• Tidak ada hasil yang ditemukan

laporan kp maya ruslina yd 0906489901

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "laporan kp maya ruslina yd 0906489901"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

DEPARTEMEN PRODUKSI UNIT FERMENTASI

Oleh:

MAYA RUSLINA Y. D. (0906489901)

FAKULTAS TEKNIK DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA

UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK

(2)

UNIVERSITAS INDONESIA ii LEMBAR PENGESAHAN

PT INDO ACIDATAMA Tbk.

LAPORAN KERJA PRAKTEK

DI DEPARTEMEN PRODUKSI (FERMENTASI) PT. INDO ACIDATAMA Tbk.

Periode : 1 Juli 2012 – 30 Juli 2012

Disusun oleh:

Maya Ruslina Yanita D. (0906489901)

Menyetujui,

Pembimbing Lapangan

(3)

UNIVERSITAS INDONESIA iii LEMBAR PENGESAHAN

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA

LAPORAN KERJA PRAKTEK

DI DEPARTEMEN PRODUKSI (FERMENTASI) PT. INDO ACIDATAMA Tbk.

Periode : 1 Juli 2012 – 30 Juli 2012

Disusun oleh:

Maya Ruslina Yanita D. (0906489901)

Menyetujui, Pembimbing Kerja Praktek

Pembimbing Departemen

Ir. Rita Arbianti M.Si. NIP. 19690202 199512 2001

Koordinator Kerja Praktek Departemen Teknik Kimia

(4)

UNIVERSITAS INDONESIA iv KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat-Nyakami dapat melaksanakan kerja praktek dan menyelesaikan laporan kerja praktek ini.

Kerja Praktek merupakan salah satu syarat memperoleh gelar sarjana di Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Tugas khusus dalam laporan ini dikonsentrasikan pada Departemen Produksi dengan area praktek di Unit Fermentasi PT Indo Acidatama.

Selama persiapan dan pelaksanaan kerja praktek ini, kami telah mendapat banyak bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami tak lupa mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Ir. Widodo W. Purwanto, DEA., selaku ketua Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

2. Ir. Yuliusman, M.Eng., selaku koordinator kerja praktek Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia.

3. Ir. Rita Arbianti M.Si., selaku pembimbing kerja praktek Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia.

4. Orang tua dan keluarga kami atas semua dukungan dan untaian doa yang telah diberikan selama ini.

5. Bapak Dwi Teguh Santosa dan Bapak Mino yang membantu selama proses registrasi dan masa kerja praktek di PT Indo Acidatama.

6. Bapak Ir. Benny Yuwono selaku pembimbing lapangan PT Indo Acidatama dan Bapak Sriono yang telah membimbing kami selama belajar di unit fermentasi.

7. Segenap karyawan di Control Room dan Operator lapangan yang bertugas, yang telah memberikan pengalaman dan pengetahuan di PT Indo Acidatama 8. Segenap karyawan PT Indo Acidatama yang telah memberikan bantuan baik

secara langsung maupun tidak langsung.

(5)

UNIVERSITAS INDONESIA v 10.Tya dan Indi selaku teman seperjuangan di PT Indo Acidatama yang telah

memberikan bantuan baik secara langsung maupun tak langsung.

11.Teman-teman Teknik Kimia UI Angkatan 2009, atas persahabatan dan bantuannya selama ini.

12.Dan semua pihak yang telah membantu yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Demikian laporan kerja praktek ini kami susun, semoga dapat bermanfaat bagi berbagai pihak khususnya bagi perkembangan ilmu pengetahuan di Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Penulis menyadari bahwa laporan ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun tetap penulis harapkan untuk lebih menyempurnakan laporan ini.

(6)

UNIVERSITAS INDONESIA vi

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL LEMBAR PENGESAHAN PT INDO ACIDATAMA ... 1

LEMBAR PENGESAHAN DEPARTEMEN ... 1

2.3 Lokasi Dan Tata Letak Pabrik ... 7

(7)

UNIVERSITAS INDONESIA vii

3.9 Unit Produk ... 20

3.10 Unit Cooling Tower ... 20

3.11 Unit Produk ... 20

3.12 Unit Pengolahan Limbah ... 20

BAB IV PROSES ... 21

4.1 Proses Umum ... 21

4.1.1 Proses Fermentasi ... 21

4.1.2 Proses Distilasi ... 22

4.1.3 Proses Oksidasi ... 22

4.2 Proses Produksi Produk Utama ... 22

(8)

UNIVERSITAS INDONESIA viii

7.2 Fermentasi ... 44

BAB VIII TUGAS KHUSUS ... 64

BAB IX KESIMPULAN DAN SARAN ... 69

DAFTAR PUSTAKA ... 70

LAMPIRAN ... 71

DAFTAR TABEL Tabel 6.1 pengaruh biofouling di cooling system ... 35

Tabel 6.2 Parameter standar cooling system ... 35

Tabel 6.3 Parameter kontrol air di boiler... 38

Tabel 7.1 Tahap-tahap pengisian media ... 55

Tabel 7.2 Kondisi operasi HE ... 60

Tabel 8.1. Data pertumbuhan mikroba di plant ... 64

Tabel 8.2 Pertumbuhan sel ... 65

Tabel 8.3 Data konsentrasi produk... 68

DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1. Penampakan atas PT Indo Acidatama ... 7

Gambar 4.1. Diagram alir (PFD) pembuatan alkohol ... 24

Gambar 4.2. Diagram alir (PFD) pembuatan etil asetat ... 27

Gambar 7.1. Diagram proses kulturisasi yeast PT Indo Acidatama ... 44

Gambar 7.2. Tangki seed fermentor PT Indo Acidatama ... 45

Gambar 7.3. Tangki pre fermentor PT Indo Acidatama ... 50

Gambar 7.4. Tangki main fermentor PT Indo Acidatama ... 53

(9)

UNIVERSITAS INDONESIA 1 perdagangan bebas saat ini. Oleh karena itu, kemajuan bangsa terutama dalam hal industrinya menjadi salah satu hal yang sangat penting untuk dikembangkan. Terutama industri bahan kimia yang kini menjadi bahan dasar (raw material) untuk industri-industri lainnya serta peningkatan mutu pertanian yang menjadi kekuatan utama Indonesia. Untuk itulah PT. Indo Acidatama Tbk. berdiri dengan produk utama adalah ethanol yang mana diintegrasikan untuk pembuatan etil asetat, dan asam asetat (dahulu), serta menjadi salah satu industri agrokimia yang memproduksi pupuk organik.

PT Indo Acidatama Tbk memiliki komitmen untuk menjadi salah satu industri agrokimia bertaraf internasional, menjadi industri yang ramah lingkungan dengan daya saing yang tinggi, memiliki kualitas dan kuantitas, memberikan komitmen terbaik kepada pelanggan, mengutamakan efisiensi baik dalam proses maupun etos kerja, profesionalitas dan tingkat pengetahuan SDM yang terus ditingkatkan lewat training maupun program pengembangan lainnya serta meningkatkan kemakmuran bagi investor, karyawan dan masyarakat sekitar perusahaan. Komitmen tersebutlah yang kini juga turut serta membawa PT Indo Acidatama menjadi salah satu produsen ethanol terbesar di Indonesia, dan merupakan perusahaan ethanol terintegrasi pertama di Indonesia maupun Asia Tenggara.

Ethanol atau yang disebut juga etil alkohol (C2H5OH) yang diproduksi

(10)

UNIVERSITAS INDONESIA 2 kristalisasi berulang (Paturau, 1982). Tetes tebu dapat digunakan sebagai bahan

baku fermentasi karena di dalamnya masih terdapat kandungan sukrosa, namun sukrosa dalam molases tidak dapat mengalami kristalisasi berulang. Pada awalnya, tetes tebu ini tidak ada nilai ekonomisnya, namun seiring dengan perkembangan teknologi dan diketahuinya kandungan dalam molases, molases mulai diincar dan bahkan hingga diimpor ke luar negeri utuk bahan baku berbagai produk kimia seperti ethanol dan juga pupuk organik.

Alkohol (ethanol) yang dihasilkan oleh PT Indo Acidatama Tbk. memiliki kadar 96,5% (alkohol p.a. ) dan lebih banyak digunakan untuk bahan baku industri antara lain industri bahan kimia, obat-obatan, kosmetika dan bahan pangan. Selain itu, untuk menciptakan efisiensi produksi yang lebih tinggi, produksi ethaol ini diintegrasikan dengan pembuatan etil asetat, pupuk organik serta pembuatan biogas sebagai salah satu sumber (umpan) pada boiler.

1.2 TUJUAN

Kerja Praktek Lapangan ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui aspek keteknikan dalam pengolahan alkohol secara khusunya dan keseluruhan produk di PT Indo Acidatama secara umumnya.

2. Mengetahui keadaa dan kondisi operasi proses fermentasi di PT Indo Acidatama

3. Memperoleh pengalaman kerja pada perusahaan yang bergerak dibidang teknik fermentasi untuk produksi alkohol

4. Meningkatkan kerja sama antara PT Indo Acidatama Tbk dengan Universitas Indonesia

1.3 RUMUSAN MASALAH

Masalah yang ingin dibahas pada laporan ini adalah:

1. Bagaimanakah kondisi opersi dan proses pembuatan alkohol dan etil asetat pada PT Indo Acidatama Tbk.

(11)

UNIVERSITAS INDONESIA 3 3. Bagaimanakah gambaran keseluruhan proses dan unit di PT Indo

Acidatama 1.4 METODE

(12)

UNIVERSITAS INDONESIA 4 BAB II

KONDISI UMUM PERUSAHAAN 2.1 GAMBARAN UMUM

PT INDO ACIDATAMA Tbk. (PT IACI) merupakan salah satu pabrik penghasil ethanol terbesar di Indonesia dan juga pabrik ethanol terintegrasi dimana selain memproduksi ethanol, PT IACI juga memproduksi asam cuka (asam asetat) dan etil asetat pertama di Indonesia dan Asia Tenggara. PT IACI terletak  15 Km timur laut Solo atau 110 Km di selatan Ibu kota Jawa Tengah, Semarang, tepatnya di Kecamatan Kebakkramat, Kabupaten Karanganyar.

