BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN KEHUTANAN. Pola Umum. Standar. Pengelolaan DAS.

55 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BERITA NEGARA

REPUBLIK INDONESIA

No.173, 2009 DEPARTEMEN KEHUTANAN. Pola Umum.

Standar. Pengelolaan DAS.

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA

NOMOR :.P.42/Menhut-II/2009

TENTANG

POLA UMUM, KRITERIA DAN STANDAR

PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI TERPADU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : bahwa dalam rangka pelaksanaan ketentuan Pasal 9 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota perlu menetapkan Peraturan Menteri Kehutanan tentang Pola Umum, Kriteria dan Standar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Terpadu;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi

Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3419);

2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang

Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699);

(2)

3. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3888), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4412);

4. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber

Daya Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4377);

5. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem

Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);

6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang

Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437), sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

7. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan

Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);

8. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang

Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4739);

9. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2004 tentang

(3)

Indonesia Tahun 2004 Nomor 146, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4452);

10. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta

Pemanfaatan Hutan (Lembaran Negara Republik

Indonesia Tahun 2007 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4696), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4814);

11. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang

Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

12. Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 2008 tentang

Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 201, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4947);

13. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Unit

Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia, sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2008;

14. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia, sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 50 Tahun 2008;

15. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.

13/Menhut-II/2005 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kehutanan, sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P. 64/Menhut-II/2008 (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 80);

(4)

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN MENTERI KEHUTANAN TENTANG POLA UMUM, KRITERIA DAN STANDAR PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI TERPADU.

Pasal 1

Pola Umum, Kriteria dan Standar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Terpadu adalah sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan ini.

Pasal 2

Pola Umum, Kriteria dan Standar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Terpadu sebagaimana dimaksud pada Pasal 1 merupakan pedoman bagi Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dan masyarakat dalam rangka penyelenggaraan pengelolaan daerah aliran sungai.

Pasal 3

Pada saat Peraturan ini berlaku, Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 52/Kpts-II/2001 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 4

Peraturan Menteri Kehutanan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, Peraturan Menteri Kehutanan ini diundangkan dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 26 Juni 2009 MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

H. M.S. KABAN

Diundangkan di Jakarta pada tanggal 1 Juli 2009

MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,

(5)

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA

NOMOR : P. 42/Menhut-II/2009 TANGGAL : 26 Juni 2009

POLA UMUM, KRITERIA DAN STANDAR

PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI TERPADU I. PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Pengelolaan DAS pada hakekatnya merupakan perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya alam berbasis ekosistem DAS untuk kesejahteraan manusia dan kelestarian ekosistem DAS itu sendiri. Kegiatan pengelolaan DAS tersebut menimbulkan dampak baik positif maupun negatif yang diantaranya dapat dilihat melalui indikator aliran air di DAS yang bersangkutan. Adanya keterkaitan antar kegiatan pengelolaan sumberdaya DAS dan dampak yang ditimbulkannya memungkinkan untuk mengukur keberlanjutan pengelolaan sumberdaya yang dilakukan. Hal ini yang melandasi digunakannya ekosistem DAS sebagai satuan terbaik dalam pengelolaan sumberdaya berbasis ekosistem.

Keberadaan sumberdaya alam yang berbeda seringkali menempati wilayah atau bentang alam yang sama, misalnya deposit bahan tambang dan mineral di dalam kawasan hutan. Hal ini seringkali membawa konsekuensi terjadinya tumpang-tindih kepentingan dan kewenangan pengaturan pengelolaan sumberdaya alam oleh instansi yang berbeda. Berbagai konflik yang terkait dengan pengelolaan atau pemanfaatan sumberdaya alam DAS, juga disebabkan karena belum adanya perangkat hukum yang mengatur pengelolaan sumberdaya DAS. Selain itu, konflik pemanfaatan sumberdaya seringkali terkait dengan belum berjalannya keterpaduan antar sektor dan antar wilayah dalam kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pemantauan dan evaluasi pengelolaan DAS. Oleh karena itu, pengelolaan sumberdaya di DAS yang sama oleh berbagai instansi yang berbeda memerlukan koordinasi pengelolaan sumberdaya tersebut. Untuk mencapai efektivitas koordinasi dalam pengelolaan sumberdaya DAS secara terpadu diperlukan payung hukum peraturan perundang-undangan yang jelas sebagai acuan instansi-instansi terkait dalam pelaksanaan tugasnya.

(6)

Meningkatnya potensi konflik terkait dengan pengelolaan sumberdaya DAS di satu pihak dan pola pengelolaan sumberdaya yang tidak ramah lingkungan menyebabkan makin merosotnya kualitas ekosistem DAS seperti longsor, banjir dan kekeringan sehingga membuat para pemangku kepentingan (multipihak, stakeholders) yang terkait dengan pengelolaan DAS menyadari pentingnya mewujudkan Pengelolaan DAS Terpadu melalui pendekatan “satu DAS, satu rencana, dan satu sistem pengelolaan terpadu”. Namun demikian, keinginan mewujudkan pengelolaan DAS terpadu tersebut masih terkendala belum memadainya perangkat hukum dan kebijakan tentang pengelolaan DAS tersebut.

Saat ini, departemen-departemen teknis dan jajarannya baik di tingkat pusat maupun di daerah terutama yang terkait dengan pengelolaan sumberdaya lahan dan air dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya telah menggunakan pendekatan DAS (UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air, UU Nmor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, serta peraturan pelaksanaannya). Undang-undang lain yang terkait dengan pengelolaan DAS antara lain UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan peraturan pelaksanaannya berupa Peraturan Pemerintah.

Untuk melaksanakan Undang-undang dan turunannya tersebut diperlukan kebijakan atau peraturan yang lebih detail sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota dimana Pemerintah dalam hal ini Departemen Kehutanan diwajibkan untuk menetapkan Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria pengelolaan DAS. Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 2008 tentang Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan mengemukakan antara lain bahwa perencanaan teknik Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) harus mengacu kepada rencana pengelolaan DAS terpadu dan pelaksanaan RHL harus mempertimbangkan DAS prioritas.

Pola umum pengelolaan DAS diharapkan akan menjadi arahan umum dalam penyelenggaraan pengelolaan DAS yang memuat prinsip-prinsip kerangka dasar penyelenggaraan DAS. Pola Umum pengelolaan DAS terpadu ini dilengkapi dengan kriteria dan standar, serta dijabarkan dalam pedoman-pedoman penyelenggaraan pengelolaan DAS.

(7)

B. Maksud dan Tujuan

Pola Umum, Kriteria dan Standar Pengelolaan DAS Terpadu ini dimaksudkan untuk memberikan acuan tentang kebijakan kerangka dasar bagi multipihak yang terkait dengan penyelenggaraan pengelolaan DAS dan diharapkan menjadi jembatan antara peraturan perundangan dengan pedoman-pedoman penyelenggaraan pengelolaan DAS yang lebih teknis.

Sedangkan tujuannya adalah diperolehnya kesamaan persepsi dan/atau pemahaman di antara multipihak sehingga penyelenggaraan pengelolaan DAS yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian dapat terselenggara secara sinergis.

C.Sistematika Pola Umum, Kriteria dan Standar Pengelolaan DAS Terpadu Pola Umum, Kriteria dan Standar Pengelolaan DAS Terpadu disajikan dalam beberapa bab untuk memudahkan pemahaman pembaca yang mungkin berasal dari berbagai pihak. Bab I berupa pendahuluan yang memuat latar belakang, maksud dan tujuan serta pengertian terkait dengan pengelolaan DAS terpadu. Bab II menerangkan prinsip-prinsip, tujuan, ruang lingkup dan landasan hukum pengelolaan DAS terpadu secara umum. Bab III mengemukakan mengenai kondisi pengelolaan DAS saat ini dan yang diharapkan. Bab IV memuat pola umum penyelenggaraan pengelolaan DAS terpadu (yang diuraikan berdasarkan aspek manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian). Bab V memuat kriteria dan standar pengelolaan DAS terpadu. Bab VI, Penutup.

D. Pengertian

Dalam Pola Umum, Kriteria dan Standar Pengelolaan DAS Terpadu ini yang dimaksud dengan :

1. Daerah Aliran Sungai yang selanjutnya disingkat DAS adalah suatu

wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.

2. Satuan Wilayah Pengelolaan DAS yang selanjutnya disebut SWP DAS

adalah kesatuan wilayah yang terdiri dari satu atau lebih DAS dan/atau pulau-pulau kecil yang secara geografis dan fisik teknis layak digabungkan sebagai satu unit pengelolaan DAS.

(8)

3. SWP DAS pulau-pulau Kecil adalah SWP yang terdiri dari satu pulau atau lebih yang total luasnya kurang dari atau sama dengan 100.000 ha.

