• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSPEKTIF HUKUM LINGKUNGAN DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERSPEKTIF HUKUM LINGKUNGAN DI INDONESIA"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PERSPEKTIF HUKUM LINGKUNGAN DI INDONESIA

Amalia Hana Rizky P

[email protected]

DATA BUKU :

Nama/Judul Buku : Hukum Lingkungan di Indonesia (Edisi Kedua) Penulis/Pengarang : Prof. Dr. Takdir Rahmadi, SH.,LLM.

Penerbit : PT. RajaGrafindo Persada Tahun Terbit : 2015

Kota Penerbit : Jakarta Bahasa Buku : Indonesia Jumlah Halaman : 301

ISBN Buku : 978-979-769-868-3

DISKUSI/PEMBAHASAN REVIEW

Buku Hukum Lingkungan di Indonesia (edisi kedua) yang disusun oleh Profesor Takdir Rahmadi ini merupakan buku yang sangat bermanfaat bagi berbagai pihak, utamanya bagi para pejabat negara, pemerintah, akademisi, aparat penegak hukum dan masyarakat sipil, serta seluruh masyarakat, untuk memahami pengaturan tentang hukum lingkungan di Indonesia. Penerbitan buku ini diharapkan dapat mengisi kelangkaan buku-buku tentang hukum lingkungan di Indonesia karena hukum lingkungan sebagai sebuah bidang hukum yang relatif baru. Substansi dalam buku ini tidak hanya membahas norma, asas-asas dan doktrin-doktrin hukum yang berlaku di Indonesia, tetapi juga membahas doktrin-doktrin hukum di negara lain, yaitu Belanda dan Amerika Serikat, sehingga para pembaca memperoleh wawasan perbandingan.

Selain pembahasan melalui pendekatan perbandingan terhadap hukum lingkungan di negara lain, pembahasan juga menggunakan pendekatan sejarah atau perkembangan hukum lingkungan Indonesia dari periode 1982 hingga perkembangan terakhir. Selain itu, buku ini juga membahas prinsip-prinsip yang diadopsi dalam instrumen-instrumen hukum internasional, terutama Deklarasi Rio 1992 mengingat perkembangan hukum nasional juga dipengaruhi oleh perkembangan hukum lingkungan internasional. Hukum lingkungan sendiri ialah keseluruhan peraturan yang mengatur tentang tingkah laku orang tentang apa yang seharusnya dilakukan terhadap lingkungan, yang pelaksanaan peraturan tersebut dapat dipaksakan dengan suatu sanksi oleh pihak yang berwenang.

Buku ini terdiri dari 5 bab yang didalamnya membahas tentang isu permasalahan lingkungan, faktor penyebab terjadinya, pengaturan asas; hak dan kewajiban; kewenangan; kelembagaan; dan instrumen dalam pengelolaan lingkungan hidup, pengaturan pengendalian pencemaran lingkungan hidup, pengaturan pemanfaatan sumber daya alam dan pengendalian perusakan lingkungan hidup, serta penegakan hukum lingkungan dan penyelesaian sengketa lingkungan.

(2)

zat-zat kimia, dan punahnya spesies tertentu adalah beberapa contoh dari masalah-masalah lingkungan hidup. Dalam literatur masalah-masalah lingkungan hidup dapat dikelompokkan ke dalam tiga bentuk, yaitu pencemaran lingkungan (pollution), pemanfaatan lahan secara salah (land misuse) dan pengurasan atau habisnya sumber daya alam (natural resource depeletion). Akan tetapi, jika dilihat dari perspektif hukum yang berlaku di Indonesia, masalah-masalah lingkungan hanya dikelompokkan ke dalam dua bentuk, yakni pencemaran lingkungan dan perusakan lingkungan hidup. Pembedaan masalah lingkungan ke dalam dua bentuk dapat dilihat dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (UULH) yang kemudian dicabut oleh Undang-Undang Nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPLH). Dampak negatif dari menurunnya kualitas lingkungan hidup baik karena terjadinya pencemaran atau terkurasnya sumber daya alam adalah timbulnya ancaman atau dampak negatif terhadap kesehatan, menurunnya nilai estetika, kerugian ekonomi,dan terganggunya sistem alami.

Ada beberapa faktor-faktor penyebab terjadinya masalah-masalah lingkungan. Diantaranya adalah :

1. Teknologi

Tekonologi merupakan sumber terjadinya masalah-masalah lingkungan, terjadinya revolusi di bidang ilmu pengetahuan alam misalnya fisika dan kimia yang terjadi selama 5 tahun terkahir telah mendorong perubahan-perubahan besar di bidang tekonologi.

