• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISLAMIC PARENTING SEBAGAI PILAR UTAMA PENDIDIKAN BAGI ANAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ISLAMIC PARENTING SEBAGAI PILAR UTAMA PENDIDIKAN BAGI ANAK"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1

ISLAMIC PARENTING SEBAGAI PILAR UTAMA PENDIDIKAN BAGI ANAK

Hotni Sari Harahap

Dosen Fakultas Agama Islam UNIVA Medan

Abstrak

Peran orang tua sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak selanjutnya, apakah anak itu akan menjadi penerus yang baik atau akan menjadi penyakit di dalam masyarakatnya. Semua itu tergantung dari bagaimana orang tua mendidik, memeliharai dan merawat anak-anaknya. Tanggung jawab mendidik anak yang sebenarnya adalah tanggung jawab utuh kedua orang tua, dan tidak menekankan kepada salah satu pihak antara suami atau istri. Sehingga dibutuhkan kerja sama yang baik antara kedua orang tua dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya hingga menjadi seorang yang mampu bertanggung jawab terhadap dirinya. Mendidik dan memelihara semua anggota keluarga dari siksaan Allah kelak di hari kiamat tentu bukan dengan cara mendidik mereka dengan pendidikan yang tidak berkaitan dengan ajaran syariat yang telah diberikan oleh Allah, namun bagaimana semua anggota keluarga mampu melaksanakan semua yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi semua yang dilarang oleh Allah dengan segenap jiwa dan raga. Dalam hal mendidik anak, orang tua tidak bisa asal-asalan. Karena dalam mendidik anak, orang tua harus mempersiapkan untuk mendidik anak-anaknya kelak. Mendidik anak bukan hanya ketika telah di karunia anak oleh Allah dan berhenti setelah anak menjadi dewasa, namun mendidik anak dilakukan jauh sebelum anak itu dilahirkan, yaitu dimulai dari proses pemilihan pasangan, proses terjadinya pembuahan, dan seterusnya tanpa ada batasan kecuali kematian atau yang lebih populer dengan long life education.

Kata Kunci : Islamic Parenting, Pendidikan Anak A. PENDAHULUAN

Dalam upaya menghasilkan generasi

penerus bangsa yang berkualitas dan

bertanggung jawab diperlukan adanya usaha yang konsisten dan berkesinambungan dari orang tua sebagai pendidik pertama di

lingkungan keluarga. Pendidikan bagi

manuasi merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayatnya. Melalui

Pendidikan manusia dapat mencapai

kehidupan yang lebih baik dan mempunyai wawasan yang luas, dengan Pendidikan manusia mampu berkembang sejalan konsep dan tujuan manusia itu diciptakan.

Dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang berkuliatas dan bertanggung jawab diperlukan hubungan sinergitas antara orang tua dengan pihak sekolah. Pola pengasuhan yang tepat terhadap anak akan menjadikan anak menjadi manusia yang

memiliki karakter islami, sebab pola

pengasuhan merupakan inti dari tugas dan tanggung jawab orangtua kepada anak-anaknya. Penguatan peran keluarga dalam bentuk kegiatan parenting merupakan usaha yang dilakukan untuk memberikan Pendidikan tauhid, Pendidikan akhlak dan pengalaman kehidupan. Dengan demikian orangtua harus mampu mengasuh dan mendidik anaknya dengan baik, sebagaimana firman Allah Swt dalam Qur‟an surah At-Tahrim ayat 6.

َو ُساَّنلٱ اَهُدوُق َو ا ٗراَن ۡمُكيِل ۡهَأ َو ۡمُكَسُفنَأ ْا َٰٓوُق ْاوُنَماَء َنيِذَّلٱ اَهُّيَأَٰٓ َي ُة َرا َجِح ۡلٱ

اَم َنوُلَع ۡفَي َو ۡمُه َرَمَأ َٰٓاَم َ َّللَّٱ َنوُص ۡعَي َّلَّ ٞداَدِش ٞظ َلَِغ ٌةَكِئَٰٓ َلَم اَه ۡيَلَع َنوُرَم ۡؤُي

Dalam kaitannya dengan dunia

Pendidikan, kondisi pengasuhan anak saat ini

penuh dengan tantangan yang harus

diperhatikan secara seksama. Kenapa

demikian ? sebab saat perkembangan aman masa kini memberikan perubahan dalam kehidupan setiap manusai. Perkembangan teknologi menjungkir balikkan kehidupan manusia, melalui teknologi segala jenis informasi dapat diakses dengan mudah, dan hal tersebut mempengaruhi perkembangan jiwa anak. Bisa kita lihat di dunia nyata anak-anak yang masih berumur 3 tahun sudah terbiasa dengan adanya dunia gadget, bahkan anak-anak sangat bergantung dengan

android. Sehingga sering orang tua

kewalahan dan sering mengeluh tentang prilaku anak yang tidak mau belajar, sangat susah dalam menuruti perintah orang tua dan prilaku-prilaku kerendahan moral lainnya. Oleh sebab itu, sudah menjadi tugas dan tanggung jawab orang tua yang telah Allah

titipkan amanat berupa anak untuk

menjalankan dan menjaga amanat tersebut

agar sejalan dengan konsep manusia

diciptakan ke muka bumi ini.

