• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 352 JL. MARGONDA RAYA NO. 326, DEPOK PERIODE 1-30 SEPTEMBER 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 352 JL. MARGONDA RAYA NO. 326, DEPOK PERIODE 1-30 SEPTEMBER 2014"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS INDONESIA

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 352

JL. MARGONDA RAYA NO. 326, DEPOK

PERIODE 1-30 SEPTEMBER 2014

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

HARRY UTOMO, S.Farm. 1306502503

ANGKATAN LXXIX

FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER

DEPOK JANUARI 2015

(2)

UNIVERSITAS INDONESIA

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 352

JL. MARGONDA RAYA NO. 326, DEPOK

PERIODE 1-30 SEPTEMBER 2014

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker

HARRY UTOMO, S.Farm. 1306502503

ANGKATAN LXXIX

FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER

DEPOK JANUARI 2015

(3)
(4)
(5)
(6)

Puji syukur kehadirat Allah Subhanahuwata’ala, yang telah senantiasa melimpahkan karunia dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Apotek Kimia Farma No. 352, Depok.

Laporan PKPA ini disusun sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh mahasiswa Program Profesi Apoteker di Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FF UI) untuk mencapai gelar Apoteker. Selain itu, kegiatan PKPA juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami peran dan tugas Apoteker di apotek, khususnya di Apotek Kimia Farma No. 352. Pelaksanaan PKPA di Apotek Kimia Farma No. 352 berlangsung pada periode 1-29 September 2014. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih atas bantuan dan bimbingan yang diberikan, kepada:

1. Bapak Dr. Iskandarsyah, M.S., Apt., selaku pembimbing di FF UI,

2. Bapak Dr. Hayun, M.Si., Apt., selaku Ketua Program Profesi Apoteker FF UI,

3. Bapak Dr. Mahdi Jufri, M.S., Apt., selaku Dekan FF UI,

4. Para staf di Apotek Kimia Farma No. 352, khususnya Ibu Ani (kepala Asisten Apoteker) dan Afifah Maulani,

5. Seluruh keluarga penulis atas do’a, semangat, dan dukungan moril serta materil yang telah diberikan,

6. Ifthah Nur S., S.Farm., Apt., yang telah dengan penuh cinta dan kesabaran membantu dan menemani penulis,

7. Rekan-rekan Program Profesi Apoteker FF UI angkatan LXXIX atas kebersamaan dan dukungan selama menempuh pendidikan, khususnya Cut Intan N.F., S.Farm. sebagai rekan PKPA di Apotek Kimia Farma No. 352, 8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah membantu

(7)

Akhir kata, penulis berharap semoga pengetahuan dan pengalaman yang penulis peroleh selama menjalani PKPA ini dapat bermanfaat bagi rekan-rekan sejawat dan semua pihak yang membutuhkan.

Penulis 2014

(8)
(9)

Nama : Harry Utomo, S.Farm. Program Studi : Profesi Apoteker

Judul : Laporan Praktik Kerja Profesi Apoteker di Apotek Kimia Farma No. 352, Jl. Margonda Raya No. 326, Depok, Periode 1-30 September 2014

Praktik Kerja Profesi Apoteker di Apotek Kimia Farma (KF) No. 352 Depok bertujuan untuk mengevaluasi secara umum kegiatan pelayanan kefarmasian di Apotek KF No. 352 Depok; serta mengetahui peran dan fungsi apoteker dalam aspek profesional dan aspek manajerial di apotek secara umum, dan di Apotek KF No. 352 Depok secara khusus. Apoteker memiliki tiga peran di apotek, yaitu sebagai profesional, penjual, dan manajer. Sebagai profesional, apoteker harus menjamin mutu dan rasionalitas pengobatan yang diterima pasien. Sebagai penjual, apoteker harus dapat memberikan pelayanan kepada pelanggan sehingga dapat meningkatkan omset apotek. Sebagai manajer, apoteker harus dapat mengelola sistem manajerial apotek dengan baik untuk kelangsungan apoteknya. Tugas khusus yang diberikan berjudul Kajian Service Level Apotek Kimia Farma No. 345 kepada Pelanggan. Tugas khusus ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pelayanan kefarmasian dengan ketersediaan perbekalan farmasi dalam penerimaan dan penolakan obat dalam resep, sehingga dihasilkan persentase penerimaan dan penolakan obat dalam resep di Apotek Kimia Farma No. 345.

Kata Kunci : Apotek Kimia Farma, Apotek, pelayanan kefarmasian, service level, pelanggan

Tugas Umum : ix + 65 halaman; 1 tabel; 6 gambar; 9 lampiran Tugas Khusus : iv + 18 halaman; 1 tabel; 2 lampiran

Daftar Acuan Tugas Umum : 18 (1975-2014) Daftar Acuan Tugas Khusus : 4 (2002-2009)

(10)

Name : Harry Utomo, S.Farm. Study program : Pharmacist/Apothecary

Title : Pharmacist Professional Practice Report in Kimia Farma Pharmacy No. 352, Jl. Margonda Raya No. 326, Depok, Period of 1-29 September 2014

Pharmacist Professional Practice in Kimia Farma (KF) Pharmacy No. 352 Depok aims to evaluate the general activities of pharmaceutical cares in KF Pharmacy No. 352 Depok; and to know the role and function of the pharmacist in the professional aspects and managerial aspects in Pharmacy in general, and in KF Pharmacy No. 352 Depok in particular. Pharmacists have three roles in the Pharmacy, which are a professional, seller, and manager. As a professional, the pharmacist must ensure the quality and the patient received treatment rationality. As a seller, the pharmacist should be able to provide service to customers in order to increase the turnover of Pharmacy. As a manager, the pharmacist should be able to manage the pharmacy with good managerial system for continuity of his/her pharmacy. The given special assignment titled Service Level Assessment of Kimia Farma Pharmacy No. 345 to the Customer. This special assignment aimed to determine the relationship of pharmaceutical cares with the availability of pharmaceuticals in the acceptance and rejection in prescription drugs, so it’s resulting in a percentage of acceptance and rejection in prescription drugs in Kimia Farma Pharmacy No. 345.

Keywords : Kimia Farma Pharmacy, Pharmacy, pharmaceutical cares, service level, customer

General Assignment : ix + 65 pages; 1 table; 6 pictures; 9 appendices Special Assignment : iv + 18 pages; 1 table; 2 appendices

Bibliography of General Assignment : 18 (1975-2014) Bibliography of Special Assignment : 4 (2002-2009)

(11)

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Tujuan... 2

BAB 2 TINJAUAN UMUM ... 3

2.1. Apotek ... 3

2.2. Kegiatan di Apotek... 14

2.3. Sediaan Farmasi ... 21

BAB 3 TINJAUAN KHUSUS ... 32

3.1. PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. ... 32

3.2. PT. Kimia Farma Apotek ... 36

3.3. Apotek Kimia Farma No. 352 ... 38

3.4. Pengelolaan Narkotika dan Psikotropika ... 48

BAB 4 PEMBAHASAN ... 53

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ... 56

5.1. Kesimpulan... 56

5.2. Saran ... 56

DAFTAR ACUAN ... 57

(12)
(13)

Gambar 1. Penandaan Obat Bebas ... 22

Gambar 2. Penandaan Obat Bebas Terbatas ... 22

Gambar 3. Penandaan Peringatan Pada Obat Bebas Terbatas ... 22

Gambar 4. Penandaan Obat Keras ... 23

Gambar 5. Penandaan Obat Narkotika ... 23

(14)

Lampiran 1. Struktur Organisasi PT. Kimia Farma Apotek ... 59

Lampiran 2. Struktur Organisasi Apotek Kimia Farma ... 60

Lampiran 3. Alur Perizinan Praktek Apoteker ... 60

Lampiran 4. Denah Apotek Kimia Farma No. 352 ... 61

Lampiran 5. Alur Pelayanan Resep di Apotek Kimia Farma No. 352 ... 62

Lampiran 6. Contoh Surat Pesanan Narkotika ... 63

Lampiran 7. Contoh Surat Pesanan Psikotropika ... 63

Lampiran 8. Contoh Copy Resep di Apotek Kimia Farma No. 352 ... 64

(15)

1.1. Latar Belakang

Dalam Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009, Pemerintah mengkategorikan Pekerjaan Kefarmasian dalam berbagai kegiatan, meliputi pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusi atau penyaluranan obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional. Dalam pelaksanaannya, salah satu sarana peyalanan kefarmasian tempat melaksanakan pekerjaan kefarmasian adalah di apotek.

