A. PERSEDIAAN
1. Pengertian Persediaan
Persediaan merupakan salah satu unsur yang paling aktif dalam
operasi perusahaan, yang secara continu diperoleh atau diproduksi dan
dijual. Sebagian besar sumberdaya perusahaan acapkali diinvestasikan
dalam bentuk barang barang yang dibeli atau diproduksi. Biaya
barang-barang itu harus dicatat, dikelompokan dan diikhtisarkan selama periode
akuntansi. Pada akhir periode, biaya dialokasikan antara aktivitas periode
berjalan dan barang- barang yang ada dalam persediaan untuk dijual pada
periode mendatang. . .
Persediaan juga merupakan satu bagian yang terpenting dalam suatu
perusahaan, karena persediaan dapat mempengaruhi kelangsungan hidup
perusahaan. Tanpa adanya persediaan, perusahaan dihadapkan pada resiko
dimana suatu waktu tidak dapat memenuhi keinginan pelanggan yang
memerlukan barang-barang yang tersedia setiap saat, yang berarti pula
perusahaan akan kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan.
Jika persediaan mempunyai arti yang sangat penting bagi suatu
perusahaan dan diperlukan suatu perhatian khusus untuk mengelola dan
"The term inventories includes merchandise destine for sale in the normal coure of business, and materials and supplies to be used in the process of production of sala." (Artinya adalah pengertian persediaan meliputi
barang yang ditunjuk untuk dijual dalam kegiatan usaha normal, dan bahan baku serta perlengkapan yang digunakan dalam proses produksi).
Menurut pendapat MP. Simangunsong (2000 : 80) mengenai persediaan : "Persediaan adalah barang-barang yang dimiliki dengan tujuan untuk dijual kembali atau diproses dan kemudian dijual"
Sedangkan menurut Soemarso S.R. (2004 : 383) persediaan adalah :
"barang-barang yang dimiliki perusahaan untuk dijual kembali. Untuk perusahaan pabrik, termasuk dalam persediaan adalah barang-barang yang akan digunakan untukproses produksi selanjutnya "
Menurut Marianus Sinaga (2000 : 256) mendefinisikan persediaan digunakan untuk mengartikan:
a. barang dagangan yang disimpan untuk dijual dalam operasi normal perusahaan
b. bahan yang terdapat dalam proses produksi atau disimpan untuk tujuan
either wholesale or retail, when such goods have been acquired in condision for resale"
Atau dalam terjemahannya Jay M Smith dan K Fred Skousen (2001 :326) "Persediaan adalah barang-barang yang dimiliki untuk dijual dalam kegiatan normal perusahaan, serta untuk perusahaan manufaktur barang-barang yang tengah diproduksi atau ditempatkan dalamproduksi"
Standar Akuntansi Keuangan (PSAK No. 14, 2000:14:1) mendefinisikan
persediaan adalah aktiva :
1. Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal 2. dalam produksi dan atau dalam perjalanan
3. dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan
dalam proses produksi atau pemberian jasa
Menurut Syarir dalam bukunya "Analisa pasar Modal" (2002 : 30)
"Persediaan meliputi barang-barang dagangan yang dimaksudkan untuk dijual dalam kondisi usaha normal dan bahan baku serta bahan pembantu
yang dipergunakan dalam proses untuk dijual".
Dari definisi-definisi persediaan diatas dapat disimpulkan bahwa
persediaan adalah barang-barang yang dimiliki oleh perusahaan yang tujuannya adalah untuk dijual kembali atau untuk diproses lebih lanjut
yang kemudian pada akhirnya akan dijual.
Persediaan terdiri dari berbagai jenis, dan pada umumnya perusahaan membutuhkan berbagai macam persediaan untuk memperlancar kegiatan usahanya. Istilah yang digunakan dapat dibedakan
untuk perusahaan dagang yaitu perusahaan yang membeli barang dan menjualnya kembali tanpa mengadakan perubahan bentuk barang dan perusahaan manufactur yaitu perusahaan yang membeli bahan dan mengubah bentuknya untuk dapat dijual.
