PEMANFAATAN EKSTRAK TAUGE KACANG HIJAU (Phaseolus radiatus) SEBAGAI PUPUK UNTUK MENINGKATKAN POPULASI Spirulina sp.
SKRIPSI
PROGRAM STUDI S – 1 BUDIDAYA PERAIRAN
Oleh :
NUR HIDAYATI ROBI JOMBANG – JAWA TIMUR
FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
PEMANFAATAN EKSTRAK TAUGE KACANG HIJAU (Phaseolus radiatus)
SEBAGAI PUPUK UNTUK MENINGKATKAN POPULASI Spirulina sp.
Skripsi sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan pada Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga
Oleh :
NUR HIDAYATI ROBI NIM. 060710312P
Menyetujui, Komisi Pembimbing
Pembimbing Pertama Pembimbing Kedua
Dr. Endang Dewi Masithah, Ir., MP Moch. Amin Alamsjah, Ir., M.Si., Ph.D. NIP. 19690912 199702 2 001 NIP. 19700116 199503 1 002
Mengetahui,
Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga
Dekan,
Setelah Mempelajari dan Menguji dengan Sungguh-sungguh, kami berpendapat bahwa Skripsi ini, baik ruang lingkup maupun kualitas dapat diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan.
Tanggal Ujian : 4 maret 2014
Menyetujui, Panitia Penguji,
Ketua
Sudarno, Ir., M.Kes. NIP.19550713 198601 1 001
Sekretaris Anggota
Boedi Setya Rahardja, Ir., MP. Agustono, Ir., M.Kes NIP. 19580117 198601 1 001 NIP. 19570630 198601 1 001
Pembimbing I Pembimbing 2
Dr. Endang Dewi Masithah, Ir., MP Moch. Amin Alamsjah, Ir., M.Si., Ph.D. NIP.19690912 199702 2 001 NIP. 19700116 199503 1 002
Jombang, 4 maret 2014 Fakultas Perikanan dan Kelautan
Universitas Airlangga Dekan,
RINGKASAN
NUR HIDAYATI ROBI. Pemanfaatan Ekstrak Tauge Kacang Hijau (Phaseolus radiatus) sebagai Pupuk untuk Meningkatkan Populasi Spirulina sp. Dosen Pembimbing I. Dr. Endang Dewi Masithah, Ir., MP dan Dosen Pembimbing II. Moch. Amin Alamsjah, Ir., M.Si., Ph.D.
Spirulina sp. merupakan salah satu pakan alami yang digunakan pada pembenihan ikan, udang dan kerang-kerangan. Ketersediaan pakan alami menjadi peranan penting dalam pemenuhan gizi larva ikan untuk meningkatkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan. Kultur Spirulina sp. umumnya menggunakan pupuk teknis (pupuk Walne) dimana pupuk teknis tersebut berasal dari bahan kimia dan harganya mahal. Salah satu unsur dari pupuk teknis yang dibutuhkan oleh Spirulina sp adalah nitrogen dan fosfor. Nitrogen dan fosfor yang dibutuhkan oleh Spirulina sp bisa di peroleh dari tauge kacang hijau. Tauge kacang hijau ini dijadikan ekstrak dengan cara direbus selama 1 jam sehingga beberapa unsur yang dibutuhkan untuk pertumbuhan
Spirulina sp seperti nitrogen dan fosfor bisa didapatkan dan digunakan sebagai pupuk untuk Spirulina sp.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dan konsentrasi pemberian ekstrak tauge kacang hijau sebagai pupuk untuk meningkatkan populasi
Spirulina sp. penelitian ini dilakukan pada bulan Juni sampai Juli 2013 di Laboratorium Pendidikan Perikanan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL).
Bahan uji dalam penelitian ini adalah Spirulina sp. sedangkan pupuk yang digunakan adalah pupuk dari ekstrak tauge kacang hijau dan pupuk Walne. Konsentrasi penambahan pupuk ekstrak tauge kacang hijau adalah perlakuan A (0,5 ml/l), B(1 ml/l), C (1,5 ml/l), D (0 ml/l) dan E menggunakan pupuk Walne 0,5 ml/l. Parameter utama yang diamati adalah kepadatan populasi sedangkan parameter pendukung yang diamati adalah pengukuran suhu, pH dan salinitas.
air selama penelitian masih berada dalam batas toleransi untuk pertumbuhan
SUMMARY
the Utilization of Phaseolus radiatus extract as fertilizer to improve Spirulina sp. population. Supervisor I. Dr.. Endang Dewi Masithah, Ir., MP and Supervisor II. Moch. Amin Alamsjah, Ir., M.Sc., Ph.D.
Spirulina sp. in one of natural food that used for seeding fish, shrimp and shellfish. The availability of natural food becomes an important role in the nutrition of fish larvae to increase their survival and growth. Culture of Spirulina sp. generally use technical fertilizer (manure Walne) where fertilizer is derived from the technical and expensive chemicals. One of the technical elements of fertilizer needed by
Spirulina sp are nitrogen and phosphorus. Nitrogen and phosphorus are needed by
Spirulina sp can be obtained from Phaseolus radiatus extract. The Phaseolus radiatus extract is made by boiling for 1 hour so that some of the elements needed for the growth of Spirulina sp such as nitrogen and phosphorus can be obtained and used as fertilizer for Spirulina sp.
The purpose of this study was to determine the effect of the concentration of
Phaseolus radiatus extract as a fertilizer to increase the population of Spirulina sp. This research was conducted in June and July 2013 in the Laboratory of Fisheries Education Faculty of Fisheries and Marine Airlangga University. The study design used was completely randomized design (CRD).
Materials tested in this study is Spirulina sp. whereas fertilizer used is manure from Phaseolus radiatus extract and fertilizer Walne. Concentration addition of
Phaseolus radiatus extract fertilizer is treatment A (0.5 ml / l), B (1 ml / l), C (1.5 ml / l), D (0 ml / l) and E using fertilizers Walne 0 , 5 ml / l. The main parameters are observed while the population density of the observed parameters are supporting the measurement of temperature, pH and salinity.
The results of this research showed that the addition of Phaseolus radiatus
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas segala kelimpahan rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan skirpsi yang berjudul Pemanfaatan Ekstrak Tauge Kacang Hijau (Phaseolus radiatus) sebagai Pupuk untuk Meningkatkan Populasi Spirulina sp.
Penulis menyampaikan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada semua pihak yang turut berpartisipasi dalam menyelesaikan laporan ini.
Penulis menyadari bahwa laporan yang kami susun masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharap saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca guna kesempurnaan dalam pembuatan laporan seperti ini dimasa mendatang. Semoga laporan yang kami susun ini bermanfaat bagi para pembaca.
Jombang, 14 Februari 2014
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan kasih sayang-Nya, sehingga Skripsi yang berjudul Pemanfaatan Ekstrak Tauge Kacang Hijau (Phaseolus radiatus) sebagai Pupuk untuk Meningkatkan Populasi Spirulina sp dapat terselesaikan dengan baik.
Penyusunan Skripsi ini penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Hj. Sri Subekti B. S., DEA selaku Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya.
2. Dr. Endang Dewi Masithah, Ir., MP. Selaku Dosen Pembimbing pertama dan Moch. Amin Alamsjah, Ir., M.Si., Ph.D. selaku Dosen Pembimbing kedua
3. Sudarno, Ir., M.Kes. selaku Ketua penguji, Boedi Setya Rahardja, Ir., MP. Selaku Sekretaris penguji dan Agustono, Ir., M.Kes. selaku anggota penguji
4. Bapak/Ibu dosen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga yang telah memberikan ilmu kepada penulis.
6. Teman-teman seperjuangan khususnya Widi, Airin, Niken, Fara, Barkah, singgih, Pungky, Bli, rama dan teman-teman yang lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuan serta motivasi.
