,72 sedang
Rubrik Penilaian Peer Teaching
MPL 0.65 sedang
Rubrik Penilaian Peer Teaching
MPK 0.60 sedang
Rubrik Penilaian Peer Teaching
MSB 0.87 tinggi
Karakteristik angket respon mahasiswa juga mengacu pada aspek validitas isi
yaitu mengukur pendapat mahasiswa terhadap materi mata kuliah, terhadap dosen,
terhadap kegiatan belajar mengajar, dan terhadap tugas-tugas yang diberikan. Aspek
reliabilitasnya ditentukan dengan menggunakan pendekatan konsistensi internal
menggunakan Formula Alpha (Ratumanan, 2003). Butir pertanyaan angket dibagi
menjadi tiga bagian berdasarkan aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotor
65 mahasiswa dan dua guru bidang studi kimia di SMA tempat ujicoba dilaksanakan, di
perlihatkan dalam Lampiran 3.11. Koefisien Korelasi kemudian dihitung menggunakan
rumus Alpha, hingga diperoleh harga r =0.7 Berdasarkan kriteria reliabilitas instrument
Tabel 3.3, denga r = 0,7 maka derajat reliabilitas angket respon mahasiswa dalam
kategori “sedang”.
F. Teknik Pengumpulan Data
Data penelitian diperoleh melalui implementasi dan evaluasi model teoretik. Data
skor penulisan RPP pada tingkat scaffolding S0, SI, SII, dan SIII diperoleh dari hasil
implementasi rubrik khusus penulisan RPP MPL untuk skor penulisan RPP MPL,
rubrik khusus penulisan RPP MPK untuk skor penulisan RPP MPK, dan rubrik khusus
penulisan RPP MSB untuk skor penulisan RPP MSB. Data skor peer teaching pada
tingkat SIV dan SV diperoleh dari hasil implementasi rubrik penilaian peer teaching
MPL untuk skor peer teaching MPL, rubrik penilaian peer teaching MPK untk skor
peer teaching MPK, dan rubrik penilaian peer teaching MSB untuk skor peer teaching
MSB. Data respon mahasiswa diperoleh melalui implementasi angket respon
mahasiswa yang dilakukan oleh dosen, sedangkan kendala yang muncul diperoleh
dengan menggunakan catatan peneliti saat perkuliahan pengajaran mikro dilaksanakan.
Data kendala mahasiswa diperoleh melalui catatan kendala oleh peneliti saat model
diimplementasikan.
G. Teknik Analisis Data
1. Jenis Data
Terdapat empat jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini sebagaimana
66 Tabel 3.5
Jenis dan Sumber Data
No Jenis Data Sumber Data
1. Model Pengajaran Teori Vygotsky yang mendasari Pengajaran
Scaffolding, Komponen RPP, Materi Kimia,
dan Peng. Mikro 2. Hasil Belajar Mahasiswa:
a. Kemampuan menulis RPP
b. Kemampuan melaksanakan
peer teaching
a. RPP dinilai dengan menggunakan Rubrik Khusus Penulisan RP dan Skoring
b. Peer Teaching dinilai menggunakan Rubrik
Penilaian Peer Teaching 3. Respon terhadap Pengajaran Angket
4. Kendala Pengajaran Catatan Kendala Pengajaran
2. Pengolahan Data
Data kemampuan menulis RPP dianalisis secara statistik inferensial sedangkan
data kemampuan melaksanakan peer teaching, data respon mahasiswa dan kendala
mahasiswa dianalisis secara deskriptif.
Untuk keperluan analisis statistik, maka dilakukan uji sebagai berikut: (1)
Menguji normalitas skor hasil belajar mahasiswa kedua kelompok dengan
menggunakan one-sample Kolmogorov-Semirnov Test; (2) Data dianalisis secara
statistik “anova oneway” dengan Step by Step SPSS 13 Analisis Data Statistik untuk
menguji tingkat signifikansi perbedaan N-Gain skor penulisan RPP pada tingkat
scaffolding S0 dengan tingkat scaffolding SI, dengan tingkat scaffolding SII, dan
dengan tingkat scaffolding SIII.