(Menurut Jay M Smith dan K Fred Skousen (terjemahan), 2001,
hal 327-328):
1. Bahan Baku
Barang-barang yang diperoleh untuk digunakan dalam proses produksi
2. Barang dalam proses
Terdiri dari bahan baku yang sebagian telah diproses dan perlu
dikerjakan lebih lanjut sebelum dapat dijual 3. barang jadi
Merupakan produk yang telah diproduksi dan menunggu saat untuk dijual
2. Sistem Pencatatan Persediaan
Dalam melakukan pencatatan dan penilaian jumlah persediaan,dapat digunakan satu dari sistem berikut ini, menurut Soemarso S.R. (2004:384-414)
a. Sistem Periodik / Fhisik
Dalam metode ini pencatatan persediaan hanya dilakukan pada
akhir periode akuntansi ( pada saat akan menyusun laporan keuangan )
melalui ayat jurnal penyesuaian. Penilaian persediaan dilakukandengan mengadakan perhitungan fisik, dan transaksi-transaksi yang
mempengaruhi persediaan dicatat masing-masing dalam perkiraan tersendiri. Sistem ini tidak melakukan pencatatan secara terus menerus selama satu periode atas transaksi yang berhubungan dengan persediaan barang.Jika terdapat transaksi pembelian dan penjualan maka hanya dicatat pada pembelian dan penjualannya saja sedangkan persediaan barang tidak terjadi perubahan.
Dengan demikian perkiraan persediaan barang hanya menunjukan nilai persediaan awal dan persediaan akhir periode yang bersangkutan saja. sistem ini disebut juga sebagai sistem fisik (phisical system), karena nilai persediaan barang baru diketahui setelah jumlah fisik barang bersangkutan diketahui. Persediaan barang tersebut diperoleh dengan menghitung jumlah fisik yang ada melalui stock opname. Jadi pada sistem ini, nilai persediaan barang akan diketahui pada akhir suatu periode tertentu dengan terlebih dahulu menghitung fisik barang yang ada melalui stock opname dan tidak setiap saat.
Persediaan barang pada akhir suatu periode maupun suatu awal periode diperlukan untuk menghitung atau untuk mengetahui harga
pokok barang yang dijual ( cost ofgoods sold ). Dengan demikian jika nilai persediaan barang yang ada tidak diketahui, maka tentunya harga pokok barang yang akan dijual selama periode tertentu juga tidak dapat ditentukan. Jadi, menurut sistem periode ini harga pokok barang yang dijual belum dapat ditentukan atau diketahui sebelum jumlah dan nilai
persediaan barang belum diketahui juga.
Sistem periodik ini lebih menitik beratkan pada catatan pembelian barang saja dan kurang memperhatikan tentang catatan
pengeluaran barang. Pada sistem ini hanya diperhatiakan berapa
jumlah barang yang masuk ( dibeli ) dan berapa sisanya, sedangkan selisih antara jumlah barang yang dibeli dan jumlah barang-barang yang sisa adalah merupakan jumlah barang yang terjual. Nilai barang yang dibeli dicatat sebagaimana terjadi, dan baru timbul masalah pada waktu menentukan berapa nilai persediaan barang yang ada pada akhir
periode.
Karena penilaian persediaan barang yang ada terdiri dari bermacam-macam cara atau metode, maka tentunya harga pokok barang yang dijual akan tergantung pada penilaian terhadap persediaan
tersebut. Karena tidak ada catatan terhadap mutasi persediaan barang
maka harga pokok penjualan barang baru dapat dihitung jika nilai persediaan barang akhir dilakukan dengan cara :
Persediaan barang awal . Rp. XX
Barang yang tersedia untuk dijual Rp. XX Persediaan barang akhir Rp. XX
Hargapenjualan Rp. XX
Jika" perusahaan menggunakan sistem periodik ini, ada masalah
yang timbul yaitu pada waktu akan menyusun laporan keuangan
jangka pendek ( interm ), misalnya pada setiap akhir bulan maka
perusahaan akan kesulitan menghitung secara fisik nilai akhir dari
persediaannya. Jika barang yang dimiliki, jumlah dan jenisnya banyak maka perhitungan fisik tersebut akan memakan waktu yang cukuplama dan hal ini tentunya akan mengakibatkan laporan keuangan yang
dipelukan juga akan terhambat. Dilain pihak dengan tidak diikutinya
mutasi persediaan dalam buku tertentu akan menjadikan sistem ini sangat sederhana baik pada saat pencatatan pembelian maupun pada waktu melakukan pencatatan penjualan.b. Sistem Perpetual
Dalam metode ini pencatatan persediaan dilakukan setiap terjadi transaksi yang mempengaruhi persediaan. Dengan demikian setiap saat saldo perkiraan persediaan akan menunjukan saldo persediaan yang sebenarnya. Dengan demikian pada akhir periode
akuntansi ( pada saat akan menyusun laporan keuangan ) tidak
diperlukan ayat jurnal penyesuaian ( adjusment) terhadap persediaan.
