• Tidak ada hasil yang ditemukan

BERMAIN DAN MATEMATIKA DI PENDIDIKAN ANA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "BERMAIN DAN MATEMATIKA DI PENDIDIKAN ANA"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

BERMAIN DAN MATEMATIKA

DI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Abstrak

Anak-anak selalu tertarik pada permainan yang berbeda. Mereka mulai bermain sebelum mulai berjalan atau berbicara. Mereka melihat permainan sebagai pekerjaan dan mereka sangat fokus saat mereka bermain. Minat dan motivasi penting untuk pembelajaran sehingga bermain bisa dijadikan alat bantu pembelajaran. Di sisi lain anak-anak hidup dengan matematika dalam kehidupan sehari-hari mereka dan mereka tumbuh dengan matematika. Sebelum mereka memulai pendidikan dasar, mereka menggunakan banyak proses matematika saat mereka bermain. Maka dalam tulisan menjelaskan bahwa bagaimana permainan matematika melibatkan pendidikan pada anak usia dini.

PENDAHULUAN

Dalam beberapa tahun terakhir telah banyak penelitian yang dilakukan tentang pendidikan matematika di masa kanak-kanak. Bermain memiliki tempat penting dalam pendidikan anak usia dini dan juga memiliki tempat yang berarti dalam kehidupan sehari-hari anak-anak. Terkadang mereka bermain langsung dengan matematika dalam drama mereka. Proses ini mendukung perkembangan matematika mereka dan mengilhami mereka tentang pemikiran matematis logis.

PEMBAHASAN

BERMAIN DAN MATEMATIKA

Banyak ilmuwan yang telah meneliti tentang peran bermain di pendidikan anak usia dini dan melihat bermain penting untuk pembelajaran dan pengembangan. Hal ini didasarkan pada karya pendidik pionir seperti Jean-Jacques Rousseau, John Dewey, Maria Montessori, Friedrich Froebel, Margaret MacMillan dan Rudolf Steiner (Wood & Attfield, 2005). Masing-masing pelopor memandang berbagai bagian permainan.

Ada banyak deskripsi permainan, yang berarti perspektif teoritis pembelajaran dan pengembangan yang berbeda. Bermain memungkinkan anak-anak menunjukkan perasaan, emosi dan gagasan mereka. Bermain memfasilitasi proses belajar yang relevan seperti berlatih, berlatih,

mengulangi, meniru, mengeksplorasi, menemukan, merevisi, memperluas, menggabungkan, mengubah, menguji (Hughes, 1991). Matematika dan permainan berlangsung dalam kehidupananak-anak pada tingkat yang berbeda. Proses matematis dimulai sebelum anak masuk usia sekolah. Anak-anak dilahirkan sebagai matematikawan di dalam kehidupan sehari-hari mereka dan mereka mempraktikkannya.

“Pembelajaran anak dimulai jauh sebelum mereka masuk sekolah. . . . Mereka harus berhubungan dengan operasi pembagian, penambahan, pengurangan, dan penentuan ukuran. Akibatnya, anak-anak memiliki aritmatika prasekolah mereka sendiri, yang hanya dapat diabaikan oleh ahli psikologi yang memilki rabun jauh”. (Vygotsky,1987)

Dalam beberapa tahun terakhir bermain menggunakan pelajaran matematika untuk membuat menyenangkan bagi anak-anak. Anak-anak tahu bahwa mereka bermain dan bahwa ada penghentian sementara dari hambatan dunia yang sebenarnya di mana menang, kalah, gagal dan berhasil memiliki makna yang tinggi (Shechtman & Knudsen, 2009).

(2)

matematika itu menyenangkan dan bermanfaat, dan itu bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan dan kooperatif. Namun orangtua dan pendidik juga harus berhati-hati mengingat permainan itu bukan sekadar mengenalkan gagasan sederhana. Anak-anak akan sering menetapkan tantangan yang jauh lebih sulit jika kita memberi mereka sebuah pengendalian atas pembelajaran mereka daripada jika diserahkan saja kepada orang dewasa yang belum memahami makna bermain dan matematika yang sesungguhnya.

