• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN TEORI"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II TINJAUAN TEORI 2.1. Manajemen Keuangan

2.1.1. Pengertian Manajamen Keuangan

Manajemen Keuangan merupakan suatu proses dalam kegiatan keuangan perusahaan yang berhubungan dengan upaya untuk mendapatkan dana perusahaan serta meminimalkan biaya perusahaan dan juga upaya pengelolaan keuangan suatu badan usaha atau organisasi untuk dapat mencapai tujuan keuangan yang telah ditetapkan. Pengertian Manajemen Keuangan Menurut Horne dan Wachowicz Jr. (2012:2) dalam bukunya yang berjudul Fundamentals of Financial Management

yang telah di alih bahasa menjadi Prinsip-prinsip Manajemen Keuangan mengemukakan bahwa:

“Manajemen keuangan berkaitan dengan perolehan aset, pendanaan, dan manajemen aset dengan didasari beberapa tujuan umum”.

Sedangkan menurut Irham Fahmi (2013:2), mengemukakan bahwa:

“Manajemen Keuangan merupakan penggabungan dari ilmu dan seni yang membahas, mengkaji dan menganalisis tentang bagaimana seorang manajer keuangan dengan mempergunakan seluruh sumberdaya perusahaan untuk mencari dana, mengelola dana dan membagi dana dengan tujuan memberikan profit atau kemakmuran bagi para pemegang saham dan suistainability (keberlanjutan) usaha bagi perusahaan.”

Teori tersebut menyatakan bahwa manajemen keuangan merupakan suatu kajian dan perencanaan analisis untuk mengetahui mengenai keadaan keuangan yang terjadi pada perusahaan, baik itu mengenai keputusan inventasi, pendanaan bahkan

(2)

aktiva perusahaan dengan tujuan memberikan profit bagi para pemegang saham dan suistainability (keberlanjutan) usaha bagi perusahaan.

2.1.2. Fungsi Manajemen Keuangan

Ukuran dan penting fungsi manajemen keuangan tergantung dari besarnya perusahaan. Pada perusahaan kecil, fungsi keuangan umumnya dilakukan oleh departemen akuntansi. Setelah perusahaan berkembang, lambat laun menjadi departemen. Fungsi manajemen keuangan yang utama adalah dalam hal keputusan investasi, pembiayaan dan deviden untuk suatu perusahaan atau organisasi bahkan koperasi atau bahkan instansi-instansi lain.

Menurut Bambang Riyanto (2001:6) menyatakan pada dasarnya manajemen keuangan memiliki fungsi yang terdiri dari :

1. Fungsi Penggunaan atau Pengalokasian Dana dimana dalam pelaksanaannya manajemen keuangan harus mengambil sebuah keputusan investasi ataupun pemilihan alternatif investasi.

2. Fungsi Perolehan Dana yang juga sering disebut sebagai fungsi mencari sumber pendanaan dimana dalam pelaksanaannya manajemen keuangan harus mengambil sebuah keputusan pendanaan atau pemilihan alternatif pendanaan (financing decision).

Pengertian fungsi manajemen keuangan yaitu sebagai pedoman bagi manajer perusahaan dalam setiap pengambilan keputusan yang dilakukan demi kelancaran perusahaannya terutama dalam hal manajemen keuangannya.

(3)

2.2. Laporan Keuangan

2.2.1. Pengertian Laporan Keuangan

Setiap perusahaan mempunyai laporan keuangan yang bertujuan menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubaha posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai laporan keuangan dalam pengambilan keputusan secara ekonomi. Laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu. Laporan keuangan merupakan media yang paling penting untuk menilai prestasi ekonomis suatu perusahaan. Laporan keuangan harus disiapkan secara periodik untuk pihak-pihak yang berkepentingan antara lain investor, karyawan, pemberi pinjaman, pemasok, dan kreditur usaha lainnya, pelanggan, pemerintah masyarakat, dan manajemen perusahaan. Dalam membahas manajemen keuangan, tidak bisa terlepas dari laporan keuangan. Menurut Kasmir (2014:7):

“Laporan keuangan adalah laporan yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam suatu periode tertentu.”

Sedangkan menurut Bambang Riyanto (2012:327):

“Laporan Finansiil (Financial Statement), memberikan ikhtisar mengenai keadaan finansiil suatu perusahaan, dimana Neraca (Balance Sheets)

mencerminkan nilai aktiva, utang dan modal sendiri pada suatu saat tertentu, dan laporan Rugi dan Laba (Income Statement) mencerminkan hasil-hasil yang dicapai selama periode tertentu, biasanya meliputi periode satu tahun.” Jadi, disimpulkan bahwa laporan keuangan adalah laporan yang dapat menggambarkan kondisi keuangan perusahaan selama periode tertentu yang dapat berguna pihak-pihak yang membutuhkan laporan keuangan tersebut.

(4)

2.2.2. Pengertian Analisis Laporan Keuangan

Laporan keuangan yang telah disusun berdasarkan data yang relevan, serta dilakukan dengan prosedur akuntansi dan penilaian yang benar, akan terlihat kondisi keuangan perusahaan yang sesungguhnya. Kondisi keuangan seperti berapa jumlah aset, utang, ekuitas dalam neraca yang dimilki, pendapatan yang diterima dan jumlah beban yang dikeluarkan selama periode tertentu sehingga dapat diketahui bagaimana hasil usaha (laba atau rugi) yang diperoleh selama periode tertentu dalam laporan laba rugi yang telah disusun. Untuk mengetahui kondisi keuangan tersebut adalah dengan analisis atau analisa laporan keuangan sehingga laporan keuangan lebih mudah dipahami dan dimengerti serta dapat memberikan informasi tentang kelemahan dan kekuatan yang dimiliki perusahaan.

