• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembelajaran Kontekstual Alternatif Baru. docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pembelajaran Kontekstual Alternatif Baru. docx"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Pembelajaran Kontekstual: Alternatif Baru

bagi Pembelajaran yang Bermakna

“Well, maybe it was just that I wasn’t going to like anybody because I had to work and I had to explain to my teachers why I wasn’t keeping up. I’d fall asleep and things in class and they’d lecture me about the reality of their classroom. I said, ‘You want to see my reality?’ I opened up my backpack to where you usually keep your pencils. That’s where I kept my bills… electric bills, rent… That was my reality.”

Eddie Vedder__

Latar Belakang

Permasalahan mendasar dalam dunia pendidikan formal dewasa ini adalah bahwa seringkali setiap siswa kurang mampu untuk dapat menarik keterhubungan antara apa yang sedang mereka pelajari di sekolah dengan realitas kehidupannya sendiri di rumah. Materi-materi yang disajikan secara terpisah dan kurang terintegrasi membuat setiap pelajaran menjadi tidak bermakna untuk dipelajari. Berangkat dari hal ini, berkembanglah pembelajaran kontekstual sebagai antitesa dari bentuk pembelajaran yang telah memisahkan antara materi dan konteks siswa menjadi bentuk pembelajaran yang mencoba mengintegrasikan keduanya sehingga pembelajaran dapat menjadi lebih bermakna.

Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) berkembang di Indonesia seiring dengan sorotan keprihatinan bahwa pendidikan konvensional yang selama ini berjalan telah menghasilkan output yang kurang maksimal dan memuaskan. Program pembelajaran yang lebih menitik-beratkan kepada penguasaan materi (content-base) melalui penyajian fakta-fakta terpisah yang harus dihafal dan diingat oleh para siswa dinilai kurang mempunyai signifikansi yang berarti bagi pembentukan keterampilan hidup (life skill) yang menjadi tujuan dari pendidikan nasional seperti pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta beragam keterampilan lain yang diperlukan diri siswa, masyarakat, dan bangsanya.

(2)

dan praktek, sedangkan rekonstruksi sosial telah memberi sentuhan kritis mengenai bagaimana beragam bentuk pendidikan yang ada dapat memberi sumbangan terhadap terciptanya bentuk masyarakat yang lebih baik.

Pergeseran landasan filosofis ini mengakibatkan adanya perubahan muatan kurikulum dari yang sebelumnya berbasis materi (Kurikulum 1994) menjadi berbasis kompetensi (Kurikulum Berbasis Kompetensi/ KBK, 2004) dan standar isi (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan/ KTSP, 2006), dan dalam bentuk paradigma pembelajaran dari yang sebelumnya berpusat kepada guru (teacher centered) menjadi berpusat kepada siswa (student centered). Di atas latar belakang inilah beragam metode pembelajaran yang inovatif seperti pembelajaran kontekstual /CTL menemukan momentumnya untuk berkembang di Indonesia.

Definisi Pembelajaran Kontekstual

Kata konteks berasal dari kata kerja Latin contexere yang berarti ”menjalin bersama”. Kata ”konteks” merujuk pula kepada keseluruhan situasi, latar belakang, atau lingkungan yang berhubungan dengan diri, yang terjalin bersamanya[1]. Dalam hal ini pembelajaran kontektual dapat dipahami sebagai sebuah bentuk pembelajaran yang bertujuan membimbing peserta didik melihat makna di dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subyek–subyek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka sendiri, baik dengan konteks keadaan pribadi, sosial, maupun budaya secara menyeluruh.

