• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemahaman Masyarakat Akan Pendidikan Ana (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pemahaman Masyarakat Akan Pendidikan Ana (1)"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

A. Latar Belakang Masalah

Ditengah perkembangan pendidikan yang selalu berkembang dari setiap waktu ke waktu masih terdapat tingkat kesadaran masyarakat yang rendah akan layanan pendidikan anak usia dini. Hal tersebut dikarenakan kurang pahamnya masyarakat tentang pentingnya pendidikan sejak dini meskipun pada saat ini program pendidikan anak usia dini ini sedang digalangkan oleh pemerintah. Namun kenyataannya, masih banyak anak usia dini yang belum tersentuh layanan pendidikan, faktor penentu dari permasalahan ini dikarenakan masih banyak masyarakat yang memandang bahwa pendidikan dimulai saat anak memasuki pendidikan dasar. Selain itu permasalahan ini terjadi karena tingkat ekonomi masyarakat yang masih rendah.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137 tahun 2014 tentang standar nasional pendidikan anak usia dini Bab I, Pasal I, Ayat 10 menyatakan bahwa:

Pendidikan anak usia dini adalah upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 (enam) tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Dari kutipan diatas dapat kita pahami bahwa pendidikan untuk anak dimulai sejak anak itu lahir sehingga pendidikan tersebut perlu diperhatikan dengan sebaik mungkin karena pendidikan sejak dini akan berpengaruh pada pendidikan selanjutnya dan juga pendidikan sejak dini akan mapu mengoptimalkan proses perkembangan dan pertumbuhan anak.

(2)

masa awal untuk membentuk anak menjadi generasi yang unggul dimasa mendatang.

Berangkat dari kurang pahamnya masyarakat tentang pendidikan anak usia dini khususnya di Desa Sukamaju, Kecamatan Majalaya yang masih ikut-ikutan menyekolahkan anaknya ke jenjang Pendidikan Anak Usia Dini, meskipun mereka belum mengtahui lebih jelas tentang peranan pendidikan anak usia dini tersebut maka penelit memilih tempat ini sebagai daerah penelitian.

Pendekatan kualitatif merupakan suatu pendekatan yang digunakan sebagai salah satu upaya untuk mengeksplore lebih jauh lagi tentang isu-isu masyarakat akan pendidikan anak usia dini sehingga isu-isu ini dapat diketahui dengan lebih rinci dan mendalam. Secara teknis ada beberapa metode yang tepat yang dapat dijadikan strategi untuk mengatasi terjadinya permasalah ketidakpahaman akan Pendidikan Anak Usia Dini, salah satunya dengan menggunakan metode studi kasus.

Berdasarkan pemahaman yang berkembang diatas, maka penelitian ini memfokuskan pada “Pemahaman Masyarakat Akan Pendidikan Anak Usia Dini”.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini dituangkan kedalam pernyataan penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimanakah pemahaman masyarakat tentang Pendidikan Anak Usia Dini di Desa Sukamaju Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung ?

2. Seberapa pentingkah peranan Pendidikan Anak Usia Dini di Desa Sukamaju Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung ?

(3)

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan penelitian diatas, penulis bertujuan untuk mengetahui hal-hal sebagai berikut:

1. Mengetahui pemahaman masyarakat tentang Pendidikan Anak Usia Dini di Desa Sukamaju Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung .

2. Mengetahui penting atau tidaknya Pendidikan Anak Usia Dini di kalangan masyarakat Desa Sukamaju Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung. 3. Mengetahui faktor penentu masyarakat mengenai penting atau tidaknya

Pendidikan Anak Usia Dini di Desa Sukamaju Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Dengan diadakannya penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemikiran yang cukup signifikan kepada masyarakat sebagai pengetahuan dan bahan kajian, khususnya dalam bidang Pendidikan Anak Usia Dini. 2. Manfaat Praktis

a. Bagi Mahasiswa

penelitian ini dapat dijadikan awal bagaimana pemahaman masyarakat yang memandang pendidikana anak usia dini.

b. Bagi masyarakat

Penelitina ini diharapkan dapat memberikan informasi lebih luas lagi tentang pendidikan anak usia dini.

c. Bagi Lembaga Pemerintahan

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan supayar dapat mensosialisasikan dan memperhatikan lebih jauh lagi tentang Pendidikan Anak Usia Dini.

