Dinamika, Tahun VIII, Nomor 16, Juli 2016 ISSN 1979-827X
Halaman
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
Hubungan Kompetensi Sintaksis dengan Performansi Sintaksis
Agus Hamdani ………. 1
Kajian tentang Rancangan Penilaian Pembelajaran Bahasa Indonesia oleh Guru Madrasah Aliyah di Jawa Barat Tahun 2016
Ika Berdiati ……….. 12
Kajian Struktural dan Sosiologis terhadap Novel Karya Penulis Perempuan Tahun 2000-an dan Pemanfaatannya untuk Menyusun Bahan dan Kegiatan Pelatihan Menulis Cerpen di Sanggar Sastra Dewan Kesenian Cianjur
Sri Rini Wahyuni ……… 26
Pendekatan Saintifik Berbasis Imagine dalam Pembelajaran Menulis Puisi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Cimahi
Ilham Ansori Padila ……….. 36 Analisis Wacana dalam Blog Jurnal Online serta Pemanfaatannya dalam Menyusun Bahan Ajar
dan Kegiatan Pembelajaran Menulis Karya Ilmiah
Agusriati……….. 47
Struktur, Fungsi, dan Nilai-nilai yang Terkandung dalam Cerita Rakyat di Kecamatan Cugenang sebagai Bahan dan Kegiatan Pembelajaran Menulis Dongeng di SMP untuk Meningkatkan Pendidikan Karakter
Eutik Julaeha ……….………. 56
Kajian Nilai Pendidikan Karakter pada Biografi Tokoh serta Penerapan Pembelajarannya
dengan Metode Discovery Learning Berbasis Hypnoteaching pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Cimahi
Castinah………... 65 Penggunaan Kata Berimbuhan dalam Karangan Deskripsi Siswa Kelas V SD Negeri Hanjawar 3
Kecamatan Cibeber Tahun Pelajaran 2015-2016
Agus Suhendin………. 76
Penggunaan Model Pembelajaran Cooperative Script dalam Meningkatkan Kemampuan Menulis Deskripsi
Nyimas Dewi ………
` 90 Pembelajaran dengan Menggunakan Pendekatan Kontekstual
HUBUNGAN KOMPETENSI SINTAKSIS DENGAN PERFORMANSI SINTAKSIS
oleh Agus Hamdani
STKIP Garut
Abstrak
Tulisan ini berisi ringkasan hasil penelitian yang mengungkap hubungan antara kompetensi sintaksis dengan performansi sintaksis. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Subjek penelitiannya adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Garut. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes pilihan ganda untuk mengukur kompetensi sintaksis dan tes esai untuk mengukur performansi sintaksis. Pengolahan data dilakukan secara statistik melalui program SPSS versi 16.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguasaan kompetensi sintaksis dan performansi sintaksis mahasiswa tergolong cukup serta terdapat hubungan yang positif dan siginifikan antara penguasaan kompetensi sintaksis dengan performansi sintaksis. Dengan kata lain, jika penguasaan kompetensi sintaksis tinggi maka performansi sintaksisnya pun akan tinggi pula.
Kata kunci: hubungan, kompetensi sintaksis, performansi sintaksis
Abstract
This paper summarizes the results of studies that reveal the relationship between syntactic competence and the performance of syntax. This research is a descriptive correlational. Research subject is students of Indonesian Language and Literature Education STKIP Garut. Data collection techniques used is a multiple choice test to measure the competence of syntax and an essay test to measure the performance of syntax. The data were processed statistically with SPSS version 16.0 The results showed that the mastery of syntactic competence and syntactic performance is quite and there is a positive and significant relationship between mastery of syntactic competence with syntactic performance. In other words, if mastery of syntactic competence is a high then his syntactic performance will be high as well.
