• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GUS DUR DALAM SETTING SEJARAH. ayahnya memberinya nama Abdurrahman Ad-Dakhil. Namun, seiring

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III GUS DUR DALAM SETTING SEJARAH. ayahnya memberinya nama Abdurrahman Ad-Dakhil. Namun, seiring"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

35

BAB III

GUS DUR DALAM SETTING SEJARAH

A. Biografi dan Pendidikan

Abdurrahman Wahid, atau yang lebih akrab disapa Gus Dur, lahir pada tanggal 7 September 1940 di desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur.1 Ia dilahirkan dalam lingkungan keluarga Jawa terkemuka. Pada saat ia lahir, ayahnya memberinya nama Abdurrahman Ad-Dakhil. Namun, seiring berputarnya waktu, nama Abdurrahman Wahid ternyata lebih cocok melekat pada dirinya. Gus Dur merupakan anak pertama dari enam bersaudara yang lahir dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah.

Ayah Gus Dur, Wahid Hasyim adalah putra dari K.H. Hasyim Asy’ari, tokoh pendiri ormas cukup berpengaruh di Indonesia, Nahdlatul Ulama.2 Ibu Gus Dur, Solichah adalah puteri dari K.H. Bisri Syansuri, seorang ulama yang sangat disegani sekaligus pendiri dari Pondok Pesantren Denanyar Jombang.

Ayah Gus Dur memiliki kontribusi cukup penting di pentas sejarah nasional, terutama pada masa-masa pra kemerdekaan. Wahid Hasyim termasuk salah seorang tokoh yang ikut terpilih dalam panitia sembilan guna merumuskan

1

Greg Barton, Biografi Gus Dur, The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid, Yogyakarta, Saufa, 2016), hal. 25-26

2

Khamani Zada, Nahdlatul Ulama: Dinamika Ideologi dan Politik Kenegaraan, (Jakarta: Buku Kompas, 2010), hal. 4

(2)

36

konsep dan dasar negara Indonesia pada tanggal 22 Juni 1945.3 Selain itu, Wahid Hasyim juga pernah diangkat menjadi menteri agama Republik Indonesia pada masa pemerintahan Soekarno, tahun 1949.4

Saat Gus Dur berusia empat tahun, ia diajak ayahnya ke Jakarta. Adik laki-lakinya, Umar ketika itu baru saja dilahirkan pada bulan Januari tahun itu. Namun, Wahid Hasyim memutuskan untuk meninggalkan keluarganya di Jombang, dan hanya ia dan putera sulungnya yang pergi menetap di Jakarta. Di Jakarta, Gus Dur dan ayahnya tinggal di daerah Menteng, Jakarta Pusat.5

Pada saat Jepang menyerah kepada pihak Sekutu, situasi di Jakarta mulai tidak kondusif. Wahid Hasyim lalu membawa Gus Dur kembali ke kampung halamannya di Jombang. Keputusan ayahnya mengantar Gus Dur ke Jombang memang cukup beralasan, karena ia khawatir kondisi yang kian memanas kala itu dapat mengancam keselamatan jiwa puteranya. Setelah mengantar Gus Dur ke Jombang, Wahid Hasyim kembali melanjutkan perjuangan bersama tokoh-tokoh nasional lainnya di Jakarta. Selama masa perjuangan revolusi, ayahnya lebih banyak berjuang melawan Belanda dengan sembunyi-sembunyi. Meskipun Gus Dur sudah tinggal bersama ibu dan adik-adiknya di Jombang, ayahnya sesekali tetap mengunjungi mereka.

3DJoko Utomo, “Arsip Sebagai Simpul Pemersatu Bangsa”, Jurnal ANRI

,(Jakarta: 2012), hal. 13

4Kamarudin Salleh, “Gus Dur dan Pemikiran Liberalisme”, Jurnal, (Malaysia: 2014), hal. 260

5

(3)

37

Pada bulan Maret 1949, Gus Dur dan keluarganya kembali ke Jakarta. Pejanjian perdamaian antara Indonesia dan Belanda telah membuat keluarga ini berkumpul kembali di sebuah rumah di kawasan Jakarta. Kepindahan keluarga Wahid Hasyim dari Jombang ke Jakarta saat itu atas dasar pertimbangan tanggung jawab pekerjaan sebagai Menteri Agama.

Selama tinggal di Jakarta, Gus Dur sering berada di dekat ayahnya dan ikut menemani ayahnya pergi ke pertemuan-pertemuan. Dari sinilah Gus Dur mulai melihat bagaiman dunia ayahnya sebagai seorang tokoh penting. Di sini juga Gus Dur mulai menyaksikan bagaimana ayahnya hidup dalam kesederhanaan.

Pada tahun 1953, Gus Dur kehilangan sosok ayahnya yang ketika itu mendapat musibah dalam perjalanan antara Cimahi-Bandung. Ketika itu Gus Dur masih berusia 13 tahun dan harus memikul tanggung jawab sebagai anak tertua dari saudara-saudaranya. Sebagai putera seorang ulama yang berpengaruh di lingkunan NU, Gus Dur tentu merasa memiliki perasaan tanggung jawab terhadap masa depan organisasi tersebut.6 Meskipun saat itu usianya masih 13 tahun, namun Gus Dur seakan sudah dipikulkan amanat yang begitu besar untuk memikirkan bagaimana nasib organasisai besar itu di masa depan.

