• Tidak ada hasil yang ditemukan

korelasi aktifitas siswa dengan hasil be

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "korelasi aktifitas siswa dengan hasil be"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

OLEH

TANTAWI

NIM : 1011050015

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN

BINA BANGSA GETSEMPENABANDA ACEH

(2)

KORELASI AKTIFITAS SISWA

DENGAN HASIL BELAJAR SISWA PADA METODE

KOOPERATIF PETA KONSEP DI SMA INSHAFUDDIN

BANDA ACEH

SKRIPSI

Diajukan Kepada

Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Bina Bangsa Getsempena

Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam Menyelesaikan Program Sarjana Pendidikan Matematika

OLEH

TANTAWI

NIM: 1011050015

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN

BINA BANGSA GETSEMPENA BANDA ACEH

(3)

Sepercik ilmu telah Engkau karuniakan kepadaku, hanya saja aku mengetahui sebagian kecil dari yang Engkau miliki sebagaimana firman-Mu: "Seandainya air laut menjadi tinta untuk menuliskan perkataan-Mu niscaya keringlah lautan sebelum habis perkataan-Mu walaupun Kami datangkan tinta sebanyak itu lagi sebagaimana tambahannya".

(Al-Kahfi : 109) Alhamdulillah…..

Hari ini telah engkau penuhi harapanku

Harapan untuk membahagiakan orang-orang tercinta Walau hari depan masih sebuah tanda tanya

Aku akan terus melangkah . . .

Demi kasih sayang yang telah diberikan, demi ilmu yang telah tersirat

Demi doa yang terucap, demi air mata dan keringat yang telah mengalir

Semua takkan ku sia-siakan

Kan kuraih impian yang belum terwujud demi kebahagiaan Orang-orang yang ku sayangi dan menyayangiku dalam hidup ini

Terima Kasih ya Allah…..

Kau berikan aku orang tua yang tulus membagi kasih dan sayang dan membimbing serta menuntunku ketika langkahku kehilangan

arah dan hampa tampa tujuan

Terima kasih kepada Alm. Ayahanda dan Ibunda tercinta…..

Tetesan keringat di dahimu dan dorongan semangat darimu merupakan cambuk yang mendera diriku untuk memenuhi keinginanmu…..

Meraih cita-cita untuk masa depanku

Setetes pengetahuan yang kuperoleh tak lepas dari perjuangan dan linangan air matamu, walaupun kenyataan tak pernah seindah mimpi namun hasrat ingin selalu memberikan yang terbaik dalam segala hal.

Dalam untaian do'a dan ridha Allah SWT, kupersembahkan karya tulis ini kehadapan yang mulia Ayahanda, Ibunda, dan kakak-kakakku tercinta, atas segala motivasi dan dorongan serta do'anya demi keberhasilanku. Amin.

(4)

Lembar pengesahan skripsi

KORELASI AKTIFITAS SISWA

DENGAIT HASIL BELAJAR SISWA PADA METODE KOOPERATIF PETA KONSEP DI SMA INSHAFUDDIN

Nama

NIM

BAI\DA ACEH

Oleh:

: TANTAWI :1011050015

Program Studi : Pendidikan Matematika

Menyetujui, Pembimbing I,

_t?

q\d\a4L---

'

Intan KemJu Suri, M. Pd NIDN:0127088602

Pembimbing II,

NIDN:0101018304

Ketua Program Studi Sl pendidikan Matematika

Rita Novita, M. Pd NIDN:0101118701

Mengesahkan,

Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Pendidikan Bina Bangsa Getsempena Aceh

-, S. Si-, M. Si Mengetahui,

w

(5)

KOOPERATIF PETA KONSEP DI SMA INSHAFUDDIN BANDA ACEH

Skripsi ini dibuat oleh Tantawi telah diuji pada hari Rabu tanggal25 Jwi2014

Tim Penguji: Penguji I

RitaNovita, M.Pd NIDN:0101118701 Penguji III,

\p

qK,Sq

Intan Kemala Sari, M. Pd NIDN:0127088602

Penguji IV,

1\A

Fitriati, M. Ed NIDN:0101018304

RitaNovita M. Pd NIDN.0101118701

Mengesahkan,

ndidikan Bina Bangsa Getsempena

. Si, M. Si

NIBN: 0127027902

Mengetahui,

Ketua Program Studi SltPendidikan Matematika

Z.*sF 6t'./

'*1

,\,

*

(6)

9

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Hakikat Matematika dan Belajar Matematika

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di SMA.

Seorang guru SMA yang akan mengajarkan matematika kepada siswanya,

hendaklah mengetahui dan memahami objek yang akan diajarkannya, yaitu

matematika. Kata matematika berasal dari perkataan Yunani, yakni mathematike

yang berarti mempelajari. Perkataan itu berasal dari kata mathema yang berarti

pengetahuan atau ilmu. Kata mathematike juga berhubungan pula dengan kata

lainnya yang hampir sama, yaitu mathein yang artinya belajar (berpikir). Jadi,

berdasarkan asal katanya, maka matematika berarti ilmu pengetahuan yang

didapat dengan berpikir. Menurut Kamus Bahasa Indonesia (1997: 430)

matematika adalah ilmu tentang bilangan, hubungan antar bilangan, dan prosedur

operasional yang digunakan untuk menyelesaikan masalah mengenai bilangan.

Belajar pada dasarnya merupakan suatu proses perubahan tingkah laku

untuk mendapatkan pengetahuan atau pengalaman yang terjadi dari adanya

interaksi antara seseorang dengan lingkungannya Untuk menangkap isi dan pesan

belajar, maka dalam belajar tersebut individu menggunkan pengetahuan pada

ranah-ranah:

a. Kognitif yaitu kemampuan yang berkenaan dengan pengetahuan, penalaran atau

(7)

b. Afektif yaitu kemampuan yang mengutamakan perasaan, emosi, dan reaksi-reaksi

yang berbeda dengan penalaran, dan

c. Psikomotorik yaitu kemampuan yang mengutamakan keterampilan.

Hal senada juga dikemukakan oleh Hamalik (2003: 28) yang

mendefinisikan belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku individu atau

seseorang melalui interaksi dengan lingkungan yang mencakup perubahan dalam

tiga aspek yaitu pengetahuan, sikap dan keterampilan. Pengertian belajar menurut

Sudjana (2008: 5) adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya

perubahan-perubahan pada diri seseorang.

Dari beberapa definisi di atas dapat dikemukakan bahwa belajar adalah

Perubahan tingkah laku yang relatif menetap baik tingkah laku yang dapat diamati

maupun tingkah laku yang tidak dapat diamati secara langsung yang meliputi

tingkah laku kognitif, afektif, dan psikomotorik yang diperoleh melalui

pengalaman atau latihan. Hudoyo (1988: 48-49) menyatakan bahwa belajar

matematika adalah belajar mengenai konsep-konsep dan struktur-struktur

matematika serta mencarihubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur

matematika itu. Seseorang dikatakan belajar matematika apabila pada diri orang

tersebut terjadi suatu kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan tingkah laku

yang berkaitan dengan matematika dan mampu menggunakannya dalam

kehidupan sehari-hari.

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar matematika

adalah belajar mengenai konsep-konsep dan struktur-struktur matematika serta

(8)

11

terjadi perubahan tingkah laku (pengetahuan, sikap, dan keterampilan) yang relatif

menetap melalui pengalaman dan latihan yang melibatkan aktivitas mental.

2.1.1. Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran. Sudjana

(2009) mendefinisikan “hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan

tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup

bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik”. Dimyati dan Mudjiono (2006: 3-4)

juga menyebutkan hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar

dan mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi

hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya pengajaran dari

puncak proses belajar. Bloom (dalam Dimyati dan Mudjiono, 2006: 26-27)

menyebutkan enam jenis perilaku ranah kognitif, sebagai berikut:

a. Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan

tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa,

pengertian kaidah, teori, prinsip, atau metode.

b. Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal yang

dipelajari.

c. Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk

menghadapi masalah yang nyata dan baru. Misalnya, menggunakan prinsip.

d. Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian

sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik. Misalnya mengurangi

(9)

e. Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru. Misalnya

kemampuan menyusun suatu program.

f. Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal

berdasarkan kriteria tertentu.

Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas, disimpulkan bahwa hasil

belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima

pengalaman belajarnya. Kemampuan-kemampuan tersebut mencakup aspek

kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil belajar dapat dilihat melalui kegiatan

evaluasi yang bertujuan untuk mendapatkan data pembuktian yang akan

menunjukkan tingkat kemampuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.

2.1.2.Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Djamarah (dalam Yulia, 2003) menyatakan bahwa berhasil atau tidaknya

seseorang dalam belajar disebabkan oleh faktor yang berasal dari dalam diri

individu dan faktor dari luar individu. Sabri (dalam Yulia, 2003) mendukung hal

tersebut dengan menyatakan bahwa 70% hasil belajar siswa di sekolah

dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi lingkungan.

Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar (Nasution dalam Yulia, 2003)

adalah:

a. Faktor lingkungan

Lingkungan merupakan bagian dari kehidupan siswa. Dalam lingkungan

siswa hidup dan berinteraksi. Lingkungan yang mempengaruhi hasil belajarsiswa

(10)

13

b. Faktor instrumental

Setiap penyelenggaraan pendidikan memiliki tujuan instruksional yang

hendak dicapai. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan seperangkat

kelengkapan atau instrumen dalam berbagai bentuk dan jenis. Instrumen dalam

pendidikan dikelompokkan menjadi: kurikulum, program, sarana dan fasilitas, dan

guru.

Sementara faktor-faktor internal yang mempengaruhi hasil belajar adalah:

a. Fisiologis

Merupakan faktor internal yang berhubungan dengan proses-proses yang

terjadi pada jasmaniah. Seperti: kondisi fisiologis dan kondisi panca indera.

b. Psikologis

Faktor psikologis merupakan faktor dari dalam diri individu yang

berhubungan dengan rohaniah. Faktor psikologis terdiri dari: minat, kecerdasan,

bakat, motivasi, dan kemampuan kognitif.

2.1.3. Tujuan Belajar

Belajar dilakukan karena ada tujuan yang ingin dicapai, tujuan tersebut yaitu

untuk mendapatkan ilmu maupun pengetahuan yang baru. Ditinjau secara umum,

Sardiman A.M (dalam Yulia, 2003: 26–27) menjelaskan tujuan belajar ada tiga

jenis untuk mendapatkan pengetahuan yaitu: penanaman konsep, keterampilan,

(11)

bahwa belajar dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan informasi atau

pengetahuan baru yang dapat digunakan.

2.2. Pembelajaran Kooperatif

2.2.1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar yang

dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan

pembelajaran yang telah dirumuskan. Slavin (1995) mengemukakan:

pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar

dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya

5 orang dengan struktur kelompok heterogen. Cooperative learning menurut

Slavin (1995) merujuk pada berbagai macam model pembelajaran di mana para

siswa bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari berbagai

tingkat prestasi, jenis kelamin, dan latar belakang etnik yang berbeda untuk saling

membantu satu sama lain dalam mempelajari materi pelajaran. Dalam kelas

kooperatif, para siswa diharapkan dapat saling membantu, saling mendiskusikan,

dan berargumentasi untuk mengasah pengetahuan yang mereka kuasai saat itu dan

menutup kesenjangan dalam pemahaman masing-masing. Cooperative learning

lebih dari sekedar belajar kelompok karena dalam model pembelajaran ini harus

ada struktur dorongan dan tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan

terjadi interaksi secara terbuka dan hubungan-hubungan yang bersifat

interdependensi efektif antara anggota kelompok.

Dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli di atas, maka

(12)

15

pembelajaran yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang

anggotanya bersifat heterogen, terdiri dari siswa dengan prestasi tinggi, sedang,

dan rendah, perempuan dan laki-laki dengan latar belakang etnik yang berbeda

untuk saling membantu dan bekerja sama mempelajari materi pelajaran agar

belajar semua anggota maksimal.

2.2.2. Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Slavin (1995) mengemukakan tujuan yang paling penting dari model

pembelajaran kooperatif adalah untuk memberikan para siswa pengetahuan,

konsep, kemampuan, dan pemahaman yang mereka butuhkan supaya bisa menjadi

anggota masyarakat yang bahagia dan memberikan kontribusi.

2.2.3. Unsur-Unsur Dalam Pembelajaran Kooperatif

Menurut Ibrahim (2000) unsur-unsur pembelajaan kooperatif adalah

sebagai berikut:

a. Siswa dalam kelompok haruslah beranggapan bahwa mereka “sehidup

sepenanggungan bersama”.

b. Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu didalam kelompoknya, seperti milik

mereka sendiri.

c. Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki

tujuan yang sama.

d. Siswa harus membagai tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota

(13)

e. Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/ penghargaan yang juga

akan dikenakan untuk semua anggota kelompok.

f. Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan ketrampilan untuk

belajar bersama selama proses belajarnya.

2.2.4. Ciri-Ciri Pembelajaran Kooperatif

Isjoni (dalam Anita, 2004) memaparkan beberapa ciri-ciri pembelajaran

kooperatif yaitu sebagai berikut.

a. Setiap anggota memiliki peran

b. Terjadi hubungan interaksi langsung di antara siswa

c. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga

teman-teman sekelompoknya

d. Guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal

kelompok.

e. Guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan.

2.2.5. Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif

Suprijono (dalam Noname, 2009) memaparkan sintak model pembelajaran

kooperatif terdiri dari enam fase sebagai berikut:

a. Fase pertama

Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa. Guru mengklasifikasi maksud

pembelajaran kooperatif. Hal ini penting untuk dilakukan karena siswa harus

(14)

17

b. Fase kedua

Guru menyampaikan informasi, sebab informasi ini merupakan isi akademik.

c. Fase ketiga

Guru harus menjelaskan bahwa siswa harus saling bekerja sama di dalam

kelompok. Penyelesaian tugas kelompok harus merupakan tujuan kelompok. Tiap

anggota kelompok memiliki akuntabilitas individual untuk mendukung

tercapainya tujuan kelompok. Pada fase ketiga ini terpenting jangan sampai ada

freerider atau anggota yang hanya menggantungkan tugas kelompok kepada

individu lainnya.

d. Fase keempat

Guru perlu mendampingi tim-tim belajar, mengingatkan tentang tugas-tugas yang

dikerjakan siswa dan waktu yang dialokasikan. Pada fase ini bantuan yang

diberikan guru dapat berupa petunjuk, pengarahan, atau meminta beberapa siswa

mengulangi hal yang sudah ditunjukkan.

e. Fase kelima

Guru melakukan evaluasi dengan menggunakan strategi evaluasi yang konsisten

dengan tujuan pembelajaran.

f. Fase keenam

Guru mempersiapkan struktur reward yang akan diberikan kepada siswa. Variasi

struktur reward dapat dicapai tanpa tergantung pada apa yang dilakukan orang

lain. Struktur reward kompetitif adalah jika siswa diakui usaha individualnya

berdasarkan perbandingan dengan orang lain. Struktur reward kooperatif

(15)

2.2.6. Mamfaat Pembelajaran Kooperatif

Sadker (dalam Anita, 2004) menjabarkan beberapa manfaat pembelajaran

kooperatif. Selain itu, meningkatkan keterampilan kognitif dan afektif siswa,

pembelajaran kooperatif juga memberikan manfaat-manfaat besar lain seperti

berikut ini.

a. Siswa yang diajari dengan dan dalam struktur-struktur kooperatif akan

memperoleh hasil pembelajaran yang lebih tinggi.

b. Siswa yang berpartisipasi dalam pembelajaran kooperatif akan memiliki sikap

harga-diri yang lebih tinggi dan motivasi yang lebih besar untuk belajar.

c. Dengan pembelajaran kooperatif, siswa menjadi lebih peduli pada

teman-temannya, dan di antara mereka akan terbangun rasa ketergantungan yang positif

untuk proses belajar mereka nanti.

d. Pembelajaran kooperatif meningkatkan rasa penerimaan siswa terhadap

teman-temannya yang berasal dari latar belakang ras dan etnik yang berbeda-beda.

2.3. Pembelajaran Peta Konsep

2.3.1. Pengertian Peta Konsep

Menurut Novak dan Gowin (1985) peta konsep adalah suatu istilah tentang

strategi digunakan guru untuk membantu siswa mengorganisasikan konsep

(16)

19

komponennya. Hubungan antara satu konsep dengan konsep lain dikenal dengan

sebagai proposisi. Peta konsep merupakan suatu alat yang efektif menghadirkan

secara visual hirarki generalisasi-generalisasi dan untuk mengepresikan

keterkaitan proposisi dalam system konsep-konsep yang saling berhubungan.

Zaini (dalam Rohana, 2009) mengartikan peta konsep sebagai alternatif cara untuk

mengorganisasikan materi dalam bentuk peta (gambar) secara holistik, interelasi

dan komprehensif.

