PENGARUH CARA PENGERINGAN BIJI SALAK GADING, PONDOH MANGGALA, DAN PONDOH LUMUT TERHADAP SIFAT KIMIA, FISIK, SENSORIS, DAN AKTIVITAS
ANTIOKSIDAN BUBUK BIJI SALAK SANGRAI
Effect of Drying Method on Physichochemical, Sensorical, and Antioxidant Activities of Gading,
Pondoh Manggala, and Pondoh Lumut Roasted Salacca Seed Powder.
Sri Anggrahini
1dan Agam Gumawang
21 Staf Pengajar Jurusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian FTP UGM 2Mahasiswa Jurusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian FTP UGM
ABSTRAK
Pengeringan biji salak segar masih dilakukan dengan bantuan sinar matahari yang sangat tergantung cuaca sehingga terganggu selama musim hujan. Pada penelitian ini dibuat variabel pengeringan sinar matahari dan cabinet dryer pada tiga varietas biji salak yakni salak Gading, Manggala, dan Lumut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kimia, fisik, sensoris, dan aktivitas antioksidan bubuk biji salak dari varietas Gading, Manggala, dan Lumut serta dua cara pengeringan yakni pengeringan sinar matahari dan cabinet dryer. Pada penelitian ini, biji salak segar dibelah kemudian dikeringakan dengan sinar matahari selama 3 hari atau cabinet dryer suhu 60°C selama 18 jam, disangrai dengan wajan padasuhu 180°C selama 30 menit, digiling dan diayak. Analisis proksimat, analisis total fenolik, dan aktivitas antioksidan dilakukan terhadap biji salak segar dan bubuk biji salak sangrai. Pengujian sifat fisik meliputi kelarutan dan total padatan terlarut, sedangkan uji kesukaan dilakukan pada 20 panelis. Hasil menunjukkan perbedaan nyata pada paramater komposisi kimia, aktivitas antioksidan, kelarutan,dan keseluruhan antar variabel sampel bubuk biji salak sangrai (p<0,05). Namun total fenolik bubuk biji salak sangrai tidak berbeda.Aktivitas antioksidan bubuk biji salak yang dikeringkan dengan sinar matahari cenderung lebih tinggi daripada pengeringan cabinet dryer. Tetapi total padatan terlarut dari pengeringan cabinet cenderung lebih tinggi dari pengeringan matahari. Bubuk biji salak sangrai varietas Manggala, Lumut, Gading pengeringan sinar matahari serta varietas Lumut, Gading pengeringan kabinet cenderung disukai panelis.
Kata kunci : Biji Salak, Bubuk Biji Salak Sangrai, Pengeringan, Varietas Salak ABSTRACT
Sun drying is usually used during roasted snake fruit seed powder processing. However, powder productions become hampered during raining season due to its highly weather-depended. Cabinet drying can possibly be feasible alternative. This research was conducted to compare and describe the effect of sun drying and cabinet drying on proximate composition, physical and sensory properties, and antioxidant activity of snake fruit powder made from Gading, Manggala, and Lumut varieties. Each of snake fruit seeds from pondoh Manggala, pondoh Lumut, and Gading were divided and dried under two conditions, 3 days sun drying and cabinet drying at 60°C for 18 hours. Dried seed then roasted at 180°C for 30 minutes, grinded, sifted using 40 mesh sieve to obtain seed powder. Samples then analyzed for their proximate composition, total phenolic content, antioxidant activity, solubility, total soluble solid, and panelists preference (color, aroma, taste, and overall). Results showed that there was no significant difference among variables: chemical composition, total phenolic content, solubility, and preference (color, aroma, taste, and overall) but antioxidant activity and total soluble solid were significantly different. Antioxidant activity of roasted seed obtained using sun drying was higher than those of cabinet drying. Total soluble solid of cabinet-dried seed was higher than the sun-dried. Roasted snake fruit’s seed powder from Gading, Manggala, and Lumut varieties from sun drying also Gading and Lumut varieties from cabinet drying are still preferred by panelist
PENDAHULUAN
Produksi salak di Indonesia setiap tahunnya selalu meningkat. Data dari Kementrian Pertanian Republik Indonesia bahwa produksi salak di Indonesia dari tahun 2010 – 2012 adalah 749.876 ton, 1.082.115 ton, dan 1.035.406 ton (Fikri Fathoni, 2014). Salak pondoh merupakan salah satu tanaman salak unggulan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya yang mempunyai rasa manis meskipun buah salak tersebut masih muda dan berbunga sepanjang tahun (Santoso, 1999). Salak pondoh yang ada di Kabupaten Sleman dan sekitarnya ada beberapa jenis, yaitu salak pondoh Lumut, salak pondoh super, salak pondoh Manggala. Selain itu, terdapat salah satu jenis salak khas lainnya yang terdapat di Kabupaten Sleman dan sekitarnya seperti salak Gading.
