• Tidak ada hasil yang ditemukan

Reformasi Kebijakan Sektor Telekomunikas docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Reformasi Kebijakan Sektor Telekomunikas docx"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Reformasi Kebijakan Sektor Telekomunikasi di Filipina

Filipina merupakan salah satu Negara di Asia Tenggara yang memiliki wilayah georgrafis berupa kepulauan (Santos, 2011). Filipina memiliki 7.107 pulau dengan Pulau Luzon sebagai pulau terpadat dan Pulau Mindanau sebagai pulau terbesar. Filipina pernah menjadi negara paling maju di Asia pada tahun 1950-1960an karena memiliki hubungan sangat dekat dengan Amerika Serikat. Kedekatan itu terlihat dari proses akulturasi budaya bangsa Malaya dengan bangsa Barat seperti pada penamaan masyarakat asli Filipina dengan bahasa Spanyol dan

upacara pernikahan yang bercorak budaya bangsa Amerika. Di samping itu, sistem pemerintahan Filipina mengikuti sistem pemerintahan Amerika Serikat dengan tiga kekuasaan utama yaitu eksekutif, legislative dan yudikatif. Namun pada tahun 1970 negara ini mengalami

ketertinggalan dari negara Asia lain karena didera masalah politik dalam negeri, salah satunya permasalahan bidang telekomunikasi yang tidak berkembang.

Pada tahun 1960an, layanan telekomunikasi di Filipina disediakan oleh operator swasta tunggal yaitu The Philippine Long Distance Telephone (PLDT) Company (Santos, 2011). PLDT didirikan pada 18 November 1928 berdasarkan Hukum Publik No. 34364 ketika Filipina masih berada di bawah jajahan Amerika Serikat. Pada saat itu, operasi PLDT berada di bawah aturan American Company General Telephone and Electronics (GTE) Corporation dan berlangsung hingga pemerintahan Presiden Beniqno Aquino berakhir. Selama beroperasi, PLDT menduduki posisi dominan dalam memberikan layanan telekomunikasi karena saham perusahaan tersebut dimiliki oleh keluarga yang berpengaruh secara politik dan mendapat dukungan dari pejabat tinggi pemerintahan. Akan tetapi, monopoli pasar yang dilakukan oleh PLDT tetap tidak mampu menyediakan layanan komunikasi yang memadai bagi masyarakat Filipina. Saat itu, rasio jumlah telepon hanya 0,91% untuk setiap 100 orang yang tinggal di daerah yang sama atau biasa disebut the fixed-line teledensity.

Pada tahun1965-1986 ketika rezim pemerintahan berada di bawah Ferdinan Marcos, pihak GTE didesak untuk tidak lagi memberikan dukungan kepada PLDT (Santos, 2011). GTE

(2)

internasional baik suara maupun record. Sementara itu, operator lain hanya diperbolehkan beroperasi pada satu segmen khusus seperti paging dan telegram untuk domestic atau internasional saja. Status PLDT menjadi sangat aman ketika di bawah pemerintahan Marcos hingga dapat menyumbang sekitar 94% dari jaringan telepon Negara. Meskipun begitu, layanan komunikasi bagi daerah lokal setempat tetap terbatas karena memerlukan modal yang besar untuk meletakkan kawat koneksi. Hasil laporan the fixed-line teledensity hanya 0,8 untuk setiap 100 orang yang tinggal di daerah yang sama sehingga kebutuhan masyarakat lokal akan layanan komunikasi masih belum terpenuhi.

Kemudian, Pemerintahan Marcos mengeluarkan Keputusan Presiden No. 217 yang bertujuan untuk memperluas penyediaan layanan komunikasi dari kalangan bisnis (Santos, 2011). Penyebabnya ialah bahwa komunikasi merupakan kebutuhan yang penting bagi publik sehingga harus menjadi prioritas kebijakan nasional. Selain itu, lemahnya jaringan komunikasi dapat merugikan berbagai aktivitas bisnis. Keputusan Presiden tersebut mendorong langkah PLDT untuk meluncurkan layanan telepon swadana atau telepon seluler. Oleh karena itu, semua layanan komunikasi masih tetap dimonopoli oleh PLDT. Keuntungan yang diperoleh PLDT yaitu menjadi operator fixed-line incumbent. Di sisi lain, masih muncul permasalahan yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya bahwa penyediaan layanan komunikasi oleh satu perusahaan tetap tidak dapat memnuhi tuntutan kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat.