Apotek merupakan salah satu sarana apotek sebagai salah satu sarana penunjang kesehatan turut berperan dalam mewujudkan upaya kesehatan yang dilaksanakan oleh pemerintah sebagai sarana distribusi obat dan perbekalan farmasi yang aman, bermutu, berkhasiat serta terjangkau harganya oleh masyarakat luas. Disamping itu, apotek juga berperan sebagai sarana pemberian informasi obat kepada masyarakat dan tenaga kesehatan lainnya sehingga kedua pihak tersebut mendaptkan pengetahuan yang benar tentang obat dan turut meningkatkan penggunaan obat yang rasional (KepMenKes No. 1027 Tahun 2004).

Apoteker sangat berperan penting dalam keberlangsungan apotek. Peran apoteker, selain menjalankan fungsi profesional dengan melakukan pelayanan kefarmasian, apoteker juga berperan dalam fungsi manajerial termasuk sebagai retailer. Sebagai sebuah bisnis retail, apotek harus dikelola dengan baik agar memperoleh keuntungan guna menutup beban biaya operasional dan menjaga kelangsungan hidupnya. Akan tetapi, bisnis apotek juga tidak melupakan fungsi sosialnya di dalam mendistribusikan perbekalan kesehatan, khususnya obat kepada masyarakat sehingga keberadaan apotek turut membantu pemerintah dalam memelihara dan menjaga kesehatan masyarakat.

Untuk dapat melaksanakan kedua peran tersebut dibutuhkan apoteker yang ahli dan terampil serta menguasai dan memahami segala aspek yang berhubungan

(16)

dengan pengelolaan apotek. Apoteker sebagai seorang manager di apotek dituntut untuk memiliki kredibilitas yang tinggi dapat menjalankan perannya dengan baik.

Mengingat akan pentingnya hal tersebut dan upaya untuk pemberian dukungan terhadap kompetensi apoteker di apotek, maka Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi UI bekerja sama dengan Apotek Kimia Farma dalam menyelenggarakan Praktik Kerja Profesi Apoteker dari tanggal 1 - 30 September 2014. Praktik Kerja Profesi Apoteker ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman calon apoteker mengenai peranan, kegiatan manajerial serta pelayanan kefarmasian di apotek dengan mengikuti kegiatan yang ada di apotek.

1.2. Tujuan

Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Apotek Kimia Farma No. 352 Margonda Depok bertujuan agar calon apoteker:

1. Mengevaluasi secara umum kegiatan pelayanan kefarmasian di Apotek Kimia Farma No. 352 Margonda Depok.

2. Mengetahui peran dan fungsi apoteker di Apotek Kimia Farma No. 352 Margonda Depok dalam aspek profesional

3. Mengetahui peran dan fungsi apoteker di Apotek Kimia Farma No. 352 Margonda Depok dalam aspek manajerial.

(17)

2.1 Apotek 2.1.1 Pengertian

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No.1027/MenKes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, yang dimaksud dengan apotek adalah suatu tempat tertentu dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat.

Menurut Undang-Undang RI No.36 tahun 2009 tentang Kesehatan, yang dimaksud dengan perbekalan kesehatan adalah semua bahan dan peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan. Sediaan farmasi yang dimaksud adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetik.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 35 Tahun 2014, Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktik kefarmasian oleh apoteker. Pelayanan kefarmasian merupakan suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien.

Apotek merupakan sarana pelayanan kesehatan masyarakat yang wajib menyediakan, menyimpan dan menyerahkan perbekalan farmasi yang bermutu baik. Pelayanan kefarmasian yang dilakukan oleh apoteker di apotek merupakan bentuk pelayanan dan tanggung jawab langsung profesi apoteker dalam melakukan pekerjaan kefarmasiannya untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. 2.1.2 Tugas dan Fungsi Apotek

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009, tugas dan fungsi apotek adalah:

a. Tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker.

b. Sarana yang digunakan untuk melakukan pekerjaan kefarmasian.

c. Sarana yang digunakan untuk memproduksi dan distribusi sediaan farmasi, antara lain: obat, bahan baku obat, obat tradisional, dan kosmetika.

(18)

d. Sarana pembuatan dan pengendalian mutu sediaan farmasi pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusi atau penyaluran obat, pengelola obat dan pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat, dan obat tradisional.

2.1.3 Persyaratan Apotek

Suatu apotek baru dapat beroperasi setelah mendapat Surat Izin Apotek (SIA). Surat Izin Apotek (SIA) adalah surat yang diberikan Menteri Kesehatan Republik Indonesia kepada Apoteker atau Apoteker yang bekerja sama dengan pemilik sarana apotek untuk menyelenggarakan pelayanan apotek disuatu tempat tertentu. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1332/MENKES/SK/X/2002, disebutkan bahwa persyaratan-persyaratan apotek adalah:

a. Tenaga Kerja/Personalia Apotek

1) Apoteker Pengelola Apotek (APA), yaitu Apoteker yang telah memiliki Surat Izin Apotek (SIA).

2) Apoteker Pendamping adalah Apoteker yang bekerja di Apotek di samping APA dan atau menggantikan pada jam-jam tertentu pada hari buka Apotek.

3) Apoteker Pengganti adalah Apoteker yang menggantikan APA selama APA tersebut tidak berada ditempat lebih dari 3 bulan secara terus-menerus, telah memiliki Surat Izin Kerja Apoteker (SIKA) dan tidak bertindak sebagai APA di Apotek lain.

4) Asisten Apoteker adalah mereka yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku berhak melakukan pekerjaan kefarmasian sebagai Asisten Apoteker.

Sedangkan tenaga lainnya yang diperlukan untuk mendukung kegiatan di apotek terdiri dari:

1) Juru resep, adalah petugas yang membantu pekerjaan Asisten Apoteker dalam peracikan.

2) Kasir, adalah orang yang bertugas menerima uang, mencatat penerimaan dan pengeluaran uang.

(19)

3) Pegawai tata usaha, adalah petugas yang melaksanakan administrasi apotek dan membuat laporan pembeian, penjualan, penyimpanan dan keuangan apotek.

b. Surat Izin Praktek Tenaga Kefarmasian

Setiap tenaga kefarmasian yang akan menjalankan pekerjaan kefarmasian wajib memiliki surat izin sesuai tempat tenaga kefarmasian bekerja. Surat izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:

1) SIPA bagi Apoteker Penanggung Jawab dan Apoteker Pendamping di fasilitas pelayanan kefarmasian;

Untuk memperoleh SIPA sesuai dengan Peraturan Pemerintah RI No. 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, seorang Apoteker harus memiliki Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA). STRA ini dapat diperoleh jika seorang apoteker memenuhi persyaratan sebagai berikut: a) Memiliki Ijazah Apoteker.

b) Memiliki sertifikat kompentensi apoteker.

c) Surat pernyataan telah mengucapkan sumpah dan janji apoteker.

d) Surat sehat fisik dan mental dari dokter yang mempunyai surat izin praktik.

e) Surat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan etika profesi. 2) SIKA bagi Apoteker yang melakukan pekerjaan kefarmasian di fasilitas

produksi atau fasilitas distribusi/penyaluran. c. Lokasi

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 922, lokasi apotek tidak lagi ditentukan harus memiliki jarak minimal dari apotek lain dan sarana apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan pelayanan komoditi lainnya di luar sediaan farmasi, namun sebaiknya harus mempertimbangkan segi penyebaran dan pemerataan pelayanan, jumlah penduduk, jumlah dokter, sarana pelayanan kesehatan, lingkungan yang higienis, keamanan dan mudah dijangkau masyarakat banyak dengan kendaraan dan faktor-faktor lainnya.

d. Bangunan dan kelengkapannya

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 922, luas apotek tidak diatur lagi, namun harus memenuhi persyaratan teknis, sehingga

(20)

kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsi serta kegiatan pemeliharaan perbekalan farmasi dapat terjamin.

Persyaratan teknis apotek adalah bangunan apotek setidaknya terdiri dari: 1) Ruang tunggu pasien.

2) Ruang peracikan dan penyerahan obat. 3) Ruang administrasi.

4) Ruang penyimpanan obat. 5) Ruang tempat pencucian alat. 6) Kamar kecil (WC).

7) Sumber air yang memenuhi persyaratan kesehatan.

8) Penerangan yang cukup sehingga dapat menjamin pelaksanaan tugas dan fungsi apotek.

9) Alat pemadam kebakaran minimal dua buah yang masih berfungsi dengan baik.

10) Ventilasi dan sistem sanitasi yang memenuhi persyaratan hygiene lainnya. 11) Papan nama apotek, yang memuat nama apotek, nama APA, nomor Surat

Izin Apotek (SIA), alamat apotek dan nomor telpon apotek (bila ada). Papan nama apotek dibuat dengan ukuran minimal panjang 60 cm, lebar 40 cm dengan tulisan hitam diatas dasar putih dengan tinggi huruf minimal 5 cm dan tebal 5 cm.

e. Perlengkapan apotek

Perlengkapan yang wajib dimiliki oleh apotek adalah:

1) Alat pembuatan, pengelolaan, peracikan obat, seperti: timbangan, mortir, gelas piala dan sebagainya.