Menurut Subramanyam (2014:4), Analisis laporan keuangan (financial statement analysis) adalah aplikasi dari alat dan teknik analitis untuk laporan keuangan bertujuan umum dan data-data yang berkaitan untuk menghasilkan estimasi dan kesimpulan yang bermanfaat dalam analisis bisnis. Analisis laporan keuangan mengurangi ketergantungan pada firasat, tebakan, dan intuisi dalam pengambilan keputusan, serta mengurangi ketidakpastian analisis bisnis.

Menurut Munawir (2010:31), Analisa laporan keuangan terdiri dari penelahaan atau mempelajari dari pada hubungan-hubungan atau kecenderungan untuk menentukan posisi keuangan dan operasi serta perkembangan usaha yang bersangkutan. Dengan diadakannya analisa laporan keuangan ini diharapkan dapat dihasilkan informasi yang berguna bagi pihak yang berpentingan.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa analisis laporan keuangan adalah alat untuk penelaahan menentukan kondisi keuangan yang sesungguhnya pada laporan keuangan sehingga dapat menghasilkan estimasi dan kesimpulan dan mengurangi ketidakpastian terhadap angka-angka pada laporan keuangan dalam pengambilan keputusan oleh pihak manajemen.

(5)

2.2.3. Tujuan Analisis Laporan Keuangan

Analisa laporan keuangan yang dilakukan untuk beberapa periode adalah menganalisis antara akun-akun yang ada dalam satu laporan keuangan. Dalam menganalisis dapat dilakukan antara satu laporan dengan laporan lainnya, hal ini dilakukan dalam ketepatan menilai kinerja manajemen dari periode ke periode selanjutnya.

Secara umum tujuan dan manfaat analisis laporan keuangan menurut Kasmir (2012:68) adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui posisi keuangan perusahaan dalam satu periode tertent, baik harta, kewajiban, modal, maupun hasil ussaha yang telah dicapai untuk beberapa periode.

2. Untuk mengetahui kelamahan-kelemahan apa saja yang menjadi kekurangan perusahaan.

3. Untuk mengetahui kekuatan-keuatan yang dimiliki

4. Untuk mengetahui langkah-langkah perbaikan apa saja yang perlu dilakukan ke depan yang berkaitan dengan posisi keuangan perusahaan saat ini

5. Untuk melakukan penilaian kinerja manajemen ke depan apakah perlu penyegaran atau tidak karena sudah dianggap berhasil atau gagal.

6. Dapat juga digunakan sebagai pembanding dengan perusahaan sejenis tentang hasil yang mereka capai.

Sedangkan menurut Munawir (2010:31), Laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan. Data keuangan tersebut akan lebih berarti bagi pihak-pihak yang berkepentingan apabila

(6)

data tersebut diperbandingkan untuk dua periode atau lebih, dan dianalisa lebih lanjut sehingga dapat diperoleh data yang akan dapat mendukung keputusan yang akan diambil. Faktor utama yang mendapatkan perhatian oleh penganalisis adalah:

1. Likuiditas, menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya harus segera dipenuhi, atau kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan pada saat ditagih.

2. Solvabilitas, menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi keuangan apabila perusahaan tersebut di likuidasi, baik kewajiban keuangan jangka pendek maupun jangka panjang.

3. Rentabilitas atau profitabilitas, menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu.

4. Stabilitas usaha, menunjukkan kemampuan perusahaan untuk melakukan usahanya dengan stabil, yang diukur dengan mempertimbangkan kemampuan perusahaan untuk membayar hutang-hutang serta beban bunganya.

Dengan menganalisis laporan keuangan, maka informasi yang terdapat dalam laporan keuangan akan menjadi lebih luas dan lebih dalam sehingga memudahkan manajemen dapat pengambilan keputusan. Hubungan satu akun dengan akun lain akan dapat menjadi indikator posisi dan kinerja keuangan perusahaan.

2.3. Kebangkrutan

2.3.1. Pengertian Kebangkrutan

Kegagalan keuangan perusahaan adalah ketidakmampuan suatu perusahaan untuk membayar kewajiban keuangannya pada saat jatuh tempo yang menyebabkan kebangkrutan. Suatu perusahaan dinyatakan bangkrut apabil perusahaan gagal dalam menjalankan operasi usaha untuk mencapai tujuannya.

(7)

Menurut Toto (2011:332) dalam Karina (2014:19), “kebangkrutan

(bankcruptcy) merupakan kondisi dimana perusahaan tidak mampu lagi untuk melunasi kewajibannya”. Kondisi ini biasanya tidak muncul begitu saja di perusahaan, ada indikasi awal dari perusahaan tersebut yang biasanya dapat dikenali lebih dini kalau laporan keuangan dianalisis secara lebih cermat dengan suatu cara tertentu. Rasio keuangan dapat digunakan sebagai indikasi adanya kebangkrutan di perusahaan. Kebangkrutan sebagai suatu kegagalan yang terjadi pada sebuah perusahaan. Kegagalan didefinisikan dalam beberapa pengertian menurut Martin (2007:15) dalam Karina (2014:19) yaitu :

1. Kegagalan ekonomi (Economic Distressed)

Kegagalan dalam ekonomi artinya bahwa perusahaan kehilangan uang atau pendapatan perusahaan tidak mampu menutupi biayanya sendiri, ini berarti tingkat labanya lebih kecil dari biaya modal atau nilai sekarang dari arus kas perusahaan lebih kecil dari kewajiban. Kegagalan terjadi bila arus kas sebenarnya dari perusahaan tersebut jauh dibawah arus kas yang diharapkan.