Salak merupakan buah meja yang dimanfaatkan hanya daging buahnya.Bagian buah salak yang dapat dimakan sekitar 57-69%, sedangkan limbahnya sebanyak 31-43%.Limbah yang dihasilkan dari buah salak adalah kulit dan biji salak. Porsi biji salak sebagai limbah lebih besar daripada kulit salak.Menurut Supriyadi dkk. (2002) biji salak mencapai porsi 25-30% dari bobot total buah salak. Apabila diperhitungkan produksi salak pada tahun 2012 adalah 1.035.406 ton berarti dihasilkan limbah biji salak sekitar 260.000-310.000ton/tahun, hal ini merupakan jumlah yang cukup besar. Pada saat panen raya
produksi salak sangat tinggi sehingga limbah biji salak yang dihasilkannya pun melimpah.
Pengolahan bubuk biji salak sangrai di dusun Donoasih masih sangat sederhana, yaitu biji salak segar dicuci, dipotong- potong, dikeringkan dengan sinar matahari selama 3 hari dan disangrai dengan menggunakan wajan selama 2 jam, digiling, dan diayak. Pengeringan dengan sinar matahari sangat bergantung dengan keadaan cuaca sehingga mengakibatkan produksi bubuk biji salak sangria terganggu pada saat musim hujan. Oleh karena itu, diperlukan alternatif pengeringan buatan untuk menanggulangi kekurangan dari pengeringan sinar matahari. Pada penelitian ini digunakan pengeringan cabinet dryer pada suhu 60°C untuk menyamakan kondisi suhu sama seperti pengeringan matahari.
antioksidan. Sedangkan analisis sifat fisik meliputi kelarutannya dalam air dan total padatan terlarut. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh cara pengeringan dan
varietas biji salak terhadap sifat sensoris,
kimia, fisik, dan aktivitas antioksidan bubuk
biji salak sangrai yang dihasilkan serta
mengetahui bubuk biji salak sangrai yang
disukai oleh panelis.
METODE PENELITIAN
Bahan Penelitian
Bahan utama penelitian adalah biji salak varietas pondoh Manggala, pondoh Lumut, dan Gading diperoleh dari Dusun Donoasih, Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Bahan kimia yang digunakan antara lain petroleum eter pro analisis, asam sulfat 95% pro analisis, HCl 0,02 N pro analisis, NaOH-Thiosulfat pro analisis, aquades pro analisis, aquabides pro analisis, reagen Folin-Ciocalciteau pro analisis, silica gel,metanol pro analisis, natrium karbonat 2% pro analisis, bubuk DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) pro analisis diperoleh dari Sigma Aldrich dan Merck Milipore.
Alat Penelitian
Alat yang digunakan untuk penelitian ini adalah oven listrik (scharwach Memmert, 105°C), muffle furnance (TUW 220 PA Advantec), timbangan analit (AND GR 200), distillator
manual, Soxhlet extractor, spektrofotometer (Shimadzu UV-1201 V), cabinet dryer suhu 60°C, dan wajan tanah liat dengan diameter 44 cm dan tinggi 10 cm.
PEMBUATAN BUBUK BIJI SALAK SANGRAI
Dilakukan
pemotongan masing-masing
jenis biji salak dan membagi masing –
masing jenis biji salak menjadi 4 bagian .
Lalu dikeringkan dengan
cabinet dryer
selama 18 jam
atau sinar matahari selama 3
hari. Kemudian, penyangraian dengan wajan
selama 30 menit suhu 180
°
C, kemudian
dilakukan penggilingan dan pengayakan
dengan ukuran 40 mesh sehingga dihasilkan
bubuk biji salak sangrai
ANALISIS SIFAT FISIKOKIMIA
UJI KESUKAAN BUBUK BIJI SALAK SANGRAI
Sebanyak 2 gram bubuk biji salak sangria ditambah dengan 2 gram gula pasir dimasukkan ke dalam gelas. Kemudian, ditambahkan 30 ml air panas dan diseduh sampai larut. Enam gelas yang terdiri dari enam perlakuan diberikan kepada panelis untuk dinilai tingkat kesukaannya terhadap sampel. Penilaian berdasarkan metodeMeilgaard et al (1999), nilai 7 = sangat suka, nilai 6 = suka, nilai 5 = agak suka, nilai 4 = netral, nilai 3 = agak tidak suka, nilai 2 = tidak suka, dan nilai 1 = sangat tidak suka.