Dalam sistem ini setiap mutasi dari persediaan sebagai akibat
dari pembelian maupun penjualan dicatat atau terlihat dalam kartu
administrasi persediaan.
Berbeda dengan system periodik yang melakukan penghitungan persediaan barang hanya pada akhir periode saja, maka
pada sistem perpetual ini setiap saat dapat diketahui berapa besar
jumlah persediaan barang baik fisik maupun nilainya.Karena dengan sistem ini, setiap terjadi transaksi pembelian maupun penjualan selalu di catat sehingga setiap saat dapat diketahui
saldo persediaan yang ada. Itulah sebabnya system perpetual ini
disebut juga "Continue Sistem" karena pada sistem ini diadakan pencatatan terus menerus. Dan karena persediaan barang dapat diketahui berdasarkan catatan-catatan, tanpa melihat fisik barang, maka sistem ini disebut juga " Book Inventory Sistem "Harga pokok barang yang dijual pada system ini dapat langsung diketahui dengan melihat perkiraan harga pokok penjualan, karena pada setiap terjadi transaksi penjualan, perkiraan harga pokok penjualan didebet dengan harga sebesar pada harga pokok barang yang dijual tersebut.
Dengan kata lain karena pengeluaran barang dicatat berdasarkan harga pokoknya ( cost), maka dapatlah diketahui berapa besarnya harga pokok penjualan pada sistem periode atau setiap saat.
Perhitungan atas fisik barang-barang yang ada untuk kemudian dibandingkan dengan jumlah yang ada didalam perkiraan persediaan tetap harus dilakukan. Jika terdapat selisih jumlah persediaan barang antara hasil perhitungan fisik dengan saldo menurut perkiraan persediaan, maka harus dicari sebab-sebab terjadinya perbedaan tersebut. Apakah terjadinya selisih karena adanya hal-hal yang normal dalam arti susut atau rusak misalnya, ataukah akibat dari penyelewengan. Selisih yang terjadi akan dicatat dalam perkiraan selisih persediaan barang. Itulah sebabnya perkiraan harga pokok
penjualan menunjukan jumlah harga pokok dari barang-barang yahg
dijual saja, sedangkan selisih persediaan tidak termasuk didalamnya, tetapi dicatat didalam perkiraan sendiri. Tetapi pada sistem periodik
selisih persediaan barang akan dicampur dalam harga pokok penjualan. Dibandingkan dengan sistem periodik, maka system perpetual,
ini merupakan cara yang lebih baik untuk mencatat persediaan barang,
karena lebih memudahkan dalam menyusun laporan keuangan serta dalam hal pengawasan barang-barang yang ada di gudang. Pada sistem
ini dibuatkan buku pembantu persediaan untuk masing-masing jenis persediaan barang yang ada. Sedangkan buku besar perkiraan barang
merupakan rekening kontrol atas buku pembantu persediaan tersebut.
Tetapi jika dibandingkan dengan sistem periodik tentunya sistem
perpetual ini memerlukan pekerjaan tambahan, sehingga membutuhkan-tambahan biaya-biaya didalam pelaksanaannya.
System perpetual akan selalu mencatat besarnya harga pokok penjualan pada setiap terjadinya transaksi penjualan, sedangkan system periodik hanya mencatat besarnya harga pokok penjualan pada setiap akhir periode saja, yaitu melalui ayat jumal penyesuaian ( adjusment).
Untuk menentukan apakah barang itu sudah dapat dicatat sebagai persediaan, dasar yang digunakan adalah hak kepemilikan atas barang tersebut. Jadi pencatatan persediaan barang berdasarkan pada perpindahan hak atas barang itu. Kadang kadang terdapat keadaan dimana sulit untuk menentukan hak kepemilikan atas barang, sehingga dalam praktek akan menemui adanya penyimpangan penyimpangan. Kesulitan menentukan perpindahan atas barang antara lain timbul pada keadaan.
