• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN MODEL TANDUR DALAM PEMBELAJARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENERAPAN MODEL TANDUR DALAM PEMBELAJARA"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN MODEL TANDUR DALAM

PEMBELAJARAN MATEMATIKA UNTUK

MENINGKATKAN EFIKASI DIRI SISWA SEKOLAH

DASAR

Iklima Istiqomah, Sandi Budi Iriawan

1

& Dwi Heryanto

2

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia

Abstrak: Penerapan Model TANDUR dalam Pembelajaran Matematika untuk Meningkatkan Efikasi Diri Siswa Sekolah Dasar

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya aktivitas siswa kelas V dalam proses pembelajaran di salah satu Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Katapang Kabupaten Bandung yang disebabkan oleh rendahnya efikasi diri siswa. Berdasarkan observasi dan wawancara kepada beberapa siswa diketahui bahwa banyak siswa merasa takut salah atau malu ketika diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Selain itu, guru jarang memberikan penguatan kepada siswa yang telah berani menjawab pertanyaan, maupun telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui bagaimana perkembangan proses pembelajaran matematika dengan menerapkan model TANDUR dan peningkatan efikasi diri siswa setelah menerapkan model TANDUR. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang diadaptasi dari model Kemmis & Mc. Taggart dan dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari satu kali pertemuan. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu tes dan non-tes. Instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi efikasi diri pada saat pembelajaran berlangsung, skala efikasi diri, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan hasil lembar observasi efikasi diri, skala efikasi diri, dan catatan lapangan, terjadi perkembangan proses pembelajaran matematika dan peningkatan efikasi diri siswa pada setiap siklusnya. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa penerapan model TANDUR dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan efikasi diri siswa sekolah dasar.

Kata Kunci: Model TANDUR, Efikasi Diri

Abstract: Implementing Tandur Models In Mathematics Learning Process In Order To Increase Elementary School Student’s Self-Efficacy

This research was motivated by the low activity of fifth grade student in the learning process in a state elementary school in Bandung District, Katapang Sub District which caused by low student’s self-efficacy. Based on observations and interviews to some students, noted that many students was feeling afraid or

.

1 Penulis Penanggungjawab

(2)

embarrassed when they were gave opportunity to answer the questions given by teacher. Besides teacher are rarely give a feedback to student neither who have the courage to answer the question, nor have carried out their duties properly. This research generally aims to find out how the development of the mathematics learning process by applying TANDUR models and improving student’s self-efficacy after applying TANDUR models. The methodology of this research is Classroom Action Research (CAR), which was adapted from the Kemmis & Mc Taggart model and conducted in two cycles. Each cycle consisted of one meeting. Data collection techniques were used that test and non-test. The instruments used are self-efficacy observation sheet during the learning process, self-efficacy scale and field notes, there’s a development in mathematics learning process and improvement student’s self-efficacy in each cycle. Based on the research that has been conducted can be concluded that the application of the TANDUR model in mathematics learning process can improve students self-efficacy in elementary school.

Keyword: TANDUR Models, Self-Efficacy

(3)

Sebuah pembelajaran yang ideal adalah pembelajaran yang melibatkan seluruh siswa dalam setiap tahap pembelajaran yang dilakukan. Dalam hal ini, guru harus dapat memberikan motivasi kepada setiap siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajar-an. Hal ini sejalan dengan peran guru sebagai motivator yang tertulis dalam salah satu semboyan pendidikan di Indonesia yaitu Ing Madya Mangun

Karso yang menurut Syaripudin dan

Kurniasih (2013, hlm. 72) artinya adalah “pendidik hendaknya berperan untuk membangun kemauan belajar pada diri anak didik.”

Setelah melakukan observasi dan wawancara dengan guru di salah satu Sekolah Dasar khususnya di kelas V pada tanggal 19 April 2016 yang dilakukan selama dua hari diketahui bahwa rendahnya keaktifan siswa pada saat pembelajaran adalah karena siswa tidak berani mengemukakan pendapat, merasa takut salah ketika menjawab soal di depan kelas, memiliki persepsi bahwa ia tidak mampu menyelesaikan tugas, sehingga siswa mudah menyerah dalam mengerjakan tugas yang diberi-kan terutama pada mata pelajaran matematika yang memiliki kesan sulit di mata para siswa. Hal ini mengakibat-kan rasa antusisas dalam pembelajaran dan pada saat mengerjakan tugas pun berkurang.

Rasa percaya dan keyakinan akan kemampuan diri ini erat kaitannya dengan tinggi rendahnya efikasi diri siswa. Bandura (dalam Adicondro dan Purnamasari, 2011, hlm. 19) menge-mukakan bahwa “efikasi diri adalah keyakinan seorang individumengenai kemampuannya dalam mengorganisasi dan menyelesaikan suatu tugas yangdiperlukan untuk mencapai hasil tertentu.” Selanjutnya Ferridiyanto (dalam Apsari, Adi, dan Octoria, 2014, hlm. 94) menjelaskan bahwa “

Self-efficacy atau efikasi diri merupakan

persepsi individu akan keyakinan atas kemampuannya melakukan tindakan yang diharapkan “

Siswa yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan suatu tugas dengan baik akan tetapi memiliki efikasi diri yang rendah kemungkinan besar akan mendapatkan hasil yang kurang memuaskan. Hal ini sejalan dengan pendapat Bandura (dalam Pajares dan Miller, 1994, hlm. 193)

how people behave can often be better

predicted by their beliefs about their capabilities than by what they are actually capable of accomplishing, for these beliefs help determine what individuals do with the knowledge and

skills they have.”

