o o k k c c . . o o m m / / i i n n d d o o n n e e s s i
i a a
p p u u s s t t a a k k a a
o o k k c c . . o o m m / / i i n n d d o o n n e e s s i
i a a p p
u u s s t t a a k k a a
PENGANTAR
PENGANTAR
SOSIOLOGI
SOSIOLOGI HUK
HUKUM
UM
Yesmil Anwar dan Adang
Yesmil Anwar dan Adang
o o m m / / i i n n d d o o n n e e s s i
i a a p p
u u s s t t a a k k a a
Sanksi Pelanggaran Pasal 72 Sanksi Pelanggaran Pasal 72
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta 1.
1. Barangsiapa dengan Barangsiapa dengan sengaja sengaja dan dan tanpa tanpa hak hak melakukan melakukan perbuatan perbuatan sebagaimanasebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1
pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling(satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.1.000.000,0
sedikit Rp.1.000.000,00 ( 0 ( satu juta rupiah), atau satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuhpidana penjara paling lama 7 (tujuh tahun dan/atau denda paling banyak Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar
tahun dan/atau denda paling banyak Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).rupiah).
2.
2. Barangsiapa dengan Barangsiapa dengan sengaja sengaja menyiarkan, menyiarkan, memamerkan, memamerkan, mengedarkan, mengedarkan, atau atau menjualmenjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak cipta atau Hak kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.500.000.000,00 (lima ratus lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). juta rupiah). k k . . c c o o m m / / i i n n d d o o n n e e s s i
i a a p p
u u s s t t a a k k a a
PENGANTAR
PENGANTAR
SOSIOLOGI
SOSIOLOGI
HUKUM
HUKUM
Yesmil Anwar dan Adang
Yesmil Anwar dan Adang
Pener
Penerbit PT Gramedia Widibit PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 2008asarana Indonesia, 2008
o o m m / / i i n n d d o o n n e e s s i
i a a p p
u u s s t t a a k k a a
PENGANTAR SOSIOLOGI HUKUM
©Yesmil Anwar, S.H., M.Si. dan Adang, S.H., M.Hum.
GM 703 11.5.031
Hak Cipta dilindungi oleh undang-undang.
Penerbit PT Grasindo, Jalan Palmerah Barat 33-37, Jakarta 10270 Editor Penyelia : Pamusuk Eneste
Editor: Lukas Arimurti dan Sugeng Agus Priyono Penata Isi: Gun
Desain Cover: Inner Child Studio Cetakan kedua: Juli 2011
Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Grasindo, anggota Ikapi- Jakarta, 2008 Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun (seperti cetak, fotokopi, mikrofilm, VCD, CD-ROM, dan rekaman suara) tanpa izin tertulis dari Penerbit.
k . c o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
Kata Pengantar ... viii
BAB 1 SOSIOLOGI A. Definisi Sosiologi ... 1
1. Definisi Sosiologi ... 1
2. Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan... 6
a) Menuju Ilmu ... 6
b) Jenis Ilmu Pengetahuan ... 13
● Christian Wolff (1679-1754) ... 15
● Auguste Comte (1791-1857) ... 16
● omas S Kuhn ... 18
c) Sosiologi Ilmu sebagai Ilmu Empiris ... 20
3. Para Ilmuwan Sosiologi Terkemuka ... 23
a) Aguste Comte (1798-1957) ... 23
b) Karl Mark (1818-1883) ... 26
c) Emile Durkheim (1858-1917) ... 29
d) Max Weber (1864-1920) ... 34
B. Paradigma Sosiologi George Ritzer... 37
1. Memulai dengan Paradigma dari omas Khun ... 37
2. Paradigma Ilmu Pengetahuan ... 43
● Paradigma Positivisme: ... 46
● Pospositivisme... 64
● Teori Kritis (Critical eory) . ... 58
● Konstruktivisme. ... 59
DAFTAR ISI
o m / i n d o n e s i a p u s t a k a3. Paradigma dalam Sosiologi ... 64
a) Paradigma Sosiologi ... 64
b) Paradigma Metafisik ... 65
c) Paradigma Teologi ... 66
d) Paradigma Filsafat ... 66
4. Paradigma Fakta Sosial ... 67
5. Paradigma Definisi Sosial ... 72
6. Paradigma Perilaku Sosial ... 78
BAB 2 PENDEKATAN SOSIOLOGI TERHADAP HUKUM A. Tiga Pilihan Cara dalam Hukum... 82
Kajian Normatif ... 83
Kajian Filosofis (metode Transendental) ... 89
Kajian Empiris ... 94
B. Menuju Pendekatan Sosiologi terhadap Hukum... 97
C. Pemikiran Hukum Sosiologis... 102
D. Hukum dan Basis Sosialnya ... 107
BAB 3 SOSIOLOGI HUKUM A. Apakah Sosiologi Hukum Itu? ... 82
1. Sosiologi Hukum Empirik (Erklaerende Soziologie). . 83
2. Sosiologi Hukum Evaluatif (Versthende Soziologie) . 116 B. Pengaruh dalam Sosiologi Hukum ... 119
C. Pengaruh dari Sejarah Hukum ... 121
D. Pengaruh dari Filsafat Hukum ... 123
E. Metode, Kajian, Objek Sosiologi Hukum ... 127
F. Aliran Sosiologi Hukum... 130
G. Manfaat Sosiologi Hukum... 131
H. Tokoh-Tokoh Sosiologi Hukum ... 132
1. Tokoh Eropa Barat ... 132
a) Karl Marx (1818-1883) ... 132
b) Henry S Maine (1882-1888) ... 134
c) Emile Durkheim (1858-1917) ... 134
d) Max Weber (1864-1920) ... 137
2. Tokoh Amerika Serikat ... 141
a) Oliver Wendell Holmes (1841-1935) ... 141
k . c o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
b) Benjamin Nathan Cardozo (1870-1938)... 142
c) Roscoe Pound (1870-1964) ... 143
BAB 4 KONDISI MODERNITAS: ANALISIS SOSIOLOGI TERHADAP HUKUM A. Diskursus Modernitas: Sebuah kajian Filosofis ... 144
B. Konsep Hukum Modern ... 150
C. Wacana Hukum Moderen dalam Model Perkembangan Tatanan Hukum menurut Nonet-Selznick ... 155
1. Hukum Represif (Repressive Law)... 159
2. Hukum Otonom (Autonomus Law)... 160
3. Hukum Responsife (Responsive Law) ... 161
D. Perkembangan Hukum Indonesia dalam Kondisi Modernitas ... 166
1. Tatanan Hukum pada Masa Hindia-Belanda (Tatanan Hukum yang Represif) ... 172
2. Tatanan Hukum pada Masa Penjajahan Jepanag (Tatanan Hukum Melampaui Represif)... 174
3. Tatanan Hukum Sejak Tahun 1945-1998 (Masa Reformasi)... 176
E. Menuju Tatanan Hukum Responsif ... 186
F. Sosiologi Hukum Menggugat Tradisi Modern dalam Kehidupan Berhukum ... 189
BAB 5 ANALISIS SOSIOLOGI HUKUM TERHADAP KEJAHATAN DALAM UNDANG-UNDANG A. Pengantar... 193
B. Melihat Bentuk Kekerasan dalam Undang-Undang .... 196
C. Berpikir Secara Sosiologis dalam Pembentukan Undang-Undang ... 202
D. Akhirnya ... 210 BAB 6 KUMPULAN SOAL DAN JAWABAN...
DAFTAR PUSTAKA ... BIOGRAFI SINGKAT ... 211 241 249 o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
Sangatlah sulit bagi kita untuk menembus batas Paham Sosiologi Hukum. Karena pemikiran hukum yang selama ini kita pakai merupakan sebuah alur berpikir yang mengikuti tradisi positivisme. Pemikiran kita cenderung dikuasai oleh paham yang sifatnya positif, mengikuti paham filsafat positivisme, yang sejak abad ke-18, dengan paradigma Cartesian-Newtonian-nya telah berkembang dengan cepat.
Pendidikan hukum saat ini cenderung berorientasi kepada hukum yang tertulis, yang selalu mementingkan aturan dari pada kenyataan sosial. Bagi penulis, pendidikan hukum hanyalah sebuah ruang yang penuh dengan formalisme belaka, sementara hal subtansial cenderung dikesampingkan. Dengan berbagai metode penalaran hukum, logika hukum mereka dikenal oleh masyarakat sebagai lulusan yang pasti menguasai hukum positif. Dan tentunya mereka diajarkan berbagai rumus keteraturan, sementara ilmu untuk menemukan ketidakteraturan tersebut disembunyikan rapat-rapat. Kalau pendidikan hukum mengajarkan Metodologi Penelitian Hukum, hal itu hanyalah mengenalkan para mahasiwa kepada penelitian Hukum positif yang lebih dalam, yang biasanya metode normatif adalah metode yang pertama sekali menjadi pembahasan mata kuliah ini. Tentunya sangat sulit untuk mengenali hukum dari segi sosialnya. Sosiologi Hukum, Filsafat Hukum. Itu hanyalah sebuah akhir dari studi mereka, agar katanya; mereka tidak berkacamata kuda.