4. Pengelolaan Daerah Aliran Sungai adalah upaya dalam mengelola

hubungan timbal balik antar sumberdaya alam terutama vegetasi, tanah dan air dengan sumberdaya manusia di DAS dan segala aktivitasnya untuk mendapatkan manfaat ekonomi dan jasa lingkungan bagi kepentingan pembangunan dan kelestarian ekosistem DAS.

5. Pengelolaan DAS Terpadu adalah rangkaian upaya yang

memperlakukan DAS sebagai suatu kesatuan ekosistem dari hulu sampai hilir dengan pendekatan lintas sektor dan lintas wilayah administrasi pemerintahan secara partisipatif, koordinatif, integratif, sinkron, dan sinergis guna mewujudkan tujuan Pengelolaan DAS.

6. Lembaga Koordinasi Pengelolaan DAS adalah organisasi multipihak

yang terkoordinasi, terdiri dari unsur-unsur pemerintah dan bukan pemerintah yang berkepentingan dengan pengelolaan DAS yang dilegalisasi oleh menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan tingkatannya.

7. Pola Umum Pengelolaan DAS adalah kerangka dasar dan acuan secara

nasional bagi multipihak dalam merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, dan mengendalikan kegiatan pengelolaan daerah aliran sungai secara terpadu.

8. Sumberdaya DAS adalah seluruh sumberdaya di dalam DAS yang dapat

didayagunakan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan, sosial ekonomi dan menopang sistem penyangga kehidupan.

9. Kawasan Lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama

untuk melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam dan sumberdaya buatan.

10. Kawasan Budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama

untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan.

11. Prinsip adalah suatu ketentuan/kaidah dasar sebagai acuan dalam

bertindak.

12. Kriteria adalah ukuran yang digunakan dalam menilai penyelenggaraan

pengelolaan DAS terpadu.

13. Standar adalah tolok ukur yang dipakai sebagai patokan dalam penilaian

penyelenggaraan pengelolaan DAS terpadu.

14. Multipihak adalah pihak-pihak terkait yang terdiri dari unsur pemerintah dan bukan pemerintah yang berkepentingan dengan pengelolaan DAS.

(9)

II. PRINSIP, TUJUAN, RUANG LINGKUP DAN LANDASAN HUKUM PENGELOLAAN DAS TERPADU

A.Prinsip Pengelolaan DAS Terpadu

Prinsip-prinsip yang harus menjadi dasar acuan dalam pengelolaan DAS terpadu adalah sebagai berikut:

1. Pengelolaan DAS dilakukan dengan memperlakukan DAS sebagai satu

kesatuan ekosistem dari hulu sampai hilir, satu perencanaan dan satu sistem pengelolaan.

Prinsip ini menegaskan bahwa dalam satu DAS sebagai satu kesatuan ekosistem terdapat keterkaitan hulu-hilir DAS dalam hal aktivitas

pengelolaan sumberdaya dan dampak yang ditimbulkannya (”on-site”

maupun ”off-site impact”). Hal ini terutama dikarenakan adanya air sebagai sumberdaya alam DAS yang mengalir dari hulu sampai dengan hilir. Keterkaitan hulu-hilir ini juga mendasari digunakannya ekosistem DAS sebagai satuan terbaik dalam pengelolaan sumberdaya berbasis ekosistem. Untuk itu harus ada satu rencana pengelolaan DAS terpadu dari hulu sampai hilir sehingga terdapat satu sistem pengelolaan sumberdaya DAS yang disepakati oleh para pihak yang terlibat untuk menjamin kelestarian DAS dalam jangka panjang.

2. Pengelolaan DAS terpadu melibatkan multipihak, koordinatif,

menyeluruh dan berkelanjutan.

Prinsip ini menegaskan bahwa sumberdaya alam DAS yang sangat beragam (hayati dan non hayati) merupakan sistem yang kompleks sehingga pengelolaan DAS secara terpadu memerlukan partisipasi berbagai sektor dan multipihak dengan pendekatan inter-disiplin, lintas bidang keilmuan dan seringkali lintas wilayah administrasi pemerintahan. Kewenangan pengelolaan sumberdaya dalam DAS berada pada lebih dari satu sektor. Oleh karena itu, pengelolaan DAS terpadu memerlukan koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan sinergi antar para pihak baik dalam penetapan kebijakan, perencanaan program dan kegiatan maupun dalam implementasi dan pengendalian penyelenggaraan pengelolaan DAS.

Pengelolaan juga tidak hanya mencakup kegiatan

pemanfaatan/penggunaan sumberdaya alam tetapi juga harus mengandung kegiatan perlindungan dan konservasi sumberdaya alam agar manfaatnya bisa berkelanjutan serta upaya-upaya pengendalian terhadap daya rusak yang mungkin timbul/disebabkan oleh kondisi ekstrim dari sumberdaya alam, karena itu pengelolaan DAS harus dilakukan secara holistik, komprehensif dan berkelanjutan.

(10)

3. Pengelolaan DAS bersifat adaptif terhadap perubahan kondisi yang dinamis dan sesuai dengan karakteristik DAS.

DAS merupakan satu kesatuan ekosistem yang bersifat dinamis dimana unsur biofisik (misalnya : flora, fauna, iklim, lahan, air, bangunan sarana prasarana), sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat selalu berubah seiring dengan berjalannya waktu. Oleh karena itu apabila terjadi perubahan unsur-unsur ekosistem di dalam DAS maka diperlukan respon dari para penyelenggara pengelolaan DAS baik dalam hal kebijakan maupun implementasi program dan kegiatan sehingga tujuan pengelolaan DAS dapat tercapai.

4. Pengelolaan DAS dilaksanakan dengan pembagian tugas dan fungsi,

beban biaya dan manfaat antar multipihak secara adil.

Prinsip ini menegaskan bahwa dalam pengelolaan DAS terdapat berbagai pihak yang terlibat dan banyak pihak yang memperoleh manfaat dari barang dan jasa DAS sekaligus juga terdapat pihak yang membuat pencemaran atau kerusakan terhadap ekosistem DAS. Pembiayaan penyelenggaraan pengelolaan DAS tidak adil jika hanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi juga harus dibiayai oleh para penerima manfaat barang dan jasa DAS dan pencemar ekosistem DAS terutama untuk kegiatan rehabilitasi, restorasi dan/atau reklamasi sumberdaya hutan, lahan dan air bagi kepentingan kelestarian ekosistem DAS itu sendiri dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas. Prinsip keadilan juga harus mempertimbangkan keterkaitan hulu dan hilir DAS dimana seringkali daerah hulu DAS harus melakukan konservasi hutan, tanah dan air untuk kepentingan kelestarian sumberdaya air di daerah hilir DAS.

5. Pengelolaaan DAS berdasarkan akuntabilitas para pemangku kepentingan. Prinsip ini menegaskan bahwa pengelolaan DAS pada dasarnya adalah keterpaduan lintas sektor dan lintas wilayah administrasi

pemerintahan dalam pengelolaan sumberdaya dalam kerangka

pembangunan secara berkelanjutan. Untuk mendapatkan manfaat yang optimal dari sumberdaya alam untuk manusia dan kehidupan lainnya secara berkelanjutan tersebut diperlukan akuntabilitas dari setiap sektor atau para pemangku kepentingan. Setiap sektor dalam melaksanakan misi dan kegiatannya tidak boleh berlawanan atau kontradiktif dengan tujuan pengelolaan DAS terpadu yang telah disepakati bersama, tetapi harus sejalan atau menunjang pencapaian tujuan pengelolaan DAS terpadu.

(11)

B. Tujuan Pengelolaan DAS Terpadu

Tujuan pengelolaan DAS terpadu sangat ditentukan oleh karakteristik biofisik, sosial ekonomi, budaya dan kelembagaan yang ada pada tiap DAS. Secara umum tujuan pengelolaan DAS terpadu adalah sebagai berikut:

1. Mewujudkan kondisi tata air DAS yang optimal meliputi kuantitas,

kualitas dan distribusi menurut ruang dan waktu.

Neraca air dalam suatu DAS menggambarkan hubungan individual unsur-unsur hidrologis yang meliputi asupan (input) hujan, penyimpanan

(storage) di permukaan, dalam tanah dan akifer; pengurangan dalam

bentuk intersepsi, evapotranspirasi dan luaran (ouput) dalam bentuk total aliran sungai (aliran permukaan, aliran dalam tanah dan aliran akifer). Daur hidrologi tersebut sangat dipengaruhi oleh pola penggunaan lahan. Pengelolaan DAS mensyaratkan penggunaan lahan yang rasional dan proporsional yang ditumbuhi vegetasi yang memadai yang akan meningkatkan resapan air ke dalam tanah dan mengurangi aliran permukaan dan sedimentasi sehingga fluktuasi debit aliran sungai akan relatif kecil dan merata sepanjang tahun (water yield mencukupi kebutuhan) dengan kualitas yang baik.

