BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Hakekat Belajar
2.1.1. Pengertian Belajar
Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memeperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003: 2). Menurut Sanjaya (2012: 198) belajar adalah proses perubahan tingkah laku melalui pengalaman secara langsung yang diperoleh melalui aktivitas sendiri pada situasi yang sebenarnya .
Kegiatan belajar yang terpenting adalah proses bukan hasil yang diperolehnya. Belajar harus diperoleh dengan usaha sendiri, adapun orang lain itu sebagai perantara atau penunjang dalam kegiatan belajar sehingga tujuan belajar berhasil dengan baik (Faturrohman, 2004: 6).
2.1.2. Prinsip-Prinsip Belajar
1. Perhatian dan motivasi
Perhatian terhadap pembelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pembelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Apabila bahan pelajaran tersebut dirasakan sebagai sesuatu yang dibutuhkan, diperlukan untuk belajar lebih lanjut dalam kehidupan sehari-hari, akan membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya.
2. Keaktifan
Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya mungkin bisa terjadi apabila anak mengalami sendiri. Anak mampu untuk mencari, menemukan, dan menggunakan pengetahuan yang diperolehnya. Dalam proses belajar mengajar anak mampu mengidentifikasi, merumuskan masalah, mencari, dan menemukan fakta, menganalisis, menafsirkan, dan menarik kesimpulan.
3. Keterlibatan langsung/ berpengalaman
4. Pengulangan
Pengulangan dalam belajar bertujuan untuk melatih daya-daya jiwa dan untuk membentuk respons yang benar dan membentuk kebiasan-kebiasaan.
5. Tantangan
Tantangan yang dihadapi siswa dalam bahan belajar yang baru membuat siswa berusaha untuk memecahkan masalah-masalah didalamnya dan mempelajarinya.
6. Balikan dan penguatan
Siswa akan belajar lebih semangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik. Hasil yang baik, merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengaruh baik bagi usaha belajar selanjutnya. Penguatan yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan seperti rasa takut tidak naik kelas dan nilai yang buruk juga bisa mendorong siswa untuk belajar lebih giat.
7. Perbedaan individual
2.1.3. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Belajar
Proses belajar yang dilakukan siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006: 44) secara umum, faktor-faktor tersebut dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
1. Faktor intern (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan jasmani dan rohani siswa yang berpengaruh terhadap proses belajar adalah (1) sikap siswa dalam belajar, (2) motivasi belajar, (3) konsentrasi belajar, (4) kemampuan mengolah bahan belajar, (5) kemampuan menyimpan perolehan hasil belajar, (6) kemampuan menggali hasil belajar yang tersimpan, (7) kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar, (8) rasa percaya diri siswa, (9) intelegensi dan keberhasilan belajar, (10) kebiasaan belajar, dan (11) cita-cita siswa.
2. Faktor ekstern (faktor dari luar siswa), yakni keadaan lingkungan di sekitar siswa yang berpengaruh pada proses belajar adalah (1) guru sebagai pembimbing belajar siswa, (2) sarana dan prasarana belajar, (3) kebijakan penilaian, (4) lingkungan sosial siswa di sekolah, dan (5) kurikulum sekolah.
2.2. Motivasi Belajar
2.2.1. Pengertian motivasi belajar
73). Mc.Donalld dalam Sardiman (2007: 73) motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adnya tujuan.
Motivasi dalam belajar diartikan sebagai keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki oleh siswa dapat tercapai. Tujuan motivasi yaitu menumbuhkan gairah, merasa senang dan semangat dalam pembelajaran. Siswa yang memiliki motivasi kuat, akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar (Sardiman, 2007: 75). Motivasi dapat diartikan juga sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu untuk bertindak atau berbuat (Uno, 2011: 3)
2.2.2. Unsur-unsur yang mempengaruhi motivasi belajar
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2009: 97) motivasi dalam diri seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu:
1. Cita- cita atau aspirasi siswa
berlangsung sesaat atau dalam jangka waktu singkat, sedangkan kemauan dapat berlangsung dalam waktu yang lama. Cita-cita akan memperkuat motivasi belajar intrinsik maupun ekstrinsik. Tercapainya cita-cita akan mewujudkan aktualisiasi diri
2. Kemampuan siswa
Keinginan siswa untuk memperoleh prestasi disertai dengan kemampuan atau kecakapan yang dimiliki. Siswa yang berhasil akan memperoleh kepuasan, menambah pengalaman hidup dan menumbuhkan kegemaran akhirnya menjadi kebiasaan untuk belajar dengan baik.
