1
FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI CADANGAN
DEVISA INDONESIA (1984 - 2013)
Viki Lianda Ramadhan1 Evi Susanti Tasri1 dan Kasman Karimi1 Jurusan Ekonomi Pembangunan
Fakultas Ekonomi Universitas Bung Hatta
E-mail : [email protected] [email protected] kasman_ [email protected] ABSTRACT
Foreign exchange reserves are an indicator to show the strength of a country's eco-nomic fundamentals. This study aims to determine how big influence the rate of independent variables (X1), inflation (X2) and the deposit rate (X3) on foreign exchange reserves dependent
variable (Y). The analyzing method that used is linear analysis method. Results of data analy-sis through the classical assumption test show a model free from problem of classic assumption test. Statistical testing showed the coefficient of determination (adjusted R2) of 0.881. The exchange rate, inflation and interest rates of deposits influential the foreign ex-change reserves. Individually rate influential, inflation influential and deposit rates influential to foreign exchange reserves.
Keywords: Exchange Rate, Inflation, Deposit Interest, foreign exchange reserves
PENDAHULUAN Latar Belakang
Indonesia sebagai negara
berkembang tidak lepas dari putaran roda kegiatan ekonomi internasional yang penuh dengan berbagai dinamika. Kesiapan dalam menghadapi era perdagangan bebas secara global kedepan merupakan tantangan bagi Indonesia karena pada saat yang sama juga sedang dihadapkan pada berbagai situasi ekonomi dalam negeri yang kurang baik. Peran Indonesia ditengah-tengah
kegiatan ekonomi, perdagangan
internasional relatif masih kecil dengan tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap pasar internasional. Namun, upaya
Indonesia untuk memperbesar posisi dan peran di tingkat internasional tidak pernah berhenti. (Halwani, 2005)
Cadangan devisa mempunyai peranan penting dan merupakan indikator untuk menunjukkan kuat lemahnya fundamental perekonomian suatu negara, selain itu dapat menghindari krisis suatu negara dalam ekonomi dan keuangan (Priadi dan Sekar, 2008).
Dalam perdagangan internasional, kurs sangatlah diperlukan dalam memperlancar transaksi. Kurs adalah suatu variabel ekonomi yang digunakan untuk mengkonversi suatu harga mata uang asing ke dalam mata uang domestik, ataupun
2
sebaliknya. Apabila kurs mengalami kenaikan atau terapresiasi, maka barang-barang di luar negeri akan lebih mahal dan impor akan menurun. (Mustika, dkk, 2010)
Fenomena inflasi di Indonesia bukan merupakan suatu fenomena jangka pendek saja dan yang terjadi secara situasional saja, tetapi seperti halnya yang umum terjadi pada negara-negara berkembang lainnya, inflasi di Indonesia lebih pada masalah inflasi jangka panjang karena masih terdapat hambatan-hambatan struktural dalam perekonomian negara. Dengan demikian pembenahan masalah inflasi di Indonesia tidak cukup dilakukan dengan menggunakan instrument - instrumen moneter saja yang umumnya bersifat jangka pendek, tetapi juga dengan melakukan pembenahan di sektor riil. (Atmadja, 2000)
Tingkat suku bunga menggambarkan biaya opportunitas memegang uang dalam bentuk hilangnya kesempatan memperoleh pendapatan bunga. Tingkat suku bunga yang rendah diharapkan dapat merangsang pertumbuhan investasi yang akan mendorong investasi baik oleh investor domestik maupun asing. Investor
menanamkan modalnya untuk
memproduksi barang dan jasa dengan suatu harapan memperoleh keuntungan di masa mendatang. Sedangkan dari proses produksi inilah suatu negara melakukan impor untuk mendukung ketersediaan faktor-faktor
produksi terutama bahan baku dan bahan modal yang tidak dapat dihasilkan di dalam negeri. (Septiana, 2011)
Oleh karena itu, berdasarkan fenomena di atas peneliti ingin mencoba meneliti mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi cadangan devisa Indonesia. Karena peneliti berasumsi dengan ketergantungan negara Indonesia terhadap negara lain, maka cadangan devisa yang sebagai salah satu indikator moneter berperan penting dalam sektor ekonomi, sehingga perubahan yang terjadi pada cadangan devisa Indonesia perlu mendapat perhatian dari pemerintah/otoritas moneter agar kestabilan ekonomi tetap terjaga. Begitu besar pengaruhnya globalisasi dalam cadangan devisa Indonesia menyebabkan pentingnya suatu analisis hubungan cadangan devisa terhadap variabel-variabel makroekonomi, seperti Kurs, Inflasi dan Tingkat Suku Bunga. Penelitian ini dituangkan dalam bentuk skripsi dengan
judul :“Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Cadangan Devisa Indonesia (1984-2013)”.
Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, permasalahan pokok yang akan diteliti sebagai berikut :
1. Apakah Kurs berpengaruh terhadap Cadangan Devisa Indonesia.?
3
2. Apakah Inflasi berpengaruh terhadap Cadangan Devisa Indonesia.?
3. Apakah Tingkat Suku Bunga
berpengaruh terhadap Cadangan Devisa Indonesia.?
Tujuan Penelitian
Sesuai dengan perumusan masalah diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini :
1. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Kurs terhadap Cadangan Devisa Indonesia.
2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Inflasi terhadap Cadangan Devisa Indonesia.
3. Untuk mengetahui seberapa besar
pengaruh Tingkat Suku Bunga
terhadap Cadangan Devisa Indonesia.
METODOLOGI PENELITIAN Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan oleh penulis unttuk menerangkan kerangka dasar perhitungan hubungan antara variabel dependent dan variabel independent didasarkan pada analisa regresi berganda dengan pengolahan data menggunakan program SPSS. Untuk menyederhanakan perhitungan dengan metode ekonometrika, variabel dependent merupakan Cadangan Devisa dengan variabel (Y) dan variabel independent adalah Kurs (X1), Inflasi (X2)
dan tingkat Suku Bunga (X3). Selanjutnya
akan dianalisa dengan cara sebagai berikut :
Metode Analisa Regresi Berganda
Analisa ini digunakan untuk membahas hubungan lebih dari dua variabel. Fungsi persamaannya adalah : Y = f ( X1, X2, X3, Xn ) ...(1)
Dengan model persamaan sebagai berikut : Y = b0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 + Ut ...(2)
Sedangkan untuk mengukur elastisitas masing-masing faktor yang mempengaruhi ketidakstabilan cadangan devisa. Maka persamaan (2) ditransformasikan dalam persamaan doble logaritma sebagai berikut : (Gujarati D. N 1998)
LogY = b0+b1LogX1+b2LogX2+b3LogX3+
Ut
Dimana :
b0 = Konstanta
b1 = Koefisien Kurs
b2 = Koefisien Inflasi
b3 = Koefisien Tingkat Suku Bunga
Y = Cadangan Devisa
X1 = Kurs
X2 = Inflasi
X3 = Tingkat Suku Bunga
Ut = Variabel Pengganggu
Metode selanjutnya dilakukan pengujian Asumsi Klasik dan pengujian Statistik.
4
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN Hasil Estimasi Analisis Regresi Berganda Untuk mendapatkan hasil regresi antara variabel dependent Cadangan Devisa (Y) dengan variabel independent Kurs (X1),
Inflasi (X2) dan Tingkat Suku Bunga (X3)
diolah dengan menggunakan bantuan program computer SPSS. Hasil uji estimasi persamaan regresi penelitian ini adalah sebagai berikut:
Log Y = b0 + b1 LogX1 + b2 LogX2 + b3
LogX3 + Ut Log Y = 3,420 + 0,883 LogX1 – 0,142 LogX2 – 0,519 LogX3 + Ut T-hitung (9,677) (-1,300) (-2,943) F-hitung = 72,727 Ajusted R2 = 0,881 R2 = 0,894 R = 0,945 Pengujian Asumsi Klasik 1. Multikolinearitas
Dari hasil estimasi yang diperoleh maka tidak terdapat gejala multikolinearitas dari model regresi yang diteliti. Karena nilai tolerensi lebih besar dari 0,10 dan nilai VIF kecil dari 10. (Lihat Lampiran 1) 2. Heteroskedastisitas