KATA PENGANTAR
k . c o m / i n d o n e s i a p u s t a k aBuku ini adalah suatu pemberontakan penulis terhadap studi hukum yang sangat konvensional. Kami di sini mencoba melihat hukum dalam cara pandang sosiologis, sebab cara pandang inilah yang akan menembus pandang, yang akan bekerja sesuai dengan rasa keadilan masyarakat. Ini artinya, kita dalam dunia hukum tidak selamanya dipertemukan dengan sebuah tatanan yang sifatnya teratur, namun dibalik tatanan itu ada sebuah ketidakteraturan. Dengan demikian, sosiologi hukum bekerja penuh untuk menganilisinya.
Buku ini terdiri dari lima bab. Pada bab pertama, penulis bercerita tentang sosilogi secara umum. Yang tercakup di dalamnya, defenisi sosiologi, sosiologi sebagai ilmu pengetahuan. Kami sajikan pandangan yang cukup komprehensif, diceritakan juga tentang ilmu dan jenis-jenis ilmu pengetahun dari mulai Christain Wolf (1679-1754), hingga Aguste Comte (1791-1857). Pokok bahasan selanjutnya dalam bab pertama ini, penulis bercerita tentang tokoh-tokoh sosilogi. Mengapa ini dibahas? Karena tokoh-tokoh ini akan dibahas dalam tokoh-tokoh sosilogi hukum, Aguste Comte (1798-1957), Karl Mark (1818-1883), Emile Durkheim (1858-1917), dan Max Weber (1864-1920).
Masih dalam bab pertama, penulis menceritakan tentang paradigma sosiologi dari George Ritzer. Untuk mengantarkan masuk ke dalam wilayah Ritzer, penulis merangkai kembali paradigma ilmu pengetahuan yang sempat berkembang dari abab 18 hingga sekarang era postmodern, paradigma yang dimaksudkan itu yakni Paradigma positivisme, (Post) positivisme, Critical eory (teori Kritis), Konstruktivisme.
Setelah melawati paradigma dalam ilmu pengetahuan, akhirnya penulis memaparkan bagaimana paradigma sosiologi terbentuk, dari mulai paradigma sosiologi, fakta sosial, defenisi sosial, hingga paradigma perilaku sosial. Ada berbagai alasan, mengapa penulis memasukan paradigma ini ke dalam pembahasan ini. Sebab dengan berbagai macam paradigma sosiologi ini, para ahli hukum menjadi mudah dalam menganalisis permasalah sosial dalam hukum, ini yang yang dimaksudkan penulis melihat ke luar hukum artinya pandangan kita (sebagai hamba hukum) tidak selamanya berada dalam
ruang undang-undang saja.
o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
Pada bab kedua, penulis mencoba menggunakan sosiologi untuk melakukan pendekatan terhadap hukum. Ada tiga pilihan dalam melakukan pendekatan terhadap hukum, pertama Anda akan mengunakan pendekatan normatif, yakni wilayah Anda akan berada dalam ruang hukum positif. Yang kedua, pendekatan filosofis, yang menuntut Anda untuk memikirkan hakikat terdalam dari hukum, wilayah ini berada dalam ruang filosofis, ia berada dalam tataran tertinggi dari teori hukum. Yang ketiga, pendekatan sosiologis (empirik), Anda akan dibawa ke luar ruang hukum positif, Anda akan lebih jelas melihat bagaimana bekerjanya hukum dalam masyarakat. Karena dengan pendekatan ini, realitas hukum akan dapat dengan mudahnya terlihat. Setelah mengetahui berbagai pendekatan terhadap hukum, kemudian pembaca akan menemukan hukum dalam basis sosialnya.
Dalam bab ketiga, penulis baru menceritakan sosiologi hukum. Dalam bab ini pembaca akan mengetahui apakah sosiologi hukum itu? Apakah ia merupakan ilmu bagian dari sosiologi atau ilmu yang mandiri dari ilmu hukum. Ditemukan juga dalam pembahasan ini, tentang sociology of the law atau sociology in the law, Dalam Sociology of the law, pandangannya itu selalu berangkat dari basis sosialnya, yakni masyarakat, kemudian menuju hukum, yang tesisnya Sosiolog (ahli sosiologi) mencoba mengamati hukum. Pandangan ini terlahir dari tradisi Eropa Barat. Emile Durkheim adalah salah seorang yang menggunakan pendekatan ini. Kemudian dalam sociology in the law, atau dalam tradisi sosiologi hukum, disebut juga dengan Sociological Jurisfrudence, pandangan ini, selalu berangkat dari orang-orang hukum yang mencoba mengamati masyarakat. Ini artinya, ada semangat dari parea juris untuk menganalisis hukum dari segi sosialnya, pandangan sosiologi hukum semacam ini, pernah digunakan oleh Oliver W Holmes. Namun, pada abad sekarang, Soetandyo, ilmuwan hukum dari Unair-Surabaya, mengatakan bahwa tradisi semacam itu, bukanlah sosiologi hukum yang dimaksudkan oleh para sosiolog. Cukup menarik, pandangan ini untuk diperbincangkan, untuk lebih jelasnya silahkan pembaca telaah lebih lanjut dalam bab tiga buku ini. Masih dalam pembahasan bab tiga, pembaca akan menemukan dua macam sosiologi hukum, yakni sosiologi hukum empirik dan sosiologi hukum evaluatif.
k . c o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
Untuk membulatkan studi sosiologi hukum umumnya pada fakultas hukum di Indonesia ini, sebaiknya para mahasiswa diperkenalkan kepada Nonet-Selznick. Oleh karena tiu, pada bab keempat penulis memaparkan tentang tiga tatanan hukum yang represif, otonom, hingga responsive, karena ketiga tatanan hukum ini akan lebih jelas dalam menjelaskan kondisi hukum sekarang ini di Indonesia. Kondisi inilah, merupakan kondisi modernitas, dalam pembahasan ini pembaca akan menemukan berbagai dunia moderen, apakah kondisi moderen itu, bagaimana pengaruhnya terhadap hukum.
Kondisi tatanan hukum pada masa Hindia-Belanda (tatanan hukum yang represif); tatanan hukum pada masa Penjajahan Jepang (tatanan hukum melampui represif); tatanan hukum sejak tahun 1945-1998 (Orde Lama, Orde Baru dan masa Reformasi), atau semua ini merupakan hasil analisis penulis dari segi tatanan hukum menurut Nonet-Selznick. Kemudian setelah mengetahui ketiga kondisi tersebut, penulis mengantarkan pembaca ke dalam hukum yang responsif.
Dalam bab terakhir, penulis membahasa tentang analisi sosiologi terhadap hukum, yakni menganalisis kejahatan dalam undang-undang. Ada keanehan mungkin pembaca menilainya demikian, mengapa kejahatan itu ada dalam sebuah undang-undang. Dalam tulisan ini, penulis menjelaskan, bahwa kejahatan itu terjadi bukan karena kondisi sosial saja, bukan karena masyarakat saja, namun undang-undang pun bisa melakukan kejahtan, seperti apakah itu, silahkan pembaca menganalisisnya.
Sungguh diperlukan sebuah ketekunan yang luar biasa, keberanian yang cukup apabila kita ingin melakukan suatu pembaruan teradap cara berpikir dalam hukum, sangat sulit mengubah cara pandang dari positivisme hingga sampai ke pospositivisme apalagi ke posmodernisme. Akan tetapi, marilah kita bekerja bersama-sama untuk membangun suatu cara berpikir dalam konteks keindonesiaan.
Buku ini hanyalah sebuah wacana (discourse), antara kami dengan berbagai ahli hukum, budayawan, sosiolog, dan kriminolog. Sehingga berbagai disiplin ilmu tersebut, mewarnai tulisan kami.
o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
“Belum apa-apa” jika untuk dijadikan bagian dari tulisan tentang Sosiolog Hukum Kontemporer, ini hanyalah sebuah titik “nol” untuk mencapai satu. Ini hanya merupakan kolaborasi, antara guru dengan murid yang sama-sama “tidak tahu apa-apa”.
Dari ketidaktahuan kami, terciptalah teks yang amat sederhana ini...