2) Wadah untuk bahan pengemas dan bahan pembungkus, seperti: etiket, wadah pengemas dan pembungkus untuk penyerahan obat.

3) Perlengkapan dan tempat penyimpanan perbekalan farmasi seperti lemari dan rak untuk penyimpanan obat, lemari pendingin, lemari untuk penyimpanan narkotika dan psikotropika.

4) Alat administrasi seperti blanko pemesanan obat, kartu stok obat, faktur, nota penjualan, salinan resep, alat tulis dan sebagainya.

(21)

5) Pustaka, seperti Farmakope edisi terbaru dan kumpulan peraturan perundang-undangan serta buku-buku penunjang lain yang berhubungan dengan apotek.

2.1.4Apoteker Pengelola Apotek

Apoteker Pengelola Apotek atau APA adalah seorang apoteker yang telah diberikan Surat Izin Apotek (SIA) berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1332/Menkes/SK/X/2002 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.922/Menkes/Per/X/1993 tentang ketentuan dan tata cara pemberian izin apotek pada pasal (1).

Apoteker Pengelola Apotek (APA) berkewajiban menyediakan dan memberikan pelayanan yang baik, mengambil keputusan yang tepat, mampu berkomunikasi antar profesi, menempatkan diri sebagai pimpinan dalam situasi multidisipliner, kemampuan mengelola Sumber Daya Manusia (SDM) secara efektif, selalu belajar sepanjang karier dan membantu memberi pendidikan serta memberi peluang untuk meningkatkan pengetahuan.

2.1.4.1 Persyaratan Apoteker Pengelola Apotek

Persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjadi apoteker pengelola apotek berdasarkan PerMenkes RI No.184/Menkes/Per/II/1995 adalah:

a. Ijazah telah terdaftar pada Departemen Kesehatan. b. Telah mengucapkan sumpah atau janji sebagai Apoteker. c. Memiliki Surat Izin Kerja (SIK) dari Menteri Kesehatan.

d. Memenuhi syarat-syarat kesehatan fisik dan mental untuk melaksanakan tugasnya sebagai Apoteker.

e. Tidak bekerja di suatu perusahaan farmasi dan tidak menjadi APA di apotek lain.

2.1.4.2 Fungsi dan Tugas Apoteker di Apotek

Seorang APA bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup apotek yang dipimpinnya, juga bertanggung jawab kepada pemilik modal jika bekerja sama dengan pemilik sarana apotek. Fungsi dan tugas apoteker di Apotek adalah: a. Membuat visi dan misi.

(22)

c. Membuat dan menetapkan peraturan atau Standar Operasional Prosedur (SOP) pada setiap fungsi kegiatan apotek.

d. Membuat dan menentukan indikator form record pada setiap fungsi kegiatan apotek.

e. Membuat sistem pengawasan dan pengendalian SOP dan program kerja pada setiap fungsi diapotek.

2.1.4.3 Wewenang dan Tanggung Jawab

Sedangkan wewenang dan tanggung jawab apoteker di apotek adalah: a. Menentukan arah terhadap seluruh kegiatan.

b. Menentukan sistem atau peraturan yang akan digunakan. c. Mengawasi pelaksanaan SOP dan program kerja.

d. Bertanggungjawab terhadap kinerja yang diperoleh. 2.1.4.4 Peran Apoteker di Apotek

Apoteker mempunyai 3 peran, yaitu: a. Peranan Apoteker Sebagai Profesional

Apoteker memiliki kemampuan dalam melaksanakan kegiatan

pelayanan kefarmasian yang bermutu dan efisien yang berasaskan pharmaceutical

care di apotek. Adapun standar pelayanan kefarmasian di apotek telah diatur

melaluiS u r a t K e p u t u s a n M e n t e r i K e s e h a t a n R e p u b l i k In d o n e s i a N o m o r 1027/Menkes/SK/I X/2004.

Tujuan dari standar pelayanan ini adalah:

1) Melindungi masyarakat dari pelayanan yang tidak profesional.

2) Melindungi profesi dari tuntutan masyarakat yang tidak wajar.

3) Pedoman dalam pengawasan praktek Apoteker.

4) Pembinaan serta meningkatkan mutu pelayanan farmasi di apotek.

b. Peranan Apoteker Sebagai Manager

Manajemen secara formal diartikan sebagai perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian, terhadap penggunaan sumber daya untuk mencapai tujuan. Fungsi manajemen adalah untuk:

1) Mencapai tujuan.

2) Menjaga keseimbangan di antara tujuan-tujuan yang saling bertentangan.

(23)

Dua konsepsi utama untuk mengukur prestasi kerja (performance) manajemen adalah efisiensi dan efektivitas. Efisiensi adalah kemampuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan benar, merupakan konsep matematika, atau merupakan perhitungan ratio antara keluaran (output) dan masukan (input). Seorang manajer dikatakan efisien adalah seseorang yang mencapai keluaran yang lebih tinggi (hasil, produktivitas,performance) dibanding masukan-masukan (tenaga kerja, bahan, uang, mesin dan waktu) yang digunakan.

Efektivitas merupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau peralatan yang tepat untuk pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Manajer yang efektif adalah manajer yang dapat memilih pekerjaan yang harus dilakukan atau metode (cara) yang tepat untuk mencapai tujuan.

c. Peranan Apoteker Sebagai Retailer

Apotek merupakan tempat pengabdian profesi kefarmasian. Namun tidak dapat dipungkiri di sisi lain bahwa apotek adalah salah satu model badan usaha retail, yang tidak jauh berbeda dengan badan usaha retail lainnya. Apotek sebagai badan usaha retail, bertujuan untuk menjual komoditinya, dalam hal ini obat dan alat kesehatan, sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan profit. Profit memang bukanlah tujuan utama dan satu-satunya dari tugas keprofesian apoteker, tetapi tanpa profit apotek sebagai badan usaha retail tidak dapat bertahan.

Oleh karena itu, segala usaha untuk meningkatkan profit perlu dilaksanakan, di antaranya mencapai kepuasan pelanggan. Pelanggan merupakan sumber profit. Oleh karena itu, sebagai seorang retailer berkewajiban mengidentifikasi apa yang menjadi kebutuhan pelanggan, menstimulasi kebutuhan pelanggan agar menjadi permintaan, dan memenuhi permintaan tersebut sesuai bahkan melebihi harapan pelanggan.

Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1332/Menkes/SK/X/2002 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan No.992/Menkes/Per/X/1993, tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek Menteri Kesehatan, pasal 6, dinyatakan bahwa :

(24)

a. Untuk mendapatkan izin Apotek, Apoteker atau Apoteker yang bekerjasama dengan pemilik sarana yang telah memenuhi persyaratan harus siap dengan tempat, perlengkapan termasuk sediaan farmasi dan perbekalan lainnya yang merupakan milik sendiri atau milik pihak lain.

b. Sarana Apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan pelayanan komoditi lainnya diluar sediaan farmasi.

c. Apotek dapat melakukan kegiatan pelayanan komoditi lainnya diluar sediaan farmasi.

Berdasarkan peraturan tersebut, terutama ayat 2 dan 3, membuka peluang bagi apotek untuk melakukan kegiatan usaha di luar sediaan farmasi. Oleh karena begitu besarnya peluang, dan kelonggaran regulasi yang ada, apotek memiliki keleluasan dalam menjalankan perannya sebagai salah satu badan usaha retail.

Oleh karena itu, Apoteker Pengelola Apotek seyogyanya menjalan peran memainkan peranannya sebagai retailer,terutama bagi Apoteker Pengelola Apotek yang full management. Kompetensi minimal mengenai marketing dan strateginya,akan menjadi nilai tambah bagi Apoteker Pengelola Apotek, dalam memimpin suatu apotek. Pengaturan sarana dan prasarana yang menunjang juga sangat menentukan keputusan pelanggan untuk membeli, seperti pajangan yang menarik, layout

apotek, merchandising, pelayanan yang hangat dan ramah, dan lain sebagainya.

2.1.5 Permohonan Perizinan Apotek

Dalam mendirikan apotek, apoteker harus memiliki Surat Izin Apotek (SIA) yaitu surat yang diberikan Menteri Kesehatan Republik Indonesia kepada apoteker atau apoteker yang bekerja sama dengan pemilik sarana apotek untuk mendirikan apotek di suatu tempat tertentu. Wewenang pemberian SIA dilimpahkan oleh Menteri Kesehatan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (Dinkes Kabupaten/Kota). Kepala Dinkes Kabupaten/Kota wajib melaporkan pelaksanaan pemberian izin, pembekuan izin, pencairan izin dan pencabutan izin apotek sekali setahun kepada Menteri Kesehatan dan tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi. Selanjutnya, Kepala Dinas Kesehatan wajib melaporkan kepada Badan Pengawasan Obat dan Makanan.