2. Kegagalan keuangan (Financial Distressed)

Pengertian financial distressed mempunyai makna kesulitan dana baik dalam arti dana dalam pengertian kas atau dalam pengertian modal kerja. Sebagai asset liability management sangat berperan dalam pengaturan untuk menjaga agar tidak terkena financial distressed. Kebangkrutan akan cepat terjadi pada perusahaan yang berada di Negara yang sedang mengalami kesulitan ekonomi, karena kesulitan ekonomi akan memicu semakin cepatnya kebangkrutan perusahaan yang mungkin tadinya sudah sakit kemudian semakin sakit dan bangkrut.

(8)

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli tersebut, bahwa kebangkrutan merupakan kondisi perusahaan yang tidak sehat dalam melanjutkan usahanya dikarenakan ketidakmampuan dalam bersaing sehingga mengakibatkan penurunan profitabilitas. Emiten atau perusahaan publik yang gagal atau tidak mampu menghindari kegagalan untuk membayar kewajibannya terhadap pemberi pinjaman yang tidak terafiliasi, maka emiten atau perusahaan publik wajib menyampaikan laporan mengenai pinjaman termasuk jumlah pokok dan bunga, jangka waktu pinjaman, nama pemberi pinjaman, penggunaan pinjaman dan alasan kegagalan atau ketidakmampuan menghindari kegagalan kepada Bapepam dan Bursa Efek. Emiten atau perusahaan publik tercatat secepat mungkin paling lambat akhir hari kedua sejak emiten atau perusahaan publik mengalami kegagalan atau mengetahui ketidakmampuan untuk menghindari kegagalan dimaksud (Yani dkk, 2004:14).

Menurut Darsono dkk, (2005:101) dalam Karina (2014:20), “kesulitan keuangan dapat diartikan sebagai ketidakmampuan perusahaan untuk membayar kewajiban keuangannya pada saat jatuh tempo yang menyebabkan kebangkrutan perusahaan”. Kebangkrutan terjadi bila semua utang perusahaan melebihi nilai wajar asset totalnya. Suatu perusahaan dianggap gagal keuangan apabila tingkat pengembalian yang diperoleh perusahaan lebih kecil dari total biaya yang dikeluarkan dalam jangka panjang. Kesulitan keuangan yang terus-menerus dihadapi perusahaan karena biaya yang dikeluarkan melebihi dari pendapatannya akan mengancam kelangsungan usaha perusahaan dalam jangka panjang.

Analisis kebangkrutan diperlukan untuk memperoleh peringatan awal kebangkrutan. Alat pendeteksi dini kebangkrutan dibutuhkan untuk melihat tandatanda awal kebangkrutan. Semakin awal tanda kebangkrutan diperoleh, semakin baik bagi manajemen karena pihak manajemen dapat melakukan berbagai langkah perbaikan sebagai upaya pencegahan. Kreditur dan pemegang saham dapat melakukan persiapan untuk menghadapi berbagai kemungkinan buruk yang akan terjadi.

(9)

2.3.2. Penyebab Kebangkrutan

Kebangkrutan atau kegagalan kelangsungan usaha merupakan hal yang tidak diinginkan oleh perusahaan manapun, oleh karena itu perlu diketahui juga apa penyebab kebangkrutan agar manajemen dapat melihat segmen mana yang perlu diperbaiki guna mempertahankan kelangsungan usaha. Semakin cepat diketahui penyebab kebangkrutan maka akan semakin cepat dalam pengambilan keputusan manajer untuk mempertahankan kelangsungan usahanya.

Faktor-faktor penyebab kebangkrutan secara garis besar dibagi menjadi tiga (Jauch and Glueck dalam Karina, 2014:22) yaitu :

1. Faktor umum

a. Sektor ekonomi, pada gejala inflasi dan deflasi.

b. Sektor sosial, pada perubahan gaya hidup masyarakat yang mempengaruhi permintaan terhadap produk dan jasa.

c. Sektor teknologi, pada biaya yang ditanggung perusahaan membengkak terutama untuk pemeliharaan dan implementasi.

d. Sektor pemerintah, pada pengenaan tarif ekspor dan impor barang yang berubah, kebijakan undang-undang baru bagi perbankan atau tenaga kerja dan lain-lain.

2. Faktor eksternal perusahaan a. Sektor pelanggan

Perusahaan harus bisa mengidentifikasi sifat konsumen dengan menciptakan peluang untuk menemukan konsumen baru dan menghindar menurunnya hasil penjualan.

(10)

b. Sektor pemasok

Perusahaan dan pemasok harus tetap bekerja sama dengan baik karena kekuatan pemasok untuk menaikkan harga dan mengurangi keuntungan pembelinya tergantung pada seberapa jauh pemasok ini berhubungan dengan pedagang bebas.

c. Sektor pesaing

Perusahaan jangan melupakan pesaing, karena kalau produk pesaing lebih diterima oleh masyarakat maka perusahaan tidak akan kehilangan konsumen dan mengurangi pendapatan yang diterima.

3. Faktor internal perusahaan

a. Terlalu besarnya kredit yang diberikan kepada debitur atau pelanggan. Hal ini pada akhirnya tidak dibayar oleh para pelanggan pada waktunya.

b. Manajemen yang tidak efisien. Ketidakefisienan manajemen tercermin pada ketidakmampuan manajemen menghadapi situasi yang terjadi, diantaranya ialah: hasil penjualan yang tidak memadai, kesalahan dalam penetapan harga jual, pengelolaan hutang-piutang yang kurang memadai, struktur biaya, tingkat investasi dalam aktiva tetap dan persediaan yang melampaui batas, kekurangan modal kerja, ketidakseimbangan dalam struktur permodalan, dan sistem serta prosedur akuntansi yang kurang memadai.

c. Penyalahgunaan wewenang dan kecurangan-kecurangan. Hal ini banyak dilakukan oleh karyawan, kadang oleh manajer puncak dan hal ini sangat merugikan, apalagi kalau kecurangan itu berhubungan dengan keuangan perusahaan.