2.3.2. Ciri-Ciri Peta Konsep

Dahar (Rihana, 2009) mengemukakan ciri-ciri peta konsep sebagai

berikut:

a. Peta Konsep atau pemetaan konsep adalah suatu cara untuk memperlihatkan

konsep-konsep dan proposisi-proposisi suatu bidang studi, apakah itu bidang studi

fisika, kimia, biologi, matematika. Dengan menggunakan peta konsep, siswa

dapat “melihat” bidang studi itu lebih jelas dan mempelajari bidang studi itu lebih

bermakna.

b. Suatu peta konsep merupakan gambar dua dimensi dari suatu bidang studi, atau

suatu bagian dari bidang studi.

c. Tidak semua konsep mempunyai bobot yang sama. Ini berarti ada konsep yang

lebih inklusif daripada konsep-konsep yang lain.

d. Bila dua atau lebih konsep digambarkan di bawah suatu konsep yang lebih

(17)

Dari ciri-ciri peta konsep di atas terlihat bahwa peta konsep dapat

memperlihatkan jalinan antar konsep yang dibahas dalam satu bab dan hubungan

dengan bab-bab yang lain. Konsep dijalin secara bermakna dengan kata-kata

penghubung sehingga dapat membentuk proporsi. Konsep yang satu mempunya

cakupan yang lebih luas dari pada konsep yang lain. Novak dan Gowin (1985)

menyatakan bahwa manfaat peta konsep adalah untuk membantu siswa

membangun kebermaknaan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang baru dan

lebih kuat pada suatu bidang studi.

2.3.3. Manfaat Peta Konsep

Gawith dan Sia (dalam Noname, 2011) menyatakan manfaat peta konsep

bagi siswa sebagai berikut:

a. Membantu untuk mengidentifikasi kunci konsep, menaksir/memperkirakan

hubungan pemahaman dan membantu dalam pembelajaran lebih lanjut.

b. Membantu membuat susunan konsep pelajaran menjadi lebih baik sehingga

mudah untuk keperluan ujian.

c. Membantu untuk berpikir lebih dalam dengan ide siswa dan menjadikan para

siswa mengerti benar akan pengetahuan yang diperolehnya.

d. Belajar bagaimana mengorganisasi sesuatu mulai dari informasi, fakta, dan

konsep ke dalam suatu konteks pemahaman, sehingga terbentuk pemahaman yang

baik dan menuliskannya dengan benar.

Selanjutnya, Gawith dan Sia (dalam Noname, 2011) menyatakan manfaat

(18)

21

1. Membantu untuk mengerjakan apa yang telah diketahui dalam bentuk yang lebih

sederhana, merencanakan dan memulai suatu topik pembelajaran, serta mengolah

kata kunci yang akan digunakan dalam pembelajaran.

2. Membantu membuat susunan konsep pelajaran menjadi lebih baik sehingga

mudah untuk keperluan ujian.

3. Membantu untuk berpikir lebih dalam dengan ide siswa dan menjadikan para

siswa mengerti benar akan pengetahuan yang diperolehnya.

4. Belajar bagaimana mengorganisasi sesuatu mulai dari informasi, fakta, dan

konsep ke dalam suatu konteks pemahaman, sehingga terbentuk pemahaman yang

baik dan menuliskannya dengan benar.

Dari pendapat Gawit dan Sia di atas, terlihat bahwa peta konsep tidak

hanya berguna bagi siswa saja, melainkan bagi guru juga. Jadi, metode peta

konsep dapat membuat apa yang dipelajari siswa lebih mudah diingat dan

dipahami, sedangkan bagi guru dapat menjadi suatu petunjuk bagaimana

menghubungkan antara konsep yang satu dengan lainnya dalam suatu rencana

pengajaran.

2.3.4. Langkah-Langkah Pembuatan Peta Konsep

Ada beberapa langkah yang harus dilaksanakan dalam membuat peta

konsep yaitu :

a. Memilih dan menentukan suatu bahan bacaan.

(19)

c. Menyusun/menuliskan konsep tersebut di atas kertas. Memetakan

konsep-konsep tersebut berdasarkan kriteria : konsep-konsep yang paling umum di puncak,

konsep-konsep yang berada pada tingkatan abstraksi yang sama diletakkan sejajar

satu sama lain, konsep yang lebih khusus di bawah konsep yang lebih umum.

d. Menghubungkan konsep-konsep itu dengan kata penghubung tertentu untuk

membentuk proposisi dan garis penghubung.

e. Jika peta sudah selesai, perlu diperhatikan letak konsep-konsepnya, kalau perlu

diperbaiki atau disusun kembali agar menjadi lebih baik dan berarti.

2.4. Limit Fungsi

2.4.1. Penertian Limit Fungsi

Diketahui fungsi f : R → R yang ditentukan oleh f(x) = 2x – 1. Jika

variabel x diganti dengan 3, maka f(3) = 2⋅3 – 1 = 5. Berapakah nilai yang akan

didekati f(x) jika variabel x mendekati 3? Untuk menjawab persoalan ini

diperlukan tabel sebagai berikut:

x 1,5 1,75 2,5 2,75 2,85 2,95 2,97 2,98 2,99 ……

f(x) 2 2,5 4 4.5 4,7 4,9 4,94 5,96 4,98 ……

Dari tabel dapat dilihat jika x mendekati 3 dari pihak kurang dari 3, maka

nilai f(x) mendekati 5. Apakah nilai f(x) akan mendekati 5 jika x lebih besar dari

3? Untuk menjawabnya kita lihat tabel berikut ini.

x ….. 3,01 3,10 3,25 3,50 3,50 3,75 4,25 …..

(20)

23

Dari tabel dapat dilihat bahwa jika x mendekati 3 dari pihak lebih dari 3

maka nilai f(x) mendekati 5, sehingga dikatakan bahwa fungsi f(x) = 2x – 1

mempunyai limit 5 untuk x mendekati 3 dan ditulis “jika f(x) = 2x – 1, maka

”. Grafiknya dapat kamu amati pada gambar di samping.

Dari penjelasan di atas, kamu juga dapat menentukan nilai dari

Nilai f(x) =

untuk x mendekati 2 dapat disajikan dengan tabel sebagai berikut.

x 1,75 1,85 1,95 1,97 1,99 1,999 .. 2 .. 2,001 2,01 2,1 2,2 2,9 3,1 f(x) 3,75 4,85 4,95 4,97 4,99 4,999 .. .. 5.001 5,01 5,1 5,2 5,9 6,1

Dari tabel dapat dilihat jika variabel x = 2, maka f(2) = yaitu suatu

bentuk tak tentu, tetapi jika x mendekati 2 dari arah kiri maka nilai f(x) mendekati

5. Demikian juga jika x mendekati 2 dari arah kanan maka nilai f(x) mendekati 5.

Oleh karena itu dapat ditulis:

(21)

Dari uraian di atas, secara intuitif limit dapat didefinisikan sebagai berikut.

artinya jika x mendekati a (tetapi x a) maka f(x) mendekati nilai L.

2.5. Sifat – Sifat Limit Fungsi

Apabila k suatu konstanta, f dan g merupakan fungsi-fungsi yang

mempunyai limit untuk x → a, a ∈ R maka berlaku:

1.

K = K 2.

f(x) = f(a) 3.

K . f(x) = K f(x) 4.

{f(x) g(x)} = f(x) g(x) 5.

{f(x) . g(x)} = f(x) . g(x)

6. = , untuk

g(x) 0

7.

= Contoh :

1. Diketahui f(x) = 2x – 5 dan g(x) = 3 + 4x . Tentukan:

a.

f(x) + g(x) = Jawab :

(22)

25

= (2⋅3 – 5) + ( 3⋅ + 4⋅3)

= (6 – 5) + (3⋅9 + 12)

= 1 + 27 + 12 = 40

b.

{f(x) + g(x)} = Jawab :

{f(x) + g(x)} = ( – ) =

( - 5) = 3⋅ + 6⋅3 – 5

= 3⋅9 + 18 – 5

= 27 + 18 – 5 = 40

2.6. Limit Fungsi Aljabar

Perhatikan fungsi f(x) = 2x pada tabel di bawah ini.

x 0 1,5 1,7 2 2,5 2,6 2,75 2,85 2,95 2,98 2,999 … 3 f(x) = 2x 0 3 3,4 45 5 5.2 5,50 5,70 5,90 5,96 5,998 … 6

Dari tabel terlihat jika nilai x diperbesar hingga mendekati 3, maka nilai

f(x) mendekati 6, dikatakan bahwa limit dari 2x untuk x mendekati 3 adalah 6

ditulis:

2x = 6

Menentukan limit dengan cara di atas ternyata lambat dan tidak efisien.

Misalkan untuk menyelesaikan

(23)

1. Jika f(a) = C, maka nilai

f(x) = f(a) = C 2. Jika f(a) = , maka nilai

f(x) = =

3. Jika f(a) = , maka nilai

f(x) = = 0 4. Jika f(a) = , maka nilai

f(x), maka sederhanakan atau ubahlah lebih dahulu bentuk f(x) hingga menjadi bentuk (1), (2), atau (3).

Contoh :

1.