2. Mewujudkan kondisi lahan yang produktif sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan DAS secara berkelanjutan.

Pengelolaan DAS sebagai salah satu upaya mengendalikan hubungan timbal balik antara manusia dengan sumberdaya alam (dalam hal ini lahan) bertujuan agar lahan sebagai salah satu unsur ekosistem DAS dan faktor produksi harus dapat menghasilkan produk barang dan jasa yang diinginkan dalam batas daya dukung dan daya tampung yang ada sehingga kapasitas produksi dapat mendukung kehidupan manusia yang dinamis saat ini dan generasi yang akan datang. Hutan dan lahan yang telah rusak (kritis) kondisinya harus direhabilitasi sehingga fungsinya bisa pulih dan meningkat.

3. Mewujudkan kesadaran, kemampuan dan partisipasi aktif para pihak

dalam pengelolaan DAS yang lebih baik.

Pengelolaan DAS yang melibatkan para pihak (termasuk masyarakat) memerlukan partisipasi aktif dalam berbagai tahapan

penyelenggaraan pengelolaan DAS mulai dari perencanaan,

pengorganisasian, pelaksanaan, sampai pengendalian. Pembinaan dan pemberdayaan terhadap para pihak perlu terus ditingkatkan baik terhadap para petugas pemerintahan maupun masyarakat sehingga kesadaran, kemampuan dan partisipasi aktif semakin baik.

(12)

4. Mewujudkan peningkatan kesejahteraan masyarakat

Pengelolaan DAS yang terkelola dengan baik dan efektif harus terdapat keseimbangan antara potensi sumberdaya yang tinggi dan manfaat yang bisa diperoleh oleh manusia dan dapat mendukung permintaan akan barang dan jasa dari berbagai pihak berkepentingan tanpa adanya degradasi lingkungan yang lebih besar dari kemampuan pemulihan alami sehingga produksi bisa lestari dan memberikan pendapatan yang memadai bagi masyarakat. Pengelolaan DAS terpadu juga harus memperhatikan pemerataan kesejahteraan antara masyarakat di hulu dan di hilir yang perannya relatif berbeda dimana masyarakat hulu biasanya ditekankan untuk melakukan konservasi hutan, tanah dan air sedangkan masyarakat di hilir lebih banyak menikmati hasil-hasil konservasi atau menerima dampak dari kegiatan di hulu.

Pengelolaan DAS terpadu melibatkan para pemangku kepentingan dari berbagai sektor dan wilayah administrasi pemerintahan dari hulu sampai hilir, karena itu koordinasi antar para pihak tersebut mutlak diperlukan dengan maksud adanya upaya integrasi, sinkronisasi dan sinergi kebijakan, program dan kegiatan pengelolaan sumber daya dalam rangka pencapaian tujuan pengelolaan DAS tersebut.

C.Ruang Lingkup Kegiatan Pengelolaan DAS Terpadu

Apabila tujuan pengelolaan DAS tersebut tercapai dengan baik maka kinerja pengelolaan DAS dapat dinilai dan diukur secara kuantitatif sehingga dapat dipahami oleh semua pihak. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu banyak kegiatan yang dilakukan di dalam DAS, namun secara garis besar ruang lingkup kegiatan pengelolaan DAS meliputi:

1. Penatagunaan lahan (landuse planning) untuk memenuhi berbagai

kebutuhan barang dan jasa serta kelestarian lingkungan.

2. Penerapan konservasi sumberdaya air untuk menekan daya rusak air dan

untuk memproduksi air (water yield) melalui optimalisasi penggunaan lahan.

3. Pengelolaan lahan dan vegetasi di dalam dan luar kawasan hutan

(pemanfaatan, rehabilitasi, restorasi, reklamasi dan konservasi).

4. Pembangunan dan pengelolaan sumberdaya buatan terutama yang terkait

dengan konservasi tanah dan air.

5. Pemberdayaan masyarakat dan pengembangan kelembagaan pengelolaan

(13)

Kegiatan pengelolaan DAS tersebut di atas mencakup aspek-aspek perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan kegiatan di lapangan, pengendalian dan aspek pendukung yang melibatkan berbagai pihak

pemangku kepentingan (stakeholders), baik unsur pemerintah, swasta

maupun masyarakat.

D.Landasan Hukum Pengelolaan DAS Terpadu

Landasan hukum pengelolaan DAS terpadu berupa Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah sebenarnya belum ada secara khusus, tetapi secara substansi pengelolaan DAS terkandung dalam Undang-undang Dasar 1945 dan beberapa Undang-Undang serta Peraturan Pemerintah.

Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 33 ayat (3) menyebutkan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Dalam kaitan ini, pengelolaan DAS sebagai ekosistem pada hakikatnya ditujukan untuk memperoleh manfaat dari sumberdaya alam terutama hutan, lahan dan air untuk kesejahteraan rakyat sekaligus menjaga kelestarian DAS itu sendiri.

Secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, dituliskan bahwa tujuan penyelenggaraan kehutanan adalah untuk meningkatkan daya dukung DAS dan seluas 30 (tiga puluh) % dari total luas DAS berupa kawasan hutan. Sementara, pemanfaatan kawasan pada hutan lindung, hutan konservasi dan hutan produksi harus dilakukan dengan kehati-hatian. Demikian juga pemanfaatan hasil hutan dan jasa lingkungan pada semua fungsi kawasan hutan lindung harus dilakukan secara lestari (berkelanjutan) tanpa mengganggu kelestarian fungsi ekosistem hutan sehingga hutan sebagai bagian dari DAS ikut meningkatkan daya dukung DAS.

Dalam UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air dan peraturan pelaksanaannya seperti PP Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumberdaya Air dan Perpres Nomor 12 Tahun 2008 tentang Dewan Sumberdaya Air, DAS memang didefinisikan secara rinci dan kemudian DAS menjadi bagian dari Wilayah Sungai (WS) yaitu kesatuan wilayah pengelolaan sumberdaya air dalam satu atau lebih DAS dan/atau pulau-pulau kecil yang luasnya kurang dari atau sama dengan 2.000 km2. Undang-undang Sumber Daya Air dan peraturan pelaksanaannya tersebut

lebih banyak mengatur tentang konservasi, pembangunan,

pendayagunaan/pemanfaatan, distribusi dan pengendalian daya rusak air serta kelembagaan sumber daya air.

(14)

Dalam UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, disebutkan bahwa perencanaan penggunaan ruang/wilayah berdasarkan fungsi lindung & budidaya, daya dukung dan daya tampung kawasan, keterpaduan, keterkaitan, keseimbangan, dan keserasian antar sektor. Perencanaan tata ruang wilayah (RTRW) dilakukan dalam batas-batas wilayah administrasi nasional, provinsi, kabupaten/kota sampai kecamatan, tetapi pertimbangan DAS sebagai kesatuan ekosistem lintas wilayah administrasi masih sangat kurang diperhatikan walaupun definisi DAS (PP Nomor 26 Tahun 2008 tentang Tata Ruang Wilayah Nasional) sepenuhnya merujuk UU Nomor 7 Tahun 2004 dan PP Nomor 42 Tahun 2008 tentang Sumberdaya Air.

Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Propinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota, menyebutkan bahwa Pemerintah mempunyai kewenangan menetapkan Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria Pengelolaan DAS, penyusunan rencana pengelolaan DAS terpadu dan penetapan urutan DAS prioritas. Pemerintah Propinsi berwenang menyelenggarakan pengelolaan DAS lintas kabupaten/kota dan Pemerintah Kabupaten/kota menyelenggarakan pengelolaan DAS skala kabupaten/kota.

Beberapa peraturan-perundangan lain yang terkait dengan pengelolaan DAS antara lain UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, UU Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, PP Nomor 44 Tahun 2004 tentang Perencanaan Kehutanan, PP Nomor 6 Tahun 2007 jo PP Nomor 3 Tahun 2008 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan, dan PP Nomor 76 Tahun 2008 tentang Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan.

Penyelenggaraan pengelolaan DAS juga sangat terkait dengan isu global yang telah menjadi perhatian dunia seperti konvensi tentang perubahan iklim (UNFCCC), keanekaragaman hayati (UNCBD) dan degradasi lahan (UNCCD) yang semuanya telah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia.

Disamping peraturan perundangan tersebut di atas menjadi dasar dalam penyelenggaraan pengelolaan DAS, dalam pelaksanaannya sangat diperlukan komitmen dan dukungan politik dari para pihak pembuat keputusan terutama kepala pemerintahan baik di pusat, provinsi maupun kabupaten/kota (unsur eksekutif), dewan perwakilan rakyat, dewan perwakilan rakyat daerah (unsur legislatif) dan penegak hukum (unsur yudikatif). Dukungan politik tersebut dapat diwujudkan dalam pengarusutamaan pengelolaan DAS ke dalam kebijakan, program dan penganggaran pada semua tingkat pemerintahan.