Jika sejak masa kanak-kanak, seorang anak tumbuh dan berkembang dengan

(2)

2 bertakwa, berpijak pada landasan iman kepada Allah SWT. dan terdidik untuk selalu takut, ingat, pasrah, meminta pertolongan, taat beribadah dan berserah diri kepada-Nya, ia akan memiliki kemampuan dan bekal pengetahuan di dalam menerima setiap

keutamaan dan kemuliaan, disamping

terbiasa dengan sikap akhlak mulia. Orang tua sebagai pembentuk pribadi pertama dalam kehidupan anak, kepribadian orang tua, sikap dan cara hidup mereka merupakan unsur-unsur pendidikan yang tidak langsung, yang dengan sendirinya akan masuk ke dalam pribadi anak yang sedang tumbuh.

Sebagai lembaga pendidikan pertama bagi anak maka orang tua berkewajiban memberikan pendidikan dan perhatian, agar anak bisa membedakan sesuatu yang baik dan yang paling baik, tidak mudah terjerumus ke dalam perbuatan-perbuatan yang bisa

membahayakan dirinya dan orang lain.1

Setiap orang tua yang memiliki anak sudah sangat pasti mendambakan anaknya menjadi generasi madani yang berpengetahuan luas, berakhlakul karimah dan berhasil dalam kariernya. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan pengasuhan (parenting) yang baik. Islamic parenting adalah pengasuhan anak dalam proses tumbuh kembangnya sesuai ajaran Islam. Penanaman nilai-nilai Islam berdasarkan Al-Qur‟an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu „Alaihi wa Sallam. Pengasuhan anak dilakukan sesuai tuntunan agama Islam yang bertujuan memberikan kebaikan dunia dan akhirat melalui penjelasan

terkait aspek-aspek pendidikan yang baik.2

Orang tua dalam pendidikan

bertanggung jawab sebagai pendidik pertama dan utama dalam keluarga yang menjadi model dan teladan bagi anak. Orang tua seharusnya memberi contoh yang baik bagi anak dalam sikap dan perilaku harus mencerminkan akhlak mulia. Oleh karena itu, islam mengajarkan kepada orang tua agar selalu mengajarkan yang baik-baik saja kepada anak mereka. Dalam salah satu hadistnya yang diriwayatkan oleh Abdur Razzaq Sa‟id Bin Mansur, Rasulullah SAW bersabda: “Ajarkanlah kebaikan kepada

1

Singgih D. Gunarsa & Ny Singgih D. Gunarsa, Psikologi Anak Bermasalah. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), h. 60.

2 M. Fauzi Rachman, Islamic Teen Parenting (Jakarta:

Erlangga, 2014), h. 25.

anak kamu dan didiklah mereka dengan budi pekerti yang baik.”3

Islam menekankan pentingnya peran orang tua untuk terlibat aktif dalam proses pendidikan agar anak tetap berkembang sesuai dengan fitrahnya. Dalam tulisan ini akan dikupas tentang Islamic Parenting sebagai Pilar Utama Pendidikan.

B. Pengertian Islamic Parenting

Islamic parenting adalah pengasuhan anak dalam proses tumbuh kembangnya sesuai ajaran Islam. Penanaman nilai-nilai Islam berdasarkan Al-Qur‟an dan Sunnah Rasulullah Saw. Pengasuhan anak dilakukan sesuai tuntunan agama Islam yang bertujuan memberikan kebaikan dunia dan akhirat

melalui penjelasan terkait aspek-aspek

pendidikan yang baik.4

Pola asuh orang tua adalah pola perilaku yang diterapkan pada anak dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak dan dapat memberikan efek positif atau negatif. Orang tua memiliki cara yang berbeda dalam merawat anak. Cara dan polah tersebut akan berbeda satu dengan lainnya.