PT Indo Acidatama Tbk. memiliki kapasitas produksi  50.000 kL per tahun, dimana untuk memproduksi 1 (satu ) kL ethanol, diperlukan  3,40 ton tetes tebu (molases) yang mana menjadi bahan baku untuk produksi ethanol di PT IACI. Bahan baku tetes tebu tersebut didatangkan dari pabrik-pabrik Gula di seluruh Pulau Jawa dan juga hasil dari impor.

PT Indo Acidatama Tbk. memiliki visi dan misi sebagai berikut: Visi:

PT Indo Acidatama Tbk. menjadi perusahaan dibidang Industri Agro-kimia bertaraf internasional yang ramah lingkungan dengan daya saing yang tinggi dalam bidang kualitas dan kuantitas produk dengan selalu memberikan komitmen terbaik kepada pelanggan dan secara terus menerus meningkatkan efisiensi, mengembangkan profesionalitas dan tingkat pengetahuan (know-how) sumber daya manusia untuk meningkatkan kemakmuran bagi investor, karyawan dan masrakat.

Misi :

1. PT Indo Acidatama Tbk. berupaya menjadi perusahaan dibidang industri agro-kimia yang diakui secara internasional.

(13)

UNIVERSITAS INDONESIA 5 manajemen mutu secara konsisten dan terpadu sesuai standar yang telah

ditetapkan.

3. PT Indo Acidatama Tbk. berupaya menjadi perusahaan yang mampu bersaing secara internasional dalam industri sejenis.

4. PT Indo Acidatama Tbk. akan selalu menjamin kualitas produk yang aman dan ramah lingkungan serta sesuai standar internasial dan kuantitas produk sesuai permintaan.

5. PT Indo Acidatama Tbk. akan selalu memenuhi komitmen yang telah disepakati dengan pelanggan.

6. PT Indo Acidatama Tbk. akan secara terus menerus melakukan inovasi untuk meningkatkan efisiensi di segala bidang.

7. PT Indo Acidatama Tbk. akan secara terus menerus meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan SDM sesuai bidang yang dimiliki, sehingga menjadi SDM yang mumpuni.

8. PT Indo Acidatama Tbk. akan berupaya untuk selalu meningkatkan profitabilitas dan pertumbuhan usaha demi mencapai kemakmuran bagi investor, karyawan dan masyarakat.

2.1.1 PRODUK DAN KEGUNAAN

PT IACI memiliki tiga jenis produk utama, yaitu ethanol, asam asetat dan etil asetat. Dengan kegunaannya masing-masng adalah:

1. Ethanol

PT IACI memproduksi ethanol yang berkualitas “Ethanol Super Prima”

dengan kemurnian 96,5 5% bV, bebas dari pengotor, antara lain methanol, asetaldehid dan logam berat. Kegunaan ethanol ini adalah untuk:

(14)

UNIVERSITAS INDONESIA 6 2. Asam Asetat

PT IACI memnproduksi asam cuka kualitas food grade dengan kemurnian 99,8% berkadar asam formiat dan asetaldehid sangat rendah serta bebas kandungan logam berat. Kegunaan dari asam asetat ini biasanya adalah untuk :

1) Sebagai katalisator pelarut dalam pembuatan PTA (Pure Terephalic Acid)

2) Bahan baku selulosa asetat, etil asetat, vinil asetat dan asetik anhidrat. 3) Untuk kebutuhan industri tekstil, farmasi dan karet

4) Sebagai bahan tambahan makanan dan cuka makan

PT IACI merupakan penghasil asam asetat pertama di Indonesia dan satu-satunya produsen asam asetat di Indonesia dan Asia Tenggara yang berintegrasi dengan produksi etanol. Namun saat ini, PT IACI tidak lagi melakukan produksi asam asetat karena harga produksinya yang lebih besar jika dibandingkan dengan harga jualnya, yang mana merupakan pengaruh dari harga minyak mentah dunia.

3. Etil Asetat

PT IACI memproduksi etil asetat dengan kemurnian 99,9% bW dengan kegunaan adalah sebagai :

1) Bahan pelarut cat dan plastik,

2) Untuk kebutuhan industri farmasi, percetakan, dll 2.2 SEJARAH PERUSAHAAN

PT Indo Acidatama Tbk. didirikan pada tahun 1983 dengan nama awal PT Indo Acidatama Utama dan pembangunan tersebut direalisasikan pada tahun 1986, sekaligus nama tersebut kemudian berubah lagi menjadi PT Indo Acidatama Chemical Industry. Saat itu perusahaan ini telah berdiri di atas tanah seluas  5,5 Ha dengan fasilitas pemerintah dalam rangka penanaman modal dalam negeri. Pembangunan pabrik tersebut menelan biaya Rp 48,517,304,000,-.

(15)

UNIVERSITAS INDONESIA 7 dengan supervisor KRUPP Industrie Technics Gmbh Jerman Barat, sedangkan

teknologi oleh HULL AG Jerman Barat. Secara keseluruhan pembangunan tersebut selesai pada bulan Juni 1989, pabrik ini telah dibangun pada tanah seluas 11 Ha dengan kapasitas terpasang ethanol sebesar 34.400.000 kg/tahun, Asam asetat sebesar 15.600.000 kg/tahun, sedangkan untuk etil asetat adalah sebesar 5.270.850 kg/tahun. Dengan rincian unit akohol plant selesai pada bulan desember 1988, unit acetaldehyde plant dan unit ethyl acetate plant selesai pada bulan Maret 1989 dan unit acetic acid plant pada bulan Juni 1989. Produksi komersial produk-produk tersebut dimulai pada tahun 1989, tepatnya pada tanggal 20 Juli 1989 pabrik tersebut telah diresmikan oleh Presiden Soeharto. Pabrik ini sempat mengalami pergantian nama lagi pada tanggal 4 Oktober 2005 menjadi PT Sarasa Nugraha Tbk. dan lalu pada tanggal 30 Juli 2006 berubah nama lagi menjadi PT Indo Acidatama Tbk. hingga sekarang.

2.3 LOKASI DAN TATA LETAK PABRIK

PT Indo Acidatama Tbk. terletak di desa Kemiri, kecamatan Kebakkramat, kabupaten Karanganyar, Surakarta, Jawa Tengah. Penampakan atas PT Indo Acidatama Tbk. dapat dilihat pada Gambar 2.1.

(16)

UNIVERSITAS INDONESIA 8 Dimana pemilihan lokasi ini telah dianalisa dan dianggap memenuhi kriteria

pembangunan pabrik, diantanya adalah: 1. Bahan Baku

Bahan baku utama produksi ethanol dari PT Indo Acidatama adalah tetes tebu yang mana diperoleh dari pabrik gula. Dan pulau Jawa, khususnya provinsi Jawa Tengah memiliki banyak pabrik gula diantaranya adalah PG Tasikmadu (Karanganyar), PG Colomadu (Karanganyar), PG Ceper (Klaten) dan PG Cepiring (Kendal). Sehingga hal tersebut akan memudahkan dalam perolehan bahan baku untuk produksi.

2. Transportasi

Pemasaran produk dilakukan dengan menggunakan angkutan darat yaitu menggunakan truk dan tanker. Dan oleh karena lokasi pabrik dekat dengan jalan raya, hal ini mempermudah pendistribusian produk kepada konsumen maupun penyuplai bahan baku.

3. Tenaga Kerja

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja tak terlatih dapat diperoleh dari penduduk yang bertempat tinggal di sekitar pabrik, sedangkan untuk tenaga kerja terlatih dapat diperoleh dari lulusan sekolah keahlian ataupun perguruan tinggi yang mana banyak terdapat di Jawa Tengah dan sekitarnya.

4. Utilitas (Air dan Listrik)

Untuk memenuhi kebutuhan air , maka digunakanlah air dari sumur dalam (sumur arthesis) agar tidak mengganggu ketersediaan air lingkungan. Sedangkan listrik diperoleh dari PLN serta generator dan genset yang dimiliki oleh pabrik

5. Cuaca

Cuaca di lingkungan sekitar pabrik juga mendukung proses fermentasi karena udara sekitar tak terlalu panas ataupun terlalu dingin sehingga baik untuk perkembangan yeast.

6. Pembuangan Limbah

(17)

UNIVERSITAS INDONESIA 9 pengolahan limbah untuk diolah menjadi biogas dan pupuk organik,

sedangkan gas keluaran berupa CO2 akan diolah di PT SAMA MANDIRI

yang juga merupakan anak Acidatama untuk dijadikan CO2 cair dan dijual.

2.4 PERSONALIA

Perkembangan PT Indo Acidatama Tbk. tidak hanya tedapat pada kapasitas dan teknologi produksinya, namun juga dalam sumber daya manusianya. Saat ini PT IACI memiliki karyawan sejumlah 347 orang, dimana lebih dari 25% dari keseluruhan karyawan tersebut memiliki latar belakang pendidikan sarjana dan sarjana muda. Perincian tenaga kerja di PT IACI adalah:

1. Tenaga kerja pasca sarjana : 4 orang. 2. Tenaga kerja sarjana : 34 orang 3. Tenaga kerja sarjana muda : 43 orang 4. Tenaga kerja SMA : 182 orang

Karyawan shift terdiri dari karyawan yang langsung berhubungan dengan proses produksi, diantaranya dalam unit produksi, utilitas, fermentasi, dll. Jam kerja karyawan shift dibagi menjadi 3 jam kerja (3 shift):

a. Shift 1 (pagi), jam 07.00-15.00 b. Shift 2 (siang), jam 15.00-23.00 c. Shift 3 (malam), jam 23.00-07.00

(18)

UNIVERSITAS INDONESIA 10 2. Karyawan Day Shift

Karyawan day shift terdiri dari karyawan yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi, seperti: karyawan administrasi, sekretariat, perbekalan, gudang, dll. Jam kerja karyawan day shift diatur sebagai berikut:

a. Senin-Jumat : jam 08.00-16.00 b. Sabtu-Minggu : libur

c. Jam istirahat : jam 12.00-13.00 d. Hari libur nasional merupakan hari libur.