RANCANGAN PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 2 variabel independen yaitu jenis biji salak yang terdiri dari tiga variasi (biji salak pondoh Manggala, biji salak pondoh Lumut, dan biji salak Gading) dan cara pengeringan (sinar matahari dan cabinet dryer). Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan One Way ANOVA dan dilanjutkan dengan Duncan Multiple Test Range apabila terdapat beda nyata antar perlakuan, dengan tingkat konfidensi 95% atau p< 0,05.
HASIL DAN PEMBAHASAN Komposisi Kimia Biji Salak Segar
Potensi suatu bahan pangan dapat diketahui dengan meneliti sifat kimianya. Sifat kimia suatu bahan pangan akan berpengaruh terhadap karakteristik produk terutama dari aspek komposisi senyawa kimia atau zat gizi yang dikandung. Hasil analisis kimia proksimat biji salak segar ditampilkan dalam Tabel 1.
Tabel 4.1 Komposisi Kimia Biji Salak Segar
Jenis Salak (%db)Abu Protein(%db)
Lema k
(%db) Karbohidrat (%db) Pondoh Manggala 3,37a 4,52a 0,46b 91,65b Pondoh Lumut 3,66b 5,44b 0,30a 90,60a
Gading 3,93c 5,13b 0,43b 91,07ab
Keterangan: angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda secara nyata (p<0,05)
TOTAL FENOLIK DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN BIJI SALAK SEGAR
Polifenol adalah kelompok antioksidan yang secara alami ada di dalam tumbuhan dan terdiri dari asam – asam fenolik yang merupakan metabolit intermediet pada tumbuhan. Secara umum kekuatan senyawa fenolik sebagai antioksidan tergantung dari beberapa faktor seperti ikatan gugus hidroksil pada cincin aromatik, posisi ikatan, posisi hidroksil bolak balik pada cincin aromatik dan kemampuannya dalam memberikan donor hidrogen atau elektron (Mokgope, 2006).
Berdasarkan penelitian Latuconsina et al. (2014), salah satu senyawa fenolik yang terdapat pada biji salak adalah flavonoid. Total fenolik dan aktivitas antioksidan biji salak segar dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Total Fenolik dan Aktivitas Antioksidan Biji Salak Segar
Jenis Salak FenolikTotal (%)
Aktivitas Antioksidan
(%DPPH) Pondoh Manggala 0,63a 11,79b
Pondoh Lumut 0,63a 8,94a
Gading 0,65a 14,22c
Keterangan : angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang samamenunjukkan tidak berbeda nyata (p<0,05)
Total polifenol masing – masing sampel biji salak tidak berbeda nyata. Adanya kandungan polifenol pada biji salak, dapat dikatakan adanya aktivitas antioksidan pada biji salak tersebut. Semakin tinggi aktivitas antioksidan, maka semakin tinggi pula aktivitasnya untuk
menangkal radikal bebas. Pada Tabel 2, diperoleh total polifenol yang tidak berbeda nyata tapi menghasilkan aktivitas antioksidan yang berbeda nyata. Hal ini menunjukkan bahwa tingginya aktivitas penangkapan radikal DPPH tidak hanya ditentukan oleh kandungan total fenoliknya, tetapi juga dipengaruhi oleh bentuk dimer atau oligomer serta jenis dari senyawa fenoliknya. Hal ini sesuai dengan laporan Osakabe, dkk (2002) bahwa senyawa (+)-katekin memiliki aktivitas antioksidan yang berbeda dengan bentuk oligomernya.
KOMPOSISI KIMIA BUBUK BIJI SALAK SANGRAI
Keterangan : angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata (p<0,05)
Berdasarkan Tabel 3, komposisi kimia bubuk biji salak sangria berbeda nyata secara signifikan. Pada komposisi kimia bubuk biji salak sangrai, terjadi kenaikan kadar lemak dan penurunan kadar protein dari bahan baku berupa biji salaksegar. Terjadi kenaikan kadar lemak pada sampel karena dalam hal ini produk bubuk biji salak sangrai teksturnya menjadi lebih rapuh dan jaringannya pecah sehingga menghasilkan peningkatan ekstraksi lemak pada sampel bubuk biji salak sangrai (Uquiche et al., 2008).
