• Tidak ada hasil yang ditemukan

contoh proposal Skripsi Pertanian agribisnis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "contoh proposal Skripsi Pertanian agribisnis"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

contoh proposal Skripsi Pertanian agribisnis

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

Kepuasan kerja merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk mendapatkan

hasil kerja yang optimal. Ketika seorang merasakan kepuasan dalam bekerja tentunya ia akan

berupaya semaksimal mungkin dengan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk

menyelesaikan tugas pekerjaannya. Dengan demikian produktivitas dan hasil kerja pegawai

akan meningkat secara optimal.

Dalam kenyataannya, kepuasan kerja secara menyeluruh belum mencapai tingkat

maksimal. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja seseorang/ penyuluh pada

dasarnya secara praktis dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu faktor intrinsik dan

faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik adalah faktor yang berasal dari dalam diri dan dibawa oleh

setiap seseorang sejak mulai bekerja di tempat pekerjaannya, yang dalam penelitian ini

adalah institusi penyuluhan.

Faktor eksentrinsik menyangkut halhal yang berasal dari luar diri seseorang, antara

lain kondisi fisik lingkungan kerja, interaksinya dengan pegawai lain, sistem penggajian dan

sebagainya.

Peningkatan kepuasan kerja petugas pada institusi penyuluhan di Indonesia hanya

mungkin terlaksana secara bermakna apabila faktor-faktor yang mempengaruhi dapat

(2)

Penyuluhan sebagai pendidikan nonformal yang ditujukan untuk petani dan

keluarganya, berperan penting dalam revitalisasi pembangunan pertanian. Perpres No.7 tahun

2005 tentang rencana pembangunan jangkamenengah nasional (RPJMN) 2004-2009 Bidang

Pertanian (Bab 19), menyatakan bahwa lembaga pendukung petani, terutama lembaga

penyuluhan pertanian sudah kurang berfungsi sehingga menurunkan efektivitas pembinaan,

dukungan dan diseminasi teknologi dalam rangka meningkatkan penerapan teknologi dan

efisiensi usaha petani, karena itu, penguatannya diarahkan kepada pendampingan petani,

termasuk peternak.

Penyuluh pertanian yang ada pada BPP Wara Selatan dikepalai oleh Bpk Abdul Rasjid

H. Sp. M.Si dengan jumlah penyuluh yang dibawahi sebanyak 20 orang dan staf kantor 5

orang. Semua penyuluh mempunyai wilayah kerja atau wilayah binaan masing – masing dan

bertanggung jawab atas wilayah yang mereka bina untuk memajukan atau meningkatkan

produksi pertanian yang ada di wilayah kerjanya. ( aninomous. 2012 )

Setiap penyuluh wajib menyampaikan dan mengajarkan ke petani tentang teknologi –

teknologi baru yang dapat diterapkan sehingga bias meningkatkan produksi, meningkatkan

kualitas dan kuantitas serta mengajarkan bagaimana cara mengendalikan hama sesuai dengan

tupoksi mereka sebagai penyuluh pertanian agar petani dapat meningkatkan taraf hdupnya.

Dalam menjalankan tupoksinya, penyuluh langsung turun kelapangan menemui para

petani namun terkadang penyuluh kesulitan untuk melayani petani yang agak berjauhan hal

ini dikarenakan tranportasi kurang memadai dalam hal ini kendaraan untuk penyuluh seperti

kendaraan bermotor, walaupun terkadang mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat atau

(3)

Jadi untuk mengatasi masalah tersebut penyuluh biasanya mengundang para petani

untuk melakukan musyawarah untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi para petani,

sehingga masalah yang dihadapi petani dapat terselesaikan. ( aninomous. 2012 )

Data mengenai penyuluh yang ada pada BPP Wara Selatan dapat dilihat pada Tabel di

bawah ini :

Table 1. daftar jumlah penyuluh dan staf pada kantor BPP Wara Selatan

No Uraian Jenis Kelamin Jumlah

Penelitian ini dilakukan yaitu untuk mengetahui faktor – faktor yang berpengaruh

penting dalam kepuasan kerja penyuluh pertanian yang ada pada BPP Wara Selatan sehingga

dapat diketahui apa saja faktor – faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja penyuluh

pertanian yang ada pada BPP Wara Selatan.