5x + 7 Jawab :

5x + 7 = 5 (2) + 7 = 17

2. Jawab : = =

Karena nilai limit = , maka perlu diubah lebih dahulu dengan jalan difaktorkan.

= =

(24)

27

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Rancangan Penelitian

Penelitian ini mengunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasi. Adapun yang dimaksud dengan penelitian kuantitatif menurut Margono (2005: 103) “yaitu suatu proses menemukan data berupa angka sebagai alat untuk menemukan keterangan mengenai apa yang ingin diketahui”. Oleh karena itu

penelitian ini tergolong kepada penelitian kuantitatif karena melibatkan angka-angka dalam proses menarik kesimpulan.

Penelitian korelasi adalah penelitian yang menyelidiki hubungan dua variabel atau lebih. Menurut Arikunto (2006: 270) “…maka penelitian korelasi bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan, dan apabila ada seberapa eratnya hubungan serta berarti tidak adanya hubungan itu”.

Sesuai dengan jenis penelitian di atas, maka peneliti membuat skema penelitian sebagai berikut:

Nilai aktifitas siswa Hasil belajar siswa

x y

(25)

3.2. Populasi dan Sampel

Penelitian ini dilakukan pada siswa SMA Inshafuddin Banda Aceh. Persiapan penelitian ini dilakukan pada bulan Februari, yang pelaksanaannya dilakukan dibulan April pada tahun ajaran 2013/2014.

a. Populasi

Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa di SMA Inshafuddin Banda Aceh tahun ajaran 2013/2014, yang terdiri dari 9 kelas. Adapun dengan rincian adalah : kelas I terdapat 4 kelas yaitu kelas IPA 2 kelas dan IPS 2 kelas, kelas II terdapat 3 kelas yaitu kelas IPA 2 kelas dan IPA 1 kelas, dan kelas III terdapat 2 Kelas masing-masing kelas IPA dan IPS terdiri dari 1 kelas, dengan jumlah keseluruhan siswa sebanyak 253 siswa.

b. Sampel

(26)

29

3.3. Instrumen Pengumpulan Data

Setelah menetapkan tujuan dan subjek penelitian, maka instrumen penelitian digunakan untuk memperoleh data yang relavan dengan tujuan penelitian tentang objek yang diteliti. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian ini adalah :

a. Lembar Observasi

Observasi dilakukan untuk menilai aktivitas siswa saat melakukan pembelajaran dengan menggunakan metode kooperatif peta konsep. Instrumen dari observasi ini diisi oleh guru saat mengajarkan pembelajaran. Lembar observasi dilampirkan. b. Tes

Tes penilaian ini merupakan tes yang diberikan kepada siswa setelah pembelajaran selesai. Tes ini bertujuan untuk melihat sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipelajarinya atau dengan kata lain untuk melihat hasil belajar siswa. Tes dilakukan dilakukan dengan waktu 40 menit dan terdiri dari 5 buah soal uraian.

3.4. Teknik Analisis Data

(27)

3.4.1. Mencari Rata-Rata

Untuk mencari nilai rata-rata, maka rumus yang digunakan adalah Sudjana (2002):

̅ ∑

Keterangan:

̅ : rata-rata : frekuensi

: nilai tengah atau tanda kelas interval

Dari rumus di atas dapat disimpulkan bahwa rumus yang digunakan untuk kedua variabel adalah:

Untuk variabel X : ̅ ∑

Untuk variabel Y : ̅ ∑

3.4.2. Mencari Standar Deviansi (Simpangan Baku)

Untuk mencari standar deviasi dari nilai aktifitas belajar siswa dan hasil belajar siswa, menurut Sudjada (2002: 95) adalah:

Dari rumus di atas disimpulkan bahwa, rumus yang digunakan untuk mencari standar deviasi tehadap kedua variabel tersebut adalah:

Untuk varians variabel X : ∑ ∑

Untuk varians variabel Y : ∑ ∑

(28)

31

3.4.3. Menguji Normalitas

Pengujian normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data pada penelitian ini mengikuti sebaran normal. Uji normalitas menggunakan uji chi-kudrat dengan rumus yang dikemukakan Sudjana (2002: 273) adalah:

Adapun langkah-langkah menguji data normalitas dengan chi kuadrat: 1. Membuat daftar distribusi frekuensi yang diharapkan

a. Menentukan batas kelas adalah:

Nilai tes terkecil pertama: -0,5 (kelas bawah) Nilai tes terbesar pertama: +0,5 (kelas atas)

b. Mencari nilai Z skor untuk batas kelas interval dengan rumus: Z skor =

̅

c. Mencari luas 0 – Z dari tabel kurva normal

d. Mencari luas tiap kelas interval dengan cara melihat daftar f lampiran luas dibawah lengkungan normal standar dari O ke Z

e. Mencari frekuensi yang diharapkan (Ei) dengan rumus: luas daerah x banyaknya data

f. Frekuensi pengamatan ( adalah banyaknya data frekuensi tiap kelas interfal.

(29)

3. Menentukan taraf nyata

Untuk mendapatkan nilai chi-square table: 4. dk = k – 1

dk = Derajat kebebasan k = banyak kelas interval 5. Menentukan Nilai Uji Statistik

Keterangan:

Oi = frekuensi hasil pengamatan pada klasifikasi ke-i Ei = Frekuensi yang diharapkan pada klasifikasi ke-i 6. Menentukan Kriteria Pengujian Hipotesis

Kriteria pengujian uji normalitas ini yaitu: “tolak jika dengan , Dalam hal lainnya terima (Sudjana 2002: 273).

3.4.4. Uji Homogenitas

Uji homogenitas ini bertujuan untuk mengasumsikan bahwa populasi mempunyai varian yang sama agar pengujian korelasi boleh dilakukan. Uji homogenitas ini dilakukan dengan menggunakan statistik uji F, yaitu membandingkan dua buah varians tiap kelompok variabel. Rumus tersebut Menurut Sudjana (2002: 249):

(30)

33

: :

Taraf signifikan yang digunakan adalah dan jumlah data dari tiap kelompok adalah 30. Kriteria pengujian homogenitas tolak jika

, dalam hal lain terima (Sudjana, 2002: 251).

3.4.5. Mencari Hubungan Antara Kedua Variabel (Regresi Linier)

Selanjutnya, sebagaimana dikemukakan oleh Sudjana (2002: 315) dibuat model regresi linier y atas x. Regresi linier gunanya untuk menyelidiki hubungan fungsional antara variabel x dan y. ketentuan yang digunakan yaitu nilai aktivitas siswa diberi kode x, sedangkan hasil belajar siswa diberi kode y. Adapun rumus yang digunakan untuk mencari persamaam regresi menggunakan rumus yang dikemukakan Sudjana adalah:

̂ Dengan,

∑ ∑

Keterangan:

(31)

4. Mencari Koefisien Korelasi

Untuk menentukan koefisien korelasi antara nilai aktivitas siswa dan hasil belajar siswa, digunakan rumus korelasi product moment yang dikemukakan oleh Arikunto (2006: 275) yaitu:

∑ ∑ ∑

√ ∑ ∑ ∑ ∑

Keterangan:

r = harga koefisian korelasi antara x dan y x = harga x (aktivitas siswa)

y = harga y (hasil belajar siwa) n = jumlah sampel penelitian r = jumlah product dari x dan y

Dalam menginterpretasikan nilai yang diperoleh dalam penelitian ini sesuai dengan yang dikemukakan Sudjana (2002: 369) adalah sebagai berikut:

Harga-harga yang bergerak antara -1 dan 1 dimana tanda negatif menyatakan adanya korelasi tidak langsung atau korelasi negative, dan tanda positif menyatakan korelasi langsung atau korelasi positif. Khusus untuk r = 0, maka hendaklah ditafsirkan bahwa tidak terdapat hubungan linier antara variable x dan y.

(32)

35

Table 3.1. Interpretasi Nilai r

Besarnya nilai r Interpretasi

Antara 0,800 sampai 1,000 tinggi Antara 0,600 sampai 0,800 cukup Antara 0,400 sampai 0,600 Agak rendah Antara 0,200 sampai 0,400 Rendah Antara 0,000 sampai 0,200 Sangat rendah (sumber : prosedur penelitian dalam Arikunto, 2006: 276)

3.4.6. Pengujian Hipotesis

Untuk menguji hipotesis penelitian digunakan statistik uji t seperti yang dikemukakan Sudjana (2002: 380), dengan rumus:

Keterangan:

t = hasil hitung distribusi koefisien korelasi n = jumlah sampel yang diteliti

r = koefisien korelasi antara variabel x dan y Sedangkan hipotesis penelitian ini adalah:

: :

(33)

36

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Deskripsi Hasil Penelitian

Peneliti telah melakukan penelitian di SMA Inshafuddin Banda Aceh.

