• Tidak ada hasil yang ditemukan

BOOK Mediamorfosa Puji R Kebangkitan Pers Populer

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BOOK Mediamorfosa Puji R Kebangkitan Pers Populer"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

di Era Hiperkomersialisasi Media:

Kecenderungan Koran Lokal DIY

dalam Mendefinisikan Berita dan Pembaca

Puji Rianto Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta

Email: [email protected]

Pendahuluan

Munculnya market-driven journalism, yakni jurnalisme yang dikendalikan oleh pasar (lihat Rianto, 2007; McManus, 1996) telah mendorong para pengelola media untuk menempatkan pembaca lebih sebagai customer dibandingkan dengan publik. Hal ini membuat media lebih cenderung melayani keinginan pembaca dibandingkan memberikan sesuatu yang benar-benar dibutuhkan. Berita-berita yang sensasional, menyentuh emosi, dan dangkal menghiasi lebih banyak media dibandingkan dengan berita-berita yang mempunyai nilai signiikansi dan relevansi tinggi bagi publik.

Dalam “Reporting and the Push for Market-Oriented Journalism:

Media Organization as Businesses”, Underwood (2001: 99)

mengemukakan bahwa surat kabar saat ini lebih banyak didedikasikan untuk mencetak uang, mempertemukan tujuan-tujuan pemasaran, dan melayani kebutuhan para pengiklan daripada melaksanakan peran tradisional mereka untuk melayani publik dan bertindak sebagai “anjing penjaga” pemerintahan dan bisnis. Hal ini tentu saja mengurangi secara serius peran tradisional pers, dan koran -demi menarik lebih banyak pembaca-mengadopsi teknik-teknik tabloid (Underwood, 2001: 111).

(2)

tapi telah hadir dalam pers-pers serius. Indikator paling utama adalah menguatnya sensasionalisme berita. Ini bisa dilihat, misalnya, pada

headlineHarian Jogja edisi 22 Agustus dengan judul “Isapan Jempol

Harga Rokok.” Dengan judul menyolok, berita itu ditulis dengan gaya tabloid lengkap dengan ilustrasinya yang sangat detil.

Tribun Jogja juga tidak kalah gencarnya dalam menampilkan

praktik-praktik pers populer dalam membangun headline. Headline Tribun Jogja edisi 14 Januari 2016, misalnya, mengangkat judul “Isap Sabu di Hotel Terasa Lebih Nyaman.” Seperti halnya Harian Jogja, headline Tribun Jogja ini juga dilengkapi dengan detil ilustrasi sabu dan orang-orang yang ditangkap. Tema kriminalitas dalam berita yang dijadikan headline memperkuat tampilan pers populer dalam koran serius Tribun Jogja.

Menguatnya praktik-praktik pers populer yang didorong oleh hiperkomersialisasi produk media ini pada akhirnya berimplikasi pada pergeseran konsep khalayak. Dalam hal ini, terjadi pergeseran pembaca yang sebelumnya pembaca dianggap sebagai citizen menjadi sekadar pasar atau pelanggan. Akibatnya, berita tidak lagi dilihat pada nilai penting dan kesesuaiannya dengan kebutuhan khalayak, tapi lebih pada seberapa besar berita yang diangkat mampu menarik khalayak. Dalam hal ini, nilai signiikansi sebagai salah satu dimensi penting nilai berita (lihat McQuail, 1992; Siregar dkk, 1997) tidak lagi menjadi pertimbangan utama. Sebaliknya, berita-berita hiburan, human interest, kriminalitas dan berita ringan menjadi yang utama. Penelitian ini karenanya dilakukan untuk membuktikan tesis ini dengan melihat kecenderungan pemberitaan di koran-koran lokal dengan menggunakan analisis isi kuantitatif. Oleh karena itu, pertanyaan besar yang diajukan dalam penelitian ini adalah bagaimana kecenderungan pemberitaan koran-koran lokal Yogyakarta dalam menempatkan pembaca sebagai publi warga negara dibandingkan sekadar sebagai pasar? Sejauh mana, berita-berita yang disajikan surat kabar harian di Yogyakarta (Kedaulatan Rakyat, Harian Jogya, dan Tribun Jogja

(3)

