Eksperimen dan Prediksi Penyerapan n-Amylalkohol dalam Poly(n-butyl methacrylate) (Gede Wibawa)
EKSPERIMEN
DAN PREDIKSI
PENYERAPAN
N-AMYLALCOHOL
DALAM
POLY(N-BUTYL METHACRYLATE)
Gede Wibawa
Jurusan Teknik Kimia, FTI - ITS Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111
ABSTRAK
EKSPERIMEN DAN PREDIKSI PENYERAPAN N-AMYLALCOHOL DALAM POLY(N-BUTYL METHACRYLATE). Dalam penelitian ini, penyerapan (sorption) dari n-amilalkohol dalam dari poly(n-butyl
methacrylate) diukur secara percobaan dengan metode piezoelectric quartz crystal Microbalance pada suhu 333,15 K,343,15 Kdan 353,15 K. Kristal yang digunakan adalah jenis AT-Cut 5 MHz, diameter 5,5 mmdanketebalan 0,3 mm. Reliabilitas dari pengukuran di tes dengan membandingkan hasil pengukuran dengan data literatur untuk sistem benzene-polyisobutylene pada suhu 338,15K. Diperoleh bahwa semakin tinggi suhu, penyerapan n-amil alkohol dalam dari poly(n-butyl methacrylate) semakin rendah. Data percobaan dikorelasikan menggunakan persamaan UN/QUAC dengan rata-rata deviasi absolut sebesar 3,8 %. Data terse but juga dibandingkan dengan prediktifmode kontribusi grup UN/FAC-FVdan UN/FAC-ZM.
Kata kunci : N-amylalcohol, poly(n-butyl methacrylate), UN/QUAC
ABSTRACT
EXPERIMENTAL AND PREDICTION OF THE ABSORPSTION ON N-AMYLALKOHOL IN POLY(N-BUTYLMETHACRYLATE). In this work, sorption ofn-amyla1cohol in poly(n-butyl methacrylate were determine experimentally using the piezoelectric quartz crystal microbalance method at temperatures 0033.15 K, 343.15 K and 353.15 K. The crystal used was AT-Cut 5 MHz, 5.5 mm in diameter and 0.3 in thick. The reliability of the measurements was confirmed by comparing present data with literature data for benzene-polyisobutylene system at temperature of338.15 K. The sorption ofn-amyla1cohol in poly(n-butyl methacrylate) decreases with increasing temperature. Data obtained in this work were correlated using the UNIQUAC equation with average absolute deviation 00.8%. Comparisons were also made with predictive group contribution UNIFAC-FV and UNIFAC-ZM models.
Key words: N-amylalkohol, poly(n-butyl methacrylate), UN/QUAC
PENDAHULUAN
Proses polimerisasi selalu melibatkan pelarut (solvent) dimana pelarut, monomer yang tidak terpolimerisasi dan oligomer hams dipisahkan dari produk akhir polimer sehingga produk terse but sesuai dengan standar kesehatan, keamanan dan memenuhi peraturan-peraturan lingkungan. Untuk dapat mendesain proses dan peralatan pemisahan yang rasional diperlukan pengetahuan penyerapan
solven atau solubilitas pelarut dalam larutan
polimer.
Data solubilitaspelarut dalam polimer telah banyak dipublikasi salah satunya dalam Polymer
Data Collection [1]. Namun data tersebut masih
sangat terbatas baik dari jumlah maupun kondisinya jika dibandingkan dengan banyaknya data yang tersedia untuk sistem non-polimer.
Aplikasi metode quartz crystal microbalance (QCM) untuk mengukur solubilitas
uap pelarut dalam polimer telah banyak digunakan dalam mengukur solubilitassolven dalam polimer [2- 7] karena metode terse but mempunyai kelebihan antara lain pencapaian kondisi kesetimbangan cepat, sensitif dan dibutuhkan sampel polimer dalam jumlah sangat sedikit jika dibandingkan teknik-teknik lain seperti
SOLUBILITAS
SOLVEN
DALAM LARUTAN POLIMERSolubilitasuappelarutdalam larutanpolimer adalah kesetimbangan termodinamika antara fasa uap dan cair sehingga salah satu syarat teIjadinya kesetimbangan tersebut adalah isofugasitas yaitu fugasitas pelarut dalam fasa uap sarna dengan fugasitas pelarut dalam fasa cair:
quartz spring balance [8] dan kromatografi gas-liquid [9].