Konsep Islamic parenting sudah ada

sejak perkembangan Islam zaman

dahulu.Mengasuh anak menurut syariat Islam merupakan kewajiban agi orang tua. Segala sesuatu yang pertama kali di dengar, di lihat serta nilai-nilai yang pertama kali di serap

oleh anak ialah berasal dari orang tua.5

Menurut Kamal Hasan, Islamic

Parenting adalah suatu proses seumur hidup untuk mempersiapkan seseorang agar dapat

mengaktualisasikan perannya sebagai

khalifatullah di muka bumi. Dengan kesiapan

tersebut, diharapkan dapat memberikan

sumbangan sepenuhnya terhadap

rekonstruksi dan pembangunan masyarakat dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Seperti halnya dengan Muhammad Natsir, menurutnya Islamic Parenting adalah pengasuhan yang berpusat pada konsep tauhid. Artinya konsep tauhid harus dijadikan dasar pembinaan dalam masyarakat. Dalam perspektif Islam, mengasuh anak bukan hanya persoalan memberikan kebutuhan yang bersifat ragawi saja, lebih dari itu orang

3 Syaiful Bahri Djamarah, Pola Komunikasi Orang Tua

Dan Anak Dalam Keluarga (PT: Rineka Cipta: Jakarta, 2004), h. 29

4

M. Fauzi Rachman. Islamic Teen Parenting (Jakarta: Erlangga, 2014), h.25

5 Syaikh Jamal Abdurrahman, Islamic Parenting:

(3)

3 tua juga harus mengajarkan nilai-nilai Islami

kepada anak-anaknya.6

Parenting Islami dikenal dengan

Tarbiyah al-Awlad dan berlandaskan atas prinsip tauhid, keimanan dan akhlak mulia.

Orangtua mempunyai tugas

bertanggungjawab untuk mengajarkan

kepada anak-anaknya tentang pendidikan akhlak, pendidikan jasmani, pendidikan nalar, dan pendidikan untuk bertanggungjawab dalam masyarakat.

Islamic parenting ialah mempersiapkan generasi muda yang penuh moral dan mengacu pada norma-norma Islam dan membentuk generasigenerasi yang shalih shalihah. Oleh karena itu, hal ini bisa dilakukan sebelum anak lahir ke dunia, bukan hanya setelah anak lahir ke dunia. Konsep Islamic parenting mengajarkan bahwa pola asuh yang dilakukan oleh orang tua juga mampu membentuk anak ber-akhlaq al-karimah.

Pola asuh secara islami sudah diatur oleh agama Islam sendiri. Metode Islam dalam pendidikan anak usia baligh melalui penjelasan aspek pendidikan yang baik terdapat dalam wasiat Luqman Hakim yaitu yang terdapat dalam Al-Qur‟an Surat Luqman ayat 13 sampai 19. Surat Luqman ayat 13

menjelaskan tentang larangan untuk

mempersekutukan Allah SWT dan larangan

berbuat dzalim. Ayat 14 menjelaskan

mengenai perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta‟ala dan kepada kedua orang tua. Pada ayat 15 menjelaskan larangan mengikuti perintah orang tua apabila

orang tua memerintahkan untuk

menyekutukan Allah SWT.

ٌم ۡلُظَل َك ۡرِّشلٱ َّنِإ َِِّۖللَّٱِب ۡك ِر ۡشُت َلَّ َّيَنُب َي ۥُهُظِعَي َوُه َو ۦِهِن ۡبِلِ ُن َم ۡقُل َلاَق ۡذِإ َو ٞمي ِظَع Artinya : Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

Makna ayat 16 mengenai perbuatan sekecil apapun akan mendapatkan balasan. Pada ayat 17 menjelaskan untuk mendirikan shalat, melakukan perbuatan yang makruf

6

Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid,, Prophetic Parenting: Cara Cara Nabi Mendidik Anak (Yogyakarta: Pro-U Media, 2010). H.139

dan mencegah yang munkar serta perintah bersabar terhadap apa yang dialami. Ayat 18 menjelaskan mengenai larangan berbuat sombong karena sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang sombong

dan ayat 19 menjelaskan mengenai

pentingnya hidup sederhana dan berkata dengan nada yang lembut.

Proses pendidikan dan pengasuhan didalam keluarga yang dilakukan oleh orang tua terutama ayah dan ibu dimulai sejak dalam kandungan, yakni sejak masa embrio terjadi. Proses pendidikan pada masa sejak dalam kandungan dapat dilihat dari perilaku orang tua. Mereka menjaga tuturan, pikiran dan prilaku karena percaya semua yang

dilakukan berimbas pada sang janin.

Perhatian dan kasih sayang juga pendidikan dan bimbingan yang dilakukan orang tua bisa dilakukan dengan mengajak janin berbicara, mendengarkan musik dan memberinya cerita.

Keyakinan ini didukung pendapat dan

penelitian para ahli mengenai efek gelombang dan suara sebagai perangsang pertumbuhan

dan kecerdasan janin.7

Dari pemaparan di atas, Islamic

Parenting adalah proses mengasuh atau mendidik anak, dan mengembangkan potensi anak sesuai tuntunan agama Islam yang bertujuan memberikan kebaikan dunia dan akhirat mulai dari masa anak-anak hingga ia bisa bertanggung jawab terhadap diri sendiri (dewasa), baik secara langsung maupun tidak langsung melalui penjelasan terkait aspek-aspek pendidikan yang baik.