DAFTAR ISI
2.1.1 Klasifikasi dan Morfologi Kacang Hijau ... 5
2.1.2 Habitat Kacang Hijau ... 7
2.2 Kecambah ... 7
2.3 Klasifikasi dan Morfologi Spirulina sp ... 10
2.3.1 Klasifikasi Spirulina sp ... 10
2.3.2 Morfologi Spirulina sp... 10
2.3.3 Reproduksi Spirulina sp ... 12
2.3.4 Pertumbuhan Spirulina sp ... 13
2.3.5 Habitat Spirulina sp ... 14
2.3.6 Kebutuhan Nutrien Spirulina sp ... 14
2.3.7 Manfaat dan Kandungan Gizi Spirulina sp ... 16
2.3.8 Faktor Pendukung Pertumbuhan Spirulina sp ... 17
A. Suhu (Temperatur)... 17
B. Salinitas ... 18
C. Derajat Keasaman (pH) ... 18
III KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS20
3.1 Kerangka Konseptual ... 20
3.2 Hipotesis ... 21
IV METODOLOGI ... 23
4.1 Waktu dan Tempat ... 23
4.2 Materi Penelitian ... 23
4.3 Metode Penelitian ... 23
4.3.1 Rancangan Penelitian ... 23
4.3.2 Prosedur Kerja ... 25
A. Persiapan Penelitian ... 25
B. Persiapan Pembuatan Ekstrak Tauge Kacang Hijau ... 26
C. Lingkungan dan Media Kultur Spirulina sp ... 26
D. Penebaran Bibit Spirulina sp. ... 27
E. Perhitungan Pertumbuhan Populasi Spirulina sp ... 27
4.3.3 Parameter Pengamatan ... 28
A. Parameter Utama ... 28
B. Parameter Pendukung ... 28
4.3.4 Analisis Data ... 28
V HASIL DAN PEMBAHASAN ... 30
DAFTAR GAMBAR Gambar
1.Tauge Kacang Hijau ... 5
2.Bagan Kerangka Konseptual Penelitian ... 22
3.Grafik Kepadatan Spirulina sp ... 24
4.Desain Penelitian ... 25
5.Diagram Alir Penelitian ... 30
DAFTAR TABEL
TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Hasil Analisa Ekstrak Tauge Kacang Hijau 46 2. Analisis Varian Populasi Spirulina 47 3. Data Populasi Harian Spirulina sp 65
I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Usaha dibidang perikanan saat ini banyak diminati baik ikan maupun non ikan, hal ini juga akan mempengaruhi permintaan benih ikan. Ketersediaan pakan dalam pembenihan sangat berperan penting untuk kegiatan usaha pembenihan baik tawar, payau maupun laut. Pemenuhan kebutuhan pakan dalam usaha pembenihan diperlukan secara terus menerus baik dalam jumlah maupun mutunya. Pemenuhan kebutuhan pakan tersebut dapat dilakukan dengan memberikan pakan alami yang mempunyai nilai gizi yang tinggi terhadap larva ikan. Salah satu jenis pakan alami yang dapat diberikan pada larva ikan adalah Spirulina sp. Ketersediaan pakan alami menjadi peranan penting dalam pemenuhan gizi larva ikan untuk meningkatkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan.
Tauge kacang hijau merupakan jenis sayuran yang umum dikonsumsi, mudah diperoleh, ekonomis dan tidak menimbulkan efek yang bersifat toksik. Tauge banyak mengandung nutrien yang dibutuhkan bagi pertumbuhan mikroalga (Prihantini et al, 2007). Vitamin yang terdapat dalam tauge kacang hijau adalah vitamin C, thiamin,
riboflavin, niasin, asam panthotenik, folat, kolin, β-karoten, vitamin A, vitamin E (α
lisin, leusin, isoleusin dan valin (Amilah dan Astuti, 2006; USDA, 2009 dalam
Maulana, 2010).
Spirulina sp. merupakan mikroalga yang telah dimanfaatkan sebagai pakan alami pada budidaya organisme laut seperti Rotifer, larva oyster, kerang mutiara,
Abalone, udang, kakap, kerapu dan lainnya (Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995).
Spirulina sp. banyak dimanfaatkan dalam pembenihan ikan sebagai makanan untuk zooplankton dengan alasan mempunyai kandungan nutrisi yang tinggi (Susanna dkk, 2007). Widianingsih (2008) menyatakan kandungan Spirulina sp. yang dikultur dengan media Walne menghasilkan analisis proksimat sebagai berikut kadar protein 50,05%, kadar karbohidrat 15,48%, kadar abu 14,45%, kadar air 4,778%, kadar lemak 0,506%. Menurut Brown (1997), Spirulina sp. juga mengandung vitamin B1, B2, B12 dan C. Menurut Susanna (2007) protein Spirulina sp. terdiri dari asam amino methionin, sistein, lysin juga sebagai sumber potasium, kalsium, krom, tembaga, besi, magnesium, manganese, fosfor, selenium, sodium dan seng.
Menurut Andersen (2005) kebutuhan nitrat yang optimum untuk kultur Spirulina sp.
adalah 0,9 g/l – 3,5 g/l untuk menunjang kehidupan dan pertumbuhan Spirulina sp. Nitrogen dan fosfor merupakan nutrien yang dibutuhkan fitoplankton dalam jumlah besar untuk kehidupan dan pertumbuhannya. Nitrogen merupakan komponen untuk meningkatkan aktivitas metabolisme sehingga terjadi pembelahan sel (Rafiqul.,
2005). Menurut Rafiqul., (2005) menyatakan bahwa unsur N merupakan unsur yang paling penting bagi pertumbuhan sel Spirulina sp. Menurut Adhikari (2004),
Spirulina sp. membutuhkan pupuk sebagai faktor penunjang pertumbuhan sel yang didalamnya diperlukan minimal 16 unsur dan harus ada 3 unsur mutlak yang ada didalamnya yaitu nitrogen, fosfor dan kalium.
Tauge sudah digunakan dalam kultur plankton Chlorella yang telah dilakukan Prihantini (2005). Hasil penelitian Prihantini (2005) menyatakan, ekstrak tauge kacang hijau dapat dimanfaatkan sebagai media pertumbuhan Chlorella. Berdasarkan uraian tersebut dilakukan penelitian menggunakan ekstrak tauge untuk meningkatkan populasi Spirulina sp.
1.2 Perumusan Masalah
1. Apakah penggunaan ekstrak tauge sebagai pupuk dapat meningkatkan populasi
Spirulina sp?
2. Berapa dosis optimum ekstrak tauge yang digunakan untuk pupuk pada kultur
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak tauge terhadap populasi
Spirulina sp
2. Untuk mengetahui dosis optimum ekstrak tauge yang digunakan untuk pupuk pada kultur Spirulina sp
1.4 Manfaat
II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kacang Hijau (Phaseolus radiatus)
2.1.1 Klasifikasi dan Morfologi Kacang Hijau (Phaseolus radiatus)
Kacang hijau (Phaseolus radiatus) termasuk tanaman dengan Famili Papilonaceae dan Ordo Rosales. Maulana (2010) menjelaskan bahwa taksonomi kacang hijau sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledoneae Famili : Papilionaceae Genus : Phaseolus
Spesies : Phaseolus radiatus linn (Plantamor, 2008 dalam Maulana, 2010).
Gambar 1. Tauge (kecambah) Kacang Hijau (Phaseolus radiatus)
dan Indarto, 2004). Batang tersebut berbentuk bulat dan berbuku-buku. Ukuran batangnya kecil, berbulu, berwarna hijau kecoklatan atau kemerahan. Setiap buku batang menghasilkan satu tangkai daun, kecuali pada daun pertama berupa sepasang daun yang berhadapan dan masing-masing daun berupa daun tunggal. Batang kacang hijau tumbuh tegak dengan tinggi mencapai 30 – 110 cm dan cabangnya menyebar kesegala arah (Rukmana, 1997).
Daun terdiri dari tiga helaian trifolia dan letaknya berseling-seling. Tangkai daunnya lebih panjang dari daunnya dengan warna hijau muda sampai hijau tua (Andrianto dan Indarto, 2004).
Bunga kacang hijau berdiameter 1 – 2 cm, kehijau – hijauan sampai kuning cerah, steril sendiri, terletak pada tandan ketiak yang tersusun atas 5 – 25 kuntum bunga panjang tandan bunga 2 – 20 cm (Somaatmadja, 1993). Bunga kacang hijau berbentuk seperti kupu – kupu dan berwarna kuning kehijauan atau kuning pucat, termasuk hermaprodit. Proses penyerbukan terjadi pada malam hari sehingga pada pagi harinya bunga akan mekar dan pada sore hari sudah layu (Purwono dan Hartono, 2005).
kecoklatan atau kehitaman. Polongnya mempunyai rambut-rambut pendek atau berbulu (Purwono dan Hartono, 2005).
Biji berwarna hijau atau kuning, seringkali coklat atau kehitam-hitaman, memiliki kilap (lustrea) yang kusam atau berkilat (diasosiasikan dengan sisa-sisa dinding polong) pilumnya pipih dan putih (Somaatmadja, 1993).
2.1.2 Habitat Kacang Hijau
Tanaman kacang hijau ideal ditanam pada daerah yang bersuhu 25o C – 27o C dengan kelembaban udara 50% - 80%, curah hujan antara 50 mm – 200 mm per bulan dan cukup mendapat sinar matahari (Syafrina, 2009). Jumlah curah hujan dapat mempengaruhi produksi kacang hijau. Tanaman ini cocok ditanam pada musim kering (kemarau) yang rata-rata curah hujannya rendah. Di daerah yang bercurah hujan tinggi, penanaman kacang hijau mengalami banyaak hambatan misalnya, mudah rebah dan mudah terserang hama penyakit. Produksi kacang hijau musim hujan biasanya lebih rendah dari pada produksi pada musim kemarau (Rukmana, 1997).
Tanah merupakan hal yang paling pentig dalam pemilihan lokasi untuk penanaman kacang hijau. Tanah untuk penanaman kacang hijau harus subur, gembur, banyak mengandung bahan organik (humus), aerase dan drainasenya baik, serta mempunyai kisaran pH 5,8 – 6,5. Apabila pH kurang dari 5,8 maka perlu dilakukan pengapuran (liming). Tempat yang baik untuk pertumbuhan kacang hijau ialah pada daerah dengan ketinggian 0-500 m dari permukaan laut (Balai Informasi Pertanian (1985) dalam Ihsan (1994)).