1. Pendahuluan
Istilah “penguasaan” terhadap suatu bahasa yang dipelajari terbagi atas (1) penguasaan terhadap elemen-elemen bahasa dan (2) penguasaan terhadap kemampuan menggunakan bahasa untuk kegiatan berkomunikasi. Penguasaan yang pertama sering disebut dengan istilah “kompetensi bahasa”. Penguasaan kompetensi bahasa lebih bersifat teoretis, diskrit, dan kurang secara langsung berkaitan dengan fungsi komunikatif bahasa. Penguasaan yang kedua sering disebut dengan istilah “performansi bahasa”. Penguasaan performansi bahasa lebih bersifat praktis, artinya menguasai bahasa target untuk maksud komunikasi sesuai dengan fungsi komunikatif bahasa.
Menurut Brown (1980:27-28), kompetensi kebahasaan seseorang berkaitan dengan pengetahuan tentang sistem bahasa, struktur, kosa kata, atau seluruh aspek kebahasaan itu, serta bagaimana tiap aspek itu saling berhubungan. Dengan menguasai kompetensi bahasa, seseorang akan mampu membedakan antara bahasa dan bukan bahasa. Dengan kata lain, ia akan mampu membedakan antara bunyi bahasa dengan yang bukan bunyi bahasa, antara kosakata bahasanya dengan yang bukan kosakata bahasanya, antara struktur kalimat yang gramatikal dengan struktur kalimat yang tidak gramatikal, dan sebagainya.
Performansi bahasa merupakan tindak mempergunakan bahasa secara nyata untuk maksud berkomunikasi. Performansi bahasa dapat juga diartikan sebagai kegiatan menghasilkan bahasa untuk mengkomunikasikan ide atau pikiran kepada orang lain, baik secara lisan maupun tulisan. Unsur bahasa dan pikiran
merupakan dua unsur yang tak dapat dipisahkan dalam performansi bahasa. Untuk dapat menulis dan berbicara dengan baik, misalnya, kita harus menguasai secara aktif kaidah bahasa yang bersangkutan yang akan dipergunakan sebagai wadah untuk menampung pikiran yang akan dikemukakan.
Penguasaan terhadap kompetensi bahasa belum tentu berarti menguasai bahasa itu untuk kebutuhan komunikasi. Meskipun demikian, kompetensi bahasa tetap penting untuk dikuasai karena hal itu akan mempengaruhi performansi berbahasa. Apalagi bagi pembelajar bahasa kedua, tanpa kompetensi bahasa hampir tidak mungkin seseorang dapat melakukan tindak berbahasa yang baik, baik yang bersifat reseptif maupun produktif. Dengan demikian, ”performansi bahasa merupakan manifestasi nyata kompetensi kebahasaan seseorang. Tinggi rendahnya kompetensi kebahasaan seseorang pada umumya tercermin dari kemampuan atau keterampilan berbahasanya” (Nurgiyantoro, 2001:167).
Kompetensi berbahasa pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua aspek, yaitu struktur dan kosakata. Semua tindak berbahasa pada hakikatnya merupakan pengoperasian kedua aspek tersebut. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa kompetensi struktur dan kosakata merupakan prasyarat untuk melakukan kegiatan berbahasa.
Struktur suatu bahasa pada umumnya dikelompokkan ke dalam dua kelompok, yaitu morfologi dan sintaksis. Menurut Nurgiyantoro (2001:166), struktur sintaksis merupakan hal yang lebih penting daripada morfologi karena
sintaksis merupakan struktur bahasa yang tertinggi. Karena cakupan sintaksis lebih luas dari pada morfologi maka tes struktur sintaksis perlu lebih ditekankan daripada morfologi.
Berkaitan dengan hal di atas, penelitian ini berusaha untuk mengungkap hubungan antara penguasaan kompetensi sintaksis dengan performansi sintaksis. Dengan menggunakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Garut sebagai subjek penelitiannya, rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Bagaimana kompetensi sintaksis mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Garut?
2) Bagaimana performansi sintaksis mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Garut?
3) Adakah hubungan antara kompetensi sintaksis dengan performansi sintaksis pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Garut?
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai kompetensi sintaksis, performansi sintaksis, dan hubungan antara kompetensi sintaksis dan performansi sintaksis pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Garut.