Agama Islam berusaha membangun manusia dengan bangunan yang seimbang

dan proporsional, yaitu membentuknya

dengan bentuk yang sesuai ciptaan dan fitrah yang Allah SWT ciptakan. Hal tersebut merupakan salah satu kelebihan yang menonjol dari agama Islam yaitu seimbang dan proporsional.

C. METODE ISLAMIC PARENTING

Pola Islamic parenting lebih

menekankan pada praktik pengasuhan, tidak hanya fokus pada gaya pengasuhan dalam keluarga, akan tetapi lebih fokus pada bagaimana orangtua membentuk insan al-kamil pada anak-anaknya. Orangtua memiliki kewajiban membimbing dan mendidik anak

berdasarkan syariat agama. Islam

memandang bahwa dalam membentuk anak

7

Tadkiroatun Musfiroh, Memilih, Menyusun Dan Menyajikan Cerita Untuk Anak Usia Dini (Tiara Wacara: Yogyakarta, 2008), h. 15-16.

(4)

4 yang memiliki perilaku baik itu harus diawali dari perilaku orangtua sejak dini. Islam memandang bahwa perilaku anak dimasa depan itu merupakan cerminan dari orangtua dan pendidikan dari orangtua yang mereka ajarkan sejak dini.

Dalam Alqur‟an Allah Swt telah memberikan contoh dalam pengasuhan Anak yaitu pada Qur‟an Surah Luqman. Luqman memberikan pembelajaran ataupun nasihat yang luar biasa kepada anaknya, agar anaknya selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Luqman dalam pola asuhnya yaitu : Menerima, Melindungi, dan menuntut kepada anak. Makna dari pola asuh yang diterapkan oleh Luqman Hakim menerima dengan sepenuh hati kondisi anaknya, Luqman melindungi anaknya serta bertanggung jawab terhadap apa yang Allah Swt telah titipkan kepadanya, kemudian Luqman menuntut anaknya untuk mendirikan

shalat dan mengajak manusia untuk

mengerjakan kebaikan dan melarang orang supaya tidak melakukan perbuatan buruk. Dalam surah Luqman, ayat 17 Allah berfirman :

َٰٓاَم ىَلَع ۡرِب ۡصٱ َو ِرَكنُمۡلٱ ِنَع َه ۡنٱ َو ِفوُر ۡعَمۡلٱِب ۡرُمۡأ َو َة وَلَّصلٱ ِمِقَأ َّيَنُب َي ِروُمُ ۡلۡٱ ِم ۡزَع ۡنِم َكِل َذ َّنِإ َِۖكَباَصَأ ٧١

Artinya : Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Pola asuh yang Luqman terapkan patut di contoh oleh para orangtua seperti membentengi anak dengan agama sejak usia dini. Sehingga jiwa, perilaku, sikap, sifat dan egois yang ada dalam diri anak bisa tercover dengan baik, sesuai dengan ajaran agama yang diajarkan sejak usia dini.

Abdullah Nashih Ulwan menyebutkan pengasuhan secara Islami dibagai menjadi 5 metode, metode tersebut ialah metode keteladanan, metode kebiasaan, metode nasihat, metode perhatian dan metode hukuman.

1. Metode Keteladanan

Metode keteladanan adalah metode yang paling meyakinkan keberhasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk anak di dalam moral, sosial, dan spiritual. Hal ini adalah karena pendidik adalah contoh terbaik dalam pandangan anak, yang akan ditirunya

dalam tindaktanduknya, dan tata santunnya, disadari ataupun tidak, bahkan tercetak dalam jiwa dan perasaan mereka suatu gambaran pendidik tersebut, baik dalam ucapan atau perbuatan.

Metode keteladanan memerlukan

sosok pribadi yang secara visual dapat dilihat, diamati, dan dirasakan sendiri oleh anak sehingga mereka ingin menirunya. Di sinilah timbul proses yang dinamakan identifikasi, yaitu anak secara aktif berusaha menjadi seperti orang tuanya di dalam nilai kehidupan

dan kepribadianya.8

Orangtua merupakan pengukur

kepribadian anaknya. Sebagai orangtua yang baik sebelum mendidik anaknya akan lebih baik jika orangtua tersebut mendidik dirinya sendiri terlebih dahulu, karena anak akan selalu meniru dan meneladani sikap dari orang dewasa. Apabila orang tua berperilaku sopan santun anak akan menirunya, dan apabila orangtua mereka berperilaku jujur anak akan tumbuh perilaku yang jujur, dan seterusnya. Oleh karena itu Orangtua dituntut untuk menjadi suri tauladan yang baik. Dalam

masa pertumbuhan anak selalu

memperhatikan sikap dari orangtuanya, dan orangtua lah yang sebagai pembentuk karakter anak.