E. Kajian Pustaka

a. Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini

(4)

pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (UU Nomor 20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1 Ayat 14).

Anak usia dini merupakan anak yang memiliki rentang usia 0-6 tahun. Usia dini merupakan usia yang sangat menentukan bagi perkembangan anak selanjutnya . Masa usia dini merupakan masa yang beka bagi anak dimana anak melai menerima berbagai upaya yang dapat mengembangkan seluruh potensinya. Masa peka adalah masa dimana terjadinya pematangan fungsi-fungsi baik itu fisik maupun psikis yang siap merespon stimulasi yang diberika oleh lingkungan sehingga pada masa ini sangat tepat untuk meletakkan dasar-dasar kemampuan baik itu kepribadian, aspek fisik, sosial, kognitif, bahasa, sosial emosional, nilai-nilai agama dan moral.

(5)

ketahui bahwa pendidikan anak sejak dini memiliki peranan yang sangat penting untuk proses perkembangan anak selanjutnya.

b. Landasan Pendidikan Anak Usia Dini

Penyelenggaraan pendidikan anak usia dini harus lah didasari oleh landasan-landasan keilmuan agar dapat terciptanya pendidikan sesuai dengan yang diharapkan. Landasan pendidikan anak usia dini tersebut terbagi menjadi landasan yuridis, filosofis, dan religius.

1. Landasan yuridis

Landasan yuridis tentang pendidikan anak usia dini terdiri dari beberapa, yaitu sebagai berikut:

Pendidikan anak usia dini adalah upaya pembinaan pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (UU Nomor 20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1 Ayat 14). Sedangkan pada pasal 28 tentang pendidikan anak usia dini dinyatakan bahwa:

1) Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.

2) Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur formal, non-formal, dan/informal.

3) Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal:TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat.

4) Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan non-formal: KB, TPA, atau bentuk lain yang sederajat.

5) Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan informal: pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

(6)

Selanjutnya berdasarkan Undang-Undang nomor 23 tahun 2002 pasal 9 ayat 1 tentang Perlindungan Anak dikemukakan bahwa “setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya”.

Hal terakhir yang menjadi landasan pendidikan anak usia dini adalah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 58 Tahun 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini. Pada peraturan mentri ini terdapat beberapa standar Pendidikan anak usia dini yaitu sebagai berikut:

 standar tingkat pencapaian perkembangan yang berisi kaidah

pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini sejak lahir sampai dengan usia enam tahun. Tingkat pencapaian perkembangan yang dicapai merupakan aktualisasi potensi semua aspek perkembangan yang diharapkan dapat dicapai anak pada setiap tahap perkembangannya, bukan merupakan suatu tingkat pencapaian akademik.

 Standar pendidik (guru, guru pendamping, dan pengasuh) dan

tenaga kependidikan memuat kualifikasi dan kompetensi yang dipersyaratkan.

 Standar isi, proses, dan penilaian meliputi perencanaan,

pelaksanaan, dan penilaian program yang dilaksanakan secara terintegrasi/terpadu sesuai dengan kebutuhan anak.

 Standar sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan

mengatur persyaratan fasilitas, manajemen, dan pembiayaan agar dapat menyelenggarakan PAUD dengan baik.

(Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 58 Tahun 2009)

(7)

Filosofis pendidikan merupakan fondasi utama yang sangat penting dalam sistem pendidikan. Filosofi pendidikan ini memberikan gambaran tentang cara pandang guru terhadap proses pendidikan baik itu kurikulum, perencanaan, tujuan pendidikan, isi pendidikan, anak didik dan proses pembelajaran.

Pendidikan yang dilakukan pada jenjang anak usia dini pada dasarnya ditentukan oleh nilai nilai yang dianut oleh lingkungan yang berada disekitar anak. Dasar-dasar pendidikan untuk anak usia dini itu harus dilakukan sedini mungkin dengan cara medidik anak dan membiasakan anak untuk berprilaku sesuai dengan norma atau etika dimana tempat kita berpijak.

Dari sudut pandang filosofis pendidikan terdapat beberapa macam konsep atau sudut pandang akan pelaksanaan filosofis pendidikan, Yamin dan Jamilah (2010:21) mengemukakan bahwa “cara pandang landasan filosofis pendidikan terbagi menjadi 3 yaitu aksiologis, epistemologis, dan ontologis”.