(15)

III. KONDISI PENGELOLAAN DAS SAAT INI DAN YANG DIHARAPKAN

Pengelolaan DAS yang diharapkan adalah pengelolaan yang dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip seperti yang telah diterangkan pada Bab II Sub A dan dapat mencapai tujuan-tujuan pengelolaan DAS seperti dinyatakan dalam Bab II Sub B.

Pengelolaan DAS Terpadu mencakup proses perumusan tujuan bersama pengelolaan sumberdaya dalam DAS, sinkronisasi program sektoral dalam mencapai tujuan bersama, pemantauan dan evaluasi pelaksanaan dan pencapaian hasil program sektoral terhadap tujuan bersama pengelolaan DAS dengan mempertimbangkan aspek bio-fisik, klimatik, sosial, politik, ekonomi, dan kelembagaan yang bekerja dalam DAS tersebut. Pengelolaan tersebut direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan berdasarkan kesepakatan bersama melalui suatu mekanisme partisipasi dan adaptasi terhadap lingkungan biofisik dan sosial ekonomi setempat. Dengan demikian, makna hakiki dari keterpaduan dalam pengelolaan DAS adalah upaya mengsinkronkan program-program sektoral dan kerangka kerja kelembagaan yang berbeda, dan lintas wilayah administrasi pemerintahan dalam satu DAS. Dengan mekanisme pengelolaan sumberdaya antar sektor, antar wilayah administrasi pemerintahan dan antar kelembagaan sebagai satu kesatuan ini, maka selain tujuan masing-masing sektor, tujuan bersama pengelolaan DAS juga dapat tercapai.

Kondisi ideal di atas dalam kenyataannya masih menghadapi berbagai masalah dan kendala sehingga belum dapat diimplementasikan seperti yang diinginkan. Dengan demikian terdapat kesenjangan antara kondisi pengelolaan DAS yang diharapkan dengan kondisi pengelolaan DAS saat ini seperti disajikan secara singkat dalam Matrik 1 Perbandingan Antara Kondisi Pengelolaan DAS saat ini Dengan Yang Diharapkan berikut ini:

(16)
(17)
(18)
(19)

IV. POLA UMUM PENYELENGGARAAN PENGELOLAAN DAS TERPADU

Pola umum penyelenggaraan pengelolaan DAS terpadu disusun dengan memperhatikan kesenjangan antara kondisi pengelolaan DAS yang diharapkan dengan kondisi pengelolaan DAS saat ini yang telah dikemukakan pada Bab III. Pola umum penyelenggaraan pengelolaan DAS secara skematis digambarkan

dalam Gambar 1. Dalam gambar tersebut ditunjukkan bahwa mekanisme

penyelenggaraan pengelolaan DAS secara garis besar dimulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi dimana semua tahapan tersebut memerlukan pengorganisasian dan pengendalian.

Tahapan perencanaan dan pelaksanaan tidak dapat dipisahkan karena informasi yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan harus dimanfaatkan kembali sebagai umpan balik (feedback) untuk penyempurnaan rencana yang telah dibuat. Untuk setiap langkah penyelenggaraan pengelolaan DAS mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan perlu dilakukan pengendalian supaya tertib sehingga berbagai penyimpangan dapat dihindari.

Pola umum penyelenggaraan pengelolaan DAS terpadu disamping mencakup tahap perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian

juga menjelaskan tentang faktor-faktor pendukung penyelenggaraan

(20)

Gambar 1. Pola Umum Penyelenggaraan Pengelolaan DAS Terpadu Strategi Kebijakan Program Kegiatan TUJUAN (GOAL) Sasaran (Objectives) ISU

(critical issues) Sumberdaya DAS

Struktur Masalah Hipotesis (hyphotetical underlying causes)

Data dan Informasi DAS Luaran (outputs Hasil (outcomes) Struktur Masalah (underlying causes) Kajian Kendala-kendala Kajian Pelaksanaan Kegiatan Monitoring dan Evaluasi Rencana Kelembagaan Pelaksanaan dan Monev

Pelaksanaan Luaran (outputs Hasil (outcomes) U m pan B alik Pe ren ca naan Kriteria & Indikator Kriteria & Indikator Pihak Terkait Rencana Program dan Kegiatan Pihak-pihak Terkait Kebijakan Pemerintah Provinsi dan Nasional dalam Pengelolaan

(21)

A. Perencanaan

Salah satu tahapan penyelenggaraan pengelolaan DAS terpadu adalah perencanaan yang komprehensif yang mengakomodasikan berbagai kepentingan multipihak dalam satu DAS/SWP DAS. Karena jumlah DAS yang harus ditangani di Indonesia jumlahnya sangat banyak sedangkan sumberdaya terutama dana sangat terbatas maka perencanaan pengelolaan DAS harus memperhatikan urutan DAS prioritas. Kriteria tentang penetapan urutan DAS prioritas antara lain lahan, hidrologi, sosial ekonomi dan pola pemanfaatan kawasan. Prosedur penetapan urutan DAS prioritas diatur dengan Peraturan Menteri Kehutanan tersendiri.

Perencanaan setiap DAS menghasilkan Dokumen Rencana Pengelolaan DAS Terpadu yang bersifat jangka panjang (20 tahun). Rencana pengelolaan DAS terpadu yang mengacu pada kaidah-kaidah “satu DAS, satu rencana, dan satu sistem pengelolaan”, harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1. Proses perencanaan pengelolaan DAS terpadu melibatkan lembaga terkait

(para pihak) secara berjenjang dari pusat hingga daerah.

Berdasarkan PP Nomor 38 Tahun 2007, penyusunan rencana pengelolaan DAS terpadu merupakan urusan Pemerintah. Untuk DAS dalam satu kabupaten/kota dilakukan oleh Pemerintah dengan melibatkan lembaga koordinasi pengelolaan DAS kabupaten/kota. Pada DAS lintas kabupaten/kota dilakukan oleh Pemerintah dengan melibatkan lembaga koordinasi pengelolaan DAS provinsi dengan memperhatikan saran dan

masukan dari lembaga koordinasi pengelolaan DAS tingkat

kabupaten/kota. Sedangkan penyusunan rencana DAS lintas provinsi dilakukan oleh Pemerintah dengan melibatkan lembaga koordinasi pengelolaan DAS Nasional dengan mempertimbangkan saran dan masukan dari lembaga koordinasi pengelolaan DAS tingkat provinsi. Pemerintah provinsi memberikan pertimbangan teknis dalam penyusunan rencana pengelolaan DAS lintas kabupaten/kota dan DAS lintas provinsi. Pemerintah kabupaten/kota memberikan pertimbangan teknis dalam penyusunan rencana pengelolaan DAS dalam satu kabupaten/kota dan DAS lintas kabupaten/kota dalam satu provinsi.

2. Perencanaan pengelolaan DAS mencakup wilayah pengelolaan

sumberdaya dari hulu sampai hilir suatu DAS.

Perencanaan pengelolaan DAS terpadu memperlakukan DAS secara utuh dari hulu sampai hilir sebagai unit wilayah perencanaan. Dengan konsep pengelolaan sumberdaya berbasis ekosistem ini maka diperlukan kajian keterkaitan antar kegiatan pengelolaan sumberdaya serta dampak

(22)

biofisik, sosial dan ekonomi yang ditimbulkannya sehingga memungkinkan untuk mengukur keberlanjutan pengelolaan sumberdaya yang dilakukan melalui kriteria dan indikator tertentu.

Dalam ekosistem DAS, bagian hulu merupakan bagian yang penting karena mempunyai fungsi perlindungan terhadap keseluruhan ekosistem DAS terutama dari segi fungsi dan stabilitas tata air. Dengan adanya bentuk keterkaitan biofisik (melalui daur hidrologi) antara daerah hulu dan hilir, maka karakteristik biofisik suatu DAS harus dimanfaatkan sebagai informasi penting dalam perencanaan pengelolaan DAS terutama untuk menentukan hubungan kausalitas spasial dalam pengelolaan DAS terpadu.

3. Perencanaan pengelolaan DAS dilakukan secara partisipatif dan adaptif. Proses pembuatan keputusan yang menyangkut rencana pengelolaan DAS harus melibatkan para pihak yang terkait dengan pengelolaan DAS, termasuk masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi sumberdaya yang dikelola. Partisipasi para pihak terkait dalam perencanaan pengelolaan DAS terutama ditujukan untuk menyamakan persepsi, konsep, tujuan dan program bersama dalam pengelolaan DAS terpadu. Dengan adanya persamaan pandangan tersebut diharapkan rencana pengelolaan DAS terpadu yang disusun dapat disepakati dan dilaksanakan oleh para pihak sesuai dengan tugas dan kewenangannya masing-masing.