Dalam implementasinya metode

keteladanan dilaksanakan dalam dua cara, yaitu cara langsung (direct) dan cara tidak langsung (indirect). Secara langsung para orangtua itu sendiri harus benar-benar menjadikan dirinya sebagai contoh teladan yang baik terhadap anak. Sedangkan secara tidak langsung dimaksudkan melalui cerita

dan riwayat para nabi, kisah-kisah

khulafaurrasyidin dan kisah orang-orang sholeh, melalui kisah ini diharapkan anak akan menjadikan tokoh-tokoh ini sebagai uswatun hasanah.

Menurut Abdullah Nashih Ulwan

menjabarkan contoh bagi orangtua yaitu sikap keteladanan dalam beribadah, sikap murah hati, sikap sopan santun, sikap rendah hati,

sikap pemberani, sikap teladan dalam

berakhidah.

2. Metode Pembiasaan

Abdullah Nashih Ulwan menulis dalam

bukunya Tarbiyatul Aulad Fil-Islam,

“Pendidikan dengan cara pembiasaan dan pendisiplinan adalah diantara faktor penentu keberhasilan dalam pendidikan, dan wasilah

8 Siti Meichati, Kepribadian mulai berkembang di dalam

(5)

5 yang paling baik dalam menumbuhkan keimanan dan akhlak pada anak.

Pada umur kanak-kanak kecenderung-annya adalah meniru apa yang dilakukan oleh orang-orang disekitarnya, baik saudara famili terdekatnya ataupun bapak ibunya. Oleh karena itu patut menjadi perhatian semua pihak, terutama orang tuanya selaku figur yang terbaik di mata anaknya. Jika orang tua menginginkan putra putrinya tumbuh dengan menyandang kebiasaan-kebiasaan yang baik dan akhlak terpuji serta kepribadian yang sesuai ajaran Islam, maka orang tua harus mendidiknya sedini mungkin dengan moral yang baik. Karena tiada yang lebih utama dari pemberian orang tua kecuali budi pekerti yang baik.

Pembiasaan merupakan hal yang

sangat ditekankan Rasulullah, sebab anak mendapat pengetahuan dari apa yang dilihat,

dipikir dan dikerjakannya. Jika dalam

kesehariannya anak sudah terbiasa

melakukan hal-hal yang baik, maka akan terlekat sampai dewasa kelak.

Dengan demikian pembiasaan adalah salah satu faktor yang memperkuat proses

penanaman nilai-nilai keagamaan anak.

Metode ini sangat cocok untuk hal-hal rutin yang dilaksanakan, seperti makan, minum, ketika akan tidur dan bangun tidur, keluar dan masuk kamar mandi, keluar dan masuk rumah, dan lain-lain.

3. Metode Nasihat

Nasihat adalah salah satu metode yang

sangat penting dalam mendidik dan

mengasuh anak. Banyak hal yang bisa dimanfaatkan orang tua dalam memberikan Nasihat kepada anak.

Dalam Alqur‟an sendiri, nasihat

digunakan sebagai salah satu metode pendekatan dalam mendidik. Terkadang nasihat dalam bentuk ketakwaan, peringatan, anjuran untuk mengikuti nasihat, untuk mengikuti jalan yang lurus, memberikan semangat atau terkadang menggunakan ancaman sebagai nasihat.

Nasihat yang berpengaruh, membuka jalannya ke dalam jiwa secara langsung melalui perasaan. Setiap manusia (anak) selalu membutuhkan nasihat, sebab dalam jiwa terdapat pembawaan itu biasanya tidak tetap, dan oleh karena itu kata–kata atau nasihat harus diulang–ulang. Nasihat akan berhasil atau mempengaruhi jiwa anak,

tatkala orangtua mampu memberikan

keadaan yang baik.

Namun perlu diperhatikan bahwa orang si pemberi nasehat haruslah orang yang berprilaku yang baik, memiliki wibawa dimata anak. Anak akan mendengarkan nasihat tersebut, apabila pemberi nasihat juga bisa memberi keteladanan. Sebab nasihat saja tidak cukup bila tidak diikuti dengan keteladanan yang baik.

Rasulullah saw, selalu memperhatikan waktu dan tempat untuk menasihati anak-anak. Orang tua harus mampu memilih kapan saatnya yang tepat agar hati anak-anak dapat menerima dan terkesan dengan nasihatnya. orang tua untuk memberi nasehat-nasehat dengan cara yang baik dan penuh.