Secara teoretis hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi kepentingan penyusunan teori mengenai hubungan kompetensi sintaksis dan performansi sintaksis. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi dosen pengampu mata kuliah Sintaksis dan mata kuliah Menulis
dalam usahanya untuk meningkatkan kualitas proses perkuliahan dan kualitas hasil perkuliahannya.
2. Landasan Teoretis
Kata ”sintaksis” dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Belanda, syntaxis. Dalam bahasa Inggris kata yang digunakan adalah syntax. Berdasarkan asal usul katanya, kata sintaksis berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata ”sun” yang berarti dengan dan ”tattein” yang berarti menempatkan. Jadi, secara etimologis kata sintaksis mengandung arti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat dan kelompok-kelompok kata menjadi kalimat (Verhaar, 1989:70; Pateda, 1988:85; Slametmujana, 1959:10-11). Hal ini sejalan dengan pendapat O’Grady dan Dobrovolsky (1989:126) bahwa sintaksis adalah ”... the system of rules and categories that allows words to be combined to form sentences”.
Dalam bukunya Tata Bahasa Indonesia, Keraf (1984:137) menjelaskan bahwa sintaksis adalah ”... bagian dari tata bahasa yang mempelajari dasar-dasar dan proses-proses pembentukan kalimat dalam suatu bahasa”. Selanjutnya, ia mengemukakan bahwa pembicaraan tentang sintaksis mencakup tiga tataran bahasa, yaitu: frasa, klausa, dan kalimat. Hal ini sejalan dengan pendapat Parera (1988:xi) yang mengemukakan, ”Yang kami masukkan dalam bidang sintaksis ialah pembicaraan mengenai unit bahasa: kalimat, klausa, dan frase”.
Sementara itu, Ramlan (2001:18) mengemukakan, ”Sintaksis ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk-beluk wacana, kalimat, klausa, dan frasa ...”. Dimasukkannya wacana oleh Ramlan sebagai bagian dari tataran sintaksis merupakan pendapat yang cukup menarik. Namun, hal itu belum dapat meyakinkan banyak pihak karena pembahasan yang dilakukan dalam bukunya Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis (2001) hanya meliputi tataran kalimat, klausa, dan frasa, sedangkan tataran wacana tidak sedikit pun disinggung apalagi sampai dibahas secara panjang lebar.
Bertolak dari beberapa pengertian sintaksis di atas, terdapat dua hal pokok yang harus digarisbawahi. Pertama, sintaksis merupakan salah satu cabang ilmu bahasa di samping ilmu bahasa yang lainnya, seperti fonologi, morfologi, dan semantik. Kedua, objek sasaran yang dibahas dalam sintaksis meliputi seluk-beluk kalimat, klausa, dan frasa.
Kalimat menurut Keraf (1984:141) adalah ”Satu bagian ujaran yang didahului dan diikuti oleh kesenyapan sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa bagian ujaran itu sudah lengkap”. Dengan menggunakan redaksi yang berbeda, Parera (1988:4) menjelaskan, ”Sebuah bentuk ketatabahasaan yang maksimal yang tidak merupakan bagian dari bentuk ketatabahasaan yang lain yang lebih besar dan mempunyai ciri kesenyapan final yang menunjukkan bentuk itu berakhir adalah sebuah kalimat”. Sementara itu, Ramlan (2001:23) mengemukakan bahwa kalimat merupakan ”... satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang disertai nada akhir turun atau naik”. Dari definisi kalimat yang
dikemukakan Keraf, Parera, dan Ramlan di atas, terdapat dua buah kesamaan mendasar. Pertama, kalimat merupakan satu kesatuan dari sebuah bentuk kebahasaan. Hal itu ditandai dengan munculnya ungkapan satu bagian ujaran dalam definisi dari Keraf, sebuah bentuk ketatabahasaan yang maksimal dalam definisi dari Parera, dan satuan gramatik dalam definisi dari Ramlan. Satu kesatuan bentuk ketatabahasaan itu dalam teori linguistik modern disebut sebagai bentuk ekspresi atau unsur segmental. Kedua, kalimat itu muncul karena adanya unsur intonasi. Unsur intonasi ini terlihat pada kata kesenyapan dan intonasi dalam definisi dari Keraf, kesenyapan final dalam definisi dari Parera, serta nada dan jeda panjang dalam definisi dari Ramlan. Dalam linguistik modern, unsur intonasi ini disebut juga unsur suprasegmental.