Penurunan kadar protein pada sampel bubuk biji salak sangrai dari bahan baku biji salak segar disebabkan karena reaksi Maillard. Reaksi Maillard antara protein dan gula menurunkan kandungan protein, tergantung pada tipe bahan baku, komposisinya, dan kondisi proses (Singh et al.,2007; Adeyeye., 2010). Adanya nitrogen yang menguap pada hasil reaksi Maillard seperti senyawa pirol, piridin, dan pirazin. Senyawa nitrogen volatil tersebut dihasilkan dari tahap degradasi Strecker (DeMan, 1989). Hasil ini didukung oleh penelitian (El Beltagi, 2011) yang mengobservasi kadar protein kacang tanah setelah penyangraian 180 °C selama 45 menit.
Kadar abu cenderung menurun dari bahan baku biji salak segarkarenaterjadinya kehilangan selama pengolahan dari bahan baku biji salak segar menjadi produk bubuk biji salak sangrai terutama saat proses penyangraian (Mbah et al., 2013). Kandungan karbohidrat cenderung meningkat dari biji salak segar karena berdasarkan perhitungan terjadi penurunan kadar air yang nyata secara signifikan.
TOTAL FENOLIK DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN BUBUK BIJI SALAK SANGRAI
Tahapan proses pengolahan biji salak segar menjadi bubuk biji salak sangrai mengakibatkan perubahan pada komposisi total fenolik dan aktivitas antioksidan sampel. Data total fenolik dan aktivitas antioksidan bubuk biji salak sangrai dari tiga varietas dan dua cara pengeringan dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4.3. Komposisi KimiaBubuk Biji Salak Sangrai
Varietas Salak
Cara pengeringan
Abu (%db)
Protein (%db)
Lemak (%db)
Karbohidrat (%db)
Manggala
Kabinet
3,51b 3,23a 0,70bc 92,56bc
Lumut 3,53bc 3,73b 0,42a 92,33b
Gading 3,26a 3,19a 0,78cd 92,77c
Manggala
Sinar matahari
3,34a 3,38a 0,81d 92,47bc
Lumut 3,62c 3,85b 0,68b 91,83a
Keterangan:angka yang diikuti huruf yang sama pada
kolom yang sama menunjukkan tidak
tidak berbeda nyata pada (p<0,05)
Berdasarkan Tabel 4, tidak ada perbedaan nyata pada total fenolik bubuk biji salak sangria dari enam sampel. Pada bubuk biji salak sangria terjadi penurunan total fenolik dari biji segar. Oliviero et al (2009) menyatakan bahwa pada proses penyangraian atau perlakuan panas terjadi degradasi senyawa fenolik bebas atau terikat membentuk struktur polimer tergantung dengan kondisi penyangraian. Pada penelitian El Anany (2015) terjadi penurunan total fenolik pada sampel biji jambu yang disangrai pada suhu 150°C lebih dari 10 menit.
Namun, ada peningkatan aktivitas antioksidan biji salak segar yang diolah menjadi bubuk biji salak sangrai secara nyata. Peningkatan aktivitas antioksidatif diakibatkan oleh terbentuknya senyawa baru yang berpotensi sebagai antioksidan misalnya produk khas
hasil reaksi antara karbonil dan asam amino, hasil reaksi produk antara lipida, protein dan karbohidrat, atau mungkin juga hasil reaksi karamelisasi gula (Yen dan Hsieh, 1998). Senyawa kimia seperti HMF (5 – hidroksimetil-2-furaldehid), yang merupakan hasil reaksi Maillard yang diduga berkontribusi pada produk hasil penyangraian seperti pada sampel legum (Duenas et al. 2006; Siddhuraju 2006). Senyawa hasil reaksi Maillard lainnya seperti amino redukton, senyawa heterosiklik, ataumelanoidin teridentifikasi memiliki aktivitas antioksidan (Dittrich et al., 2009).Hal ini didukung oleh penelitian El Anany (2015) yang menyebutkan bahwa biji jambu yang disangrai memiliki aktivitas penangkapan radikal DPPH yang lebih tinggi dibandingkan biji jambu segar.
