• Tidak ada hasil yang ditemukan

I MADE HARIBHAWANA WIJAYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "I MADE HARIBHAWANA WIJAYA"

Copied!
64
0
0

Teks penuh

(1)

KESESUAIAN HUTAN DAN KEMAMPUAN LAHAN

SEBAGAI INDIKATOR SINKRONISASI POLA RUANG

DALAM PERBAIKAN RUANG

(STUDI KASUS KABUPATEN KOTABARU, KALIMANTAN

SELATAN)

I MADE HARIBHAWANA WIJAYA

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2016

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHA HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Kesesuaian Hutan dan Kemampuan Lahan sebagai Indikator Sinkronisasi Pola Ruang dalam Perbaikan Ruang (Studi Kasus Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan) adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Hasil karya penulisan ini telah diterbitkan pada Jurnal Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Sumber informasi yang berasal dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Januari 2016 I Made Haribhawana Wijaya P052120391

(4)

RINGKASAN

I MADE HARIBHAWANA WIJAYA. Kesesuaian Hutan dan Kemampuan Lahan Sebagai Indikator Sinkronisasi Pola Ruang Dalam Perbaikan Ruang (Studi Kasus Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan). Dibimbing oleh LILIK BUDI PRASETYO dan OMO RUSDIANA.

Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) merupakan wujud dari upaya pemerintahan untuk menyelaraskan aspek fisik lahan dan aspek sosial ekonomi. Rencana Tata Ruang Wilayah yang telah disusun oleh pemerintah dimaksudkan untuk mendukung perbaikan ataupun mempertahankan kondisi lingkungan yang ada dengan mempertimbangkan aspek fisik lahan dan sosial ekonomi. Hal ini dikarenakan suatu wilayah memiliki keterbatasan kapasitas lingkungan dan sumberdaya alam untuk menunjang kegiatan manusia. Namun pada pelaksanaanya seringkali lebih mengedepankan aspek sosial ekonomi dibanding aspek lahan. Adanya pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan konsep RTRW dan lebih mengejar pertumbuhan ekonomi dengan mengandalkan kekayaan sumber daya alam tanpa memperhatikan peningkatan nilai tambah pada sumber daya alam dan lingkungan hidup dapat menyebabkan permasalahan lingkungan sehingga pada kondisi tertentu dapat mengakibatkan pada bencana seperti tanah longsor dan banjir. Kabupaten Kotabaru merupakan salah satu contoh daerah yang mengalami permasalahan keruangan tersebut.

Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi RTRW Kabupaten Kotabaru berdasarkan kemampuan lahan, kesesuaian fungsi dan status kawasan hutan lahan serta penutupan lahan. Metode yang digunakan adalah analisis spasial menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk analisis kesesuaian fungsi dan status kawasan hutan, kemampuan lahan dan identifikasi penutupan lahan.

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa terdapat inkonsistensi antara kemampuan lahan, fungsi dan status kawasan hutan serta tutupan lahan dengan RTRW Kabupaten Kotabaru yang disusun diantaranya : 1) kemampuan lahan seluas 238 422.51 Ha (35.27 % dari luas total wilayah kajian penelitian). Wilayah ini terjadi pada kelas kemampuan lahan II, III, IV, VI dan VIII pada arahan peruntukkan lahan RTRW 2) kesesuaian fungsi dan status kawasan hutan seluas 32 792.89 Ha (4.88 % dari luas total wilayah kajian penelitian). Wilayah ini terjadi pada kawasan suaka alam/pelestarian alam terhadap arahan peruntukkan lahan RTRW dan 3) Tutupan lahan seluas 53 763,65 Ha (7.88 % dari luas total wilayah kajian penelitian). Wilayah ini terjadi pada belukar rawa, Hutan Mangrove Primer, Hutan Mangrove Sekunder, Hutan Primer, Perkebunan, Rawa dan Tambak.

Kata Kunci : evaluasi, kemampuan lahan, kesesuaian fungsi dan status kawasan hutan, penutupan lahan, RTRW

(5)

SUMMARY

I MADE HARIBHAWANA WIJAYA. Land Suitability and Capability as Indicator for Synchronization and Improvement of National and Regional Spatial Planning.(A Case Study from Kotabaru District, South Kalimantan). Supervised by LILIK BUDI PRASETYO and OMO RUSDIANA.

Regional Land Use Plan (RTRW) is a form of government efforts to align the physical and socio-economic aspects of land. Spatial Plan which has been drafted by the government intended to support improvement or maintaining the existing environmental conditions by considering the physical and socio-economic aspects of land. This is because the certain area has a limited capacity of the environment and natural resources to support human activities. However, socio-economic aspects is often more advanced than land aspects in the implementation. The existence of space utilization that is incompatible with the concept of spatial plan and more to pursue of economic growth by relying on natural resources without considering the increase in value added to natural resources and the environment can cause environmental problems. Under certain conditions this can lead to disasters such as landslides and floods. Kotabaru District is one of example area that experiences the spatial problems.

The purpose of this study was to evaluate the Regional Land Use Plan of Kotabaru district based on land capability, function suitability and status of forest land and land cover. The method used is the spatial analysis using Geographic Information System (GIS) for suitability analysis of the function and status of forest area, land capability and land cover identification.

The evaluation results showed that there were inconsistencies between land capability, function and status of forest area and land cover with the compiled Spatial Plan of Kotabaru district include: 1) the capability of of 238 422.51 ha land area (35.27% of the total area that is on the scope of research studies). This is occurs on land capability class II, III, IV, VI and VIII on designated land for spatial plan 2) the suitability of function and status of 32 792.89 hectares forest area (4.88% of the total area that is on the scope of research studies). This occurs in protected forest and natural reserve/conservation area on designated area for spatial plan 3) Land cover area for 53 763.65 hectares (7.88% of the total area that is on the scope of research studies). This occurs in shrub swamps, mangrove forest Primary, Secondary Mangrove Forest, Primary forest, plantations, swamps and ponds.

Keywords: evaluation, land capability, suitability of function and status of forest area, land cover, regional land use plan

(6)

© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2016

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini alam bentuk apa pun tanpa izin IPB

(7)

KESESUAIAN HUTAN DAN KEMAMPUAN LAHAN

SEBAGAI INDIKATOR SINKRONISASI POLA RUANG

DALAM PERBAIKAN RUANG

(STUDI KASUS KABUPATEN KOTABARU, KALIMANTAN

SELATAN)

I MADE HARIBHAWANA WIJAYA

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains

pada

Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2016

(8)
(9)
(10)

PRAKATA

Bersyukur penulis pada kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala kekuatan, berkat, rahmat dan bimbingan yang telah diberikanNya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Karya ilmiah ini mengenai “Kesesuaian Hutan dan Kemampuan Lahan sebagai Indikator Sinkronisasi Pola Ruang dalam Perbaikan Ruang (Studi Kasus Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan)”. Selama penyusunan karya ilmiah ini, penulis telah berupaya seoptimal mungkin untuk menghasilkan sebuah karya ilmiah yang sempurna.

Penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Prof Dr Ir Lilik Budi Prasetyo, MSc dan Dr Ir Omo Rusdiana, MSc Forest Trop selaku Komisi Pembimbing yang dengan penuh kesabaran memberikan arahan, motivasi dan pembelajaran yang diberikan kepada penulis secara langsung maupun tidak langsung selama menempuh pendidikan.

2. Kedua orang tua dan saudara penulis yang selalu memberikan motivasi dan doa sehingga penulis mampu menyelesaikan pendidikan ini.

3. Cecilya Budiaman, S Hut yang selalu memberikan kesabaran, doa dan dukungan sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan ini.

4. Keluarga besar laboratorium Remote Sensing dan GIS Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor yang memberikan kenyamanan dalam belajar dan berdiskusi.

5. Rekan – rekan PSL khususnya angkatan 2012 atas persahabatan dan kerjasamanya selama pendidikan ini.

Harapan penulis semoga karya ilmiah ini dapat memberikan manfaat dan menambah wawasan bagi para pembaca tulisan ini.

Bogor, Januari 2016 I Made Haribhawana Wijaya

(11)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL xii

DAFTAR GAMBAR xii

DAFTAR LAMPIRAN xiii

PENDAHULUAN 1 Latar Belakang 1 Kerangka Pemikiran 3 Perumusan Masalah 5 Tujuan Penelitian 5 Manfaat Penelitian 5

Ruang Lingkup Penelitian 5

METODE PENELITIAN 6

Waktu dan Tempat 6

Bahan dan Alat 6

Prosedur Penelitan 7

Teknik Pengumpulan Data dan Jenis data 7

Analisis Kemampuan Lahan 8

Analisis Kesesuaian Fungsi dan Status Kawasan Hutan 14

Analisis Data Penutupan Lahan 16

Pengolahan Citra 16

Pembuatan Citra Komposit 16

Pemotongan Citra 17

Interpretasi Citra Visual 17

Uji Akurasi 17

HASIL DAN PEMBAHASAN 19

Peruntukan Lahan Menurut RTRW Kabupaten Kotabaru Tahun 2012

sampai 2032 19

Klasifikasi Kelas Kemampuan Lahan di Kabupaten Kotabaru 20 Evaluasi Kemampuan Lahan Terhadap Peruntukan Lahan Menurut RTRW Kabupaten Kotabaru Tahun 2012 sampai 2032 23 Klasifikasi Kesesuaian Fungsi dan Status Kawasan Hutan 26

Evaluasi Status Kawasan Fungsi Hutan Terhadap Peruntukan Lahan Menurut RTRW Kabupaten Kotabaru Tahun 2012 sampai 2032 29 Klasifikasi Penutupan Lahan (Landcover) di Kabupaten Kotabaru 31

Evaluasi Penutupan Lahan Terhadap Peruntukan Lahan Menurut RTRW Kabupaten Kotabaru Tahun 2012 sampai 2032 34

SIMPULAN DAN SARAN 37

DAFTAR PUSTAKA 39

(12)