1) Barang-barang dalam perjalanan
Jika syarat penjualan adalah FOB shipping point, maka ini berarti berarti bahwa hak atas barang berpindah ketika barang-barang tersebut diserahkan pada pihak yang bersangkutan. Jadi pada saat barang tersebut sedang berada dalam pengangkutan, maka penjual mengakui telah terjadinya penjualan dan akan mengurangi persediaan barangnya.
Jika penjualan menggunakan syarat penjualan FOB destination, maka transaksi penjualan tersebut baru dicatat ketika pembeli menerima barang-barang yang dikirimkan. Jadi dalam
syarat ini jika telah sampai ditangan pembeli baru diadakan
pencatatan baik oleh penjual maupun pembeli.Biasanya pembeli mengadakan perhitungan harga pada
saat-penerima barang dan hal ini bisa diterima jika jumlahnya tidak
begitu berarti. Begitu pula untuk mempermudahkan, biasanya
penjual mencatat transaksi ini pada saat barang barang ini
dikirimkan, cara ini dapat diterima jika ada kesulitan didalam
menentukan tanggal penerimaan barang tersebut.2) Barang-barang Konsinyasi {goods in consigment)
Kadang-kadang ada barang yang dikirimkan kepada agen
atau pedagang sebagai barang konsinyasi. Sampai barang-barang
tersebut dijual baik dengan tunai maupun kredit dan setelah diakui,
maka secara kontinu barang tersebut harus dicatat sebagai bagian persediaan barang dari pihak yang menitipkan ( consignor -). Dengan demikian barang-barang yang dikonsinyasikan haknya tetap berada pada consignor, sehingga terdapat pada persediaanconsignor.
Adapun pihak yang menerima titipan ( consignee J, tidak mempunyai hak atas barang-barang tersebut kedalam perkiraan tersendiri didalam neraca sebagai " Merchandise On Consigment". ( barang dalam konsinyasi).
3) Barang-barang yang dipisahkan {segregated goods)
Jika barang-barang yang disediakan untuk memenuhi pesanan-pesanan khusus ( special orders ), maka barang-barang ini disebut segregated goods. Jadi idengan sendirinya hak atas barang tersebut dapat dianggap sudah berpindah. Sehingga dengan demikian penjual dapat mencatatnya sebagai suatu penjuaian dan menguranginya dari persediaan. Sedangkan pembeli juga mencatatnya sebagai pembelian dan akan menambah nilai
persediaannya.
4) Penjuaian Angsuran {installment sales)
Dalam hal penjuaian angsuran, maka hak atas barang tetap berada pada penjual sampai dengan harga jual barang tersebut dilunasi. Penjual akan melaporkan barang-barang tersebut setelah
dikurangi dengan jumlah yang sudah dibayar kedalam persediaannya.
Jika terdapat kemungkinan yang kecil atau dianggap relatif kecil timbulnya pembatalan penjuaian, maka penjual dapat mengakui sebagai penjuaian biasa yang diangsur. Sedangkan
pembeli dapat mencatat nya sebagai pembelian biasa yang pembayarannya secara angsuran.
3. Metode penilaian Persediaan
Dalam menilai suatu persediaan terdapat beberapa metode yang
dapat digunakan: .
a. Metode Harga Pokok
Nilai persediaan barang dagang ditentukan oleh dua faktor, yaitu kuantitas dan harga pokok. Kuantitas persediaan dapat diperoleh melalui perhitungan secara fhisik. Harga pokok persediaan adalah
harga untuk memperoleh persediaan tersebut. Di samping harga beli,
termasuk dalam harga pokok persediaan adalah semua biaya yang terjadi sampai dengan persediaan siap dijual misalnya, biaya pengangkutan, bea masuk dan asuransi. Biaya-biaya yang susah dihubungkan dengan salah satu jenis barang, misalnya biaya pengangkutan dan asuransi dapat dibagikan sama rata atas suatu dasar tertentu. Biaya yang jumlahnya kecil dan sulit dialokasikan tidak perlu dimasukan sebagai harga pokok barang. Biaya-biaya ini diperlakukan sebagai biaya usaha periode berjalan. Potongan pembelian, secara rata-rata, harusdiperhitungkan.dalam menentukan harga pokok persediaan.Kesulitan dalam menetapkan harga pokok persediaan adalah apabila selama satu periode, barang yang sama diperoleh dengan beberapa harga yang berbeda. Apabila demikian, perlu ditentukan harga yang akan digunakan untuk menetapkan harga pokok persediaan.