Sejak kecil Gus Dur sudah terbiasa bertemu dengan tokoh-tokoh masyarakat di rumahnya. Hal itu karena di samping pengaruh ketokohan

6

Syamsul Bakri dan Mudhofir, Jombang Kairo Jombang Chicago: Sintesis Pemikiran Gus Dur dan Cak Nur dalam Pembaruan Islam di Indonesia, (Semarang: Tiga Serangkai Solo, 2004., hal. 24

(4)

38

ayahnya, pada masa-masa revolusi, rumahnya kerap dijadikan tempat pertemuan para pemimpin NU. Tidak hanya tokoh-tokoh NU yang kerap berkumpul di rumahnya, akan tetapi banyak juga pemuka agama lain, dan politisi dari berbagai aliran.7 Kondisi ini di satu sisi sangat mendukung pembentukkan kreativitas dan progresivitas Gus Dur untuk menjadikan dirinya sebagai seorang tokoh berpengaruh di masa mendatang.

Selama tinggal bersama keluarganya di Jakarta, Gus Dur sudah mulai terlihat menyenangi buku-buku bacaan. Kebetulan ayahnya memiliki perpustakaan pribadi di rumahmya, maka Gus Dur memanfaatkan kesempatan itu untuk menyalurkan hobi membacanya. Pada waktu senggangnya, Gus Dur juga tidak lupa mengunjungi perpustakaan umum di sekitar Jakarta. Tidak heran apabila pada usianya yang masih belasan tahun Gus Dur sudah akrab dengan bermacam-macam majalah, surat kabar, dan novel.

Di samping gemar membaca, Gus Dur muda juga senang bermain bola, catur, dan mendengarkan musik. Selain membaca, Gus Dur adalah seorang yang menyenangi film-film terkenal pada masa itu. Salah satu film favoritnya adalah film yang berasal dari Prancis. Mungkin karena kesenanganya pada duni perfilman inilah pada tahun 1986 ia diangkat sebagai ketua JFFI (Juri Festival Film Indonesia).

7

(5)

39

Awal perjalanan Gus Dur dalam dunia pendidikan dimulai pada tahun 1946.8 Ketika itu ia baru memulai pelajaran di sekolah tingkat dasar. Selama ia belajar di sekolah ini, seringkali selepas Gus Dur pulang sekolah, ayahnya menitipkannya ke rumah seorang Jerman, William Iskandar Bueller. Kebetulan Bueler ini adalah teman baik ayahnya. Kebersamaan Gus Dur dengan keluarga Bueller inilah awal mula dirinya mulai tertarik pada dunia musik, khususnya musik klasik.

Setahun setelah Gus Dur menyelesaikan sekolah dasarnya, ibunya lalu mengirim Gus Dur ke Yogyakarta untuk belajar di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP). Selama bersekolah di Yogjakarta ia tinggal di rumah teman ayahnya yang bernama K.H. Junaidi. Kiai ini merupakan salah seorang ulama dan anggota Majelis Tarjih Muhammadiyah atau Dewan Penasehat Agama Muhammadiyah.

Dari tahun 1953-1957 Gus Dur berhasil menyelesaikan masa pendidikannya di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama di Yogyakarta. Selanjutnya ia banyak menghabiskan waktu di beberapa pesantren. Sampai pertengahan tahun 1959, dirinya secara penuh mengikuti pendidikan di dunia pesantren. Ia bergabung dengan Pesantren Tegalrejo di Magelang. Di sini ia banyak belajar dari gurunya, Kiai Khudori yang juga merupakan salah seorang tokoh NU. Pada saat yang sama, ia juga belajar paro waktu di Pesantren Denanyar, Jombang, di bawah bimbingan Kiai Bisri Syansuri.

8

(6)

40

Selama menimba ilmu di Pesantren Tegalrejo, Gus Dur telah menunjukkan dirinya sebagai seorang murid yang sangat berbakat. Ia hanya membutuhkan waktu kurang lebih dua tahun untuk menyelesaikan masa pendidikannya. Sedangkan bagi murid-murid lain, mereka memerlukan waktu tidak kurang dari empat tahun. Bahkan, di Tegalrejo ini Gus Dur banyak menghabiskan waktunya di luar kelas dengan membaca buku-buku Barat.

Masih dalam tahun 1959, Gus Dur memutuskan pindah ke Jombang dan belajar secara penuh di Pesantren Tambak Beras. Di sini ia dibimbing oleh Kiai Wahab Chasbullah. Selama di pesantren ini, Gus Dur juga sering berkunjung kepada Kiai Bisri Syansuri. Gus Dur melewati masa-masa pendidikan pesantrennya sampai tahun 1963. Selama masa tersebut, ia juga mulai terdorong untuk menjadi seorang tenaga pengajar pada sebuah madrasah modern.9

Meskipun Gus Dur secara penuh belajar di pesantren Jombang, namun ia tetap rutin berkunjung ke Pesantren al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta.10 Di kota ini ia tinggal di rumah Kiai Ali Ma’sum. Selama kurun waktu inilah Gus Dur mulai mendalami ilmu bahasa Arab, hadits, dan fiqih yang dibacanya dalam kitab-kitab klasik. Beberapa catatan menyebutkan, selama nyantri di berbagai pesantren, Gus Dur dikenal sebagai anak yang cemerlang dan punya daya ingat yang kuat.