Kajian Teori

Pers populer menunjuk pada suatu jenis pers yang dicirikan oleh berita-berita kriminal dan skandal dan kurang memberikan perhatian pada berita-berita politik, sebagai lawan ‘pers berkualitas’. Dibandingkan dengan pers berkualitas, pers populer ini mempunyai beberapa perbedaan. Pertama, pengemasan cerita. Baik pers populer maupun pers berkualitas sama-sama mengandalkan cerita, tapi cerita-cerita pers populer lebih menyandarkan pada personalitas. Colin Spark (Storey, 2008) mengemukakan bahwa perbedaan penting antara pers populer dengan pers ‘berkualitas’ adalah pengerahan (oleh pers populer) ‘yang personal’ sebagai kerangka kerja yang bersifat menjelaskan. Kedua, letak batas beroperasi antara keduanya. Seperti dikemukakan Fiske (Storey, 2008), pers populer beroperasi pada garis batas antara yang publik dan yang private: gayanya sensasional, terkadang skeptis, tidak jarang bersungguh-sungguh secara moralistis; ungkapannya populis; kelonggaran bentuknya menampik perbedaan stilistik antara iksi dan dokumenter, antara berita dan hiburan.

Sejarah pers populer atau koran kuning itu sendiri dimulai jauh pada bulan September 1833, seorang penerbit muda bernama Ben Day mulai menerbitkan sebuah koran sederhana, Sun di New York. Day menjual korannya seharga satu sen. Ia membidik kalangan kebanyakan dan berhasil karena selisih harga produksi bisa ditutupi dengan banyaknya tiras koran yang terjual. Dalam isi beritanya, Day lebih memfokuskan pada berita-berita hukum dan kriminal seperti korupsi polisi, skandal di pengadilan atau hukuman mati (Rivers dkk, 2003: 53).

Kuatnya kapitalisasi dalam institusi media telah melahirkan praktik jurnalisme yang lebih dikendalikan oleh pasar atau yang sering disebut market-driven journalism. Dalam market-driven journalism, audience lebih dilihat sebagai ”customer” dibandingkan dengan sebagai ”citizen”. Sebagaimana dikemukakan oleh Joel Kramer (Rianto, 2007),

marketing menjadi bagian jurnalisme, dan editor mengambil keputusan dalam garis kebijakan ini. Surat kabar disusun berdasarkan unit-unit

customer dan editor bertangggung jawab dalam mencari pembaca dan

keuntungan.

(4)

dan bermakna bagi publik. Dengan kata lain, hiperkomersialisasi telah mendorong kemunculan kembali praktik-praktik ‘jurnalisme kuning’ atau pers populer atau ada yang menyebutnya sebagai ‘tabloidisasi jurnalisme’. Praktik-praktik itu menjadi semakin lazim dalam koran-koran yang selama ini dikategorikan ke dalam koran-koran serius.

Market-driven journalism, di sisi lain, juga melahirkan fenomena

junk news dalam bentuk infotainment dan tabloidisasi berita (lihat Rianto, 2007). Junk news merujuk pada berita-berita dengan kualitas rendah dan gambar-gambar dangkal sebagaimana halnya junk food

yang mempunyai selera global, tetapi berbahan baku miskin kualitas (Sopian, 2004). Infotainment mengacu pada berita-berita yang dikemas sebagai hiburan, sementara tabloidisasi, sebagaimana ditunjukkan oleh penelitian McLahan dan Golding (Rianto, 20017), dikarakteristikkan oleh kurangnya berita-berita internasional, lebih banyak gambar, miskin teks, lebih mengandung human interest, dan kurang menyentuh dimensi politik dan parlementaria. Tabloidisasi merupakan bentuk yang lebih canggih dari infotainment yang menekankan dimensi hiburan dan informasi.

Dalam market-driven journalism, liputan media akan bergeser dari isu-isu sosial politik jangka panjang menjadi berita-berita yang menyentuh kebutuhan personal masyarakat. Seperti dikemukakan oleh Chesney (Rianto, 2007), peliputan yang sebelumnya begitu kuat dalam wilayah-wilayah politik, kini, beralih ke dalam liputan-liputan mengenai kejahatan, olah raga, dan kehidupan kaum selebritis.

Life style, kesehatan, dan hobi juga menjadi isu-isu yang banyak

diminati oleh para pembuat berita. Dengan kata lain, segmentasi dan

targeting telah mempengaruhi banyak pengelolaan media sehingga

muncullah koran dan majalah yang sangat tersegmentasi berdasarkan kelompok-kelompok pasar tertentu. Ini semua terjadi karena kuatnya pertimbangan-pertimbangan pasar dalam menentukan bagaimana media dikelola, yang pada akhirnya berujung pada area liputan media dan segmen pasar mana yang harus mereka layani.