Menurut Johnson (2007)[2], pembelajaran kontekstual sejalan dengan prinsip cara kerja alam yang universal, yakni diferensiasi, kesalingbergantungan, dan pengaturan diri sendiri. Prinsip diferensiasi melihat siswa sebagai sekumpulan orang yang unik, sehingga guru bertugas untuk dapat mengangkap kekhasan potensi siswa, menyesuaikan cara belajar mereka, dan menyusun pembelajaran yang tuntas menyeluruh. Prinsip kesalingbergantungan melihat dialog dan kerjasama antar siswa dengan guru (pola transaksi) serta keterkaitan antara siswa, materi pelajaran, dan konteks yang menyertainya sebagai sesuatu yang penting dan menentukan. Dan kemudian prinsip pengaturan diri sendiri, melihat setiap siswa dapat mengorganisasikan dirinya sendiri saat berpartisipasi aktif dalam setiap proses pembelajaran. Selanjutnya ketiga prinsip pokok ini akan melandasi tujuh komponen dalam pembelajaran kontekstual yang sudah mulai dirumuskan oleh pemerintah.

Tujuh Komponen Pembelajaran Kontekstual

(3)

konstruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian autentik.

1. Konstruktivisme (constructivism)

Landasan berpikir yang cukup lama mendominasi pola pendidikan formal di tanah air adalah pandangan positivisme-behaviorisme yang melihat pengetahuan sebagai sesuatu yang objektif, bebas nilai, dan pada akhirnya dapat ditransmisikan. Dalam proses pembelajaran, pandangan ini telah membentuk sistem pengajaran yang lebih menekankan kepada upaya pemindahan pengetahuan dari guru kepada siswa, dan melihat bahwa apa yang bisa dievaluasi adalah perilaku yang tampak, sehingga ‘proses’ pembelajaran sebagai dimensi yang abstrak menjadi sesuatu yang terabaikan. ‘Akhirnya keberhasilan belajar siswa diukur atau dievaluasi secara kuantitatif untuk mengetahui berapa besar aspek kognitif atau pengetahuan yang telah dapat diserap, dan bukan pada aktifitas dalam proses pembelajaran, sikap dan kepribadiannya’[3]

Berangkat dari pandangan tradisional tersebut, kini telah berkembang sebuah landasan berpikir sekaligus pendekatan belajar modern yang bernama konstruktivisme. Pada prinsipnya sudut pandang konstruktivisme memandang bahwa setiap pengetahuan yang dimiliki oleh siswa bukanlah hasil pemindahan pengetahuan (transfer of knowledge) dari seorang guru, namun adalah sebuah proses konstruksi yang dilakukan secara aktif oleh siswa di dalam benaknya sendiri. ”Menurut teori konstruktivis ini, satu prinsip yang paling penting dalam pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya.”[4]

Pendekatan konstruktivisme mensaratkan sebuah bentuk pembelajaran yang berpola transaksi (dialog aktif antara siswa dan siswa, dengan guru). Dialog merupakan proses terpenting dalam upaya untuk membangun pengetahuan pada setiap diri siswa. Guru bertindak bukan sebagai pusat pengetahuan, namun sebagai fasilitator pembelajaran yang akan menyediakan beragam informasi dan konteks untuk selanjutnya diproses secara aktif oleh setiap siswa.

2. Inkuiri (inquiri)

Inkuiri adalah bentuk belajar dimana para siswa menyelidiki sendiri pengetahuan apa yang hendak mereka peroleh. Sejalan dengan pendekatan konstruktivisme, model inquiri melihat pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh oleh siswa diharapkan bukan hasil dari mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Gulo (2002)[5] menyatakan strategi inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis., logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Oleh karena itu sasaran utama kegiatan inkuiri adalah: (1) keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar; (2) membuat kegiatan yang terarah secara logis dan sistematis pada tujuan pembelajaran; dan (3) mengembangkan sikap percaya diri siswa.

3. Bertanya (questioning)

(4)

yang telah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui. Menurut Mc Donald (1996)[6] para peneliti pendidikan seperti Kemmis dan Fitzclarence, (1986), Carr and Kemmis, (1990), dan Lovat (2004) telah menyusun tiga bentuk pertanyaan untuk mengembangkan proses inkuiri yang dikembangkan dari ways of knowing model Habermas. Tiga bentuk pertanyaan tersebut adalah pertanyaan-pertanyaan yang bersifat teknis (technical question), pertanyaan interpretatif (interpretative question) dan pertanyaan emansipasipatoris (emancipatory question). Pertanyaan teknis akan berkisar pada pertanyaan yang bersifat faktual tentang nama sesuatu beserta atribut yang mengikutinya. Pertanyaan interpretatif berkisar pada cara siswa melihat sesuatu dan melakukan interpretasi terhadap bagaimana dan mengapa sesuatu itu terjadi. Sedangkan pertanyaan emansipatoris difokuskan kepada isu-isu mengenai pengaruh kuasa dan bias interpretasi atau subjektifitas pada sesuatu yang sedang dipelajari. Pemetaan ketiga bentuk pertanyaan tersebut dimaksudkan untuk dapat mendorong konten dialog yang lebih berkualitas daripada sekedar membicarakan pertanyaan-pertanyaan teknis yang hanya bersifat faktual semata. Kemudian dalam hal ini Dalton (1990), menambahkan gagasan mengenai strategi bertanya divergen. Menurut Dalton, keterampilan bertanya divergen adalah keterampilan bertanya yang open-ended. Dalam hal ini jika dihadapkan pada suatu masalah, siswa dapat mengeksplorasi masalah tersebut melalui pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya divergen sehingga akan terbentuk suatu pemikiran lain (pemikiran yang kreatif) untuk menjawab permasalahan tersebut. Apabila siswa dibiasakan oleh guru mengembangkan pertanyaan yang sifatnya divergen, maka proses berpikir siswa akan berkembang lebih jauh dan mendalam, tidak hanya sekedar menerima fakta dan menghafal fakta yang diberikan oleh guru. Di sini peran guru sangat menentukan untuk membimbing proses pembelajaran menjadi lebih terbuka dan kreatif.

4. Masyarakat Belajar (learning community)

Pembelajaran kontekstual menyarankan guru untuk dapat mendesain bentuk pembelajaran yang membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar. Prinsip diferensiasi dan kesalingbergantungan memandang bahwa siswa akan lebih efektif belajar apabila ditempatkan pada sebuah kelompok heterogen yang saling bekerjasama. Masyarakat belajar itu sendiri tidak hanya terbatas kepada sebuah kelompok belajar di dalam kelas. Masyarakat belajar yang dimaksud bisa berasal dari manapun selama mereka dapat berbagi ide dan bertukar pengalaman yang berarti.

5. Pemodelan (modeling)

(5)

6. Refleksi (reflection)

Refleksi dalam hal ini adalah memikirkan dan merenungkan apa yang telah kita pelajari. Refleksi berkenaan dengan upaya untuk mengendapkan pengetahuan atau informasi yang baru diterima ke dalam ingatan jangka panjang melalui penyusunan kerangka yang bermakna dalam struktur kognitif. Guru dapat mendorong siswa untuk melakukan refleksi dengan cara: 1. meminta siswa membuat pernyataan langsung tentang apa yang telah diperolehnya hari itu (setelah proses pembelajaran berlangsung); 2. Meminta siswa untuk membuat catatan atau jurnal di buku harian mereka; 3. Meminta siswa mengutarakan kesan dan saran mengenai pembelajaran yang telah dilakukan; 4. Memulai kegiatan diskusi, dan; 5. Meminta siswa untuk menyajikan hasil karya, produk belajar, dan lain-lain.

7. Penilaian Autentik (authentic assesment)

Pada prinsipnya penilaian autentik adalah penilaian yang ditujukan kepada kinerja siswa di dalam proses pembelajaran. Penilaian model ini tidak dilakukan di akhir periode pembelajaran untuk mengukur hasil belajar semata, tetapi dilakukan secara terintegrasi sepanjang berlangsungnya proses pembelajaran. Penilai tidak hanya guru, tetapi bisa juga teman lain atau orang lain. Karakteristik penilaian autentik adalah sebagai berikut: (a) dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung; (b) mengukur keterampilan dan penampilan atau kinerja; (c) dilakukan secara berkesinambungan dan terintegrasi. Contoh alat ukur dalam mengases kinerja siswa antara lain melalui pedoman wawancara, pedoman observasi, pedoman diskusi, angket (kuesioner), skala sikap, daftar isian (checklist), dan lain sebagainya yang dapat diakumulasikan oleh guru ke dalam sebuah format portofolio.

Pada akhirnya, pembelajaran kontekstual dapat terlaksana secara efektif apabila seluruh stake holder di tingkat satuan pendidikan (sekolah) mempunyai komitmen untuk dapat menerapkan pendekatan-pendekatan belajar yang inovatif bagi para siswanya. Pendekatan belajar inovatif seperti pembelajaran kontekstual yang telah melangkahi bentuk pendidikan konvensional diharapkan dapat menepis beragam kritik terhadap dunia pendidikan formal. Kritik yang di antaranya diwakili oleh ungkapan Eddie Vedder di awal tulisan ini, bahwa ‘sekolah adalah anti realitas’. Jika pembelajaran kontekstual dapat berkembang dengan baik, tidak ada lagi orang yang akan berkata bahwa sekolah itu anti realitas, karena sekolah adalah realitas itu sendiri.

Literatur Lanjutan

Johnson, B. Elaine. (2007). Contextual Teaching & Learning. Jakarta: MLC

Lie, A. (2002). Cooperative Learning: Mempraktekkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta: PT. Grasindo

(6)

Trianto. (2007). ”Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik”. Jakarta: Prestasi Pustaka

Zainul, Asmawi. (2001). Alternative Assessment. Jakarta: UT

[1] Webster’s New World Dictionary (1968) dalam Winayarti, Erlina. (2010) “Model Pembelajaran Kontekstual dalam Pengembangan Pembelajaran Sejarah”

[2] Johnson , B. Elaine. (2007). Contextual Teaching & Learning. Jakarta: MLC

[3] Wiriaatmadja (2001) dalam Supriatna, Nana. (2007). Konstruksi Pembelajaran Sejarah Kritis. Bandung: HUP

[4] Trianto. (2007). Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka

[5]ibid

Referensi

Dokumen terkait

Mesin ini dapat membuat lidi bambu dengan ukuran yang seragam dalam waktu yang singkat, sehingga untuk membuat tirai bambu atau landasan saji akan lebih cepat,

Anak Berkesulitan Belajar , (Cet.. perhitungan dan ketelitian yang akurat, matematika memegang peranan yang penting untuk semua itu. Sebagai ilmu dasar, matematika

Pada tahap ini peneliti dan guru kelas melakukan pengamatan pelaksanaan tindakan kelas untuk mengetahui kegiatan guru dan siswa ketika mengikuti pembelajaran

Nije zbog toga neobično da ta proslava svake godine izaziva i negativne reakcije onih koji drugačije gledaju na događaje iz srpnja 1941.. Vrhunac je takva

Berdasarkan hasil pembuatan alat pengukur kadar garam dalam kuah makanan pada proyek akhir ini, dapat disimpulkan bahwa:?. Perubahan tegangan pada dalam air garam dan air murni

maka seharusnya terkait dengan pilihan energi primer untuk dibangkitkan ini dapat mengacu kepada target bauran energi yang secara indikatif telah ditetapkan dalam Rencana Umum

sedangkan perusahaan yang memiliki risiko finansial yang rendah adalah PT. Risiko finansial yang tinggi mengindikasikan bahwa proporsi hutang PT. Barito pada tahun 2012 lebih

Namun, mereka telah menyadari bahwa media masa di samping sebagai alat penyampai berita kepada para pembacanya dan menambah pengetahuan, juga punya peran penting dalam menyuarakan