Didalam metode harga pokok inti untuk menilai suatu persediaan masih terbagi dalam beberapa metode, yaitu;
1) Metode Identifikasi Khusus ( specific Identification Method) Metode ini didasarkan atas asumsi bahwa harga pokok dari setiap barang yang terjual dimasukan dalam harga pokok penjualan, sedangkan harga pokok dari setiap barang yang ada ditangari dimasukan kedalam persediaan. Metode ini dapat digunakan hanya dalam situasi dimana perusahaan dapat dengan mudah memisahkan secara fisik berbagai pembeltan yang dilakukan. Metode ini dapat diterapkan dengan baik dalam situasi aman barang yang ditangani berjumlah relatif kecil, harganya mahal dan mudah dibedakan, misalnya perhiasan, mobil dan rumah.
Kelemahan dari metode Identifikasi Khusus ini adalah :
1) Memerlukan terlalu bariyak perhatian terhadap fisik barang 2) Menimbulkan banyak pekerjaan administrasi
2) Metode rata-rata {AverageMethod)
Metode ini berbeda dengan metode sebelumnya karena
didasarkan atas harga rata-rata dimana harga tersebut dipengaruhi.
oleh jumlah barang yang diperoleh pada masing-masing harganya. Dalam sistem ini juga menggunakan cara pencatatan perpetual maka pengeluaran-pengeluaran akan dibebankan harga pokok pada akhir periode. Karena perhitungan harga pokok rata-rata dilakukan pada akhir periode, maka pada saat tersebut perkiraan persediaan batang dikredit dengan harga pokok rata-rata.
jika harga pokok rata-rata dicatat setiap saat ada pengeluaran barang, maka diperlukan juga perhitungan harga pokok rata-rata setiap kali dilakukan pembelian barang. Itulah sebabnya didalam system perpetual dengan cara rata-rata dikenal dengan metode rata-. rata bergerak atau "moving average method"
Harga pokok rata-rata tiap unit yang baru, dihitung setiap kali ada pembelian barang. Sedangkan pengeluaran-pengeluaran barang berikutnya dinilai dengan harga pokok rata-rata tersebut terdapat
pembelian barang baru lagi.
Kelebihan dari metode rata-rata adalah:
1) Penerapan praktis, sederhana dan obyektif
2) Dapat menstabilkan harga pokok apabila terdapat
fluktuasi-harga
3) Tidak terkena manipulasi laba .
Kelemahan dari metode rata-rata adalah: 1) Perlunya kalkulasi yang mendetail
2) Memakan waktu cukup lama untuk memasukan nilai pembelian terakhir didalam harga pokok rata-rata
3) Metode FIFO (First In First Out)
Metode ini didasarkan atas asumsi bahwa harga barang yang sudah terjual dinilai menurut harga pembelian barang yang terdahulu masuk. Dengan demikian persediaan akhir dinilai menurut harga pembelian barang yang terakhir masuk.
Menurut Jay M Smith dan K Fred Skousen ( 2001 : 374 ),
metode persediaan FIFO berdasarkan pada asumsi bahwa harus
dibebankan kependapatan sesuai dengan urutan terjadinya, dengan
demikian persediaan akan dinyatakan berdasarkan biaya terbaru. Metode persediaan FIFO dianggap sebagai suatu pendekatan yang logis dan realistik mengenai arus biaya apabila identifikasi khusus biaya tidak praktis atau tidak mungkin dilaksanakan, metode persediaan FIFO mengasumsikan suatu arus biaya yang paralel dengan arus fisik barang sehari-hari. Pendapatan dibebani dengan biaya yang dianggap berkaitan dengan barang yang benar-benar dijual, persediaan akhir dilaporkan menurut biaya terbaru, biaya yang paling mendekati nilai berjalan persediaan pada tanggal.neraca.
Metode persediaan FIFO tidak memberi peluang untuk memanipulasi laba karena harga pokok ditentukan menurut terjadinya biaya.
Jika menggunakan sistem perpetual, maka tiap-tiap barang yang dibuatkan kartu persediaan, hal ini dilakukan untuk memudahkan perusahaan mengetahui ..berapa jumlah persediaan yang masih tersisa.
Dengan demikian dalam metode FIFO, harga pokok barang yang dijual dan dipersediaan akhir yang dihitung dengan cara
perpetual akan sama hasilnya dengan hasil perhitungan yang menggunakan cara periodik.