(25)

Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek adalah:

a. Permohonan izin apotek diajukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

b. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 6 (enam) hari kerja setelah menerima permohonan dapat meminta bantuan teknis kepada Kepala Balai Pengawas Obat dan Makanan (Balai POM) untuk melakukan pemeriksaan terhadap kesiapan apotek untuk melakukan kegiatan.

c. Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM selambat-lambatnya 6 (enam) hari kerja setelah permintaan bantuan teknis dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melaporkan hasil pemeriksaan setempat. d. Dalam hal pemeriksaaan tidak dilaksanakan, Apoteker Pemohon dapat

membuat surat pernyataan siap melakukan kegiatan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dengan tembusan kepada Kepala Dinas Propinsi.

e. Dalam jangka waktu 12 (dua belas) hari kerja setelah diterima laporan pemeriksaan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat mengeluarkan SIA.

f. Dalam hal hasil pemeriksaan Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM masih belum memenuhi syarat, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dalam waktu 12 (dua belas) hari kerja mengeluarkan Surat Penundaan.

g. Dalam Surat Penundaan, Apoteker diberi kesempatan untuk melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi selambat-lambatnya dalam jangka waktu satu bulan sejak tanggal Surat Penundaan.

h. Terhadap permohonan izin apotek yang ternyata tidak memenuhi persyaratan 2.1.6 Pencabutan Izin Apotek

Setiap apotek harus berjalan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI

(26)

No.1332/Menkes/SK/X/2002, Kepala Dinas Kesehatan dapat mencabut surat izin apotek apabila:

a. Apoteker yang sudah tidak memenuhi ketentuan atau persyaratan sebagai apoteker pengelola apotek.

b. Apoteker tidak memenuhi kewajiban dalam menyediakan, menyimpan dan menyerahkan perbekalan farmasi yang bermutu baik dan terjamin keabsahannya serta tidak memenuhi kewajiban dalam memusnahkan perbekalan farmasi yang tidak dapat digunakan lagi atau dilarang digunakan dan mengganti obat generik yang ditulis dalam resep dengan obat paten. c. Apoteker pengelola apotek berhalangan melakukan tugasnya lebih dari 2

tahun secara terus-menerus.

d. Terjadi pelanggaran terhadap ketentuan Peraturan Perundang-undangan mengenai narkotika, obat keras, psikotropika serta ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

e. Surat izin kerja apoteker pengelola apotek dicabut.

f. Pemilik sarana apotek terbukti terlibat dalam pelanggaran perundang-undangan dibidang obat.

g. Apotek tidak lagi memenuhi persyaratan sebagai apotek.

Pelaksanaan pencabutan izin apotek dapat dilaksanakan setelah dikeluarkannya:

a. Peringatan tertulis kepada apoteker pengelola apotek sebanyak 3 kali berturut-turut dengan tenggang waktu masing-masing 2 bulan.

b. Pembekuan izin apotek untuk jangka waktu selama-lamanya 6 bulan sejak dikeluarkannya penetapan pembekuan kegiatan di apotek.

Pembekuan izin apotek dapat dicairkan kembali apabila apotek telah membuktikan memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Hal ini dilakukan setelah Kepala Balai POM setempat melakukan pemeriksaan.

Keputusan pencabutan surat izin apotek dilakukan oleh Kepala Dinas Kesehatan/Kota disampaikan langsung kepada apoteker pengelola apotek dengan tembusan kepada Menteri dan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi setempat serta Kepala Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan setempat. Apabila surat izin apotek

(27)

dicabut, apoteker pengelola apotek atau apoteker pengganti wajib mengamankan perbekalan farmasinya. Pengamanan tersebut dilakukan dengan tata cara sebgai berikut:

a. Dilakukan inventarisasi terhadap seluruh persediaan narkotika, obat keras tertentu dan obat lainnya dan seluruh resep yang tersisa di apotek.

b. Narkotika, psikotropika dan resep harus dimasukkan dalam tempat yang tertutup dan terkunci.

c. Apoteker pengelola apotek wajib melaporkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau petugas yang diberi wewenang tentang penghentian kegiatan disertai laporan inventaris yang dimaksud di atas.

2.1.7 Pelanggaran Apotek

Berdasarkan berat ringannya pelanggaran, maka pelanggaran di apotek dapat dikategorikan dalam dua macam. Kegiatan yang termasuk pelanggaran berat di apotek meliputi:

a. Melakukan kegiatan tanpa ada tenaga teknis farmasi.

b. Terlibat dalam penyaluran atau penyimpanan obat palsu atau gelap. c. Pindah alamat apotek tanpa izin.

d. Menjual narkotika tanpa resep dokter .

e. Kerjasama dengan PBF dalam menyalurkan obat kepada pihak yang tidak berhak dalam jumlah besar.

f. Tidak menunjuk apoteker pendamping atau apoteker pengganti pada waktu APA keluar daerah.

Kegiatan yang termasuk pelanggaran ringan apotek meliputi:

a. Tidak menunjuk Apoteker pendamping pada waktu APA tidak bisa hadir pada jam buka apotek (apotek yang buka 24 jam).

b. Mengubah denah apotek tanpa izin.

c. Menjual obat daftar G kepada yang tidak berhak. d. Melayani resep yang tidak jelas dokternya.

e. Menyimpan obat rusak, tidak mepunyai penandaan atau belum dimusnahkan. f. Obat dalam kartu stok tidak sesuai dengan jumlah yang ada.

g. Salinan resep yang tidak ditandatangani oleh apoteker. h. Melayani salinan resep narkotika dari apotek lain.

(28)

i. Lemari narkotika tidak memenuhi syarat. j. Resep narkotika tidak dipisahkan.

k. Buku narkotika tidak diisi atau tidak dapat dilihat atau diperiksa.

l. Tidak mempunyai atau mengisi kartu stok hingga tidak dapat diketahui dengan jelas asal usul obat tersebut.

Setiap pelanggaran apotek terhadap ketentuan yang berlaku dapat dikenakan sanksi, baik sanksi administratif maupun sanksi pidana. Sanksi administratif yang diberikan menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1332/MENKES/SK/X/2002 dan Permenkes No.922/MENKES/PER/X/1993 adalah:

a. Peringatan secara tertulis kepada APA secara 3 kali berturut-turut dengan tenggang waktu masing-masing 2 bulan.

b. Pembekuan izin apotek untuk jangka waktu selama-lamanya 6 bulan sejak dikeluarkannya penetapan pembekuan izin apotek. Keputusan pencabutan SIA disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada Menteri Kesehatan dan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi setempat. Pembekuan izin apotek tersebut dapat dicairkan kembali apabila apotek tersebut dapat membuktikan bahwa seluruh persyaratan yang ditentukan dalam keputusan Menteri Kesehatan RI dan Permenkes tersebut telah dipenuhi.

Sanksi pidana berupa denda maupun hukuman penjara diberikan bila terdapat pelanggaran terhadap:

a. Undang-Undang Obat Keras (St.1937 No.541).

b. Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. c. Undang-Undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika. d. Undang-Undang No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika.

2.2 Kegiatan di Apotek

2.2.1 Kegiatan Teknis Kefarmasian

Pengelolaan teknis kefarmasian meliputi pengelolaan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan lainnya yang meliputi kegiatan:

(29)

2.2.1.1 Perencanaan

Dalam membuat perencanaan pengadaan sediaan farmasi perlu memperhatikan: a) pola penyakit,

b)Kemampuan masyarakat, c) Budaya masyarakat, dan

d)Pola penulisan resep oleh dokter sekitar. 2.2.1.2 Pengadaan

Pengadaan sediaan farmasi harus melalui jalur resmi sesuai peraturan perundang-undangan.

2.2.1.3 Penyimpanan

a. Obat atau bahan obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik. Dalam hal pengecualian atau darurat dimana isi dipindahkan pada wadah lain, maka harus dicegah terjadinya kontaminasi dan harus ditulis informasi yang jelas pada wadah baru. Wadah sekurang-kurangnya memuat nama obat, nomor bets, dan tanggal kadaluarsa.

b. Semua bahan obat harus disimpan pada kondisi yang sesuai, layak dan menjamin kestabilan bahan.

2.2.1.4 Pelayanan Apotek

Pelayanan kefarmasian saat ini telah bergeser orientasinya dari drug oriented menjadi patient oriented. Sebagai konsekuensi perubahan orientasi tersebut, apoteker dituntut untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan perilaku agar dapat melakukan interaksi langsung dengan pasien. Bentuk interaksi tersebut antara lain adalah melaksanakan pelayanan resep, pelayanan obat bebas, obat bebas terbatas, obat wajib apotek dan perbekalan kesehatan lainnya juga pelayanan informasi obat dan monitoring penggunaan obat agar tujuan pengobatan sesuai harapan dan terdokumentasi dengan baik.