2. Pertumbuhan Penduduk

Pertumbuhan penduduk dan peningkatan kekayaan memberikan sumbangan terpenting terhadap penurunan kualitas lingkungan hidup.

3. Motif Ekonomi

Alasan-alasan ekonomi sering kali menggerakkan perilaku manusia atau keputusan-keputusan yang diambil oleh manusia secara perorangan maupun dalam kelompok, terutama dalam hubungannya dengan pemanfaatan common property. common property adalah sumber-sumber daya alam yang tidak dapat menjadi hak perorangan, tetapi setiap orang dapat menggunakan atau memanfaatkannya untuk kepentingan masing-masing.

4. Tata Nilai

Sebagian pakar berpendapat bahwa timbulnya masalah-masalah lingkungan hidup disebabkan oleh tata nilai yang berlaku menempatkan kepentingan manusia sebagai pusat dari segala-galanya dalam alam semesta.

Pada bab ini penulis juga menjelaskan lahirnya kesadaran lingkungan dan kebijaksanaan pembangunan berwawasan lingkungan di tingkat global dan regional diawali dengan adanya Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup pada tanggal 5-6 Juni 1972 di Stockholm, Swedia. Yang dianggap sebagai cikal bakal dari tumbuh dan perkembangan hukum lingkungan internasional maupun nasional. Serta Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup dan Pembangunan pada tahun 1983. Selain itu dijelaskan dengan singkat pengertian pembidangan hukum lingkungan dan posisi hukum lingkungan dalam konteks ilmu hukum.

(3)

Nomor 23 tahun 1997, kemudian diperbaharui lagi dengan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009.

Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup menurut UUPPLH didasarkan pada 14 asas. Menurut pasal 3 UUPPLH tujuan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup terdapa 10 macam. Salah satunya adalah menjamin kelangsungan kehidupan makhluk hidup dan kelestarian ekosistem. Baik UUPPLH, UULH 1997, dan UULH 1982 sama-sama memuat hak-hak setiap orang dalam kaitannya dengan lingkungan hidup. Namun UUPPLH lebih banyak memuat hak-hak daripada dua Undang-Undang lainnya.

Selanjutnya menjelaskan tentang kewajiban-kewajiban dalam pengelolaan lingkungan hidup. Pemerintah juga memiliki kewenangan dalam pengelolaan lingkungan hidup yang dibagi dengan kewenangan pemerintah provinsi yang dirumuskan dalam Pasal 63 ayat (2), kewenangan pemerintah kabupaten/kota yang dirumuskan dalam Pasal 63 ayat (3). Selanjutnya ada kelembagaan pengelolaan lingkungan hidup yakni instanti-instansi sektoral dan dari kementerian lingkungan hidup ke kementerian lingkungan hidup dan kehutanan. Selain itu ada kelembagaan pengendalian perubahan iklim, kelembagaan di Provinsi dan Kabupaten/Kota. Instrumen pengelolaan lingkungan hidup meliputi rencana perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, kajian lingkungan hidup strategis, baku mutu lingkungan hidup, kriteria baku kerusakan lingkungan hidup, analisis mengenai dampak lingkungan, izin lingkungan, audit lingkungan, instrumen ekonomi lingkungan hidup, serta analisis risiko lingkungan.

Pada bab III dijelaskan tentang pengaturan pengendalian pencemaran lingkungan hidup yang dimana pencemaran lingkungan hidup dapat terjadi dalam bentuk pencemaran air (sungai dan danau), pencemaran laut, pencemaran udara dan kebisingan. Sumber pencemaran laut dari daratan terdiri atas kegiatan sektor industri, kegiatan sektor pemukiman, pertanian atau perkotaan. Limbah dari sumber-sumber ini masuk ke dalam saluran air, sungai-sungai dan akhirnya berakhir di lautan sehingga dapat menimbulkan pencemaran laut.

Bab ini akan membahas tentang baku mutu lingkungan hidup, perizinan pengendalian pencemaran, izin pengendalian pencemaran lingkungan berdasarkan UUPPLH, pengendalian pencemaran air, pengendalian pencemaran udara, pengendalian pencemaran laut, pengelolaan bahan berbahaya dan beracun dan limbah bahan berbahaya dan beracun, perizinan berdasarkan pendekatan ekonomi, serta penurunan gas rumah kaca dalam rangka adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Baku mutu lingkungan hidup dalam pasal 1 angka 13 UUPPLH adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang adanya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup. BMLH sendiri telah dituangkan ke dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. Selanjutnya perizinan merupakan salah satu instrumen administratif yang digunakan sebagai sarana di bidang pencegahan dan pengendalian pencemaran lingkungan hidup. Adapun beberapa bentuk usaha perizinan, yakni izin usaha industri, izin lokasi, izin hinder ordonantie, izin pembuangan air limbah, izin pemanfaatan air limbah untuk aplikasi pada tanah, izin dumping, izin pengoperasian pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun.