Pada sampel bubuk biji salak sangrai yang dikeringkan dengan sinar matahari memperlihatkan kecenderungan aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan bubuk biji salak sangrai yang dikeringkan dengan
Tabel 4.4 Total Fenolik dan Aktivitas Antioksidan Bubuk Biji Salak Sangrai
Varietas Salak Cara Pengeringan Total fenolik Aktivitas Antioksidan(%DPPH)
Manggala
Kabinet
0,02±0,00
a 88,49±0,69c
Lumut 0,02±0,00a 81,30±0,70a
Gading 0,02±0,00a 86,17±0,70b
Manggala
Sinar matahari
0,01±0,00a 89,28±0,00c
Lumut 0,01±0,00a 86,85±0,80b
cabinet dryer. Hal ini dapat dijelaskan karena adanya komponen antioksidan tertentu yang dapat dipertahankan bila dikeringkan dengan sinar matahari dibandingkan dengan sampel yang dikeringakn cabinet dryer. Pernyataan ini didukung oleh penelitian Punbusayakul dan Setha (2014), pada sampel pulp kopi Arabika yang dikeringkan dengan sinar matahari memiliki aktivitas penangkapan radikal DPPH yang lebih tinggi dibandingkan yang sampel pulp kopi Arabika yang dikeringkan dengan tray dryer suhu 60°C karena kadar asam klorogenat pulp kopi yang dikeringkan dengan sinar matahari lebih tinggi dibandingkan pulp kopi yang dikeringkan dengan tray dryer.
KELARUTAN DAN TOTAL PADATAN TERLARUT BUBUK BIJI SALAK SANGRAI
Kelarutan dan Total padatan terlarut merupakan parameter sifat fisik yang cukup penting dalam menentukan mutu bubuk biji salak sangrai yang dihasilkan. Kelarutan merupakan parameter waktu yang digunakan sampel untuk melarut sempurna dalam air panas sampai tidak ada bubuk yang melayang di permukaan seduhan. Sedangkan total padatan terlarut adalah persen bobot bubuk yang terlarut dalam air panas. Data total padatan terlarut dan kelarutan sampel bubuk biji salak sangrai dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Kelarutan dan Total Padatan Terlarut Bubuk Biji Salak Sangrai
Keterangan : angka yang diikuti oleh huruf yang
sama pada kolom yang sama menunjukkan beda nyata pada (p<0,05)
Berdasarkan Tabel 5, total padatan terlarut berbeda nyata dan kelarutan sampel berbeda nyata secara signifikan. Menurut Anonim (1992), kelarutan sampel dikatakan baik bila waktu melarut sempurna dibawah 30 detik pada instan. Pada sampel bubuk biji salak sangrai, kelarutan di atas 30 detik karena bukan merupakan minuman instan. Kelarutan di atas 30 detik disebabkan karena diduga bubuk biji salak sangrai masih mengandung padatan tidak terlarut seperti selulosa (Fikri Fathoni, 2014). Kelarutan dalam air dan total padatan terlarut berhubungan erat dengan mikrostruktur dari bubuk yang dihasilkan (Anandharamakrishnan et al., 2010), dan parameter bentuk (Gaiani et al., 2011). Struktur memiliki peran penting terhadap kelarutan dan total padatan terlarut karena struktur yang berpori mampu melakukan imbibisi kapiler pada saat rehidrasi (Saguy et al., 2005). Perbedaan nyata pada waktu kelarutan masing –
Varietas
Salak PengeringanCara Kelarutan(detik) Total PadatanTerlarut (%) Manggala
Kabinet
74c 25,63b
Lumut 69a 26,28b
Gading 72b 25,69b
Manggala
Sinar matahari
76d 20,68a
Lumut 69a 21,81a
masing sampel diduga dipengaruhi oleh kadar lipid sampel. Sebab senyawa lipid merupakan senyawa yang tidak larut dalam air ( Winarno, 2008).
Nilai total padatan terlarut masih tergolong rendah disebabkan karena bubuk biji salak sangria di dominasi oleh padatan – padatan biji salak yang tidak terlarut dengan air seperti selulosa dan serat kasar lainnya (Fikri Fathoni, 2014). Bubuk biji salak sangrai yang dihasilkan dari pengeringan cabinet dryer cenderung total padatan terlarutnya lebih tinggi. Achyadi (2008) menyatakan bahwa adanya hubungan antara kadar air bahan dengan kadar total padatan terlarut. Semakin tinggi nilai kadar air, maka total padatan terlarut akan semakin rendah. Faktor lain yang mempengaruhi total padatan terlarut sampel bubuk biji salak sangrai adalah tempat tumbuh, kandungan unsur hara tanah, dan faktor lingkungan, perlakuan pra panen, panen, dan pasca panen bahan baku.
