BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN. Dalam bab ini akan diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan data-data yang

Teks penuh

(1)

64

Dalam bab ini akan diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan data-data yang berhasil dikumpulkan, hasil pengelolaan data dan pembahasan dari hasil pengolahan tersebut. Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata rasio keuangan selama lima tahun maka sebelum dilakukan pengujian hipotesis yang dilakukan pengujian asumsi klasik terlebih dahulu yang meliputi; uji normalitas data, uji multikolenearitas, uji heteroskedasitas, dan uji autokorelasi, output dari uji diatas adalah sebagai berikut :

A. Analisis Data Penelitian 1. Statistik Deskriptif

Deskripsi data dari masing-masing variabel penelitian yang meliputi nilai minimum, nilai maksimum, mean dan standar deviasi dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut ini :

(2)

Tabel 4.1.

Tabel Statistik Deskriptif Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean

Std. Deviation Perputaran_Kas 65 3.46 222.62 25.7542 44.84674 Perputaran_Piutang 65 1.52 14.07 5.3342 2.63664 Perputaran_Persediaan 65 2.39 34.61 7.1248 7.20675 Der 65 .01 2.57 .6606 .51413 Profitabilitas 65 .00 .26 .0928 .05372 Valid N (listwise) 65

(Sumber : Output SPSS 16,data diolah)

Berdasarkan hasil perhitungan pada Tabel 4.1 tersebut, hasil interpretasi lebih lanjut atas statistik deskriptif masing-masing variabel adalah:

a. Variabel Perputaran Kas (X1) memiliki nilai terendah yaitu 3,46 yang diperoleh dari PT Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) pada tahun 2014 dan nilai tertinggi yaitu 222,62 yang diperoleh dari PT Siantar Top Tbk (STTP) pada tahun 2014. Sedangkan rata-rata dari perputaran kas perusahaan barang konsumsi yang masuk Daftar Efek Syariah tahun 2010-2014 adalah 25,7542 dengan standar deviasi sebesar 44,84674.

b. Variabel Perputaran Piutang (X2) memiliki nilai terendah yaitu 1,52 yang diperoleh dari PT Martina BertoTbk (MBTO) pada tahun 2013

(3)

dan nilai tertinggi yaitu 14,07 yang diperoleh dari PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) pada tahun 2012. Sedangkan rata-rata dari perputaran piutang perusahan barang konsumsi yang masuk Daftar Efek Syariah tahun 2010-2014 adalah 5,3342 dengan standar deviasi sebesar 2,63664.

c. Variabel Perputaran Persediaan (X3) memiliki nilai terendah yaitu 2,39 yang diperoleh dari PT Mandom Indonesia Tbk. (MRAT) pada tahun 2013 dan nilai tertinggi yaitu 34,61yang diperoleh dari PT Nipon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) pada tahun 2010. Sedangkan rata-rata dari perputaran persediaan perusahaan barang kosumsi yang masuk Daftar Efek Syariah tahun 2010-2014 adalah 7,1248 dengan standar deviasi sebesar 7,20675.

d. Variabel Debt to Equity Ratio (X4) memiliki nilai terendah yaitu 0,01 yang diperoleh dari PT Mandom Indonesia Tbk (TCID) pada tahun 2010 serta nilai tertinggi yaitu 2,57 yang diperoleh dari PT Nipon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) pada tahun 2011. Sedangkan rata-rata dari DER perusahaan barang konsumsi yang masuk Daftar Efek Syariah tahun 2010-2014 adalah 0,6606 dengan standar deviasi sebesar 0,51413.

e. Variabel Profitabilitas (Y) memiliki nilai terendah yaitu 0,00 yang diperoleh dari PT Indofarma (Persero) Tbk (INAF) dan PT Martina Berto Tbk pada tahun 2014 serta nilai tertinggi yaitu 0,26 yang diperoleh dari PT Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP) pada tahun

(4)

2010 Sedangkan rata-rata dari profitabilitas perusahaan barang konsumsi yang masuk Daftar Efek Syariah tahun 2010-2014 adalah 0,0928 dengan standar deviasi sebesar 0,05372.