Apoteker harus mengidentifikasi kemungkinan terjadinya kesalahan pengobatan (medication error) dalam proses pelayanan kefarmasian. Oleh karena itu, apoteker harus berupaya mencegah dan meminimalkan masalah terkait obat (drug related problem) dengan membuat keputusan profesional untuk tercapainya pengobatan yang rasional.

(30)

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1027/MENKES/SK/2004 pelayanan kesehatan meliputi:

a. Pelayanan resep 1) Skrining resep

a) Persyaratan administratif, seperti: nama, SIP, dan alamat dokter; tanggal penulisan resep; tanda tangan atau paraf dokter penulis resep; nama, alamat, umur, jenis kelamin, dan berat badan pasien; nama obat, potensi, dosis, jumlah yang diminta; cara pemakaian serta informasi lainnya.

b)Kesesuaian farmasetik: bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara dan lama pemberian.

c) Pertimbangan klinis: adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian (dosis, durasi, jumlah obat dan lain-lain).

2) Penyiapan obat

a) Peracikan yang merupakan kegiatan menyiapkan, menimbang, mencampur, mengemas dan memberikan etiket pada wadah.

b) Etiket harus jelas dan dapat dibaca.

c) Kemasan obat yang diserahkan harus rapi dan cocok sehingga terjaga kualitasnya.

d) Penyerahan obat pada pasien harus dilakukan pemeriksaan akhir terhadap kesesuaian antara obat dengan resep dan penyerahan obat dilakukan oleh apoteker disertai pemberian informasi obat dan konseling kepada pasien.

e) Apoteker harus memenuhi informasi yang benar, jelas dan mudah dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana dan terkini. Informasi obat pada pasien sekurang-kurangnya meliputi: cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi.

f) Apoteker harus memberikan konseling kepada pasien sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien. Konseling terutama ditujukan untuk pasien penyakit kronis (hipertensi, diabetes melitus, TBC, asma dan lain-lain).

(31)

g) Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker harus melaksanakan pemantauan penggunaan obat.

b. Promosi dan edukasi

Apoteker harus memberikan edukasi kepada pasien yang ingin melakukan upaya pengobatan diri sendiri (swamedikasi) untuk peyakit yang ringan dengan memilihkan obat yang sesuai dan apoteker harus berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan ini.

c. Pelayanan residensial (home care)

Apoteker sebagai care giver diharapkan juga dapat melakukan pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk kelompok lansia dan pasien dengan penyakit kronis. Untuk kegiatan ini, apoteker harus membuat catatan pengobatan pasien (medication record).

d. Komunikasi Informasi dan Edukasi

Farmasi sebagai salah satu aspek dalam pelayanan kesehatan telah mengalami perkembangan paradigm yang awalnya berorientasi terhadap produk/obat kini berorientasi kepada pasien berdasarkan pada nilai-nilai asuhan kefarmasian. Asuhan kefarmasian adalah tanggung jawab atau kompetensi dari seorang Apoteker untuk meningkatkan kualitas kesehatan dan kehidupan pasien. Hal ini menuntut Apoteker untuk menciptakan hubungan yang baik antara pasien, sesama Apoteker dan dengan profesi kesehatan lain.

Seorang Apoteker dalam menjalankan kegiatan profesinya banyak berhubungan dengan orang lain baik pasien, rekan seprofesi, dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya. Kemampuan dan keterampilan berkomunikasi yang efektif sangat diperlukan oleh seorang Apoteker yang profesional. Kurangnya komunikasi secara efektif dapat menyebabkan timbulnya permasalahan. Untuk dapat berkomunikasi dengan baik maka memerlukan usaha, waktu, serta kemauan untuk belajar dengan membuat suatu proses menjadi efektif.

Komunikasi merupakan pembentukan pesan dari pemikiran, perasaan, perilaku pengirim (sender) atau penyampaian pesan kepada penerima (receiver) yang kemudian ada reaksi dari penerima. Komunikasi dapat dikatakan sempurna apabila pesan yang disampaikan oleh pengirim pesan dapat diterima dan dimengerti dengan jelas oleh penerima pesan. Informasi disampaikan melalui

(32)

media agar dapat diterima dan dimengerti oleh orang lain sesuai dengan maksud pesan atau informasi tersebut. Media merupakan alat yang digunakan untuk mempermudah suatu komunikasi. Media yang tepat akan memberikan informasi atau pesan yang ingin disampaikan oleh seorang pengirim pesan.

Salah satu implementasi dari komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) adalah kegiatan konseling. Konseling merupakan suatu proses yang sistematik untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah pasien yang berkaitan dengan pengambilan dan penggunaan obat. Konseling dilakukan untuk mengoptimalkan hasil terapi obat dan tercapainya tujuan dari terapi obat dengan cara membina hubungan dan menumbuhkan kepercayaan, perhatian, dan kepedulian terhadap pasien serta mencegah dan mengurangi terjadinya efek samping obat,toksisitas, resistensi antibiotika, dan ketidakpatuhan pasien.

e.

Swamedikasi

Swamedikasi (Self Medication) merupakan suatu bentuk pengobatan mandiri yang dilakukan oleh masyarakat, tanpa melalui dokter. Biasanya swamedikasi dilakukan untuk mengatasi gangguan kesehatan ringan mulai dari batuk, pilek, demam, sakit kepala, maag, gatal-gatal hingga iritasi ringan pada mata.

Beberapa hal yang melatarbelakangi berkembangnya swamedikasi di kalangan masyarakat saat ini, yaitu meningkatnya kesadaran akan kesehatan dan tersedianya obat-obatan menyebabkan sebagian masyarakat berinisiatif mengobati dirinya sendiri tanpa melalui konsultasi dengan dokter.

Banyaknya obat yang beredar saat ini dapat membingungkan masyarakat dalam memilih obat yang tepat dan aman. Masyarakat sebagai konsumen memerlukan bantuan dalam membuat keputusan terhadap swamedikasi yang dilakukan.

Apoteker adalah profesi yang ideal dalam membantu masyarakat memilih obat yang aman dan efektif dalam mengobati penyakit yang diderita. Upaya swamedikasi oleh apoteker harus tetap memperhatikan prinsip penggunaan obat yang rasional dengan memperhatikan ketepatan indikasi penyakit, pemilihan obat, dosis, cara pakai, lama penggunaan, dan kondisi pasien.

(33)

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam swamedikasi oleh seorang Apoteker, yaitu

1. Membaca informasi yang tertera pada kemasan atau brosur yang meliputi komposisi obat, indikasi, kontra indikasi, interaksi obat, efek samping, dosis dan cara penggunaan.

2. Obat yang dipilih memiliki jenis kandungan zat aktif sesuai penyakit yang diderita.

3. Penggunaan obat swamedikasi hanya untuk jangka pendek, jika penyakit tidak membaik setelah beberapa hari penggunaan obat tersebut, maka sebaiknya konsultasikan ke dokter.

4. Memperhatikan aturan pakai obat serta berapa jumlah yang diperlukan.

5. Perlu diperhatikan juga tentang masalah kontra indikasi dan cara penyimpanan obat.

Untuk lebih mengarahkan ketepatan pemilihan obat pada saat melakukan pelayanan swamedikasi, konseling pra pelayanan swamedikasi dapat dilakukan kepada pasien dengan 5 arahan pertanyaan penuntun sebagai berikut :

1. W : who (Untuk siapa obat tersebut)

2. W : what symptoms (Gejala apa yang dirasakan)

3. H : how long (Sudah berapa lama gejala tersebut berlangsung)

4. A : action (Tindakan apa yang sudah dilakukan untuk mengatasi gejala tersebut)

5. M : medicine (Obat-obat apa saja yang sedang digunakan oleh pasien).

Dalam melakukan kegiatan swamedikasi tidaklah selalu berjalan dengan lancar. Terdapat beberapa kendala yang timbul dan menjadi penghalang komunikasi antara apoteker dengan pasien pada saat pemberian pelayanan swamedikasi, yaitu:

1. Kendala yang berasal dari pasien, yaitu perasaan malu, marah, sedih, takut dan ragu-ragu. Hal ini dapat diatasi dengan sikap empati, mencari sumber timbulnya masalah tersebut dan tetap bersikap terbuka dan siap membantu. 2. Kendala yang berasal dari latar belakang pendidikan, budaya dan bahasa.

(34)

3. Kendala yang berasal dari fisik dan mental. Kendala ini dapat diatasi dengan upaya menggunakan alat bantu.

4. Kendala yang berasal dari Apoteker dapat berupa menunjukkan sikap yang kurang perhatian, cara berbicara yang tidak sesuai, mendominasi percakapan, menggunakan istilah yang sulit dimengerti oleh pasien, sikap dan gerak tubuh yang mengganggu konsentrasi pasien.