Metode Penelitian

(5)

objektif, dan cenderung kuantitatif dengan fokus pada isi pesan media massa (dikutip dari Prajarto, 2010: 4). Eriyanto (2013: 15) mengemukakan bahwa secara umum analisis isi dideinisikan sebagai suatu teknik penelitian ilmiah yang ditujukan untuk mengidentiikasi secara sistematis isi pesan komunikasi yang manifes atau tampak, dan dilakukan secara objektif, valid, reliabel, dan dapat direplikasi. Berelson (1952) seperti dikutip Eriyanto mendeinisikan analisisi isi sebagai suatu teknik penelitian yang dilakukan secara objektif, sistematis dan deskriptif kuantitatif dari isi komunikasi yang tampak (manifes). Wimmer dan Dominic (2006: 150; seperti dikutip Salvatore, 2014: 44) mendeinisikan analisis isi sebagai suatu metode untuk mempelajari dan menganalisis praktik komunikasi secara sistematik, objektif dan kuantitatif dengan tujuan untuk mengukur variabel-variabel tertentu.

1. Sampel Penelitian

Sebagai sebuah penelitian kuantitatif, analisis isi akan dihadapkan pada pilihan-pilihan sampel penelitian. Dalam penelitian ini, koran yang akan dianalisis adalah koran lokal di Yogyakarta, yakni

Kedaulatan Rakyat, Harian Jogja (Harjo), Tribun Jogja. Analisis akan dilakukan pada halaman pertama, yang mencakup berita headline dan

nonheadline. Analisis dilakukan selama dua minggu (kurang lebih 14

edisi).

2. Uji Realibilitas

Dalam penelitian ini, uji realibilitas dilakukan oleh dua orang koder dengan menggunakan rumus sederhana Holsti. Hasil uji realibilitas sebesar 84,6% dari uji reabilitas yang disyaratkan sebesar 60% (lihat Sinarmata, 2014).

Hasil Penelitian dan Pembahasan

1. Paparan Hasil Penelitian

a. Proil Berita

(6)

Tabel 1 Jenis Berita

No. Koran Headline Nonheadline Total

1 Kedaulatan Rakyat 21.67%

3 Tribun Jogja 17.19%

(11)

82.81%

(53)

100%

(64)

Untuk format berita, tabel 2 menunjukkan bahwa baik Kedaulatan Rakyat, Harian Jogja maupun Tribun Jogja, berita didominasi oleh

hardnews. Ini menunjukkan bahwa ketiga harian tersebut sangat

menonjolkan aktualitas berita. Aktualitas berita biasanya diukur maksimal dua hari dari peristiwa. Selain itu, tingginya berita hardnews menunjukkan bahwa ketiga koran merasa bahwa realitas yang disampaikan mempunyai kesegeraan untuk diketahui oleh pembaca. Meskipun demikian, berita-berita dengan hardnews mengandung kelemahan karena biasanya hanya menjawab formula 5W+1H. Berita cenderung dangkal karena hanya memberitakan hal-hal yang pokok atau utama.

Kedaulatan Rakyat menjadi koran lokal dimana persentase

hardnews pada halaman pertamanya paling tinggi, yakni 83.33%,

sotnews 10.00%, dan feature sebesar 6.67%. Sebaliknya, Tribun Jogja

menjadi koran dengan berita hardnews paling rendah. Berita hardnews

di halaman pertama koran ini hanya mencapai 46.88%, diikuti oleh berita-berita sotnews 39.06% dan feature sebesar 14.06%.