Karena kepuasan kerja seorang penyuluh sangat penting hal ini dikarenakan apabila

seorang penyuluh tidak merasa puas terhadap pekerjaannya yang disebabkan oleh gaji,

jaminan financial dan jaminan sosial yang kurang memadai maka akan berpengaruh terhadap

hasil produksi pertanian yang ada di Kota Palopo karena kita ketahui penyuluh merupakan

tulang punggung dalam peningkatan produksi hasil pertanian.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian pada latar belakang, dikemukakan masalah pokok yang dibahas

(4)

Faktor - faktor apakah yang mempengaruhi kepuasan kerja penyuluh petanian pada

BPP Wara Selatan ?

1.3 TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dari penelitian ini adalah :

Untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja Penyuluh

Pertanian pada BPP Wara Selatan

1.4 MANFAAT PENELITIAN

Manfaat penelitian ini adalah :

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan penulis mengenai faktor –

faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja penyuluh pertanian.

2. penelitian ini juga diharapkan mampu menambah khazanah ilmu pengetahuan bagi para

akademisi maupun masyarakat umum yang tertarik pada topik ini.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. KAJIAN TEORI

2.1.1 Penyuluh Pertanian

Sumberdaya manusia merupakan salah satu faktor kunci dalam reformasi ekonomi,

yaitu menciptakan sumberdaya manusia yang berkualitas dan memiliki keterampilan serta

berdaya saing tinggi dalam menghadapi persaingan global yang selama ini terabaikan. Dalam

kaitan itu ada dua hal yang penting yang menyangkut kondisi sumberdaya manusia pertanian

di daerah yang perlu mendapatkan perhatian yaitu sumberdaya petugas dan sumberdaya

petani. Kedua sumberdaya tersebut merupakan pelaku dan pelaksana yang mensukseskan

(5)

Sementara itu salah satu sumberdaya manusia petugas pertanian adalah kelompok

fungsional yaitu kelompok Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), di mana Penyuluh Pertanian

adalah petugas yang melakukan pembinaan dan berhubungan atau berhadapan langsung

dengan petani. Tugas pembinaan dilakukan untuk meningkatkan sumberdaya petani di bidang

pertanian, di mana untuk menjalankan tugas ini di masa depan penyuluh harus memiliki

kualitas sumberdaya yang handal, memiliki kemandirian dalam bekerja, profesional serta

berwawasan global. ( Van Den Ban, et.al ,2003).

“Penyuluhan secara sistematis adalah suatu proses yang (1). Membantu petani

menganalisis situasi yang sedang dihadapi dan melakukan perkiraan ke depan; (2).

Membantu petani menyadarkan terhadap kemungkinan timbulnya masalah dari analisis

tersebut; (3). Meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan wawasan terhadap suatu

masalah, serta membantu menyusun kerangka berdasarkan pengetahuan yang dimiliki petani;

(4). Membantu petani memperoleh pengetahuan yang khusus berkaitan dengan cara

pemecahan masalah yang dihadapi serta akibat yang ditimbulkannya sehingga mereka

mempunyai berbagai alternatif tindakan; (5). Membantu petani memutuskan pilihan tepat

yang menurut pendapat mereka sudah optimal; (6). Meningkatkan motivasi petani untuk

dapat menerapkan pilihannya ; dan (7). Membantu petani untuk mengevaluasi dan

meningkatkan keterampilan mereka dalam membentuk pendapat dan mengambil

keputusan”( Van Den Ban, et.al ,2003).