DAFTAR TABEL

1 Tujuan, jenis data, sumber, metode dan output 7

2 Hubungan antara kelas kemampuan lahan dengan intensitas dan macam

penggunaan lahan 8

3 Klasifikasi kelas lahan dan penggunaannya 9

4 Kelas kemampuan lahan berdasarkan faktor-faktor penghambat 13

5 Klasifikasi dan nilai skor faktor kelerengan 15

6 Klasifikasi dan nilai skor jenis tanah 15

7 Klasifikasi dan nilai skor intesitas/curah hujan rata-rata 15

8 Indeks wilayah dan klasifikasi fungsi hutan 15

9 Luasan (Ha) dan proporsi (%) pada tipe kawasan dan arahan RTRW

Kabupaten Kotabaru tahun 2012–2032 19

10 Luasan (Ha) dan proporsi (%) pada kelas kemampuan lahan dan satuan

kelas kemampuan lahan 21

11 Luasan (Ha) dan proporsi (%) pada evaluasi inkonsistensi kelas satuan kemampuan lahan terhadap RTRW Kabupaten Kotabaru 24 12 Luasan (Ha) dan proporsi (%) kawasan fungsi hutan di lokasi penelitian 27 13 Luasan (Ha) dan proporsi (%) status kawasan fungsi hutan di lokasi

penelitian 29

14 Luasan (Ha) dan proporsi (%) pada evaluasi inkonsistensi status

kawasan fungsi hutan terhadap RTRW Kotabaru 29

15 Luasan (Ha) dan proporsi (%) penutupan lahan tahun 2015 di

Kabupaten Kotabaru 33

16 Luasan (Ha) dan proporsi (%) pada evaluasi inkonsistensi penutupan

lahan terhadap RTRW Kotabaru 34

DAFTAR GAMBAR

1 Kerangka pemikiran penelitian 4

2 Peta lokasi kajian penelitian 6

3 Bagan alir proses kelas kemampuan lahan 14

4 Bagan alir proses kesesuaian lahan fungsi hutan 16 5 Bagan alir proses identifikasi penutupan lahan 18 6 Peta arahan rencana tata ruang wilayah Kabupaten kotabaru 2012

sampai 2032 20

7 Peta kemampuan unit pengelolaan lahan di Kabupaten Kotabaru 22

8 Peta kemampuan lahan di Kabupaten Kotabaru 23

9 Peta hasil evaluasi inkonsistensi kelas satuan kemampuan lahan terhadap RTRW Kabupaten Kotabaru tahun 2012 sampai 2032 26 10 Peta kesesuaian lahan untuk fungsi kawasan hutan 27 11 Peta kesesuaian lahan untuk status kawasan hutan 28 12 Peta hasil evaluasi inkonsistensi status kawasan hutan terhadap RTRW

Kabupaten Kotabaru tahun 2012 sampai 2032 31

13 Peta penutupan lahan hasil digitasi pada citra Landsat 8 tahun 2015 di

Kabupaten Kotabaru 33

14 Peta hasil evaluasi inkonsistensi penutupan lahan terhadap RTRW

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

1 Analisis kemampuan unit pengelolaan lahan 42

2 Analisis fungsi hutan di Kabupaten Kotabaru 46

3 Analisis matriks kontingensi 48

(14)
(15)

1.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Permasalahan lingkungan yang terjadi saat ini mengalami peningkatan yang cukup besar. Permasalahan ini terjadi dikarenakan adanya pembangunan yang mengancam kehidupan makhluk hidup. Indonesia menganut pembangunan nasional yang menempatkan pertumbuhan ekonomi sebagai indikator keberhasilan sehingga untuk mengejar pertumbuhan ekonomi, Indonesia mengandalkan kekayaan sumber daya alam dan lingkungan hidup sebagai tumpuan pembangunan. Akibatnya, kegiatan pembangunan ini tidak memperhatikan peningkatan nilai tambah (kualitas maupun kuantitas) pada lingkungan hidup serta sumber daya alam.

Konsep pembangunan berkelanjutan diawali karena adanya kecemasan terhadap menurunnya daya dukung alam (ekosistem) untuk sistem penyangga kehidupan. Hal tersebut diakibatkan adanya peningkatan jumlah penduduk yang diiringi dengan meningkatnya aktivitas dan intensitas eksploitasi sumber daya alam diikuti dengan meningkatnya jumlah limbah sehingga mengganggu keseimbangan ekosistem. Ketersediaan lahan relatif terbatas sehingga tidak mustahil jika banyak terjadi konversi lahan dari kawasan budidaya pertanian ataupun kawasan lindung menjadi kawasan terbangun.

Pertimbangan aspek fisik lahan dan aspek sosial ekonomi seringkali memiliki kepentingan yang berbeda. Aspek fisik lahan lebih mengarah pada kepentingan kelestarian alam dan aspek sosial ekonomi lebih mengutamakan pada kesejateraan masyarakat. Namun demikan, upaya keselarasan dua kepentingan tersebut menjadi hal yang penting guna dapat memberikan manfaat yang berkesinambungan.

Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) merupakan wujud dari upaya pemerintahan untuk menyelaraskan aspek fisik lahan dan aspek sosial ekonomi. Rencana Tata Ruang Wilayah yang telah disusun oleh pemerintah dimaksudkan untuk mendukung perbaikan ataupun mempertahankan kondisi lingkungan yang ada. Suatu wilayah memiliki keterbatasan kapasitas lingkungan dan sumberdaya alam untuk menunjang kegiatan manusia. Besarnya kapasitas tersebut dipengaruhi oleh karakteristik sumberdaya yang ada di dalam wilayah tersebut. Kapasitas lingkungan dan sumber daya alam merupakan faktor-faktor yang akan mempengaruhi dalam penentuan pemanfaatan lahan yang sesuai.Namun demikian, kompleksitas permasalahan aspek sosial ekonomi masyarakat dan upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) seringkali muncul kebijakan yang baru sehingga tidak memperhatikan aspek fisik lahan dan akan merusak keseimbangan ekosistem.

Dengan berbagai permasalahan lahan yang dihadapi Kabupaten Kotabaru akibat pembangunan untuk kepentingan peningkatan PAD, seperti eksploitasi pertambangan, kerusakan ekosistem dan degradasi hutan, pengembangan kawasan, serta pemanfaatan sumber daya alam, KLHS merupakan bagian penting dalam perumusan kebijakan, rencana, dan program pembangunan Kabupaten Kotabaru. Peranan KLHS dalam RTRW adalah sebagai bentuk tindakan yang menuntun, mengarahkan dan menjamin tidak terjadinya efek negatif terhadap lingkungan dan keberlanjutan dipertimbangkan secara inheren dalam kebijakan, rencana dan program (KRP). Penerapan KLHS dalam penataan ruang juga dapat bermanfaat

(16)

2

sebagai instrument pengelolaan lingkungan pada tata pengaturan yang lebih baik melalui pembangunan keterlibatan para pemangku kepentingan. Pengelolaan ekosistem merupakan salah satu strategi pengelolaan terpadu tanah, air dan sumber daya hayati yang mempromosikan konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan dengan cara yang adil (UNCBD 2010).

Instrumen pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup diatur dalam Undang-Undang No 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dalam hal ini, intrumen pengelolaan lingkungan hidup dalam bentuk evaluasi terhadap penataan ruang. Di dalam peraturan yang tercantum pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 tahun 2007 mengenai Penataan Ruang dinyatakan bahwa pemanfaatan ruang pada perencanaan wilayah harus memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Hal ini dikarenakan apabila suatu lahan tidak sesuai dengan peruntukan dan kemampuannya dapat mengakibakan kondisi kritis dalam jangka waktu tertentu. Daya dukung lahan bersifat terbatas sehingga untuk mensejahterakan kehidupannya maka manusia dituntut untuk membuat daya dukung lingkungan tersebut secara berkelanjutan (Rustiadi et al. 2010). Daya dukung lingkungan didefinisikan sebagai kapasitas maksimum yang dapat didukung oleh ekosistem tertentu dan tanpa merusak produktivitas ekosistem tersebut (Rees dan Wackernagel, 1996). Dengan mempelajari daya dukung ekologi mampu mengendalikan eksploitasi sumber daya alam yang disesuaikan terhadap peruntukan ekosistem berdasarkan kesesuaian dan kemampuan lahan tersebut (Ran et al., 2002).

Kesesuaian antara sifat aspek fisik lahan dari suatu wilayah dengan persyaratan pemanfaatan lahan yang dievaluasi memberikan gambaran atau informasi bahwa lahan tersebut layak untuk digunakan sebagaimana mestinya. Pemanfaatan lahan yang tidak berdasarkan penyususn aspek fisik lahan serta tidak didukung upaya konservasi akan menimbulkan bahaya erosi apabila hal tersebut terjadi akan berdampak pada penurunan produktivitas lahan (Arsyad 2010). Penilaian kesesuaian lahan sebagai proses untuk mengevaluasi kinerja tanah pada saat digunakan untuk jenis pertanian (Prakash 2003). Sedangkan menurut Maryati (2013) penilaian kemampuan lahan adalah proses untuk mengevaluasi potensi lahan sesuai dengan kemampuan untuk penggunaan lahan yang berkelanjutan. Kriteria kesesuaian lahan dan kemampuan lahan disusun berdasarkan persyaratan penggunaan lahan yang diselaraskan dengan data kualitas karakteristik lahan di suatu wilayah. Hal ini dapat digunakan untuk memprediksi potensi lahan di wilayah tersebut.