Selain itu, faktor lain yang mengakibatkan rendahnya partisipasi siswa dalam pembelajaran adalah guru kurang memberikan penguatan pada siswa yang berani mengajukan diri untuk mengerjakan soal di depan kelas, bertanya, maupun mengerjakan tugas dengan baik. Bentuk penguatan yang diberikan hanya berupa verbal dan tidak diberikan pada setiap siswa yang berani menjawab soal maupun ber-tanya. Sehingga kelas didomisasi oleh beberapa siswa saja.

Berdasarkan kondisi siswa ter-sebut di atas, maka perlu diterapkan model pembelajaran yang dapat meng-apresiasi setiap bentuk partisipasi siswa dalam pembelajaran sehingga tercipta lingkungan belajar yang menyenang-kan dan aktif dimana semua siswa terlibat pada setiap tahap pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang menekankan pada penghargaan setiap partisipasi siswa adalah model

Quantum Teaching yang merupakan

(4)

Ulangi, dan Rayakan. Dengan menggunakan model pembelajaran TANDUR ini, siswa akan mendapatkan pengakuan atas setiap proses belajar yang dialaminya dan diharapkan dapat meningkatkan efikasi diri siswa tersebut

Dengan demikian penulis tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan model TANDUR sebagai salah satu alternatif dalam pemecahan permasalahan di atas. Dalam hal ini penulis menetapkan judul penelitian yaitu, “Penerapan Model TANDUR dalam Pembelajaran Matematika untuk Meningkatkan Efikasi Diri Siswa Sekolah Dasar”.

METODE

Penelitian yang dilakukan adalah

Penelitian Tindakan Kelas (Classroom

Action Research). Menurut Kusumah

dan Dwitagama (2011, hlm. 9) “Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan cara (1) merencanakan, (2) melaksanakan, dan (3) merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat”. Menurut Nazir (dalam Hatimah, dkk, 2007, hlm. 114) “penelitian tindakan adalah suatu pene-litian yang dikembangkan bersama-sama antara peneliti dan decision

maker tentang variabel-variabel yang

dapat dimanipulasikan dan segera digunakan untuk menentukan kebija-kan dan pembangunan.” Dalam hal ini penelitian tersebut dilaksanakan di dalam kelas. Sedangkan menurut David Hopkins (2011, hlm. 1) “penelitian kelas (classroom research) merupakan penelitian yang dilaksanakan oleh guru untuk meningkatkan pengajarannya dan pengajaran kolega-koleganya,

un-tuk menguji asumsi-asumsi teoretis praktik pedagogis, atau untuk meng-evaluasi dan menerapkan prioritas-prioritas sekolah secara keseluruhan.”

Pada penelitian ini model penelitian yang akan digunakan adalah model dari Kemmis dan Taggart. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan (planning), tindakan

(action), pengamatan (observation),

dan refleksi (reflection). Perencanaan siklus kedua merupakan hasil dari refleksi siklus pertama, begitu pula perencanaan pada siklus selanjutnya merupakan hasil dari refleksi pada siklus sebelumnya.

Berdasarkan uraian di atas, untuk lebih jelasnya desain penelitian dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 3.1 Model PTK Kemmis&Mc Taggart (dalam Wiriaatmadja, 2009, hlm. 66)

Banyaknya siklus yang akan digunakan tidak terbatas hal ini sesuai dengan pendapat Wiraatmadja (2005, hlm. 103) bahwa “apabila perubahan yang bertujuan telah meningkatkan kualitas pembelajaran telah tercapai, atau apa yang di teliti telah menunjuk-kan keberhasilan, siklus dapat diakhiri”

(5)

57 orang siswa terdiri dari 28 siswa laki-laki dan 29 siswa perempuan.

Secara umum instrumen yang dibuat dalam penelitian ini diantara-nya: (1) Lembar Observasi Efikasi Diri; 2) Angket Efikasi Diri; (3) Catatan Lapangan; (4) Lembar Evalua-si, dan (5) Dokumentasi. Adapun prosedur analisis data yang digunakan oleh peneliti adalah berupa data kuantitatif dan data kualitataif. Data kuantitatif diperoleh dari tes hasil belajar individu yang dilakukan siswa dalam pembelajaran menggunakan model quantum teaching. Data kuantitatif ini diolah untuk mengetahui peningkatan efikasi diri siswa melalui skor pada angket dan lembar observasi efikasi diri . Sedangkan data kualitatif diperoleh dari hasil mengamati dengan menggunakan catatan lapangan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan proses pembelajaran untuk perbaikan pada siklus berikutnya

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian yang telah dilakukan mengenai penerapan model TANDUR dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan efikasi diri siswa ini dilakukan sebanyak dua siklus. Setiap siklus terdiri dari satu pertemuan dengan jumlah pelajaran (2 x 35 menit) dengan menerapkan model TANDUR dan tes akhir siklus berupa tes evaluasi individu dan skala efikasi diri. Penerima tindakan pada siklus I ada sebanyak 48 orang siswa dari 57 orang siswa

keseluruhan. Tindakan yang diberikan pada pembelajaran siklus I adalah dengan menerapkan model TANDUR pada materi jaring-jaring bangun ruang sederhana untuk meningkatkan efikasi diri siswa. Aktivitas tindakan pada siklus I ini secara umum akan dideskripsikan sesuai dengan persiapan dalam RPP sebagai berikut:

Tabel 4.1. Deskripsi Hasil Observasi Proses Pembelajaran Matematika

dengan Menerapkan Model TANDUR pada Siklus I

No Data Temuan

1 Keterlaksanaan Rencana

Pe-laksanaan Pembelajaran pada siklus I sudah cukup baik walaupun ada beberapa ke-giatan yang tidak sempat di-laksanakan karena keterbatas-an waktu sehingga guru ter-paksa harus melewatkan be-berapa kegiatan yaitu pada saat siswa mengomunikasi-kan hasil diskusinya di depan kelas hanya tiga kelompok saja yang maju ke depan dari enam kelompok yang ada. 2 Aktivitas guru pada

(6)

menggunting kardus, guru hanya dapat memberikan ban-tuan pada beberapa siswa saja sehingga guru akhirnya me-minta tolong pada anggota kelompok yang lainya untuk membantu menjelaskan cara menggunting kardus yang benar sehingga menghasilkan jaring-jaring yang tepat pada temannya yang kebingungan. 3 Aktivitas siswa serta respon

yang diberikan siswa selama proses pembelajaran pada siklus I sudah cukup baik. Hal ini terlihat dari antusias-me siswa dalam antusias-melakukan percobaan untuk menemukan jaring-jaring bangun ruang. Seluruh siswa sudah mem-bawa kardus yang diminta. Namun terdapat aktivitas siswa yang masih harus di-perbaiki pada siklus selanjut-nya, yaitu:

a. Pada saat guru memberi-kan kesempatan kepada siswa untuk mendefinisi-kan bangun ruang, hanya dua orang siswa saja yang mengemukakan

pendapatnya yaitu SK dan HF. Siswa yang lainya masih ragu-ragu untuk me-ngemukakan pendapatnya. b. Menurut pengamatan guru,

pada saat diskusi berlang-sung ada beberapa siswa yang masih asyik dengan kegiatannya sendiri. Pada kelompok satu AR sibuk memainkan sabun mandi yang sengaja dibelinya untuk diambil kardusnya. Pada kelompok lima NN ruang kubus dan balok, KS dan TH masih belum bisa membedakan persegi dan persegi panjang.

Berdasarkan temuan yang diurai-kan pada tabel 4.1, maka hasil refleksi pembelajaran pada siklus I menunjuk-kan beberapa hal sebagai berikut: a. Keterlaksanaan RPP pada siklus I

belum mencapai 100% dikarena-kan adanya langkah yang terlewat-kan yaitu siswa mengomunikasi-kan hasil diskusinya di depan kelas. Pada RPP tertulis bahwa seluruh kelompok mengirimkan perwakilannya untuk mempresen-tasikan hasil diskusinya di depan kelas. Akan tetapi, hanya tiga kelompok saja yang maju kedepan. Hal ini terjadi karena peneliti kurang tepat memperkirakan alokasi waktu yang dibutuhkan ketika melakukan diskusi dan presentasi sehingga perkiraan alokasi yang dibutuhkan menjadi kurang tepat. Selain itu, guru juga kurang terampil dalam mengelola kelas sehingga estimasi waktu yang terjadi tidak sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditetapkan dalam RPP. Maka pada siklus selanjutnya guru diusahakan memberikan waktu yang cukup kepada siswa untuk mengikuti pembelajaran dengan menghitung estimasi waktu yang dibutuhkan dengan seksama sehingga tidak ada langkahpembelajaran yang terpaksa dilewatkan.

(7)

membutuhkan bantuan dalam mengerjakan tugasnya sehingga ada beberapa siswa yang tidak sempat mendapatkan bantuan untuk mengerjakan tugasnya. Hal ini dapat menimbulkan kecem-buruan sosial diantara siswa yang tidak mendapatkan perhatian dari guru tersebut. Maka pada siklus selanjutnya guru dapat meminta bantuan siswa yang sudah memahami materi dengan baik untuk membantu teman-temannya yang mengalami kesulitan dalam memahami materi maupun mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.

c. Banyak siswa masih ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru dan menolak ketika guru memintanya mengerja-kan soal di depan kelas. Menurut pengamatan guru, siswa tersebut masih merasa tidak mampu men-jawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Maka pada siklus selanjutnya guru harus dapat meningkatkan motivasi siswa dengan memberikan penguatan yang lebih menarik bagi siswa seperti pemberian hadiah sebagai salah satu bentuk penguatan non verbal yang diharapkan dapat menambah motivasi siswa untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas. d. Kurangnya pemahaman konsep

bangun datar pada beberapa siswa yang memiliki kemampuan ber-pikir rendah. Hal ini menghambat siswa tersebut untuk maju ke tahap selanjutnya. Maka untuk mengatasi hal tersebut, pada siklus selanjut-nya guru dapat memberikan pengulangan materi pada awal pembelajarandengan lebih intensif untuk mengingatkan kembali siswa tersebut mengenai konsep-konsep

yang harus dipahaminya sebelum maju pada materi selanjutnya

Berdasarkan hasil refleksi di atas, peneliti merekomendasikan pelaksana-an pembelajarpelaksana-an matematika dengpelaksana-an menerapkan model TANDUR pada siklus II sebagai berikut:

a. Dalam upaya mengefektifkan

waktu, pada siklus berikutnya guru harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya sesuai dengan perkiraan estimasi pembelajaran pada RPP yaitu selama 3 jam pelajaran (3 x 35 menit).

b. Dalam upaya memberikan

per-hatian merata pada seluruh siswa yang mengalami kesulitan me-selanjutnya guru dapat memberi-kan penguatan yang lebih ber-variasi selain penguatan verbal yaitu dengan memberikan hadiah yang menarik bagi siswa.