Kelebihan dari metode FIFO adalah :
1) Persediaan akhir dilaporkan dengan nilai menurut harga periodik yang paling baru
2) Jumlah persediaan akhir akan terdiri dari pembelian yang
paling baru
3) Tidak memperkenankan manipulasi laba, karena perusahaan tidak bebas untuk mengambil pos harga pokok tertentu.
Kelemahan dari metode FIFO adalah :
1) Harga pokok periode berjalan tidak sesuai dengan. pendapatan periode berjalan pada perhitungan laba rugi
2) Harga pokok yang paling lama dibebankan pada pendapatan yang lebih baru, yang dapat menyebabkan penyimpangan dalam harga pokok dan harga laba bersih perusahaan.
4) Metode 1AFO (Last In First Out)
Metode ini didasarkan atas asumsi bahwa harga barang yang telah terjual dinilai menurut harga pembelian barang yang terakhir masuk. Sehingga persediaan yang masih ada ( stock ) dinilai berdasarkan harga pembelian barang terdahulu. ■
Seperti halnya pada metode FIFO, maka dalam metode LIFO ini harga pokok barang yang dijual dan persediaan akhir yang dihitung menurut sistem periodik tidak sama dengan system
perpetual, hal ini terjadi karena barang yang terlebih dahuhi dijual oleh perusahaan adalah barang yang terakhir dibeli sehingga mengakibatkan adanya perbedaan dalam hal penghitungan secara fisik barang yang masih dimiliki oleh perusahaan.
Kelebihan dari metode LIFO adalah :
1) Harga pokok yang paling baru dicocokan dengan pendapatan akan memberikan laba masa berjalan yang lebih baik.
2) Menggunakan pajak penghasilan dengan naiknya tingkat.harga akan menaikan tingkat arus kas.
.3) Laba bersih perusahaan tidak hanya dipengaruhi oleh
penurunan hargaKelemahan dari metode LIFO adalah : 1) Laba perusahaan menjadi terlalu rendah 2) Arusfisikjarangdiperkirakan
3) Likuiditas persediaan dapat menyirnpangkan laba bersih dan
mengakibatkan paj ak yang lebih tinggi.
b. Metode Selain Harga Pokok
Penetapan harga pokok persediaan dengan metode harga pokok
mengharuskan adanya perhitungan fisik terhadap persediaan. Kegiatan
ini biasanya memerlukan biaya dan waktu yang besar. Tidak mungkin
kalau hal ini harus sering dilakukan. Sebaliknya pihak manajemen
perusahaan biasanya menginginkan agar laporan keuangan dapat lebih
sering di keluarkan. Bukan hal ini yang jarang apabila sebuah
perusahaan mengeluarkan laporan keuangan interimnya secara
bulanan.
Berikut akan diuraikan metode-metode yang dapat digunakan dalam menilai persediaan selain dari metode harga pokok.
1) Metode Estimasi / Taksiran ( Estimated Method)
Kesulitan mengadakan perhitungan fisik disatu pihak, serta
keinginan untuk menghasilkan laporan keuangan secara berkala-dipihak lain, mengakibatkan diperlukan cara bam menetapkan harga pokok persediaan yaitu dengan metode taksiran atau estimasi. Penggunaan angka taksiran untuk persediaan yang dilakukan dalam rangka penyususnan laporan keuangan interm, tidak akan mengurangi kegunaan laporan.
Ada dua metode yang dapat digunakan, yaitu metode eceran
(retail method) dan metode laba bruto (gross profit method)
a) Metode eceran ( retail method )
Konsep yang mendasari adalah adanya hubungan yang dekat dan konstan antara harga pokok dan harga jual yang biasanya dinyatakan dalam suatu prosentase perlu ditetapkan terlebih dahulu. Persediaan dinilai pada harga jual eceran kemudian dikonversikan untuk memperkirakan harga pokok dengan
Kelebihan dari metode eceran adalah :
a) Saldo persediaan dapat diperkirakan .tanpa perhitungan fisik.
b) Dapat dijadikan sebagai alat kontrol karena penyimpangan terhadap perhitungan fisik pada akhir tahun harus
dijelaskan.
c) Mempercepat penghitungan persediaan tidak pada akhir tahun.