Penggunaan teknologi SIG dan penginderaan jauh merupakan suatu teknik untuk mengumpulkan informasi mengenai obyek dan lingkungannya dari jarak jauh tanpa sentuhan fisik. Penginderaan jauh adalah ilmu, seni dan teknik memperoleh informasi tentang obyek, area atau kejadian melalui analisis data yang dikumpulkan dengan suatu peralatan yang tidak bersentuhan dengan obyek, area atau kejadian yang diteliti (Lillesand dan Kiefer 1979). Penggunaan teknologi SIG dan penginderaan jauh dalam menganalisis kemampuan dan kesesuain lahan merupakan suatu alat yang menyatukan data menjadi database yang sangat berguna bagi perencana dalam melakukan evaluasi lahan (Miller et al. 1998). Selain itu, teknologi SIG dan penginderaan jauh dapat memudahkan dalam membantu pengambilan keputusan yang lebih efektif dan efisien sebagai bahan pertimbangan bagi pengambil keputusan dalam penentuan kebijakan

(17)

3 penyempurnaan rencana tata ruang sebagai acuan teknis dalam pemanfaatan ruang dan penetapan kawasan yang optimal.

Kerangka Pemikiran

Pemenuhan kebutuhan hidup manusia dan pembangunan mengakibatkan terjadinya penurunan aspek fisik lahan akibat proses pertambangan, pembalakan hutan, perkebunan, dan lain-lain tidak dapat dihindarkan. Pengetahuan mengenai ekologi akan memberikan gagasan bentuk dan pola penanganan terhadap penggunaan lahan.

Pertumbuhan jumah penduduk merupakan salah satu faktor yang mendorong penyimpangan perubahan lahan. Pertumbuhan penduduk di Kabupaten Kotabaru pada tahun 2010 adalah sebesar 291509 jiwa dan pada tahun 2014 adalah 314492 jiwa, dengan laju pertumbuhan penduduk dalam kurun waktu tersebut adalah sebesar 1.5%. Pertumbuhan jumlah penduduk akan menuntut kebutuhan akan pangan dan lahan. Kondisi ini akan memicu terjadinya pembukaan lahan, baik untuk dikonversi menjadi tanaman pangan maupun permukiman serta budidaya lainnya. (Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Selatan 2015).

Pola pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan peruntukanya seperti kawasan hutan menjadi lahan pertanian atau perkebunan yang menyebabkan penurunan fungsi hutan sebagai kawasan penyangga, pemelihara tata air, pengendali perubahan iklim mikro dan sebagainya. Perubahan fungsi ruang kawasan menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan, seperti terjadinya pencemaran, hilangnya ruang publik dan ruang terbuka hijau, serta terjadinya berbagai bencana alam seperti banjir, longsor, kekeringan dan sebagainya. Selain itu, kewenangan otonomi yang diberikan kepada daerah, baik kabupaten maupun kota sebagaimana diamanatkan oleh Undang-undang No 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, memberikan kewenangan kepada kabupaten dan kota. Kewenangan tersebut meliputi perencanaan dan pengendalian pembangunan, serta menyusun perencanaan, pemanfaatan dan pengawasan tata ruang. Kewenangan tersebut memberikan dampak pada peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) dan menjadi tolak ukur dalam indikator keberhasilan pembangunan daerah. Namun di sisi lain, kewenangan tersebut akan menjadi permasalahan yang akan berdampak pada ketidaksinambungan antara aspek fisik lahan dan aspek sosial ekonomi

Tantangan permasalahan kajian penelitian ini juga terlihat juga pada Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 435/Menhut-II/2009 tentang Penunjukan Kawasan Hutan Provinsi Kalimantan Selatan. Berdasarkan Surat Keputusan tersebut terdapat ketidaksesuaian antara status kawasan terhadap kebijakan daerah RTRWK Kotabaru. Pola perubahan kawasan seperti kawasan hutan menjadi lahan pertanian atau perkebunan yang menyebabkan penurunan fungsi hutan sebagai kawasan penyangga.

Salah satu upaya yang dilakukan untuk mewujudkan kesinambungan antara aspek fisik lahan dengan aspek sosial ekonomi adalah diperlukannya evaluasi lahan untuk meninjau efektifitas dan efisiensi pemanfaatan ruang berdasarkan daya dukung atau kemampuan lingkungan yang bergantung pada kapasitas sumber daya alam. Oleh sebab itu, diperlukan kajian mengenai penataan ruang untuk mengatur pemanfaatan lahan berdasarkan peruntukannya.

(18)

4

Evaluasi lahan adalah proses memprediksi kinerja tanah dari waktu ke waktu sesuai dengan jenis yang spesifik penggunaan (Sonneveld et al. 2010). Evaluasi lahan bertujuan untuk menilai keragaan atau kinerja (performance) lahan jika digunakan untuk tujuan tertentu meliputi pelaksanaan dan interpretasi survei serta studi bentuk lahan, tanah, vegetasi, iklim agar mampu mengidentifikasi dan membuat perbandingan berbagai penggunaan lahan (FAO 1976). Brinkman dan Smyth (1973) mendefinisikan evaluasi lahan sebagai proses penelaahan dan interpretasi data dasar tanah, vegetasi, iklim dan komponen lahan lainnya agar dapat mengidentifikasi dan membuat perbandingan pertama antara berbagai alternatif penggunaan lahan dalam term sosio-ekonomi yang sederhana. Evaluasi lahan akan menentukan potensi lahan untuk bentuk-bentuk alternatif penggunaan lahan. Evaluasi lahan mengikuti prosedur standar untuk semua lahan yang akan dievaluasi dalam mendukung lahan yang digunakan. Klasifikasi kesesuaian lahan tergantung pada hubungan penggunaan lahan dan kualitas lingkungan fisik dinyatakan dalam keterbatasan atau bahaya.

Selain itu, evaluasi lahan dapat digunakan untuk membuat perencanaan penggunaan lahan sesuai dengan peruntukanya. Evaluasi lahan merupakan penghubung antara berbagai aspek dan kualitas biofisik dan teknologi penggunaan lahan untuk tujuan tertentu. Penentuan kemampuan dan kesesuaian lahan merupakan salah satu cara untuk menilai biofisik terhadap tingkat kecocokan dari sebidang lahan untuk penggunaan lahan. Manfaat dari evaluasi lahan dalam perencanaan penggunaan lahan adalah memberikan alternatif penggunaan lahan dan batasan penggunaannya serta tindakan-tindakan pengelolaan yang diperlukan agar lahan dapat digunakan secara optimal dan lestari (Arsyad 2010).

Gambar 1 Kerangka pemikiran penelitian Kebijakan Pola Ruang Daerah (RTRWK)

Kotabaru yang Berkesinambungan Aspek Fisik Lahan dan Sosial

Ekonomi di Kabupaten Kotabaru : Kemampuan Lahan, Fungsi Hutan dan Penutupan Lahan (landcover)

Kebijakan Nasional : Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 435/Menhut-II/2009 tentang

Penunjukan Kawasan Hutan Provinsi Kalimantan Selatan

Non-sinkronisasi atau Sinkronisasi

Evaluasi Pola Ruang Daerah (RTRWK) Kotabaru, Kalimantan Selatan : Aspek Fisik Lahan dan Sosial Ekonomi, Serta

(19)

5

Perumusan Masalah

Berbagai bentuk kerusakan dan bencana lingkungan seringkali menjadi permasalahan lingkungan yang timbul akibat ketidaksesuaian antara pemanfaatan lahan dengan daya dukung lahan. Hal ini pada umumnya timbul akibat pertumbuhan penduduk atau perkembangan aktivitas manusia yang melampaui kemampuan lingkungan yang mendukungnya. Untuk menilai terjadinya ketimpangan antara daya dukung lahan dengan pemanfaatan lahan maka diperlukan suatu perencanaan dalam pengambilan keputusan pemanfaatan lahan melalui pendekatan evaluasi lahan.

Evaluasi lahan adalah suatu proses penilaian sumber daya lahan untuk tujuan tertentu dengan menggunakan suatu pendekatan atau cara yang sudah teruji. Hasil evaluasi lahan akan memberikan informasi dan/atau arahan penggunaan lahan sesuai dengan keperluan.

Namun dalam prakteknya kegiatan evaluasi lahan sering kali mengalami kesulitan salah satunya adalah cakupan yang begitu luas. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu pendekatan dengan menggunakan teknologi di bidang sistem informasi geografis (SIG) dan penginderaan jauh. Berdasarkan penjelasan uraian tersebut, maka didapatkan beberapa perumusan dan pertanyaan penting dalam kajian penelitian ini antara lain :

1. Bagaimana sebaran wilayah kemampuan lahan, kesesuaian fungsi dan status kawasan hutan serta penutupan lahan di kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan?

2. Bagaimana penilaian evaluasi aspek fisik dan penutupan lahan serta kebijakan nasional terhadap rencana pola ruang daerah di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan?

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk Menganalisis pola ruang Kabupaten Kotabaru (RTRW) terhadap kemampuan lahan dan kesesuaian hutan sebagai faktor pengendali serta penutupan lahan.

Manfaat Penelitian

Hasil kajian penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi sebagai bahan pertimbangan, arahan, penyempurnaan, strategi dan optimalisasi tata ruang wilayah bagi pengelola dan pengambil keputusan setempat dalam memutuskan penggunaan atau pemanfaatan lahan di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.

Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitan ini meliputi :

1. Batas administratif Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.

2. Menganalisis kemampuan lahan, kesesuaian fungsi dan status kawasan fungsi hutan serta penutupan lahan (landcover) di Kabupaten Kotabaru.

(20)

6

2.

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan wilayah di Kabupaten Kotabaru (Gambar 2) Provinsi Kalimantan Selatan (2020’- 4021’ Lintang Selatan dan 115015’-116030’ Bujur Timur) pada bulan Januari- September 2015. Pengolahan data akan dilakukan di Laboratorium Fisik Remote Sensing, Fakultas Kehutanan IPB.

Gambar 2 Peta lokasi kajian penelitian

Bahan dan Alat

Alat yang digunakan dalam pengolahan data penelitian adalah seperangkat alat komputer yang terdiri dari PC, Erdas Imagine 9.1. ArcView 3.2 dan Arc GIS 9.3. Bahan yang digunakan dalam pengolahan data penelitian mencakup data raster berupa citra Landsat 8 OLI tahun perekaman 2015 dan data vektor berupa data dijital aspek biofisik, dan data dijital RTRW Kotabaru.