Untuk menjalin kerja sama yang baik antara perusahaan dan karyawan, PT Indo Acidatama juga memberikan jaminan sosial yang cukup baik bagi tenaga kerja, dimana ketentuan jaminan sosial yang berlaku di PT Indo Acidatama adalah sebagai berikut:

1. Sarana kesehatan yang berupa poliklinik dan sarana ibadah, mushola. 2. Sarana K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) yang meliputi pelengkapan

sarana kerja dan safety wear.

3. Transportasi karyawan dengan sistem pole

4. Menyelenggarakan program jamsostek (jsminan sosial ketenagakerjaan) 5. Rekreasi dan olah raga

6. Dua setel pakaian kerja setiap tahun

7. Makan siang bagi karyawan day shift, sedangkan untuk karyawan shift jatah sekali makan.

Selain itu, peningkatan mutu karyawan juga dapat terjalin dengan terbentuknya berbagai jenis organisasi antara lain:

(19)

UNIVERSITAS INDONESIA 11 2.5STRUKTUR ORGANISASI

Struktur organisasi PI IACI mengikuti sistem line and staff organization. Dimana bagannya dapat dilihat pada Lampiran 1. Adapun penjabaran tugasnya adalah sebagai berikut:

1. Chief Executive Officer (CEO)

Disebut juga Direktur Eksekutif maupun Presiden Direktur. CEO merupakan pemegang saham terpilih yang diangkat oleh rapat umum pemegang saham, bertindak sebagai pemegang pimpinan tertinggi dan bertanggung jawab terhadap seluruh hasil kegiatan usaha perusahaan serta kepada dewan direksi. Tugas dari CEO antara lain:

a. Menentukan sasaran akhir bagi perusahaan dan merumuskan kebijakan-kebijakan sehingga organisasi dapat mengarah dan mencapai sasaran akhir.

b. Menentukan strategi perusahaan.

c. Memilih dan mengangkat manajer direktur.

d. Memberikan pertimbangan-pertimbangan penting dalam pengambilan keputusan yang mana akan berdampak pada seluruh usaha di perusahaan.

e. Mengevaluasi hasil kerja manajer direktur selama kurun waktu tertentu dan menentukan kebijakan-kebijakan untuk pengambilan keputusan langkah-langkah pembetulan.

2. Vice Executive Officer to Corporate

Wakil Presiden Direktur merupakan pimpinan tertinggi dalam organisasi yang memegang komando, memimpin seluruh anggota organisasi untuk mengarah ke tujuan perusahaan. Adapun tugasnya antara lain:

a. Menyusun pemecahan dari strategi perusahaan baik rencana jangka panjang , menengah, dan pendek.

(20)

UNIVERSITAS INDONESIA 12 3. Plant Executive Officer

Direktur Lapangan merupakan pimpinan yang mengebawahi departemen dalam bidang proses dan produksi. Bertanggung jawab langsung kepada CEO Wakil Presiden Direktur. Adapun tugasnya antara lain:

a. Merencanakan kegiatan operasional di plant b. Memimpin dan mengkoordinasikan bawahannya c. Memelihara kelancaran proses dan produksi

d. Mengendalikan kegiatan operasional proses dan produksi dengan mengadakan evaluasi terhadap hasil kegiatan diikuti dengan pengambilan tindakan perbaikan yang diperlukan.

e. Ikut melasanakan dan memupuk kekompakan diantara karyawan  Vice Exc. To Plant

Wakil Direktur Lapangan bertugas untuk membantu kegiatan direktur lapangan dan memimpin langsung departemen yang berkaitan dalam kegiatan proses dan produksi, antara lain:

- Production Department (Departemen Produksi) - Utility Department (Departemen Utilitas)

- Electric Department (Departemen Pengadaan Listrik) - Mechanic Department (Departemen Mesin)

- Environment Department (Departemen Lingkungan) 4. Commercial Executive Officer

Direktur komersial merupakan personalia yang membidangi fungsi pemasaran, mengatur dari mana memperoleh dana modal dan menetapkan besarnya dividen, serta mengatur distribusi barang dari perusahaan. Bagian ini membawahi beberapa departemen, antara lain departemen marketing, penjualan dan logistik. Dimana tugas dari direktur komersial adalah untuk:

a. Merencanakan kegiatan operasional di bidang pemasaran, merencanakan investasi yang harus dilakukan oleh perusahaan. b. Pengendalian kelancaran aliran pemasukan dan pemasaran

(21)

UNIVERSITAS INDONESIA 13 d. Ikut memupuk kekompakan dan kerjasama antar karyawan

 Vice Exc Off To Commercial

Wakil Direktur komersial bertugas untuk membantu kegiatan direktur komersial dan memimpin langsung departemen yang berkaitan dalam kegiatan aliran pemasaran dan logistik, antara lain :

- Marketing Adm Department (Departemen Pemasaran) - Sales Department (Departemen Penjualan)

- Logistic Department (Departemen Logistik) 5. Finance Adm Exc Off

Merupakan bagian yang mengatur dan mencatat aliran kas dana masuk dan keluar, melaksanakan kegiatan keuangan sehari-hari dan pemeliharaan kegiatan operasional keuangan dengan mengadakan evaluasi terhadap hasil kegiatan dibidang keuangan, dan melakukan kebijakan perbaikan.

Vice Exc Off to IR

Wakil Direktur keuangan bertugas untuk membantu kegiatan direktur keuangan dan memimpin langsung departemen yang berkaitan dalam kegiatan aliran kas, antara lain

- Accounting Depatment (Departemen Akuntansi) - Finance (Departemen Keuangan)

- Com Data Proc (Data Karyawan)

(22)

UNIVERSITAS INDONESIA 14 BAB III

UNIT PENGOLAHAN

Kawasan proses dan produksi di pabrik Acidatama dibagi atas beberapa unit-unit. Unit tersebut dibagi berdasarkan fungsi kerjanya masing-masing dan dalam PT Indo Acidatama terdapat 12 unit pengolahan:

3.1 UNIT POWER HOUSE (AREA 000)

Unit power house di sini merupakan salah satu cabang dari departemen utilitas yang menangani supply energi (listrik) ke plant dan kantor.

3.2 UNIT STORAGE (AREA 100)

Unit ini menampung molases mentah yang merupakan bahan baku proses fermentasi. Tetes tebu (molases mentah) dengan kekentalan minimal 85 Brix, disaring untuk menghilangkan kotorannya dan dimasukkan ke dalam hopper molases untuk disimpan. Di sini terdapat empat buah tangki penympanan tetes dipompa ke unit fermentasi untuk difermentasi.

3.3 UNIT FERMENTASI (AREA 200)

Pada unit ini tetes tebu difermentasi menjadi mash, proses fermentasi berlangsung di dalam tanki fermenter dengan menggunakan ragi/yeast dan penambahan nutrien yang mengandung unsur N dan P. Nutrisi N (Nitrogen) diperoleh dari pupuk urea, sedangkan nutrisi P (Fosfat) diperoleh dari penambahan asam fosfat. Mash yang dihasilkan dari unit ini memiliki kadar alkohol 8-10% bV, kemudian dikirim ke Unit Alkohol untuk didistilasi. Pada unit ini terdapat tiga bagian utama yaitu:

1. Seed fermenter

(23)

UNIVERSITAS INDONESIA 15 Sebelum digunakan tanki ini harus dicuci dan distrilisasi dahulu dengan

menggunakan air dan steam. 2. Pre fermenter

Tanki pre fermenter juga berfungsi sebagai tanki pengembang-biakan yeast dalam kapasitas yang lebih besar yaitu 50 m3. Tanki pre fermenter ini berjumlah 2 buah (FC 211 dan 212) sebenarnya ada 1 tanki pre fermenter lagi yaitu tanki FC 210, namun saat ini sudah tidak dipakai karena dengan menggunakan tiga tanki pre fermenter dinilai lebih tidak efektif. Pada tanki ini juga harus dibersihkan dan disterilisasi dahulu sebelum dipakai.

3. Main fermenter

Tanki main fermenter berfungsi sebagai tempat fermentas utama (perubahan gula menjadi etanol) sehingga berlangsung secara anaerob. Sebelum digunakan tanki ini juga harus dibersihkan dan disterilkan dengan menggunakan steam, setelah itu didinginkan dengan menggunakan blower.

Proses pada unit fermentasi ini berlangsung secara batch, dan penjabaran proses fermentasi akan dijabarkan pada bab fermentasi.

3.4 UNIT ALKOHOL (AREA 300)

Unit alkohol ini mendistilasi mash hasil dari unit fermentasi untuk mendapatkan alkohol berkadar 96,5% bV, bebas methanol, acetaldehyde dan logam berat. Sebagian etanol tersebut digunakan sebagai bahan baku pembuatan asetaldehid dan etil asetat, sedangkan sisanya dijual. Juga dihasilkan head alkohol (94,9 %) yang masih mengandung acetaldehyde, feint alcohol (89,3%), serta fussel oil (non-commercial by product). Dimana alat-alat utama pada unit alkohol ini diantaranya adalah :

1. Mash distilling column / Menara penyulingan mash (DA 301)

(24)

UNIVERSITAS INDONESIA 16 sebagai umpan pemanas mash dalam pre heater (HE 301) sebelum dibuang ke

kanal. Menara ini merupakan menara destilasi vakum dengan 39 tray dan dengan sumber energi utama berupa steam dengan sistem open steam.

2. Rectifying column / Menara pemurnian (DA 302)

Menara ini merupakan menara pemurnian alkohol mentah dengan tray yang berfungsi untuk memisahkan lutter water dari alkohol (ethanol) sebagai hasil dari menara hisroseleksi dan untuk pengambilan heads, feints serta fussel oil. Hasil atas menara ini berupa ethanol sebagai komponen utama, dimasukkan ke dalam fallling film heat exchanger (AE 301) untuk diembunkan. Hasil kondensasi tersebut diumpankan kembali ke menara rekoveri.