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur penyerapan uap n-amylalkohol dalam
poly(n-butyl methacrylate) pada suhu 333,15
K, 343,15 K dan 353,15 K dengan metode
QCM. Data yang diperoleh dikorelasikan dengan persamaan UN/QUAC
[10]
dan dibandingkan dengan hasil prediksi menggunakan model-model kontribusi grup UN/FAC-FV[II] dan UN/FAC-ZM[12].A A
f..V = <PI y\P .
(1)
(2)
dimana koefisien p1:amaan-virial, B dapat dihitung dari korelasi Tsonopolou} [13]. Pada umumnya, solubilit~ pelarut sial am poli~er pada suhu tertentu din~bagai hubungan antara fraksi masa pelarut dalam polimer dengan aktifitaspelarut Sehingga berdasarkan persamaan (7) aktifitas mengekpresikan tekanan kesetimbangan.
MODEL-MODEL TERMODINAMIKA Aktifitas pelarut dalarn larutan polimer dapat dikorelasikan dengan persamaan
UN/QUAC, karena persamaan tersebut terdiri
dari dua suku yaitu suku kombinatorial yang memperhitungkan perbedaan ukuran antara pelarut yang berukuran kecil dan polimer yang berukuran besar, dan bagian residual yang memperhitungkan pengaruh entalpi pencampuran yang diakibatkan oleh interaksi antar molekul. Untuk campuran biner, persarnaan UN/QUAC dari aktifitas pelarut dalam polimer adalah :
lna\ = lnalc
+
lnaJR ••••••••••••••••••••• (8) Untuk suku kombinatorial:(3)
Karena polimer tidak mudah menguap maka fasa uap hanya terdiri dari pelarut murni, sehingga persamaan (2) menjadi:
dimana z ditetapkan nilainya sarna dengan 10.
(4) <Pclan8jmasing-masing didefmisikan : Fugasitas komponen murni pada tekanan
rendah bisa diperkirakan dengan persamaan berikut:
rjWj
CfJ; = Ljrj wj
(11)
Untuk tekanan rendah koefisien fugasitas bisa diperkirakan dengan persamaan virial
sampai suku ke 2 sehinggapersamaan (6) menjadi:
p [_ B (p"WI _ P )]
a = -- exp __ I~I __ ~ (7)
J ~'WI RT .
(14)
(13)
Parameter rj dan q; dihitung dari
penjurnlahan parameter-parameter grup volume molar,Rk dan parameter area group Qk :
(12) qjWj OJ = Lj'q j wj (6) (5)
r
= ",satp,saJ J\ '1'\ \ '" p p,,'al'" ,wI '1'1 = a\ \ '1'1 •••••••••••••••••••••••••Sehingga persamaan (I) menjadi
Parameter group Rk dan Qk didapat dari
volume group Van der Waals, Vwk dan luas
permukaan, AWkd yang didifinisikan:
Rk = Vwk/15.17 (15)
Qk =AWk /2. 5 x109 ••••••••••••••••••• (16)
Parameter-parameter interaksi antar molekul
didifinisikan:
(a
J£'if = exp - ; (17)
dimana aijdioptimasi dari data eksperimen. Untuk
sistem biner, dibutuhkan 2 parameter interaksi
(at2 dan a2t) untuk tiap sistem.
Disamping model korelasi, aktivitas pelarut
juga bisa diperkirakan dengan model UNIFAC
Free-Volume (UNIFAC-FV) dari Oishi and Prausnitz [11]. Model UNIFAC-FV ini
merupakan modifikasi dari persamaan UNIFAC
[14] yaitu dengan memperhitungkan perbedaan
free-volume yang besar antara pelarut dan
polimer. Untuk campuran biner,aktifitas solvent
adalah:
dimana
loot
adalah suku residual yang diambildari model UNIFACdengan interaksi parameter
grup diambil dari sistem dengan berat molekul
rendah. Suku rree volume, InatV :
Volume reduced volume dari solven, VI
dinyatakan dengan :
v; = VI
15.17br/ (20)
dimana
vt
adalah jumlah group tipe kdalammolekul
i.