Kecambah adalah biji-bijian yang mengalami perubahan fisik dan kimiawi yang disebabkan oleh proses metabolisme (Winarno, 1981 dalam Agustina, 2002). Selama perkecambahan terjadi hidrolisa protein, karbohidrat dan lemak sehingga
mudah dicerna. Pati sebagai bahan persediaan dirombak oleh enzim α-amilase
menjadi dekstrin, sedangkan oleh β-amilase, dekstrin dipecah menjadi maltosa
(Agustina, 2002). Aktivitas enzim tersebut distimulir oleh hormon giberelin yang dihasilkan embrio setelah menyerap air (Pomeranz, 1987). Selama perkecambahan kandungan gula mengalami perubahan, kadar glukosa dan fruktosa meningkat 10 kali bila dibandingkan pada sebelum perkecambahan, namun kandungan sukrosa hanya meningkat 2 kali sehingga galaktosa menghilang (Winarno, 1981). Dalam bentuk tauge, kecambah mempunyai kandungan vitamin yang lebih banyak dari bentuk bijinya. Dalam kacang hijau mengandung protein sebesar 22,2 g, lemak 1,2 g, kalsium 125,0 mg, vitamin C 6,0 mg, air 10,0 g, sedangkan kecambah (tauge) kacang hijau mengandung protein 2,9 g, lemak 0,2 g, kalsium 29,0 mg, vitamin C 15,0 mg, air 92,4 g (Direktorat Gizi, 1979). Pada PERSAGI (Persatuan Ahli Gizi Indonesia) (2009) dalam Fahriyani, (2011) memberikan informasi kandungan gizi kecambah kacang hijau per 100 gram berat kering adalah energi 354 kal, karbohidrat 44,79 g, protein 38,54 g, lemak 12,50 g, serat 11,46 g, kalsium 1729,17 mg, fosfor 770,83 mg,
besi 8,33 mg, karoten 208,33 µg, thiamin 0,94 mg, riboflavin 1,56 mg, niasin 11,46
mg, vitamin C 52,08 mg.
perkecambahan cukup baik. Penyebab utama dormansi adalah impermeabilitas kulit biji terhadap air dan oksigen, atau belum matangnya embrio secara fisiologis (Tjondronegoro, 1984). Sebagian besar biji dalam keadaan kering kadar airnya antara 5 – 20 %. Dalam keadaan kering seperti ini perkecambahan tidak mungkin terjadi sampai saat terjadinya imbibisi air, suatu syarat yang diperlukan untuk terjadinya proses aktivitas metabolisme (Tjondronegoro, 1984).
Menurut Winarno (1981), dalam proses perkecambahan terjadi berbagai perubahan biologis yang memperlihatkan terpecahnya berbagai komponen dalam biji menjadi senyawa yang lebih sederhana, yang telah siap untuk dicerna oleh embrio atau kecambah untuk tumbuh lebih lanjut.
2.3 Klasifikasi dan Morfologi Spirulina sp 2.3.1 Klasifikasi Spirulina sp
Klasifikasi Spirulina sp menurut Bold dan Wynne (1985) adalah sebagai berikut : Divisi : Cyanophyta
Kelas : Cyanophyceae Famili : Oscillatoriaceae Genus : Spirulina
Spesies : Spirulina sp. 2.3.2 Morfologi Spirulina sp
Spirulina sp merupakan mikroorganisme autotrof berwarna hijau kebiruan, dengan sel berkoloni membentuk filament terpilin menyerupai spiral (helix), sehingga disebut alga hijau – biru berfilamen. Menurut Cifferi (1983) diameter trikom untuk ukuran jenis kecil berkisar antara 1-3 µm dan 3-12 µm untuk ukuran jenis besar. Ukuran trikom yang berbeda-beda tidak dapat dipertahankan bila kondisi lingkungannya tidak sesuai dengan kondisi alamiah. Bentuk spiral trikom dari
Spirulina sp ini hanya dapat dipertahankan pada medium cair, sedangkan pada media padat akan memendek secara perlahan tergantung kandungan air pada permukaan (Cifferi, 1983).
Trikom tersebut dapat berlekatan satu dengan yang lain, dengan penghubung berupa selubung gelatin yang mengelilinginya. Trikom dan selubung yang mengelilinginya disebut filamen (Vasishta, 1979 dalam Ariyati, 1998).
Venkarataman (1983) dalam Ariyati (1998) mengatakan bahwa struktur dinding sel Spirulina sp terdiri dari beberapa lapisan yaitu mukopolimer, komponen pektin dan dibagian luarnya terdapat lapisan lendir yang terbuat dari polisakarida dan tidak mengandung bahan selulosa. Dibawah mikroskop elektron dapat diketahui bahwa struktur dinding Spirulina sp terdiri dari empat lapis. Lapisan pertama yaitu lapisan terluar terdiri dari materi yang susunannya sejajar dengan trikom. Lapisan kedua terdiri dari benang-benang protein yang saling terikat dalam bentuk spiral yang mengelilingi trikom. Lapisan ketiga terdapat pada bagian dalam filamen dan banyak mengandung peptidoglikan. Lapisan ini menempel pada lapisan keempat. Lapisan keempat merupakan lapisan yang memisahkan bagian luar dengan inti sel. Dibawah mikroskop elektron lapisan kesatu dan ketiga setelah di preparasi hanya tersusun dari peptidoglikan (Cifferi, 1983). Menurut Pelezar dan Chan (1986) dalam Ariyati (1998) struktur dinding sel Spirulina sp tipis seperti pada bakteri gram negatif dengan kandungan lipid sebesar 11% sampai 22%.
sp tersusun atas sisitem organisasi tilakoid. Tilakoid merupakan organel sel berbentuk kantong memanjang dan dikelilingi oleh sitoplasma yang diselubungi oleh membran plasma dan sifatnya non granuler. Dibagian tepi tilakoid terkandung pigmen klorofil yang berperan dalam proses fotosintesis sehingga fungsinya sama dengan sebagai badan yang mengandung pigmen (Vasishta, 1979 dalam Ariyati, 1998). Spirulina sp memiliki ribosom yang tersusun menyebar diantara tilakoid dan seluruh matriks sitoplasmanya. Sedangkan granula lainnya berupa cyanofisin yang mengandung protein (Vasishta, 1979 dalam Ariyati, 1998).
2.3.3 Reproduksi Spirulina sp
Spirulina sp berkembang biak secara aseksual dengan cara membelah diri. Pembelahan diawali dengan memutus filamen menjadi satu-satuan sel yang akan membentuk filamen baru. Pemutusan filamen ini akan membentuk bagian-bagian yang disebut dengan necridia. Necredia membentuk semacam piringan yang terpisah-pisah, kemudian hasil pembelahan tersebut berkoloni membentuk hormogonia yang memisahkan diri dari filamen induk menjadi filamen baru (Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995). Sel-sel hormogonia tersebut akan bertambah terus jumlahnya melalui pembelahan sel, sehingga ukuran filamen bertambah panjang dan seiring dengan pembelahan sel, sitoplasmanya akan menjadi granuler dan warna sel menjadi biru cerah (Cifferi, 1983).
Sebagaimana organisme lain, Spirulina sp mengalami pertumbuhan selama masa hidupnya. Pertumbuhan didefinisikan sebagai pembelahan sel (peningkatan jumlah) dan pembesaran sel (peningkatan ukuran), kedua proses ini memerlukan sintesis protein. Menurut Fogg (1975) dalam Ariyati (1998) pertumbuhan Spirulina
sp dalam kultur dengan media terbatas sangat dipengaruhi oleh kondisi cahaya, aerasi dan nutrisi. Pertambahan sel Spirulina sp dalam kultur tersebut akan mengikuti pola tertentu yang terbagi dalam empat fase pertumbuhan yaitu fase lag, fase ini ditandai dengan peningkatan populasi yang tidak nyata. Fase ini disebut fase adaptasi terhadap kondisi baru. Fase lag ini dikatakan oleh Martosudarmo (1990) sebagai fase induksi, dimana setelah penambahan bibit Spirulina sp dalam media kultur, populasi sementara tidak berubah dan secara fisiologis sel-sel Spirulina sp sangat aktif dan membentuk protoplasma baru. Fase eksponensial, ditandai dengan pesatnya laju pertumbuhan hingga kepadatan populasi meningkat beberapa kali lipat. Fase stasioner, ditandai dengan laju pertumbuhan yang seimbang dengan laju kematian. Fase kematian, ditandai dengan laju kematian yang lebih tinggi dari laju pertumbuhan sehingga kepadatan populasi terus berkurang.
berkurangnya hara, berkurangnya laju penyediaan oksigen dan karbondioksida, perubahan pH media akibat penyerapan zat-zat tertentu, berkurangnya intensitas cahaya karena penutupan sendiri, penghambatan sendiri dengan dihasilkan zat-zat yang dapat menghambat pertumbuhan.
