KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL TANAMAN PANGAN
Nomor : … /HK…../C/…/2014
T E N T A N G
PEDOMAN TEKNIS
SEKOLAH LAPANGAN PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU
(SL-PTT) PADI DAN JAGUNG
TAHUN ANGGARAN 2014
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
DIREKTUR JENDERAL TANAMAN PANGAN,
Menimbang : a.
bahwa dalam rangka ketahanan pangan
nasional untuk memenuhi kebutuhan
konsumsi maka perlu diupayakan
peningkatan produksi tanaman pangan;
b.
bahwa untuk mewujudkan peningkatan
produksi tanaman pangan terutama padi
dan jagung tahun 2014 difokuskan
melalui pendekatan SL-PTT;
c.
bahwa dalam DIPA Satuan Kerja Dinas
yang menangani Tanaman Pangan di
Provinsi dan Kabupaten/Kota Tahun
Anggaran
2014
terdapat
Kegiatan
Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia
melalui Pelaksanaan SL-PTT;
d.
bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di
atas, dipandang perlu menerbitkan
Pedoman Teknis SL-PTT Padi dan Jagung
Tahun Anggaran 2014;
(Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor
46, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3478);
2.
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004
tentang
Sistem
Perencanaan
Pembangunan
Nasional
(Lembaran
Negara Tahun 2004 Nomor 104,
Tambahan Lembaran Negara Nomor
4421);
3.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang
Pemerintahan
Daerah
(Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor
125, Tambahan Lembaran Negara Nomor
4437) sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008
tentang Perubahan Kedua atas
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah Menjadi
Undang-Undang (Lembaran Negara Tahun 2008
Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 4844);
4.
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004
tentang Perimbangan Keuangan Antara
Pemerintah
Pusat
dan
Daerah
(Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor
126, Tambahan Lembaran Negara Nomor
4438);
5.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2013
tentang Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara Tahun Anggaran 2014
(Lembaran Negara Tahun 2013 Nomor
182, Tambahan Lembaran Negara Nomor
5462);
6.
Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun
2010
tentang
Standar
Akuntansi
Pemerintah (Lembaran Negara Tahun
7.
Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun
2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan
Fungsi
Kementerian
Negara
serta
Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi
Eselon I Kementerian Negara;
8.
Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun
2013 tentang Rencana Kerja Pemerintah
Tahun 2014;
9.
Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun
2002 tentang Pedoman Pelaksanaan
Anggaran Pendapatan Belanja Negara,
sebagamana telah diubah beberapa kali,
juncto Peraturan Presiden Nomor 53
Tahun
2010
tentang
Pedoman
Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara;
10.
Keputusan Presiden Nomor 84/P/Tahun
2009 tentang Pembentukan Kabinet
Indonesia Bersatu II Periode 2009 –
2014;
11.
Keputusan Presiden Nomor 157/M
Tahun 2010 tentang Pengangkatan
Dalam Jabatan Struktural Eselon I di
lingkungan Kementerian Pertanian;
12.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor
134/PMK.06/2005 tentang Pedoman
Pembayaran
Dalam
Pelaksanaan
Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara;
13.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor
72/PMK.02/2013 tentang Standar Biaya
Masukan Tahun Anggaran 2014;
14.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor
156/PMK.07/2008 tentang Pedoman
Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan
15.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor
81/PMK.05/2012
tentang
Belanja
Bantuan Sosial pada Kementerian
Negara/Lembaga;
16.
Peraturan Menteri Pertanian Nomor
61/Permentan/OT.140/10/2010
tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian Pertanian;
17.
Peraturan Menteri Pertanian Nomor
124/Permentan/OT.140/12/2013
tentang Pelimpahan Wewenang Kepada
Gubernur Dalam Pengelolaan Kegiatan
dan
Tanggung
Jawab
Dana
Dekonsentrasi Provinsi Tahun Anggaran
2014;
18.
Peraturan Menteri Pertanian Nomor
125/Permentan/OT.140/12/2013
tentang Penugasan Kepada Gubernur
Dalam
Pengelolaan
Kegiatan
dan
Tanggung
Jawab
Dana
Tugas
Pembantuan Provinsi Tahun Anggaran
2014;
19.
Peraturan Menteri Pertanian Nomor
126/Permentan/OT.140/12/2013
tentang
Penugasan
Kepada
Bupati/Walikota
Dalam
Pengelolaan
Kegiatan dan Tanggung Jawab Dana
Tugas Pembantuan Kabupaten/Kota
Tahun Anggaran 2014;
20.
Peraturan Menteri Pertanian Nomor
129/Permentan/OT.140/12/2013
tentang Pedoman Pengelolaan Belanja
Bantuan Sosial Kementerian Pertanian
Tahun Anggaran 2014;
1.
Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran
(DIPA) Induk Tahun Anggaran 2014
Satuan
Kerja
Direktorat
Jenderal
Tanaman Pangan Nomor :
DIPA-018.03-0/AG/2014 Tanggal 5 Desember 2013.
2.
Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran
(DIPA) Petikan Satuan Kerja Direktorat
Jenderal
Tanaman
Pangan
Tahun
Anggaran 2014 Nomor :
SPDIPA-018.03.1.238251/2013
Tanggal
5
Desember 2013.
M E M U T U S K A N:
Menetapkan :
KESATU
: Pedoman Teknis SL-PTT Padi dan Jagung
Tahun Anggaran 2014, seperti tercantum
pada Lampiran yang merupakan bagian
tidak terpisahkan dari Keputusan ini.
KEDUA
: Pedoman Teknis sebagaimana dimaksud
dalam diktum KESATU merupakan acuan
pelaksanaan kegiatan Pengelolaan Produksi
Tanaman Serealia Melalui Pelaksanaan
SL-PTT Tahun Anggaran 2014.
KETIGA
: Segala biaya yang diperlukan akibat
ditetapkannya Keputusan ini dibebankan
kepada DIPA Induk dan DIPA Petikan
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.
KEEMPAT
: Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal
ditetapkan dan berakhir pada tanggal 31
Desember 2014.
DIREKTUR JENDERAL TANAMAN PANGAN,
UDHORO KASIH ANGGORO
Nip. 19561106 198403 1 002
SALINAN Keputusan ini disampaikan kepada Yth:
1.
Menteri Pertanian;
2.
Wakil Menteri Pertanian;
3.
Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian;
4.
Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian;
5.
Gubernur Provinsi di seluruh Indonesia;
6.
Bupati/Walikota di seluruh Indonesia;
7.
Kepala Dinas Pertanian Provinsi yang membidangi
Tanaman Pangan di seluruh Indonesia;
8.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota yang membidangi
Tanaman Pangan di seluruh Indonesia.
Lampiran
KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL TANAMAN PANGAN
NOMOR :
...
Tanggal ...
DAFTAR ISI
Hal
DAFTAR ISI ...
i
DAFTAR TABEL ...
iii
DAFTAR GAMBAR ...
iv
DAFTAR LAMPIRAN ...
v
I.
PENDAHULUAN ...
1
A. Latar Belakang ...
1
B. Tujuan dan Sasaran ...
5
C. Pengertian-Pengertian Dalam SL-PTT ...
7
II. KERAGAAN, SASARAN DAN TANTANGAN SERTA PELUANG
PENINGKATAN PRODUKSI TAHUN 2014 ...