Untuk menyederhanakan perhitungan,volume campuran liquid diasumsikan sebagai
volume penjumlahan. Sehingga, volume reduced
campuran menjadi:
v.w. +V2W2 vM =
---15. 17b(lj'wt
+
r;wz) (22)Suku free-volume mengandung dua
parameter yang dapat diatur (b dan ct)' dimana
ct telah ditetapkan dengan nilai numerik sarna
dengan 1,1 clanbadalah faaktor proposional yang
telah dioptimasi berdasarkan data eksperimen clan
diperoleh nilai badalah 1,28.
Karena model UNIFAC-FV'membutuhkan
informasi ly~erty volumetric b~ik solven
maupun poHmer, Zhong dkk [12] mengusulkan>--
--model yang dlsebutUNIFA"C-ZMmodel. Model
ini merupakan modifikasi dari UN/FAC model
dimana pengaruhfree-volume dimasukan pada
suku combinatorial dari persamaan UN/FAC:
dimana
, x\r\
¢. = Xtr•
+
Xz[0.6583nr(1) ] (24)Model ini telah mengakomodasi pengaruh
free volume walaupun tidak tertulis secara
eksplisit. Sarna dengan model UNIFAC-FV,
model ini juga menggunakan suku residual,
dari model UNIFAC dengan interaksi parameter
grup diambil dari sistem dengan berat molekul rendah
Dari kedua model prediksi tersebut, salah
satu keuntungannya adalah banyaknya tersedia
parameter-parameter interaksi grup fungsional
yang dapat dimanfaatkan secara luas untuk
memperkirak~ sistem-sistem yang terdiri dari
berbagai jenis pelarut dan polimer.
METODEPERCOBAAN Prinsip Dasar Metode QCM
Metode piezoelectric quartz crystal
microbalance merupakan metode gravimetri dimana massa uap pelarut yang terserap dalam
perubahan frekuensi (frequency shift) yang
dinyatakan oleh Sauerbrey [15]:
Bahan
Bahan yang digunakan dalam eksperimen ini adalah dua jenis pelarut organik, yaitu:
benzene dan n-amylalcohol pure analys (99%) yang..diperoleh dari E. Merck, Darmstadt tanpa dilakukan pemurnian lebih lanjut. Polimer yang digunakan ada dua jenis yaitu
poly n-butylmethacrylate (PBMA) dan
polyiso butilene (PIB) diperoleh dari Aldrich
V2
dimana C adalah konstanta yang tergantung dari properti fisik dan geometris kristal. Persamaan diatas diaplikasikan pada dua kasus dari pelapisan polimer (frequency shift,
Mo
akibat dari massa film polimer, Ilmo) dan uap pelarut yang terserap pada polimer(frequency shift, akibat dari massa pelarut yang terserap ke film polimer, ). Sehingga, fTaksi massa pelarut yang terserap pada polimer, dapat diperoleh dari pengukuran perubahan frekuensi yang ditunjukkan dengan persamaan berikut :
I:1F= -Cl:1m (25)
Tabell. Karakteristik PIB dan PBMA. Polimer 10.3 M..!g.morlT",IKT/K
PIB 197,2 274,7500 PBMA 288,2 -337
Chemical Co., Inc., dengan karakteristik ditunjukkan pada Tabel 1.
Peralatan
Diagram skematis peralatan QCM ditunjukkan dalam Gambar 1, dimana terdiri dari 4 bagian utama yaitu sorption cell, tangki pelarut,unitpengukuran frekuensidan unit vakum. Suhu sorption cell dan tangki pelarut diukur dengan four-wire platinum resistance suhu detectors, kemudian dicatat dengan digital suhu indicator (YOKOGA WA 7563) Kays dengan
ketelitian
±
0,03 K. Untuk menjaga suhu padasorption cell, waterbath dengan suhu kontrol diinstall pada sorption cell. Sedangkan suhu solvent tank dikontrol dengan suhu controller
(Shimaden CO., LTD Japan). Ketelitian dari kedua suhu kontroler tersebut adalah 0,1 K. Untuk menghindari terjadinya kondensasi uap pelarut,suhu salurandari tangki pelarut ke sorption
cell diset (5-10) K lebih tinggi dari suhu cell
dengan memasang tape heater sepanjang aliran tersebut.