Aksiologis adalah dimana kurikulum pendidikan anak usia dini harus benar-benar dapat dipertanggungjawabkan supaya semua potensi anak dapat berkembang dan berkaitan dengan nilai-nilai yang dianutnya. Sedangkan ontologis melihat anak sebagai makhluk yang memiliki dimensi biologis, dimensi psikologis, dimensi sosiologis, dan dimensi antropologis. Epistemologis adalah dimana pembelajaran anak usia dini hendaknya mengacu pada konsep belajar seraya bermain, belajar dengan kenyataan, dan belajar dengan langsung melakukan.

3. Landasan Religius

(8)

kepada umatnya untuk memiliki keturunan yang kuat, keturunan yang berkepribadian tangguh, keturunan yang baik serta ibadah, serta tidak mewariskan keturunan yang lemah.

c. T ujuan Pendidikan Anak Usia Dini

Tujuan pendidikan anak usia dini merupakan hal yang penting untuk diketahui baik oleh pihak penyelenggara pendidikan maupun oleh masyarakat luas. Secara umum tujuan pendidikan anak usia dini itu adalah untuk mengembangkan seluruh potensi anak sejak usia dini agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan yang lebih lanjut. Artinya dengan adanya pendidikan anak usia dini seseorang akan dapat mengembangkan seluruh potensi yang ada baik itu fisik maupun psikis secara optimal.

Agustin dan Wahyudin (2011:10) mengemukakan bahwa berdasarkan tinjauan aspek didaktis psikologis tujuan Pendidikan Anak Usia Dini yang utama adalah:

1. Menumbuhkembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan agar mampu menolong diri sendiri (self Help), yaitu mandiri dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri seperti mampu merawat dan menjaga kondisi fisiknya, mampu mengendalikan emosinya, da mampu membangun hubungan baik dengan orang lain.

2. Meletakkan dasar-dasar tentang bagaimana seharusnya belajar (Learning how to learn). Hal ini sesuai dengan perkembangan paradigma baru dunia pendidikan melalui empat pilar pendidikan yang dirancang oleh UNESCO, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together yang dalam implementasinya di Taman Kanak-kanak dilakukan melalui pendekatan learning by playing, belajar yang ,menyenangkan (joyful learning), serta menumbuhkembangkan keterampilan hidup (life skill) sederhana sedini mungkin.

(9)

anak secara optimal dan menyeluruh sesuai dengan norma-norma dan nilai kehidupan yang dianut’.

Dari pemaparan diatas, dapat kita ketahui bahwa Pendidikan Anak Usia Dini memiliki berbagai macam tujuan demi kepentingan anak itu sendiri, sehingga pendidikan anaki usia dini perlu diperhatikan dengan seksama agar dapat terciptanya tujuan yang diharapkan.

d. Urgensi Pendidikan Anak Usia Dini

Pentingnya pendidikan anak usia dini sudah dibahas sejak Zaman dahulu karena hasil dari seseorang yang memasuki pendidikan anak usia dini akan berbeda dengan hasil seseorang yang tidak tersentuh layanan pendidikan anak usia dini sebelumnya. Seseorang yang tersentuh pendidikan sejak dini pada rewasa, remaja, bahkan dewasa perkembangannya akan berjalan dengan baik, berbeda dengan seseorang yang tidak tersentuh pendidikan anak usia dini.

Pemerintah Indonesia pun sudah mengakui pentingnya pendidikan sejak usia dini yang tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003. Maka dari itu sudah selayuaknya kita mengetahui dan memahami akan pentingnya pendidikan anak usia dini demi perkembangan yang optimal dan generasi yang berkualitas.

F. Metodologi

a. Metode Penelitian

Dalam penelitian ini penulis akan menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang mencoba memahami fenoma dalam setting dan konteks naturalnya (bukan di dalam laboratorium) dimana peneliti tidak berusaha untuk memanipulasi fenomena yang diamati (Leedy & Ormrod dalam Sarosa, 2012: 7).