9

Greg Barton, op.cit., hal 53 10

(7)

41

Pada tahun 1963, Gus Dur meninggalkan pendidikan dunia pesantren dan melanjutkan belajar ke Kairo, Mesir karena mendapat beasiswa dari Departemen Agama. Di sini ia masuk ke Universitas Al-Azhar pada Departement of Higher Islamic and Arabic Studies (Ma’had ‘Ali Dirasat Islamiah). Pendidikan yang diajarkan di sini yaitu baru berupa mengenal abjad Arab. Bagi Gus Dur, tahap pelajaran tersebut sudah ia lewati pada saat di nyantri di pondok pesantren tanah air Akibat Gus Dur tidak memiliki ijazah formal yang dapat membolehkannya untuk tidak mengikuti kelas khusus tersebut, maka mau tidak mau ia harus melewati tahap pelajaran ini.

Kekecewaan Gus Dur saat itu membuat dirinya lebih banyak menghabiskan sebagian besar waktunya di luar kelas. Ketika itu usianya telah menginjak dua puluh limaan tahun. Sebagai pengisi waktu bosannya selama di Kairo, Gus Dur banyak menonton pertandingan sepak bola. Di samping itu, ia juga sering mengunjungi perpustakaan-perpustakaan besar untuk membaca koleksi buku-buku di sana. Hobi lain Gus Dur saat itu adalah menonton film-film Prancis di bioskop dan mengikuti diskusi-diskusi di kedai kopi yang ada di kota Kairo.

Di Mesir, Gus Dur aktif dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI). Ia sering berdiskusi dan saling tukar pikiran tentang berbagai hal dengan mahasiwa asal Indonesia lainnya. Di Kairo, Gus Dur juga sempat bekerja di kantor kedutaan besar Indonesia. Pekerjaan tersebut menambah pemasukan keuangan Gus Dur yang dapat ia gunakan untuk membeli berbagai macam buku bacaan.

(8)

42

Pada saat Gus Dur menimba ilmu di Mesir, negeri itu sedang dipimpin oleh Gamal Abdul Nasser. Ketika itu situasi politik di Mesir tengah bergejolak hebat. Manuver-manuver politik yang dilancarkan Nasser ke beberapa negara Arab telah memicu berbagai reaksi dari umat Islam mesir.11 Dalam situasi seperti itu, Gus Dur telah melihat langsung bagaimana perkembangan intelektualitas yang terjadi pada dunia Islam modern. Perbincangan seputar isu-isu nasionalisme dan Persatuan Arab kala itu memberikan kekayaan baru terhadap dunia intelektual seorang Gus Dur.

Selama di Kairo ini pula Gus Dur mulai intens mengirim surat kepada seorang gadis Jawa bernama Nuriyah yang kelak menjadi isterinya. Gadis ini pertama kali dijumpainya ketika dulu Gus Dur mengajar di madrasah Tambak Beras. Namun, ketika itu masa-masa kedekatannya dengan Nuriyah tidak terlalu lama, sebab Gus Dur harus berangkat Mesir pada tahun 1963. Hubungan dua hati dari jarak jauh antara Gus Dur dan Nuriyah terus berlanjut hingga tahun 1971 saat mereka memutuskan untuk menikah.

Petualangan intelektual Gus Dur di kota Kairo berakhir pada tahun 1966 saat ia memutuskan untuk pindah kota Baghdad, Irak.12 Gus Dur masuk ke Universitas Baghdad pada Fakultas Seni. Ketika itu, Universitas Baghdad sudah cukup mapan sebagai sebuah universitas Islam. Gus Dur merasa telah

11Muhammad Nurudin, “Pemikiran Nasionalisme Arab Gamal Abden Nasser dan Implikasinya Terhadap Persatuan Umat Islam di Mesir”, Jurnal, (Semarang: 2015), hal. 66

12

Zubaedi, Islam dan Benturan Antarperadaban, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007).,hal. 176

(9)

43

menemukan dunianya selama tinggal dan belajar di kota ini. Lingkungan di Universitas Baghdad telah terbukti menumbuhkan benih-benih intelektual Gus Dur sebagai seorang mahasiswa muda.

Tiga tahun di Baghdad, Gus Dur banyak belajar bahasa asing selain bahasa Arab. Ia belajar bahasa Prancis di Pusat Kebudayaan Prancis di kota ini. Bahasa Prancis menjadi kesenangan tersendiri bagi Gus Dur, karena metode pembelajarannya yang modern dan ditambah lagi kecintaannya terhadap budaya Prancis membuat Gus Dur semakin bergairah untuk belajar.

Gus Dur melewati jadwal pelajaran yang sangat padat di Universitas Baghdad. Tidak hanya itu, di sini sistem pelajarannya juga lebih ketat daripada di Kairo. Oleh karena itu, ia tidak punya waktu banyak untuk menghadiri diskusi di kedai-kedai kopi seperti saat di Al-Azhar dulu. Padahal keberadaan forum-forum diskusi lepas semacam itu sangat menyenangkan bagi Gus Dur. Selain dapat memperkaya wawasan tentang perkembangan terbaru di seputar dunia Islam, kesempatan tersebut juga menjadi wadah silaturahim dengan teman-temannya sesama mahasiswa.