I Vacuum pump 2 Ethylene glycol bath 3 Solvent tank 4 Water Jacket 5 Sorption cell 6 Quartz crystals 7 AC-supply 8 Oscillator 9 Scanner 10 Frequency counter
I···~Heated region
Gambar I. Diagram skematis metode QCM
Cara Kerja
Prosedur yang dilakukan dalarn penelitian ini dibagi menjadi tiga tahap yaitu: tahap po timer
coating,tahap pengukuran frekuensi kristal dan tahap pengolahan data.
Tahap Polymer Coating
Pada tahap ini, kedua permukaan dari
kristal dilapisi dengan larutan polimer. Larutan polimer dibuat dengan melarutkan polimer dalarn
toluena dengan konsentrasi 1%mass a polimer
dan dipanaskan pada suhu 80°C. Satu tetes
larutan diteteskan pada permukaan kristal yang
bersih yang diletakkan secara horisontal dan
dibiarkan kering pada suhu ruang. Prosedur ini
diulang untuk sisi kristal yang lain sampai
ketebalan film yang diinginkan (0,3 - 0,8) V4m
sesuai denganfrequency shift untuk polymer
coating (= 3000 Hz sarnpai dengan 8000 Hz) sesuai yang disarankan oleh Masuoka dkk [4]. Tabap Pengukuran Frekuensi
Frekuensi kristal yang bersih ditentukan
pertama kali pada suhu yang diinginkan dan
frekuensinya dicatat sebag~i Fo' Setelah semua
kristal dilapisi polimer kemudian kristal diinstall
padasorption cell.Zat-zat yang mudah menguap,
kotoran dan udara dikeluarkan dari celldengan
menjalankan pompa vakum sampai frekuensi
kristal konstan dan frekuensi kristal terlapisi
polimer dicatat sebagai Ft' Kemudian uap pelarut dialirkan ke cell dari tangki pelarut dan frekuensi masing-masing kristal dicatat sebagai fungsi waktu. Jika frekuensi telah mencapai nilai stabil dengan toleransi kurang lebih 5 Hz, maka nilai frekuensi
dicatat sebagai nilai kesetimbangan F2•Pada saat
kesetimbangan tersebut suhu sorption celldan
tangki pelarut juga dicatat. Tahap Pengolahan Data
Fraksi massa pelarut yang terserap pada polimer ditentukan dengan menghitung perubahan frekuensi akibat lapisan polimer, dan perubahan frekuensi akibat terserapnya pelarut pada polimer:
(27) (28)
Sehingga fraksi massa dapat ditentukan
dengan persamaan (26). Aktifitas pelarut dihitung
dengan persamaan (7) dimana tekanan
kesetimbangan P sarna dengan tekanan tekanan
uap pelarut mumi pada suhu tangki pelarut dan
tekanan uap pelarut, pada suhu sorption cell.
Tekanan uap dari pelarut dihitung dengan
persarnaan Wagnerdengan konstanta diperoleh
dari Poling dkk [16].
Perkiraan
UncertaintyUncertainty dalam eksperimen dapat
timbul dari pengukuran frekuensi dan suhu baik
pada sorption cellmaupun tangki pelarut. Akurasi
dalarn pengukuran perubahan frekuensi selarna
percobaan adalah ±5 Hz dan akurasi pengukuran suhu termasuk kontrol ± 0,13 K. Dari analisis
uncertaintyyang telah dilakukan diperoleh bahwa maksimum uncertainty dalarn pengukuran fraksi
masa pelarut adalah 7%yang ditemukan pada
pengukuran solubilitas terendah untuk sistem
n-amylalkohol
+
PBMA. Untuk data dengansolubilitas lebih tinggi uncertainty semakin
rendah. Berdasarkan akurasi pengukuran suhu,
korelasi untuk perhitungan tekanan uap dan
korelasi untuk perhitungan koefisien persarnaan
virial, uncertainty dari aktifitas pelarut tidak
lebih dari 1%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Reliabilitas pengukuran dikonfirmasi
dengan membandingkan data solubUitas yang
diperoleh pada penelitian ini d~ data publikasi
yang ada [4] untuk sistem benzene
+
PIB padasuhu 338,15 K. Data eksperimen sesuai
dengan data publikasi, seperti ditunjuk_
pada Garnbar 2.