Secara keseluruhan dari hasil estimasi dengan menggunakan uji glejser dapat di lihat model bebas dari masalah heteroskedastisitas. Hal ini dijelaskan bahwa tingkat signifikansi > 0,05 yang artinya variabel penjelas
secara statistik tidak signifikan mempengaruhi resedual. (Lihat Lampiran 1)
3. Autokorelasi
Karena DW berada diantara dU
dan 4-dU, maka dapat disimpulkan tidak
ada autokorelasi. (Lihat Lampiran 1) Pengujian Statistik
1. Uji R2 = koefisien determinasi
Dari hasil estimasi dapat di lihat nilai koefisien determinasi (Ajusted R2) sebesar 0,881 menunjukan bahwa 88,1 persen variasi naik turunnya Cadangan Devisa (Y) dijelaskan oleh Kurs (X1), Inflasi (X2)
dan Tingkat Suku Bunga (X3) dan
selebihnya sebesar 11,9 persen dijelaskan oleh faktor lain diluar model, sedangkan koefisien korelasi R sebesar 0,945 menunjukan kuat lemahnya hubungan Kurs (X1), Inflasi
(X2) dan Tingkat Suku Bunga (X3)
dengan Cadangan Devisa (Y) adalah kuat karena nilainya hampir mendekati 1. (Lihat Lampiran 1)
2. Uji -F
Berdasarkan perhitungan di atas diperoleh bahwa F-hitung > F-tabel (72,727 > 2,975). Dengan demikian, Ha
diterima yang artinya bahwa variabel independent yaitu Kurs (X1), Inflasi
(X2) dan Tingkat Suku Bunga (X3)
secara keseluruhan mempengaruhi besarnya variabel dependent yaitu
5
Cadangan Devisa (Y) dan secara statistik dapat dipercaya pada tingkat kepercayaan sebesar 95%. (Lihat Lampiran 1)
3. Uji-T
Pengaruh Kurs (X1) terhadap Cadangan
Devisa (Y).
Hasil pengujian estimasi di atas di ketahui bahwa perubahan Kurs (X1)
mempunyai hubungan yang positif dengan Cadangan Devisa (Y). Jadi, dapat dijelaskan bahwa peningkatan Kurs (X1) secara terus menerus akan
menyebabakan peningkatan Cadangan Devisa (Y).
Nilai elastisitas variabel independent Kurs (X1) yang ditunjukan
oleh nilai koefisien regresi b1 adalah
sebesar 0,883 yang artinya setiap kenaikan dari nilai Kurs (X1) sebesar
10 persen dengan asumsi variabel independent yang lain tetap maka nilai Cadangan Devisa (Y) akan mengalami peningkatan sebesar 8,83 persen.
Hasil perhitungan uji-t
memperlihatkan bahwa Kurs (X1)
berpengaruh terhadap cadangan devisa (Y) dimana t-hitung > t-tabel (9,677 > 2,055), dengan demikian Ha diterima.
Artinya variabel independent Kurs (X1)
secara individu yang dimasukkan
kedalam persamaan regresi
mempengaruhi variabel dependent
Cadangan Devisa (Y) pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Pengaruh Inflasi (X2) terhadap
Cadangan Devisa (Y)
Selanjutnya pengujian terhadap Inflasi (X2) dalam mempengaruhi
Cadangan Devisa (Y). Dari hasil perhitungan estimasi yang diperoleh dapat di lihat bahwa Inflasi (X2)
mempunyai hubungan yang negatif dengan Cadangan Devisa (Y). Hal ini mengandung arti bahwa peningkatan Inflasi (X2) akan menyebabkan
penurunan terhadap Cadangan D evisa (Y).
Besarnya nilai elastisitas untuk variabel independent Inflasi (X2) yang
ditunjukan oleh nilai koefisien regresinya b2 adalah sebesar -0,142
yang artinya setiap kenaikan nilai Inflasi (X2) sebesar 10 persen dengan
asumsi nilai variabel independent yang lain tetap maka Cadangan Devisa (Y) akan mengalami penurunan sebesar 1,42 persen.