Salah satu kebiasaan Gus Dur yang tidak pernah ia lupakan selama berada di kota Baghdad yaitu mengunjungi makam-makam bersejarah yang paling penting bagi dunia Islam. Sebelumnya, saat di Kairo Gus Dur ternyata juga kerap mendatangi situs-situs sejarah Islam. Selama menimba ilmu di luar negeri, Gus Dur sepertinya tidak melupakan tradisi yang biasa dilakukan oleh sebagian sebagian orang yang hidup dalam dunia pesantren.

(10)

44

Gus Dur belajar di Universitas Baghdad sampai pertengahan tahun 1970-an, setelah itu ia pindah ke Eropa. Belanda merupakan negara pertama yang ingin dikunjunginya untuk melanjutkan pendidikannya. Rencananya Gus Dur hendak mendaftar ke Universitas Leiden, tapi karena terkendala oleh masalah pengakuan yang bersifat formalitas, akhirnya ia urung kuliah di Belanda. Kekecewaan Gus Dur semakin bertambah, ketika ia mengetahui bahwa Universitas-universitas Eropa menetapkan prasyarat yang mewajibkannya harus mengulang studi tingkat sarjana.

Setelah berkelana selama kurang lebih satu tahun di beberapa negara Eropa (Belanda, Jerman, dan Francis), akhirnya Gus Dur memutuskan kembali ke tanah air sekitar tahun 1971.13 Walaupun ia tidak mendapat gelar pendidikan yang dibawa dari Eropa, akan tetapi pengalamannya selama berada di Eropa tersebut adalah cita-cita yang ia inginkan bertahun-tahun lamanya.

Sesampainya di tanah air, Gus Dur kemudian menikah dengan Nuriyah. Setelah itu, mereka tinggal di Jombang. Inilah titik awal dari perjalanan seorang Gus Dur baik sebagai seorang guru pesantren, penulis, tokoh agama, sampai menjadi Presiden Indonesia yang penuh dengan kontroversi. Selama menjadi suami Nuriyah, Gus Dur dikaruniai empat orang anak.

Sejarah kehidupan Gus Dur sebagai seorang tokoh dan guru bangsa Indonesia terus dikenang oleh banyak orang. Semasa hidupnya, Gus Dur telah

13

(11)

45

berhasil menarik perhatian masyarakat Indonesia dengan ketokohannya yang penuh pro dan kontra. Hinggga beliau wafat pada tahun 2009, sebagian besar warisan pemikiran intelektual yang ditinggalkan Gus Dur terus hidup sampai hari ini.

B. Karya-karya

Sebagai seorang tokoh intelektual, Gus Dur semasa hidupnya telah menghasilkan berbagai gagasan dan pemikiran yang dapat terlihat pada sejumlah karya tulisnya. Di antara karya tulisnya tersebut adalah sebagai berikut:14

1. Buku Bunga Rampai Pesantren

Pada buku ini terdapat sekitar 12 artikel yang secara umum menguraikan tentang kehidupan di dunia pesantren. Sekedar untuk diketahui, bahwa buku Gus Dur yang satu ini sudah sangat sulit ditemukan, karena tergolong buku lama. Wacana yang lebih banyak diangkat oleh Gus Dur dalam tulisannya ini yaitu tentang kemampuan pesantren mengambil peran pernting dalam berbagai aspek kehidupan. Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan keagamaan, namun juga dapat berkontribusi dalam setting sosial budaya, politik dan ideologi negara.

2. Buku Muslim di Tengah Pergumulan

Di dalam buku ini, Gus Dur membahas seputar persoalan penting yang dihadapi bangsa Indonesia selama periode tahun 1971 sampai 1981.15 Buku ini

14

Abuddin Nata, Tokoh-tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005), hal. 348

(12)

46

berisi 17 artikel yang pada umumnya menjelaskan berbagai masalah yang muncu di tengah umat Islam Indonesia dalam merespon perubahan zaman akibat arus modernisasi.

3. Buku Kiai Nyentrik Membela Pemerintah

Pembahasan dalam buku ini menggambarkan bagian dari pemikiran Gus Dur tentang kenegaraan, kebudayaan, dan keislaman. Pada saat Gus Dur menghasilkan karya ini, ia tengah berada dalam kematangan sikap dalam menggunakan metodologi ilmu sosial, terutama ilmu antropologi yang menjelaskan pandangan-pandangan ideologisnya.16

4. Buku Tuhan Tak Perlu Dibela

Buku ini merupakan kumpulan dari tulisan Gus Dur di kolom-kolom majalah Tempo antara tahun 1970-an dan 1980-an. Dalam buku ini terdapat sekitar 73 artikel yang telah ditulis Gus Dur. Secara umum, dalam buku ini menggambarkan tiga pokok besar dari pemikiran Gus Dur yakni tentang pemikiran Islam, kebangsaan, dan demokrasi. Selain topik-topik tadi, buku ini juga menceritakan berbagai pengalaman Gus Dur selama tinggal di luar negeri. 5. Buku Prisma Pemikiran Gus Dur

Di dalam buku ini, pembaca akan dapat melihat seputar pandangan Gus Dur tentang politik, ideologi, nasionalisme, gerakan keagamaan, pemikiran sosial dan budaya.

15

Website: http://www.gusdur.net/id/pustaka/buku-buku-tulisan-gus-dur/muslim-di-tengah-pergumulan, (diakses pada tanggal 04-06-2017, Pukul: 00:41)

16

(13)

47

6. Buku Mengurai Hubungan Agama dan Negara

Di dalamnya terdapat 17 artikel yang memaparkan berbagai pandangan Gus Dur tentang agama, demokrasi, pemberdayaan sosial masyarakat, NU dalam politik bangsa, kepemimpinan Islam di antara eksklusivme dan inklusifisme.