14
A. Keragaan Produksi ...
14
B. Sasaran Produksi Tahun 2014 ...
15
C. Tantangan dan Peluang Peningkatan Produksi ...
16
III. STRATEGI DAN UPAYA PENCAPAIAN PRODUKSI
TAHUN 2014 ...
19
A. Strategi ...
19
B. Upaya Pencapaian Sasaran Produksi Tahun 2014 ...
20
IV. PTT PADI DAN JAGUNG ...
27
A. Prinsip-prinsip PTT ...
27
B. Tahapan Penerapan PTT ...
28
E. Peran Komponen PTT ...
31
F. Pemilihan Teknologi PTT ...
32
G. Keuntungan Penerapan Teknologi PTT ...
33
V. SEKOLAH LAPANGAN PTT PADI DAN JAGUNG ...
34
A. Model Pemberdayaan Petani Melalui SL-PTT ...
34
B. Tipe, Kriteria dan Batasan Kawasan SL-PTT ...
37
C. Kriteria Kawasan ...
39
D. Penentuan Calon Lokasi ...
48
E. Ketentuan Pelaksana SL-PTT ...
50
F. Persyaratan Kelompoktani Pelaksana SL-PTT ...
50
G. Bantuan SL-PTT ...
52
H. Mekanisme Pelaksanaan SL-PTT ...
56
I. Pertemuan Kelompok SL-PTT ...
56
VI. PENGORGANISASIAN DAN OPERASIONAL SL-PTT ...
57
A. Pengorganisasian SL-PTT ...
57
B. Operasionalisasi SL-PTT...
58
VII. PEMBIAYAAN, MEKANISME PENYALURAN BELANJA
BANTUAN SOSIAL DAN PENGADAAN ...
59
A. Pembiayaan ...
59
B. Mekanisme Penyaluran Bantuan Sosial Melalui Transfer
Uang ...
61
C. Mekanisme Pengadaan ...
71
VIII. BIMBINGAN / PEMBINAAN DAN PENDAMPINGAN ...
73
IX. MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN ...
75
X. PENUTUP ...
77
DAFTAR TABEL
Hal
Tabel 1. Perkembangan Luas Panen, Produktivitas
dan Produksi Padi 2009-2013 (ARAM II BPS) ... 14
Tabel 2. Perkembangan Luas Panen, Produktivitas
dan Produksi Jagung 2009-2013 (ARAM II BPS) ... 15
Tabel 3. Persentase Kenaikan Angka Sasaran 2014
Terhadap ARAM II Tahun 2013 ... 16
Tabel 4. Upaya Pencapaian Sasaran Produksi Padi
Tahun 2014 ... 20
Tabel 5. Upaya Pencapaian Sasaran Produksi Jagung
Tahun 2014 ... 24
Tabel 6. Komponen PTT Padi Dasar ... 28
Tabel 7. Komponen PTT Padi Pilihan ... 28
Tabel 8. Tipe, Kriteria dan Orientasi Pengembangan Kawasan
Sentra Produksi Tanaman Pangan ... 38
Tabel 9. Batasan Pengembangan Kawasan Padi dan Jagung
Tahun 2014 ... 39
Tabel 10. Plafon Stimulan/Bantuan Saprodi SL-PTT Padi
DAFTAR GAMBAR
Hal
Gambar 1.
Sketsa Model Pemberdayaan Petani
Melalui SL-PTT ...
36
Gambar 2.
Kriteria Kawasan 1.000 Ha ...
40
Gambar 3.
Laboratorium Lapangan (LL) ...
41
Gambar 4.
Pola SL-PTT Kawasan Pertumbuhan ...
43
Gambar 5.
Pola SL-PTT Kawasan Pengembangan...
44
DAFTAR LAMPIRAN
Hal
Lampiran 1.
Sasaran Inidkatif Luas Tanam, Luas Panen,
Produktivitas dan Produksi Padi Tahun 2014 ...
69
Lampiran 2.
Sasaran Inidkatif Luas Tanam, Luas Panen,
Produktivitas dan Produksi Jagungi Tahun 2014 ...
70
Lampiran 3.
Alokasi SL-PTT Padi dan Jagung Tahun 2014 ...
71
Lampiran 4.
Blangko Calon Lokasi Bantuan Sosial Budidaya
(SL-PTT/Kawasan) Tanaman Pangan
Tahun 2014 ...
120
Lampiran 5.
Contoh SK Penetapan Kelompoktani ...
123
Lampiran 6.
Rencana Usaha Kelompok (RUK) ...
126
Lampiran 7.
Surat Pernyataan Penerima dan Penggunaan
Dana Bansos ...
127
Lampiran 8.
Mekanisme Pencairan Dana Bantuan SL-PTT ...
128
Lampiran 9.
Rencana Jadwal Pelaksanaan SL-PTT Padi
Dan Jagung Tahun 2014 ...
130
Lampiran 10.
Blangko Laporan Bulanan Kecamatan
Realisasi SL-PTT Kawasan Pertumbuhan/
Pengembangan/Pemantapan ...
131
Lampiran 11.
Blangko Laporan Bulanan Kabupaten
Realisasi SL-PTT Kawasan Pertumbuhan/
Pengembangan/Pemantapan ...
132
Lampiran 12.
Blangko Laporan Bulanan Provinsi
Realisasi SL-PTT Kawasan Pertumbuhan/
Pengembangan/Pemantapan ...
133
Lampiran 13.
Blangko Laporan Akhir Provinsi/Kabupaten
Realisasi SL-PTT Kawasan Pertumbuhan/
Pengembangan/Pemantapan ...
134
Lampiran 14.
Form Isian Hasil Ubinan SL-PTT Padi
I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang.
Pengembangan sektor tanaman pangan merupakan salah satu
strategi kunci dalam memacu pertumbuhan ekonomi pada masa
yang akan datang. Selain berperan sebagai sumber penghasil
devisa yang besar, juga merupakan sumber kehidupan bagi
sebagian besar penduduk Indonesia.
Salah satu strategi yang dilakukan dalam upaya memacu
peningkatan produksi dan produktivitas usahatani padi dan jagung
adalah dengan mengintegrasikan antar sektor dan antar wilayah
dalam pengembangan usaha pertanian.
Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk di
Indonesia, telah memunculkan kerisauan akan terjadinya keadaan
“rawan pangan” di masa yang akan datang. Selain itu, dengan
semakin meningkatnya tingkat pendidikan dan kesejahteraan
masyarakat terjadi pula peningkatan konsumsi per-kapita untuk
berbagai jenis pangan, akibatnya Indonesia membutuhkan
tambahan
ketersediaan
pangan
guna
mengimbangi
laju
pertambahan penduduk yang masih cukup tinggi.
Komoditi tanaman pangan memiliki peranan pokok sebagai
pemenuh kebutuhan pangan, pakan dan industri dalam negeri
yang setiap tahunnya cenderung meningkat seiring dengan
pertambahan jumlah penduduk dan berkembangnya industri
pangan dan pakan sehingga dari sisi Ketahanan Pangan Nasional
fungsinya menjadi amat penting dan strategis.
Sasaran produksi padi tahun 2014 sebesar 76.567.719 ton GKG
dan sasaran produksi jagung sebesar 20.822.599 ton PK dengan
rincian sasaran per provinsi seperti pada
Lampiran 1
dan
Lampiran 2
, diupayakan dapat dicapai untuk memenuhi
kebutuhan tersebut di atas. Karena itu diperlukan upaya
peningkatan produksi yang luar biasa untuk mencapai sasaran
tersebut. Berbagai upaya peningkatan produksi dan produktivitas
telah dilaksanakan melalui Sekolah Lapangan Pengelolaan
Tanaman Terpadu (SL-PTT) sejak tahun 2008 maupun melalui
PTT atau peningkatan mutu intensifikasi pada tahun-tahun
sebelumnya.