5. Kendala yang berasal dari lingkungan sekitar tempat swamedikasi berlangsung misalnya dilakukan di tempat terbuka, suasana yang berisik dan adanya pihak ketiga yang ikut mendengarkan.

Persiapan yang matang diperlukan agar Apoteker dapat mengembangkan swamedikasi menjadi keunggulan dari pelayanan Apotek yaitu dengan menyediakan obat serta informasi yang memadai untuk keperluan swamedikasi.

f. Good Pharmacy Practices ( GPP)

Good pharmacy practice merupakan suatu pedoman untuk menjamin bahwa pelayanan yang diberikan farmasis kepada setiap pasien telah memenuhi kualitas yang tepat. Dengan adanya pedoman tersebut, masyarakat diharapkan dapat menggunakan obat-obatan dan produk serta jasa kesehatan dengan lebih tepat yang pada akhirnya dapat mencapai tujuan terapi yang diharapkan.

Adanya konsep Pharmaceutical Care merupakan filosofi yang sangat identik dengan konsep Good Pharmacy Practice (GPP), sehingga dapat dikatakan bahwa GPP merupakan suatu cara untuk menerapkan Pharmaceutical Care. Standar Good Pharmacy Practice sebagai pedoman pengelolaan farmasi diantaranya:

1. Bangunan

Tujuan: menjamin tersedianya bangunan yang cukup dan memenuhi syarat dalam penyediaan layanan.

2. Penyiapan obat

Tujuan: menjamin bahwa pasien menerima obat dengan dosis, jenis nama dan bentuk obat yang tepat.

3. Wadah obat

(35)

4. Label atau etiket obat

Tujuan: menjamin obat yang diterima benar untuk apa dan siapa yang menerima.

5. Instruksi pada pasien

Tujuan: mengetahui bahwa obat digunakan dengan benar dan sesuai petunjuk atau instruksi, kapan dan bagaimana obat harus digunakan.

6. Pencatatan pengobatan pasien

Tujuan: pasien mengetahui bahwa obat diminum secara terus menerus, frekuensi, waktu minum yang tepat dalam bentuk sediaan yang tepat serta kapan kembali ke dokter.

g. Informasi obat dan konseling

Tujuan: memberikan pemahaman pasien tentang kegunaan obat, efek samping yang mungkin terjadi, cara penggunaan, apa yang perlu di hindari dan cara penyimpanannya.

2.2.2 Kegiatan Teknis Non-Kefarmasian

Pengelolaan non teknis kefarmasian, meliputi kegiatan :

1. Pencatatan, pengarsipan, pelaporan narkotika, psikotropika dan dokumentasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

2. Administrasi pelayanan

3. Pengarsipan resep, pengarsipan catatan pengobatan pasien, pengarsipan hasil monitoring penggunaan obat.

2.3 Sediaan Farmasi

Sediaan farmasi digolongkan menjadi 5 bagian yaitu obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras serta obat narkotika dan psikotropika.

a. Obat Bebas

Obat bebas adalah obat yang dapat dibeli tanpa resep dokter. Pada kemasan ditandai dengan lingkaran hitam, mengelilingi bulatan berwarna hijau yang dapat dilihat dengan lebih jelas pada Gambar 1. Dalam kemasan obat disertakan brosur yang berisi nama obat, nama dan isi zat berkhasiat, indikasi,

(36)

dosis, aturan pakai, efek samping , nomor batch, nomor registrasi, nama dan alamat pabrik, serta cara penyimpanannya.

Gambar 1. Penandaan obat bebas

b. Obat Bebas Terbatas

Obat bebas terbatas yaitu obat yang digunakan untuk mengobati penyakit ringan yang dapat dikenali oleh penderita sendiri. Obat bebas terbatas termasuk obat keras dimana pada setiap takaran yang digunakan diberi batas dan pada kemasan ditandai dengan lingkaran hitam mengelilingi bulatan berwarna biru serta sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.6355/Dirjen/SK/69 tanggal 5 November 1975, disertai tanda peringatan P. No.1 sampai P. No. 6 dan harus ditandai dengan etiket atau brosur yang menyebutkan nama obat yang bersangkutan, daftar bahan berkhasiat serta jumlah yang digunakan, nomor batch, tanggal kadaluarsa, nomor registrasi, nama dan alamat produsen, petunjuk penggunaan, indikasi, cara pemakaian, peringatan serta kontra indikasi. Penandaan terhadap obat bebas terbatas beserta Penandaan peringatannya dapat dilihat pada Gambar 2 dan Gambar 3.

Gambar 2. Penandaan obat bebas terbatas

(37)

c. Obat Keras

Obat keras adalah obat yang hanya boleh diserahkan dengan resep dokter, dimana pada bungkus luarnya diberi tanda bulatan dengan lingkaran hitam dengan dasar merah yang didalamnya terdapat huruf “K” yang menyentuh garis tepi. Tanda dapat dilihat dengan lebih jelas pada Gambar 4. Obat yang masuk ke dalam golongan obat keras ini adalah obat yang dibungkus sedemikian rupa yang digunakan secara parenteral, baik dengan cara suntikan maupun dengan cara pemakaian lain dengan jalan merobek jaringan, obat baru yang belum tercantum dalam kompendial/farmakope terbaru yang berlaku di Indonesia serta obat-obat yang ditetapkan sebagai obat keras melalui keputusan Menkes Republik Indonesia.

Gambar 4. Penandaan obat keras f. Obat Narkotika

Menurut Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, dalam Bab I pasal 1 Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan.

Gambar 5. Penandaan obat narkotika g. Obat Psikotropika

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotropika, dalam Bab I pasal 1 Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

(38)

2.3.1 Obat Generik

Obat generik adalah obat dengan nama resmi yang telah ditetapkan dalam Farmakope Indonesia dan Internasional Non Proprietary Name (INN) WHO untuk zat berkhasiat yang dikandungnya. Selain itu obat generik dapat juga merupakan obat yang telah habis masa patennya, sehingga dapat diproduksi oleh semua perusahaan farmasi tanpa perlu membayar royalti. Ada dua jenis obat generik yaitu obat generik bermerek dagang dan obat generik berlogo yang dipasarkan dengan merek kandungan zat aktifnya. Kewajiban menuliskan resep dan atau menggunakan obat generik pada fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No.085/Menkes/Per/I/1989 pasal 7 ayat (1) dan (3).

2.3.2 Obat Wajib Apotek

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No.919/Menkes/Per/X/1993, obat wajib apotek adalah obat keras yang dapat diserahkan pada pasien tanpa resep dokter dengan mengikuti peraturan dari Menteri Kesehatan. Obat yang dapat diserahkan tanpa resep dokter harus memenuhi kriteria:

a. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak dibawah usia 2 tahun dan orang tua di atas 65 tahun.

b. Pengobatan diri sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan resiko pada kelanjutan penyakit.

c. Penggunaan tidak memerlukan cara dan atau alat khusus yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan.

d. Penggunaan diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia. e. Obat dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat

dipertanggungjawabkan untuk pengobatan diri sendiri.

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No.925/Menkes/Per/X/1993 Tentang Daftar Perubahan Golongan Obat No.1, Keputusan Menteri Kesehatan No.924/Menkes/Per/X/1993 Tentang Daftar Obat Wajib No.2, dan Keputusan Menteri Kesehatan No.1176/Menkes/SK/X/1999 Tentang Daftar Obat Wajib No.3. Contoh obat yang termasuk dalam Obat Wajib Apotek Golongan 1, 2 dan 3 sebagai berikut:

(39)

Tabel 1. Daftar Obat Wajib Apotek 1, 2, dan 3

OWA 1 OWA 2 OWA 3

 Linestrenol  Levonorgestrel  Norgestrel  Antasid  Papaverin  Metampiron  Papaverin  Metoklopramid  Bisakodil supp  Hexetidine  Triamcinolone acetonide  Aminophillin supp  Salbutamol  Bromheksin  Karbosistein  Asam mefenamat  Mebhidrolin  Astemizol  Dexklorpheniramine maleat  Mebendazol  Tetrasiklin  Gentamisin  Eritromisin  Hidokortison  Triamsinolon  Heksaklorofen  Mikonazol nitrat  Nistatin  Lidokain, dll  Albendazol  Bacitracin  Benorilate  Bismuth subcitrate  Clindamicin  Dexametason  Ibuprofen  Ketokonazole  Omeprazole  Piroxicam  Prednisolon, dll  Famotidin  Ranitidin  Tretionin  Isoniazid  Rifampisin  Pirazinamid  Etambutol  Streptomisin  Alopurinol  Natrium Diklofenak  Setirizin  Siproheptadin, dll 2.3.3 Pengelolaan Narkotika

Berdasarkan Undang-Undang No.35 tahun 2009 tentang narkotika, narkotika dapat didefinisikan sebagai suatu zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan yang dibedakan ke dalam golongan-golongan:

(40)

a. Narkotika Golongan I adalah Narkotika yang hanya digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan.

b. Narkotika Golongan II adalah Narkotika berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan.

c. Narkotika Golongan III adalah Narkotika berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Pengelolaan narkotika meliputi kegiatan:

a. Pemesanan narkotika.

