• Tidak ada hasil yang ditemukan

Upaya Penderita Kanker Serviks Mencari Pengobatan di rumah sakit umum pusat H. Adam Malik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Upaya Penderita Kanker Serviks Mencari Pengobatan di rumah sakit umum pusat H. Adam Malik"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kesehatan telah menjadi kebutuhan utama bagi setiap manusia di dunia

dalam menjalankan aktivitas hidup. Berdasarkan pengertiannya bahwa keadaan

sehat merupakan kondisi dimana seseorang, sejahtera secara fisik, secara sosial

dan ekonomi. Artinya apabila salah satu dari ketiga unsur tersebut tidak dalam

kondisi yang baik (dengan kata lain sehat) maka akan timbul suatu gangguan

masalah kesehatan. Hal ini akan sangat merugikan penderita karena akan

menurunkan produktivitas terhadap kehidupan pribadinya.

Kesehatan sangat penting bagi keberlangsungan hidup manusia karena

tanpa tubuh yang sehat, manusia tidak akan bisa memenuhi segala kebutuhan

hidupnya. Oleh sebab itu, setiap manusia menginginkan hidup sehat. Untuk

mendapatkan tubuh yang sehat manusia harus menjaga keseimbangan tubuh agar

dapat terhindar dari penyakit. Untuk menyatakan bahwa seseorang sakit, terdapat

keadaan yang menunjukkan tidak berfungsinya suatu organ tubuh yang

mempengaruhi kehidupan sosialnya. Mengalami sakit tidak hanya berarti adanya

perubahan biologis, akan tetapi keadaan sosial yang tampak dari adanya

penyimpangan yang terjadi dan tidak dikehendaki.

Ketika seseorang dikatakan berpenyakit bila ia mempunyai tanda dan

(2)

sakit untuk mendapat pengobatan dan penanggulangan untuk penyakit tersebut.

Tetapi bagi orang-orang tertentu, gejala-gejala tersebut mengkin dibiarkan saja

dalam jangka waktu lama, atau pasrah terhadap setiap kemunduran, dengan jalan

mencoba mengobati sendiri, meremehkannya atau tidak memperdulikannya, atau

dengan jalan mengubah pola hidupnya. Itu dikarenakan bagaimana setiap orang

menanggapi apa arti sebuah penyakit bagi mereka sesuai dengan pengalaman

hidup mereka masing-masing. Salah satu alasan mengapa beberapa penderita

gejala penyakit yang cukup berat namun tidak meminta pertolongan dokter ialah

karena mereka dapat bertoleransi dengan rasa sakit dan meragukan bahwa rasa

sakit itu akan membawa akibat negatif pada kehidupannya. Dan beberapa

keluarga sanggup bertoleransi dengan kerugian-kerugian yang disebabkan oleh

adanya anggota keluarga yang sakit parah. Orang yang menganggap bahwa gejala

yang dialaminya merupakan ancaman maka ia akan melakukan kunjungan ke

dokter dan meminta pertolongan dari dokter.

Menanggapi hal tersebut, Hippocrates (460-377 SM) muncul sebagai

Bapak kedokteran yang menangani kasus kejadian sakit yang menitik beratkan

pada metode pengobatan dan penyembuhan. Penyembuhan ini dilakukan setelah

terjadi insiden sakit. Akan tetapi setelah perkembangan zaman, penyembuhan

melalui bidang kedokteran saja tidak cukup berhasil dalam menyelesaikan

masalah kesehatan di masyarakat, tetapi membutuhkan pengobatan secara

tradisional juga. Dalam pemilihan metode penyembuhan ditentukan oleh

(3)

memilih ke dokter dikarenakan ia menyadari bahwa gejala penyakit merupakan

suatu masalah, dan mengunjungi dokter adalah tindakan yang tepat dan ia akan

berusaha untuk mendapat pertolongan. Ia akan mengupayakan bagaimana

penyakit tersebut dapat diatasi sehingga dapat memperlambat pertumbuhan dari

penyakit tersebut sehingga ia masih dapat melakukan aktivitas hidupnya.

Dan ketika seseorang memilih untuk pengobatan di luar daripada medis

adalah merupakan faktor sosial dan budaya yang mempengaruhi orang

merumuskan suatu gejala penyakit sebagai ancaman maupun merumuskan

untung-ruginya suatu tindakan yang akan dilakukan. Kelompok penduduk

berdasarkan usia, jenis kelamin, status perkawinan, sukubangsa, ras dan semuanya

mempengaruhi persepsi suatu gejala penyakit sebagai suatu persoalan. Sehingga

ada beberapa kelompok yang lebih suka meminta nasihat dan saran dari

teman-temannya, keluarganya daripada pergi ke dokter. Sehingga kita akan diberi saran

untuk melakukan pengobatan tradisional seperti ke dukun, dan jenis yang

lain-lainnya. Dan dengan segala koneksi yang dimiliki, seorang penderita akan

berupaya untuk mencari penyembuhan dari penyakit yang dialaminya.

Dan dengan itu peneliti tertarik untuk mengungkapkan, menggambarkan

bagaimana upaya seseorang untuk mencari penyembuhan, penanggulangan akan

penyakit yang dialaminya. Peneliti ingin mengkaji penyakit kanker serviks

sebagai penyakit yang merupakan ancaman bagi kesehatan seseorang bahkan yang

(4)

Kanker serviks merupakan kanker yang terdapat pada serviks dan

penyebab utamanya adalah human papiloma virus (HPV). Kanker serviks

merupakan kanker yang terjadi pada serviks atau leher rahim, suatu daerah pada

organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim, letaknya

antara rahim (uterus) dan liang senggama atau vagina. Kanker serviks (leher

rahim) biasanya menyerang wanita berusia 33-55 tahun. Beberapa faktor risiko

yang dapat meningkatkan terjadinya kanker serviks adalah usia, usia hubungan

seksual pertama, dan jumlah pasangan seksual, jumlah paritas, penggunaan KB.

Cara untuk pemeriksaan kanker serviks adalah papsmear. Papsmear

adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui aanya keganasan

(kanker) dengan mikroskop. Pemeriksaan ini mudah dikerjakan, cepat, dan tidak

tidak sakit. Dan ada baiknya dilakukan pencegahan kanker serviks terhadap kaum

wanita, dengan sosialisasi pentingnya menjaga kebersihan dari organ intim,

menjaga vagina tidak lembab dengan mengganti celana dua kali sehari,

penggunaan antiseptik, dan juga perubahan pada pola hidup untuk tidak merokok

dan menghindari hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan.