2.1.2 Kepuasan kerja

A. Definisi dan Teori – Teori Kepuasan Kerja

Menurut Robbins (1998) dalam Nastiti (2003), kepuasan kerja merupakan perilaku

umum penyuluh terhadap pekerjaanya sebagai hasil perbedaan antara nilai reward yang

(6)

elemen yang mendapatkan perhatian besar dari manajemen perusahaan. Hal ini terkait dengan

keberadaan suatu paham manajerial bahwa karyawan yang merasa puas akan cenderung

bekerja lebih produktif daripada karyawan yang merasa tidak puas dengan lingkungan

kerjanya. Kepuasan kerja dapat dipahami melalui tiga aspek. Pertama, kepuasan kerja

merupakan bentuk respon pekerjaan terhadap kondisi lingkungan pekerjaan. Kedua, kepuasan

kerja sering ditentukan oleh hasil pekerjaan atau kinerja. Ketiga, kepuasan kerja terkait

dengan sikap lainnya yang dimiliki oleh setiap pekerja (Luthans, 1995 sebagaimana dikutip

Maryani & Supomo (2001), secara lebih rinci mengemukakan berbagai dimensi dalam

kepuasan kerja yang kemudian dikembangkan menjadi istrumen pengukuran variabel

kepuasan kerja, yang meliputi dimensi kepuasan terhadap:

1. Menarik atau tidaknya jenis pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja,

2. Jumlah kompensasi yang diterima oleh pekerja,

3. Kesempatan untuk promosi jabatan,

4. Kemampuan atasan dalam memberikan bantuan teknis dan dukungan perilaku, dan

5. Dukungan rekan sekerja. Terdapat beberapa teori yang berkaitan dengan kepuasan kerja

teori-teori tersebut antara lain adalah Teori Ketidaksesuian (Discrepancy Theory), Teori

Keadilan (Equity Theory), dan Teori Dua Faktor (Teori Herzberg).

B. Teori Ketidaksesuaian (Discrepancy Theory)

Teori ini mendasarkan pada kepuasan atau ketidakpuasan dengan sejumlah aspek

tergantung pada selisih (discrepancy) antara apa yang telah didapatkan dengan apa yang

diinginkan. Jumlah yang diinginkan dari karakteristik pekerjaan didefinisikan sebagai jumlah

minimum yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan yang ada. Seseorang terpuaskan jika

(7)

Semakin besar kekurangan dan semakin banyak hal-hal yang diinginkan, maka

semakin besar ketidakpuasan. Apabila yang didapat ternyata lebih besar dari yang diinginkan,

maka orang akan menjadi lebih puas lagi walaupun terdapat discrepancy, karena discrepancy

itu merupakan positif discrepancy. Sebaliknya semakin jauh kenyataan yang dirasakan atau di

bawah standar minimum sehingga menjadi negatif discrepancy, maka semakin besar pula

ketidakpuasan seseorang terhadap pekerjaannya. Sikap penyuluh akan tergantung bagaimana

discrepancy itu dirasakan.

C. Teori Keadilan (Equity Theory)

Prinsip pada teori ini adalah bahwa orang akan merasa puas atau tidak puas

tergantung apakah ia merasakan adanya keadilan atau tidak atas suatu situasi. Perasaan equity

atau inequity atas suatu situasi diperoleh dengan cara membandingkan dirinya dengan orang

lain sekelas, sekantor, dan sebagainya. Elemen teori ini ada tiga yaitu:

1. Input yaitu segala sesuatu yang berharga yang dirasakan karyawan sebagai sumbangan

terhadap pekerjaannya, misal: pendidikan, pengalaman, keadilan, jumlah jam kerja, dan

sebagainya.

2. Outcomes atau hasil yaitu segala sesuatu yang berharga yang dirasakan karyawan sebagai

hasil dari pekerjaannya, misal: gaji, keuntungan, status, dan sebagainya.

3. Orang pembanding yaitu orang lain dengan siapa karyawan membandingkan rasio input

outcomes yang dimilikinya, dapat berupa seseorang di perusahaan yang sama atau di tempat

lainnya atau bisa pula dengan dirinya sendiri di masa lampau.

Menurut teori ini setiap penyuluh akan membandingkan rasio inputoutcomes dirinya

dengan rasio input-outcomes orang pembanding. Bila perbandingan itu dianggap cukup adil,

maka ia akan merasa puas. Bila perbandingan itu tidak seimbang tapi menguntungkan (over

(8)

seimbang dan merugikan (under compensation equity) akan timbul ketidakpuasan. ( Robbins

1998 )

2.1.3 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja Penyuluh Pertanian

Kepuasan kerja pada dasarnya merujuk pada seberapa besar seorang penyuluh

menyukai pekerjaannya (Cherington, 1987:82). Kepuasan kerja adalah sikap umum pekerja

tentang pekerjaan yang dilakukannya, karena pada umumnya apabila orang membahas

tentang sikap pegawai, yang dimaksud adalah kepuasan kerja (Robbins, 1994:417). Pekerjaan

merupakan bagian yang penting dalam kehidupan seseorang, sehingga kepuasan kerja juga

mempengaruhi kehidupan seseorang. Oleh karena itu kepuasan kerja adalah bagian kepuasan

hidup (Wether dan Davis, 1982:42).