Untuk menghitung N-Gain yang menunjukkan efek perlakuan yang diberikan
terhadap keberhasilan pengajaran, digunakan rumus:
N-Gain = (PU2-PU1)/(STI Maksimal -PU1) (Meltzer, 2002)
Keterangan:
67 PU2 = Skor draf RPP SI, Skor draf RPP SII, atau Skor draf RPP SIII
serta keberhasilan pengajaran ditafsirkan berdasarkan Tabel 3.6
Tabel 3.6
Indeks Keberhasilan Pengajaran
Katagori Indeks Keberhasilan Pengajaran
Tinggi N-Gain > 0,7
Sedang 0,3 < N-Gain < 0,7
Rendah N-Gain < 0,30
Untuk mengetahui kualifikasi respon terhadap pengajaran yang terdiri dari 27
pernyataan digunakan kriteria yang diadaptasi dari Ratumanan (2003) sebagaimana
ditunjukkan dalam Tabel 3.7
Tabel 3.7
Kualifikasi Respon Mahasiswa di Kelas terhadap Pengajaran Skor untuk Rentang
(0-4) Keterangan
0-27 Sangat Kurang
28-54 Kurang
55-81 Baik
163 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Sejalan dengan permasalahan penelitian maka kesimpulan dirumuskan sebagai
berikut:
1. Scaffolding program pengajaran mikro kimia hasil penelitian ini merupakan proses
bimbingan mahasiswa secara bertahap menggunakan rubrik untuk merancang,
melaksanakan, mengevaluasi dan merevisi RPP serta peer teaching yang dapat
menumbuhkan kemampuan mahasiswa merefleksi pembelajaran dan beradaptasi
terhadap perubahan pembelajaran di sekolah.
2. Karakeristik scaffolding dalam program pengajaran mikro kimia hasil penelitian ini
merupakan scaffolding yang terdiri dari kategori “scaffolding orientasi, support
tugas, scaffolding conceptual, scaffolding procedural, regulasi pakar, dan
scaffolding metacognitive”, sebagai panduan dalam wujud: (1) rubrik umum
penulisan RPP dan skoring untuk menulis RPP, (2) rubrik khusus penulisan RPP
dan skoring untuk mengoreksi RPP buatannya sendiri secara mandiri/berpasangan,
dilanjutkan dengan bimbingan kelompok dipimpin oleh mahasiswa terpilih (MKO)
dengan panduan rubrik khusus penulisan RPP dan skoring, (3) model pakar untuk
menulis RPP persiapan peer teaching, dan (4) rubrik penilaian peer teaching untuk
mempersiapkan, melaksanakan, dan merefleksi peer teaching.
3. Rubrik umum penulisan RPP dan skoring pada tingkat scaffolding I dan rubrik
khusus penulisan RPP dan skoring pada tingkat scaffolding II keduanya dapat
meningkatkan skor dan ketuntasan penulisan RPP dengan efektivitas scaffolding II
secara signifikan lebih besar dari pada efektivitas scaffolding I, sedangkan pada
164 efektivitas scaffolding III secara signifikan tidak lebih besar dari pada efektivitas
scaffolding II.
4. Pada tingkat scaffolding IV dan V rubrik penilaian peer teaching dapat
menuntaskan peer teaching dengan efektivitas dalam rentangan kategori “sedang
dan tinggi”.
5. Scaffolding pengajaran mikro pendidikan kimia mendapat respon baik dari
mahasiswa, yang antara lain ditunjukkan dengan pelaksaanaan tugas, penyelesaian
tugas dan pengumpulan tugas secara tepat waktu serta antusias mahasiswa baik
pada saat mengartikulasi komponen yang akan ditampilkan dalam peer teaching
maupun saat melaksanakan peer teaching.
6. Kendala yang muncul ketika scaffolding dalam pengajaran mikro kimia diterapkan
adalah keterbatasan untuk mengontrol kemandirian menulis RPP draft 1,
mendorong refleksi individual dan interaksi sosial secara optimal.
B. Saran
Saran yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah:
1. Perlu dikembangkan rubrik untuk meningkatkan kemampuan refleksi mahasiswa.
2. Scaffolding dapat dicobakan pada mata kuliah PBM yang memiliki karakteristik
pengetahuan yang sama.
3. Model scaffolding dapat diaplikasikan pada pelatihan guru dengan model rubrik
penulisan RPP yang sama dan rubrik peer teaching yang baru untuk meningkatkan
165 DAFTAR PUSTAKA
Arends, R.I. (2007). Learning to Teach, sixth edition, New York: McGraw-Hill Book Co
Arifin, M. (1995). Pengembangan Program Pengajaran Bidang Studi Kimia. Surabaya: Airlangga University Press.
Bdrov, E. dan Leong, D.J. (2009). Scaffolding in The Zona Proximal development, Of
Primary Interest [online], Vol 3 (4), 6 halaman. Tersedia: http://naecs.crc.uiuc.edu/newsletter. [17 Maret 2009]
Brady, J.E. (1990). General Chemistry Principles and Structure. New York: John Wiley & Sons
C. Vreman-de Olde, T. Jong. (2006). “Scaffolding learners in designing investigation assignments for a computer simulation”. Journal of Computer Assisted Learning 22:1, 63-73.