2. Uji Asumsi Klasik

a. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi secara normal. Ada dua cara untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan analisis grafik, analisis statistik, dan uji Kolmogrov-Smirnov.

Cara yang paling sederhana adalah dengan melihat histogram yang membandingkan antara data observasi dengan distribusi yang mendekati distribusi normal sebagai gambar 4.1. berikut :

Gambar 4.1.

Gambar Grafik Histogram

(5)

Dengan melihat tampilan grafik histogram, dapat disimpulkan bahwa grafik histogram memberikan pola distribusi yang mendekati normal , tidak menceng ke ke kiri maupun ke kanan. Namun demikian dengan hanya mmelihat histogram dinilai kurang memberikan hasil yang maksimal sehingga perlu melihat normal probability plot, dimana pada grafik normal plot terlihat titik-titik menyebar disetiap garis diagonal serta penyebarannya mengikuti arah diagonal, sebagaimana ditampilkan pada Gambar 4.2. berikut :

Gambar 4.2.

(6)

Berdasarkan grafik normal plot, menunjukan bahwa model regresi layak dipakai dalam penelitian ini karena data menyebar disekitar garis diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas .

Selain menggunakan grafik histogram dan grafik normal plot, uji statistik yang dapat dilakukan dalam uji normalitas adalah Uji Kolmogrof-Smirnov. Data yang berdistribusi normal ditunjukan dengan nilai signifikansi diatas 0,05. Hasil pengujian normalitas pada pengujian terhadap data statistik terlihat dalam tabel 4.2. berikut :

Tabel 4.2

Tabel Uji Kolmogorov-Smirnov

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual N 65 Normal Parametersa Mean .0000000 Std. Deviation .04614663 Most Extreme Differences Absolute .058 Positive .058 Negative -.049 Kolmogorov-Smirnov Z .465

Asymp. Sig. (2-tailed) .982

(7)

Berdasarkan hasil pada tabel diatas,data terdistrbusi normal. Hal ini ditunjukan dengan nilai Kolmogorov-Smirnov sebesar 0,456 dan signifikan pada 0,982 yang lebih besar dari 0,05. Hal ini berarti data residualnya terdistribusi secara normal, karena nilai signifikansinya lebih dari 0,05.

b. Uji Multikolinieritas

Uji Multikolinearitas dilakukan sebagai syarat untuk analisis regresi berganda dan juga untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara variabel bebas itu sendiri. Pada model regresi yang baik, antar variabel independen seharusnya tidak terjadi korelasi. Untuk mengetahui Uji Multikolinearitas dapat dilihat dari nilai Variance Inflation Factor (VIF) yang terdapat pada masing-masing variabel pada Tabel 4.3 berikut ini :

Tabel 4.3

Hasil Uji Multikolinearitas

Coefficientsa Model Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 (Constant) Perputaran_Kas .887 1.128 Perputaran_Piutang .980 1.020 Perputaran_Persediaan .799 1.251 Der .738 1.355 a. Dependent Variable: profitabilitas

(8)

Suatu regresi dinyatakan bebas dari multikolinearitas jika mempunyai nilai tolerance > 0,1 dan VIF < 10. Dari output data diperoleh bahwa semua variabel bebas memiliki nilai tolerance lebih dari 0,1 dan nilai VIF kurang dari 10. Dengan demikian, untuk uji multikolinearitas tidak terjadi masalah antar variabel independen dalam model regresi.

c. Uji Autokorelasi

Uji Autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linier berganda ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi maka dinamakan problem autokorelasi. Dalam penelitian ini uji autokorelasi menggunakan uji Durbin-Watson (DW test).

Tabel 4.4. Hasil Uji Autokorelasi

Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .512a .262 .213 .04766 2.241

a. Predictors: (Constant), DER, Perputaran_Piutang, Perputaran_Kas, Perputaran_Persediaan

b. Dependent Variable: Profitabilitas

(9)

Berdasarkan Tabel 4.4, hasil hitung Durbin-Watson sebesar 2.241. Nilai DW menurut tabel dengan n = 65 dan k = 4 didapat angka dl = 1,4709 dan du = 1,7311. Karena nilai du<d<4–du atau 1,7311<2,241< 2,2689 maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat autokorelasi pada model regresi ini.

c. Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi kesamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homokedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homokedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Uji Heteroskedastisitas dalam penelitian ini menggunakan uji scatterplot. Berikut hasil output uji scatterplot :

(10)

Gambar 4.3

Hasil Uji Heteroskedastisitas

(Sumber : Output SPSS 16, data diolah)

Dari grafik scatterplot terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak dan tersebar dengan baik di atas maupun di bawah angka nol pada sumbu Y. Hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi ini.