(21)

7

Prosedur Penelitian Teknik Pengumpulan Data dan Jenis data

Data yang dikumpulkan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah pengumpulan data sekunder. Pengumpulan data sekunder berupa studi literatur dan pengumulan data spasial. Studi literatur dilaksanakan untuk memperoleh informasi-informasi yang dapat digunakan dalam mendukung data penelitian. Studi literatur diperoleh dari berbagai sumber seperti buku laporan, jurnal, atau dokumen lain yang terkait dengan kajian penelitian ini. Pengumpulan data spasial bertujuan untuk bahan pendukung dalam menganalisis kajian penelitian. Data spasial dalam kajian penelitian ini diperoleh dari instansi-instansi terkait. Penjelasan tujuan, jenis data, sumber, metode dan output, dalam kajian penelitian disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1 Tujuan, jenis data, sumber, metode dan output

Tujuan Jenis data Sumber Metode Output

Identifikasi kemampuan lahan

 Data Landsystem

RePPProt Analisis overlay dan faktor pembatas berdasarkan tingkat kelas dan unit pengelolaan lahan Satuan kemampuan dan unit pengelolaan lahan di kabupaten Kotabaru Identifikasi Kesesuaian Hutan  Data topografi  Data iklim  Data tanah  Data status kawasan hutan Badan Planologi Kehutanan Metode scoring atau pembobotan dan overlay Kesesuaian fungsi dan status kawasan hutan di kabupaten Kotabaru Identifikasi Penutupan Lahan  Citra Satelit Landsat 8 OLI tahun 2015 http://glovis.usgs.gov/ Analisis Interpretasi Citra Visual Jenis penutupan lahan di kabupaten Kotabaru Evaluasi pola pemanfaatan lahan yang optimal  Peta RTRWK Kotabaru, Kalimantan Selatan  Peta kemampua n lahan  Peta kesesuaian fstatus kawasan hutan  Peta Landcover - Analisis overlay antara faktor pengendali dan penutupan lahan terhadap RTRW Wilayah inkonsistensi faktor pengendali dan penutupan lahan terhadap RTRW di kabupaten Kotabaru

(22)

8

Analisis Kemampuan Lahan

Dalam kajian penelitian ini tahapan yang dilakukan dalam analisis kemampuan lahan untuk mengetahui alokasi pemanfaatan lahan yang tepat untuk pertanian yang dikategorikan dalam bentuk kelas, dan satuan kemampuan atau unit pengelolaan. Selain itu, analisis kemampuan lahan dapat diketahui lahan yang sesuai dengan untuk pertanian lahan yang harus dilindungi dan lahan yang dapat digunakan untuk pemanfaatan lainnya.

Pengelompokan kemampuan lahan dilakukan untuk membantu dalam penggunaan dan interpretasi peta tanah. Kemampuan lahan sangat berkaitan dengan bahaya kerusakan dan hambatan dalam mengelola lahan. Arsyad (2010) mengemukan bahwa ancaman kerusakan atau hambatan meningkat berturut-turut dari kelas I sampai kelas VIII. Dengan demikian apabila tingkat bahaya atau resiko kerusakan dan hambatan penggunaan meningkat, spektrum penggunaan lahan menurun yang disajikan pada Tabel 2 (Arsyad 2010).

Menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun 2009 mengenai pedoman penentuan daya dukung lingkungan hidup dalam penataan ruang wilayah menyatakan lahan terdiri dari 8 kelas yang ditandai dengan huruf romawi mempunyai tingkat kelas ancaman atau hambatan yang berbeda-beda terhadap penggunaan lahan di setiap kelasnya yang disajikan pada Tabel 3. Pengelompokan di setiap kelas tersebut tentunya memiliki pengkategorian terhadap penggunaan lahan. Pengelompokan pada kelas I dan II merupakan lahan yang sangat cocok untuk penggunaan lahan pertanian. Pengelompokan kelas III sampai dengan VI dapat dipertimbangkan untuk pemanfaatan lainnya. Selain itu juga dalam pengelompokan kelas III dan IV juga penggunaan lahan yang dapat juga digunakan sebagai lahan pertanian. Pengelompokan dua kelas terakhir yaitu kelas VII dan VIII merupakan lahan yang harus dilindungi atau untuk fungsi konservasi.

Tabel 2 Hubungan antara kelas kemampuan lahan dengan intensitas dan macam penggunaan lahan

Intensitas dan macam penggunaan meningkat

Cagar

Alam Hutan

Penggembalaan Garapan

Terbatas Sedang Intensif Terbatas Sedang Intensif Sangat Intensif H a mb a ta n menin g ka t da n pil iha n peng g un a a n ber ku ra ng I II III IV V VI VII VIII

(23)

9 Tabel 3 Klasifikasi kelas lahan dan penggunaannya

Kelas Kriteria Penggunaan

i I

1. Tidak mempunyai atau hanya sedikit hambatan yang membatasi penggunaannya.

2. Sesuai untuk berbagai penggunaan, terutama pertanian.

3. Karakteristik lahannya antara lain: topografi hampir datar - datar, ancaman erosi kecil, kedalaman efektif dalam, drainase baik, mudah diolah, kapasitas menahan air baik, subur, tidak terancam banjir.

Pertanian:

a. Tanaman pertanian semusim.

b. Tanaman rumput. c. Hutan dan cagar alam.

I II

1. Mempunyai beberapa hambatan atau ancaman kerusakan yang mengurangi pilihan penggunaannya atau memerlukan tindakan konservasi yang sedang.

2. Pengelolaan perlu hati-hati termasuk tindakan konservasi untuk mencegah kerusakan.

Pertanian: a. Tanaman semusim. b. Tanaman rumput. c. Padang penggembalaan. d. Hutan produksi. e. Hutan lindung. f. Cagar alam. I III

1. Mempunyai beberapa hambatan yangberat yang mengurangi pilihan penggunaan lahan dan memerlukan tindakan konservasi khusus dan keduanya.

2. Mempunyai pembatas lebih berat dari kelas II dan jika dipergunakan untuk tanaman perlu pengelolaan tanah dan tindakan konservasi lebih sulit diterapkan.

3. Hambatan pada angka I membatasi lama penggunaan bagi tanaman semusim, waktu pengolahan, pilihan tanaman atau kombinasi dari pembatas tersebut.

1. Pertanian: a.Tanaman semusim. b.Tanaman yang memerlukan pengolahan tanah. c.Tanaman rumput. d.Padang rumput. e.Hutan produksi.

f.Hutan lindung dan cagar alam.

2. Non Pertanian

I IV

1. Hambatan dan ancaman kerusakan tanah lebih besar dari kelas III, dan pilihan tanaman juga terbatas.

2. Perlu pengelolaan hati-hati untuk tanaman semusim, tindakan konservasi lebih sulit diterapkan.

1. Pertanian:

a.Tanaman semusim dan Tanaman pertanian pada umumnya.

b.Tanaman rumput c.Hutan produksi. d.Padang penggembalaan e.Hutan lindung dan suaka

alam. 2. Non-pertanian V

V

1. Tidak terancam erosi tetapi mempunyai hambatan lain yang tidak mudah untuk dihilangkan, sehingga membatasi pilihan penggunaannya.

2. Mempunyai hambatan yang membatasi pilihan macam penggunaan dan tanaman.

3. Terletak pada topografi datar-hampir datar tetapi sering terlanda banjir, berbatu atau iklim yang kurang sesuai.

1. Pertanian:

a. Tanaman rumput. b. Padang penggembalaan. c. Hutan produksi.

d. Hutan lindung dan suaka alam.

(24)

10

Kelas Kriteria Penggunaan

V VI

1. Mempunyai faktor penghambat berat yang menyebabkan penggunaan tanah sangat terbatas karena mempunyai ancaman kerusakan yang tidak dapat dihilangkan. 2. Umumnya terletak pada lereng curam,

sehingga jika dipergunakan untuk penggembalaan dan hutan produksi harus dikelola dengan baik untuk menghindari erosi.

1. Pertanian:

a. Tanaman rumput. b. Padang penggembalaan. c. Hutan produksi.

d. Hutan lindung dan cagar alam.

2. Non-pertanian.

VII

1. Mempunyai faktor penghambat dan ancaman berat yang tidak dapat dihilangkan, karena itu pemanfaatannya harus bersifat konservasi. Jika digunakan untuk padang rumput atau hutan produksi harus dilakukan pencegahan erosi yang berat.

a. Padang rumput. b. Hutan produksi.

VIII

1. Sebaiknya dibiarkan secara alami.

2. Pembatas dan ancaman sangat berat dan tidak mungkin dilakukan tindakan konservasi, sehingga perlu dilindungi.

a. Hutan lindung. b. Rekreasi alam. c. Cagar alam.

Kemampuan lahan kelas I tidak mempunyai faktor penghambat atau pembatas sedangkan pengelompokan pada kelas II – kelas VIII memiliki faktor-faktor yang menjadi pembatas atau penghambat dalam pemanfaatannya. Terdapat faktor-faktor yang menjadi pembatas berdasarkan tingkatan diantaranya (Arsyad 2010) :

1. Tekstur Tanah

t1 = halus: liat, liat berdebu.

t2 = agak halus: liat berpasir, lempung liat berdebu, lempung berliat, lempung liat berpasir.

t3 = sedang: debu, lempung berdebu, lempung. t4 = agak kasar: lempung berpasir.

t5 = kasar: pasir berlempung, pasir. 2. Permeabilitas

p1 = lambat: kurang dari 0.5 cm/jam. p2 = agak lambat: 0.5 sampai 2.0 cm/jam. p3 = sedang: 2.0 sampai 6.25 cm/jam. p4 = agak cepat : 6.25 sampai 12.5 cm/jam p5 = cepat : lebih dari 12.5 cm/jam

3. Kedalaman Sampai Kerikil, Padas, dan Plinthite (K) k0 = dalam: lebih dari 90 cm.

k1 = sedang: 90 sampai 50 cm. k2 = dangkal: 50 sampai 25 cm.

k3 = sangat dangkal: kurang dari 25 cm. 4. Lereng Permukaan (L)

l0 = (A) = 0-3% : datar.

l1 = (B) = 3-8% : landai/berombak.

l2 = (C) = 8-15% : agak miring/bergelombang. l3 = (D) = 15-30% : miring berbukit.

l4 = (E) = 30-45% : agak curam. l5 = (F) = 45-65% : curam. l6 = (G) = > 65% : sangat curam.