Chng, V. L. L. dan Coombs, S. (2001). “Learning Plans for student Scaffolding [CHN01046]”. Paper pada AARE 2001 International Education Research Conference Crossing Borders: New Frontiers for Educatinal Research, Temasek Polytechnic
Coffey, H. (2009). Scaffolding, [Online], Tersedia: http://www.learnnc.org/lp/pages/5074, [18 Maret 2009]
Cruickshank, D.R.; Jenkins, D.B., Metcalf, K.K. (2009) The Act of Teaching, fifth edition, Boston: Mc Graw-Hill Higher Education.
Deese,W.C., Ramsey, L.L., Walczyk, J., dan Eddy, D. (2000). “Using Demonstration Assessments to improve Leraning”. Journal of chemical Education. 77(11), 1511-1516
Departemen Pendidikan Nasional Dirjendikdasmen Ditdikmenum. (2004) Kurikulum
2004 SMA Pedomam Khusus Pengembangan silabus dan penilaian mata pelajaran kimia, Jakarta: Depdiknas.
Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. (2004)
Standar Kompetensi Guru Pemula SMP/SMA Program Studi: Kimia, Jakarta:
Depdiknas.
Dick, W., Carey, L., dan Carey, J. O. (2005). The Systematic Design of Instruction.
Sixth Edition. Boston: Omegatype Typography, Inc.
166 Huang, H.J. (2001). Professional Development Through Reflection: A study of Pre-Service Teacher’Reflective Practice. Dalam International Electronic Journal For
Leadership in
Ibrahim, M. (2000). Pengajaran Berdasarkan Masalah. Cetakan Pertama. Surabaya: Unesa University Press
Kardi, S. (2000). Pengajaran Langsung. Cetakan kedua. Surabaya: Unesa University Press
Kemp, J.E., Morriso, G.R. & Ross, S.M. (1994). Designing Effective Instruction. New York: Macmillan College Publishing Commpany.
Kristinsdottir, S.B. (2001). Lev Vygotsky, [Online], Tersedia: file:///C:/Documents%20and%20Settings/griya/My%20Documents/v... [19 Maret 2009]
Larkin, M. (2002). Using Scaffolded Instruction To Optimize Learning, [Online], Tersedia: http://www.vtaide.com/png/ERIC/Scaffolding.html, [17 Maret 2009]
Lawson, A.E. (1995). Science Teaching and The Development of Thinking. California: Wadsworth, Inc.
Linder, S.P., Abbott, D., & Fromberger, M.J. (2006). An Instructional Scaffolding
Approach to Teaching Software Design. Hanover: Consortium for C0mputing
Science in Colleges.
Lipscomb, L., Swanson, J., West, A. (2004). Scaffolding” eBook Learning, Teaching,
& Tecnology Michael Orey, Editor. 1-15 Tersedia:
http://www.coe.uga.edu/epitt/scffolding.htm [16Januari 2007]
McLoughlin, C. (2004). Achieving excellence in teaching througjh scaffolding learner competence. In Seeking Educational Excellence. Proceedings of the 13th Annual Teaching Learning Forum, 9-10 February 2004. Perth: Murdoch University. http://Isn.curtin.edu.au/tlf2004/mcloughlin.html
Meltzer (2002). Significance Testing, Effect Size, and the Normalized Gain. [Online]. Tersedia: http:/www.physics. Indiana.edu/-hake [15 Oktober 2005]
Merrienboer, J. J. G., Kirschner, P. A. & Kester, L. (2003). “Taking the Load Off a
Learner’s Mind: Instructional Design for Complex Learning”. Educational
Psycologist. 38 (1), 5-13. Tersedia: E-mail: jeroen [email protected]
National Science Foundation, (1996). National Science Education Standards, Washington,DC: National Academy Press
Nur, M. dan Wilkandari, P.R. (2000). Pengajaran Berpusat Kepada Siswa dan
Pendekatan Konstruktivis dalam Pengajaran, Surabaya: Pusat Studi Matematika
167 Nusu, A (2002). Laporan Ketua Program Studi Pendidikan Kimia PMIPA FKIP
Unhalu, Kendari: Unhalu
Nusu, A. (2005). “ Cognitive Apprenticedship dan Scaffolding Dalam Pendekatan Konstruktivis Dipadukan dengan Model Pengajaran Langsung Pada Mata Kuliah PPL I di Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Unhalu”. Gema Pendidikan. XII (23), 79-84.
Oxtoby, D.W., Freeman, W.A. dan Block, T.F. (1998). Chemistry Science of Change. Third edition, Philadelphia: Saunders College Publishing.
Oakley, L. (2005). Cognitive Development. London: Routledge Taylor & Francis Group
Pusat Data dan Informasi Pendidikan, Balitbang-Depdiknas. (2004). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan, Jakarta: Depdiknas Tersedia: http://www.depdiknas.go.id
Richardson, V. (1977). Constructivist teaching and teacher education: Theory and practice. In V. Richardson (Ed), Constructivist teacher education: Building a world of new understanding (pp. 3-14). Bristol, PA: Falmer.