Sekolah ini terletak di jalan Tanggul nomor 3 Lambaro Skep Banda Aceh. Dari

hasil penelitian yang telah dilaksanakan di SMA Inshafuddin Banda Aceh peneliti

telah mengumpulkan data sebagai berikut.

4.1.1. Profil SMA Inshafuddin

SMA Inshafuddin Banda Aceh secara umum dapat digambarkan sebagai

berikut:

a. Nama sekolah : SMA Inshafuddin

b. Nomor statistik madrasah : 304066102012

c. NPSN : 10105342

d. Alamat : Jl. Tanggul No. 3 Lambaro Skep

e. Desa : Lambaro Skep

f. Kode pos : 23127

g. Kecamatan : Kuta Alam

h. Propinsin / kota :Aceh/Banda Aceh

i. Nama kepala SMA : Dra. Hj. Nurnismah

j. Sekolah didirikan pada tahun : 2001

k. Email : [email protected]

l. Website : www.disdikporabna.com

4.1.2. Sarana dan Prasarana

Adapun sarana dan prasarana yang dimiliki oleh SMA Insyafuddin Banda

(34)

37

Tabel . 4.1 Daftar Keadaan Ruang Di SMA Inshafuddin

No Ruang Jumlah

1 Ruang Belajar 9

2 Ruang Kepala Sekolah 1

3 Ruang Adminstrasi 1

4 Ruang Guru 1

5 Lap. IPA 1

6 Perpustakaan 1

7 Kantin 1

8 Aula 1

9 Lapangan Olahraga 1

10 Ruang Ketrampilan 1

11 Kamar Mandi 3

12 Gudang 1

Jumlah 22

Sumber: tata usaha SMA Inshafuddin

4.1.3. Guru dan Pegawai

Berikut ini adalah tabel jumlah guru dan ustadz di SMA Inshafuddin

Banda Aceh.

Tabel . 4.2 Daftar Data Dewan Guru Dan Kepegawaian Di SMA Inshafuddin

No Guru / ustazd Jumlah

1 Kepal sekolah 1

2 Wakil kepala sekolah 4

3 Guru tetap (PNS) 11

4 Guru tidak tetap 13

5 Kepala tata usaha 1

6 Penjaga sekolah / satpan 1

Jumlah 31

Sumber: Tata Usaha SMA Inshafuddin

4.1.4. Keadaan Siswa

Keadaan siswa pada SMA Inshafuddin Banda Aceh mencapai 243 orang,

yang terdiri dari 102 laki-laki dan 141 siswa perempuan. Untuk jelasnya lihat

(35)

Tabel . 4.2 Daftar Keadaan Siswa SMA Inshafuddin

No Kelas Jumlah Total

Laki-laki Perempuan

1 1(X) 43 66 109

2 2(XI) 35 49 84

3 3(XII) 24 26 50

Jumlah 102 141 243

Sumber: Tata Usaha SMA Inshafuddin Banda Aceh

Peneliti mengadakan penelitian pada semester genaptahun ajaran

2013/2014 tepatnya pada tanggal 29 April dan pada tanggal 3 Mei tahun 2014.

Jadwal kegiatan penelitian dapat dilihat dari tabel di bawah ini:

Tabel 4.4 Jadwal Kegiatan Penelitian Di Kelas XI IPA 1

No Hari / tanggal Jam / kegiatan

1 2

1 Selasa / 29 appril 2014 Penyampaian materi

Kerja kelompok

2 Saptu / 03 mei 2014 Pemaparan hasil kerja kelompok

Tes

4.2. Hasil Penelitian

Berdasarkan pengumpulan data yang peneliti lakukan di SMA Inshafuddin

Banda Aceh diperoleh nilai aktifitas siswa dan nilai hasil belajar siswa adalah

sebagai berikut:

4.2.1. Nilai Aktifitas Siswa

71,4 78.6 78.6 96,4 100 67,9 85,7 85,7 78,6 78,6

67,9 85,7 100 100 67,9 71.4 67.9 92.9 89,3 92,9

(36)

39

Untuk mendapatkan nilai dari aktifitas siswa, peneliti meminta guru yang

bersangkutan terhadap kelas yang diteliti untuk menilai sesuai angket dengan skor

yang telah disiapkan oleh peneliti. Nilai yang didapat tersebut dikonvers hingga

mendapatkan nilai maksimal 100. Aktifitas ini teergolong tinggi, karena bila

dibandingkan dengan KKM pelajaran Matematika yaitu 70.Teknik konvers nilai

di lampirkan.

4.2.2. Nilai Hasil Belajar Siswa

80 78 80 95 100 70 65 85 75 75

80 98 90 85 85 85 75 87 90 90

85 95 100 75 85 90 100 65 80 85

Nilai hasil belajar siswa merupakan hasil tes yang dilakukan peneliti

terhadap materi limit fungsi aljabar yang dipelajari sesuai dengan metode

kooperatif peta konsep. Tes ini dilakukan pada kelas yang diteliti, yaitu kelas XI

IPA 1 di SMA Inshafuddin Banda Aceh. Nilai ini teergolong tinggi, karena bila

(37)

4.3. Pengolahan Data

4.3.1. Perhitungan Nilai Rata-Rata ( ̅ , Varian , Dan Simpangan Baku (S)

a. Nilai Aktivitas Siswa

Dafta distribusi frekuensi untuk nilai aktivitas siswa diperoleh sebagai

berikut:

Rentang (R) = 100 – 67,9 = 32,1 (diambil 32)

Banyak kelas interval =

= 5,87 (diambil 6)

Panjang kelas interval = , (diambil 6)

Tabel 4.5 Daftar Distribusi Frekuensi Nilai Aktifitas Belajar Siswa

Nilai Frekuensi (

Titik Tengah ( )

65-70 4 67,5 4556,25 270 18225

71-76 8 73,5 5402,25 588 43218

77-82 5 79,5 6320,25 397,5 31601,25

83-88 4 85,5 7310,25 342 29241

89-94 5 91,5 8372,25 457,5 41861,25

95-100 4 97,5 9506,25 390 38025

jumlah 30 41467,5 2445 202171,5

Dari tabel di atas didapat nilai rata-rata ( ̅ , varian , dan simpangan

baku (s) sebagai berikut:

̅̅̅ ∑

̅̅̅ =

(38)

41

b. Nilai Hasil Belajar Siswa

Dafta distribusi frekuensi untuk nilai hasil belajar siswa diperoleh sebagai

berikut:

Rentang (R) = 100 – 65 = 35

Banyak kelas interval =

= 5,87 (diambil 6)

Panjang kelas interval = , (diambil 6)

Tabel 4.6 Daftar Distribusi Frekuensi Nilai Hasils Belajar Siswa

Nilai Frekuensi (

Titik Tengah ( )

65-70 3 67,5 4556,25 202,5 13668,75

71-76 4 73,5 5402,25 294 21609

77-82 5 79,5 6320,25 397,5 31601,25

83-88 8 85,5 7310,25 684 58482

89-94 5 91,5 8372,25 457,5 41861,25

95-100 5 97,5 9506,25 487,5 47531,25

(39)

Dari tabel di atas didapat nilai rata-rata ( ̅ , varian , dan simpangan

baku (s) sebagai berikut:

̅̅̅ ∑

̅̅̅=

̅̅̅

4.3.2. Uji Normalitas

a. Uji Normalitas untuk Data Nilai Aktivitas Siswa

Berdasarkan perhitungan nilai rata-rata ( ̅ dan simpangan baku (s) untuk

nilai aktivitas siswa sebelumnya telah diperoleh ̅ dan s = 10,01.

Selanjutnya perlu ditentukan batas batas kelas interval untuk mengetahui luas

(40)

43

Tabel 4.7 Uji Normalitas Nilai Aktifitas Siswa

Interval Batas kelas

Z skor

̅ Batas luas daerah Luas daerah Frekuensi yang diharapkan ( Frekuensi pengamata n (

64,5 -1,70 0,4554

65-70 0,0911 2,73 4

70,5 -1,10 0,3643

71-76 0,1728 5,18 8

76,5 -0,50 0,1915

77-82 0,1517 4,55 5

82,5 0,10 0,0398

83-88 0,2182 6,55 4

88,5 0,70 0,258

89-94 0,1452 4,36 5

94,5 1,30 0,4032

95-100 0,0681 2,04 4

100,5 1,90 0,4713

Pada taraf signifikan dan derajat kebebasan dk= (k-1)= 6-1= 5,

maka diperoleh dari tabel chi-kuadrat . Karena maka diterima dan dapat disimpulkan bahwa sebaran data nila aktifitas siswa

berdistribusi normal.

b. Uji Normalitas untuk Data Hasil Belajar Siswa

Berdasarkan perhitungan sebelumnya, maka untuk nilai tes siswa

(41)

kelas interval untuk menghitung luas dibawah kurva normal untuk tiap-tiap kelas

interval.