3. Kondisi siswa
Kodisi siswa yang meliputi kondisi jasmani dan rohani mempengaruhi motivasi belajar. Seorang siswa yang kesehatannya terganggu maka akan menghambat perhatian belajar, sedangkan siswa yang sehat maka akan memusatkan perhatianya. Hal ini akan mempengaruhi pada hasil belajar siswa.
4. Kondisi lingkungan siswa
5. Unsur-unsur dinamis dalam pembelajaran
Siswa memiliki perasaan, perhatian, kemauan, pikiran dan ingatan yang mengalami perubahan dari pengalaman hidup. Siswa yang memiki cita-cita akan membangun proses pembelajaran lebih baik dilingkungan. Lingkungan budaya meliputi surat kabar, majalah, radio, televisi, dan film semakin menjangkau siswa. Guru yang profesional diharapkan mampu memanfaatkan sumber-sumber belajar tersebut untuk memotivasi siswa.
6. Upaya guru dalam membelajarkan siswa
Guru berintetraksi secara efektif dengan siswa setiap pembelajaran. Intensitas tersebut akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan belajar siswa. Guru yang profesional akan memotivasi siswa dengan partisipasi dan teladan yang baik.
2.2.3. Upaya meningkatkan motivasi belajar
Strategi yang dapat diterapkan untuk menumbuhkan motivasi siswa menurut Faturrahman (2004: 20) adalah sebagai berikut: 1. menjelaskan tujuan belajar kepada siswa (makin jelas tujuan
makin besar motivasi untuk melaksanakan kegiatan belajar) 2. memberikan hadiah (memberikan hadiah kepada siswa yang
3. mengadakan kompetisi (guru mengadakan persaingan diantara siswa untuk meningkatkan hasil prestasi dan berusaha memperbaiki prestasi yang telah dicapai sebelumnya)
4. memberikan pujian (guru sebaiknya selalu memberikan pujian yang membangun/memotivasi baik kepada siswa yang berprestasi maupun yang belum)
5. memberikan hukuman (hukuman yang diberikan guru adalah hukuman yang dapat merubah dan berusaha memotivasi belajar siswa)
6. membangkitkan dorongan siswa untuk belajar (guru harus bisa memaksimalkan perhatian pada saat proses pembelajaran, sehingga tahu siswa yang mana yang membutuhkan perhatian) 7. membentuk kebiasaan belajar yang baik kepada siswa (guru
memberikan nasehat tentang belajar setiap saat walaupun tidak ada PR dari guru)
8. membantu kesulitan belajar siswa (guru membantu setiap permasalahan yang dihadapi oleh siswa baik indiviu maupun kelompok)
9. menggunakan metode yang bervariasi (guru dapat menggunakan metode yang belum pernah diterapkan, sehingga memberikan pengalaman belajar baru bagi siswa)
Berdasarkan sumber yang menimbulkan motivasi belajar siswa menurut Dimyati dan Mudjiono (2009: 90) dapat dibagi menjadi 2 yaitu:
1. motivasi intrinsik, motivasi yang timbul dari dalam diri sesorang karena orang tersebut senang melakukannya. Ketika sesorang telah berhasil pada suatu proses maka akan meningkatkan motivasi untuk mencapai tujuan yang lain. Kunci keberhasilan dari motivasi intrinsik adalah disiplin diri yang tinggi.
2. motivasi ekstrinsik, seseorang berbuat sesuatu dikarenakan ada dorongan dari luar seperti adanya hadiah dan menghindari hukuman. Motivasi ekstrinsik dapat berubah menjadi motivasi intrinsik pada saat siswa menyadari pentingnya belajar, dan akan bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuannya.
2.3. Pembelajaran Kontekstual
2.3.1. Pengertian Pembelajaran Kontekstual (Contekstual Teaching
and Learning)
didalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjek akademik dalam konteks keseharian siswa yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial dan budaya. Beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa, ciri utama dari CTL adalah penemuan yang bermakna.
Menurut Zahorik dalam Taniredja et al (2012:51) terdapat 5 elemen yang harus diperhatikan dalam praktek pembelajaran kontekstual, yaitu:
1. pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowladge),
2. pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowladge), dengan cara mempelajari keseluruhan kemudian memperhatikan detailnya,
3. pemahaman pengetahuan (understanding knowladge), dengan cara menyusun konsep sementara atau hipotesis, melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat tanggapan atau validasi dan atas dasar tanggapan itu konsep direvisi dan dikembangkan sesuai kemampuan,
4. mempraktekan pengetahuan dan pengalaman tersebut (apliying knowladge),
2.3.2. Prinsip Pembelajaran Kontekstual (CTL)
Menurut Jhonson (2007: 18) bahwa pendidikan kontekstual memiliki 3 prinsip dasar ,yaitu:
1. belajar menghasilkan perubahan tingkah laku siswa yang relative permanen, artinya peran guru sebgai pelaku perubahan (agen of change),
2. anak didik memiliki potensi, gandrung dan kemampuan yang merupakan benih kodrati untuk ditumbuhkembangkan tanpa hati, 3. perubahan atau pencapaian kualitas ideal itu tidak tumbuh alami
lurus sejalan proses kehidupan, artinya proses belaja rmengajar merupakan bagian dari kehidupan itu sendiri.