Faktor-faktor yang biasanya digunakan untuk mengukur kepuasan kerja seorang

pegawai adalah:

 Faktor Kepuasan Finansial, yaitu terpenuhinya keinginan penyuluh terhadap kebutuhan

finansial yang diterimanya untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari sehingga kepuasan

kerja bagi penyuluh dapat terpenuhi. Hal ini meliputi; besarnya gaji, jaminan sosial,

macam-macam tunjangan, fasilitas yang diberikan serta promosi (Moh. As’ad,1987: 118).

 Faktor Kepuasan Fisik, yaitu faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik lingkungan kerja

dan kondisi fisik penyuluh. Hal ini meliputi; jenis pekerjaan, pengaturan waktu kerja dan

istirahat, kondisi kesehatan penyuluh dan umur (Moh. As’ad,1987:117).

 Faktor Kepuasan Sosial, yaitu faktor yang berhubungan dengan interaksi sosial baik antara

sesama penyuluh, dengan atasannya maupun antara sesama penyuluh. Hal ini meliputi; rekan

kerja yang kompak, pimpinan yang adil dan bijaksana, serta pengarahan dan perintah yang

(9)

 Faktor Kepuasan Psikologi, yaitu faktor yang berhubungan dengan kejiwaan penyuluh. Hal

ini meliputi; minat, ketentraman dalam bekerja, sikap terhadap kerja, bakat dan keterampilan

(Moh.As’ad,1987: 11.7).

Kepuasan kerja dapat dirumuskan sebagai respons umum pekerja berupa perilaku

yang ditampilkan oleh penyuluh sebagai hasil persepsi mengenai hal-hal yang berkaitan

dengan pekerjaannya. Kepuasan kerja akan didapat apabila ada kesesuaian antara harapan

pekerja dan kenyataan yang didapatkannya di tempat bekerja.

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja karyawan, peranan dari

faktor-faktor tersebut dalam memberikan kepuasan kerja juga tergantung pada pribadi

masing-masing individu, Ghiselli dan Brown mengemukakan pendapatnya yang dikutip oleh

Syahrani (2002), menyatakan adanya enam faktor yang menimbulkan kepuasan kerja, yaitu:

1. Pencapaian diri atau Spiritualitas

Perasaan tenang dan puas karena terdapatnya kebahagian batin/spiritual, misalnya

perasaan dalam bekerja, dimana karyawan mendasarkan diri dalam bekerja semata-mata

untuk beribadah kepada Tuhan. Bekerja merupakan salah satu cara untuk bertakwa kepada

Tuhan. Seberapa beratnya tugas yang diembannya, namun bila itu merupakan pekerjaan yang

harus dilaksanakan, maka karyawan akan ikhlas dan puas menjalankannya.

2. Kedudukan atau Posisi

Umumnya ada anggapan bahwa orang yang bekerja pada pekerjaan yang lebih

tinggi akan lebih puas daripada yang bekerja pada pekerjaan yang lebih rendah. Beberapa

penelitian menunjukan bahwa hal tersebut tidak selalu benar, perubahan tingkat pekerjaanlah

yang mempengaruhi kepuasan kerja.

(10)

Pada pekerjaan yang mendasarkan perbedaan tingkat (golongan) sehingga pekerjaan

tersebut memberikan kedudukan tertentu pada orang yang melakukannya. Apabila ada

kenaikan upah, maka sedikit banyak akan dianggap sebagai kenaikan pangkat, dan

kebanggaan terhadap kedudukan yang baru itu akan mengubah perilaku dan perasaanya.