Selamat menikmati, ketidaktahuan kami tentang sosiologi hukum. Bandung, 10 Mei 2008 k . c o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
A. Denisi Sosiologi
1. Definisi Sosiologi
Pada abad ke-19, seorang ahli filsafat bangsa Perancis bernama Aguste Comte menulis beberapa buah buku untuk mempelajari masyarakat. Dia berpendapat bahwa ilmu sosial mempunyai urutan tertentu berdasarkan logika metoda ilmiah1 dan bahwa
setiap penelitian dilakukan melalui tahap-tahap tertentu untuk mencapai tahap akhir, yaitu tahap ilmiah. Dia beranggapan bahwa saatnya telah tiba bagi kesahihan ilmiah terhadap penelitian kemasyarakatan.
Sejak saat itu Comte memperkenalkan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan kemasyarakatan dan sejak saat itu pula Comte sering
BAB 1
SOSIOLOGI
1 Metode ilmiah merupakan prosedur untuk mendapatkan pengetahuan yang disebut dengan “Ilmu”. Metode
ilmiah sebagai suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu, mempunyai langkah-langkah sistematis sebagai pengkajian dan peraturan yang terdapat dalam metode ilmiah. Metode ilmiah dari ilmu sosial berkaitan dengan paradigma disiplin ilmu sosial, yang terdiri dari tiga paradigma: (a) Positivisme, (b) konvensionalisme, dan (c) Realisme. Positivisme berasumsi bahwa pancainderalah alat tangkap untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Pengetahuan diperoleh melalui pancaindera (sense data). Segala sesuatu berhubungan dengan kenyatan dan masuk ke dalam kesadaran manusia secara langsung. Pengetahuan tingkat dasar sebagai landasan pengetahuan tingkat atas diperoleh melalui logika-Induktif. Asas positivisme yang dikembangkan oleh kelompok Wina (dier weiner kreis) pada tahun 1929, meliputi asas empirisme (Induktif) dan logika (Deduktif). Proses ilmiah positivisme meliputi: observasi, generalisasi empiris, penyusunan teori, penyusunan hipotesa, keputusan menerima atau menolak hipotesa, serta menyimpulkan logisnya teori. Pada tataran konvensionalisme, manusia dipandang sebagai bebas dan merdeka, sedangkan realisme merupakan hakikat sesuatu. Periksa lebih lanjut dalam: M. Munandar Soelaeman, Ilmu Sosial Dasar: Teori Dan Konsep Ilmu Sosial, (Bandung: Reka Aditama , 2001), hlm. 24-25. o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
disebut sebagai Bapak Sosiologi. Karya Comte pertama kali muncul dan diterbitkan antara tahun 1830-1842, dengan judul e Course of Positive Philosophy2. Karya ini mencerminkan suatu komitmen
yang kuat terhadap metoda ilmiah. Metode ini harus diterapkan untuk menemukan hukum-hukum alam yang mengatur gejala-gejala sosial. Kenyataan sosial harus dibedakan dari tingkat individual.
Secara etimologis, sosiologi berasal dari kata Latin, socius yang berarti kawan dan kata Yunani, logos yang berarti kata atau berbicara. Jadi, sosiologi adalah berbicara mengenai masyarakat. Bagi Comte, sosiologi merupakan ilmu pengetahuan kemasyarakatan umum, yang merupakan hasil akhir dari perkembangan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, sosiologi didasarkan pada kemajuan yang telah dicapai oleh ilmu pengetahuan sebelumnya3. Selain itu,
Comte mengatakan bahwa sosiologi harus dibentuk berdasarkan pengamatan dan tidak pada spekulasi keadaan masyarakat. Hasil-hasil observasi tersebut harus disusun secara sistematis dan metodologis. Dalam hal ini, Comte tidak menjelaskan bagaimana cara menilai hasil pengamatan kemasyarakatan tersebut. Lahirnya sosiologi ke dalam ilmu pengetahun tercatat pada saat Comte menerbitkan bukunya yang berjudul Positive-Philosophy pada tahun 18424.
Perhatikanlah gambar berikut ini.
2 Doyle Paul Johson, Teori Sosiologi Klasik (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1986), hlm. 13. 3 Wiliam F. Ogburn & Meyer F. Nimkoff, Sociology (Boston: Company, 1964), hlm. 5.
4 Aguste Comte, The Positive Philosophy of Aguste Comte (New York: Calvin Blanchard, 1858). Dalam Buku ini
Comte pertama kali memakai istilah ‘sosiologi’. Selain itu ia juga menceritakan hukum tiga tahap.
k . c o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
(Lihat Pengaruhnya dalam Sosiologi Hukum)
SOSIOLOGI
Pokok Pikiran
Sosiologi Awal
HUKUM
Positivisme
Anziloti (1882)
Model Comte
Aguste Comte
(Bapak Sosiologi)
SOCIUS (Yunani): Kawan, Masyarakat. LOGOS: Kata, Berbicara
Pengetahuan harus berdasarkan pengamatan Pengamatan harus diberi nilai tinggi
“The Course of Positive
Philosophy” (1830-1842)
Lahirlah suatu ilmu positif
yang bernama sosiologi
Maka terbentuklah Positivisme Sosiologi
& Positivisme Yuridis
o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
Sebetulnya, kajian objek sosiologi adalah masyarakat, sudah terbentuk sejak Aristoteles, hanya saja pada waktu itu nama sosiologi sebagai ilmu pengetahuan belum terbentuk. Dalam hal ini, sosiologi jelas merupakan ilmu sosial yang objeknya adalah masyarakat. Sebagai ilmu, ia berdiri sendiri, karena telah memiliki unsur ilmu pengetahun, yang memiliki ciri-ciri utama sebagai berikut5.
1. Bersifat empiris, berarti bahwa ilmu pengetahun tersebut didasarkan pada observasi terhadap kenyataan dan akal sehat. Hasilnya tidak bersifat spekulatif.
2. Bersifat teoritis, berarti bahwa ilmu pengetahuan tersebut selalu berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi.
3. Bersifat kumulatif, berarti bahwa teori-teori sosiologi dibentuk atas dasar teori-teori yang sudah ada. Dalam hal ini berarti memperbaiki, memperluas, serta memperhalus teori-teori yang lama.
4. Bersifat non-etis, yang berarti pokok yang dipersoalkan bukanlah baik atau buruknya fakta tertentu, akan tetapi bertujuan untuk menjelaskan fakta secara analitis.
Pitirim Sorikin6 mengatakan bahwa sosiologi adalah suatu
ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial (gejala ekonomi dengan agama, keluarga dengan moral, hukum dengan ekonomi) dengan gejala lainnya (Non-sosial).
Hal di atas berbeda dengan pendapat Rouceke dan Warren yang mengatakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan manusia dengan kelompok-kelompok. Selanjutnya, mereka menjelaskan bahwa7
”...Sociology is the study of human beings in their group relationship. As such, it studies interaction within between groups of
5 Harry M. Johnson, Sociology: A Systematic Introduction (Bombay: Allied Publishers Private Limited, 1967), hlm. 2. 6 Pitirim Sorikin, Contemporary Sociological Theories (New York: Harper & Row , 1982), hlm. 760-761.
7 Josepsh S. Rouceke and Roland L. Warren, Sociology: An Introduction (New Jersey: Littleeld, Adams & Co,
Paterson, 1959), hlm. 3. k . c o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
people. ese groups may be as small as two people talking on a street corner or as large as the crowd at as rose bowl game or the people of a nation. Like any science, it attempts to describe its subject matter to point out uniformities of occurrence as are found to exist…………..”
Dengan demikian, sosiologi merupakan bagian dari ilmu-ilmu sosial. Sehubungan dengan hal itu, Mayor Polak mengatakan bahwa8
“……Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan, yakni hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, baik formil maupun materil, baik statis maupun dinamis…”
Definisi dari Polak tersebut ingin menjelaskan bahwa sosiologi tidak mempelajari apa yang diharuskan atau apa yang diharapkan, tetapi mempelajari apa yang ada dan yang selanjutnya menjadi bahan untuk bertindak dan berusaha.
Definisi sosiologi ini sangat luas cakupanya. Hal tersebut bisa diperlihatkan dalam bagan di bawah ini.