Kelemahan dari metode eceran adalah :
a) Lebih dapat diterima jika masing-masing unit persediaannya cukup berarti.
b) Sangat sulit dalam menentukan harga pokok penjualan.
b) Metode labakotor (gross profit method)
Metode ini didasarkan atas asumsi bahwa (1) persediaan barang ditambah pembelian adalah. total barang yang dihitung. (2) barang-barang yang belum terjual harus ada ditangan, (3) jika penjualan, dikurangi harga pokok, dikurangi dengan jumlah persediaan awal ditambah pembelian, hasilnya adalah.
persediaan akhir.
Kelebihan dari metode laba kotor adalah :
a) dapat digunakan sebagai laporan interim oleh para auditor dimana hanya dibutuhkan estimasi untuk persediaan perusahaan.
b) Dapat digunakan manakala persediaan atau catatan persediaan musnah / hilang
Kelemahan dari metode laba kotor adalah :
a) Hanya berupa perkiraan, akibatnya perhitungan secara fisik
harus dilakukan setiap tahun untuk mengestimasikan bahwa persediaan tersebut beriar-benar ditangan.
b) Metode ini menggunakan persentase masa lalu dalam
menentukan laba kotor
c) Harus berhati-hati dalam menerapkan laba kotor kelompok
2) Metode penerapan yang terendah antara harga pokok atau harga pasar ( Lower Cost or Market/LCM)
Metode ini didasarkan atas asumsi bahwa untuk menentukan
nilai pasar yang ditetapkan dari persedjaan tersebut yang mungkin berupa biaya pengganti, nilai bersih yang dapat direalisasikan, atau nilai bersih yang dapat direalisasikan dikurangi margin laba normal. Setelah nilai pasar yang ditetapkan ditentukan, dibandingkan dengan harga pokok untuk mendapatkan yang . terendah antara harga pokok atau harga pasar. Penerapan dari
metode yang terendah antara harga pokok atau harga pasar adalah masing-masing barang golongan atau pada total persediaan.
4. Perbedaan Persediaan Dengan Aktiva Tetep
Dalam akuntansi keuangan diketahui bahwa harta perusahaan atau yang biasa disebut aktiva tetap, dalam hal ini persediaan termasuk dalam . golongan aktiva lancar, berikut akan dibahas mengeriai perbedaan aktiva
tetap dengan persediaan:
Menurut Soemarso S.R ( 2004: 251 ) aktiva tetap :
"Aktiva bernilai besar yang sifatnya tetap atau permanen digunakan dalam kegiatan perusahaan dan tidak untuk dijual kembali dalam kegiatan normal"
Sedangkan persediaan adalah:
"Barang-barangyang dimiliki perusahaan untukdijual kembali" Dari kedua pengertian diatas dapat diketahui bahwa ada beberapa
perbedaan antara persediaan dengan aktiva tetap :
1. Aktiva tetap bernilai besar dan bersifat permanen, sedangkan persediaan tidak bersifat permanen
2. Aktiva tetap tidak ditujukan untuk dijual kembali, sedangkan persediaan ditujukan untuk dijual kembali.
3. Aktiva tetap mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun atau berjangka panjang, sedangkan persedian mempunyai masa manfaat
B. L A B A (Income)
1. Pengertian Laba
Laba adalah pengembahan (return) yang melebihi investasi. Sebuah perusahaan menghasilkan laba hanya jika jumlah finansial dari.
aktiva bersih perusahaan pada akhir periode lebih besar.dari pada jumlah finansial aktiva bersih pada awal periode bersangkutan sesudah mengeluarkan pengaruh transaksi dengan pemilik.