Di samping karya-karya Gus Dur yang sudah ditulis di atas tersebut, terdapat pula beberapa buku yang membahas seputar pemikiran dan Gagasan Gus Dur. Di antaranya, buku yang berjudul Kiai Menggugat Gus Dur menjawab, Sebuah Pergumulan Wacana dan Transformasi, Tabayyun Gus Dur, Gus Dur Menjawab Tantangan Perubahan, Menjawab Kegelisahan Rakyat, Membaca Sejarah Nusantara, Sekadar Mendahului, Membangun Demokrasi, Melawan

Lelucon, Ilusi Negara Islam, dan Islamku, Islam Anda, Islam Kita.

Sejauh pengetahuan penulis, memang masih banyak karya Gus Dur yang tidak dapat diuraikan seluruhnya di dalam tulisan ini. Namun, berdasarkan karya-karya Gus Dur di atas tadi, penulis melihat bahwa selain sebagai seorang penulis, tokoh politik, guru spritual, negarawan, dan budayawan, Gus Dur juga pantas disebut seorang intelektual keagamaan yang memiliki wawasan sangat luas.

C. Kiprah Ketokohan

Pada bagian ini akan dilihat bagaimana kiprah ketokohan Gus Dur dalam beberapa periodesasi sejarah bangsa Indonesia. Pada dasarnya, awal kiprah ketokohan Gus Dur dimulai sejak saat ia kembali dari belajar di luar negeri pada tahun 1971.

(14)

48

Tidak lama setelah ia pulang dari luar negeri, Gus Dur sering bolak-balik Jombang-Jakarta. Ketika itu ia bekerja di kantor LP3ES (Lembaga Pengkajian Pengetahuan, Pendidikan, dan Ekonomi), di Jakarta. Selama aktif di LP3ES, Gus Dur kerap memberikan pemahaman kepada lembaga ini tentang seputar dunia pesantren dan Islam tradisional. Peran lembaga ini pada saat itu sangat penting artinya bagi Gus Dur, karena di tempat inilah ia banyak belajar mengenai aspek-aspek praktis dan kritis dalam kajian pengembangan masyarakat.

Antara tahun 1970-an dan 1980-an awal, Gus Dur terlihat aktif sebagai penulis kolom dan jurnal di berbagai surat kabar dalam negeri. Di samping menulis, ia juga mengajar di beberapa pondok pesantren. Gus Dur juga pernah menjadi dosen dan Dekan Fakultas Ushuludin pada Universitas Hasyim Asy’ari di Jombang tahun 1977.17 Selama menjadi dosen dan dekan di Universitas Hasyim Asy’ari, Gus Dur adalah seorang pembicara yang populer. Gus Dur juga kerap tampil sebagai pemakalah di acara-acara seminar. Di samping itu, ia punya jadwal rutin untuk memberi ceramah keagamaan kepada kelompok-kelompok mahasiswa di Jombang.

Secara garis besar, kiprah ketokohan Gus Dur di bidang keagamaan maupun panggung politik Indonesia baru mulai terlihat pada awal tahun 1980-an. Menurut penulis, sebelum tahun 1980-an, Gus Dur lebih banyak berperan dalam

17

Budi Handrianto, 50 Tokoh Islam Liberal Indonesia, (Jakarta: Hujjah Press, 2010), hal. 16

(15)

49

dunia pesantren dan akademis. Untuk mengetahui kiprah ketokohan dari seorang Gus Dur tersebut, di bawah ini akan penulis jelaskan beberapa di antaranya:

1. Ketua PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama)

Nahdlatul Ulama didirikan pada tahun 1926 oleh K.H. Hasyim Asy’ari, kakek Gus Dur dari pihak ayah.18 Organisasi ini berpusat di daerah Surabaya, Jawa Timur. NU adalah sebuah organisasi keagamaan dan sosial yang bercorak tradisional dan keberadaannya cukup berpengaruh di tengah kehidupan masyarakat Indonesia.

Gus Dur mulai menjabat sebagai ketua PBNU pada tahun 1984 menggantikan ketua umum sebelumnya, Idham Khalid.19 Naiknya Gus Dur menjadi ketua umum NU ketika itu sepertinya mendapat dukungan dari kiai-kiai senior. Hal itu terlihat dari kedekatan Gus Dur dengan tokoh-tokoh penting yang duduk di dewan suriah. Stagnisasi dalam tubuh organisasi pada masa-masa itu dianggap oleh sebagian warga NU disebabkan karena masalah kepemimpinan. Oleh karena itu, Gus Dur dinilai adalah orang yang sangat tepat untuk memimpin organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut.