Hasil perhitungan uji-t
memperlihatkan bahwa Inflasi (X2)
berpengaruh pada sig. = 5% dengan t-hitung < t-tabel (-1,300 < 2,055) dengan demikian H0 diterima, artinya
variabel independent Inflasi (X2) secara
individu yang dimasukkan kedalam persamaan regresi mempengaruhi variabel dependent Cadangan Devisa
6
(Y) namun, secara statistik tidak signifikan pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Hal ini disebabkan oleh nilai tingkat inflasi yang berfluktuasi, sehingga pengaruh tingkat inflasi tidak signifikan terhadap posisi cadangan devisa Indonesia. Tingkat inflasi di Indonesia pada periode 1984-2013 secara rata-rata masih tergolong inflasi sedang, karena kenaikan harga yang fleksibel dalam jangka panjang dan banyak harga tidak mengalami perubahan dari tahun ke tahun.
Pengaruh Tingkat Suku Bunga (X3)
terhadap Cadangan Devisa (Y)
Dari pengujian Tingkat Suku Bunga (X3) dalam mempengaruhi
Cadangan Devisa (Y), mempunyai hubungan yang negatif. Hal ini berarti jika terjadi peningkatan Tingkat Suku Bunga (X3) akan menyebabkan
penurunan terhadap Cadangan Devisa (Y).
Nilai elastisitas variabel independent Tingkat Suku Bunga (X3)
yang ditunjukan oleh nilai koefisien regresi b3 yang diperoleh adalah
sebesar -0,519 yang artinya setiap kenaikan dari nilai tambah Tingkat Suku Bunga (X3) sebesar 10 persen
dengan asumsi variabel independent yang lain tetap, maka Cadangan Devisa
(Y) akan mengalami penurunan sebesar 5,19 persen.
Hasil perhitungan uji-t memperlihatkan bahwa Tingkat Suku Bunga (X3) berpengaruh pada sig. =
5% dengan t-hitung > t-tabel (-2,943 > 2,055) dengan demikian Ha diterima,
artinya variabel independen Tingkat Suku Bunga (X3) secara individu yang
dimasukkan kedalam persamaan
regresi signifikan mempengaruhi variabel dependent Cadangan Devisa (Y) pada tingkat kepercayaan 95 persen. (Lihat Lampiran 1)
Kesimpulan
Dari analisa yang telah penulis bahas dalam skripsi ini, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu :
1. Model regresi linear berganda dalam penelitian ini tidak terdapat multikolinearitas, heteroskedastisitas dan autokorelasi setelah diuji dalam prosedur pengujian asumsi klasik. 2. Nilai Ajusted R2 cukup tinggi yaitu
0,881 yang berarti masing-masing variabel independen Kurs (X1), Inflasi
(X2) dan Tingkat Suku Bunga (X3)
dapat menerangkan variasi naik turunnya variabel dependen Cadangan Devisa (Y) sebesar 88,1 persen, sedangkan sisanya sebesar 11,9 persen dipengaruhi oleh variabel lain diluar model.
7
3. Nilai F-hitung dengan menggunakan derajat kepercayaan 95 persen dijelaskan bahwa variabel independen yaitu Kurs (X1), Inflasi (X2) dan
Tingkat Suku Bunga (X3) secara
keseluruhan signifikan mempengaruhi besarnya variabel dependent yaitu Cadangan Devisa (Y) dengan nilai yang diperoleh bahwa hitung > F-tabel (72,727 > 2,975). Dengan demikian, Ha diterima.
4. Kurs (X1) (9,677 > 2,055), Tingkat
Suku Bunga (X3) (-2,943 > 2,055) yang
berarti mempunyai pengaruh terhadap Cadangan Devisa dimana t-hitung lebih besar dari t-tabel. Namun, Inflasi (X2)
(-1,300 < 2,055) yang berarti berpengaruh, secara statistik tidak signifikan terhadap Cadangan Devisa dimana t-hitung lebih kecil dari t-tabel pada tingkat kepercayaan 95 persen. Nilai Cadangan Devisa (Y) didapat sebesar 3,420 dengan asumsi variabel independen Kurs (X1), Inflasi (X2) dan
Tingkat Suku Bunga (X3) secara
keseluruhan dianggap konstan.
Saran
Setelah penulis menganalisa perkembangan nilai variabel independen yaitu Kurs (X1), Inflasi (X2), Tingkat Suku
Bunga (X3) dan pengaruhnya terhadap
variabel dependen yaitu Cadangan Devisa (Y). Maka penulis mempunyai saran yaitu
Bank Indonesia sebagai pengendali kebijakan moneter dan pemerintah sebagai pengendali kebijakan fiskal bersama-sama agar dapat selalu mengontrol dan menjaga kestabilan perekonomian Indonesia terutama variabel ekonomi makro seperti Kurs, Inflasi dan Tingkat Suku Bunga yang biasanya rentan terhadap pengaruh dari luar. Setiap kebijakan yang diambil
semuanya harus berpihak pada
kesejahteraan rakyat sebagai prioritas utama.
Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan yang memadai dalam menambah referensi atau bahan untuk penelitian selanjutnya dan kalau bisa dapat menambahkan variabel lain diluar model ini untuk penelitian yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Atmadja, Surja Admin., 2002, Analisisi Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar Amerika Setelah Diterapkan Kebijakan Sistem Nilai Tukar Mengambang Bebas Di Indonesia, Jurnal Akutansi dan Keuangan, Vol 4, No 1, Hal: 64-78.
Gujarati, Damodar., 1998, Teori dan Aplikasi Penggunaan Statistik,. LPFE UI, Jakarta.
Halwani, Hendra., 2005, Ekonomi Internasional dan Globalisasi Ekonomi. Edisi Kedua. Penerbit: Ghalia Indonesia. Bogor.
8
Mustika, H. S Ketut dan D. Suresmiathi A.A Anak., 2010, Faktor-Faktor Yang Mepengaruhi Nilai Impor Pesawat Boing Amerika Serikat, E-Jurnal EP UNUD, 3(7): 320-328.
Priadi, Asmanto dan Sekar, Suryandari., 2008, Cadangan Devisa, Financial dan Stabilisasi Nilai Tukar Riil Rupiah. Dalam Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, 11 (2) : h : 121-153.
Septiana, Riris., 2011, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Impor Indonesia Dari China. Skripsi.
Jurusan Ekonomi Fakultas
Ekonomika dan Bisnis. Universitas Di Ponegoro, Semarang.
9
LAMPIRAN 1
1. Pengujian Asumsi Klasik a. Uji Multikolinearitas Model Summary(b) Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 ,945(a) ,894 ,881 ,32972 a Predictors: (Constant), X3, X2, X1 b Dependent Variable: Y Coefficients(a) Model
Correlations Collinearity Statistics Zero-order Partial Part Tolerance VIF
1 X1 ,909 ,885 ,619 ,637 1,569 X2 -,136 -,247 -,083 ,818 1,223 X3 -,707 -,500 -,188 ,571 1,753 a Dependent Variable: Y Correlations Y X1 X2 X3 Pearson Correlation Y 1,000 ,909 -,136 -,707 X1 ,909 1,000 ,049 -,551 X2 -,136 ,049 1,000 ,327 X3 -,707 -,551 ,327 1,000 Sig. (1-tailed) Y . ,000 ,237 ,000 X1 ,000 . ,399 ,001 X2 ,237 ,399 . ,039 X3 ,000 ,001 ,039 . N Y 30 30 30 30 X1 30 30 30 30 X2 30 30 30 30 X3 30 30 30 30 b. Uji Heteroskedastisitas Coefficients(a) Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Std. Error B Std. Error Beta 1 (Constant) ,383 ,263 1,455 ,158 X1 ,022 ,048 ,101 ,449 ,657 X2 ,074 ,057 ,256 1,287 ,210 X3 -,121 ,093 -,312 -1,311 ,201
10 c. Uji Autokorelasi Model Summary(b) Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of
the Estimate Durbin-Watson
1 ,988(a) ,976 ,973 ,15529 2,339
a Predictors: (Constant), LAGY, X2, X3, X1 b Dependent Variable: Y 2. Pengujian Statistik a. Uji R2 Model Summary(b) Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 ,945(a) ,894 ,881 ,32972 a Predictors: (Constant), X3, X2, X1 b Dependent Variable: Y b. Uji-F ANOVA(b) Model Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 23,719 3 7,906 72,727 ,000(a) Residual 2,827 26 ,109 Total 26,546 29 a Predictors: (Constant), X3, X2, X1 b Dependent Variable: Y c. Uji-T Coefficients(a) Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Std. Error B Std. Error Beta 1 (Constant) 3,420 ,501 6,828 ,000 X1 ,883 ,091 ,776 9,677 ,000 X2 -,142 ,109 -,092 -1,300 ,205 X3 -,519 ,176 -,249 -2,943 ,007 a Dependent Variable: Y