(11)

3. Analisis Regresi Linier Berganda

Analisis regresi linier berganda merupakan alat analisis untuk mengetahui serta menganalisis seberapa besar pengaruh suatu variabel bebas terhadap variabel terikat. Dalam penelitian ini variabel independen yang digunakan lebih dari satu yaitu perputaran kas, piutang, persediaan dan debt to equity ratio (DER) sedangkan variabel dependennya adalah Pfofitabilitas.

Tabel 4.5

Hasil Uji Regresi Linier Berganda

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) .074 .016 4.704 .000 Perputaran_Kas .000 .000 -.140 -1.190 .239 Perputaran_Piutang .006 .002 .279 2.488 .016 Perputaran_Persediaan .002 .001 .286 2.308 .024 Der -.035 .013 -.330 -2.558 .013 a. Dependent Variable: PROFITABILITAS

(12)

Berdasarkan data output dari Tabel 4.5 maka dapat disusun persamaan regresi linier berganda sebagai berikut :

Profitabilitas = 0,074+ 0,000 Perputaran Kas + 0,006 Perputaran Piutang + 0,002 Perputaran Persediaan - 0,035 DER + ε

Persamaan tersebut mempunyai makna :

a. Konstanta sebesar 0,074 menggambarkan apabila perputaran kas, perputaran piutang, perputaran persediaan dan debt to equity ratio (DER) bernilai konstan, maka akan menaikan Profitabitas sebesar 0,074

b. Koefisien regresi pada variabel perputaran kas (X1) sebesar 0,000 Artinya, setiap kenaikan 1% untuk perputaran kas, dengan asumsi variabel independen lainnya konstan, maka profitabilitas tidak mengalami kenaikan.

c. Koefisien regresi pada variabel perputaran piutang (X2) sebesar 0,006 menggambarkan bahwa perputaran piutang mempunyai hubungan yang positif terhadap profitabilitas. Artinya, setiap kenaikan 1% perputaran piutang dengan asumsi variabel independen lainnya konstan, akan meningkatkan profitabilitas sebesar 0,006%

d. Koefisien regresi pada variabel perputaran persediaan (X3) sebesar 0,002 menggambarkan bahwa perputaran persediaan mempunyai hubungan yang positif terhadap profitabilitas Artinya, setiap kenaikan 1% perputaran persediaan, dengan asumsi variabel independen lainnya konstan, akan menaikkan profitabilitas sebesar 0,002%

(13)

e. Koefisien regresi pada variabel debt to equity ratio (X4) sebesar -0,035 Artinya, setiap kenaikan 1% untuk debt to equity ratio, dengan asumsi variabel independen lainnya konstan, akan menurunkan profitabilitas.

4. Uji Hipotesis

a. Uji Statistik t (Parsial)

Uji statistik t parsial adalah pengujian yang digunakan untuk mengetahui apakah variabel perputaran kas, perputaran piutang, perputaran perputaran persediaan dan debt to equity ratio (DER) mempengaruhi Profitabilitas secara parsial. Hasil pengujian hipotesis secara parsial dapat dilihat pada Tabel 4.6 sebagai berikut :

Tabel 4.6

Hasil Uji Hipotesis Parsial (Uji t)

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) .074 .016 4.704 .000 Perputaran_Kas .000 .000 -.140 -1.190 .239 Perputaran_Piutang .006 .002 .279 2.488 .016 Perputaran_Persedi aan .002 .001 .286 2.308 .024 Der -.035 .013 -.330 -2.558 .013

a. Dependent Variable: Profitabilitas

(14)

Hasil analisis uji t yang didapat dari Tabel 4.6 tersebut adalah sebagai berikut :

1) Pengaruh Perputaran Kas (X1) Terhadap Profitabilitas (Y)

Variabel independen perputaran kas memiliki t hitung sebesar -1,190 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,239 Karena t hitung lebih kecil dari t tabel yaitu -1,190 < 2,00030 dan nilai signifikansinya 0,239 > 0,05 maka H01 diterima dan Ha1 ditolak. Dengan demikian, variabel independen perputaran kas secara parsial tidak berpengaruh terhadap Profitabilitas.