Rendahnya keterlibatan masyarakat, dalam pembuatan keputusan dan pengelolaan sumberdaya, seringkali menimbulkan berbagai konflik antara pemerintah dan/atau dunia usaha dan masyarakat. Konflik-konflik yang terjadi tersebut selain mempengaruhi keberlanjutan usaha pemanfaatan sumberdaya, juga dapat mengakibatkan menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat. Untuk itu, dalam pengelolaan sumberdaya alam DAS perlu ditekankan pentingnya partisipasi masyarakat. Partisipasi tersebut perlu ditata secara proporsional sesuai dengan kapasitasnya masing-masing dan dilakukan oleh wakil-wakil masyarakat yang ditentukan melalui mekanisme yang sesuai dengan sistem adat budaya lokal (prinsip keterwakilan).

Perencanaan dan pelaksanaan rencana selalu dalam kondisi keterbatasan dan dilaksanakan dalam situasi yang selalu berubah/dinamis, baik dalam hal sumberdaya, pengetahuan atas perilaku sistem maupun kejadian-kejadian alamiah. Dalam setiap perencanaan, termasuk perencanaan pengelolaan DAS, selalu digunakan asumsi karena menyadari adanya faktor dinamika tersebut di atas. Oleh karenanya,

(23)

meskipun tidak dapat dipastikan, asumsi seharusnya bersifat realistik dan dapat diterima. Menggunakan asumsi yang tidak mungkin terpenuhi akan mengakibatkan rencana tidak dapat diimplementasikan. Kejadian-kejadian yang tidak diperkirakan dalam perencanaan perlu mendapat respons, sehingga rencana pada dasarnya bersifat dinamik, adaptif terhadap perubahan yang terjadi.

4. Hasil rencana pengelolaan DAS terpadu disahkan oleh gubernur dan

bupati/walikota

Untuk dapat “mengikat” komitmen para pihak dalam melaksanakan kesepakatan yang telah dituangkan dalam perencanaan pengelolaan DAS terpadu yang dilaksanakan secara partisipatif dan adaptif, maka hasil perencanaan tersebut harus dilegalisir oleh penyelenggara negara (pemerintah) sesuai dengan tingkat kewenangannya. Rencana pengelolaan DAS terpadu untuk DAS lintas provinsi disahkan oleh gubernur provinsi terkait dengan surat keputusan bersama gubernur; rencana pengelolaan DAS terpadu tingkat kabupaten/kota dalam satu provinsi disahkan oleh gubernur; dan rencana pengelolaan DAS terpadu dalam satu kabupaten/kota disahkan oleh bupati/walikota.

Rencana pengelolaan DAS terpadu yang tertuang dalam dokumen yang telah disahkan harus menjadi rujukan resmi bagi setiap pihak yang melakukan kegiatan pengelolaan DAS.

Penyusunan rencana pengelolaan DAS terpadu secara umum meliputi aktivitas: inventarisasi karakteristik dan isu pokok DAS, identifikasi kebijakan dan stakeholders, analisis masalah, penetapan tujuan, penetapan sasaran, perumusan strategi pencapaian tujuan (kebijakan, program dan kegiatan), penetapan kriteria dan indikator, perumusan kelembagaan, penganggaran, serta perencanaan monitoring dan evaluasi. Penyusunan rencana pengelolaan DAS terpadu mengacu kepada Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan DAS Terpadu.

B. Pengorganisasian

1. Identifikasi dan Pemetaan Para Pihak, Fungsi dan Peran

Adanya koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan sinergi (KISS) antara para pihak dalam pengelolaan sumberdaya alam DAS merupakan pra-kondisi untuk mewujudkan tujuan pengelolaan DAS Terpadu. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan masing-masing pihak dalam pengelolaan DAS harus terorganisir dan terintegrasi secara kokoh, satu dengan lainnya. Hal ini dapat diwujudkan hanya bila ada pembagian peran dan fungsi yang jelas antara para pihak.

(24)

Untuk itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi para pihak, fungsi dan perannya dalam pengelolaan DAS Terpadu. Hasil identifikasi tersebut dipetakan dalam ‘Matrik Identifikasi

Para Pihak, Fungsi dan Peran’.

2. Kesepakatan Fungsi dan Peran Para Pihak

Secara bersama-sama, para pihak melakukan penelaahan terhadap isi

Matrik Identifikasi Para Pihak, Fungsi dan Peran’ yang telah

dirumuskan sebelumnya. Penelaahan ditujukan untuk mengidentifikasi bagian mana yang menjadi atau kemungkinan akan menjadi konflik kepentingan ataupun masalah koordinasi antar pihak.

Selanjutnya, para pihak harus melakukan musyawarah membahas isi matrik konflik tersebut, guna mencari solusi untuk mensinkronkan fungsi dan peran para pihak yang terlibat dalam pengelolaan DAS. Musyawarah harus diusahakan menghasilkan kesepakatan bersama mengenai pembagian fungsi dan peran yang kondusif bagi penyelenggaraan Pengelolaan DAS Terpadu. Hasil penelaahan konflik dan kesepakatan terhadap solusi konflik tersebut dituangkan dalam suatu Matrik Konflik

dan Kesepakatan Fungsi dan Peran Para Pihak’. Keterlibatan

masing-masing pihak dalam penyelenggaraan Pengelolaan DAS Terpadu harus sesuai dengan kesepakatan yang ditetapkan dalam matrik ini.

Matrik-matrik tersebut di atas merupakan dokumen vital bagi pelaksanaan kerjasama para pihak dalam penyelenggaraan Pengelolaan DAS Terpadu. Untuk menjaga autensititasnya, maka para pihak harus membubuhkan tandatangannya pada setiap matrik tersebut. Matrik yang telah ditandatangani oleh para pihak ini harus diperlakukan sebagai satu kesatuan dengan seluruh dokumen rencana pengelolaan DAS terpadu yang menjadi landasan hukum dalam penyelengaraan Pengelolaan DAS Terpadu dalam wilayah DAS yang menjadi objek kerjasama.

3. Struktur Kelembagaan Beserta Fungsi dan Perannya dalam Pengelolaan DAS Terpadu

Adanya kesepakatan mengenai fungsi dan peran para pihak dalam pengelolaan DAS belum tentu akan efektif mencegah kemungkinan terjadinya masalah pertentangan kepentingan dan masalah koordinasi. Meskipun sudah ada kesepakatan mengenai hal tersebut, konflik dan masalah koordinasi akan selalu muncul bila masing-masing pihak bertindak langsung secara individual melaksanakan fungsi dan perannya dalam pengelolaan DAS.

(25)

Kesepakatan akan berguna mencegah terjadinya konflik dan masalah koordinasi dalam pengelolaan DAS hanya bila masing-masing pihak melaksanakan fungsi dan perannya melalui suatu struktur kelembagaan yang telah disepakati. Untuk itu, kelembagaan yang tepat untuk memfasilitasi keterlibatan para pihak ini adalah lembaga koordinasi pengelolaan DAS. Lembaga koordinasi pengelolaan DAS dapat berupa forum, badan, dewan atau nama lain yang bersifat independen. Struktur kelembagaannya disusun sebagai berikut ini:

a. Lembaga Koordinasi Pengelolaan DAS Tingkat Nasional (LK-PDAS

Nasional)

Pada tingkat nasional, dibentuk Lembaga Kordinasi Pengelolaan DAS Tingkat Nasional (LK-PDAS Nasional) atau dengan nama lain yang ditetapkan oleh Menteri Negara yang membidangi koordinasi kebijakan perencanaan pembangunan nasional.

Lembaga Koordinasi Pengelolaan DAS tingkat Nasional bersifat non struktural, berada di bawah dan bertanggungjawab langsung kepada Menteri Negara yang membidangi koordinasi kebijakan perencanaan pembangunan nasional. Keanggotaan LK-PDAS Nasional terdiri dari unsur pemerintah (para pimpinan departemen terkait), dan unsur bukan pemerintah seperti tokoh-tokoh nasional, pemerhati masalah-masalah DAS, LSM yang bergerak dalam penanganan masalah-masalah DAS pada level nasional, serta para pakar dari perguruan tinggi nasional dan lembaga penelitian, seperti LIPI dan BPPT yang mempunyai kepentingan dengan DAS. Sebaiknya, ketua forum dipilih secara demokratis dari para anggota forum.

