• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kemunduran dan kehancuran kerajaan safaw

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kemunduran dan kehancuran kerajaan safaw"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Kemunduran dan kehancuran kerajaan safawiah

Bentuk-bentuk institusi kenegaraan, kesukuan dan institusi keagamaan safawiah yang telah di ciptakan oleh Abbas 1 telah mengalami perubahan secara mencolok pada akhir abad tujuh belas dan awal abad ke delapan belas. Jika kencnderungan abad enam belas dan abad tujuh belas pada memperkuat kekuasaan negara dan pembentukan keagamaan kalangan Syiah, maka pada priode berikutnya mengantarkan pada sebuah kemunduran yang tajam bagi kerajaan Safawiah, kehancurannya yang parah terjadi pada pasukan kesukuan, dan penglepasan islam syiah dari kekuasaan terhadap negara.1

Kemunduran pemerintah pusat telah berlangsung sepeninggalan Abbas 1. Untuk menghindari pertempuran singkat antara pihak-pihak yang berlangsung menduduki tahta kekuasaan, maka beberapa generasi pada sultan safawiah yang sedang berkuasa mengikat diri pada harem dan lingkungan istana, dan mereka dinobatkan dengan pendidikan rendah dan sedikit pengalaman dalam kehidupan bersama khalayak. Setelah Abbas 1, tidakada seorangpun yang memiliki visi kecakapan atau sebagaimana Abbas. Lebih-lebih, setelah perjanjian pihak usmani pada tahun 1639 M., pasukan militer safawiyah terbengkalai dan terpecah menjadi sebuah resimen kecil dan lemah. Pada akhir abad tujuhbelas, pasukan militer Safawiyah tidak lagi sebagai sebuah mesin militer yang berguna. Administrasi pusat juga mengalami perpecahan, dan beberapa prosedur penertiban pajak dan distribusi pendapatan negara tidak dapat terkendali. Melemahnya pemerintahan pusat memungkinkan bangkitnya kepemingpinan uymaq dan sejumlah pemberontakan melawan otoritas Safawiyah. Pada abad delapan belas iran telah dilanda kondisi anarkis. Diantara pihak yang memperebutkan kekuasaan politik yang paling besar adalah Razim Afghar, Afshar, Zand, dan Qajar. Pada tahun 1722 M., Ghalzi Afghan mengambil alih kekuasaan atas Isfahan, ibukota Safawiyah. Selanjutnya Iran diserang oleh Usmani dan Bangsa Rusia yang berbatasan dengannya, yang pada tahun 1724 M. Bersepakat membagi Transcaucasia dimana pihak usmani mendapatkan kekuasaan atas Armenia dan beberapa wilayah Azrebaijan, sedangkan Rusia menerima beberapa propinsi laut Caspia di jilan, Mazandaran dan Astrabad.2

Bersamaan dengan razim Afghan dan Usmani mengusasi wilayah bagian selatan sedang pihak razim Rusia dan Usmani menguasasi wilayah bagain urata, maka Nadir, seorang penguasa razim Ashfariyah dari keturunan Chaghatay, mengambil alih kekuasaan. Nadir

(2)

mengalahkan pertahanan Safawiyah yang terakhir, dan bergelar sebagai Syah Iran. Upaya yang di tempuhnya tidak hanyamenyerupai penjajahan pasukan Bonaparte tepapi sekaligus juga berusaha menghubungkan tradisi pertahanan bangsa Turki diperbatasan Iran Timur terhadap pemerintahan pusat iran dan etnik pemerintahan persia. Selama beberapa Abad, sekelompok penduduk wilayah perbatasan, yang persis menyerupai Cossak di beberapa wilayah bgurun Rusia, bergerak diantara beberapa kekuatan yang lebih besar dan tepat menghidupkan beberapa aspirasinya untuk berjuang menegakan sebuah Khan Chaghatay dan identitas Sunni.3

Nadir Syah digantikan oleh Karim Khan, pimpinan koleksi kelompok kesukuan zand di Iran barat, yang mana rezim ini berlangsung secara efektif dari 1750-1779 M. Pada ujung-ujungnya rajim ini memberikan jalan bagi kelompok Qajar yang semula adalah-tokoh-tokoh Turki yang mengabdi pada rezim Safawiyah, dan beberapa gubernur lokal Di Mazandaran dan Astrabad. Pada tahun 1779 M kelompok Qajar ini mengalahkan Zand dan mendirikan sebuah kerajan yang berlangsung hingga tahun 1924 M4

Kehancuran negara iran pada abad ke 18 menimbulkan implikasi terhadap sejarah hubungan antara rezim negara dan elit keagaman. Ia melahirkan klaim otonomi kalangan Syiah yang bersifat laten untuk tampik kedepan. Beberapa awal yang di tempuh bersama dengan pengukuhan konsep militernya Syi’i bahwasannya imam tersembunyi pastilah akan menegakkan sebuah pemerintahan pribadinya kelak pada akhir Zaman. Konsef ini meniadakan sifat definitif atas setiap bentuk komitmen terhadap negara.5

Selain hal tersebut di atas, pada abad ke 17 beberapa kalangan syiah tidak lagi mengakui bahwa Safawiyah telah mewakili pemerintahaan sang imam tersembunyi. Pertama, ulama muali mwlakukan otoritas Syah yang berlangsung secara turun temurun tersebut sebagai penanggung jawab pertama pewarisan sifatismah (Sifat terlepas dari kesalahan dan dosa). Meskipun menurut teori syiah, pewarisan bersifat biologis tidak memadai tanpa didukung oleh wasiat pengangkatan (nashsh) yang menetapkan siapakah diantara anak keturunan yang akan berhak mewarisi otoritasnya. Kedudukan Safawiyah menhadi sedemikan lemah karena mereka tidak mampu memperlihatkan keabsahannya melaluwi wasiat pengangkatan tersebut. Kedua, selaras dengan keyakinan syiah “duabelas”, bahkjan semenjak masa “keghaiban besar” tahun 941 sang imam tersembunyi tidak lagi terwakili di mukabumi oleh ulama.

(3)

Selanjutnya ulama mengesahkan bahwasnya mujtahid (kalangan ulama yang cukup untuk mencapaikan berbagai keputusan hukum secara mandiri) menduduki otoritas keagaman yang tertinggi. 6

Dari invasi mongol sampai kepada kehancuran imperium safawiyah, sejaraniran ditandai dengan kontinuitas dan transformasi pola-pola dasar negara, agama, dan kemasyarakatan yang diwarisi dari priode saljuk. Dari priode saljuk, rezim mongol, Timuryah dan Safawiyah mewarisi sebuah tradisi pemerintahan monarki yang memusat dan berusaha memperkokoh kekuasaan pemerintah pusat dengan menggeser kedudukan para penakluk dari kalangan kesukuan dan Uymaq kepada pasukan militer budak dan administrasi pemerintahan yang semi terpusat. Meskipun demikian, invansi turki dan mongol telah mengkonsolidasikan secara peranan unsur uymaq dan pasukan kesukuan di dalam masyarakat iran, dan seluruh raja diharuskan bersekutu berdasarkan kerjasama politik antar tokoh uymaq dan tokoh kesukuan dan berdasarkan bentuk-bentuk iqta (atau tuyul) dalam hal administrasi pajak dalam mengefektifkan pemerintahan mereka.7

Kerisis abad 18 mengatakan pada berikutnya sejarah iran pramoderen. Hampir diseluruh wilayah muslim, priode pramoderen yang berakhir dengan intervensi, penaklukan bangsa Eropa, dan pembentukan beberapa razim kolonial, maka dalam halini konsolidasi ekonomi dan pengaruh politik bangsa Eropa telah diduduki dengan kehancuran imperium Safawiyah dan dengan riberalisme Ulama. Demikian rezim Safawiyah telah meninggalkan warisan kepada iran moderen berupa tradisi persia perihal istem kerajaan yang agung, yakni sebuah rezim yang di bangun berdasarkan kekuatan uymaq atau unsur-usnsur kesukuan yang utama, dan mewariskan sebuah kewenangan keagaman Syiah yang kohesif, monolitik dan mandiri.8

Kehancuran kerajan Safawiyah disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Internal bahwa sepeninggalan abbas 1 kerajan safawiyah berturt-turut di perintah oleh enam raja yaitu safi mirza (1628-1642 M) abbas 2 (1642-1667M) Sulaiman (1667-1694M). Husain (1694-1722M). Thahmasp II (1722-1732 M) dan abbas III (1733-1726 M). Pada msa-masa tersebut hustru memperlihatkan kemunduran yang akhirnya membawa kehancuran.9

Sufi Mirza, cucu abbas I, adalah seorang pimpinan yang lemah. Ia sangat kejam terhadap pembesar-pembesar kerajaan karena sifat cemburuannya. Kemajuan yang di capai oleh Abbas

(4)

I segera menurun,, kota Qandahar (sekarang termsuk wilayah Afghanistan) lepas dari kerajaan Safawiyah, diduduki oleh kerajaan Mughal yang ketika itu diperintah oleh Sultan Syah Jehan, sementara Bagdad direbut oleh kerajaan Usmani. Abas II adalah raja yang suka berminum-minuman keras sehingga ia jatuh sakit dan meninggal. Meskipun demikian, dengan bantuan wazir-wazirnya, pada masa itu kota Qandahar dapat di tebut kembali. Sebagai mana Abbas II, Sulaiman juga seorang pemabuk. Ia bertindak kejam terhadap pembesar yang dicurigainya. Akhirnya rakyat berkikap masa bodoh terhadap pemerintah, iya di gantikan oleh Husien yang alim. Pengganti Sulaiman ini memberi kekuasan yang besar kepada para ulama syah yang sering memaksakan pendapatannya terhadap penganut aliran sunni.sikap ini membuktikan kemarahan golongan sunni Afghanistan.10

Pemberontakan bangsa afghan tersebut terjadi pertama kali pada tahun 1709 M di bawah pimpinan Mir Vayas yang berhasil merebut wilayah Qandahar. Pemberontakan lainnya terjadi di Herat, suku Ardabil Afghanistan berhasil menduduki Mashad. Mir Vays diganti oleh mir Mahmud sebagai penguasa Qahdahr, ia berhasil mempersatukan pasukan dengan pasukan Ardabil. Dengan kekuatan gabungan ini, Mir Mahmud berusaha memperluas wilayah kekuasaannya dengan merebut negri-negri afghan dari kekuasaan safawi. Ia banjan berusaha menguasai negara.11

Karena desakan dan ancaman Mir Mahmud, Shah Husien akhirnya mengakui kekuasaan Mir Mahmud dan mengangkatnya sebagai gubernur di Qandahar dengan gelar Husien quli Khan (budak Husien). Dengan pengakuan ini Mir Mahmud lebih leluasa bergerak. Pada tahun 1721 M. Ia dapat merebut Kirman. Tak lama kemudian. Ia dapat pasukannya menyerang isfahan, mengepungnya selama enam bulan dan memaksa Shah Husein untuk menyerah tanpa syarat. Pada tanggal 12 Oktober 1722 M Shah Husein menyerah dan 25 Oktober Mir Mahmud memasuki kota isfahan dengan penuh kemenangan.12

Salah seorang putra Husein, bernama Thahmasp II, dengan dukungan dengan penuh suku Qazar dan Rusia, memprollamasikan dirinya sebagai raja yang sah dan berkuasa atas persia dengan pusat kekuasannya di kota Astarbat. Pada tahun 1726 M Thahmasp II bekerja sama dengan Nadir Khan dari suku Afshar untuk memerangi dan mengusir bangsa Afghan yang menduduki Isfahan, Asyarf, pengganti mir Mahmud, yang berkuasa di Isfahan digempur dan dikalahkan oleh pasukan Nadir Khan tahun 1729 M. Syaraf sendiri tebunuh dalam

(5)

peperangan itu. Demngan demikian, kerajaan safawiyah kembali berkuasa. Namun pada bulan Agustus 1723 M Thahmasp II dipecat Nadir Khan dan digantikan oleh Abbas III (anak Thahmasp II) yang ketika itu yang masih sangat kecil. Empat tahun setelah itu, tepatnya 8 Maret 1736 M, nadir Khan mengangkat dirinya sebagai raja mengganrikan abbas III dengan demikian, berakhirlah kerajan Safawiah di persia.13

Penyebab lainnya adalah dekadensi moral yang melanda sebaian para pimpinan kerahaan Safawiah. Ini turut mempercepat peroses kehancuran kerajaan tersebut. Sulaiman, di semping penadu berat narkotika, juga menyenangi kehidupan malam beserta marem-haremnya selama tujuh tahun tanpa sekalipun menyampaikan diri menengani pemerintahan. Begitu juga Sultan Husein.14

Penyebab pentingn lainnya adalah karena pasukan ghulam (budak-budak) yang dibentuk oelh Abbas I tidak memilikisemangat seperti Qizilbasy. Halini disebabkan karena pasukan tersebut tidak disiapkan secara terlatih dan tidak melalui peroses pendidikan rohani yang dialami oleh Qizilbasy. Semenrata itu, anggota Qizilbasy yang beru ternyata tidal memiliki militasi dan semangat yang sama dengan Qizilbasy sebelumnya.15

Faktor eksternal di antara sebab-sebab kemunduran dan kehancuran kerajaan Safawiyah ialah konplik berkepanjangan dengan kerajaan Usmani. Bagi kerajaan Usmani, berdirinya kerajaan Safawiyah yang beraliran Siyah merupakan ancaman langsung bagi wilayah kekuasaannya. Konflik antara dua kerajan tersebut berlangsung lama, meskipun pernah berhenti sejak ketika tercapai perdamayan pada Syah Abbas I. Namun, tidak lama kemudian, Abbas meneruskan konfilk tersebut, dan setelah itu dapat dikatakan tidak adalagi perdamaian antara kedua kerajaan islam itu.16

Dafus

Abu Hnif Drs. M.Hum. Abd. Rahim Yunus, Prof. Dr. H. M.A. Sejarah Islam Pertengahan

Yogyakarta: Ombak, 2013

Referensi

Dokumen terkait

Pencemaran air pada sungai Way Tomu dan sungai Way Lela Wilayah Pesisir Kota Ambon khususnya pada bagian muara (hilir) sungai dapat terjadi sebagai akibat

1.) Konsep penciptaan yaitu membuat karya kriya keramik berupa wadah payung, wadah majalah, dan vas dengan ornamen kelelawar. Bahan yang digunakan yaitu tanah liat Malang. Teknik

Siswa enggan menjawab pertanyaan dari guru, tidak mau memberikan tanggapan atau menceritakan kembali pengalaman belajar yang di alami, kegiatan berbicara menjadikan siswa

Karena Ilmu Shorof bagian dari Ilmu Nahwu, yang ditekankan kepada pembahasan bentuk kata dan keadaannya ketika mufrodnya Jadi secara garis besar, pembahasan Nahwu mencakup

Disini di Perumahan Grha Revata Tulungagung pemberian upah atau gaji masih menggunakan sistem pemberian upah profesionalitas pekerja, jadi sistem ini sering

• Supply chain adalah jalur yang memfasilitasi arus sumber daya fisik dari pemasok ke perusahaan dan kemudian ke pelanggan.. • Supply chain management mengelola sumber daya

permasalahan dalam pengajaran bahasa Jerman. 3) Mengurus surat ijin penelitian ke SMA Pasundan Cikalong Cianjur.. 7) Melakukan pretest untuk mengetahui kemampuan awal siswa.

Metode kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, di mana peneliti adalah sebagai instrument kunci, teknik