d. Dalam upaya meningkatkan

pe-mahaman konsep bangun datar pada siswa dengan kemampuan berpikir rendah, maka pada siklus selanjutnya guru dapat melaku-kan pengulangan materi menge-nai konsep bangun datar pada awal pembelajaran dengan lebih intensif

(8)

Rabu tanggal 25 Mei 2016 dengan alokasi waktu sebanyak tiga jam pelajaran (3 x 35 menit). Pada pelaksanaan siklus II ini, penerima tindakan ada sebanyak 48 siswa dikarenakan ada sembilan orang siswa yang tidak hadir. Pembelajaran siklus II dilaksanakan melalui satu pertemuan dengan menerapkan model TANDUR pada materi jaring-jaring bangun ruang sederhana untuk meningkatkan efikasi diri siswa. Gambaran umum mengenai aktivitas tindakan pada siklus II ini akan dideskripsikan sesuai dengan refleksi pada siklus I dan perencanaan yang telah disusun dalam RPP. Pada siklus II ini, siswa melaksanakan praktik membuat bangun ruang kubus dan balok menggunakan kertas karton dengan tahapan TANDUR sebagai berikut:

Tabel 4.2. Deskripsi Hasil Observasi Proses Pembelajaran Matematika

dengan Menerapkan Model TANDUR pada Siklus II

No Data Temuan direncanakan dalam RPP telah terlaksanakan secara keselu-ruhan. Estimasi waktunya pun telah sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan. 2 Aktivitas guru pada siklus II

dengan menerapkan model TANDUR pada pembelajaran matematika dengan materi pokok jaring-jaring bangun ruang sederhana sudah berjalan

dengan baik. Guru sudah dapat mengelola kelas dengan baik sehingga kegiatan pembelajar-an berlpembelajar-angsung dengpembelajar-an cukup kondusif.

3 Aktivitas dan respon siswa

pada siklus II sudah cukup baik. Ketika diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan, banyak siswa yang sudah sanakannya. Berikut rincian aktivitas siswa pada saat pem-belajaran berlangsung:

a. Siswa sudah berani menge-mukakan pendapatnya me-ngenai manfaat mempel-ajari cara membuat bangun ruang menggunakan kertas mendefinisikan bangun ruang dengan benar.

(9)

tergang-gu. yang kurang paham. Siswa tersebut adalah SK, SM, dan MIS.

e. Kondisi kelas pada saat pembelajaran berlangsung sudah cukup tenang dan kondusif.

Berdasarkan data temuan pada tabel 4.2, maka hasil refleksi pada pembelajaran siklus I yang telah dilakukan menunjukkan beberapa hal sebagai berikut:

a. Langkah-langkah pembelajaran

dalam RPP telah dilaksanakan secara keseluruhan dari mulai kegiatan pembuka, kegiatan ini, hingga kegiatan penutup. Alokasi waktu yang tersedia sudah sesuai dengan estimasi waktu dibutuh-kan. Maka dalam hal ini, guru sudah mampu melaksanakan seluruh kegiatan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang telah direncanakan sehingga dapat mencapai tujuan pembel-ajaran.

b. Pada siklus II ini penerapan model TANDUR untuk mening-katkan efikasi diri siswa sudah semakin efektif dengan menam-bah sumber efikasi diri siswa yaitu dengan memberikan peng-alaman menyelesaika tugas dengan baik dan penghargaan akan setiap pencapaian yang ber-hasil diraihnya. Hal ini merupa-kan sumber efikasi yaitu

perfor-mance accomplishment yang

menurut Mahmudi dan Suroso (2014, hlm. 187) merupakan “sumber informasi efikasi yang

paling berpengaruh karena mampu memberikan bukti yang paling nyatatentang kemampuan seseorang untuk mencapai keber-hasilan”. Selain itu, siswa juga mendapatkan pengalaman vikari-us dengan melihat keberhasilan teman-temannya dalam melak-sanakan tugas sehingga dapat meningkatkan efikasi dirinya seperti yang dikemukakan oleh Mahmudi dan Suroso (2014, hlm. 187) bahwa “Efikasi diri akan meningkatketika mengamati ke-berhasilan orang lain, sebaliknya efikasi diri akan menurun jika mengamati orang (yang dijadikan

figure) yang kemampuannya

kira-kira sama dengan kemam-puan dirinya”.

c. Pada siklus II guru sudah mampu

mengelola kelas dengan baik dan mengkondisikan siswa untuk mengikuti pembelajaran dengan baik. Guru juga sudah mampu menangani siswa dengan jumlah yang cukup banyak dengan baik. Selama pembelajaran berlang-sung hanya sedikit siswa yang melakukan pelanggaran yang dapat mengganggu kegiatan pembelajaran berlangsung. d. Aktivitas siswa pada saat

pem-belajaran berlangsung sudah cukup baik. Sudah banyak siswa yang mau mengajukan diri untuk menjawab pertanyaan diberikan oleh guru juga mengemukakan pendapatnya di dalam kelas.

e. Pada saat mengerjakan tugasnya,

(10)

ke-sulitan dalam megerjakan tugas-nya.