Klausa ialah ”... suatu konstruksi yang di dalamnya terdapat beberapa kata yang mengandung hubungan fungsional, yang dalam tata bahasa lama dikenal dengan pengertian subjek, predikat, objek, dan keterangan” (Keraf, 1984:138). Dari definisi ini dapat ditarik dua hal pokok. Pertama, klausa merupakan suatu konstruksi yang terdiri atas beberapa kata. Konstruksi yang dimaksud adalah gabungan dua buah kata atau lebih yang bersifat gramatikal. Kedua, gabungan dua buah kata atau lebih yang ada dalam klausa haruslah tersusun secara fungsional. Walaupun Keraf mengakui bahwa fungsi inti yang menandai adanya sebuah klausa adalah fungsi subjek dan predikat sedangkan fungsi yang lain bersifat fakultatif, tetapi hal itu tidak tersurat secara tegas di dalam definisi
klausanya. Definisi yang cukup tegas mencantumkan syarat minimal fungsi yang harus ada dalam sebuah klausa dikemukakan oleh Ramlan. Menurut Ramlan (2001:79), klausa adalah ”... satuan gramatik yang terdiri dari S, P, baik disertai O, PEL, dan KET ataupun tidak”. Definisi ini sejalan dengan apa yang dijelaskan dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Alwi et.al, 2003:313) bahwa ”Setiap konstruksi sintaksis yang terdiri atas unsur subjek dan predikat (tanpa memperhatikan intonasi atau tanda baca akhir) adalah klausa”.
Istilah frasa tergolong istilah yang relatif baru. Sama halnya dengan istilah klausa, istilah frasa belum dikenal dalam teori tatabahasa tradisional. Istilah ini baru populer setelah teori tata bahasa struktural berkembang dengan pesat.
Menurut Keraf (1984:138), frasa adalah ”... suatu konstruksi yang terdiri dari dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan”. Hal senada dikemukakan oleh Parera (1988:32) bahwa frasa adalah ”... suatu konstruksi yang dapat dibentuk oleh dua kata atau lebih, baik dalam bentuk sebuah pola dasar kalimat maupun tidak”. Dari dua pengertian frasa ini terdapat sebuah kesamaan yang mendasar, yakni frasa merupakan suatu konstruksi yang terdiri atas dua kata atau lebih. Namun, ciri utama yang membedakan frasa dengan klausa tidak tersurat dalam kedua definisi tersebut. Rumusan definisi yang cukup tegas menyertakan ciri utama yang membedakan frasa dengan klausa dikemukakan oleh Ramlan (2001: 138) bahwa frasa adalah ”... satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa”.
Ada dua hal pokok dalam definisi frasa dari Ramlan di atas, yaitu (1) frasa merupakan satuan bahasa yang terdiri atas dua kata atau lebih, dan (2) frasa hanya menduduki salah satu fungsi dalam kalimat. Karena frasa merupakan dua kata atau lebih maka bisa dipastikan bahwa perbedaan kata dengan frasa terletak pada jumlah unsur segmentalnya. Unsur segmental frasa selalu lebih besar dari satuan bentuk bahasa yang dinamakan kata. Dengan melihat hal pokok ke dua, yakni frasa menduduki salah satu fungsi dalam kalimat maka bisa dipastikan bahwa frasa berbeda dengan klausa. Walaupun frasa dan klausa sama-sama dibentuk oleh dua kata atau lebih, unsur-unsur yang membentuk frasa tersebut tidak memiliki hubungan fungsional, sedangkan antarunsur klausa memiliki hubungan fungsional. Klausa paling sedikit mengandung dua fungsi, yakni subjek dan predikat, sedangkan frasa hanya mengandung satu fungsi, bisa subjek, predikat, objek, pelengkap, atau bisa keterangan saja.
3. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasional. ”Penelitian korelasional merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara dua atau beberapa variabel.” (Arikunto, 2005:247). Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yang dihubungkan, yaitu variabel kompetensi sintaksis dengan variabel performansi sintaksis. Data kedua variabel tersebut dijaring melalui teknik tes. Untuk mendapatkan data kompetensi sintaksis digunakan tes tertulis berbentuk pilihan ganda
yang berjumlah 60 soal, terdiri atas 20 soal pengetahuan frasa, 20 soal pengetahuan klausa, dan 20 soal pengetahuan kalimat. Setiap butir soal diberi bobot skor 1 sehingga rentang skor kompetensi sintaksis adalah 0-60, sedangkan untuk mendapatkan data performansi sintaksis digunakan tes esai berbetuk tugas yang menghendaki mahasiswa menulis sebuah komentar terhadap salah satu topik dari beberapa topik aktual yang disediakan. Aspek yang dijadikan bahan penilaian soal ini meliputi penggunaan frasa, penggunaan klausa, dan penggunaan kalimat. Rentang skor masing-masing aspek 0-15 sehingga rentang skor keseluruhan performansi sintaksis ini 0-45.
Subjek penelitian ini adalah semua mahasiswa tingkat III Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Tahun Akademik 2013/2014 yang berjumlah 136 orang dan terbagi atas empat kelas. Dari 136 orang ini, penulis menetapkan 32 orang mahasiswa untuk dijadikan sampel penelitian. Karena subjek penelitian ini tidak betul-betul homogen maka penentuan sampel penelitian ini dilakukan secara acak dengan menggunakan teknik sampel random bertingkat (stratified random sampling) melalui data IPK setiap mahasiswa selama lima semester. Cara seperti ini dilakukan agar subjek yang menjadi sampel representatif terhadap populasi sehingga rangkaian proses penilaian untuk menjawab pertanyaan penelitian atau pengujian hipotesis dapat dipertanggungjawabkan dengan benar.
Pengolahan data penelitian ini dilakukan secara statistik dengan menggunakan perangkat lunak (sofware) berupa program SPSS versi
16.0. Kegiatan yang dilakukan dengan program SPSS versi 16.0 ini antara lain menguji normalitas data dan menentukan koefisien korelasi. Cara yang ditempuh untuk menguji normalitas data dilakukan melalui uji Kolmogorof-Smirnov sedangkan untuk menentukan koefisien korelasi dilakukan melalui teknik analisis Korelasi Bivariat Parametrik Pearson Product Moment.
Lebih lengkapnya, langkah-langkah untuk mengolah data penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) memberi skor pada setiap lembar jawaban mahasiswa sesuai dengan sistem penskoran yang telah ditetapkan;
2) mentabulasi skor;
3) menentukan persentase hasil tes mahasiswa dengan berpedoman pada perhitungan skala lima seperti tertera pada tabel berikut ini
(Nurgiyantoro, 2001:399) 4) menguji normalitas data hasil tes dengan
taraf signifikasi α sebesar 0,05; Tabel 1
Penentuan Patokan dengan Perhitungan Persentase untuk Skala Lima
Interval Persentase Tingkat Penguasaan
Nilai Ubahan
Skala Lima Keterangan 0 - 4 E - A (1) (2) (3) (4) 85% - 100% 75% - 84% 60% - 74% 40% - 59% 0% - 39% 4 3 2 1 0 A B C D E Baik Sekali Baik Cukup Kurang Gagal
5) menentukan koefisien korelasi antara kompetensi sintaksis dengan performansi sintaksis melalui teknik analisis Korelasi Bivariat Parametrik Pearson Product Moment.
6) menguji hipotesis;
7) menafsirkan hasil uji hipotesis.
4. Hasil Penelitian
Hasil tes kompetensi sintaksis dan performansi sintaksis terlihat pada Tabel 2.