4. Umur

Dinyatakan bahwa ada hubungan antara kepuasan kerja dengan umur karyawan:

Umur antara 25 sampai 34 tahun dan umur 40 sampai 45 tahun adalah merupakan umur-umur

yang bisa menimbulkan perasaan kurang puas terhadap pekerjaan. Sedangkan untuk umur

karyawan diatas 45 tahun, mereka akan cenderung realistis dan puas terhadap pekerjaannya.

5. Jaminan Finansial dan Jaminan Sosial

Masalah jaminan financial (kompensasi) dan jaminan sosial kebanyakan

berpengaruh terhadap kepuasan kerja karyawan.

6. Mutu Pengawasan

Hubungan antara karyawan dengan pihak pimpinan sangat penting artinyadalam

menaikkan produktivitas kerja. Kepuasan karyawan dapat ditingkatkan melalui perhatian dan

hubungan yang baik dari pimpinan kepada bawahannya, sehingga karyawan akan merasa

bahwa dirinya merupakan bagian yang penting dari organisasi kerja

Persepsi pekerja mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaannya dan

kepuasan kerja melibatkan rasa aman, rasa adil, rasa menikmati, rasa bergairah, status dan

kebanggaan. Dalam persepsi ini juga dilibatkan situasi kerja pekerja yang bersangkutan yang

meliputi interaksi kerja, kondisi kerja, pengakuan, hubungan dengan atasan, dan kesempatan

promosi. Selain itu di dalam persepsi ini juga tercakup kesesuaian antara kemampuan dan

keinginan pekerja dengan kondisi organisasi tempat mereka bekerja yang meliputi jenis

(11)

2.2 Hipotesis

Berdasarkan uraian-uraian dalam latar belakang, permasalahan dan tujuan maka

hipotesis yang diajukan adalah “Diduga bahwa dengan adanya beberapa faktor seperti : umur,

mutu pengawasan, pangkat, jaminan pinansial dan lain-lain dapat mempengaruhi kepuasan

kerja penyuluh pertanian di BPP Wara Selatan, Kota Palopo

BAB III

METODE PENELITIAN III.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di Kelurahan Songka, Kecamatan Wara Selatan, Kota Palopo Lokasi ini dipilih atas pertimbangan bahwa di Kelurahan tersebut merupakan salah satu obyek yang mempunyai Penyuluh Pertanian berpengalaman.

(12)

Penentuan responden dilakukan dengan mengambil semuah penyuluh yang ada pada

BPP wara selatan yang berjumlah 20 orang

III.3 Jenis dan Sumber Data

Dalam penelitian ini pengambilan terdiri dari data primer dan data sekunder.

Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara melakukan wawancara dan observasi

langsung kepada 20 orang penyuluh pertanian, Kantor BPP Wara Selatan

Data sekunder diperoleh dari kantor BPP Wara Selatan dan Badan Ketahanan

Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kota Palopo.

III.4 Teknik Analisis Data

Untuk mengetahui tingkat kepuasan kerja penyuluh pertanian pada BPP Wara

Selatan maka digunakan angka – angka sebagai berikut :

3 = Sangat Pu

2 = Kurang Puas

1 = Tidak Puas

III.5 Defenisi Operasional

Beberapa pengertian yang menjadi batasan penelitian ini adalah :

1. Penyuluhan secara sistematis adalah suatu proses yang Membantu petani menganalisis

situasi yang sedang dihadapi dan melakukan perkiraan ke depan

2. Penyuluh Pertanian adalah petugas yang melakukan pembinaan dan berhubungan atau

berhadapan langsung dengan petani binaan.

3. Umur adalah usia responden yang dihitung dari tahun kelahiran sampai pada saat

(13)

4. Kelompok fungsional adalah kelompok Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL)

5. kepuasan kerja adalah perilaku umum karyawan terhadap pekerjaanya sebagai hasil

perbedaan antara nilai reward yang diperoleh dan nilai reward yang diharapkan akan

diperoleh.