(10)

kualitatif yang dilakukan untuk mendalami pemahaman masyarakat akan pendidikan anak usia dini adalah metode studi kasus. Studi kasus adalah sebuah eksplorasi dari “suatu sistem yang terikat” atau “suatu kasus atau beragam kasus yang dari waktu ke waktu mengalami pengumpulan data yang mendalam serta melibatkan berbagai sumber informasi yang “kaya” dalam suatu konteks. Dengan kata lain studi kasus merupakan penelitian dimana peneliti ingin menggali suatu fenomena tertentu (kasus) dalam suatu waktu dan kegiatan (program, even, proses, institusi, atau kelompok sosial) serta mengumpulkan informasi secara rinci dan mendalam dengan menggunakan prosedur pengumpulan data selama satu periode (Cresswell, 1998: 37-38).

b. Desain

Penelitian ini dilakukan untuk memahami sejauh mana pemahaman masyarakat tentang Pendidikan Anak Usia Dini yang dilakukan di Desa Sukamaju Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung.

Untuk mencari pemahaman akan Pendidikan Anak Usia Dini maka peneliti membagi desain metode kualitatif ini memjadi satu variabel independen yaitu X untuk masyarakat dan variabel dependen yaitu Y untuk Pemahaman PAUD, maka dibuatlah desainnya sebagai berikut:

Paradigma Sederhana

r

X = Masyarakat

Y = Pemahaman PAUD

(Sugiyono, 2008: 66)

c. Subjek Penelitian

Subjek yang akan diteliti adalah 10 orang masyarakat yang berbeda di daerah Desa Sukamaju Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung baik itu

(11)

seseorang yang memasukkan anaknya ke lembaga Pendidikan Anak Usia Dini maupun seseorang yang tidak memasukkan anaknya ke lembaga Pendidikan Anak Usia Dini.

d. Variabel

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan dua variabel yaitu variabel independen dan variabel dependen.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sugiyono (2013: 61) mengemukakan bahwa variabel independen atau variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Sedangkan variabel dependen atau terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.

Jadi dalam penelitian ini yang menjadi variabel independennya adalah masyarakat, dan yang menjadi variabel dependen dalam penelitian ini adalah pemahaman Pendidikan Anak Usia Dini.

e. Definisi Operasional

Definisi operasional variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Definisi Masyarakat

Para ahli dalam (Efendi, 2014: 44-45) mengemukakan mengenai pengertian masyarakat yaitu sebagai berikut:

(12)

Menurut Fairchild et al (1980) mengemukakan bahwa masyarakat adalah sekelompok manusia yang bekerjasama dalam mengejar beberapa kepentingan utama mereka, termasuk memelihara diri dan kelangsungan hidup, konsep masyarakat termasuk kesinambungan hubungan asosional yang kompleks, dan komposisi termasuk perwakilan dari jenis manusia yang mendasar, khusunya wanita, laki-laki, dan anak-anak.

Menurut Paul B. Horton dan C. Hunt (1982) mengemukakan bahwa masyarakat adalah relatif independen, sekelompok manusia mengabadikan diri menempati wilayah, berbagi budaya, dan memiliki sebagian besar hubungan mereka dalam kelompok ini.

2. Definisi Pendidikan Anak Usia Dini

John Amos Comenius (1483-1546) mengatakan bahwa pendidikan harus dimulai di usia dini karena “tanaman muda dapat ditanam, dicangkok, dipangkas, dan di bentuk. Ketika sudah menjadi pohon, proses-proses tersebut tidak mungkin dilakukan”. Sekarang ini, penelitian tentang otak mengingatkan kita kembali bahwa proses belajar harus dimulai dini dan bahwa banyak “jendela kesempatan” untuk pembelajaran terbentuk pada usia dini.

Jean Jacques Rousseaeu (1712-1778) mengatakan bahwa pendidikan “alami” untuk anak tanpa campur tangan atau batasan yang tidak diperlukan. Sifat alami anak-anak akan menjadi apa dan siapa mereka kelak terbuka sebagai akibat dari perkembangan yang sesuai dengan jadwal kematangan mereka.