HASIL KESUKAAN SENSORIS SEDUHAN BUBUK BIJI SALAK SANGRAI
Uji sensoris dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kesukaan panelis terhadap produk yang dihasilkan. Uji sensoris yang dilaksanakan pada penelitian ini menyangkut warna, aroma, rasa, dan keseluruhan seduhan bubuk biji salak sangrai yang dihasilkan dan dilakukan pada 20 panelis dengan menggunakan metoda skoring. Nilai kesukaan atribut warna,
aroma, rasa, dan keseluruhan dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Hasil Kesukaan Bubuk Biji Salak Sangrai
Keterangan: angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda secara nyata (p < 0,05)
Nilai 1 = sangat tidak suka, 2 =
tidak suka, 3 = agak tidak suka
4 = netral, 5 = agak suka, 6 = suka,
7 = sangat suka
Warna
Warna seduhan bubuk biji salak sangrai tergantung dari tingkat penyangraian yang dilakukan. Warna seduhan merupakan faktor pokok dalam penentuan seduhan bubuk biji salak sangrai.Hal ini karena warna seduhan adalah sesuatu yang nampak pertama sebelum konsumen tertarik untuk mencoba merasakan rasanya.Warna merupakan kumpulan berkas cahaya yang dipantulkan dari benda menuju retina (Rohmah, 2009).
Berdasarkan Tabel 6, adanya beda nyata antar sampel diduga karena perbedaan intensitas kecerahan warna coklat yang dihasilkan.Dapat dikatakan bahwa nilai kesukaan panelis terhadap atribut warna sudah di atas netral dan cenderung Varietas
salak PengeringanCara Warna Aroma Rasa Keseluruhan Manggala
Kabinet
4,90b 3,65a 3,20a 3,40a
Lumut 4,00a 4,40ab 4,75b 4,55b
Gading 5,00b 4,65ab 4,40b 4,70b
Manggala
Sinar matahari
5,25b 4,80b 4,60b 4,85b
Lumut 5,25b 4,45ab 4,15ab 4,50b
mendekati agak suka.Berdasarkan komentar lembar uji kesukaan, warna bubuk biji salak sangrai disukai panelis diduga karena warna coklat tua yang dihasilkan mirip seperti warna seduhan kopi bubuk. Winarno (2008) menyatakan warna coklat tua setelah penyangraian bahan merupakan produk dari reaksi Mailard antara gula reduksi dengan asam amino. Warna coklat tersebut berupa senyawa Melanoidin yang merupakan produk akhir reaksi Maillard (Winarno, 2008).
Aroma
Aroma seduhan bubuk biji salak sangrai muncul sebagai akibat menguapnya senyawa volatil dari seduhan yang tertangkap oleh sensor aroma dalam hidung manusia. Aroma seduhan juga sangat penting dalam menentukan tingkat kesukaan konsumen. Berbeda dengan warna seduhan, aroma sifatnya sangat cepat berubah terkait dengan banyaknya senyawa yang menguap sehingga suhu seduhan sangat menentukan aroma yang dikeluarkan (Rohmah, 2009).
Berdasarkan Tabel 6, pada atribut aroma diperoleh nilai kesukaan cenderung menuju agak disukai panelis. Ada beda nyata antar sampel kecuali sampel bubuk biji salak sangrai varietas Manggala .Sampel bubuk biji salak sangrai yang aromanya paling disukai adalah bubuk biji salak sangrai Manggala pengeringan matahari. Berdasarkan komentar kuesioner, dapat diperoleh kesimpulan rasa bubuk biji salak sangrai yang
disukai antara lain tidak asam, rasa otentik salak, dan rasanya juga hampir menyerupai kopi. Aroma yang dihasilkan pada seduhan bubuk biji salak sangrai berasal dari produk reaksi Maillard dan reaksi karamelisasi gula akibat penyangraian (Winarno, 2008)
Rasa
Kesukaan rasa seduhan dimaksudkan untuk menentukan apakah bubuk biji salak sangrai dapat menghasilkan cita rasa seduhan yang disukai oleh panelis. Rasa merupakan respon dari senyawa kimia yang diterima taste buds yang terdapat pada indera pengecap (Winarno, 2008). Berdasarkan Tabel 6, pada atribut rasa diperoleh hasil cenderung beda nyata. Hal ini berarti nilai kesukaan terhadap atribut rasa cenderung agak suka. Berdasarkan pernyataan panelis di kuesioner, sampel bubuk biji salak sangrai disukai rasanya tidak asam, hampir mirip kopi, dan rasanya otentik salak.