Kanker serviks adalah penyakit yang merupakan ancaman bagi setiap

kesehatan wanita yang sudah menikah atau wanita yang telah melakukan

hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan. Kanker serviks adalah

penyakit yang gejalanya yang mudah dikenali tetapi banyak wanita yang

mendapat pertolongan setelah kanker serviks menyebar dan berkembang di

(5)

Ketika kanker serviks sudah menyebar di dalam tubuh maka penderita

harus mendapatkan pertolongan serius, sehingga si penderita baik keluarga

berupaya mencari penyembuhan. Seeorang berupaya untuk sembuh dari penyakit

dilatar belakangi bagaimana kehadiran seseorang dianggap di dalam sebuah

lingkungannya. Contoh, seseorang berupaya sembuh karena dia memiliki

anak-anak yang masih kecil dan persepsi dia bahwa anak-anak-anak-anaknya masih sangat

membutuhkan figur1 seorang ibu untuk perkembangan anak. Sehingga si ibu atau

keluarga akan mengusahakan bagaimana si ibu bisa bertahan hidup dengan

penyakit yang dideritanya. Baik itu harus keluar kota bahkan sampai ke luar

negeri, dan dapat menoleransi segala kerugian-kerugian yang akan dihadapi.

Pengobatan kanker serviks tergantung kepada beberapa faktor. Kanker

serviks bisa diobati dengan cara operasi jika diagnosis dilakukan pada tingkat

awal. Pada beberapa kasus, hanya serviks yang diangkat dan rahim bisa dibiarkan

saja. Jika lebih lanjut, rahim perlu diangkat seluruhnya. Proses operasi untuk

pengangkatan rahim disebut sebagai histerektomi. Sedangkan radioterapi adalah

langkah alternatif untuk kanker serviks stadium awal. Pada kasus tertentu,

radioterapi juga dipakai berdampingan dengan operasi. Untuk kasus kanker

serviks stadium lanjut, biasanya dirawat dengan metode kombinasi kemoterapi

dan radioterapi. Beberapa penanganan bisa memiliki efek samping yang berat dan

jangka panjang, termasuk di antaranya adalah menopause dini dan kemandulan.

1

(6)

Diagnosis2 kanker serviks membuat si penderita harus memikirkan

kejadian buruk yang akan terjadi pada hidupnya. Dan beberapa orang yang

terkena kanker serviks sudah mengetahui resiko dari pengobatan yang akan

dilakukan untuk mengurangi pertumbuhan sel kanker di tubuhnya tetapi mereka

tetap melakukannya untuk bertahan hidup.

Ketika seseorang berupaya untuk sembuh dari penyakit kanker serviks

mereka akan mengupayakannya, baik itu dari segi finansial yang harus

membutuhkan materi yang tidaklah kecil. Oleh karena itu si peneliti akan melihat

bagaimana ikhtiar dari si penderita atau keluarga untuk mendapatkan materi untuk

memperlancar segala biaya pengobatan yang akan dilakukan. Dan juga bagaimana

hubungan dari lingkungan sosial memotivasi si penderita agar dapat bertahan

hidup dan berjuang untuk mencari penyembuhan kanker serviks tersebut. Karena

di saat seseorang sedang sakit maka semua aktivitas hidup yang biasa dilakukan

akan terganggu sehingga kita membutuhkan kerabat atau keluarga untuk

memotivasi kita untuk bertahan dengan penyembuhan penyakit sehingga kita bisa

melakukan aktivitas kita kembali. Dengan itu peneliti akan membuat judul

penelitian yaitu “Upaya Penderita Kanker Serviks Mencari Pengobatan”.

2

(7)

1.2 Tinjauan Pustaka

1.2.1 Wanita

Wanita dan pria adalah sama-sama ciptaan Tuhan. Wanita adalah mitra

pria. Wanita memilki peran yang sangat banyak, baik itu di politik, hukum,

ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan lain-lain.

Wanita adalah kata umum yang digunakan untuk menggambarkan

perempuan dewasa. Perempuan yang sudah menikah juga bisa dipanggil sebutan

ibu. Untuk perempuan yang belum menikah atau berada antara umur 16 hingga 21

tahun disebut juga dengan anak gadis. Wanita yang sudah dewasa adalah dimana

masa pemebentukan kemandirian pribadi dan ekonomi, masa perkembangan karir,

dan bagi banyak orang, masa pemilihan pasangan, belajar hidup dengan sesorang

secara akrab, memulai keluarga, dan mengasuh anak-anak.

Secara Etimologi, wanita berdasarkan asal bahasanya tidak mengacu pada

wanita yang ditata atau diatur oleh laki-laki atau suami pada umumnya terjadi

pada kaum patriarki. Arti kata wanita sama dengan perempuan, perempuan atau

wanita memiliki wewenang untuk bekerja dan menghidupi keluarga bersama

dengan sang suami. Tidak ada pembagian peran perempuan dan laki-laki dalam

rumah tangga, pria dan wanita sama-sama berkewajiban mengasuh anak hingga

usia dewasa. Jika ada wacana perempuan harus di rumah menjaga anak dan

memasak untuk suami maka itu adalah konstruksi peran perempuan karena

(8)

a. Reproduksi

Reproduksi adalah suatu proses biologi suatu individu organisme baru

diproduksi. Reproduksi merupakan cara dasar mempertahankan diri yang

dilakukan oleh semua bentuk kehidupan oleh pendahulu setiap individu

organisme untuk menghasilkan suatu generasi selanjutnya. Perempuan yang

memiliki organ reproduksi yang baik akan memiliki kemampuan untuk

mengandung, melahirkan dan menyusui, yang tidak bisa dilakukan oleh pria ini

disebut dengan tugas perempuan/ibu/wanita.

b. Organ reproduksi (Rahim)

Rahim atau uterus adalah organ reproduksi betina yang utama pada

kebanyakan mamalia, termsuk manusia. Salah satu ujungnya adalah servik,

membuka ke dalam vagina, dan ujung satunya lebih luas, yang dianggap badan

rahim, disambung dengan tabung Fallopian. Rahim terdapat dalam berbagai

bentuk dan ukuran di organisme yang berbeda, tetapi pada manusia berbentuk

buah pir dan seukuran telur ayam.

1.2.2 Pengertian kanker serviks

Kanker serviks adalah kanker yang muncul pada leher rahim wanita. Leher

rahim sendiri berfungsi sebagai pintu masuk menuju rahim dari vagina. Pada usia

berapa pun, semua wanita bisa menderita kanker serviks. Tapi penyakit ini

cenderung mempengaruhi wanita yang aktif secara seksual antara usia 30-45

tahun. Kanker serviks sangat jarang terjadi pada wanita berusia di bawah 25

(9)

disebabkan oleh infeksi Human Papiloma Virus (HPV).3 Pada penyakit kanker

serviks menunjukkan adanya sel-sel abnormal yang terbentuk oleh sel-sel jaringan

yang tumbuh terus-menerus dan tidak terbatas pada bagian leher rahim.

Kanker serviks yang diderita individu berkaitan dengan perilaku seksual dan

reproduksi, seperti berhubungan seksual pada usia muda, berganti-ganti pasangan

dalam berhubungan seksual, infeksi beberapa jenis virus, merokok, serta tingkat

kebersihan dan higinenis sehari-hari individu yang rendah terutama kebersihan

organ genital.