(11)

2.4. Model – model Analisis Kebangkrutan 2.4.1 Analisis modifikasi Z-Score Model Altman

Untuk mengantisipasi kelemahan dari formula asli Altman Z-score, ada beberapa solusi yang ditawarkan. Untuk perusahaan non-manufaktur, Altman mengeliminasi variable X5 (sales/total asset) karena rasio ini sangat bervariatif pada industri dengan ukuran asset yang berbeda- beda. Altman juga memodifikasi X4 dari membandingkan Market Value of Equity menjadi Book Value Of Equity. Berikut persamaan Z-Score yang di modifikasi Altman dkk (1995) untuk perusahaan nonmanufaktur:

Z = 6,56X1 + 3,26X2 + 6,72X3 + 1,05X4 Keterangan:

Z = bankruptcy index

X1 = working capital/total assets

X2 = retained earnings / total assets

X3 = earning before interest and taxes/total assets

X4 = book value of equity/total liabilities

Klasifikasi perusahaan yang sehat dan bangkrut didasarkan pada nilai Z-score model Altman Modifikasi yaitu:

a. Jika nilai ”Z” < 1,1 maka termasuk perusahaan yang bangkrut.

b. Jika nilai 1,1 < “Z” < 2,6 maka termasuk grey area (tidak dapat ditentukan apakah perusahaan sehat ataupun mengalami kebangkrutan).

c. Jika nilai “Z” > 2,6 maka termasuk perusahaan yang tidak bangkrut. Rasio-rasio yang digunakan adalah :

(12)

a. Net Working Capital to Total Assets

Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan modal kerja bersih dari keseluruhan total aktiva yang dimilikinya.

NWC to Total Asset = 𝑁𝑒𝑡 𝑊𝑜𝑟𝑘𝑖𝑛𝑔 𝐶𝑎𝑝𝑖𝑡𝑎𝑙

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡𝑠

b. Retained Earnings to Total Assets

Laba ditahan menunjukkan klaim terhadap aktiva, bukan aktiva per ekuitas pemegang saham. Laba ditahan terjadi karena pemegang saham biasa mengizinkan perusahaan untuk menginvestasikan kembali laba yang belum didistribusikan sebagai deviden dan tidak berbentuk kas.

R E to Total Assets = 𝑁𝑒𝑡 𝑊𝑜𝑟𝑘𝑖𝑛𝑔 𝐶𝑎𝑝𝑖𝑡𝑎𝑙 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡𝑠

c. Earning Before Interest and Tax to Total Assets

Earning Before Interest and Tax merupakan pendapatan sebelum ditambahkan atau dikurangi oleh bunga dan pajak.

d. Book Value of Equity to Total Liabilities

Rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai dari hutang. Artinya berapa besar beban utang yang ditanggung perusahaan dibandingkan dengan aktivanya. Dalam arti luas dikatakan bahwa rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang apabila perusahaan dibubarkan atau dilikuidasi (Endri : 2009).

BE to Total Liability = 𝐵𝑉𝐸 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐿𝑖𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑦

(13)

2.4.2. Analisis Model Springate

Model ini dikembangkan pada tahun 1978 oleh Gorgon L.V. Springate. Dengan mengikuti prosedur yang dikembangkan Altman, Springate menggunakan

step – wise multiple discriminate analysis untuk memilih empat dari 19 rasio keuangan yang popular sehingga dapat membedakan perusahaan yang berada dalam zona bangkrut atau zona aman. Model Springate merumuskan sebagai berikut :

S = 1,03A + 3,07B + 0,66C + 0,4D

Rasio keuangan yang dianalisis adalah rasio-rasio keuangan yang terdapat pada model Springate yaitu :

A = 𝑊𝑜𝑟𝑘𝑖𝑛𝑔 𝐶𝑎𝑝𝑖𝑡𝑎𝑙 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡 B = 𝑁𝑒𝑡 𝑃𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡 𝐵𝑒𝑓𝑜𝑟𝑒 𝐼𝑛𝑡𝑒𝑟𝑒𝑠𝑡 𝐴𝑛𝑑 𝑇𝑎𝑥𝑒𝑠 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡 C = 𝑁𝑒𝑡 𝑃𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡 𝐵𝑒𝑓𝑜𝑟𝑒 𝑇𝑎𝑥𝑒𝑠 𝐶𝑢𝑟𝑟𝑒𝑛𝑡 𝐿𝑖𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑖𝑒𝑠 D = 𝑆𝑎𝑙𝑒𝑠 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡

Model tersebut memiliki standar dimana :

1. Perusahaan yang mempunyai skor S > 0,862 diklasifikasikan sebagai perusahaan sehat.

2. Perusahaan yang mempunyai skor 0,862 < S < 1,062 diklasifikasikan sebagai perusahaan dalam kondisi rawan (grey area).

3. Perusahaan yang mempunyai skor S < 0,862 diklasifikasikan sebagai perusahaan potensial bangkrut.

(14)

Nilai cut-off yang berlaku untuk model ini adalah 0,862. Model ini memiliki akurasi 92,5%.