Tabel 2 Format Berita

No. Koran Hardnews Sotnews Feature Total

1 Kedaulatan Rakyat 83,33% 10,00% 6,67% 100%

(60)

2 Harian Jogja 51% 35% 14% 100%

(65)

3 Tribun Jogja 46,88% 39,06% 14,06% 100%

(7)

b. Tema Berita

Dalam penelitian ini, tema berita dikategorikan ke dalam delapan kelompok, yakni berita-berita mengenai politik dan pemerintahan, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, ekonomi dan perdagangan, hukum dan kriminal, olah raga, hubungan dan politik internasional, dan hiburan. Dari delapan kategori ini, masing-masing koran berbeda dalam memberikan penekanan atas isu yang sering diangkat dalam pemberitaan. Kedaulatan Rakyat, misalnya, berita politik dan pemerintahan menempati porsi tertinggi bersama dengan berita-berita sosial budaya. Untuk kedua kategori ini, masing-masing sebesar 31.67%. Sementara itu, untuk Harian Jogja, berita dengan tema sosial budaya menempati porsi tertinggi, yakni sebesar 48% diikuti dengan berita hiburan sebesar 32%. Menariknya, tidak ada berita-selama dua minggu penelitian ini dilakukan-berita di Harian Jogja yang mengangkat tema politik dan pemerintahan. Begitu juga, Tribun

Jogja memberikan perhatian yang rendah terhadap berita-berita

politik dan pemerintahan. Harian ini hanya memberikan porsi sebesar 3.13% untuk berita-berita politik dan pemerintahan. Sebaliknya, memberikan porsi yang sangat besar untuk berita sosial budaya. Dari total 64 item berita yang dianalisis selama dua minggu, berita politik dan pemerintahan hanya sebesar 3.13%, jauh di bawah berita sosial dan budaya yang sebesar 65.63%, serta berita kriminal sebesar 21.88%. Diantara ketiga koran, hanya Harian Tribun Jogja yang memberikan porsi besar di halaman pertama berita hukum dan kriminal. Koran lainnya, yakni Kedaulatan Rakyat dan Harian Jogja, masing-masing hanya 8.33% dan 3%.

Tabel 3 menunjukkan bahwa berita-berita hubungan internasional dan politik internasional sangat rendah. Hanya Kedaulatan Rakyat yang memberikan porsi di halaman pertama berita hubungan internasional dan politik internasional. Dari total 60 item berita, Kedaulatan Rakyat

memberikan porsi sebesar 3,33% (atau 1 item berita). Kedua koran lainnya bahkan tidak ditemukan satupun berita internasional.

(8)

yang lebih menghibur seperti berita olah raga dan hiburan. Padahal, berita-berita politik dan pemerintahan sangat penting karena hal itu akan memberikan informasi kepada pembaca sebagai warga negara untuk terlibat dalam kehidupan politik atau terlibat dalam proses kebijakan publik. Berita-berita semacam ini biasanya mempunyai nilai signiikansi tinggi. Sebaliknya, berita-berita olah raga dan hiburan hanya memenuhi aspek hiburan (satisfaksi) bagi pembaca (Siregar dkk, 1997). Tribun Jogja

menjadi koran lokal dengan berita hukum dan kriminal paling tinggi. Begitu juga, dibandingkan dengan koran lokal lainnya, porsi untuk berita sosial budaya sangat tinggi, yakni mencapai 65%. Di sini, tampak bahwa Tribun Jogja lebih cenderung berupaya memenuhi aspek satisfaksi pembaca dibandingkan dengan dengan memberikan berupaya memenuhi apa yang benar-benar dibutuhkan oleh pembaca.

Tabel 3 Tema Berita

No. Tema Berita Koran

Kedaulatan Rakyat Harian Jogja Tribun Jogja

1 Politik dan pemerintahan 31,67% 0% 3,13%

2 Sosial budaya 31,67% 48% 65,63%

3 Pertahanan dan keamanan 5,00% 8% 1,56%

4 Ekonomi dan perdagangan 3,33% 2% 3,13%

5 Hukum kriminal 8,33% 3% 21,88%

6 Olah raga 10,00% 8% 3,13%

7 Hubungan dan politik internasional

3,33% 0% 0,00%

8 Hiburan 6,67% 32% 1,56%

c. Nilai Signiikansi Berita

Suatu berita dikatakan mempunyai nilai signiikansi jika berita tersebut menyentuh kebutuhan pembaca. Ada banyak fungsi berita bagi pembaca, salah satu diantaranya bahwa berita-berita itu bisa memberikan referensi bagi pembaca untuk terlibat dalam kehidupan publik atau pembaca. Dalam penelitian ini, signiikansi berita dibedakan ke dalam tiga kategori, yakni berita-berita dengan nilai signiikansi tinggi, sedang, dan rendah.