Menurut WHO, terdapat 490.000 perempuan di dunia terkena kanker

serviks pada tiap tahunnya. Dan 80 persen di antaranya berada di negara-negara

berkembang, salah satunya adalah Indonesia. Tiap satu menit muncul kasus baru

dan tiap dua menit terdapat satu orang meninggal akibat kanker serviks.

Di Indonesia, pada tiap harinya diperkirakan muncul 40-45 kasus baru dan

sekitar 20-25 orang meninggal akibat kanker serviks. Berarti tiap bulan Indonesia

kehilangan 600-750 perempuan akibat kanker serviks. Angka kematian kanker

serviks di Indonesia tergolong tinggi dan sebagian besar disebabkan oleh

keterlambatan dalam diagnosis. Biasanya kanker sudah menyebar ke organ lain di

dalam tubuh ketika seseorang memeriksakan kondisinya. Inilah penyebab

pengobatan yang dilakukan menjadi makin sulit.

3

Human Papiloma Virus adalah virus yang menyerang kulit dan membran mukosa manusia dan hewan. Lebih dari 100 jenis virus paploma manusia telah diidentifikasikan. Beberapa jenis virus papiloma dapat menyebabkan kutil, sementara lainnya dapat menyebabkan infeksi yang

menyebabkan esi. Semua HPV ditransmisikan melalui hubungan kulit ke kulit.

(10)

1.2.3 Gejala kanker serviks

Gejala kanker serviks tidak selalu bisa terlihat dengan jelas, bahkan ada

kemungkinan gejala tidak muncul sama sekali. Sering kali, kemunculan gejala

terjadi saat kanker sudah memasuki stadium akhir. Gejala yang biasa terjadi

adalah:

a. Pendarahan pada vagina

Pendarahan tidak normal dari vagina, termasuk flek adalah gejala yang

sering terlihat dari kanker serviks. Pendarahan biasanya terjadi setelah

berhubungan seks, di luar masa menstruasi4 atau setelah menopouse5.

b. Gejala-gejala lainnya yang mungkin muncul

Selain pendarahan yang abnormal, gejala lain yang mungkin muncul

adalah:

 Cairan yang keluar tanpa berhenti dari vaginadengan bau yang aneh atau

berbeda dari biasanya, bewarna merah muda, pucat, cokelat, atau

mengandung darah (keputihan). Keputihan akibat virus, keputihan jenis ini

dapat diakibatkan oleh virus HPV, HIV, Herpes. Keputihan yang

diakibatkan virus ini dapat memicu kanker rahim termasuk serviks.

 Rasa sakit tiap kali melakukan hubungan seksual.

4

Menstruasi atau datang bulan adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi hormon reproduksi. http://id.m.wikipedia.org/wiki/Menstruasi , Diakses pada 27 Juni 2016, Pukul 20:52 WIB.

5

(11)

 Perubahan siklus menstruasi tanpa diketahui penyebabnya, misalnya

menstruasi yang lebih dari 7 hari untuk 3 bulan atau lebih, atau pendarahan

dalam jumlah yang sangat banyak.

c. Gejala pada kanker serviks stadium akhir

Kanker pada stadium akhir akan menyebar ke luar dari leher rahim menuju

ke jaringan serta organ di sekitarnya. Pada tahapan ini, gejala yang akan

terjadi akan berbeda, antara lain:

 Terjadinya hematuria6 atau darah dalam urin.

 Bermasalah saat buang air kecil karena penyumbatan ginjal atau ureter7.

 Perubahan pada kebiasaan buang air besar dan kecil.

 Penurunan berat badan.

Menurut Dianda (2007), faktor yang mempengaruhi kanker serviks yaitu :

1. Usia >35 tahun mempunyai resiko tinggi terhadap kanker leher rahim.

Semakin tua usia seseorang, maka semakin meningkat risiko terjadinya

6

Hematuria adalah kondisi adanya darah di dalam urine. http://www.alodokter.com/hematuria, Diakses pada 27 Juni 2016, Pukul 20:58 WIB.

7

Ureter adalah tabung yang mengalirkan urine dari ginjal ke kandung kemih.

(12)

kanker leher rahim. Meningkatnya resiko kanker leher rahim pada usia

lanjut merupakan gabungan dari meningkatnya dan bertambah lamanya

waktu terhadap karsinogen serta makin melemahnya sistem kekebalan

tubuh akibat usia.

2. Usia pertama kali menikah. Menikah pada usia kurang 20 tahun dianggap

terlalu muda untuk melakukan hubungan seksual dan berisiko terkena

kanker leher rahim 10-12 kali lebih besar daripada mereka yang menikah

pada usia >20 tahun. Hubungan seks idealnya dilakukan setelah seorang

wanita benar-benar matang. Ukuran kematangan bukan hanya dilihat dari

sudah menstruasi atau belum. Kematangan juga bergantung pada sel-sel

mukosa yang terdapat di selaput kulit bagian dalam rongga tubuh.

Umumnya sel-sel mukosa8 baru matang setelah wanita berusia 20 tahun ke

atas. Jadi, seorang wanita yang menjalin hubungan seks pada usia remaja,

paling rawan bila dilakukan di bawah usia 16 tahun. Hal ini berkaitan

dengan kematangan sel-sel mukosa pada serviks. Pada usia muda, sel-sel

mukosa pada serviks belum matang. Artinya, masih rentan terhadap

rangsangan sehingga tidak siap menerima rangsangan dari luar termasuk

zat-zat kimia yang dibawa sperma. Karena masih rentan, sel-sel mukosa

bisa berubah sifat menjadi kanker. Sifat sel kanker serviks selalu berubah

setiap saat yaitu mati dan tumbuh lagi. Dengan adanya rangsangan, sel

bisa tumbuh lebih banyak dari sel yang mati, sehingga perubahannya tidak

8

(13)

seimbang lagi. Kelebihan sel ini akhirnya bisa berubah sifat menjadi sel

kanker. Lain halnya bila hubungan seks dilakukan pada usia di atas 20

tahun, dimana sel-sel mukosa tidak lagi terlalu rentan terhadap perubahan.

3. Wanita dengan aktivitas seksual yang tinggi, dan sering berganti-ganti

pasangan. Berganti-ganti pasangan akan memungkinkan tertularnya

penyakit kelamin, salah satunya Human Papiloma Virus (HPV). Virus ini

akan mengubah sel-sel di permukaan mukosa hingga membelah lebih

banyak sehingga tidak terkendali sehingga menjadi kanker.

4. Penggunaan antiseptik9. Kebiasaan pencucian vagina dengan

menggunakan obat-obatan antiseptik maupun deodoran akan

mengkibatkan iritasi di serviks yang merangsang terjadinya kanker.

5. Wanita yang merokok. Wanita perokok memiliki risiko 2 kali lebih besar

terkena kanker serviks dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok.