(4)

diantaranya adalah tentang pengelolaan hutan, konservasi sumber daya alam hayati, perlindungan sumber daya alam hayati di laut, perlindungan sumber daya ikan, serta pengelolaan sumber daya air. Dalam pengelolaan hutan menjelaskan bagaimana cara pengaturan hutan, asas dan tujuan pengelolaan hutan, pemanfaatan hutan dan kawasan hutan produksi, rehabilitasi reklamasi dan perlindungan hutan, pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan, serta polisi kehutanan dan penyidik pegawai negeri sipil dan satuan pengamatan hutan. Ada banyak manfaat dari pengelolaan hutan karena hutan merupakan kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya yang satu sama lainnya tidak dapat dipisahkan. Pengelolaan hutan didasarkan pada asas manfaat dan lestari, kerakyatan, keadilan, kebersamaan, keterbukaan dan keterpaduan.

Pemerintah mempunyai peranan sangat penting dalam menyusun strategi pengurusan hutan karena semua hutan di dalam wilayah Republik Indonesia dikuasai oleh negara. Hak menguasai negara ini memberikan kewenangan kepada pemerintah untuk menyelenggarakan kegiatan pengurusan hutan, antara lain : perencanaan, pengelolaan, penelitian dan pengembangan, pendidikan dan pelatihan, penyuluhan serta pengawasan. Pemanfaatan hutan pada kawasan hutan produksi dapat terjadi antara lain, dalam bentuk kegiatan-kegiatan berikut : pemanfaatan kawasan, pemanfaatan jasa lingkungan, pemanfaatan hasil hutan kayu, pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, pemungutan hasil hutan kayu, dan pemungutan hasil hutan bukan kayu. Kegiatan-kegiatan ini memerlukan izin. Izin-izin nya diantaranya adalah izin usaha pemanfaatan kawasan, izin pemanfaatan jasa lingkungan pada kawasan hutan produksi, izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu, izin pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, dan hak pengusahaan tanaman industri. Selain itu, rehabilitasi hutan dan lahan dilakukan dengan tujuan untuk memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan fungsi hutan dan lahan sehingga fungsi daya dukung, produktivitas, sistem penyanggga kehidupan dapat tetap terjaga.

Bentuk-bentuk rehabilitasi hutan dan lahan adalah : reboisasi, penghijauan, pemeliharaan, pengayaan tanaman atau penerapan teknik konservasi tanah secara vegetatif dan sipil teknis pada lahan kritis dan tidak produktif. Perlindungan hutan dan konservasi alam dilakukan melalui usaha-usaha “mencegah dan membatasi kerusakan hutan, kawasan hutan dan hasil hutan yang disebabkan oleh perbuatan manusia, ternak, kebakaran, daya-daya ala, hama serta penyakit”. Pemerintah mempunyai kewenangan untuk mengatur perlindungan hutan di dalam ampuan di luar kawasan hutan. Perlindungan hutan pada hutan negara dilaksanakan oleh pemerintah, pemegang izin usaha pemanfaaan hutan dan HPH wajib melakukan perlindungan hutan di dalam areal pekerjaannya.

Dalam rangka pelaksanaan perlindungan hutan, pejabat kehutanan tertentu sesuai dengan sifat pekerjaannya diberi wewenang kepolisian khusus di bidangnya. Pejabat kehutanan yang dimaksud adalah : pegawai negeri sipil yang diangkat sebagai pejabat fungsional kehutanan, pegawai perusahaan umum kehutanan Indonesia yang diangkat sebagai polisi kehutanan, dan pejabat struktural instansi kehutanan pusat maupun daerah yang sesuai dengan tugas dan fungsinya mempunyai wewenang dan tanggung jawab di bidang perlindungan hutan.

(5)

lingkungan dan penyelesaian sengeketa lingkungan. Penegakan hukum lingkungan dapat dimaknai sebagai penggunaan atau penerapan instrumen-instrumen dan sanksi-sanksi dalam lapangan hukum administrasi, hukum pidana dan hukum perdata dengan tujuan memaksa subjek hukum yang menjadi sasaran mematuhi peraturan perundang-undangan lingkungan hidup. Penggunaan instrumen dan sanksi hukum administrasi dilakukan oleh instansi pemerintah dan juga oleh warga atau badan hukum perdata. Sebagian norma-norma hukum lingkungan termasuk ke dalam wilayah hukum administrasi negara.