Tabel 4.8 Uji Normalitas Hasil Belajar

Interval Batas kelas Z skor ̅ Batas luas daerah Luas daerah Frekuensi yang diharapkan ( Frekuensi pengamatan ( 64,5 -2,08 0,4812

65-70 0,0547 1,64 3

70,5 -1,45 0,4265

71-76 0,1355 4,07 4

76,5 -0,81 0,291

77-82 0,2235 6,71 5

82,5 -0,17 0,0675

83-88 0,1133 3,40 8

88,5 0,47 0,1808

89-94 0,1857 5,57 5

94,5 1,11 0,3665

95-100 0,0926 2,78 5

100,5 1,74 0,4591

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui nilai chi-kuadrat di hitung

sebagai berikut: ∑

Pada taraf signifikan dan derajat kebebasan dk= (k-1)= 6-1= 5,

maka diperoleh dari tabel chi-kuadrat . Karena maka diterima dan dapat disimpulkan bahwa sebaran data nila tes siswa

(42)

45

4.3.3. Uji homogenitas

Untuk menguji homogenitas menurut Sudjana (2002: 249) menggunakan

rumus:

Setalah didapat 100,14 dan ,maka:

Dengan taraf signifikan dan jumlah data dari tiap kelompok

adalah 30, maka , yaitu . Karena

, maka diterima dan dapat disimpulkan bahwa data mempunyai

varian yang sama.

4.3.4. Analisis Regresi Linier

Berdasarkan data pada Tabel 4.9 dibawah ini, dapat dicari persamaan

regresi linier yang gunanya untuk memenuhi hubungan antara variabel x dan y.

Persamaan regresi linier tersubut seperti yang dikemukakan oleh Sudjana (2002:

315), yaitu:

(43)

Tabel 4.9 Nilai Aktifitas Belajar Siswa dan Nilai Tes Pengetahuan Siswa

Subjek Ke X Y XY

1 71,4 80 5097,96 6400 5712

2 78,6 78 6177,96 6084 6130,8

3 78,6 80 6177,96 6400 6288

4 96,4 95 9292,96 9025 9158

5 100 100 10000 10000 10000

6 67,9 70 4610,41 4900 4753

7 85,7 65 7344,49 4225 5570,5

8 85,7 85 7344,49 7225 7284,5

9 78,6 75 6177,96 5625 5895

10 78,6 75 6177,96 5625 5895

11 67,9 80 4610,41 6400 5432

12 85,7 98 7344,49 9604 8398,6

13 100 90 10000 8100 9000

14 100 85 10000 7225 8500

15 67,9 85 4610,41 7225 5771,5

16 71,4 85 5097,96 7225 6069

17 67,9 75 4610,41 5625 5092,5

18 92,9 87 8630,41 7569 8082,3

19 89,3 90 7974,49 8100 8037

20 92,9 90 8630,41 8100 8361

21 71,4 85 5097,96 7225 6069

22 75 95 5625 9025 7125

23 89,3 100 7974,49 10000 8930

24 89,3 75 7974,49 5625 6697,5

25 75 85 5625 7225 6375

26 75 90 5625 8100 6750

27 78,6 100 6177,96 10000 7860

28 75 65 5625 4225 4875

29 75 80 5625 6400 6000

30 85,7 85 7344,49 7225 7284,5

Jumlah 2446,7 2528 202605,5 215732 207396,7

Berdasarkan data yang diperoleh pada Tabel 4.9 di atas maka akan

dihitung nilai a dan b adalah sebagai berikut:

(44)

47

Dengan demikian dapatlah ditulis persamaan garis regresi linier, yaitu:

̂

̂

4.3.5. Analisis Koefisien Korelasi

Untuk menghitung besarnya korelasi antara metode kooperatif peta konsep

dengan hasil belajar siswa yaitu dengan menggunakan rumus Analisis korelasi

product moment. Berdasarkan hasil Tabel 4.9 sebelumnya, maka diperoleh

nilai-nilai sebagai berikut:

∑ ∑

∑ ∑

Adapun koefisien korelasi yang dihitung dengan rumus korelasi product

moment, yaitu:

∑ ∑ ∑

√ ∑ ∑ ∑ ∑

(45)

Selanjutnya menginterpretasikan koefisien nilai r sesuai dengan tabel 3.1

interpretasi nilai r maka dengan ketentuan , berarti termasuk agak

rendah.

Table 3.1. Interpretasi Nilai r

Besarnya nilai r interpretasi

Antara 0,800 sampai 1,000 tinggi Antara 0,600 sampai 0,800 cukup Antara 0,400 sampai 0,600 Agak rendah Antara 0,200 sampai 0,400 Rendah Antara 0,000 sampai 0,200 Sangat rendah (Sumber : Prosedur Penelitian dalam Arikunto, 2006: 276)

4.3.6. Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis dilakukan untuk mengetahui signifikansi tidaknya

koefisien korelasi. Dalam pengujian hipotesis ini peneliti menggunakan statistik

uji-t, yaitu sebagaimana dikemukakan Sudjana (2002: 380) dengan rumus:

(46)

49

: tidak adanya korelasi metode kooperatif peta konsep dengan hasil belajar

siswa di SMA Inshafuddin Banda Aceh

: adanya korelasi metode kooperatif peta konsep dengan hasil belajar siswa di

SMA Inshafuddin Banda Aceh.

Untuk menguji hipotesis penelitian ini, digunakan taraf signifikan

, dan derajat kebebasan dk = ( n - 2 ). Kriteria pengujian hipotesis adalah

“terima jika , dalam hal lain tolak ”. Untuk

memperoleh nilai tersebut dihitung sebagai berikut:

Berdasarkan hasil perhitungan diatas, diperoleh . Dengan mengambil taraf signifikan 0,05 dan , maka dari daftar

distribusi t didapat . Maka maka ditolak, karena dan diterima. Hal ini berarti bahwa terdapat

korelasi antara metode kooperatif peta konsep dengan hasil belajar siswa di SMA

Inshafuddin Banda Aceh.

(47)

Berdasarkan hasil analisis regresi linier yang telah dilakukan, penulis

memperoleh persamaan garis regresi linier yaitu: ̂ . Dari

persamaan garis regresi tersebut dapat dibuat suatu grafik regresi linier, dengan

sumbu horizontal menunjukkan nilai aktivitas siswa (x) dan sumbu vertikal

menunjukkan hasil belajar siswa. Penulis memperoleh grafik dari persamaan

regresi yang diketahui dengan menggunakan microsoft office exel 2014. Grafik

tersebut adalah sebagai berikut:

Dari grafik di atas diketahui bahwa:

a. Variabel-variabel tersebut mempunyai hubungan yang hampir cukup dekat. Hal

itu dikarenakan bahwa titik-titik pada grafik terletak hampir saling berdekatan

dengan garis yang bisa ditarik melalui titik tersebut.

b. Variabel-variabel tersebut mempunyai hubungan positif, karena titik-titik pada

grafik menunjukkan dari kiri kekanan atas.

c. Variabel-variabel tersebut mempunyai hubungan korelasi linier karena titik-titik

pada grafik menunjukkan gejala garis lurus.

Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh angka koefisien korelasi atau

nilai r yaitu 0,42. Berdasarkan indeks korelasi yang diperoleh tersebut dapat

diketahui adanya tiga hal, yakni ada tidaknya korelasi, arah korelasi, dan

interpretasi mengenai tinggi-rendahnya korelasi. y = 0,3991x + 51,721

0 50 100 150

(48)

51

Ada tidaknya korelasi, dinyatakan dalam angka pada indeks. Betapapun

kecilnya indeks korelasi, jika bukan 0,000, dapat diartikan bahwa antara kedua

variabel yang dikorelasikan, terdapat adanya korelasi (Arikunto, 2006: 279).

Dilihat dari pendapat tersebut, dapat dikatakan hasil penelitian ini memperlihatkan

bahwa terdapat hubungan atau korelasi metode kooperatif peta konsep dari nilai

aktifitas belajar terhadap hasil belajar siswa.

Sudijono (2005: 186) menyatakan bahwa korelasi antara varibel X dan Y

disebut korelasi positif apabila angka indeks korelasinya bertanda “pluss” (+);

sebaliknya, apabila angka indeks korelasi variabel X dan variabel Y bertanda

“minus” (-), maka korelasi yang demikian itu disebut korelasi negatif. Sedangkan

Sudjana (2002: 369) mengatakan, “harga-harga r bergerak antara -1 dan +1

dengan tanda negatif menyatakan adanya korelasi tak langsung atau korelasi

negatif dan tanda positif menyatakan adanya korelasi langsung atau korelasi

positif”. Berdasarkan nilai r yang diperoleh memperlihatkan bahwa nilai r

bertanda (+). Artinya hal tersebut menunjukkan adanya korelasi positif (searah)

antara nilai aktifitas siswa dan hasil belajar siswa. Selain itu, pengujian hipotesis

menperlihatkan hipotesis diterima, yakni terdapat korelasi positif motode

kooperatif peta konsep dari nilai aktifitas belajar siswa terhadap hasil belajar

siswa di SMA Inshafuddin Banda Aceh.