Bierens de Haan “Ilmu tentang
Masyarakat”
“Suatu disiplin akademik yang mapan” karena dua hal, yaitu tradisi teori yang luas dan usaha keras metodologinya (Malcolm Waters) Memiliki Konotasi Sangat Luas Memiliki Konotasi Sangat Luas L.Laeyendecker
“Pemikiran sistematis tentang kehidupan bersama manusia, merupakan gejala sosial”
Sosiologi bukan saja berkaitan dengan
gagasan-gagasan, nilai-nilai dan
norma yang ada di dalam masyarakat, tetapi juga struktur ekonomi dan sosial, Pembagian kekuasaan dan stratifikasi sosial
Sifat dan isi Sosiologi sangat mencerminkan sifat masyarakat dari ilmu itu dipelajari
8 Mayor Polak, Sosiologi Suatu Buku Pengantar Ringkas (Jakarta: Ikhtiar Baru, 1979), hlm. 6-9
. c o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
2. Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan
a) Menuju Ilmu
Manusia, ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, merupakan mahluk yang sadar. Kesadaran itu dapat disimpulkan dari kemampuan berpikir, berkendak, dan merasakan. Dengan kesadarannya, manusia mendapatkan (ilmu) pengetahuan, dengan kehendaknya manusia dapat mengarahkan perilakunya dan dengan perasaannya manusia dapat mencapai kesenangan. Dari hal tersebut, ilmulah yang mendapatkan tempat pertama dalam kehidupan manusia. Ilmu dapat kita artikan sebagai kegiatan intelektual manusia, dalam kaitannya dengan kehadiran alam dan kehidupan di sekelilingnya. Dengan ilmu, manusia akan menyadari keberadaan dirinya di tengah alam dan kehidupan. Menurut Satjipto Rahardjo, ”ilmu adalah untuk kenyataan”, bukan sebaliknya, “kenyatan untuk ilmu”. Apabila kenyataan untuk ilmu, kenyataan itu akan dimanipulasi,
sehingga cocok dengan ilmu dan teori yang ada.
Jika kita kembali ke zaman Yunani kuno, teranglah, ilmu dan filsafat tidak dipisahkan. Pada zaman ini, pembuktian empirik kurang mendapatkan perhatian dan metode ilmiah belumlah berkembang. Sedikit demi sedikit, dengan makin berkembangnya penalaran dan metode ilmiah, dengan makin kuat dan makin dihargainya pembuktian empirik dan makin meluasnya instrumen penelitian, satu persatu cabang ilmu mulai melepaskan diri dengan filsafat9. Dapat ditafsirkan, sejak zaman Yunani kuno inilah, ilmu
mulai membebaskan dirinya dari nilai-nilai yang dianut oleh cabang filsafat tertentu. Dalam wacana ini, filsafat telah dianggap mati oleh ilmu (the end of philosophy).
Yang dimaksud the end of philosophy dalam wacana ini bukan dalam artian tidak adanya lagi filsafat dalam ilmu pengetahuan, tetapi berakhirnya filsafat metafisika. Martin Heidegger10
menggambarkan bahwa akhir metafisis dimulai ketika klaim ontologi sebagai fondasi dunia realitas, mengalami kemerosotan
9 Conny Semiawan (et al), Panorama Filsafat Ilmu: Landasan Perkembangan ilmu Sepanjang Zaman (Bandung:
Teraju, 2005), hlm. 107.
10 Martin Heidegger, The end Of Philosophy (A Condor Books, 1975), hlm. 68.
k . c o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
dan tidak lagi menggantungkan pendefinisian dirinya pada model-model kebenaran metafisis tersebut (logos, eidos, subtansi, esensi, dan tuhan), melainkan dari kebenaran dunia itu sendiri. Jadi, kebenaran ilmu pengetahuan, sejak melepaskan dirinya dari tradisi filsafat, telah mulai mengenal dunia secara empirik dan tidak lagi dibatasi hanya pada nilai-nilai metafisis.
Pada waktu ilmu masih merupakan bagian dari filsafat, definisi ilmu tergantung pada sistem filsafat yang dianut. Setelah ilmu membebaskan diri dari filsafat, definisi ilmu lebih tergantung dari apa yang dikerjakan oleh ilmuwan, dengan melihat metode yang digunakannya. Dari wacana yang terurai di atas, timbullah suatu pertanyaan, yaitu Apakah ilmu (pengetahuan) itu bebas nilai atau tidak?
Rasionalisasi ilmu pengetahuan terjadi sejak Descartes, dengan sikap skeptis-metodisnya yang meragukan segala sesuatu, kecuali meragukan dirinya yang sedang meragukan segala sesuatu tersebut. Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, ia mengajukan sebuah adagium primum philosophicum atau kebenaran filsafat pertama, yang berbunyi cogito ergo sum (I think, hence I am)11. Di
sinilah kata cogito bermakna berpikir atau sadar dalam artian yang lebih luas. Kesadaran (cogito), ia canangkan sebagai kesadaran subjek yang rasional. Untuk menunjukkan keapriorian cogito, ia mengajukan metode kesangsian.
Bagi Descartes, kesangsian itu sebagai kesangsian metodis universal. Eksistensi segala sesuatu dapat diragukan, kecuali kesadaran akan keraguan itu sendiri. Pemikiran Descartes pada posisi ini lebih diperuntukkan bagi perkembangan ilmu.
Descartes13 membicarakan masalah ilmu-ilmu, yang diawalinya
dengan menyebutkan akal sehat (common–sense), yang pada umunya dimiliki oleh setiap orang. Menurutnya, yang terpenting adalah penerapan akal sehat tersebut dalam aktivitas ilmiah. Pesan yang tersirat dari Descartes adalah: satu hal yang diperlukan dalam
11 R.Descrates, Discourse on Method , Translated by John Veitch (London: J.M.Dent & Sons Ltd, 1960), hlm. 9-27 13 Toeti Heraty, Dialog Filsafat Dengan Ilmu-Ilmu Pengetahuan: Suatu Pengantar Meta-Metodologi (Jakarta: UI,
1994), hlm. 3-6. o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
menuntut ilmu ialah melepaskan diri dari cengkraman otoritas kaum guru atau dosen, mengerahkan diri untuk belajar dari ”buku” alam raya dan mempelajari dirinya sendiri. Kemudian Descrates, menjelaskan kaidah-kaidah pokok tentang metode yang dipergunakan dalam aktivitas ilmiah, baginya sesuatu yang dikerjakan oleh satu orang lebih sempurna daripada dikerjakan oleh sekelompok orang secara bersama-sama.
Selain Descartes, tokoh lain sosiologi, Weber, menyatakan bahwa ilmu sosial harus bebas dari nilai-nilai. Ia juga menyatakan bahwa ilmu sosial harus menjadi nilai-nilai yang relevan (value-relevant). Weber tidak yakin kalau ilmuwan sosial, dalam melakukan aktivitasnya, tidak terpengaruh oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Nilai-nilai itu harus diimplikasikan dari bagian-bagian praktis ilmu sosial jika praktek itu mengandung tujuan rasional.
Setelah ilmu dikatakan dapat membebaskan diri dari nilai-nilai tertentu (filsafat yang mengukungnya), timbullah persoalan berikut, yaitu seperti apakah pengetahuan ilmiah tersebut? Pada umunya, kalangan ilmiah berpendapat bahwa kesahihan pengetahuan ilmiah mengharuskan seluruh cara kerja ilmiah diarahkan untuk memperoleh derajat kepastian yang setinggi mungkin pada pengetahuan yang dihasilkan. Ini berarti, pemahaman yang akan diuji dalam suatu cara kerja ilmiah, harus pertama kali dapat dibenarkan secara a priori (sebelum teruji melalui metode ilmiah). Pemahaman ini dapat berasal dari pengetahuan hasil tangkapan empirik (menggunakan kelima indera, dengan atau tanpa alat bantu indera), dapat juga hasil pengolahan rasional (menggunakan berbagai bentuk berpikir), atau dari keduanya. Inti dasar pembenaran ini adalah, bahwa pemahaman mengenai ilmu pengetahuan harus teruji secara ilmiah. Syarat ilmiah adalah sebagai
berikut.
1. Sistematik, artinya terdapat sistem di dalam susunan suatu pengetahuan ilmiah (produk) dan di dalam cara memperoleh pengetahuan itu (proses atau metode). Suatu pengkajian atau penelitian ilmiah tidak akan membatasi dirinya hanya pada satu bahan informasi saja, melainkan senantiasa meletakkan hubungan antar sejumlah informasi, sambil berusaha agar
k . c o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
hubungan-hubungan tersebut dapat merupakan suatu kebulatan.
2. Intersubjektif , artinya pengetahuan yang diperoleh seseorang harus mengalami verifikasi dari subjek-subjek lainnya, supaya pengetahuan itu lebih terjamin keabsahan atau kebenarannya.
Untuk dapat membedakan antara pengetahuan ilmiah dan non ilmiah, perhatikanlah tabel di bawah ini.
Pengetahuan Ilmiah Pengetahuan Non Ilmiah Tujuan • Deskripsi (menjelaskan
gejala-gejala).