Pelaksanaan
SL-PTT
sebagai
pendekatan
pembangunan tanaman pangan khususnya dalam mendorong
peningkatan produksi padi dan jagung nasional telah terbukti,
namun kedepan dengan tantangan yang lebih beragam maka
perlu penyempurnaan dan peningkatan kualitas.
Oleh karena itu pada tahun 2014, upaya peningkatan produksi
melalui penerapan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman
Terpadu
(SL-PTT)
tetap
akan
difokuskan
melalui
pola
pertumbuhan,
pengembangan
dan
pemantapan
dengan
pendekatan kawasan skala luas, terintegrasi dari hulu sampai hilir,
bantuan
sebagai
instrumen
stimulan,
serta
dukungan
Kawasan
pertumbuhan
merupakan
daerah
yang
tingkat
produktivitasnya
masih
di
bawah
produktivitas
rata-rata
wilayahnya (daerah-daerah sub-optimal) dan berpeluang untuk
ditingkatkan misalnya melalui pergantian varietas, kawasan
pengembangan merupakan daerah yang tingkat produktivitasnya
sudah mencapai rata-rata produktivitas di wilayahnya akan tetapi
belum sesuai dengan potensi hasil dan masih berpeluang untuk
ditingkatkan
misalnya
dengan
pergantian
varietas
atau
mengusahakan varietas hibrida, sedangkan kawasan pemantapan
adalah daerah yang tingkat produktivitasnya sudah di atas
rata-rata produktivitas wilayahnya namun masih berpeluang untuk
ditingkatkan melalui penggunaan varietas hibrida.
Luas SL-PTT Padi tahun 2014 adalah 4.625.000 ha, yang
dialokasikan pada kawasan pertumbuhan (padi pasang surut, padi
rawa lebak, padi lahan kering dan padi sawah) seluas 298.800 ha,
kawasan pengembangan (padi sawah, padi hibrida dan padi lahan
kering) seluas 592.200 ha dan luas kawasan pemantapan (padi
sawah dan padi lahan kering) seluas 3.734.000 ha. Sedangkan
SL-PTT Jagung seluas 260.000 ha, dialokasikan pada kawasan
pertumbuhan (jagung hibrida dan jagung komposit) seluas 54.700
ha, kawasan pengembangan (jagung hibrida) seluas 170.300 ha
dan kawasan pemantapan (jagung hibrida) seluas 35.000 ha.
Lebih rinci dapat dilihat pada
Lampiran 3.
Dalam SL-PTT petani dapat belajar langsung di lapangan melalui
mengungkapkan, menganalisis, menyimpulkan dan menerapkan
(melakukan/mengalami kembali), menghadapi dan memecahkan
masalah-masalah terutama dalam hal teknik budidaya dengan
mengkaji bersama berdasarkan spesifik lokasi.
Melalui penerapan SL-PTT petani akan mampu mengelola
sumberdaya yang tersedia secara terpadu dalam melakukan
budidaya di lahan usahataninya berdasarkan spesifik lokasi
sehingga
petani
menjadi
lebih
terampil
serta
mampu
mengembangkan usahataninya dalam rangka peningkatan
produksi padi dan jagung. Namun demikian wilayah di luar SL-PTT
harus tetap dilakukan pembinaan, pendampingan dan pengawalan
sehingga produksi dan produktivitas tetap dapat
meningkat.
Dengan fasilitasi tersebut diharapkan pelaksanaan SL-PTT
berbasis kawasan skala luas dapat terlaksana dengan baik dan
tepat sasaran sehingga dapat memberikan sumbangan terhadap
peningkatan produktivitas dan produksi tahun 2014.
Agar upaya pencapaian sasaran produksi padi dan jagung melalui
kegiatan SL-PTT tahun 2014 dapat tercapai, maka perlu untuk
menyusun Pedoman Teknis Sekolah Lapangan Pengelolaan
Tanaman Terpadu (SL-PTT) sebagai acuan bagi semua pihak
yang terkait dalam pelaksanaan kegiatan tersebut di lapangan.
Dengan adanya pedoman teknis ini, semua pihak terkait akan
berkontribusi secara positif sehingga akhirnya kegiatan ini menjadi
salah satu kegiatan yang berkontribusi terhadap pencapaian
keberagaman kondisi di masing-masing daerah dan kemampuan
adopsi inovasi, maka pedoman teknis ini diharapkan dijabarkan
oleh
Dinas Pertanian Kabupaten/Kota sesuai dengan kondisi
spesifik lokasi dalam bentuk Petunjuk Teknis Pelaksanaan
Lapangan
agar lebih operasional sesuai kebutuhan di lapangan
dan tidak multitafsir sedangkan
Dinas Pertanian Provinsi
menjabarkan dalam bentuk Petunjuk Pelaksanaan
, sehingga
kegiatan tersebut dapat dilakukan tepat waktu dan tepat sasaran.
B.
Tujuan dan Sasaran.
1. Tujuan.
a. Menyediakan acuan pelaksanaan SL-PTT padi dan jagung
melalui
pola
pertumbuhan,
pengembangan
dan
pemantapan dengan pendekatan kawasan skala luas untuk
mendukung kegiatan peningkatan produksi tahun 2014 di
Provinsi dan Kabupaten/Kota.
b. Meningkatkan koordinasi dan keterpaduan pelaksanaan
SL-PTT padi dan jagung melalui pola pertumbuhan,
pengembangan dan pemantapan dengan pendekatan
kawasan
skala
luas,
antara
Pusat,
Provinsi
dan
Kabupaten/Kota.
c. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan perubahan
sikap petani guna mempercepat penerapan komponen
teknologi PTT padi dan jagung dalam usahataninya agar
replikasi/penyebarluasan teknologi ke petani sekitarnya
berjalan lebih cepat.
d. Meningkatkan produktivitas, produksi dan pendapatan serta
kesejahteraan petani padi dan jagung.
2. Sasaran.
a. Tersedianya acuan pelaksanaan SL-PTT padi dan jagung
melalui
pola
pertumbuhan,
pengembangan
dan
pemantapan dengan pendekatan kawasan skala luas untuk
mendukung kegiatan peningkatan produksi tahun 2014 di
provinsi dan kabupaten/kota.
b. Terkoordinasi dan terpadunya pelaksanaan SL-PTT padi
dan jagung melalui pola pertumbuhan, pengembangan dan
pemantapan dengan pendekatan kawasan skala luas
antara pusat, provinsi dan kabupaten/kota.
c. Meningkatnya pengetahuan, keterampilan dan sikap petani
sehingga penerapan adopsi teknologi PTT padi dan jagung
berjalan lebih cepat, dan keberlanjutan serta replikasi ke
areal yang lebih luas dapat terwujud.
d. Meningkatnya produktivitas padi inbrida sawah 0,50 ton/ha,
padi hibrida 1,0 ton/ha, padi pasang surut 0,25 ton/ha, padi
rawa lebak 0,25 ton/ha dan padi lahan kering/gogo 0,5
ton/ha pada areal SL-PTT seluas 4,625 juta ha. Untuk
jagung hibrida 1,5 ton/ha dan jagung komposit 0,5 ton/ha
pada areal SL-PTT seluas 260 ribu ha, untuk mendukung
sasaran produksi padi tahun 2014 sebesar 76,57 juta ton
GKG dan produksi jagung sebesar 20,82 juta ton PK.