Keseluruhan
panelis. Sedangkan sampel perlakuan lain varietas Manggala pengeringan sinar matahari, varietas Gading pengeringan sinar matahari, varietas Lumut pengeringan sinar matahari, varietas Lumut pengeringan kabinet, dan varietas Gading pengeringan kabinet disukai cenderung masih diterima dan disukai oleh panelis. Oleh karena itu, pengeringan cabinet dryer dapat dijadikan alternatif untuk mengeringkan biji salak segar sebelum disangrai tanpa mengurangi penerimaan kesukaan konsumen secara sensoris.
KESIMPULAN
Komposisi kimia, kelarutan, total padatan
terlarut, dan aktivitas antioksidanbubuk biji salak
sangrai dari dua perlakuancara pengeringan
berbeda. Namun, total fenolik tidak berbeda.
Karakteristik kimiawi bubuk biji salak memiliki
kadarabu 3,26-3,62%db, protein 3,19-3,85%db,
lipid 0,42-0,81%db, karbohidrat 91,83-92,77%db,
total fenolik 0,01-0,02%, aktivitas antioksidan
81,30-89,61% DPPH. Sedangkan sifat fisik
bubuk biji salak yang dihasilkan memiliki
kelarutan 69-74 detik dan total padatan terlarut
20,68-26,28%. Bubuk biji salak varietas
Manggala, Lumut, dan Gading dengan
pengeringan sinar matahari serta varietas Lumut,
Gading pengeringan kabinet masih disukai
panelis.
DAFTAR PUSTAKA
Achyadi, Nana Sutisna. 2008. Kajian
Pengaruh Varietas dan Ketebalan Irisan
terhadap Karakteristik Bawang Merah
dengan Metoda Beku yang
Dikeringkan. Jurnal Universitas
Pasundan. 10 (1) : 1-7
Adeyeye,
E.2010
.
Effect
of
CookingandRoasting on the Amino
Acid
Composition
of
RawGroundnut
(Arachishypogaea)
Seed
s. ActaSci Pol TechnolAliment.
9(2):201–216
Anandharamakrishnan,C. Rielly,C.D. dan
Stapley,A.G.F. 2010.
Spray-Freeze-Drying of
WheyProteinsatSub-AtmosphericPressures.Dairy Science
Technology. 90 (10) : 321–334
Anonim.1992.Soluble Coffee Powder(Third
revision). Bureau of Indian Standards:
New Delhi
Anonim.1995.Official
Method
of
Analysis,16
thed
.
AOAC
International :Saithersbug, Maryland
DeMan, J. M. 1989. Kimia Makanan Edisi
Kedua
Terjemahan
Kosasih
PadnawinataTahun 1997. Penerbit
ITB : Bandung
Dittrich, R Dragonas,C. Kannenkeril,
D.Hoffmann,I.
Mueller,
A.danBeckmann, M.W
.
2009.A Diet
Rich inMaillardReaction Products
Protects
LDL
against
Duenas, M. Hernández, T.danEstrella, I.
2006. Assessment
of
In
VitroAntioxidantCapacity of the Seed
CoatandtheCotyledon
of
LegumesinRelationtoTheirPhenolicCon
tents. Journal of Food Chemistry.
98(1): 95–103
El
Anany,
A.
M.
2015.
NutritionalComposition,
AntinutritionalFactors,
BioactiveCompoundsandAntioxidantA
ctivity
of
GuavaSeeds
(Psidiummyrtaceae)
as
AffectedbyRoastingProcesses
.
Journal
of Food Science and Technology. 52 (4)
: 2175 – 2183
EL-Beltagi, H.S. 2011. Effect of
RoastingTreatments on Protein
FractionProfiles,
SomeEnzyme
Activities of EgyptianPeanuts.
International Journal of Food Science
and Nutrition. 62(5):453–456
FahrizanManda, Sahputra. 2008. Potensi
Ekstrak Kulit dan Daging Buah Salak
sebagai Antidiabetes.Skripsi FMIPA
Institut PertanianBogor: Bogor
Fikri Fathoni.2014.Studi Potensi Biji Salak
(Salacca edulis
Reinw
)
Sebagai
Sumber Alternatif Monosakarida
dengan Cara Hidrolisis Menggunakan
Asam Sulfat
.
Skripsi FTP Universitas
Gadjah Mada : Yogyakarta
Gaiani,C. Boyanova, P Hussain, R
MurrietaPazos, I Karam, M.C.
Burgain, J.danScher, J. 2011.
MorphologicalDescriptorsandColour as
a
TooltoBetterUnderstandRehydrationPro
perties of DairyPowders.International
Dairy Journal. 21 : 462–469
Kelebek, H. danSelli,S. 2011 .Evaluation of
Chemical
ConstituentsandAntioxidantActivity of
SweetCherry
(Prunusavium)
cultivars.