2) Pengaruh Perputaran Piutang (X2) Terhadap Profitabilitas (Y) Variabel independen perputaran piutang memiliki t hitung sebesar 2.488 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,016. Karena t hitung lebih besar dari t tabel yaitu 2.488 > 2,00030 dan nilai signifikansinya 0,016 < 0,05 maka H02 ditolak dan Ha2 diterima. Dengan demikian, variabel independen perputaran piutang secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap Profitabilitas. 3) Pengaruh Perputaran Persediaan (X3) Terhadap Profitabilitas

Variabel independen perputaran persediaan memiliki t hitung sebesar 2.308 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,024 Karena t hitung lebih besar dari t tabel yaitu 2.308 > 2,00030 dan nilai signifikansinya 0,024 < 0,05 maka H03 ditolak dan Ha3 diterima. Dengan demikian, variabel independen perputaran persediaan secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap Profitabilitas.

(15)

4) Pengaruh Debt to Equity Ratio (X4) Terhadap Profitabilitas (Y) Variabel independen debt to equity ratio memiliki t hitung sebesar -2.558 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,015. Karena t hitung lebih besar dari t tabel yaitu -2.511 > 2,00030 dan nilai signifikansinya 0, 013 < 0,05 maka H04 ditolak dan Ha4 diterima. Dengan demikian, variabel independen debt to equity ratio secara parsial berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Profitabilitas. b. Uji Statistik F (Simultan)

Uji statistik F (simultan) digunakan untuk menguji apakah semua variabel independen yaitu perputaran kas, perputaran piutang, perputaran persediaan dan debt to equity ratio (DER) yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen yaitu Profitabilitas.

Hasil pengujian hipotesis secara simultan dapat dilihat pada Tabel 4.7 berikut ini :

Tabel 4.7

Hasil Uji Hipotesis Simultan (Uji F)

ANOVAb Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig. 1 Regression .048 4 .012 5.328 .001a Residual .136 60 .002 Total .185 64

A. Predictors: (Constant), DER, Perputaran_Piutang, Perputaran_Kas, Perputaran_Persediaan

(16)

Dari hasil uji ANOVA atau F Test pada Tabel 4.7 tersebut , didapat nilai F hitung sebesar 5.328 dengan signifikansi 0,001 dimana signifikansi tersebut lebih kecil dari 0,05. Dengan menggunakan tabel F, didapat nilai F tabel sebesar 2,53. Hal tersebut menunjukkan bahwa F hitung (5.328) > F tabel (2,53) sehingga H05 ditolak dan Ha5 diterima. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perputaran kas, perputaran piutang, perputaran persediaan, dan debt to Equity ratio secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Profitabilitas.

5. Uji Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur seberapa besar presentase perubahan atau variasi dari variabel dependen bisa dijelaskan oleh perubahan atau variasi dari variabel independen. Semakin tinggi nilai koofisien determinasi akan semakin baik kemampuan variabel independen dalam menjelaskan pengaruhnya terhadap variabel dependen. Hasil pengujian koefisien determinasi dapat dilihat dari nilai Adjusted R Square pada analisis regresi berganda.

Tabel 4.8

Koefisien Determinasi atau R2

Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .512a .262 .213 .04766

a. Predictors: (Constant), Der, Perputaran_Piutang, Perputaran_Kas, Perputaran_Persediaan

(17)

Berdasarkan Tabel 4.8 tersebut, besarnya Adjusted R Square adalah 0,213 hal ini berarti 21,3% variasi profitabilitas dapat dijelaskan oleh variasi dari keempat variabel independen yaitu perputaran kas, perputaran piutang, perputaran persediaan dan debt to equity ratio, sedangkan sisanya sebesar 78,7% dijelaskan oleh variabel-variabel lain di luar penelitian.