4. Metode Perhatian.

Setiap orangtua berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan–kebutuhan anaknya, baik kebutuhan jasmani ataupun kebutuhan yang berbentuk rohani. Diantara kebutuhan anak yang bersifat rohani adalah anak ingin

diperhatikan dalam perkembangan dan

pertumbuhannya.

Secara psikologis anak-anak

membutuhkan kasih saying dan perhatian dalam menjalani proses kehidupannya. Anak-anak, kalangan remaja hingga orang dewasa pun sama-sama membutuhkan cinta dan kasih sayang. Kasih sayang merupakan hal yang sangat penting dalam pendidikan anak- anak.

Carl Rogers, salah satu tokoh psikologi behavioristik berpendapat bahwa proses

suasana (emotional approach) dalam

mendidik individu bukan hasil dari belajar. Artinya bahwa orangtua harus lebih responsif terhadap kebutuhan kasih sayang dalam

proses pengasuhan maupun mendidik

anaknya. Perasaan gembira, senang adalah

hal yang dinginkan dalam proses

pengasuhan.

5. Metode Hukuman

Pemberian hukuman sendiri, dalam pola asuh Rasullullah Saw. Adalah bentuk pengobatan, hal ini dilakukan agar anak sadar bahwa masalahnya adalah masalah serius;

bukan main-main. Dengan merasakan

pedihnya hukuman, anak diharapkan dapat menyadari besarnya nilai kasih sayang dan

kelembutan dari orangtuanya sebelum

dihukum. Anak juga dapat merasakan

pentingnya ketaataan, sikap dan perilaku baik mereka.

Hukuman yang diterapkan kepada anak harus memenuhi tiga persyaratanya sebelum melakukannya, yaitu: sebelum berumur 10

(6)

6 tahun anak- anak tidak boleh dipukul; pukulan tidak boleh lebih dari tiga kali; diberikan kesempatan kepada anak untuk tobat dari apa yang ia lakukan dan memperbaiki keselahaannya tanpa perlu menggunakan

pukulan atau merusak nama baiknya

(menjadikan ia malu).

D. PENDIDIKAN ANAK

Istilah pendidikan dalam kontek islam pada umumnya terkandung dalam istilah al tarbiyah (proses pengasuhan pada fase permulaan pada pertumbuhan manusia). Al-ta’lim (pengetahuan teoritis,mengulang kaji secara lisan dan menyusul melaksanakan

pengetahuan itu), dan al-ta’dib (tidak sekedar

transfer ilmu,tetapi juga pengaktualisasinya dalam bukti). Dari ke tiga istilah tersebut

al-tarbiyah adalah yang paling populer

digunakan dalam praktek pendidikan islam, sedangkan al-taklim dan al-ta‟dib sangat jarang digunakan.

Menurut An-Nahwawi, kata tarbiyah berasal dari tiga kata, yaitu raba-yarbu yang artinya bertambah dan berkembang, rabiya-yarba dengan wazan (bentuk) khafiya-yakhfa yang berarti tumbuh dan berkembang, rabba-yarbu dengan wazan (bentuk) madda-yamuddu yang berarti memperbaiki, mengurusi, menjaga dan memperhatikan.

Kata kerja rabba (mendidik) sudah digunakan sejak masa Nabi Muhammad seperti terlihat dalam Alqur‟an dan hadis Nabi. Dalam ayat Alqur‟an kata ini digunakan dalam susunan sebagai berikut:

اَمَك اَمُه ۡم َح ۡرٱ ِّبَّر لُق َو ِةَم ۡحَّرلٱ َنِم ِّلُّذلٱ َحاَنَج اَمُهَل ۡضِف ۡخٱ َو ا ٗريِغَص يِناَيَّبَر ٤٢

Artinya : Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".

Ahmad Tafsir pendidikan adalah usaha meningkatkan diri dalam segala aspeknya, dengan kegiatan yang melibatkan guru atau tidak, baik dalam kegiatan formal, nonformal atau informal yang bertujuan membina segi aspek kepribadian, jasmani, akal dan rohani.

Munardji dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam, mengutip istilah tarbiyahdalam Kamus al-Munjid, tarbiyah berasal dari kata rabba, yurabbi, tarbiyatan yang berati tumbuh dan berkembang.

Menurut Hamka, pendidikan berbeda dengan pengajaran.Jika pengajaran adalah serangkaian upaya yang dilakukan pendidik

untuk membantu membentuk

watak,budi,akhlak dan kepribadian anak atau peserta didik.Sedangkan pengajaran adalah upaya untuk mengisi intelektual peserta didik dengan sejumlah ilmu pengetahuan.

Pengertian pendidikan seperti yang lazim dipahami sekarang belum terdapat pada zaman Nabi. Tetapi usaha dan kegiatan yang dilakukan oleh nabi dalam menyampaikan

seruan agama dengan berdakwah,

menyampaikan ajaran, memberi contoh,

melatih keterampilan berbuat, memberi

motivasi dan menciptakan lingkungan sosial

yang mendukung pelaksanaan ide

pembentukan pribadi muslim itu, telah mencakup arti pendidikan dalam pengertian sekarang.