International Journal of Food Science
and Technology. 46 (12) : 2530–2537
Latuconsina,
N.H.Fatimawali
dan
Citraningtyas, G. 2014. Uji Efektivitas
Diuretik Ekstrak Etanol Biji Salak pada
Tikus Putih Galur Jantan Wistar
.
Jurnal
Ilmiah Farmasi. 3 (3) : 176 – 181
Mbah,B.O.Eme,P.E. danEze, C.N.2013.
NutrientPotential of Almond Seed
(Terminaliacatappa)
Sourcedfrom
Three States of Eastern Nigeria.
African Journal of Agricultural
Resources. 8 (7) : 629–633
Meilgaard, M.Civille,G.V. dan Carr,B.T.
1999. Sensory EvaluationTechniques.
CRC Press : New York
Mokgope,L.B.
2006.Cowpea
Seed
CoatsandTheirExtracts
:
PhenolicCompositionandUse
as
AntioxidantsinSunflower
Oil
.
Department of Food Science
University of Pretoria : South Africa
Nebesny, E danBudryn, G. 2003
.
AntioxidativeActivity of Green
andRoasted Coffee Beans as
InfluencedbyConvectionandMicrowave
RoastingMethodsandContent
of
CertainCompounds. European Food
Research andTechnology. 217 (2) :
157–163
Model Systems.Journal of Agricultural
andFood Chemistry. 57(1) : 147-152
Osakabe, N., Yasuda, A., Natsume, M.,
Takizawa, T., Terao, J. dan Kondo, K.,
2002.Catechins
and
Their
OligomersLinked by C4 → C8 Bonds
are
MajorCacaoPolyphenols and
ProtectLow-DensityLipoprotein from
OxidationInVitro.
Experimental
Biology and Medicine.227 (310): 51-56
Punbusayakul, N dan Setha, S. 2014.
EffectDryingMethods
on
BioactiveCompoundandAntioxidantAct
ivityArabica Coffee Pulp. Journal of
Agriculturaland Food Chemistry. 23
(104) : 162 – 167
Rohanah, A.Pangabean,J.Rindang, A. dan
Susanto, E. 2013. Uji Beda Ukuran
Mesh terhadap Penggiling Multifucer.
Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan. 1
(2) : 60-67
Rohmah, M. 2009. Kajian Sifat Kimia, fisik,
dan
Organoleptik
Kopi
Robusta
(Coffeacannephora),
Kayu
Manis
(Cinnamonunburmanii),
dan
Campurannya. Jurnal Teknologi
Pertanian. 4 (2) : 75 – 83
Saguy,S.I. Marabi,A. dan Wallach, R.
2005
.LiquidImbibitionsDuringRehydration
of DryPorousFoods.Innovative Food
Science EmergingTechnology. 6 (1) :
37–43
Santoso,B.H. 1999. Salak Pondoh. Kanisius :
Yogyakarta
Siddhuraju,
P
.2006.
The
AntioxidantActivityand Free
Radical-ScavengingCapacity of Phenolics of
RawandDryHeatedMothBean(Vignaaco
nitifolia)Marechal Seed Extracts. Food
Chemistry. 99(1):149–157
Singh S, Gamlath S, danWakeling L .2007.
NutritionalAspects of Food Extrusion:
a review. International Journal of Food
Science and Technology. 42 (68) :916–
929
Supriyadi, Suhardi, Suzuki, MYoshida,
KMuto, T.Fujita, AdanWatanabe, N.
2002. Changes in the Volatile
Compounds and in the Chemical and
Physical Properties of Snake Fruit
(
Salaccaedulis
Reinw) Cv. Pondoh
during Maturation.
Journal of
Agricultural and Food Chemistry . 50
(26): 7627-7633
Uquiche, E. Jerez,M. danOrtiz, J. 2008.
Effect of PretreatmentwithMicrowaves
onMechanicalExtractionYieldandQualit
y
of
Vegetable
Oil
fromChileanhazelnuts
(Gevuinaavellana
Mol
).
Innovative
Food
Science
andEmerging
Technologies. 9 (39) : 495–500
Yen, G.C. dan Hsieh, C.L. 1998
.AntioxidantActivity of Du Zhong
(Eucomiaulmoides
)
towardVariousLipidPeroxidationModel
s In Vitro.Journal ofAgricultural Food
Chemistry. 46 (23) : 3952 – 3957
Winarno,
F.G.
2008.Kimia