B. Pembahasan Hasil Penelitian

Dalam pengujian secara simultan, diperoleh nilai Fhitung sebesar 5.328 dengan signifikansi 0,001 dimana signifikansi tersebut lebih kecil dari 0,05. Hal tersebut membuktikan bahwa semua variabel independen yang digunakan dalam penelitian yaitu perputaran kas, perputaran piutang, perputaran persediaan dan debt to equity ratio (DER) terbukti secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Profitabilitas.

Dalam pengujian secara parsial, tiga variabel independen yaitu perputaran piutang, perputaran persediaan dan debt to equity ratio (DER) terbukti berpengaruh terhadap Profitabilitas. Sedangkan variabel perputaran kas tidak berpengaruh terhadap Profitabilitas.

Pembahasan terhadap masing-masing variabel dalam pengujian secara parsial dijelaskan sebagai berikut :

(18)

1. Pengaruh Perputaran Kas Terhadap Profitabilitas

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis kesatu (H1) Variabel independen perputaran kas tidak berpengaruh terhadap profitabilitas yang dibuktikan berdasarkan hasil uji statitistik dan didapatkan nilai t hitung sebesar -1,190 dengan tingkat signifikansi 0,239 > 0,05.

Perputaran kas merupakan kemampuan kas dalam menghasilkan pendapatan sehingga dapat dilihat berapa kali uang kas berputar dalam satu periode tertentu. semakin tinggi perputaran kas ini akan semakin baik. Karena ini berarti semakin tinggi efisiensi penggunaan kasnya. Tetapi cash turnorver yang berlebih-lebihan tingginya dapat berarti bahwa jumlah kas yang tersedia terlalu kecil untuk volume penjualan tersebut.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mohamad Tejo Suminar dan Nina Sufiana yang menyatakan bahwa perputaran kas tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas. Hal ini juga menolak hasil penelitian yang dilakukan oleh Zulkarnaen dan Nike Cahya Ika LM et al yang menyatakan bahwa perputaran kas berpengaruh terhadap profitabilitas. .

Perputaran kas mempunyai hubungan yang negatife terhadap profitabilitas, dimana hasil ini bertentangan dengan teori yang sudah ada yaitu semakin tinggi cash turnover semakin baik karena perusahaan dalam menentukan jumlah kas yang harus dipertahankan terlalu besar yaitu jumlah kas >10 % dari jumlah aktiva lancar. Hal ini yang menyebabkan terlalu besar modal yang dimasukan kedalam kas. Oleh karena itu

(19)

mengakibatkan profitabilitas berkurang karena banyak modal yang menganggur. H. G. Gurthmann menyatakan bahwa jumlah kas yang ada di dalam perusahaan yang “well finance” hendaknya tidak kurang dari 5% sampai 10% dari jumlah aktiva lancar.

2. Pengaruh Perputaran Piutang Terhadap Profitabilitas

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis kedua (H2) Variabel independen perputaran piutang berpengaruh terhadap profitabilitas yang dibuktikan dengan nilai t hitung sebesar 2.488 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,016 < 0,05.

Semakin tinggi rasio menunjukan modal kerja yang ditanamkan dalam piutang makin rendah (bandingkan dengan rasio sebelumnya) dan tentunya kondisi ini bagi perusahaan semakin baik sehingga profitabilitas perusahaan juga meningkat. Sebaliknya jika rasio makin rendah, maka ada over investmen dalam piutang. Yang jelas bahwa rasio perputaran piutang memberikan pemahaman tentang kualitas piutang dan kesuksesan penagihan piutang.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mohamad Tejo Suminar yang menyatakan bahwa perputaran piutang berpengaruh terhadap profitabilitas. Penelitian ini juga menolak penelitian Julkarnain dan Mulyana yang menyatakan bahwa perputaran piutang tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas.

Manajer piutang perusahaan harus bisa menambah penjualan kreditnya dan menjaga rata-rata piutang harus tetap rendah supaya

(20)

perputarannya meningkat. Bertambahnya penjualan kredit diharapkan dapat meningkatkan laba, sehingga profitabilitas meningkat. Kebanyakan perusahaan besar menjual produknya secara kredit sehingga nantinya akan menimbulkan piutang. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan langganan yang sudah ada dan menarik langganan yang baru.