Berdasarkan Tabel 2 di atas bisa dilihat bahwa rata-rata persentase skor kompetensi sintaksis hampir sama dengan performansi sintaksis. Dari skor total ideal 60, rata-rata skor kompetensi sintaksis 40 atau 66,67% sedangkan rata-rata skor performansi sintaksis 30,16 atau 67,01% dari skor total ideal 45. Dengan demikian, kategori penguasaan kompetensi sintaksis dan performansi sintaksis mahasiswa termasuk ke dalam kategori cukup karena berada pada rentang 60%-74%.
Dari ketiga aspek kompetensi sintaksis, skor rata-rata pengetahuan frasa lebih tinggi dibandingkan dengan skor rata-rata pengetahuan
kalimat dan pengetahuan klausa. Skor rata-rata yang paling rendah adalah skor rata-rata pengetahuan klausa. Secara berurutan skor rata-rata ketiga aspek tersebut adalah pengetahuan frasa 14,19 atau 70,94%, pengetahuan kalimat 13,84 atau 69,22%, dan pengetahuan klausa 11,97 atau 59,84%. Berdasarkan hasil ini maka dapat dikatakan bahwa penguasaan mahasiswa untuk aspek pengetahuan frasa dan pengetahuan kalimat tergolong kategori cukup karena berada pada rentang 60%-74%, sedangkan pengetahuan klausa tergolong kurang karena berada pada rentang 40%-59%..
Dari ketiga aspek performansi sintaksis, skor rata-rata penggunaan frasa paling tinggi dibandingkan dengan dua aspek lainnya. Bila diurutkan mulai dari skor rata-rata terbesar, skor rata-rata untuk ketiga aspek tersebut secara berturut-turut adalah penggunaan frasa 10,97 atau 73,12%, penggunaan klausa 9,88 atau 65,83%, dan penggunaan kalimat 9,31 atau 62,08%. Hasil ini menunjukkan bahwa penguasaan mahasiswa untuk ketiga aspek performansi sintaksis ini masing-masing berada pada kategori cukup karena berada pada rentang 60%-74%.
Tabel 2
Hasil Tes Kompetensi Sintaksis dan Performansi Sintaksis Penguasaan
Sintaksis Aspek Σ Skor Rata-rata Skor
Rata-rata
Persen Kategori
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Kompetensi Sintaksis
Pengetahuan Frasa 454 14,19 70,94 Cukup
Pengetahuan Klausa 383 11,97 59,84 Kurang Pengetahuan Kalimat 443 13,84 69,22 Cukup
Jumlah 1280 40 66,67 Cukup
Performansi Sintaksis
Penggunaan Frasa 351 10,97 73,12 Cukup
Penggunaan Klausa 316 9,88 65,83 Cukup
Penggunaan Kalimat 298 9,31 62,08 Cukup
Dalam bentuk diagram, gambaran penguasaan tiap aspek kompetensi sintaksis dan performansi sintaksis mahasiswa ini terlihat pada Gambar 1.
Untuk mengetahui ada atau tidak adanya hubungan antara penguasaan kompetensi sintaksis dan performansi sintaksis digunakan teknik analisis Korelasi Bivariat Parametrik Pearson Product Moment. Namun, sebelumnya dilakukan pengujian normalitas sebaran data terlebih dahulu. Uji normalitas sebaran data dilakukan untuk mengetahui apakah data skor penguasaan kompetensi sintaksis dan performansi sintaksis mahasiswa berdistribusi normal atau tidak. Pengujian normalitas data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorof-Smirnov melalui SPSS versi 16.0. Pasangan hipotesis nol (Ho) yang diuji melawan hipotesis tandingannya (H1) adalah sebagai berikut.
Ho : Sampel berdistribusi normal. H1 : Sampel tidak berdistribusi normal.
Kriteria pengujian yang digunakan adalah jika nilai probabilitas atau signifikansi (Sig) lebih besar dari α = 0,05 maka Ho diterima. Dengan kata lain, data skor penguasaan kompetensi sintaksis dan performansi sintaksis tersebut ditafsirkan berdistribusi normal.
Rangkuman hasil penghitungan uji normalitas sebaran data ini terlihat pada Tabel 3.