Menurut Rusman (2011: 193) ada tujuh prinsip pembelajaran kontekstual yang harus dikembangkan oleh guru, yaitu;
1. Kontruktivisme (contructivisme).
2. Menemukan (inquiri)
Menemukan merupakan kegiatan inti dari CTL, melalui penemuan akan menegaskan bahwa pengetahuan dan ketrampilan serta kemampuan-kemampuan lain yang diperlukan bukan merupakan hasil dari mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi merupakan hasil sendiri. Pembelajaran yang diperoleh oleh siswa dari kegiatan menemukan akan bersifat lebih tahan lama diingat oleh siswa apabila dibandingkan dengan pembelajaran yang sepenuhnya diberikan oleh guru.
3. Bertanya (Questioning)
a. dapat menggali informasi, baik administrasi maupun akademik,
b. mengecek pemahaman siswa, c. membangkitkan respon siswa,
d. mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa, e. mengetahui hal-hal yang diketahui siswa, f. memfokuskan perhatian siswa,
g. membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, h. menyegarkan kembali pengetahuan yang dimiliki siswa. 4. Masyarakat belajar (Learning community)
5. Pemodelan (modeling)
Tahapan pembuatan model dijadikan alternatif untuk mengembangkan pembelajaran agar siswa bisa memenuhi harapan secara menyeluruh dan membantu mengatasi keterbatasan yang dimiliki oleh para guru.
6. Refleksi (Reflection)
Refleksi merupakan cara berpikir tentang apa yang baru terjadi atau baru dipelajari sebagai struktur pengetahuan yang baru yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Proses refleksi ini menuntut siswa untuk mencerna, menimbang, membandingkan, menghayati, dan melakukan diskusi dengan dirinya sendiri (learning to be). Melalui model CTL, pengalaman belajar tidak hanya terjadi dan dimiliki ketika seorang siswa berada di dalam kelas, akan tetapi jauh lebih penting itu adalah bagaimana membawa pengalaman belajar tersebut pada saat menanggapi dan memecahkan permasalahan yang diberikan oleh guru.
7. Penilaian Sebenarnya (Authentic Asessment)
terhadap pengalaman belajar siswa. Guru dengan cermat mengetahui kemajuan, kemunduran, dan kesulitan siswa dalam belajar, dengan demikian guru mendapat petunjuk untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan untuk melakukan proses belajar selanjutnya.
CTL menitik beratkan pada keterkaitan setiap materi atau topik pembelajaran dengan kehidupan nyata. Untuk dapat dilakukan dengan berbagai cara, selain materi yang dipelajari secara langsung terkait dengan kondisi faktual, juga dapat disiasati dengan pemberian ilustrasi atau contoh, sumber belajar, media dan yang lainnya. Dengan demikian pembelajaran akan menarik dan dapat dirasakan sangat dibutuhkan oleh setiap siswa, karena apa yang dipelajari dirasakan langsung manfaatnya.
Proses pembelajaran dengan menggunakan CTLharus mempertimbangkan beberapa karakteristik, diantaranya yaitu:
1. kerja sama, 2. saling menunjang,
3. menyenangkan dan tidak membosankan, 4. belajar dengan bergairah,
5. pembelajaran terintregasi, 6. menggunakan berbagai sumber, 7. siswa aktif,
9. siswa kritis guru kreatif,
10. dinding kelas dan lorong penuh dengan karya siswa (peta, gambar, dan artikel),
11. laporan kepada orang tua siswa bukan hanya rapor, tetapi juga hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa dan lain-lain (Depdiknas dalam Rusman, 2011: 198).
2.4. Media Gambar
Media gambar merupakan bagian dari media visual yang tidak diproyeksikan. Menurut Gerlacch dan Ely dalam Anitah (2008: 7) mengatakan bahwa media gambar tidak hanya bernilai seribu bahasa, tetapi juga seribu tahun atau seribu mil. Melalui gambar dapat ditunjukan kepada siswa di tempat lain, orang, dan dari segala sesuatu dari daerah yang jauh. Gambar juga dapat memberikan gambaran dari waktu yang telah lalu atau potret masa yang akan datang. Menurut Smaldino dalam Anitah (2008: 8) gambar juga dapat memberikan gambaran tentang segala sesuatu seperti binatang, orang, tempat dan peristiwa yang dapat diterjemahkan secara realistis.