Berdasarkan hasil refleksi di atas, peneliti merekomendasikan pelaksana-an pembelajarpelaksana-an matematika dengpelaksana-an menerapkan model TANDUR pada materi jaring-jaring bangun ruang sederhana sebagai berikut:

a. Guru harus melakukan

peren-canaan pembelajaran dengan sek-sama terutama dalam menentu-kan alokasi waktu yang dibutuh-kan. Hal ini penting karena manajemen waktu yang kurang baik dapat membuat proses pembelajaran tidak terlaksana sesuai dengan RPP yang telah dibuat.

b. Guru harus mampu mengelola

kelas dengan baik agar kegiatan yang dilakukan sesuai dengan waktu yang ditetapkan.

c. Guru harus memberikan

penguat-an ypenguat-ang beragam untuk me-ningkatkan antusiasme siswa dalam proses pembelajaran di dalam kelas.

d. Guru harus mampu melibatkan

seluruh siswa dalam proses pem-belajaran dengan memberikan ke-sempatan kepada siswa untuk berpartisipasi dalam proses pem-belajaran.

e. Guru harus memberikan sistem

reward and punishment yang

jelas kepada siswa agar siswa mampu mematuhi peraturan yang berlaku di dalam kelas.

Berdasarkan hasil

pengolahan skor efikasi diri siswa, berikut hasil rekapitulasi skor efikasi diri siswa pada siklus I berdasarkan observasi yang dilakukan oleh tiga orang observer:

Grafik 4.1.

Rekapitulasi Skor Efikasi Diri Siswa Berdasarkan Observasi pada Siklus I

Dilihat dari data yang tersaji dalam grafik 4.1 di atas, dapat dilihat bahwa masih banyak siswa yang memiliki efikasi disi yang rendah. Skor tertinggi diperoleh SK dan OR yaitu 100 yang berarti seluruh indikator telah terlihat pada diri siswa tersebut. Sedangkan skor terendah diperoleh SRS yaitu 6.25. Rata-rata efikasi diri berdasarkan hasil observasi pada siklus I ini adalah 48.55. Berikut rincian rata-rata efikasi diri siswa pada setiap indikatornya:

Tabel 4.4.

Rata-rata Efikasi Diri Siswa pada Siklus I

Indikat

or 1 Indikator 2 Indikator 3 Indikator 4

Seluruh Indikat or

Rata-rata Efika

si Diri

65.00 46.43 45.30 37.47 48.55

Berdasarkan tabel 4.4. di atas, rata-rata efikasi diri siswa pada siklus I masih termasuk dalam kategori Efikasi Diri Cukup rendah. Hal ini berdasarkan tabel interpretasi tingkat efikasi diri yang dikemukakan oleh Sadewi, dkk (2012, hlm.10) sebagai berikut:

Tabel 4.5.

Interpretasi Tingkat Efikasi Diri

Interval Presentase Kriteria 14% ≤ - ≤ 25% Sangat

(11)

26% ≤ - ≤ 38% Rendah

39% ≤ - ≤ 51% Cukup Rendah

52% ≤ - ≤ 64% Sedang

65% ≤ - ≤ 77% Cukup Tinggi

78% ≤ - ≤ 90% Tinggi

91% ≤ - ≤ 100% Sangat Tinggi

Berdasarkan tabel 4.5. di atas, ketercapaian efikasi diri siswa ber-dasarkan hasil observasi pada siklus I mencapai 48.55 %. Selain melalui observasi, peneliti juga menggunakan skala efikasi diri untuk mengetahui tingkat efikasi diri siswa secara keseluruhan. Skala ini terdiri dari 20 pernyataan yang kemudian siswa beri skor dengan rentang 1-100. Berikut hasil rekapitulasi skala efikasi diri siswa pada siklus I:

Efikasi Diri Siswa pada Siklus I

Efikasi Diri Sangat Rendah Efikasi Diri Rendah Efikasi Diri Cukup Rendah Efikasi Diri Sedang Efikasi Diri Cukup Tinggi Efikasi Diri Tinggi Efikasi Diri Sangat Tinggi

Grafik 4.2

Rekapitulasi Skala Efikasi Diri Siswa pada Siklus I

Dilihat dari grafik 4.2. di atas, kelas di dominasi oleh siswa dengan tingkat efikasi diri tinggi, yaitu sebanyak 24 orang siswa. Rata-rata efikasi diri pada siklus I berdasarkan skala efikasi diri adalah 76.99 yang termasuk dalam tingkat efikasi diri cukup tinggi. Ketercapaian efikasi diri

siswa berdasarkan skala efikasi diri pada siklus I mencapai 76.99 %.

Berdasarkan tabel 4.4. rata-rata efikasi paling rendah adalah pada indikator ke empat, yaitu komitmen dari individu dalam pencapaian target. Pada indikator ini, banyak siswa yang tidak begitu peduli dengan hasil diskusinya dan menyerahkan tugas mengisi soal pada siswa yang dianggap pintar. Mereka ikut berdiskusi dengan anggota kelompok lainnya, akan tetapi dalam pengambilan keputusan mengenai jawaban mana yang akan diambil mereka menyerahkan sepenuhnya kepada siswa yang dianggap paling pintar dalam kelompok. Oleh karena itu pada siklus

selanjutnya guru melakukan

pembelajaran yang lebih menonjolkan kemampuan pribadi siswa sehingga siswa tidak tergantung pada siswa lain dalam mencapai targetnya.