(13)

rumah, keluarga, latar belakang sosial ekonomi. Pengalaman dan pendidikan anak usia dini. Pendidikan anak usia dini didasarkan pada pemikiran bahwa memberikan pendidikan pada anak di usia dini dapat membantu mengatasi efek negatif kemiskinan dan penelantaran dan dapat menghapus perbedaan prestasi anak yang dikarenakan perbedaan tingkat sosial ekonomi.

f. Teknik Analisis

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini analah menggunakan tekni analisis narrative. Analisis narrative adalah interpretasi terorganisir atas sekuensi peristiwa. Interpretasi tersebut melibatkan pemasangan agensi dengan karakter-karakter dalam dan menarik hubungan kausal peristiwa yang ada (Smith, 2003: 224).

Fungsi utama dari teknik analisis adalah menata sesuatu yang tidak tertata.ketika menyampaikan suatu kisah narator sedang berusaha untuk mengorganisir sesuatu yang tak beraturan dan memberinya makna. Proses pembentukan identitas narasi tersebut bersifat dinamis dan terjadi dalam konteks sosial dan personal yang selalu berubah (Smith, 2003: 224).

Sumber utama material bagi penelitian naratif adalah menggunakan wawancara. Wawancara naratif dibuat untuk menciptakan kesempatan bagi partisispan untuk memberkan nasihat terperinci mengenai suatu pengalaman. Selain dengan wawancara, dapat menggunakan metode lain seperti membuat jurnal pribadi atau mengumpulkan foto atau bahkan membuat vidio. Tujuan dari penggunaan ini adalah untuk memperoleh teknik dapat membuat pasrtisipan merasa nyaman, bahkan dapat membuat mereka dapat mengembangkan uraian narasi (Smith, 2003: 233).

(14)

Agustin,Mubiar. & Wahyudin, U. (2011). Penilaian Perkembangan Anak Usia Dini: Panduan Untuk Guru, Tutor, Fasilitator dan pengelola Pendidikan Anak Usia Dini. Bandung: PT Refika Aditama.

Creswell, J. W. (1998). Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Tradition. London: Sage Publication.

Effendi, Ridwan & Malihah. (2014). Pendidikan Lingkungan Sosial Budaya dan Teknologi (PLSBT). Bandung: CV. Maulana Media Grafika.

Morrison, George. (2008). Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

(Romadhona, suci & Apri). Jakarta: PT Indeks).

Mariyana, Rita., Nugraha, A. And Rachmawati, Y. (2010). Pengelolan Lingkungan Belajar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Mulyasa. (2012). Manajemen PAUD. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor

137 Tahun 2014. Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: KEMENDIKBUD.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 58 Tahun 2009 Tentang

Standar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: KEMENDIKNAS.

Sarosa, Samiaji. (2012). Penelitian Kualitatif: Dasar-Dasar. Jakarta: PT Indeks.

Smith, Jonthan A. (2009). Psikologi Kualitatif Panduan Praktis Metode Riset. Yogyakarta : Pustaka pelajar.

Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

(15)

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002. Undang-Undang Perlindungan Anak. Jakarta: Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Yamin, Martinis & Sanan. (2010). Panduan Pendidikan Anak Usia Dini

Referensi

Dokumen terkait

Terdapat Dosen Studi Lanjut S2/S3 yang belum menyelesaikan studi sesuai dengan batas

Kami harapkan kehadiran Saudara pada waktu yang telah ditentukan, apabila berhalangan dapat diwakilkan dengan membawa surat kuasa, dan apabila tidak hadir maka perusahaan

Pada keluarga asal suami dan istri yang saat ini berstatus tidak miskin, baik di desa maupun di kota, memiliki skor perilaku investasi yang lebih baik

“Apakah dengan menggunakan metode kooperatif tipe think pair share kemampuan membaca huruf jawa siswa kelas IV meningkat?”. E.

From the study realized over all four chemical systems of calix[4]resorcinarenes functionalized with organic-phosphorus groups it was seen that for all these systems the

Universitas Muhammadiyah Surakarta. Joko Santosa, M.Ag Pembimbing I yang telah dengan sabar memberi bimbingan, Motivasi, dan nasehat yang sangat berharga.. Ilham Sunaryo,

Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi sumber dan pengetahuan bagi penulis dan masyarakat mengenai bentuk, fungsi dan makna bangunan Pagoda Shwedagon di Berastagi

Tak hanya soal jumlah suara dukungan/ perdebatan yang tidak kalah seru/ juga adalah berkenaan dengan visi-misi calon/ yang diharapkan kedua kubu// Kedua kubu/