Berdasarkan hasil penghitungan yang disajikan pada Tabel 3 di atas terlihat bahwa semua nilai probabilitas atau signifikansi yang tertera pada baris Asymp.Sig.(2-tailed) hasil perhitungan melalui uji Kolmogorof-Smirnof lebih besar dari taraf nyata pengujian (α) 0,05. Hal ini berarti Ho diterima. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa data skor penguasaan kompetensi sintaksis dan performansi sintaksis berdistribusi normal. Gambar kenormalan masing-masing data di atas terlihat pada grafik di bawah ini.
Tabel 3. Hasil Uji Normalitas Sebaran Data Skor Penguasaan Sintaksis dan Performansi Sintaksis
Kolmogorov-Smirnov Test Kompetensi Sintaksis Perfor-mansi Sintaksis N 32 32 Normal Parametersa Mean 40.00 30.16 Std. Deviation 6.988 3.629 Most Extreme Differences Absolute .065 .118 Positive .061 .118 Negative -.065 -.067 Kolmogorov-Smirnov Z .366 .669
Gambar 2
Model Normal Q-Q Plot Penguasaan Kompetensi Sintaksis dan Performansi Sintaksis
Berdasarkan hasil penghitungan pada Gambar 2 dapat kita lihat bahwa semua grafik di atas menunjukkan bahwa sebaran data berada pada posisi di sekitar garis lurus yang membentuk garis miring dari arah kiri bawah ke kanan atas. Hal ini menunjukkan bahwa sebaran kedua data di atas adalah normal.
Setelah kedua kelompok data terbukti berdistribusi normal, langkah berikutnya yang dilakukan adalah menentukan koefisien korelasi.
Interpretasi kuat atau lemahnya korelasi dilakukan dengan melihat angka koefisien korelasi hasil penghitungan dengan menggunakan kriteria sebagai berikut:
0 : Tidak terdapat korelasi > 0-0,25 : Korelasi sangat lemah > 0,25- 0,5 : Korelasi cukup > 0,5-0,75 : Korelasi kuat > 0,75-0,99 : Korelasi sangat kuat 1 : Korelasi sempurna
(Sarwono, 2009:59)
Pasangan hipotesis nol (Ho) dan hipotesis tandingannya (H1) dalam teknik analisis korelasi ini adalah sebagai berikut.
Ho : Tidak ada hubungan signifikan antara penguasaan pengetahuan sintaksis dengan tindak sintaksis.
H1 : Terdapat hubungan signifikan antara penguasaan pengetahuan sintaksis dengan tindak sintaksis.
Kriteria pengujiannya adalah jika nilai probabilitas atau signifikansi (Sig) lebih kecil dari α = 0,05 maka Ho ditolak dan H1 diterima. Dengan kata lain, penguasaan kompetensi sintaksis memiliki hubungan yang signifikan dengan penguasaan performansi sintaksis.
Rangkuman hasil penghitungan korelasi antara penguasaan kompetensi sintaksis dengan performansi sintaksis dengan menggunakan Korelasi Bivariat Parametrik Pearson Product Moment melalui SPSS versi 16.0 tersaji pada Tabel 4.
Tabel 4
Hasil Analisis Korelasi Penguasaan Kompetensi Sintaksis dan Performansi Sintaksis Koefisien Korelasi Sig. (2-tailed) Taraf Signifikansi Kesimpulan (3) (4) (5) (6) 0,514 0,003 0,05 Signifikan
Tabel 4 menunjukkan bahwa angka koefisien korelasi antara penguasaan kompetensi sintaksis dengan performansi sintaksisnya adalah 0,514. Angka positif ini menunjukkan adanya korelasi yang tergolong cukup dan searah. Nilai probabilitas korelasinya yang tercantum pada kolom Sig. (2 tailed) sebesar 0,003. Nilai probabilitas ini lebih kecil dari taraf siginifikansi (α) =0,05 sehingga Ho ditolak dan H1 diterima. Jadi, terdapat hubungan yang siginifikan antara penguasaan kompetensi sintaksis dengan performansi sintaksis. Dengan kata lain, jika penguasaan kompetensi sintaksis tinggi maka performansi sintaksis pun akan tinggi pula.