Koordinasi Pengelolaan DAS Tingkat Nasional mempunyai tugas membantu Pemerintah dalam:

1) merumuskan kebijakan nasional dan strategi pengelolaan DAS;

2) memberikan pertimbangan untuk penetapan DAS prioritas nasional;

3) melaksanakan koordinasi dan konsultasi untuk memadukan dan

menyelaraskan kepentingan antar sektor dan antar provinsi;

4) menyusun rencana pengelolaan DAS terpadu untuk DAS lintas

provinsi

5) melaksanakan koordinasi dan konsultasi terhadap Lembaga

Koordinasi Pengelolaan DAS tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota;

(26)

6) memfasilitasi pembiayaan pengelolaan DAS yang bersumber dari dunia usaha dan masyarakat secara transparan dan akuntabel.

7) melaksanakan pengendalian terhadap penggunaan dan pemanfaatan

lahan yang dilakukan oleh instansi sektoral, badan usaha dan masyarakat untuk DAS dalam lintas provinsi.

b. Lembaga Koordinasi Pengelolaan DAS Tingkat Provinsi (LK-PDAS Provinsi)

Lembaga Koordinasi Pengelolaan DAS Tingkat Provinsi dibutuhkan untuk membantu pengelolaan DAS yang mencakup wilayah lebih dari satu kabupaten/kota dalam provinsi yang sama. Lembaga ini ditetapkan oleh gubernur.

Lembaga Koordinasi Pengelolaan DAS tingkat Provinsi bersifat non struktural, berada di bawah dan bertanggungjawab langsung kepada gubernur. Keanggotaan LK-PDAS terdiri dari unsur pemerintah daerah (para pimpinan dinas terkait) dan unsur bukan pemerintah seperti para tokoh-tokoh provinsi, pemerhati/pakar masalah-masalah DAS setempat, LSM yang bergerak dalam penanganan masalah-masalah DAS pada level provinsi, para pakar dari perguruan tinggi setempat. Ketua LK-PDAS dipilih secara demokratis dari para anggotanya.

Lembaga Koordinasi Pengelolaan DAS tingkat Provinsi mempunyai tugas membantu gubernur dalam:

1) Menjabarkan kebijakan nasional dalam pengelolaan DAS dan

merumuskan kebijakan dan strategi pengelolaan DAS lintas kabupaten/kota;

2) melaksanakan koordinasi dan konsultasi untuk memadukan dan

menyelaraskan kepentingan antar sektor, antar wilayah dan para pemilik kepentingan lainnya dalam pengelolaan DAS lintas kabupaten/kota;

3) memberikan pertimbangan teknis dalam penyusunan rencana

pengelolaan DAS terpadu untuk DAS lintas provinsi dan DAS lintas kabupaten/kota;

4) memfasilitasi pembiayaan pengelolaan DAS yang bersumber dari

dunia usaha dan masyarakat secara transparan dan akuntabel.

5) melaksanakan pengendalian terhadap penggunaan dan pemanfaatan

lahan yang dilakukan oleh instansi sektoral, badan usaha dan masyarakat untuk DAS lintas kabupaten/kota.

(27)

c. Lembaga Koordinasi Pengelolaan DAS Tingkat Kabupaten/Kota (LK-PDAS Kabupaten/Kota)

Lembaga Koordinasi Pengelolaan DAS di tingkat kabupaten/kota dibutuhkan untuk pengelolaan DAS yang mencakup wilayah satu kabupaten/kota dalam provinsi yang sama. Lembaga Kordinasi

Pengelolaan DAS Tingkat Kabupaten/Kota (LK-PDAS

Kabupaten/Kota) ditetapkan oleh bupati/walikota.

Lembaga Koordinasi Pengelolaan DAS tingkat kabupaten/kota bersifat non struktural, berada di bawah dan bertanggung jawab

langsung kepada bupati/walikota. Keanggotaan LK-PDAS

Kabupaten/Kota terdiri dari unsur pemerintah daerah (pimpinan dinas teknis terkait dengan pengelolaan DAS) dan unsur bukan pemerintah seperti tokoh-tokoh setempat, pemerhati/pakar masalah-masalah DAS setempat, LSM yang bergerak dalam penanganan masalah-masalah DAS pada level kabupaten/kota, perguruan tinggi setempat. Ketua LK-PDAS kabupaten/kota dipilih secara demokratis dari para anggota forum.

Lembaga Koordinasi Pengelolaan DAS tingkat Kabupaten/Kota mempunyai tugas membantu bupati/walikota dalam:

1) merumuskan kebijakan dan strategi pengelolaan DAS di dalam

kabupaten/kota;

2) melaksanakan koordinasi dan konsultasi untuk memadukan dan

menyelaraskan kepentingan antar sektor dan para pemilik

kepentingan lainnya dalam pengelolaan DAS di dalam

kabupaten/kota;

3) memberikan pertimbangan teknis dalam penyusunan rencana

pengelolaan DAS terpadu untuk DAS di dalam kabupaten/kota;

4) memfasilitasi pembiayaan pengelolaan DAS yang bersumber dari

dunia usaha dan masyarakat secara transparan dan akuntabel.

5) melaksanakan pengendalian terhadap penggunaan dan pemanfaatan

lahan yang dilakukan oleh instansi sektoral, badan usaha dan masyarakat untuk DAS dalam satu kabupaten/kota.

d. Struktur Organisasi Internal Lembaga Koordinasi Pengelolaan DAS (LK-PDAS)

Efektivitas LK-PDAS dalam melaksanakan fungsinya sebagai sarana koordinasi sangat menentukan keberhasilan penyelenggaraan

(28)

Pengelolaan DAS Terpadu mencapai tujuannya. Untuk mengefektifkan fungsi LK-PDAS sebagai sarana koordinasi, maka lembaga ini harus mempunyai organisasi birokratis yang kompeten dalam mendukung

perannya sebagai sarana koordinasi dalam penyelenggaraan

Pengelolaan DAS Terpadu.

Kondisi dan karakteristik sosial, ekonomi dan fisik DAS berbeda antara satu lokasi dengan lokasi lainnya. Oleh karena itu, adalah tidak tepat untuk membuat suatu desain organisasi LK-PDAS yang berlaku untuk semua DAS. Agar dapat berperan secara optimal, maka struktur organisasi internal LK-PDAS harus disesuaikan dengan kebutuhan setempat. Para pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pengelolaan DAS terpadu harus memutuskan secara musyawarah desain struktur organisasi LK-PDAS.

Dalam struktur organisasi yang disepakati, harus ditetapkan secara jelas dan tegas mengenai tugas dan fungsi dari setiap elemen organisasi dan harus ada uraian yang jelas mengenai jalur otoritas dan komunikasi dalam struktur organisasi tersebut. Jabatan-jabatan dalam organisasi diisi oleh para pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pengelolaan DAS terpadu.

e. Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) LK-PDAS

Kedudukan, fungsi, mekanisme kerja, struktur organisasi internal dan pembiayaan LK-PDAS perlu diatur dalam Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART). Para pihak perlu melakukan musyawarah untuk merumuskan AD/ART secara bersama-sama. AD/ART yang telah disepakati perlu dikonsultasikan dengan pemerintah setempat.

6. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sebagai Kelembagaan Implementatif yang Bersifat Sektoral dalam Pengelolaan DAS

Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) merupakan kelembagaan implementatif yang bersifat sektoral dalam pengelolaan DAS. Sebagai pelaksana di lapangan, maka SKPD harus mensinkronkan rencana kegiatannya dengan rencana pengelolaan DAS terpadu yang telah disahkan pemerintah tersebut.

Sebelum mengajukan usulan kegiatannya yang terkait dengan pengelolaan DAS ke instansi yang menjadi atasannya, maka usulan tersebut harus dikonsultasikan dengan lembaga koordinasi pengelolaan DAS yang terkait untuk dilihat konsistensinya dengan rencana pengelolaan DAS terpadu yang telah disahkan.

(29)

7. Peran Lembaga Koordinasi Pengelolaan DAS Terpadu (LK-PDAS) dalam Kegiatan Monitoring dan Evaluasi (MONEV)

Kegiatan monitoring dan evaluasi (MONEV) merupakan sarana untuk mengawasi pelaksanaan pengelolaan DAS agar tidak menyimpang dari rencana pengelolaan DAS terpadu yang telah disepakati dan disahkan. Kegiatan MONEV dilaksanakan oleh anggota LK-PDAS yang memiliki tugas dan fungsi monitoring dan evaluasi DAS seperti BPDAS, Bapedalda, Balai Pengelolaan Sumberdaya Air, Dinas Kesehatan. Meskipun demikian, untuk menjaga objektivitas MONEV, maka LK-PDAS dapat bekerjasama dengan lembaga lain yang bersifat independen yang memiliki kapasitas dan kapabilitas dalam hal tersebut. Hasil MONEV dilaporkan kepada pemerintah dan lembaga koordinasi untuk dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam mengevaluasi dan memperbaiki rencana dan pelaksanaan pengelolaan DAS terpadu di masa yang akan datang.