Hasil bawah menara ini berupa lutter water yang sebelum dibuang ke kanal dimanfaatkan dahulu panas pengembunannya pada hasil bawah menara pemurnian di falling heat exchanger (AE 301). Hasil uap yang mana berupa steam diumpankan sebagai sumber panas pada menara penyulingan mash. Sebagian hasil cair dimanfaatkan sebagai penyerap pada absorber (WC 301) dan sisanya dikembalikan ke AE 301.

Hasil utama dari menara ini adalah etanol netral yang didinginkan terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke tanki penyimpanan produk (area 600), sebagian dari etanol netral ini dialirkan ke unit asetaldehid (area 400), dan sebagian lagi ke unit etil asetat (area 500) dan sisanya dijual.

Hasil samping menara DA 302 diumpankan ke menara rekoveri untuk diambil etanolnya lagi. panas sebagai media pemisah pada menara pemurnian diperoleh dari sistem open steam dengan pembawa panas steam dari unit ketel.

3. Hydroselection column (DA 303)

(25)

UNIVERSITAS INDONESIA 17 etanol yang terserap (crude etanol) sebagian dikembalikan ke menara hidroseleksi

dan sebagian lagi diumpankan ke menara pemurnian (DA 302).

Hasil atas menara DA 303 yang berupa etanol dengan pengotor ringan diumpankan ke menara rekoveri (DA 304) untuk diambil etanolnya sekaligus diambil energi (panas) sebagai sumber panas pada menara tersebut. Sebagai media pemisah pada menara hidroseleksi digunakan dengan energi panas dari :

1. Sistem open steam dengan pembawa panas steam dari unit ketel (area 800) 2. Memanfaatkan panas dari lutter water (hasil bawah yang mana akan

dikembalikan lagi ke menara hisdroseleksi setelah melewati HE 303 dengan pemanas refluks dari F 301)

3. Recovery column (DA 304)

Menara ini merupakan menara rekoveri dengan tray yang berfungsi untuk mengambil etanol yang masih terbawa pengotor ringan dari menara hidroseleksi (DA 303), etanol diambil dengan pemurnian yang tidak diembunkan dalam AE 301. Energi yang digunakan pada kolom ini berasal dari uap hasil atas menara DA 303 yang dimasukkan pada dasr bawah DA 304 ini. Cairan yang berasal dari tray ke 20 menara DA 302, yang mana masih mengandung fussel oil, feints dan head alkohol juga dimasukkan ke dalam menara DA 304.

Hasil atas menara ini diembunkan dalam kondensor (HC 301 dan HC 304), dimana air pendingin berasal dari menara pendingin (area 700), sebagian hasil kondensasi tersebut dikembalikan sebagai refluks dan sisanya diambil sebagai heads etanol, sedangkan gas yang tak dapat dikondensasikan dibuang ke udara. Hasil samping menara rekoveri berupa feints dan fusel oil. Fusel oil dicuci dalam menara pencucian sebelum diambil produk etanol yang terserap dikembalikan ke menara rekoveri. Hasil bawah menara rekoveri yang berupa lutter water dibuang ke kanal.

3.5 UNIT ACETALDEHYDE (AREA 400)

(26)

UNIVERSITAS INDONESIA 18 bahan baku area 450 (unit asam asetat). Dimana saat ini area 400 tidak digunakan

lagi karena prusahaan untuk saat ini tidak memproduksi asam asetat maupun acetaldehyd. Dalam pembuatan asetaldehid, reaksi yang terjadi adalah reaksi oksida parsial alkohol pada suhu tinggi dengan menggunakan katalisator perak (Ag) dengan jenis reaktor fixed bed. Unit asetaldehid ini terdiri dari tiga seksi, yaitu:

1. Seksi persiapan bahan

Seksi ini bertugas untuk memekatkan dan memisahkan etanol dengan air,menguapkan etanol, serta mencampur uap etanol dan udara dalam perbandingan yang tepat sebelum dicampurkan ke reaktor.

2. Seksi reaksi

Seksi ini bertugas mereaksikan etanol dan udara menjadi asetaldehid. Reaksi yang berlangsung adalah:

CH3CH2OH + ½ O2  CH3CHO + H2O

Gas hasil reaksi ang terdiri dari asetaldehid, etanol, nitrogen, oksigen, air dan beberapa gas lain langsung didinginkan sebelum keluar reaktor.

3. Seksi pemurnian hasil

Seksi ini bertugas untuk mengambil asetaldehid sebanyak mungkin dan mengembalikan zat-zat pereaksi untuk direaksikan kembali.

3.6 UNIT ASAM ASETAT (AREA 450)

(27)

UNIVERSITAS INDONESIA 19 1. Seksi reaksi

Seksi ini terdiri dari tiga reaktor bantu (reaktor A, B dan C) dan dengan masker kolom aldehid dioksidasi dengan udara dari kompresor final oxidizer dan dimasukkan dalam reaktor gelembung dengan tekanan tinggi serta fase cair dan katalis mangan asetat. Reaksi yang terjadi merupakan reaksi eksotermis sehingga dibutuhkan pendingin untuk mengambil panas dari hasil reaksi. Dimana reaksi ini akan menghasilkan asam asetat mentah dan dicampurkan ke raktor bantu untuk dioksidasi dengan oksigen sisa dari reaktor A. Hasil dari reaktor B diumankan ke final oxidizer untuk diberikan ke seksi distilasi, sedangkan sisa dari reaktor A digunakan sebagai recycle aldehid.

2. Seksi distilasi

Seksi ini terdiri dari tiga bagian yaitu main column, recovery column dan dehydration column. Hasil reaksi diumpankan ke kolom pemisah dengan alat steam dan dikondensasikandan sebagian lagi direfluks di recovery column. Hasil bawah digunakan recycle katalis reaktor hasil kondensasi dan hasil refluks sebagian diambil sebagai produk asam asetat. Hasil atas dari main column berupa air dan asam asetat didinginkan menghasilkan metil asetat, kemudian diumpankan ke dehydration benzene column. Komponen ringan asam asetat naik ke atas dan air yang ikut diikat oleh benzene. Hasilnyadirefluks dan sebagian diumpankan ke ekstraktor untuk iambil airnya dengan menggunakan pelarutdan terbentuk dua fasa yaitu fraksi minyak yang diekstrak dengan benzene dan fraksi air dibuang ke kanal. Uap didinginkan menjadi produk asam asetat.

3.7 UNIT ETHYL ACETATE (AREA 500)

Pada unit etil asetat ini terjadi dengan reaksi esterifikasi dengan katalis resin. Dimana reaksi esterifikasi ini terjadi dengan rumusan

C2H5O + CH3COOH CH3COOCH3 + H2O

(28)

UNIVERSITAS INDONESIA 20 reaksi dari dalam reaktornya dan digunakan pereaksi asam asetat berlebihan. Unit

ini memiliki dua seksi yaitu seksi reaksi dan pemurnian hasil melalui distilasi. 3.8 UNIT KOMPRESSOR (AREA 550)

Pada unit kompresor ini merupakan penyedia udara tekan untuk proses produksi di area 400 dan 450 serta udara kering/internal untuk penggerak pneumatik peralatan di semua area, dimana penggunaan terbesarnya adalah di plant. Untuk keterangan lebih lengkap tentang kompresor akan dijelaskan pada bab utilitas.

3.9 UNIT PRODUK (AREA 600)

Unit ini digunakan untuk menyimpan produk yang dihasilkan dari area 300 maupun 450.

3.10 UNIT COOLING TOWER (AREA 700)

Unit ini merupakan unit penghasil air utama baik air proses maupun air lunak. Yang mana akan lebih djelaskan pada bab utilitas.

3.11 UNIT BBM (AREA 800)

Unit ini merupakan unit penyimpan dan pengolah BBM dari pertamina yaitu berupa residu yang mana akan diumpankan ke boiler. Namun sejak kenaikan harga BBM dan juga produksi biogas yang baik oleh PT Indo Acidatama, maka unit ini sudah tidak dioperasikan.

3.12 UNIT PENGOLAHAN LIMBAH (AREA 900)

(29)

UNIVERSITAS INDONESIA 21 BAB IV

PROSES

Pada PT Indo Acidatama awalnya memproduksi etanol, asam asetat dan etil asetat. Namun, karena saat ini biaya produksi asam asetat lebih besar dari pada biaya untuk hanya dengan membelinya, maka produksi asam asetat untuk sementara dihentikan, dan untuk bahan baku etil asetat, asam asetat didapatkan dengan membeli asam asetat tersebut. Proses pembuatan etanol pada hakikatnya terdiri dari proses fermentasi bahan baku tetes tebu (molases) yang mana merupakan hasil samping pembuatan gula pasir menjadi mash, kemudian setelah itu mash tersebut yang telah mengandung kadar alkohol 8-10% akan didistilasi menjadi alkohol (ethanol). Proses pembuatan asam asetat terdiri dari proses oksidasi uap ethanol dengan udara dalam reaktor fixed bed menjadi asetaldehid, lalu asetaldehid cair tersebut dioksidasi lagi dengan udara dalam reaktor gelembung menjadi asam asetat. Sedangkan proses pembuatan etil asetat merupakan hasil reaksi esterifikasi antara asam asetat dengan etanol yang berlangsung dalam reaktor fixed bed.

4.1 PROSES UMUM

Secara umum, proses produksi yang terjadi meiputi tiga proses utama yaitu:

4.1.1 PROSES FERMENTASI

Tetes tebu sebagai bahan baku dari beberapa pabrik gula diangkut ke pabrik dengan menggunakan truk tanki dan disimpan ke dalam 5 tanki tetes dengan kapasitas simpan 64.000 ton. Pada unit fermentasi , tetes tebu difermentasi

(30)

UNIVERSITAS INDONESIA 22 4.1.2 PROSES DISTILASI

Mash dari unit fermentasi didistilasi vakum. Produk utama yang dihasilkan

adalah etanol “Super Prima” dengan kemurnian 96,5% bV, bebas dari metanol, asetaldehid dan logam berat. Sedangkan hasil sampingan adalah etanol teknis yang kemudian diolah menjadi spirtus.