3. Pengaruh Perputaran Persediaan Terhadap Profitabilitas

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis ketiga (H3) Variabel independen perputaran persediaan berpengaruh terhadap profitabilitas yang dibuktikan berdasarkan hasil uji statitistik dan didapatkan nilai t hitung sebesar 2.308 dengan tingkat signifikansi 0,024 < 0,05.

Makin kecil rasio persediaan ini, maka makin jelek. Persediaan merupakan aktiva yang harus dikelola dengan baik, kesalahan dalam pengelolaan akan mengakibatkan komponen aktiva lain menjadi tidak optimal, bahkan bisa mengakibatkan kerugian. Pengelolaan dalam hal memanajemen perputaran persediaan bisa sangat menentukan dalam manajemen kelanjutan aktivitas perusahaan. Menurut Munawir (dalam Nina Sufiana dan Ketut Purnawati) menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat perputaran persediaan akan memperkecil resiko terhadap kerugian yang disebabkan karena penurunan harga atau karena perubahan selera konsumen, disamping itu akan menghemat ongkos penyimpanan dan pemeliharaan terhadap persediaan tersebut.

Hal ini didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nina Sufiana dan Hesti Rahmasari yang menyatakan bahwa perputaran

(21)

persediaan berpengaruh terhadap profitabilitas. Tetapi Hasil ini menolak penelitian yang dilakukan oleh Theresia Trisna Susanti yang menyimpulkan bahwa secara parsial menunjukkan variabel perputaran persediaan tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA.

variable perputaran persediaan memang terbukti memiliki pengaruh yang signifikan terhadap profitabilitas, dan sesuai juga dengan teori dan fakta penelitian sebelumnya. Ini berarti bahwa perusahaan-perusahaan industri barang konsumsi telah mengelola manajemen keuangannya secara efektif khususnya dalam mengelola perputaran persediaan yang dimiliki, sehingga perputaran persediaan yang terjadi dari tahun ke tahun dapat dikelola dengan sangat baik bahkan cenderung menunjukkan angka perputaran yang besar, sehingga dapat dikatakansemakin singkat atau semakin baik waktu rata- rata antara penanaman modal dalam persediaan dan transaksi penjualan pada perusahaan -perusahaan industri barang konsumsi.

4. Pengaruh Debt to Equity ratio (DER) Terhadap Profitabilitas

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis keempat (H4) Variabel independen debt to equity ratio berpengaruh negatif signifikan terhadap profitabilitas yang dibuktikan dengan nilai thitung sebesar -2.558 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,001 < 0,05.

Tingkat debt to equity ratio menjadi indikasi akan tingkat risiko perusahaan. tingginya debt to equity ratio dapat mencerminkan perusahaan akan memiliki masalah riil dalam jangka panjang. Semakin kecil rasio ini mencerminkan hutang yang rendah, dan bunga yang dibayarkan akan

(22)

rendah. Rendahnya beban bunga akan mempengaruhi tingkat laba yang dihasilkan perusahaan dan meningkatkan profitabilitas.

Hasil penelitian mengenai debt to equity ratio yang berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Ni Made Vironika Sari et al yang menyatakan bahwa debt to equity ratio berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas. Tetapi ada juga penelitian yang tidak sejalan dengan penelitian tersebut yaitu penelitian yang dilakukan oleh Mulyana yang menyimpulkan bahwa secara parsial menunjukkan bahwa Debt To Equity Ratio (DER) tidak berpengaruh signifikan terhadap ROI perusahaan Property & Real Estate yang terdaftar di BEI periode 2010-2013.

Semakin tinggi DER menunjukkan semakin tinggi penggunaan kewajiban sebagai sumber pendanaan perusahaan. Hal ini dapat menimbulkan resiko yang cukup besar bagi perusahaan ketika perusahaan tidak mampu membayar kewajiban tersebut pada saat jatuh tempo, sehingga akan mengganggu kontinuitas operasi perusahaan. Selain itu, perusahaan akan dihadapkan pada biaya bunga yang tinggi sehingga dapat menurunkan laba perusahaan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di