Solomons, T.W.G. (1988). Organic Chemistry. Fourth Edition, New York: John Wiley & Sons
Stager, J. dan Harman. (2002). Scaffolding: Building a Better Education, [Online], Tersedia: mhtml:file://C:/Documents and Settings/griya/My Documents/Stager Lesson.mht [19 Maret 2009]
Stone, C. A. (1998). The metaphor of scaffolding: Its utility for the field of learning disabilities. Journal of Learning Disabilities, 31(4), 344-364.
Stuyf, R. V. D. (2002). Scaffolding as a Teaching Strategy. Adolescent Learning and
Development [Online], Tersedia: Section 0500A-Fall 2002 November 17, 2002
[11 Januari 2007]
Suciati. (2004). Pengembangan Model Bimbingan Praktek Mengajar IPA untuk
Meningkatkan Keterampilan Calon Guru dalam mengelola Pembelajaran dan Praktikum IPA berdasarkan Standar Kompetensi Guru IPA. Disertasi Doktor
pada SPS UPI Bandung: tidak diterbitkan
Sudjana. (1989). Metoda Statistika. Edisi ke 6, Bandung: Tarsito
Sudjana, N. (1990). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
168 Trihendradi, C. (2005). Step by Step SPSS 13 Analisis Data Statistik. Yogyakarta: Andi
Yogyakarta.
169 Riwayat Hidup
(alm) dengan Masniah (alm). Sampai dengan saat ini mereka telah dikaruniai tiga orang putra dan satu orang putri, yaitu Alifakbara, S.T., M.T. (ITB), Biwana Amalia, S.Kg (FKG Unpad), Cakra Adipura Wicaksana (Fak.Teknik Unhalu), dan Muhammad Nur Arsyi (SD).
Seluruh pendidikan dasarnya diselesaikan di Kabupaten Bone Sulawesi Selatan, dimulai dari SD Negeri 2 Watampone (1958-1964, SMP Negeri I Watampone (1964-1967), SMA Negeri Watampone (1967-1970). Tahun 1972 dia masuk Perguruan Tinggi FKIE IKIP Ujung Pandang Jurusan Pendidikan Kimia sampai tingkat sarjana muda, kemudian melanjutkan ke IKIP Bandung di tingkat Doktoral tahun (1978-1980). Pada Tahun 1981 diangkat menjadi dosen di FKIP Univ. Udayana Singaraja Bali. Kemudian pada tahun 1989 atas permintaan sendiri pindah tugas ke FKIP Unhalu di Kendari hingga sekarang. Pada tahun 2002 mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan di S2 Jurusan Pendidikan IPA Fakultas Pascasarjana Unesa Surabaya hingga memperoleh gelar magister pendidikan pada tahun 2004. Pada tahun ajaran 2005/2006 tercatat sebagai mahasiswa BPPS S-3 Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia Program Studi Pendidikan IPA. Sampai saat ini masih bertugas sebagai dosen di Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan PMIPA FKIP Universitas Haluoleo di Sulawesi Tenggara
Selama pengabdiannya di FKIP Universitas Udayana dan di FKIP Unhalu dia ditugasi mengasuh beberapa mata kuliah antara lain biokimia dan mata kuliah PBM. Beberapa kegiatan ilmiah diikuti, melakukan penelitian, dan pengabdian pada masyarakat.
Kegiatan ilmiah yang pernah diikuti diantaranya adalah pelatihan calon pelatih pembinaan guru pamong (1998), in the 1st International Seminar of Science Education “Science Education facing Against Challenges of the 21st Century”(2007); in The 2nd International Seminar on Science Education “Current Issues on Research and Teaching in Science Education” (2008); Seminar Nasional Kimia dan Pendidikan
Kimia IV dengan tema: Peran Kimia dan Pendidikan Kimia dalam Meningkatkan Literasi Sains Masyarakat, Seminar Nasional Kimia dan Pendidikan Kimia dengan Tema”Peran Kimia dalam Pengembangan Potensi Daerah Menuju Kemandirian” (2008); in The 3rd International Seminar on Science Education “Challenging Science Education in The Digital Era” (2009)
Beberapa hasil karyanya antara lain adalah penelitian tentang: Bimbingan Guru Pamong dan Mahasiswa PPL Sebagai Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa SMA di Sulawesi Tenggara (1998); Penerapan Keterampilan Bertanya dan Pendekatan Konsep Untuk Mengatasi Kesalahan Konsep Akibat Kemampuan Siswa yang Beragam di SMU Negeri 5 Kendari (2001); Efektivitas Pembelajaran Model Pengajaran Langsung Terpadu Dalam Menuntaskan Hasil Belajar Kimia Siswa di SMU Khadijah Surabaya (2004)