4.1.3 PROSES OKSIDASI

Pada unit uap etanol dioksidasi dengan udara didalam reaktor fixed bed dengan menggunakan katalisator padatan. Produk asetaldehid yang dihasilkan memiliki kemurnian 99,9%bW. Dalam unit ini seluruh produk asetaldehid diolah menjadi asam asetat. Asetaldehid fasa cair dioksidasi dengan udara didalam reaktor gelembung dengan katalisator cair.

4.2 PROSES PRODUKSI PRODUK UTAMA

PT Indo Acidatama saat ini hanya memproduksi dua produk komersil yaitu alkohol (etanol) dan etil asetat. Sementara untuk asetaldehid dan asam asetat tidak diproduksi lagi.

4.2.1 ALKOHOL

Proses pembuatan alkohol pada PT Indo Acidatama di area 300 ini sangat bergantung dengan area 200 (Fermentasi). Pada unit ini, mash hasil fermentasi yang mana memiliki kadar etanol 8-9% dipompa dengan P301 dan dialirkan lewat heat exchanger (HE 301) untuk dipanaskan menuju atas kolom DA 301 (mash column). Dalam kolom ini, mash tersebut akan terpisah menjadi dua yaitu fraksi berat berupa stillage, dan fraksi ringan berupa etanol dan uap air. Fraksi ringan tersebut akan masuk ke kondenser (HC 301) untuk dikondensasikan.

(31)

UNIVERSITAS INDONESIA 23 (HC 302) adalah pada HC 301 merupakan kondensor parsial dan HC 302

merupakan kondensor total. Jika kondensasi pada HC 302 masih kurang, maka akan dialirkan ke WC 301 (absorber). Kondenser (HC 301 dan 302) memakai prinsip shield and tube dalam proses pertkaran panasnya.

Dalam kolom hidroseleksi (DA 303) lutter water dari DA 302 tersebut dimurnikan lagi, hasil bawah DA 303 juga masih berupa lutter water sebagian dialirkan lagi ke DA 302 lewat pompa 307 dan FA 302 untuk mengurangi impuritasnya dan masuk ke DA 302 melalui tray 12. Sebagian lagi akan dimasukkan ke HE 303 lewat pompa P 310 untuk diambil panasnya guna membantu pemanasan di DA 303 dan dialirkan kembali ke DA 303 melalui tray atas.

Pada DA 302 terjadi pembagian side product dan main product. Tray 13-16 menghasilkan side product berupa fussel oil (FO), tray 18, 20, 22 dan 24 menghasilkan side product berupa feints. Main product dihasilkan lewat tray 59, 63 dan 67. Main product akan dialirkan ke product storage dengan melewati HE 304 untuk didinginkan terlebih dahulu. Side product dilarutkan ke DA 304 (recovery column) untuk diambil lagi etanol yang masih terkandung didalamnya. Produk (hasil atas) yang masih lolos dari DA 302 akan masuk ke AE 301 (pressure drop dan kondenser), hasil yang terkondensasi dalam AE 301 akan dipompa oleh P 306 untuk dikembalikan lagi ke DA 302 dan yang masih lolos lagi akan dialirkan ke kolom DA 304.

(32)

UNIVERSITAS INDONESIA 24

Gambar 4.1. Diagram alir (PFD) pembuatan alkohol

Alkohol yang dihasilkan oleh PT IACI harus memenuhi spesifikasi:

- Penampakan : bening

- Bau dan rasa : spesifik

- Kadar : minimal 96,5% volume

- Waktu tes permangat : min 30 menit

- Fussel oil : maks 0,2 mg/100ml

- Acetaldehyde : maks 0,2 mg/100ml - Asam asetat : maks 0,4 mg/100ml - Asam asetat dan methyl eter : maks 2 g/100ml - Basa dan furfural : tak terdeteksi

- Abu : maks 0,5 mg/100ml

4.2.2 ETIL ASETAT

(33)

UNIVERSITAS INDONESIA 25 Reaksi esterifikasi terjadi di tanki RE 501 dan dibantu oleh tanki RE5011

dan 5012. Setelah tanki RE 501 ini penuh, maka campuran etanol dan etil asetat tersebut dimasukkan dalam tanki evaporasi yaitu ET 501 untuk dioperasikan pada suhu 103C. Pemanasan (steam) di ET 501 diatur oleh valve FIC 5001. Pengaturan level pada tanki RE mupun ET diatur pada 34% hingga maksimal 40%. Jika pada tanki RE pengaturan itu dimasudkan untuk menambahkan komponen yang mungkin kurang, sedangkan untuk ET pengaturan tersebut dikarenakan koil pemanas hanya tercelup sedalam 40% dari level tanki. Sebelum pemanasan dimulai, terlebih dahulu larutan dicek komposisi air harus 20-25% bW, etanol 1,5-2,5% bW, asam asetat 60-65%bW, dan etil asetat 11-15%bW. Selama pemanasan, valve FIC 5005 dibuka penuh (full open), sistem valve di area 500 ini semuanya menggunakan sistem pneumatic signal. Pengaturan suhu pada tanki RE lebih rendah dari tanki ET. ET juga berfungsi sebagai sumber energi di DA 501 dan RE.

Valve FIC 5005 akan mengatur flow dari tanki ET menuju DA 501 dan operasi ini dipasang suatu kontrol pengamanan (safety device) 503. Jika tekanan di DA 501 terlalu tinggi, safety device akan menaikkan air untuk menutup valve.Pada DA 501 sudah ada pemisahan EA tahap pertama, hasil atas dari DA 501 berupa EA dengan pengotor etanol yang mana akan di kondensasikan di HC 501. Hasil yang terkondensasi (kaya etanol) akan masuk kembali ke DA 501, sedangkan yang tak terkondensasi akan disalurkan ke DA 502. Hasil bawah kolom DA 501 yang mana berupa asam asetat akan dikembalikan ke ET dan RE.

(34)

UNIVERSITAS INDONESIA 26 dikondensasikan di AE 501, AE 501 ini juga digunakan sebagai reboiler untuk

DA 504. Hasil yang terkondensasi dari AE 501 akan dilewatkan ke HE 502 untuk didinginkan, lalu sebagian dipompa dengan P 505 untuk digunakan sebagai umpan di DA 503 dan sebagian lagi digunakan sebagai refluks di DA 502. Sedangkan yang tidak terkondensasi akan dikondensasikan kembali melalui HC 502.

Pada DA 503 terjadi pemisahan etanol dengan etil asetat secara azeotropik dengan memakai pelarut berupa air untuk melarutkan etanol (etil asetat tidak terlarut dalam air). Umpan dimasukkan dari bawah sedangkan air proses (air lunak) masuk dari atas kolom. Etanol kemaudian akan terlarut dalam air dan mengalir ke bawah dan dipumpa dengan P 504, kemudian dimasukkan lagi ke DA 502 lewat tray 20. Namun sebelum memasuki DA 502, larutan etanol-air tersebut dipanaskan dengan HE 501 dengan pemanas adalah lutter water (hasil bawah) dari DA 502 sebelum dibuang ke kanal. Dari DA 503 etil asetat akan mengalir ke atas. Di tray atas DA 503 terjadi interface level (atas etil asetat, bawah air). EA akan dialirkan ke DA 504 secara gravitasi dengan prinsip pipa U.

Pada DA 504 bekerja dibawah tekanan vakum dengan bantuan pompa vakum P 508. Etil asetat akan megalir di bawah, sebagian diambil sebagai produk dengan didinginkan terlebih dahulu lewat HE 503 dan masuk ke product storage. Sebagian lagi diambil untuk sirkulasi di AE 501 untuk mengambil panas dari gas di DA 502 melalui pompa P 509. Gas-gas akan mengalir ke atas dan kemudian dikondensasikan dengan HC 503 (main kondensor). Yang sudah terkondensasi akan dipompa dengan P 507. Sebagian akan digunakan sebagai refluks DA 504, dan sebagian lagi diumpankan kembali ke DA 503 dengan terlebih dahulu didinginkan di HE 502. Sedangkan yang belum terkondensasi akan dikondensasikan lagi di final condensor (HC 504).\

Off gas (gas yang tak tertangkap, biasanya berupa impuritas ME,

(35)

UNIVERSITAS INDONESIA 27 di box vacuum akan dibuang ke udara melalui vent gas. Etil asetat yang dihasilkan

harus memiliki spesifikasi:

a. Konsentrasi minimum 99,9%bW b. Kandungan air maksimum 150 ppm c. ACDT (keasamam) min 25 ppm d. APA (tingkat warna) <8

Diagram alir proses produksi asam asetat di PT Indo Acidatama daapat dilihat pada Gambar 4.2.

(36)

UNIVERSITAS INDONESIA 28 BAB V

PENGOLAHAN LIMBAH

Limbah terbanyak yang dihasilkan oleh PT Indo Acidatama adalah stillage. Stillage mrupakan limbah dari unit alkohol yang mana berwarna cokelat dan memiliki spesifikasi sebagai berikut:

Debit : 1000 m3/hari Suhu : > 50C pH : 4,5 – 5

BOD : 50.000 – 70.000 ppm COD : 100.000 – 120.000 ppm TSS : 7.000 – 10.000

TDS : 90.000 – 120.000 ppm Sulfat : > 2500 ppm

Sebelum dibuang, lumbah terlebih dahulu dilakukan proses pengolahan limbah dengan tujuan mengembaklikan kualitas buangan agar memenuhi persyaratan limbah buangan pabrik. Unit pengolahan limbah di PT Indo Acidatama dibagi menjadi tiga bagian :

1. Bak Persiapan Terdiri dari:

1. Bak berjumlah 2 buah, bak ini bertujuan untuk mengendapkan lumpur yang terbawa limbah. Bak ini bekerja setiap 2 minggu.