Pada tahun 1986, Presiden Marcos dengan sistem pemerintahan militer digulingkan dan membuka peluang untuk memulihkan sistem demokratis yang mendorong pergolokan politik hingga menempatkan Corazon Aquino berkuasa. Pada masa ini, pemerintah meratifikasi kebijakan terkait telekomunikasi dengan mengeluarkan Surat Edaran No. 87-188 tentang rasionalisasi, bombingan kerja teratur dan pengembangan kompetitif bisnis telekomunikasi. Pengambilan keputusan terkait layanan komunikasi tidak lagi terpusat pada birokrat yang berkoalisi dengan pemerintah namun terbuka bagi segmen pasar yang lebih luas. Layanan komunikasi dapat disediakan oleh perusahaan-perusahaan yang berlisensi baik itu perusahaan yang memperoleh dukungan dana dari pemerintah maupun perusahan privat. Kebijakan ini mendorong adanya reformasi di bidang telekomunikasi di Filipina (Santos, 2011).

(3)

membuat jaringan operator telekomunikasi lokal, menurunkan tarif langganan bagi konsumen, memperbaiki layanan komunikasi lokal dan mendirikan Service Are Scheme (SAS). Kebijakan ini didukung dengan adopsi teknologi baru berupa GSM (Global System for Mobile

Communications) yang menyediakan layanan pesan singkat (SMS). Layanan SMS menjadi lebih popular dan menggantikan layanan telepon karena tarifnya lebih murah. Respon pasar atas layanan ini cukup bagus hingga mendorong kenaikan teledensitas mencapai 9,05 atau sebesar 800% dari tahun-tahun sebelumnya. Perubahan tersebut dilatarbelakangi oleh kebijakan yang lebih pro pasar dan membuka kesempatan bagi sector swasta untuk saling berkompetisi. Lebih jauh, komersialisasi layanan telekomunikasi telah meningkatkan kualitas layanan publik di Filipina. Penerapan sistem telekomunikasi yang terbuka membuat para pebisnis semakin antusias untuk memasuki pasar. Reformasi dalam bidang komunikasi tersebut menjadi lebih kompleks karena tidak hanya melibatkan peran pemerintah yang berkuasa namun melibatkan dukungan dan tekanan para stakeholder non-pemerintah. Berikut pihak-pihak yang mendorong liberalisasi komunikasi di Filipina, dalam gambar 1.1.

Gambar 1.1 Perusahaan Penyedia Layanan Telekomunikasi di Filipina Sumber: Santos, 2011

(4)

Bayantel, Digitel, Islacom, Globe, Smart, PT and T, Philcom dan Piltel. Sedangkan PLDT yang merupakan perusahaan Negara masih menempati posisi dominan dalam memberikan layanan dibidang komunikasi di Filipina. Upaya liberalisasi dalam bidang teknologi komunikasi kemudian diarahkan ke berbagai sektor seperti pengembangan portal pemerintahan dan online marketing.

Reformasi sektor komunikasi di Filipina juga didukung oleh sejarah komputerisasi di lingkungan pemerintahan Filipina yaitu dengan didirikannya Pusat Komputer Nasional (National Cmputer Center atau NCC) pada tahun 1971 (Sutadi, 2009). NCC dirancang sebagai instansi yang bertanggungjawab terhadap arah penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembangunan nasional dan merasionalisasi komputer di Filipina yang saat itu dipimpin oleh Ferdinand Marcos. Fungsi lain NCC adalah membantu secara teknis maupun profesional mengenai teknologi informasi dan komunikasi baik terhadap instansi pemerintah pusat maupun daerah, kalangan industri, usaha kecil dan menengah serta masyarakat biasa. Ketika liberalisasi komunikasi mulai berkembang, dibentuk National Information Technology council (NITC) yang bertugas sebagai badan yang mengeluarkan kebijakan mengenai teknologi informasi dan

komunikasi di Filipina. Di tahun 1998, NITC ditetapkan sebagai badan penasehat tertinggi dalam perencanaan dan kebijakan mengenai teknologi informasi dan komunikasi yang disertai

peluncuran program IT21 sebagai agenda kerangka aksi menuju abad ke-21 guna merencanakan program yang terkait dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di pemerintahan agar dapat merangsang pertumbuhan ekonomi. Di samping itu, pemerintah juga membentuk Electronic Commerce Promotion Council (ECPC) untuk menemukenali kebutuhan pemerintah dalam meningkatkan koordinasi public private partnerships (PPP) guna mempromosikan dan mengembangkan perdagangan secara elektronik di Filipina. Berbagai lembaga yang bergerak dibidang teknologi komunikas dan informasi tersebut mendorong aktivitas pemerintahan yang berbasis e-government.

Pada bulan Juli Tahun 2000, pemerintah mengadopsi Government Information Systems Plan (GISP) yang berfungsi sebagai kerangka kerja elektronik (Sutadi, 2009). GISP

(5)

implementasi kebijakan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Implementasi ITECC didasarkan atas lima pilar utama yaitu:

1. E-Government

Pilar e-government bertujuan untuk mempermudah masyarakat melakukan bisnis,

membuka pasar teknologi informasi dan komunikasi domestic, meningkatkan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Selain itu, rencana strategis e-government diarahkan untuk meningkatkan efisiensi, akuntabilitas dan transparansi layanan dasar pemerintahan. Prioritas proyek yang diutamakan berupa pembuatan portal pemerintahan, fasilita e-procurement untuk semua proses pembelian barang di pemerintahan, serta

mengimplementasikan pusat e-government yang dikelola oleh swasta. 2. Sumber Daya Manusia

Pada bidang SDM, pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi berfungsi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dengan mempermudah akses akan pengetahuan baru dan meningkatkan kuantitas SDM Filipinan yang bekerja sebagai professional teknologi informasi dan komunikasi di luar negeri. Adapun program yang dikedepankan ialah membuka e-learning center, menetapkan standar dan kualitas individu yang bekerja memberikan layanan publik serta mengadakan survei tentang kemampuan warga negara dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

3. Pengembangan Bisnis

Pengembangan bisnis berfokus pada target pasar mancanegara yang memperkenalkan produk atau brand asli Filipina. Program yang dijalankan antara lain penyatuan seluruh potensi bisnis dalam satu portal, pengembangan usaha kecil dan menengah di bidang teknologi informasi dan komunikasi, program riset dan penelitian guna membuat dan pengembangan produk-produk teknologi informasi dan komunikasi, serta memberikan sertifikasi untuk industri-industri yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi. 4. Lingkungan Hukum Dan Kebijakan

ITECC merupakan rekomendasi untuk memperkuat persoalan hukum dan kebijakan untuk menjawab isu yang kritis terkait dengan perkembangan teknologi, mempromosikan e-commerce dan memfasilitas investasi di sektor teknologi informasi dan komunikasi serta memastikan penegakan hukum. Kegiatan yang dilakukan diantaranya membentuk

Departemen Teknologi Informasi dan Komunikasi, membuat peraturan tentang cybercrime, keamanan internet meliputi perlindungan privasi dan proteksi data serta mempersiapkan kebijakan dan payung hukum yang dapat menjawab tantangan konvergensi.

(6)

Rekomendasi strategis untuk pilar infrastruktur informasi meliputi pengembangan program keamanan teknologi informasi dna komunikasi, meningkatkan konsolidasi sumberdya TIK di seluruh kantor pemerintah dan pengembangan universal service obligation (USO) serta memperbaharui standar layanan publik. Kegiatan yang dilakukan untuk mendukung pilar ini yaitu membentuk pusat komunitas elektronik, memperbaharui standar layanan jaringan, serta program keamanan teknologi informasi dan komunikasi nasional.

Hasil Reformasi Teknologi Informasi dan Komunikasi di Filipina

Saat ini, inisiatiatif implementasi TIK di Filipina telah membuahkan hasil seperti yang telah dilakukan oleh National Bureau of Investigation (NBI) dan Biro Pusat Statistik Nasional Filipina (Sutadi, 2009). Implementasi e-government pada NBI berfokus pada kegiatan perizinan. Dengan e-government ini, masyarakat dapat memperbaharui perizinan dalam waktu lima menit sehingga masyarakat tidak perlu lag mengantri ke kantor pemerintah dan berpotensi mengurangi pungutan liar atau korupsi yang dilakukan oleh aparat pemerintah. Sedangkan layanan elektronik dari Biro Pusat Statistik Nasional Filipina memungkinkan warga masyarakat untuk mengajukan dokumen administrasi seperti sertifikat kelahiran, perkawinan maupun kematian secara online. Selain itu, pemerintah juga memberikan layanan sosial meliputi perlindungan dari kecacatan, sakit, kelahiran, usia senja maupun kematian yang menyebabkan hilangnya pendapatan atau persoalan dalam hal keuangan melalui Social Security System (SSS). Keberhasilan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi tersebut mendorong rencana pemerintah Filipina dalam memantapkan regulasi e-government dan menyediakan pendanaan bagi kegiatan pelayanan yang bersifat online serta melakukan berbagai konfigurasi bisnis pemerintah secara elektronik.

Dimensi Reformasi Kebijakan Komunikasi di Filipina

(7)

aktivitas bisnis. Reformasi teknologi komunikasi juga didukung dengan pembentukan Pusat Komputer Nasional pada tahu 1971 yang bertujuan untuk mendorong penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di Filipina. Sasaran dari upaya penggunaan teknologi informasi dan komunikasi tersebut yaitu untuk meningkatkan distribusi layanan dari pemerintah kepada masyarakat dan menyediakan media yang berfungsi sebagai wadah agar masyarakat dapat secara aktif mengikuti aktivitas yang dilakukan oleh para birokrat.

Sumber:

Lallana, Emmanuel C. 2009. Modul Akademi Esensi Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pimpinan Pemerintahan: Kebijakan, Proses, dan Tata Kelola TIK untuk Pembangunan. Asian And Pacific Training Centre For Information And Communication Technology For Development.

Salazar, Lorraine Carlos. 2007. Getting a Dial Tone: Telecommunications Liberalisation in Malaysia and the Philippines. Institute of Southeast Asian Studies.

Santos, Mary Grace P. Mirandilla. 2011. Unleashing the Power of Competition: The Philippine Telecommunications Reform Story. Philippine.

Sutadi, Heru. 2009. TIK di Filipina: Presiden Turun Tangan Memimpin! (diambil dari Majalah E-Indonesia).

Gambar

Gambar 1.1 Perusahaan Penyedia Layanan Telekomunikasi di Filipina

Referensi

Dokumen terkait

Gerçek şu ki, Kadim Sümer ve Mısır’da boynuzlar sadece kötü tan- rıları değil, Hıristiyan Kilisesi tarafından Pagan inançlarının kökünü kurutmak için kullanılan pek

Intelegensi siswa dan program remedial teaching mempunyai pengaruh yang cukup signifikan terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Fiqih kelas VI di MI

BL ⫽ baseline; 14FUP ⫽ 14-month follow-up; MTA ⫽ Multimodal Treatment Study of Children with Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder; PCI ⫽ parent– child interaction; Beh

" anak-anak...hari ini hari ter akhir sebelum libur,selama satu tahun kalian di percayakan oleh orangtua kalian untuk saya didik di sini,saya sangat minta maaf pada kalian

Tapi jika anda ingin memakainya untuk melakukan transaksi jual- beli via website maka account anda harus di verifikasi dulu Agar paypal anda bisa di gunakan dengan baik,

Kondisi itu terjadi baik ketika Islam menjadi penguasa di Sicilia ataupun ketika penguasa Kristen berkuasa di Sicilia (Ahmad, 1975: 1).Kawasan-kawasan itu menentukan dalam

Pada halaman masukkan data pelanggan akan tampil beberapa form yang wajib di isi oleh user, diantaranya “kode pelanggang, nama lengkap, alamat, no telp” Tombol “Simpan ”

Wilmar Nabati Indonesia memiliki unit pengolahan limbah dengan kapasistas 800 m 3 /hari, sistem pengolahan yang digunakan adalah menggunakan sistem aerobic dan anaerobic,