Penelitian menunjukan, lendir serviks pada wanita perokok mengandung

nikotin dan zat-zat lainnya yang ada di dalam rokok. Zat-zat tersebut akan

menurunkan daya tahan serviks di samping merupakan karsinogen infeksi

virus. Nikotin, mempermudah semua selaput lendir sel-sel tubuh beraksi

atau menjadi terangsang, baik pada mukosa tenggorokan, paru-paru

maupun serviks. Namun tidak diketahui dengan pasti berapa banyak

jumlah nikotin yang dikomsumsi yang bisa menyebabkan kanker leher

rahim.

9

Antiseptik adalah senyawa kimia yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan hidup di permukaan kulit.

(14)

6. Riwayat penyakit kelamin seperti kutil genitalia. Wanita yang terkena

penyakit akibat hubungan seksual berisiko terkena virus HPV diduga

sebagai penyakit utama terjadinya kanker leher rahim sehingga wanita

yang mempunyai riwayat penyakit kelamin berisiko terkena kanker leher

rahim.

7. Paritas (jumlah kelahiran). Semakin tinggi resiko pada wanita dengan

banyak anak, apalagi dengan jarak persalinan yang terlalu pendek. Dari

berbagai literatur yang ada, seorang perempuan yang sering melahirkan

(banyak anak) termasuk golongan resiko tinggi untuk terkena penyakit

kanker leher rahim. Dengan seringnya seorang ibu melahirkan, maka akan

berdampak pada seringnya terjadi perlukaan di organ reproduksinya yang

akhirnya dampak dari luka tersebut akan memudahkan timbulnya Human

Papiloma Virus (HPV) sebagai penyebab terjadinya penyakit kanker leher

rahim.

8. Penggunan kontrasepsi oral dalam jangka waktu lama. Penggunaan

kontrasepsi oral yang dipakai dalam jangka lama yaitu lebih dari tahun

dapat meningkatkan risiko kanker leher rahim 1,5-2,5 kali. Kontrasepsi

oral mungkin dapat meningkatkan risiko kanker leher rahim karena

jaringan kanker leher rahim merupakan salah satu sasaran yang disukai

oleh hormon stroid perempuan. Hingga tahun 2004, telah dilakukan studi

(15)

penggunaan kontasepsi oral. Meskipun demikian, efek penggunaan

kontrasepsi oral terhadap risiko kanker leher rahim masih kontroversional.

1.2.5 Pengobatan untuk kanker serviks

a Pengobatan Modern

Pengobatan modern adalah pengobatan yang dilakukan secara ilmiah atau

telah diuji cobakan dengan sebah penelitian dan dapat dipertanggungjawabkan

yang dipelajari dalam ilmu kedokteran yang merupakan cabang ilmu kesehatan

yang mempelajari tentang cara mempertahankan kesehatan dan menyembuhkan

manusia dari berbagai jenis penyakit. Ilmu kedokteran meliputi pengetahuan

tentang sistem tubuh manusia dan penyakit serta cara pengobatannya. Dalam

pengobatan modern ada empat hal yang aan dibahas yaitu pasien, rumah sakit,

perawat dan dokter.Pemilihan pengobatan untuk kanker serviks tergantung kepada

lokasi dan ukuran tumor, Stadium penyakit, usia, keadaan umum penderita dan

rencana penderita untuk hamil lagi. Pengobatan terhadap kanker serviks

tergantung pada beberapa faktor. Misalnya stadium kanker, usia pasien, keinginan

untuk memilikki anak, kondisi medis lain yang sedang dihadapi dan pilihan

pengobatan yang diinginkan. Kanker serviks biasanya akan ditangani oleh tim

yang terdiri dari dokter dari berbagai spesialisi. Jenis penanganan menurut

stadium kanker, terbagi dua:

a. Penanganan kanker serviks tahap awal, yaitu operasi pengangkatan

(16)

b. Penanganan kanker serviks stadium akhir, yaitu radioterapi dan atau

kemoterapi, kadang operasi juga perlu dilakukan.

 Prosedur pengangkatan sel-sel kanker :

a. Biopsi kerucut: yaitu pengangkatan wilayah tempat jaringan yang

abnormal melalui prosedur operasi.

b. Terapi laser: pemakaian laser untuk membakar sel-sel abnormal.

c. LLETZ atau large loop excision of transformation zone: sel-sel abnormal

dipotong memakai kawat tipis dan arus listrik.

 Operasi pengangkatan kanker serviks

a. Operasi untuk kanker serviks yang terdeteksi pada stadium awal dan akan

ditawarkan kepada wanita yang masih ingin memiliki anak. Operasi ini

bertujuan mengangkat leher rahim, jaringan sekitarnya, dan bagian atas

dari vagina tanpa mengangkat rahim.

b. Operasi pengangkatan rahim wanita. Dilakukan untuk wanita yang

stadium kanker serviks stadium awal agar kanker tidak kembali lagi,

raditerapi juga mungkin perlu dilakukan.

 Efek samping atau komplikasi jangka pendek dari operasi:

a. Pendarahan

b. Infeksi

c. Risiko cidera pada ureter, kandung kemih dan rektum

d. Penggumpalan darah

(17)

a) Ketidakmampuan menahan kencing.

b) Vagina menjadi pendek dan lebih kering, hubungan seksual bisa terasa

sangat menyakitkan.

c) Pencernaan dalam usus terhalang karena adanya penumpukan bekas luka.

d) Pembengkakan pada lengan dan kaki karena penumpukan cairan.

 Penanganan dengan radioterapi

Penanganan kanker serviks stadium awal, radioterapi bisa dilakukan

sendiri atau dikombinasikan dengan operasi. Sedangkan untuk kanker serviks

stadium akhir, radioterapi digabung dengan kemoterapi. Kombinasi ini untuk

mengendalikan pendarahan dan rasa nyeri.

Proses radioterapi biasanya berjalan sekitar satu sampai dua bulan. Meski

begitu, radioterapi tidak hanya menghancurkan sel-sel kanker, terkadang

radioterapi juga menghancurkan jaringan yang sehat. Efek samping bisa bertahan

selama berbulan-bulan atau bahkan tahunan. Pada beberapa kasus, feek samping

bersifat permanen. Efek samping dari radioterapi adalah:

 Sakit perut buang air kecil.

 Pendarahan dari vagina dan rektum.

 Diare.

 Kelelahan.

 Mual.

 Merusak kandung kemih dan usus.

(18)

 Kulit seperti terbakar di daerah panggul.

 Kemandulan.

 Merusak ovarium10

 Penanganan dengan kemoterapi

Untuk mengobati kanker serviks, kemoterapi bisa digabung dengan

radioterapi. Untuk kanker stadium akhir, kemoterapi dilakukan untuk

memperlambat penyebaran dan mengurangi penyebaran dan mengurangi gejala

yang muncul.

Kemoterapi memakai obat-obatan untuk menghancurkan sel kanker.