(25)

11 5. Drainase Tanah (d)

d0 = berlebihan: tanah mempunyai peredaran udara baik. Seluruh profil tanah dari atas sampai lapisan bawah berwarna terang yang seragam dan tidak terdapat bercak-bercak.

d1 = baik: tanah mempunyai peredaran udara baik. Tidak terdapat bercak-bercak berwarna kuning, coklat atau kelabu pada lapisan atas dan bagian atas lapisan bawah.

d2 = agak baik: lapisan atas tanah mempunyai peredaran udara baik. Tidak terdapat bercak-bercak berwarna kuning, kelabu, atau coklat. Terdapat bercak-bercak pada saluran bagian lapisan bawah.

d3 = buruk: bagian bawah lapisan atas (dekat permukaan) terdapat warna atau bercak-bercak berwarna kelabu, coklat dan kekuningan

d4 = sangat buruk: seluruh lapisan permukaan tanah berwarna kelabu dan tanah bawah berwarna kelabu atau terdapat bercak-bercak kelabu, coklat dan kekuningan.

6. Erosi (e)

e0 = tidak ada erosi.

e1 = ringan: kurang dari 25% lapisan atas hilang. e2 = sedang: 25 sampai75% lapisan atas hilang.

e3 = agak berat: lebih dari 75% lapisan atas hilang sampai kurang 25% lapisan bawah hilang.

e4 = berat: sampai lebih dari 25% lapisan bawah hilang. e5 = sangat berat : erosi parit

7. Kepekaan Erosi

KE1 = sangat rendah : 0.00 sampai 0.10

KE2 = rendah : 0.11 sampai 0.20

KE3 = sedang : 0.21 sampai 0.32

KE4 = agak tinggi : 0.33 sampai 0.43

KE5 = tinggi : 0.44 sampai 0.55

KE6 = sangat tinggi : 0.56 sampai 0.64

8. Faktor-Faktor Khusus a. Batuan

Bahan kasar dapat berada dalam lapisan tanah atau di permukaan tanah. Bahan kasar yang terdapat dalam lapisan 20 cm atau di bagian atas tanah yang berukuran lebih besar dari 2 mm dibedakan sebagai berikut:

1) Kerikil

Kerikil merupakan bahan kasar yang berdiameter lebih besar dari 2 mm sampai 7.5 mm jika berbentuk bulat atau sampai 15 cm sumbu panjang jika berbentuk gepeng. Kerikil di dalam lapisan 20 cmdikelompokkan sebagai berikut:

b0 = tidak ada atau sedikit: 0 sampai 15% volume tanah. b1 = sedang: 15 sampai 50% volume tanah.

b2 = banyak: 50 sampai 90% volume tanah. b3 = sangat banyak: lebih dari 90 % volume tanah. 2) Batuan kecil`

Batuan kecil merupakan bahan kasar atau batuan berdiameter 7.5 cm sampai 25 cm jika berbentuk bulat, atau sumbu panjangnya berukuran 15

(26)

12

cm sampai 40 cm jika berbentuk gepeng. Banyaknya batuan kecil dikelompokkan sebagai berikut:

b0 = tidak ada atau sedikit: 0 sampai 15% volume tanah. b1 = sedang: 15 sampai 50% volume tanah.

b2 = banyak: 50 sampai 90% volume tanah. b3 = sangat banyak: lebih dari 90% volume tanah. 3) Batuan lepas (stone)

Batuan lepas merupakan batuan yang bebas dan terletak di atas permukaan tanah, berdiameter lebih besar dari 25 cm (berbentuk bulat) atau bersumbu memanjang lebih dari 40 cm (berbentuk gepeng). Penyebaran batuan lepas di atas permukaan tanah dikelompokan sebagai berikut:

b0 = tidak ada: kurang dari 0.01% luas areal.

b1 = sedikit : 0.01% sampai 3% permukaan tanah tertutup. b2 = sedang : 3% sampai15% permukaan tanah tertutup. b3 = banyak : 15% sampai 90% permukaan tanah tertutup.

b4 = sangat banyak: lebih dari 90% permukaan tanah tertutup; tanah sama sekali tidak dapat digunakan untuk produksi pertanian. 4) Batu Terungkap (rock)

Batuan terungkap merupakan batuan yang tersingkap di atas permukaan tanah, yang merupakan bagian dari satuan besar yang terbenam di dalam tanah (batuan tertutup).Penyebaran batuan tertutup dikelompokkan sebagai berikut :

b0 = tidak ada: kurang dari 2% permukaan tanahtertutup. b1 = sedikit : 2% sampai 10% permukaan tanah tertutup. b2 = sedang : 10% sampai 50% permukaan tanah tertutup. b3 = banyak : 50% sampai 90% permukaan tanah tertutup.

b4 =sangat banyak : lebih dari 90% permukaan tanah tertutup; tanah sama sekali tidak dapat digarap.

b. Ancaman Banjir/Genangan

Ancaman banjir atau penggenangan dikelompokkan sebagai berikut: o0 = tidak pernah: dalam periode satu tahun tanah tidak pernah tertutup

banjir untuk waktu lebih dari 24 jam

o1 = kadang-kadang: banjir yang menutupi tanah lebih dari 24 jam terjadinya tidak teratur dalam periode kurang dari satu bulan.

o2 = selama waktu satu bulan dalam setahun tanah secara teratur tertutup banjir untuk jangka waktulebih dari 24 jam.

o3 = selama waktu 2 sampai 5 bulan dalam setahun, secara teratur selalu dilanda banjir lamanya lebih dari 24 jam.

o4 = selama waktu enam bulan atau lebih tanah selalu dilanda banjir secara teratur yang lamanya lebih dari 24 jam.

c. Salinitas

Salintas tanah dinyatakan dalam kandungan garam larut atau hambatan listrik ekstrak tanah sebagai berikut :

g0 = bebas : 0 sampai 0.15% garam larut; 0 sampai 4 (EC x 103) mmhos cm-1 pada suhu 250C

g1 = terpengaruh sedikit : 0.15% sampai 0.35% garam larut; 4 sampai 8 (EC x 103) mmhos cm-1 pada suhu 250C

(27)

13 g2 = terpengaruh sedang : 0.35 sampai 0.65% garam larut; 8 sampai 15

(EC x 103) mmhos cm-1 pada suhu 250C

g3 = terpengaruh hebat : lebih dari 0.65% garam larut; lebih dari 15 (EC x 103) mmhos cm-1 pada suhu 250C

Kemampuan lahan pada tingkat unit pengelolaan memberikan keterangan yang lebih spesifik dan detil dari subkelas. Tingkat unit pengelolaan lahan diberi simbol dengan menambahkan angka di belakang simbol subkelas. Penentuan kemampuan lahan ada tingkat unit pengelolaan penting, terutama untuk melakukan evaluasi kecocokan penggunaan lahan saat ini. Evaluasi kecocokan penggunaan lahan diperlukan sebagai masukan bagi revisi rencana tata ruang atau penggunaan lahan yang sudah ada.

Berdasarkan faktor-faktor penghambat tersebut diperoleh kombinasi kelas kemampuan lahan. Kombinasi kelas kemampuan tersebut menjadi salah satu bahan pertimbangan untuk alokasi pemanfaatan ruang yang tepat. Berikut ini merupakan kelas kemampuan lahan berdasarkan faktor-faktor penghambat yang disajikan pada Tabel 4 (Arsyad 2010).

Tabel 4 Kelas kemampuan lahan berdasarkan faktor-faktor penghambat

Faktor Penghambat Kelas Kemampuan Lahan

I II III IV V VI VII VIII

Lereng permukaan A B C D A E F G

Kepekaan erosi KE1, KE2 KE3 KE4,KE5 KE6 * * * *

Tingkat erosi e0 e1 e2 e3 ** e4 e5 *

Kedalaman tanah K0 K1 K2 K3 * * * *

Tekstur lapisan atas t1,t2,t3 t1,t2,t3 t1,t2,t3,t4 t1,t2,t3,t4 * t1,t2,t3,t4 t1,t2,t3,t4 t5

Tekstur lapisan bawah Sda sda Sda sda * sda Sda sda Permeabilitas P2,p3 P2,p3 P2,p3 P2,p3 P1 * * P5

Drainase d1 d2 d3 d4 d5 ** ** d0

Kerikil/batuan b0 b0 b1 b2 b3 * * b4

Ancaman banjir o0 o1 o2 o3 o4 ** ** *

Garam/salinitas g0 g1 g2 g3 ** g3 * *

Catatan: (*) : dapat mempunyai sebaran sifat faktor penghambat dari kelas yang lebih rendah

(**) : tidak berlaku

Tahapan dalam pembuatan peta kemampuan lahan diawali (Gambar 3) dengan pengumpulan data mengenai parameter atau infomasi penyusunan seperti data kelerengan, data tekstur tanah, data kedalaman efektif, data erosi dan data drainase. Masing-masing informasi tersebut diperhalus poligon yang masih kasar dan penyesuaian antar poligon dengan poligon yang memiliki atribut jenis yang sama melalui tahapan analisis spasial. Proses analisis spasial merupakan proses menggabungkan informasi dari beberapa layer data yang berbeda dengan menggunakan operasi spasial tertentu. Dari hasil tersebut dilakukan proses overlay didapatkan informasi berdasarkan kombinasi dari ke empat parameter sehingga dapat dilakukan analisis kemampuan lahan. Besarnya hambatan untuk setiap parameter akan menentukan pengelompokkan berdasarkan kelas, subkelas

(28)

14

dan unit pengelolaan kemampuan lahan tersebut. Analisis peta kemampuan lahan dilakukan untuk perencanaan ruang atau alokasi pemanfaatan ruang sehingga lahan digunakan sesuai dengan peruntukkannya.