2.4.3. Analisis Model Zmijewski

Perluasan studi dalam prediksi kebangkrutan dilakukan oleh Zmijewski pada tahun 1983 menambah validasi rasio keuangan sebagai alat deteksi kegagalan keuangan perusahaan. Zmijewski melakukan studi dengan menelaah ulang studi bidang kebangkrutan hasil riset sebelumnya selama dua puluh tahun. Rasio keuangan dipilih dari rasio-rasio keuangan penelitian terdahulu dan diambil sampel sebanyak 75 perusahaan yang bangkrut, serta 3573 perusahaan sehat selama tahun 1972 sampai dengan tahun 1978, indikator F-test terhadap rasio-rasio kelompok, Rate of Return, liquidity, leverage, turnover, fixed payment coverage, trends, firm size, dan stock return volatility, menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara perusahaan yang sehat dan yang tidak sehat. Dengan kriteria penilaian semakin besar nilai X maka semakin besar kemungkinan / probabilitas perusahaan tersebut bangkrut. Model yang berhasil dikembangkan yaitu (Fanny dan Saputra, 2000:4) :

X = -4,3 – 4,5X1 + 5,7X2 – 0,004X3

Rasio keuangan yang dianalisis adalah rasio-rasio keuangan yang terdapat pada model Zmijewski yaitu :

X1 = 𝐸𝐴𝑇 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡𝑥 100% X2 = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐷𝑒𝑏𝑡 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡 𝑥 100% X3 = 𝐶𝑢𝑟𝑟𝑒𝑛𝑡 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡 𝐶𝑢𝑟𝑟𝑒𝑛𝑡 𝐿𝑖𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑖𝑒𝑠 Dimana :

(15)

X2 = Debt Ratio

X3 = Current Ratio

Model tersebut memiliki standar yaitu :

1. Cut-off yang digunakan dalam model ini adalah 0

2. Jika nilai Z positif maka perusahaan berpotensi bangkrut dan apabila negative perusahaan berarti sehat.

3. Tingkat akurasi dari model Zmijewski adalah 94,9%. 2.4.4. Analisis Model Ohlson

Penelitian prediksi kebangkrutan yang lain dilakukan oleh Ohlson (1980:114) dengan menggunakan model analisa logit kondisional dengan sampel amatan 105 perusahaan (industri manufaktur) yang bangkrut dan 2058 perusahaan tidak bangkrut pada periode 1970-1976. Terlihat dari jumlahnya, Ohlson (1980:114) tidak menggunakan teknik matched-pair sampling. Model yang dibangun Ohlson memiliki 9 variabel yang terdiri dari beberapa rasio keuangan, sebagai berikut (Ohlson, 1980:117-118):

O = -1,32 - 0,407X1 + 6,03X2 – 1,43X3 + 0,0757X4 – 2,37X5 – 1,83X6 + 0,285X7 – 1,72X8 – 0,521X9

Keterangan :

X1 = Log (total assets/GNP price-level index) X2 = Total liabilities/total assets

X3 = Working capital/total assets

(16)

X5 = 1 jika total liabilities > total assets ; 0 jika sebaliknya X6 = Net income/total assets

X7 = Cash flow from operations/total liabilities

X8 = 1 jika Net income negative ; 0 jika sebaliknya

X9 = (NIt – NIt-1) / (Nit + NIt-1), dimana NIt adalah net income untuk periode sekarang

Ohlson (1980) menyatakan bahwa model ini memiliki cut off point optimal pada nilai 0,38. Ohlson memilih cut off ini karena dengan nilai ini, jumlah error dapat diminimalisasi. Maksud dari cut off ini adalah bahwa perusahaan yang memiliki nilai O skor lebih dari 0,38 berarti perusahaan tersebut diprediksi mengalami kebangkrutan. Sebaliknya, jika nilai O skor perusahaan kurang dari 0,38, maka perusahaan diprediksi tidak mengalami tidak mengalami kebangkrutan. Selanjutnya akan diuraikan masing-masing rasio yang terdapat dalam model Ohlson, sebagai berikut:

a) X1 = Log (total assets/GNP price-level index)

Rasio ini mengukur ukuran perusahaan (firm size). Dimana rasio ini lebih fokus pada eksternal perusahaan, seperti ketidakpastian kondisi ekonomi makro (GNP price-level index). Semakin besar nilai rasio ini, maka semakin baik kinerja perusahaan. Rasio ini memiliki koefisien negatif yang mengakibatkan nilai O skor semakin kecil.

b) X2 = Total liabilities/total assets

Rasio ini merupakan salah satu rasio laverage yang menunjukan tingkat sejauh mana aktiva perusahaan telah dibiayai oleh penggunaan hutang. Rasio ini memiliki koefisien positif, yang menyebabkan nilai O skor seamakin besar. Jadi dalam rasio ini

(17)

menunjukan bahwa semakin besar nilai X2 maka semakin buruk pula kinerja perusahaan.

c) X3 = Working capital/total assets

Rasio ini dapat dikategorikan dalam rasio likuiditas. Mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek. Dimana semakin baik kemampuan perusahaan maka semakin besar nilai X3 tersebut. Rasio ini memiliki koefisien negatif, yang dapat memperkecil nilai O skor. Dalam model ini O skor yang semakin kecil menunjukan kinerja perusahaan yang semakin baik. Rasio ini sama dengan model Altman, dan Springate.

d) X4 = Current liabilities/current assets

Rasio ini mengukur likuiditas perusahaan, namun difokuskan dalam jangka pendek. Hal ini menunjukan tingkat sejauh mana aktiva perusahaan telah dibiayai oleh penggunaan hutang. Semakin besar nilai X4 yang dimiliki perusahaan, maka semakin besar nilai O skor dari perusahaan tersebut, karena memiliki koefisien positif. Dalam model ini, semakin kecil nilai O skor menunjukan kinerja perusahaanyang semakin baik.

e) X5 = 1 jika total liabilities > total assets ; 0 jika sebaliknya

Rasio ini mengukur likuiditas perusahaan. Cara menghitungnya adalah dengan memberikan nilai 1 jika total kewajiban perusahaan melebihi total aktivanya dan sebaliknya.

f) X6 = Net income/total assets

Rasio ini mengukur profitabilitas perusahaan. Rasio ini juga disebut sebagai ratio on investment (ROI). Semakin besar nilai rasio ini maka semakin baik kinerja perusahaan. Dengan demikian, jika O skor semakin kecil karena rasio ini memiliki koefisien negatif, maka kinerja perusahaan semakin baik.