• Ekplanasi (Hubungan kausal). • Prediksi (lewat data-data objektif
dapat dilakukan prediksi terha-dap gejala-gejala yang muncul.
Bertahan hidup dalam kehidupan sehari-hari ( pragmatis)
Cara
Memperoleh
• Metodis (melalui jalan ter-tentu) dan setelah sampai pada pernyataan maka pernyataan tersebut harus dapat dipertang-gungjawabkan, atau diverikasi • Sistematis, mengikuti
urutan-urutan yang ketat
• Objektif atau bebas nilai
• Warisan budaya • Tradisi
• Metode tidak penting, tidak jadi masalah
• Pernyataan ambigu, kabur dan tidak objektif
Pada bagian selanjutnya, penulis akan membahas apa yang dinamakan dengan ilmu.
Ilmu, apakah itu? Menurut Pradjudi, ilmu harus ada objeknya. terminologi, metodologi, filosofi dan teori bersifat khas. Menambahkan ciri ilmu dari Pradjudi ini, Nawawi memberi dua ciri baru, yaitu ilmu harus bersifat universal dan mempunyai sistematika.
Ilmu yang mempunyai ciri tersebut di atas memungkinkan manusia dapat mengungkap keajaiban dan misteri alam semesta ini. Misalnya, ilmu yang dinyatakan oleh Newton. Ia telah meng-klaim, bahwa dengan ilmunya, ia dapat menjelaskan semua gejala alam secara tuntas. Ia telah menemukan hukum-hukum yang dapat menjelaskan kenyataan ini. Teori Newton akhirnya berhasil
o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
digulingkan oleh Einstein. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu berjalan dari waktu ke waktu dan dari keberhasilan yang satu ke keberhasilan lain yang lebih tinggi. Jelaslah, basis ilmu adalah kenyataan.
Kita kembali kepada persoalan kita, apa ilmu itu? Dalam buku ini, tidak akan banyak dijelaskan mengenai bagaimana ilmu itu terbentuk, namun hanya akan dijelaskan terbatas pada pengertian ilmu. Istilah ilmu dalam pengertian klasik dipahami sebagai pengetahuan tentang sebab-sebab atau asal-usul. Istilah pengetahuan (knowledge) biasanya dilawankan dengan pengertian opini, sedangkan istilah sebab (causa), yang diambil dari kata Yunani, aitia merupakan prinsip pertama14 yang menyatakan
bahwa ilmu pengetahuan adalah suatu produk pemikiran manusia, yang menyesuaikan antara hukum-hukum pemikiran dengan dunia luar. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan mengandung dua aspek, yaitu aspek subjektif dan objektif.
Sementara itu, Sondang Siagian (1985) menyatakan, ilmu (pengetahuan) dapat didefinisikan sebagai suatu objek ilmiah yang memiliki sekelompok prinsip, dalil dan rumusan, yang melalui percobaan sistematis berulang kali, telah teruji kebenarannya. Hal itu memungkinkan prinsip-prinsip, dalil-dalil dan rumusan-rumusan ilmu tersebut dapat diajarkan dan dipelajari.
Dari definisi tersebut di atas, Fred D Kerlinger15 masih
mempertanyakan apakah arti suatu ilmu (what is science?). Baginya, hal itu merupakan suatu pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab karena tidak cukup bila hanya menyuguhkan sebuah pendefinisian. Begitu kita membicarakan ilmu, kebanyakan kita hanya mencoba menerangkan fungsi ilmu dan bukan hakekat ilmu itu sendiri. Kerlinger, dengan mengutip pendapat Conant, mengatakan bahwa di dalam ilmu pengetahuan, terdapat dua pandangan, yaitu pandangan statis dan pandangan dinamis. Lebih lanjut ia mengatakan, “e static view is the view that seems to influence most layment and student is that science is an activity that
14 D. Runes, Dictinoray of Philosophy (New Jersey: Littleeld adams dan Co Totowo, 1979).
15 Fred N Kerlinger, Asas-Asas Penelitian Behavioral (Terj) (Yogyakarta: Universitas Press, 1996), hlm. 67.
k . c o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
contributes systematized information on the world”. “e dynamic view on the other hand, regards science more as an activity what science do. e present state of knowledge is important of course. But it is important mainly because it’s a base for further science theory and research”.
Van Melsen16 mengemukakan beberapa ciri yang menandai
ilmu pengetahuan.
1. Secara metodis harus mencapai suatu keseluruhan, yang secara logis koheren. Ini berarti menyangkut metode maupun susunannya yang logis.
2. Tanpa pamrih karena hal itu erat kaitannya dengan tanggung jawab ilmuwan.
3. Adanya universalitas dalam ilmu pengetahuan.
4. Adanya objektivitas, artinya tidak didistrosi oleh prasangka-prasangka subjektif.
5. Harus diverifikasi oleh penelitian ilmiah yang bersangkutan dengannya. Karena itu, ilmu pengetahuan harus dapat dikomunikasikan.
6. Progresif , artinya suatu jawaban baru bersifat ilmiah, bila mengandung pertanyaan-pertanyaan baru dan menimbulkan problema baru lagi.
7. Kritis, artinya tidak ada teori ilmiah yang definitif, setiap teori terbuka bagi suatu tinjauan kritis yang memanfaatkan data-data baru.
8. Ilmu pengetahuan harus dapat digunakan sebagai perwujudan keberaturan antara teori dengan praktis.
Dari ciri-ciri tersebut di atas, yang lebih ditekankan oleh penulis dalam pengembangan ilmu hukum adalah ciri progresif , karena ciri inilah yang memungkinkan baiknya kualitas penegakan hukum. Dalam hal ini, progresif dapat diartikan adanya kemajuan, perkembangan, atau peningkatan. Sifat ini merupakan salah satu tuntutan modern untuk ilmu. Sifat ini sangat didorong oleh ciri-ciri penalaran filosofis, yaitu skeptis, holistic, comprehensif, mendasar, kritis serta analitis yang menyatu.
16 Van Melsem, Ilmu Pengetahuan Dan Tanggungjawab Kita (Jakarta: Gramedia, 1992), hlm. 65-66.
o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
Dari beberapa pengertian ilmu tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa ilmu menyandang dua makna, yakni sebagai produk dan sebagai proses. Sebagai produk, ilmu adalah pengetahuan yang sudah terkaji kebenarannya dalam bidang tertentu dan tersusun dalam suatu sistem. Dari hal inilah, Wim van Dooren mendefinisikan ilmu sebagai pengetahuan yang sah secara intersubjektif dalam bidang kenyataan tertentu, yang bertumpu pada satu atau lebih titik tolak dan ditata secara sistematis.
Pembahasan ini sengaja diberi judul pengantar menuju ilmu, karena isi yang tertuang di dalamnya bermaksud mengantarkan pembaca ke dalam ruang lingkup apa itu ilmu. Bagi pembaca yang cukup kritis, mungkin timbul suatu pertanyaan, mengapa pada era yang penuh penolakan terhadap perspektif resmi ( posmodern), masih saja dibicarakan asal-usul dari ilmu pengetahuan? John Horgan, dalam bukunya e end of science: facing the limit of knowledge in the twilight of the scientific age (1997), yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Djejen Zainudin sebagai e end of science: Sejak ilmu pengetahuan (2005), menjelaskan dengan panjang lebar bahwa ilmu pengetahuan dewasa ini telah mati. Dengan jelas, ia memaknai kematian dalam ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang melampui batas untuk menuju titik ekstrim, suatu peleburan dan pencampuradukan serta tidak adanya lagi kondisi objek ilmu pengetahuan itu sendiri.
Ilmu pengetahuan, sebagai pengantar dalam wacana ini, jelas tidak mempunyai makna apa-apa jika kita perdebatkan dengan Horgan. Penulis berendah hati terhadap Horgan dan menerima pendapatnya karena saat ini ilmu pengetahuan tidak lagi mempunyai objek. Kita dapat mengambil contoh, ilmu-ilmu fisika, kimia, filsafat, biologi, kosmologi, ternyata mempunyai objek kajian yang tidak tak terbatas. Di dalam fisika partikel misalnya, ketika ditemukan bahwa quarks adalah partikel paling kecil yang membentuk proton dan neutron, maka tidak ada lagi objek penelitian fisika partikel. Lalu muncullah teori fraktal, yang meneliti aspek-aspek lain dari partikel yang domainnya dari ilmu fisika, seperti estetika partikel.
k . c o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
Walaupun ilmu pengetahuan dalam perkembangannya hampir dikatakan sudah mati, patutlah diakui, bahwa karena ilmu pengetahuanlah Revolusi Industri tahun 1760 di Inggris bisa membangkitkan peran serta manusia terhadap alam dan lingkungan sekitarnya.
b) Jenis Ilmu Pengetahuan
Seperti uraian di atas, pengetahuan ilmiah memiliki perbedaan yang cukup tegas dengan pengetahuan sehari-hari. Perbedan yang paling tegas adalah bahwa kita tidak menerima begitu saja segala pengetahuan yang kita peroleh tanpa melewati suatu proses yang cukup ketat. Proses tersebut harus bertitik tolak dari fakta-fakta keseharian dan berakhir pada suatu teori yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Untuk dapat sampai pada pengetahuan ilmiah atau yang disebut sebagai ilmu pengetahuan, kita harus mengetahui beberapa jenis ilmu, agar kita mampu membedakan antara pengetahuan ilmiah dan non-ilmiah.