2. Bak penetralan, bak ini bertujuan untuk menetralkan limbah dengan bubur kapur hingga dicapai pH yang cukup netral

2. Bak Penguraian

(37)

UNIVERSITAS INDONESIA 29 Stillage murni dari area alkohol diencerkan empat kali dari bak IV dan

masuk ke bak anaerob I, II, III secara paralel. Dalam bak anaerob I, II, II limbah didiamkan supaya mengalami dagradasi secara biologis. Spesifikasi limbah keluar dari bak anaerob I, II dan III adalah :

pH : 7-7,5 COD : 12.000 ppm BOD : 4.000 ppm TSS : 10.000 ppm

Dari bak anaerob I, II dan III kemudian masuk ke bak maturasi IV. Pada bak maturasi IV, limbah juga mengalami proses yang sama dengan di bak anaerob. Dari bak IV, limbah di recycle sebagian ke bak anaerob sebagai pengencer sejumlah 3.000 m3/hari dan sisanya didistribusikan ke lahan pertanian dan untuk pupuk sebesar 10.000 m3/hari.

3. Bak Kontrol

Dari bak kontrol limbah yang sudah dinetralkan, sebagian lagi dialirkan ke bak pembuangan dan sebagian lagi dialirkan ke kolom anaerob. Di dalam kolom ini, limbah dibiarkan mengalami proses anaeron oleh bakteri sehingga menghasilkan gas H2S dan CH4 yang berbau serta penurunan BOD atau COD. Ke dalam kolom anaerob I ditambah nutrien seperti urea dan TSP untuk kelangsungan hidup bakteri. Waktu tinggal di kolom ini adalah selama 35 hari. Penambahan limbah ke dalam kolom anaerob I terjadi secara terus-menerus sehingga terjadi aliran secara overflow menuju kolom anaerob II. Di dalam kolom anaerob II terjadi proses yang sma dengan kolom anaerob I, tetapi waktu tinggalnya hanya 20 hari. Setelah terjadi overflow pada bak III, limbah masuk ke bak IV. Di sini terjadi proses anaerob dengan bantuan aerator. Waktu tinggal di kolom anaerob IV adalah selama 14 hari. Dari bak ini, limbah mengalir secara overflow ke bak V yang bertugas sebagai bak maturasi. Spesifikasi limbah yang keluar dari bak IV adalah :

pH : 6,8 – 7

(38)

UNIVERSITAS INDONESIA 30 TSS : 80-100 ppm

Limbah yang telah diolah dapat digunakan untuk pupuk karena mengandung unsur-unsur N, P dan K yang tinggi. Dimana unsur N dan P berasal dari penambahan nutrien pada fermentasi alkohol, sedangkan unsur K berasal dari tanaman tebu

4. Unit Evaporator Plant

Stillage dengan konsentrasi 5% TS dari alkohol plant dipekatkan di unit evapoator plant dengan 3 stage dan dihasilkan stillage dengan konsentrasi 65% TS dan water dari hasil produk atau stillage dengan konsentrasi 65% TS dimanfaatkan untuk :

1. Pembuatan pupuk cair POMI (Pupuk Organik Majemuk Imbang) 2. Pembuatan briket sebagai bahan bakar boiler. Briket dibuat dari

campuran serbuk kayu dan stillage kemudian dikeringkan dan dipres di bricketing unit

(39)

UNIVERSITAS INDONESIA 31 BAB VI

INSTRUMENTASI DAN UTILITAS 6.1INSTRUMENTASI

Instrumentasi berfungsi untuk mengetahui kondisi operasi dan mengendalikan kondisi tersebut terhadap penyimpangan yang mungkin terjadi sehingga menjamin proses produksi dan utilitas dapat beroperasi sesuai yang diharapkan. Instrumentasi ini dipasang sesuai dengan kebutuhan dan bekerja secara manual (digerakkan oleh manusia) atau otomatis (dapat diamati dari ruang kendali dan digerakkan dengan sistem pneumatis atau sistem elektris)

1. Sistem Pneumatis

Sistem pneumatis digerakkan oleh udara tekan dari unit kompresor (area 550) setelah dilewatkan dalam regulator untuk menurunkan tekanan udara dari 7 bar menjadi 1,4 bar. Udara bertekanan 1,4 bar dipakai pada alat kendali tekanan, aliran dan tinggi cairan, sedang udara bertekanan 7 bar dipakai untuk menggerakkan kran kendali.

Floater atau orrifice dipakai sebagai sensor aliran. Floater dipakai untuk mengukur kecepatan aliran cairan, sedang orrifice dipakai untuk mengukur kecepatan aliran steam. Aliran di dalam pipa menyebabkan floater atau orrifice bergerak. Floater atau orrifice dihubungkan dengan magnet di luar pipa sehingga magnet ikut bergeak. Gerakan magnet akan memutar plat logam yang dihunbungkan degan aliran udara tekan. Putaran plat ini akan mempengaruhi keluaran udara yang dikirim.

Membran pengukur tekanan dipakai sebagai sensor tinggi cairan. Membran ini dihubungkan dengan transmitter. Makin besar tekanan yang mengenai membran makin besar pula tinggi cairan. Pengukur tekanan dipakai sebagai sensor tekanan.

(40)

UNIVERSITAS INDONESIA 32 yang semula tertutup akan terbuka penuh. Perubahan nilai keluaran standar

dari minimum menjadi maksimum merupakan suatu grafik lurus. Skema kerja instrumentasi dapat ditulis sebagai berikut:

Transducer  Transmitter  Converter  Indicator

Transducer merupakan bagian yang mengubah sinyal yang ingin diukur menjadi sinyal tekanan udara. Transmitter merupakan bagian yang mengubah sinyal keluaran transducer menjadi tekanan udara standar. Converter merupakan bagian yang mengubah sinyal keluaran transmitter menjadi sinyal yang sesuai dengan indikator. Indikator merupakan bagian yang menampilkan hasil pengukuran.

2. Sistem Elektris

Sistem elektris digerakkan oleh listrik dan dipakai pada indikator suhu secara digital dan alarm. Thermocouple dipakai sebagai sensor suhu. Panas yang diterima sensor diubah menjadi tahanan listrik. Tahanan ini diubah menjadi keluaran dalam bentuk tekanan oleh transmitter R-P. Keluaran ditampilkan oleh alat kendali suhu.

3. Sistem Kendali Master Slip

Sistem kendali master slip berupa dua alat kendali yang bekerja saling berkaitan. Panas yang diterima oleh thermoelemen diubah enjadi tekanan dan masuk ke transmitter, keluaran transmitter berupa udara tekan. Sebagian udara tekan ini masuk ke pressure switch yang telah diatur pada interval suhu tertentu (set point). Jika suhu yang terukur diluar set point, pressure switch akan memberikan suatu tanda berupa alarm. Sebagian keluaran transmitter masuk ke alat kendali suhu yang berada di ruang kendali. Alat kendali suhu dihubungkan dengan alat kendali aliran. Jika suhu yang terukur berada di luar set point maka pengendalian suhu cukup dilakukan dengan mengatur kran secara manual atau otomatis sampai tercapai tinggi cairan yang didinginkan.

6.2UTILITAS

(41)

UNIVERSITAS INDONESIA 33 air permukaan (sumur, sungai, kolam dan sebagainya) yang berada di lingkungan sekitar.

Keberadaan air pada umumnya tidak murni karena sifat air sebagai pelarut terdapat pengotor/impurities pada air yang mana tidak diinginkan, demikian juga dengan air bawah tanah. Dengan menggunakan pompa air (deep well, well pump) yang berkekuatan 11 Kw dan berdebit antara 20-30 m3/jam, air dari dalam tanah yang masih mengandung pengotor tersebut dialirkan ke tanki sandfilter untuk mengalami proses filtrasi/penyaringan dengan menggunakan media pasir silika. Sistem ini digunakan di PT Indo Acidatama Tbk karena :

1. Pre treatment dapat dilakukan dalam waktu singkat

2. Dapat menghilangkan bakteri dan turbiditas semaksimal mungkin 3. Waktu penyaringan cepat

4. Pemakaian air pencuci (wash water) sedikit

5. Sebagai langkah awal proses pengolahan air yang berlanjut ke proses pelunakan air (soft water)

(42)

UNIVERSITAS INDONESIA 34 Unit ini dilengkapi dengan bak Cold Basin sebagai penampung air yang sudah

didinginkan dan bak Heat Basin sebagai penampung air balik dari plant. Terdapat 2 unit cooling tower di PT Indo Acidatama, masing-masing di desain untuk melayani kebutuhan air di plant dengan menggunakan bebrapa pompa distribusi yang berkekuatan 37,5 kW – 90 kW.

Sistem kerja dari cooling tower, bermula dari air dingin di cold basin dialrkan ke plant dengan bantuan pompa distribusi, setelah melalui proses pertukaran panas (menyerap panas dari plant) air kembali ke unit cooling tower dan ditampung di bak hot basin. Dari sini air dialirkan ke atas dengan pompa sirkulasi berkekuatan 30 kW menuju dek atas cooling water dan dijatuhkan untuk dibuat seperti titik-titik air oleh kisi-kisi kayu, karena udara di dalam ruang cooling tower di hisap oleh fan berkekuatan 55 kW maka terjadi perbedaan tekanan udara luar dan udara di dalam cooling tower sehingga udara luar masuk melewati kisi-kisi. Dengan begitu, akan terjadi persinggungan antara titik-titik air yang masih bersuhu panas dengan udara luar yang masuk melalui kisi-kisi sehingga air akan menjadi lebih dingin. Dan air hasil pendinginan tersebut ditampung di cold basin untuk didistribusikan lagi ke plant.