2.3.5 Habitat Spirulina sp
Spirulina sp merupakan phytoplankton yang dapat ditemukan pada daerah air tawar, air payau dan air asin. Round (1973) dalam Ariyati (1998), mengatakan bahwa alga Spirulina sp dapat tumbuh di daerah tercemar dan sistem air buangan limbah, sedangkan menurut Boney (1966) dalam Ariyati (1998) alga Spirulina sp yang tumbuh di air laut dapat tumbuh sebagai epifit pada alga lain atau tubuh cacing. Menurut Cifferi (1983), Spirulina sp memiliki toleransi yang cukup tinggi terhadap salinitas tempat hidupnya, sehingga mampu hidup di air payau, air tawar, kolam pasang surut dan kolam bersalinitas tinggi. Menurut Isnansetyo dan Kurniastuty (1995) pH yang baik untuk pertumbuhan Spirulina sp berkisar antara 7,2 – 9,5. Akan tetapi, ada beberapa spesies yang masih dapat bertahan hingga pH 11 dan mikroalga ini tumbuh baik pada kisaran suhu sebesar antara 25o – 35o C.
2.3.6 Kebutuhan Nutrien Spirulina sp
jumlah sedikit adalah besi, tembaga, mangan, seng, silicon, boron, vanadium, dan cobalt (Chumadi, 2004). Tiap unsur hara memiliki fungsi khusus yang tercermin pada pertumbuhan dan kepadatan yang dicapai oleh organisme yang dikultur tanpa mengesampingkan pengaruh dari lingkungan. Kebutuhan nutrien untuk tujuan kultur mikroalga harus tetap terpenuhi melalui penambahan media pemupukan guna menunjang pertumbuhan mikroalga. Unsur nitrogen (N) merupakan komponen utama protein sel yang merupakan bagian dasar kehidupan organisme. Unsur ini sangat berperan dalam sintesa protein. Nitrogen dimanfaatkan oleh mikroalga dalam bentuk nitrat (NO3-). Adapun sumber nitrogen organik yang paling mudah didapat untuk mendukung pertumbuhan Spirulina sp dalam kultur adalah urea. Urea merupakam persenyawaan kimia organik CO(NH2)2 dan memiliki kadar nitrogen 46%/10 kg. nitrogen dalam bentuk urea, dan amonia ini merupakan unsur pembangun dan sumber energi bagi Spirulina sp (Carthy, 1973 dalam Eppley, 1977 dalam Ariyati, 1998), sedangkan menurut Dwijoseputro (1980) nitrogen merupakan salah satu unsur penting bagi pertumbuhan organisme dan merupakan salah satu unsur utama pembentuk protein. Menurut Soong (1980) dalam Ariyati (1998) pada budidaya
metabolisme sel organisme dan merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan spesies alga (Round, 1973 dalam Ariyati, 1998). Fosfor dibutuhkan dalam bentuk
Orthophosphate (HPO4). K merupakan unsur yang berperan dalam metabolisme karbohidrat dan Mg berperan dalam pembentukan klorofil, sedangkan Fe dibutuhkan dalam perangsangan pembentukan butir klorofil dan Si berfungsi dalam pembentukan dinding sel. Menurut Fogg (1975) dalam Ariyati (1998) bahwa lebih dari 75% alga membutuhkan vitamin B12 sebagai metaloaktivator bagi tanaman air. Metaloaktivator merupakan ikatan organik yang mengandung logam dan bekerja sebagai biokatalisator. EDTA digunakan sebagai pengkelat media air laut. Pengkelat berfungsi sebagai penahan beberapa trace metal dalam larutan sedemikian rupa sehingga dapat dipastikan sampai ke sel. Selain itu, EDTA menjaga kelarutan unsur-unsur lain yang dapat mengalami pengendapan pada kondisi basa. Bentuk pengkelat penting dalam proses penyerapan transportasi dan aktivitas metabolik beberapa trace metal. Bila mikrohara Fe dan EDTA berada dalam jumlah yang seimbang maka akan menjamin pertumbuhan sel dalam keadaan eksponensial (Fox, 1983).
2.3.7 Manfaat dan Kandungan Gizi Spirulina sp
Spirulina sp merupakan salah satu pakan alami yang telah dimanfaatkan sebagai pakan alami pada budidaya organisme laut seperti rotifer, larva oyster, kerang mutiara, abalone, udang, kakap dan kerapu (Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995).
pigmen warna caretonoid yang tinggi serta sebagai sumber potasium, kalsium, krom, tembaga, besi, magnesium, manganese, fosfor, selenium, sodium dan seng.
2.3.8 Faktor Pendukung Pertumbuhan Spirulina sp
Kondisi lingkungan dan intensitas sinar matahari berpengaruh terhadap jumlah populasi fitoplankton (Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995). Faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan sel Spirulina sp adalah suhu, salinitas, intensitas cahaya, dan ketersediaan makro dan mikronutrien.
A. Suhu (Temperatur)
Suhu air merupakan faktor fisika yang mempengaruhi kultur alga di laboratorium. Secara langsung suhu merupakan faktor yang mempengaruhi proses metabolisme, sedangkan secara tidak langsung suhu akan mempengaruhi kondisi lingkungan media pertumbuhan. Pertumbuhan kondisi lingkungan ini nantinya akan mempengaruhi proses metabolisme dan reproduksi sel alga (Patrick, 1977 dalam Ariyati, 1998). Menurut Fogg (1975) dalam Ariyati (1998), temperatur yang baik untuk kultur alga di laboratorium adalah berkisar antara 200C – 300C sedangkan temperatur optimum untuk kultur Spirulina sp adalah berkisar antara 300C – 350C.
B. Salinitas
Menurut Angka et al (1979), kebanyakan alga sangat peka terhadap perubahan salinitas, selanjutnya dikatakan pula bahwa salinitas pada media kultur dapat mempengaruhi proses fotosintesis. Penurunan salinitas air media menyebabkan air media bersama ion-ion yang terlarut masuk ke dalam sitoplasma sel dan mengubah pH sitoplasma sel. Perubahan pH sitoplasma sel ini menyebabkan aktivitas enzim sebagai biokatalisator reaksi kimia sistem biologis mengalami penurunan (Harper, 1977).
Variasi kadar salinitas air, mulai dari salinitas air tawar sampai pada salinitas air laut (0 – 35 ppt). Spirulina sp dapat tumbuh baik pada salinitas 15 – 20 ppt (Haryati, 2008). Salinitas akan mempengaruhi tekanan osmosis antara sel dan medium serta laju disosiasi senyawa anorganik nutrien alga. Bila salinitas terlalu tinggi akan mengakibatkan media pemeliharaan bersifat hipertonis terhadap sel dan mengakibatkan kurang baiknya penyerapan nutrien oleh sel.
C. Derajat keasaman (pH)
D. Cahaya
Cahaya merupakan faktor penting untuk kultur alga termasuk Spirulina sp karena intesitas cahaya merupakan sumber energi yang diikat dalam proses fotosintesis (Fogg, 1975 dalam Ariyati, 1995). Menurut Jorgensen (1977), intensitas cahaya yang diperlukan untuk fotosintesa alga yang baik antara 3000 lux – 30000 lux. Sedangkan menurut Martosudarmo (1990) intensitas cahaya yang dibutuhkan dalam kultur alga berkisar 500 lux – 5000 lux. Aktivitas fotosintesis dapat menaikkan produksi oksigen yang naik secara linier dengan naiknya intensitas cahaya sampai 5000 lux, akan tetapi di atas intensitas ini derajat kenaikan produksi oksigen semakin berkurang. Cahaya yang diperlukan oleh alga untuk proses fotosintesis di laboratorium dapat digantikan dengan lampu neon (TL). Ciferi (1983) menyatakan bahwa intensitas cahaya optimal untuk Spirulina spberkisar antara 2000 – 3000 lux.
III KONSEPTUAL PENELITIAN DAN HIPOTESIS
3.1 Kerangka Konseptual
Menurut Andersen (2005), Spirulina sp dikultur secara massal dengan menggunakan media teknis pada saat ini. Pada pusat pengadaan bibit kultur murni mikroalga yang berskala laboratorium maupun massal media yang digunakan adalah media pupuk Walne. Pupuk Walne terbuat dari bahan pro analisis yang terdiri dari makro dan mikro nutrien, yaitu terdiri dari Na2EDTA, NaH2PO4.H2O, FeCl3.6H2O, H3BO3, MnCl2, NaNO3,trace metal solution, dan vitamin. Menurut Andersen (2005),
Spirulina sp membutuhkan N, P, S, K, Si, dan Ca. Unsur nitrogen yang dibutuhkan
Spirulina sp dalam bentuk nitrat yang optimal adalah 0,9-3,5 mg/l sedangkan kebutuhan unsur fosfor yang optimal untuk mikroalga adalah 0,050-20 mg/l. Secara umum unsur N dan P merupakan unsur utama yang penting bagi pertumbuhan alga. Fogg et al (1973) menyebutkan bahwa alga Cyanophyceae dapat mengasimilasi nitrogen dari udara. Konsentrasi fosfor sering menjadi pembatas dalam pertumbuhan alga di habitatnya. Fosfor terdapat dalam bentuk ortofosfat dan P-organik (Becker,1994), sehingga kebutuhan nutrisi Spirulina sp harus terpenuhi karena pertumbuhan dan reproduksi mikroalga dipengaruhi oleh kandungan nutrisi pada media yang tersedia.
dan perkembangan bagi mikroalga. Fosfor berperan dalam transfer energi di dalam sel dalam bentuk ATP (Adenosine Triphospfate).