6. Faktor – faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja penyuluh pertanian yaitu :

a. Gaji yaitu salah satu hal yang penting bagi setiap penyuluh yang bekerja dalam suatu instansi

pemerintah, karena dengan gaji yang diperoleh seseorang dapat memenuhi kebutuhan

hidupnya.

b. Pangkat dan Golongan adalah kedudukan yang M menunjukkan tingkatan seseorang Pegawai

Negeri Sipil berdasarkan jabatannya dalam rangkaian susunan kepegawaian dan digunakan

sebagai dasar penggajian.

c. Umur adalah usia satuan waktu yang mengukur waktu keberadaan suatu benda atau

makhluk, baik yang hidup maupun yang mati. dinyatakan dalam satuan tahun

d. Jaminan Finansial dan Jaminan Sosial adalah suatu program yang didanai atau diberikan oleh

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Abbas Samsuddin 1999. Sembilan Puluh Tahun Penyuluhan Pertanian di Indonesia. Jakarta.

BPLPP-Departemen Pertanian.

Bahua M. Ikbal, 2010. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Penyuluh Pertanian dan

Dampaknya Pada Perilaku Petani Jagung di Provinsi Gorontalo. Disertasi – Doktor. Bogor.

Sekolah Pascasarjana-IPB.

Hubeis Vitalaya S. Aida. 2008. Motivasi, Kepuasan dan Produktivitas Kerja Penyuluh Lapangan

Peternakan. Media Peternakan, April 2008, hlm. 71-80. Vol. 31 No.1. Terakreditasi SK Dikti

No: 56/DIKTI/Kep/2005.

Jahi Amri dan Ani Leilani, 2006. Kinerja Penyuluh Pertanian di Beberapa Kabupaten, Provinsi

Jawa Barat. Jurnal Penyuluhan . Vol. 2 No.2

Mardikanto Totok, 1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. Surakarta. Universitas Sebelas

Maret (UNS) Press.

Marzuki. 1994. Dasar-dasar Penyuluhan Pertanian. Jakarta: Universitas Terbuka.

Nazir Moh, 2005. Metode Penelitian. Bogor. Ghalia Indonesia

Newstrom. 2009. “Job satisfaction is the favorableness or unfavorableness with employes view

their work”. Kepuasan kerja [terhubung berkala] http//id.wikipedia.org/wiki/Kepuasa

n_Kerja.

Puspadi Ketut, 2002. Rekonstruksi Sistem Penyuluhan Pertanian. Disertasi Doktor. Bogor. Sekolah

Pascasarjana - Institut Pertanian Bogor.

Sastraadmadja. 1993. Teknik Penyuluhan Pertanian. Jakarta: Balai Pustaka.

(15)

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 16, 2006. Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan

Kehutanan. Jakarta. Departemen Pertanian

van den Ban & Hawkins. 2005. Penyuluhan Pertanian. Yogyakarta: Kanisius.

Gambar

Table 1. daftar jumlah penyuluh dan staf pada kantor BPP Wara Selatan

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil analisis pada Tabel 2 menunjukan bahwa terdapat 8 faktor yang berpengaruh terhadap kinerja penyuluh pertanian yaitu pengalaman kerja penyuluh pertanian, persepsi

ABSTRAK Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Petngas Penyuluh Lapangan Pertanian Pada Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan, Kehutanan Dan Ketahanan Pangan BP4KKP

Berdasarkan alasan tersebut penulis tertarik untuk meneliti lebih jauh tentang faktor apa saja yang mempengaruhi pendapatan para pekerja di sektor pertanian dengan

Dari hasil analisis pada Tabel 2 menunjukan bahwa terdapat 8 faktor yang berpengaruh terhadap kinerja penyuluh pertanian yaitu pengalaman kerja penyuluh pertanian, persepsi

terhadap kinerja penyuluh, serta strategi apa saja yang dapat digunakan untuk. meningkatkan kinerja penyuluh, maka penelitian tentang

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Job Stress Serta Pengaruhnya Terhadap Kepuasan Kerja dan Kinerja Salesman (Studi Kasus pada PT Adira Finance XYZ)7. Contoh

2.3 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Penyuluh Pertanian Kinerja penyuluh pertanian (performance) merupakan respon atau prilaku individu terhadap keberhasilan kerja

Faktor-faktor yang berpengaruh nyata terhadap keberlanjutan usaha petani muda adalah akses TIK, faktor eksternal, peranan penyuluh pertanian dan kapasitas kewirausahaan Tabel 2..