Untuk dapat mengetahui jenis ilmu, kita beralih sedikit ke zaman Yunani Kuno. Pada zaman itu telah berkembang tradisi dalam studi matematika yang kemudian melahirkan ilmu pertama pada abad pertengahan. Hingga kini, sejarah kebudayaan dan peradaban manusia telah melahirkan berbagai ilmu, yang secara rasional membantu manusia untuk memperoleh pengetahuan tentang berbagai hal. Proses ini masih berjalan, khususnya dalam bentuk spesialisasi dan ilmu terapan. Sehubungan dengan banyaknya jenis ilmu itu, terdapat berbagai cara untuk mengklasifikasikan ilmu tersebut ke dalam beberapa kelompok dan subkelompok, tergantung pada patokan atau kriteria yang digunakan, atau aspek apa yang ditonjolkan.
Menurut Arief Sidharta, ilmu berdasarkan subtansinya dibedakan antara ilmu formal dan ilmu empiris.
1. Ilmu Formal menunjuk pada ilmu yang tidak bertumpu pada pengalaman empiris. Hal atau objek yang dipelajari dalam kelompok ilmu ini adalah struktur murni. Aktivitasnya menganalisis aturan operasional dan struktur logis, yang menyajikan skema hubungan saling mempengaruhi
o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
antara manusia dan dunia. Merancang jaringan (networks) seperti sistem penalaran dan sistem penghitungan dan tidak mengungkapkan atau menunjukkan pada kenyataan empiris. Ilmu ini lebih menunjuk tentang semua dunia yang mungkin, kebenarannya tidak memerlukan pembuktian atau verifikasi empiris, akan tetapi hanya pembuktian rasional dan konsintensi rasional. Maka produk ilmu ini tidak dinilai berdasarkan kebenaran, melainkan berdasarkan validitas atau proses nalarnya. Pengetahuan yang dihasilkan adalah pengetahuan a priori. Ilmu ini terdiri dari logika, matematika, dan teori sistem.
2. Ilmu Empiris, ilmu ini ditujukan kepada cara memperoleh pengetahuan faktual tentang kenyataan aktual, karena itu bersumber kepada pengalaman empiris. Pengetahuannya disebut pengetahuan, a posteriori. Ilmu empiris, disebut juga ilmu positif, terdiri dari ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu manusia.
Hal itu disederhanakan, menurut penulis sebagai berikut.
Perbedaan ilmu Formal & Empiris
Tentang Ilmu Formal Ilmu Empiris
Penelitian Sistem Penalaran dan Sistem Perhitungan
Gejala faktual di masyarakat dan alam sekitarnya
Metode Kebenaran
Formal Material (Substansial )
Hasil
Pengetahuan
Apriori Aposteriori
Bagian dari Logika, Matematika, Teori sistem
Ilmu alam, serta ilmu kema-nusiaan
Dari tabel di atas, ilmu empiris terbagi menjadi dua bagian, yaitu ilmu-ilmu alam (naturwissenchaften) dan ilmu-ilmu manusia (Geisteswissenschafften). Keberadaan positivisme, tak dapat disangkal lagi merupakan seperangkat ide filosofis, yang mendominasi wacana ilmu pengetahuan sejak abad ke-20. Hal tersebut terbukti dengan merebaknya pengaruh pemikiran positivisme dalam ilmu-ilmu manusia, seperti antropologi,
k . c o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
sosiologi, dan psikologi, sebagai perkembangan dari ilmu formal dan ilmu empiris.
Selain ilmu empiris dan ilmu formal tersebut, ilmu juga dikelompokkan ke dalam ilmu praktis, yang dibagi ke dalam dua jenis, yakni ilmu praktis nomologis dan ilmu praktis normologis. Ilmu praktis nomologis berusaha memperoleh pengetahuan faktual empiris, yakni tentang hubungan ajeg yang carteris paribus, niscaya berlaku antara dua hal atau lebih, berdasarkan asas kausalitas-deterministik. Produknya dapat diungkapkan seperti pada ilmu empiris. Ilmu praktis normologis disebut juga ilmu normatif, yang berusaha menemukan hubungan antara dua hal atau lebih berdasarkan asas imutasi (menautkan tanggungjawab dan kewajiban), untuk menetapkan apa yang seharusnya menjadi kewajiban subjek tertentu dalam situasi konkret.
Setelah mengetahui jenis ilmu dari subtansinya, dalam bagian ini akan diuraikan beberapa klasifikasi ilmu dari Christian Wolff (1679-1754), Aguste Comte (1798-1857), sampai omas Kuhn. Sebelum menjelaskan hal tersebut, perhatikan terlebih dahulu bagan di bawah ini.
ILMU
Formal Empiris Praktis
• Logika Tradisional Simbolik • Matematika • Teori Sistem • Ilmu alam Biologi Non-Biologi • Ilmu manusia Ilmu sosial Ilmu sejarah Ilmu bahasa • Praktis Nomologis • Praktis Normologi
Otoritatif : Ilmu Hukum
Non-Otoritatif: Etika, Pedagogi
Christian Wolff (1679-1754)
Christian menjelaskan pokok-pokok pikirannya mengenai klasifikasi ilmu pengetahuan sebagai berikut.
1. Pengetahuan kemanusiaan terdiri atas ilmu-ilmu murni dan filsafat praktis. Ilmu murni adalah teologi rasional yang terkait dengan pengetahuan tentang tuhan, psikologi rasional
o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
yang terkait dengan masalah-masalah jiwa dan kosmologi rasional yang terkait dengan kodrat dunia fisik. Filsafat praktis mencakup etika sebagai ilmu tentang tingkah laku manusia, politik atau ilmu pemerintahan dan ekonomi sebagai bidang ilmu mengenai apa yang harus dilakukan seorang untuk mencapai kemakmuran. Ilmu-ilmu ini merupakan produk dari berpikir secara deduktif.
2. Ilmu-ilmu teoritis, yang dijabarkan dari hukum tak berten-tangan, yang menyatakan bahwa sesuatu itu tak dapat dan tidak ada dalam waktu yang bersamaan. Apa yang sanggup kita ketahui tentang dunia fisik diturunkan dari hukum dengan alasan yang mencakupi (sufficien reason), yang menyatakan bahwa ada suatu alasan yang niscaya bagi keberadaan segala sesuatu.
Wollf mengklasifikasikan ilmu sebagai berikut.
Ilmu pengetahuan
Empiris Matematika Filsafat
• Kosmologi Empiris • Psikologi Empiris • Murni Aritmatika Geometri Aljabar • Campuran Mekanika • Spekulatif (metasik) a. Umum: Ontologi b. Khusus Psikologi Kosmologi Teologi • Praktis b. Intelek: Logika
c. Kehendak: Ekonomi, Etika, Politik
d. Pekerjaan Fisik: Teknologi
Auguste Comte (1798-1857)
Comte menyakini bahwa pengetahuan positif-imiah adalah pengetahuan yang pasti, nyata, dan berguna. Ia mengenyahkan metafisika, dengan keyakinannya bahwa segala sesuatu yang dapat manusia ketahui adalah apa yang tertangkap pancaindera. Para metafisikus yang bersibuk di kursi goyangnya, yang mencoba mereka-reka kemutlakan semesta, hanya dipandang sebelah mata saja oleh Comte. Sebelum menceritakan pembagian ilmu
k . c o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
pengetahuan, akan dijelaskan terlebih dahulu tahap perkembangan sejarah Comte hingga sampai kepada pembagian ilmu itu.
Hukum tiga tahap merupakan usaha Comte untuk menjelaskan kemajuan evolusioner umat manusia dari masa primitif sampai pada peradaban Perancis abad ke-19 yang sangat maju. Singkatnya, hukum tiga tahap itu mau mengatakan bahwa masyarakat atau umat manusia berkembang melalui tiga tahap17. Tahap-tahap ini
ditentukan menurut cara berpikir yang dominan: teologis, metafisik, dan positif.