Kecambah (tauge) kacang hijau merupakan tanaman yang mudah diperoleh dan ekonomis rendah. Tauge mempunyai kandungan vitamin C (15,0 mg) (Direktorat Gizi, 1979) dan thiamin, riboflavin, niasin, asam panthotenik, folat, kolin, vitamin A, vitamin E, vitamin K, Ca, Fe, Mg, P, K, Na, Zn, Cu, Mn, Se, sehingga tauge dapat dimanfaatkan sebagai pupuk dalam hal kultur plankton. Sesuai dengan analisis Direktorat Gizi (1979), maka tauge akan diambil sarinya untuk dijadikan sebagai pupuk kultur plankton.
Kandungan nutrien pada ekstrak tauge diharapkan dapat digunakan sebagai pupuk dalam media kultur Spirulina sp penggunaan ekstrak tauge diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan dan meningkatkan kepadatan populasi Spirulina sp 3.2 Hipotesis
H1 : Terdapat peningkatan populasi Spirulina sp yang diberi ekstrak tauge sebagai pupuk media kultur.
Gambar 2. Bagan Kerangka Konseptual Penelitian Kultur Pakan Alami
Spirulina sp
Membutuhkan nutrien
Ekstrak tauge kacang hijau (Phaseolus radiatus) Makro nutrien : N, P, K
Mikro nutrien : Mn, Fe, Ni, Seng,
Bo, Mo dan Mg Vitamin C, thiamin, riboflavin, niasin, asam panthotenik, folat, kolin, vitamin A, vitamin E, vitamin K, Ca, Fe,Mg, K, Na, Zn, Cu, Mn, Se
Media pertumbuhan
Dapat mencukupi kebutuhan nutrien Spirulina sp
IV METODOLOGI 4.1 Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan bulan Juni - Juli 2013 di Laboratorium Pendidikan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya.
4.2 Materi Penelitian
Materi penelitian yang akan digunakan terdiri atas bahan dan alat penelitian. Bahan penelitian yang akan digunakan adalah Spirulina sp yang berasal dari BBPBAP Jepara, ekstrak tauge kacang hijau, pupuk Walne, akuades, alkohol, air tawar, air laut, khlorin dan Na Thiosulfat. Peralatan yang akan digunakan dalam penelitian adalah toples kaca, aerator, selang aerator, gelas ukur, plastik, pipet tetes, pipet volume, mikroskop, Sedgewich Rafter, handtally counter, autoclave,
refraktometer, pH paper, thermometer, timbangan digital, lampu TL 15 watt, kapas, kasa, aluminium foil.
4.3 Metode Penelitian 4.3.1 Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), sebab dalam penelitian ini semua dikondisikan sama kecuali perlakuan (Kusriningrum, 2008). Pada penelitian ini konsentrasi ekstrak tauge kacang hijau sebagai perlakuan. Perlakuan yang digunakan pada penelitian sebanyak lima perlakuan dengan ulangan sebanyak empat kali. Mengacu pada penelitian Prihantini (2005) konsentrasi ekstrak tauge untuk penelitian pada pertumbuhan Chlorella
1ml, 2ml, 3ml, 4ml, 5ml, 6ml untuk penelitian pertumbuhan Scenedesmus, selanjutnya dosis inilah yang menjadi dasar untuk melakukan penelitian pendahuluan dengan konsentrasi dosis 1 ml/l, 2 ml/l, 3 ml/l.
Hasil penelitian pendahuluan tersebut didapatkan bahwa konsentrasi yang menghasilkan pertumbuhan Spirulina sp terbaik adalah dosis 2 ml/l. Hasil dari penelitian pendahuluan dapat dilihat dalam grafik berikut ini:
Gambar 3. Grafik Kepadatan Spirulina sp
Dari hasil penelitian pendahuluan diatas maka dosis yang digunakan untuk penelitian utama diambil dari dosis atas dan dosis bawah. Konsentrasi ekstrak tauge yang digunakan dalam penelitian ini adalah perlakuan A menggunakan konsentrasi 1 ml/500ml ekstrak tauge, perlakuan B menggunakan konsentrasi ekstrak tauge 2 ml/500ml, perlakuan C menggunakan konsentrasi ekstrak tauge 3 ml/500ml, perlakuan D tanpa menggunakan ekstrak tauge atau konsentrasi 0 ml/500ml sebagai
kontrol pertama dan perlakuan E menggunakan pupuk Walne ditentukan sampai 0,5 ml/l (BBPBAP Jepara, 2005 dalam Prabandari, 2011) sebagai kontrol kedua.
Desain penelitian ditampilkan pada Gambar
A1 B2 C1 D4 E3
C3 D1 E2 A4 B4
E4 A2 B1 D3 C4
D2 C2 E1 A3 B3
Gambar 4. Desain Penelitian 4.3.2 Prosedur Kerja
A. Persiapan Penelitian
Tahap awal kultur pada penelitian adalah sterilisasi. Sterilisasi merupakan suatu proses untuk menjaga kondisi yang aseptic dengan cara menghilangkan atau membunuh mikroorganisme. Air laut yang digunakan untuk kultur disterilisasi menggunakan larutan khlorin 60 ppm selama 24 jam dan diberi aerasi. Kadar khlorin dinetralisir dengan tambahan Na Thiosulfat 20 ppm. Air laut yang sudah steril disimpan dalam wadah yang tidak tembus cahaya dan dalam keadaan tertutup.
B. Persiapan Pembuatan Ekstrak Tauge Kacang hijau
Tauge (kecambah) kacang hijau yang digunakan untuk penelitian diperoleh dari hasil pembelian di pasar dari kota Jombang. Tauge terlebih dahulu dicuci agar kotoran yang melekat pada tauge terbuang, setelah dicuci bersih tauge selanjutnya ditiriskan pada wadah baskom. Pembuatan ekstrak tauge direbus menggunakan akuades dengan jumlah 100 gram tauge dan 500 ml akuades. Perebusan dilakukan selama 1 jam, selanjutnya tauge disaring menggunakan kassa dan kapas supaya tauge dan air rebusan terpisah. Setelah itu dimasukan dalam wadah yang telah disterilisasi (Prihantini, 2005).
C. Lingkungan dan Media Kultur Spirulina sp
Media kultur yang digunakan dalam penelitian adalah air laut dengan salinitas 30 ppt sebanyak 500 ml yang dimasukkan ke dalam toples kaca dan ekstrak tauge sesuai dengan dosis yang ditentukan (1 ml, 2 ml, 3 ml, 0 ml dan pupuk Walne). Selanjutnya media kultur diberi aerasi dan bibit Spirulina sp dimasukkan dengan kepadatan 10.000 unit/ml (Utomo, 2005).
Lingkungan kultur dapat mempengaruhi pertumbuhan Spirulina sp., oleh karena itu dikondisikan sama setiap perlakuan. Lingkungan kultur Spirulina sp yang diharapkan dalam penelitian adalah suhu 25-35oC, salinitas 20-70 ppt, pH 7,2-9,5. Sumber cahaya menggunakan lampu TL dengan intensitas 2000 lux (Utomo, 2005). D. Penebaran Bibit Spirulina sp
Jika dalam akhir penghitungan terdapat jumlah pecahan maka dibuat patokan bahwa pecahan diatas 0,5 dibulatkan menjadi 1 dan pecahan dibawah 0,5 tidak ikut dihitung. Penghitungan jumlah bibit Spirulina sp untuk kultur menggunakan rumus (Edhy dkk, 2003):
Keterangan :
V1 = Volume bibit untuk penebaran awal (ml) N1 = Kepadatan bibit plankton (unit/ml)
V2 = Volume media kultur yang dikehendaki (ml)
N2 = Kepadatan bibit plankton yang dikehendaki (unit/ ml) E. Perhitungan Pertumbuhan Populasi Spirulina sp
Pertumbuhan populasi dihitung dengan cara menghitung jumlah unit Spirulina
sp. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan Sedgewick Raffter dan Handtally Counter untuk memudahkan perhitungan. Pengamatan pertumbuhan dilakukan setelah 24 jam penebaran awal setiap hari. Perhitungan dilakukan dengan rumus (Ekawati, 2005):
Keterangan :
N = Kepadatan Spirulina sp (unit/ ml) D = Diameter bidang pandang (mm)
N = Jumlah rata-rata Spirulina sp per bidang pandang (unit/ ml)
1000
3,14(d / 2)
2x n
N =
N2 x V2
4.3.3 Parameter Pengamatan A. Parameter Utama
Parameter utama dalam penelitian adalah populasi Spirulina sp. Perhitungan populasi Spirulina sp dilakukan setiap hari selama 7 hari. Pertumbuhan populasi dihitung dengan menggunakan Sedgewick Raffter dengan bantuan mikroskop dan
Handtally Counter.
B. Parameter Pendukung
Parameter pendukung dalam penelitian adalah suhu, pH, dan salinitas. Pengukuran suhu menggunakan thermometer, pengukuran pH menggunakan pH
paper dan pengukuran salinitas menggunakan refraktometer. Pengukuran terhadap suhu, pH dan salinitas dilakukan setiap hari pada pagi hari.