Dalam bab ini dijelaskan pula program sertifikasi hakim lingkunga hidup. Hal ini dilakukan karena perkara lingkungan hidup perlu ditangani atau diadili oleh hakim yang memahami urgensi perlindungan lingkungan hidup dan sumber daya alam. Dilihat dari pertimbangan yang mendasari dari penerbitan Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung dapat diketahui bahwa program sertifikasi merupakan salah satu upaya menegakkan hukum lingkungan secara efektif sebatas lingkup tugas dan wewenang Mahkamah Agung. Selanjutnya ada sanksi-sanksi hukum lingkungan administrasi yang dapat dijatuhkan oleh pejabat pemerintah tanpa melalui proses pengadilan terhadap seseorang atau kegiatan usaha yang melanggar ketentuan hukum lingkungan administrasi. Beberapa contoh dari pelanggaran hukum lingkungan administrasi adalah menjalankan tempat usaha tanpa memiliki izin pembuangan air limbah, tetapi jumalh atau konsentrasi buanga air limbahnya melebihi baku mutu air limbah yang dituangkan dalam izin pembuangan air limbahnya, serta menjalankan kegiatan usaha yang wajjib amdal, tetapi tidak atau belum menyelesaikan dokumen amdalnya.

Sanksi-sanksi hukum lingkungan administrasi dapat berupa paksaan pemerintah dan pembekuan izin dan pencabutan izin lingkungan. Perkembangan hukum di beberapa negara terutama Belanda, Amerika Serikat dan Indonesia memberikan peluang kepada warga untuk mengajukan gugatan tata usaha negara kepada pejabat pemerintah yang berwenang. Di Indonesia, gugatan terhadap pejabat tata usaha negara dilakukan melalui prosedur gugatan tata usaha negara dilakukan melalui prosedur gugatan tata usaha negara sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 sebagaimana diubah dengan Undnag-Undnag Nomor 9 Tahun 2004 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.

Selain dapat di gugat melalui Peradila Tata Usaha Negara, persoalan tentang lingkungan juga dapat di laksanakan menggunakan hukum pidana. Dalam Hukum Lingkungan Pidana terdiri atas delik lingkungan hidup, delik lingkungan hidup dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009, sanksi pidana dalam Undang Nomor 5 Tahun 1990, sanksi pidana dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984, sanksi pidana dalam Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999, sanksi pidana dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1985, sanksi pidana dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013, pertanggungjawaban pidana badan usaha, pertanggungjawaban pidana badan hukum dalam tindak pidana lingkungan di Belanda, pertanggungjawaban pidana badan hukum dalam tindak pidana lingkungan di Amerika Serikat, dan penyidik tindak pidana lingkungaan hidup.

(6)

Belanda sangat jarang terjadi. Penyelesaian sengketa lingkungan hidup berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 adalah : penyelesaian sengketa melalui pengadilan, gugatan perwakilan, peran saksi ahli dalam pembuktian perkara lingkungan hidup, dan pilihan penyelesaian sengketa lingkungan hidup.

Referensi

Dokumen terkait

Master Merupakan suatu  file yang berisi informasi status persediaan tentang material,  parts, subassemblies, dan produk–produk yang menunjukkan kuantitas on-hand , kuantitas

Konsep integrasi ruang pamer dan ruang workshop pada studio perupa yaitu menghubungkan kedua ruang tersebut secara visual melalui ruang yang bersebelahan

Tipe Open Circuit Tunnel merupakan salah satu jenis dari wind tunnel yang mana fluida mengalir pada kondisi terbuka ( open circuit ) secara lurus melalui bagian masuk atau

pembelajaran, oleh sebagian guru mata pelajaran di sekolah tersebut. Pada dasarnya pembelajaran yang bervariasi seperti ini memang perlu diterapkan oleh guru dalam proses

AL

Setelah melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) II praktikan lebih mengerti dan memahami bagaimana cara mengajar pelajaran bahasa Arab yang baik dan benar

1) Sebelum diberikan layanan bimbingan kelompok terhadap tingkat disiplin belajar siswa berada dalam kategori kurang. 2) Pada proses pelaksanaan layanan bimbingan

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa hasil pemesinan paduan titanium Ti-6Al-4V ELI menggunakan pahat karbida yang dilapisi dan tidak dilapisi dalam keadaan