C.
Pengertian – Pengertian dalam SL-PTT.
1. Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT)
adalah suatu
pendekatan inovatif dalam upaya meningkatkan produktivitas
dan efisiensi usahatani melalui perbaikan sistem/pendekatan
dalam perakitan paket teknologi yang sinergis antar komponen
teknologi, dilakukan secara partisipatif oleh petani serta bersifat
spesifik
lokasi.
PTT
merupakan
inovasi
baru
untuk
memecahkan berbagai permasalahan dalam peningkatan
produktivitas padi. Teknologi intensifikasi padi bersifat spesifik
lokasi, bergantung pada masalah yang akan diatasi (
demand
driven technology
). Komponen teknologi PTT ditentukan
bersama-sama petani melalui analisis kebutuhan teknologi
(
need
assessment
).
Komponen
teknologi
PTT
dasar/
compulsory
adalah teknologi yang dianjurkan untuk
diterapkan di semua lokasi. Komponen teknologi PTT pilihan
adalah teknologi pilihan disesuaikan dengan kondisi, kemauan,
dan kemampuan. Komponen teknologi PTT pilihan dapat
menjadi
compulsory
apabila hasil KKP (Kajian Kebutuhan dan
Peluang) memprioritaskan komponen teknologi yang dimaksud
menjadi keharusan untuk pemecahan masalah utama suatu
wilayah, demikian pula sebaliknya bagi komponen teknologi
dasar.
2. Kawasan
adalah suatu daerah tertentu dengan ciri-ciri tertentu.
Dalam konteks pertanian kawasan yang dimaksud adalah
suatu areal (sawah, lahan kering, tadah hujan, rawa lebak,
rawa pasang surut) di lokasi tertentu tanpa memperhitungkan
batas-batas administrasi wilayah (desa/kampung), sungai,
jalan, atau batas-batas lainnya.
3. Kawasan Pertumbuhan
merupakan daerah yang tingkat
produktivitasnya masih di bawah produktivitas rata-rata
wilayahnya (daerah-daerah sub-optimal) dan berpeluang untuk
ditingkatkan misalnya melalui pergantian varietas, penerapan
teknologi usaha tani belum optimal, indeks pertanaman (IP)
belum optimal, tingkat kehilangan hasil masih tinggi.
4. Kawasan Pengembangan
merupakan daerah yang tingkat
produktivitasnya sudah mencapai rata-rata produktivitas di
wilayahnya akan tetapi belum sesuai dengan potensi hasil dan
masih berpeluang untuk ditingkatkan misalnya dengan
pergantian varietas atau mengusahakan varietas hibrida,
penerapan teknologi usaha tani sudah lebih baik dan masih
berpotensi menurun karena faktor ketidakstabilan modal usaha
tani, pemanfaatan lahan hampir optimal, tingkat kehilangan
hasil sedang tetapi mutu hasil belum optimal.
wilayahnya namun masih berpeluang untuk ditingkatkan
melalui penggunaan varietas hibrida, penerapan teknologi
usaha tani sudah sesuai anjuran namun masih berpotensi
menurun karena faktor ketidakstabilan modal usaha tani mutu
hasil belum optimal, efisiensi usaha belum berkembang dan
optimalisasi pendapatan melalui produksi subsektor tanaman
sudah maksimal (kecuali ada introduksi teknologi baru).
6. Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu
(SL-PTT)
adalah suatu tempat pendidikan non formal bagi petani
untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam
mengenali potensi, menyusun rencana usahatani, mengatasi
permasalahan, mengambil keputusan dan menerapkan
teknologi yang sesuai dengan kondisi sumberdaya setempat
secara sinergis dan berwawasan lingkungan sehingga
usahataninya menjadi efisien, berproduktivitas tinggi dan
berkelanjutan. Indikator keberhasilan SL-PTT dapat dilihat dari
peningkatan pengetahuan, keterampilan dan perubahan sikap,
penerapan budidaya yang baik dan benar, peningkatan
produktivitas dan keberlanjutan serta replikasinya.
7. Laboratorium Lapangan (LL)
adalah kawasan/area yang
terdapat dalam kawasan SL-PTT yang berfungsi sebagai lokasi
percontohan, temu lapang, tempat belajar dan tempat praktek
penerapan teknologi yang disusun dan diaplikasikan bersama
oleh kelompoktani/petani.
8. Pemandu Lapangan (PL)
adalah Penyuluh Pertanian,
Pengamat
Organisme
Pengganggu
Tanaman
(POPT),
Pengawas Benih Tanaman (PBT) yang telah mengikuti
pelatihan SL-PTT dan berperan sebagai pendamping dan
pengawal pelaksanaan SL-PTT.
9. Pemahaman Masalah dan Peluang (PMP) atau Kajian
Kebutuhan dan Peluang (KKP)
adalah tahapan pendekatan
PTT yang diawali dengan kelompoktani melakukan identifikasi
masalah di wilayah setempat dan membahas peluang
kemungkinan mengatasi masalah tersebut.
10. POSKO I - V
adalah Pos Simpul Koordinasi sebagai tempat
melaksanakan
koordinasi
dalam
rangka
mendukung
kelancaran pelaksanaan SL-PTT. POSKO yang dimaksud
adalah POSKO yang telah ada misalnya POSKO P2BN.
11. Rencana Usahatani Kelompok (RUK)
adalah rencana kerja
usahatani dari kelompoktani untuk satu periode musim tanam
yang disusun melalui musyawarah dan kesepakatan bersama
dalam
pengelolaan
usahatani
sehamparan
wilayah
kelompoktani yang memuat uraian kebutuhan, jenis, volume,
harga satuan dan jumlah uang yang diajukan untuk pembelian
saprodi sesuai kebutuhan di lapangan (spesifik lokasi).
12. Pupuk Organik
adalah pupuk yang berasal dari tumbuhan
mati, kotoran hewan dan/atau bagian hewan/atau limbah
organik lainnya yang telah melalui proses rekayasa, berbentuk
dan/atau mikroba, yang bermanfaat untuk meningkatkan
kandungan hara dan bahan organik tanah serta memperbaiki
sifat fisik, kimia dan biologi tanah.
13. Pengawalan dan Pendampingan oleh Petugas Dinas
adalah
kegiatan yang dilakukan oleh petugas Dinas Pertanian Provinsi
dan Kabupaten/Kota termasuk Penyuluh, POPT, PBT, Mantri
Tani dan atau petugas lainnya sesuai dengan kebutuhan di
lapangan dalam melakukan pengawalan dan pendampingan,
guna lebih mengoptimalkan pelaksanaan kegiatan SL-PTT.
14. Pengawalan dan Pendampingan oleh Aparat
adalah
kegiatan yang dilakukan oleh TNI-AD beserta jajarannya
(Babinsa), Camat, Kades dan atau petugas lainnya sesuai
dengan kebutuhan di lapangan dalam melakukan pengawalan
dan pendampingan, guna lebih mengoptimalkan pelaksanaan
kegiatan SL-PTT.