Analisis Kesesuaian Fungsi dan Status Kawasan Hutan

Kesesuaian lahan merupakan penggambaran tingkat kecocokan sebidang lahan untuk penggunaan tertentu (FAO 1976). Analisis kesesuaian lahan pada dasarnya berhubungan dengan evaluasi untuk penggunaan tertentu. Dalam hal kajian penelitian ini lebih ditujukan untuk penggunaan yang lebih spesifik yang ditinjau dari sifat biofisik lingkungan seperti iklim, tanah, topografi, hidrologi atau drainase sesuai dengan suatu komoditas tertentu.

Kesesuaian lahan (land suitability) berbeda dengan kemampuan lahan (land capability). Kemampuan lahan lebih menekankan pada kapasitas lahan terhadap penggunaan lahan dalam suatu wilayah. Semakin banyak jenis kegiatan penggunaan lahan dalam suatu wilayah, makan semakin tinggi kemampuan lahannya. Kesesuaian lahan adalah kesesuaian dari sebidang lahan untuk penggunaan atau komoditas spesifik. Tujuan prinsip analisis kesesuaian lahan adalah untuk memprediksi antara potensi lahan terhadap keterbatasan penggunaan lahan (Pan dan Pan 2012).

Analisis kesesuaian lahan yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi analisis kesesuaian untuk kawasan lindung dan kawasan budidaya. Analisis yang dilakukan berdasarkan pada fungsi kawasan yang mengacu pada SK Menteri Pertanian No. 837/KPTs/UM/11/1980 pada kriteria dan tata cara penetapan hutan lindung dan menurut SK Menteri Pertanian No. 683/KPt/UM/08/1981 mengenai kriteria dan tata cara penetapan hutan produksi. Dalam Surat Keputusan ini, terdapat tiga faktor atau variabel yang dinilai sebagai penentuan fungsi hutan sebagai kawasan lindung dan kawasan budidaya yaitu 1) kelerengan lapangan 2) jenis tanah menurut kepekaan terhadap erosi 3) intensitas/curah hujan harian rata-rata. Adapun klasifikasi dan nilai skor dari ketiga faktor/variabel di atas dapat

Peta Kemampuan Lahan Data Tekstur Tanah Data Erosi Data Kelerengan Data Drainase Join Attribute

Identifikasi Faktor Pembatas

Gambar 3 Bagan alir proses kelas kemampuan lahan Data Kedalaman

(29)

15 dilihat pada tabel dibawah ini. Tumpang susun (overlay) pada evaluasi lahan untuk fungsi hutan tersaji pada Gambar 4.

Tabel 5 Klasifikasi dan nilai skor faktor kelerengan

Kelas Kelerengan (%) Klasifikasi Nilai Skor

I 0-8 Datar 20

II 8-15 Landai 40

III 15-20 Agak Curam 60

IV 25-40 Curam 80

V >40 Sangat Curam 100

Tabel 6 Klasifikasi dan nilai skor jenis tanah

Kelas Jenis Tanah Klasifikasi Nilai Skor

I Alluvial, tanah glei, planosol, hidromorf, kelabu, lateri air tanah

Tidak peka 15

II Latosol Agak peka 30

III Kambisol. Mediteran, tanah brown forest, non calcic brown

Kurang peka 45

IV Vertisol, andosol, grumusol, laterit, podsol, podsolik

Peka 60

V Litosol, organosol, rendzina, regosol

Sangat peka 75

Tabel 7 Klasifikasi dan nilai skor intesitas/curah hujan rata-rata

Kelas Curah Hujan (mm/hr) Klasifikasi Nilai Skor

I < 13.6 Sangat renah 10

II 13.6-20.7 Rendah 20

III 20.7-27.7 Sedang 30

IV 27.7-34.8 Tinggi 40

V >34.8 Sangat tinggi 50

Analisis kesesuaian lahan untuk fungsi hutan (kawasan budidaya dan kawasan lindung) menggunakan metode scoring atau pembobotan. Nilai skoring untuk masing-masing parameter ditentukan dengan mengalikan nilai kelas yang relevan dengan angka bobotnya. Skoring akhir ini merupakan nilai indeks wilayah dari suatu kawasan yang kemudian dievaluasi untuk menentukan menentukan fungsi kawasan seperti tertera Tabel 8 di bawah ini. Selain itu, adapun analisis data status kawasan fungsi hutan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 435/Menhut-II/2009 tentang Penunjukkan Kawasan Hutan Provinsi Kalimantan Selatan yang peroleh dari instansi pemerintahan terkait.

Tabel 8 Indeks wilayah dan klasifikasi fungsi hutan

Indeks Wilayah Klasifikasi Fungsi

0 - 124 Hutan produksi

125 - 174 Hutan poduksi terbatas

(30)

16

Gambar 4 Bagan alir proses kesesuaian lahan fungsi hutan

Analisis Data Penutupan Lahan Pengolahan Citra

Layer stack

Layer stack merupakan suatu proses penggabungan band yang mempunyai format .TIFF menjadi format imagine (.img). Penggabungan band dilakukan sesuai kebutuhan. Pada penelitian ini band yang digunakan adalah band 1,2,3,4,5, 6, 7 dan 9 karena pada band/saluran tersebut memiliki resolusi spasial yang sama yaitu 30 meter. Proses layer stack dilakukan dengan menggunakan Erdas Imagine 9.1

Pembuatan Citra Komposit

Pembuatan citra komposit dilakukan dengan menggabungkan citra komposit RGB (Red Green Blue) dengan komposisi band 6-5-4

Kemiringan lereng Kelas Skor 0-8 20 8-15 40 15-20 60 25-40 80 >40 100 Jenis Tanah Kelas Skor Tidak peka 15 Agak peka 30 Kurang peka 45 Peka 60 Sangat peka 75 Curah Hujan Kelas (mm/hr) Skor < 13.6 10 13.6-20.7 20 20.7-27.7 30 27.7-34.8 40 >34.8 50 Metode Scoring Peta Kesesuaian Lahan Fungsi Hutan Hutan Produksi (memenuhi syarat skor : 0 - 124) Hutan Produksi Terbatas (memenuhi syarat skor : 124 - 175) Hutan Lindung (memenuhi syarat skor : > 175)

(31)

17

Pemotongan Citra

Pemotongan citra (cropping) dilakukan berdasarkan lokasi yang menjadi pusat penelitian yang mana harus disesuaikan dengan batas adminitrasi Kabupaten Kotabaru. Proses pemotongan citra ini dibantu dengan software Erdas Imagine 9.1

Interpretasi Citra Visual

Metode klasifikasi yang akan digunakan adalah klasifikasi visual. Klasifikasi visual atau analisis secara visual merupakan pengenalan tutupan lahan yang kemudian dilakukan pendeliniasian (pemberian batas antara tutupan lahan yang berbeda). Deliniasi dan dijitasi dilakukan dengan menggunakan software ArcGis 9.3 Elemen yang digunakan dalam interpretasi terdiri atas rona, warna, bentuk, ukuran, tekstur, pola, dan asosiasi. Klasifikasi visual dilakukan untuk mengidentifikasi penentuan jumlah kelas penutupan lahan dan tipe-tipe penutupan lahan yang ada di Kabupaten Kotabaru.

Uji Akurasi

Analisis akurasi dilakukan untuk mengetahui tingkat ketepatan klasifikai yang dibuat menggunakan suatu matriks kontingensi yaitu suatu matriks bujur sangkar yang memuat jumlah piksel yang diklasifikasikan. Matriks ini sering disebut “error matrix” atau “confusion matrix”. Dalam matrik kontingensi ini, analis dapat juga menghitung besanya akurasi pembuat (producers accuracy) dan akurasi pengguna (users accuracy) dari setiap kelas

Akurasi pembuat adalah akurasi yang diperoleh dengan membagi piksel yang benar dengan jumlah total piksel daerah contoh per kelas. Pada akurasi ini akan terjadi kesalahan omisi, oleh karena itu akurasi pembuat ini sering dikenal dengan istilah “omission error”. Sebaliknya, jika jumlah piksel yang benar dibagi dengan total piksel dalam kolom akan menghasilkan akurasi pengguna (users accuracy), yang juga dikenal dengan istilah “ commission error”. Saat ini akurasi yang dianjurkan untuk digunakan adalah akurasi Kappa. Akurasi Kappa juga digunakan untuk menguji kesignifikanan antara dua matrik kesalahan dari metode yang berbeda atau dari dua kombinasi band yang berbeda (Jaya 2002).

Berikut ini adalah beberapa persamaan akurasi yang digunakan adalah [( ∑ ) ( ∑ )] * ((∑ ) )+ Keterangan

N : Banyaknya piksel dalam contoh Xi+ : Jumlah piksel dalam baris ke-i

X+i : Jumlah piksel dalam kolom ke-i

(32)

18

Gambar 5 Bagan alir proses identifikasi penutupan lahan

Citra Landsat 8

Pembuatan Citra band komposit

Layer Stacking

Pemotongan Citra

Peta Penutupan Lahan Kabupaten Kotabaru

Tahun 2015 Interpretasi Citra Visual

(33)

19

HASIL DAN PEMBAHASAN

Peruntukan Lahan Menurut RTRW Kabupaten Kotabaru Tahun 2012 sampai 2032

Arahan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kotabaru tahun 2012 sampai 2032 memiliki 3 tipe kawasan dan 12 peruntukan lahan (Gambar 6). Berdasarakan hasil analisis data, tipe kawasan di lokasi kajian terdiri dari kawasan lindunng, kawasan budidaya dan kawasan lainnya. Peruntukan lahan pada tipe kawasan lindung antara lain cagar alam (CA) dan kawasan lindung (KL). Peruntukan lahan ada tipe kawasan budidaya antara lain kawasan budidaya hutan produksi (KBHP), kawasan budidaya perikanan darat (KBPD), kawasan budidaya pertanian lahan basah (KBPLB), kawasan budidaya tanaman pertanian lahan kering (KBTPLK) dan kawasan budidaya tanaman tahunan perkebunan (KBTTP). Sedangkan tipe pada kawasan lainnya antara lain kawasan industri nasional besar (KIN Besar), kawasan industri nasional menengah (KIN Menengah), kawasan pemukiman perdesaan (Kpem Perdesaan), kawasan pemukiman perkotaan (Kpem Perkotaan) dan pelabuhan khusus (Pelsus).