4.3.4 Analisis Data
Gambar 5.Diagram Alir Penelitian
Persiapan alat dan bahan -Sterilisasi Alat dan Bahan - menyiapkan tempat
Media kultur -pemasukan Air Laut 30 ppt - pemberian Aerasi
Aerasi media kultur sampai Homogen (± 15 menit)
Penebaran bibit Spirulina sp. dengan kepadatan awal 280.000 sel/ml
Pemeliharaan selama 9 hari
Pengamatan populasi Kualitas air
V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1Hasil Penelitian
Hasil pengamatan penelitian berupa populasi Spirulina sp. hasil tersebut digunakan untuk mengetahui pengaruh dan mengetahui konsentrasi terbaik penambahan ekstak tauge kacang hijau yang dapat menghasilkan populasi Spirulina
sp.
5.1.1 Populasi Spirulina Sp
Populasi Spirulina sp menggunakan beberapa konsentrasi ekstrak tauge kacang hijau selama Sembilan hari di tampilkan pada Gambar 6
Gambar 6. Grafik Populasi Spirulina sp setelah Penambahan Ekstrak Tauge Kacang Hijau pada Hari Pertama Sampai Hari ke Sembilan.
Gambar 6. menunjukan bahwa penambahan ekstrak tauge kacang hijau sebagai sumber nutrisi terhadap populasi Spirulina sp. terdiri dari empat fase pertumbuhan yaitu adaptasi, eksponensial, stasioner dan penurunan. Fase adaptasi
terjadi pada hari pemasukan inokulan dan hari pertama. Fase eksponensial di mulai hari kedua pengamatan pada semua perlakuan diikuti peningkatan jumlah populasi
Spirulina sp yang cukup besar. Fase stasioner terjadi pada hari kelima sampai hari ketujuh. Fase penurunan terjadi pada hari kedelapan dan kesembilan.
Grafik populasi pada gambar menunjukan bahwa pada hari kelima, keenam dan ketujuh merupakan puncak populasi spirulina sp. puncak populasi Spirulina sp pada hari kelima adalah perlakuan E (421.047 sel/ml) dan perlakuan D (371.466 sel/ml). Hari keenam puncak populasi Spirulina sp pada perlakuan E (400.764 sel/ml) dan perlakuan C (399.489 sel/ml). pada ketujuh puncak populasi Spirulina sp pada perlakuan E (623.948 sel/ml). penurunan populasi Spirulina sp terjadi pada hari kedelapan untuk semua perlakuan.
Tabel 1. Data Hasil Transformasi Rata-rata Populasi Spirulina sp Dengan Hari ke-7 93,121b 95,860b 106,691b 112,804b 155,997a Hari ke-8 54,713a 62,484a 91,592a 101,656a 130,828a Hari ke-9 41,783b 41,783b 67,197b 63,822b 134,974a
Keterangan : Superskrip berbeda dalam satu baris menunjukkan ada perbedaan yang nyata (p<0,05).
Perlakuan A : Penambahan ekstrak tauge kacang hijau 0,5 ml/l Perlakuan B : Penambahan ekstrak tauge kacang hijau 1 ml/l Perlakuan C : Penambahan ekstrak tauge kacang hijau 1,5 ml/l
Perlakuan D : Penambahan erkstrak tauge kacang hijau 0 ml/l (kontrol 1) Perlakuan E : Pupuk Walne 0,5 ml/l
5.1.2 Kualitas air
Pertumbuhan Spirulina sp selain dipengaruhi oleh ketersediaan nutrien juga dipengaruhi faktor lingkungan pada media pertumbuhan. Pengukuran kualitas air dilakukan sekali sehari selama penelitian. Hasil pengukuran rata-rata kualitas air selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 2. berikut ini
Tabel 2. Kisaran Kualitas Air Selama Penelitian
No. Parameter Kisaran
1. Suhu air 28-30oC 2. Salinitas 29-33 ppt
3. pH 7-8
5.2 pembahasan
Pertumbuhan fitoplankton dalam kultur dapat ditandai dengan bertambah besarnya ukuran sel atau bertambah banyaknya jumlah sel yang secara langsung akan berpengaruh terhadap kepadatan fitoplankton (Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995). Pertumbuhan fitoplankton terdiri atas empat fase yaitu fase adaptasi, fase eksponensial, fase stasioner dan fase penurunan (Edhy, 2003). Nutrien juga dibutuhkan oleh fitoplankton untuk pertumbuhan.
mampu menyerap dan memanfaatkan nutrien dalam media ekstrak tauge kacang hijau untuk pertumbuhannya. Fase adaptasi biasanya terjadi ketika inokulum diinokulasikan ke dalam media baru yang berbeda komponen kimiawinya, sel-sel yang diinokulasi melakukan perubahan kimiawi dan fisiologis untuk menyesuaikan kembali aktivitas metabolismenya agar dapat tumbuh dalam media baru (Prihantini, 2007).
Media perlakuan ekstrak tauge kacang hijau mengandung nutrien organik seperti karbohidrat, protein dan lemak yang dibutuhkan sebagai sumber energi. Karbohidrat, protein dan lemak bila diuraikan menjadi monomer-monomer penyusunnya pada akhirnya menjadi asetil KoA, selanjutnya asetil KoA masuk kedalam siklus krebs, dilanjutkan dengan rantai transpor elektron yang akan menghasilkan ATP. Energy yang terkandung dalam ATP digunakan untuk pertumbuhan dan pembelahan sel Spirulina sp (Prihantini, 2007).
merupakan faktor penting dalam proses fotosintesis. Hasil dari proses fotosintesis tersebut akan menghasilkan glukosa dan energi yang digunakan dalam metabolisme sel sehingga pertumbuhan Spirulina sp mengalami peningkatan.
Puncak populasi Spirulina sp terjadi pada hari ketujuh. Puncak populasi tertinggi pada hari ketujuh didapat pada perlakuan E (pupuk Walne 0,5 ml/l). Hal ini disebabkan karena pupuk walne merupakan pupuk yang biasa digunakan sebagai media kultur Spirulina sp, sehingga Spirulina sp telah teradaptasi untuk tumbuh dalam media yang diberi pupuk walne. Sementara pada perlakuan A, B, C dan D mengalami puncak pertumbuhan terendah. Hal ini disebabkan media ekstra tauge kacang hijau mengandung nitrogen dalam jumlah minim, sehingga proses fotosintesis terhambat dan mengakibatkan pertumbuhan Spirulina sp menjadi terhambat pula (Amanatin, 2013).
Menurut Prihantini (2007), media eksta tauge kacang hijau mengandung nutrien anorganik seperti K, P, Ca, Mg, Na, Fe, Zn, Mn dan Cu. Selain itu, dilengkapi juga dengan vitamin (tiamin, riboflavin, piridoksin, triptofan, asam pantotenat, vitamin K dan vitamin C) yang berperan sebagai faktor pertumbuhan alga. Berdasarkan data dari United State Enviromental Agency (USEPA) dalam Bakhtiar (2007) bahwa tembaga (Cu) dan seng (Zn) merupakan logam berat berbahaya yang bersifat toksisitas (racun) yang menurunkan pertumbuhan alga. Walaupun pada konsentrasi yang rendah dan akan terakumulasi dalam jangka waktu tertentu. Dengan adanya logam berat di dalam media ekstra tauge maka dapat menyebabkan turunnya populasi Spirulina sp.
Mangan (Mn) mempunyai peranan sebagai komponen struktural membran kloroplas (Prihantini, 2005) dan merupakan aktivator enzim pada reaksi terang fotosintesis (Prihantini, 2007). Magnesium (Mg) berperan sebagai kofaktor dalam pembentukan asam amino dan klorofil (Amanatin, 2013). Besi (Fe) berperan dalam sintesis klorofil dan sintesis protein-protein penyusun kloroplas dan seng (Zn) diperlukan dalam proses pembentukan klorofil dan mencegah kerusakan molekul klorofil (Ciferri, 1983).
Selain itu, adanya penurunan tersebut diduga bahwa nutrien tidak dimanfaatkan secara efektif sehingga akan menghasilkan tumpukan bahan organik yang bersifat racun dan pada akhirnya dapat menghambat pertumbuhan (Utomo, 2005). Apabila nutrien yang diberikan pada media kultur dalam jumlah berlebih maka akan bersifat racun yang dapat menghambat pertumbuhan, karena dengan adanya sifat racun maka efektifitas metabolisme sel secara langsung akan terganggu (Hariyati, 2008).
Populasi Spirulina sp pada seluruh perlakuan mengalami penurunan atau kematian pada hari kedelapan, selain itu terjadi karena nutrien yang terdapat pada media kultur sudah tidak optimal dan telah berkurang dalam memenuhi kebutuhan nutrien Spirulina sp. Fitoplankton yang mengalami penurunan dapat terjadi karena penipisan nutrien sehingga tidak mampu lagi mengalami pembelahan sel. Menurut Kabinawa (2006), kematian sel juga dapat disebabkan karena penurunan kualitas air dan akumulasi metabolit, akibatnya laju kematian sel lebih besar daripada laju pertambahan sel.
dengan pendapat Utomo (2005) dengan pendapat Ciferri (1983) bahwa salinitas optimal pertumbuhan Spirulina sp adalah 20-70 ppt, sehingga dapat dikatakan bahwa nilai salinitas pada media kultur Spirulina sp masih berada dalam kondisi optimal. Salinitas sangat berpengaruh terhadap tekanan osmotik suatu perairan. Semakin tinggi tekanan osmotiknya maka salinitas suatu perairan akan semakin tinggi pula. Bagi organisme akuatik multiselular, tekanan osmotik sel terkait langsung dengan penyerapan nutrien untuk metabolismenya (Laura, 2006).