Saat Itu Gus Dur terpilih secara aklamasi dalam Muktamar NU yang ke-27 di Situbondo. Gus Dur pada saat itu telah berhasil membawa citra baru pada tubuh NU. Sebelumnya NU merupakan organisasi Islam tradisional dan koservatif. Namun, menurut penilaian sebagian kalangan, pada masa itu Gus Dur

18

Ali Haidar, Nahdlatul Ulama dan Islam di Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 1994), hal. 62

19

(16)

50

mampu membawa angota-angota muda NU untuk cenderung berpikir liberal.20 Gus Dur dianggap telah menciptakan berbagai pembaharuan di dalam tubuh NU. Sepanjang Gud Dur menjabat, tidak jarang pula terjadi gesekan pemikiran dengan kiai-kiai senior di dewan suriah. Gus Dur dinilai terlalu berani dan terkadang juga suka ‘nyeleneh’ yang menurut orang-orang dapat memunculkan penilaian kurang baik dari masyarakat terhadap NU. Akibat karakter pemikirannya yang condong liberal tersebut, Gus Dur menjadi sosok tokoh yang kontroversial.

Kiprah Gus Dur selama memimpin organisasi NU telah menjadikan figur ketokohannya semakin mencuat di pentas nasional. Pada saat itu hubungan antara NU dan pemerintah Orde Baru berjalan baik. Padahal sebelum masa kepemimpinan Gus Dur, hubungan antara NU dan pemerintah kurang harmonis.

Pada masa-masa selanjutnya, kiprah Gus Dur sebagai ketua PBNU, terutama dalam hal hubungannya dengan pemerintah tidak selalu terlihat akur. Kala itu tidak jarang Gus Dur mengkritik kebijakan penguasa Orde Baru. Bahkan, akibat krtitiknya tersebut pernah menimbulkan reaksi politik dari presiden Soeharto. Hal itu terbukti saat Soeharto berupaya untuk menjegal Gus Dur supaya tidak terpilih kembali menjadi ketua PBNU pada tahun 1994. Namun, di lain kesempatan, Gus Dur tidak jarang pula mendukung kebijakan

20

(17)

51

pemerintah.21 Sikap Gus Dur yang seperti itu membuat dirinya dinilai tidak konsisten dan terkesan “plin plan” oleh sebagian kalangan.

Kiprah ketokohan Gus Dur yang cukup menonjol saat menjadi ketua PBNU terlihat ketika dirinya memutuskan organisasi ini kembali ke khittahnya. Ini berarti, NU tidak lagi terlibat dalam politik praktis dan menjadikan organisasi tersebut kembali bercita-cita persis seperti pertama kali didirikan tahun 1926.22

Gus Dur cukup lama menjabat sebagai ketua PBNU yakni dari tahun 1984 hingga 2005.23 Kiprah Gus Dur sepanjang periode ini dapat dikatakan sebagai periode keemasan bagi ketokohannya. Kepopulerannya semakin menanjak sepanjang periode ini. Sosok ketokohannya bersama NU terus menanjak di atas pentas nasional. Gus Dur tidak saja sukses tampil menjadi seorang pemimpin organisasi besar, akan tetapi ketokohannya juga mampu memberi pengaruh dalam peta perpolitikan di Indonesia.

Selama kurun waktu 15 tahun menjabat ketua umum NU, Gus Dur semakin dikenal oleh masyarakat luas. Ketenaran Gus Dur ketika itu mungkin saja disebabkan oleh sikapnya yang sering menuai kontroversi di tengah umat Islam Indonesia. Meskipun tampil sebagai tokoh yang penuh dengan sikap pro dan kontra, namun pengaruh ketokohan Gus Dur mampu menarik perhatian dari pihak penguasa. Hal itu dapat terlihat dari dinamika hubungan antara Gus Dur

21

Budi Handrianto, op.cit., hal. 19 22

Istilah kembali ke khittah 1926 ini karena pada tahun 1952 Nahdlatul Ulama memutuskan untuk menjadi sebuah Partai Politik dan ikut serta pada Pemilu 1955.

23

Irwan Suhanda, Gus Dur Santri Par Excellence, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2010), hal. xvi

(18)

52

dan Soeharto. Pada tahap ini, Gus Dur pernah dianggap sebagai ancaman bagi politik Orde Baru. Namun, pada suatu waktu Gus Dur juga dirangkul oleh Soeharto. Hal itu dapat dilihat ketika Soeharto menjadikannya sebagai indoktrinitataor resmi Pancasila yang dikenal dengan nama Manggala Nasional. Saat itu Gus Dur dianggap sebagai tokoh yang tepat oleh pemerintah untuk memperkuat kedudukan ideologi Pancasila sebagai azas tunggal di hadapan komunitas Islam Indonesia.24

2. Anggota MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) Utusan Golkar

Kiprah ketokohan Gus Dur juga dapat terlihat pada saat dirinya diangkat menjadi anggota MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) utusan dari Golkar (Golongan Karya) pada tahun 1987.25 Terpilihnya Gus Dur mewakili partai Golkar di parlemen pada saat itu merupakan sebuah indikasi kedekatan hubungan ketokohannya dengan pemerintah. Meskipun saat itu ia dipercaya oleh Soeharto sebagai wakil partai Golkar, tapi tidak jarang pula Gus Dur mengkritik kebijakan pemerintah. Namun, meskipun demikan, Gus Dur tetap berupaya menjaga hubungan baik dengan rezim Orde Baru.