(18)

g) X7 = Cash flow from operations/total liabilities

Rasio ini mengukur solvabilitas perusahaan, dimana dana yang digunakan untuk kegiatan utama perusahaan, yaitu: dana yang tersedia dari kegiatan operasi yang dibiayai dengan kewajiban perusahaan atau dengan hutang. Rasio tersebut menunjukan kemampuan perusahaan memberikan jaminan kepada debitur.

h) X8 = 1 jika Net income negatif ; 0 jika sebaliknya

Rasio ini mengukur profitabilitas perusahaan. Cara menghitungnya adalah dengan memberikan nilai 1 jika laba bersih perusahaan negative dua tahun berturut-turut. i) X9 = (NIt – NIt-1) / (NIt + NIt-1)

Rasio ini mengukur perubahan profitabilitas perusahaan. NI merupakan laba bersih untuk periode t dan sebelumnya. Nilai positif rasio ini menunjukan kondisi yang baik. Model ini mempunyai kriteria sebagai berikut:

1. Jika perusahaan memiliki skor O > 0,38, maka perusahaan tersebut diprediksi bangkrut.

2. Jika perusahaan memiliki Skor O < 0,38, maka perusahaan tersebut diprediksi tidak bangkrut.

Berdasarkan uraian di atas, dapat terlihat rasio-rasio yang digunakan dalam metode Z-Score model Altman, model Springate, model Ohlson dan model Zmijewski tidak hanya terfokus pada bagian-bagian keuangan perusahaan saja tetapi juga dapat dikorelasikan dengan beberapa indikator yang mungkin dapat mempengaruhi rasio-rasio tersebut. Hal ini berarti bahwa implementasi metode Z-Score model Altman, model Springate, model Ohlson dan model Zmijewski pada sebuah perusahaan di samping akan mendeteksi terjadinya kemungkinan kebangkrutan, juga akan mengarahkan perusahaan yang sedang mengalami masalah

(19)

dengan memperhatikan beberapa indikator yang berkaitan dengan likuiditas, profitabilitas, dan aktivitas perusahaan.

2.5. Kerangka Pemikiran

Analisis atas laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen suatu perusahaan diperlukan karena informasi yang disajikan relativ seragam, sedangkan kebutuhan dari pemakai laporan beragam. Pihak luar perusahaan tidak terlibat dalam operasional sehari-hari sehingga mereka hanya bergantung pada laporan keuangan yang disajikan. Kebutuhan mereka terkadang tidak dapat secara mudah dipenuhi oleh infomasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Diperlukan interprestasi, analisis dan bahkan proyeksi untuk memenuhi kebutuhan sebagian diri pengguna laporan keuangan tersebut.

Analisis dan interprestasi laporan keuangan merupakan suatu proses untuk membantu memecahkan masalah dan sekaligus menjawab masalah-masalah yang timbul dalam suatu organisasi perusahaan maupun organisasi yang tidak bertujuan untuk memperolah laba. Menurut Tunggal (2000:22) analisis dan interprestasi laporan keuangan adalah suatu alat yang dapat dipergunakan untuk membuat suatu keputusan antara lain rencana-rencana perluasan perusahaan, penanaman modal (investasi), pencarian sumber-sumber dana operasi perusahaan, dan lain-lain.

Dari pengertian-pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa analisis laporan keuangan adalah suatu alat yang dapat digunakan untuk memahami hubungan-hubungan yang terdapat dalam laporan keuangan sehingga dapat diperoleh gambaran keuangan perusahaan dengan jelas untuk pengambilan keputusan ekonomi.

Salah satu aspek pentingnya analisis terhadap laporan keuangan dari sebuahperusahaan adalah kegunaannya untuk meramal kontinuitas atau kelangsungan hidup perusahaan. Prediksi kelangsungan hidup perusahaan sangat penting bagi manajemen dan pemilik perusahaan untuk mengantisipasi kemungkinan adanya

(20)

potensi kebangkrutan. Financial distress merupakan kondisi dimana keuangan perusahaan dalam keadaan tidak sehat atau krisis. Financial distress terjadi sebelum kebangkrutan. Kebangkrutan sendiri biasanya diartikan sebagai suatu keadaan atau situasi dimana perusahaan gagal atau tidak mampu lagi memenuhi kewajiban – kewajiban debitur karena perusahaan mengalami kekurangan dan ketidakcukupan dana untuk menjalankan atau melanjutkan usahanya sehingga tujuan ekonomi yang ingin dicapai oleh perusahaan dapat dicapai yaitu profit, sebab dengan laba yang diperoleh perusahaan bisa digunakan untuk mengembalikan pinjaman, bisa membiayai operasi perusahaan dan kewajiban – kewajiban yang harus dipenuhi bisa ditutup dengan laba atau aktiva yang dimiliki. Model financial distress perlu untuk dikembangkan, karena dengan mengetahui kondisi financial distress perusahaan sejak dini diharapkan dapat dilakukan tindakan – tindakan untuk mengantispasi yang mengarah kepada kebangkrutan.

Apabila perusahaan termasuk dalam kategori perusahaan yang mengalami potensi kebangkrutan, maka para manajer diharapkan dapat segera melakukan perubahan dalam mengelola perusahaa atau hingga melakukan restrukturisasi jika perusahaan sudah termasuk dalam kategori mendekati kebangkrutan. Berdasarkan teori diatas dapat dikatakan bahwa dengan mengetahui kondisi potensi kebangkrutan perusahaan, penulis dapat memprediksi kondisi keuangan perusahaan.