Tabel 9 Luasan (Ha) dan proporsi (%) pada tipe kawasan dan arahan RTRW Kabupaten Kotabaru tahun 2012 sampai 2032

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kotabaru 2012

sampai 2032 Luasan (Ha) Proporsi (%) Total Luasan (Ha) Proporsi (%) Tipe

Kawasan Peruntukan Lahan

Lindung Cagar Alam 38 781.16 5.70 161 180.32 23.70 Kawasan Lindung 122 399.16 18.00

Budidaya

Kawasan Budidaya Hutan Produksi 156 449.14 23.01

502 220.15 73.86 Kawasan Budidaya Perikanan Darat 21 59.82 0.32

Kawasan Budidaya Pertanian Lahan Basah 153 89.17 2.26 Kawasan Budidaya Tanaman Pertanian Lahan

Kering 16170.73 2.38

Kawasan Budidaya Tanaman Tahunan Perkebunan 312 051.28 45.89

Lainnya

Kawasan Industri Nasional Besar 2 024.58 0.30

16 605.35 2.44 Kawasan Industri Nasional Menengah 2 210.62 0.33

Kawasan Pemukiman Perdesaan 4 876.59 0.72 Kawasan Pemukiman Perkotaan 7 475.74 1.10

Pelabuhan Khusus 17.82 0.00

Total 680 005.82 100.00 680 005.82 100.00

Berdasarkan hasil analisis luasan setiap tipe kawasan di lokasi penelitian (Tabel 9), tipe kawasan budidaya memiliki proporsi luasan yang terluas sebesar 73.86 % atau 502 220,15 Ha. Pada kawassan lindung memiliki luasan proporsi sebesar 23. 70 % atau 161 180.32 Ha sedangkan luasan terkecil terdapat pada kawasan lainnya dengan proporsi luasan sebesar 2.44 % atau 16 605.35 Ha. Menurut arahan RTRW Kabupaten Kotabaru, pada peruntukan lahan kawasan budidaya tanaman tahunan perkebunan (KBTTP) yang terdapat tipe kawasan budidaya merupakan peruntukan lahan yang terluas di antara yang lainya dengan proporsi luasan 45.89 % atau 312 051.28 Ha dari total keseluruhan luasan peruntukan lahan di Kabupaten Kotabaru. Pada tipe kawasan lindung, peruntukan

(34)

20

lahan kawasan lindung (KL) merupakan luasan yang terbesar dengan proporsi sebesar 18.00 % atau 122 399.16 Ha. Sedangkan pada tipe kawasan lainnya, peruntukan lahan kawasan pemukiman perkotaan (Kpem Perkotaan) merupakan kawasan yang terluas dengan proporsi luasan sebesar 1.10 % atau 7475.74 Ha.

Gambar 6 Peta arahan rencana tata ruang wilayah Kabupaten Kotabaru 2012 sampai 2032

Klasifikasi Kelas Kemampuan Lahan di Kabupaten Kotabaru

Pengklasifikasian kelas dan satuan unit pengelolaan kelas kemampuan lahan yang dilakukan membantu penggunaan dan interpretasi peta lahan. Kelas kemampuan lahan memiliki tingkat faktor pembatas yang berbeda di setiap kelasnya sehingga peruntukan lahan akan berbeda-beda. Dalam kaitannya dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW), semakin tinggi tingkat kelas kemampuan lahan akan semakin sedikit pemilihan jenis peruntukan lahan dan sebaliknya.

Berdasarkan hasil analisis kemampuan lahan (Lampiran 1) yang menggabungkan beberapa faktor pembatas meliputi : tekstur tanah, kedalaman tanah, kemiringan lereng (slope), drainase dan erosi menghasilkan distribusi

(35)

21 wilayah kelas dan unit pengelolaan kemampuan lahan yang di sajikan pada Gambar 7.

Dari hasil luasan dan proporsi sebaran kelas dan unit pengelolaan kelas kemampuan lahan diperoleh luasan wilayah yang disajikan pada tabel 10. Kelas kemampuan lahan II menjadi wilayah sebaran yang terluas di antara kelas kemampuan lahan lainnya, hal ini dikarenakan pengaruh dari faktor pembatas yang menyebar di seluruh areal kajian seperti tingkat kemiringan yang di kategorikan datar dan landai; tingkat erosi dikategorikan pada aman atau tidak ada; tingkat tekstur tanah yang dikategorikan halus; tingkat drainase yang dikategorikan baik; tingkat kedalaman tanah yang memiliki kedalaman tanah yang lebih dari 50 cm. Arsyad (2010) menjelaskan bahwa pada kelas kemampuan II memerlukan tindakan intensitas konservasi yang sedang sehingga mudah diterapkan dalam pengelolaannya dan sesuai digunakan pada tanaman semusim, tanaman rumput, padang penggembalaan, hutan produksi dan cagar alam.

Tabel 10 Luasan (Ha) dan proporsi (%) pada kelas kemampuan lahan dan unit pengelolaan kelas kemampuan lahan

Kemampuan lahan

Luasan (Ha) Proporsi (%) Total

Luasan (Ha) Proporsi (%) kelas Kelas satuan

II II d2 k1 23 078.39 3.40 II d2 k1 e1 162.57 0.02 II k1 224 772.68 33.14 II k1 e1 6 298.88 0.93 II k3 668.33 0.10 II l1 d2 k1 7 361.06 1.09 II l1 d2 k1 e1 36.47 0.01 428 406.98 63.17 II l1 k1 16 623.95 2.45 II l1 k1 e1 274.46 0.04 II l2 e2 383.16 0.06 II t1 120 938.85 17.83 II t1 l1 23 962.83 3.53 II t1 l1 e1 3 845.35 0.57 III III e2 62 229.08 9.18 III k3 93 494.52 13.79 164 839.20 24.31 III l2 9 115.60 1.34 IV IV e3 16 312.25 2.41 IV k3 e3 1 539.66 0.23 IV l3 4 664.99 0.69 IV l3 e3 1.98 0.00 73 040.91 10.77 IV l3 k3 50 481.66 7.44 IV l3 k3 e3 40.37 0.01 VI VI e4 2 382.40 0.35 VI l4 8 597.61 1.27 11 352.30 1.67 VI l4 e4 372.29 0.05 VII VII l5 567.07 0.08 567.07 0.08 Total 100.00 678 206.46 100.00

Kemampuan lahan pada kelas III mempunyai faktor pembatas yang lebih berat dibandingkan dengan kelas kemampuan lahan sebelumnya seperti kemiringan lereng (>8-15%); tingkat kepekaan erosi yang sedang bahkan tinggi;

(36)

22

berdrainase selalu basah dan jenuh air serta kedalaman tanah yang sangat dangkal (< 25 cm). Faktor pembatas di kelas kemampuan lahan ke III mengurangi pilihan jenis peruntukan lahan dan memerlukan tindakan konservasi yang lebih khusus. Faktor pembatas yang lebih berat lagi terjadi pada kemampuan lahan kelas IV yang memiliki kemiringan lereng (>15-30%), tingkat erosi yang berat, dan berdrainase tanah yang agak buruk. Sedangkan untuk kelas kemampuan lahan VI, menurut Hardjowigeno dan Widiatmaka (2007), sudah tidak cocok digunakan untuk penggunaan lahan pertanian karena memiliki faktor pembatas yang berat, yaitu kemiringan lereng (30%-45%) dan tingkat erosi berat.

Kelas kemampuan lahan VII merupakan wilayah luasan terkecil diantara wilayah kelas kemampuan lahan. Hal ini dikarenakan wilayah luasan faktor pembatas pada kelas kemampuan lahan VII yang membentuknya cenderung kecil dibandingkan kelas sebelumnya. Pada kelas kemampuan VII tidak diperuntukan pada budidaya pertanian karena memiliki faktor pembatas yang berat sehingga ancaman pada kelas kemampuan ini tidak dapat dihindari seperti kemiringan lereng 45-65% dan tingkat erosi yang sangat berat maka dari itu peruntukan lahan yang sesuai adalah bersifat konservasi atau keadaan alami.

Gambar 7 Peta kemampuan unit pengelolaan lahan di Kabupaten Kotabaru Selain itu, terdapat kawasan ekosistem khas di lokasi kajian penelitian yaitu kawasan karst. Berdasarkan ketentuan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2012 menyatakan bahwa kawasan karst merupakan kawasan lindung geologi sebagai bagian dari kawasan lindung nasional. Keberadaan kawasan karst merupakan hal yang penting karena

(37)

23 termasuk dalam kawasan lindung sehingga pada kajian penelitian ini termasuk dalam kategori kelas kemampuan lahan ke VIII dan penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan lahan budidaya pertanian. Berdasarkan hasil analisis pada kawasan karst di kajian penelitian, kawasan karst mempunyai luasan sebesar 178 005.71 Ha atau 26.24% dari total luasan kajian penelitian. Gambar 8 menunjukan pola sebaran kawasan karst beserta kemampuan unit pengelolaan lahan di Kabupaten Kotaru.