Oleh karena bersifat open cooling system, cooling tower ini akan sangat rentan terhadap mikroorganisme, yang mana jika tidak dikontrol, akan menyebabkan terjadinya biofouling. Beberapa jenis fouling yang sering ditemukan adalah:

1. Inorganik fouling (scale/bentuk kristal CaCO3, CaSO4, CaSiO3, MgSiO3) 2. Sedimentasi fouling (pasir/lumpur)

3. Organik fouling (minyak/waxes) 4. Mikrobal fouling (algae, fungi, bakteri)

(43)

UNIVERSITAS INDONESIA 35

Tabel 6.1 pengaruh biofouling di cooling system

Bentuk Biofouling Efek 2. Biofilm di pipa dan pompa Menurunkan flow rate

Meningkatkan turbulensi

Meningkatkan kebutuhan energi untuk pompa 3. Biofilm di distribution deck Distribusi aliran tidak rata

4. Biofilm yang terkelupas Menyumbat pipa/pompa/filter 5. Biofilm di heat exchanger Sebagai bahan isolasi panas

Menurunkan efisisensi HE Mencegah aksi inhibitor korosi 6. Mikroba pembentuk korosi Korosi logam

7. Pertumbuhan fungi Menyumbat pipa/filter Merusak kayu cooling tower

Oleh karena itu diperlukan treatment yang baik agar tidak terjadi fouling di cooling system, dimana penjagaan tersebut dilakukan dengan menjaga parameter standar yang dapat dilihat pada Tabel 6.2.

Tabel 6.2 Parameter standar cooling system

Parameter Unit Nilai

pH 7,5-8,5

Konduktivitas mS/cm Max 1.500

M. Alkalinity ppm CaCO3 150-400

Ca Hardness ppm CaCO3 100-300

Total Hardness ppm CaCO3 Max 350

Total Iron ppm Fe Max 2

Chloride ppm Cl Max 350

Silica ppm SiO2 Max 180

(44)

UNIVERSITAS INDONESIA 36

O-PO4 (unfiltered-filtered) Max 2

Zinc ppm Zn 0,1-0,5

Free residual halogen ppm Cl2 0,2-0,5

COD Ppm Max 100

Cycle of conc – Silica 2,5

Total Aerobic bacteria Cfu/ml 1.106

Slime former bacteria Cfu/ml 5.105

6.2.2 Biogas Plant

Biogas merupakan hasil samping dari pengolahan limbah (Waste Water Treatment) yang berasal dari stillage area 300. Dimana sistem operasi biogas plant dapat dilakukan dengan:

1. Gas dari bak anaerob dialirkan melalui pipa PVC menuju biogas plant dengan cara di hisap oleh blower 951

2. Masuk ke kolom scrubber dimana didalamnya terdapat media air yang disemprotkan untuk memisahkan/menangkap partikel-partikel kotoran dan unsur sulfur yang terbawa oleh gas methane agar tidak mengganggu pernafasan. Sedangkan airnya sendiri setelah terpakai dialirkan ke WWT sebagai pengencer.

3. Kemudian dilewatkan ke kolom scrubber 2 yang mana didalmnya dilengkapi plat besi dengan posisi diagonal yang berfungsi untuk menangkap kandungan air yang ikut lolos dari kolom scrubber 1 agar pembakaran di dalam boiler menjadi sempurna.

4. Gas akan dihisap oleh blower 952 sehingga tekanan biogas menjadi 0,6 ba dan didapatkan pembakaran biogas di boiler mencapai 48.000 m3N/hari

6.2.3 Boiler

(45)

UNIVERSITAS INDONESIA 37 1. Dapur pembakaran

Tempat bertemunya udara/oksigen yang dihembuskan oleh blower, bahan bakar (solar, batubara, dan gas metana) dan api api sehingga terjadi pembakaran, bagian ini juga disebut lorong api

2. Pipa api

Di dalam boiler, terdapat pipa-pipa api tersusun sejajar dan terendam feed water yang mana berfumgsi sebagai jalannya gas panas yang dihasilkan dari pembakaran di lorong api, sehingga suhu feed water menjadi naik dan akhirnya akan menguap.

3. Heat exchanger (HE)

Sebagai pemanas awal soft water dengan menggunakan sistem cell and tube, sumber panas berasal dari air blowdown.

4. Deaerator

Alat yang berfungsi untuk membuang sisa-sisa oksigen yang ikut terbawa bersama feed water boiler agar tidak terjadi korosi dalam boiler

5. Feed water tank

Tempat lanjutan pemanas feed water di mana feed water mendapat perlakuan panas dari steam header dan tempat untuk menampung feed water boiler.

6. Economizer

Bagian terakhir sistem pemanas awal feed water sebelum masuk ke ruang boiler dengan memanfaatkan panas dari gas bekas pembakaran sebelum masuk ke cerobong.

7. Blower

Kipas / fan yang berputar untuk menghembuskan udara tekan ke dalam ruang bakar.

(46)

UNIVERSITAS INDONESIA 38

Tabel 6.3 Parameter kontrol air di boiler

Parameter Unit Nilai

pH 10,0-12,0

Alkalinitas ppm CaCO3 Max 2,5 X SiO2

Kesadahan ppm CaCO3 Trace

Chloride ppm Cl Max 200

Silika ppm SiO2 Max 450

Besi ppm Fe Max 1,0

Konduktivitas/TDS Uscm-1/ppm Max 5000

Sulfit ppm So3 20-40

Kenampakan Jernih

Di PT Indo Acidatama, terdapat tiga unit boiler dengan sistem kerja pembakaran yang berbeda:

1. Boiler Omnical

Pada boiler ini, selain dilengkapi dengan alat-alat sebelumnya, juga dilengkapi dengan :

1) Burner, berbentuk double cup berfungsi sebagai injektor masuknya bahan bakar residu ke dalam ruang pembakaran. Burner ini digerakkan oleh motor dan berputar cepat sehingga residu yang tadinya berbentuk cairan kental berubah seperti kabut agar mudah terbakar.

2) Busi-Ignition, berfungsi sebagai alat pemicu api dan hanya bekerja sekali saja di awal pembakaran pada ruang pembakaran.

3) Selenoid Valve Gas, berfungsi sebagai pintu masuk gas metana yang digerakkan secara otomatis. Gas metana ini berasal dari biogas plant. 2. Boiler Alstom

(47)

UNIVERSITAS INDONESIA 39 pembakaran. Boiler Alstom menggunakan batubara sebagai bahan bakarnya,

sehingga sistem pembakaran dan peralatannya pun berbeda. Pada boiler jenis ini juga dilengkapi oleh alat-alat sebagai berikut:

1) Silo dan Coal Hopper, sebagai tempat menampung batubara sebelum masuk ke ruang bakar

2) Swing Chute, berbentuk lorong karena berfungsi sebagai jalan batubara dan bergerak mengayun untuk membagi batubara di atas stocker.

3) Guillotine, merupakan alat semacam pintu yang bisa dinaik-turunkan dan berfungsi untuk meratakan / mengatur ketebalan batubara di atas stocker. 4) Stocker/Chain Grate, berbentuk bed sebagai tempat diletakkannya

batubara dan bergerak berputar untuk membawa batubara masuk ke dalam lorong api/dapur pembakaran.

5) Bak Pendingin, berisi air untuk mendinginkan abu batubara bersuhu panas yang baru keluar dari ruang pembakaran.

6) Ash Collector, penangkap partikel abu hasi pembakaran batubara yang terkahir agar tidak mencemari udara sebelum keluar dari cerobong.

3. Boiler Basuki

Boiler ini merupakan kombinasi dari boiler pipa api dan pipa air, pembakarannya menggunakan batubara jenis bituminous. Di dalam ruang bakarnya terdapat pipa-pipa air atau inbed tubes yang dibenamkan dalam pasir (bed) dan juga di dinding bagian atasnya atau membran wall. Sedangkan di boiler shell-nya terdapat pipa api atau fire tube. Media pembakarannya menggunakan pasir silika berukuran 0,8 mm sampai dengan 1,2 mm.

Sistem pembakaran di boiler Basuki berbeda dengan dua jenis boiler sebelumnya, dimana pada boiler Basuki pembakaran dilakukan dengan sistem sebagai berikut:

(48)

UNIVERSITAS INDONESIA 40 Screw Feed dimasukkan ke ruang bakar atau furnace secara bertahap

hingga pembakaran dengan fluidisasi dicapai suhu 800-900C. Pada setiap pembakaran umumnya terdapat partikel yang tidak terbakar sekitar 5%, terdiri dari pasir silika dan abu batubara. Sisa pembakaran dikeluarkan melalui pipa drain atau ash screw.

6.2.4 Power Station

Unit ini bertugas untuk mensupply kebutuhan tenaga listrik di seluruh perusahaan. Sumber tenaga listrik ini berasal dari:

PLN dengan kapasitas terpasang 2 trafo  1090 kW : 2180 kW Diesel/ genset MaK 3 unit  900 kW: 2700 kW

Total tenaga listrik di PT Indo Acidatama Tbk ada 4880 kW. Untuk pendistribusian tenaga listrik ke unit pengguna diatur dengan kode COS (Change Over Switch) yang dibagi dalam 8 panel COS di ruang central power. Peralatan yang ada di ruang ini adalah 2 buah trasformator, cubicle, beberapa panel power COS yang berisi ACB (Air Circuit Breaker) yang berfungsi sebagai penghubung dan pemutus tenaga listrik.

6.2.5 Kompressor

Unit kompresor disini berfungsi sebagai penyedia udara tekan untuk proses produksi di area 400, 450 dan udara kering/instrument untuk penggerak pneumatic peralatan di semua area di mana pengguna terbesar adalah di plant. Terdapat dua jenis kompresor, yaitu kompresor turbo dan piston.

6.2.5.1Kompresor Turbo

(49)

UNIVERSITAS INDONESIA 41 Hal ini dilakukan agar didapatkan udara tekan dengan tekanan, suhu dan aliran

yang sesuai dengan kebutuhan plant. 6.2.5.2Kompresor Piston

Ada 4 unit dengan kapasitas udara terpasang per unit 1250 kg/jam, kompresor ini dilengkapi dengan motor berkekuatan 160 kW yang menggerakkan 2 buah piston secara horizontal, yitu piston low pressure (LP) dan piston high pressure (HP). Sistem kerja kompresor piston sebagai berikut: 1. Udara bebas/atmosfir dengan tekanan 1 atm dihisap oleh suction valve dan dimampatkan oleh delivery valve cylinder low pressure sehingga tekanan udara naik dari 1 atm menjadi 2,5 bar yang ditampung dalam tanki LP.