C.Pelaksanaan Pengelolaan DAS

Pengelolaan DAS terpadu pada dasarnya adalah pengelolaan semua kegiatan dalam suatu DAS secara rasional, partisipatif dan integratif sedemikian rupa sehingga diperoleh manfaat secara lestari atau berkelanjutan

(sustainable) dalam arti tidak terjadi kerusakan atau penurunan kualitas

sumberdaya alam (hutan atau vegetasi, lahan, dan air).

Karena DAS merupakan suatu sistem hidrologi maka bagian-bagian dalam DAS mulai dari bagian hulu sampai hilir mempunyai hubungan saling ketergantungan yang sangat kuat secara hidrologis. Oleh sebab itu suatu kegiatan di salah satu bagian akan berpengaruh pada bagian lain terutama bagian hilirnya sehingga setiap kegiatan seyogyanya mempertimbangkan kepentingan bagian hilirnya agar tidak terjadi kerusakan/penurunan kualitas SDA baik di bagian itu sendiri maupun di bagian hilirnya. Keterpaduan pemikiran antara bagian hulu, tengah, dan hilir serta antara kegiatan fisik, sosial/budaya dan ekonomi politik di seluruh bagian DAS tersebut harus menjadi prinsip dalam pengelolaan suatu DAS. Dengan demikian setiap kegiatan pengelolaan DAS harus mengikuti kriteria teknis sektoral dan persyaratan kelestarian ekosistem DAS. Kriteria teknis sektoral adalah ukuran yang digunakan untuk menilai suatu kegiatan teknis sektor tertentu, sedangkan persyaratan kelestarian ekosistem DAS adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi guna terwujudnya kondisi ekosistem DAS yang lestari. Kegiatan pengelolaan DAS harus mewujudkan keserasian, keselarasan dan keseimbangan hubungan antara ketersediaan dan pemanfaatan SDA serta antara bagian hulu dan hilir DAS dalam rangka meningkatkan daya guna dan hasil guna SDA secara berkelanjutan.

(30)

Pelaksanaan kegiatan pengelolaan DAS adalah implementasi rencana pengelolaan DAS terpadu oleh instansi teknis sektoral (Pemerintah, Satuan Kerja Perangkat Daerah/SKPD Provinsi/Kabupaten/Kota), Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) serta masyarakat sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing. Para pihak tersebut dalam pelaksanaan kegiatan pengelolaan DAS didasarkan kepada rencana operasional masing-masing yang mengacu dan/atau menjabarkan rencana pengelolaan DAS terpadu. Dengan demikian program dan kegiatan masing-masing pihak tersebut mendukung pencapaian tujuan dan sasarannya sekaligus mendukung pencapaian tujuan pengelolaan DAS terpadu yang telah disepakati bersama.

Pola umum pelaksanaan pengelolaan DAS terpadu antara lain meliputi pemanfaatan dan penggunaan; restorasi, rehabilitasi, dan reklamasi; serta konservasi sumberdaya alam (hutan, lahan, dan air) yang dilaksanakan pada kawasan lindung dan budidaya di bagian hulu dan hilir suatu DAS dengan penjelasan sebagai berikut:

1. Pelaksanaan Pengelolaan DAS pada Kawasan Budidaya di Bagian Hulu

DAS

a. Pemanfaatan dan Penggunaan Hutan, Lahan dan Air harus:

1) Selaras dengan arahan fungsi ruang di kawasan budidaya dan sesuai dengan RTRW Provinsi dan kabupaten/kota yang telah disahkan;

2) Pemanfaatan dan penggunaan hutan, lahan dan air harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku;

3) Menunjang terwujudnya luas penutupan vegetasi tetap paling

sedikit 30 (tiga puluh) % dari luas DAS;

4) Mencegah terjadinya banjir, kekeringan, tanah longsor, dan erosi tanah dengan menerapkan teknik konservasi tanah dan air secara memadai termasuk kearifan lokal;

5) Meningkatkan produktivitas hutan dan/atau lahan sesuai dengan daya dukungnya;

6) Membatasi luas penggunaan lahan untuk bangunan agar daerah

resapan air lebih terjamin.

b. Restorasi, Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan dan Lahan harus:

1) Selaras dengan program pembangunan wilayah yang telah

(31)

2) Meningkatkan produktivitas hutan dan lahan dengan menerapkan teknologi tepat guna;

3) Mencegah terjadinya banjir, kekeringan, tanah longsor dan erosi tanah dengan menerapkan teknik konservasi tanah dan air yang memadai termasuk kearifan lokal;

4) Menunjang memulihkan unsur biotik dan abiotik kawasan hutan melalui peningkatan tutupan vegetasi hutan dan kemampuan lahan di areal bekas pertambangan.

c. Konservasi Hutan, Tanah dan Air harus:

1) Selaras dengan program pembangunan wilayah yang telah

disahkan;

2) Meningkatkan produktivitas hutan dan lahan dengan menerapkan teknologi tepat guna;

3) Mencegah terjadinya banjir, kekeringan, tanah longsor dan erosi tanah dengan menerapkan teknik konservasi tanah dan air yang memadai termasuk kearifan lokal;

4) Mencegah perambahan hutan, kebakaran hutan dan pencurian flora

dan fauna;

5) Mencegah terjadinya polusi/pencemaran tanah dan air;

6) Meningkatkan kegiatan pelestarian hutan dan keanekaragaman

hayati.

2. Pelaksanaan Pengelolaan DAS pada Kawasan Budidaya di Bagian Hilir DAS

a. Pemanfaatan dan Penggunaan Hutan, Lahan dan Air harus:

1) Selaras dengan fungsi ruang di kawasan budidaya sesuai RTRW provinsi dan kabupaten/kota yang telah disahkan;

2) Menunjang terwujudnya luas penutupan vegetasi tetap paling

sedikit seluas 30 (tiga puluh) % dari luas DAS;

3) Mencegah terjadinya banjir, kekeringan, genangan air dan

penurunan kualitas air dengan menerapkan teknik konservasi tanah dan air yang memadai;

4) Meningkatkan produktivitas hutan dan/atau lahan sesuai dengan daya dukungnya.

(32)

b. Restorasi Hutan, Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan dan Lahan harus:

1) Selaras dengan program pembangunan wilayah yang telah

disahkan;

2) Meningkatkan produktivitas hutan dan lahan dengan menerapkan teknologi yang tepat guna;

3) Mencegah terjadinya banjir, kekeringan, dan sedimentasi dengan menerapkan teknik konservasi tanah dan air yang memadai;

4) Menunjang memulihkan unsur biotik dan abiotik kawasan hutan melalui peningkatan tutupan vegetasi hutan dan kemampuan lahan di areal bekas pertambangan.

c. Konservasi Hutan, Tanah dan Air harus:

1) Selaras dengan program pembangunan wilayah yang telah

disahkan;

2) Meningkatkan produktivitas hutan dan lahan dengan menerapkan teknologi tepat guna;

3) Mencegah terjadinya banjir, kekeringan, tanah longsor dan erosi tanah dengan menerapkan teknik konservasi tanah dan air yang memadai termasuk kearifan lokal;

4) Mencegah perambahan hutan, kebakaran hutan dan pencurian flora

dan fauna;

5) Mencegah terjadinya polusi/pencemaran tanah dan air;

6) Meningkatkan kegiatan pelestarian hutan dan keanekaragaman

hayati.

3. Pelaksanaan Pengelolaan DAS pada Kawasan Lindung di Bagian Hulu

DAS

a. Pemanfaatan dan Penggunaan Hutan, Lahan dan Air harus:

1) Selaras dengan arahan fungsi ruang di kawasan lindung sesuai dengan RTRW Provinsi dan kabupaten/kota yang telah disahkan. 2) Pemanfaatan dan penggunaan hutan, lahan dan air harus sesuai

dengan ketentuan yang berlaku;

3) Mempertahankan dan memperbaiki kondisi tata air DAS.