Tinggi rendahnya korelasi dapat diinterprestasikan dengan melihat tabel

yang dikemukakan oleh Arikunto (2006, 276), dengan memperhatikan besarnya

nilai r yaitu 0,42, terletak antara 0,40 - 0,6. Berdasarkan interpretasi yang

(49)

metode kooperatif peta konsep dari nilai aktifitas belajar siswa dengan hasil

belajar siswa adalah termaksud korelasi positif yang agak rendah.

Dari grafik linier juga dapat dilihat bahwa semakin tinggi aktifitas siswa

maka semakin bagus hasil belajar siswa yang diperoleh. Oleh karena itu penting

bagi seorang guru untuk meningkatkat aktifitas dalam proses pembelajaran,

Karena semakin siswa itu aktif maka semakin baik pemahaman siswa terhadap

materi yang telah diajarkan. Dalam meningkatkan aktifitas siswa guru harus lebih

teliti dalam memilih metode pembelajaran. Salah satu alternatif yang bisa jadi

pegangan guru adalah metode kooperatif peta konsep, sebagaimana yang telah

peneliti lakukan.

Metode kooperatif sangatlah tepat dalam meningkatkan keaktifan siswa

dalam proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat (Henny, 2003: 20)

yaitu, “pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang

mendorong siswa aktif menemukan sendiri pengetahuannya melalui ketrampilan

proses”. Sedangkan peta konsep sangatlah tepat untuk menanam konsep dasar

(awal) dari pokok pembahasan. Hal ini juga sesuai dengan yang dikemukakan

oleh Ausabel (dalam Trianto, 2007: 94) yaitu,“faktor yang paling penting yang

mempengarui pembelajaran adalah apa yang telah diketahui siswa (pengetahuan

awal)”. Sehingga dengan penggabungan dua metode ini dapat memperoleh hasil

belajar yang maksimal, karena kedua metode ini berhubungan positif terhadap

hasil belajar siswa, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Oleh karena itu

belajar membutuhkan suatu metode yang tepat untuk bisa meningkatkan aktifitas

(50)

53

Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa hasil penelitian ini

membuktikan bahwa metode kooperatif peta konsep memiliki hubungan yang

positif dengan hasil belajar siswa. Namun hubungan keduanya masih dalam

katagori agak rendah, hal ini karena karena hasil belajar masih banyak

dipengaruhi oleh faktor lain. Seperti yang dikemukakan oleh Anneahira faktor

yang mempengaruhi hasil belajar yaitu: “Faktor eksternal yang meliputi keadaan

keluarga, kondisi sekolah, dan linkungan masyarakat. Sedangkan faktor internal

yang meliputi kecerdasan, bakat, minat, dan motivasi”. Hal ini juga sesuai dengan

pendapat yang dikemukakan oleh Heski yaitu bahwa: “Penerapan pembelajaran

kooperati dengan mertode peta konsep berpengaruh poaitif dengan hasil belajar

(51)

54

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, pengolahan data dan pembahasan maka dapat

disimpulkan bahwa:

1. Terdapat hubungan positif antara metode kooperatif peta konsep dan hasil belajar

siswa kelas XI IPA 1 di SMA Inshafuddin Banda Aceh tahun pelajaran 2013

/2014.

2. Aktifitas siswa pada saat pembelajaran dengan menggunakan metode kooperatif

peta konsep adalah tinggi dan hasil belajar siswa yang dilaksanakan setelah

pembelajaran juga tinggi, hal ini bisa dilihat pada hasil penelitian BAB IV.

5.2 Saran

Dari kesimpulan di atas maka perlu kiranya penulis memberikan

saran-saran yang bermamafaat dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, khusussnya

mutu pendidikan di SMA Inshafuddin Banda Aceh. Adapun saran-saran yang

peneliti uraikan sebagai berikut:

1. Guru hendaknya senantiasa memilih metode yang tepat yang bisa membuat siswa

itu aktif dalam proses pembelajaran. Salah satu alternatif metode pembelajaran

yang bisa dipilih adalah metode kooperatif peta konsep.

2. Guru diharapkan harus lebih memperhatikan siswa saat proses pembelajaran agar

(52)

55

3. Para siswa hendaknya membiasakan diri berkonsultasi dengan guru mengenai

permasalahan yang timbul saat proses pembelajaran.

4. Bagi peneliti berikutnya sebaiknya melakukan penelitian dengan menambah

faktor-faktor lain yang mempengaruhi hasil belajar siswa dengan cakupan yang

lebih luas lagi. Dengan demikian hasilnya akan lebih beragam, guna menambah

referensi dalam pemecahan masalah hasil belajar siswa khususnya pada mata

(53)

DAFTAR PUSTAKA

Anita Lie. 2004. Cooperative Learning (Mempraktikan Cooperative Learning Diruang Ruang Kelas). Gramedia Widiasarana. Jakarta.

Anneahira [Online],[ Diakses 28 Mei 2014], Diperoleh Dari World Wide Web: Http://Www.Anneahira.Com/Prestasi-Belajar-5944.Htm.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Statistik. Jakarta: Pt Rineka Cipta.

Basuki, Teguh. 2000. Pembelajaran Matematika Disertai Penyusunan Peta Konsep. Tesis Upl

Dimyanti, Mudjiono. 2002. Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta: Pt Rineka Cipta. Hamalik, Omar. 2010. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem.

Jakarta: Pt Bumi Aksara.

Hudoyo, Herman, 1988. Mengajar Belajar Matematika. Malang : Ikip Malang. Ibrahim, Muslimin. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Unesa_University

Press.

Margono, S.2005. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Noname, 2003-2010, Pembelajaran Kooperatif, [Pdf],

Http://Eprints.Uny.Ac.Id/7734/3/Bab%202%20-%2008108241038.Pdf (Diakses 20 – 1 2014).

Noname. 2010. Peran, Fungsi, Tujuan, Dan Karakteristik Matematika Sekolah. Diakses Melalui Web: Http://P4tkmatematika.Org/2011/10/Peran-Fungsi-Tujuan-Dan-Karakteristik-Matematika-Sekolah/

Noname. 2011.[Jurnal Online],[Diakses 20-1-2014] Diperoleh Dari World Wide Web: Https://Www.Academia.Edu

Noname. (2011) Efektifitas Pembelajaran Peta Konsep Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Ditinjau Dari Kreatifitas Siswa Kelas Xi Ipa Sma Negeri Palangka Raya Tahun Ajaran 2010-2011. Ph. D Thesis,Universitas

Surakarta. [Pdf]

Http://Eprints.Uns.Ac.Id/10031/1/185841511201109561.Pdf (Diakses 20 –

1 2014).

Novak And Gowin. 1985. Learning How To Learn. Cambridge University Press Rohana, Dkk. 2009. Jurnal Pendidikan Matematika; Penggunaan Peta Konsep

Dalam Pembelajaran Statistika Dasar Di Program Studi Pendidikan Matematika Fkip Universitas Pgri Palembang. (Di Peroleh Dari Web: Http://Eprints.Unsri.Ac.Id/825/1/8_Rohana_92-102.Pdf)

Slavin, Re. 1995. Cooperative Learning Second Edition. Massachusett: Allyn And Bacon Publisher.

(54)

57

Sudjana 2005. Metoda Statistik. Tarsito, Bandung. ... 2009. Metoda Statistik. Tarsito, Bandung.

Sudjana, Nana Dan Ahmad Rivai. 2008. Media Pengajaran. Bandung. Cv Sinar Baru Bandung.

Suyitno, Amin. 1997. Dasar-Dasar Dan Proses Pembelajaran Matematika. Semarang: Unnes

(55)

i

menyelesaikan skripsi yang berjudul “Korelasi Metode Kooperatif Peta Konsep

dengan Hasil Belajar Siswa di SMA Inshafuddin Banda Aceh”. Salawat dan salam

kita sanjungkan kepangkuan alam nabi Muhammad SAW yang telah membawa

umat manusia dari peradaban kebodohan menuju peradaban yang penuh ilmu

pengetahuan.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis melalui hambatan dan rintangan

sewaku-waktu, namun penulis senantiasa mendapat bimbingan dan pengarahan

dari berbagai pihak. Karena bantuan tersebut penulis mengucapkan terimakasih

kepada:

1. Ibu Intan Kemala Sari M,Pd selaku pembimbing I dan Ibu Fitriati selaku

pembimbing II yang telah membimbing dan membina penulis dengan

baik.