2. Kenaikan udara kemudian diikuti oleh kenaikan suhu udara dari suhu kamar 30C menjadi 64C.

3. Karena tekanan udara masih rendah maka udara dihisap dan dimampatkan lagi di HP cylinder menjadi 5,5-7,2 bar dan suhunya 64-72 C.

4. Seperti pada kompresor turbo, setiap udara mengalami pemampatan dan bersuhu panas maka didinginkan di intercooler dan paling akhir di after cooler agar tercapai suhu maksimum 60C, sesuai persyaratan sebagai udara proses.

Udara dari 2 jenis kompresor ini kemudian ditampung di tanki stabilizer FA 550A,B,D yang akan didistribusikan ke plant A dan plant B, sedang tanki FA 550C untuk menampung udara instrumen.

(50)

UNIVERSITAS INDONESIA 42 6.2.6 BBM Plant

Area ini menyediakan bahan bakar solar dan residu yang digunakan oleh boiler, diesel MaK dan alat berat + transportasi yang berbahan bakar solar (Wheel loader, Fork, Lift, Back Hoe, Dump truck, dsb). Namun sejak residu dapat digantikan dengan FO (Fussel Oil) yang mana merupakan produk samping dari distilasi ethanol, maka unit ini sudah tidak digunakan lagi.

Solar digunakan pada kendaraan tersebut, juga sebagai BBM awal untuk diesel MaK, sedangkan R 38 digunakan untuk Boiler Omnical yang berbahan bakar 2 macam, R 38 dan gas methane, selain itu R 38 pada viskositas tertentu juga digunakan oleh diesel MaK sebagai BBM pengganti. Peralatan yang ada pada BBM plant berupa beberapa tanki yang berfungsi untuk menampung BBM solar dan Residu 38 juga beberapa pompa yang digunakan untuk mentransfer BBM tersebut ke unit-unit pemakai.

6.2.7 Nitrogen

Unit ini merupakan unit penampung supply nitrogen dari PT Aneka Gas yang mana digunakan area A 400 dan A 450. Namun, karena harga asam asetat yang diproduksi di area 400 masih jauh lebih murah dengan yang ada di pasaran dan saat ini tidak memproduksi asam asetat, maka unit ini juga sudah tidak dipakai.

(51)

UNIVERSITAS INDONESIA 43 BAB VII

FERMENTASI 7.1 KULTURISASI

Kulturisasi merupakan tahapan untuk memperbanyak yeast sebelum memasuki tahapan fermentasi. Yeast yang dipakai dalam proses di PT Indo

Acidatama adalah Saccaromyces cereviseae dari strain “Kyowa”. Kulturisasi ini

dilakukan di labolatorium mikrobiologi PT Indo Acidatama. Untuk menjaga mutu, maka sebelum masuk ke unit fermentasi, dilakukan pengecekan terhadap molase untuk mengetahui apakah molase tersebut masih layak untuk digunakan atau tidak, pengukuran yang dilakukan meliputi pengukuran gula pereduksi / TSAI (Total Sugar As Invert). dengan metode Lane Eynon, kadar gula sisa dengan metode Somogy, berat jenis, pH, jumlah sel, kadar alkohol, kadar abu, total padatan, yield alkohol, Gula tak terfermentasi, brix. Jumlah sel juga dihitung dengan menggunakan haemacytometer, dengan perhitungan sebagai berikut:

= × 5. 104×

Dimana:

A = jumlah sel dalam 5 kotak haemacytometer

5. 104 = volume dalam 5 kotak

(52)

UNIVERSITAS INDONESIA 44

Gambar 7.1. Diagram proses kulturisasi yeast PT Indo Acidatama

7.2 FERMENTASI

(53)

UNIVERSITAS INDONESIA 45 1. Seed fermentor

Seed fermentor merupakan tempat starter pertama pembenihan atau

pertumbuhan jasad. Proses dalam seed fermentor terdiri dari proses persiapan media, pembuatan media , pendinginan media, pembiakan media, dan kondisi operasional selama inkubasi. Ilustrasi tanki seed fermentor dapat dilihat pada Gambar 7.2.

Gambar 7.2. Tangki seed fermentor PT Indo Acidatama

A. Persiapan Media Seed Fermenter 1. Cleaning

Merupakan proses pencucian tanki seed yang akan dipergunakan untuk membersihkan sisa-sisa yeast dan sisa anti foam. Dilakukan dengan prosedur sebagai berikut:

(54)

UNIVERSITAS INDONESIA 46 b. Buka valve P.703 dan valve P.203 kemudian start P.203

c. Air cleaning disemprotkan ke dinding tanki lewat sparger, dilakukan selama  5 menit, kemudian valve P.203 ditutup.

d. Tanki bagian dalam disikat dan diberi deterjen, start kembali P.203 selama 2 menit (dilakukan hanya ketika overhaul)

e. Jika tidak maka hanya disemprotkan bahan kimia ke dalam tanki, lalu di bilas saja dengan air.

f. Tutup valve P.203 (valve cleaning). Buka valve steam untuk flashing (menghilangkan kotoran yang menyumbat lubang sparger) selama 1 menit.

g. Buka valve cleaning, start P.203 selama 4 menit

h. Tutup semua valve, beri larutan formalin 0,1 L sebagai desinfektan Langkah-langkah diatas dilakukan untuk cleaning tanki kosong, jika tanki telah melalui proses dan baru saja kosong, maka penyemprotan dengan desinfektan tidak perlu dilakukan lagi, hanya langsung saja melakukan sterilisasi pada tanki yang akan digunakan dengan memakai steam.

2. Sterilisasi Tanki

Sterilisasi tanki dilakukan untuk membunuh kontaminan yang mungkin terdapat dalam tanki fermentor maupun media itu sendiri. Sterilisasi tanki dilakukan dengan prosedur:

a. Manhole ditutup rapat, shipon pot diisi air 1/3 bagian (untuk mengeluarkan uap air dari sterilisasi)

b. Valve steam dibuka perlahan-lahan  ¼ putaran

c. Valve drain dan valve sampel cook dibuka sedikit untuk mengeluarkan kondensat.

d. Waktu sterilisasi  2 jam dan suhu 99-100C. B. Pembuatan Media

(55)

UNIVERSITAS INDONESIA 47 dalam larutan formalin sehigga selalu dalam keadaan steril. Pembuatan

media seed fermenter dilakukan oleh dua orang, dengan cara :

1. Mengatur valve yang berhubungan dengan hose pipe dan dimasukkan ke tanki lewat mahole.

2. Mengatur valve distribusi ke pre fermenter. Dimana langkah lebih rincinya dilakukan dengan: 1. Pengaturan valve dan pompa

a. Buka valve process water storage P.703 yng masuk ke P.204 b. Buka valve di depan P.107, P.201 dan P.202

c. Pasang hose pipe dari pipa mash yang masuk ke tanki seed

d. Memulai P.204, P.201 dan P.107 yang telah di setik otomatis pada bukaan 50%.

2. Proses pemgisian seed fermenter

a. Mengisi tanki 0,5 m3 dengan mash ( 2 garis di atas termocouple) b. Encerkan dengan air 1,7 m3 (80 cm dari main hole) dengan

membuka valve by pass dari P.204 atau mulai P.203

c. Mengukur kekentalannya dengan brix weigher antara 16-18Bx. d. Menambahkan urea 2 kg dan asam fosfat 3 kg ke dalam tanki. e. Tambahkan juga anti-foam 0,5 L ke dalam tanki.

3. Sterilisasi Media

Media fermentasi berupa mash juga penting untuk disterilisasi untuk menghilangkan kontaminan dalam media. Sterilisasi media dalam seed fermentor dilakukan dengan langkah-langkah:

a. Isi shipon pot 1/3 volume, atur aliran masuk dan keluar b. Buka valve aerasi 20 m3/jam dari M. 551 atau BA.228

c. Buka valve steam perlahan-lahan pada bukaan seperempat atau setengah.

d. Media panaskan dengan steam hingga mencapai temperatur 99-100C selama 2 jam.

Gambar

Gambar 2.1. Penampakan atas PT Indo Acidatama
Gambar 4.1. Diagram alir (PFD) pembuatan alkohol
Gambar 4.2. Diagram alir (PFD) pembuatan etil asetat
Tabel 6.1 pengaruh biofouling di cooling system
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari pola kehidupan yang sudah dijalani sebagai produsen gula tebu, pada program vucer kegiatan f okus pada pemanfaatan limbah pembuatan gula tebu (molases) yang

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengendalian persediaan bahan baku tebu dalam pembuatan gula pasir di Pabrik Gula Bone Arasoe dikategorikan pengendalian baik

Pada proses produksi etanol ini menggunakan bahan baku molases dan mikroorganisme Zymomonas mobilis A3 yang termutasi oleh hydroxylamine, dengan proses fermentasi dalam

Dari pola kehidupan yang sudah dijalani sebagai produsen gula tebu, pada program vucer kegiatan fokus pada pemanfaatan limbah pembuatan gula tebu (molases) yang

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengendalian persediaan bahan baku tebu dalam pembuatan gula pasir di Pabrik Gula Bone Arasoe dikategorikan pengendalian baik

Etanol saat ini yang diproduksi umumnyaa berasal dari etanol generasi pertama, yaitu etanol yang dibuat dari gula (tebu, molases) atau pati-patian (jagung,

Keterangan TR(Total penerimaan usahatani tebu untuk pembuatan gula pasir/gula tumbu), Y (Produksi yang diperoleh usahatani tebu untuk pembuatan gula pasir/gula

Salah satu bahan baku sukrosa yang dapat dimanfaatkan adalah molase atau tetes tebu yang merupakan sisa pembuatan gula tebu namun masih mengandung glukosa dan nutrisi tinggi.. Molase