Pemanfaatan agar dapat mendukung kuantitas, kualitas dan distribusi air dalam DAS sepanjang tahun;

(33)

4) Menunjang pencegahan terjadinya banjir, kekeringan, tanah longsor dan erosi tanah dengan menerapkan teknik konservasi tanah dan air yang memadai termasuk kearifan lokal

5) Meningkatkan luas penutupan vegetasi tetap agar tercapai luas penutupan vegetasi tetap semaksimal mungkin di bagian hulu DAS;

b. Restorasi Hutan, Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan dan Lahan harus:

1) Selaras dengan program pembangunan wilayah yang telah

disahkan;

2) Meningkatkan produktivitas hutan dan lahan dengan menerapkan teknologi tepat guna;

3) Mencegah terjadinya banjir, kekeringan, erosi dan tanah longsor dengan menerapkan teknik konservasi tanah dan air yang memadai termasuk kearifan lokal;

4) Menunjang pemulihan unsur biotik dan abiotik kawasan hutan melalui peningkatan tutupan vegetasi hutan dan kemampuan lahan di areal bekas pertambangan.

c. Konservasi Hutan, Tanah dan Air harus:

1) Selaras dengan program pembangunan wilayah yang telah

disahkan;

2) Melindungi dan melestarikan kualitas sumberdaya hutan, lahan dan air dengan menerapkan teknik konservasi hutan, tanah dan air yang memadai termasuk kearifan lokal;

3) Mencegah terjadinya polusi/pencemaran tanah dan air;

4) Meningkatkan peran serta dan memberdayakan masyarakat dalam

pemanfaatan hasil hutan bukan kayu termasuk jasa lingkungan sehingga terwujud kelestarian hutan.

4. Pelaksanaan Pengelolaan DAS pada Kawasan Lindung di Bagian Hilir

DAS

a. Pemanfaatan dan Penggunaan Hutan, Lahan dan Air harus:

1) Selaras dengan arahan fungsi ruang di kawasan lindung sesuai RTRW provinsi dan kabupaten/kota yang telah disahkan;

2) Mempertahankan dan memperbaiki kondisi tata air DAS;

3) Mampu meningkatkan kuantitas, kualitas dan distribusi air dalam

(34)

4) Mencegah terjadinya banjir, genangan, kekeringan dan sedimentasi dengan menerapkan teknik konservasi tanah dan air yang memadai termasuk kearifan lokal;

5) Meningkatkan luas penutupan vegetasi tetap semaksimal mungkin

di kawasan lindung;

6) Meningkatkan dan mempertahankan penutupan hutan mangrove

untuk mencegah abrasi pantai dan intrusi air laut;

7) Meningkatkan peran serta dan memberdayakan masyarakat dalam

melestarikan kawasan lindung.

b. Restorasi Hutan, Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan dan Lahan harus:

1) Selaras dengan program pembangunan wilayah yang telah

disahkan;

2) Meningkatkan produktivitas hutan dan lahan dengan menerapkan

teknologi yang tepat guna;

3) Mencegah terjadinya banjir, kekeringan, erosi dan tanah longsor dengan menerapkan teknik konservasi tanah dan air yang memadai termasuk kearifan lokal;

4) Menunjang pemulihan unsur biotik dan abiotik kawasan hutan

melalui peningkatan tutupan vegetasi hutan dan kemampuan lahan di areal bekas pertambangan.

c. Konservasi Hutan, Tanah dan Air harus:

1) Selaras dengan program pembangunan wilayah yang telah

disahkan;

2) Melindungi dan melestarikan kualitas sumberdaya hutan, lahan dan air dengan menerapkan teknik konservasi hutan, tanah dan air yang memadai termasuk kearifan lokal;

3) Mencegah terjadinya polusi/pencemaran tanah dan air;

4) Meningkatkan peran serta dan memberdayakan masyarakat dalam

pemanfaatan hasil hutan bukan kayu termasuk jasa lingkungan sehingga terwujud kelestarian hutan dan keanekaragaman hayati.

5) Mencegah perambahan hutan, kebakaran hutan dan pencurian

flora dan fauna;

6) Meningkatkan dan mempertahankan penutupan hutan mangrove

(35)

D.Pengendalian

Pengendalian sebagai tindakan pencegahan diperlukan dalam rangka menjaga tertib penyelenggaraan pengelolaan DAS, sehingga berbagai penyimpangan dalam setiap tahap penyelenggaraan pengelolaan DAS dapat dihindari. Dengan demikian pengendalian tidak hanya terbatas pada tindakan korektif seperti restorasi, rehabilitasi dan reklamasi terhadap sumber daya yang telah terdegradasi.

Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya melakukan pengendalian terhadap pelaksanaan pengelolaan DAS terpadu, yang dalam pelaksanaannya dibantu oleh Lembaga Koordinasi Pengelolaan DAS atau forum DAS sebagai wakil pemangku kepentingan.

Pengendalian kegiatan pengelolaan DAS dilakukan melalui kegiatan pengawasan dan penertiban yang meliputi aspek administrasi, teknis, finansial/pendanaan dan kelembagaan. Pelaksanaan pengendalian harus berdasarkan prinsip-prinsip transparansi, adil, demokratis dan akuntabel.

Pengawasan dan penertiban dilakukan terhadap pelaksanaan kegiatan pengelolaan DAS dalam kawasan budidaya dan kawasan lindung di bagian hulu dan hilir DAS dengan sasaran institusi/lembaga dan masyarakat. Kegiatan pengawasan dan penertiban harus terkait langsung dengan hak dan tanggung-jawab para pihak, serta dapat menghindari terjadinya sengketa dan memberi sanksi terhadap suatu pelanggaran.

Pengawasan bertujuan untuk mewujudkan kesesuaian rencana pengelolaan DAS terpadu dengan realisasi pelaksanaan kegiatan masing-masing sektor pembangunan. Para pejabat menurut kewenangannya melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pengelolaan DAS terpadu, yang dalam pelaksanaannya dibantu oleh lembaga koordinasi atau forum pengelolaan DAS.

Pengawasan terhadap pelaksanaan pengelolaan DAS diselenggarakan dalam bentuk pemantauan, evaluasi dan pelaporan. Pengawasan harus dilaksanakan menurut hirarki penatalaksanaan (governance) kegiatan dan mengikuti pedoman-pedoman yang terkait dengan pengelolaan DAS.

Penertiban bertujuan untuk mewujudkan ketertiban pelaksanaan

pengelolaan DAS, dan untuk menegakkan aturan (law enforcement).

Penertiban dilakukan melalui pemeriksaan dan penyelidikan atas pelanggaran terhadap pelaksanaan yang menyimpang/tidak sesuai dengan rencana pengelolaan DAS terpadu dan/atau peraturan perundangan yang terkait. Penegakan hukum dilakukan oleh instansi sesuai dengan kewenangannya.

(36)

E. Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan

Pemantauan, evaluasi dan pelaporan merupakan rangkaian proses pengawasan yang berperan sebagai masukan dan umpan balik untuk efektifnya penyelenggaraan pengelolaan DAS. Berfungsinya pemantauan dan evaluasi yang efektif yang memenuhi tuntutan standar kriteria dan indikator kinerja pengelolaan DAS akan turut memberi jaminan berjalannya fungsi pengendalian pengelolaan DAS.

Pemantauan pengelolaan DAS adalah proses pengamatan dan pencatatan data dan fakta yang dapat digunakan untuk mengukur kriteria dan indikator kinerja pengelolaan yang pelaksanaannya dilakukan secara periodik dan terus-menerus terhadap: jalannya kegiatan, penggunaan input, hasil kegiatan (output), dampak kegiatan (impact and outcome) dan faktor luar atau kendala. Pelaksanaan pemantauan dilakukan oleh unit pemantauan dan evaluasi (monev) internal maupun oleh para pihak (stakeholders) terhadap seluruh rangkaian kegiatan pengelolaan DAS, yang meliputi aspek: biofisik, sosial, ekonomi dan kelembagaan

Evaluasi pengelolaan DAS adalah penilaian terhadap kinerja program kegiatan melalui proses analisis data dan fakta dari hasil pemantauan, yang pelaksanaannya dilakukan menurut kepentingannya mulai dari penyusunan

rencana program, pelaksanaan program (post evaluation), dan

pengembangan program pengelolaan DAS. Evaluasi meliputi proses pengumpulan data dan informasi secara sistematis (dengan metode tertentu), serta analisisnya untuk menilai kinerja pengelolaan DAS dan/atau kinerja

DAS. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan pencapaian

sasaran/kinerja dengan rencana, atau antara realisasi dengan kriteria dan standar pengelolaan DAS yang telah ditentukan.

Evaluasi pengelolaan DAS dapat dilaksanakan oleh unit MONEV internal, tetapi sebaiknya perlu dilakukan oleh pihak ketiga secara objektif dan tidak bias. Evaluasi kinerja pengelolaan DAS meliputi aspek perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian dengan kriteria penilaian mencakup ekosistem, kelembagaan, teknologi dan dana. Sedangkan evaluasi kinerja DAS (kesehatan DAS) meliputi aspek biofisik, sosial, ekonomi dan kelembagaan dibandingkan dengan kriteria standar yang telah ditetapkan.

Laporan pemantauan dan evaluasi pengelolaan DAS disampaikan secara berkala kepada pejabat yang berwenang untuk digunakan sebagai dasar fungsi pengendalian. Azas transparansi menghendaki bahwa laporan ini juga terbuka bagi publik, yang selanjutnya dapat menjalankan fungsi kendalinya terhadap kinerja aparat terkait.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :