• Tidak ada hasil yang ditemukan

Filsafat dan politik hukum Islam tentang (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Filsafat dan politik hukum Islam tentang (1)"

Copied!
172
0
0

Teks penuh

(1)

FILSAFAT DAN POLITIK HUKUM ISLAM TENTANG PERBANKAN SYARIAH

Kajian Filsafat dan Politik Hukum Islam Bagi Perkembangan Perbankan Syariah Di Indonesia

PRODI HUKUM ISLAM PROGRAM PASCASARJANA UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG 2015

يعرشلا كنبلا نع يماسإا عيرشتلا ةسايسو ةفسلفلا

( ايسين دنإ ىف يعرشلا كنبلا ري طتل يماسإا عيرشتلا ةسايس ةفس فلا ا سإ نع ثحب )

THE PHILOSOPHY AND ISLAMIC POLITICAL LAW ON SHARIA BANK

A Study on The Philosophical And Islamic Political Law to Development of Sharia Bank In Indonesia

Wahyudin Darmalaksana

(2)

Latarbelakang Masalah

MEKANISME PASAR GLOBAL

PERGERAKAN EKONOMI SYARIAH DUNIA INTERNASIOANAL

UJICOBA SHARIA BANK

(PENERAPAN ISLAMIC WINDOWS DI BERBAGAI BELAHAN DUNIA)

AKOMODASI SYARIAT ISLAM (TRANSFORMASI FIQIH MUAMALAH KE DALAM SISTEM HUKUM NASIONAL)

REGULASI PENGEMBANGAN SISTEM PEREKONOMIAN NASIONAL SELARAS DENGAN KEBIJAKAN AKSELERASI EKONOMI INDONESIA

DEMOKRASI EKONOMI PANCASILA

SISTEM

(3)

Perumusan Masalah

Penalaran

FALSAFAT AL-

TASYRI‟ ,

yang menjadi

dasar pembentukan teori dan sistem

ekonomi syariah, dalam transformasinya ke

dalam sistem hukum perbankan nasional,

membutuhkan dukungan S

IYASAT AL-

SHAR‟I,

yang

kontributif bagi perkembangan perbankan

(4)

Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana hakikat ekonomi Islam berdasarkan

falsafat

al-tasyri

?

2. Bagaimana realitas gerakan perekonomian Islam

menurut

siyasah

al-

syar‟i

?

3. Bagaimana sistem Undang-Undang No. 21 Tahun 2008

dilihat dari aspek substansi, struktur dan kultur hukum?

4. Bagaimana dinamika perubahan fatwa DSN-MUI

mengenai kepatuhan syariah (

syariah compliance

)?

5. Bagaimana asas konkordansi Islam dan Pancasila tentang

perbankan syariah?

6. Bagaimana kajian filsafat dan politik hukum Islam

tentang perkembangan perbankan syariah di Indonesia?

(5)

Kerangka Pemikiran

TEORI CREDO (SYAHADAT) ONTOLOGI HUKUM ISLAM LANDASAN DASAR

EKONOMI SYARIAH

TEORI LEGAL SYSTEM

(Substansi, Struktur, Kultur dan Dampak Hukum)

PENEGAKAN SISTEM PERBANKAN SYARIAH

TEORI PERUBAHAN FATWA IBN AL-QAYYIM DENGAN PARADIGMA HUKUM IBN TAIMIYYAH DAN TUJUAN HUKUM JUMHUR ULAMA PADA DINAMIKA FATWA HUKUM PERBANKAN SYARIAH APLIKASI KAIDAH-KAIDAH FIQIH MUAMALAH PELAKSANAAN / KEPATUHAN HUKUM PERBANKAN SYARIAH Grand Theory

Midle Range Theory

Applicative Theory

Tinjauan Pustaka

(6)

Metodologi Penelitian

Langkah-Langkah:

1. Inventarisasi 2. Identifikasi 3. Klasifikasi 4. Sistematisasi

5. Interpretasi dan konstruksi Hukum

Analisis Data:

Deduktif & Induktif

Sumber Data

1. Primer:

Teks Suci, Undang-Undang, Fatwa 2. Sekunder:

Buku, Jurnal, Malakah, Laporan (Dokumen)

Alat Pengumpulan Data:

Book Review

Pendekatan:

Teleologis, Filosofis, Historis

(7)

1. Hakikat Ekonomi Islam

Epistemologi Filsafat Hukum Islam

Metodologi Ushul Fiqih

Metode Qiyas Shar‟i

Prinsip-Prinsip Umum Ekonomi Syariah

Prinsip-Prinsip Dasar Kepemilikan

Prinsip-Prinsip Dasar Produksi, Distribusi, Konsumsi

Argumen

Teologis (Sumber Dasar Hukum Islam) dan Filosofis (Signifikansi Ilmu Ekonomi Islam)

Postulat-Postulat Ekonomi Islam Gejala-gejala ekonomi Realitas Empirik HAKIKAT EKONOMI ISLAM Produksi

Ilmu Ekonomi Syariah berkarakter Dogmatik dan sekaligus Objektif

(8)

2. Gerakan Perekonomian Dunia Islam Hub. Internasional Ketatanegaraan Politik Ekonomi vs GERAKAN PEREKONOMIAN DUNIA ISLAM OKI-IDB

AGENDA DUNIA ISLAM: ISLAMISASI INSTITUSI EKONOMI

NEGARA-NEGARA MUSLIM

MEKANISME PASAR GLOBAL SISTEM EKONOMI ISLAM

PINTU MASUK DI INDONESIA: SISTEM PERBANKAN

BERKETUHANAN YANG MAHA ESA

PERTIMABANGAN PEMBENTUKAN

UNDANG-UNDANG NO. 21 TAHUN 2008 TENTANG PERBANKAN SYARIAH: Filosofis, Sosiologis, Karakter Khusus dan Yuridis.

PERSPEKTIF POLITIK HUKUM ISLAM

UJICOBA SHARIA BANK NEGARA-NEGARA NON-MUSLIM

MEKANISME PASAR BEBAS SISTEM EKONOMI KAPITALIS

PENGATURAN MONETER INTERNASIONAL Politik Akomodasi Pengembangan Sistem Ekonomi SISTEM PERBANKAN KONVENSIONAL SISTEM PERBANKAN SYARIAH

SISTEM PERBANKAN NASIONAL

Diplomasi (mu‟ahadah) Transformasi

(9)

3. Penegakan Sistem Hukum Perbankan Syariah

SUBSTANSI HUKUM:

Ambiguitas sistem, konsekuensi dual system, dan adanya gap (ketimpangan) antara substansi hukum dan benak masyarakat, konsekuensi pembentukan Undang-Undang perbankan syariah lebih didasarkan pada mekanisme pasar global.

STRUKTUR HUKUM:

Terjadinya

overlapping struktural baik otoritas maupun kompetensi,

konsekuensi belum diakomodasinya strukturisasi sistem secara keseluruhan sesuai syariat Islam (full fledged Islamic financial system).

KULTUR HUKUM:

Kurangnya partisipasi potensi basis pendukung sosio-kultur masyarakat, konsekuensi pertimbangan pembentukan Undang-Undang perbankan syariah lebih bertumpu pada tinjauan statistik

dan motif politik tanpa memerhatikan akar historis dan sosiologis perekonomian masyarakat lokal.

DAMPAK :

1. Terjaminnya kepastian hukum; 2. Tersedianya ketetapan kepatuhan

syariah;

3. Institusi bisnis perbankan syariah mengalami perkembangan.

4. Perkembangan Perbankan Syariah belum sesuai dengan Maqasid al-Syariah dan amanat Pancasila.

PENEGAKAN SISTEM

UNDANG-UNDANG NO. 21 TAHUN 2008

TENTANG

(10)

4. Dinamika Fatwa DSN-MUI Tentang Perbankan Syariah

METODOLOGI:

Ijtihad jama‟i adopsi ijma‟ kontemporer Forum Ulama Internasional

POLEMIK:

Pengakuan keuntungan pembiayaan akad

murabahah dengan Metode Anuitas

PRODUKTIFITAS:

Fatwa DSN-MUI dominasi mustafti pebisnis Bank Syariah untuk permohonan keleluasaan pembiayaan akad Murabahah

barang-barang konsumsi.

IMPLIKASI:

1. Terbentuknya perbankan syariah impor dari diskursus dunia internasional Islam; 2. Tidak terperhatikannya sektor-sektor

produktif dan terciptanya orientasi kepada pembiayaan akad murabahah yang membuka jalan terbentuknya perilaku masyarakat konsumtif;

3. Pengakuan metode anuitas: a) marjinalisasi metode proporsional; b) Bergesernya moda jual beli ke pembiayaan; c) Berubahnya murabahah murni ke penyesuaian

konvensional; d) Bergesernya akuntansi teologis-humanis ke akuntansi materialis-kapitalis; e) Kelangsungan riba khafi yang potensial mengarah ke riba jali; f)

Maksimalisasi perkembangan perbankan syariah secara agresif.

(11)

5. Asas Konkordansi Pancasila dan Perbankan Syariah

HAKIKAT EKONOMI

Esensi Demokrasi Ekonomi Pancasila Bernilai Moral Luhur Bangsa Bereksistensi Kultur Lokal Indonesia

Esensi Ekonomi Universalitas Syariat Bernilai Keadilan Tinggi Ilahi

Bereksistensi Humanis Temporal

ASAS

KONKORDANSI Amanat PANCASILA

Ekonomi Berketuhanan Yang Maha Esa

Tuntutan SYARIAT

Ekonomi Syahadat (Tauhidullah)

POLITIK EKONOMI NASIONAL

Ekspresi Ideologi Islam, Agenda-agenda Islamisasi,

Sistem Ekonomi Normatif-Dogmatis, Baitul Mal Manifestasi Keemasan Islam Ekspresi Ideologi Pancasila,

Anasir-anasir Demokrasi, Sistem Ekonomi Kapitalis-Sosialis, Koperasi Sokoguru Ekonomi Indonesia

SISTEM PERBANKAN

TUNTUTAN SYARIAT & AMANAT PANCASILA:

Terciptanya kondisi Adil, Rahmat, Maslahat, dan Bijaksana Sejahtera Lahir dan Batin

(12)

6. Kontribusi Bagi Perkembangan Perbankan Syariah RESTRUKTURISASI INSTITUSIONAL PERBANKAN “ISLAMI PANCASILAIS”

FALSAFAT AL-TASYRI’

EMPIRIKAL

SIYASAT AL-SHAR’I

SOSIO-KULTUR

PARADIGMA EKONOMI ISLAM

PENYALURAN DANA: Bagi hasil produktif sektor-sektor riil, Infrastruktur Ekonomi Ummat,

Penguatan Ekspor, Dll. PENGHIMPUNAN DANA:

Zakat, Infak, Shadaqah, CSR, Dana Abadi Ummat, Wakaf, Dll.

OPERASI POLITIK:

Keseimbangan Produksi dan Konsumsi

Tuntutan SYARIAT dan amanat PANCASILA MASYARAKAT SEJAHTERA LAHIR DAN BATIN

Hubungan Diplomatik,

Civil Society, Tanzim

kelembagaan ekonomi ummat.

Pendidikan Ekonomi Islam, Laboratorium, Lembaga Ijtihad

FILSAFAT DAN POLITIK HUKUM ISLAM TEOLOGIS-HUMANIS

EMPIRIKAL UNTUK

PENGEMBANGAN

(13)

Kesimpulan

1. Hakikat ekonomi Islam sebenarnya hendak berdialog dengan gejala-gejala ekonomi untuk mengatasi kelangkaan ilmu-ilmu ekonomi Islam kontemporer.

2. Realitas gerakan perekonomian dunia Islam yang menciptakan mekanisme pasar global perbankan syariah telah mendorong terbentuknya undang-undang perbankan syariah nasional.

3. Penegakan sistem perbankan syariah nasional terdapat inefektifitas. Substansi hukum

menyisakan ketimpangan dengan benak masyarakat, struktur hukum tak terhindarkan dari

overlapping dan kultur hukum relatif tidak mendapat dukungan sosio-kultur lokal.

4. Dinamika fatwa berkembang berdasarkan mustafti dari kebanyakan pelaku bisnis perbankan syariah, sehingga implementasi bank syariah telah melapangkan jalan terbentuknya

masyarakat konsumsi barang.

5. Asas konkordansi Pancasila dan Syariat tidak bertentangan secara substantif ekonomi, tetapi kerap menimbulkan pertentangan secara politik.

6. Falsafat al-tashri‟ empirikal menganjurkan bank syariat menguatkan fungsi sosial. Siyasat

shar‟i berperan dalam pengendalian perkembangan bank syariah yang menjamin kondisi masyarakat sejahtera lahir dan batin.

Rekomendasi

1. Pengembangan ilmu-ilmu ekonomi Islam kontekstual dengan riset, kurikulum dan laboratorium (miniatur) bank syariah.

2. Restrukturisasi sistem perbankan syariah secara keseluruhan mencakup struktur institusional tersendiri.

(14)
(15)

Filsafat dan Politik Hukum Islam tentang Perbankan Syariah

Kajian Filsafat dan Politik Hukum Islam

Epistemologi, Metodologi, Metode Pendekatan Penggalian Hukum Islam

Sumber Dasar, Tujuan Prinsip-Prinsip, Asas-Asas, Kaidah-Kaidah Islam

Politik Hukum Islam Filsafat Hukum Islam

Hubungan Internasional Ketatanegaraan Politik Ekonomi Transformasi Sistem Ekonomi Syariah Institusionalisasi Keuangan Syariah Implementasi Sistem Perbankan Syariah Filsafat Teoretis Filsafat Moral Filsafat Praktis

(16)

Pergerakan Ekonomi Islam Internasional

Gerakan ekonomi syariah adalah suatu upaya membentuk sistem ekonomi Islam yang mencakup semua aspek ekonomi, meskipun kemudian

terfokus pada institusi bisnis perbankan syariah.

 Dibentuknya Organisasi Konfrensi Islam (OKI) tanggal 25 September 1969.

 Konfrensi ekonomi Islam secara teratur.

 Berdirinya departemen atau fakultas ekonomi Islam di universitas-universitas negara-negara muslim.

 Embargo miyak untuk menekan Barat dan menopang perjuangan

Palestina tahun 1974 dan 1979.

 Timbulnya negara-negara petro dolar hasil penjualan minyak yang melahirkan kekuatan finansial negara-negara Islam di kawasan Timur Tengah , Afrika Utara dan Asia Tenggara.

(17)

Uji Coba Sharia Bank

Riset

shari‟a

banking

hingga dibukanya

islamic window

,

yaitu membuka dua sistem operasional perbankan: bank

syariah dan bank konvensional (Juhaya S. Praja, Ekonomi

Syariah, 76).

Bank Islam pertama yang berdiri di Eropa, yakni Denmark

(1983). Bank-bank besar dari negara-negara Barat seperti

Citibank

,

ANZ Bank

,

Chase Manahathan Bank

dan

Jardine

Fleming

membuka

Islamic Window

. Lembaga ekonomi

keuangan berbasis syariah tumbuh signifikan di Inggris

serta Prancis. Perkembangan perbankan syariah termasuk

di Filipina, Luxemburg dan Amerika Serikat. Bank Amanah

berdiri di Filipina 1987. Muslim Saving and Investment

(18)

Mekanisme Pasar Global

 Bisnis (produksi dan distribusi barang dan jasa) dilakukan paling tidak melalui dua jenis mekanisme, yaitu mekanisme pasar dan

mekanisme birokrasi.

 Sistem ekonomi pasar adalah suatu sistem ekonomi dimana seluruh kegiatan ekonomi mulai dari produksi, distribusi dan konsumsi

diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar (Adam Smith).

Sedangkan mekanisme birokrasi adalah sistem ekonomi komando dan sistem perencanaan sentral oleh pemerintah (Kwik Kian Gie).

Bank Syariah dalam Mekanisme Pasar Global

 Terguncangnya sistem kapitalisme, sebab ―tidak ada keseimbangan

dalam persaingan sempurna.‖

 Ekonomi Islam Sistem Alternatif, sebab ―kesadaran akan hakikat Islam

(19)

Masuknya Bank Syariah Di Indonesia

Mau tidak mau suka tidak suka

‖ negara berkembang tunduk

pada mekanisme pasar global

Demokrasi Pancasila ―harus‖ memiliki sifat terbuka

Terlilit utang yang memosisikan Indonesia berada dalam

tekanan IMF, otoritas pengawasan moneter internasional,

sehingga menempuh hubungan diplomatik dengan OKI-IDB

Tumbuhnya elit muslim di bidang bisnis, pemerintahan,

politik praktis dan elit agama.

(20)

Ambiguitas

Penawaran:

 Sistem financial syariah dalam mekanisme pasar global merupakan sistem modern dari usaha dunia Islam di negara-negara Muslim yang telah maju secara financial.

 Ia muncul dan diperjuangkan sebagai sistem tandingan kapitalisme yang EGOIS dan terbukti kapitalisme mengakui banyak kelemahan.

 Terkadang implementasi keuangan syariah tidak berasal dari prinsip syariah yang paling sublim, tetapi yang terpenting memiliki daya saing/daya tawar dengan sistem kapitalisme yang dominatif dan hegemonik.

Penerimaan:

 Realitas Muslim Indonesia dibentuk sebagai komunitas tradisional oleh ideologi pencitraan, yang tidak memiliki hubungan relasional dengan modernisasi lembaga keuangan Islam.

 Islam di Indonesia cenderung telah terinternalisasi dengan kultur lokal di masyarakat, yang tampil dalam bentuk penyeimbang negara. Islam bukan bagian dari kekuasaan di Indonesia.

 Kehadiran sistem keuangan syariah dalam mekanisme pasar global, yang pelik untuk dapat ditolak, bukan saja telah membuat pemerintah Indonesia harus berpikir mengembangkan sistem ekonominya, tetapi telah menuntut persiapan umat Muslim Indonesia dalam menerima perubahan-perubahan ini.

(21)

Pembatasan Penelitian

Spesifik kajian bank syariah dan mengabaikan data Bank

Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) dan lembaga keuangan

lainnya.

Fokus kajian pada Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 tentang

Perbankan Syariah

Kegunaan Penelitian

(22)

Tinjauan Kepustakaan

• Buku ―Ekonomi Syariah,‖ karya Juhaya S. Praja (CV. Pustaka Setia Bandung, 2012).

• Buku ―Filsafat Ekonomi Islam,‖ Karya M. Anton Athoilah and Bambang Q. Anees (Sahifa, Bandung, 2012).

• Buku ―Politik Ekonomi Islam (Siyasah Maliyah): Teori-Teori Pengelolaan Sumber Daya Alam, Hukum Pengairan Islam dan

Undang-Undang Sumber Daya Air di Indonesia,‖ karya Ija Suntana (CV. Pustaka Setia Bandung, 2010).

• Buku ―As-Siyasatu al-Iqtishadiyat al-Mutsla,‖ karya Abdurrahman al-Maliki (Al-Izzah, Bangil 2001).

• Buku ―Fiqih Perbankan Syariah: Transformasi Fiqih Muamalah ke dalam Peraturan Perundang-undangan,‖ karya Atang Abd. Hakim (PT. Refika Aditama Bandung, 2011).

• Buku ―Hukum Perbankan Syariah: Undang-Undang No. 21 Tahun 2008,‖ karya Abdul Ghofur Anshori (Bandung: Refika Aditama, Bandung 2009).

(23)

Definisi Operasional

• Filsafat hukum Islam: kerangka penalaran dan penggalian hukum Islam (istinbat al-ahkam) terhadap nash Al-Qur‘an dan As-Sunnah untuk mengelurkan maksud-maksud Pembuat Hukum (maqasid al-syariah) dengan perangkat metodologi hukum Islam (ushul al-fiqih) secara deduksi (qiyas al-tamtili) terkait gejala-gejala sosial dengan pendekatan induksi (qiyas al-sumuli) sehingga menghasilkan

postulat-postulat, prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah yang menjadi dasar pembentukan ilmu-ilmu hukum Islam (al-fiqih), khususnya menyakut kehidupan ekonomi (mu‟amalah).

• Politik hukum Islam: pemikiran dan sekaligus gerakan untuk

penegakan syariat Islam dalam konstitusi negara (qanun) berikut dengan segala pengaturan (tanzim) dan pelaksanaannya dalam mewujudkan kemaslahatan umat (maslahat al-ummah).

• Perbankan syariah: Komponen utama dari industri keuangan syariah yang bersifat komersial sebagai perantara keuangan (financial

(24)

Definisi Operasional

 Filsafat hukum Islam yang dimaksud dalam peneliitian ini adalah

kerangka penalaran dan penggalian hukum Islam (istinbat al-ahkam) terhadap nash Al-Qur‘an dan As-Sunnah untuk mengeluarkan

maksud-maksud Pembuat Hukum (maqasid al-syariah) dengan perangkat metodologi hukum Islam (ushul al-fiqih) secara deduksi (qiyas al-tamtili) terkait gejala-gejala sosial dengan pendekatan induksi (qiyas al-sumuli) sehingga menghasilkan postulat-postulat, prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah yang menjadi dasar pembentukan ilmu-ilmu hukum Islam (al-fiqih), khususnya menyakut kehidupan ekonomi (mu‟amalah).

 Sedangkan politik hukum Islam ialah pemikiran dan sekaligus gerakan untuk penegakan syariat Islam dalam konstitusi negara (qanun)

berikut dengan segala pengaturan (tanzim) dan pelaksanaannya dalam mewujudkan kemaslahatan umat (maslahat al-ummah).

 Adapun perbankan syariah, yaitu komponen utama dari industri

keuangan syariah yang bersifat komersial sebagai perantara keuangan (financial intermediary) dan sekaligus sebagai kelembagaan yang

bersifat sosial (non-komersial) bagi pemberdayaan ekonomi umat demi tercapainya kesejahteraan akhirat (al-shalah) melalui

(25)

Teori Credo

 Tauhidullah: orang beriman harus tunduk kepada perintah Allah (QS. Al-Fatihah [1]: 5; al-Baqarah [2]: 179]; al-Imran [3]: 7; an-Nisa [4]: 13-14, 49-59, 63, 69 dan 105; al-Maidah [5]: 44-45, 47-50; dan an-Nur [24]: 51-52).

 Kosmologi Islam: tiada pusat tempat bergantung kecuali hanya kepada Allah.

Allah bersemayam di atas ‗Arsy (QS. Al-A‘raf [7]: 54).

 Sunnatullah (Ketetapan Allah): Keadilan Tuhan (inheren kepastian hukum) dan keseimbangan (QS. Al-Mulk [67]: 3).

 Kenabian (QS. Ali-Imran [3]: 164): pencerahan (renaisance), kemanusiaan dan atau li utamima makarimal ahlak ―untuk menyempurnakan etika-moral

(kemuliaan ahlak).‖

 Kerasulan (QS. Ali-Imran [3]: 32 dan 132): menyempurnakan hidup revolusi peradaban Syariat.

Khalifah fi al-ard (QS. Al-Baqarah [2]: 30): membumikan Islam secara murni, mengelola sumber daya alam secara adil dan seimbang sesuai etika-moral, dan

membentuk Negara Madinah: ―Kampung Madani‖ (Civil Society).

 Sifat dan watak Islam yang rahhmatan li al-alamin menjadi dasar aktualisasi Islam dalam konteks suatu negara.

(26)

Tegaknya Sistem Hukum

Hukum dapat dikelompokan sebagai hukum yang hidup di dalam masyarakat apabila:

1. berlaku secara yuridis (pemberlakukan hukum didasarkan pada kaidah yang tingkatannya lebih tinggi). Apabila berlaku hanya secara yuridis, hukum termasuk kaidah yang mati;

2. berlaku secara sosiologis (hukum dapat dipaksakan

keberlakuannya oleh penguasa meskipun masyarakat menolaknya --teori kekuasaan, atau hukum berlaku karena diterima dan diakui oleh masyarakat --teori pengakuan). Apabila berlaku hanya secara sosiologis dalam teori kekuasaan, hukum hanya akan menjadi alat untuk memaksa; dan

3. berlaku secara filosofis (sesuai dengan cita-cita hukum sebagai nilai positif yang tertinggi). Apabila berlaku hanya secara filosofis, hukum hanya akan menjadi kaidah yang dicita-citakan (Soerjono Soekanto dan Mustafa Abdullah, Sosiologi Hukum dalam

(27)

Teori

Perubahan

Fatwa

 Ide hukum Islam perlu diperbaharui untuk pertama kalinya digulirkan oleh Ibn Taimiyyah (1263-1328) (Deddy Ismatullah, Sejarah Sosial, 298).

 Paradigma Hukum Islam Ibn Taimiyyah: al-haqiqah fi al-a’yan la fi al-adzhan

kebenaran hukum itu dijumpai dalam kenyataan (realitas) empirik, bukan dalam alam pemikiran atau alam idea. Ibn Taimiyyah meyakini bahwa hakekat yang paling otentik justru ada pada realitas empirik, bukan pada realitas logik (Ibn Taimiyah, Minhaj, 243).  Teori perubahan hukum Islam yang sistematis untuk pertama kalinya dirumuskan oleh

Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah (1292-1356) (Deddy Ismatullah, Sejarah Sosial, 298).  Teori perubahan fatwa Ibn al-Qayyim: taghayur al-fatwa wa ikhtilafiha bi

hasbi taghayyur al-azminati wa al-amkinat wa al-ahwal wa an-niyat wa al-fawaid ―Perubahan dan perbedaan fatwa hukum dapat terjadi karena perubahan

dan perbedaan waktu, ruang, kondisi, niat dan manfaat‖ (Ibn Qayyim, I‟lam al

-Muawaqi‟in, Juz III, 14)

 Tujuan perubahan fatwa Ibn al-Qayyin: keadilan (al-„adalah), kasih sayang ( ar-rahmah), kemanfaatan (al-mas}lahah) dan kebijaksanaan (al-hikmah).

 Metode perubahan hukum Ibn Taimiyyah dan Ibn al-Qayyim: Qiyas Syar‟i, yakni deduktif (Qiyas al-Tamtili) dan induktif (Qiyas al-Sumuli).

 Tujuan hukum Islam Jumhur ulama: maslahat. Tujuan ekonomi Islam: al-shalah

(28)

Aplikasi Kaidah

Kaidah Bahasa, Kaidah Ushul, Kaidah Fiqih

Panca Kaidah Asasi Hukum Islam:

1. Kaidah Asasi yang Pertama:

ه

دص م

ﺮﻮم

أا

“Segala perkara

tergantung kepada niatnya.”

2. Kaidah Asasi yang Kedua:

ﱢ ﱠﺸ اﺰﻴ

ا ﻦ ﻴ ا

“Keyakinan tidak

hilang dengan keraguan.”

3. Kaidah Asasi yang Ketiga:

ﺮﻴﺴﻴﱠتلا ﺐلْﺠت

ﱠ ﺸملا

“Kesulitan

mendatangkan kemudahan.”

4. Kaidah Asasi yang Keempat:

اﺰﻴ ﺮاﺮﱠﻀلا

“Kesulitan harus

dihilangkan.”

5. Kaidah Asasi yang Kelima:

ٌ مﱠكحم ةﺪ علا

“Adat dapat dijadikan

pertimbangan dalam menetapkan dan menerapkan

hukum.”

(29)

Kerangka Pemikiran

Teori Objek yang dikaji Hasil yang diharapkan

Grand Theory: Teori Credo

1. Tauhidullah

2. Sunatullah/ Kosmologi Islam) 3. Kenabian

4. Kerasulan 5. Kekhalifahan

Landasan Ontologis Pelaksanan Bank Syariah 1. Keadilan yang inheren dengan kepastian hukum

2. Ketetapan Allah yang paralel dengan keseimbangan kosmis 3. Kemanusiaan dan etika-moral

4. Syariat yang rahmatan lil alamin (peradaban ideal)

5. Pelaksanaan ekonomi syariah dalam konteks negara bagi kesejahteraan lahir (al-falah) dan batin (al-shalah).

Teori Legal System

1. Substansi Hukum 2. Struktur Hukum 3. Kultur Hukum 4. Dampak Hukum

1. Historis akomodasi sistem perbankan syariah

2. Pertimbangan pembentukan Undang-Undang Perbankan Syariah

3. Kritik dan evaluasi penegakan sistem Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.

Middle range theory:

Teori Perubahan Hukum (Fatwa)

1. Dinamika fatwa DSN-MUI 2. Sumber, metodologi, dan tujuan perumusan fatwa 3. Tadrij fatwa dalam qanun 4. Aturan-aturan kepatuhan

syariah (syariah compliance) 5. Implikasi-implikasi

kemaslahatan perubahan fatwa.

1. Indentifikasi pembaharuan hukum ekonomi syariah (tajdid ahkam al-tathbiqiyah) yang telah dilakukan DSN-MUI

2. Kajian akomodasi fatwa dalam peraturan perundangan (taqnin al-fatwa) 3. Model pengawasan pelaksanaan fatwa (muraqabah tathbiq al-fatwa) 4. Pola penyelesaian sengketa (tahkim)

5. Solusi penguatan DSN-MUI sebagai mufti bidang ekonomi syariah yang berkonkordansi dengan ekomomi Pancasila untuk terciptanya kemaslahatan.

Applicative theory: Pelaksanaan kaidah-kaidah Muamalah

Panca kaidah beserta turunannya dalam lingkup:

1. Kaidah Lughah 2. Kaidah Ushul 3. Kaidah Fiqh

Aplikasi perbankan syariah dengan ketentuan:

1. Memperhatikan terciptanya budaya yang seimbang antara perilaku produksi dan konsumsi

2. Menjalankan bisnis komersial di samping fungsi sosial

(30)

Metode Yuridis-Normatif

Penelitian hukum normatif dikontraskan dengan penelitian

hukum sosiologis (Peter Mahmud Marzuki,

Penelitian Hukum,

126).

Penelitian hukum normatif bersifat deskriptif apa yang

(31)

Pendekatan Penelitian

• Pendekatan teleologis (maqas}id al-shari‟ah), yaitu penfekatan atau argumen yang menyatakan bahwa hukum itu ada dan ditegakan

mempunyai tujuan-tujuan tertentu (Juhaya S. Praja, Filsafat Hukum Islam, 23).

• Pendekatan historis dimana ada dua macam penafsiran terhadap aturan hukum dan perundang-undangan, yaitu penafsiran menurut sejarah hukum dan penafsiran menurut sejarah penetapan peraturan perundang-undangan (Johnny Ibrahim, Teori dan Metodologi, 318). Pendekatan sejarah dalam penelitian hukum normatif

memungkinkan peneliti dapat memahami hukum secara mendalam tentang suatu sistem atau lembaga, atau suatu pengaturan hukum tertentu (Satjipto Raharjo, Ilmu Hukum, 332). Tata hukum yang berlaku sekarang mengandung anasir-anasir dari tata hukum yang silam dalam membentuk tunas-tunas tentang tata hukum pada masa yang akan datang (Pudjosewojo, Pedoman Tata Hukum, 11).

(32)

Sumber Data dan Alat Pengumpulan Data

Para ahli hukum memilah data penelitian menjadi dua macam

(1) data penelitian hukum normatif dikategorikan sebagai data

sekunder, dan (2) data penelitian hukum sosiologis (empiris)

dikategorikan sebagai data primer. Ada juga yang disebut

bahan hukum, baik primer maupun sekunder. Dalam penelitian

hukum normatif, bahan hukum primer adalah

Undang-Undang, dan bahan hukum sekunder ialah

penjelasan-penjelasan berkenaan dengan Undang-Undang tersebut dalam

buku-buku literatur (Ronny Hanitijo Soemitro, Metodologi

Penelitian Hukum

,

9-10).

Alat pengumpulan data penelitian hukum normatif adalah

book

riview

, yang dibedakan dengan alat pengumpulan data pada

(33)

Langkah-Langkah: Taraf Analisis

• Inventarisasi bahan hukum (data), yaitu kegiatan pendahuluan yang bersifat dasar untuk menuju tahap berikutnya. Proses inventarisasi bahan hukum pada dasarnya sudah

merupakan suatu kegiatan penelitian (Aminuddin Ilmar (ed.), Konstruksi Teori dan Metode Kajian Ilmu Hukum, Makasar: Hasanuddin University Press, 2009, 115).

• Identifikasi data, yakni proses seleksi terhadap bahan hukum yang telah

dikategorisasikan untuk menarik asas-asas hukum. Asas-asas hukum pada dasarnya merupakan kecenderungan-kecenderungan yang memberikan suatu penilaian susila terhadap hukum; artinya, memberikan penilaian yang bersifat etis. Secara logis, asas-asas hukum tersebut harus ada pada pengambilan keputusan secara konkrit; akan tetapi, pada kenyataannya hal itu juga dapat ditelusuri pada hukum positif (Soerjono Soekanto, Penelitian Hukum, 252). Identifikasi bahan hukum perundang-undangan kerap

menjumpai keadaan aturan hukum a) kekosongan hukum (leemten in het recht), b) konflik norma hukum (antinomi), dan c) norma hukum yang kabur, vage normen

(Suratman dan Philips Dillah, Metode Penelitian Hukum, 83). Penelitian terhadap asas-asas hukum dilakukan terhadap norma-norma hukum. Tidak setiap pasal dalam

perundang-undangan mengandung norma-norma hukum tetapi hanya memberikan batasan-batasan saja. Tanpa asas-asas hukum, norma-norma hukum akan kehilnagan kekuatan mengikatnya. Asas-asas hukum dibedakan ke dalam asas hukum konstitutif, yaitu asas-asas hukum yang harus ada dalam kehidupan suatu hukum, dan asas-asas hukum regulatif, yakni sebagai subjek yang diperlukan untuk dapat beroperasinya sistem hukum (Ronny Hanitijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum, 15 dan 17).

• Klasifikasi bahan hukum, yaitu proses penataan dan pengorganisasian yang terdiri atas (1) taraf sinkronisasi vertikal, yaitu kesesuaian undang-undang dengan pengaturan yang lebih tinggi, dan (2) taraf sinkronisasi horizontal, yaitu harmonisasi undang-undang dengan undang-undang lain yang setaraf (Suratman dan Philips Dillah, Metode

(34)

Taraf Analisis

• Sistematisasi bahan hukum, yaitu suatu proses untuk mendeskripsikan dan

menganalisis isi dan struktur bahan hukum yang telah diklasifikasikan. Sistematisasi berarti membuat klasifikasi terhadap bahan-bahan hukum untuk memudahkan

analisa dan konstruksi (Soerjono Soekanto, Penelitian Hukum, 251). Sistematisasi bahan hukum perundangan terdapat empat prinsip penalaran, yaitu a) derogasi, menolak suatu aturan hukum yang bertentangan dengan aturan hukum yang lebih tinggi, b) non-kontradiksi, tidak boleh menyatakan ada atau tidaknya suatu

kewajiban dikaitkan dengan suatu situasi yang sama, c) subsumsi, adanya hubungan logis antara dua aturan dalam hubungan aturan hukum yang lebih tinggi dengan aturan hukum yang lebih rendah, dan d) eksklusi, tiap sistem hukum

diidentifikasikan oleh sejumlah peraturan perundang-undangan. Ada pula yang disebut sistematisasi eksternal, yaitu mensistematisasikan bahan hukum dalam kerangka mengintegrasikannya ke dalam tatanan masyarakat yang selalu

berkembang (Aminuddin Ilmar (ed.), Konstruksi Teori dan Metode Kajian Ilmu Hukum, 192).

(35)

Kajian Filsafat dan Politik Hukum Islam

Kajian filsafat dan politik hukum Islam dibangun di atas konsep-konsep berikut:

Syariah, Tasyri‘, Fiqih (Pembidangan Fiqih), Filsafat dan Hikmah, Filsafat Hukum dan Ilmu Hukum, Filsafat Hukum Islam, Politik, Politik Hukum, Politik Hukum Islam.

Hubungan ilmu syariah dengan politik sebagai ilmu dan lembaga kekuasaan:

Filsafat tashri‟ dalam kerangka ushul al-fiqh melakukan penggalian terhadap

―sumber kehidupan‖ (syariah) dengan menggunakan metode instinbath

al-ahkam, secara deduksi dan induksi (qiyas syar‟i). Filsafat hukum Islam bekerja untuk menghasilkan ―bahan baku‖ hukum yang bersifat normatif dan sekaligus positif. Proses ini melahirkan „ilm shari‟at (ilmu fiqih) teramsuk fiqh siyasah

atau ilmu politik hukum Islam yang mencakup fiqh dusturiyah dan fiqh maliyah, dan fiqh dauliyah.

• Hubungan ilmu syariah dengan politik sebagai lembaga kekuasaan adalah kerja politik hukum Islam: 1) Subjek siyasah dauliyah menyangkut teritorialitas

hukum Islam dalam hubungan-hubungan internasional; 2) Subjek siyasah dusturiyah adalah nasionalitas hukum Islam atau ketatanegaraan Islam

berkenaan dengan pemberlakuan dan penegakan hukum Islam dalam konteks kenegaraan; dan 3) Subjek fiqih siyasah maliyah membicarakan sistem dan praktik-praktik ekonomi Islam, baik dalam konteks sebuah negara maupun dalam konstelasi internasional.

(36)

Kajian Filsafat Politik Hukum Ekonomi Islam

Kajian filsafat politik hukum ekonomi Islam dijelaskan berdasarkan konsep-konsep berikut: Ekonomi, Politik Ekonomi, Ekonomi Syariah,

Muamalah, Politik Ekonomi Islam (Sistem dan Gerakan).

Natijah:

Islam tidak terlepas dari dua aspek, yakni pembaharuan dan pergerakan, termasuk dalam bidang ekonomi syariah. Ekonomi syariah adalah suatu usaha dengan landasan dasar Al-Qur‘an dan as-Sunnah dalam bangunan sistem perekonomian Islam. Muamalah adalah kehidupan ekonomi

berdasarkan prinsip-prinsip Islam dalam perikatan, transaksi dan

kontrak. Filsafat hukum Islam bertugas mempertanyakan paradigma yang telah mapan dalam hukum ekonomi Islam, dan mempersatukan cabang-cabangnya dalam kesatuan sistem hukum. Politik hukum Islam dalam konteks lembaga kekuasaan berarti proses-proses politik kenegaraan, hubungan internasional dan perekonomian Islam. Transformasi fiqih muamalah ke dalam sistem hukum nasional dalam bentuk Undang-Undang Perbankan Syariah merupakan pengembangan sistem

(37)

Eksistensi dan Kinerja Perbankan Syariah Indonesia

 Perbankan syariah merupakan komponen utama dari keuangan syariah.  Lembaga keuangan Syariah dibedakan menjadi dua: 1) lembaga keuangan

depositori Syariah (depository financial institution Syariah) yang disebut dengan lembaga keuangan bank Syariah; dan 2) lembaga keuangan Syariah non

depository (non depository financial institution Syariah) yang disebut dengan lembaga keuangan Syariah bukan bank.

 Lembaga keuangan Syariah bukan bank dapat dikelompokan menjadi tiga bagian: 1) lembaga kontraktual (contractual institutions), seperti perusahaan asuransi Syariah dan dana pensiun Syariah; 2) lembaga keuangan investasi Syariah

(Syariah investment institution) seperti reksadana Syariah; dan 3) lembaga keuangan yang tidak termasuk ke dalam contractual institutions dan Syariah investment institution, seperti pegadaian Syariah, Baitul Mal wat Tamwil (BMT), Unit Simpan Pinjam Syariah (USPS), koperasi pesantren, perusahaan modal

ventura Syariah (venture capital), dan perusahaan pembiayaan Syariah (Syariah finance company) yang menawarkan jasa sewa guna usaha (leasing), kartu kredit, pembiayaan konsumen dan anjak piutang.

 Lembaga keuangan perbankan adalah institusi yang kegiatan utamanya menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat.

(38)

Pengertian Syariah

 Kata syariah secara harfiah berarti sumber mata air yang menjadi tempat minum hewan dan manusia. Syariah dalam pengertian ini kemudian berubah menjadi

sumber air dalam arti sumber kehidupan yang menjamin kehidupan manusia, baik di dunia maupun di akhirat (Juhaya S. Praja).

 Syariah ialah segala sesuatu yang ditetapkan Allah kepada para hamba-Nya berupa agama, atau dengan kata lain segala sesuatu yang disyariatkan Allah berupa agama dan yang diperintahkan-Nya, seperti puasa, shalat, haji, zakat dan seluruh amal kebajikan (Yusuf Qardawi).

 Syariah adalah firman Allah yang ditujukan kepada orang-orang mukallaf yaitu

orang-orang yang sudah cakap bertanggung jawab hukum berupa perintah, larangan atau kewenangan memilih yang bersangkutan dengan perbuatannya (Sobhi

Mahmassani).

 Syariah atau syari‘at dalam pengertian sumber kehidupan berkembang menjadi dua

istilah teknis. Pertama, syariah dalam arti sumber petunjuk kehidupan umat

manusia, yaitu wahyu dalam arti al-matluw, yaitu Al-Qur‘an dan dalam pengertian

al-wah}y ghair al-matluw, yaitu Hadits atau Sunnah Rasul. Syariah dalam

pengertian ini berarti sumber hukum Islam yang tidak berubah sepanjang masa.

Kedua, syariah dalam arti petunjuk yang ―diturunkan‖ langsung kepada umat

(39)

Syariah adalah dasar-dasar hukum Islam yang bersifat umum yang dapat dijadikan pedoman manusia dalam hubungan-hubungan berikut (Shekh Mahmud Shaltut): 1. Hubungan manusia dengan Tuhannya dengan jalan penunaian

kewajiban-kewajiban keagamaan seperti salat dan puasa. Hubungan-hubungan ini kemudian melahirkan Fiqih Ibadah.

2. Hubungan manusia dengan saudaranya sesama kaum muslimin. Hubungan ini dapat dilakukan dengan jalan pertukaran kasih sayang antara satu sama lain, dan tolong menolong yang tiada putus-putusnya, hukum-hukum yang khusus demi terbentuknya keluarga. Hubungan-hubungan ini kemudian diatur dalam hukum

Munakahat, hukum Kewarisan, dan Fiqih Mu’amalah.

3. Hubungan sesama manusia dengan cara saling bantu-membantu dalam

menciptakan kemajuan kehidupan secara umum dan perdamaian dunia yang diatur antara lain oleh Fiqih Dusturi dan Fiqih Duwali.

4. Hubungan manusia dengan alam memberi kemungkinan kepada umat manusia secara bebas dalam meneliti alam semesta ini serta memanfaatkan hasil-hasil penelitian tersebut bagi kemajuan dan ketinggian martabat umat manusia. 5. Hubungan manusia dengan kehidupannya melalui pemenuhan berbagai

(40)

Yusuf Qardawi

menunjukan pengertian syariah sebagai

agama (Islam).

Sobhi Mahmassani

memaparkan pengertian syariah dalam

arti amaliah.

Juhaya S. Praja

memberikan pengertian syariah sebagai

sumber dasar.

Shekh Mahmud Shaltut

menjelaskan pengertian syariah

sebagai dasar-dasar hukum Islam untuk pedoman manusia

dalam hubungan-hubungannya dengan yang lain.

Dengan demikian,

syariah adalah

agama Allah berdasarkan

Al-

Qur‘an dan as

-Sunnah dengan penalaran

„aql

yang

(41)

Pengertian Tasyri’

Tasyri‘ adalah pembentukan

hukum-hukum Allah yang

mengatur hubungan-hubungan dengan yang lainnya.

Pertama

,

tashri samawiy

yaitu peraturan

perundang-undangan yang murni dari Pembuat Hukum, yaitu Allah.

Kedua

,

tashri‟ wad‟iy

adalah peraturan perundang-unndangan

yang dibuat dan dirumuskan oleh manusia yang didasarkan

atau dengan referensi

tashri‟ samawiy

.

Secara definitif

Tasyri’ adalah

tashri‟

adalah proses

pembentukan garis-garis besar hukum Islam, pembentukan

teori-teori hukum Islam, atau pembentukan hukum Islam

secara sistematis; pembentukan hukum-hukum teoretis dan

hukum-hukum praktis dengan jalan

tafhim

,

tatbiq

,

taqnin

, dan

tadbir

, di mana tashri‘ menjadi bagian yang tak terpisahkan

dalam sistematika hukum Islam yang mencakup syariah,

(42)

Pengertian Fiqih

Kata fiqih dalam bahasa Arab berarti faham, pengertian atau

pengetahuan.

Fiqih sama dengan

„ilm al

-syariah

(ilmu syariah), yaitu

pengetahuan tentang syariah; pengetahuan tentang

hukum-hukum perbuatan mukallaf secara terinci berdasarkan dalil-dalil

Al-

Qur‘an dan As

-Sunnah, yang dihasilkan dengan cara

istinba‟th

al-ahkam

, yakni penggalian dan penerapan hukum.

Fiqih adalah ilmu hukum Islam, bersifat ijtihadiyat, tumbuh dan

berkembang dalam bidang yang menyeluruh, bahkan merupakan

bidang keilmuan Islam yang paling produktif dalam

(43)
(44)

Istilah Filsafat dan Hikmah

 Kata filsafat (bahasa Yunani), philoshopia berarti cinta kebijaksanaan.

Falsafah (bahasa Arab) berarti hubbu al-hikmah yakni cinta kebijaksanaan.

 Berfilsafat mengandung makna berpikir secara radikal, artinya sampai ke akar suatu masalah, mendalam sampai ke akar-akarnya bahkan sampai melewati batas-batas fisik yang ada, metafisis. Berfilsafat adalah berpikir dalam tahap makna, mencari hakikat makna dari sesuatu dan menemukan makna terdalam dari sesuatu berupa nilai-nilai; kebaikan, kebenaran, dan keindahan.