Anak adalah amanah Allah bagi setiap orang tua, yakni ibu dan ayahnya. Ia dititipkan kepada kita untuk diasuh, dididik, dan dibimbing menjadi anak yang shalih dan shalihah. Dijadikan sebagian dari komunitas muslim, penerus risalah islam yang dibawa oleh rasulullah Muhammad SAW. Yang akan sangat bangga dengan umatnya yang kuat dan banyak.

Pendidikan anak menjadi tanggung jawab bersama, antara seorang ibu, ayah,

anggota keluarga, dan amsyarakat

dilingkungan tempat tinggalnya. Mendidik anak bukan tugas seorang ibu semata, walau pada kenyataannya, ibukah yang lebih

berinteraksi dengan anak-anak. Namun

pendidikan anak adalah tugas dari seorang ayah, karna ayahlah yang menjadi pemimpin keluarga. Ibu hanyalah pemimpin dibawah kepemimpinan seorang ayah.

Pendidikan anak tidak lain hanyalah merupakan bagian dari pendidikan individu, dimana islam berusaha mempersiapkan dan

membinanya supaya menjadi anggota

masyarakat yang berguna dan insan yang saleh di dalam kehidupan ini. Bahkan pendidikan anak, jika telah bdilaksanakan dengan baik dan terarah, maka ia tidak lain

adalah fondasi yang kuat untuk

mempersiapkan pribadi yang saleh bdan bertanggung jawab atas segala persoalan dan tugas hidupnya.

Para ulama telah menyadari betapa

pentingnya pendidikan melalui kluarga.

Syaikh Abu Hamid Al Ghazali ketika membahas tentang peran kedua orang tua

dalam pendidikan mengatakan : “Ketahuilah,

(7)

7 kedua orangtuanya.Hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong kepada apa

saja yangdisodorkan kepadanya. Jika

dibiasakan dan diajarkan kebaikan akan tumbuh dalam kebaikan,dan berbahagailah kedua orang tuanya didunia dan akherat, juga

setiap pendidik dan gurunya.Tapi jika

dibiasakan kejelekan dan dibiarkan

sebagaimana binatang ternak, niscaya akan menjadi jahat dan binasa.

Tujuan pendidikan individu muslim:” Nyatalah bahwa pendidikan individu dalam islam mempunyai satu tujuan yang jelas dan tertentu, yaitu: menyiapkan untuk dapat beribadah kepada Allah SWT. Dan tak perlu dinyatakan lagi bahwa totalitas agama islam tidakmembatasi pengertian ibadah shalat, shaum dan haji;tetapi setiap karya yang dilakukan seorang muslim dengan niat untuk Allah semata merupakan ibadah.

Al-Ghazali menempatkan dua hal

penting sebagai tujuan akhir dari

pendidikan. Pertama, tercapainya

kesempurnaan insani yang bermuara pada

pendekatan diri kepada

Allah. Kedua, kesempurnaan insani yang

bermuara pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Tujuan ini tampak bernuansa religius

dan moral, namun tidak mengabaikan

masalah duniawi. Al-Ghazali berpandangan bahwa kebahagiaan dunia akhirat merupakan hal yang paling esensi bagi manusia. Kebahagiaan dunia dan akhirat memiliki nilai

universal, abadi, dan lebih hakiki.

Kesempurnaan insani di dunia dan akhirat, dalam pandangan al-Ghazali, hanya dapat dicapai dengan menguasai sifat keutamaan melalui jalur ilmu. Keutamaan itulah yang akan membuat manusia bahagia di dunia dan mendekatkan dirinya kepada Allah sehingga ia menjadi bahagia pula di akhirat kelak. Orientasi pendidikan ini bisa jadi merupakan buah dari kesadaran al-Ghazali setelah

mengalami krisis spiritual, yang ia

dokumentasikan dalam karya al-Munqidz min al-Dhalal.

Dalam kehidupan anak (usia enam tahun pertama) merupakan periode yang amat kritis dan paling penting. Periode ini mempunyai pengaruh yang sangat mendalam dalam pembentukan pribadinya. Apapun yang terekam dalam benak anak nanti akan tampak pengaruh pengaruhnya dengan nyata pada

kepribadiannya ketika dewasa.

Memperhatikan anak pada usia setelah enam tahun pertama lebih siap untuk belajar secara

teratur.Ia mau menerima pengarahan lebih banyak, dan lebih bisa menyesuaikan diri dengan sepermainannya.lebih mengerti dan lebih semangat untuk dan memperoleh ketrampilan ketrampilan, karenanya ia bisa diarahkan secara langsung. Masa ini masa yang paling penting dalam pendidikan dan pengarahan anak.