Menurut standar Akuntansi Keuangan ( PSAK No. 1 ):
"Laba (income) adalah kenaikan manfaat ekonomi selama satu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau
penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak
berasal dari kontribusi penanaman modal"
Menurut Theodorus M Tuanakota (2001 : 177) : "Laba dapat
berupa pemberian atau hibah yang diterima diperusahaan maupun dari penjual atau pertukaran asset yang bukan inventory "
Sedangkan menurut Eldon S Hendrikson ( 2001 : 143 ) ; "Laba adalah jumlah yang dikonsumsi tanpa mengganggu modal, baik. modal tetap maupun modal kerja"
Menurut Suwardjono ( 2003 : 53 ) : "Laba adalah selisih bersih antara pendapatan dan biaya atau dikurangi dengan selisih bersih antara untung dan rugi, jadi laba merupakan selisih hasil pengukuran
pendapatan, untung, biaya dan rugi"
Menurut FASB ( Financial Accounting Standars Board ) menilai
Menurut FASB ( Financial Accounting Standars Board ) menilai
laba dengan menggunakan pendekatan pemeliharaan modal keuangan dua
pendekatan yang digunakan secara luas dalam konsep pemeliharaan modal keuangan antara lain:a. Penilaian aktiva bersih perusahaan ( Pendekatan Penilaian )
Pendekatan penilaian menekankan bahwa laba adalah suatu konsep residual. Secara operasional, pendekatan ini membutuhkan pengukuran aktiva dan kewajiban suatu perusahaan pada dua titik waktu. Jika selisih antara aktiva dan kewajiban yang dikenal dengan aktiva bersih atau ekuitas meningkat setelah semua investasi. atau; distribusi ekuitas yang baru di eliminasi, maka tidak ada laba. Jika bagian ekuitas menurun terjadi laba yang negatif atau rugi.
Salah satu kelemalian terbesar dari pendekatan penilaian adalali bahwa angka laba dihitung dalam satu operasi tidak ada rincian yang menguraikan proses menghasilkan laba dalam pendekatan ini, laba. hanyalah perbedaan antara aktiva bersih pada dua titik yang berbeda sesudah menghilangkan setiap transaksi yang bersangkutan dengan
pemilik.
b. Pengikhtisaran Transaksi dan Biaya ( Pendekatan Transaksi) Pendekatan transaksi yang sering disebut sebagai metode penanding ( matching method ) memusatkan perhatian pada
kejadian-Keuntungan ( Gains ) atau kerugian (Losses ) merupakan perubahan ekuitas setelah rhemperhitungkan pendapatan, beban, dan investasi serta distribusi kepada pemilik maka kita dapat melihat bahwa laba yang ditentukan menurut pendekatan transaksi akan sama dengan laba yang ditentukan menurut pendekatan penilaian.
2. Komponen Unsur-Unsur Laba
a. Pendapatan
Pendapatan adalah arus masuk atau penambahan lain atas aktiva suatu entitas atau penyelesaian kewajiban-kewajiban yang berasal dari penyerahan atau produksi barang, pemberian. jasa atau aktivitas-aktivitas laba yang mrupakan operasi utama atau operasi inti yang berkelanjutan dari suatu entitas.
b. Beban ( Expenses )
Adalah arus keluar atau pemakaian aktiva atau terjadinya kewajiban yang berasal dari penyerahan atau produksi barang, pemberian jasa atau pelaksanaan aktivitas-aktivitas lain yang merupakan operasi utama atau operasi inti yang berkelanjutan dari suatu entitas.
c. Keuntungan ( Gains )
Adalah kenaikan ekuitas (aktiva Bersih ) yang berasal dari transaksi periferal ( sesuatu yang bersifat sampingan, tidak merupakan
hal yang utama atau inti ) atau insidental pada suatu entitas kecuali
yang dihasilkan dari pendapatan atau investasi pemilik.
d. Kerugian ( Losses )
Adalah penurunan ekuitas atau aktiva bersih yang berasal dari transaksi periferal atau insidental pada suatu entitas dan dari semua transaksi dan kejadian serta situasi lain yang mempengaruhi entitas kecuali yang dihasilkan dari beban atau distribusi kepada pemilik.
3. Tinjauan Atas Perhitungan Laba Rugi a. Laba Kotor ( gross profit)
Laba Kotor = Penjualan Bersih - Harga Pokok
b. Laba Operasi ( Operating Income )
Laba Operasi = Laba Kotor - Beban Operasi
c. Laba dari operasi sebelum pajak penghasilan ( profit Before
Income Tax)
Laba Operasi = Pendapatan dan Keuntungan Lain* - Beban dan Kerugian Lain**
d. Laba dari operasi setelah pajak penghasilan ( profit After Income
Tax)
e. Laba bersih (Net Income )
Laba Kotor + atau - Pos-pos Biasa atau Luar Biasa
Keterangan :
* Pendapatan dan keuntungan contohnya pendapatan dari; aktivitas keuangan seperti sewa, bangunan, deviden, dan keuntungan dari penjualan aktiva peralatan dan mvestasi
** Beban dan kerugian contohnya beban bunga, amortisasi diskonto