Berbeda dengan radioterapi atau operasi yang berdampak pada bagian tertentu

saja, kemoterapi akan berdampak pada seluruh tubuh. Obat ini mengincar sel yang

tumbuh dan berkembang biak dnegan cepat, terutama sel kanker. Tapi sel sehat

yang berkembang biak dengan cepat juga bisa terpengaruh.

Efek samping yang sering terjadi adalah:

a. Mengalami sariawan.

b. Kehilangan selera makan.

c. Mersakan kelelahan.

d. Mual dan muntah.

e. Rambut rontok: rambut bisa tumbuh kembali dalam waktu tiga sampai

enam bulan setelah kemoterapi selesai.

10

(19)

f. Jumlah sel darah merah berkurang: mengakibatkan kelelahan dan sesak

nafas. Dan infeksi karena kekurangan sel darah putih.

b Pengobatan Tradisonal

Pengobatan tradisional adalah suatu upaya kesehatan dengan cara lain dari

ilmu kedokteran dan berdasarkan pengetahuan yang diturunkan secara lisan

maupun tulisan yang yang berasal dari Indonesia atau luar Indonesia.

WHO menyatakan pengobatan tradisional ialah ilmu dan seni pengobatan

berdasarkan himpunan dan pengetahuan dan pengalaman praktek, baik yang dapat

diterangkan secara ilmiah ataupun tidak, dalam melakukan diagnosis, prevensi,

dan pengobatan terhadap ketidakseimbangan fisik, mental ataupun sosial.

Sesuai keputusan “seminar pelayanan pengobatan tradisonal departemen

kesehatan RI (1978). Tedapat 2 defenisi pengobatan tradisonal Indonesia

(PETRIN) yaitu :

a. Ilmu atau seni pengobatan yang dilakukan oleh pengobatan Tradisonal

Indonesia dengan cara yang tidak bertentangan dengan kepercayaan

kepada Tuhan YME sebagai upaya penyembuhan, pencegahan penyakit,

pemulihan dan peningkatan kesehatan jasmani, rohani dan sosial

masyarakat.

b. Usaha yang dilakukan untuk mencapai kesembuhan, pemeliharaan dan

peningkatan taraf kesehatan masyarakat yang berlandaskan cara berpikir,

kaidah-kaidah atau ilmu di luar pengobatan ilmu kedokteran modern,

(20)

dilakukan dengan cara-cara ang tidak lazim dipergunakan dalam ilmu

kedokteran yang meliputi : akupuntur, dukun/ahli kebatinan, sinshe, tabib,

jamu, pijat, dan sebagainya yang banyak di jumpai dalam masyarakat.

Antropologi kesehatan merupakan salah satu bagian dari ilmu antropologi.

Masalah yang menjadi kajian dalam antropologi kesehatan adalah aktivitas

manusia yang berhubungan dengan kesehatan dan penyakit. Antropologi

kesehatan menjelaskan berbagai faktor dan proses yang memainkan peranan di

dalam atau mempengaruhi cara-cara di mana individu-individu dan

kelompok-kelompok terkena atau oleh atau berespon terhadap penyakit dan mempelajari ini

dengan penekanan terhadap pola-pola tingkah laku (Fabrega, 1972 : 167).

Manusia selalu berusaha untuk menyembuhkan penyakit. Karena

keharusan, manusia tidak mau senantiasa memberikan perhatian terhadap

masalah-masalah kesehatan serta usaha mempertahankan kelangsungan hidup

sejauh batas pengetahuannya mencari penyelesaian terhadap masalah penyakit

(Foster dan Anderson, 1986 : 42).

Untuk menghadapi dan mengatasi penyakitnya, manusia mempunyai

sistem medis yang menerangkan sebab terjadinya penyakit, metode pencegahan,

dan penyembuhan penyakit disesuaikan dengan konsep masyarakat terhadap

penyembuh yang menangani penyakitnya (Foster dan Anderson, 1986 : 61-73).

Manusia lebih sering berusaha untuk menyembuhkan si sakit. "Karena

keharusan, manusia tidak mau senantiasa menaruh perhatian terhadap

(21)

batas-batas pengetahuannya, mencari penyelesaian terhadap masalah-masalah

penyakit" (Rubin 1960 : 785). Perhatian ini bukan semata-mata manusiawi,

walaupun pada sebagian besar masyarakat ada usaha untuk merawat yang sakit,

melainkan lebih merupakan suatu bentuk tingkah laku adaptif baru yang didasari

oleh logika dan juga rasa sedih.

Tiap manusia memerankan sejumlah peran, baik sebagai orang tua, anak,

suami, istri, koki, pembantu rumah tangga, pemburu, nelayan, peramu, ahli-ahli

ramuan, spesialis keagamaan dan sebagainya. Apapun peranannya, si pemeran "si

orang sakit" memiliki hak-hak tertentu dan mengharapkan bentuk-bentuk

tingkahlaku tertentu dari orang-orang lain dengan siapa ia berinteraksi. Seorang

suami memiliki hak-hak seksual dalam hubungan dengan istrinya; dalam

masyarakat tradisional, paling sedikit ia mengharapkan istrinya akan memasak

makanannya, mendidik anak-anaknnya dan mungkin pula menjahit baju-bajunya.

Tanpa istrinya, ia akan mengalami kesulitan hidup. Sama pentingnya, yakni yang

berkewajiban atau tugas-tugas terhadap rekan-rekannya dan hal itu berlangsung

timbal-balik. Peranan wajib dan peranan yang diharapkan juga meluas di luar

keluarga intinya, meliputi kerabat, rekan-rekan dan tetangga-tetangga. Secara

singkat, bahkan masyarakat-masyarakat yang tingkatan teknologinya sederhana

pun ditandai dengan jaringan yang saling terkait dalam hubungan-hubungan

dukung-mendukung dan ketergantungan. "Secara langsung, semua anggota

memiliki keawajiban-kewajiban mempersiapkan yang dibutuhkan bagi upacara

(22)

upacara, agar pasien tetap sembuh. Adalah kepentingan utama mereka juga agar

pasien sembuh, karena dalam suatu komuniti yang saling tergantung

(interdependent) seperti pada rumah panjang, orang akan kehilangan

anggota-anggotanya yang sakit"Torrey 1972 :97. (Garis bawah oleh Foster dan Anderson).

Sampai titik tertentu, orang biasanya bersedia untuk mempertaruhkan

waktu, sumber-sumber daya, dan beban pekerjaan tambahan (dalam merawat dan

sementara memenuhi peran dasar kewajiban-kewajiban), untuk menghindarkan

kerusakan sosial yang lebih besar dan biaya-biaya yang mau tak mau menyertai

kematian. Segala usaha akan dilakukan untuk menolong seorang bapak atau

seorang ibu uang berada pada usia produktifnya, yang mempunyai anak-anak

kecil yang masih membutuhkan perawatan, dan yang memberi sumbangan

terhadap kesejahteraan sosial ekonomi dari anggota-anggota kelompok yang lain.