 Filosof dalam atri orang yang mencintai kebijaksanaan tidak disebut hakim, melainkan

muhibb al-hikmah (pecinta kebijaksanaan). Pitagoras mengatakan bahwa dirinya

bukan seorang yang bijaksana (hakim), melainkan pencinta kebijaksanaan (muhibb al-hikmah). Menurut Juhaya S. Praja, term hikmah di dunia Islam muncul untuk

menunjukan pemikiran filsafati yang disirami oleh wahyu.

 Pada hakikatnya, filosof dan hakim itu sama. Sesuatu yang membedakan keduanya adalah cara mencapai kebenaran yang ditempuh masing-masing. Perbedaannya

bagaikan Nabi dan filosof, hanya saja tingkat kebenaran dan ketinggian pengetahuan serta keistimewaannya berbeda. Nabi mempunyai mu‘jizat, hakim mempunyai

(45)

Istilah Filsafat Hukum dan Ilmu Hukum

 Istilah hukum sendiri, sebagaimana dipahami dalam ilmu sosial, adalah adalah gejala sosial, artinya suatu gejala yang terdapat di dalam

masyarakat. Sebagai gejala sosial, hukum bertujuan untuk mengusahakan adanya keseimbangan dari segala kepentingan-kepentingan di dalam

masyarakat, sehingga dapat dihindarkan timbulnya kekacauan dalam masyarakat (Surojo Wignjodipuro).

 Objek filsafat hukum adalah segala hal yang ada di luar jangkauan ilmu-ilmu hukum, misalnya tentang: Apakah hakikat hukum itu; siapakah

pembuat hukum yang sesungguhnya; apa yang disebut perbuatan hukum; dan siapa yang harus mentaati hukum itu; Apakah keadilan itu; Apakah tujuan hukum itu; Bagaimana hubungan antara hukum dengan

kekuasaan.

 Filosof hukum akan mengartikan hukum sebagai jalinan nilai-nilai. Nilai-nilai tersebut akan dirumuskan sebagai konsepsi-konsepsi abstrak dalam diri manusia dan apa yang dianggap baik untuk dilaksanakan dan apa yang buruk untuk dihindari. Filsafat hukum sebagai perenungan dan perumusan nilai-nilai, misalnya mengapa terdapat kesenjangan sistem aplikasi perbankan syariah antara teori dan praktek.

(46)

Istilah Filsafat Hukum Islam

 Filsafat hukum Islam dapat disinonimkan dengan istilah falsafat al-tasyri‟ al-Islamiy;

hikmatu tashri‟, asrar al-syari‟ah.

 Filsafat hukum Islam dapat dinyatakan sebagai bagian dari kajian filsafat hukum secara umum. Filsafat hukum Islam sebagaimana filsafat pada umumnya menjawab

pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjangkau oleh ilmu hukum (Juhaya S. Praja).

 Tugas filsafat hukum seperti halnya tugas filsafat pada umumnya yang mempunyai dua tugas. Pertama, tugas kritis adalah mempertanyakan kembali paradigma-paradigma yang telah mapan di dalam hukum Islam. Kedua, tugas konstruktif adalah

mempersatukan cabang-cabang hukum Islam dalam kesatuan sistem hukum Islam sehingga nampak bahwa antara satu cabang hukum Islam dengan lainnya tidak terpisahkan.

 Filsafat hukum Islam mengajukan pertanyaan-pertanyaan: apakah hakikat hukum Islam; hakikat keadilan; hakikat pembuat hukum; tujuan hukum; sebab orang harus taat kepada hukum Islam; dan sebagainya.

Objek teoritis filsafat hukum Islam adalah objek kajian yang merupakan teori-teori hukum Islam yang mencakup: Prinsip-prinsip hukum Islam; Dasar-dasar dan sumber-sumber hukum Islam; Tujuan hukum Islam; Asas-asas hukum Islam; dan

Kaidah-kaidah hukum Islam. Sementara objek praktis filsafat hukum Islam meliputi jawaban atas pertanyaan seperti: Mengapa manusia melaksanakan muamalah; mengapa

manusia harus diantur oleh hukum Islam; Mengapa manusia harus melakukan ibadah, seperti salat, zakat dan puasa; Apa rahasia atau hikmah yang terkandung dalam

(47)

 Komponen filsafat hukum Islam meliputi filsafat teoretis (falsafat al-nazariyyah), filsafat praktis (al-falsafat al-„amaliyyah), dan filsafat nilai

(falsafat al-akhlaq). Sedangkan komponen metodologinya telah melahirkan „ilm ushul al-fiqh.

 Komponen ketiga yang dilaharikan dari dua komponen sebelumnya telah

melahirkan penjelasan tentang aturan atau hukum tentang lalu lintas hubungan-hubungan yang dikenal dengan nama fiqih.

 Sebagimana diketahui bahwa ilmu syariah telah dikembangkan oleh para pakarnya yang meliputi tiga komponen utama, yaitu filsafat, metodologi dan materi hukum Islam itu sendiri.

 Secara elaboratif dapat dipahami bahwa filsafat hukum Islam merupakan

rahasia-rahasia agama (asrar al-din), dan rahasia-rahasia agama itu merupakan isi dari ilmu-ilmu agama. Sementara isi ilmu agama sering disebut metodologi hukum Islam yang lazim disebut usul al-fiqh atau ilmu tentang penggalian hukum Islam yang biasa disebut istinbath al-ahkam yang bertugas menggali makna-makna hukum dari Al-Qur‘an dan Hadits dalam kerangka maqasid al-syariah.

 Kajian filsafat hukum Islam akan memberikan pengetahuan hukum Islam secara utuh kepada ahli hukum yang mengkajinya. Filsafat hukum Islam telah

menghendaki dilakukannya suatu pengkajian mendalam terhadap setiap cabang ilmu hukum Islam. Filsafat hukum Islam diperlukan bagi pengkajian setiap

(48)

Istilah Politik

 Secara esensi, politik adalah kegiatan dalam suatu sistem negara tentang proses menentukan tujuan (public goal), pelaksanaan (implementation) tujuan, pengambilan keputusan (decision making), sleksi alternatif dan skala prioritas pelaksanaan, kebijakan umum (public policy),

pengaturan (regulation), pembagian (distribution), sumber-sumber untuk melaksankan tujuan, kekuasaan (power) dan kewenangan

(authority), yang dipakai untuk membina kerjasama dan menyelesaikan

konflik, bersifat persuasif (meyakinkan), dan co-ersif (paksaan).

 Secara substansi, yaitu: 1) negara (state), 2) kekuasaan (power), 3)

pengambilan keputusan (decision making), 4) kebijakan umum (public policy), dan 5) pembagian (distribution) dan alokasi (allocation).

 Konsep politik merupakan usaha-usaha yang ditempuh warga negara untuk membicarakan dan mewujudkan kebaikan bersama (Aristoteles).

 Hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan negara dan pemerintahan (Max Weber).

 Kegiatan yang diarahkan untuk mencapai dan mempertahankan kekuasaan dalam masyarakat (Robson).

 Konsep lainnya: Kegiatan berkaitan dengan perumusan dan

pelaksanaan kebijakan umum; Konflik dalam rangka mencari dan

(49)

• Kata politik dalam bahasa Arab berasal dari kata siyasah; sasa, yasusu, siyasata

(n), yang bermakna mengatur atau mengendalikan.

• M. Quraish Shihab: Hukm bermakna ―menghalangi atau melarang dalam rangka

perbaikan‖. Dari kata hukm terbentuk kata hikmah, yang makna awalnya kendali. Sebuah makna yang sama dengan sasa, yasusu, mengatur atau mengendalikan.

• A. Djazuli mensinonimkan frasa sasa-yasusu-siyasata (n) dengan dabbara-yudabbiru-tadbira (n), yang mempunyai makna mengatur, mengendalikan, mengurus, dan membuat keputusan. Kata sasa terdapat dalam hadits riwayat Imam Muslim: Kanat Banu Israil Tasusuhum al-Anbiya‟ (Bani Israil

diurus/dikendalikan oleh nabi-nabi mereka). Berdasarkan hadits inilah, A. Djazuli mengartikan siyasah dengan ―al-qiyam ala syai –n- bima yaslahahu

(memimpin terhadap sesuatu hal dengan cara yang membawa kemaslahatan).

• Ahmad Fathi Bahansi mengartikan siyasah sebagai tadbiru mashalih al-„ibad

„ala wafqi al-syar‟i (pengurusan kemaslahatan manusia sesuai dengan ketentuan Syara).

• Ibn Qayyim mendefinisikan siyasah dengan segala tindakan yang membawa masyarakat lebih dekat kepada kemaslahatan dan menjauhkan dari kerusakan, meski secara garis yuridis Allah dan Rasul-Nya tidak menetapkan.

• Ibn Taymiyyah, dalam ―As-Siyasah As-Syar‟iyyah fi Ishlahi ar-Ra‟i wa ar

-Ra‟iyah,‖ memberikan pengertian siyasah dalam konteks pelaksanaan amanat negara, dimana wilayat (jabatan-jabatan dalam pemerinatah) dibutuhkan

kreteria yang as}alah (paling layak dan sesuai), yang terbaik, mempunyai sifat

(50)

Istilah Politik Hukum

Politik hukum adalah sebuah

legal policy

mengenai hukum

yang akan diberlakukan demi mencapai tujuan negara. Dalam

konteks kekuasaan, hukum ada dua macam, hukum objektif

dan hukum subjektif. Hukum objektif adalah kekuasaan yang

menagatur (tata tertib di dalam masyarakat). Hukum subjektif

ialah kekuasaan yang diatur oleh hukum objektif.