Intinya di sini bahwa bermain tidak hanya digunakan untuk membuat aktivitas menyenangkan. Ini mencakup proses logis dan membantu anak-anak mengkonfigurasi kejadian, hubungan dan koneksi. Sebuah permainan mencakup pemikiran, produksi, kreativitas, proses menemukan, secara bermakna.

BERMAIN MATEMATIKA

Anak-anak menggunakan aktivitas kehidupan sehari-hari dalam permainan mereka dan permainan ini juga mencakup pengalaman matematika. Permainan matematika mendorong anak-anak untuk memiilki kemampuan berpikir logis dan untuk mengerjakan pengetahuan prosedural seperti penambahan, pengurangan, perkalian dan fakta pembagian (Burton, 2010). Semua anak memiliki kemampuan untuk mendapatkan pengetahuan matematika dasar. Permainan matematika memiliki proses yang panjang. Holton dkk. (2001) mencatat bahwa selama bermain matematika anak-anak menggunakan pengetahuan mereka saat ini dan permainan matematika mengembangkan hubungan antara schemata saat ini dan saat permainan sedang berlangsung. Bermain matematika memperkuat pengetahuan saat ini dan membantu pemecahan masalah / aktivitas matematika di masa depan. Selama kegiatan bermain matematika, anak-anak menemukan berbagai jenis masalah sehari-hari dan mereka membangun beberapa

cara untuk mereka sendiri secara spontan. Oleh karena itu, permainan matematika mendukung pemikiran logis dan menciptakan lingkungan belajar yang hebat

Dalam beberapa tahun terakhir, pendidikan matematika menjadi penting di berbagai tingkat pendidikan. Apalagi teknik belajar menjadi penting juga. Belajar dengan bermain matematika mendukung pemikiran logis dan menawarkan masalah kehidupan sehari-hari. Ginsburg (2006) mencatat bahwa, ada beberapa jenis permainan matematika. Dia menentukan tiga jenis permainan matematika di matematika tertanam dalam bermain, termasuk matematika sehari-hari. Dalam jenis permainan ini terus berlanjut secara spontan. Kadang-kadang terus berlanjut selama aktivitas membaca buku, terkadang berlanjut dengan permainan lain-lain (Ginsburg, 2006). Anak-anak membawa matematika keseharian mereka dalam permainan mereka. Misalnya permainan mereka bisa menjadi kegiatan membaca buku. Dalam kegiatan ini setiap gerakan bisa dikaitkan dengan matematis. Mereka memegang buku dan jarak relatif bisa menjadi subjek bagi mereka. Ada begitu banyak contoh seperti ini

(3)

Referensi

Dokumen terkait

1) Bermain datang dari dalam diri anak artinya, keinginan bermain harus muncul dari dalam diri anak sehingga dapat menikmati dan bermain sesuai dengan caranya sendiri.

Pelaksanaan peningkatan keterampilan berbicara pada anak usia 4-5 tahun melalui metode bermain peran mikro di Pendidikan Anak Usia Dini Kasih Bunda Pontianak telah

3. Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan. Pendidikan anak dalam

Pembentukan anak untuk menjadi anak yang memiliki sikap sopan santun dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan di sekolah, di rumah, dan di lingkungan tempat tinggal anak

Pada penelitian ini telah dikembangakan produk berupa media bermain PVC Tubes dalam pembelajaran motorik anak usia 3-4 tahun: (a) pengembangan proses pengembangan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsepsi guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tentang konsep bermain sambil belajar bagi anak usia

Dari beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan tujuan pembelajaran sains untuk anak usia dini adalah agar anak memiliki kemampuan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari hari,

Guru diberikan kesempatan untuk penyesuaian dalam metode bermain peran, kemudian berdiskusi tentang jenis kegiatan bermain peran yang cocok untuk dikenalkan pada anak usia dini, serta