Pertama, tahap teologis, manusia memahami gejala-gejala alam sebagai hasil campur tangan langsung kekuatan ilahi. Tahap ini masih dapat dirinci menjadi tiga subtahap, yaitu animisme, politeisme, dan monoteisme. Pada tahap animisme, benda-benda dianggap berjiwa dan diperlakukan sebagai suci atau kramat. Pada tahap politeisme, manusia mempercayai dewa-dewa di balik berbagai gejala yang ada dan pada tahap monoteisme, manusia mulai meyakini adanya kekuatan tunggal-absolut di balik semua gejala tersebut.
Kedua, tahap metafisis, pelaku ilahi yang personal digantikan oleh prinsip-prinsip metafisika seperti kodrat.
Ketiga, tahap positif, manusia berhenti mencari penyebab absolut, baik yang ilahi maupun kodrati dan mulai berkonsentrasi pada observasi, pengukuran dan kalkulasi guna memahami hukum yang mengatur jagad raya.
Melalui hukum tiga tahap tersebut, Comte menguraikan bebe-rapa ilmu pengetahuan yang didasarkan atas perkembangannya. Ia menunjuk, gejala umum akan tampil lebih dahulu kemudian disusul dengan gejala-gejala pengetahuan, yang semakin lama semakin rumit atau kompleks dan semakin konkret. Oleh karena itu, Comte dalam mengemukakan penggolongan ilmu pengetahuan, mulai dengan mengamati gejala-gejala yang paling sederhana, yaitu gejala yang letaknya paling jauh dari suasana kehidupan sehari-hari.
Lebih jauh ia menggolongkan ilmu pengetahuan sebagai berikut.
17 Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi : Klasik Dan Modern ( 1). op.cit., 1.
o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
1. Ilmu pasti (Matematika) adalah dasar dari semua ilmu pengetahuan, karena sifatnya yang tetap, abstrak dan pasti. Dengan metoda-metoda yang dipergunakan ilmu ini, kita akan memperoleh pengetahuan tentang sesuatu yang benar.
2. Ilmu perbintangan (astronomi) didasarkan pada rumus-rumus ilmu pasti. Ilmu perbintangan dapat menyusun hukum-hukum yang bersangkutan dengan gejala-gejala benda langit. Ilmu ini menerangkan bagaimana bentuk ukuran serta gerak dari benda langit.
3. Ilmu alam (Fisika), ilmu yang lebih tinggi dari perbintangan, gejala dalam ilmu ini lebih kompleks dan rumit.
4. Ilmu Kimia (Chemistry), lebih komplek dari ilmu fisika dan mempunyai hubungan dengan ilmu biologi. Pendekatannya tidak hanya melalui observasi melainkan juga perbandingan. 5. Ilmu hayat (Fisiologi atau Biologi), lebih komplek dari dua
jenis ilmu yang sebelumnya. Gejala dalam ilmu ini mengalami perubahan yang cepat dan perkembangannya belum sampai pada tahap positif.
6. Fisika Sosial (Sosiologi) merupakan urutan tertinggi dalam penggolongan ilmu pengetahuan. Fisika Sosial sebagai ilmu, berhadapan dengan gejala-gejala yang paling kompleks, konkret dan khusus.
omas S Kuhn
Kuhn membedakan adanya dua tahap atau periode dalam ilmu, yakni periode pra-paradigmatik dan periode ilmu normal ( normal science). Pada periode pra-paradigmatik, pengumpulan fakta-fakta atau kegiatan penelitian dalam bidang ilmu tertentu, berlangsung dengan cara yang hampir dapat dikatakan, tanpa mengacu pada perencanaan atau kerangka teoritikal yang diterima umum. Fact are gathered almost randomly, without reference to any acceptes plan or theoretical structure18. Pada tahap pra-paradigmatik ini, terdapat
sejumlah aliran pemikiran yang saling bersaing, akan tetapi tak
18 David Oldroyd, The arch of Knowledge (London: Methuen, 1986), hlm. 320.
k . c o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
ada satupun aliran yang memperoleh penerimaan secara umum. Perlahan-lahan, salah satu sistem teoritikal mulai memperoleh penerimaan secara umum dan dengan itu paradigma pertama sebuah disiplin terbentuk. Dengan terbentuknya paradigma itu, kegiatan ilmiah dalam sebuah disiplin memasuki periode ilmu normal atau sain normal (normal science).
Yang dimaksud dengan sains normal oleh Kuhn, dalam bukunya e Structure of Scientific Revolution: Peran Paradigma Dalam Revolusi Sains19, adalah riset yang dengan teguh berdasar atas satu atau lebih
pencapaian ilmiah yang lalu. Pencapaian tersebut, oleh masyarakat ilmiah tertentu, pada suatu ketika dinyatakan sebagai pemberi fondasi bagi praktek selanjutnya. Ilmu normal oleh Kuhn dicirikan sebagai berikut.
1. Pencapain ilmiah itu cukup baru, sehingga mampu menarik para praktisi ilmu, yang memiliki metode lain, dalam menja-lankan kegiatan ilmiah mereka. Maksudnya, dihadapkan pada berbagai alternatif metode untuk menjalankan kegiatan ilmiah, sebagian besar praktisi ilmu memilih untuk mengacu pada pencapain tersebut dalam menjalankan kegiatan ilmiah mereka.
2. Pencapain itu cukup terbuka sehingga kemungkinan masih terdapat berbagai masalah yang memerlukan penyelesaian oleh praktisi ilmu, dengan mengacu pada pencapain-pencapain tersebut.
Buku e Structure of Scientific Revolution, merupakan risalah paling penting dan berpengaruh tentang bagaimana ilmu pengetahuan itu berkembang atau tidak. Dari kedua ciri tersebut di atas, dalam bukunya, Kuhn menyebut dengan istilah paradigma (pembahasan mengenai hal ini akan disinggung pada bab selanjutnya). Dalam bagian ini akan dijelaskan bagaimanakah ilmu normal itu.
Ilmu normal bekerja berdasarkan paradigma yang dianut atau yang berlaku. Oleh karena itu, pada dasarnya penelitian normal tidak dimaksudkan untuk mencapai pembaruan besar, melainkan
19 Thomas Kuhn, The Stucture Of Scientic Revolutions: Peran Paradigma dalam Revolusi Sains (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2002), hlm. 10. o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
hanya untuk mengartikulasi paradigma itu20. Kegiatan ilmu normal
hanya bertujuan untuk menambah lingkup dan presisi pada bidang-bidang, yang terhadapnya paradigma dapat diaplikasikan. Dapat disimpulkan bahwa yang disebut dengan ilmu normal adalah: jenis kegiatan ilmiah yang sangat restriktif. Keuntungan dari penelitian ilmu normal ini adalah kegiatan ilmiah itu sangat mendalam dan cermat. Dalam bukunya tersebut, Kuhn menyatakan bahwa ia meninggalkan fisika demi filsafat dan ia berjuang selama 15 tahun untuk mentransformasikan kebimbangannya melalui teori paradigmanya. Kuhn menyebutnya sebagai penghilangan, atau ilmu pengetahuan normal.
c) Sosiologi sebagai Ilmu Empiris
Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan mempunyai ciri di bawah ini.
(a) Empiris, artinya didasarkan pada observasi terhadap kenyataan dan akal sehat, dalam arti tidak spekulatif.
(b) Teoretis, artinya, menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi, menjelaskan hubungan sebab akibat dalam menyusun teori. (c) Kumulatif, artinya teori sosiologi dibentuk atas dasar teori
yang sudah ada, dalam arti memperbaiki dan memperhalus teori-teori lama.
(d) Non Etis, artinya, yang dipersoalkan bukanlah buruk-baiknya fakta tertentu, tetapi mau menjelaskan fakta tersebut secara analititis.
Dari segi isi, sosiologi bersangkut paut dengan gejala-gejala kemasyarakatan. Sosiologi bukanlah suatu disiplin yang normatif, tetapi disiplin kategoris. Sosiologi merupakan Ilmu pengetahuan yang murni ( pure science) dan bukan terapan. Sosiologi merupakan ilmu yang abstrak dan bukan ilmu yang konkrit. Sosiologi meru-pakan ilmu pengetahuan yang umum ( Mother of Sosial Science).