Selain itu, peneliti juga menggunakan tes tertulis untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa yang peneliti sajikan pada grafik berikut,

52.0

8%

47.9

2%

Grafik Ketuntasan Siswa

Tuntas Belum Tun-tas

Grafik 4.3

(12)

Pada grafik 4.3 di atas dapat dilihat bahwa sebanyak 52 % siswa telah mencapai atau melampaui Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditentukan oleh guru, dan sebanyak 48 % siswa masih belum tuntas. Hal tersebut menunjukkan bahwa kecakapan akademik siswa sudah dalam kategori cukup. Selain itu, dari hasil perhitungan indeks prestasi kelompok menunjukkan bahwa ketercapaian hasil belajar siswa pada siklus I mencapai 64.79 %. Hal ini termasuk dalam kategori sedang.

Untuk mengetahui keterkaitan efikasi diri dengan hasil belajar siswa, peneliti melakukan perbandingan hasil belajar siswa dan efikasi diri siswa pada grafik berikut

AK A AN BG DSD EAO FI GF' HF IA KS KA MIS MN MW N PAA RR RH SK SM TA WAN ZAP

0 20 40 60 80100

120

Efikasi Diri Hasil Belajar

Persentase

N

a

m

a

S

is

w

a

Grafik 4.4

Perbandingan Skala Efikasi Diri dan Hasil Belajar Siswa pada Siklus I

(13)

AMR MF GF PAA AK N KS IA RR CA GP MIS WAN RA LSS

Rekapitulasi Skor Efikasi Diri Siswa Berdasarkan Observasi pada Siklus II

Berdasarkan data yang tersaji pada grafik 4.3. di atas dapat dilihat bahwa skor efikasi diri berdasarkan observasi tertinggi diperoleh SK dengan nilai 100 yang berarti seluruh indikator telah terlihat pada diri siswa tersebut. Sedangkan skor terendah diperoleh AMR dan GF yaitu 46.75. Rata-rata efikasi diri berdasarkan hasil observasi pada siklus II ini adalah 73.50 yang termasuk dalam kategori cukup tinggi. Berikut rincian rata-rata efikasi diri siswa pada setiap indikatornya:

Tabel 4.6.

Rata-rata Efikasi Diri Siswa pada Siklus II

71.67 78.33 73.33 70.67 73.50

Berdasarkan tabel 4.6. di atas, indikator dengan rata-rata terendah pada siklus II ini adalah indikator ke empat yaitu komitmen dari individu dalam pencapaian target. Ketercapaian

efikasi diri berdasarkan hasil observasi mencapai 73.50 %. Hal ini meningkat sebanyak 24.95 % dari siklus I (48.55%).

Selain melalui observasi, peneliti juga menggunakan skala efikasi diri

Efikasi Diri Siswa pada Siklus II

Efikasi Diri Sangat

Rendah

Efikasi Diri Rendah

Efikasi Diri Cukup Rendah

Efikasi Diri Sedang

Efikasi Diri Cukup Tinggi

Efikasi Diri Tinggi

Efikasi Diri Sangat Tinggi

Grafik 4.6

Rekapitulasi Skala Efikasi Diri Siswa pada Siklus II cukup tinggi ada 16 orang, dan siswa dengan efikasi diri sangat tinggi ada delapan orang. Rata-rata efikasi diri siswa berdasarkan skala efikasi diri pada siklus II adalah 80.35. Ketercapaian efikasi diri berdasarkan skala efikasi diri pada siklus II mencapai 80.35 %. Hal ini mengalami peningkatan sebanyak 3.36 %.

(14)

berdasarkan hasil observasi dari siklus I ke siklus II adalah sebanyak 24.95%. Sedangkan berdasarkan skala efikasi diri, ketercapaian efikasi diri siswa pada siklus I adalah 76.99% dan pada silus II adalah 80.35%. Peningkatan ketercapaian efikasi diri siswa berdasarkan skala efikasi diri dari siklus I ke siklus II adalah sebanyak 3.36%.

Selain itu, peneliti juga menggunakan tes tertulis untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa yang peneliti sajikan pada grafik berikut,

82.98% 17.02%

Grafik Ketuntasan Siswa

Tuntas Belum Tuntas

Grafik 4.7

Persentase Ketuntasan Siswa pada Siklus II

Pada grafik 4.5 di atas dapat dilihat bahwa sebanyak 83 % siswa telah mencapai atau melampaui Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditentukan oleh guru, dan sebanyak 17 % siswa masih belum tuntas. Hal tersebut menunjukkan bahwa kecakapan akademik siswa sudah dalam kategori cukup. Selain itu, dari hasil perhitungan indeks prestasi kelompok menunjukkan bahwa ketercapaian hasil belajar siswa pada siklus I mencapai 81.60 %. Hal ini termasuk dalam kategori sangat baik.

Untuk mengetahui keterkaitan efikasi diri dengan hasil belajar siswa, peneliti melakukan perbandingan hasil belajar siswa dan efikasi diri siswa pada grafik berikut,

AK A AN BG DA ER FI GF' HF IA KS KA MIS MN MW N PAA RR RH SK SM TA WAN ZAP

0 20 40 60 80 100120

Efikasi Diri Hasil Belajar

Persentase

N

a

m

a

S

is

w

a

Grafik 4.8

Perbandingan Skala Efikasi Diri dan Hasil Belajar Siswa pada Siklus II

(15)

kemampuan berpikir rendah memiliki efikasi diri yang rendah.

Dikarenakan pada siklus II sudah mencapai tingkat efikasi diri siswa yang diharapkan peneliti, maka penelitian dihentikan pada siklus II.

Adapun peningkatan efikasi diri siswa berdasarkan hasil observasi (siklus I ke siklus II) dapat disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut:

Tabel 4.7.