Pemesanan narkotika hanya dapat dilakukan oleh Pedagang Besar Farmasi (PBF) Kimia Farma. Pesanan narkotika bagi apotek ditandatangani oleh APA dengan menggunakan surat pesanan rangkap empat, dimana tiap satu jenis narkotika menggunakan satu surat pesanan yang dilengkapi dengan nomor SIK apoteker dan stempel apotek.

b. Penyimpanan narkotika

Narkotika yang berada di apotek wajib disimpan secara khusus sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan dalam UU No. 35 tahun 2009 pasal 14 ayat (1). Adapun tata cara penyimpanan narkotika diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 28/MENKES/PER/1978 pasal 5, yaitu apotek harus memiliki tempat khusus untuk menyimpan narkotika. Tempat khusus tersebut harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1) Harus seluruhnya terbuat dari kayu atau bahan lain yang kuat. 2) Harus mempunyai kunci ganda yang kuat.

3) Dibagi menjadi 2 bagian, masing-masing bagian dengan kunci yang berlainan. Bagian pertama digunakan untuk menyimpan morfin, petidin dan garam-garamnya serta persediaan narkotika, sedangkan bagian kedua dipergunakan untuk menyimpan narkotika lainnya yang dipakai sehari-hari. 4) Apabila tempat tersebut berukuran 40x80x100 cm, maka lemari tersebut

(41)

Selain itu pada pasal 6 Peraturan Menteri Kesehatan No.28/Menkes/Per/I/1978 dinyatakan bahwa:

1) Apotek harus menyimpan narkotika dalam lemari khusus sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 5 Peraturan Menteri Kesehatan No.28/Menkes/Per/1978 dan harus dikunci dengan baik.

2) Lemari khusus tidak boleh dipergunakan untuk menyimpan barang lain selain narkotika, kecuali ditentukan oleh Menteri Kesehatan.

3) Anak kunci lemari khusus dikuasai oleh penanggung jawab atau pegawai lain yang diberi kuasa.

4) Lemari khusus diletakkan di tempat yang aman dan tidak boleh terlihat oleh umum.

c. Pelayanan resep mengandung narkotika

Apotek hanya melayani pembelian narkotika berdasarkan resep dokter dengan ketentuan berdasarkan surat edaran balai POM No.336/EE/SE/1977 antara lain dinyatakan:

1) Sesuai dengan bunyi pasal 7 ayat (2) undang-undang no. 9 tahun 1976 tentang narkotika, apotek dilarang melayani salinan resep yang mengandung narkotika, walaupun resep tersebut baru dilayani sebagian atau belum dilayani sama sekali.

2) Untuk resep narkotika yang baru dilayani sebagian atau belum dilayani sama sekali, apotek boleh membuat salinan resep tetapi salinan resep tersebut hanya boleh dilayani oleh apotek yang menyimpan resep aslinya. 3) Salinan resep dari resep narkotika dengan tulisan iter tidak boleh dilayani

sama sekali. Oleh karena itu dokter tidak boleh menambah tulisan iter pada resep-resep yang mengandung narkotika.

d. Pelaporan narkotika

Berdasarkan Undang-Undang No. 35 tahun 2009 Pasal 14 ayat (2) dinyatakan bahwa industri farmasi, pedagang besar farmasi, sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah, apotek, rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat, balai pengobatan, dokter, dan lembaga ilmu pengetahuan wajib membuat, menyampaikan, dan menyimpan laporan berkala mengenai pemasukan dan/atau pengeluaran narkotika yang berada dalam penguasaannya.

(42)

Laporan tersebut meliputi laporan pemakaian narkotika dan laporan pemakaian morfin dan petidin. harus di tandatangani oleh apoteker pengelola apotek dengan mencantumkan SIPA, SIA, nama jelas dan stempel apotek, kemudian dikirimkan kepada Kepala Dinas Kesehatan RI Kota/Kabupaten setempat dengan tembusan kepada:

1) Kepala Dinas Kesehatan. 2) Balai Besar POM.

3) Penanggung jawab narkotika PT. Kimia Farma Tbk. 4) Arsip.

Laporan yang ditandatangani oleh APA meliputi: 1) Laporan penggunaan sediaan jadi narkotika. 2) Laporan penggunaan bahan baku narkotika. 3) Laporan khusus penggunaan morfin dan petidin.

Laporan narkotika tersebut dibuat setiap bulannya dan harus dikirim selambat-lambatnya tanggal 10 bulan berikutnya.

e. Pemusnahan narkotika

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.28/MENKES/PER/I/1978 Pasal 9 disebutkan bahwa pemegang izin khusus dan atau APA dapat memusnahkan narkotika yang rusak atau tidak memenuhi syarat. Berdasarkan Undang-Undang No. 22 Tahun 1997 tentang narkotika disebutkan bahwa pemusnahan narkotika dilakukan dalam hal:

1) Diproduksi tanpa memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku dan atau tidak dapat digunakan dalam proses produksi.

2) Kadaluarsa.

3) Tidak memenuhi syarat lagi untuk digunakan dalam pelayanan kesehatan dan atau untuk pengembangan ilmu pengetahuan.

4) Berkaitan dengan tindak pidana.

Berdasarkan Pasal 61 Undang-Undang No. 22 Tahun 1997, pemusnahan narkotika dilaksanakan oleh pemerintah, orang atau badan usaha yang bertanggung jawab atas produksi dan atau peredaran narkotika, sarana kesehatan tertentu serta lembaga ilmu pengetahuan dengan disaksikan oleh pejabat yang

(43)

ditunjuk oleh Menteri Kesehatan RI. Pelaksanaan pemusnahan narkotika yang rusak atau tidak memenuhi persyaratan pada apotek adalah sebagai berikut:

1) Bagi apotek di tingkat propinsi, pelaksanaan pemusnahan disaksikan oleh petugas dari Balai POM setempat.

2) Bagi apotek di tingkat Kabupaten/Kota pemusnahan disaksikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Tingkat II

Pemegang izin khusus atau apoteker pengelola apotek yang memusnahkan narkotika harus membuat berita acara pemusnahan paling sedikit 3 rangkap. Berita acara pemusnahan tersebut memuat:

1) Hari, tanggal, bulan dan tahun pemusnahan.

2) Nama pemegang izin khusus atau apoteker pengelola apotek.

3) Nama seorang saksi dari pemerintah dan seorang saksi lain dari apotek tersebut.

4) Nama dan jumlah narkotika yang dimusnahkan. 5) Cara pemusnahan.

6) Tanda tangan penanggung jawab apotek dan saksi-saksi. f. Pelanggaran terhadap ketentuan pengelolaan narkotik

Dalam Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, disebutkan bahwa pelanggaran terhadap ketentuan mengenai penyimpanan dan pelaporan narkotika dapat dikenai sanksi administratif oleh Menteri Kesehatan, yang berupa: teguran, peringatan, denda administratif, penghentian sementara kegiatan atau pencabutan izin.

2.3.4 Pengelolaan Psikotropika

Psikotropika menurut Undang-undang No. 5 Tahun 1997 merupakan zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis, bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Psikotropika dibagi menjadi beberapa golongan, yaitu

a. Psikotropika golongan I adalah psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan.

(44)

b. Psikotropika golongan II adalah psikotropika yang berhasiat pengobatan digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan.

c. Psikotropika golongan III adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan.

d. Psikotropika golongan IV adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan untuk terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan. Kegiatan-kegiatan pengelolaan psikotropika meliputi:

a. Pemesanan psikotropika

Tata cara pemesanan obat-obat psikotropika sama dengan pemesanan obat lainnya, yakni dengan surat pemesanan yang sudah ditandatangani oleh APA yang dikirim ke pedagang besar farmasi (PBF). Pemesanan psikotropika tidak memerlukan surat pemesanan khusus dan dapat dipesan apotek dari PBF atau pabrik obat. Penyaluran psikotropika tersebut diatur dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1997 pasal 12 ayat (2) dinyatakan bahwa penyerahan psikotropika oleh apotek hanya dapat dilakukan kepada apotek lainnya, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter dan pelayanan resep. Satu lembar surat pesanan psikotropika dapat terdiri dari lebih dari satu jenis obat psikotropika. b. Penyimpanan psikotropika

Sampai saat ini, penyimpanan untuk obat-obatan golongan psikotropika belum diatur dalam perundang-undangan. Namun, karena obat-obatan psikotropika ini cenderung untuk disalahgunakan, maka disarankan agar menyimpan obat-obatan psikotropika tersebut dalam suatu rak atau lemari khusus yang terpisah dengan obat-obat lain, tidak harus dikunci dan membuat kartu stok psikotropika.

c. Penyerahan psikotropika

Penyerahan obat golongan psikotropika oleh apotek hanya dapat diberikan kepada apotek lainnya, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter dan kepada pasien bila disertai dengan resep dokter.