Data solubilitas yang diperoleh
pada eksperimen untuk sistem n-amjlalcohol
+
PBMA ditunjukkan pada Tabel 2. Dari hasil
yang diperoleh terlihat bahwa solubilitas
amylalcohol dal~ PBMA meningkat dengan
naiknya suhu seperti ditunjukkan pada
Garnbar3.
Persamaan UNIQUAC dipilih untuk
mengkorelasikan data percobaan karena
0.02 0.03 WI [-]
Gambar 3. Aktifitas n-amylaleohol, al dalam PBMA
Benzene( I )-PIB(2) I 0.8 0.6 ~ ....!.... (j'"0.4 T=338.15 K A This work
0.21-/~
<> Masuoka dkk (1984) UNIQUAC eq.V.
I .I . I. I .I . 0 0.150.250.050.30.10.2 WI [-]Gambar 2. Aktifitas benzena, a,dalam PIB.
0.8
0.6
0.4
0.2
o
Amyl alkohol (1)- PBMA(2) m 333.15 K
A 343.15 K
(I) 353.15 K -- UNIQUAC eq.
0.01 0.04 0.05
Tabel2. Solubilitas n-amylaleohol dalam PBMA
TIK WIal 333.15 0.025 0.312 0.027 0.342 0.030 0.379 0.031 0.422 343.15 0.020 0.341 0.024 0.411 0.028 0.492 0.031 0.555 0.036 0.627 0.038 0.693 0.042 0.750 0.046 0.813 0.051 0.897 353.15 0.0080.211 0.013 0.331 0.020 0.407 0.023 0.483 0.027 0.556 0.031 0.626 0.033 0.694 0.037 0.761 0.040 0.828 0.046 0.891
kombinatorial yang dapat mengakomodasi perbedaan ukuran molekul yang sangat besar antara pelarutdanpolimer [10].
Parameter interaksi antar molekul dari persamaan UNIQUAC didefinisikan dengan fungsi linierterhadap suhu :
aij=a~O)+a~')(T-273.15) (21)
146
dimana untuk sistembiner a(O)12' a(O)2]' a(l)12 dan aW adalah parameter yang tidak tergantung pada suhu. sehingga untuk satu sistim
pada range suhu 333,15
K
sampai 353,15K
hanya dibutuhkan satu set parameter. Parameter-parameter interaksi daJipersamaan
UN/QUAC yang diperoleh pada penelitian ini ditunjukkan pada TabE.{3.Aver~ absolute
deviation (AAD) untuKalffiIitas pelarut
l..antara data eksperimen dan hasil perhitungan adalah 3,8 %.
Tabel3. Parameter interaksi persamaan Uniquae untuk sistim n-amylalkohol-PBMA pada range suhu
333,15 K sampai dengan 353,15 K; Parameter .. AAD*/% a(o) = -1230,622 12 art) = -197,036 12 3,8 a(O) = 2121 a(l) = 0,00132,07
Data hasil eksperimenjuga dibandingkan dengan hasil perkiraan dengan menggunakan persamaan UN/FAC-FV dan UN/FAC-Z1w dimana diperoleh AAD antara aktifitas pelarut data percobaan dengan hasil perkiraan
menggunakan persamaan UN/FAC-FV dan UN/FAC-ZM masing-masing adalah 27,9% dan 34,2%.
KESIMPULAN
Pada eksperimenini, solubilitasuntuksistem n-amylalkohol dalam PBMA telah dukur dengan peralatan QCM pada range suhu 333,15 K, 343,15 K dan 353 K. Validasi pengukuran dikonfirmasi dengan membandingkan data eksperimen dan data literatur yang ada untuk sistem benzene + PIB pada suhu 338,15 K. Solubilitasn-amylaIkoholdalam PBMA menurun dengan kenaikan suhu. Data terse but dapat dikorelasikan menggunakan persamaan
UN/QUAC denganAAD 3,8 %. AAD aktifitas pelarut antara data percobaan dengan hasil prediksi menggunakan model UN/FAC-FV dan UN/FAC-ZM masing-masing adalah 27,9% dan 34,2%.
UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis mengucapkan terimakasih kepada Dept. of Chern. Eng. Graduate School of Engineering, Hiroshima University atas Hibah peralatan eksperimen.
DAFTAR PUSTAKA
[1]. WEN, H.; ELBRO, H. S. and ALESSI, P. Polymer Solution Data Collection Part 2+3; DECHEMA Chemistry Data Series; DECHEMA: Frankfurt am Main, Germany, (1992)
[2]. BOUDOURIS, D., PRINOS,
J.,
BRIDAKIS, M., PANTOULA, M. and Panayiotou" C., Measurement ofHFC-22 and HFC-152a sorption by polymers using a quartz crystal microbalance, /nd. Eng.Chern. Res., ,40, (2001) 604-611
[3]. FRENCH, R. N. and KOPLOS, G. J., Activity Coefficients of Solvents in Elastomers Measured with a Quartz Crystal Microbalance, Fluid Phase Equilib.,
158-160, (1999) 879-892
[4]. MASUOKA, H., MURASHIGE, N. and YORIZANE, M., Measurement of
Solubility of Organic Solvents in Polyisobutylene using the Piezoelectric-quartz Sorption Method, FlUid Phase
Equilib., 18, (1984) 155-169
[5]. WIBAWA, G, TAKAHASHI, M., SATO, \':; TAKISHIMA, S. and MASUOKA, H, Solubility of Seven Nonpolar Organic Solvents in Four Polymers using the Piezoelectric-quartz Sorption Method, J. Chern. Eng. Data, 47, (2002) 518-524
[6]. WIBAWA, G., HATANO, R., SATO, \':, TAKISHIMA, S. and MASUOKA, H., Solubility of 11 Polar Organic Solvents in Four Polymersusing the Piezoelectric-quartz Sorption Method, J. Chern. Eng. Data,
47, (2002) 1022-1029
[7] WONG, H., C., CAMPBELL, S., W. and BHETHANABOTLA, V. R., Sorption of Benzene, Toluene and Chloroform by Poly(styrene) at 298.15 K and 323.15 K using a Quartz Crystal Balance, Fluid
Phase Equilib.,139, (1997) 371-389
[8]. LIEU, J.G., PRAUSNITZ, J. M. and GAUTHIER, M., Vapor-liquidEquilibriafor Binary Solutions Arborescent and Linear Polystyrenes, Polymer, 41,(2000) 219- 224.
[9]. MALONEY, D. P. and PRAUSNITZ, J. M., Solubilities of Ethylene and Other Organic Solutes in Liquid, Low-Density Polyethylene in the Region 124°Cto 300°C,
A/ChE J.,22, (1976) 74-82
[lO].ABRAMS, S. and PRAUSNITZ, J. M., Statistical Thermodynamics of Liquid Mixtures: ANew Expression for the Excess Gibbs Energy of Partly or Completely Miscible Systems, A/ChE J. 21, (1975)
116-128
[ll].OISHI,-T. and PRAUSNITZ,
J.
M., Estimation of Solvent Activities in Polymer Solutions Using a Group Contribution Method, /nd. Eng. Chern. Process Des. Dev., 17, (1978) 333-339[12].ZHONG C., SATO \':, MASUOKA H. and CHEN
x.,
Improvement of Predictive Accuracy of the UNIFAC Model for Vapor-liquid Equilibria of PpolymerSolutions, Fluid Phase Equilib.,123,(1996)
97 -106
[13].TSONOPOULUS, C., (1974), An Empirical Correlation of Second Virial Coefficients AIChE J, 20, (1996) 263 [14].FREDENSLUND, AA., JONES, R. L.
and PRAUSNITZ, J. M., Group Contribution Estimation of Activity Coefficients in Nonidea1 Liquid Mixtures,
AIChEJ, 21, (1975) 1085-1099
[15].Sauerbrey, G., Verwendung von Schwingquarzen zur Schichten und Zur, Z. Phys., 155, 206-222
[16].POLING, B. E., PRAUSNITZ, J. M. and O'CONNEL, J. P., The Properties of Gas and Liquids, fifth Ed., The McGraw-Hill Companies Inc., USA, (2001) 7.3-7.7