15. Pengawalan dan Pendampingan oleh Peneliti
adalah
kegiatan yang dilakukan oleh peneliti Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian (BPTP) didukung oleh peneliti UK/UPT
Lingkup Badan Litbang Pertanian guna meningkatkan
pemahaman dan akselerasi adopsi PTT dengan menjadi
narasumber pada pelatihan, penyebaran informasi, melakukan
uji adaptasi varietas unggul baru, demplot, dan supervisi
penerapan teknologi.
16. Pengawalan dan Pendampingan oleh Penyuluh
adalah
kegiatan yang dilakukan oleh Penyuluh guna meningkatkan
penerapan teknologi spesifik lokasi sesuai rekomendasi BPTP
dan secara berkala hadir di lokasi LL dan SL dalam rangka
pemberdayaan kelompoktani sekaligus memberikan bimbingan
kepada kelompok dalam penerapan teknologi. Penyuluh
diharapkan hadir pada setiap pertemuan kelompoktani di
lapangan. Pada kawasan pertumbuhan, pertemuan kelompok
minimal 8 kali selama satu musim tanam, pada kawasan
pengembangan minimal 6 kali, sedangkan pada kawasan
pemantapan minimal 4 kali selama satu musim tanam.
17. Pengawalan dan Pendampingan oleh POPT (Pengawas
Organisme
Pengganggu
Tanaman)
adalah
kegiatan
pendampingan
oleh
Pengawas
OPT
dalam
rangka
pengendalian hama terpadu.
18. Pengawalan dan Pendampingan oleh PBT (Pengawas
Benih Tanaman)
adalah kegiatan pendampingan oleh
Pengawas Benih dalam rangka pengawasan benih.
19. Wilayah Fokus
adalah lokasi peningkatan produktivitas/IP di
areal/kawasan SL-PTT.
20. Wilayah
Non-Fokus
adalah
lokasi
peningkatan
produktivitas/IP di luar areal/kawasan SL-PTT.
21. Carry Over
adalah sisa pertanaman kegiatan tahun berjalan
tetapi produksi tidak berkontribusi pada tahun tersebut, dan
akan berkontribusi pada tahun berikutnya.
22. Kelompoktani
adalah sejumlah petani yang tergabung dalam
satu hamparan/wilayah yang dibentuk atas dasar kesamaan
kepentingan untuk meningkatkan usaha agribisnis dan
memudahkan pengelolaan dalam proses distribusi, baik itu
benih, pestisida, sarana produksi dan lain-lain.
23. Swadaya
adalah semua upaya yang berasal dari modal petani
sendiri.
24. Benih bersubsidi
adalah sejumlah tertentu benih varietas
unggul bermutu padi inbrida, padi hibrida, padi gogo/lahan
kering, jagung hibrida dan jagung komposit yang disalurkan
oleh pemerintah dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang
ditentukan oleh Pemerintah/Menteri Pertanian dan digunakan
untuk mendukung pelaksanaan Program Pembangunan
Tanaman Pangan (SL-PTT dan Non SL-PTT).
II.
KERAGAAN, SASARAN DAN TANTANGAN SERTA
PELUANG PENINGKATAN PRODUKSI TAHUN 2014
A. Keragaan Produksi.
Produksi padi dalam 5 tahun terakhir meningkat rata-rata 2,45
%/tahun, dari 64,39 juta ton GKG pada tahun 2009 menjadi 70,86
juta ton GKG pada tahun 2013 (ARAM II) sedangkan laju
peningkatan produktivitas mencapai 0,74 %/tahun dan luas panen
meningkat rata-rata 1,68 %/tahun, sebagaimana terlihat dalam
Tabel 1.
Tabel 1. Perkembangan Luas Panen, Produktivitas dan
Produksi Padi 2009-2013 (ARAM II BPS)
Ha
%
Ku/Ha
%
Ton
%
2009
12.883.576
49,99
64.398.890
2010
13.253.450
2,87
50,15
0,32
66.469.394
3,22
2011
13.203.643
(0,38)
49,80
(0,70)
65.756.904
(1,07)
2012
13.445.524
1,83
51,36
3,13
69.056.126
5,02
2013
13.769.913
2,41
51,46
0,20
70.866.571
2,62
1,68
0,74
2,45
TAHUN
LUAS PANEN
PRODUKTIVITAS
PRODUKSI
Rata-Rata
Produksi jagung dalam 5 tahun terakhir meningkat rata-rata 1,40
%/tahun dari 17,62 juta ton PK pada tahun 2009 menjadi 18,51 juta
ton PK pada tahun 2013 (ARAM II) sedangkan laju peningkatan
produktivitas mencapai 3,22 %/tahun dan luas panen rata-rata
menurun sebesar 1,82 %/tahun, sebagaimana terlihat dalam Tabel
2.
Tabel 2.Perkembangan Luas Panen, Produktivitas dan Produksi
Jagung 2009-2013 (ARAM II BPS)
Ha
%
Ku/Ha
%
Ton
%
2009
4.160.659
42,37
17.629.748
2010
4.131.676
(0,70)
44,36
4,70
18.327.636
3,96
2011
3.864.692
(6,46)
45,65
2,91
17.643.250
(3,73)
2012
3.957.595
2,40
48,99
7,32
19.387.022
9,88
2013
3.857.359
(2,53)
47,99
(2,04)
18.510.435
(4,52)
-1,82
3,22
1,40
TAHUN
LUAS PANEN
PRODUKTIVITAS
PRODUKSI
Rata-Rata
B. Sasaran Produksi Tahun 2014
1. Padi.
Sasaran produksi padi tahun 2014 adalah 76,57 juta ton GKG
atau meningkat 6,25 % dibanding sasaran produksi tahun
sebelumnya sebesar 72,06 ton GKG. Untuk Tahun 2014,
sasaran tanam 14,82 juta ha, sasaran panen 14,31 juta ha,
sasaran produktivitas 53,50 ku/ha. Apabila dibandingkan dengan
pencapaian pada tahun 2013 (ARAM II), sasaran produksi tahun
2014 adalah 8,04 % di atas produksi 2013 (ARAM II) yaitu
sebesar 70,87 juta ton GKG, Sasaran produktivitas tahun 2014
ditetapkan sebesar 53,50 ku/ha atau meningkat 3,96 %
dibanding produktivitas 2013 (ARAM II) yaitu sebesar 51,46
ku/ha.
2. Jagung.
Sasaran produksi jagung tahun 2014 adalah 20,82 juta ton PK
atau 12,48 % diatas produksi tahun 2013 (ARAM II) yaitu
sebesar 18,51 juta ton PK. Sasaran tanam 4,46 juta ha, sasaran
panen 4,15 juta ha dan sasaran produktivitas 50,16 ku/ha.
Tabel 3. Persentase Kenaikan Angka Sasaran 2014 Terhadap
ARAM II Tahun 2013
KOMODITAS
URAIAN
ARAM II
2013
SASARAN
2014
%
Luas Tanam (jt Ha)
14,25
14,86
4,31
Luas Panen (jt Ha)
13,77
14,31
3,92
Produktivitas (Ku/Ha)
51,46
53,50
3,96
Produksi (jt ton GKG)
70,87
76,57
8,04
Luas Tanam (jt Ha)
3,99
4,46
11,68
Luas Panen (jt Ha)
3,86
4,15
7,51
Produktivitas (Ku/Ha)
47,99
50,16
4,52
Produksi (jt ton PK)
18,51
20,82
12,48
PADI
JAGUNG
Sasaran produksi padi dan jagung tahun 2014, disajikan pada
Lampiran 1
dan
Lampiran 2
.