Dalam usahanya untuk menanggulangi penyakit, manusia telah

mengembangkan "suatu kompleks luas dari pengetahuan, kepercayaan, teknik,

peran, norma-norma, ideologi, sikap, adat-istiadat, upacara-upacara dan

lambang-lambang yang saling berkaitan dan membentuk suatu sistem yang saling

menguatkan dan saling membantu" (Saunders 1954 : 7). "Komplek yang luas"

tersebut, membentuk suatu "sistem medis". Istilah tersebut mencakup keseluruhan

dari pengetahuan kesehatan, kepercayaan, keterampilan dan praktek-praktek dari

para anggota dari tiap kelompok. Istilah itu harus digunakan dalam artian

kompreherensif yang mencakup semuaaktivitas klinik dan non-klinik,

(23)

menyimpangnya, berpengaruh terhadap derajat kesehatan kelompok tersebut dan

meningkatkan berfungsinya masyarakat secara optimal.

Suatu sistem teori penyakitmeliputi kepercayaan-kepercayaan mengenai

ciri sehat, sebab-sebab sakit, serta pengobatan dan teknik-teknik penyembuhan

lain yang digunakan oleh para dokter. Sebaliknya suatu sistem perawatan untuk

merawat orang sakit dan untuk memanfaatkan "pengetahuan" tentang penyakit

untuk menolong si pasien. Sistem-sistem teori penyakit berkenaan dengan

kausalitas, penjelasan yang diberikan oleh penduduk mengenai hilangnya

kesehatan, dan penjelasan mengenai pelanggaran tabu, mengenai pencurian jiwa

orang, mengenai gangguan keseimbangan antara unsur panas-dingin dalam tubuh

atau kegagalan pertahanan immunologi organ manusia terhadap agen-agen

patogen seperti kuman-kuman dan virus. Sistem-sistem kausalitas penyakit hanya

dapat dipandang sebagai suatu yang tidak rasional oleh masyarakat lain, yang

percaya bahwa premis yang mendasari penjelasan itu seluruhnya atau sebagiannya

bertentangan dengan fakta. Suatu sistem perawatan kesehatan adalah suatu

pranata sosial yang melibatkan interaksi antara sejumlah orang, sedikitnya pasien

dan penyembuh. Fungsi yang terwujudkan dari suatu sistem perawatan adalah

untuk memobilisasi sumber-sumber daya si pasien, yakni keluarganya dan

(24)

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, bahwa besarnya upaya orang yang sakit untuk

mencari pengobatan maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

Bagaimana upaya penderita kanker serviks dalam mencari pengobatan penyakit

yang dialaminya?

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggali bagaimana upaya

penderita kanker serviks dalam mencari pengobatan untuk penyakitnya. Serta

menambah pengetahuan bagi mahasiswa serta masyarakat bagaimana upaya

penderita kanker serviks dalam mencari pengobatan, yang mungkin belum banyak

masyarakat mengetahuinya. Penelitian ini juga sebagai suatu bentuk tulisan ilmiah

yang bermaksud untuk menambah pengetahuan tentang kanker serviks.

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian adalah sebagai berikut :

1. Untuk pengembangan kajian ilmu kesehatan mengenai kanker serviks

dalam bidang ilmu sosial, seperti antropologi sosial.

2. Untuk menambah pengetahuan serta wawasan untuk mahasiswa

antropologi dan untuk sebagai penambah tulisan di Antropologi Fisip

USU.

1.6 Sistematika Penulisan

Skripsi ini disusun dalam enam bab. Bab pertama adalah pembahasan

(25)

yang berisikan teori dan konsep yang mendukung penelitian ini. Selanjutnya

pembahasan rumusan masalah yang disusul dengan tujuan dan manfaat dari

penelitian ini. Dua bagian terakhir adalah pembahasan mengeani sistematika

penulisan dan metode penelitian yang berisi tentang pengalaman penelitian.

Pada bab kedua berisi hal-hal yang menyangkut gambaran umum tempat

lokasi penelitian di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan.

Pada bab ketiga berisi tentang hasil penelitian yaitu mengenai riwayat

singkat penderita kanker serviks.

Pada bab keempat berisi mengenai hasil penelitian mengenai sudut

pandang pasien dan keluarga terhadap kanker serviks.

Pada bab kelima berisi mengenai pengobatan kanker serviks oleh

penderita kanker serviks.

Bab terakhir atau bab keenam berisi tentang kesimpulan yang bisa diambil

dari bab-bab sebelumnya mengenai besarnya upaya penderita kanker serviks

dalam mencari pengobatan. Bab ini juga berisi saran-saran yang diperlukan dan

diharapkan bisa menjadi masukan bagi para pihak yang berkepentingan terhadap

penulisan skripsi ini.

1.7 Metode Penelitian

Penelitian ini adalah suatu tindakan seseorang yang dilakukan sistematis

dan mengikuti aturan-aturan metodologi, misalnya: observasi, dikontrol dan

berdasarkan paa teori yang dapat diperkuat dengan gejala yang ada. Awalnya

(26)

pengetahuan yang dimiliki informan. Yang informasinya tersebut bersangkutan

dengan apa yang dibutuhkan oleh peneliti. Peneliti juga rajin berkunjung ke

lapangan guna mendapatkan kesan yang baik dari informan. Peneliti juga

memperhatikan bagaimana interaksi masing-masing penderita kanker serviks

dengan keluarganya, memperhatikan reaksi-reaksi dari informan saat

melaksanakan wawancara, bagaimana ekspresi wajah dan gerakan tubuh lain saat

melakukan wawancara.

Penelitian ini bersifat etnografi dengan menggunakan metode kualitatif

bagaimana pengetahuan penderita kanker serviks memandang kanker serviks,

bagaimana upayanya untuk mendapatkan pengobatan dan alasan apa mengapa

penderita tersebut ingin sembuh. Bagaimana tanggapan mereka saat menghadapi

kanker serviks baik itu sebelum ke rumah sakit dan sampai di rumah sakit. peneliti

juga menggali mengapa penderita kanker serviks menyanggupi pengobatan

dengan segala resiko yang tinggi. Karena semua jawaban yang diberikan dari

informan memiliki alasan tersendiri, oleh karena itu peneliti melakukan

pendekatan yang intens agar mendapat kepercayaan dari informan sehingga

peneliti mendapat apa yang dibutuhkan di penelitian ini.

1.7.1 Sifat dan Pendekatan Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif

melalui etnografi. Menurut Spradley (1997:12) tujuan utama etnografi ialah

(27)

untuk mendapatkan pandangan dengan dunianya. Dalam hal ini, peneliti akan

berusaha membangun raport yang baik dengan penderita kanker serviks

Secara langsung, bahwa penulis akan menulis bentuk laporan atas

penelitian lapangan (field work) selama dua bulan di rumah sakit. penulis akan

membuat catatan-catatan ketika berada di ruangan sedang mewancarai pasien.