Kelebihan media gambar menurut Anitah (2008: 8) :
1. dapat menerjemahkan ide-ide abstrak kedalam bentuk yang lebih nyata 2. banyak tersedia dalam buku-buku sehingga mudah diperoleh
3. mudah digunakan karena tidak harus menggunakan peralatan khusus 4. relatif murah
5. dapat digunakan diberbagai tingkat pelajaran dan bidang studi. Kelemahan media gambar menurut Anitah (2008:9) :
1. kadang terlalu kecil apabila ditunjukan di kelas yang besar
2. gambar mati adalah gambar dua dimensi, sehingga untuk mengetahui sisi yang ketiga dibutuhkan satu seri dari gambar objek yang sama tetapi dari sisi yang berbeda
3. tidak dapat menujukan gerak
4. siswa yang lemah dalam menginterpretasikan gambar akan kesulitan bagaimana cara membaca gambar
Manfaat gambar sebagai media pembelajaran(Anitah, 2008: 9) :
1. memberikan daya tarik bagi siswa. Gambar dengan berbagai warna akan lebih menarik dan membangkitkan minat serta perhatian siswa,
3. memperjelas bagian-bagian yang penting. Menggunakan media gambar dapat memperjelas bagian/objek materi yang kecil atau sulit dijangkau oleh penglihatan mata kita,
4. mempersingkat suatu uraian yang panjang. Uraian yang panjang dapat ditunjukan hanya dengan sebuah gambar.
Ciri-ciri gambar yang baik menurut Anitah (2008: 9) :
1. disesuaikan dengan tingkatan umur dan kemampuan siswa,
2. bersahaja dalam arti tidak terlalu kompleks, sehingga siswa mendapatkan gambaran yang pokok. Kekomplekan suatu gambar akan mempengaruhi perhatian siswa pada gambar yang seharusnya dipelajari,
3. realistis, maksudnya gambar yang ditunjukan seperti benda yang sesungguhnya dengan ukuran yang disesuaikan atau sesuai dengan apa yang ada digambar,
4. gamabar yang diperlukan dapat dibuat dengan tangan, sehingga siswa dapat mencermati benar gambar yang ditunjukan.
Teknik penggunaan gambar sebelum digunakan menurut Anitah (2008: 10) adalah:
1. pengetahuan apa yang akan diperlihatkan melalui gambar harus jelas dahulu,
2. kemungkinan salah pengertian yang akan ditimbulkan oleh gambar, 3. persoalan apa yang hendak dijawab oleh gambar,
5. apakah gambar tersebut akan membuat siswa berfikir kepada tingkat permasalahan lebih lanjut,
6. apakah sekiranya ada media yang lebih tepat diterapkan pada suatu materi untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Cara menujukan gambar yang baik menurut Anitah (2008: 10) siswa seharusnya diberi petunjuk untuk memperhatikan hal-hal yang perlu dipelajari pada saat pembelajaran, anatara lain:
1. apa yang harus dicari siswa dalam gambar, 2. siswa harus dapat menginterpretasikan gamabar, 3. bagaimana siswa memberikan kritik pada gambar,
4. bagaimana hubungan gambar dengan materi pelajaran lain, 5. apabila gambar terlalu luas berikan dalam seri-seri gambar yang
mempunyai ukuran logis,
6. ketika melihat gambar mungkin semua siswa tidak dapat melihat dengan jelas maka sesudah pembelajaran berakhir sebaiknya gamabar ditayangkan ditempat yang dapat dijangkau oleh siswa
2.5. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan hasil akhir dari suatu proses belajar mengajar dan merupakan perwujudan dari kemampuan diri yang optimal setelah menerima pelajaran. Nana Sudjana (2004: 22) mengatakan “hasil
dan kebiasaan. (2). Pengetahuan dan pengarahan, (3). Sikap dan cita-cita. Bloom didalam Dimyati dan Mujiono (2002 : 26), mengklasifikasikan hasil belajar menjadi tiga kategori, yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotor, yang dikenal dengan taksonomi Bloom.
Jenkins dan Unwin (Uno, 2009: 17) yang mengatakan bahwa hasil belajar adalah pernyataan yang menunjukkan tentang apa yang mungkin dikerjakan siswa sebagai hasil dari kegiatan belajarnya. Jadi hasil belajar merupakan pengalaman-pengalaman belajar yang diperoleh siswa dalam bentuk kemampuan-kemampuan tertentu.
2.6. Hasil Penelitian Terdahulu