Alat analisis yang dapat digunakan untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan adalah model Altman modifikasi Z-Score. Model ini merupakan model yang banyak digunakan karena Altman mengembangkan model tersebut dimulai dari Altman Z-Score, Altman Revisi Z-Score, dan Altman Modifikasi Z-Score. Model modifikasi dari Altman dapat diterapkan pada semua perusahaan, baik otomotif, non otomotif, maupun perusahaan penerbit obligasi di Negara berkembang.

Menurut Ramdhani (2008) dalam Z-Score modifikasi ini Altman mengeliminasi variable X5 (sales/total asset) karena rasio ini bervariatif pada pada

(21)

industry dengan ukuran asset yang berbeda-beda. Berikut persamaan Z-Score yang dimodifikasi Altman dkk (1995):

Z= 6,56X1 + 3,26X2 + 6,72X3 + 1,05X4

Selain menggunakan Altman modifikasi Z-Score metode lain yang dapat digunakan adalah model Springate yang dikembangkan pada tahun 1978 oleh Gorgon L.V. Springate. Model Springate adalah model rasio yang mengguakan Multiple Discrimanant Analysis (MDA). Dalam metode MDA diperlukan lebih dari satu rasio keuangan yang berkaitan dengan kebangkrutan perusahaan untuk membentuk suatu model yang baik. Untuk menentukan rasio-rasio mana saja yang dapat mendeteksi kemungkinan kebangkrutan, Springate menggunakan MDA untuk memilih 4 rasio dari 19 rasio keuangan yang popular dalam literature-literatur, yang mampu membedakan secara terbaik antara sound business yang pailit dan tidak pailit. Menurut Ramdhani (2008) model ini menghasilkan tingkat keakuratan sebesar 92,5% dengan menggunakan 40 perusahaan yang diuji oleh Springate model yang berhasil dikembangkan oleh Springate adalah:

S= 1,03A + 3,07B + 0,66C + 0,4D

Model lain yang dapat digunakan untuk memprediksi kebangkrutan yaitu Zmijewski. Perluasan studi dalam prediksi kebangkrutan dilakukan oleh Zmijewski (1983) melakukan studi dengan melakukan review studi bidang kebangkrutan. Rasio keuangan yang digunakan pada model ini dipilih dari rasio keuangan yang telah diguakan pada penelitian terdahulu dan sebanyak 75 perusahaan yang bangkrut serta 3573 perusahaan sehat selama tahun 1972 sampai denga 1978 dijadikan sampel. Perbedaan yang signifikan antara perusahaan yang sehat dan yang tidak sehat ditunjukkan oleh indicator F-test terhadap rasio-rasio kelompok, fixed payment coverage, liquidity, trends, Rate of Return, firm size, stock return volatility, leverage,

(22)

perusahaan tersebut bangkrut menjadi kriteria penilaian model ini. Model yang berhasil dikembangkan yaitu (Imanzadeh:2011):

Z= -4,3 – 4,5X1 + 5,7X2 – 0,004X3

Metode terakhir yang dapat digunakan adalah Ohlson. Ohlson (1980) terinspirasi oleh penelitian-penelitian sebelumnya dan melakukan modifikasi atas studinya. Ohlson menggunakan data tahun 1970-1976 dan sampel sebanyak 105 perusahaan yang bangkrut dan 2058 perusahaan yang tidak bangkrut (tidak menggunakan match-oair sampling). Jika Altman (1968) dan Beaver (1966) menggunakan sumber data dari Moody’s Manual maka Ohlson (1980) menggunakan metode statistic conditional logistic. Ohlson berpendapat bahwa metode ini dapat menutupi kekurangan yang terdapat di metode MDA yang digunakan oleh Altman.

Mula-mula Ohlson (1980) membangu 3 buah model, dimana setiap model terdiri dari variable-variabel yang sama. Model yang dibangun Ohlson memiliki 9 variabel yang terdiri dari beberapa rasio keuangan. Berikut ini adalah model Ohlson (1980):

O= -1,32 – 0,407X1 + 6,03X2 – 1,43X3 – 0,0757X4 – 2,37X5 – 1,83X6 + 0,285X7 – 1,72X8 – 0,521X9

Teori diatas didukung oleh beberapa penelitian sebelumnya, berikut ini adalah beberapa penelitian terdahulu yang telah melakukan penelitian serupa:

(23)

Tabel 2.1.

Ringkasan Penelitian Terdahulu

No. Nama/Tahun Judul Sektor Hasil

1. Veronita Wulandari, Emrinaldi Nur DP, dan Julita. (JOM FEKON Vol. 1 No. 2 Oktober 2014) Analisis Perbandingan Model Altman, Springate, Ohlson, Fulmer, CA-Score, dan Zmijewski Dalam Memprediksi Financial Distress pada Perusahaan Food and Beverages yan Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2012. Makanan dan Minuman

Hasil olah data regresi perbandingan

masing-masing model yang digunakan dalam

memprediksi kondisi Financial Distress

perusahaan dapat dilihat pada tabel regresi

setiap model yang telah dijelaskan diatas.