Ketercapaian Efikasi Diri Siswa Berdasarkan Hasil Observasi

Siklus I Siklus II

48.55% 73.50 %

Dari tabel 4.7. untuk lebih jelasnya ketercapaian efikasi diri siswa dibuat ke dalam bentuk diagram batang sebagai berikut:

Siklus I Siklus II

0 Diri Berdasarkan Hasil Observasi pada

Siklus I dan Siklus II

Berdasarkan tabel dan grafik di atas, terlihat bahwa ketercapaian efikasi diri siswa berdasarkan hasil observasi mengalami peningkatan. Pada siklus I, ketercapaian efikasi diri siswa adalah 48.55%, kemudian meningkat pada siklus II yaitu 73.50%.

Kemudian sebagai rincian peningkatan untuk setiap indikatornya dapat disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut:

Tabel 4.8

Peningkatan Efikasi Diri pada Setiap Indikator

Indikator Siklus I Siklus II

Indikator 1 65.00% 71.67%

Indikator 2 46.43% 78.33%

Indikator 3 45.30% 73.33%

Indikator 4 37.47% 70.67%

Dari tabel 4.8. di atas, untuk lebih jelasnyaketercapaian efikasi diri siswa pada setiap indikator dibuat ke dalam bentuk diagram batang sebagai berikut:

0 Diri pada Setiap Indikator Berdasarkan tabel dan grafik di atas, efikasi diri siswa pada setiap indikator mengalamai peningkatan dari siklus I ke siklus II. Indikator pertama meningkat sebanyak 6.67%. Indikator kedua meningkat sebanyak 31.90%. Indikator ketiga meningkat sebanyak 28.03%. Indikator keempat meningkat sebanyak 33.20%. Peningkatan tertinggi terjadi pada indikator keempat yaitu komitmen dari individu dalam pencapaian target.

Sedangkan peningkatan efikasi diri siswa berdasarkan skala efikasi diri (siklus I ke siklus II) dapat disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut:

Tabel 4.9

Ketercapaian Efikasi Diri Siswa Berdasarkan Skala Efikasi Diri

(16)

76.99% 80.35%

Dari tabel 4.9. untuk lebih jelasnya ketercapaian efikasi diri siswa dibuat ke dalam bentuk diagram batang sebagai berikut:

Siklus I Siklus II

75 Diri Berdasarkan Skala Efikasi Diri

pada Siklus I dan Siklus II Berdasarkan tabel dan grafik di atas, terlihat bahwa ketercapaian efikasi diri siswa berdasarkan skala efikasi diri mengalami peningkatan. Pada siklus I, ketercapaian efikasi diri siswa adalah 76.99%, kemudian meningkat pada siklus II yaitu 80.35%. Sehingga dapat dikatakan bahwa efikasi diri siswa dalam pembelajaran matematika terus meningkat.

Sejalan dengan meningkatnya efikasi diri siswa, prestasi belajar siswa pun turut meningkat. Berikut peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II

Siklus I Siklus II

0.00% Kelompok pada Siklus I dan Siklus II

Dan pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa penerapan model TANDUR pada siklus II telah diterapkan secara efektif berdasarkan hasil refleksi pada siklus I.

KESIMPULAN

Berdasarkan temuan

dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan model TANDUR

dalam pembelajaran

matematika pada salah satu sekolah dasar negeri di Kabupaten Bandung terbukti dapat meningkatkan efikasi diri siswa dengan cukup signifikan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, ada beberapa simpulan yang diperoleh sebagai berikut:

1. Proses pembelajaran matematika

dengan menerapkan model

quantum teaching terdiri dari

(17)

teratasi dengan memberikan tambahan jam menjadi tiga jam pelajaran. Kemudian sedikitnya aktivitas siswa pada siklus I sudah dapat teratasi pada siklus II dengan menambah variasi bentuk penguatan yang diberikan oleh guru berupa penguatan non verbal dengan memberikan hadiah kepada siswa yang banyak berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran di kelas.

2. Siswa dengan kemampuan

berpikir tinggi memiliki efikasi diri yang tinggi, begitu pula siswa dengan kemampuan berpikir rendah memiliki efikasi diri yang rendah. Pemerolehan

nilai prestasi dapat

mempengaruhi efikasi diri siswa. Jika siswa mendapatkan nilai yang tinggi, maka efikasi diri siswa tersebut juga meningkat.

3. Penerapan model quantum

teaching dengan tahapan

TANDUR dapat meningkatkan efikasi diri siswa. Hal tersebut dibuktikan dengan meningkatnya ketercapaian efikasi diri siswa baik melalui hasil observasi maupun skala efikasi diri. Tingkat ketercapaian efikasi diri siswa pada siklus I berdasarkan observasi mencapai 48.55%, dan pada siklus II mencapai 73.50%. Peningkatan ketercapaian efikasi diri siswa dari siklus I ke siklus II berdasarkan hasil observasi adalah 24.95%. Sedangkan berdasarkan skala efikasi diri, ketercapaian efikasi diri pada siklus I mencapai 76.99, dan pada siklus II mencapai 80.35%. peningkatan ketercapaian efikasi diri siswa dari siklus I ke siklus II berdasarkan skala efikasi diri

adalah 3.36%. Dapat

disimpulkan, penerapan model

TANDUR dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar kelas V dapat meningkatkan efikasi diri siswa pada pokok bahasan jaring-jaring bangun ruang sederhana.

REFERENSI

Bandura, A. (1998). Self Efficacy. In H. Friedman (Ed.), Encyclopedia

of Mental Health. San Diego:

Academis Press.