(9)

yang dianalisis, persentase paling tinggi adalah berita-berita dengan nilai signiikansi yang rendah. Harian Jogja memiliki jumlah item berita dengan sigiikansi rendah paling tinggi, yakni 52%. Berita dengan kategori signiikansi rendah ini lebih dari separuh berita di halaman pertama Harian Jogja. Meskipun demikian, Harian Jogja

juga mempunyai nilai berita dengan signiikansi paling tinggi, yakni sebesar 22%. Ini lebih tinggi dibandingkan dengan Kedaulatan Rakyat, dan lebih-lebih Tribun Jogja. Total item berita di Harian Tribun Jogja

dengan nilai signiikansi tinggi bahkan tidak sampai 10% (lihat tabel 4). Persentase tertinggi nilai signiikansi harian Tribun Jogja adalah dengan kategori signiikansi rendah (48.44%), diikuti berita-berita dengan nilai signiikansi sedang (45.31%).

Tabel 4 Nilai Signiikansi Berita

No. Koran Nilai Signiikansi Berita

Tinggi Sedang Rendah

1 Kedaulatan Rakyat 20,00% 35,00% 45,00%

2 Harian Jogja 22% 26% 52%

3 Tribun Jogja 6,25% 45,31% 48,44%

(10)

mudah dan biaya yang lebih kecil dibandingkan dengan berita-berita politik dan pemerintahan. Dengan biaya kecil, diharapkan akan memberikan koran-koran lokal itu keuntungan.

d. Relevansi Berita

Suatu berita dikatakan relevan jika berita tersebut mengandung hal-hal yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari pembaca. Dengan kata lain, suatu berita dikatakan mempunyai nilai relevansi jika berita-berita tersebut mempunyai kesesuaian dengan kebutuhan pembaca. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sesuatu dikatakan mempunyai relevansi jika mempunyai hubungan. Dengan demikian, suatu berita dikatakan relevan jika berita tersebut mempunyai hubungan dengan kehidupan sehari-hari pembaca.

Tabel 5 menunjukkan relevansi berita di halaman pertama surat kabar lokal di Yogyakarta. Dari tabel 5, terlihat bahwa berita-berita di halaman pertama harian yang terbit di Yogyakarta, yakni Kedaulatan Rakyat, Harian Jogja dan juga Tribun Jogja rata-rata mempunyai nilai relevansi yang rendah. Harian Jogja bisa dikatakan menjadi yang paling bagus karena berita-berita di halaman pertama yang mempunyai nilai relevansi tinggi mencapai 35%, disusul Harian Kedaulatan Rakyat

(33.33%) dan Harian Tribun Jogja (32.91%). Namun, ketiga koran tersebut persentase yang paling tinggi justru nilai relevansi yang rendah.

Tabel 5 Relevansi Berita

No. Koran Relevansi Berita

Tinggi Rendah

1 Kedaulatan Rakyat 33,33% 66,67%

2 Harian Jogja 35% 65%

3 Tribun Jogja 32,81% 67,19%

e. Keberadaan Sensasionalisme dalam Berita

(11)

tersebut mengandung unsur dramatisasi. Dramatisasi berarti melebih-lebihkan peristiwa. Ini dilakukan dengan menggunakan bahasa hiperbolik.

Berita-berita sensasional biasanya ditujukan untuk meraih pembaca sebanyak-banyaknya. Dalam media yang didominasi oleh hiperkomersialisme, sensasionalitas berita biasanya menjadi salah satu ciri yang menonjol. Harapannya, berita-berita yang sensasional akan menarik semakin banyak pembaca, dan, dengan demikian, akan menaikan tiras koran dan iklan. Ini berarti keuntungan bagi koran yang bersangkutan.

Jika dilihat dari unsur sensasionalisme berita ini, maka tampak bahwa bahwa seluruh koran mengandung sensasionalisme yang tinggi meskipun dalam derajat yang berbeda. Dari tabel 6, bisa dikatakan bahwa Harian Jogja menjadi koran yang paling sensasional karena berita yang mengandung sensasionalitas mencapai 91%, diikuti

Tribun Jogja (89,06%). Harian Kedaulatan Rakyat menjadi koran yang paling rendah sensasionalitas beritanya. Di harian ini, berita-berita di halaman pertama yang mengandung sensasionalisme sebesar 36.67%. Angka ini sebenarnya masih cukup tinggi, tapi jauh lebih rendah dibandingkan dengan dua koran lainnya. Dari ketiga koran lokal yang dianalisis dalam penelitian ini, tampak bahwa berita yang mengandung sensasional cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan berita yang tidak mengandung sensasional. Hanya Kedaulatan Rakyat, berita yang mengandung sensasionalitas lebih rendah dibandingkan yang tidak.