Surojo Wignjodipuro menyatakan, hukum adalah kekuasaan

(baca: politik) meskipun kekuasaan tidak mesti hukum.

Secara politik, hukum sering kali dipandang sebagai alat yang

digunakan pemerintah demi menciptakan hukum dalam

(51)

Istilah Politik Hukum Islam

(52)

Istilah Ekonomi

 Istilah ―ekonomi‖ berkenaan dengan asas-asas produksi, distribusi, dan pemakaian barang-barang serta kekayaan, seperti keuangan,

perindustrian, dan perdagangan; pemanfaatan uang, tenaga, waktu, dan sebagainya yang mempunyai harga (KBBI).

 Ekonomi merupakan ilmu yang menentukan apa yang diproduksi, bagaimana diproduksi, dan siapa yang memperolehnya. Sehingga

ekonomi dari sudut pandang ilmu berarti studi dan analisa tentang cara-cara masyarakat memproduksi dan mendistribusikan barang dan jasa (Anton Athoillah dan Bambang Anees).

 Ilmu ekonomi adalah cabang ilmu sosial yang menganalisis dan menjelaskan prilaku manusia dalam mengambil keputusan

pengalokasian sumber daya yang terbatas. Para ekonomo mengkaji cara yang cukup kompleks di mana tiga pertanyaan berikut di jawab dalam masyarakat tertentu: barang dan jasa apa yang akan diproduksi (dan

berapa banyak); bagaimana barang dan jasa ini akan diproduksi (dengan memanfaatkan kombinasi beragam substitusi faktor produksi); dan

bagaimana barang dan jasa yang diproduksi tersebut didistribusikan di antara individu dan kelompok masyarakat (Paul M. Johnson).

 Ekonomi mendiskusikan tentang sistem dan pola distribusi barang dan jasa yang diproduksi sehingga kebutuhan semua individu dapat dipenuhi secara memadai dan terjadi pula distribusi pendapatan dan kekayaan

(53)

Istilah Politik Ekonomi

 Politik ekonomi adalah tujuan yang akan dicapai oleh kaedah-kaedah hukum yang dipakai untuk berlakunya suatu mekanisme pengaturan kehidupan masyarakat. Para ahli ekonomi politik tertarik untuk menganalisis dan menjelaskan beragam dampak yang ditimbulkan pemerintah terhadap alokasi sumber daya terbatas dalam masyarakat, melalui ketetapan hukum dan kebijakannya. Ketertarikan serupa ditunjukan pada mekanisme berjalannya sistem ekonomi. Juga perilaku masyarakat dan pengaruhnya pada bentuk pemerintah dan jenis ketetapan hukum serta kebijakan yang diambilnya (Paul M. Johnson).

 Sedangkan aliran-aliran politik ekonomi yang populer adalah, sosialisme, kapitalisme dan negara kesejahteraan.

1. Sosialisme adalah sekelompok ideologi dengan sistem perekonomian yang menekankan bahwa seluruh atau hampir seluruh sumber daya produktif adalah milik pemerintah. Dalam sosialisme, produksi serta distribusi barang dan jasa utamanya diatur pemerintah ketimbang perusahaan swasta. Selain itu, produksi swasta dan pendistribusiannya diregulasi secara ketat oleh pemerintah ketimbang melalui proses pasar.

2. Kapitalisme adalah suatu tatanan ekonomi yang ditandai dengan kepemimpinan alat-alat produksi secara pribadi, kebebasan menggunakannya secara pribadi, membeli dan menjual properti atau jasa dalam pasar dengan harga dan kondisi yang disepakati. Keseluruhan proses terjadi dengan keterlibatan yang sangat minim dari negara atau kelompok ketiga yang

berwenang.

3. Negara kesejahteraan (welfare state) ialah suatu negara yang pemerintahannya mencurahkan sebagian aktivitas dan pengeluarannya untuk keuntungan personal yang dikonsumsi oleh

(54)

Istilah Ekonomi Syariah

 Ekonomi sayriah adalah usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh orang per orang, kelompok orang, badan usaha, yang berbadan hukum atau

tidak berbadan hukum dalam rangka memenuhi kebutuhan yang bersifat komersial dan tidak komersial menurut prinsip syariah (KHES).

 Ekonomi syariah merupakan sekumpulan dasar-dasar umum ekonomi yang disimpulkan dari Al-Qur‘an dan As-Sunnah, dan merupakan

bangunan perekonomian yang didirakan di atas landasan dasar-dasar tersebut sesuai lingkungan dan masa (Ahmad Muhammad al-‗assal dan Fathi Ahmad Abdul Karim)

 Ekonomi syariah adalah kumpulan norma hukum yang bersumber dari al-Qur‘an dan al-Hadits yang mengatur perekonomian umat manusia

(Zainuddin Ali).

 Ekonomi syariah adalah ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang diilhami nilai-nilai Islam (MA Manan).

 Ekonomi syariah merupakan sistem ekonomi yang bersumber dari wahyu dan sumber interpretasi yang disebut ijtihad (Mardani).

(55)

Istilah Muamalah

Selain dipahami sebagai kerangka bangunan sistem perekonomian

Islam, pengertian ekonomi syariah dapat dipahami dari istilah

―hukum ekonomi syariah‖ atau ―fiqih ekonomi syariah‖. Hal ini

berarti memahami ekonomi syariah dalam struktur ilmu hukum

Islam sebagai kategori fiqih muamalah.

Pengertian muamalah ada pengertian yang luas dan ada

pengertian yang sempit.

Muamalah dalam pengertian yang luas dipahami sebagai

ketentuan

syara

berkenaan dengan berbagai aspek kebutuhan

manusia dalam segala urusan keduniaan.

Sedangkan muamalah dalam pengertian tertentu yang spesifik

(56)

Sistem Ekonomi Syariah

 Sistem Ekonomi Syariah terdiri atas: Sistem Aplikasi Ekonomi Syariah, Teori-teori Ekonomi Syariah, dan Metodologi Ilmu Ekonomi Syariah.

 Sistem ekonomi syariah diformulasikan melalui tiga kata kunci

konsepsional, yaitu: 1) al-falah, yaitu kesejahteraan; 2) resources atau sumber-sumber daya; dan 3) kooperasi dan partisipasi.

Pertama, istilah al-falah secara harfiah mengandung makna menjadi bahagia; berhasil, atau menjadi orang yang berhasil. Sekalipun demikian, kata al-falah mengandung makna kesejahteraan dunia dan akhirat.

Kesejahteraan di akhirat mencakup kesejahteraan spritual. Sedangkan kesejahteraan di dunia meliputi kesejahteraan ekonomi, kesejahteraan kultural, dan kesejahteraan politik.

Kedua, kata kunci setelah al-falah adalah resource, yaitu sumber daya alam. Perimis sumber daya alam dalam ekonomi Islam ialah bahwa

manusia dapat mencukupi keseluruhan hidupnya karena Allah telah

menciptakan seluruh alam ini untuk kepentingan manusia. Sumber daya alam sudah adekuat (adequacy) untuk mencapai kesejahteraan manusia. Sehingga bila terjadi kelangkaan barang dan jasa, ilmu ekonomi syariah harus mengupayakan keseimbangannya.

Ketiga, kata kunci ekonomi syariah adalah kooperatif dan partisipasi. Islam menekankan kerja sama antara sesama umat manusia dan alam semesta yang diciptakan Tuhan menjadi model kehidupan dan

(57)

Istilah Gerakan Politik Ekonomi Islam

• Secara umum, politik ekonomi Islam merupakan pemikiran

masalah-masalah mendasar berdasarkan hukum syara‟ yang digali dari Al-Qu‘an dan As-Sunnah bagi terwujudnya ketenangan abadi dan hidup mulia

(Abdurrahman al-Maliki).

• Politik ekonomi Islam adalah kebijakan hukum yang dibuat oleh suatu pemerintahan menyangkut pembangunan ekonomi untuk menjamin

terpenuhinya kebutuhan masyarakat dengan menjadikan nilai-nilai syari‘at Islam sebagai ukuranya (Ija Suntana).

• Politik ekonomi Islam mengandung beberapa pengertian. Pertama, politik ekonomi Islam bermakna pemikiran dan aktivitas perekonomian

berdasarkan prinsip-prinsip dasar umum syariah berhubungan dengan

negara dan kekuasaan. Kedua, politik ekonomi Islam dapat juga dipahami sebagai intervensi negara terhadap pengaturan harta kekayaan negara yang sumber rujukannya dari Al-Qur‘an dan sunnah. Ketiga, politik ekonomi Islam dapat dipahami sebagai pengaturan sistem produksi dan distribusi barang dan jasa secara maslahat melalui prinsip-prinsip syariah demi terwujudnya kesejahteraan umat.

(58)

Argumen Teologis dan Filosofis

Para pemikir ekonomi muslim kontemporer merasa perlu membangun pemikiran dan disiplin ekonomi Islam dalam kerangka kerja

pembangunan sosial budaya dan politik yang dilandasi oleh dua

argumentasi. Pertama, argumentasi teologi yang menyatakan bahwa Islam adalah agama samawi. Islam, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur‘an, antara lain: membimbing kehidupan manusia, baik sosial, politik, maupun ekonomi (QS. Al-Baqarah [2]: 2 dan 185); Al-Qur‘an adalah al-furqan (criterion) pembeda antara yang hak dan yang batil

(QS. Al-Furqan [25]: 1); Al-Qur‘an mengandung aturan hukum yang terperinci (QS. Hud [11]: 1); dan Islam adalah agama yang sempurna yang merupakan karunia Tuhan (QS. Al-Ma‘idah [5]: 3). Kedua,

argumentasi filosofis empiris dan faktual, meliputi: 1) ada kesenjangan dan kelangkaan literatur di bidang ilmu ekonomi yang dapat

menjelaskan filsafat, kelembagaan, prinsip, nilai, norma dan hukum ekonomi Islam; 2) kenyataan menunjukan diperlukannya

(59)

Prinsip-Prinsip Umum Ekonomi Syariah

1. Hutan, air dan udara dengan segala isinya adalah milik Allah dan tidak boleh dimiliki secara individu;

2. Negara adalah wakil Allah di muka bumi yang mempunyai otoritas mengatur dan mengelola hutan, air, dan udara dengan segala isinya untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat;

3. Negara menjamin pertumbuhan ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat secara jasmani dan rohani (spiritual);

4. Negara menjamin kebebasan pasar selama pasar bekerja sesuai dengan garis ketentuan yang ditetapkan Allah, yaitu keadilan,

keseimbangan, kemanusiaan. Disamping itu, negara juga membuat garis tujuan nyata, seperti pemenuhan tujuan keyakinan dan

kebutuhan-kebutuhannya secara temporal (menjaga keberagamaan, jiwa, berpendapat, keluarga, dan harta);

5. Setiap orang bebas melakukan transaksi dengan siapapun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan Allah, serta hukum dan

(60)

Prinsip-prinsip dasar kepemilikan

1. Pada hakikatnya, kepemilikan bumi dan alam semesta dengan

segala yang ada didalamnya adalah milik Allah;

2.Kedudukan manusia terhadap bumi dan alam semesta hanya

sebagai pemilik sementara;

3. Sumber-sumber daya ekonomi tidak diikuti dengan

kepemilikan oleh sebagian kelompok;

4.Kepemilikan terhadap sesuatu harus didasarkan pada proses

transaksi yang benar sesuai dengan ketentuan Allah (Juhaya S.

Praja, Ekonomi Syariah, 90).

(61)

Prinsip-prinsip dasar produksi, distribusi dan konsumsi

1. Pada dasarnya, prinsip untuk memproduksi sesuatu itu bebas,

termasuk keadilan dalam pengelolaan lahan pertanian dan

pengadaan barang-barang perdagangan yang lebih bagus;

2.Distribusi komoditas dan kekayaan adalah bebas, tetapi bukan

berarti bebas kontrol atau berputar pada sebagian kelompok;

dan

3. Pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat harus didukung oleh

adanya kejelasan hukum dan peraturan-peraturan yang

(62)

Postulat-Postulat Ekonomi Syariah

Satu : Langit dan bumi adalah milik Allah.

Dua : Allah menciptakan langit dan bumi untuk memenuhi keperluan hidup manusia.

Tiga : Memperoleh harta melalui perniagaan dengan saling merekan, dengan tidak cara bathil.

Empat : Harta tidak boleh hanya beredar di antara orang kaya.

Lima : Orang miskin mempunyai hak atas harta orang kaya.

Enam : Pada dasarnya, segala bentuk transaksi dibolehkan, kecuali yang secara tegas dan tekstual diharamkan ( م عملا ف لصأا

ع ل لد لد نأ اإ ح بإا

م رحت ).

Tujuah : Jual beli adalah halal, sedangkan riba adalah haram; infaq dan sedekah ditumbuhsuburkan, sedangkan riba

dimusnahkan.

Delapan : Negara dan pemerintah mempunyai hak pengendalian

(63)

(QS. Al-Baqarah [2]: 284

;

Ali Imran [3]: 109,

129, 180

,

189

;

An-Nisa [4]: 131, 132

;

al-Maidah [5]: 17

,

18, 120

;

Al-

An‘am [

6]: 12;

At-Taubah [9]: 116

;

Yunus [10]: 68; Ibrahim [14]:

23)

. Hak milik manusia adalah relatif, hak

milik mutlak hanya pada Tuhan melalui

institusi duniawi, yakni negara dan

pemerintah. Pemerintah berhak mengatur

lalu lintas status kepemilikan atas tanah.

(64)

Langit dan bumi milik Allah

Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.

Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu

menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu

(65)

Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan (QS. Ali Imran [3]: 109)

Kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dia memberi ampun kepada siapa yang Dia kehendaki; Dia menyiksa siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Ali Imran [3]: 129).

(66)

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah

(67)

Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji (QS. An-Nisa [4]: 131).

(68)
(69)

Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya". Katakanlah: "Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?" (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya dan menyiksa siapa yang Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu) (QS. Al-Maidah [5]: 18).

(70)

Katakanlah: "Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi." Katakanlah: "Kepunyaan Allah." Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman (QS. Al-A ’a [6]: ).

(71)

Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: "Allah mempuyai anak". Maha Suci Allah; Dia-lah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (QS. Yunus [10]: 68).

Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka. Ucapan

(72)

(QS. Ibrahim [14]: 32-33

;

An-Nahl [16]: 12 dan 14

;

Al-Hajj [22]: 65

;

Luqman [31]: 29-30

;

Al-Jasiyah

[45]: 12-13

;

Al-Anbiya [21]: 79; Sad [38]: 18)

. Semua

keperluan manusia telah disediakan Tuhan, tetapi

kecerdasan itu berserakan di muka bumi sehingga

terjadi kelangkaan barang dan jasa di suatu tempat

dan surplus di tempat lain. Dengan demikian,

terbukalah pertumbuhan ekonomi dan perdagangan

yang mendinamisasikan dan memobilisasikan

kehidupan umat manusia yang saling memerlukan

satu dan lainnya. Harga barang dan jasa mengikuti

hukum suplai dan kebutuhan atas barang dan jasa.

(73)

Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai (QS. Ibrahim [14]: 32).

Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus

(74)

Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang

demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya) (QS. An-Nahl [16]: 12).

(75)

Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan

(76)

Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. Luqman [31]: 29).

(77)

Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur (QS. Al-Jasiyah [45]: 12).

Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar

(78)

maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud.

Dan kamilah yang melakukannya (QS. Al-Anbiya [21]: 79).

(79)

Mencatat utang piutang dan jatuh temponya serta akuntabilitas; jujur dalam berusaha; dan menghindari jual-beli gharar, riba dan maysir.

م ضارت ْنع ةر جت ن كت ْنأ ﱠاإ لط بْل ب ْ كنْ ب ْ كلا ْمأ ا كْ ت ا ا نمآ ن ذﱠلا أ

ْن

ا ْ ك

ْ كب ن ك ﱠَا ﱠنإ ْ كس ْنأ ا تْ ت

م حر

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu

dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu‖ (QS. An-Nisa [4]: 29).

Segala bentuk usaha baik yang dilakukan secara individual maupun kolektif, seperti lembaga dan atau institusi pemerintah, mesti dapat dipertanggungjawabkan atau memenuhi persyaratan akuntabilitas. Dengan demikian, setiap kegiatan perniagaan

harus mendapat kepercayaan masyarakat dan negara untuk meraih kualitas bay‘

babrur, antara lain dengan bantuan ilmu akuntansi untuk menjamin akuntabilitasnya. Ayat dan Hadits terkait: QS. al-Baqarah [2]: 72 dan 168; HR. Bukhari dan HR. Ahmad Ibn Hanbal.

(80)

ْذإ

ْ تْنك م ٌجرْخم ﱠَا ف ْ تْأراﱠد ف سْ ن ْ تْ تق

ن متْكت

"Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seseorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkap apa yang selama ini kamu sembunyikan― (QS. al-Baqarah [2]: 72).

هﱠن

Referensi

Dokumen terkait

Here, the writer wants to study the personal relationships between the characters in Robert Frost’s ‘the Death of the Hired Man.’ The writer chooses this poem because it provides

“Pelaksanaan teknik pembelajaran Rotating Review untuk mengatasi Interferensi Proaktif siswa pada mata pelajaran pendidikan Agama Islam materi baca tulis Al- Qur’an yaitu

Pelayanan IMB adalah pelayanan Pemerintah Kabupaten Deli Serdang yang dalam hal ini didelegasikan kepada Dinas Cipta Karya dan Pertambangan Kabupaten Deli

Hasil observasi, cara komunikasi yang dilakukan oleh Satpol PP terhadap pelanggaran yang dilakukan salah satunya adalah menggunakan bahasa yang baik, menjelaskan bahwa sebelum

Fase komputerisasi membuat penggunaan tipografi menjadi lebih mudah dan dalam waktu yang lebih cepat dengan jenis pilihan huruf yang sekarang bisa beribu-ribu pilihan

Revitalisasi Pasar Inpres di Kawasan Transit Oriented Development (TOD), Jakarta Selatan 89 Penataan Pola Tata Ruang Dalam Pasar Legi Tradisional Kota Blitar.

Hadits dari Abi Hurairah ia berkata: “Sesusungguhnya Rasulullah SAW. pernah bersabda: seseorang yang taat kepadaku sesungguhnya ia telah mentaati Allah,