Suhu merupakan parameter fisika yang mempengaruhi aktivitas metabolisme organisme. Suhu juga sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan pertumbuhan biota air. Hasil pengukuran suhu menunjukkan bahwa suhu media berkisar antara 28o C-30oC. Ciferri (1983) menyatakan bahwa suhu optimal untuk Spirulina sp adalah 32oC-35oC. Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa suhu pada media kultur
Spirulina sp pada perlakuan A1 hingga E5 tidak menunjukkan kondisi suhu optimal yang mendukung pertumbuhan, karena hasil pengukuran suhu hanya mencapai 30oC. Pada Amanatin (2013) dalam penelitian kombinasi media ekstrak tauge dengan pupuk urea terhadap kadar protein Spirulina berpendapat bahwa semakin optimal suhu maka metabolisme organisme semakin baik dan semakin meningkat pertumbuhan Spirulina sp.
Cifferi (1983) dalam Amanatin (2013) bahwa gas CO2 terlarut yang terdapat dalam media akan menjadi asam karbonat yang akan terurai menjadi ion-ion karbonat dan ion bikarbonat. Reaksi kesetimbangan antara CO2 terlarut, asam karbonat, ion bikarbonat dan ion karbonat akan menyebabkan nilai pH bergeser pada kisaran 7-8 dan tidak meningkat lagi. Pengontrolan pH pada suatu media kultur sangat penting untuk menjaga keseimbangan pertumbuhan Spirulina sp. Cifferi (1983) menyebutkan bahwa pH yang baik untuk pertumbuhan Spirulina sp berkisar antara 7-11. Hal ini sesuai dengan pengukuran pada media kultur penelitian sehingga bisa dikatakan bahwa pH pada media kultur penelitian optimal.
VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian ini adalah:
1. Pemanfaatan ekstrak tauge kacang hijau sebagai pupuk dapat meningkatkan pertumbuhan populasi Spirulina sp
2. Pemanfaatan ekstrak tauge kacang hijau dengan dosis 1,5 ml/l menghasilkan populasi Spirulina sp paling optimal.
6.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Adhikari. 2004. Fertilization, Soil and Water Quality Management in Small Scale Ponds: Fertilizatoin Requirements and Soil Properties: 3 Hal
Adrianto, T.T. dan Indarto, N., 2004. Budidaya dan Analisis Tani kedelai, Kacang Hijau, Kacang Panjang. Absolut. Yogyakarta.
Agustina, R., 2002. Pengaruh Pemberian Limbah Tauge Kacang Hijau (Phaseolus radiatus) terhadap Pertumbuhan dan Kandungan Zat gizi Ikan Mas (Cyprinus carpio). Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Amanatin, Dwi Riesya dan T. Nurhidayati. 2013. Pengaruh Konsentrasi Media Ekstrak Tauge (MET) dengan Pupuk Urea terhadap Kadar Protein
Spirulina sp. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Sepuluh November. Surabaya.
Amilah dan Y. Astuti. 2006. Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Tauge dan Kacang Hijau Pada Media Vacin and Went (VW) terhadap Pertumbuhan Kecambah Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis L). Fakultas Matematika dan IPA. Universitas Mercu Buana.
Anderson, R. A. 2005. Algal Culturing Technique. Elsevier Academic Press. UK Angka, S.L. , Sumantadinata, Haris dan Chaerudin. 1979. Kultur Laboratoris
Diatomae Laut. Laporan Proyek Penelitian PP/PPT Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Ariyati, S., 1998. Pengaruh Salinitas dan Dosis Pupuk Urea terhadap Pertumbuhan Populasi Spirulina sp. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan IPA Universitas Diponegoro. Semarang.
Bachtiar, E. 2007. Penelusuran Sumber Daya Hayati Laut (alga) sebagai Biotarget Industri. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjajaran. Jatinangor.
Becker, E. W. 1995. Microalgae Biotechnology and Microbiology. Cambrige University Press. New York
Bold, H.C dan Wynne. 1985. Introduction of The Algae. Second Edition. Prentice Hall. Engle Wood.
Boney, A.D . 1966. A Biology of Marine Algae. Hutchinson – Education Ltd. London.
Brown, M. R., Jeffrey, S. W., Volkman, J. K., dan Dunstan, G. A. 1997. Nutritional Properties of Microalgae for Mariculture. Aquaculture. 151: 315-331. Chrismadha, T., L.M. Panggabean, dan Y. Mardiati. 2006. Pengaruh Konsentrasi
Chumadi, S. Ilyas, Yunus, M.Sahlan, R.Utami, A.Priyadi, P.T. Imanto, S.Hartati, Bastiawan, Z.Jangkaru dan R.Arifudin. 2004. Pedoman Teknis Budidaya Pakan Alami Ikan dan Udang. Pusat Pengembangan Perikanan. Jakarata Cifferi, O. 1983. Spirulina, The Edible Organism. Volume 47, Nomor 4, American
Society for Mycrobiology. USA
Dwijoseputro. 1980. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Penerbit P.T. Gramedia. Jakarta Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan RI. 1979. Daftar Komposisi Bahan Makanan.
Bhratara Karya Aksara. Jakarta
Eddy, W. A, J. Pribadi dan Kurniawan. 2003. Plankton di Lingkungan PT. Centralpertiwi Bahari. Suatu Pendekatan Biologi dan Manajemen Plankton dalam Budidaya Udang. Mitra Bahari. Lampung.
Ekawati, A. W. 2005. Diktat Kuliah Budidaya Pakan Alami. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang.
Fahriyani, I., 2011. Pemanfaatan Kecambah Kacang Hijau Dalam Formulasi Bubur Susu Instan Sebagai Alternatif Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI). Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Fay, P. 1983. The Blue Green (Cyanophyta – Cyanobacteria). Edward Arnold Publication. USA
Fox, J.M. 1987. Intensive Algae Culture Techniques in CRC Handbook of Marine Culture (Ed. J.R. Mc Vey dan J.R Moore). CRC Prees Inc. Boca Ranton. Florida.
Hariyati, R., 2008. Pertumbuhan dan Biomassa Spirulina sp Dalam Skala Laboratoris. Laboratorium Ekologi dan Biosistematik Fakultas Matematika dan IPA Universitas Diponegoro.
Harper, V.W. Rodwell, dan P.A. Mayes. 1977. Review Of Physiological Chemistry Alih Bahasa Muliawan, Martin. 1979. Biokimia. Penerbit Buku Kedokteran E.G.C. Jakarta.
Ihsan, N., 1994. Pengaruh pH Air Siraman dan Umur Perkecambahan terhadap Karakteristik Mutu Tauge Kacang Hijau. Jurusan Gizi dan Sumberdaya Keluarga Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Isnansetyo, A dan Kurniastuty. 1995. Teknik Kultur Phytoplankton dan Zooplankton. Kanisius. Yogyakarta.
Jorgensen, E. G. 1977. Photosyntesis, dalam Werner, D. (Editor). The Biology of Diatoms Botanical Monographs. Volume 13. Blackweell Scientific Publication Oxford. London
Kabinawa, I. Nyoman K. 2006. Spirulina : Ganggang Penggempur Aneka Penyakit. PT. AgroMedia Pustaka. Depok.
Kusriningrum, R. 2008. Perancangan Percobaan. Universitas Airlangga. Surabaya Laura, B. dan Paolo G. 2006. Algae : Anatomy, Biochemistry, and Biotechnologhy.
CRC Press, Boca Raton New York.
Loveless, A.R. 1989. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Trofik. Gramedia. Jakarta
Maulana, A.I.,. 2010. Pengaruh Ekstrak Tauge (Phaseolus radiatus) terhadap Kerusakan Sel Ginjal Mencit (Mus musculus) yang Diinduksi Parasetamol. Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Pomeranz, Y. 1987. Modern Cereal Science and Technology. VHC publ., I., New
York
Prabandari, L. 2011. Pengaruh Penambahan Pupuk Bintil Akar Kacang Tanah sebagai Sumber Nitrogen dan Fosfor terhadap Populasi Chlorella sp. Fakultas Perikanan dan kelautan Universitas Airlangga. Surabaya
Prihantini, N.B., D. Damayanti dan R. Yuniati. 2007. Pengaruh Konsentrasi Medium Ekstrak Tauge (MET) terhadap Pertumbuhan Scenedesmus Isolat Subang. Departemen Biologi Fakultas Matematika dan IPA Universitas Indonesia Depok.
Prihantini, N.B., B. Putri dan R. Yuniati. 2005. Pertumbuhan Chlorella spp. Dalam Medium Ekstrak Tauge (MET) Dengan Variasi pH Awal. Departemen Biologi Fakultas Matematika dan IPA Universitas Indonesia Depok. Purwono dan R. Hartono. 2005. Seri Agribisnis : Kacang Hijau. Penerbit Penebar Optimizations for Spirulina biomass in Laboratory Culture. Biotechnology 4 (1), 19-22
Rukmana, R., 1997. Kacang Hijau Budidaya dan Pasca Panen. Kanisius, Yogyakarta Sandgren, C.D. 1988. Growth and Reproductive Strategies of Freshwater
Phytoplankton. Cambridge University Press. Australia
Somaatmadja, S., 1993. Sumber Daya Nabati Asia Tenggara 1 Kacang-kacangan. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
Suminto. 2009. Penggunaan Jenis Media Kultur Teknis terhadap Produksi dan Kandungan Nutrisi Sel Spirulina plantesis. Program Studi Budidaya Perairan Jurusan Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Semarang.