Tabel 6

Keberadaan Sensasionalisme dalam Berita

No. Tema Berita Keberadaan Sensasionalisme

Ada Tidak

1 Kedaulatan Rakyat 36,67% 63,33%

2 Harian Jogja 91% 9%

3 Tribun Jogja 89,06% 10,94%

2. Diskusi Teoritik

(12)

McQuail (Rianto, 2007) mengemukakan bahwa apapun argumentasi yang diajukan untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan kepentingan publik, yang paling utama adalah media seharusnya mengerjakan apa yang seharusnya dibutuhkan oleh publik. Diantara syarat-syarat kepentingan publik utama media adalah pluralitas dalam kepemilikan media, kebebasan akan publikasi, keberagaman informasi yang tersedia untuk publik, keberagaman opini, jangkauan yang luas, kualitas informasi dan budaya yang tersedia, dukungan yang memadai terhadap sistem politik, penghormatan terhadap hukum, dan penghormatan terhadap hak-hak individu dan hak-hak publik secara umum.

Persoalan yang dihadapi oleh pers dewasa ini adalah kuatnya hiperkomersialisasi. Hal ini telah mereduksi fungsi-fungsi pers dalam memberikan layanan publik. Sebaliknya, hiperkomersialisasi telah mendorong munculnya tabloidisasi produk jurnalisme. Sebagaimana ditunjukkan oleh penelitian McLahan dan Golding (Beck, 2004), tabloidisasi ini dikarakteristikkan oleh kurangnya berita-berita internasional, lebih banyak gambar, miskin teks, lebih mengandung

human interest, dan kurang menyentuh dimensi politik dan

parlementaria. Tabloidisasi merupakan bentuk yang lebih canggih dari

infotainment yang menekankan dimensi hiburan dan informasi.

Penelitian yang dilakukan terhadap tiga koran lokal di DIY, yakni Kedaulatan Rakyat, Harian Jogja, dan juga Tribun Jogja kiranya mencerminkan apa yang dimaksudkan oleh McLahan dan Golding. Dilihat dari tema, misalnya, berita-berita lebih didominasi oleh

human interest dan miskin berita internasional. Berita juga tidak

mengangkat persoalan-persoalan politik dan pemerintahan. Hanya

Kedaulatan Rakyat yang memberi porsi tinggi untuk berita politik

dan pemerintahan (31.67%). Harian lain seperti Tribun Jogja bahkan memberikan porsi berita hukum dan kriminal yang jauh lebih tinggi.

Di Harian Jogja, berita yang mengangkat politik dan pemerintahan

dalam rentang dua minggu ketika dilakukan penelitian justru tidak ada. Berita-berita internasional juga miskin. Hanya Kedaulatan Rakyat

yang menempatkan isu internasional di halaman pertama. Namun, persentasenya sangat rendah, sedangkan kedua koran 0%.

(13)

isu-isu sosial politik jangka panjang menjadi berita-berita yang menyentuh kebutuhan personal pembaca. Seperti dikemukakan oleh Chesney (1998), peliputan yang sebelumnya begitu kuat dalam wilayah-wilayah politik, kini, beralih ke dalam liputan-liputan mengenai kejahatan, olah raga, dan kehidupan kaum selebritis. Life style, kesehatan, dan hobi juga menjadi isu-isu yang banyak diminati oleh para pembuat berita. Pada akhirnya, market driven journalism telah membuat media gagal merepresentasikan dirinya sebagai institusi sosial yang seharusnya bertindak sebagai ’publicservant” dalam menyediakan informasi bagi masyarakat sebagai prasyarat penting berjalannya sistem demokrasi.

Penutup

Dari penelitian yang dilakukan terhadap ketiga koran dalam rentang waktu dua minggu terbitan, dapat disimpulkan bahwa koran-koran lokal tersebut kurang mampu melayani publik warga negara. Sebaliknya, koran-koran tersebut lebih menempatkan pembaca sebagai pasar sehingga berita-berita yang disajikan kurang memberikan makna bagi publik. Berita hanya berorientasi untuk melayani satisfaksi pembaca dibandingkan kebutuhan-kebutuhan mereka. Ini bisa dilihat dari rendahnya berita-berita politik dan pemerintahan, pada satu sisi; dan tingginya berita-berita hukum dan kriminal, sosial budaya, dan sebagainya. Berita juga jauh lebih tinggi mengandung sensasionalisme dibandingkan berita-berita yang signiikan dan relevan bagi pembaca. Dalam situasi semacam ini, akan sulit bagi media-media lokal di Yogyakarta tersebut untuk melayani publik dalam hal berita dan informasi, dalam arti berita-berita yang menyentuh kebutuhan khalayak.