Sewaktu meneliti pasien, penulis akan melakukan pendekatan secara holistik dan

mendiskripsikannya secara mendalam untuk memperoleh native‟s point of view

mengenai penderita kanker serviks dan bagaimana upaya mereka dalam

memerangi kanker serviks.

Dengan itu penulis akan melakukan observasi partisipasi di rumah sakit

dengan berkunjung setiap hari ke rumah sakit. penulis berusaha untuk

membangun rapport dengan pasien dan juga keluarga penderita kanker serviks.

Pendekatan yang dilakukan yaitu tidak menggunakan seragam rumah sakit atau

seragam yang formal untuk menjauhkan batasan antara peneliti dengan penderita

kanker serviks.

1.7.2 Teknik Pengumpulan Data

Data Primer

Data primer adalah salah satu data yang di peroleh secara langsung

berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi. Data primer yang saya dapat yaitu

ruangan penderita kanker serviks yang ada di rumah sakit umum pusat H. Adam

Malik beserta nama-nama dari penderita tersebut. Tetapi sebelumnya penulis

(28)

melakukan penelitian secara bebas di rumah sakit. Dengan bantuan tersebut

penulis merencanakan cara-cara untuk pengumpulan data dengan cara, yaitu :

a. Observasi

Pengamatan yang dilakukan dengan cara melihat dan mengamati secara

langsung untuk mendapatkan gambaran mengenai upaya penderita kanker serviks

dalam mencari pengobatan di rumah sakit dan cara bertahan dalam memerangi

kaknker serviks. Bagaimana peneliti berusaha untuk mengetahui respon dari

penderita terhadap penyakitnya, dengan cara itu peneliti akan mencoba mendekati

dengan berpihak kepada pendapat dari pasien tersebut. Dan peneliti juga

mendekati informan dengan menceritakan mengapa penleiti tertarik dengan

penderita kanker serviks karena dimulai dengan alasan pribadi bahwa ibu dari

penulis juga salah satu penderita kanker serviks, sehingga penderita merasa

nyaman bercerita kepada penulis karena merasa bercerita terhadap keluarga

sendiri. Dengan cara itu peneliti akan mendapatkan simpati dari penderita kanker

serviks. Observasi yang peneliti lakukan yaitu, mengamati bagaimana penderita

kanker serviks dan pasien saling berinteraksi dan begitu juga hubungan penderita

kanker serviks dengan petugas rumah sakit.

b. Wawancara Mendalam

Peneliti akan menggunakan teknik wawancara mendalam (indepth

interview) untuk mendapatkan data dari informan. Interview guide digunakan

penulis untuk menjadi alat bantu di dalam melakukan wawancara dengan

(29)

penulis setelah memulai percakapan yang ringan dan bertahap, dan penulis juga

menyesuaikan diri dengan penderita kanker serviks sehingga penderita kanker

serviks mengutarakan sendiri tentang perasaaan mengenai penyakit yang

dialaminya.

b. Pengembangan Rapport

Dalam melakukan observasi maupun wawancara, sangat diperlukan

adanya rapport (hubungan baik) dengan para informan. Peneliti akan berusaha

menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaan dan aturan yang berlaku di tempat

penelitian dan bersosialisasi dengan orang-orang yang berkaitan dengan

penelitian. Peneliti juga mendekati keluarga penderita agar penderita mendapat

respon dan membantu penulis untuk berkomunikasi dengan informan.

Data Sekunder

Merupakan data yang berhubungan dengan aspek yang di teliti bersumber

dari buku, majalah, jurnal, artikel (baik media massa maupun elektronik) yang

dianggap sinkron dan relevan dengan pembahasan dalam penelitian tersebut.

Selama proses pengumpulan data, peneliti akan menggunakan alat bantu untuk

merekam dan memotret serta catatan lapangan (fieldnote), untuk membantu

mendokumentasikan hal-hal yang diteliti untuk memperkecil kemungkinan ada

bagian dari pengumpulan data yang terlewat.

1.8 Teknik Analisa Data

Terhadap rumusan masalah dipergunakan analisis data studi kasus dengan

(30)

berpikir yang berujung pada pengujian sistematis terhadap sesuatu untuk

menentukan bagian-bagiannya, serta hubungan bagian-bagian itu dengan

keseluruhannya. Data yang diperoleh dalam proses penggalian data dianalisis

secara kualitatif, artinya setiap perkembangan data diperoleh dan ditampilkan

dalam laporan penelitian menurut kronologis waktu secara naratif. Dengan model

ini, maka kegiatan analisis data sudah mulai dilakukan pada saat-saat awal

pengumpulan data lapangan. Sedangkan keseluruhan data yang dimiliki akan

dicoba diinterpretasikan dan dinarasikan sebaik mungkin, dengan harapan dapat

memahami dengan sebaik-baiknya data yang diperoleh, sehingga dapat

memahami dan menentukan jawaban bagaimana kondisi penderita kanker serviks

yang berada di rumah sakit.

1.9 Pengalaman Pribadi

Saya mengajukan judul skripsi bertema kanker serviks dikarenakan ketika

saya kecil alm. Ibu saya juga mengalami kasus yang sama yaitu kanker serviks

dan tidak dapat diselamatkan. Sehingga mulai saya sekolah Sekolah Menengah

Pertama (SMP) saya memiliki tekad untuk memberantas kanker serviks, dan saya

juga sangat menyukai buku-buku atau majalah mengenai kanker serviks dan

penanggulangan kanker serviks. Sehingga di saat mengajukan judul skripsi saya

sangat berharap bahwa judul saya akan disetujui oleh ketua jurusan Departemen

Antropologi.

Pada saat saya mengajukan judul mengenai kualitas hidup penderita

(31)

saya tentang kanker serviks yang dialami ibu saya. Sehingga membuat beliau

tertarik dan meminta saya untuk mengangkat cerita ibu saya menjadi skripsi yaitu

autoetnografi dimana skripsi kita diangkat dari kisah hidup kita sendri. Tapi saya

tidak dapat menyanggupi judul tersebut karena emosional pribadi yang tidak dapat

saya kontrol sehingga saya lebih tertarik untuk mengangkat kisah dari penderita

kanker serviks yang lain. Dan dengan alasan yang demikian judul saya disetujui

oleh ketua jurusan.

Setelah persetujuan judul skripsi, saya melaporkan kepada bapak

pembimbing saya yaitu bapak Nurman Ahcmad, S.sos, M.soc untuk

menandatangani surat keterangan bahwa beliau siap untuk membimbing saya.

Dengan segala usaha dalam menyelesaikan proposal penelitian, dan bimbingan

proposal selesai dan saya harus mengurus surat penelitian lapangan karena saya

meneliti di rumah sakit Adam Malik. Dan sebelum meneliti di rumah sakit, saya

sudah mengetahui syarat-syarat yang harus diselesaikan disana sehingga jauh

sebelumnya saya lebih mudah untuk mengurusnya.