Selama menjadi anggota MPR, ketokohan Gus Dur sempat menimbulkan kontroversi, khususnya di tengah kalangan umat Islam yang memang ketika itu kurang simpati terhadap pemerintah. Gus Dur saat itu dinilai terlalu kritis terhadap PPP (Partai Pesatuan Pembangunan) yang notabennya adalah basis

24

Greg Barton, op.cit., hal 181-182 25

(19)

53

politik dari beberapa kelompok Islam. Gus Dur dinilai terlalu dekat dengan Soeharto yang dinilai dapat merugikan kepentingan politik partai Islam. Bahkan, yang paling dikhawatirkan oleh tokoh-tokoh Islam ketika itu, Gus Dur akan semakin memperkuat posisi partai Golkar di masa mendatang. Sebab, pada saat itu rakyat Indonesia tengah bersiap-siap untuk menyelenggarakan Pemilu.

3. Pendiri PKB (Partai Kebangkitan Bangsa)

Pada tahun tanggal 23 Juli 1998, Gus Dur dan beberapa tokoh NU lainnya mendirikan PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) di Ciganjur, Jakarta Selatan.26 Pengaruh ketokohan Gus Dur dalam sejarah lahirnya partai ini cukup besar. Gus Dur, tidak hanya dikenal sebagai salah seorang tokoh pendiri PKB, namun hingga akhir hayatnya ia masih menjabat Ketua Umum Dewan Syuro atau Dewan Penasehat Partai.

Latar belakang lahirnya PKB disinyalir karena banyaknya aspirasi yang datang kalangan NU. Gus Dur dianggap orang yang tepat untuk mewakili aspirasi tersebut dengan membentuk sebuah partai politik. Keinginan tersebut juga didorong oleh adanya anggapan bahwa NU tidak boleh terus menerus dimarginalkan dalam panggung politik Indonesia.

Gus Dur merupakan salah satu tokoh kunci dalam mengantarkan partai ini untuk bersaing secara demokratis pada Pemilu 1999. Kehadiran Gus Dur dalam lingkaran besar PKB telah membuka jalan bagi kalangan santri pedesaan

26

Hanif Dakhiri dan TB Massa Djafar, “Struktur Politik Partai Kebangkitan Bangsa”, Jurnal, (Jakarta: 2015), hal. 5

(20)

54

untuk turut serta berkecimpung dalam dunia politik. Kharisma ketokohan Gus Dur ketika itu terbukti berhasil mengantarkan Partai ini menempati urutan ketiga pada hasil Pemilu 1999. Dengan demikian, PKB berhak mendapatkan 51 kursi di DPR. Sedangkan dalam Pemilu tahun 2004, PKB sukses memperoleh 52 kursi di parlemen. Dari sini sangat terlihat jelas bahwa meskipun PKB tergolong partai yang baru berdiri, tetapi ia patut dipertimbangkan.

Terlepas dari konflik internal yang terjadi di tubuh PKB pada masa-masa selanjutnya, bahwa perkembangan partai ini dalam kancah perpolitikan Indonesia sangat banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Gus Dur. Hal itu bisa terlihat dari azas dan prinsip partai yang sangat bercirikan keterbukaan, humanisme, dan wawasan kebangsaan. Bila diperhatikan, bahwa Gus Dur merupakan tokoh yang dianggap paling dekat dengan ide-ide tersebut.

4. Presiden Republik Indonesia

Pada tahun 1999, Gus Dur terpilih secara demokratis sebagai Presiden Republik Indonesia ke empat menggantikan B.J. Habibie.27 Naiknya Gus Dur menjadi Presiden Indonesia pada saat itu di mana bangsa Indonesia tengah berada pada satu kondisi di mana berbagai krisis sedang melanda dengan hebatnya. Sebagian besar masyarakat tampaknya memang banyak berharap kepada pemerintahan yang baru terbentuk ini. Gus Dur menjadi pusat harapan

27

Irwan Suhanda, Perjalanan Politik Gus Dur, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2010), hal. 33

(21)

55

dari sebagian besar masyarakat Indonesia untuk perubahan kehidupan ke arah yang jauh lebih baik.

Periode Gus Dur menjadi Presiden Indonesia di satu sisi telah menunjukkan intelektual politiknya. Gus Dur tidak saja dianggap sebagai tokoh yang paham dalam urusan agama, tetapi ia juga dinilai memiliki kapasitas untuk mengurus persoalan politik bangsa.

Gus Dur merupakan Presiden Indonesia pertama yang memiliki latar belakang seorang kiai. Ada pula yang mengatakan, bahwa naiknya Gus Dur menjadi Presiden menandakan era baru dan kemenangan bagi politk kaum santri. Tampilnya Gus Dur sebagai Presiden ketika itu di satu sisi telah meruntuhkan semua mitos dan fakta, bahwa santri selalu berada di pinggir kekuasaan.28 Anggapan itu bisa jadi muncul dari dalam diri sebagian warga NU karena selama ini mereka menilai pihak penguasa kurang memberi kesempatan bagi NU dalam kancah perpolitikan Indonesia. Apalagi sejak pemerintah berkuasa melakukan penyederhanaan terhadap beberapa partai Islam pada tahun 1973.

Gus Dur menjabat sebagai Presiden untuk periode 1999-2004 dengan menjadikan Megawati Soekarno Putri sebagai wakilnya. Kesuksesan Gus Dur menuju kursi Presiden tidak lepas dari dukungan beberapa partai yang bercorak Islam, salah satunya yaitu PAN (Partai Amanat Nasional). Saat itu, Amin Rais

28

(22)

56

sebagai ketua umum PAN adalah orang yang paling mendukung pencalonan Gus Dur untuk menjadi Presiden.29

Pada saat menjadi Presiden, Gus Dur membentuk “Kabinet Persatuan”, sebagai nama kabinet baru untuk menunjukkan perbedaan ciri-ciri dari kabinet-kabinet sebelumnya.