5. Kesimpulan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penguasaan kompetensi sintaksis dan performansi sintaksis mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Garut relatif sama. Dari skor total ideal 60, rata-rata skor kompetensi sintaksis 40 atau 66,67% sedangkan rata-rata skor performansi sintaksis 30,16 atau 67,01% dari skor total ideal 45. Dengan demikian, kategori penguasaan kompetensi sintaksis dan performansi sintaksis mahasiswa masing-masing termasuk ke dalam kategori cukup karena berada pada rentang 60%-74%.
Angka koefisien korelasi antara penguasaan kompetensi sintaksis dengan performansi sintaksis adalah 0,514. Angka positif ini menunjukkan adanya korelasi yang tergolong cukup dan searah. Nilai probabilitas korelasinya sebesar 0,003. Nilai probabilitas ini lebih kecil dari (α) = 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang siginifikan antara
penguasaan kompetensi sintaksis dengan performansi sintaksis. Dengan kata lain, jika penguasaan kompetensi sintaksis tinggi maka performansi sintaksis pun akan tinggi pula. Dengan demikian, hasil penelitian ini semakin menguatkan teori seperti yang dikemukakan oleh Nurgiyantoro (2001:167) bahwa ”performansi bahasa merupakan manifestasi nyata kompetensi kebahasaan seseorang. Tinggi rendahnya kompetensi kebahasaan seseorang pada umumya tercermin dari kemampuan atau keterampilan berbahasanya”.
Daftar Pustaka
Alisyahbana, Sutan Takdir. 1949. Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia Djilid 1. Jakarta: Pustaka Rakjat.
_____. 1976. Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia 2. Jakarta: Dian Rakyat.
Alwi, Hasan et.al. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Arikunto, Suharsimi. 1991. Prosedur Penelitian:
Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: Rineka Cipta.
_____. 1993. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Ary, Donald et.al. 1982. Introduction to Research in Education. Terjemahan Arief Furchan. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Surabaya:Usaha Nasional.
Bloomfield, Leonard. 1995. Language. Terjemahan I. Sutikno. Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Fraenkel, Jack R. dan Wallen, Norman E. 1990. How to Design and Evaluate Research in Education. New York: McGraw-Hill Inc. Keraf, Gorys. 1984. Tata Bahasa Indonesia.
Ende-Flores: Nusa Indah
Mees, C. A. 1953. Tatabahasa Indonesia. Bandung: G. Kolff & Co. Bandung
Nurgiyantoro, Burhan. 2001. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.
O’Grady, William dan Dobrovolsky, Michael. 1989. Contemporary Linguistics: An Introduction. New York: St. Martin’s Press. Parera, Jos Daniel. 1988. Sintaksis. Jakarta:
Gramedia.
Ramlan, M. 2001. Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis. Yogyakarta: C.V. Karyono. Razak, Abdul. 1985. Kalimat Efektif: Struktur,
Gaya, dan Variasi. Jakarta: PT Gramedia Sapani, Suardi et.al. 1997. Teori Pembelajaran
Bahasa. Jakarta: Depdikbud.
Sarwono, Jonathan. 2009. Statistik Itu Mudah: Panduan Lengkap untuk Belajar Komputasi Statistik Menggunakan SPSS 16. Yogyakarta: C.V. Andi Offset.
’
Slametmuljana. 1959. Kaidah Bahasa Indonesia I. Jakarta: Djambatan
_____. 1960. Kaidah Bahasa Indonesia II. Jakarta: Djambatan
Verhaar, J.W.M. 1989. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Yohanes, Yan Sehandi. 1991. Tinjauan Kritis
Teori Morfologi dan Sintaksis Bahasa Indonesia. Ende Flores: Nusa Indah.
Riwayat Penulis
Dr. Agus Hamdani, S.Pd., M.Pd. lahir di Bandung, 5 Agustus 1969. Dosen Kopertis IV yang diperbantukan di STKIP Garut sejak tahun 1994.