C. Tantangan dan Peluang Peningkatan Produksi.
Kendala antar sektoral dalam peningkatan produksi tanaman
pangan yang semakin kompleks karena berbagai perubahan dan
perkembangan lingkungan strategis diluar sektor pertanian
berpengaruh dalam peningkatan produksi tanaman pangan.
Tantangan utama yang dihadapi dalam upaya peningkatan produksi
tanaman pangan adalah : 1). Meningkatnya permintaan beras
sesuai dengan peningkatan jumlah penduduk, 2). Terbatasnya
ketersediaan beras dunia, dan 3). Kecenderungan meningkatnya
harga pangan.
Disamping tantangan, upaya peningkatan produksi tanaman juga
dihadapi oleh sejumlah permasalahan, yaitu antara lain : 1).
Dampak Perubahan Iklim (DPI) dan serangan organisme
pengganggu tumbuhan (OPT), 2). Rusaknya infrastruktur irigasi,
lingkungan dan semakin terbatasnya sumber air, 3). Konversi lahan
sawah, 4). Keterbatasan akses petani terhadap sumber-sumber
pembiayaan, 5). Kompetisi antar komoditas, 6). Tingginya konsumsi
beras sebagai pangan pokok sumber karbohidrat dan 7). Belum
sinerginya antar sektor dan Pusat–Daerah dalam menunjang
pembangunan pertanian khususnya produksi padi dan jagung.
Disamping tantangan dan permasalahan yang dihadapi dalam
upaya peningatan produksi tanaman pangan, terdapat sejumlah
peluang yang apabila dimanfaatkan dengan baik akan memberikan
kontribusi pada upaya peningkatan produksi. Peluang tersebut
antara lain : 1). Kesenjangan hasil antara potensi dan kondisi di
lapangan masih tinggi, 2). Tersedia teknologi untuk meningkatkan
produktivitas, 3). Potensi sumberdaya lahan sawah, rawa/lebak,
lahan kering (perkebunan, kehutanan) yang masih luas, 4).
Pengetahuan/Keterampilan SDM (Petani, Penyuluh/PPL, POPT,
Pengawas Benih Tanaman/PBT, dan Petugas Pertanian Lainnya)
masih
dapat
dikembangkan,
5).
Tersedianya
potensi
pengembangan produksi berbagai pangan pilihan selain beras, 6).
Dukungan Pemerintah Daerah dan 7). Ketersediaan sumber
genetik.
III.
STRATEGI DAN UPAYA PENCAPAIAN PRODUKSI
TAHUN 2014
A. Strategi.
Strategi peningkatan produksi tanaman serealia tahun 2014 adalah
sebagai berikut:
1. Peningkatan Produktivitas.
Peningkatan produktivitas dilakukan melalui pemakaian benih
varietas unggul bermutu produktivitas tinggi termasuk benih padi
hibrida dan jagung hibrida, sistem jarak tanam jajar legowo,
pemupukan berimbang dan pemakaian pupuk organik serta
pupuk bio-hayati, pengelolaan pengairan dan perbaikan
budidaya disertai pengawalan, pendampingan, pemantauan dan
koordinasi, dll. Strategi ini terutama dilaksanakan di wilayah
dimana perluasan areal sudah sulit dilakukan, sehingga dengan
penerapan teknologi spesifik lokasi diharapkan masih dapat
ditingkatkan produktivitasnya. Hal lain yang dapat diterapkan
adalah dengan mengurangi potensi kehilangan hasil melalui
penanganan panen dan pasca panen yang lebih baik.
2. Perluasan Areal Tanam dan Pengelolaan Lahan.
Perluasan areal dilakukan melalui upaya optimalisasi lahan
melalui upaya perbaikan seperti JITUT, JIDES, dan Tata Air
Mikro, pompanisasi dan penambahan baku lahan sawah (cetak
sawah baru), disertai konservasi lahan yang berkelanjutan serta
peningkatan indeks pertanaman, pengelolaan air irigasi, dll.
3. Pengamanan Produksi.
Pengamanan produksi dimaksudkan untuk mengurangi dampak
perubahan iklim seperti kebanjiran dan kekeringan serta
pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), dan
pengamanan kualitas produksi dari residu pestisida serta
mengurangi kehilangan hasil pada saat penanganan panen dan
pasca panen yang masih cukup besar.
4. Penyempurnaan Manajemen.
Manajemen yang telah ada dan berjalan saat ini perlu lebih
disempurnakan agar pelaksanaan program dapat berjalan sesuai
rencana.
Penyempurnaan
manajemen
tersebut
berupa
dukungan kebijakan dan regulasi, penyempurnaan manajemen
teknis serta penyempurnaan data dan informasi.
Dengan kegiatan penyempurnaan diharapkan pelaksanaan
peningkatan produksi tanaman pangan dapat berjalan sesuai
dengan yang diharapkan dan pada akhirnya dapat mendukung
pencapaian sasaran produksi tahun 2014 dan surplus beras 10
juta ton pada tahun 2014.
B. Upaya Pencapaian Sasaran Produksi Tahun 2014
Upaya pencapaian sasaran produksi padi dan jagung tahun 2014
adalah sebagai berikut :
1. Upaya Pencapaian Sasaran Produksi Padi Tahun 2014
kualitas SL-PTT berbasis pola pertumbuhan, pengembangan
dan pemantapan dengan pendekatan kawasan skala luas,
terintegrasi dari hulu sampai hilir, bantuan sebagai instrument
stimulan, serta dukungan pendampingan dan pengawalan pada
areal seluas 4,625 juta ha. Sedangkan
di luar fokus utama
melalui upaya peningkatan produksi lainnya pada kawasan areal
tanam seluas 9,46 juta ha, dan perluasan areal tanam seluas
734 ribu ha sebagaimana terlihat dalam Tabel 4 berikut ini :
Tabel 4. Upaya Pencapaian Sasaran Produksi Padi Tahun 2014
No. Uraian Luas Tanam
(Ha) Luas Panen (Ha) Produktivitas (Ku/Ha) Produksi (Ton) 1. Peningkatan Produktivitas 12.326.498 10.304.173 55,40 57.082.438 a. Pertanaman Okt-Des 2013 3.480.498 3.306.473 52,11 17.228.465 b. Kegiatan SL-PTT 2013 1.500.000 1.425.000 55,00 7.837.500 c. Kegiatan SL-PTT 2014 4.625.000 2.987.750 55,44 16.564.438 d. Kegiatan SRI 180.000 171.000 67,00 1.145.700 e. GP3K 1.100.000 1.045.000 65,00 6.792.500 f. Pertanaman oleh Kadin dan Grup Solaria 41.000 38.950 51,05 198.835 g. Dukungan APBD 1.400.000 1.330.000 55,00 7.315.000 2. Perluasan Areal Tanam 734.290 354.488 30,76 1.090.241 a. Pencetakan Sawah Baru 40.000 11.400 21,93 25.000 b. Pemanfaatan Hasil Cetak Sawah 2013 28.000 26.600 26,32 70.000 c. Pengembangan Jaringan Irigasi 500.000 237.500 31,10 738.531 c. Optimasi Lahan 166.290 78.988 32,50 256.710 3 Swadaya Murni Petani (KKPE/KUR/Dukungan PPL Swadaya) 1.764.212 3.652.353 50,36 18.395.040
14.825.000
14.311.014 53,50 76.567.719 Sasaran Produksi
a.