Ketika Gus Dur berada di puncak kekuasaan, bangsa Indonesia sedang dilanda krisis yang cukup hebat, terutama dalam bidang ekonomi.30 Masa-masa itu juga disebut dengan masa transisi demokrasi, karena selama lebih kurang tiga puluh dua tahun Orde Baru berkuasa, telah terjadi berbagai penyimpangan terhadap makna demokrasi. Oleh sebab itu, era Gus Dur dapat disebut sebagai era pengharapan baru bagi rakyat Indonesia untuk menuju demokrasi sejati.

Kiprah ketokohan Gus Dur selama menjadi Presiden Indonesia terlihat ketika ia membentuk sebuah kelompok untuk mengawasi proses reformasi dan pengelolaan negara. Gus Dur juga secara resmi membubarkan departemen penerangan. Menurutnya, departemen penerangan itu lebih banyak ruginya dari pada manfaatnya.31

Pada saat Gus Dur menjadi Presiden, Aceh dan Papua sedang mengalami gejolak. Munculnya kelompok separatis yang hendak memisahkan diri dari kesatuan NKRI mendapat perhatian penting dari Presiden. Upaya untuk mencari

29

Ibid, hal. 52 30

Denny J.A., Jatuhnya Soeharto dan Transisi Demokrasi Indonesia, (Yogyakarta: LKIS, 2006) hal. 48

31

(23)

57

solusi dari konflik tersebut telah dilakukan semaksimal mungkin. Gus Dur terus melakukan negosiasi dengan pemimpin kelompok separatis. Namun, dalam upaya Gus Dur tersebut, khususnya dalam kasus Aceh belum memperoleh hasil yang memuaskan.

Untuk masalah Papua, Gus Dur dapat dikatakan cukup berhasil, sebab situasi di sana belum separah keadaan di Aceh. Hasil dari upaya Gus Dur dalam meredam gerakan saparatis di Papua ketika itu tampak dari dihentikannya tindakan kekerasan oleh kelompok separatis.

Selain persoalan politik, konflik agama, dan ditambah lagi kondisi ekonomi bangsa yang tidak stabil pada masa itu, akhirnya pada tanggal 23 Juli 2001 Gus Dur meletakkan jabatannya sebagai Presiden. Ini artinya, Gus Dur tidak menuntaskan masa kepemimpinannya hingga lima tahun. Memang harus diakui, bubarnya pemerintahan Gus Dur saat itu sebelumnya telah didahului oleh berbagai macam persoalan bangsa yang sangat bersifat kompleks. Menurut hemat penulis, Gus Dur memimpin Indonesia pada saat di mana negeri ini tengah berada dalam kondisi yang sangat tidak stabil. Meskipun masa pemerintahan Gus Dur hanya kurang lebih dua tahun, akan tetapi kiprah ketokohannya sedikit banyak telah memberikan sumbangan yang patut dihargai oleh segenap bangsa Indonesia.

Demikianlah kiprah-kiprah ketokohan Gus Dur yang dapat terekam dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Sebagai seorang tokoh yang dihormati dan disegani oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, tentu masih terdapat

(24)

kiprah-58

kiprah ketokohan Gus Dur lainnya yang tidak dapat penulis uraikan secara lebih rinci di dalam tulisan ini.

Selain kiprah ketokohannya dalam pentas nasional, Gus Dur juga memiliki serangkaian karir dan menerima berbagai penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri. Semua itu merupakan bagian dari prestasi intelektualnya yang telah berhasil ia capai sepanjang riwayat hidupnya.

Referensi

Dokumen terkait

Hanya orang yang merasa takjub, dapat mengalami kebahagiaan estetik (Dick Hartoko, 1983 : 72). Selain karena ketertarikan penulis dengan bentuk tengkorak manusia dan tanduk

Data tersebut diperoleh dengan menyebarkan kuesioner pada 115 subyek penelitian untuk mengukur tingkat pengetahuan siswa mengenai penyakit DBD sebelum dan sesudah dilakukan

Daerah yang direncanakan untuk dikembangkan oleh PT .SAMARA INSAN SENTOSA sebagai pemukiman terletak di desa Cibunar kecamatan Parungpanjang kabupaten Bogor

Nilai koefisien dari variabel faktor keamanan (LnM) dalam persamaan regresi linear berganda sebesar 0,063 yang berarti menyatakan bahwa pengaruh faktor keamanan pada saat nilai

Dilanjutkan lagi dengan mengedit skala, arah, keterangan caranya seperti diatas dan untuk memasukan nama-nama wilayahnya atau kabupaten dan kecamatan juga nama desa

3.1.4.1 Menulis kalimat gagasan dengan ejaan dan struktur yang tepat yang terdapat dalam teks tulis fungsional pendek seperti laporan, pengumuman, presentasi produk,

Hasil analisa terhadap Air kolam Retensi Tawang, menunjukkan bahwa COD = 49,4 mg/l dan BOD = 22 mg/l dengan pH rendah Penelitian ini bertujuan untuk menentukan waktu kontak

Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mendeskripsikan kegitan Rumah Pintar Pijoengan. 2) Mendeskripsikan kegiatan bimbingan belajar anak di Rumah Pintar Pijoengan dalam meningkatkan