Dengan memberi penekanan pada berita-berita sensasional, dalam suatu derajat tertentu, koran-koran serius ini telah mempraktikan jurnalisme kuning atau pers populer. Pers-pers populer ini salah satunya dicirikan oleh kuatnya berita hukum dan kriminal, dan selebihnya adalah berita-berita yang lebih mengundang emosionalitas pembaca.

(14)

Datar Pustaka

Bek, Mine Gencel. (2004). “Research Note: Tabloidization of News Media An Analysis of Television News in Turkey” European Journal of

Communication, SAGE Publications (London, housand Oaks

and New Delhi) Vol 19(3): 371–386, hal. 371.

Conboy, Martin. (2002). he Press and Popular Culture. London, housand Oaks, dan New Delhi: Sage Publications

Eriyanto. (2011). Analisis Isi: Pengantar Metodologi untuk Penelitian Ilmu Komunikasi dan Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya, Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Mangiang, Masmiar. (2009). “Apa itu Berita”. Dalam Maskun Iskandar dan Atmakusumah (penyunting), Panduan Jurnalistik Praktis: Mendalami Penulisan Berita dan Feature, Memahami Etika dan Hukum Pers. Jakarta: FES

McChesney, Robert. (1998). Konglomerasi Media Massa dan Ancaman terhadap Demokrasi. Jakarta: Aliansi Jurnalis Independen

McQuail, Denis. (1992). Media Performance: Mass Communication and the Public Interest. London: Sage Publications

Prajarto, Nunung. (2010). Analisis Isi: Metode Penelitian Komunikasi, Yogyakarta: FISIPOL UGM

Rianto, Puji. (2007). Pers Indonesia Kontemporer: Antara Profesionalisme dan Tanggung Jawab Sosial. Yogyakarta: PKMBP

Sinarmata, Salvatore. (2014). Media dan Politik. Jakarta: Yayasan Obor

Siregar, Ashadi dkk. (1998). Bagaimana Meliput dan Menulis Berita untuk Media Massa.Yogyakarta: Kanisius

Sopian, Agus. (2004). “Junk Food News di Televisi Kita”. Pikiran Rakyat, 7 September 2004.

Gambar

Tabel 2Format Berita
Tabel 5
Tabel 6

Referensi

Dokumen terkait

Persaingan yang dihadapi perusahaan- perusahaan saat ini semakin ketat, sehingga menuntut manajemen untuk lebih cermat dalam menentukan strategi bersaingnya, agar dapat memenangkan

Sebagai kesimpulan dari analisis aspek pembiayaan akan dijelaskan tingkat ketersediaan dana yang ada untuk pembangunan bidang infrastruktur Cipta Karya yang meliputi

Faktor lingkungan eksternal yang menjadi peluang PT GTS adalah potensi sumber daya perikanan di Indonesia masih cukup besar, peluang ekspor perikanan masih sangat

ketebalan bervariasi antara 0,50 – 7,40 m yang terbentuk pada sayap timur struktur antiklin. Bitumen padat memperlihatkan ciri fisik : perselingan batulanau pasiran dan

Dengan demikian salah satu target yang harus diusahakan semaksimal mungkin adalah revitalisasi pelaksanaan pendidikan bagi umat Islam melalui cara-cara yang sesuai

Dalam proses ini juga dilaksanakan kesepakatan bersama anggota warga masyarakat Dusun Ngibikan dalam pemilihan bahan material bangunan, pengaturan layout keruangan bangunan,

” HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN JENIS NYERI PADA PASIEN NYERI PUNGGUNG BAWAH DI POLI SARAF RUMAH SAKIT PELAMONIA MAKASSAR DENGAN KUESIONER PAIN DETECT”1. ( x +

Sebagai tolok ukur keberhasilan pelaksanaan penelitian tindakan kelas yang pengajarannya menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Course Review Horay dapat