E. PENUTUP

Peran orang tua sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak selanjutnya, apakah anak itu akan menjadi penerus yang baik atau akan menjadi penyakit di dalam masyarakatnya. Semua itu tergantung dari bagaimana orang tua mendidik, memeliharai dan merawat anak-anaknya. Tanggung jawab mendidik anak yang sebenarnya adalah tanggung jawab utuh kedua orang tua, dan tidak menekankan kepada salah satu pihak antara suami atau istri. Sehingga dibutuhkan kerja sama yang baik antara kedua orang tua dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya hingga menjadi seorang yang mampu bertanggung jawab terhadap dirinya.

Anak merupakan amanah yang

dititipkan olah Allah kepada orang tua, oleh karena itu orang tua wajib menjaga dan memelihara anak sebagai bentuk amanah

kepada Allah. Dalam menjaga dan

memelihara seorang anak. Orang tua perlu mengetahui bagaimana cara mendidik anak yang baik dan benar agar terbentuk anak yang mempunyai karakter islami sesuai dengan tujuan pendidikan Islam.

Mendidik dan memelihara semua

anggota keluarga dari siksaan Allah kelak di hari kiamat tentu bukan dengan cara mendidik mereka dengan pendidikan yang tidak berkaitan dengan ajaran syariat yang telah diberikan oleh Allah, namun bagaimana

semua anggota keluarga mampu

melaksanakan semua yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi semua yang dilarang oleh Allah dengan segenap jiwa dan raga. Dalam hal mendidik anak, orang tua tidak bisa asal-asalan. Karena dalam mendidik anak, orang tua harus mempersiapkan untuk mendidik anak-anaknya kelak. Mendidik anak bukan hanya ketika telah di karunia anak oleh Allah dan berhenti setelah anak menjadi dewasa, namun mendidik anak dilakukan jauh sebelum anak itu dilahirkan, yaitu dimulai dari proses pemilihan pasangan, proses terjadinya pembuahan, dan seterusnya tanpa ada batasan kecuali kematian atau yang lebih populer dengan long life education.

(8)

8

DAFTAR PUSTAKA

Adhim, Mohammad Fauzil, Positif Parenting;

Cara-Cara Islami Mengembangkan

Karakter Positif pada Anak Anda, Bandung: Mizania, 2006

Amir, Najib Khalid al-, Mendidik Cara Nabi SAW, terj. M. Iqbal Haetami, Bandung: Pustaka Hidayah, 2002

Mujib, Abdul, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Prenada Media Group,tth

Rusn, Abidin, Pemikiran al-Ghazali Tentang Pendidikan, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1998

Tafsir, Ahmad, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992

Undang-undang Republik Indonesia No.20

Tahun 2003, Sistem Pendidikan

Nasional, Pasal 7, ayat (3).

Ulwan, Abdullah Nashih, Mencintai dan

Mendidik Anak Secara Islami,

Jogjakarta: Darul Hikmah, 2009

Yaqien, Abi M.F., Mendidik Anak Secara Islami, Jombang: Lintas Media, tt

Referensi

Dokumen terkait

Keluarga merupakan unit masyarakat terkecil yang terdiri atas ayah, ibu dan anak. Setiap komponen dalam keluarga memiliki peranan penting. Dalam ajaran agama Islam, anak adalah

Demikianlah beberapa tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mendidik anak. Hendaknya para orang tua dan pendidik bisa merealisasikannya dalam pendidikan

Parenting Islam terkait dengan tanggung jawab kedua orang tua terhadap anak, karena anak adalah amanah, sehingga menuntut peran pengasuhan mereka kepadanya. Setiap orang tua

Pengaplikasian Pekerja Wanita dalam mendidik Agama Islam pada Anak dalam Keluarga di dusun Kasrepan Desa Demuk Pucanglaban Tulungagung ... Hasil Pendidikan Agama

Di indonesia sendiri yang mayoritas penduduknya menganut agama islam, lingkungan muslim yang kental di suatu daerah sangat membantu mendidik anak

Dengan demikian, hanya orang- orang yang menggunakan harta bendanya pada jalan Allah serta mendidik anak- anaknya sesuai dengan tuntunan agama, maka hanya yang

manusia yang selamat dunia dan akhirat.7 Namun lebih dari pada itu, Pendidikan Agama Islam yang dimaksud dalam penelitian ini adalah lebih kepada Pendidikan Agama Islam integratif yang

Pendidikan dengan adat kebiasaan Abdullah Nashih Ulwan memulai penjelasan metode ini dengan ayat Al Qur’an terkait dengan fitrah manusia yang disusul dengan penjelasan pendidikan Islam