Selesai surat lapangan untuk ke rumah sakit, saya dikejutkan oleh kabar

terbaru dari administrasi rumah sakit bahwa syarat untuk penelitian di rumah sakit

harus memiliki surat persetujuan komisi etik dari fakultas keperawatan USU

dikarenakan saya langsung bertemu dengan pasien dan melakukan wawancara.

Sehingga itu akan meyakinkan rumah sakit bahwa saya dapat melakukan

penelitian dan tidak ada kerugian apabila saya melakukan penelitian tersebut.

(32)

menghabiskan uang sebanyak Rp. 350.000,00 untuk mengurus admnistrasi

tersebut. Saya sedikit kecewa terhadap sistem penelitian di rumah sakit tersebut

yang membuat aturan bahwa penelitian harus membayar uang Rp.175.000,00 per

bulan selama penelitian. Tetapi demi penelitian saya rela untuk mengeluarkan

uang tersebut agar saya bebas berkunjung untuk melakukan penelitian di rumah

sakit.

Surat izin lapangan telah selesai dan akhirnya saya dapat melakukan

penelitian di rumah sakit tersebut, saya mendapatkan tanda pengenalan nama

selama saya penelitian dan saya juga diberi berkas-berkas yang saya butuhkan

selama penelitian. Dan surat kuasa dari pihak atasan turun untuk memberitahu

kepada pihak instalasi bahwa saya akan melakukan penelitian. Saya melakukan

penelitian di bagian instalasi Rindu B, dimana semua wanita yang sakit dengan

jenis kanker, tumor dan penyakit wanita lainnya berada di ruangan ini.

Ketika sampai di ruangan saya akan meneliti, saya sedikit kurang suka

dengan petugas rumah sakit yang kurang ramah terhadap sesama petugas dan

suara yang sangat keras saat berbicara di ruangan perawat. Tapi saya langsung

menanyakan siapa saja pasien yang sakit kanker serviks dan yang saya butuhkan

adalah lima. Setelah mengetahui nama dan ruangannya, saya langsung pergi

menjumpai calon informan saya dan meminta izin untuk melakukan wawancara,

dan pada waktu itu saya masih menggunakan pakaian formal seperti kemeja dan

(33)

meminta tandatangan persetujuan dari pasien untuk bukti rumah sakit, untuk data

penelitian saya menundanya sesuai dengan rencana yang akan saya buat.

Besoknya saya sudah menggunakan celana dan baju sopan, saya datang ke

rumah sakit dengan mengunakan tanda pengenal ketika lewat pintu ruangan. Guna

agar saya bisa bebas masuk walaupun diluar jam besuk. Pada hari itu saya akan

menjumpai informan saya yang pertama yaitu ibu Sulasmi dan melakukan

wawancara, beliau sangat ramah dan duduk ketika saya ingin melakukan

wawancara, tetapi saya selalu berusaha untuk membuat komunikasi yang lancar

dan nyaman dengan informan saya. Bahkan saya juga datang sebagai keluarga dan

menghabiskan waktu bersama keluarganya yang lain. Saya selalu datang pukul

14.00 WIB dan pulang pada pukul 18.00 WIB, saya sangat senang saat

kedatangan saya ditunggu oleh informan saya. Yang menjadi kekecewaan saya

adalah, saya tidak diizinkan untuk mengambil dokumentasi pada beberapa

informan saya karena mereka takut saya akan mempublikasikannya, dan mereka

juga tidak ingin karena keadaan mereka yang sangat kurus dan lemah untuk

difoto. Saya sangat menghargai kemauan dari informan saya, sehingga saya akan

menjaga janji saya kepada mereka.

Informan saya juga sangat suka bercerita kepada saya, karena menurut

mereka saya bisa diajak bercerita dan dapat mengerti apa yang mereka rasakan.

Bahkan ada beberapa dari informan saya meminta nomor telepon saya untuk

berkomunikasi di waktu yang lain. Saya pun sangat senang dan saya selalu

(34)

Terkadang saya diminta oleh keluarganya untuk menjaga ibunya ketika mereka

ingin sholat, dan saya juga membantu untuk mengusap-usap perut ibu tersebut,

saya sangat merasa tidak nyaman melakukan hal tersebut, tetapi saya diminta oleh

keluarga informan saya sendiri sehingga saya dengan rela melakukan hal tersebut.

Keluarga dari pasien juga sangat suka bercerita ke[ada saya, karena di sisi

lain saya juga merasakan hal yang sama di saat saya menjaga ibu saya ketika

sakit, sehingga saat bercerita mereka merasa percakapan kami terhubung dan

bermakna. Dan keluarga dari pasien juga menanyakan bagaimana pencegahan dari

kanker serviks dan bagaimana harusnya wanita dalam menjaga kebersihan dari

organ intim tersebut. Saya sebagai peneliti juga mendapat

pengalaman-pengalaman yang sangat berkesan di dalam diri saya. Saya juga diperbolehkan

melihat pemeriksaan yang dilakukan terhadap pasien saat di rumah sakit, sehingga

saya melihat bagaimana bentuk dan keadaan dari vagina dari pasien tersebut.

Banyak pengalaman yang saya dapat dari informan saya, baik itu berusaha untuk

mendapatkan pengobatan dan menjalani segala pengobatan untuk mendapatkan

kesembuhan. Dan peranan keluarga juga sangat bermakna dalam pengobatan dari

sebuah penyakit, saya dapatkan di penelitian ini.

Saya melakukan penelitian dari hari senin sampai jumat, dan saya pergi

melakukan penelitian dengan kendaraan umum yaitu angkutan kota. Saya juga

makan di kantin rumah sakit tersebut sendiri dikarenakan saya tidak mengenal

Referensi

Dokumen terkait

KESIMPULAN: Tipe HPV 16 merupakan tipe yang paling sering ditemui dan ditemukan dominan pada jenis karsinoma sel skuamosa.. KATA KUNCI: Human Papillomavirus; HPV; kanker

Pengobatan modern adalah pengobatan yang dilakukan secara ilmiah atau telah diuji cobakan dengan sebah penelitian dan dapat dipertanggungjawabkan yang dipelajari dalam

Desember 2013 dengan pengambilan data dari rekam medis penderita kanker serviks yang di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2012.. Pengambilan data menggunakan metode

Untuk mengetahui prevalensi penderita kanker serviks di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada tahun 2012.. Tujuan

Jika ibu atau saudara perempuan wanita menderita kanker serviks, peluang wanita tersebut untuk terkena kanker serviks 2-3 kali lebih besar daripada wanita

pengangkatan rahim karena operasi merupakan salah satu pengobatan yang dilakukan agar sembuh dari penyakit kanker

Kanker leher rahim (kanker serviks) adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim atau serviks yaitu kanker yang terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada

Kanker serviks menyerang daerah leher rahim atau serviks yang disebabkan infeksi virus HPV (human papillomavirus) yang tidak sembuh dalam waktu lama.. HVP adalah DNA virus