Fokus utama peningkatan produktivitas padi melalui
SL-PTT berbasis kawasan
adalah upaya pencapaian sasaran
produksi padi tahun 2014 yang difokuskan pada kegiatan
peningkatan produktivitas di kawasan areal tanam SL-PTT
padi seluas 4,625 juta ha, yang terdiri dari:
1) Kawasan Pertumbuhan seluas : 298.800 ha
.
a. Padi
inbrida
sawah
seluas
72.950 ha
yang
dialokasikan di 56 Kabupaten/Kota pada 18 Provinsi.
b. Padi inbrida pasang surut seluas 94.000 ha yang
dialokasikan di 17 Kabupaten/Kota pada 8 Provinsi.
c. Padi inbrida rawa lebak seluas 26.000 ha yang
dialokasikan di 14 Kabupaten/Kota pada 5 Provinsi
d. Padi inbrida lahan kering seluas 105.850 ha yang
dialokasikan di 78 Kabupaten/Kota pada 13 Provinsi.
2) Kawasan Pengembangan seluas : 592.200 ha.
a. Padi inbrida sawah seluas seluas 284.000 ha yang
dialokasikan di 190 Kabupaten/Kota pada 27 Provinsi.
b. Padi hibrida seluas 200.000 ha yang dialokasikan di
117 Kabupaten/Kota pada 14 Provinsi.
c. Padi inbrida lahan kering seluas 108.200 ha yang
dialokasikan di 58 Kabupaten/Kota pada 9 Provinsi.
3) Kawasan Pemantapan seluas : 3.734.000 ha.
a. Padi inbrida sawah seluas 3.632.000 ha yang
dialokasikan di 345 Kabupaten/Kota pada 27 Provinsi.
b. Padi inbrida lahan kering seluas 102.000 ha yang
dialokasikan di 44 Kabupaten/Kota pada 10 Provinsi.
Alokasi SL-PTT Padi Tahun 2014, per Provinsi dan
b. Upaya peningkatan produksi padi di luar wilayah fokus
Upaya peningkatan produksi dan produktivitas padi areal di
luar wilayah fokus dilakukan melalui serangkaian pembinaan,
pengawalan,
pendampingan
dan
bimbingan
yang
terkoordinasi dan terintegrasi dengan memanfaatkan benih
bersubsidi, benih non subsidi dan atau benih dari
sumber-sumber lain, pupuk bersubsidi (urea, ZA, SP-36/Superphos,
NPK dan pupuk organik), alsintan, SRI, Pertanaman oleh
Kadin dan Grup Solaria, GP3K, dukungan APBD, cetak
sawah baru, pemanfaatan hasil cetak sawah 2013,
pengembangan jaringan irigasi, optimasi lahan dan swadaya
murni petani melalu KKPE/KUR/Dukungan Penyuluh/PPL
Swadaya. Areal yang dikelola dengan pola ini seluas 10,2
juta ha dengan kontribusi produksi sebesar 60 juta ton GKG.
Agar upaya ini dapat berhasil maka dukungan dari berbagai
pihak sangat diperlukan melalui dukungan dan gerakan yang
luar biasa antara lain :(1). gerakan pengolahan tanah, (2).
gerakan tanam dan panen serentak, (3). gerakan pemupukan
berimbang, (4). gerakan penerapan teknologi, (5). gerakan
pengendalian OPT, (6). gerakan penanganan panen dan
pasca panen, dan (7). gerakan lainnya dengan dukungan
dana APBN maupun APBD I dan APBD II serta dana
masyarakat dan
stakeholder
.
Penyuluh Pertanian/PPL, POPT dan PBT tetap harus
melakukan pengawalan dan pendampingan pada areal
tanam di luar SL-PTT. Pada prinsipnya semua dana yang
ada dikelola oleh Dinas Pertanian dan Bakorluh/Bapeluh
ditujukan untuk meningkatkan produksi padi dan jagung baik
di areal SL-PTT maupun di luar areal SL-PTT.
Posko I P2BN di Pusat, Posko II di Provinsi, Posko III di
Kabupaten/Kota, Posko IV di Kecamatan/BPP, dan Posko V
di Desa, agar dioperasionalkan secara optimal sesuai dengan
Permentan Nomor 45 Tahun 2011 mengenai Tata Hubungan
Kerja
Antar
Kelembagaan
Teknis,
Penelitian
dan
Pengembangan,
dan
Penyuluhan
Pertanian
Dalam
Mendukung Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN).
2. Upaya Pencapaian Sasaran Produksi Jagung Tahun 2014
Fokus utama
pencapaian sasaran produksi jagung tahun 2014
adalah peningkatan produktivitas melalui SL-PTT berbasis
kawasan seluas 260 ribu ha. Sedangkan
di luar fokus utama
melalui upaya peningkatan produksi lainnya pada kawasan areal
tanam seluas 3,59 ha dan perluasan areal tanam seluas 603 ribu
ha, sebagaimana padaTabel 5 berikut ini :
Tabel 5. Upaya Pencapaian Sasaran Produksi Jagung Tahun 2014
No. Uraian Luas Tanam
(Ha) Luas Panen (Ha) Produktivitas (Ku/Ha) Produksi (Ton PK) 1 Peningkatan Produktivitas 460.000 437.000 58,55 2.558.540 a. SLPTT 260.000 247.000 65,00 1.605.500 b. Swasta 200.000 190.000 50,16 953.040 2 Perluasan Areal 603.000 572.850 50,16 2.873.416 a. Optimalisasi dengan Dukungan Subsidi Benih 500.000 475.000 50,16 2.382.600 b. Pengembangan Areal Tanam (Pemerintah Daerah) 103.000 97.850 50,16 490.816 3 Swadaya Murni Petani 3.400.354 3.141.069 49,00 15.390.643
4.463.354
4.150.919 50,16 20.822.599 Jumlah
a. Fokus utama peningkatan produktivitas jagung melalui
SL-PTT
berbasis kawasan adalah upaya pencapaian sasaran
produksi jagung tahun 2014 yang difokuskan pada kegiatan
peningkatan produktivitas jagung di kawasan areal tanam
seluas 260 ribu ha yang terdiri dari :
1) Kawasan Pertumbuhan seluas : 54.700 ha.
a. Jagung hibrida seluas 9.000 ha yang dialokasikan di
10 Kabupaten/Kota pada 7 Provinsi.
b. Jagung komposit seluas 45.700 ha yang dialokasikan
di 64 Kabupaten/Kota pada 14 Provinsi.
2) Kawasan Pengembangan seluas : 170.300 ha.
a. Jagung hibrida seluas 170.300 ha yang dialokasikan di
139 Kabupaten/Kota pada 24 Provinsi.
3) Kawasan Pemantapan seluas : 35.000 ha.
a. Jagung hibrida seluas 35.000 ha yang dialokasikan di
29 Kabupaten/Kota pada 10 Provinsi.
Alokasi SL-PTT Jagung Tahun 2014, per Provinsi dan
Kabupaten/Kota, disajikan pada
Lampiran 2.
b. Upaya peningkatan produksi jagung di luar fokus utama
peningkatan produktivitas dan produksi dilakukan dengan
pembinaan,
pendampingan
dan
bimbingan
yang
terkoordinasi dan terintegrasi dengan memanfaatkan benih
bersubsidi, benih non subsidi dan atau benih dari
sumber-sumber lainnya, pupuk bersubsidi, dan swadaya murni petani
serta
stakeholders
.