Menurut Brinkmann dan Jo Garren (2011) kawasan karst memiliki peranan yang penting pada lingkungan, hal ini dikarenakan kawasan karst merupakan kawasan menyediakan jasa lingkungan seperti penyedia air bersih, bahan material dan bagian dari pengendali perubahan iklim. Selain itu, Suryatmojo, (2006) mengemukakan bahwa kawasan karst memiliki sumber daya yang sangat potensial untuk dikembangkan seperti sumberdaya lahan, sumberdaya hayati, dan potensi bentang lahan baik permukaan ataupun bawah permukaa. Kawasan karst memiliki fungsi ekosistem yang serupa dengan hutan rimba yaitu sebagai pengatur tata air khususnya air bawah tanah dan penyimpan potensi karbon.

Gambar 8 Peta kemampuan lahan di Kabupaten Kotabaru

Evaluasi Kemampuan Lahan Terhadap Peruntukan Lahan Menurut RTRW Kabupaten Kotabaru Tahun 2012 sampai 2032

Berdasarkan hasil analisis evaluasi kelas satuan unit pengelolaan kemampuan lahan terhadap peruntukan lahan RTRW Kabupaten Kotabaru didapatkan 139 polygon. Klasifikasi kelas satuan kemampuan lahan yang

(38)

24

konsisten terhadap RTRW sebanyak 110 polygon dengn luasan sebesar 437 537.95 Ha atau 64.73 % dari total luasan kajian penelitian. Sedangkan luasan inkonsistensi sebesar 238 422.51 Ha atau 35.27 % dari total luasan kajian penelitan (Tabel 11).

Berdasarkan Tabel dibawah ini terdapat 29 polygon inkonsistesi kemampuan lahan terhadap RTRW Kotabaru diperoleh dari hasil evaluasi lahan. Inkosistensi terbesar terjadi pada kelas VIII yang diperuntukan pada lahan KBHP (Kawasan Budidaya Hutan Produksi ), KBTPLK (Kawasan Budidaya Tanaman Pertanian Lahan Kering), KBTTP (Kawasan Budidaya Tanaman Tahunan Perkebunan), KIN Menengah (Kawasan Industri Nasional Menengah), KPem Perdesaan (Kawasan Pemukiman Perdesaan) dan KPem Perkotaan (Kawasan Pemukiman Perkotaan). Kelas kemampuan lahan VIII dalam kajian penelitian adalah kawasan karst. Kawasan karst merupakan ekosistem khas yang berada di kabupaten Kotabaru dengan luasan 178 005.71 Ha atau 26.24 % dari total luasan kajian penelitian. Kawasan karst yang terjadi wilayah inkonsistensi terbesar terjadi pada peruntukan wilayah KBTTP yaitu sebesar 92 347.65 Ha atau 13.66 % dari total luasan wilayah kajian penelitian.

Tabel 11 Luasan (Ha) dan proporsi (%) pada evaluasi inkonsistensi kelas satuan kemampuan lahan terhadap RTRW Kabupaten Kotabaru

Kelas Unit Pengelolaan

Kemampuan Lahan RTRW Luasan (Ha) Proporsi (%)

II k3 KBHP 595.86 0.09 II k3 KBTTP 55.30 0.01 III k3 KBHP 17 723.80 2.62 III k3 KBPLB 6 897.06 1.02 III k3 KBTPLK 1 626.77 0.24 III k3 KBTTP 13 006.33 1.92 IV e3 KBHP 110.71 0.02 IV e3 KBPLB 697.29 0.10 IV e3 KBTPLK 1 833.98 0.27 IV e3 KBTTP 11 987.60 1.77 IV e3 KPem Perdesaan 437.73 0.06 IV e3 KPem Perkotaan 5.50 0.00 IV k3 e3 KBHP 196.39 0.03 IV k3 e3 KBTTP 4.20 0.00 IV k3 e3 KPem Perdesaan 29.73 0.00 IV l3 e3 KBHP 0.10 0.00 IV l3 k3 KBHP 6 055.30 0.90 IV l3 k3 KBTTP 1.87 0.00 IV l3 k3 KPem Perdesaan 0.00 0.00 VI e4 KBHP 87.92 0.01 VI e4 KBTTP 0.00 0.00 VI e4 KPem Perdesaan 14.41 0.00 VI l4 e4 KBHP 6.37 0.00 VIII KBHP 80 207.62 11.87

(39)

25

Kelas Unit Pengelolaan

Kemampuan Lahan RTRW Luasan (Ha) Proporsi (%)

VIII KBTPLK 1 673.12 0.25

VIII KBTTP 92 347.65 13.66

VIII KIN Menengah 6.55 0.00

VIII KPem Perdesaan 907.91 0.13

VIII KPem Perkotaan 1 905.45 0.28

Total 238 422.51 35.27

Keberadaan kawasan karst pada kelas kemampuan lahan VIII merupakan kawasan yang mempunyai ciri khas dan sangat berbeda dengan ekosistem lainnya. Perubahan pada kawasan karst akan berdampak pada perubahan fungsi ekosistemnya. Berdasarkan ketentuan Peraturan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral No. 17 tahun 2012 pada peralihan penggunaan lahan di kawasan karst adalah tidak mengganggu dan merusak nilai keunikan dan fungsi pengatur alami tata air. Selain itu juga peranan masyarakat setempat merupakan hal yang penting pada pengedalian kawasan karst sehingga diperlukan pelatihan dan pendidikan terhadap masyarakat setempat mengenai pengelolaan kawasan karst (Yan dan Zhan 2002).

Kawasan inkosistensi selanjutnya terjadi pada kelas kemampuan lahan III dengan faktor pembatas kedalaman tanah (k3) yang diperuntukan KBHP (Kawasan Budidaya Hutan Produksi) dalam RTRW dengan luasan secara berturut- turut sebesar 17 723.80 Ha atau 2.62% dari total luasan kajian penelitian. Kelas kemampuan berikutnya adalah kelas kemampuan lahan IV dengan faktor pembatas tingkat erosi (e3) yang diperuntukan KBTTP (Kawasan Budidaya Tanaman Tahunan Perkebunan) dalam RTRW dengan luasan sebesar 11 987.60 Ha atau 1.77 % dari total luasan kajian penelitian. Faktor pembatas satuan lahan merupakan hal yang berpengaruh pada evaluasi dalam kajian penelitian ini. Secara keseluruhan, hasil wilayah ketidaksesuain di pengaruhi oleh faktor kedalaman tanah (k) pada tingkat 3, erosi (e) pada tingkat 3 dan 4, kelerengan (l) pada tingkat 3 dan 4. Faktor pembatas tersebut akan berpengaruh pada kehidupan ekosistem yang berada di wilayah tersebut seperti peruntukan wilayah KBHP (Kawasan Budidaya Hutan Produksi) dan KBTTP (Kawasan Budidaya Tanaman Tahunan Perkebunan) yang berada pada faktor pembatas k3 (kedalaman tanah sangat dangkal, < 25 cm), hal ini dikarenakan akan menghambat pertumbuhan akar dari tumbuhan karena lapisan tanah yang padat. Pernyataan tersebut di dukung juga oleh Hardjowigeno (1995) yang mengemukakan banyaknya perakaran, baik akar halus maupun akar kasar, serta dalamnya akar-akar tersebut dapat menembus tanah dan bila tidak dijumpai akar tanaman, maka kedalaman efektif dipengaruhi oleh kedalaman solum tanah.

Selain itu, terlihat juga pada peruntukan RTRW di wilayah kelas kemampuan VI dengan memiliki faktor pembatas kelerengan (l) dan erosi (e) pada tingkat faktor pembatas ke 4 (kelerengan 30-45% dan tingkat erosi yang sangat berat : > 25 % lapisan tanah akan hilang), hal ini akan berpengaruh tingkat bahaya pada wilayah tersebut khususnya untuk kawasan pemukiman bila terjadi longsor sedangkan untuk kawasan budidaya jika tidak dikelola dengan baik untuk menghidari erosi maka akan kehilangan lapisan tanah oleh erosi dan mengurangi hasil tanaman .

Gambar

Gambar 1  Kerangka pemikiran penelitian  Kebijakan Pola Ruang Daerah (RTRWK)
Gambar 2  Peta lokasi kajian penelitian
Tabel 1  Tujuan, jenis data, sumber, metode dan output
Tabel 2  Hubungan antara kelas kemampuan lahan dengan intensitas dan macam  penggunaan lahan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Identifikasi peta perubahan bentuk penutupan lahan dilakukan dengan menggunakan Extention Change Detection Arc View Gis 3,3 pada citra Landsat ETM tahun 2002, 2006 dan 2009

Setelah dilakukan dilakukan proses klasifikasi dengan menggunakan metode maxiumum likelihood pada citra Landsat 8 didapatkan peta klasifikasi penutupan lahan

Identifikasi peta perubahan bentuk penutupan lahan dilakukan dengan menggunakan Extention Change Detection Arc View Gis 3,3 pada citra Landsat ETM tahun 2002, 2006 dan 2009

RMS ≤ 1 Koreksi Citra Penajaman Citra Klasifikasi Citra Peta Penggunaan Lahan Analisa Zona Rawan Banjir Selesai Peta RBI Citra Landsat Tahun 2012 Peta Administrasi Trianggular

Luas tutupan lahan pada daerah penelitian diperoleh dari hasil klasifikasi terselia citra Landsat tahun 1994, citra Landsat tahun 2001 dan citra ASTER tahun 2007.. Luas

Hasil kajian pendahuluan yang telah dilakukan mengenai pendekatan teori probabilitas untuk pemetaan lahan sawah berdasarkan perubahan penutup lahan citra Landsat

Diagram alir pelaksanaan penelitian DATA LANDSAT ENHANCEMENT, KOREKSI GEOMETRI DIGITASI KOMBINASI KANAL, KLASIFIKASI PENUTUPAN LAHAN IDENTIFIKASI KRITERIA LAHAN KRITIS

Gambar 2 Diagram Alir Tahap Penelitian Pengumpulan Data Citra Landsat 1992, 2000 &amp; Aster 2007 Peta Penutupan Lahan Tahun 1992,2000 dan 2007 Interpretasi dan