Semua Tabel tersebut menunjukkan nilai

koefisien determinasi dan nilai signifikansi F

setiap model yang diperbandingkan. Hasil

menyatakan bahwa model Ohlson memiliki

nilai koefisien determinasi tertinggi sebesar

54,8% dan nilai signifikansi F sebesar 0.041

yang menyatakan bahwa model Ohlson merupakan

(24)

No. Nama/Tahun Judul Sektor Hasil

model yang memiliki tingkat akurasi paling tinggi dibandingkan model lain dalam memprediksi kondisi financial distress

perusahaan Food and Beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. 2. Niken Savitri Primasari (Accounting and Management Journal, Vol. 1, No. 1, July 2017) Analisis Altman Z-Score, Grover Score, Springate, dan Zmijewski Sebagai Signaling Financial Distress (Studi Empiris Industri Barang-Barang Konsumsi di Indonesia) Makanan dan Minuman

Hasil olah data regresi perbandingan masing-masing model yang digunakan dalam memprediksi kondisi financial distress perusahaan dapat dilihat pada tabel regresi setiap model yang telah dijelaskan di atas. Semua tabel tersebut menunjukkan nilai koefisien determinasi dan nilai signifikansi F setiap model yang diperbandingkan. Hasil menyatakan bahwa model altman Z-score memiliki nilai koefisien determinasi tertinggi sebesar 72.2% dan nilai signifikansi F sebesar 295.994 yang menyatakan bahwa model altman Z-scores

(25)

No. Nama/Tahun Judul Sektor Hasil

merupakan model yang memiliki tingkat akurasi paling tinggi dibandingkan model lain dalam memprediksi kondisi financial distress perusahaan-perusahaan yang termasuk dalam industri barang-barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

3. Halkadri Fitra (Padang-Indonesia. ISBN: 978-602-17129-5-5) Analisis Komparasi Model Potensi Kebangkrutan Pada Perusahaan Semen Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia.

Manufaktur Model Zmijewski memiliki keefektifan hingga

100% dalam memprediksi kebangkrutan perusahaan semen di Bursa Efek Indonesia dimana semua prediksinya

sesuai dengan realitas yang terjadi dari tahun 2012 sampai tahun 2014. Sedangkan Model Altman Z Score dan

Model Springate memberikan persentase sebesar 77,78%, hal ini terjadi karena dari 9 item yang menjadi objek prediksi menghasilkan 7 item sesuai dan 2 lagi tidak sesuai.

(26)

No. Nama/Tahun Judul Sektor Hasil

Dua item yang tidak sesuai terjadi pada tahun 2013

dan 2014 pada perusahaan dimana terjadi ketidaktepatan dalam memprediksi kebangkrutan PT. Holcim Indonesia Tbk (SMCB). 4. Peyman, Mehdi and Petro. (Australian Journal of Basic and Applied Sciences, 5 (11): 1546-1550, 2011 ISSN 1991-8178) Page 1-5. A Study Of Aplication of Springate and Zmijewski Bankruptcy Prediction Models in Firms Accepted in Tehran Stock Exchange.

Dalam penelitian ini , peneliti mengatakan bahwa model model Springate lebih konservatif dibandingkan dengan model Zmijewski dalam prediksi kebangkrutan karena perusahaan yang diidentifikasikan sebagai perusahaan bangkrut berdasarkan data dari rasio

keuangan. 5. Applied

Scientific Research. 2014) Page 1-9.

Model and Its Predictabillity, A Case of Karachi Stock Exchange.

yang diprediksi dengan kesalahan Tipe I dan Tipe II. Dalam penelitian ini

probabilitas kebangkrutan diwakili oleh 3 rasio yaitu

(27)

No. Nama/Tahun Judul Sektor Hasil

ekuitas, laba bersih, dan arus kas. Jika rasio ini menunjukkan nilai positif, maka menunjukkan perusahaan itu sehat.

6. Vahdat Aghajani and Mohammad Jouzbarkand (2012. DOI: 10.7763/IPEDR. V54.2.) Page 1-5 The Creation of Bangkruptcy prediction Model using Springate and SAF Models.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang dibuat dapat memprediksi kebangkrutan tetapi tidak sama variable. Penelitian ini menggunakan regresi logistik.

(28)

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disusun bagan kerangka pemikiran sebagai berikut: Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Perusahaan Laporan Keuangan Financial Distress Altman Modifikasi Z-Score Kinerja Keuangan Analisis Rasio

Springate Zmijewski Ohlson

Bangkrut Tidak Bangkrut

(29)

2.6. Hipotesis

Berdasarkan uraian kerangka pemikiran yang telah diuraikan pada Gambar 2.1, maka dapat disimpulkan hipotesis awal penelitian ini adalah:

“Terdapat perbedaan yang signifikan antara model Altman modifikasi Z-Score, Springate, Zmijewski dan Ohlson dalam memprediksi kebangkrutan pada perusahaan Otomotif yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2012-2016.”

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu, penulis akan membahas kebijakan pengelolaan hutan berdasarkan Pasal 3 Ayat (3) Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.20/Menhut-II/2012, yang

Dalam penelitian ini yang menjadi rumusan masalah adalah: Apakah penerapan konseling agama dengan pendekatan BH, RET, dan CC dapat mengatasi resistensi siswa

perusahaan daerah untuk pendanaan pembangunan bidang Cipta Karya dalam lima tahun. ke depan sesuai jangka

Menurut anda apakah harga produk yang anda konsumsi cukup

Tabel I Klasifikasi hipertensi menurut JNC 7...13 Tabel II Algoritma penatalaksanaan hipertensi berdasarkan JNC 7 ...18 Tabel III Pemberian Antihipertensi pada Pasien dengan

Selain dengan sholat dhuha ada juga kegiatan PHBI (peringatan hari besar islam), dengan adanya kegiatan ini siswa akan lebih tahu apa itu agama islam. Maka, dengan

Hasil : Implementasi pada dilakukan selama 1x20 menit, melakukan pendidikan kesehatan tentang pengertian demam tifoid, tujuan diberikan pendidikan kesehatan,

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menilai apakah output sudah sesuai dengan tujuan yang ditetapkan atau belum adalah melalui pengukuran