Upaya
ini
diperkirakan
mampu
menyumbangkan produksi pada tahun 2014 sebesar 19,22
juta ton PK dari areal tanam seluas 4,20 juta ha.
Upaya peningkatan produktivitas jagung agar dilakukan
dengan perluasan penggunaan benih jagung hibrida
produktivitas tinggi disamping peningkatan pemupukan
berimbang. Lokasi-lokasi yang masih menggunakan varietas
lokal dan varietas komposit produktivitas rendah agar
diupayakan dapat diganti dengan jagung hibrida atau jagung
komposit produktivitas tinggi.
Upaya penggunaan benih jagung hibrida atau jagung
komposit produktivitas tinggi, antara lain dapat dilakukan
dengan : 1). mendekatkan para produsen benih jagung
hibrida atau jagung komposit produktivitas tinggi kepada para
petani, 2). memotivasi produsen benih tersebut melakukan
demonstrasi di lokasi-lokasi sasaran, 3). mendorong
pengusaha pakan ternak (konsumen jagung). Dengan
demikian penggunaan benih jagung hibrida diharapkan dapat
meningkat.
Upaya perluasan areal tanam jagung agar diupayakan pula
dengan peningkatan indeks pertanaman (IP) di lahan yang
masih mempunyai potensi atau perluasan pada lokasi/lahan
baru (Optimalisasi dengan dukungan subsidi benih dan
pengembangan areal tanam oleh pemerintah daerah).
IV.
PTT PADI DAN JAGUNG
Pengelolaan tanaman terpadu (PTT) merupakan inovasi baru untuk
memecahkan berbagai permasalahan dalam peningkatan produktivitas.
Teknologi intensifikasi bersifat spesifik lokasi, tergantung pada masalah
yang akan diatasi (
demand driven technology
). Komponen teknologi
PTT ditentukan bersama-sama petani melalui analisis kebutuhan
teknologi (
need assessment
).
PTT sebagai suatu pendekatan inovatif dalam upaya meningkatkan
produktivitas dan efisiensi usahatani serta sebagai suatu pendekatan
pembangunan tanaman pangan khususnya dalam mendorong
peningkatan produksi padi dan jagung melalui SL-PTT telah
dilaksanakan secara Nasional mulai tahun 2008 dan berlanjut hingga
sekarang dengan berbagai perbaikan dan penyempurnaan dari sisi
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
A. Prinsip-prinsip PTT.
1. Terpadu : PTT merupakan suatu pendekatan agar sumber daya
tanaman, tanah dan air dapat dikelola dengan sebaik-baiknya
secara terpadu.
2. Sinergis : PTT memanfaatkan teknologi pertanian terbaik,
dengan memperhatikan keterkaitan yang saling mendukung
antar komponen teknologi.
3. Spesifik lokasi : PTT memperhatikan kesesuaian teknologi
dengan lingkungan fisik maupun sosial budaya dan ekonomi
petani setempat.
4. Partisipatif : Petani turut berperan serta dalam memilih dan
menguji teknologi yang sesuai dengan kondisi setempat dan
kemampuan petani melalui proses pembelajaran dalam bentuk
laboratorium lapangan (LL).
B. Tahapan Penerapan PTT.
1. Langkah pertama penerapan PTT adalah pemandu lapangan
bersama petani melakukan Pemahaman Masalah dan Peluang
(PMP) atau Kajian Kebutuhan dan Peluang (KKP). Identifikasi
masalah peningkatan hasil di wilayah setempat dan membahas
peluang mengatasi masalah tersebut, berdasarkan cara
pengelolaan tanaman, analisis iklim/curah hujan, kesuburan
tanah, luas pemilikan lahan, lingkungan sosial ekonomi.
2. Langkah kedua adalah merakit berbagai komponen teknologi
PTT berdasarkan kesepakatan kelompok untuk diterapkan di
lahan usahataninya.
3. Langkah
ketiga
adalah
penyusunan
RUK
berdasarkan
kesepakatan kelompok.
4. Langkah keempat adalah penerapan PTT.
5. Langkah kelima adalah pengembangan/replikasi PTT ke petani
lainnya.
C. Komponen PTT Padi.
Komponen dasar/
compulsory
dan pilihan disesuaikan spesifik
wilayah setempat yang paling tepat diterapkan. Komponen teknologi
*: Komponen teknologi pilihan dapat menjadi compulsoryapabila hasil KKP memprioritaskan komponen teknologi yang dimaksud menjadi keharusan untuk pemecahan masalah utama suatu wilayah, demikian pula sebaliknya bagi komponen teknologi dasar.
**: Prioritas
memprioritaskan komponen teknologi dimaksud menjadi keharusan
untuk pemecahan masalah utama suatu wilayah, demikian pula
sebaliknya bagi komponen teknologi dasar. Adapun komponen PTT
padi dasar/
compulsory
, dikemukakan pada Tabel 6 sedangkan
komponen pilihan pada Tabel 7 berikut.
Tabel 6. Komponen PTT Padi Dasar
Tabel 7. Komponen PTT Padi Pilihan
(Sumber : Puslitbang Tanaman Pangan, Badan Litbang 2012 dan Analisis)
Padi sawah
irigasi
tadah hujan
Padi sawah
Padi gogo
Padi rawa
lebak
Varietas moderen (VUB, PH, PTB)
Bibit bermutu dan sehat
Pengaturan cara tanam (jajar legowo)
Pemupukan
berimbang dan efisien menggunakan BWD dan PUTS/petak omisi/Permentan No. 40/2007 PHT sesuai OPT sasaran. Varietas moderen (VUB, PTB) Benih bermutu dan sehat Pengelolaan hara P dan K berdasar PUTS Pemberian bahan organik Pengendalian gulma terpadu Pergiliran varietas (VUB, PTB)
Benih bermutu dan sehat Pemberian bahan organik Pemupukan berdasar status kesuburan tanah Konservasi tanah dan air Varietas moderen (VUB, PTB)
Bibit bermutu dan sehat Pemupukan N granul, P dan K berdasarkan PUTS PHT sesuai OPT sasaran.
Padi sawah irigasi tadah hujanPadi sawah Padi gogo Padi rawa lebak
Bahan organik/pupuk kandang/amelioran** Umur bibit
Pengolahan tanah yang baik
Pengelolaan air optimal (pengairan berselang) Pupuk cair (PPC, ppk organik, pupuk bio-hayati)/ZPT, pupuk mikro)
Penanganan panen dan pasca panen
Pengelolaan tanaman yang meliputi populasi dan cara tanam (legowo, larikan, dll) Cara tanam dilarik
dengan populasi tanaman tinggi menggunakan alat tanam row seeding
PHT sesuai OPT sasaran Penanganan panen dan
pasca panen
Pengelolaan tanaman yang meliputi populasi dan cara tanam (legowo, larikan, dll) PHT sesuai OPT
setempat Pengendalian gulma
terpadu
Pola tanam berbasis padi gogo
Penanganan panen dan pasca panen
Pengelolaan tanaman yang meliputi populasi dan cara tanam (legowo, larikan, dll) Umur bibit Pengelolaan air, pembuatan saluran/ caren keliling Pengendalian gulma terpadu
Penanganan panen dan pasca panen