Soong, P. 1980. Production and Development of Chlorella and Spirulina in Taiwan dalam Shelef G dan Soeder (Editor). Algae Biomass. Elseveir North-Holland Biomedical Press.
Sussana, D., Zakianis, E. Hermawati, H. K. Adi. 2007. Pemanfaatan Spirulina plantesis Sebagai Suplemen Protein Sel Tunggal (PST) Mencit (Mus musculus). Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia. Depok.
Tjondronegoro, P.D. 1984. Botani Umum III. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat. Institut Pertanian Bogor. Bogor
Utomo, N. B. P., Winarti dan A. Erlina. 2005. Pertumbuhan Spirulina plantesis yang Dikultur dengan Pupuk Inorganik (Urea, TSP dan ZA) dan Kotoran Ayam. Jurusan Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Venkarataman, L.V. 1983. Amonograph on Spirulina plantesis Biotechnology and Application. Central Food Technology Research Institute Myosure 5700130. India
Widianingsih, A. Ridho, R. Hartati dan Harmoko. 2008. Kandungan Nutrisi Spirulina plantesis yang Dikultur pada Media yang Berbeda. Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan Universitas Diponegoro.
Lampiran 2. Analisis Varian Populasi Spirulina sp selama Penelitian dari hari ke-1
A 4 4.1083E4 6885.02875 3.44251E3 30127.1328 52038.3672 34650.00 50701.00 B 4 3.4586E4 6722.77807 3.36139E3 23888.3099 45283.1901 28025.00 40509.00 C 4 4.0828E4 5477.95737 2.73898E3 32111.0974 49544.4026 34904.00 48153.00 D 4 4.1338E4 4078.84742 2.03942E3 34847.3936 47828.1064 36178.00 45606.00 E 4 4.9172E4 16674.40326 8.33720E3 22639.3035 75704.6965 26497.00 66497.00 Total 20 4.1401E4 9405.82182 2.10321E3 36999.1399 45803.2601 26497.00 66497.00
N Mean Std. Deviation Std. Error
95% Confidence Interval for Mean
Minimum Maximum Lower Bound Upper Bound
A 4 4.8022E4 12044.73111 6.02237E3 28855.8950 67187.6050 36943.00 62675.00 B 4 5.1720E4 12846.98288 6.42349E3 31277.0834 72161.9166 40764.00 70318.00 C 4 5.9172E4 20889.04064 1.04445E4 25932.6249 92410.8751 28280.00 74140.00 D 4 5.4204E4 12167.93917 6.08397E3 34841.8435 73565.6565 43057.00 67771.00 E 4 4.8790E4 7950.03067 3.97502E3 36139.4771 61440.0229 38726.00 57325.00 Total 20 5.2381E4 12978.32300 2.90204E3 46307.2579 58455.3421 28280.00 74140.00
ANOVA
Populasi Hari ke-2
Sum of Squares df Mean Square F Sig. Between Groups 3.271E8 4 8.177E7 .427 .787 Within Groups 2.873E9 15 1.915E8
Total 3.200E9 19
Post Hoc Tests
Homogeneous Subsets
Populasi Hari ke-2
Duncan Perlaku
an N
1
D 4 5.5350E4 15350.62293 7.67531E3 30923.9834 79776.5166 40764.00 71592.00 E 4 6.4841E4 26692.54349 1.33463E4 22367.2068 107314.7932 47134.00 1.04E5 Total 20 5.5019E4 14646.06098 3.27496E3 48164.5825 61873.7175 40764.00 1.04E5
ANOVA
Populasi Hari ke-3
Sum of Squares df Mean Square F Sig. Between Groups 5.770E8 4 1.442E8 .618 .656 Within Groups 3.499E9 15 2.332E8
Total 4.076E9 19
Post Hoc Tests
Homogeneous Subsets
Populasi Hari ke-3
Duncan
Perlaku
an N
Subset for alpha = 0.05
1
B 4 48789.7500
C 4 52293.0000
A 4 53821.7500
D 4 55350.2500
Sig. .198
ANOVA
Populasi Hari ke-4
Sum of Squares df Mean Square F Sig. Between Groups 6.571E8 4 1.643E8 .549 .703 Within Groups 4.490E9 15 2.993E8
Total 5.147E9 19
Post Hoc Tests
Homogeneous Subsets
Populasi Hari ke-4
Duncan
Perlaku
an N
Subset for alpha = 0.05
1
C 4 58853.5000
A 4 70700.7500
D 4 70766.2500
B 4 72101.7500
E 4 75923.5000
Lower Bound Upper Bound
A 4 7.3248E4 14657.08085 7.32854E3 49925.5636 96570.9364 51465.00 82802.00 B 4 8.4840E4 13235.21277 6.61761E3 63780.3230 105900.6770 70573.00 1.00E5 C 4 7.9745E4 9587.33687 4.79367E3 64489.6576 95000.8424 67516.00 89427.00 D 4 9.2866E4 49767.46400 2.48837E4 13675.3590 172057.6410 33885.00 1.56E5 E 4 1.0526E5 37899.88992 1.89499E4 44954.5677 165568.9323 63949.00 1.53E5 Total 20 8.7192E4 28692.44405 6.41583E3 73763.9728 100620.9272 33885.00 1.56E5
ANOVA
Populasi Hari ke-5
Sum of Squares df Mean Square F Sig. Between Groups 2.457E9 4 6.141E8 .699 .605 Within Groups 1.319E10 15 8.790E8
Total 1.564E10 19
Post Hoc Tests
Homogeneous Subsets
Populasi Hari ke-5
Duncan Perlaku
an N
1
D 4 8.9299E4 34892.58865 1.74463E4 33777.1051 144820.8949 42038.00 1.18E5 E 4 1.0019E5 32125.05789 1.60625E4 49072.8641 151309.1359 61656.00 1.35E5 Total 20 8.9019E4 29700.96789 6.64134E3 75118.3691 102919.3309 30318.00 1.35E5
ANOVA
Populasi Hari ke-6
Sum of Squares df Mean Square F Sig. Between Groups 2.294E9 4 5.734E8 .595 .672 Within Groups 1.447E10 15 9.645E8
Total 1.676E10 19
Post Hoc Tests
Homogeneous Subsets
Populasi Hari ke-6
Duncan
Perlaku
an N
Subset for alpha = 0.05
1
A 4 71464.7500
D 4 89299.0000
ANOVA
Populasi Hari ke-7
Sum of Squares df Mean Square F Sig. Between Groups 1.031E10 4 2.577E9 3.194 .044 Within Groups 1.210E10 15 8.068E8
Total 2.241E10 19
Post Hoc Tests
Homogeneous Subsets
Populasi Hari ke-7
Duncan Perlaku
an N
Subset for alpha = 0.05
1 2
A 4 9.3121E4
B 4 9.5860E4
C 4 1.0669E5
D 4 1.1280E5
Sig. .381 1.000 Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
A 4 5.4713E4 46932.03763 2.34660E4 -19966.0949 129392.5949 8153.00 1.04E5 B 4 6.2484E4 59936.56596 2.99683E4 -32888.4514 157856.4514 14267.00 1.47E5 C 4 9.1592E4 46306.01854 2.31530E4 17909.0412 165275.4588 24204.00 1.26E5 D 4 1.0166E5 31879.41055 1.59397E4 50928.9938 152383.5062 73376.00 1.42E5 E 4 1.3083E5 57970.63742 2.89853E4 38583.7796 223072.2204 52739.00 1.93E5 Total 20 8.8255E4 52374.14952 1.17112E4 63742.8935 112766.6065 8153.00 1.93E5
Populasi Hari ke-8
Sum of Squares df Mean Square F Sig. Between Groups 1.517E10 4 3.792E9 1.540 .241 Within Groups 3.695E10 15 2.463E9
Total 5.212E10 19
Post Hoc Tests
Homogeneous Subsets
Populasi Hari ke-8
Duncan
Perlaku
an N
Subset for alpha = 0.05
1
A 4 54713.2500
B 4 62484.0000
C 4 91592.2500
D 4 101656.2500 E 4 130828.0000
Sig. .067
Tests of Normality
A 4 4.1783E4 8952.21441 4.47611E3 27538.2792 56028.2208 28535.00 47898.00 B 4 4.1783E4 8952.21441 4.47611E3 27538.2792 56028.2208 28535.00 47898.00 C 4 6.7197E4 45653.45264 2.28267E4 -5447.5808 139842.0808 25987.00 1.24E5 D 4 6.3822E4 49982.22722 2.49911E4 -15711.3772 143354.3772 15796.00 1.34E5 E 4 1.3497E5 64073.59863 3.20368E4 33012.6064 236923.3936 61656.00 2.18E5 Total 20 6.9911E4 51289.33133 1.14686E4 45906.5040 93914.7960 15796.00 2.18E5
ANOVA
Populasi Hari Ke-9