(45)

Berdasarkan UU No. 5 Tahun 1997, pabrik obat, PBF, sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah, apotek, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter dan lembaga penelitian dan atau lembaga pendidikan, wajib membuat dan menyimpan catatan mengenai kegiatan yang berhubungan dengan psikotropika dan wajib melaporkannya kepada Menteri Kesehatan secara berkala. Pelaporan psikotropika dilakukan setahun sekali dengan ditandatangani oleh APA dilakukan secara berkala yaitu setiap tahun kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi dengan tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan setempat dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan.

e. Pemusnahan psikotropika

Berdasarkan UU No. 5 Tahun 1997 pasal 53 tentang psikotropika, pemusnahan psikotropika dilakukan bila berhubungan dengan tindak pidana, diproduksi tanpa memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku dan atau tidak dapat digunakan dalam proses psikotropika, kadaluarsa atau tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan dan atau untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

Pemusnahan psikotropika wajib dibuat berita acara dan disaksikan oleh pejabat yang ditunjuk dalam waktu 7 hari setelah mendapat kepastian. Berita acara pemusnahan tersebut memuat:

1) Hari, tanggal, bulan dan tahun pemusnahan.

2) Nama pemegang izin khusus atau apoteker pengelola apotek.

3) Nama seorang saksi dari pemerintah dan seorang saksi lain dari apotek tersebut.

4) Nama dan jumlah psikotropika yang dimusnahkan. 5) Cara pemusnahan.

(46)

3.1 PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. 3.1.1 Sejarah PT. Kimia Farma

Kimia Farma adalah perusahaan industri farmasi pertama di Indonesia yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda tahun 1817. Nama perusahaan ini pada awalnya adalah NV Chemicalien Handle Rathkamp & Co. Berdasarkan kebijaksanaan nasionalisasi atas eks perusahaan Belanda di masa awal kemerdekaan, pada tahun 1958, Pemerintah Republik Indonesia melakukan peleburan sejumlah perusahaan farmasi menjadi PNF (Perusahaan Negara Farmasi) Bhinneka Kimia Farma. Kemudian pada tanggal 16 Agustus 1971, bentuk badan hukum PNF diubah menjadi Perseroan Terbatas, sehingga nama perusahaan berubah menjadi PT Kimia Farma (Persero).

Pada tanggal 4 Juli 2001, PT Kimia Farma (Persero) kembali mengubah statusnya menjadi perusahaan publik, PT Kimia Farma (Persero) Tbk, dalam penulisan berikutnya disebut Perseroan. Bersamaan dengan perubahan tersebut, Perseroan telah dicatatkan pada Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya (sekarang kedua bursa telah merger dan kini bernama Bursa Efek Indonesia). Berbekal pengalaman selama puluhan tahun, Perseroan telah berkembang menjadi perusahaan dengan pelayanan kesehatan terintegrasi di Indonesia. Perseroan kian diperhitungkan kiprahnya dalam pengembangan dan pembangunan bangsa, khususnya pembangunan kesehatan masyarakat Indonesia.

3.1.2 Visi dan Misi a. Visi

Menjadi korporasi bidang kesehatan terintegrasi dan mampu menghasilkan pertumbuhan nilai yang berkesinambungan melalui konfigurasi dan koordinasi bisnis yang sinergis

b. Misi

(47)

1) Industri kimia dan farmasi dengan basis penelitian dan pengembangan produk yang inovatif.

2) Perdagangan dan jaringan distribusi.

3) Pelayanan kesehatan yang berbasis jaringan ritel farmasi dan jaringan pelayanan kesehatan lainnya.

4) Pengelolaan aset-aset yang dikaitkan dengan pengembangan usaha perusahaan.

3.1.3 Logo PT. Kimia Farma

Gambar 6. Logo PT. Kimia Farma a. Simbol Matahari

1) Paradigma baru, matahari terbit adalah tanda memasuki babak baru kehidupan yang lebih baik.

2) Optimis, matahari memiliki cahaya sebagai sumber energi, cahaya tersebut adalah penggambaran optimisme Kimia Farma dalam menjalankan bisnisnya.

3) Komitmen, matahari selalu terbit dari timur dan tenggelam di arah barat secara teratur dan terus-menerus memiliki makna adanya komitmen dan konsistensi dalam menjalankan segala tugas yang diemban oleh Kimia Farma dalam bidang farmasi dan kesehatan.

4) Sumber energi, matahari sumber energi bagi kehidupan, dan Kimia Farma baru memposisikan dirinya sebagai sumber energi bagi kesehatan masyarakat.

5) Semangat yang abadi, warna orange berarti semangat, warna biru adalah keabadian. Harmonisasi antara kedua warna tersebut menjadi satu makna yaitu semangat yang abadi.

(48)

Dirancang khusus untuk kebutuhan Kimia Farma yang disesuaikan dengan nilai dan image yang telah menjadi energi bagi Kimia Farma, karena prinsip sebuah identitas harus berbeda dengan identitas yang telah ada.

c. Sifat Huruf

1) Kokoh, memperlihatkan Kimia Farma sebagai perusahaan terbesar dalam bidang farmasi yang memiliki bisnis dari hulu hilir, dan merupakan perusahaan farmasi pertama yang dimiliki Indonesia.

2) Dinamis, dengan jenis huruf italic memperlihatkan kedinamisan dan optimisme Kimia Farma dalam menjalankan bisnis kesehatan.

3) Bersahabat, dengan jenis huruf kecil dan lengkung, memperlihatkan keramahan Kimia Farma dalam melayani konsumennya.

3.1.4 Bidang Kegiatan

PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. memiliki beberapa bidang kegiatan antara lain bidang industri yang dilakukan oleh PT. Kimia Farma Holding dan bidang pemasaran dilakukan oleh dua anak perusahaannya yaitu PT. Kimia Farma Apotek dan PT. Kimia Farma Trading and Distribution (PT. Kimia Farma PBF) a. Bidang industri

1) Riset dan teknologi

PT. Kimia Farma memiliki fasilitas laboratorium riset yang berlokasi di Jl. Cihampelas No. 5, Bandung, yang berfungsi antara lain melakukan kegiatan pengembangan dan riset dalam rangka meningkatkan kemampuan perusahaan, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Fasilitas tersebut diresmikan oleh Menteri Kesehatan RI pada tanggal 19 Juli 1991.

Kegiatan pengembangan dan penelitian yang dilakukan selain pengembangan obat asli Indonesia juga berupa pengembangan formula produk baru maupun reformulasi produk lama untuk meningkatkan efektivitas obat dan efisiensi produksi. Kegiatan pengembangan dan penelitian ini didukung oleh 53 orang ahli. Dalam kegiatan pengembangan formula produk baru, unit kerja ini mendapatkan masukan terutama dari

Gambar

Tabel 1.  Daftar Obat Wajib Apotek 1, 2, dan 3 ..................................................
Gambar 1. Penandaan obat bebas  b.  Obat Bebas Terbatas
Gambar 4. Penandaan obat keras  f.   Obat Narkotika
Tabel 1. Daftar Obat Wajib Apotek 1, 2, dan 3
+4

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

S.Si., Apt., selaku Pemilik Sarana Apotek (PSA) dan Apoteker Pengelola Apotek (APA) di apotek Pro-Tha Farma, serta pembimbing I yang telah meluangkan waktu,

Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek Kimia Farma 23 Kendangsari yang berlangsung pada 16 Januari – 17 Februari 2017 merupakan salah satu persyaratan dalam mencapai

Enggyta Permana Sari, S.Si., Apt selaku Apoteker Pengelola Apotek (APA) dari Apotek Kimia Farma 52 Dukuh Kupang sekaligus pembimbing yang telah memberikan izin

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA

Pembekuan izin apotek ditetapkan untuk jangka waktu selama-lamanya 6 (enam) bulan sejak dikeluarkan penetapan pembekuan kegiatan apotek. Pembekuan izin apotek dapat dicairkan

Ari Wahyudi, Apt., selaku Apoteker Pengelola Apotek Kimia Farma 23 sekaligus Pembimbing I yang telah menyediakan waktu dan tenaga, serta dengan sabar membimbing,

Untuk mendapatkan izin apotek, apoteker atau apoteker yang bekerja sama dengan pemilik sarana yang telah memenuhi persyaratan harus siap dengan tempat dan

Sesuai dengan Permenkes RI No.28/Menkes/Per/I/1978 pasal 9 mengenai pemusnahan narkotika, Apoteker Pengelola Apotek dapat memusnahkan narkotika yang rusak,