Bandura, A. (2006). Guide for

Constructing Self-Efficacy

Scales. In Frank Pajares & Tim

Urdan (Ed.), Self-Efficacy

Beliefs of Adolescents.

Greenwich: Information Age Publishing.

Fathurrohman, M. (2015).

Model-Model Pembelajaran Inovatif.

Jogjakarta: Ar-ruzz Media. Hamdayama, J. (2016). Metodologi

Pengajaran. Jakarta: Bumi

Aksara.

Hatimah, I, dkk. (2007). Penelitian

Pendidikan. Bandung: UPI

Press.

Hopkins, D. (2011). Panduan Guru Penelitian Tindakan Kelas.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Karso, dkk. (2010). Pendidikan

Matematika I. Jakarta:

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sutopo, A.H., Arief, A. (2010).

Terampil Mengolah Data

Kualitatif dengan NVIVO.

Jakarta: Prenada Media Group. Wahyudin, U, dkk. (2006). Evaluasi

Pembelajaran Sekolah Dasar.

Bandung: UPI Press.

Wijaya, Ariyadi. 2012. Pendekatan

Matematika Realistik.

Yogyakarta: Graha Ilmu.

Wiriaatmadja, Rochiati. (2009).

(18)

Kelas. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Adicondro, N. & Purnamasari, A. (2011). Efikasi Diri, Dukungan Sosial Keluarga dan Self Regulated Learning Pada Siswa Kelas VIII. Humanitas, 8 (1),

hlm. 17-27.

Apsari, B. S., Adi, W., & Octoria, D. (2014). Pengaruh Efikasi Diri, Pemanfaatan Gaya Belajar dan Lingkungan Teman Sebaya Terhadap Prestasi Belajar Akuntansi (Studi Kasus di SMK Negeri 1 Surakarta). Jupe UNS,

3 (1), hlm. 91-102.

Bandura, A. (1982). Self-Efficacy Mechanism in Human Agency.

American Psychologist, 37 (20),

hlm. 122-147.

Mahmudi, M. H. & Suroso. (2014). Efikasi Diri, Dukungan Sosial, dan Penyesuaian Diri dalam

Belajar. Persona, Jurnal

Psikologi Indonesia, 3 (2), hlm.

183-194.

Martha, J. A. (2015). Peningkatan Hasil Belajar, Aktivitas, dan Efikasi Diri melalui Pembelajaran Model Carousel Feedback and Showdown pada Mata Pelajaran

Kewirausahaan. Jurnal

Konseling Indonesia, 1 (1), hlm.

86-95.

Pajares, F. & Miller, M. D. (1994). Role of Efficacy and

Self-Concept Beliefs in

Mathematical ProblemSolving: A Path Analysis. Journal of Educational Psychology, 86 (2),

hlm. 193-203.

Sadewi, A. I., Sugiharto, D. Y. P., & Nusantoro, E. (2012). Meningkatkan Self Efficacy Pelajaran Matematika Melalui Layanan Penguasaan Konten Teknik Modeling Simbolik.

Indonesian Journal of Guidance and Counseling: Theory and Application, 1 (2),

hlm. 7-12.

Pahlawati, H. G. (2015). Penerapan

Model Pembelajaran

Kooperatif Tipe Numbered

Head Together untuk

Meningkatkan Self-Efficacy

Siswa, (Skripsi). Fakultas Ilmu

Pendidikan, Universitas

Pendidikan Indonesia,

Bandung.

Rahayu, D. S. (2015). Penerapan Model TANDUR untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa Sekolah Dasar Pada Pembelajaran IPA,

(Skripsi). Fakultas Ilmu

Pendidikan, Universitas

Pendidikan Indonesia, Bandung Masruroh, L. (2012). Efektivitas

Bimbingan Kelompok Teknik Modelling untuk Meningkatkan Self Efficacy Akademik Siswa,

(Tesis). Sekolah Pascasarjana,

Universitas Pendidikan

Gambar

Gambar 3.1 Model PTK Kemmis&Mc Taggart
Tabel 4.4.
Grafik Ketuntasan Siswa
Grafik 4.4Perbandingan Skala Efikasi Diri dan
+5

Referensi

Dokumen terkait

Puji dan Syukur penulis haturkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “

Beberapa model yang pernah digunakan antara lain SSARR Model dari Corps of Engineering USA, model ini mula-mula dikembangkan untuk mencari hubungan antara curah hujan

Proses akomodasi konvergensi dalam komunikasi di Karangturi Group Purwokerto terbangun ketika kalangan etnis Cina, yang terdiri dari pemilik dan pimpinan perusahaan, ingin

Makhluk hidup dengan persamaan ciri-ciri yang banyak dimasukkan ke dalam takson yang lebih rendah c.. Hewan-hewan : Panthera leo, Panthera tigris, Panthera pardus dalam

dilakukan dengan menjatuhkan hukuman seumur hidup. Jadi tujuan penjatuhan hukuman dalam hukum pidana adalah untuk melindungi dan juga memelihara ketertiban hukum guna

ICE atau Intensive Community Empowerment adalah sebuah program yang dapat membantu masyarakat Kelurahan Bangetayu untuk berdaya dan mandiri dalam memelihara kesehatan

Alternatif yang layak untuk dijalankan ialah alternatif 1 karena suku bunga yang ditawarkan lebih dari faktor diskon, sedangkan alternatif 2 dan alternatif 3 tidak layak karena

Abstrak - Sistem temu kembali informasi (information retrieval system)merupakan sistem yang digunakan untuk menemukan informasi yang relevan dengan kebutuhan dari