2. Ibu Rita Novita selaku ketua prodi Matematika yang telah membantu

dalam menyemangati sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.

3. Bapak dan Ibu dosen pengajar di prodi Matematika yang telah membantu

dan membekali penulis dalam berbagai pengetahuan sehingga dapat

menyelesaikan skripsi ini.

4. Kepala Dinas Pendidikan Banda Aceh, Kepala SMA Inshafuddin Banda

Aceh beserta guru bidang studi matematika dan karyawan tata usaha yang

telah membantu dan memberi izin kepada penulis untuk melakukan

(56)

ii

Secara khusus, penulis juga mengucapkan terima kasih yang tak terbatas

atas dukungan yang tak pernah hentidiberikan, kepada:

1. Alm Ayahanda tercinta Jamaluddin Harun, yang mana beliau telah

menyemangati penulis dalam mengarungi hiruk pikuk kehidupan, hingga

penulis bertahan sampai saat ini.

2. Ibunda tercinta Nurma Raban, kakak-kakakku Darmawati dan Yusnidar

yang telah menginspirasi dan selalu menyemangatiku distiap waktu.

3. Sahabat sejatiku Sya’ban Ashula, Trisna Diwa Riaji, Zultanzila, Reza

Pahlawan, dan Iman Sumitra yang selalu ada disampingku menjadi perakit

semngatku di setiap watu.

4. Rekan-rekan angkatan 2010 di jurusan matematika STKIP Bina Bangsa

Getsempena yang selalu menemani dan mengisi hari-hari bersama dalam

susah maupun senang hingga membantu menyelesaikan penulisan skripsi

ini hingga akhir.

Segala usaha telah penulis tempuh dalam menyempurnakan skripsi ini,

namun apabila dalam skripsi ini dapat kesalahan, penulis mengharapkan masukan

dari pembaca guna perbaikan dimasa akan mendatang.

Akhir kata penulis berharap kiranya skripsi yang sederhana memberi

mamfaat bagi pembaca, khususnya bagi para pengemban pendidikan agar

membawa pendidikan ke arah yang lebih baik. Amin.

Banda Aceh, 01 Juni 2014

TANTAWI

(57)

iii

Penelitian ini berjudul “Korelasi Metode Kooperatif Peta Konsep Dengan Hasil Belajar Siswa di SMA Inshafuddin”. Penelitian ini bertujuan untuk

mengetahui korelasi metode kooperatif peta konsep dengan hasil belajar siswa di SMA Inshafuddin Banda Aceh. Penentuan sampel dilakukan secara acak dengan teknik pengundian (Cluster Random Sampling). Metode yang digunakan adalah korelasi dengan pendekatan kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan tes. Pengolahan data dilakukan teknik korelasi product moment. Berdasarkan perhitungan didapat koefisien korelasi r = 0,42, ini menunjukkan korelasi positif antara metode kooperatif peta konsep dengan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dengan diperoleh harga

(58)

iv

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i ABSTRAK ... iii DAFTAR ISI ... iv DAFTAR LAMPIRAN ... v

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Pertanyaan Penelitian ... 5 1.3. Tujuan Penelitian ... 6 1.4. Hipotesis Penelitian ... 6 1.5. Asumsi dan Keterbatasan Penelitian ... 6 1.6. Mamfaat Penelitian ... 7 1.7. Ruang Lingkup Penelitian ... 7 1.8. Definisi Operasional ... 7

BAB II PEMBAHASAN ... 9

2.1. Hakikat Matematika dan Belajar Matematika ... 9 2.2. Pembelajaran Kooperatif ... 14 2.3. Pembelajaran Peta Konsep ... 19 2.4. Limit Fungsi ... 22

BAB III METODE PENELITIAN ... 28

3.1. Rancangan Penelitian ... 28 3.2. Populasi Dan Sampel ... 29 3.3. Instrumen Pengumpulan Data ... 30 3.4. Teknik Analisis Data ... 30

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PPEMBAHASAN ... 38

4.1. Deskripsi Penelitian... 38 4.2. Hasil Penelitian ... 40 4.3. Pengolahan Data ... 41 4.4. Pembahasan ... 52

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 38

5.1. Kesimpulan ... 56 5.2. Saran ... 56

(59)

v 3. Tabel Nilai Aktivitas Siswa 4. Instrumen Tes siswa

5. Tabel nilai Tes Siswa 6. Daftar F

7. Daftar Distribusi 8. Daftar Distribusi t 9. Daftar Distribusi F 10.Jawaban Siswa

11.Surat keterangan Membimbing

12.Surat Keterangan Telah Meneliti Dari Sekolah 13.Foto-Foto Kegiatan Penelitian

(60)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Nama Sekolah : SMA Inshafuddin

Mata Pelajaran : Matematika

Kelas : XI (Sebelas)

Semester : Genap

Standar Kompetensi : Menggunakan konsep limit fungsi dan turunan fungsi

dalam pemecahan masalah.

Kompetensi Dasar : Menjelaskan secara intuitif arti limit fungsi di suatu

titik dan menggunakan sifat limit fungsi untuk

menghitung limit fungsi aljabar.

Indikator : 1. Menjelaskan sifat-sifat limit fungsi aljabar.

2. Menentukan limit aljabar yang berbentuk

3. Menentukan limit aljabar yang berbentuk

Alokasi Waktu : 3 jam pelajaran (1.5 pertemuan)

A. Tujuan Pembelajaran

a. Peserta didik dapat menghitung limit fungsi aljabar.

b. Peserta didik dapat menggunakan sifat limit fungsi untuk menghitung limit fungsi

aljabar.

(61)

 Limit fungsi aljabar, (cara substitusi, faktorisasi, dan perkalian sekawan).

C. Metode Pembelajaran: Kooperatif peta konsep

D. Langkah-langkah Kegiatan

 Pertemuan Pertama dan Kedua

Materi Menit

P

enda

huluan

Apersepsi : mengingatkan kembali peserta didik tentang

materi yang berhubungan dengan limit fungsi

5

Motivasi : Apabila materi ini dikuasai dengan baik, maka

peserta didik diharapkan dapat menyelesaikan soal limit

fungsi aljabar

5

Ke

giata

n Inti

Eksplorasi

a. Peserta didik diberikan stimulus berupa pemberian

materi oleh guru (yang berupa peta konsep yang telah

disiapkan oleh guru dan dipaparkan) mengenai

sifat-sifat limit fungsi aljabar dan cara menghitung limit

fungsi aljabar.

b. Guru mempresentasikan bagan dari peta konsep yang

telah disiapkan sebelumnya, supaya siswa dapat lebih

memahami.

(62)

Elaborasi

a. Guru mebagikan kelompok yang beranggotakan 5-6

siswa dan memberikan tugas kelompok yang harus

dikerjakan.

b. Peserta didik menyiapkan tugas kelompok (diskusi)

yang diberikan guru dan melakukan diskusi supaya

setiap anggota kelompok bisa mempertanggun

jawabkan apa yang telah di kerjakan.

c. Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompok.

d. Guru membimbing siswa dalam mempresentasikan

tugas kelompok.

5

40

30

Konfirmasi

a. Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui.

b. Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. 5

P

enutup

a. Peserta didik membuat rangkuman dari materi

men

Gambar

tabel sebagai berikut.
Table 3.1. Interpretasi Nilai r
Tabel . 4.1 Daftar Keadaan Ruang Di SMA Inshafuddin
Tabel . 4.2 Daftar Keadaan Siswa SMA Inshafuddin
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil perancangan diperoleh tujuh kelas utama dalam sistem pembelajaran bahasa Inggris di kelas VII SMP Negeri 1 Kota Bengkulu, dari hasil pengembangan

Alhamdulillah, Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunianya, yang telah memberikan kemudahan dalam proses penulisan dan penyusunan Buku ini. Tanpa

[r]

Skripsi ini membahas mengenai bentuk pengikatan Fidusia terhadap obyek jaminan berupa pesawat udara dalam suatu perjanjian kredit perbankan yang merupakan salah satu

Thanatocoenose : ( thanatos- mati, koinos -kumpulan): organisme yang mati (fosil) yang berasal dari satu/beberapa biotipe dan tertranspor ke dalam suatu lingkungan pengendapan

(2) Dalam hal contoh label yang disampaikan pelaku usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah memenuhi ketentuan, Direktur Pengawasan Barang Beredar dan Jasa

Hematuria dapat terjadi pada pasien yang disebabkan oleh ruptur kista ke dalam duktus kolektivus atau dari batu ginjal asam urat atau kalsium oksalat..

Persyaratan TCO'99 yang berkaitan deng an hal ini, menyatakan bahwa baterai, elemen penghasil warna pada layar monitor dan komponen listrik atau elektronik tidak boleh