Dari jenis ilmu pengetahuan yang tersedia, sosiologi bukanlah ilmu pengetahuan yang sifatnya normatif, akan tetapi suatu disiplin yang kategoris, artinya membatasi diri pada apa yang terjadi
20 Thomas Khun, The Stucture Of Scientic Revolutions. Ibid., hlm.35.
k . c o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
dewasa ini dan bukan merupakan apa yang seharusnya terjadi. Sebagai suatu ilmu pengetahuan, sosiologi membatasi diri terhadap persoalan penilaian, artinya tidak menetapkan ke arah mana sesuatu seharusnya berkembang, dalam arti memberikan petunjuk-petunjuk yang menyangkut kebijaksanaan kemasyarakatan dari proses kehidupan bersama tersebut. Hal ini tidak berarti bahwa pandangan-pandangan sosiologi tidak berguna. Sosiologi tidak ditujukan untuk menilai apa yang baik atau apa yang tidak baik dari segala sesuatu yang menyangkut kemasyarakatan. Sebagai ilmu pengetahuan, sosiologi tugasnya bukan menilai, namun berpikir secara kritis.
Tentunya, dengan cara berpikir sosiologis, kita akan mene-mukan pemahaman yang berbeda mengenai arti sosial, dengan apa yang diungkapkan oleh para ahli hukum atau pun ahli lainnya. Pemahaman sosiologis memiliki beberapa ciri adalah sebagai berikut21.
1. Paham sosiologis memiliki motif penelanjangan, artinya berusaha mengetahui apa yang berada dibalik kenyataan sosial yang diterima oleh banyak orang. Bersifat metodologis, ingin mengetahui seluruh proses sosial (aspek metodologis) yang terjadi dan bukan motif psikologi.
2. Motif kurang hormat, artinya selalu mempertanyakan apa yang ada dan tidak menerima sesuatu kenyataan yang sudah terjadi semestinya. Hal ini tidak berarti revolusioner dan tidak konservatif.
3. Motif untuk tidak menisbikan kenyataan, artinya nilai-nilai pemikiran manusia karena memandang permasalahan dengan dikondisikan menurut tempat dan waktu tertentu.
4. Motif Kosmopolitan, artinya motif sosiologi yang bersifat terbuka terhadap dunia luas, memerdekakan orang dalam rangkaian kejadian-kejadian kehidupan manusia, yakni memberikan kesempatan berpikir terhadap cara-cara berpikir dan bertindak yang lain.
21 Peter L. Berger. Humanisme. diterjemahkan oleh Daniel Dhakidae dari judul aslinya Invitation to Sociology, A
Humanistic Perspective (Jakarta: Inti Aksara, 1985), hlm. 40.
o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
Perhatikanlah ragaan berikut ini
Dengan pemahaman sosiologis tersebut di atas, tentunya akan dapat mendekonstruksi, membongkar arti atau makna sosial dari hukum yang sempurna. Pemahaman sosiologis terhadap realitas akan mampu mengantarkan realitas sosial yang melampui maknanya. Hal tersebut sekaligus akan mempertemukan hukum (dalam sisi lain) dengan realitasnya, karena dalam realitasnya, hukum dipahami bukan lewat pasal-pasal yang terdapat dalam setiap perundang-undangan, tetapi dipahami dalam stuktur
Motif Penelanjangan Berusaha mengetahui apa yang berada dibalik kenyataan sosial yang diterima oleh banyak orang. Bersifat metodologis, ingin mengetahui seluruh proses sosial (aspek metodologis) yang terjadi dan bukan motif psikologi.
Motif Kurang Hormat Selalu mempertanyakan apa yang ada dan tidak menerima suatu
kenyataan sudah terjadi semestinya. Ini tidak berarti revolusioner dan tidak konservatif.
Motif untuk tidak Menisbikan Kenyataan Nilai-nilai pemikiran manusia karena
memandang permasalahan dengan dikondisikan menurut tempat dan waktu.
Motif Kosmopolitan
Adalah motif sosiologi yang bersifat terbuka terhadap dunia luas, memerdekakan orang dalam rangkaian kejadian-kejadian dari kehidupan manusia, yakni memberikan kesempatan berpikir terhadap cara-cara berpikir dan bertindak yang lain.
Paham Sosiologis Peter L. Berger Humanisme, yang
diterjemahkan oleh Daniel Dhakidae dari judul aslinya Invitation to Sociology, A Humanistic Perspective. Inti Aksara, Jakarta 1985 hlm.40
k . c o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
masyarakatnya. Yang dimaksud hukum dalam realitasnya adalah, bukan dalam pasal-pasal, tetapi hukum yang dijalankan sehari-hari. Dengan demikian, apabila hendak memahami hukum dalam realitasnya, kita perlu keluar dari batas peraturan hukum dan mengamati praktek hukum, atau hukum sebagaimana dijalankan oleh orang-orang dalam masyarakat.
3. Para Ilmuwan Sosiologi Terkemuka
a) Aguste Comte (1798-1857)22
Aguste Comte, seorang yang berkebangsan Perancis, merupakan bapak sosiologi yang pertama kali memberi nama pada ilmu tersebut (yaitu dari kata socius dan logos). Walaupun dia tidak menguraikan secara rinci masalah apa yang menjadi objek sosiologi, akan tetapi dia mempunyai anggapan bahwa sosiologi terdiri dari dua bagian, yaitu sosial statistic dan sosial dynamics. Konsepsi tersebut merupakan pembagian dari isi sosiologi yang bersifat pokok. Sebagai sosial statistic, sosiologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara lembaga-lembaga kemasyarakatan. Sedangkan sosial dynamics mau meneropong bagaimana lembaga-lembaga kemasyarakatan tersebut berkembang. Perkembangan tersebut pada hakikatnya melewati tiga tahap (hukum tiga tahap), sebagaimana yang penulis uraikan pada bagian sebelumnya. Perlu diulangi di sini bahwa tahap-tahap tersebut, yaitu tahap teologis, tahap metafisis, dan tahap positif.
Hukum Tiga Tahap Aguste Comte
Tahap Konsep
Teologis Tingkat pemikiran manusia, bahwa semua benda di dunia ini mempu-nyai jiwa dan disebabkan oleh sesuatu kekuatan yang berada di atas manusia, tahap supranatural, atau tahap agama.
22 Periksa: Doyle Paul Johson, Teori Sosiologi Klasik , op.cit., hlm. 76-79. Graham C Kinloch, Sociological Theoritis
Development and Major Paradigm: Perkembangan Dan Paradigma Utama Teori Sosiologi. (Bandung: Pustaka Setia, 2005), hlm. 73. Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta: RajaGrapindo-Persada, 2001), hlm. 443-444. o m / i n d o n e s i a p u s t a k a
Metasis Manusia dalam tahap ini masih percaya bahwa gejala-gejala di dunia ini disebabkan oleh kekuatan-kekuatan yang berada di atas manusia. Manusia belum berusaha mencari sebab dan akibat gejala tersebut. Positif Tahap manusia yang sudah mampu berpikir secara ilmiah. Dalam
ta-hap ini manusia mulai mengembangkan ilmu pengetahuan.
Aguste Comte lahir di Montpellier, Perancis pada 1798. Keluarganya beragama Katolik dan berdarah bangsawan. Hanya dialah, diantara keluarganya, yang tidak memperlihatkan loyalitasnya. Pendidikannya ia tempuh di Ecole Polytecnique di Paris dan ia lama hidup di sana. Dalam kehidupannya, ia mengalami suasana pergolakan sosial, intelektual, dan politik yang sangat tinggi. Sebagai seorang mahasiwa, ia sangat keras kepala dan suka memberontak.
Ia memulai kariernya dalam bidang matematika. Meskipun dia telah memperoleh pendidikan matematika, perhatiannya terhadap masalah sosial sangatlah tinggi. Pengaruh ini diperolehnya dari Saint-Simons, yang mempekerjakan Comte sebagai seorang sekretaris. Dengannya, dia bekerja keras untuk mengembangkan karya pertamanya. Sain Simon seorang yang tekun, aktif, bersemangat, dan tidak disiplin, sementara Comte seorang metodis, disiplin, dan reflektif. Akhirnya, persahabatan ini pecah karena konflik karya bersama. Comte menolak Simon untuk pembimbingan karya tersebut23.
Kondisi ekonomi Comte sangat pas-pasan dan hampir terus hidup dalam garis kemiskinan. Dia tidak pernah mampu menjamin posisi profesionalnya, yang dibayar dengan semestinya dalam sistem pendidikan tinggi Perancis. Selama hidupnya ia tidak pernah dibayar dengan biaya yang tinggi. Ia bukan seorang yang dermawan atau seorang yang kaya, namun, layaknya seorang raja yang mendapatkan gadis, ia selalu dikerumuni oleh gadis-gadis pujaannya.
Dari pergaulannya dengan gadis-gadis tersebut, sejarah mencatat, bahwa sangatlah relavan untuk dapat memahami evolusi pemikiran Comte, khususnya perubahan dalam tahap-tahap akhir
23 Frank E. Manuel, The Prophets of Paris (Cambridge: Harvard University Press, 1962)
k . c o m / i n d o n e s i a p u s t a k a